GAMBAR KONVENSI SEM (SKRIPSI DAN TESIS)

 

Berdasarkan tool Amos konvensi SEM yang berlaku dalam diagram SEM adalah sebagai berikut :

  1. Faktor /Variabel/konstruk .

Faktor/Variabel/konstruk disebut juga latent variable karena merupakan variabel bentukan atau unobserved variable. Faktor/Variabel/konstruk adalah variabel bentukan yang dibentuk melalui indikator – indikator yang diamati. Faktor/Variabel/konstruk digambarkan sebagai elips atau oval

  1. Variabel terukur (Measured Variable).

Variabel terukur biasa disebut Indikator digambarkan dalam bentuk segi-empat atau bujur sangkar. Indikator ini disebut juga indicator variable, observed variable, atau manifest variable. Indikator tersebut datanya dicari melalui penelitian lapangan, misalnya melalui instrumen survey dengan dasar teori yang kuat

 

PENGERTIAN SEM (SKRIPSI DAN TESIS)

Karakteristik dasar penggunaan SEM harus melibatkan dua jenis variable, yaitu variable observasi dan laten. Variabel observasi mempunyai data seperti data angka atau skala penilaian yang diambil dari kuesioner. Disamping data tersebut di depan, Variabel observasi dalam SEM mencakup pula data kontinus. Sedang variable laten adalah variabel yang secara tidak langsung teramati namun peneliti ingin mengetahuinya. Untuk melakukan observasi variable laten peneliti harus membuat model-model yang mengekspresikan variable-variabel laten sebagai variabel observasi. Dalam SEM semua variable laten merupakan variable kontinus dan secara teori mempunyai jumlah nilai yang tidak terbatas. Contoh-contoh variable laten dalam ilmu ekonomi konsentrasi bidang pemasaran, misalnya sikap terhadap merek, kepuasan pelanggan, nilai yang diterima (perceived value),  keinginan melakukan pembelian ulang, dan kualitas yang dilihat (perceived quality)

 

Secara umum ada dua variable yang penting dalam riset, yaitu variable-variabel yang tergantung pada variable lain yang disebut sebagai variable “tergantung” dan variable-variabel yang  tidak tergantung terhadap varaibel lain yang kemudiandisebut sebagai variable “bebas”. Dalam konteks SEM variable-variabel tergantung disebut juga sebagai variabel “endogenous” dan  “exogenous,” untuk variable-variabel bebas. Dalam contoh hubungan linier yang diekspresikan dalam persamaan di bawah ini Persamaan tersebut bermakna bahwa nilai yang dilihat untuk kasus “i” merupakan jumlah kualitas “i” dikalikan dengan koefesien “a,” harga untuk “i” dikalikan dengan koefesien “b,”ditambah “error.” Eerror term ini mewakili bahwa sebagian nilai yang dilihat untuk kasus “i” yang tidak tertangkap oleh dependensi s linier terhadap kualitas dan harga. Jika dikombinasikan dengan beberapa asumsi, maka persamaan tersebut menggambarkan  suatu model nilai yang mungkin tergantung pada kualitas dan harga.

Nilai i = a x kualitas  i + b x harga  i + error i

Pada saat melakukan pencocokkan suatu model sebagaimana model dalam persamaan di atas, maka sebenarnya kita sedang membuat estimasi untuk koefesien-koefesien “a” dan “b” yang meminimumkan fungsi kesalahan tertentu di observasi-observasi yang sedang dilakukan, dengan keberadaan error yang diasumsikan. Dalam model yang dibuat di atas mengasumsikan bahwa semua kasus dalam sekumpulan data tersebut mempunyai nilai-nilai sama untuk “a” dan “b.” Nilai-nilai tersebut cocok dalam populasi. Persamaan di atas nampak seperti persamaan regresi tanpa intercept di sebelah kanan. Koefesien-koefesien “a” dan “b” mewakili koefesein-koefesein regresi. “nilai,” “kualitas” dan “harga” merupakan variable-variabel observasi. “Error” merupakan perbedaan antara nila-nilai yang observasi dan yang diprediksi.untuk masing-masing kasus. Persamaan tersebut dapat juga dilihat sebagai gambaran suatu model faktor dimana variable observasi disebut “load” nilai pada dua faktor, yaitu “kualitas” dan “harga”; sedang error dapat disebut sebagai “keunikan”. Dalam persepktif ini, maka kualitas dan harga merupakan variable-variabel laten

 

PARAMETER PENGUJIAN SEM (SKRIPSI DAN TESIS)

 

Bila model yang dikembangkan baik maka parameter estimasi akan menghasilkan sebuah estimated covarians matrix medekati sample covariance matrix,untuk evaluasi pertamanya dengan uji chi – square dan fit index. Chi – square tergantung pada ukuran sampel, maka diperlukan beberapa indeks kesesuaian dan kecukupan model yang tidak sensitif terhadap ukuran sampel. Indeks – indeks tersebut adalah GFI, AGFI, CMIN/DF, TLI, CFI dan RMSEA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGERTIAN DAN JENIS KONSTRUK (SKRIPSI DAN TESIS)

 

Konstrak adalah atribut yang menunjukkan variabel.

  1. Konstruk Empirik

Konstrak Empirik. Merupakan konstrak yang terukur (observed). Dinamakan terukur karena kita dapat mengetahui besarnya konstrak ini secara empirik, misalnya dari item tunggal atau skor total item-item hasil pengukuran. Konstrak empirik disimbolkan dengan gambar kotak.

  1. Konstrak Laten

Konstrak laten adalah konstrak yang tidak terukur (unobserved). Dinamakan tidak terukur karena tidak ada data empirik yang menunjukkan besarnya konstrak ini. Konstrak laten dapat berupa a) common factor yang menunjukkan domain yang diukur oleh seperangkat indikator/item dan b) unique factor (eror) yang merupakan eror pengukuran. Konstrak ini disimbolkan dengan gambar lingkaran dan c) residu yaitu faktor-faktor lain yang mempengaruhi variabel dependen selain variabel independen

(Widhiarso, 2009)

 

 

MODEL DALAM  SEM (SKRIPSI DAN TESIS)

 

SEM merupakan penggabungan dari dua model yaitu model pengukuran yang merupakan kajian dari psikometrika serta model struktural yang merupakan kajian dari statistika. Model structural sendiri merupakan penggabungan antara dua konsep statistika, yaitu konsep analisis faktor yang masuk pada model pengukuran (measurement model) dan konsep regresi melalui model struktural (structural model). Model pengukuran menjelaskan hubungan antara variabel dengan indikator-indikatornya dan model struktural menjelaskan hubungan antar variabel.

  1. Model Pengukuran

Model Pengukuran terdiri dari sebuah skor hasil pengukuran (skor tampak), didalamnya terkandung dua komponen, yaitu a) komponen yang menjelaskan atribut yang diukur dan b) komponen yang terkait dengan atribut lain yang tidak diukur (eror). Dengan kata lain, di dalam skor tampak didalamnya terkandung komponen yang menunjukkan atribut ukur dan eror. Dalam gambar dengan pendekatan SEM konsep ini dijabarkan menjadi gambar yang menunjukkan skor sebuah item yang dibangun dari dua komponen, yaitu atribut ukur dan eror

Model pengukuran merupakan penggambaran dari n hubungan antara item dengan konstrak yang iukur. Model pengukuran memiliki ketepatan model yang memuaskan ketika item-item yang dilibatkan mampu menjadi indikator dari konstrak yang diukur yang dibuktikan dengan nilai eror pengukuran yang rendah dan nilai komponen konstruk yang tinggi.

  1. Model Struktural

Model struktural menggambarkan hubungan satu variabel dengan variabel lainnya. Hubungan tersebut dapat berupa korelasi maupun pengaruh. Korelasi antar variabel ditunjukkan dengan garis dengan berpanah di kedua ujungnya sedangkan pengaruh ditandai dengan satu ujung berpanah

(Widhiarso, 2009)

 

 

 

Rasio Aktivitas (skripsi dan tesis)

Rasio ini melihat seberapa besar efisiensi penggunaan aset oleh perusahaan (Hanafi, 2014). Menurut Fahmi (2017) rasio aktivitas adalah rasio yang menggambarkan sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimilikinya guna menunjang aktivitas perusahaan, dimana penggunaan aktivitas ini dilakukan secara sangat maksimal dengan maksud memperoleh hasil yang maksimal. Rasio ini juga disebut sebagai rasio pengelolaan aset (asset management ratio). Terdapat beberapa alternative rasio untuk melihat kondisi aktivitas perusahaan yaietu

  1. Inventory Turnover

Rasio inventory turnover melihat sejauh mana tingkat perputaran persediaan yang dimiliki olh suatu perusahaan. Kondisi perusahaan yang baik adalah dimana kepemilikan persediaan dan persediaan selalu berada dalam kondisi yang seimbang, artinya jika persediaan perusahaan adalah kecil maka akan terjadi penumpukkan barang dalam jumlah yang banyak di gudang, namun jika perputaran terlalu tinggi maka jumlah barang yang tersimpan di gudang akan kecil, sehingga jika sewaktu-waktu terjadi kehilangan bahan/ barang di pasaran dalam kejadian yang bersifat di luar perhitungan seperti gagal panen, bencana alam, kekacauan stabilitas politik dan keamanan serta berbagai kejadian lainnya. Maka ini bisa menyebabkan perusahaan terganggu aktivitas produksinya dan lebih jauh berpengaruh pada sisi penjualan serta perolehan keuntungan (Fahmi, 2017)

  1. Day Sales Outstanding

Day Sales Outstanding (DSO) adalah ukuran jumlah hari rata-rata yang dibutuhkan perusahaan untuk mengumpulkan pembayaran setelah penjualan dilakukan. Menurut Fahmi (2017) rasio ini mengkaji tentang bagaimana suatu perusahaan melihat periode pengumpulan piutang yang akan terlihat. Angka DSO yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan menjual produknya kepada pelanggan secara kredit dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengumpulkan uang. Ini dapat menyebabkan masalah arus kas karena durasi panjang antara waktu penjualan dan waktu perusahaan menerima pembayaran.

  1. Fixed Assets Turnover

Rasio fixed asset turnover disebut juga dengan perputaran aktiva tetap. Rasio ini melihat sejauh mana aktiva tetap yang dimiliki oleh suatu perusahaan memiliki tingkat perputarannya secara efektif, dan memberikan dampak pada keuangan perusahaan 20 (Fahmi, 2017). Semakin tinggi angka perputaran aktiva tetap, semakin efektif perusahaan mengelola asetnya. Pada beberapa industri (sektor usaha) yang mempunyai proporsi aktiva tetap yang tinggi, rasio ini cukup penting diperhatikan. Sedangkan pada beberapa industri yang lain, seperti industry jasa yang mempunyai proporsi aktiva tetap yang kecil, rasio ini barangkali relatif tidak begitu penting untuk diperhatikan (Hanafi, 2014).

  1. Total Assets Turnover

Total assets turnover disebut juga dengan rasio perputaran total aset. Rasio ini melihat sejauh mana keseluruhan aset yang dimiliki oleh perusahaan terjadi perputaran secara efektif (Fahmi, 2017). Jadi semakin besar rasio ini semakin baik yang berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba dan menunjukkan semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Dengan kata lain, jumlah asset yang sama dapat 21 memperbesar volume penjualan apabila assets turnover-nya ditingkatkan atau diperbesar.

Rasio Likuiditas (skripsi dan tesis)

Rasio likuiditas (liquidity ratios) adalah kemampuan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu (Fahmi, 2017). Menurut Hanafi (2004) rasio likuiditas mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat besarnya aktiva lancar relatif terhadap utang lancarnya. Utang dalam hal ini merupakan kewajiban perusahaan. Terdapat dua alternative rasio untuk melihat kondii likuiditas perusahaan yaitu

  1. Current Ratio

Current ratio (rasio lancar) mengukur kemampuan perusahaan memenuhi utang jangka pendeknya (jatuh tempo kurang dari satu tahun) dengan menggunakan aktiva lancar (Hanafi, 2014). Aktiva lancar biasanya termasuk kas, surat berharga, piutang, 15 dan persediaan. Kewajiban lancar terdiri dari hutang dagang, hutang jangka pendek, jatuh tempo hutang jangka panjang, pajak yang masih harus dibayar, dan biaya lainnya yang masih harus dibayar (terutama upah) (Brigham & Daves, 2004). Secara umum, kreditur senang melihat current ratio (rasio lancar) yang tinggi. Jika suatu perusahaan mengalami kesulitan keuangan, perusahaan akan mulai membayar tagihannya (hutang dagang) lebih lambat, sehingga kewajibannya saat ini akan meningkat. Jika kewajiban lancar meningkat lebih cepat daripada aset lancar, rasio lancar akan turun, dan ini bisa menimbulkan masalah (Brigham & Daves, 2004). Namun bagi para pemegang saham current ratio yang terlalu tinggi dianggap tidak baik, dalam artian para manajer perusahaan tidak mendayagunakan current asset secara baik dan efektif, atau dengan kata lain tingkat kreatifitas manajer perusahaan adalah rendah (Fahmi, 2017).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan  oleh Pane, Topowijoyo, & Husaini (2015) menggunakan analisis diskriminan untuk memprediksi kebangkrutan pada perusahaan manufaktur tahun 2011- 2013 menunjukkan bahwa curent ratio menjadi salah satu rasio yang secara signifikan mempengaruhi kebangkrutan.

  1. Quick Ratio (Acit Test Ratio)

Quick ratio (acit test ratio) sering disebut rasio cepat. Quick ratio mengeluarkan persediaan dari komponen aktiva lancar. Dari ketiga komponen aktiva lancar (kas, piutang dagang, dan persediaan), persediaan biasanya dianggap sebagai aset yang paling tidak liquid (Hanafi, 2014). Hal ini dikarenakan persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang likuiditasnya rendah dan sering mengalami fluktuasi harga serta menimbulkan kerugian jika terjadi likuiditas. Jadi rasio ini merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi hutang lancar. Menurut Sawir 17 (2009) semakin besar rasio ini maka semakin baik kondisi perusahaan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pane, Topowijoyo, & Husaini (2015) menggunakan analisis diskriminan untuk memprediksi kebangkrutan pada perusahaan manufaktur tahun 2011- 2013, menunjukkan bahwa quick ratio juga menjadi salah satu faktor penentu kebangkrutan

Pengertian Financial Distress dan Kebangkrutan (skripsi dan tesis)

Seringkali kondisi financial distress disamakan dengan kebangkrutan, padahal financial distress dan kebangkrutan adalah dua hal yang berbeda. Kesulitan keuangan (financial distress) merupakan indikasi awal sebelum terjadinya kebangkrutan perusahaan. Menurut Platt dan Platt (2002) financial distress merupakan tahapan penurunan kondisi keuangan suatu perusahaan sebelum likuidasi ataupun kebangkrutan terjadi. Indikasi terjadinya financial distress dapat diketahui dari kinerja keuangan yang tercermin dari laporan keuangan suatu perusahaan. Financial distress dimulai dengan ketidakmampuan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya, terutama kewajiban yang bersifat jangka pendek seperti kewajiban likuiditas dan juga termasuk kewajiban dalam kategori solvabilitas.

Menurut Hofer (1980) dan Whitaker (1999) perusahaan dikatakan dalam kondisi financial distress apabila terus mengalami laba bersih (net profit) negative selama beberapa tahun. Indikasi terjadinya financial distress lainnya yaitu kondisi dimana perusahaan mengalami delisted akibat laba bersih dan nilai nuku ekuitas negatif berturut-turut serta perusahaan tersebut telah dimerger (Almilia, 2004). Kebangkrutan merupakan kegagalan perusahaan dalam menghasilkan laba, umumnya terjadi karena kurangnya modal karena tidak memanfaatkan sumber daya modal dengan baik, tidak memelihara uang yang cukup, manajemen yang tidak efisien dalam menjalankan semua aktivitas. Terdapat tiga elemen yang menentukan probabilitas kegagalan pada perusahaan, yaitu: nilai aset, nilai aset dari ketidakpastian risiko dan leverage (Pribadi & Susanto, 2014).

Pengertian kebangkrutan menurut Undang-Undang Kepailitan No. 4 Tahun 1998 adalah debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan Putusan Pengadilan yang berwenang sebagaimana 12 dimaksud dalam Pasal 2 baik atas permohonannya sendiri maupun atas permintaan seseorang atau lebih krediturnya.

Weston dan Copeland (2000) mendefinisikan kebangkrutan dalam 2 (dua) bentuk, yaitu:

  1. Kegagalan ekonomi Kegagalan ekonomi terjadi saat perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban dan kebutuhannya sendiri yang berarti bahwa pendapatan perusahaan tersebut lebih kecil dari biaya modal atau kewajiban yang harus dibayarkan perusahaan lebih besar daru nilai dari arus kas yang dimiliki perusahaan.
  2. Kegagalan keuangan Kegagalan keuangan dapat didefinisikan sebagai insolvency yang dibedakan berdasarkan arus kas dan dasar saham.

Terdapat 2 (dua) bentuk insolvensi atas dasar arus kas, yaitu insolvensi teknis dan insolvensi dalam arti kebangrutan. Dalam insolvensi teknis, perusahaan bisa dikatakan bangkrut apabila perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya saat jatuh tempo. Insolvensi 13 dalam arti kebangkrutan terjadi ketika kekayaan bersih negative dalam neraca konvensional atau nilai arus kas yang diharapkan lebih kecil daripada kewajiban yang beredar. Kebangkrutan harus menjadi perhatian berbagai pemangku kepentingan di sebuah perusahaan, termasuk pemilik, manajer, investor, kreditor dan mitra bisnis, serta lembaga pemerintah karena dampak dari adanya kebangkrutan tidak hanya dirasakan pemiliknya, tapi juga pengguna laporan keuangan lainnya, seperti investor, kreditor, dan ekonomi umum juga ikut terpengaruh. Oleh karena itu, prediksi kebangkrutan harus dilakukan sebagai langkah preventif untuk mengurangi tingkat risiko dan bahaya kebangkrutan perusahaan (Alkhatib & Bzour, 2011)

Literasi Keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Mandell dan Klein, Perkembangan industri jasa keuangan semakin meningkat dan semakin kompleks sehingga mengubah kondisi pasar keuangan. Oleh karena itu, seseorang perlu memahami pengetahuan dasar keuangan yang berhubungan dengan kunci keamanan keuangan modern (Mandel dan Klein, 2007: 107). Menurut Chen dan Volpe, financial literacy diartikan sebagai kemampuan untuk mengelola keuangan pribadi (Putri, 2016: 79). Garman & Forgue menyebutkan bahwa financial literacy merupakan pengetahuan tentang fakta, konsep, prinsip dan alat teknologi yang mendasari untuk cerdas dalam menggunakan uang (Erawati, tt: 2). Menurut Otoritas Jasa Keuangan, literasi keuangan adalah rangkaian proses atau aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan (knowledge), keyakinan (competence), dan keterampilan (skill) konsumen dan masyarakat luas sehingga mereka mampu mengelola keuangan dengan lebih baik. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa literasi keuangan merupakan suatu proses yang mengukur seberapa baik kemampuan individu dalam memahami konsep keuangan dan menerapkan konsep tersebut sehingga dapat terwujud pengelolaan keuangan yang lebih baik

Analisis Diskriminan (skripsi dan tesis)

Menurut Singgih (2002:143) “analisis diskriminan adalah teknik multivariat yang termasuk dependence method yakni adanya variabel dependen dan independen”. Menurut Ghozali (2009:221) “diskriminan analisis merupakan bentuk regresi dengan variabel terikat berbentuk non-metrik atau kategori”. Menurut Singgih (2002:143) tujuan diskriminan secara umum adalah: a. Untuk mengetahui ada atau tidak perbedaan yang jelas antar grup pada variabel dependen, atau bisa dikatakan terdapat perbedaan atau tidak antara anggota grup satu dengan anggota grup dua. b. Jika ada perbedaan, variabel independen manakah pada fungsi diskriminan yang membuat perbedaan tersebut. c. Membuat fungsi atau model diskriminan yang pada dasarnya mirip dengan persamaan regresi. d. Melakukan klasifikasi terhadap objek, apakah suatu objek (bisa nama orang, nama tumbuhan, benda atau lainnya) termasuk pada grup satu atau grup dua atau lainnya. Singgih (2002:144) mengungkapkan “tahapan melakukan analisis diskriminan terdiri dari 6 langkah yaitu” : a. Memisah variabel-variabel menjadi variabel dependen dan variabel independen. b. Menentukan metode untuk membuat fungsi diskriminan. Pada prinsipnya ada dua metode dasar untuk itu, yaitu: a) Simultaneous estimation, di mana semua variabel dimasukkan secara bersama-sama kemudian dilakukan proses diskriminan. b) Step-wise estimation, dimana variabel dimasukkan satu per satu ke dalam model diskriminan. Pada proses ini, tentu ada variabel yang tetap ada pada model, dan ada kemungkinan satu atau lebih variabel independen yang dibuang dari model. Penelitian ini akan menggunakan metode stepwise estimation. c. Menguji signifikansi dari fungsi diskriminan yang telah terbentuk, dengan menggunakan wilk’s lambda, F test dan lainnya. d. Menguji ketepatan klasifikasi dari fungsi diskriminan, termasuk mengetahui ketepatan klasifikasi secara individual dengan casewise diagnostics. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 15 No. 1 Oktober 2014| administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id 4 e. Melakukan interpretasi terhadap fungsi diskriminan tersebut. f. Melakukan uji validasi fungsi diskriminan.

Upaya Penyelesaian Kebangkrutan (skripsi dan tesis)

Menurut Sudana (2011:250) terdapat beberapa cara untuk mengatasi kesulitan keuangan yang dihadapi oleh suatu perusahaan, diantaranya sebagai berikut:
a. Penyelesaian sukarela (voluntary settlements) Penyelesaian secara sukarela yaitu penyelesaian yang dilakukan atas dasar kesepakatan antara pihak debitur dan pihak kreditur. Berikut ini beberapa alternatif
penyelesaian secara sukarela:
1) Extensions (perpanjangan)
Telah terjadi kesepakatan antara pihak kreditur dan pihak debitur yaitu
kesepakatan untuk memperpanjang jangka waktu pembayaran kredit.
2) Composition
Pihak kreditur bersedia menerimasetengah pembayaran dari kredit yang
dipinjam dan sebagian tagihan kreditnya direlakan tidak terbayar.
3) Liquidation by voluntary agreement
Liquidation by voluntary agreement adalah kesepakatan para kreditur untuk
meminta dilakukannya likuidasi perusahaan.
b. Penyelesaian lewat pengadilan ( settlements involving litigation) Penyelesaian lewat pengadilan adalah kebalikan dari penyelesaian sukarela, dimana dalam penyelesaian ini tidak terjadi kesepakatan antara pihak kreditur dan debitur untuk dilakukannya penyelesaian secara sukarela..

Tanda Kebangkrutan Perusahaan (skripsi dan tesis)

Menurut Teng (2002:13) tanda-tanda akan datangnya kegagalan sebuah perusahaan adalah sebagai berikut:
a. Profitabilitas yang negatif/ menurun. Barometer suatu perusahaan yang rapuh dapat ditunjukkan dengan profitabilitas negatif atau menurun.
b. Merosotnya posisi pasar. Kemerosotan posisi pasar dapat dilihat melalui hilangnya pangsa pasar bagi perusahaan, menurunnya jumlah
distributor.
c. Posisi kas yang buruk atau negatif/ ketidakmampuan melunasi kewajibankewajiban kas.
d. Tingginya perputaran karyawan atau rendahnya moral.
e. Penurunan volume penjualan. Karena adanya perubahan selera atau permintaan konsumen.
f. Ketergantungan terhadap utang, bagi perusahaan yang mengandalkan kegiatan operasinya maupun investasinya berdasarkan sumber pinjaman, setiap saat dalam keadaan kritis karena pada waktu operasi tidak sukses,
akan mendapat kesulitan dalam menyelesaikan kewajibannya.
g. Penurunan nilai penjualan, dapat terjadi karena turunnya market share yang diikuti dengan kenaikan tarif relatif harga jual yang mungkin dipengaruhi oleh tingkat inflasi.
h. Kerugian yang selalu diderita dari operasinya.

Pengertian Kebangkrutan (skripsi dan tesis)

Menurut Shubhan (200Pengertian Kebangkrutan (skripsi dan tesis)8: 01) pailit merupakan “suatu keadaan dimana debitur tidak mampu untuk melakukan pembayaran-pembayaran terhadap utang-utang dari para krediturnya”. Menurut Algra dalam Shubhan (2008:1) “Kepailitan adalah suatu sitaan umum terhadap semua harta kekayaan dari seorang debitur (si berhutang) untuk melunasi utang-utangnya kepada
kreditur (si berpiutang)”. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kebangkrutan/kepailitan adalah ketidakmampuan seseorang dalam membayar kewajibannya, sehingga dilakukan pengambilan semua harta yang
dimiliki untuk melunasi kewajiban tersebut. Menurut Mamduh Hanafi (2008:639), informasi kebangkrutan dapat bermanfaat bagi beberapa
pihak seperti, pemberi pinjaman (bank), investor, pemerintah, akuntan , dan manajemen.

Tahap Analisis Asumsi Klasik (skripsi dan tesis)

Asumsi-asumsi tersebut diantaranya:
a) Multikolinearitas
Pada tahap ini dilihat nilai R2 (koefisien determinasi) dan nilai VIF (Variance inflation Factor) serta dilakukan uji individu terhadap parameter model. Apabila terjadi kasus multikolinieritas maka diselesaikan dengan regresi
Stepwise (Stepwise regression).
b) Heterokedastisitas
Pada tahap ini, untuk mengetahuinya digunakan uji Glejser. Apabila ditemukan kasus heteroskedastisitas maka solusinya adalah melakukan transformasi terhadap variable.
c) Autokorelasi
Pada tahap ini uji yang digunakan adalah uji Durbin Watson, namun selain itu juga dilihat dari plot ACF. Bila 95 % nilai-nilai ACF tidak melebihi batas ± (1,96/ √n), maka asumsi tidak ada autokorelasi terpenuhi.
d) Berdistribusi Normal
Untuk memeriksa kenormalan dapat digunakan uji Kolmogorov-Smirnov yaitu dengan membandingkan Pvalue statistic KolmogorovSmirnov dengan α = 0,05. Setelah diperoleh model regresi yang sudah memenuhi beberapa asumsi klasik yang telah ditetapkan, maka dari model akhir tersebut
dilakukan analisis dan kemudian dibuat kesimpulan

Capital Adequacy Ratio (CAR) (skripsi dan tesis)

 

Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio modal terhadap aktiva tertimbang menurut resiko. Rasio ini memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung resiko ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank disamping memperoleh dana dari sumber-sumber diluar bank seperti dana masyarakat, pinjaman dan lain sebagainya. Dengan kata lain CAR adalah rasio untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung resiko.

CAR dapat diformulasikan sebagai berikut: CAR = Modal Bank X 100% Aktiva tertimbang menurut resiko CAR merupakan indikator kemampuan  bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian  yang disebabkan oleh aktiva yang beresiko. Peraturan bank Indonesia mengenai tata cara penilaian kesehatan bank memasukkan rasio CAR sebagai salah satu indikator utamanya

Rasio Keuangan (skripsi dan tesis)

Analisis rasio keuangan adalah metode  yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kesehatan keuangan perusahaan. Menurut Horne dan Wachowich (2005;132) “ To evaluate the financial condition and performance of the firm, the analyst need to perform checkup on various aspects of a firm’s financial health. A tool frequently used during these checkups is financial ratio. Or index which related two pieces of financial data by deviding one quantity by other”. Rasio keuangan dapat digunakan oleh pihak manajemen untuk analisis, monitoring dan perencanaan :

  1. Sebagai alat analisis, rasio keuangan dapat membantu pihak manajemen dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan pada perusahaan pada area investasi, pendanaan dan dividen. Rasio keuangan juga dapat digunakan untuk menilai kelangsungan hidup perusahaan sebagai an ongoing enterprise dan menentukan apakah return yang diperoleh sesuai dengan resiko yang dihadapi.
  2. Sebagai alat monitoring, melalui pemeriksaan secara teratur dari rasio keuangan yang relevan, manajemen dapat memonitor setiap operasi perusahaan. Dengan demikian pihak manajemen dapat mengetahui kemajuan yang dicapai perusahaan dengan membandingkan data rasio keuangan dimasa lalu atau dengan perusahaan sejenis.
  3. Rasio keuangan mempunyai peranan yang efektif pada perencanaan. Perencanaan merupakan kunci sukses bagi manajer keuangan, dengan data rasio keuangan dapat dibuat rencana keuangan perusahaan dimasa yang akan datang yang disesuaikan dengan kondisi perusahaan saat ini.

ANALISIS DISKRIMINAN (skripsi dan tesis)

Analisis Diskriminan mirip regresi linier berganda (multivariate regression). Perbedaannya, analisis Diskriminan dipakai kalau peubah  dependennya kategoris (menggunakan skala nominal atau ordinal) dan peubah independennya menggunakan skala numerik (interval atau rasio). Sedangkan dalam regresi berganda peubah dependennya harus numerik, dan variabel independen bisa numerik ataupun nonnumerik. Sama seperti regresi berganda, dalam analisis Diskriminan peubah dependen hanya satu, sedangkan peubah independen banyak (multiple). Karena memiliki peubah dependen dan independen, analisis Diskriminan dapat digolongkan sebagai dependence technique. Analisis Diskriminan adalah teknik statistika untuk mengelompokkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang saling bebas dan tegas berdasarkan segugus peubah bebas. Analisis Diskriminan merupakan teknik yang akurat untuk memprediksi suatu objek termasuk ke kategori apa, dengan catatan data-data yang dilibatkan terjamin akurasinya.

Apabila ada dua atau lebih  populasi telah diukur dalam beberapa karakter X1, X2,…, Xp, maka dapat dibangun fungsi linier tertentu dari pengukuran itu dimana fungsi itu merupakan fungsi pembeda (pemisah) terbaik bagi populasi-populasi yangdipelajari. Fungsi linier dibangun itu disebut sebagai fungsi Diskriminan (discriinant funtion). Prosedur analisis Diskriminan Menurut Simamora dalam Malhotra (2005), analisis Diskriminan terdiri dari lima tahap, yaitu: (1) merumuskan masalah, (2) mengestimasi koefisien fungsi Diskriminan, (3) memastikan signifikansi determinan, (4) menginterpretasi hasil, dan (5) menguji signifikansi analisis Diskriminan

Tipologi Prosedur Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Marten (1983:115) dengan menggunakan kriteria ‘tujuan analitis’ dan
‘sarana analisis’ mencoba mengusulkan sebuah tipologi prosedur analisis isi.
Dalam tipologi ini, komunikator, resipien, dan orientasi situasional masuk ke
dalam tujuan analitis, sedangkan tataran semiotik (secara membingungkan) masuk kedalam metode analisis
• Pada tingkat sintaktis, kami menemukan analisis dari unit
linguistik, seperti huruf, suku kata, kata atau kalimat dan
strukturnya, selama mereka benar-benar bersifat formal.
• Pada tingkat sintaktik-semantik, dilacak pengaruh struktur sintaktis
bagi pembentukan makna.
• Pada tingkat semantik, makna kata, kalimat, dan sebagainya akan
diteliti.
• Pada tingkat sintaktis-prakmatik, ada usaha untuk membenarkan
hubungan antara sintaksis dan efeks tekstualnya.
• Analisis semantik-pragmatik berusaha menghubungkan efek ini
dengan kalimat atau kata yang membawa makna tertentu.
• Terakhir, analisis pragmatik murni mencari struktur pragmatik
murni yang mengatur penerimaan teks.

Kerangka Metode Analisis Isi (skripsi dan tesis)

1. Penentuan Sampel
Ada kemungkinan (meski kecil) untuk dapat meneliti semua materi yang
relevan dengan sebuah permasalahan tertentu. Sebagai sebuah alternatif bagi
sebuah perlakuan total yang ideal, sampel bisa digunakan berdasarkan metode probabilitas dan dalam situasi sampel kuota tertentu juga (Marten 1983:280).  Holsti (1968:653) merekomendasikan suatu proses penyeleksian sampel dengan berbagai tahapan: (a) penyeleksian pengirim, (b) penyeleksian dokumen, dan (3) penyeleksian sebuah subset dokumen.
2. Unit Analisis
Unit-unit analisis merupakan komponen teks yang terkecil tempat
ditelitinya kejadian dan karakterisasi variabel-variabel (sifat,kategori). Oleh
karena sebuah teks tidak terdiri atas ‘unit-unit yang alami’, unit-unit tersebut harus dijelaskan pada tataran sintaktik atau semantik untuk setiap penyelidikan konkretnya (Harkner 1974:173): unit yang dijelaskan secara sintaktis, sebagai contoh, adalah tanda (kata), kalima teks lengkap, ruang (area) dan waktu; unit yang dijelaskan secara semantik umpama saja adalah orang, pernyataan dan unit makna.
Holsti (1968: 647) membedakan antara unit rekaman dan unit konteks: (a)
unit rekaman adalah unit tekstual terkecil tempat ditelitinyakejadian variabel; (b) unit konteks digunakan untuk menetapkan karakterisasi variabel-variabel, seperti perhitungan negatif atau positifnya.
3. Kategori dan Koding
Inti dan peranti utama analisis isi apa pun adalah sistem kategorinya:
setiap unit analisis harus dikodekan atau dengan kata lain, harus dialokasikan pada satu atau lebih kategori. Holsti (1868:645), mengikuti jejak Berelson (1852:147), merumuskan sebuah daftar jenis kategori yang bisa digunakan sebagai dasar untuk merancang suatu sistem kategori:
Subjek, tema : mengenai apa?
Arah : bagaimana tema itu ditangani?
Norma : apakah dasar yang digunakan untuk melakukan klasifikasi dan
evaluasinya?
Nilai : sikap, tujuan, dan keinginan apa yang diperlihatkan?
Alat : sarana apa yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan itu?
Ciri : ciri-ciri apakah yang digunakan untuk menggambarkan orang?
Aktor : siapa yang memprakarsai tindakan tertentu dan siapa yang
melaksanakan tindakan itu?
Otoritas : atas nama siapa pernyataan-pernyataan itu dibuat?
Asal muasal : dari mana asal komunikasi tersebut?
Sasaran : ditujukan kepada siapa komunikasi tersebut?
Tempat : di mana tindakan itu terjadi?
Konflik : apa penyebab konflik yang timbul? Siapa saja yang terlibat?
Seberapa kuat konflik tersebut?
Hasil : apakah konflik tersebut berakhir bahagia, tragis, atau tidak pasti?
Waktu : kapan terjadinya tindakan itu?
Bentuk atau jenis komunikasi : saluran komunikasi apa yang digunakan?
Bentuk pertanyaan : bentuk sintaksis dan gramatikal apa yang bisa
ditemukan?
Metode : metode propaganda atau retorika apa yang digunakan?
Daftar ini memperlihatkan kemiripan yang banyak dengan daftar
pertanyaan etnografis dan memperlihatkan bahwa analisis isi klasik tidaklah
membatasi dirinya semata-mata pada isi komunikatif yang eksplisit. Pertanyaanpertanyaan tersebut di atas tidak dijawab secara langsung dengan mengacu pada teks, namun membentuk dasar bagi pengembangan sebuah peranti, yakni sebuah skema kategori.

Tujuan metode analisis isi (skrispi dan tesis)

Tujuan yang ingin dicapai oleh metode analisis isi mungkin bisa dipahami
dengan mengacu pada sederet kutipan berikut, yang disusun sesuai dengan urutan kronologis:
Dalam analisis isi, kita memandang pernyataan dan tanda sebagai bahan
mentah yang harus diringkas agar bisa menghasilkan:
(1) dampak isi pada pembaca, atau (2) pengaruh kontrol terhadap isi. (Lasswell
1941, dikutip dari Lasswell 1946: 90).

Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian ini penulis menggunakan tipe penelitian analisis isi
deskriptif. Max Weber (dalam Eriyanto, 2013: 15) menuliskan bahwa analisis isi
adalah sebuah metode penelitian dengan menggunakan seperangkat prosedur untuk membuat inferensi yang valid dari teks. Menurut Eriyanto (2010: 47) analisi deskriptif adalah analisis isi yang dimaksudkan untuk menggambarkan secara detail suatu pesan atau seuatu teks tertentu. Desain analisis ini tidak dimaksudkan untuk menguji suatu hipotesis tertentu atau menguji hubungan diantara variabel.
Analisis isi semata untuk deskripsi, menggambarkan aspek-aspek dan
karakteristik suatu pesan.
Dalam kajian Weber, ada beberapa langkah dalam analisis isi untuk
mengumpulkan data diantaranya:
1. Menetapkan unit terekam, hal ini sangat penting dalam proses
pengategorian data. Dalam metode ini dapat dilakukan dengan beberapa level:
– Kata, yaitu mengklasifikasi masing-masing kata
– Paragraf, kalau sumber daya manusia atau komputer yang
tersedia terbatas, peneliti dapat mereduksinya dengan melakukan
pengkodean berdasarkan paragraf. Namun hal ini sulit
mendapatkan hasil yang reliable karena cakupannya terlalu luas.
– Keseluruhan teks, hal ini dilakukan dalam pengecualian ketika
teks tersebut tidak terlalu banyak, seperti cerpen, headline berita,
dan berita koran.
2. Menetapkan kategori, ada dua tahap dalam menetapkan kategori.
Pertama kita harus mengetahui apakah hubungannya ekslusif (spesial). Kedua,
harus seberapa dekatkah hubungan antar unit dalam kategori.
3. Melakukan tes koding di teks sampel. Hal ini di upayakan agar tidak
ada ambiguitas dalam kategori. Tahapan ini juga digunakan untuk merevisi halhal yang tidak tepat dalam skema klasifikasi
4. Menilai akurasi atau reabilitas.
5. Merefisi aturan pengkodingan.
Validitas analisis isi memang sedikit berbeda dengan penelitian yang lain,
validitas ini bukan berarti menghubungkan dua variabel atau menghubungkan
teori, tetapi validitas disini merupakan skema klarifikasi atau gabungan
interpretasi yang menghubungkan isi penelitian dan sebab-sebabnya dalam
penelitian. Skema klarifikasi merupakan upaya penelitian yang pengkategorian pemilihan katanya bermakna sama atau berdekatan. Sehingga, pengkategorian kata dalam penelitian harus cermat dalam menangkap makna yang ada dalam isi. (Weber, 1990:30)
Analisis isi menurut Holsti (1968:601) merupakan sembarang teknik
penelitian yang ditujukan untuk membuat kesimpulan dengan cara
mengidentifikasi karakteristik tertentu pada pesan-pesan secara sistematis dan objektif. Menurut Lasswell 1946, analisis isi adalah sebuah model komunikasi  stimulus-respons yang tak diragukan lagi berorientasi behavioris yang mengemukakan bahwa hubungan antara pengirim, stimulus dan penerima bersifat simetris. Isi atau muatan dipandang sebagai hasil proses komunikasi yang distrukturkan sesuai dengan rumus klasik Lasswell: “Siapa berkata tentang apa, pada saluran mana, kepada siapa, dan dengan efek yang bagaimana”.
Menurut arten (1983:45) pembahasan analisis isi yang lebih jauh memiliki
karakteristik-karakteristik berikut ini: struktur dan selektivitas proses-proses
komunikasi, perkembangan indikator yang dapat dideteksi dan teknik analisis
yang punya banyak variasi , kemajuan sistem notasi melalui inklusi domain nonverbal dan kemajuan dalam analisis data melalui paket analisis teks elektronik.
“Perdebatan panjang dan melelahkan dengan para linguis, yang stok pengetahuan
mengenai analisis teks dan klarifikasi teks yang mereka miliki telah sepenuhnya
diabaikan oleh analisis isi, secara berlahan akan terjadi juga. Pada dasarnya,
istilah analisis isi hanya mengacu pada metode-metode yang memusatkan
perhatian pada aspek-aspek isi teks yang bisa diperhitungkan dengan jelas dan
langsung dan sebagai sebuah perumusan bagi frekuensi relatif dan absolut kata
per teks atau unit permukaan.
a) Proses Analisis Isi
Proses analisis isi ada sembilan tahap, (Mayring 1988:42)
• Penentuan materi
• Analisis situasi tempat asal teks
• Pengarakteran materi secara formal
• Penentuan arah analisis
• Diferensiasi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab sesuai
dengan teori yang ada
• Penyeleksian teknik-teknik analitis (ringkasan, eksplikasi,
penataan)
• Pendefisian unit-unit analisis
• Analisis materi (ringkasan, eksplikasi, penataan)
• Interpretasi

Tujuan Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Tahapan awal dalam menyusun desain riset ialah menentukan dengan jelas
tujuan analisis isi. Hanya dengan tujuan yang jelas, maka desain riset juga dapat dirumuskan dengan jelas pula. Mengapa? Karena desain riset pada dasarnya dibuat untuk menjawab pertanyaan dalam tujuan penelitian. Seperti analogi pembangunan rumah sebelumnya. Seseorang arsitek tidak akan dapat bekerja tanpa terlebih dahulu bertanya kepada pemilik. Pemiliklah yang akan menuntun rumah seperti apa yang ingin dia bangun. Dilihat dari tujuan analisis isi, peneliti harus menentukan apakan analisis isinya hanya ingin menggambarkan karakteristik dari pesan ataukan analisis isi lebih
jauh ingin menarik kesimpulan penyebab dari suatu pesan tertentu. Kedua tujuan penelitian ini, akan membawa konsekuensi pada desain riset yang akan dibuat. Jika peneliti hanya ingin menggambarkan secara detail isi (content), maka ia hanya fokus pada variabel yang ada pada isi. Sementara jika peneliti ingin mengetahui penyebab dari suatu isi, maka peneliti harus memerhatikan faktor lain (mungkin diluar analisis isi) yang berdampak pada isi. Di bawah ini akan diuraikan satu demi satu dari analisis isi ini. Pertama, menggambarkan Karakteristik Pesan (describing the characteristics of message). Analisis isi banyak dipakai untuk menggambarkan karakteristik dari suatu pesan. Dalam bahas holsti (1969:28), analisis isi disini dipakai untuk menjawab pertanyaan “what, to whom, dan how” dari suatu proses komunikasi. Pertanyaan “what”
berkaitan dengan penggunaan analisis isi untuk menjawab pertanyaan mengenai apa isi dari suatu pesan, tren, dan perbedaan antara pesan dari komunikator yang berbeda. Pertanyaan “to whom” dipakai untuk menguji hipotesis mengenai isi pesan yang ditujukan untuk khalayak yang berbeda. Sementara pertanyaan “how” terutama berkaitan dengan penggunaan analisis isi untuk menggambarkan bentuk dan teknikteknik pesan (misalnya, persuasi

Bentuk Klasifikasi analisis isi (skripsi dan tesis)

Ada bebarapa bentuk klasifikasi dalam analisis isi. Janis menjelaskan klasifikasi, sebagai berikut:
a) Analisis Isi Pragmatis, di mana klasifikasi dilakukan terhadap tanda menurut
sebab akibatnya yang mungkin. Misalnya, berapa kali suatu kata tertentu
diucapkan yang dapat mengakibatkan munculnya sikap suka terhadap
produk sikat gigi A.
b) Analisis Isi Semantik, dilakukan untuk mengklasifikasikan: tanda menurut
maknanya. Analisis ini terdiri dari tiga jenis sebagai berikut:
(1) Analisis penunjukan (designation), menggambarkan frekuensi seberapa
sering objek tertentu (orang, benda, kelompok, atau konsep) dirujuk.
(2) Analisis penyifatan (attributions), menggambarkan frekuensi seberapa
sering karakterisasi tertentu dirujuk (misalnya referensi kepada
ketidakjujuran, kenakalan, penipuan, dan sebagainya).
(3) Analisis pernyataan (assertions), menggambarkan frekuensi seberapa
sering objek tertentu dikarakteristikkan secara khusus. Analisis ini secara
kasar disebut analisis tematik. Contohnya, referensi terhadap perilaku
nyontek dikalangan mahasiswa sebagai maling, pembohong, dan
sebagainya.
c) Analisis Sarana Tanda (sign-vehicle), dilakukan untuk mengklasifikasikan isi
pesan melalui sifat psikofisik dari tanda, misalnya berapa kali kata cantik
muncul, kata seks muncul.
Dalam penelitian kualitatif, penggunaan analisis isi lebih banyak ditekankan
pada bagaimana simbol-simbol yang ada pada komunikasi itu terbaca dalam interkasi sosial, dan bagaimana simbol-simbol itu terbaca dan dianalisis oleh peneliti. Dan sebagaimana penelitian kualitatif lainnya, kredibilitas peneliti menjadi amat penting.
Analisis isi memerlukan peneliti yang mampu menggunakan ketajaman analisisnya untuk merajut fenomena isi komunikasi menjadi fenomena sosial yang terbaca oleh orang pada umumnya.
Disadari bahwa makna simbol dan interaksi amat mejemuk sehingga penafsiran ganda terhadap objek simbol tunggal umumnya menjadi fenomena umum dalam penelitian sosial. Oleh karen itu, analisis menjadi tantangan sangat besar bagi peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, pemahaman dasar terhadap kultur di mana komunikasi itu menjadi amat penting. Kultur ini menjadi muara yang luas terhadap berbagai macam
bentuk komunikasi di masyarakat

Penggunaan Analisi Isi (skripsi dan tesis)

Penggunaan analisis isi tidak berbeda dengan penelitian kualitatif lainnya.
Hanya saja, karena teknik ini dapat digunakan pada pendekatan yang berbeda (baik kuantitatif maupun kualitatif), maka penggunaan analisis isi tergantung pada kedua pendekatan itu.
Penggunaan analisis isi untuk penelitian kualitatif tidak jauh berbeda dengan
pendekatan lainnya. Awal mula harus ada fenomena komunikasi yang dapat diamati, dalam arti bahwa peneliti harus lebih dulu dapat merumuskan dengan tepat apa yang ingin diteliti dan semua tindakan harus didasarkan pada tujuan tersebut.
Langkah berikutnya adalah memilih unit analisis yang akan di kaji. Memilih
objek penelitian yang menjadi sasaran analisis. Kalau objek penelitian berhubungan dengan data-data verbal (hal ini umumnya ditemukan dalam analisis isi), maka perlu disebutkan tempat, tanggal, dan alat komunikasi yang bersangkutan. Namun, kalau objek penelitian berhubungan dengan pesan-pesan 1 dalam suatu media, perlu dilakukan identifikasi terhadap pesan dan media yang mengantarkan pesan itu.

Penggunaan analisi isi dapat di lakukan sebagaimana Paul W. Missing
melakukan studi-studi tentang “The Voice of America”. Analisis Isi didahului dengan melakukan coding terhadap istilah-istilah atau penggunaan kata dan kalimat yang relevan, yang paling banyak muncul dalam media komunikasi. Dalam hal pemberian coding, perlu juga dicatat konteks mana istilah itu muncul. Kemudian, dilakukan klasifikasi terhadap coding yang telah dilakukan. Klasifikasi dilakukan dengan melihat sejauh mana satuan makna berhubungan dengan tujuan penelitian. Klasifikasi ini dimaksudkan untuk membangun kategori dari setiap klasifikasi. Kemudian, satuan makna dan kategori di analisis dan dicari hubungan suatu dengan lainnya untuk menemukan makna, arti, dan tujuan isi komunikasi itu. Hasil analisis ini kemudian dideskripsikan dalam bentuk draf laporan penelitian sebagaimana umumnya laporan
penelitan.

Klasifikasi Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Ada beberapa bentuk klasifikasi dalam analisis isi. Janis (1965) menjelaskan
klasifikasi sebagai berikut:
1. Analisis Isi Pragmatik (Pragmatic Content Analysis), yakni prosedur memahami teks dengan mengklasifikasikan tanda menurut sebab atau akibatnya yang mungkin timbul. (Misalnya, penghitungan berapa kali suatu kata ditulis atau diucapkan, yang dapat mengakibatkan munculnya sikap suka atau tidak suka terhadap sebuah rezim
pemerintahan)
2. Analisis Isi Semantik (Semantic Content Analysis), yakni prosedur yang
mengklasifikasi tanda menurut maknanya. (Misalnya, menghitung berapa kali kata demokrasi dijadikan sebagai rujukan sebagai salah satu pilihan sistem politik yang dianut oleh sebagian besar masyarakat dunia). Atau, misalnya yang lain, berapa kali kata Indonesia disebut oleh Obama sebagai rujukan contoh negara dengan keragaman suku, budaya dan agama, yang mampu mempersatukan semuanya dalam bingkai negara kesatuan. Secara rinci, Janis mengembangkan Analisis Isi Semantik menjadi tiga macam kategori sebagai berikut:
a) Analisis Penunjukan (Designation Analysis), yakni menghitung frekuensi berapa sering objek tertentu (Orang, benda, kelompok, konsep) dirujuk. Analisis model ini juga biasa disebut sebagai Analisis Isi Pokok Bahasan (SubjectMatter Content Analysis).
b) Analisis pensifatan (Attribution Analysis), yakni menghitung frekuensi berapa sering karakteristik objek tertentu dirujuk atau disebut. (Misalnya, karakteristik tentang bahaya penggunaan obat terlarang bagi kehidupan).
c) Analisis Pernyataan (Assertion Analysis), yakni analisis teks dengan menghitung
seberapa sering objek tertentu dilabel atau diberi karakter secara khusus.
(Misalnya, berapa sering Iran disebut oleh Amerika sebagai negara yang
menantang himbauan masyarakat internasional dalam hal pembangunan proyeknuklir).
3. Analisis Sarana Tanda (Sign-Vehicle Analysis), yakni prosedur memahami teksdengan cara menghitung frekuensi berapa kali, misalnya, kata negara Indonesiamuncul dalam sambutan Obama tatkala berkunjung ke Indonesia (Bungin, 2001:234-235).

Pengertian dasar analisis isi (skripsi dan tesis)

Ada tiga konsep yang tercakup di dalam analisis isi. Pertama, analisis ini bersifat sistematis. Hal ini berarti isi yang akan dianalisis dipilih menurut aturan-aturan yang ditetapkan secara implisit, misalnya: cara penentuan sampel. Kedua, analisis isi bersifat obyektif. Ketiga, analisis isi bersifat kuantitatif. Ada lima tujuan analisis isi, yaitu: (Eriyanto, 2011 : 32-42)
1. Menggambarkan karakteristik dari pesan
2. Menggambarkan secara detail isi (content)
3. Melihat pesan pada khalayak yang berbeda
4. Melihat pesan dari komunikator yang berbeda
5. Menarik kesimpulan penyebab dari suatu pesan
Analisis isi sendiri tak pernah dijadikan dasar untuk membuat pernyataanpernyataan tentang efek-efek isi pada audien, misalnya: studi tentang film kartun di TV mengklaim bahwa 80% isinya mendukung aspek komersial, yaitu mengajak membeli susu, namun penemuan isi tidak boleh membuat si peneliti mengemukakan klaim atau pernyataan bahwa anak-anak menonton film akan membeli susu tersebut.Temuantemuan dalam analisis isi tertentu dibatasi oleh kerangka kategori-kategori dan definisi yang digunakan dalam analisis isi adalah kurangnya pesan-pesan yang relevan dengan
penelitian tersebut. Sedangkan tahap-tahap dalam analisis isi adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan pertanyaan penelitian atau hiotesis
2. Mendefenisikan populasi yang diteliti
3. Memilih sampel yang sesuai dari populasi
4. Memilih dan menentukan unit analisis
5. Menyusun kategori-kategori isi yang dianalisis
6. Membuat sistem hitungan
7. Melatih para pengkode dan melakukan studi percobaan
8. Mengkode isi menurut definisi yang telah ditentukan
9. Menganalisis data yang telah dikumpulkan
10. Menarik kesimpulan-kesimpulan dan mencari indikasi
Menurut Holsti (1969: 28), analisis isi adalah suatu teknik membuat kesimpulan dengan cara mengidentifikasi karakteristik-karakteristik pesan tertentu secara obyektif dan sistematis. Klaus Krippendoff mendefenisikan anaisis isi sebagai teknik penelitian dalam membuat kesimpulan-kesimpulan dari data konteksnya. Berdasarkan dua defenisi diatas, maka ada dua fungsi analisis isi, yaitu: memberikan uraian yang sistematis dan dapat diuji tentang isi manifese dan laten suatu wacana naratif, dan menghasilkan
kesimpulan yang valid tentang konteks naratif yang berdasarkan isi deskriptifnya.
(Holsti 1969: 28) mengemukakan tiga fungsi utama analisis isi, yaitu:
1. Menggambarkan karakteristik komunikasi dengan mengajukan pertanyaan: apa,
bagaimana, dan kepada siapa pesan itu disampaikan
2. Membuat kesimpulan-kesimpulan, seperti anteseden komunikasi, dengan
mengajukan pertanyaan mengapa pesan itu disampaikan, dan
Universitas Sumatera Utara
3. Membuat kesimpulan-kkesimpulan tentang konsekuensi komunikasi dengan
mengajukan apa efek-efek pesan tersebut.
Fungsi deskriftif dalam analisis isi mencakup identifikasi terhadap tema-tema
dan pola structural dalam suatu pesan, dan perbandingan isi pesan yang disampaikan
oleh komunikator yang berbeda atau sebaliknya pesan yang disampaikan oleh
komunikator yang sama dalam konteks yang berbeda. Fungsi inferensial adalah
mencakup penarikan kesimpulan tentang efek-efek yang mungkin ditimbulkan oleh
pesan tersebut dan menyimpulan norma-norma perilaku sosial yang direfleksikan oleh
pesan tersebut. Secara teknik Content Analysis mencakup upaya-upaya: klasifikasi
lambang-lambang yang dipakaidalam komunikasi, menggunakan kriteria dalam
klasifikasi, dan menggunakan teknik analisis tertentu dalam membuat prediksi.
Analisis isi didahului dengan melakukan coding terhadap istilah-istilah atau
penggunaan kata dan kalimat yang relevan, yang paling banyak muncul dalam media
komunikasi. Dalam hal pemberian coding, perlu juga dicatat dalam konteks mana istilah
itu muncul. Kemudian, dilakukan klasifikasi terhadap coding yang telah dilakukan.
Klasifikasi dilakukan dengan melihat sejauh mana satuan makna berhubungan dengan
tujuan penelitian. Klasifikasi ini dimaksudkan untuk membangun kategori dari setiap
klasifikasi. Kemudian satuan makna dan kategori dianalisis dan dicari hubungan satu
dengan lainnya untuk menemukan makna,arti, dan tujuan isi komunikasi itu. Hasil
analisis ini dideskripsikan dalam bentuk draf laporan penelitiansebagaimana umumnya
laporan penelitianPengertian dasar
Ada tiga konsep yang tercakup di dalam analisis isi. Pertama, analisis ini bersifat
sistematis. Hal ini berarti isi yang akan dianalisis dipilih menurut aturan-aturan yang
ditetapkan secara implisit, misalnya: cara penentuan sampel. Kedua, analisis isi bersifat
obyektif. Ketiga, analisis isi bersifat kuantitatif. Ada lima tujuan analisis isi, yaitu:
(Eriyanto, 2011 : 32-42)
1. Menggambarkan karakteristik dari pesan
2. Menggambarkan secara detail isi (content)
3. Melihat pesan pada khalayak yang berbeda
4. Melihat pesan dari komunikator yang berbeda
5. Menarik kesimpulan penyebab dari suatu pesan
Analisis isi sendiri tak pernah dijadikan dasar untuk membuat pernyataanpernyataan tentang efek-efek isi pada audien, misalnya: studi tentang film kartun di TV
mengklaim bahwa 80% isinya mendukung aspek komersial, yaitu mengajak membeli
susu, namun penemuan isi tidak boleh membuat si peneliti mengemukakan klaim atau
pernyataan bahwa anak-anak menonton film akan membeli susu tersebut.Temuantemuan dalam analisis isi tertentu dibatasi oleh kerangka kategori-kategori dan definisi
yang digunakan dalam analisis isi adalah kurangnya pesan-pesan yang relevan dengan
penelitian tersebut. Sedangkan tahap-tahap dalam analisis isi adalah sebagai berikut:
20
Universitas Sumatera Utara
1. Merumuskan pertanyaan penelitian atau hiotesis
2. Mendefenisikan populasi yang diteliti
3. Memilih sampel yang sesuai dari populasi
4. Memilih dan menentukan unit analisis
5. Menyusun kategori-kategori isi yang dianalisis
6. Membuat sistem hitungan
7. Melatih para pengkode dan melakukan studi percobaan
8. Mengkode isi menurut definisi yang telah ditentukan
9. Menganalisis data yang telah dikumpulkan
10. Menarik kesimpulan-kesimpulan dan mencari indikasi
Menurut Holsti (1969: 28), analisis isi adalah suatu teknik membuat kesimpulan dengan cara mengidentifikasi karakteristik-karakteristik pesan tertentu secara obyektif dan sistematis. Klaus Krippendorff mendefenisikan anaisis isi sebagai teknik penelitian dalam membuat kesimpulan-kesimpulan dari daa konteksnya. Berdasarkan dua defenisi diatas, maka ada dua fungsi analisis isi, yaitu: memberikan uraian yang sistematis dan dapat diuji tentang isi manifese dan laten suatu wacana naratif, dan menghasilkan
kesimpulan yang valid tentang konteks naratif yang berdasarkan isi deskriptifnya.
(Holsti 1969: 28) mengemukakan tiga fungsi utama analisis isi, yaitu:
1. Menggambarkan karakteristik komunikasi dengan mengajukan pertanyaan: apa,
bagaimana, dan kepada siapa pesan itu disampaikan
2. Membuat kesimpulan-kesimpulan, seperti anteseden komunikasi, dengan
mengajukan pertanyaan mengapa pesan itu disampaikan, dan
Universitas Sumatera Utara
3. Membuat kesimpulan-kkesimpulan tentang konsekuensi komunikasi dengan
mengajukan apa efek-efek pesan tersebut.
Fungsi deskriftif dalam analisis isi mencakup identifikasi terhadap tema-tema
dan pola structural dalam suatu pesan, dan perbandingan isi pesan yang disampaikan oleh komunikator yang berbeda atau sebaliknya pesan yang disampaikan oleh komunikator yang sama dalam konteks yang berbeda. Fungsi inferensial adalah mencakup penarikan kesimpulan tentang efek-efek yang mungkin ditimbulkan oleh pesan tersebut dan menyimpulan norma-norma perilaku sosial yang direfleksikan oleh pesan tersebut. Secara teknik Content Analysis mencakup upaya-upaya: klasifikasi lambang-lambang yang dipakaidalam komunikasi, menggunakan kriteria dalam klasifikasi, dan menggunakan teknik analisis tertentu dalam membuat prediksi. Analisis isi didahului dengan melakukan coding terhadap istilah-istilah atau penggunaan kata dan kalimat yang relevan, yang paling banyak muncul dalam media komunikasi. Dalam hal pemberian coding, perlu juga dicatat dalam konteks mana istilah itu muncul. Kemudian, dilakukan klasifikasi terhadap coding yang telah dilakukan.
Klasifikasi dilakukan dengan melihat sejauh mana satuan makna berhubungan dengan tujuan penelitian. Klasifikasi ini dimaksudkan untuk membangun kategori dari setiap klasifikasi. Kemudian satuan makna dan kategori dianalisis dan dicari hubungan satu dengan lainnya untuk menemukan makna,arti, dan tujuan isi komunikasi itu. Hasil analisis ini dideskripsikan dalam bentuk draf laporan penelitiansebagaimana umumnya laporan penelitian

Jenis- Jenis Bahan Ajar (skripsi dan tesis)

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, mengenal berbagai macam bentuk dan
model bahan ajar sudah lazim dan biasa dipergunakan. Mulai dari jenjang
terendah hingga perguruan tinggi (Kurniasih dan Sani, 2014: 60). Di antara bahan ajar tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Buku
Buku ajar yang ditulis oleh seorang penulis atau guru tentulah harus berisikan
buah pikirannya. Akan tetapi, buku tersebut haruslah diturunkan dari KD yang
tertuang dalam kurikulum sehingga buku akan memberi makna sebagai bahan
ajar bagi peserta didik yang mempelajarinya (Kurniasih dan Sani, 2014: 60).

Dalam Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008, kategori buku tidak hanya dibatasi untuk sekolah pendidikan dasar dan menengah, tetapi juga termasuk perguruan tinggi. Dalam Permendiknas tersebut semua buku masih digolongkan dalam empat kelompok, yakni (a) buku teks pelajaran, (b) buku panduan pendidik, (c) buku pengayaan, dan (d) buku referensi.
Jika dilihat dari segi isi dan fungsi dalam proses pembelajaran, buku
pendidikan dapat dibedakan menjadi tujuh jenis (Muslich, 2010: 24), antara
lain sebagai berikut.
(1) Buku acuan, yaitu buku yang berisi informasi dasar tentang bidang atau
hal tertentu. Informasi dasar atau pokok ini bisa dipakai acuan (referensi)
oleh guru untuk memahami sebuah masalah secara teoretis.
(2) Buku pegangan, yaitu buku berisi uraian rinci dan teknis tentang bidang
tertentu. Buku ini dipakai sebagai pegangan guru untuk memecahkan,
menganalisis, dan menyikapi permasalahan yang akan diajarkan kepada
siswa.
(3) Buku teks atau buku pelajaran, yaitu buku yang berisi uraian bahan tentang
mata pelajaran atau bidang studi tertentu, yang disusun secara sistematis
dan telah diseleksi berdasarkan tujuan tertentu, orientasi pembelajaran, dan
perkembangan siswa untuk diasimilasikan. Buku ini dipakai sebagai
sarana belajar dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
(4) Buku latihan, yaitu buku yang berisi bahan-bahan latihan untuk
memperoleh kemampuan dan keterampilan tertentu. Buku ini dipakai oleh
siswa secara periodik agar yang bersangkutan memiliki kemahiran dalam
bidang tertentu.
(5) Buku kerja atau buku kegiatan, yaitu buku yang difungsikan siswa untuk
menuliskan hasil pekerjaan atau hasil tugas yang diberikan guru. Tugastugas ini bisa ditulis di buku kerja tersebut atau secara lepas.
(6) Buku catatan, yaitu buku yang difungsikan untuk mencatat informasi atau
hal-hal yang diperlukan dalam studinya. Melalui buku catatan ini, siswa
dapat mendalami dan memahami kembali dengan cara membaca ulang
pada kesempatan lain.
(7) Buku bacaan, yaitu buku yang memuat kumpulan bacaan, informasi, atau
uraian yang dapat memperluas pengetahuan siswa tentang bidang tertentu.
Buku ini dapat menunjang bidang studi tertentu dalam memberikan
wawasan kepada siswa.
2. Modul
Modul adalah seperangkat bahan ajar yang disajikan secara sistematis sehingga pembacanya dapat belajar dengan atau tanpa seorang guru atau fasilitator. Dengan demikian, sebuah modul harus dapat dijadikan sebuah bahan ajar sebagai pengganti fungsi guru. Jika guru memiliki fungsi menjelaskan sesuatu, modul harus mampu menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang mudah diterima peserta didik sesuai dengan tingkat pengetahuan dan usianya (Kurniasih dan Sani, 2014: 61).
3. Handout
Handout berfungsi untuk membantu siswa agar tidak perlu mencatat dan
sebagai pendamping penjelasan guru. Handout yang baik harus diturunkan dari KD yang telah diatur dalam silabus dan kurikulum. Sebuah handout harus
memuat paling tidak
a. menuntun guru secara teratur dan jelas;
b. berpusat pada pengetahuan hasil dan pernyataan padat; dan
c. mempermudah dalam menjelaskan grafik dan tabel (Kurniasih dan Sani,
2014: 65).

Pengertian Bahan Ajar (skripsi dan tesis)

Menciptakan bahan ajar yang akan disuguhkan untuk siswa bukanlah persoalan yang sederhana. Bahan ajar haruslah sesuai dengan ketentuan yang sudah dibuat oleh pemerintah dan dapat memenuhi kebutuhan siswa ketika menggunakannya. Pemilihan dan penentuan bahan ajar bertujuan untuk memenuhi salah satu kriteria bahwa bahan ajar harus menarik dan dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi sehingga bahan ajar dibuat sesuai dengan kebutuhan dan kecocokan dengan KD yang akan diraih oleh peserta didik. Untuk itu diperlukan adanya  analisis bahan ajar untuk mengetahui apakah bahan ajar telah baik ataukah masih ada hal yang perlu diperbaiki (Kurniasih dan Sani, 2014: 59—61).
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan berupa seperangkat materi yang disusun secara sistematis untuk membantu siswa dan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan memungkinkan peserta didik untuk belajar (Kurniasih dan Sani, 2014: 56). Selain itu, bahan ajar merupakan gabungan antara pengetahuan (fakta dan informasi rinci), keterampilan (langkah-langkah, prosedur, keadaan, syaratsyarat), dan sikap (Kemp dalam Muslich, 2010: 206).

Syarat Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Analisis isi dapat dipergunakan jika memiliki syarat berikut.
1. Data yang tersedia sebagian besar terdiri dari bahan-bahan yang
terdokumentasi (buku, surat kabar, pita rekaman, atau naskah/manuscript).
2. Ada keterangan pelengkap atau kerangka teori tertentu yang menerangkan
tentang dan sebagai metode pendekatan terhadap data tersebut.
3. Peneliti memiliki kemampuan teknis untuk mengolah bahan-bahan/data-data yang dikumpulkannya karena sebagian dokumentasi tersebut bersifat sangat khas/spesifik.
(Merten dalam Ibrahim, 2009: 97)

Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Analisis isi pada awalnya berkembang dalam bidang surat kabar yang bersifat
kuantitatif. Pelopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori
teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis,
kemudian diberi interpretasi (Subrayogo, 2001: 6).

Analisis isi (content analysis) digunakan untuk memperoleh keterangan dari
komunikasi yang disampaikan dalam bentuk lambang yang terdokumentasi atau
dapat didokumentasikan. Analisis isi dapat dipakai untuk menganalisa semua
bentuk komunikasi, seperti pada surat kabar, buku, film, dan sebagainya. Dengan
menggunakan metode analisis isi, maka akan diperoleh suatu pemahaman
terhadap berbagai isi pesan komunikasi yang disampaikan oleh media massa atau dari sumber lain secara obyektif, sistematis, dan relevan (Subrayogo, 2001: 6).
Analisis isi merupakan suatu teknik penelitian untuk menguraikan isi komunikasi yang jelas secara objektif, sistematis, dan kuantitatif (Berelson dalam Ibrahim, 2009: 97). Selain itu, analisis isi merupakan teknik penelitian yang ditujukan untuk membuat kesimpulan dengan cara mengidentifikasi karakteristik tertentu pada pesan-pesan secara sistematis dan objektif (Holsti dalam Ibrahim, 2009: 97).
Analisis isi adalah suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (repicable) dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Sebagai suatu teknik penelitian, analisis isi mencakup prosedur-prosedur khusus untuk pemerosesan dalam data ilmiah dengan tujuan memberikan pengetahuan, membuka wawasan baru, dan menyajikan fakta (Subrayogo, 2001: 71).

Variabel aktif dan variabel atribut  (skripsi dan tesis)

Variabel aktif adalah variabel bebas yang dimanipulasi. Sebarang variabel yang dimanipulasikan merupakan variabel aktif. Misalnya peneliti memberikan penguatan positif untuk jenis kelakuan tertentu dan melakukan hal yang berbeda terhadap kelompok lain atau memberikan instruksi yang berlainan pada kedua kelompok tersebut atau peneliti menggunakan metode pembelajaran yang berbeda, atau memberikan imbalan kepada subyek-subyek dalam kelompok lain, atau menciptakan kecemasan dengan instruksi-instruksi yang meresahkan, maka peneliti secara aktif memanipulasi variabel metode, penguatan, dan kecemasan.
Variabel atribut adalah yang tidak dapat dimanipulasi atau kata lain variabel yang sudah melekat dan merupakan ciri dari subyek penelitian.  Perbedaan variabel aktif dan variabel atribut ini bersifat umum. Akan tetapi variabel atribut dapat pula menjadi variabel aktif. Ciri ini memungkinkan untuk penelitian relasi “yang sama” dengan cara berbeda

Variabel bebas dan variabel terikat (skripsi dan tesis)

Variabel bebas sering disebut independent, variabel stimulus, prediktor, antecedent. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Variabel terikat atau dependen atau disebut variabel output, kriteria, konsekuen, adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat tidak dimanipulasi, melainkan diamati variasinya sebagai hasil yang dipradugakan berasal dari variabel bebas. Biasanya variabel terikat adalah kondisi yang hendak kita jelaskan.
Dalam eksperimen-eksperimen, variabel bebas adalah variabel yang dimanipulasikan (“dimainkan”) oleh pembuat eksperimen. Misalnya, manakala peneliti di bidang pendidikan mengkaji akibat dari berbagai metode pengajaran, peneliti dapat memanipulasi metode sebagai (variabel bebasnya) dengan mengggunakan berbagai metode. Dalam penelitian yang bersifat tidak eksperimental, yang dijadikan variabel bebas ialah yang “secara logis” menimbulkan akibat tertentu terhadap suatu variabel terikat. Contohnya, dalam penelitian tentang merokok dan kanker paru-paru, merokok (yang memang telah dilakukan oleh banyak subyek) merupakan variable bebas, sementara kangker paru-paru merupakan akibat dari merokok atau sebagai variabel terikat. Jadi variabel bebas adalah variabel penyebab, sadangkan variabel terikat yang menjadi akibatnya.

Pengertian Variabel Penelitian (skripsi dan tesis)

Variabel merupakan sesuatu yang menjadi objek pengamatan penelitian, sering juga disebut sebagai faktor yang berperan dalam penelitian atau gejala yang akan diteliti. Menurut Kerlinger (2006: 49), variabel adalah konstruk atau sifat yang akan dipelajari yang mempunyai nilai yang bervariasi. Kerlinger juga mengatakan bahwa variabel adalah simbol/lambang yang padanya kita letakan sebarang nilai atau bilangan. Menurut Sugiyono (2009: 60), variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Selanjutnya menurut Suharsimi Arikunto (1998: 99), variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi perhatian suatu titik perhatian suatu penelitian. Bertolak dari pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut dan sifat atau nilai orang, faktor, perlakuan terhadap obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Klasifikasi Variabel Berdasarkan Posisi dan Fungsinya dalam Penelitian (skripsi dan tesis)

 

Jika ditinjau dari segi posisi dan fungsi; hubungan atau pengaruh masing-masing variabel dalam konteks suatu penelitian, maka penelitian dapat dibedakan atas:

– Variabel Bebas

Variabel bebas atau dibeberapa buku ada yang menyebutnya stimulus/ prediktor/antecendent/ eksogen/independen Merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono, 2009: 39)

– Variabel Terikat

Merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Biasa juga disebut sebagai variabel dependen, output/kriteria/ konsekuen/endogen/.

– Variabel Kontrol

Merupakan variabel yang tidak dapat dimanipulasi dan digunakan sebagai salah satu cara untuk mengontrol, meminimalkan, atau menetralkan pengaruh aspek tersebut.

– Variabel Extraneous

Merupakan variabel di luar variabel yang diteliti dan mempengaruhi variabel terikat. Jadi dapat disimpulkan variabel extraneous adalah variabel bebas yang tidak dikontrol.

– Variabel antara

Dalam posisinya variabel antara terletak dalam rentang variabel bebas dan variabel terikat, tetapi tidak sama dengan variabel extraneous. Variabel antara terjadi dan berlangsung sebagai akibat adanya variabel bebas dan merupakan sebab utama terjadinya perubahan pada variabel terikat, namun kadang-kadang hubungan atau pengaruh variabel bebas tehadap variabel terikat bisa secara langsung kalau akibat variabel bebas yang dipilih tidak membutuhkan kegiatan perantara  dalam mempengaruhi variabel terikat. Sesuai dengan pendapat Trucman (1988) bahwa variabel antara merupakan variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menjadi hubungan tidak langsung dan tidak dapat diamati atau diukur.

– Variabel Anteceden

Secara teoritis fungsi variabel anteceden dalam penelitian sama dengan variabel antara yaitu untuk melacak hasil yang lebih baik dan tepat dalam rangkaian hubungan sebab akibat di antara variabel yang diteliti.  Letak perbedaannya menurut Rosenberg (1968) yaitu variabel antara berada di antara variabel bebas  dan variabel terikat dalam suatu urutan  sebab akibat, sedangkan variabel anteceden  mendahului variabel  bebas.

– Variabel Penekan

Apabila dari hasil analisa awal disimpulkan tidak ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat, tetapi ketika variabel ketiga dimasukkan ternyata  hubungan itu menjadi tampak. Dalam kasus ini variabel ketiga tersebut menjadi penekan (supprissor variable).

– Variabel Penganggu

Merupakan kebalikan dari variabel penekan, apabila dalam analisis awal menunjukkan ada hubungan positif antara  variabel bebas dan variabel terikat, tetapi  apabila dimasuk variabel ketiga ternyata hubungan antara dua variabel tersebut  menjadi tidak nampak atau hubungannya menjadi negatif.  Dalam kasus ini variabel ketiga tersebut menjadi pengganggu (distorter variable).

Klasifikasi Variabel Berdasarkan Data (skripsi dan tesis)

Secara umum klasifikasi variabel berdasarkan data dapat dibedakan atas dua bentuk, yaitu:

a. Variabel Deskrit (Descrete Variable)

Merupakan variable kategorikal. Variabel kategorikal merupakan variabel yang pemilihannya dilakukan secara kategorikal dengan memperhatikan perbedaan kualitatif. Variabel ini tidak mempunyai angka pecahan. Jumlah kategori variabel bisa dua dan dapat pula lebih.

 

b.  Variabel Kontinu (Continuous Variable)

Merupakan variabel yang sering disebut sebagai variabel kuantitatif, yaitu variabel yang sinambung, yang memiliki nilai berhubungan atau ada dalam beberapa tingkatan (degree) yang sinambung dari “kurang kepada lebih)” serta dapat menerapkan angka (numeral) terhadap individu atau objek yang berbeda untuk menunjukkan berapa banyak variabel yang mereka miliki. Variabel ini sekurang-kurangnya mempunyai nilai tata jenjang, serta dapat dinyatakan dalam pecahan.

 

Metode analisis regresi linear dengan variabel moderating (skripsi dan tesis)

Variabel moderating adalah variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara satu variabel dengan variabel lain.

Variabel moderating adalah variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara satu variabel dengan variabel lain. Sebagai contoh: seorang suami menyayangi istrinya. Dengan hadirnya seorang anak, maka rasa sayang tersebut bertambah. Berarti variabel anak merupakan moderating antara rasa saya suami terhadap istri. Contoh lain: kompensasi memperkuat pengaruh antara kepuasan kerja terhadap kinerja. Artinya kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja, dan adanya kompensasi yang tinggi maka pengaruh antara kepuasan kerja terhadap kinerja menjadi lebih meningkat. Dalam hal ini, kompensasi bisa saja berpengaruh terhadap kinerja bisa saja tidak.

Metode analisis regresi linear dengan variabel moderating:

1. Multiple Regression Analysis (MRA)

Metode ini dilakukan dengan menambahkan variabel perkalian antara variabel bebas dengan variabel moderatingnya, sehingga persamaan umumnya adalah sebagai berikut: Y = a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X1 X2 dengan Y adalah kinerja, X1 adalah kepuasan kerja, X2 kompensasi dan X1 X2 adalah perkalian antara kepuasan kerja dengan kompensasi. Hipotesis moderating diterima jika variabel X1 X2 mempunyai pengaruh signifikan terhadap Y, tidak tergantung apakah X1 dan X2 mempunyai pengaruh terhadap Y atau tidak. Model ini biasanya menyalahi asumsi multikolinearitas atau adanya korelasi yang tinggi antara variabel bebas dalam model regresi, sehingga menyalahi asumsi klasik. Hampir tidak ada model MRA yang terbebas dari masalah multikolinearitas, sehingga sebenarnya model ini tidak disarankan untuk dipergunakan.

  1. Absolut residual

Model ini mirip dengan MRA, tetapi variabel moderating didekati dengan selisih mutlak (absolut residual) antara variabel bebas dengan variabel moderatingnya. Penerimaan hipotesis juga sama, dan model ini masih riskan terhadap gangguan multikolinearitas meskipun risiko itu lebih kecil dari pada dengan metode MRA.

  1. Residual

Model ini menggunakan konsep lack of fit yaitu hipotesis moderating diterima terjadi jika terdapat ketidakcocokan dari deviasi hubungan linear antara variabel independen. Langkahnya adalah dengan meregresikan antara kepuasan kerja terhadap kompensasi dan dihitung nilai residualnya. Pada program SPSS dengan klik Save pada regreesion, lalu klik pada usntandardized residual. Nilai residual kemudian diambil nilai absolutnya lalu diregresikan antara kinerja terhadap absolut residual. Hipotesis moderating diterima jika nilai t hitung adalah negatif dan signifikan. Model ini terbebas dari gangguan multikolinearitas karena hanya menggunakan satu variabel bebas.

:

1. Multiple Regression Analysis (MRA)

Metode ini dilakukan dengan menambahkan variabel perkalian antara variabel bebas dengan variabel moderatingnya, sehingga persamaan umumnya adalah sebagai berikut: Y = a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X1 X2 dengan Y adalah kinerja, X1 adalah kepuasan kerja, X2 kompensasi dan X1 X2 adalah perkalian antara kepuasan kerja dengan kompensasi. Hipotesis moderating diterima jika variabel X1 X2 mempunyai pengaruh signifikan terhadap Y, tidak tergantung apakah X1 dan X2 mempunyai pengaruh terhadap Y atau tidak. Model ini biasanya menyalahi asumsi multikolinearitas atau adanya korelasi yang tinggi antara variabel bebas dalam model regresi, sehingga menyalahi asumsi klasik. Hampir tidak ada model MRA yang terbebas dari masalah multikolinearitas, sehingga sebenarnya model ini tidak disarankan untuk dipergunakan.

  1. Absolut residual

Model ini mirip dengan MRA, tetapi variabel moderating didekati dengan selisih mutlak (absolut residual) antara variabel bebas dengan variabel moderatingnya. Penerimaan hipotesis juga sama, dan model ini masih riskan terhadap gangguan multikolinearitas meskipun risiko itu lebih kecil dari pada dengan metode MRA.

  1. Residual

Model ini menggunakan konsep lack of fit yaitu hipotesis moderating diterima terjadi jika terdapat ketidakcocokan dari deviasi hubungan linear antara variabel independen. Langkahnya adalah dengan meregresikan antara kepuasan kerja terhadap kompensasi dan dihitung nilai residualnya. Pada program SPSS dengan klik Save pada regreesion, lalu klik pada usntandardized residual. Nilai residual kemudian diambil nilai absolutnya lalu diregresikan antara kinerja terhadap absolut residual. Hipotesis moderating diterima jika nilai t hitung adalah negatif dan signifikan. Model ini terbebas dari gangguan multikolinearitas karena hanya menggunakan satu variabel bebas.

Uji Linearitas (skripsi dan tesis)

Uji linearitas dipergunakan untuk melihat apakah model yang dibangun mempunyai hubungan linear atau tidak. Uji ini jarang digunakan pada berbagai penelitian, karena biasanya model dibentuk berdasarkan telaah teoretis bahwa hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatnya adalah linear. Hubungan antar variabel yang secara teori bukan merupakan hubungan linear sebenarnya sudah tidak dapat dianalisis dengan regresi linear, misalnya masalah elastisitas.

Jika ada hubungan antara dua variabel yang belum diketahui apakah linear atau tidak, uji linearitas tidak dapat digunakan untuk memberikan adjustment bahwa hubungan tersebut bersifat linear atau tidak. Uji linearitas digunakan untuk mengkonfirmasikan apakah sifat linear antara dua variabel yang diidentifikasikan secara teori sesuai atau tidak dengan hasil observasi yang ada. Uji linearitas dapat menggunakan uji Durbin-Watson, Ramsey Test atau uji Lagrange Multiplier.

Uji Autokorelasi (skripsi dan tesis)

Uji autokorelasi adalah untuk melihat apakah terjadi korelasi antara suatu periode t dengan periode sebelumnya (t -1). Secara sederhana adalah bahwa analisis regresi adalah untuk melihat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat, jadi tidak boleh ada korelasi antara observasi dengan data observasi sebelumnya.

Uji autokorelasi hanya dilakukan pada data time series (runtut waktu) dan tidak perlu dilakukan pada data cross section seperti pada kuesioner di mana pengukuran semua variabel dilakukan secara serempak pada saat yang bersamaan. Model regresi pada penelitian di Bursa Efek Indonesia di mana periodenya lebih dari satu tahun biasanya memerlukan uji autokorelasi.

Beberapa uji statistik yang sering dipergunakan adalah uji Durbin-Watson, uji dengan Run Test dan jika data observasi di atas 100 data sebaiknya menggunakan uji Lagrange Multiplier. Beberapa cara untuk menanggulangi masalah autokorelasi adalah dengan mentransformasikan data atau bisa juga dengan mengubah model regresi ke dalam bentuk persamaan beda umum (generalized difference equation). Selain itu juga dapat dilakukan dengan memasukkan variabel lag dari variabel terikatnya menjadi salah satu variabel bebas, sehingga data observasi menjadi berkurang 1.

Uji Heteroskedastisitas (skripsi dan tesis)

 

Uji heteroskedastisitas adalah untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu ke pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang memenuhi persyaratan adalah di mana terdapat kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau disebut homoskedastisitas.

Deteksi heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan metode scatter plot dengan memplotkan nilai ZPRED (nilai prediksi) dengan SRESID (nilai residualnya). Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik, seperti mengumpul di tengah, menyempit kemudian melebar atau sebaliknya melebar kemudian menyempit. Uji statistik yang dapat digunakan adalah uji Glejser, uji Park atau uji White.

Beberapa alternatif solusi jika model menyalahi asumsi heteroskedastisitas adalah dengan mentransformasikan ke dalam bentuk logaritma, yang hanya dapat dilakukan jika semua data bernilai positif. Atau dapat juga dilakukan dengan membagi semua variabel dengan variabel yang mengalami gangguan heteroskedastisitas.

Uji Multikolinearitas (skripsi dan tesis)

Uji multikolinearitas adalah untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antara variabel-variabel bebas dalam suatu model regresi linear berganda. Jika ada korelasi yang tinggi di antara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikatnya menjadi terganggu. Sebagai ilustrasi, adalah model regresi dengan variabel bebasnya motivasi, kepemimpinan dan kepuasan kerja dengan variabel terikatnya adalah kinerja. Logika sederhananya adalah bahwa model tersebut untuk mencari pengaruh antara motivasi, kepemimpinan dan kepuasan kerja terhadap kinerja. Jadi tidak boleh ada korelasi yang tinggi antara motivasi dengan kepemimpinan, motivasi dengan kepuasan kerja atau antara kepemimpinan dengan kepuasan kerja.

Alat statistik yang sering dipergunakan untuk menguji gangguan multikolinearitas adalah dengan variance inflation factor (VIF), korelasi pearson antara variabel-variabel bebas, atau dengan melihat eigenvalues dan condition index (CI).

Beberapa alternatif cara untuk mengatasi masalah multikolinearitas adalah sebagai berikut:
1. Mengganti atau mengeluarkan variabel yang mempunyai korelasi yang tinggi.
2. Menambah jumlah observasi.
3. Mentransformasikan data ke dalam bentuk lain, misalnya logaritma natural, akar kuadrat atau bentuk first difference delta.
4. Dalam tingkat lanjut dapat digunakan metode regresi bayessian yang masih jarang sekali digunakan.

Uji Normalitas (skripsi dan tesis)

Uji normalitas adalah untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang terdistribusi normal. Jadi uji normalitas bukan dilakukan pada masing-masing variabel tetapi pada nilai residualnya. Sering terjadi kesalahan yang jamak yaitu bahwa uji normalitas dilakukan pada masing-masing variabel. Hal ini tidak dilarang tetapi model regresi memerlukan normalitas pada nilai residualnya bukan pada masing-masing variabel penelitian.

Pengertian normal secara sederhana dapat dianalogikan dengan sebuah kelas. Dalam kelas siswa yang bodoh sekali dan pandai sekali jumlahnya hanya sedikit dan sebagian besar berada pada kategori sedang atau rata-rata. Jika kelas tersebut bodoh semua maka tidak normal, atau sekolah luar biasa. Dan sebaliknya jika suatu kelas banyak yang pandai maka kelas tersebut tidak normal atau merupakan kelas unggulan. Pengamatan data yang normal akan memberikan nilai ekstrim rendah dan ekstrim tinggi yang sedikit dan kebanyakan mengumpul di tengah. Demikian juga nilai rata-rata, modus dan median relatif dekat.

Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji histogram, uji normal P Plot, uji Chi Square, Skewness dan Kurtosis atau uji Kolmogorov Smirnov. Tidak ada metode yang paling baik atau paling tepat. Tipsnya adalah bahwa pengujian dengan metode grafik sering menimbulkan perbedaan persepsi di antara beberapa pengamat, sehingga penggunaan uji normalitas dengan uji statistik bebas dari keragu-raguan, meskipun tidak ada jaminan bahwa pengujian dengan uji statistik lebih baik dari pada pengujian dengan metode grafik.

Jika residual tidak normal tetapi dekat dengan nilai kritis (misalnya signifikansi Kolmogorov Smirnov sebesar 0,049) maka dapat dicoba dengan metode lain yang mungkin memberikan justifikasi normal. Tetapi jika jauh dari nilai normal, maka dapat dilakukan beberapa langkah yaitu: melakukan transformasi data, melakukan trimming data outliers atau menambah data observasi. Transformasi dapat dilakukan ke dalam bentuk Logaritma natural, akar kuadrat, inverse, atau bentuk yang lain tergantung dari bentuk kurva normalnya, apakah condong ke kiri, ke kanan, mengumpul di tengah atau menyebar ke samping kanan dan kiri.

Uji Asumsi Klasik (skripsi dan tesis)

Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi linear berganda yang berbasis ordinary least square (OLS). Jadi analisis regresi yang tidak berdasarkan OLS tidak memerlukan persyaratan asumsi klasik, misalnya regresi logistik atau regresi ordinal. Demikian juga tidak semua uji asumsi klasik harus dilakukan pada analisis regresi linear, misalnya uji multikolinearitas tidak dapat dipergunakan pada analisis regresi linear sederhana dan uji autokorelasi tidak perlu diterapkan pada data cross sectional.

Uji asumsi klasik juga tidak perlu dilakukan untuk analisis regresi linear yang bertujuan untuk menghitung nilai pada variabel tertentu. Misalnya nilai return saham yang dihitung dengan market model, atau market adjusted model. Perhitungan nilai return yang diharapkan dilakukan dengan persamaan regresi, tetapi tidak perlu diuji asumsi klasik.

Setidaknya ada lima uji asumsi klasik, yaitu uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji normalitas, uji autokorelasi dan uji linearitas. Tidak ada ketentuan yang pasti tentang urutan uji mana dulu yang harus dipenuhi. Analisis dapat dilakukan tergantung pada data yang ada. Sebagai contoh, dilakukan analisis terhadap semua uji asumsi klasik, lalu dilihat mana yang tidak memenuhi persyaratan. Kemudian dilakukan perbaikan pada uji tersebut, dan setelah memenuhi persyaratan, dilakukan pengujian pada uji yang lain.

Regresi Linear Berganda (skripsi dan tesis)

Analisis regresi linear berganda sebenarnya sama dengan analisis regresi linear sederhana, hanya variabel bebasnya lebih dari satu buah. Persamaan umumnya adalah:
Y = a + b1 X1 + b2 X2 + …. + bn Xn.
Analisis regresi linear berganda memerlukan pengujian secara serempak dengan menggunakan F hitung. Signifikansi ditentukan dengan membandingkan F hitung dengan F tabel atau melihat signifikansi pada output SPSS. Dalam beberapa kasus dapat terjadi bahwa secara simultan (serempak) beberapa variabel mempunyai pengaruh yang signifikan, tetapi secara parsial tidak. Asumsi klasik tersebut meliputi asumsi normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, heteroskedastisitas dan asumsi linearitas (akan dibahas belakangan).

Regresi Linear Sederhana (skripsi dan tesis)

Analisis regresi linear sederhana dipergunakan untuk mengetahui pengaruh antara satu buah variabel bebas terhadap satu buah variabel terikat. Persamaan umumnya adalah:
Y = a + b X.
Dengan Y adalah variabel terikat dan X adalah variabel bebas. Koefisien a adalah konstanta (intercept) yang merupakan titik potong antara garis regresi dengan sumbu Y pada koordinat kartesius.

Regresi Linear (skripsi dan tesis)

Regresi linear adalah alat statistik yang dipergunakan untuk mengetahui pengaruh antara satu atau beberapa variabel terhadap satu buah variabel. Variabel yang mempengaruhi sering disebut variabel bebas, variabel independen atau variabel penjelas. Variabel yang dipengaruhi sering disebut dengan variabel terikat atau variabel dependen.

Secara umum regresi linear terdiri dari dua, yaitu regresi linear sederhana yaitu dengan satu buah variabel bebas dan satu buah variabel terikat; dan regresi linear berganda dengan beberapa variabel bebas dan satu buah variabel terikat. Analisis regresi linear merupakan metode statistik yang paling jamak dipergunakan dalam penelitian-penelitian sosial, terutama penelitian ekonomi. Program komputer yang paling banyak digunakan adalah SPSS (Statistical Package For Service Solutions).