Bacterial vaginosis ( BV ) adalah suatu kondisi patologis dimana terjadi perubahan ekologi vagina oleh karena pertumbuhan Lactobacillus yang merupakan flora normal dominan pada vagina digantikan oleh bakteri lain seperti Gardnerella vaginalis dan bakteri-bakteri anaerob lainnya. Penyebab BV pada umumnya belum diketahui secara jelas, namun BV dapat dihubungkan dengan adanya peningkatan pH vagina dan perubahan sekret vagina. Pada penderita BV sekret vagina menjadi berlebih dengan konsistensi cair, homogen, berwarna putih keabuan, dan berbau amis. Perubahan ini merupakan keluhan yang sangat mengganggu wanita sehingga membutuhkan pelayanan medis.
Penelitian-penelitian sebelumnya telah melaporkan angka kejadian BV di beberapa negara, diantaranya Thailand 33 %, Afrika-Amerika 22,7 %, London 21 %, Indonesia 17 %, Jepang 14 %, Swedia 14 %, dan Helsinki 12 % . Beberapa penelitian juga menunjukkan banyaknya penderita BV yang tidak menunjukkan gejala ( asimtomatis ). Pada tahun 2005 di India terdapat 31,2 % wanita dengan BV asimtomatis. Di Italia 5 % asimtomatis, di Peru 23 % simtomatis dan 37 % simtomatis. Penelitian di Amerika Serikat melaporkan 11% asimtomatis dan 19 % simtomatis.
Pada umumnya BV ditemukan pada wanita usia reproduktif dengan aktifitas seksual yang tinggi dan promiskuitas. Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim, usia menopause,vaginal douching, sosial ekonomi rendah, dan wanita hamil juga merupakan faktor resiko terjadinya BV. Hasil penelitian di Thailand menunjukkan 16 % kasus BV ditemukan pada ibu hamil dan di USA terdapat 16,3% BV pada ibu hamil.
BV merupakan penyakit yang hingga saat ini diagnosis dan penanganannya masih problematik. Kepentingan diagnosis didasarkan pada pendapat umum bahwa BV merupakan salah satu penyakit menular seksual (PMS ). Selain itu, terbukti pula bahwa BV dapat menimbulkan masalah infeksi traktus genitalis, misalnya infeksi intra amnion yang akan menyebabkan gangguan atau penyulit selama kehamilan,antara lain kelahiran prematur, berat bayi lahir rendah ( BBLR ), infeksi panggul (Pelvic Inflammatory Dissease/PID) setelah persalinan, bahkan dapat terjadi abortus.
Dengan memperhatikan prevalensi dan komplikasi BV terutama pada ibu hamil dan mengingat banyaknya penderita yang asimtomatis, maka perlu dilakukan skrining (tes penapisan) BV pada ibu hamil dan melakukan tes konfirmasi terhadap hasil skrining yang positif dengan pemeriksaan yang lebih akurat. Diagnosa BV dapat ditegakkan melalui kriteria klinik dari Amsel. Menurut kriteria ini, seorang wanita terdiagnosis BV apabila memenuhi tiga atau lebih dari empat kriteria, yaitu adanya sekret vagina yang homogen; peningkatan pH vagina ≥ 4,5; tes amin positif; dan ditemukannya clue cell melalui pemeriksaan mikroskopis. Selain kriteria Amsel, diagnosa BV dapat pula ditegakkan melalui pengecatan Gram. Metode pengecatan ini dinilai objektif dan tidak dipengaruhi oleh banyak faktor seperti menstruasi dan hubungan seks. Namun demikian, kedua metode pemeriksaan tersebut membutuhkan peralatan berupa mikroskop, sedangkan diketahui bahwa di tempat-tempat pemeriksaan kehamilan alat tersebut sangat terbatas. Oleh karena itu,dibutuhkan suatu metode yang praktis dalam melakukan skrining BV, salah satunya dengan metode pengukuran pH vagina. Pada pengukuran pH vagina hasil skrining dikatakan positif apabila pH vagina ≥ 4,5. Metode ini mudah dilakukan, tidak membutuhkan keahlian khusus, tidak membutuhkan biaya mahal,dan tidak membutuhkan peralatan seperti mikroskop. Oleh karena itu, diharapkan pengukuran pH vagina dapat menjadi alat skrining BV yang baik sehingga dapat digunakan di tempat-tempat antenatal care ( ANC ). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sensitivitas,spesifisitas, PPV (Positive Predictive value), NPV (Negative Predictive value) dan reliabilitas eksterna tes pH vagina dalam menapis kejadian BV pada ibu hamil.
Dari beberapa penelitian telah terbukti bahwa infeksi selama kehamilan memegang peranan penting dalam terjadinya persalinan preterm. Untuk mencegah atau menurunkan kejadian persalinan preterm, perlu dicari penyebabnya. Penelitian-penelitian terdahulu antara lain ditunjukan kepada pengenalan faktor-faktor risiko seperti riwayat obstetri dan faktor-faktor medis yang diduga berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya persalinan preterm, tetapi ternyata hasilnya tidak memuaskan. Sampai saat ini masih belum diketahui mikroorganisme spesifik yang berhubungan langsung dengan persalinan preterm. Menurut Gardner dan Dukes vaginitis non spesifik dapat disebabkan oleh Gardnerella vaginalis dan kuman lainnya, oleh karena itu pada keadaan tersebut dipakai istilah vaginosis bacterial. Vaginosis bacterial didefinisikan sebagai suatu keadaan abnormal pada ekosistem vagina yang ditandai oleh konsentrasi tinggi Lactobacillus sebagai flora normal vagina digantikan oleh konsentrasi tinggi bakteri anaerob, terutama Bacteroides sp., Mobilicus sp., Gardnerella vaginalis, dan Mycoplasma hominis. Jadi vaginosis bacterial bukan suatu infeksi yang disebabkan oeleh suatu organisme, tetapi timbul dikerenakan pertumbuhan yang berlebihan dari bakteri yang mengadakan kolonisasi di vagina. Nama lain dari vaginosasi bacterial adalah non specific vaginitis, Gardnerella vaginitis, Corynebacterium vaginitis, Haemophilus vaginitis, non specific vaginosis, dan anaerobic vaginosis. Peniliti lain mengatakan vaginosis bacterial selain ada kaitannya dengan persalinan preterm juga berhubungan dengan berat bayi lahir rendah dan ketuban pecah dini.
Pada kehamilan normal, cairan vagina bersifat asam (pH 4-5), karena adanya peningkatan kolonisasi Lactobacillus (flora normal vagina) yang memproduksi asam laktat. Keadaan asam yang berlebih ini membuat Lactobacillus tumbuh subur, sehingga mencegah terjadinya pertumbuhan berlebihan bakteri pathogen. Lactobacillus diketahui sebagai mikroorganisme yang mempertahankan homeostasis vagina, karena dengan menghasilkan asam laktat dan membuat H2O2 yang akan menghambat pertumbuhan sebagian besar mikroorganisme lainnya, sehingga menurunkan risiko persalinan preterm. Keadaan ini tidak selalu dapat dipertahankan, karena apabila jumlah bakteri Lactobacillus menurun, maka keasaman cairan vagina berkurang dan akan mengakibatkan bertambahnya bakteri lain, seperti antara lain Gardnerella vaginalis, Mycoplasma hominis, dan Bacteroides sp. Adanya perubahan flora vagina menyebabkan terjadinya vaginosis bacterial. Wanita hamil dengan vahinosis bacterial mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terserang amnionitis, endometritis pasca persalinan, ketuban pecah dini dan persalinan premature.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Graveyy, dkk ternyata wanita dengan vaginosis bacterial mempunyai risiko 3-8 kali lebih tinggi dibandingkan wanita dengan flora normal untuk mengalami persalinan preterm. Demikian pula terjadinya ketuban pecah dini lebih sering terjadi pada wanita dengan vaginosis bakterial (46%) dibandingkan wanita tanpa vaginosis bacterial (4%). Perlu diketahui bahwa pada vagina wanita sehat dapat ditemukan beberapa jenis mikroorganisme antara lain : Mycoplasma hominis, Ureaplasma urealyticum, Lactobacillus, Streptococcus agalactiae (Streptococcus grup B), Bacteroides bivius, Peptostreptococcus, Mobilincus, Gardnerella vaginalis, dan Fusobacterium nucleatum. Dengan demikian, bila pada kultur dari swab vagina ditemukan mikroorganisme tersebut, hal ini belum berarti bahwa mikroorganisme tersebut adalah penyebab infeksi dan perlu dikonfirmasikan dengan gejala klinik. Selain itu juga ditemukan bahwa konsentrasi Gardnerella vaginalis dan bakteri anaerob pada secret vagina wanita hamil dengan vaginosis bacterial adalah 100-1000 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pada wanita tidak hamil. Di Indonesia sampai saat ini, pemeriksaan tentang kolonisasi bakteri atau adanya vaginosis bakterial sebagai upaya untuk menurunkan angka kejadian persalinan preterm. Apabila kita ingin melakukan pemeriksaan ini, maka sebaiknya dilakukan pada awal trimester ke dua. Martius, dkk dalam penelitiannya menemukan bahwa wanita yang melahirkan premature ternyata lebih banyak yang mengalami infeksi vaginosis bakterial dibandingkan dengan wanita yang melahirkan aterm.
Secara klinik menurut Amsel, dkk. diagnosis bakterial ditegakkan bila terdapat tiga dari empat kriteria berikut, yaitu: adanya sel clue pada pemeriksaan mikroskopik dari sediaan basah; (ii) adanya bau amis, setelah penetesaan KOH 10% pada cairan vagina, (ii) duh yang homogen, kental, tipis, dan berwarna seperti susu; (iv) pH vagina > 4.5 yang diperiksa dengan menggunakan phenaphthazine paper (nitrazine paper). Dari ke empat kriteria tersebut, yang paling baik untuk menegakkan diagnosis vaginosis bakterial adalah (i) pemeriksaan basah untuk mencari adanya sel clue (sel epitel vagina yang diliputi oleh coccobacillus yang padat) dan adanya bau amis pada penetesan KOH 10%. Namun keadaan adanya bau amis ini, pada keadaan tertentu tidak selalu dapat dievaluasi, misal pada saat tambahan untuk menunjang diagnosis vaginosis bakterial, antara lain dengan melakukan oleh Thomason Jl, dkk. untuk menegakkan diagnosis vaginosis bakterial, menunjukkan: (i) bila ditemukan sel clue pada sediaan basah, memberikan nilai sensitivitas 98,2%, spesifisitas 94,3%, prediksi positif 89,9%, dan prediksi negatif 99%, (ii) bila ditemukan sel clue ditambah adanya bau amis, memberikan nilai sensitivitas 81,6%, spesifisitas 99,5%, prediksi positif 98,8%, dan prediksi negative 92,1%; (ii) bila dilakukan pewarnaan Gram, maka memberikan nilai sensitivitas 97%, spesifikasi 66,2%, prediksi positif 57,2%, dan prediksi negatif 97,9%. Dengan melihat hasil tersebut, apabila fasilitas laboratorium belum memadai, maka metode terbaik dalam membantu menegakkan diagnosis vaginosis bakterial adalah mencari sel clue pada sediaan basah dan tes adanya bau amis pada penetesan KOH 10%. Tetapi adanya bau amis ini tidak selalu dapat dievaluasi pada saat siklus menstruasi, juga tergantung fungsi penciuman agar dapat mendeteksi adanya bau amis tersebut. Dengan demikian apabila adanya bau amis ini sukar dievaluasi, maka ditemukannya sel clue saja sudah dapat membantu menegakkan diagnosis kemungkinan adanya vaginosis bakterial dan mempunyai nilai perbedaan yang tinggi antara wanita dengan vaginosis bakterial dan wanita normal.
Bacterial Vaginosis (BV) adalah keadaan abnormal pada ekosistem vagina yang ditandai dengan perubahan konsentrasi hidrogen peroksida (H2O2) hasil produksi flora normal Lactobacillus di vagina. Penurunan konsentrasi H2O2 digantikan oleh peningkatan konsentrasi bakteri anaerob (Mobiluncus, Provetella, Peptostreptococcus, Bacteroides, dan Eubacterium) dan bakteri fakultatif (Gardnerella vaginalis, Mycoplasma hominis, Enterococcus dan grup β Streptococcus). Perubahan ini umumnya ditandai dengan produksi sekret vagina yang banyak, berwarna abu-abu, tipis, homogen, berbau amis dan terdapat peningkatan pH. 1-4 Penyebab utama keputihan pada vagina adalah BV, baik wanita hamil maupun tidak hamil. BV terjadi pada sekitar 30% wanita usia reproduktif dan sekitar 50% pasien asimptomatik atau tidak mengeluhkan adanya gejala. Prevalensi BV bervariasi pada setiap populasi, dengan kisaran 5-51%. Wanita hamil memiliki tingkat prevalensi yang hampir sama dengan wanita tidak hamil, dengan kisaran 6-32%. Menurut data dari World Health Organization (WHO) angka kejadian BV pada wanita hamil berkisar 14-21% di negara Eropa, sedangkan di Asia dilaporkan prevalensi BV pada wanita hamil 13,6% di Jepang, 15,9% di Thailand dan 32% di Indonesia. Menurut data epidemiologi, insidensi BV lebih tinggi dibandingkan dengan infeksi lainnya yang juga terjadi saat kehamilan, seperti bakteriuria asimptomatik, Neisseria gonorrhoea, Chlamydia trachomatis, dan Trichomonas vaginalis. BV pernah dianggap tidak berbahaya, sampai ditemukan bukti bahwa BV berhubungan dengan komplikasi ginekologi, seperti servisitis, salpingitis, endometritis, infeksi pasca operasi, pelvic inflamatory disease dan infeksi traktus urinarius. Pada wanita hamil, BV dapat menyebabkan komplikasi obstetri, seperti ketuban pecah dini, persalinan prematur, korioamnionitis dan endometritis postpartum. Secara klinis BV bukan merupakan suatu proses inflamasi, untuk itu penegakkan diagnosis BV tidak dapat didukung hanya satu kriteria melainkan didukung oleh beberapa kriteria klinis dan uji labor sederhana. Kriteria diagnosis yang dikenal adalah kriteria Amsel dan metode pewarnaan Gram, yaitu kriteria Nugent dan kriteria Spiegel. Kriteria Nugent merupakan gold standart dalam penegakkan diagnosa BV karena memiliki kelebihan pada sisi objektivitas, nilai sensitivitas, dan spesifitas yang baik. Prevalensi BV tersebut menunjukkan bahwa jumlah wanita hamil yang berpotensi untuk menderita BV cukup tinggi ditambah dengan hampir setengah kasus tanpa gejala, ada kemungkinan bahwa angka kejadian BV dapat di luar perkiraan penelitian sebelumnya.
