Uji kecocokan (fit) (skripsi dan tesis)

Setelah melakukan estimasi yang menghasilkan nilai parameter, perlu dilakukan pemeriksaan tingkat kecocokan. Antara variabel dengan data digunakan GOF (Goodness of Fit) untuk mengukur kecocokan model yaitu RMSEA (Root Mean Square Error of Approximation). RMSEA mirip dengan Chi-square yang terkoreksi dengan ukuran sampel. RMSEA mengukur penyimpangan nilai parameter suatu model dengan matriks kovarians populasinya.

RMSEA ≤ 0.05 menunjukkan close fit

0.05 < RMSEA ≤ 0.08 menunjukkan good fit

0.08 < RMSEA ≤ 0.1 menunjukkan mediocre (marginal) fit

0.1 < RMSEA menunjukkan poor fit

Bootstrap (skripsi dan tesis)

Bootstrap adalah salah satu prosedur dalam statistika untuk melihat tingkat ketidakpastian dari hasil estimasi. Bootstrap meliputi langkah-langkah memilih sampel secara random dari suatu set data dengan pengembalian dan melakukan analisis setiap sampel dengan cara yang sama. Setiap sampel yang diambil dikembalikan sebelum mengambil sampel berikutnya. Dengan demikian, satu titik data sangat mungkin untuk terambil lebih dari sekali dalam satu sampel bootstrap. Jumlah elemen dalam setiap sampel sama dengan jumlah elemen dari set data aslinya. Tujuan dari bootstrap yaitu memperbaiki ukuran sampel untuk mengevaluasi kebenaran dalam situasi yang tidak standar. Bootstrap merupakan sebuah pendekatan untuk membuktikan kebenaran model multivariat dengan menggambarkan sejumlah besar subsampel dan menduga model untuk setiap subsampel. Pendugaan dari semua subsampel kemudian digabungkan, tidak hanya menyediakan pendugaan koefisien terbaik. Pendekatan  ini tidak bergantung pada asumsi statistik tentang populasi untuk menilai signifikansi statistik, melainkan membuat penilaiannya hanya berdasarkan data sampel (Hair et.al., 2007). Salah satu bentuk aplikasi metode resampling bootstrap adalah mengestimasi selang kepercayaan dari parameter sampel. Pada kasus selang kepercayaan dan pengujian hipotesis pengambilan sampel bootstrap paling sedikit sebanyak 1000 replikasi bootstrap (Chernick, 2007). Pendugaan bootstrap dapat diperoleh dengan cepat tanpa iterasi untuk beberapa model persamaan struktural yang berguna pada tahap awal penelitian. Metode bootstrap dapat menghasilkan nilai standar eror. Nilai standar eror digunakan untuk menentukan sebuah parameter yang diuji signifikan atau tidak. Sayangnya, metode bootstrap memerlukan data yang lengkap.

Pendugaan Parameter SEM (skripsi dan tesis)

Estimasi terhadap model dilakukan untuk menghasilkan nilai-nilai parameter.
Jenis galat estimasi yang sering terjadi dalam SEM yaitu besar varians dari suatu variabel bernilai negatif. Varians adalah rata-rata dari jumlah kuadrat deviasi.
Sumber-sumber galat yang sering terjadi dalam SEM yaitu (Hair et. al., 1989):
1) Banyaknya parameter yang diestimasi relatif terhadap varians-kovarians
matriks sampel.
2) Penggunaan efek timbal-balik (reciprocal effect). 3) Kegagalan dalam menetapkan skala dari konstruk.
Pendugaan parameter dalam SEM dapat digunakan untuk memperoleh dugaan dari setiap parameter yang dispesifikasikan dalam model yang membentuk matriks ∑ sedemikian sehingga nilai parameter sedekat mungkin dengan nilai yang ada dalam matriks S (matriks kovarians dari sampel). Metode-metode yang digunakan dalam SEM yaitu Maximum Likelihood Estimation (MLE), Weighted Least Square (WLS), Ordinary Least Square (OLS), Unweighted Least Square (ULS), Generalized Least Square (GLS), Instrument Variable (IV), Two Stage Least Square (TSLS), dan Diagonally Weighted Least Square (DWLS).

Identifikasi Dalam SEM (skripsi dan tesis)

Tujuan dari dilakukannya identifikasi model yaitu untuk menentukan analisis dapat dilakukan lebih lanjut atau tidak, maka identifikasi model perlu dilakukan. Berikut ini kategori hasil identifikasi model dalam SEM yaitu:

1) Under-Identified, yaitu model dengan jumlah parameter yang diestimasi lebih besar dari jumlah data yang diketahui. Nilai df pada model ini adalah kurang dari 0 (nol)/negatif.

2) Just-Identified, yaitu model dengan jumlah parameter yang diestimasi sama dengan data yang diketahui. Nilai df pada model ini adalah 0 (nol).

3) Over-Identified, yaitu model dengan jumlah parameter yang diestimasi lebih kecil dari jumlah data yang diketahui. Nilai df pada model ini adalah lebih dari 0 (nol)/positif. Analisis dalam SEM dapat dilakukan jika model yang diperoleh adalah OverIdentified dan SEM menghindari model Under-Identified agar data dapat dianalisis. Pada saat identifikasi kemungkinan diperoleh nilai unik untuk setiap parameter

Langkah Dalam SEM (skripsi dan tesis)

Langkah ini merupakan langkah dalam melakukan identifikasi terhadap permasalahan penelitian, sehingga hubungan antar variabel-variabel yang dihipotesiskan harus didukung oleh teori yang kuat. Spesifikasi model tersebut berdasarkan teori atau penelitian sebelumnya atau bisa juga dengan menggunakan diagram path. Langkah-langkah memperoleh model yaitu: 1) Spesifikasi model pengukuran, yaitu dengan cara: a) Mendefinisikan variabel laten yang ada dalam penelitian. b) Mendefinisikan variabel teramati. c) Mendefinisikan hubungan antara setiap variabel laten dengan variabel teramati yang terkait. 2) Spesifikasi model struktural Dengan cara mendefinisikan hubungan kausal di antara variabel laten. 3) Gambar diagram path dari model hybrid Model hybrid adalah bentuk umum dari SEM yang merupakan kombinasi model pengukuran dan struktural. Model hybrid mengandung variabel-variabel laten maupun variabel-variabel teramati yang terkait

Prosedur SEM (skripsi dan tesis)

Suatu model dikatakan baik jika dapat mendeskripsikan suatu kejadian yang sebenarnya dengan galat yang kecil. Munculnya galat tidak dapat dihindari karena kejadian sebenarnya sangat kompleks sedangkan model hanya menjelaskan hubungan pokoknya saja. Detail dari kejadian yang tidak bisa dijelaskan oleh model akan masuk dalam komponen galat (residual). Terkait dengan data dapat dinyatakan dengan:

Data = Model + Residual

di mana: Data adalah nilai pengukuran yang berkaitan dengan variabel-variabel teramati dan membentuk sampel penelitian. Residual adalah perbedaan antara model yang dihipotesiskan dengan data yang diamati. Model adalah model yang dihipotesiskan atau dispesifikasikan oleh peneliti. Jika nilai residual mendekati 0 (nol), maka kecocokan data-model yang dihasilkan baik. Dalam SEM, selain data mentah, matriks kovarians dan matriks korelasi dari variabel yang diuji dapat digunakan sebagai input. Matriks kovarians adalah matriks yang terdiri dari nilai kovarians antara semua indikator setiap variabel.

Jenis SEM (skripsi dan tesis)

Berikut ini jenis-jenis yang digunakan dalam model persamaan struktural:

1) Diagram Path

Diagram path adalah representasi grafis dari sebuah model yang menggambarkan seluruh hubungan antara variabel-variabel yang ada di dalamnya. Variabel- variabel yang terdapat dalam diagram path adalah variabel teramati dan tidak mengandung variabel laten. Diagram path dibuat untuk mempermudah melihat hubungan yang ada pada model.

2) Confirmatory Factor Analysis (CFA)

Analisis faktor konfirmatori atau Confirmatory Factor Analysis (CFA) dalam SEM merupakan model pengukuran sebuah variabel laten diukur oleh satu atau lebih variabel-variabel teramati. CFA didasarkan pada variabel-variabel teramati adalah indikator-indikator tidak sempurna dari variabel laten atau konstruk tertentu yang mendasarinya. Karakteristik dalam model CFA yaitu: a. Model dibentuk lebih dahulu. 12 b. Jumlah variabel laten ditentukan oleh analisis. c. Pengaruh suatu variabel laten terhadap variabel teramati ditentukan lebih dahulu. d. Beberapa efek langsung variabel laten terhadap variabel teramati dapat ditetapkan sama dengan nol atau konstan. e. Galat pengukuran boleh berkorelasi. f. Kovarians variabel-variabel laten dapat diestimasi atau ditetapkan pada nilai tertentu. g. Identifikasi parameter diperlukan

Galat SEM (skripsi dan tesis)

Galat yang terdapat dalam SEM meliputi:

1) Galat Struktural (Structural Error)

Dilambangkan dengan “zeta”, untuk memperoleh estimasi parameter yang konsisten, galat struktural diasumsikan tidak berkorelasi dengan variabel-variabel eksogen dari model. Walaupun begitu, galat struktural bisa dimodelkan berkorelasi dengan galat struktural yang lain.

2) Galat Pengukuran (Measurement Error)

Variabel teramati X dilambangkan dengan “delta” dan variabel teramati Y dilambangkan dengan “epsilon”. Matriks kovarians dari δ diberi tanda dengan huruf Yunani Θδ “theta delta” dan untuk matriks kovarians dari ε yaitu Θε “theta epsilon”. Galat pengukuran berpengaruh pada penduga parameter dan besar kecilnya varians. Hal ini dapat diatasi oleh SEM melalui persamaan-persamaan yang ada pada model pengukuran

Model SEM (skripsi dan tesis)

Model-model yang terdapat dalam SEM meliputi:

1) Model struktural Model struktural bertujuan untuk memeriksa hubungan yang mendasari atau yang menyusun variabel laten ke dalam model pengukuran dan variabel konstruk lainnya berdasarkan teori. Parameter yang menunjukkan regresi variabel laten eksogen diberi label dengan huruf Yunani (“gamma”), sedangkan untuk regresi variabel laten endogen diberi label dengan huruf Yunani (“beta”), dan matriks kovarians variabel-variabel laten eksogen diberi label dengan huruf Yunani Φ (“phi”).

2) Model pengukuran

Model pengukuran digunakan untuk menduga hubungan antar variabel laten dengan variabel-variabel teramatinya. Variabel laten dimodelkan sebagai sebuah faktor yang mendasari variabel-variabel teramati yang terkait. Muatan-muatan faktor atau factor loadings yang menghubungkan variabel laten dengan variabel- variabel teramati disimbolkan dengan huruf Yunani (“lambda”). 9 Pada model variabel laten SEM, hubungan kausal (sebab-akibat) terjadi diantara variabel-variabel tidak teramati (unobserved variables) atau variabel-variabel laten. Parameter-parameter dari persamaan pada model pengukuran SEM merupakan factor loadings dari variabel laten terhadap indikator-indikator atau variabel-variabel teramati yang terkait. Model SEM memberikan informasi tentang hubungan kausal simultan di antara variabel-variabelnya, memberikan informasi tentang muatan faktor dan galat-galat pengukuran

Variabel SEM (skripsi dan tesis)

Variabel-variabel pada SEM masing-masing saling mempengaruhi. Variabel- variabel yang terdapat dalam SEM meliputi:

1) Variabel laten (Latent Variable) Dalam SEM variabel yang menjadi perhatian adalah variabel laten. Variabel laten atau konstruk laten adalah variabel yang tidak terukur secara langsung, sebagai contoh: perilaku, sikap, perasaan, dan motivasi. Variabel laten terdapat dua jenis, yaitu: a)Eksogen Variabel laten eksogen dinotasikan dengan huruf Yunani adalah “ksi”. Variabel bebas (independenet latent variable) pada semua persamaan yang ada pada SEM, dengan simbol lingkaran dengan anak panah menuju keluar. b)Endogen Variabel laten endogen dinotasikan dengan huruf Yunani adalah “eta”. Variabel terikat (dependent latent variable) pada paling sedikit satu persamaam dalam model, dengan simbol lingkaran dengan anak panah menuju keluar dan satu panah ke dalam. Simbol anak panah untuk menunjukkan adanya hubungan kausal (ekor anak panah untuk hubungan penyebab dan kepala anak panah untuk variabel akibat). Pemberian nama variabel laten pada diagram lintasan bisa mengikuti notasi matematiknya (ksi atau eta) atau sesuai dengan nama dari variabel dalam penelitian

2) Variabel teramati (Observed atau Measured atau Manifest Variable) Variabel teramati adalah variabel yang dapat diamati atau dapat diukur secara empiris dan disebut sebagai indikator. Variabel teramati merupakan efek atau ukuran dari variabel laten. Variabel teramati yang berkaitan dengan variabel eksogen diberi notasi matematik dengan label X, sedangkan yang berkaitan dengan dengan variabel laten endogen diberi label Y. Disimbolkan dengan bujur sangkar atau kotak, variabel ini merupakan indikator. Pemberian nama variabel teramati pada diagram lintasan bisa mengikuti notasi matematiknya atau nama/kode dari pertanyaan-pertanyaan pada kuisioner.

Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

Pemodelan persamaan struktural (Structural Equation Modeling, SEM) adalah salah satu teknik peubah ganda yang dapat menganalisis secara simultan beberapa peubah laten endogenous dan eksogenous (Bollen, 1989). SEM dilakukan untuk menganalisis serangkaian hubungan secara simultan sehingga memberikan efisiensi secara statistik. Pendugaan atas persamaan regresi yang berbeda tetapi terkait satu sama lain secara bersama-sama dilakukan dengan model struktural dalam SEM (Hair et.al., 2007). Dari segi metodologi, SEM memiliki beberapa peranan, di antaranya, sebagai sistem persamaan simultan, analisis kausal linear, analisis lintasan (path analysis), analisis struktur kovarians, dan model persamaan struktural (Wijanto, 2008). Komponen-komponen yang terdapat dalam SEM yang menjadi karakteristik dalam model tersebut yaitu: 1) Variabel yaitu variabel laten dan variabel teramati. 2) Model yaitu model struktural dan model pengukuran. 3) Galat yaitu galat struktural dan galat pengukura

Variabel-Variabel SEM (skripsi dan tesis)

 

Variabel laten merupakan variabel yang tidak dapat diamati atau diukur secara langsung. Variabel laten tidak dapat diukur secara langsung tetapi dapat diwakili atau diukur oleh satu atau lebih variabel (indikator) (Hair et al., 2010:632). Sedangkan, variabel observasi atau manifest variable adalah variabel yang datanya harus dicari melalui penelitian lapangan misalnya melalui 7 instrumen-instrumen survey (Hair et al., 2010:635). Variabel observasi digunakan sebagai indikator dari variabel laten. Sehingga variabel laten bisa diukur secara tidak langsung melalui pengamatan pada variabel observasi. SEM mempunyai 2 jenis variabel laten yaitu variabel laten eksogen dan variabel laten endogen : 1. Variabel laten eksogen adalah variabel yang tidak dipengaruhi oleh variabel laten lainnya. Dalam diagram jalur, variabel laten eksogen ditandai sebagai variabel yang tidak ada kepala panah yang menuju kearahnya dari variabel laten lainnya (Hair et al., 2010:637). Variabel laten eksogen dinotasikan dengan Ksi (ξ). 2. Variabel laten endogen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel laten lainnya. Dalam diagram jalur, variabel endogen ini ditandai oleh kepala panah yang menuju kearahnya dari variabel laten eksogen atau variabel laten endogen (Hair et al., 2010:637). Variabel laten endogen dinotasikan dengan Eta (η).

Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

Structural Equation Modeling (SEM) merupakan teknik dengan kombinasi dari analisis jalur (path) dan analisis regresi yang memungkinkan peneliti menguji secara simultan rangkaian hubungan yang saling terkait antara variabel terukur (measured variables) dan konstrak laten (latent constructs) (Hair et. al, 2010:634). Analisis SEM merupakan analisis multivariat yang bersifat kompleks, karena melibatkan sejumlah variable bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable) yang saling berhubungan membentuk sebuah model. Pada SEM tidak dapat dikatakan ada variabel bebas dan variabel terikat, karena sebuah variabel bebas dapat menjadi variabel terikat pada hubungan yang lain. SEM dapat dikategorikan menjadi 2 model yaitu model struktural dan model pengukuran. Model struktural yaitu model yang menggambarkan hubungan-hubungan yang ada diantara variabel-variabel laten. Sedangkan model pengukuran menggambarkan tentang hubungan antara variabel yang diamati (juga disebut indikator) dengan variabel laten yang mendasarinya (Kline, 1998)

Proses Analisis SEM (skripsi dan tesis)

Menurut Hair et al (1995) dalam Hartono (2006), ada 7 (tujuh) langkah yang harus dilakukan apabila menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) yaitu:
1. Pengembangan model teoritis
Dalam langkah pengembangan model teoritis, hal yang harus dilakukan
adalah melakukan serangkaian eksplorasi ilmiah melalui telaah pustaka guna mendapatkan justifikasi atas model teoritis yang akan dikembangkan. SEM  digunakan bukan untuk menghasilkan sebuah model, tetapi digunakan untuk mengkonfirmasi model teoritis tersebut melalui data empirik.
2. Pengembangan diagram alur
Dalam langkah kedua ini, model teoritis yang telah dibangun pada tahap
pertama akan digambarkan dalam sebuah diagram alur, yang akan mempermudah untuk melihat hubungan kausalitas yang ingin diuji. Dalam diagram alur, hubungan antar konstruk akan dinyatakan melalui anak panah. Anak panah yang lurus menunjukkan sebuah hubungan kausal yang langsung antara satu konstruk lainnya. Sedangkan garis-garis lengkung antar konstruk dengan anak panah pada setiap ujungnya menunjukkan korelasi antara konstruk. Konstruk yang dibangun dalam diagram alur dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu :
1) Konstruk eksogen (exogenous constructs), yang dikenal juga sebagai source variables atau independent variables yang akan diprediksi oleh variabel yang lain dalam model. Konstruk eksogen adalah konstruk yang dituju oleh garis dengan satu ujung panah.
2) Konstruk endogen (endogen constructs), yang merupakan faktor-faktor yang diprediksi oleh satu atau beberapa konstruk. Konstruk endogen dapat
memprediksi satu atau beberapa konstruk endogen lainnya, tetapi konstruk
eksogen hanya dapat berhubungan kausal dengan konstruk endogen.
3. Konversi diagram alur ke dalam persamaan
Persamaan yang didapat dari diagram alur yang dikonversi terdiri dari :
1) Persamaan struktural (structural equation) yang dirumuskan untuk
menyatakan hubungan kausalitas antar berbagai konstruk.
Variabel endogen = variabel eksogen + variabel endogen + error
2) Persamaan spesifikasi model pengukuran (measurement model), dimana harus
ditentukan variabel yang mengukur konstruk dan menentukan serangkaian
matriks yang menunjukkan korelasi antar konstruk atau variabel.
4. Memilih matriks input dan estimasi model
SEM menggunakan input data yang hanya menggunakan matriks
varians/kovarians atau matriks korelasi untuk keseluruhan estimasi yang dilakukan. Matriks kovarian digunakan karena SEM memiliki keunggulan dalam menyajikan perbandingan yang valid antara populasi yang berbeda atau sampel yang berbeda, yang tidak dapat disajikan oleh korelasi. Hair et.al (1996) menyarankan agar menggunakan matriks varians/kovarians pada saat pengujian teori sebab lebih memenuhi asumsi-asumsi metodologi dimana standar error menunjukkan angka yang lebih akurat dibanding menggunakan matriks korelasi.
5. Kemungkinan munculnya masalah identifikasi
Problem identifikasi pada prinsipnya adalah problem mengenai
ketidakmampuan dari model yang dikembangkan untuk menghasilkan estimasi yang
unik. Bila setiap kali estimasi dilakukan muncul problem identifikasi, maka
sebaiknya model dipertimbangkan ulang dengan mengembangkan lebih banyak
konstruk.
6. Evaluasi kriteria goodness of fit
Pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap kesesuaian model melalui telaah
terhadap berbagai kriteria goodness of fit. Berikut ini beberapa indeks kesesuaian dan
cut off value untuk menguji apakah sebuah model dapat diterima atau ditolak menurut
Ferdinand (2000) :
1) Uji Chi-square, dimana model dipandang baik atau memuaskan bila nilai Chisquare nya rendah. Semakin kecil nilai chi-square semakin baik model itu dan
nilai signifikansi lebih besar dari cut off value (p>0,05).
2) RMSEA (The Root Mean Square Error of Approximation), yang
menunjukkan goodness of fit yang dapat diharapkan bila model diestimasi
dalam populasi (Hair et.al., 1995). Nilai RMSEA yang lebih kecil atau sama
dengan 0,08 merupakan indeks untuk dapat diterimanya model yang
menunjukkan sebuah close fit dari model itu berdasarkan degrees of freedom.
3) GFI (Goodness of Fit Index) adalah ukuran non statistikal yang mempunyai
rentang nilai antara 0 (poor fit) sampai dengan 1.0 (perfect fit). Nilai yang
tinggi dalam indeks ini menunjukkan sebuah “better fit”.
4) AGFI (Adjusted Goodness of Fit Index), dimana tingkat penerimaan yang
direkomendasikan adalah bila AGFI mempunyai nilai sama dengan atau lebih
besar dari 0,90.
5) CMIN/DF adalah The Minimum Sample Discrepancy Function yang dibagi
dengan Degree of Freedom. Chi-square dibagi DF-nya disebut chi-square
relatif. Bila nilai chi-square relatif kurang dari 2.0 atau 3.0 adalah indikasi
dari acceptable fit antara model dan data.
6) TLI (Tucker Lewis Index), merupakan incremental index yang
membandingkan sebuah model yang diuji terhadap sebuah baseline model,
dimana sebuah model ≥ 0,95 dan nilai yang mendekati 1 menunjukkan a very
good fit.
7) CFI (Comparative Fit Index), dimana bila mendekati 1, mengindikasi tingkat
fit yang paling tinggi. Nilai yang direkomendasikan adalah CFI ≥ 0,947. Interpretasi dan modifikasi model
Tahap terakhir ini adalah menginterpretasikan model dan memodifikasi model
bagi model-model yang tidak memenuhi syarat pengujian yang dilakukan. Tujuan modifikasi adalah untuk melihat apakah modifikasi yang dilakukan dapat menurunkan nilai chi-square; seperti diketahui, semakin kecilnya angka chi-square menunjukkan semakin fit model tersebut dengan data yang ada.
Proses SEM tentu tidak bisa dilakukan secara manual selain karena
keterbatasan kemampuan manusia, juga karena kompleksitas model dan alat statistik  yang digunakan. Walaupun banya ahli yang sudah menyadari perlunya membuat model yang dapat menjelaskan banyak fenomena sosial dalam hubungan banyak variabel, namun mereka belum dapat menangani kompleksitas perhitungan matematisnya. Saat ini banyak software yang khusus digunakan untuk analisis model SEM, seperti LISREL, AMOS, EQS dan Mplus. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan AMOS 18.0 sebagai alat analisisnya. Sebagai sebuah model persamaan struktur, AMOS telah sering digunakan dalam pemasaran dan penelitian manajemen strategik. Model kausal AMOS menunjukkan pengukuran dan masalah yang struktural dan digunakan untuk menganalisis dan menguji model hipotesis. AMOS sangat tepat untuk analisis seperti ini, karena kemampuannya untuk : (1) memperkirakan koefisien yang tidak diketahui dari persamaan linier struktural, (2) mengakomodasi model yang meliputi latent variabel, (3) mengakomodasi kesalahan pengukuran pada variabel dependen dan independen, (4) mengakomodasi peringatan yang timbal balik, simultan dan saling
ketergantungan

Bagian Dalam Permodelan SEM (skripsi dan tesis)

Secara umum, sebuah model SEM dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu:

1. Measurement Model Measurement model adalah bagian dari model SEM yang menggambarkan hubungan antara variabel laten dengan indikator-indikatornya.

2. Structural Model Structural model menggambarkan hubungan antar variabel-variabel laten atau antar variabel eksogen dengan variabel laten.

Asumsi Untuk menggunakan SEM (skripsi dan tesis)

Asumsi Untuk menggunakan SEM diperlukan asumsi-asumsi yang mendasari penggunaannya. Asumsi tersebut diantaranya adalah:

1. Normalitas Data Uji normalitas yang dilakukan pada SEM mempunyai dua tahapan. Pertama menguji normalitas untuk setiap variabel, sedangkan tahap kedua adalah pengujian normalitas semua variabel secara bersama-sama yang disebut dengan multivariate normality. Hal ini disebabkan jika setiap variabel normal secara individu, tidak berarti jika diuji secara bersama (multivariat) juga pasti berdistribusi normal.

2. Jumlah Sampel Pada umumnya dikatakan penggunaan SEM membutuhkan jumlah sampel yang besar. Menurut pendapat Ferdinand (2002) dalam Wuensch (2006) bahwa ukuran sampel untuk pengujian model dengan menggunakan SEM adalah antara 100-200 sampel atau tergantung pada jumlah parameter yang digunakan dalam seluruh variabel laten, yaitu jumlah parameter dikalikan 5 sampai 10. Satu survei terhadap 72 penelitian yang menggunakan SEM didapatkan median ukuran sampel sebanyak 198. Untuk itu jumlah sampel sebanyak 200 data pada umumnya dapat diterima sebagai sampel yang representatif pada analisis SEM.

3. Multicolinnearity dan Singularity Suatu model dapat secara teoritis diidentififikasi tetapi tidak dapat diselesaikan karena masalah-masalah empiris, misalnya adanya multikolinearitas tinggi dalam setiap model.

4. Data interval Sebaiknya data interval digunakan dalam SEM. Sekalipun demikian, tidak seperti pada analisis jalur, kesalahan model-model SEM yang eksplisit muncul karena penggunaan data ordinal. Variabel-variabel eksogenous berupa variabel-variabel dikotomi atau dummy dan variabel dummy kategorikal tidak boleh digunakan dalam variabel-variabel endogenous. Penggunaan data ordinal atau nominal akan mengecilkan koefesien matriks korelasi yang digunakan dalam SEM.

Konsep dan Istilah Dalam SEM (skripsi dan tesis)

1. Model jalur ialah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas, perantara dan tergantung. Pola hubungan ditunjukkan dengan menggunakan anak panah. Anak panah tunggal menunjukkan hubungan sebab-akibat antara variabelvariabel eksogen atau perantara dengan satu variabel tergantung atau lebih. Anak panah juga menghubungkan kesalahan-kesalahan (variabel error) dengan semua variabel endogen masing-masing. Anak panah ganda menunjukkan korelasi antara pasangan variabel-variabel eksogen.

2. Model sebab akibat (causal modeling,) atau disebut juga analisis jalur (path analysis), yang menyusun hipotesis hubungan sebab akibat (causal relationships) diantara variabel- variabel dan menguji model-model sebab akibat (causal models) dengan menggunakan sistem persamaan linier. Model-model sebab akibat dapat mencakup variabel-variabel manifes (indikator), variabelvariabel laten atau keduanya.

3. Variabel eksogen dalam suatu model jalur ialah semua variabel yang tidak ada penyebab-penyebab ekspilsitnya atau dalam diagram tidak ada anak-anak panah yang menuju ke arahnya, selain pada bagian kesalahan pengukuran. Jika antara variabel eksogen dikorelasikan maka korelasi tersebut ditunjukkan dengan anak panah berkepala dua yang menghubungkan variabel-variabel tersebut

. 4. Variabel endogen ialah variabel yang mempunyai anak panah-anak panah menuju ke arah variabel tersebut. Variabel yang termasuk didalamnya mencakup semua variabel perantara dan tergantung.

5. Variabel laten adalah variabel yang tidak dapat diukur secara langsung kecuali diukur dengan satu atau lebih variabel manifes.

6. Variabel manifes adalah variabel yang digunakan untuk menjelaskan atau mengukur sebuah variabel laten. Dalam satu variabel laten terdiri dari beberapa variabel manifes.

7. Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut “beta” yang menunjukkan pengaruh langsung dari suatu variabel bebas terhadap variabel tergantung dalam suatu model jalur tertentu.

8. Analisis faktor penegasan (confirmatory factor analysis), suatu teknik kelanjutan dari analisis faktor dimana dilakukan pengujian hipotesis-hipotesis struktur factor loadings dan interkorelasinya. Isi sebuah model SEM pastilah variabel-variabel, baik itu variabel laten maupun variabel manifes. Jika ada sebuah variabel laten, pastilah akan ada dua atau lebih variabel manifes.

Banyak pendapat menyarankan sebuah variabel laten sebaiknya dijelaskan oleh paling tidak tiga variabel manifes. Cara sederhana untuk mengetahui apakah sebuah variabel dapat digolongkan menjadi sebuah variabel laten adalah dengan menguji apakah variabel tersebut dapat langsung diukur, jika tidak, dapat dikategorikan sebagai variabel laten yang membutuhkan sejumlah variabel manifes. Dalam sebuah model SEM, sebuah variabel laten dapat berfungsi sebagai variabel eksogen atau variabel endogen. Sebuah variabel dependen dapat saja menjadi variabel independen untuk variabel yang lain

Sejarah dan Pengertian SEM (skripsi dan tesis)

Sewal Wright mengembangkan konsep ini pada tahun 1934, pada awalnya teknik ini dikenal dengan analisa jalur dan kemudian dipersempit dalam bentuk analisis Structural Equation Modeling (Yamin, 2009). SEM (Structural Equation Modeling) adalah suatu teknik statistik yang mampu menganalisis pola hubungan antara konstruk laten dan indikatornya, konstruk laten yang satu dengan lainnya, serta kesalahan pengukuran secara langsung. SEM memungkinkan dilakukannya analisis di antara beberapa variabel dependen dan independen secara langsung (Hair et al, 2006). Teknik analisis data menggunakan Structural Equation Modeling (SEM), dilakukan untuk menjelaskan secara menyeluruh hubungan antar variabel yang ada dalam penelitian. SEM digunakan bukan untuk merancang suatu teori, tetapi lebih ditujukan untuk memeriksa dan membenarkan suatu model. Oleh karena itu, syarat utama menggunakan SEM adalah membangun suatu model hipotesis yang terdiri dari model struktural dan model pengukuran dalam bentuk diagram jalur yang berdasarkan justifikasi teori. SEM adalah merupakan sekumpulan teknik-teknik statistik yang memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan secara simultan. Hubungan itu dibangun antara satu atau beberapa variabel independen (Santoso, 2011). SEM menjadi suatu teknik analisis yang lebih kuat karena mempertimbangkan pemodelan interaksi, nonlinearitas, variabel-variabel bebas yang berkorelasi (correlated independent), kesalahan pengukuran, gangguan kesalahan-kesalahan yang berkorelasi (correlated error terms), beberapa variabel bebas laten (multiple latent independent) dimana masing-masing diukur dengan menggunakan banyak indikator, dan satu atau dua variabel tergantung laten yang juga masing-masing diukur dengan beberapa indikator. Dengan demikian menurut definisi ini SEM dapat digunakan alternatif lain yang lebih kuat dibandingkan dengan menggunakan regresi berganda, analisis jalur, analisis faktor, analisis time series, dan analisis kovarian (Byrne, 2010). Yamin (2009) mengemukakan bahwa di dalam SEM peneliti dapat melakukan tiga kegiatan sekaligus, yaitu pemeriksaan validitas dan reliabilitas instrumen (setara dengan analisis faktor konfirmatori), pengujian model hubungan antar variabel laten (setara dengan analisis path), dan mendapatkan model yang bermanfaat untuk prediksi (setara dengan model struktural atau analisis regresi). Dua alasan yang mendasari digunakannya SEM adalah (1) SEM mempunyai kemampuan untuk mengestimasi hubungan antar variabel yang bersifat multiple relationship. Hubungan ini dibentuk dalam model struktural (hubungan antara konstruk dependen dan independen). (2) SEM mempunyai kemampuan untuk menggambarkan pola hubungan antara konstruk laten dan variabel manifes atau variabel indikator.

KONSEP IDENTIFIKASI MODEL SEM (skripsi dan tesis)

Model – Model Struktural dapat berupa dalam SEM ialah: 1) just – identified, 2) over – identified, dan 3) under – identified

Model ‘Just – identified’– : jumlah poin data varian dan kovarian sama dengan jumlah parameter yang harus diestimasi. Model ini secara ilmiah tidak menarik karena tidak ada Degree of Freedom (DF) sehingga model harus selalu diterima / tidak dapat ditolak (Catatan: DF = data – parameter)

Model ‘Over – identified’– : jumlah poin data varian dan kovarian variabel-variabel yang teramati lebih besar dari jumlah parameter yang harus diestimasi. Dengan demikian terdapat DF positif sehingga memungkinkan penolakan model

Model ‘Under – identified’– : jumlah poin data varian dan kovarian lebih kecil dibandingkan dengan jumlah parameter yang harus diestimasi. Dengan demikian model akan kekurangan informasi yang cukup untuk mencari pemecahan estimasi parameter karena akan terdapat solusi yang tidak terhingga untuk model yang seperti ini.

Saturated Model– : mempunyai parameter bebas sebanyak jumlah moments (rata-rata dan varian). Jika dianalisis dengan data yang lengkap, maka model akan selalu cocok dengan data sampel secara sempurna (Chi square = 0.0; DF = 0)

PRINSIP DASAR DIBALIK SEM (skripsi dan tesis)

Dalam statistik terdapat generaliasi yang menyatakan bahwa beberapa variabel saling berhubungan satu dengan yang lain dalam suatu kelompok persamaan linear. Hubungan tersebut menjadi semakin kompleks tetapi inti pesannya tetap sama, yaitu: kita dapat menguji apakah beberapa variable saling berhubungan melalui seperangkat hubungan linier dengan cara memeriksa varian dank ovarian variable tersebut. Dictum ini dapat diilustrasikan secara sederhana sebagai berikut:

Ada sekelompok angka (kita beri simbol X): 1, 2, dan 3. Sekeleompok angka tersebut mempunyai rata-rata sebesar 2 dan standard deviasi 1. Kemudian sekelompok ini ini (X) kita kalikan 4; maka akan menjadi sekelompok angka sebagai berikut: 4, 8, dan 12 (Kita beri simbol Y). Sekelompok angka tersebut mempunyai rata-rata sebesar 8, standard deviasi 4, dan varian sebesar 16 (varian adalah standard deviasi yang dikuadratkan). Seperangkat angka X dapat dihubungkan dengan seperangkat anhgka Y dengan menggunakan persamaan Y = 4 X; dengan demikian varian Y ialah 16 kali X. Dari persamaan tersebut kita dapat melakukan pengujian hipotesis, yaitu Y dan X dihubungkan dengan menggunakan persamaan Y = 4secara tidak langsung dengan cara membandingkan varian – varian variable X dan Y.

Dalam kaitannya dengan pemahaman tersebut, maka prosedur dalam SEM dilakukan dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Nyatakan secara tegas bahwa beberapa variabel berkaitan antara satu dengan yang lainnya dengan • menggunakan diagram jalur.

Teliti melalui beberapa aturan internal yang kompleks implikasi-implikasi apa saja dalam kaitannya • degan varian – varian dan kovarian-kovariannya beberapa variabel tersebut.

Ujilah apakah semua varian dan kovarian cocok dengan modelnya. •

Laporkan hasil-hasil pengujian statistik, dan juga estimasi-estimasi parameter serta kesalahan-kesalahan • standard untuk semua koefisen numerik yang ada dalam persamaan linear.

Berdasarkan semua informasi di atas, peneliti memutuskan apakah model nampak sesuai dengan data • yang dipunyai atau tidak

ACUAN INDEKS KECOCOKAN MODEL DALAM SEM (skripsi dan tesis)

Untuk mengetahui apakah model yang dibuat didasarkan pada data observasi sesuai dengan model teori atau tidak diperlukan acuan indeks kecocokan model. Berikut ini nilai-nilai indeks kecocokan model yang sering digunakan dalam SEM, diantaranya:

Nilai Chi Square– : semakin kecil maka model semakin sesuai antara model teori dan data sampel. Nilai ideal sebesar <3

Rasio Kritis (Critical Ratio)– : Rasio deviasi tertentu dari nilai rata-rata standard deviasi. Nilai ini diperoleh dari estimasi parameter dibagi dengan standard error . Besar nilai CR adalah 1,96 untuk pembobotan regresi dengan significance sebesar 0,05 untuk koefesien jalurnya

Jika nilai CR > 1,96 – maka kovarian – kovarian faktor mempunyai hubungan signifikan

Jika koefesien struktural dibuat standar– , misalnya 2; maka var laten tergantung akan meningkat sebesar 2

Kesalahan pengukuran– sebaiknya sebesar 0

Pembobotan regresi (regression weight):– sebesar 1, tidak boleh sama dengan 0, bersifat random jika ada tanda ‘$’

Spesifikasi model– dengan nilai konstan 1

Maximum Likehood Estimation– akan bekerja dengan baik pada sampel sebesar >2500

Significance level– (probabilitas) sebaiknya <0.05

– Reliabilitas konstruk (construct reliability): minimal sebesar 0,70 untuk faktor loadings

Varian ekstrak – (uji lanjut reliabilitas): nilai minimal 0.5 semakin mendekati 1 semakin reliabel

Nilai indeks keselarasan (– goodness of fit index) (GFI): mengukur jumlah relatif varian dan kovarian yang besarnya berkisar dari 0 – 1. Jika nilai besarnya mendekati 0 maka model mempunyai kecocokan yang rendah sedang nilai mendekati 1 maka model mempunyai kecocokan yang baik

Nilai indeks keselarasan yang disesuaikan (– Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI): Fungsi sama dengan GFI perbedaan terletak pada penyesuaian nilai DF terhadap model yang dispesifikasi. Nilai AGFI sama dengan atau lebih besar dari 0,9. Jika nilai lebih besar dari 0,9 maka model mempunyai kesesuaian model keseluruhan yang baik

Fungsi perbedaan sampel minimum (– The minimum sample discrepancy function (CMNF)) yang merupakan nilai statistik Chi Square dibagi dengan nilai derajat kebebasan (degree of freedom (df)) disebut juga Chi Square relatif dengan besaran nilai kurang dari 0,2 dengan toleransi dibawah 0,3 yang merupakan indikator diterimanya suatu kecocokan model dan data

Indeks Tucker Lewis (Tucker Lewis – Index (TLI)) dengan ketentuan sebagai penerimaan sebuah model sebesar sama dengan atau lebih besar dari 0,95. Jika nilai mendekati 1 maka model tersebut menunjukkan kecocokan yang sangat tinggi

Indeks Kecocokan Komparatif (– Comparative Fit Index (CFI)) dengan nilai antara 0- 1 dengan ketentuan jika nilai mendekati angka 1 maka model yand dibuat mempunyai kecocokan yang sangat tinggi sedang jika nilai mendekati 0, maka model tidak mempunyai kecocokan yang baik

Index Parsimony– : untuk kecocokan model yang layak nilainya >0,9.

Root mean square error of approximation– , (RMSEA): berfungsi sebagai kriteria untuk pemodelan struktur kovarian dengan mempertimbangkan kesalahan yg mendekati populasi. Kecocokan model yg cocok dengan matriks kovarian populasi. Model baik jika nilainya lebih kecil atau sama dengan 0,05 ; cukup baik sebesar atau lebih kecil dari 0,08

Uji Reliabilitas– : untuk menghitung reliabilitas model yang menunjukkan adanya indikator-indikator

yang mempunyai derajat kesesuaian yang baik dalam satu model satu dimensi. Reliabilitas merupakan ukuran konsistensi internal indikator-indikator suatu konstruk yang menunjukkan derajat sejauh mana setiap indikator tersebut menunjukkan sebuah konstruk laten yang umum. Reliabilitas berikutnya ialah Varian Extracted dengan besar diatas atau sama dengan 0,5. Dengan ketentuan nilai yang semakin tinggi menunjukkan bahwa indikator-indikator sudah mewakili secara benar konstruk laten yang dikembangkan

Parameter dengan nilai 0– mempunyai arti tidak ada hubungan antar variabel yang diobservasi. Parameter dapat secara bebas diestimasi dengan nilai tidak sama dengan 0. Fixed parameter diestimasi tidak berasal dari data, misalnya 1; free parameter diestimasi dari data sampel yang diasumsikan oleh peneliti tidak sama dengan 0.

Root Mean Square Residual (RMR)– : nilai rata-rata semua residual yang ditandarisasi. Nilai RMR berkisar mulai 0 – 1, suatu model yang cocok mempunyai nilai RMR < 0.05.

Parsimony Based Indexes of Fit (PGFI)– : Parsimony model yang berfungsi untuk mempertimbangkan kekompleksitasan model yang dihipotesiskan dalam kaitannya dengan kecocokan model secara menyeluruh. Nilai kecocokan ideal adalah 0.9

Normed Fit Index (NFI)– : Nilai NFI mulai 0 – 1 diturunkan dari perbandingan antara model yang dihipotesiskan dengan suatu model independen tertentu. Model mempunyai kecocokan tinggi jika nilai mendekati 1

Relative Fit Index (RFI)– : merupakan turunan dari NFI dengan nilai 0 -1. Model mempunyai kecocokan yang ideal dengan nilai 0.95

First Fit Index (PRATIO)– : berkaitan dengan model parsimony

Noncentrality Parameter (NCP)– : parameter tetap yang berhubungan dengan DF yang berfungsi untuk mengukur perbedaan antara matriks kovarian populasi dengan matriks kovarian observasi. Dengan Confidence Interval 90% maka NCP berkisar antara 29,983 – 98,953

The Expected Cross Validation Index (ECVI)– : mengukur perbedaan antara matriks kovarian yang dicocokkan dalam sampel yg dianalisis dengan matriks kovarian yang diharapkan yang akan diperoleh dari sampel lain dengan ukuran yang sama. Nilai ECVI dapat berapa saja dan tidak ada kisarannya. Jika model mempunyai nilai ECVI terkecil, maka model tersebut dapat direplikasi.

Hoelter’s Critical N (CN)– : berfungsi untuk melihat kecukupan ukuran sampel yang digunakan dalam riset. CN mempunyai ketentuan suatu model mempunyai ukuran sampel yang cukup jika nilai CN > 200.

Residual– : perbedaan antara matriks kovarian model dengan matriks kovarian sampel, semakin kecil perbedaan maka model semakin baik.

ASUMSI DASAR SEM (skripsi dan tesis)

Untuk menggunakan SEM, peneliti memerlukan pengetahuan tentang asumsi-asumsi yang mendasari penggunaannya. Beberapa asumsi tersebut, diantaranya ialah:

Distribusi normal indikator – indikator multivariat • (Multivariate normal distribution of the indicators): Masing-masing indikator mempunyai nilai yang berdistribusi normal terhadap indikator lainnya. Karena permulaan yang kecil normalitas multivariat dapat menuntun kearah perbedaan yang besar dalam pengujian chi-square, dengan demikian akan melemahkan kegunaannya. Secara umum, pelanggaran asumsi ini menaikkan chi-square sekalipun demikian didalam kondisi tertentu akan menurunkannya. Selanjutnya penggunaan pengukuran ordinal atau nominal akan menyebabkan adanya pelanggaran normalitas multivariat. Perlu diperhatikan bahwa normalitas multivariat diperlukan untuk estimasi kemiripan maksimum / maximum likelihood estimation (MLE), yang merupakan metode dominan dalam SEM yang akan digunakan untuk membuat estimasi koefesien – koefesien (jalur) struktur. Khusus MLE membutuhkan variabel-variabel endogenous yang berdistribusi normal.

Secara umum, sebagaimana ditunjukkan dalam suatu studi-studi simulasi menunjukkan, bahwa dalam kondisi – kondisi data yang sangat tidak normal, estimasi-estimasi parameter SEM, misalnya estimasi jalur masih dianggap akurat tetapi koefesien-koefesien signifikansi yang bersangkutan akan menjadi terlalu tinggi sehingga nilai-nilai chi-square akan meningkat. Perlu diingat bahwa untuk uji keselarasan chi-square dalam model keseluruhan, nilai chi-square tidak harus signifikan jika ada keselarasan model yang baik, yaitu: semakin tinggi nilai chi-square, semakin besar perbedaan model yang diestimasi danmatrices kovarian sesungguhnya, tetapi keselarasan model semakin buruk. Chi-square yang meninggi dapat mengarahkan peneliti berpikir bahwa model-model yang sudah dibuat memerlukan modifikasi dari apa yang seharusnya. Kurangnya normalitas multivariat biasanya menaikkan statistik chi-square, misalnya, statistik keselarasan chi-square secara keseluruhan untuk model yang bersangkutan akan bias kearah kesalahan Type I, yaitu menolak suatu model yang seharusnya diterima. Pelanggaran terhadap normalitas multivariat juga cenderung menurunkan (deflate) kesalahan-kesalahan standar mulai dari menengah sampai ke tingkat tinggi. Kesalahan-kesalahan yang lebih kecil dari yang seharusnya terjadi mempunyai makna jalur-jalur regresi dan kovarian-kovarian faktor / kesalahan didapati akan menjadi signifikan secara statistik dibandingkan dengan seharusnya yang terjadi.

Distribusi normal multivariat variabel-variabel tergantung laten • ( Multivariate normal distribution of the latent dependent variables). Masing-masing variabel tergantung laten dalam model harus didistribusikan secara normal untuk masing-masing nilai dari setiap variabel laten lainnya. Variabel-variabel laten dichotomi akan melanggar asumsi ini karena alasan-alasan tersebut.

Linieritas • (Linearity). SEM mempunyai asumsi adanya hubungan linear antara variabel-variabel indikator dan variabel-variabel laten, serta antara variabel-variabel laten sendiri. Sekalipun demikian, sebagaimana halnya dengan regresi, peneliti dimungkinkan untuk menambah transformasi eksponensial, logaritma, atau non-linear lainnya dari suatu variabel asli ke dalam model yang dimaksud.

Pengukuran tidak langsung • (Indirect measurement): Secara tipikal, semua variabel dalam model merupakan variabel-variabel laten.

Beberapa indikator • (Multiple indicators). Beberapa indikator harus digunakan untuk mengukur masing-masing variabel laten dalam model. Regresi dapat dikatakan sebagai kasus khusus dalam SEM dimana hanya ada satu indikator per variabel laten. Kesalahan pemodelan dalam SEM membutuhkan adanya lebih dari satu pengukuran untuk masing-masing variabel laten.

Rekursivitas • (Recursivity): Suatu model disebut rekursif jika semua anak panah menuju satu arah, tidak ada arah umpan balik (feedback looping), dan faktor gangguan (disturbance terms) atau kesalahan tersisa (residual error) untuk variabel-variabel endogenous yang tidak dikorelasikan. Dengan kata lain, model-model recursive merupakan model dimana semua anak panah mempunyai satu arah tanpa putaran umpan balik, dan peneliti dapat membuat asumsi kovarian – kovarian gangguan kesalahan semua 0. Hal itu berarti bahwa semua variabel yang tidak diukur yang merupakan determinan dari variabel-variabel endogenous tidak dikorelasikan satu dengan lainnya sehingga tidak membentuk putaran umpan balik (feedback loops). Model – model dengan gangguan kesalahan yang berkorelasi dapat diperlakukan sebagai model recursive hanya jika tidak ada pengaruh-pengaruh langsung diantara variabel-variabel endogenous

Data interval: • Sebaiknya data interval digunakan dalam SEM. Sekalipun demikian, tidak seperti pada analisis jalur tradisional, kesalahan model-model SEM yang eksplisit muncul karena penggunaan data ordinal. Variabel-variabel exogenous berupa variabel-variabel dichotomi atau dummy dan variabel dummy kategorikal tidak boleh digunakan dalam variabel-variabel endogenous. Penggunaan data ordinal atau nominal akan mengecilkan koefesien matriks korelasi yang digunakan dalam SEM. Jika data ordinal yang digunakan maka sebelum di analisis dengan SEM, data harus diubah ke interval dengan menggunakan method of successive interval (MSI)

Ketepatan yang tinggi: • Apakah data berupa data interval atau ordinal, data-data tersebut harus mempunyai jumlah nilai yang besar. Jika variabel – variabel mempunyai jumlah nilai yang sangat kecil, maka masalah-masalah metodologi akan muncul pada saat peneliti membandingkan varian dan kovarian, yang merupakan masalah sentral dalam SEM.

Residual-residual acak dan kecil: • Rata-rata residual – residual atau kovarian hasil pengitungan yang diestimasikan minus harus sebesar 0, sebagaimana dalam regresi. Suatu model yang sesuai akan hanya mempunyai residual – residual kecil. Residual – residual besar menunjukkan kesalahan spesifikasi model, sebagai contoh, beberapa jalur mungkin diperlukan untuk ditambahkan ke dalam model tersebut.

Gangguan kesalahan yang tidak berkorelasi • (Uncorrelated error terms) seperti dalam regresi, maka gangguan kesalahan diasumsikan saja. Sekalipun demikian, jika memang ada dan dispesifikasi secara eksplsit dalam model oleh peneliti, maka kesalahan yang berkorelasi (correlated error) dapat diestimasikan dan dibuat modelnya dalam SEM.

Kesalahan residual yang tidak berkorelasi • (Uncorrelated residual error): Kovarian nilai – nilai variabel tergantung yang diprediksi dan residual – residual harus sebesar 0.

Multikolinearitas yang lengkap: • multikolinearitas diasumsikan tidak ada, tetapi korelasi antara semua variabel bebas dapat dibuat model secara eksplisit dalam SEM. Multikolinearitas yang lengkap akan menghasilkan matriks – matriks kovarian tunggal, yang mana peneliti tidak dapat melakukan penghitungan tertentu, misalnya inversi matrix karena pembagian dengan 0 akan terjadi.

Ukuran Sampel• tidak boleh kecil karena SEM bergantung pada pengujian-pengujian yang sensitif terhadap ukuran sampel dan magnitude perbedaan-perbedaan matrices kovarian. Secara teori, untuk ukuran sampelnya berkisar antara 200 – 400 untuk model-model yang mempunyai indikator antara 10 – 15. Satu survei terhadap 72 penelitian yang menggunakan SEM ditemukan median ukuran sampel sebanyak 198. Sampel di bawah 100 akan kurang baik hasilnya jika menggunakan SEM.

Aplikasi utama Structural Equation Modeling (skripsi dan tesis)

Aplikasi utama Structural Equation Modeling meliputi:

Model sebab akibat (1. causal modeling,) atau disebut juga analisis jalur (path analysis), yang menyusun hipotesa hubungan-hubungan sebab akibat (causal relationships) diantara variabel – variabel dan menguji model-model sebab akibat (causal models) dengan menggunakan sistem persamaan linier. Model-model sebab akibat dapat mencakup variabel-variabel manifest (indikator), variabel-variabel laten atau keduanya;

Analisis faktor penegasan (2. confirmatory factor analysis), suatu teknik kelanjutan dari analisis faktor dimana dilakukan pengujian hipotesis – hipotesis struktur factor loadings dan interkorelasinya;

Analisis faktor urutan kedua3. (second order factor analysis), suatu variasi dari teknik analisis faktor, dimana matriks korelasi dari faktor-faktor tertentu (common factors) dilakukan analisis pada faktornya sendiri untuk membuat faktor-faktor urutan kedua;

Model-model regresi (4. regression models), suatu teknik lanjutan dari analisis regresi linear, dimana bobot regresi dibatasi agar menjadi sama satu dengan lainnya, atau dilakukan spesifikasi pada nilai-nilai numeriknya;

Model-model struktur covariance (5. covariance structure models), yang mana model tersebut menghipotesakan bahwa matrix covariance mempunyai bentuk tertentu. Sebagai contoh, kita dapat menguji hipotesis yang menyusun semua variabel yang mempunyai varian yang sama dengan menggunakan prosedur yang sama;

Model struktur korelasi (6. correlation structure models), yang mana model tersebut menghipotesakan bahwa matrix korelasi mempunyai bentuk tertentu. Contoh klasik adalah hipotesis yang menyebutkan bahwa matrix korelasi mempunyai struktur circumplex

Fungsi Structural Equation Modeling/SEM (skripsi dan tesis)

Beberapa fungsi SEM, diantaranya ialah:

Pertama, • memungkinkan adanya asumsi-asumsi yang lebih fleksibel;

Kedua •, penggunaan analisis faktor penegasan (confirmatory factor analysis) untuk mengurangi kesalahan pengukuran dengan memiliki banyak indikator dalam satu variabel laten;

Ketiga, • daya tarik interface pemodelan grafis untuk memudahkan pengguna membaca keluaran hasil analisis

Keempat,• kemungkinan adanya pengujian model secara keseluruhan dari pada koefesien-koefesien secara sendiri-sendiri;

Kelima,• kemampuan untuk menguji model – model dengan menggunakan beberapa variabel tergantung;

Keenam,• kemampuan untuk membuat model terhadap variabel-variabel perantara;

Ketujuh,• kemampuan untuk membuat model gangguan kesalahan (error term);

Kedelapan, kemampuan untuk menguji koefesien-koefesien diluar antara beberapa kelompok • subyek;

Kesembilan,• kemampuan untuk mengatasi data yang sulit, seperti data time series dengan kesalahan otokorelasi, data yang tidak normal, dan data yang tidak lengkap

Pengertian Structural Equation Modeling (skripsi dan tesis)

Structural Equation Modeling, yang dalam buku ini untuk selanjutnya akan disebut SEM, adalah suatu teknik modeling statistik yang bersifat sangat cross-sectional, linear dan umum. Termasuk dalam SEM ini ialah analisis faktor (factor analysis), analisis jalur (path analysis) dan regresi (regression).

Definisi berikutnya menyebutkan SEM adalah teknik analisis multivariat yang umum dan sangat bermanfaat yang meliputi versi-versi khusus dalam jumlah metode analisis lainnya sebagai kasus-kasus khusus.

Definisi lain mengatakan bahwa SEM merupakan teknik statistik yang digunakan untuk membangun dan menguji model statistik yang biasanya dalam bentuk model-model sebab akibat. SEM sebenarnya merupakan teknik hibrida yang meliputi aspek-aspek penegasan (confirmatory) dari analisis faktor, analisis jalur dan regresi yang dapat dianggap sebagai kasus khusus dalam SEM.

Sedikit berbeda dengan definisi-definisi sebelumnya, disebutkan SEM berkembang dan mempunyai fungsi mirip dengan regresi berganda, tetapi nampaknya SEM menjadi suatu teknik analisis yang lebih kuat karena mempertimbangkan pemodelan interaksi, nonlinearitas, variabel – variabel bebas yang berkorelasi (correlated independents), kesalahan pengukuran, gangguan kesalahan-kesalahan yang berkorelasi (correlated error terms), beberapa variabel bebas laten (multiple latent independents) dimana masing-masing diukur dengan menggunakan banyak indikator, dan satu atau dua variabel tergantung laten yang juga masing-masing diukur dengan beberapa indikator. Dengan demikian menurut definisi ini, SEM dapat digunakan sebagai alternatif lain yang lebih kuat dibandingkan dengan menggunakan regresi berganda., analisis jalur, analisis faktor, analisis time series, dan analisis kovarian

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa SEM mempunyai karakteristik yang bersifat sebagai teknik analisis untuk lebih menegaskan (confirm) daripada menerangkan. Maksudnya, seorang peneliti lebih cenderung menggunakan SEM untuk menentukan apakah suatu model tertentu valid atau tidak dari pada menggunakannya untuk menemukan suatu model tertentu cocok atau tidak, meski analisis SEM sering pula mencakup elemen-elemen yang digunakan untuk menerangkan.

Langkah-Langkah Analisis PLS (skripsi dan tesis)

Langkah analisis dalam PLS untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Merancang Model Struktural (inner model). Struktural model adalah model yang menspesifikasikan hubungan antar variabel laten. Model ini menggambarkan hubungan antar variabel laten berdasarkan teori substantif (Ghozali, 2006)
.2. Merancang Model Pengukuran (outer model). Outer model adalah model yang menspesifikasikan hubungan antara variabel laten dengan indikatorindikatornya, atau dapat dikatakan bahwa outer model mendefinisikan bagaimana setiap indikator berhubungan dengan variabel latennya (Ghozali, 2006).
3. Mengkonstruksi Diagram Jalur. Langkah ini lebih mudah untuk dipahami, dimana hasil perancangan inner model dan outer model tersebut Estimasi: Koefisien Jalur, Loading dan Weight. Metode pendugaan parameter (estimasi) didalam metode PLS adalah metode kuadrat terkecil (ordinary least square). Proses perhitungan dilakukan dengan cara interaksi, dimana interaksi akan berhenti jika telah mencapai kondisi konvergen.
 5. Evaluasi Goodness of Fit. Evaluasi goodness of fit dibagi menjadi dua yaitu outer model dan inner model.
a. Outer model dibagi menjadi dua, yaitu formatif dan reflektif. Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan adalah indikator reflektif. Outer model dengan indikator refleksif dievaluasi dengan convergent dan discriminant validity dari indikatornya dan composite reliability untuk blok indikator. Convergent validity dinilai berdasarkan korelasi antara item score/ component score dengan construct score yang dihitung dengan PLS. Ukuran refleksif individual dikatakan tinggi jika berkolerasi lebih dari 0,7 dengan konstruk yang ingin diukur. Namun untuk penelitian tahap awal dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0,5 sampai 0,6 dianggap cukup (Chin, 1998). Discriminant validity dinilai berdasarkan crossloading pengukuran dengan konstruk. Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada ukuran konstruk lainnya, hal tersebut menunjukkan bahwa konstruk laten memprediksi ukuran pada blok mereka lebih baik daripada ukuran pada blok lainnya. Selain itu untuk menilai discriminant validity juga dapat dilakukan dengan membandingkan nilai square root of Average Variance Extracted (AVE) setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model. Jika nilai kuadrat AVE setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model, maka dikatakan memiliki discriminant validity yang baik (Fornell dalam Ghozali, 2006). Fornnel dan Larcker (1981) dalam Ghozali (2006) menyatakan bahwa pengukuran ini dapat dilakukan untuk mengukur reliabilitas component score variabel laten dan hasilnya lebih konservatif dibanding composite reliability. Nilai AVE harus lebih besar dari 0,5. Composite reliability blok indikator yang mengukur suatu konstruk dapat dievaluasi dengan dua macam ukuran yaitu internal consistency dan cronbach alpha.
b. Inner model dievaluasi dengan melihat prosentase varian yang dijelaskan, yaitu dengan melihat R2 . Perubahan nilai R2 dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen apakah mempunyai pengaruh yang substantif. Nilai ƒ 2 sama dengan 0,02; 0,15; dan 0,35 dapat diinterpretasikan bahwa predictor variabel laten memiliki pengaruh kecil, menengah, dan besar pada level struktural. Selain itu dilakukan evaluasi Stone-Geisser Q-square untuk predictive relevance dan uji t serta signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural. Q-square mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga parameternya. Nilai Q-square lebih besar dari 0 (nol) menunjukkan bahwa model mempunyai nilai predictive relevance, sedangkan nilai Q-square kurang dari 0 (nol) menunjukkan bahwa model kurang memiliki predictive relevance
6. Pengujian Hipotesis Langkah terakhir adalah pengujian hipotesis dengan kriteria sebagai berikut: Jika H : λ ≤ 0 ; maka berarti hipotesis ditolak Jika H : λ > 0 ; maka berarti hipotesis diterima

Alasan Penggunaan Partial least square/ PLS (skripsi dan tesis)

Alasan penggunaan PLS untuk penelitian ini adalah:

1. PLS bisa mengolah semua jenis data
 2. PLS memiliki dua uji didalamnya yaitu uji measurement model yang menyangkut validitas konstruk dan reliabilitas konstruk. Selain itu juga memiliki uji structural model, yaitu uji t dari partial least square itu sendiri. Sehingga dapat menyajikan berbagai hasil lengkap dan dapat dianalisa secara menyeluruh.
 3. PLS dapat digunakan untuk prediksi, konfimasi teori, dan menjelaskan ada tidaknya hubungan antar variabel laten. (Jogiyanto dan Abdillah, 2009).

4. PLS memiliki hubungan antara variabel laten dan indikatornya dalam bentuk refleksif maupun formatif. Model refleksif mengasumsikan bahwa konstruk atau variabel laten mempengaruhi indikator (arah hubungan kausalitas dari konstruk ke indikator atau manifest). Model refleksif sering disebut dengan principal factor model dimana covariance pengukuran indikator dipengaruhi oleh konstruk laten atau yang mencerminkan variasi dari konstruk laten. Pada model refleksif konstruk unidimensional, digambarkan dalam bentuk elips dengan beberapa anak panah dari konstruk ke indikator. Model ini  memberikan arti bahwa perubahan pada konstruk laten akan mempengaruhi perubahan pada indikator.

5. PLS merupakan pendekatan alternative yang bergeser dari pendekatan SEM berbasis covariance menjadi berbasis variance (Ghozali, 2006). SEM yang berbasis kovarian umumnya menguji kausalitas atau teori sedangkan PLS lebih bersifat predictive model

Penelitian Fenomenologis (skripsi dan tesis)

Peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitankaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Sosiologi fenomenologis pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh pandangan Edmund Husserl dan Alfred Schultz. Pengaruh lainnya berasal dari Weber yang memberi tekanan padaverstehn, yaitu pengertian interpretatif terhadap pemahaman manusia. Fenomoenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka nkuiri fenomenologis memulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk mengungkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti. Yang ditekankan oleh kaum fenomenologis adalah aspek subjektif dari perilaku orang. Mereka berusaha untuk masuk kedalam dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaiaman suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari. Para fenomenolog percaya bahwa pada makhluk hidup tersedia pelbagai cara untuk menginterpretasikan pengalaman melalui interaksi dengan orang lain, dan bahwa pengertian pengalaman kitalah yang membentuk kenyataan

Analisis Dalam Metode Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Analisis data dalam metode analisis isi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sebagai metode yang sistematis analisis isi mengikuti suatu proses-proses tertentu dalam pengaplikasiannya. Adapun langkah-langkah analisis isi deskriptif dalam penelitian sebagaimana dikutip dalam Kriyantono, (2006, hlm. 167) ini adalah sebagai berikut:

1. Mendefinisikan populasi penelitian dan menetukan jumlah sampel penelitian dengan menggunakan teknik sampel acak sederhana.

 2. Langkah selanjutnya yang penting dalam analisis isi ialah menentukan unit analisis. Unit analisis adalah apa yang akan diobservasi, dicatat dan dianggap sebagai data, memisahkan menurut batas-batasnya dan mengidentifikasi untuk analisis berikutnya. Unit analisis penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu unit sampling dan unit pencatatan dimana unit pencatatan penelitian ini termasuk dalam jenis unit analisis sintaksis.

 3. Menentukan dan menggunakan penilai tambahan (coder) selain dari peneliti untuk mengurangi bias dan subjektifitas peneliti dalam analisis penelitian.
4. Setelah mengkode semua isi berita ke dalam lembar coding yang telah disusun peneliti lalu menghitung reliabilitas dari hasil coding.
 5. Tahap selanjutnya adalah menggunakan tabel distribusi frekuensi. Salah satu cara yang sering dipakai dalam analisi data adalah frekuensi distribusi relatif, dimana data dibagi dalam beberapa kelompok dan dinyatakan atau diukur dalam presentase. Dari setiap tabel diberikan penjelasan dalam bentuk uraian yang disusun sistematis. Kegunaan dari distribusi frekuensi adalah membantu peneliti untuk mengetahui bagaimana distribusi frekuensi dari data penelitian. Data hasil penelitian ini akan diolah secara statistik deskriptif kuantitatif. Teknik analisis untuk pengukuran digunakan berdasarkan pendekatan kuantitatif dilihat dari frekuensi absolut akan jumlah persentase kejadian dari variabel yang akan ditampilkan dalam angka.
 6. Interpretasi data hasil penelitian. Membandingkan hasil tabel frekuensi distribusi dibandingkan dengan dasar teori yang dijadikan acuan dalam penelitian. Kegiatan ini berusaha mencari makna lebih luas dari hasil data yang telah dikumpulkan untuk nantinya akan diambil suatu kesimpulan akhir dari penelitian.
7. Penarikan kesimpulan

Pengertian analisis isi (skripsi dan tesis)

Neuendorf (dalam Eriyanto,2011, hlm. 16) mengemukakan bahwa analisis isi adalah sebuah peringkasan (summarizing), kuantifikasi dari pesan yang didasarkan pada metode ilmiah (diantaranya objektifintersubjektif, reliabel, valid, dapat digeneralisasikan, dapat direplikasi dan pengujuian hipotesis) dan tidak dibatasi untuk jenis variabel tertentu atau konteks di mana pesan dibentuk dan ditampilkan. Analisis isi sering digunakan dalam penelitian disiplin ilmu komunikasi. Analisis isi dipakai untuk menganalisis isi dari media cetak maupun elektronik. Selain itu analisis isi juga dipakai untuk mempelajari isi semua konteks komunikasi, baik komunikasi antarpribadi, kelompok ataupun organisasi. (Eriyanto, 2011, hlm. 10). Ciri khas dari penelitian menggunakan analisis isi adalah metode ini hanya dapat menganalisis pesan yang yang tersurat (tampak) bukan makna yang dirasakan oleh peneliti. Pada saat proses coding dan pengumpulan data, peneliti harus menilai dari aspek yang terlihat. Akan tetapi, pada tahap  analisis data, peneliti bisa menafsirkan aspek-aspek yang tidak terlihat di dalam pesan.

Analisis Framing (skripsi dan tesis)

Analisis Framing adalah bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang wacana persaingan antarkelompok yang muncul atau tampak di media. Dikenal konsep bingkai, yaitu gagasan sentral yang terorganisasi, dan dapat dianalisis melalui dua turunannya, yaitu simbol berupa framing device dan reasoning device. Framing device menunjuk pada penyebutan istilah tertentu yang menunjukkan “julukan” pada satu wacana, sedangkan reasoning device menunjuk pada analisis sebab-akibat. Di dalamnya terdapat beberapa ‘turunan’, yaitu metafora, perumpamaan atau pengandaian. Catchphrases merupakan slogan-slogan yang harus dikerjakan. Exemplar mengaitkan bingkai dengan contoh, teori atau pengalaman masa silam. Depiction adalah “musuh yang harus dilawan bersama”, dan visual image adalah gambar-gambar yang mendukung bingkai secara keseluruhan. Pada instrumen penalaran, Roots memperlihatkan analisis sebab-akibat, Appeals to principles merupakan premis atau klaim moral, dan Consequences merupakan kesimpulan logika penalaran.

Analisis Semiotik (Semiotic Analysis) (skripsi dan tesis)

Pengertian semiotika secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.

Menurut Eco, ada sembilan belas bidang yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan kajian untuk semiotik, yaitu semiotik binatang, semiotik tanda-tanda bauan, komunikasi rabaan, kode-kode cecapan, paralinguistik, semiotik medis, kinesik dan proksemik, kode-kode musik, bahasa yang diformalkan, bahasa tertulis, alfabet tak dikenal, kode rahasia, bahasa alam, komunikasi visual, sistem objek, dan sebagainya

Semiotika di bidang komunikasi pun juga tidak terbatas, misalnya saja bisa mengambil objek penelitian, seperti pemberitaan di media massa, komunikasi periklanan, tanda-tanda nonverbal, film, komik kartun, dan sastra sampai kepada musik.

Analisis Wacana (skripsi dan tesis)

Analisis wacana adalah analisis isi yang lebih bersifat kualitatif dan dapat menjadi salah satu alternatif untuk melengkapi dan menutupi kelemahan dari analisis isi kuantitatif yang selama ini banyak digunakan oleh para peneliti. Jika pada analisis kuantitatif, pertanyaan lebih ditekankan untuk menjawab “apa” (what) dari pesan atau teks komunikasi, pada analisis wacana lebih difokuskan untuk melihat pada “bagaimana” (how), yaitu bagaimana isi teks berita dan juga bagaimana pesan itu disampaikan.

Beberapa perbedaan mendasar antara analisis wacana dengan analisis isi yang bersifat kuantitatif adalah sebagai berikut.

Analisis wacana lebih bersifat kualitatif daripada yang umum dilakukan dalam analisis isi kuantitatif karena analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori, seperti dalam analisis isi.

Analisis isi kuantitatif digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat manifest (nyata), sedangkan analisis wacana justru memfokuskan pada pesan yang bersifat latent (tersembunyi).

Analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan “apa yang dikatakan” (what), tetapi tidak dapat menyelidiki bagaimana ia dikatakan (how).

Analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi, sedangkan analisis isi kuantitatif memang diarahkan untuk membuat generalisasi.

Model analisis wacana yang diperkenalkan oleh van Dijk sering kali disebut sebagai “kognisi sosial”, yaitu suatu pendekatan yang diadopsi dari bidang psikologi sosial. Menurut van Dijk, ada 3 dimensi yang membentuk suatu wacana sehingga analisis yang dilakukan terhadap suatu wacana harus meliputi ketiga dimensi tersebut, yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial.

Reliabilitas dan Validitas Pada Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Masalah reliabilitas (keterandalan) dan validitas pengukuran (kesahihan) merupakan 2 hal pokok dalam penelitian yang tidak boleh ditinggalkan. Reliabilitas didefinisikan sebagai keterandalan alat ukur yang dipakai dalam suatu penelitian. Apakah kita benar-benar dapat mengukur dengan tepat sesuai dengan alat atau instrumen yang dimiliki.

Dikenal beberapa jenis reliabilitas, yaitu berikut ini.

  1. Intercoder dan intracoder, yaitu pemberian kode dari luar dan dari dalam.

  2. Pretest, yaitu pengujian atau pengukuran perbedaan nilai antara juri-juri pemberi nilai.

  3. Reliabilitas kategori, yaitu derajat kemampuan pengulangan penempatan data dalam berbagi kategori.

Validitas adalah kesahihan pengukuran atau penilaian dalam penelitian. Dalam analisis isi, validitas dilakukan dengan berbagai cara atau metode sebagai berikut.

  1. Pengukuran produktivitas (productivity), yaitu derajat di mana suatu studi menunjukkan indikator yang tepat yang berhubungan dengan variabel.

  2. Predictive validity, yaitu derajat kemampuan pengukuran dengan peristiwa yang akan datang.

  3. Construct validity, yaitu derajat kesesuaian teori dan konsep yang dipakai dengan alat pengukuran yang dipakai dalam penelitian tersebut.

Skala pada Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Telah dijelaskan dua macam teknik penskalaan (scaling) yang bertujuan khusus untuk mengukur intensitas. Pertama, metode Q-Sort, menyediakan suatu cara penskalaan universe pernyataan-pernyataan mengenai variabel tertentu. Skala Q-Sort mempergunakan distribusi skala 9 titik. Pada lajur pertama, (Y) berisi 9 point nilai, yang menunjukkan tingkat terendah (1) sampai tingkat tertinggi (9), dan lajur kedua (X) yang menunjukkan persentase pernyataan dalam tiap kategori. Untuk menentukan item-item masuk pada kategori tertentu pada skala yang telah tersedia, dipakai orang-orang yang dianggap sebagai juri penilai. Dalam hal ini perlu ditetapkan keterandalan (reliabilitas) alat ukur, dan kesahihan (validitas) pengukuran.

Kedua, metode skala perbandingan pasangan (pair comparison scaling), yaitu teknik menentukan skala relatif item-item yang tidak melibatkan distribusi nyata. Penggunaan metode ini adalah untuk mengetahui pernyataan-pernyataan yang paling intens di antara pasangan-pasangan yang mungkin. Keseluruhan metode ini akan menghasilkan suatu skala relatif antaritem

Dasar-dasar Rancangan Penelitian Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Prosedur dasar pembuatan rancangan penelitian dan pelaksanaan studi analisis isi terdiri atas 6 tahapan langkah, yaitu (1) merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesisnya, (2) melakukan sampling terhadap sumber-sumber data yang telah dipilih, (3) pembuatan kategori yang dipergunakan dalam analisis, (4) pendataan suatu sampel dokumen yang telah dipilih dan melakukan pengkodean, (5) pembuatan skala dan item berdasarkan kriteria tertentu untuk pengumpulan data, dan (6) interpretasi/ penafsiran data yang diperoleh.

Urutan langkah tersebut harus tertib, tidak boleh dilompati atau dibalik. Langkah sebelumnya merupakan prasyarat untuk menentukan langkah berikutnya. Permulaan penelitian itu adalah adanya rumusan masalah atau pertanyaan penelitian yang dinyatakan secara jelas, eksplisit, dan mengarah, serta dapat diukur dan untuk dijawab dengan usaha penelitian.

Pada perumusan hipotesis, dugaan sementara yang akan dijawab melalui penelitian, peneliti dapat memilih hipotesis nol, hipotesis penelitian atau hipotesis statistik.

Penarikan sampel dilakukan melalui pertimbangan tertentu, disesuaikan dengan rumusan masalah dan kemampuan peneliti.

Pembuatan alat ukur atau kategori yang akan digunakan untuk analisis didasarkan pada rumusan masalah atau pertanyaan penelitian, dan acuan tertentu. Misalnya, kategori tinggi-sedang-rendah, dengan indikator-indikator yang bersifat terukur.

Kemudian, pengumpulan atau coding data, dilakukan dengan menggunakan lembar pengkodean (coding sheet) yang sudah dipersiapkan. Setelah semua data diproses, kemudian diinterpretasikan maknanya

Tahapan Proses Penelitian Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Terdapat tiga langkah strategis penelitian analisis isi.

Pertama, penetapan desain atau model penelitian. Di sini ditetapkan berapa media, analisis perbandingan atau korelasi, objeknya banyak atau sedikit dan sebagainya.

Kedua, pencarian data pokok atau data primer, yaitu teks itu sendiri. Sebagai analisis isi maka teks merupakan objek yang pokok bahkan terpokok. Pencarian dapat dilakukan dengan menggunakan lembar formulir pengamatan tertentu yang sengaja dibuat untuk keperluan pencarian data tersebut.

Ketiga, pencarian pengetahuan kontekstual agar penelitian yang dilakukan tidak berada di ruang hampa, tetapi terlihat kait-mengait dengan faktor-faktor lain

Desain Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Setidaknya dapat diidentifikasi tiga jenis penelitian komunikasi yang menggunakan analisis isi. Ketiganya dapat dijelaskan dengan teori 5 unsur komunikasi yang dibuat oleh Harold D. Lasswell, yaitu who, says what, to whom, in what channel, with what effect. Ketiga jenis penelitian tersebut dapat memuat satu atau lebih unsur “pertanyaan teoretik” Lasswell tersebut.

Pertama, bersifat deskriptif, yaitu deskripsi isi-isi komunikasi. Dalam praktiknya, hal ini mudah dilakukan dengan cara melakukan perbandingan. Perbandingan tersebut dapat meliputi hal-hal berikut ini.

  1. Perbandingan pesan (message) dokumen yang sama pada waktu yang berbeda. Dalam hal ini analisis dapat membuat kesimpulan mengenai kecenderungan isi komunikasi.

  2. Perbandingan pesan (message) dari sumber yang sama/tunggal dalam situasi-situasi yang berbeda. Dalam hal ini, studi tentang pengaruh situasi terhadap isi komunikasi.

  3. Perbandingan pesan (message) dari sumber yang sama terhadap penerima yang berbeda. Dalam hal ini, studi tentang pengaruh ciri-ciri audience terhadap isi dan gaya komunikasi.

  4. Analisis antar-message, yaitu perbandingan isi komunikasi pada waktu, situasi atau audience yang berbeda. Dalam hal ini, studi tentang hubungan dua variabel dalam satu atau sekumpulan dokumen (sering disebut kontingensi (contingency).

  5. Pengujian hipotesis mengenai perbandingan message dari dua sumber yang berbeda, yaitu perbedaan antarkomunikator.

Kedua, penelitian mengenai penyebab message yang berupa pengaruh dua message yang dihasilkan dua sumber (A dan B) terhadap variabel perilaku sehingga menimbulkan nilai, sikap, motif, dan masalah pada sumber B.

Ketiga, penelitian mengenai efek message A terhadap penerima B. Pertanyaan yang diajukan adalah apakah efek atau akibat dari proses komunikasi yang telah berlangsung terhadap penerima (with what effect)?

Syarat analisis isi (skripsi dan tesis)

analisis isi tidak dapat diberlakukan pada semua penelitian sosial. Analisis isi dapat dipergunakan jika memiliki syarat berikut.

  1. Data yang tersedia sebagian besar terdiri dari bahan-bahan yang terdokumentasi (buku, surat kabar, pita rekaman, naskah/manuscript).

  2. Ada keterangan pelengkap atau kerangka teori tertentu yang menerangkan tentang dan sebagai metode pendekatan terhadap data tersebut.

  3. Peneliti memiliki kemampuan teknis untuk mengolah bahan-bahan/data-data yang dikumpulkannya karena sebagian dokumentasi tersebut bersifat sangat khas/spesifik

Pengertian Analisis Isi (skripsi dan tesis)

 

Analisis isi (content analysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Pelopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi.

Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi. Baik surat kabar, berita radio, iklan televisi maupun semua bahan-bahan dokumentasi yang lain. Hampir semua disiplin ilmu sosial dapat menggunakan analisis isi sebagai teknik/metode penelitian. Holsti menunjukkan tiga bidang yang banyak mempergunakan analisis isi, yang besarnya hampir 75% dari keseluruhan studi empirik, yaitu penelitian sosioantropologis (27,7 persen), komunikasi umum (25,9%), dan ilmu politik (21,5%).

Sejalan dengan kemajuan teknologi, selain secara manual kini telah tersedia komputer untuk mempermudah proses penelitian analisis isi, yang dapat terdiri atas 2 macam, yaitu perhitungan kata-kata, dan “kamus” yang dapat ditandai yang sering disebut General Inquirer Program.

Prosedur Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya, prosedur atau langkah-langkah dalam metode AHP meliputi:
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, lalu menyusun hierarki dari permasalahan yang dihadapi. Menyusun hierarki adalah dengan menetapkan tujuan yang merupakan sasaran sistem secara keseluruhan pada level teratas.
2. Menentukan prioritas elemen
– Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah mem buat
perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan
sesuai kriteria yang diberikan.
– Matriks perbandingn berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk
mempresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen terhadap elemen yang
lainnya.
3. Sintesis
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesis untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah:
– Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada matriks.
– Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks.
– Menumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah
elemen untuk mendapatkan nilai rata-rata .
4. Mengukur konsistensi Dalam pembuatan keputusan, penting untuk mengetahui
sebeapa baik konsistensi yang ada karena kita tidak menginginkan keputusan
berdasarkan pertimbangan dengan konsistensi yang rendah. Hal-hal yang
dilakukan dalam langkah ini adalah:
– kalikan setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relatif elemen
pertama, nilai pada kolom kedua dengan prioritas relatif elemen kedua, dan
seterusnya.
– Jumlahkan setiap baris.
– Hasi dari pejumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatif yang
bersangkutan.
– Jumlahkan hasil bagi di atas dengan banyaknya elemen yang ada, hasilnya
disebut λ maks.
5. Hitung Consistency Index (CI) dengan rumus :
CI = ( λ maks-n)/n
Di mana n = banyaknya elemen
6. Hitung Rasio Konsistensi / Consistency Ratio (CR) dengan rumus :
CR=CI/IR
15
Di mana CR=Consistency Ratio
CI=Consistency Index
IR=Indeks Random Consistency
7. Memeriksa konsistensi hierarki. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data judgment harus diperbaiki. Namun jika ratio konsistensi (CI/IR) kurang atau sama denga 0,1. maka hasil perhitungan bisa dinyatakan benar.

Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Penelitian ini melakukan tinjauan literature pada kualitas website untuk menghasilkan  subkriteria (alternatif pilihan) dan empat kriteria kualitas website (faktor utama) yaitu kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas layanan dan daya tarik yang digunakan untuk mengukur kualitas website. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengguna website perpustakaan ini akan dilakukan pengkajian dengan mendapatkan masukan dari para responden yang terhimpun dalam sebuah kuesioner yang akan diolah dengan menggunakan metode analytical hierarchy process (AHP) untuk menentukan bobot relatif faktor kualitas website dengan kelengkapan data numerik dari perhitungan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Model proses analisis hirarki (berjenjang) ini diperkenalkan pertama kali oleh Thomas L. Saaty pada era 1970-an di mana ciri khas dari model ini adalah penentuan skala prioritas atas alternatif pilihan berdasarkan suatu proses analitis secara berjenjang, terstruktur atas variabel keputusan (Darmawan 2009). Metode AHP merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan dengan memperhatikan faktor-faktor persepsi, prefensi, pengalaman dan intuisi. AHP menggabungkan penilaian-penilaian dan nilai-nilai pribadi ke dalam satu cara yang logis. (Marimin dan Nurul 2010). AHP (Analytical Hierarchy Process) memiliki sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelompok-kelompoknya dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki (Permadi 1992).

Dapat disimpulkan AHP adalah sebuah metode yang dapat menguraikan permasalahan yang sangat luas menjadi terstruktur. AHP memiliki banyak keunggulan dalam menjelaskan proses pengambilan keputusan karena dapat digambarkan secara grafis, sehingga mudah dipahami oleh semua pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Dengan 13 AHP proses keputusan kompleks dapat diuraikan menjadi keputusan-keputusan lebih kecil yang dapat ditangani dengan mudah. Penelitian sebelumnya tentang website dengan menggunakan metode AHP telah dilakukan oleh Changping (2009) tentang AHP dan dasar evaluasi analisis kesesuaian terhadap kualitas layanan informasi: studi empiris pada industri berteknologi tinggi dengan informasi portal web, di mana hasil dari penelitiannya terhadap 10 (sepuluh) pusat informasi yang berbasis web didapat nilai tertinggi pada informasi di website industri perangkat medis China dengan nilai tertinggi yaitu 3,8296, dimana alternatif pilihannya ada pada kemudahan dalam pemakaian website seperti navigasi dan kecepatannya dengan nilai 0,2371. Hsiu-Fen (2010) tentang penggunaan aplikasi AHP untuk mengevaluasi kualitas website didapat hasil dengan nilai tertinggi 0,288 pada kualitas informasi dan peringkat kedua 0,258 pada kualitas sistem. Menurut Permadi (1992) AHP adalah salah satu bentuk model pengambilan keputusan yang pada dasarnya berusaha menutupi semua kekurangan dari model-model sebelumnya. Model AHP memakai persepsi manusia yang dianggap ekspert dalam arti kata mengerti benar dengan permasalahan yang diajukan atau memiliki kepentingan dengan permasalahan.

Langkah Analisis ARIMA (skrispi dan tesis)

Setelah data diperoleh, maka langkah-langkah yang akan dilakukan dalam
menganalisis data adalah :
1. Membuat plot time series  I
2. Melakukan pemeriksaan pada data apakah data sudah stasioner atau belum, menggunakan uji Augmented Dickey Fuller (ADF) untuk memeriksa apakah data sudah stasioner dalam mean dan melalui grafik transformasi Box-Cox dan uji Bartlett untuk memeriksa apakah data sudah stasioner dalam varian.
3. Melakukan proses pembedaan (differencing) jika tidak memenuhi asumsi stasioner dalam rata-rata dan melakukan transformasi data jika tidak memenuhi asumsi stasioneritas dalam varians untuk data.
4. Membuat plot Autocorrelation Function (ACF) dan Partial Autocorrelation Function (PACF) untuk melihat apakah terdapat efek musiman atau tidak serta untuk melihat panjang musiman dari data dan juga untuk mengukur hubungan keeratan antar pengamatan suatu deret waktu
5. Penetapan model untuk sementara atau mengidentifikasi model ARIMA berdasarkan dari plot Autocorrelation Function (ACF) dan Partial Autocorrelation Function (PACF)
6. Penaksiran parameter dari semua model ARIMA Musiman yang mungkin dari data.
7. Menguji signifikansi parameter model ARIMA Musiman dan memilih model dengan semua parameter yang dihasilkan.
8. Pemeriksaan atau diagnosa apakah model memadai yaitu meliputi uji independensi residual dan uji kenormalan residual.
9. Mengevaluasi model peramalan yang telah didapatkan dengan menghitung nilai MSE, serta dilakukan pemilihan model terbaik berdasarkan nilai MSE yang paling kecil.
10. Menghitung residual yaitu selisih antara data aktual dengan hasil peramalan selama enam tahun sebelumnya.
11. Melakukan verifikasi peramalan pada model sementara menggunakan peta kendali Moving Range untuk mengetahui apakah hasil peramalan tersebut benar-benar mencerminkan data masa lalu.
12. Melakukan peramalan  kedepan untuk data berdasarkan model terbaik yang dihasilkan oleh metode ARIMA Musiman.

Jenis Stasioneritas (skripsi dan tesis)

1. Kestasioneran terhadap rata-rata

Suatu proses stasioner dalam rata-rata jika E(Zt) = μt = μ adalah konstan untuk setiap t. Untuk memeriksa kestasioneran ini dapat digunakan diagram deret waktu (time series plot) yaitu diagram pencar antara nilai peubah Zt dengan waktu t. Dapat juga dengan menggunakan uji unit root yang bertujuan untuk mengetahui apakah data tersebut mengandung unit root atau tidak. Salah satu dari uji unit root ini yang digunakan adalah Augmented Dickey Fuller (ADF-test) dimana filosofi dari uji ADF ini adalah dengan mengikuti proses autoregressive orde pertama atau AR(1).

2. Kestasioneran terhadap varians

Suatu proses stasioner pada varians jika Var (Zt) = E (Zt – μt) 2 = σ 2 adalah konstan untuk setiap t. Pengujian stasioneritas dalam varians dapat menggunakan uji Bartlett. Jika data tidak stasioner dalam varians maka digunakan transformasi data. Menurut Rosadi (2012), transformasi yang biasa digunakan adalah Box-Cox Transformation

Heteroskedastisitas (skripsi dan tesis)

Heteroskedastisitas merupakan suatu kondisi apabila suatu data memiliki varians residual yang tidak konstan atau dengan kata lain situasi saat varians dari faktor pengganggu adalah tidak sama untuk semua observasi. Jika kesalahan pada suatu model mengandung masalah heteroskedastisitas, maka akibatnya UNIVERSITAS SUMATERA UTARA estimator yang dihasilkan tetap konsisten, tetapi tidak lagi efisien karena ada estimator lain yang memilki varians yang lebih kecil daripada estimator yang memiliki residual yang bersifat heteroskedastisitas. Adanya masalah heteroskedastisitas juga menjadi indikasi adanya efek ARCH pada data.

Stasioneritas (skripsi dan tesis)

Stasioneritas berarti bahwa tidak terdapat perubahan yang drastis pada data. Fluktuasi data berada di sekitar suatu nilai rata-rata yang konstan, tidak tergantung pada waktu dan variansi dari fluktuasi tersebut. (Makridakis, 1995) Sekumpulan data dinyatakan stasioner jika nilai rata-rata dan varians dari data time series tersebut tidak mengalami perubahan secara sistematik sepanjang waktu atau dengan kata lain rata-rata dan variansnya konstan. Kestasioneran data ini berkaitan dengan metode estimasi yang digunakan. Tidak stasionernya data akan mengakibatkan kurang baiknya model yang diestimasi. Selain itu apabila data yang digunakan dalam model ada yang tidak stasioner, maka data tersebut dipertimbangkan kembali validitas dan kestabilannya. Salah satu penyebab tidak stasionernya sebuah data adalah adanya autokorelasi. Bila data distasionerkan maka autokorelasi akan hilang dengan sendirinya, karena itu transformasi data untuk membuat data yang tidak stasioner menjadi stasioner sama dengan transformasi data untuk menghilangkan autokorelasi

Kestasioneran Data Deret Waktu (skripsi dan tesis)

Suatu data pengamatan dikatakan stasioner apabila proses tidak mengalami perubahan seiring dengan waktu yang berubah, dengan kata lain, proses stasioner untuk suatu {Zt}, mempunyai : Mean ?(??)=? , Var (??)=?(??−?)2=?2 yang konstan dan kovarian  yang merupakan fungsi dari perbedaan waktu |t – s| yang dapat ditulis sebagai berikut :

(1)Stasioneritas merupakan suatu keadaan jika proses pembangkitan yang mendasari suatu deret berkala didasarkan pada nilai tengah konstan dan nilai varians konstan. Dalam suatu data kemungkinan data tersebut tidak stationer hal ini dikarenakan mean tidak konstan atau variannya tidak konstan sehingga untuk menghilangkan ketidakstasioneran terhadap mean, maka data tersebut dapat dibuat lebih mendekati stasioner dengan cara melakukan penggunaan metode pembedaan atau differencing. Prilaku data yang stasioner antara lain tidak mempunyai variasi yang terlalu besar dan mempunyai kecendrungan untuk mendekati nilai rata-ratanya, dan sebaliknya untuk data yang tidak stasioner. [3].

Jenis-jenis data yang dikategorikan stasioner dan non stasioner adalah: [5]

1. Kestasioneran data deret waktu

Ada dua macam kestasioneran data, yaitu stasioner kuat (strickly stationer) dan stasioner lemah (weakly stationer). Disebut stasioner kuat (strickly stationer) jika bentuk distribusi gabungannya tetap untuk setiap himpunan bagian dari himpunan data deret waktu, dan dalam notasi statistiknya.

Data deret waktu stasioner lemah (weakly stationer) jika pola trendnya hampir merupakan fungsi konstan.

2. Nonstasioner

Nonstasioneritas data diklasifikasikan atas

tiga bentuk yaitu :

a. Nonstasioner dalam rata-rata hitung, jika trend tidak datar (tidak sejajar sumbu waktu) dan data tersebar pada “pita” yang meliput secara seimbang trendnya.

b. Nonstasioner dalam varians, jika trend datar atau hampir datar tapi data tersebar membangun pola melebar atau menyempit yang meliput secara seimbang trendnya (pola terompet).

c. Nonstasioner dalam rata-rata hitung dan varians, jika trend tidak datar dan data membangun pola terompet

Identifikasi Ke-tidak-stasioner-an Data Deret Waktu (skripsi dan tesis)

Suatu data pengamatan dikatakan stasioner apabila proses tidak mengalami perubahan seiring dengan waktu yang berubah, dengan kata lain, proses stasioner untuk suatu {Zt}, mempunyai : Mean ?(??)=? , Var (??)=?(??−?)2=?2 yang konstan dan kovarian yang merupakan fungsi dari perbedaan waktu |t – s|

Dalam kondisi tertentu maka di dapatkan data yang tidak stationer. Dimaksud dengan  ketidak-stasioneran data secara visual, tahap pertama dapat dilakukan pada peta data atas waktu, karena biasanya “mudah” dan jika belum mendapatkan kejelasan, maka tahap berikutnya ditelaah pada gambar ACF dan PACF. Telaahan pada gambar pada peta data atas waktu, ACF dan PACF, jika data tidak stasioner maka gambarnya akan membangun pola diantaranya :

  1. Menurun, jika data tidak stasioner dalam rata-rata hitung (trend naik atau turun).

Gambar 1. Data tidak stasioner dalam rata-rata hitung

Gambar 2. ACF data tidak stasioner dalam rata-rata hitung

Gambar 3. PACF data tidak stasioner dalam rata-rata hitung

  1. Alternating, jika data tidak stasioner dalam varians.

Gambar 1. Data tidak stasioner dalam varians

Gambar 2. ACF data tidak stasioner dalam varians

Gambar 3. PACF data tidak stasioner dalam varians

  1. Gelombang, jika data tidak stasioner dalam rata-rata hitung dan varians

Stasioneritas (skripsi dan tesis)

Kestasioneran data merupakan kondisi yang diperlukan dalam analisis regresi deret waktu karena dapat memperkecil kekeliruan model, sehingga jika data tidak stasioner, maka harus dilakukan transformasi stasioneritas melalui proses diferensi, jika trend-nya linier, sedangkan jika tidak linier, maka transformasi linieritas trend melalui proses logaritma natural jika trend-nya eksponensial, dan proses pembobotan (penghalusan eksponensial sederhana) jika bentuknya yang lain, yang selanjutnya dilakukan proses diferensi pada data hasil proses linieritas.

Berdasarkan deskripsinya, bentuk kestasioneran ada dua yaitu Stasioner Kuat (Strickly Stationer) atau Stasioner Orde Pertama (Primary Stationer) dan stasioner lemah (Weakly Stationer) atau Stasioner orde kedua (Secondary Stationer). Deskripsi umum kestasioneran adalah sebagai berikut, Xt1, Xt2, … disebut stasioner kuat jika distribusi gabungan Xt1, Xt2, … , Xtn sama dengan distribusi gabungan Xt1+k, Xt2+k, … , Xtn+k, untuk setiap nilai t1, t2, … , tn dan k. Sedangkan disebut stasioner lemah, jika rata-rata hitung data konstan, E(X)  = µ dan autokovarians-nya merupakan fungsi dari lag ρk =  f(k). Sedangkan ketidaksioneran data diklasifikasikan atas 3 (tiga) bentuk yaitu :

  1. Tidak stasioner dalam rata-rata hitung, jika trend tidak datar (tidak sejajar sumbu waktu) dan data tersebar pada “pita” yang meliputi secara seimbang trendnya.
  2. Tidak stasioner dalam varians, jika trend datar atau hampir datar tapi data tersebar membangun pola melebar atau menyempit yang meliputi secara seimbang trendnya (pola terompet).
  3. Tidak stasioner dalam rata-rata hitung dan varians, jika trend tidak datar dan data membangun pola terompet.

Model AUTOREGRESIF INTEGRETED MOVING AVERAGE/ARIMA (skripsi dan tesis)

Model ARIMA merupakan model gabungan antara Autoregressive (AR) orde p dan Moving Average (MA) orde q serta proses differencing orde d untuk data pada level musiman maupun non musiman dan termasuk dalam kelompok pemodelan linier . Model AR (Autoregressive) pada orde p menyatakan pengamatan pada waktu ke-t berhubungan linier dengan pengamatan waktu sebelumnya t-1, t-2,…, t-p. Bentuk fungsi persamaan untuk model AR pada orde p dinyatakan sebagai berikut:

?? ̇ = ?1?̇ ?−1 + ?2?̇ ?−2 + ⋯ + ???̇ ?−? + ?? (1)

Model MA (Moving Average) digunakan untuk menjelaskan suatu kejadian bahwa suatu pengamatan pada waktu t dinyatakan sebagai kombinasi linier dari sejumlah residual. Bentuk fungsi persamaan untuk model MA pada orde q dinyatakan sebagai berikut:

?? ̇ = ?? − ?1??−1 − ?2??−2 − ⋯ − ????−? (2)

Model ARMA merupakan model gabungan antara model AR (Autoregressive) dan MA (Moving Average) yang kadang ditulis dengan notasi ARMA (p,q). Bentuk fungsi model ARMA pada orde p dan q dinotasikan sebagai berikut:

?? ̇ = ?1?̇ ?−1 + ⋯ + ???̇ ?−? + ?? − ?1??−1 − ⋯ − ????−? (3)

Model ARIMA (p, d, q) yang dikenalkan oleh Box dan Jenkins dengan p sebagai orde operator dari AR, d merupakan orde differencing dan q sebagai orde operator dari MA. Model ini digunakan untuk data time series yang telah stasioner setelah dilakukan differencing sebanyak d kali yaitu dengan menghitung selisih pengamatan dengan pengamatan sebelumnya dimana bentuk persamaan untuk model ARIMA adalah sebagai berikut: ?? (?)(1 − ?) ??? = ?0 + ??(?)?? (4) Apabila model ARIMA mempunyai pola musiman (seasonal) maka model yang dibentuk secara umum adalah sebagai berikut: Φ? (? ? )(1 − ? ? ) ??? = Θ?(? ? )?? (5)

Teori Fenomenologi (skripsi dan tesis)

Teori ini dikemukakan oleh Husserl bahwa realitas yang ada bersifat subyektif dan sangat bergantung dari cara orang memandang dan memahami sehingga hasilnya dapat berbeda pada setiap orang (David, 409: 2007). Dalam pemikiran Husserl, konsep fenomenologi itu berpusat pada persoalan tentang kebenaran. Baginya fenomenologi bukan hanya sebagai filsafat tetapi juga sebagai metode, karena dalam fenomenologi kita memperoleh langkah-langkah dalam menuju suatu fenomena yang murni. Husserl yakin bahwa ada kebenaran bagi semua dan manusia dapat mencapai kebenaran itu. Akan tetapi, Husserl melihat bahwa sesungguhnya di dalam filsafat itu sendiri tiada kesesuaian dan kesepakatan karena tidak adanya metode yang tepat sebagai pegangan yang dapat diandalkan. Bagi Husserl metode yang benar-benar ilmiah adalah metode yang  sanggup membuat fenomena menampakkan diri sesuai dengan realitas yang sesungguhnya tanpa memanipulasinya. Ada suatu slogan yang terkenal di kalangan penganut fenomenologi, yaitu: zu den sachen selbst (terarah kepada benda itu sendiri). Dalam keterarahan benda itu, sesungguhnya benda itu sendirilah yang dibiarkan untuk mengungkapkan hakikat dirinya sendiri. Berangkat dari proses pemikiran yang demikian, maka lahirlah metode fenomenologis (David, 411: 2007).

Pengertian Analytic Network Process (ANP) (skripsi dan tesis)

Analytic Network Process (ANP) merupakan teori matematis yang mampu menganalisa pengaruh dengan pendekatan asumsi-asumsi untuk menyelesaikan bentuk permasalahan. ANP sebagai  suatu pendekatan alternatif baru untuk studi kualitatif yang dapat mengkombinasikan nilai-nilai Intangible dan judgement subyektif dengan data-data statistik dan faktor-faktor tangible lainnya (Saaty, 2008). Metode ini digunakan dalam bentuk penyelesaian dengan pertimbangan atas penyesuaian kompleksitas masalah disertai adanya skala prioritas yang menghasilkan pengaruh prioritas terbesar. ANP merupakan generalisasi dari Analytic Hierarchy Process, dengan mempertimbangkan ketergantungan antara unsur-unsur dari hirarki. Banyak masalah keputusan tidak dapat terstruktur secara hirarkis karena mereka melibatkan interaksi dan ketergantungan unsur-unsur tingkat yang lebih tinggi dalam hirarki dielemen level yang lebih rendah (Saaty, 2008). Banyak proses pengambilan keputusan suatu persoalan tidak dapat disusun dalam bentuk hirarki karena melibatkan interaksi dan ketergantungan elemen-elemen yang lebih tinggi tingkatannya kepada level elemen yang lebih rendah. Metode ANP mampu memperbaiki kelemahan AHP berupa kemampuan mengakomodasi keterkaitan antar kriteria atau alternatif. Komponen ANP terdiri dari hirarki kontrol, cluster, elemen, hubungan antar elemen dan hubungan antar cluster. Keterkaitan pada metode ANP ada 2 jenis yaitu keterkaitan dalam satu set elemen (inner depedence) dan keterkaitan antar elemen yang berbeda (outer depedence)

Tahapan ANP (skripsi dan tesis)

1) Menyusun struktur masalah dan mengembangkan model keterkaitan melakukan penentuan sasaran atau tujuan yang diinginkan, menentukan kriteria mengacu pada kriteria control dan menentukan alternatif pilihan. Jika terdapat elemen – elemen yang memiliki kualitas etara maka dikelompokkan ke dalam suatu komponen yang sama.

2) Membentuk matriks perbandingan berpasangan. ANP mengasumsikan bahwa pengambil keputusan harus membuat perbandingan kepentingan antara seluruh elemen untuk setiap level dalam bentuk berpasangan. Perbandingan tersebut itransformasi ke dalam bentuk matriks A. Nilai aij merepresentasikan nilai kepentingan relative dari elemen pada baris ke-i terhadap elemen pada kolom ke-j. misalnya aij =wi / wj.

Jika ada n elemen yang dibandingkan maka matriks perbandingan A idefinisikan sebagai : A= =

3) Menghitung bobot elemen. Jika perbandingan berpasangan telah lengkap, vector prioritas w yang disebut sebagai eigenvector dihitung dengan rumus : A . w = λmaks . W Dimana : A adalah matriks perbandingan berpasangan dan λmaks adalah eigen value terbesar dari A. Eigen vector merupakan bobot prioritas suatu matriks yang kemudian digunakan dalam penyusunan supermatriks.

4) Menghitung rasio konsistensi. Rasio konsistensi tersebut harus 10% atau kurang. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data keputusan harus diperbaiki. Dalam prakteknya, konsistensi tersebut tidak mungkin didapat. Pada matriks konsistensi, secara praktis λmaks = n, sedangkan pada matriks tidak setiap variasi dari wij akan membawa perubahan pada nilai λmaks. Deviasi λmaks dari n merupakan suatu parameter Consistency Index (CI) sebagai berikut : CI = Dimana : CI = Consistency Index λmaks= nilai eigen terbesar n =jumlah elemen yang dibandingkan 4 Berikut gambaran dari metode ANP.

Tahapan ANP

1) Menyusun struktur masalah dan mengembangkan model keterkaitan melakukan penentuan sasaran atau tujuan yang diinginkan, menentukan kriteria mengacu pada kriteria control dan menentukan alternatif pilihan. Jika terdapat elemen – elemen yang memiliki kualitas etara maka dikelompokkan ke dalam suatu komponen yang sama.

2) Membentuk matriks perbandingan berpasangan. ANP mengasumsikan bahwa pengambil keputusan harus membuat perbandingan kepentingan antara seluruh elemen untuk setiap level dalam bentuk berpasangan. Perbandingan tersebut itransformasi ke dalam bentuk matriks A. Nilai aij merepresentasikan nilai kepentingan relative dari elemen pada baris ke-i terhadap elemen pada kolom ke-j. misalnya aij =wi / wj. Jika ada n elemen yang dibandingkan maka matriks perbandingan A idefinisikan sebagai : A= =

3) Menghitung bobot elemen. Jika perbandingan berpasangan telah lengkap, vector prioritas w yang disebut sebagai eigenvector dihitung dengan rumus : A . w = λmaks . W

Dimana :

A adalah matriks perbandingan berpasangan dan λmaks adalah eigen value terbesar dari A.

Eigen vector merupakan bobot prioritas suatu matriks yang kemudian digunakan dalam penyusunan supermatriks.

4) Menghitung rasio konsistensi. Rasio konsistensi tersebut harus 10% atau kurang. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data keputusan harus diperbaiki. Dalam prakteknya, konsistensi tersebut tidak mungkin didapat. Pada matriks konsistensi, secara praktis λmaks = n, sedangkan pada matriks tidak setiap variasi dari wij akan membawa perubahan pada nilai λmaks.

Tahapan ANP

1) Menyusun struktur masalah dan mengembangkan model keterkaitan melakukan penentuan sasaran atau tujuan yang diinginkan, menentukan kriteria mengacu pada kriteria control dan menentukan alternatif pilihan. Jika terdapat elemen – elemen yang memiliki kualitas etara maka dikelompokkan ke dalam suatu komponen yang sama.

2) Membentuk matriks perbandingan berpasangan. ANP mengasumsikan bahwa pengambil keputusan harus membuat perbandingan kepentingan antara seluruh elemen untuk setiap level dalam bentuk berpasangan. Perbandingan tersebut itransformasi ke dalam bentuk matriks A. Nilai aij merepresentasikan nilai kepentingan relative dari elemen pada baris ke-i terhadap elemen pada kolom ke-j. misalnya aij =wi / wj. Jika ada n elemen yang dibandingkan maka matriks perbandingan A idefinisikan sebagai : A= =

3) Menghitung bobot elemen. Jika perbandingan berpasangan telah lengkap, vector prioritas w yang disebut sebagai eigenvector dihitung dengan rumus : A . w = λmaks . W Dimana : A adalah matriks perbandingan berpasangan dan λmaks adalah eigen value terbesar dari A. Eigen vector merupakan bobot prioritas suatu matriks yang kemudian digunakan dalam penyusunan supermatriks.

4) Menghitung rasio konsistensi. Rasio konsistensi tersebut harus 10% atau kurang. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data keputusan harus diperbaiki. Dalam prakteknya, konsistensi tersebut tidak mungkin didapat. Pada matriks konsistensi, secara praktis λmaks = n, sedangkan pada matriks tidak setiap variasi dari wij akan membawa perubahan pada nilai λmaks. Deviasi λmaks dari n merupakan suatu parameter Consistency Index (CI) sebagai berikut : CI = Dimana : CI = Consistency Index λmaks= nilai eigen terbesar n =jumlah elemen yang dibandingkan 5

5) Nilai CI tidak akan berarti apabila terdapat standar untuk menyatakan apakah CI menunjukkan matriks yang konsisten. Saaty (2008) memberikan patokan dengan melakukan perbandingan secara acak atas 500 buah sampel. Saaty berpendapat bahwa suatu matriks yang dihasilkan dari perbandingan yang dilakukan secara acak merupakan suatu matriks yang mutlak tidak konsisten. Dari matriks acak tersebut didapatkan juga nilai Consistency Index, yang disebut Random Index (RI). Dengan membandingkan CI dan RI maka didapatkan patokan untuk menentukan tingkat konsistensi suatu matriks, yang disebut Consistency Ratio (CR), dengan rumus : CR = Dimana : CR = Consistency Ratio CI = Consistency Index RI = Random Index Nilai RI merupakan nilai random index yang dikeluarkan oleh Oarkridge Laboratory.

6) Membuat Supermatriks Supermatriks merupakan hasil vector prioritas dari perbandingan berpasangan antar cluster, kriteria dan alternatif. Supermatriks terdiri dari tiga tahapan, yaitu supermatriks tidak tertimbang (Unweighted Supermatrix), supermatriks tertimbang (Weighted Supermatrix) dan supermatriks limit (Limitting Supermatrix).

a. Tahap Unweighted Supermatrix Unweighted Supermatrix dibuat berdasarkan perbandingan berpasangan antar cluster, kriteria dan alternatif dengan cara memasukkan vector prioritas (eigen vector) kolom ke dalam matriks yang sesuai dengan selnya.

b. Tahap Weighted Supermatrix Weighted Supermatrix diperoleh dengan cara mengalihkan semua elemen pada unweighted supermatrix dengan nilai yang terdapat dalam matriks cluster yang sesuai sehingga setiap kolom memiliki jumlah satu.

c. Tahap Limmiting Supermatrix Selanjutnya untuk memperoleh limiting supermatrix, weighted supermatrix dinaikkan bobotnya. Menaikkan bobot weighted supermatrix dilakukan dengan cara mengalikan supermatriks tersebut dengan dirinya sendiri sampai beberapa kali. Ketika bobot pada setiap kolom memiliki nilai yang sama, maka limmiting supermatrix sudah didapatkan.

7) Rangking Alternatif

a. Bobot Raw Bobot raw merupakan nilai eigen vektor dari normalisasi limiting supermatrik.

b. Bobot Normal Bobot normal didapatkan dari nilai bobot raw dibagi dengan jumlah total dari bobot raw.

. Bobot Ideal Nilai ideal adalah nilai hasil bagi kolom(kolom nilai normal) dengan nilai terbesar pada kolom normal

Prinsip Dasar ANP (skripsi dan tesis)

Terdapat tiga prinsip dasar ANP :

1. Dekomposisi.

Masalah – masalah yang dikumpulkan dengan melakukan studi lapangan ketika penelitian sedang berlangsung merupakan masalah yang kompleks. Untuk menstruktur masalah – masalah yang kompleks tersebut perlu didekomposisikan ke dalam suatu jaringan dalam bentuk komponen – komponen, cluster, sub cluster, serta alternatif. Mendekomposisi adalah memodelkan masalah ke dalam kerangka ANP.

2. Penilaian Komparasi.

Prinsip ini diterapkan untuk melihat perbandingan pasangan (pairwise) dari semua jaringan / hubungan / pengaruh yang dibentuk dalam suatu kerangka kerja. Hubungan tersebut dapat berupa hubungan anatara elemen – elemen dalam suatu komponen yang berbeda atau hubungan antara elemen dengan elemen lainnya dalam komponen yang sama. Pembandingan pasangan ini digunakan untuk mendapatkan prioritas local dari elemen – elemen dalam suatu cluster dilihat dari cluster induknya.

3. Komposisi hierarki atau sintesis.

Prinsip ini diterapkan untuk mengalikan prioritas lokal dari elemen – elemen dalam cluster dengan prioritas ‘global’ dari elemen induk yang akan menghasilkan prioritas global seluruh hierarki dan menjumlahkannya untuk menghasilkan prioritas global untuk elemen level terendah (biasanya merupakan alternatif).

Pengertian Multiple Criteria Decision Making (MCDM) (skripsi dan tesis)

Multiple Criteria Decision Making (MCDM) merupakan suatu metode pengambilan keputusan untuk menetapkan alternative terbaik dari sejumlah alternative berdasarkan beberapa kriteria tertentu. Terdapat beberapa metode dalam pendekatan MCDM anatara lain Simple Additive Weighting Method (SAW), Weighted Product Model (WPM), ELECTRE, Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS), Analytic Hierarchy Process (AHP) serta ANP karena merupakan pengembangan dari AHP[10].

Pengertian Analytic Network Process (ANP) (skripsi dan tesis)

Analytic Network Process (ANP) merupakan teori matematis yang mampu menganalisa pengaruh dengan pendekatan asumsi-asumsi untuk menyelesaikan bentuk permasalahan. ANP sebagai Jurnal Sistem Informasi Bisnis 02(2016) On-line :http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jsinbis 107 suatu pendekatan alternatif baru untuk studi kualitatif yang dapat mengkombinasikan nilai-nilai Intangible dan judgement subyektif dengan data-data statistik dan faktor-faktor tangible lainnya (Saaty, 2008). Metode ini digunakan dalam bentuk penyelesaian dengan pertimbangan atas penyesuaian kompleksitas masalah disertai adanya skala prioritas yang menghasilkan pengaruh prioritas terbesar. ANP merupakan generalisasi dari Analytic Hierarchy Process, dengan mempertimbangkan ketergantungan antara unsur-unsur dari hirarki. Banyak masalah keputusan tidak dapat terstruktur secara hirarkis karena mereka melibatkan interaksi dan ketergantungan unsur-unsur tingkat yang lebih tinggi dalam hirarki dielemen level yang lebih rendah (Saaty, 2008). Banyak proses pengambilan keputusan suatu persoalan tidak dapat disusun dalam bentuk hirarki karena melibatkan interaksi dan ketergantungan elemen-elemen yang lebih tinggi tingkatannya kepada level elemen yang lebih rendah. Metode ANP mampu memperbaiki kelemahan AHP berupa kemampuan mengakomodasi keterkaitan antar kriteria atau alternatif. Komponen ANP terdiri dari hirarki kontrol, cluster, elemen, hubungan antar elemen dan hubungan antar cluster. Keterkaitan pada metode ANP ada 2 jenis yaitu keterkaitan dalam satu set elemen (inner depedence) dan keterkaitan antar elemen yang berbeda (outer depedence)

Pengertian Analytic Network Process (ANP) (skripsi dan tesis)

ANP merupakan pengembangan dari metode Analytic Hierarchy Process (AHP), AHP sendiri merupakan metode yang lebih banyak memperhitungkan ketergantungan antara unsur-unsur hirarki. Banyak masalah keputusan yang tidak dapat terstruktur menggunakan hirarki karena hierarki lebih mempertimbangkan ketergantungan dengan elemen tingkat yang lebih tinggi dalam hirarki, pada elemen tingkat yang lebih rendah. Sedangkan ANP yang diwakili oleh jaringan, bukan hirarki dapat mengatasi masalah tersebut. ANP adalah cara logis digunakan untuk menangani masalah ketergantungan dari unsur yang lebih tinggi

Langkah Dalam ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS/ AHP (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya, prosedur atau langkah-langkah dalam metode AHP yang digunakan meliputi:

 Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, lalu menyusun jaringan dari permasalahan yang dihadapi.

 Menentukan prioritas elemen

– Menentukan prioritas elemen dengan membuat perbandingan berpasangan berdasarkan sesuai dengan kriteria yang diberikan dengan mengelompokan dalam komponen yang sama.

– Dalam model AHP, langkah yang harus dilakukan adalah mengetahui suatu tingkat kepentingan terhadap kriteria AHP untuk perbandingan kriteria dalam seluruh sistem. Langkah ini dilakukan melalui matriks perbandingan berpasangan.

– Nilai numerik pada seluruh perbandingan diperoleh dari skala perbandingan 1 sampai 9 yang telah ditetapkan oleh Saaty.

 Menghitung bobot elemen Dalam pembuatan keputusan, penting untuk mengetahui seberapa baik konsistensi yang ada karena kita tidak menginginkan keputusan berdasarkan pertimbangan dengan konsistensi yang rendah.

 Hitung Consistency Index (CI): CI : ( λ maks-n) / (n-1) (1)

 Hitung Rasio Konsistensi / Consistency Ratio (CR) CR : CI/IR (2) Dengan CR : Consistency Ratio CI : Consistency Index IR : Indeks Random Consistency Bila matriks matriks perbandingan berpasangan (pair-wise comparison) dengan nilai CR lebih kecil dari 0,1 maka ketidakkonsisten

Pengertian Analytical Hierarchy Process /AHP (skripsi dan tesis)

AHP merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. AHP sendiri merupakan sebuah model pendukung keputusan yang dapat menyelesaikan masalah yang bersifat multi kriteria yang kompleks berdasarkan unsur hierarki sebagai dasar penyusunnya.  Hirarki merupakan suatu penggambaran sebuah permasalahan yang kompleks dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor kriteria, sub kriteria, dan seterusnya hingga ke level terakhir yaitu alternatif. Dengan menggunakan hirarki, masalah dapat digabung ke dalam kelompok-kelompoknya sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis

Konsep Input dan Output Dalam Pengukuran Efisiensi Perbankan (skripsi dan tesis)

Hadad et.al (2003) dalam P. Prapanca (2012) menyebutkan bahwa
konsep-konsep yang digunakan dalam mendefinisikan hubuungan input
dan output dalam tingkah laku institusi keuangan pada metode
parametrik dan non-parametrik adalah (i) pendekatan produksi (the
production approach), (ii) pendekatan intermediasi (the intermediation
approach) dan (iii) pendekatan aset (the assets approach).
Pendekatan produksi (the production approach) melihat institusi
keuangan sebagai produser dari akun deposit dan kredit pinjaman,
mendefinisikan output sebagai jumlah dari akun-akun tersebut atau dari
transaksi-transaksi yang terkait. Pendekatan intermediasi (the
intermediation approach) memandang sebuah institusi keuangan sebagai
intermediator, yaitu merubah dan mentransfer aset-aset finansial dari
unit-unit surplus ke unit-unit defisit. Pendekatan aset (the assets
approach) memperlihatkan fungsi primer sebuah institusi keuangan
sebagai pencipta kredit pinjaman (loans) dimana output benar-benar
mendefinisikan dalam bentuk aset-aset. Pendekatan aset mengukur
kemampuan perbankan dalam menanamkan dana dalam bentuk kredit,
surat-surat berharga dan alternatif aset lainnya sebagai output. Sedangkan
input diukur dari harga tenaga kerja, harga dana dan harga fisik modal.
Menurut Berger & Humphrey (1997) dalam F. Maharani (2012)
terdapat dua pendekatan yang digunakan untuk menghitung efisiensi oleh
sebuah institusi keuangan, yaitu: (i) production approach (ii)
intermediation approach. Production approach merupakan suatu
pendekatan dengan aktivitas utama suatu institusi keuangan adalah
menghasilkan dan memproduksi jasa-jasa bagi para nasabahnya.Kinerka
institusi keuangan tersebut bagi pada nasabahnya adalah melakukan
transaksi dan memproses dokumen-dokumen seperti aplikasi kredit,
laporan kredit, cek atau instrumen pembayaran lainnya. Inilah yang
diukur sebagai input. Sedangkan output dalam pendekatan ini diukur dari
jumlah dan tipe transksi serta dokumen yang di proses pada periode
tertentu. Intermediation approach diartikan sebagai aktivitas utama suatu
intitusi keuangan, yaitu sebagai intermediator antara investor dengan
savers.
Menurut Wahab, Hosen dan Muhari (2014) konsep pengukuran
efisiensi dapat dilihat baik dengan fokus pada sisi input (input oriented)
maupun fokus pada sisi output (output oriented). Kedua pendekatan ini
analog dengan konsep primal dan dual dalam teknik operations research,
sehingga keduapendekatan ini secara konsisten akan menghasilkan
kesimpulan yang samatentang efisiensi relatif sebuah perusahaan
terhadap sekawannya. Berikut iniadalah ikhtisar tentang kedua
pendekatan ukuran efisiensi tersebut (Abidin dan Endri, 2009):
1. Pendekatan Input
Pendekatan sisi input menunjukkan berapa banyak kuantitas input bias
dikurangi secara proporsional untuk memproduksi kuantitas output yang
sama. Untuk pendekatan sisi input diasumsikan sebuah perusahaan
menggunakan dua jenis input, yaitu x1 dan x2, untuk memproduksi satu
jenis output (y) dengan asumsi constant returns to scale (CRS). Asumsi
constant returns to scale (CRS) maksudnya adalah jika kedua jenis input,
x1 dan x2, ditambah dengan jumlah persentase tertentu,maka output juga
akan meningkat dengan persentase yang sama.
2. Pendekatan Output
Pendekatan sisi output berlawanan dengan pendekatan sisi input,
pendekatan sisi output menunjukkan berapa banyak kuantitas output
dapat ditingkatkan secara proporsional dengan kuantitas input yang sama.
Asumsikan sebuah perusahaan dengan 2 jenis output (y1 dan y2) dan 1
jenis input (x) dengan asumsi constant returns to scale (CRS).
Ukuran efisiensi relatif, baik dengan pendekatan sisi input maupun
output sama-sama membutuhkan pendefinisian garis pembatas (frontier)
yang menunjukkan perusahaan-perusahaan yang secara relatif paling
efisien dari pada kelompok sekawannya (Abidin dan Endri, 2009).

Model DEA (skripsi dan tesis)

a. Model CCR (Charnes, Cooper, and Rhodes)
Menurut Casu & Molyneux (2003) dalam P. Prapanca (2012) model
ini digunakan jika berasumsi bahwan perbandingan terhadap input
maupun output suatu perusahaan tidak mempengaruhi produktivitas
yang mungkin dicapai, yaitu Constant Return to Scala (CRS). Model
ini terdiri dari fungsi tujuan yang berupa maksimisasi jumlah output
dari unit yang akan diukur produktivitas relatifnya dan selisih dari
jumlah output dan input dari semua unit yang akan diukur
produktivitas relatifnya. Sedangkan Purwanto & Ferdian (2006)
dalam F. Maharani (2012) menyatakan bahwa model ini relatif lebih
tepat digunakan dalam menganalisis kinerja pada perusahaan
manufaktur.
b. Model BCC (Banker, Charnes, and Cooper)
Model ini digunakan jika kita berasumsi bahwa perbandingan
terhadap input maupun output suatu perusahaan akan mempengaruhi
produktivitas yang mungkin dicapai, yaitu VRS (Variable Returns to
Scale). Pendekatan ini relatif lebih tepatdigunakan dalam
menganalisis efisiensi kinerja pada perusahaan jasa termasuk bank
Berdasarkan rumus diatas, wo adalah suatu nilai yang jika dikalikan
dengan input v, maka akanmenghasilkan nilai maksimum
pengurangan input untuk menghasilkan nilai output yang sama.
Sedangkan λj merupakan suatu variabel yang memfokuskan seberapa
besar kemungkinan untuk membuat suatu DMU baru (virtual DMU)
dari DMU yang sedang dihitung produktivitas relatifnya sebagai
kmbinasi dari DMU yang lainnya.
Dalam hal ini, selain menetapkan garis frontir efisien metode DEA
juga menetapkan suatu target sesuai dengan garis frontir efisien
(efficient frontier) untuk setiap DMU yang in efficient serta
menetapkan satu atau beberapa unit yang dapat digunakan sebagai
acuan untuk unit yangefficient yang dalam hal ini disebut sebagai
peer unit.

Definisi DEA (skripsi dan tesis)

Menurut Kanungo (2004) pada Haqiqi (2015) DEA merupakan
metode berdasarkan program linier yang digunakan untuk
membandingkan efisiensi dari beberapa unit. Adapun menurut Avkiran
(1999), dalam F. Maharani (2012) dengan mendefinisikan DEA sebagai
teknik untuk mengukur efisiensi yang mampu untuk mengungkap
hubungan yang tepat antara input dan output yang beragam, yang
sebelumnya tidak dapat diakomodasi melalui analisis rasio secara
tradisional.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa metode
DEA merupakan metode program linear yang digunakan untuk
mengukur efisiensi yang mampu mengungkap hubungan secara tepat
antara input dan output yang beragam.
Metode DEA adalah sebuah metode frontier non parametric yang
menggunakan model program linier untuk menghitung perbandingan
rasio outputdan input untuk semua unit yang dibandingkan dalam sebuah
populasi. Tujuan dari metode DEA adalah untuk mengukur tingkat
efisiensi dari decision-making unit (DMU) atau banyak disebut juga
sebagai unit kegiatan ekonomi (UKE) relatif terhadap bank yang sejenis
ketika semua unit-unit ini berada pada atau dibawah “kurva” efisien
frontier-nya. Jadi metode ini digunakan untuk mengevaluasi efisiensi
relatif dari beberapa objek (benchmarking kinerja).Pendekatan DEA
lebih menekankan kepada melakukan evaluasi terhadap kinerja
DMU.Analisis yang dilakukan berdasarkan kepada evaluasi terhadap
efisiensi relatif dari DMU yang sebanding. Selanjutnya DMU-DMU yang
efisien tersebut akan membentuk garis frontier. Jika DMU berada pada
garis frontier,maka DMU tersebut dapat dikatakan relatif efisien
dibandingkan dengan DMU yang lain dalam peer groupnya. Selain
menghasilkan nilai efisiensi masing-masing DMU, DEA juga
menunjukkan unit-unit yang menjadi referensi bagi unit-unit yang tidak
efisien
Terdapat tiga manfaat yang diperoleh dari pengukuran efisiensi
dengan DEA (Insukindro et al., 2000 dalam B. Zahroh, 2015):
1. Sebagai tolak ukur untuk memperoleh efisiensi relatif yang berguna
untuk mempermudah perbandingan antar unit ekonomi yang sama.
2. Mengukur berbagai variasi efisiensi antar unit ekonomi untuk
mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya.
3. Menentukan implikasi kebijakan sehingga dapat meningkatkan
tingkat efisiensinya.
Keuntungan lainnya adalah bahwa DEA dapat melihat sumber
ketidakefisienan dengan ukuranpeningkatan potensial (potential
improvement) dari masing-masing input (Hadad et al. 2003 dalam A.
Noor Pratiwi 2013). DEA menghitung efisiensi teknis untuk seluruh
unit. Skor efisiensi untuk setiap unit adalah relatif, tergantung pada
tingkat efisiensi dari unit-unit lainnya di dalam sampel.Setiap unit
dalam sampel dianggap memiliki tingkat efisiensi yang tidak negatif
dan nilainya antara 0 hingga 1, dimana satu menunjukkan efisiensi
yang sempurna (Hadad et al., 2003)

Konsep Efisiensi (skripsi dan tesis)

Menurut (Hadad et.al 2003) dalam Ruddy Trisantoso (2010) Efisiensi
merupakan salah satu parameter kinerja yang secara teoriti merupakan salah
satu ukuran kinerja yang mendasari seluruh kinerja organisasi. Kemampuan
menghasilkan output yang maksimal dengan input yang ada, adalah
merupakan ukuran kinerja yang diharapkan. Efisiensi dalam dunia
perbankan merupakan salah satu parameter kinerja yang cukup populer
sehingga lazin digunakan karena dapat memberikan jawaban atas berbagai
kesulitan dalam menghitung berbagai ukuran kinerja sebagaimana
disebutkan diatas.
Adapun konsep dalam mendefinisikan hubungan input-output pada A.
Noor Pratiwi (2014) dan juga seperti pada Hadad et al. (2003), menjelaskan
bahwa perilaku lembaga keuangan dapat melalui beberapa pendekatan,
antara lain:
a. Pendekatan produksi (Production Approach), yaitu dengan melihat
bahwa institusi keuangan sebagai produsen simpanan (deposit
account) dan juga pinjaman kredit (loans). Pendekatan ini
mendefinisikan output adalah penjumlahan dari keduanya dari
berbagai transaksi-transaksi terkait, sedangkan input-inputnya adalah
biaya tenaga kerja, pengeluaran modal untuk aset-aset tetap (fixed
assets), serta pengeluaran-pengeluaran lainnya yang bersifat material.
b. Pendekatan intermediasi (Intermediation Approach), yaitu
memperlakukan institusi keuangan sebagai lembaga yang
menjalankan fungsi intermediasi, dengan mengubah dan mentransfer
berbagai aset finansial dari unit-unit surplus menjadi unit-unit defisit.
Dalam pendekatan ini, biaya tenaga kerja, pengeluaran modal, dan
pembayaran bunga simpanan dikategorikan sebagai input-input,
sedangkan pinjaman kredit dan investasi pada instrumen keuangan
(financial investment) sebagai output-outputnya.
c. Pendekatan aset (Asset Approach), pendekatan ini hampir sama
dengan pendekatan intermediasi, namun dengan lebih memperlakukan
institusi keuangan adalah lembaga yang menjalankan fungsi utama
sebagai pencipta pinjaman kredit (loans).
Menurut Hadad et al (2003) dalam Prapanca (2012) menyatakan
bahwa pengukuran efisiensi bank dapat dilakukan dengan menggunakan dua
pendekatan. Pertama, menggunakan pendekatan parametrik seperti
Stochastic Frontier Approach (SFA) dan Distribution Free Approach
(DFA) Pendekatan kedua, menggunakan pendekatan non-parametrik yaitu
Data Envelopment Analysis (DEA).
Efisiensi menjadi salah satu ukuran yang sangat penting dalam
menilai kinerja suatu perusahaan. Menurut Berger dan Mester (1997) pada
F. Maharani (2012) efisiensi industri perbankan dapat ditinjau dari sudut
pandang mikro maupun makro.Dari perspektif mikro, dalam suasana
persaingan yang semakin ketat sebuah bank agar bisa bertahan dan
berkembang harus efisien dalam kegiatan operasinya. Bank-bank yangtidak
efisien, besar kemungkinan akan exit dari pasar karena tidak mampu
bersaing dengan kompetitornya, baik dari segi harga (pricing) maupun
dalam hal kualitas produk dan pelayanan. Bank yang tidak efisien akan
kesulitan dalam mempertahankan kesetiaan nasabahnya dan juga tidak
diminati oleh calon nasabah dalam rangka untuk memperbesar customerbasenya.
Sementara dari perspektif makro, industri perbankan yang efisien
dapat mempengaruhi biaya intermediasi keuangan dan secara keseluruhan
stabilitas sistem keuangan.Hal ini disebabkan peran yang sangat strategis
dari industri perbankan sebagai intermediator dan produsen jasa-jasa
keuangan.
Dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi, kinerja perbankan akan
semakin lebih baik dalam mengalokasikan sumber daya keuangan dan pada
akhirnya dapat meningkatkan kegiatan investasi dan pertumbuhan ekonomi

Tahap Analisis Data Kualitatif (skripsi dan tesis)

Analisis data penelitian kualitatif seharusnya dimulai pada awal penelitian. Ketika seseorang melakukan penelitian, maka di saat itu pula ia (peneliti) akan berhadapan dengan data-data baik data-data dari teks atau dokumen, melalui catatancatatan observasi ataupun melalui wawancara. Pada saat yang sama, peneliti akan membaca data-data tersebut (mungkin berkali-kali) yang selanjutnya akan memberikan makna terhadap data yang dibaca tersebut. Analisis data di awal penelitian akan memudahkan peneliti dalam menerapkan strategi yang akan digunakan dalam mengumpulkan datadata atau informasi baru selanjutnya. Mengingat peneliti akan melakukan pengumpulan data melalui wawancara dengan informan lain, maka analisis data yang dilakukan lebih awal akan menjadi panduan peneliti dalam menggali informasi dari informan. Setelah mengumpulkan data melalui wawancara dan observasi, maka hal yang pertama dihadapi oleh seorang peneliti adalah berhadapan dengan data-data penelitian. Data-data tersebut membutuhkan pengorganisasian yang kemudian disebut sebagai analisis data.

Altinay dan Paraskevas (2008: 167) mengemukakan “qualitative data analysis is the conceptual  interpretation of the dataset as a whole, using specific analytic strategies to convert the raw data into a logical description and explanation of the phenomenon under study”. Analisis data kualitatif adalah intepretasi konsep dari keseluruhan data yang ada dengan menggunakan strategi analitik yang bertujuan untuk mengubah atau menerjemahkan data mentah ke dalam bentuk uraian atau deskripsi dan eksplanasi dari fenomena yang sedang diteliti dan dipelajari. Dalam penelitian kualitatif, analisis data merupakan proses yang berkelanjutan yang dilakukan oleh peneliti dengan fokus pada data-data yang telah dikumpulkan (Bryman, 2012; Dey, 1993; Ritchie, Spencer dan O‟Connor, 2003; Sarantakos, 1993). Proses yang berlangsung secara terus menerus ini menuntut peneliti mengorganisasikan data-data yang telah diperoleh sehingga data-data tersebut menjadi jelas, dapat dipahami dan memberikan makna. Dalam implementasinya, analisis data kualitatif dilakukan melalui tiga tahap atau proses yakni reduksi data (data reduction), pengorganisasian (organisation), dan interpretasi data (interpretation) (Fielding dan Fielding, 2008; Sarantakos, 1993). Reduksi data diartikan sebagai suatu proses mengidentifikasi data mentah (raw data) yang telah diperoleh dengan melakukan langkah summary, pengkodean (coding) dan kategorisasi (categorising). Pengorganisasian diartikan sebagai proses mengumpulkan atau menyatukan informasi data yang dihasilkan dari identifikasi awal (proses reduksi data). Hasil analisis dari langkah reduksi data dan pengorganisasian tersebut selanjutnya dilakukan interpretasi data. Interpretasi data ini sangat penting untuk menghasilkan kesimpulan berdasarkan pertanyaan penelitian. Pemahaman informasi, teori, dan keilmuan (pengetahuan) peneliti perihal isu atau topik yang sedang diteliti berperan penting dalam proses interpretasi data. Mannan (2000) juga berpendapat bahwa proses analisis data kualitatif dilakukan dengan melakukan prinsip atau langkah yakni familiarisasi data (familiarisation with data), mengorganisir data (organising data), menyajikan data (displaying data), membuat atau menarik kesimpulan (drawing conclusions), melakukan verifikasi atau pengecekan (verification/checking) dan menghubungkan teori (linking theory). Analisis data kualitatif memiliki jenis-jenis atau pendekatan tergantung pemilihan peneliti dalam menggunakan jenis analisis data yang tentunya disesuaikan dengan metodologi dan tujuan penelitian. Menurut Liamputtong (2009), terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam menganalisis data kualitatif yakni analisis tematik (thematic analysis), analisis naratif (narrative analysis), analisis percakapan atau ujaran (discourse analysis), dan analisis semiotik (semiotic analysis). Terdapat juga pendekatan lain yang dapat digunakan dalam menganalisis data kualitatif, misalnya analisis isi (content analysis), dan teori grounded (grounded theory).

 Ritchie  dan Lewis (2003) secara khusus mengklasifikasikan analisis data kualitatif ke dalam beberapa bentuk atau pendekatan analisis yakni analisis atau pendekatan etnografi (ethnographic account), sejarah hidup (life histories), narrative analysis, content analysis,conversation analysis, discourse analysis, induksi analitik atau analisis yang bersifat induktif (analytic induction), grounded theory, dan analisis evaluasi dan kebijakan (policy and evaluation analysis). Istilah-istilah analisis data kualitatif tersebut tentunya memiliki ciri khas tersendiri baik dari segi proses atau tahap analisisnya maupun dari segi teknik analisisnya. Dalam hal ini, penulis berpendapat bahwa thematic analysis merupakan pendekatan yang paling banyak digunakan oleh peneliti kualitatif. Karenanya, peneliti akan memfokuskan pada bagaimana langkah-langkah melakukan thematic analysis. Pada umumnya, gambaran analisis data kualitatif terlihat pada thematic analysis. Dengan kata lain, ketika peneliti kualitatif telah mampu melaksanakan proses dan tahap thematic analysis, maka analisis data kualitatif lainnya akan mampu dilaksanakan oleh peneliti. Thematic analysis atau biasa juga disebut dengan istilah analisis tematik interpretatif diartikan sebagai suatu metode dengan mengidentifikasi, menganalisis dan melaporkan tematema atau pola-pola yang terdapat dalam data
 Menurut Liamputtong (2009), terdapat dua langkah utama yang harus dilakukan dalam thematic analysis. Pertama, peneliti membaca secara keseluruhan isi atau transkrip wawancara dan mencoba memberikan makna dari data transkrip tersebut. Dalam proses ini, peneliti memerhatikan secara seksama isi transkrip tersebut dan memberikan makna dari apa yang disampaikan oleh informan dalam konteks kolektifitas sebagai kelompok masyarakat. Dalam memahami isi transkrip tersebut, peneliti perlu memerhatikan pola-pola atau ide-ide yang berulang kali disampaikan oleh informan. Pada tulisan ini, penulis menitikberatkan pada data wawancara yang telah diperoleh melalui wawancara (interview). Langkah awal pada proses ini adalah peneliti melakukan transkripsi wawancara. Proses ini umumnya mengambil waktu yang tidak sedikit mengingat data transkripsi akan digunakan untuk melakukan langkah pengkodean (coding). Liamputtong berpendapat bahwa data kualitatif secara umum mengimplementasikan langah coding dalam memahami makna atau polapola informasi yang ada pada data kualitatif. Coding adalah proses menelaah dan menguji data mentah yang ada dengan melakukan pemberian label (memberikan label) dalam bentuk kata-kata, frase atau kalimat. Terdapat dua tahap dalam langkah coding ini yakni pengkodean awal (initial coding) atau pengkodean terbuka (open coding) dan pengkodean aksial (axial coding). Beberapa penulis menambahkan pentingnya pengkodean selektif (selective coding) dalam melakukan analisis data selain initial coding dan axial coding(lihatAuerbach P3M Politeknik Pariwisata Makassar Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN 1979 – 7168 Jurnal Kepariwisataan, Volume 10, No. 01 Februari 2016, Halaman 59 – 74 67 dan Silverstein, 2003; Barbie, 2007; Blaikie, 2010; Hesse-Biber, 2010; Hesse-Biber dan Leavy, 2011). Initial coding diartikan sebagai pemberian makna atau label dalam bentuk katakata atau frase sesuai dengan data yang ada (misalnya pada data transkripsi). Axial coding diartikan sebagai langkah atau tahap kelanjutan dari open coding dengan cara menciptakan tema-tema atau kategori-kategori yang didasarkan pada kata-kata atau frase yang dihasilkan dari open coding. Dalam melakukan coding, peneliti dapat menempuh berbagai cara atau pendekatan, misalnya dengan memanfaatkan feature new comment pada program microsoft office word, membuat kata-kata secara manual pada data transkripsi atau dengan menuliskan data transkripsi tersebut pada program microsoft office word dengan spasi 2 (dua), mencetak dan membuat label berupa kata-kata atau frase-frase singkat.
 Perlu diingat bahwa dalam melakukan coding, peneliti senantiasa dituntun oleh kerangka teoritis (teori) atau kerangka konseptual (conceptual framework) yang dijadikan landasan dalam penelitian yang sedang dilakukan. Banyaknya kode-kode, label ataupun kata-kata yang dihasilkan dari coding di atas menuntun peneliti untuk kreatif dan intuitif dalam membuat tema-tema (themes) dan kategori (categories) sesuai dengan jenis label yang dibuat pada initial coding. Tema-tema yang telah dibuat melalui proses coding di atas perlu dikelompokkan dengan cara memilah tema-tema tersebut dengan memerhatikan prinsip hirarki, struktur atau cakupan tema-tema. Dalam membuat tema-tema dan kategori ataupun konsep, peneliti harus mampu memerhatikan keterkaitan atau koneksi antara satu tema dengan tema lainnya. Langkah berikutnya adalah peneliti membuat atau menciptakan konsep-konsep atau gagasan-gagasan teoritis yang berkaitan dengan kode dan tema-tema tersebut. Strategi yang tepat dalam proses analisis data ini adalah kemampuan peneliti menghubungkan antara konsep-konsep yang telah dibuat dengan mengaitkan dengan teori-teori atau literaturliteratur yang telah ada. Dalam hal ini, peneliti harus senantiasa mencari dan melihat literatur yang telah ada yang mungkin relevan dengan isu penelitian yang sedang diteliti.
 Mengingat coding adalah langkah penting dalam analisis data kualitatif, maka Liamputtong (2009 menyarankan beberapa tips praktis yang perlu diperhatikan oleh peneliti. Pertama, peneliti tidak perlu khawatir dengan banyaknya kode-kode atau label yang dibuat. Dalam praktiknya, peneliti akan menemukan bahwa kodekode yang dibuat mungkin tidak berkaitan atau sesuai dengan topik penelitian, namun di sisi lain, kodekode tersebut mungkin bermanfaat dalam konteks yang lain. Kedua, peneliti dapat membuat kode-kode atau label dengan cara yang kreatif dan variatif. Karena itu, peneliti perlu memerhatikan data-data penelitian secara seksama dan memahami secara mendalam data-data tersebut.

Sifat dan Defenisi Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Bagi beberapa peneliti, penelitian kualitatif terkadang sulit didefinisikan. Argumentasi yang paling banyak digunakan adalah bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak memanfaatkan angka-angka, berlawanan dengan penelitian kuantitatif. Pendapat ini tidak dapat disalahkan mengingat datadata yang diperoleh dalam penelitian kualitatif lebih bersifat kata-kata atau informasi. Namun demikian, penelitian kualitatif dapat diidentifikasi dan dipahami dengan melihat cakupan atau feature yang terdapat pada penelitian kualitatif. Flick (2007) berpendapat bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang diperuntukkan untuk memahami, menguraikan, dan bahkan menjelaskan fenomena sosial yang ada dengan cara-cara sebagai berikut:

  Dengan menganalisis pengalaman dari individu-individu atau kelompok (misalnya masyarakat). Pengalaman ini dapat berkaitan dengan sejarah hidup seseorang, pengetahuannya ataupun cerita yang berkaitan dengan hidupnya.
 Dengan menganalisis interaksi dan komunikasi setiap individu atau kelompok
  Dengan menganalisis dokumendokumen (misalnya teks, gambar, film atau musik).
 Penelitian kualitatif mencoba menguraikan realita ataupun fenomena yang ada di masyarakat dari sudut pandang informan atau orang yang berpartisipasi dalam penelitian tersebut (Baez, 2002; Flick, Kardorffdan Steinke, 2004; Maykut dan Morehouse, 1994). Realita atau fenomena tersebut dapat dipahami melalui pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara (termasuk wawancara mendalam), observasi (termasuk participant observation, diskusi kelompok terfokus dan analisis dokumen (Belsky, 2004; Snape dan Spencer, 2003).
Sesungguhnya, realitas sosial yang ada di masyarakat memiliki makna sehingga penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami apa yang terjadi baik dilihat dari prosesnya maupun pola-pola makna yang terjadi di masyarakat. “The way in which people being studied understand and interpret their social reality is one of the central motifs of qualitative research” (Bryman, 1998:8). Cara peneliti memahami dan menginterpretasi realitas sosial masyarakat, komunitas atau orang merupakan tujuan utama dari penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif senantiasa melihat realitas sosial dalam konteks apa yang terjadi dan mengapa sesuatu terjadi di masyarakat. Selanjutnya, penelitian kualitatif memberikan solusi, pendekatan ataupun strategi yang dapat ditempuh berdasarkan fenomena yang sedang dipelajari atau diteliti.
Denzin dan Lincoln (2003:3) memberikan defenisi penelitian kualitatif sebagai berikut: “Qualitative research is a situated activity that locates the observer in the world. It consists of a set of interpretive, material practices that makes the world visible. These practices… turn into a series of representation including fieldnotes, interviews, conversations, photographs, recordings and memos to the self. At this level, qualitative research involves an interpretive naturalistic approach to the world. This means that qualitative researchers study things in their nautral settings, attempting to make sense of, or to interpret, phenomena in terms of the meanings people bring to them”. Menurut Denzin dan Lincoln, penelitian kualitatif menempatkan peneliti atau pengamat suatu fenomena sebagai bagian yang tak terpisahkan dari fenomena tersebut. Penelitian kualitatif terdiri dari perangkat atau rangkaian kegiatan yang bersifat interpretatif yang membuat apa yang ada di dunia ini menjadi nampak. Rangkaian kegiatan tersebut dapat terdiri dari catatan lapangan, wawancara, percakapan, fotografi, rekaman, dan catatan pribadi (memo). Mengingat penelitian kualitatif menerapkan pendekatan interpretasi data, maka peneliti kualitatif akan mengkaji suatu realita ataupun fenomena dalam konteks alami, memberikan makna atau menginterpretasi suatu data berdasarkan makna dari suatu studi.

KODING DALAM KUALITATIF (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian kualitatif. data coding atau pengodean data memegang peranan penting dalam proses analisis data, dan menentukan kualitas abstraksi data hasil penelitian. Salah seorang sosiolog bernama Anselm Strauss (1987: 27) pernah mengatakan demikian,

“Any researcher who wishes to become proficient at doing qualitative analysis, must learn to code well and easily. The excellence of the research rests in large part on the excellence of the coding.”

Setiap peneliti yang berkeinginan untuk menjadi mahir dalam melakukan analisis kualitatif, harus belajar untuk mengodekan data dengan baik dan mudah. Keunggulan penelitian sebagian besar terletak pada keunggulan pengodean data.

Sayangnya, dalam berbagai literatur mengenai penelitian kualitatif di Indonesia, tidak banyak orang yang membicarakan tata cara atau tehnik-tehnik dalam melakukan pengodean, meskipun pengodean merupakan suatu tugas yang penting dan krusial dalam proses analisis. Dalam tulisan ini, penulis hendak membagi beberapa pengetahuan mengenai tata cara melakukan pengodean. Mungkin baik apabila penulis awali dulu dengan penjelasan mengenai apa itu kode dalam penelitian kualitatif.

Apa itu kode?

Cermatilah definisi kode yang dipaparkan oleh Saldana (2009: 3) berikut ini,

“A code in qualitative inquiry is most often a word or short phrase that symbolically assigns a summative, salient, essence-capturing, and/or evocative attribute for a portion of language-based or visual data.”

Kode dalam penelitian kualitatif merupakan kata atau frasa pendek yang secara simbolis bersifat meringkas, menonjolkan pesan, menangkap esensi dari suatu porsi data, baik itu data berbasiskan bahasa atau data visual. Dengan bahasa yang lebih sederhana, kode adalah kata atau frasa pendek yang memuat esensi dari suatu segmen data.

Koding Data (Pemberian Kode pada data) (skripsi dan tesis)

Koding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/ bilangan. Misalnya untuk variabel pekerjaan dilakukan koding 1 = Pegawai Negeri, 2 = Wiraswasta, 3 = Pegawai Swasta dan 4 = Pensiunan. Jenis kelamin: 1 = Pria dan 2 = Wanita, dsb. Kegunaan dari koding adalah untuk mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat pada saat entry data. Entry data, adalah transfer coding data dari kuisioner kesoftware. Pengkodean data dilakukan untuk memberikan kode yang spesifik pada respon jawaban responden untuk memudahkan proses pencatatan data.

Pemberian kode pada data adalah menterjemahkan data  kedalam kode-kode yang biasanya dalam bentuk angka. Tujuannya ialah untuk dapat dipindahkan kedalam sarana penyimpanan, misalnya komputer dan analisa berikutnya. Dengan data sudah diubah dalam bentuk angka-angka, maka peneliti akan lebih mudah mentransfer kedalam komputer dan mencari program perangkat lunak yang sesuai dengan data untuk digunakan sebagai sarana analisa, misalnya apakah data tersebut dapat dianalisa

Editing Data (Pemeriksaan Data) (skripsi dan tesis)

Pengertian dari editing data adalah proses meneliti hasil survai untuk meneliti apakah ada response yang tidak lengkap, tidak komplet atau membingungkan, dan apabila ada kasus seperti ini ada beberapa cara untuk mengatasinya misalnya:

Dengan cara mengembalikan ke survayor, apabila survai lagi tidak mungkin dilakukan maka response yang tidak lengkap dapat diganti dengan missing value atau ditulis tidak menjawab,

Menyingkirkan hasil survay dengan jawaban yang tidak lengkap (apabila jumlahnya kecil dan sampel yang diambil besar)

Dilakukan dengan cara meneliti kembali data yang terkumpul dari penyebaran kuesioner. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah data yang terkumpul sudah cukup baik. Pemeriksaan data atau editing dilakukan terhadap jawaban yang telah ada dalam kuesioner dengan memperhatikan hal-hal meliputi: kelengkapan pengisian jawaban, kejelasan tulisan, kejelasan makna jawaban, serta kesesuaian antar jawaban. (Suplemen MPS1 Kuantitatif)

Proses editing merupakan proses dimana peneliti melakukan klarifikasi, keterbacaan, konsisitensi dan kelengkapan data yang sudah terkumpul. Proses klarifikasi menyangkut memberikan penjelasan mengenai apakah data yang sudah terkumpul akan menciptakan masalah konseptual atau teknis pada saat peneliti melakukan analisa data. Dengan adanya klarifikasi ini diharapkan masalah teknis atau konseptual tersebut tidak mengganggu proses analisa sehingga dapat menimbulkan bias penafsiran hasil analisa. Keterbacaan berkaitan dengan apakah data yang sudah terkumpul secara logis dapat digunakan sebagai justifikasi penafsiran terhadap hasil analisa. Konsistensi mencakup keajegan jenis data berkaitan dengan skala pengukuran yang akan digunakan. Kelengkapan mengacu pada terkumpulannya data secara lengkap sehingga dapat digunakan untuk menjawab masalah yang sudah dirumuskan dalam penelitian tersebut.

Analisis pengujian model regresi logistik (skripsi dan tesis)

Analisis pengujian model regresi logistik (Kuncoro; 2001, Field; 2009, dan Ghozali; 2011):

1. Menilai keseluruhan model (overall fit model)

Langkah pertama adalah menilai overall fit model terhadap data. Hipotesis untuk menilai model fit adalah : H0 = model yang dihipotesiskan fit dengan data HA = model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data Statistik yang digunakan berdasarkan fungsi log-likelihood yang berbasis dengan probabilitas yang terkait dengan hasil prediksi dan aktual yang dihipotesakan mengggambarkan data input. Untuk menguji hipotesis nol dan alternatif, L ditransformasikan menjadi -2logL, lalu kemudian dibandingkan antara nilai -2logL pada awal (block number = 0) dimana model hanya memasukan konstanta dengan -2logL setelah mode memasukan variabel bebas (block number = 1). Apabila nilai -2logL block number = 0 > nilai -2logL block number = 1 maka menunjukan model regresi yang baik. Nilai yang besar dari statistik log-likelihood menunjukan model statistik yang buruk, karena semakin besar nilai dari log-likelihood, semakin pengamatn tidak dapat dijelaskan.

2. Cox and Snell’s R Square

Merupakan ukuran yang mirip dengan ukuran R2 pada multiple regression yang didasarkan pada teknik estimasi likelihood dengan nilai maksimum kurang dari 1 (satu) . Memiliki persamaan seperti berikut : ?? 2 = 1 − ? ⌊− 2 ? (??(???))−(??(????????))⌋ (3.7)

3. Nagelkerke’s R Square

Merupakan modifikasi dari koefisien Cox dan Snell untuk memastikan bahwa nilainya bervariasi dari 0 (nol) sampai 1 (satu). Hal ini dilakukan dengan cara membagi nilai Cox and Snell’s R Square dengan nilai maksimumnya. Nilai nagelkerke’s R 2 dapat diinterprestasikan seperti nilai R 2 pada multiple regression.

4. Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test

Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test dilakukan untuk menguji hipotesis nol bahwa data empiris cocok atau sesuai dengan model (tidak ada perbedaan antara model dengan data sehingga model dapat dikatakan fit). Jika nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit test statistics sama dengan atau kurang dari 0,05, maka hipotesis nol ditolak yang berarti ada perbedaan signifikan antara model dengan nilai observasinya sehingga Goodness fit model tidak baik karena model tidak dapat memprediksi nilai observasinya. Jika lebih besar daripada 0,05, maka hipotesis diterima. 5. Menguji koefisien regresi Pengujian koefisien regresi dilakukan untuk menguji seberapa jauh variabel bebas yang dimasukan dalam model mempunyai pengaruh terhadap variabel terikatnya. Dalam regresi logistik menggunakan wald statistic yang memiliki distribusi khusus yaitu chi-square distribution. Untuk menentukan penolakan dan penerimaan H0 dapat ditentukan dengan wald statistic dan nilai probabilitas (sig), dengan cara nilai wald statistic dibandingkan dengan chi-square sedangkan nilai probilitas (sig) dibandingkan dengan tingkat signifikansi (α) 10% dengan kriteria:

a. H0 diterima apabila wald statistic < chi-square dan nilai probabilitas (sig) > tingkat signifikansi (α). Hal ini berarti HA ditolak atau hipotesis yang menyatakan variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat ditolak.

b. H0 ditolak apabila wald statistic > chi-square dan nilai probabilitas (sig) < tingkat signifikansi (α). Hal ini berarti HA diterima atau hipotesis yang menyatakan variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat diterima

Kelebihan Analisis Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Kuncoro (2001) mengatakan bahwa regresi logistik memiliki beberapa kelebihan dibandingkan teknik analisis lain yaitu: 1. Regresi logistik tidak memiliki asumsi normalitas dan heteroskedastisitas atas variabel bebas yang digunakan dalam model sehingga tidak diperlukan uji asumsi klasik walaupun variabel independen berjumlah lebih dari satu. 2. Variabel independen dalam regresi logistik bisa campuran dari variabel kontinu, distrik, dan dikotomis. 3. Regresi logistik tidak membutuhkan keterbatasan dari variabel independennya. 4. Regresi logistik tidak mengharuskan variabel bebasnya dalam bentuk interval.

Analisis Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Regresi logistik digunakan untuk menguji apakah probabilitas terjadinya variabel terikat atau dependen variable dapat diprediksi dengan variabel bebasnya atau independent variable. Logistic Regression umumnya dipakai jika asumsi multivariate normal distribution tidak dipenuhi (Ghozali, 2011). Analisis regresi logistik tidak memerlukan asusmsi normalitas pada data pada variabel bebabasnya

Pengamatan (Observasi) (skripsi dan tesis)

Pengamatan (observasi) adalah suatu proses yang kompleks yang
tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis, dua diantaranya
yang terpenting adalah proses – proses pengamatan dan ingatan.62 Atau
alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan
mencatat secara sistematik gejala – gejala yang diteliti.63
Observasi merupakan pengamatan yang didasari oleh kegiatankegiatan pemilihan, pengubahan, pencatatan, dan pengkodean terhadap
serangkaian perilaku dan suasana yang berkenaan dengan organisme
(naturalistik), sesuai dengan tujuan-tujuan empiris. Pengamatan untuk
memperoleh data dalam penelitian memerlukan ketelitian untuk
mendengarkan dan perhatian yang hati-hati dan terperinci pada apa yang
dilihat.64 Dengan menggunakan teknik pengumpulan data ini diharapkan
nantinya akan diperoleh data yang lengkap, tajam, dan sampai mengetahui
pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Dalam penelitian ini
nantinya peneliti akan melihat kegiatan yang ada didalamnya untuk
mendapat data yang selengkap-lengkapnya dan data yang dihimpun dapat
terjaga kevalidannya

Desain MMR (skripsi dan tesis)

Dalam bagian ini akan diberikan tiga desain MMR yang hemat penulis
rancangan tersebut sangat terbuka untuk diaplikasikan dalam konteks
olahraga serta tidak sukar menggunakannya. Ketiga desain tersebut akan
penulis ambil dari karya Steckler at al., (1992), Tashakkori & Teddlie
(2010), Creswell (1999; 2010), Morse (2010) serta Creswell at al (2010).
Di samping itu, penulis juga akan berusaha untuk memberikan contoh
aplikasi setiap desain yang diberikan dalam konteks olahraga.
Desain I: Mengembangkan Instrumen kuantitatif
Rancangan pertama yang diberikan di sini adalah sebuah desain
yang digunakan dengan tujuan untuk mengembangkan instrumen
penelitian kuantitatif. Steckler at al., (1992: 5) menyebut model
pertamanya dengan “qualitative methods are used to help develop
quantitative measures and instruments”. Tidak berbeda, Creswell (1999:
463) menyebut modelnya dengan “instrument-building model”.
Dengan menggunakan desain di atas maka terdapat dua tahap
penelitian. Pada tahap pertama, metode kualitatif diarahkan untuk
mendapatkan konstruk-konstruk aitem pertanyaan atau pernyataan yang
nantinya menjadi dasar dalam pengembangan instrumen penelitian.
Dalam tahap inipeneliti menggunakan teknik wawancara mendalampada
responden. Wawancara tersebut ditujukan untuk mengungkap
karakteristik kepribadian dan/atau fenomena yang menjadi cikal bakal
penyusunaninstrumen kuantitatif.
Setelah hasil dari tahap pertama didapat maka penelitian
dilanjutkanke tahap kedua, yaitumemanfaatkan metode kuantitatif. Dalam
tahap kedua tersebut peneliti akan melakukan pengujian validitas dan
reliabilitas instrumen pada subjek yang luas. Creswell at al (2010)
menyarankan untuk melakukan pengujian pada 500 individu. Meskipun
sudah divisualisasikan seperti di atas, hal ini dianggap kurang begitu
membantu dalam memahami desain tersebut. Dibutuhkan penjelasan
lebih lanjut berkaitan dengan prosedur rancangan di atas

Desain II: Kualitatif sebagai komplementar dari kuantitatif
Desain yang kedua digunakan ketika peneliti menghendaki agar
metode kualitatif dimanfaatkan untuk membantu memberikan penjelasan
dalam penemuan metode kuantitatif. Oleh Morse (2010) rancangan
demikian dinotasikan dengan . Tanda anak panah
menunjukan penelitian dilakukan secara berurutan (sequential) sedangkan
huruf besar (KUAN yang akronim dari kuantitatif) mengindikasikan
prioritas atau bobot yang lebih dominan. Tashakkori & Teddlie (2010)
membuat notasi dominan-kurang dominan yang berurutan (sequential)
sebagai berikut KUAN/KUAL

Rancangan di atas (Mores, 2010; Tashakkori & Teddlie, 2010;
Steckler at al., 1992; Creswell, 1999; 2010; dan Creswell at al., 2010)
menjadidesain yang cukup populer dalam penelitian MMR dan acapkali
digunakan oleh para peneliti yang lebih condong pada proses kuantitatif.
Menurut Tashakkori & Teddlie (2010) desain ini terkenal di kalangan
mahasiswa tingkat sarjana dan peneliti pemula yang ingin menggunakan
dua pendekatan dalam pekerjaan mereka tetapi tidak ingin mendapatkan
banyak kesulitan ketika menggunakan dua pendekatan secara bersama.
Creswell (2012: 542) menjelaskan “this design…perhaps the most popular
form of mixed methods design in educational research”
Dalam rancangan di atas penelitian pertama dilakukan dengan
metode kuantitatif dan kemudian dilanjutkan menggunakan metode
kualitatif. Oleh karena itu, Creswell (2010; 2012) dan Creswell at al., 2010)
menyebut rancangan tersebut sebagai desain dua tahap. Desain dua
tahap merupakan yang paling sederhana dari desain MMR berurutan
(Tashakkori & Teddlie, 2010). Rancangan bertahap merupakan prosedur
penelitian di mana peneliti berusaha menggabungkan atau memperluas
penemuan yang diperoleh dari satu metode dengan penemuan dari
metode yang lain (Creswell, 2010).
Prosedur yang digunakan oleh peneliti dalam rancangan ini adalah
mengumpulkan data dan menganalisisnya menggunakan metode
kuantitatif kemudian diikuti oleh pengumpulan data serta analisis
datasecara kualitatif yang dibangun berdasarkan temuan awal (kuantitatif).
Bobot atau prioritas lebih diberikan pada data kuantitatif (Creswell at al,
2012). Meskipun demikian dua jenis data ini tidak terpisah dan tetap
berhubungan (Creswell, 2010).
Contoh penerapan desain tersebut dapat dilihat dalam
penelitiannya Maksum (2010) yang menyelidiki akar masalah dan pola
kekerasan suporter sepakbola Surabaya atau yang dikenal dengan
Bonek. Dalam tahap pertama peneliti menggunakan metode survei untuk
mendapat data tentang status sosial ekonomi para suporter, yang
mencakup tingkat pendidikan, status pekerjaan, jenis pekerjaan, tingkat
pendapatan dan kondisi orangtua. Mengingat menggunakan metode
kuantitatif maka subjek yang diselidiki jumlahnya cukup besar, yaitu 500
suporter yang diambil secara acak ketika menyaksikan persebaya
bertanding di kandang. Pengumpulan data dalam tahap tersebut dilakukan
menggunakan angket.
Setelah penelitian tahap pertama selesai dilakukan maka
dilanjutkanstudi tahap kedua dengan metode kualitatif. Tujuan dalam
penelitian tahap kedua ini adalah untuk mengungkap karakteristik dasar
dari kerusuhan suporter, faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya
kerusuhan dan pola terjadinya kerusuhan suporter. Ada dua fase dalam
metode kualitatif yang digunakan, yaitu preliminary study dan field study.
Observasi lapangan serta Focus Group Discussion (FGD) menjadi pilihan
strategi untuk mengumpulkan data bertalian dengan tindak kerusuhan
suporter sepakbola.
Pada kesempatan ini penulis akan mencoba menganalisis prosedur
penelitian di atas. Dalam desain penelitiannya, Maksum (2010)
menyatakan bahwa peneliti menggunakan sequential explanatory design
dari Creswell (2003) yang bersifat dominan-kurang dominan, yaitu
menempatkan metode kualitatif lebih menonjol dibanding kuantitatif.
Prosedur tersebut akan sedikit berbeda dari tujuan awal pengembangan
sequential explanatory design dari Creswell (2010). Ilmuan yang
mengembangkan model tersebut menyatakan bahwa dalam sequential
explanatory design tersebut prioritas lazimnya diberikan pada data
kuantitatif (Creswell, 2010; Creswell at al, 2010). Namun, penelitian
Maksum (2010) melakukan sebaliknya, yaitu memberikan bobot dan
prioritas pada kualitatif. Apa yang dilakukan oleh Maksum (2010) dalam
penelitiannya patut diapresiasi karena ia melakuan perubahan bobot atau
prioritas untuk dapat menjawab secara mendalam masalah yang ada di
lapangan.
Desain III: Kuantitatif sebagai komplementar kualitatif
Desain tersebut merupakan kebalikan dari desain sebelumnya
(desain II). Desain III digunakan ketika peneliti menghendaki agar metode
kuantitatif dimanfaatkan untuk menguji secara luas penemuan yang
dihasilkan dari metode kualitatif. Morse (2010) memberikan notasi seperti
berikut . Penjelasan tanda anak panah dan huruf besar atau
kecil sama seperti pada desain sebelumnya. Tashakkori & Teddlie (2010)
membuat notasi dominan-kurang dominan yang berurutan (sequential)
sebagai berikut KUAL/KUAN. Steckler at al., (1992: 5) mengajukan model
3 yang ia sebut dengan “quantitative methods are used to embellish a
primarily qualitative study”
Rancangan yang lebih lengkap diberikan oleh Creswell (1999;
2010) dan Creswell at al (2010). Pakar mixed methods tersebut menyebut
rancangannya dengan istilah sequential exploratory design
Berbeda dengan sequential explanatory design yang lebih tepat
untuk menjelaskan dan menginterpretasikan hubungan, fokus utama
sequential exploratory design adalah untuk mengeksplorasi fenomena
(Creswell, 2010; Creswell at al, 2010). Meski begitu, desain di atas juga
melalui dua tahap penelitian, yang prioritas atau bobot lebih besar
diberikan pada kualitatif.Itu sebabnya data kuantitatif dimanfaatkan untuk
membantu dalam menginterpretasikan temuan-temuan kualitatifdalam
tahap pertama.
Rancangan ini lebih bermanfaat ketika seorang peneliti tidak hanya
ingin mengeksplorasi sebuah fenomena namun juga ingin memperluas
temuan-temuan kualitatifnya. Morgan (1998) menyatakan rancangan ini
cocok digunakan ketika menguji elemen-elemen sebuah teori baru yang
muncul dari tahap kualitatif dan bahwa desain ini juga dapat digunakan
untuk mengeneralisasikan temuan kualitatif pada sampel-sampel yang
lebih luas serta berbeda. Creswell (1999) dan Creswell at al (2010)
menjelaskan bahwa sequential exploratory design sering kali dibahas
sebagai desain yang digunakan ketika peneliti membuat dan menguji
instrumen.
Menganalisis prosedur penelitian Maksum (2007) di bagian
sebelumnya serta mempertimbangkan pendapat Morgan (1998), Creswell
(1999) dan Creswell at al (2010) maka apa yang dilakukan oleh pakar
psikologi olahraga tersebut sejatinya adalah aplikasi dari sequential
exploratory design. Meskipun secara eksplisit, jika membaca artikelnya,
iatidak menuliskan mengunakan rancangan sequential exploratory dalam
penelitiannya namun prosedur yang ia gunakan sesuai dengan desain
tersebut.

Tujuan Penggunaan Desain Mix Method Research (skrispi dan tesis)

Terkait dengan pertanyaan di atas, Creswell (2010) menjelaskan
MMR akan berguna ketika metode kuantitatif atau kualitatif secara sendirisendiri kurang mumpuni untuk memahami permasalahan penelitian.
Sebaliknya, di sisi yang lain, penggunaan MMR diyakini dapat
memperoleh pemahaman yang lebih baik dibanding dengan hanya
menggunakan metode tunggal.
Bila mencermati sejarahnya maka tampak bahwa MMR
dikembangkan dengan semangat untuk mendapatkan hasil penelitian
yang lebih memuaskan dibandingkan dengan hanya menggunakan
metode tunggal. Malina (2010: 6) menyatakan “mixed methods research
employ both approaches iteratively or simultaneously to creat a research
outcome stronger than either method individually”. Oleh kerena itu,
penelitian ini secara keseluruhan lebih powerful daripada metode tunggal
(Creswell, 2010).
Creswell (2012: 535) memberikan petunjuk yang mencerahkan
bahwa “You conduct a mixed methodss study when you have both
quantitative and qualitative data and both types of data, together, provide
a better understanding of your research problem than either type by itself.
Mixed methodss research is a good design to use if you seek to build on
the strengths of both quantitative and qualitative data….You also conduct
a mixed methodss study when one type of research (qualitative or
quantitative) is not enough to address the research problem or answer the
research questions”.

Kelebihan Dan Kelemahan Mixed Methods (skripsi dan tesis)

Seperti halnya metode kuantiatif serta kualitatif yang memiliki
kelebihan disatu sisi dan kekurangan di sisi yang lain, MMRpun demikian.
Dengan kesadaran seperti ini maka peneliti dapat mempertimbangkan
saran dari Jones (1997) yang menyatakan bahwa ketika
mengkombinasikan metode maka kita ambil kelebihan atau kekuatan yang
terdapat dalam setiap metode. Pertanyaannya kemudian, apakah
kelebihan dari MMR?
Menurut Teddlie & Tashakkori (2010) MMR memiliki kelebihan
antara lain (1) sanggup menjawab pertanyaan yang tidak mampu dijawab
oleh metodologi yang lain, (2) memberikan proses pengambilan simpulan
yang lebih baik atau akurat, (3) memberikan peluang untuk menyajikan
beragam pandangan yang komprehensif. Tidak berbeda jauh Putra (2017)
menyebutkan bahwa beberapa kelebihan MMR antara lain (1)
dimungkinkan mengajukan pertanyaan penelitian yang kompleks, (2)
didapat data yang lebih kaya dan komprehensif, (3) hasil penelitian akan
memliki kredibilitas yang tinggi karena adanya triangulasi.
Meskipun memiliki banyak kelebihan dibanding penggunaan
metode tunggal, Putra (2017) menyatakan bahwa penggunaan MMR juga
memiliki kelemahan. Terkait dengan itu, Morse (2010) memberikan
catatan yang membantu kita. Menurutnya, pada sisi lain, kekuatan
komprehensivitas penggunaan MMR juga dapat dipandang sebagai
kelemahan. Dalam praktiknya peneliti dapat kurang ketat menerapkan
prosedur-prosedur yang ada sehingga data yang diperolehnya menjadi
dipertanyakan.
Penulis yang menganalisis penggunaan MMR menemukan bahwa
terdapat tiga kelemahaan dalam metode tersebut, antara lain (1)
dibutuhkan pengetahuan prasayarat yang baik dan mendalam terkait
dengan metode kuantitatif serta kualitatif karena keduanya digunakan
dalam satu penelitian, (2) diperlukan pengambilan banyak data dalam
penelitiannya, (3) menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam proses
penelitiannya. Morse (2010) mengingatkan bahwa menggunakan MMR
menimbulkan ancaman serius terhadap validitas penelitian karena asumsiasumsi dasar dari kedua metode rawan dilanggar ketika memadukan atau mengkombinasikannya

Prinsip Rancangan MMR (skripsi dan tesis)

Ilmuwan berpengaruh, Morse (2010), mengeluarkan empat prinsip
dalam MMR. Namun dalam bagian ini, penulis hanya memberikan dua
prinsip yang kemudian penulis kaitkan dengan konteks olahraga. Pertama,
mengenali arah teoretis proyek penelitian. Semua proyek penelitian
memiliki tujuan akhir berupa penemuan ataupun pengujian. Cara utama
yang ditempuh peneliti dalam mengkaji secara tuntas tema penelitian di
sebut dengan arah teoretis. Arah teoretis tersebut dapat berciri induktif
(untuk tujuan penemuan) atau deduktif (untuk tujuan pengujian).

Arah teoretis induktif adalah ketika peneliti bekerja dengan tujuan
untuk menemukan jawaban, misalnya, Kenapa pelatih yang satu lebih
sukses dibanding dengan pelatih yang lain? Apakah yang membuat
seorang atlet lebih berprestasi dibanding dengan atlet lainnya? Faktor apa
yang menyebabkan itu terjadi? Seluruh arah induktif tidak berubahah
meskipun terdapat bagian-bagian kecil dalam penelitian yang berusaha
untuk melakukan konfirmatoris seperti dalam arah deduktif.
Jikalau semangat utama penelitiannya adalah untuk menguji suatu
teori atau hipotesis, untuk menjawab seberapa besar, untuk menentukan
hubungan dan tujuan sejenis lainnya maka arah teoretisnya berciri
deduktif. Pertanyaan yang biasa diajukan dengan arah teoretis seperti ini
antara lain: Apakah ada perbedaan kemampuan motorik antara anak yang
tinggal di daerah pesisir dengan di gunung? Apakah terdapat hubungan
antara gaya kepemimpinan pelatih dengan disiplin atlet? Sekali lagi,
meskipun arah utama teoretisnya adalah berciri deduktif namun dalam
penelitianya, seorang peneliti dapat memasukkan arah induktif untuk
mendapat pemahaman yang lebih komprehensif. Misalnya, bertalian
dengan budaya hidup masyarakat, kebiasaan masyarakat dalam
beraktivitas fisik, dan konstruk-konstruk lain yang relevan.
Kedua, menyadari akan dominasi yang ada dalam proyek
penelitian. Dalam rancangan mixed methods kita akan menemui istilah
dominan (dominant) seperti yang digunakan Morse (2010) serta
Tashakkori & Teddlie (2010) atau prioritas (priority) dari Morgan (1998)
yang menunjukkan tentang kadar atau bobot dalam desain penelitian.
Kesadaran akan bobot tersebut menjadi penting agar proyek penelitian
dapat berjalan dengan lancar dan tidak menimbulkan kerancuan dalam
praktiknya.
Morse (2010), Creswell (2010; 2012), dan Creswell at al (2010)
memberikan notasi huruf besar dan kecil untuk menunjukkan metode
mana yang lebih dominan atau yang memiliki bobot (weighting) lebih
tinggi. Ketika peneliti menggunakan metode kualitatif lebih dominan
sedangkan kuantitatif sebagai suplementer maka peneliti dapat
memberikan notasi KUAL + kuan atau . Sebaliknya, ketika
metode kuantitatif lebih dominan dibanding dengan kualitatif maka kita
dapat memberikan notasi KUAN + kual atau .

Mixed Methods Research (MMR) (skripsi dan tesis)

Mixed Methods Research (MMR) yang berlandaskan paradigma
pragmatism mempunyai penyebutan istilah yang sangat beragam.
Banyaknya istilah yang diberikan oleh pakar membuktikan bahwa metode
tersebut mengalami perkembangan. Putra (2017) yang menganalisis dan
mensintesiskan penggunaan istilah metode ini menemukan delapan istilah
berbeda yang digunakan oleh ilmuwan. Misalnya, mixing methods, mixed
methods research or called mixed research, blending quantitativequalitative, multimethods, convergence, integrated, andcombined.
Meskipun sangat beragam namun MMR dipandang lebih umum
digunakan oleh peneliti. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh
Collins, Onwuegbuzie, and Jiao (dalam Johnson, Onwuegbuzie & Turner,
2007: 118) yang menyelidiki 496 artikel dari lintas disiplin ilmu dan
menemukan bahwa “Mixed methods research has become the most
popular term used to describe this movement”.Dengan dasar itu maka
istilah yang digunakan dalam artikel ini adalah Mixed Methods Research
(MMR). Pertanyaannya sekarang, apakah yang dimaksud dengan MMR?
Brannen (2005: 4) menyatakan “mixed methods research means
adopting a research strategy employing more than one type of research
methods.” Pakar yang lain, Creswell (2010) menyebutkan MMR
merupakan pendekatan yang mengkombinasikan atau mengasosiasikan
bentuk kualitatif dan bentuk kuantitatif. Johnson (2014: 1) memberikan
definisi yang komprehensif bahwa “Mixed methods research (also mixed
research or mixed methodology) is the type of research in which a
researcher or team of researchers mixies or combines qualitative and
quantitative research, philosphie/paradigms, methodologies, methods,
techniques, approaches, concepts or language into a single research
study”. Johnson, Onwuegbuzie & Turner (2007: 129) dalam tulisannya
yang mengupas tentang definisi MMRsampai pada simpulan “mixed
methods research is an intellectual and practical synthesis based on
qualitative and quantitative research”.
Putra (2017) yang menganalisis dari karakteristik MMR
mendefinisikannya sebagai penerapan dua metode (kuantitatif dan
kualitatif) dalam satu penelitian yang dilakukan secara berurutan maupun
bersamaan dengan tujuan untuk memahami lebih mendalam tentang
fenomena yang dikaji. Dalam artikel ini penulis akan merevisi definisi
sebelumnya dan mengaitkannya dengan konteks olahraga. MMR dalam
tulisan ini dipahami sebagai pengabungan dua metode (kuantitatif dan
kualitatif) dalam satu proses penelitian yang dilakukan secara berurutan
atau bersamaan dengan tujuan untuk memahami lebih komprehensif serta
mendalam tentang fenomena keolahragaan yang dikaji

Sifat dan Definisi Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Bagi beberapa peneliti, penelitian kualitatif terkadang sulit didefinisikan. Argumentasi yang paling banyak digunakan adalah bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak memanfaatkan angka-angka, berlawanan dengan penelitian kuantitatif. Pendapat ini tidak dapat disalahkan mengingat datadata yang diperoleh dalam penelitian kualitatif lebih bersifat kata-kata atau informasi. Namun demikian, penelitian kualitatif dapat diidentifikasi dan dipahami dengan melihat cakupan atau feature yang terdapat pada penelitian kualitatif.
Flick (2007) berpendapat bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang diperuntukkan untuk memahami, menguraikan, dan bahkan menjelaskan fenomena sosial yang ada dengan cara-cara sebagai berikut:
 Dengan menganalisis pengalaman dari individu-individu atau kelompok (misalnya masyarakat). Pengalaman ini dapat berkaitan dengan sejarah hidup seseorang, pengetahuannya ataupun cerita yang berkaitan dengan hidupnya.
 Dengan menganalisis interaksi dan komunikasi setiap individu atau kelompok.
 Dengan menganalisis dokumendokumen (misalnya teks, gambar, film atau musik).
Penelitian kualitatif mencoba menguraikan realita ataupun fenomena yang ada di masyarakat dari sudut pandang informan atau orang yang berpartisipasi dalam penelitian tersebut (Baez, 2002; Flick, Kardorffdan Steinke, 2004; Maykut dan Morehouse, 1994). Realita atau fenomena tersebut dapat dipahami melalui pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara (termasuk wawancara mendalam), observasi (termasuk participant observation, diskusi kelompok terfokus dan analisis dokumen (Belsky, 2004; Snape dan Spencer, 2003).
Sesungguhnya, realitas sosial yang ada di masyarakat memiliki makna sehingga penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami apa yang terjadi baik dilihat dari prosesnya maupun pola-pola makna yang terjadi di masyarakat. “The way in which people being studied understand and interpret their social reality is one of the central motifs of qualitative research” (Bryman, 1998:8). Cara peneliti memahami dan menginterpretasi realitas sosial masyarakat, komunitas atau orang merupakan tujuan utama dari penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif senantiasa melihat realitas sosial dalam konteks apa yang terjadi dan mengapa sesuatu terjadi di masyarakat. Selanjutnya, penelitian kualitatif memberikan solusi, pendekatan ataupun strategi yang dapat ditempuh berdasarkan fenomena yang sedang dipelajari atau diteliti.
Denzin dan Lincoln (2003:3) memberikan defenisi penelitian kualitatif sebagai berikut: “Qualitative research is a situated activity that locates the observer in the world. It consists of a set of interpretive, material practices that makes the world visible. These practices… turn into a series of representation including fieldnotes, interviews, conversations, photographs, recordings and memos to the self. At this level, qualitative research involves an interpretive naturalistic approach to the world. This means that qualitative researchers study things in their nautral settings, attempting to make sense of, or to interpret, phenomena in terms of the meanings people bring to them”. Menurut Denzin dan Lincoln, penelitian kualitatif menempatkan peneliti atau pengamat suatu fenomena sebagai bagian yang tak terpisahkan dari fenomena tersebut. Penelitian kualitatif terdiri dari perangkat atau rangkaian kegiatan yang bersifat interpretatif yang membuat apa yang ada di dunia ini menjadi nampak. Rangkaian kegiatan tersebut dapat terdiri dari catatan lapangan, wawancara, percakapan, fotografi, rekaman, dan catatan pribadi (memo). Mengingat penelitian kualitatif menerapkan pendekatan interpretasi data, maka peneliti kualitatif akan mengkaji suatu realita ataupun fenomena dalam konteks alami, memberikan makna atau menginterpretasi suatu data berdasarkan makna dari suatu studi.

Penyelidikan dan Penetapan dalam Wawancara (skripsi dan tesis)

Ketika melakukan wawancara peneliti bisa menggunakan pertanyaan prompts atau probing. Dengan menggunakan itu dapat mmengurangi kecemasan dari pihak peneliti maupun partisipan. Probes bertujuan untuk penelusuran untuk menguraikan arti maupun alasan. Seidman (1991 dalam Holloway & Wheeler, 1996) lebih suka dengan istilah menjelajahi dari pada istilah probe/ menyelidiki sebab menekankan posisi kemampuan pewawancara dan merupakan nama untuk instrumen yang dipakai dalam investigasi medis. Mungkin untuk pertanyaan eksplorasi bisa digunakan, seperti apa pengelaman anda yang menyenangkan? Bagaimanakah perasaan anda mengenai hal tersebut? Bisakah anda bercerita lebih rinci lagi tentang hal itu? Menarik sekali, kenapa anda melakukan itu?.
Pewawancara bisa melakukan tindak lanjut poin tertentu atau dengan kata-kata tertentu yang diungkapkan oleh partisipan. Partisipan menjadi lancar jika dimintai untuk menceritakan mmengenai sebuah kisah, merekonstruksi pengalaman yang mreka alami, speerti hari, perasaan, atau insiden mreka mengenai sebuah penyakit.
Mungkin Prompt non-verbal lebih bermanfaat. Dari cara berdiri peneliti, condeng kedepan, kontak mata akan mendorong refleksi. Sebetulnya ketrampilan yang didapat dalam konseling yang dipunyai seorang perawat akan memudahkan dalam melaksanakan hal ini.
Penggunaan prompt atau probe yaitu supaya wawancara dapat berjalan dengan lancar dan bisa memberikan rasa yang nyaman baik dari peneliti maupun dari partisipan tanpa keluar dari tujuan awal penelitian. Hal ini tak lepas dari kemampuan yang dimiliki pewawancara sendiri.
(Byrne, 2001) Sebagai pewawancara yang baik harus memiliki keterampilan komunikasi yang baik dan mumpuni. Keterampilan yang dimiliki meliputi keterampilan menyusun kata (paraphrasing), mmendengarkan, probing dan juga meringkas.

Jenis Pertanyaan Dalam Wawancara dan Hal yang Terkait (skripsi dan tesis)

pewawancara pada saat menanyakan sebuah pertanyaan, memakai bermacam teknik komunikasi dan cara bertanya. Seperti inilah daftar jenis pertanyaan yang telah dibuat Patton (1990 dalam Holloway & Wheeler, 1996): Pertanyaan pengalaman (“Bisakah anda menceritakan mengenai pengalaman anda merawat pasien?”), pertanyaan perasaan (“Bagaimanakah perasaan anda jika pasien yang pertama kali anda rawat meninggal?”), pertanyaan pengetahuan (“Pelayanan apa yang disediakan untuk kelompok pasien tersebut?”).
Menurut Spradley (1979 dalam Holloway & Wheeler, 1996) pertanyaan dibedakan menjadi grand-tour dan mini-tour. Pertanyaan grand-tour merupakan pertanyaan yang lebih luas, sedangkan pertanyaan mini-tour adalah pertanyaan yang lebih spesifik. Pertanyaan grand-tour contohnya: Bisakah anda menjabarkan kekhususan hari di bangsal? Apa yang akan anda lakukan apabila pasian menanyakan kondisinya?. Pertanyaan mini-tour contohnya: Bisakah anda menjabarkan apa yang terjadi apabila kolega menanyakan keputusan anda?.
Dalam penelitian kualitatif pertanyaan sebisa mungkin tidak bersifat mengarahkan namun masih berpedoman dengan area yang diteliti. Seorang peneliti menyampaikan pertanyaan sejalas-jelasnya dan menyesuaikan dengan tingkat pemahaman dari partisipan. Jika pertanyaan ambigu akan menghasilkan jawaban yang ambigu juga. Untuk pertanyaan dobel sebaiknya dihindari; seperti pertanyaan yang kurang tepat, misalnya berapa banyak kolega yang anda miliki, dan apa ide mmereka menganai hal ini?.
Devers & Frankel (2000) mengemukakan kalau beberapa faktor mempengaruhi jenis instrumentasi dan derajat struktur yang dipakai dalam penelitian kualitatif. Yang menajdi faktor pertamma yaitu tujuan penelitian. Jika penelitian sifatnya lebih eksplorasi atau pengujian untuk menghaluskan atau menemukan teori dan konsep, yang tepat untuk dijadikan pertimbangan yaitu protokol yang sangat berakhiran open-ended (terbuka). Kemudian faktor kedua yaitu luasnya sebuah pengetahuan yang telah ada sebelumnya mengenai sebuah subjek, contohnya sebuah konsep yang sudah ada dan dipakai secara meluas di dunia,sampai sejauh mmanakah penerapannya di Indonesia. Lalu faktor ketiga yaitu sumber yang tersedia, terutama mengenai  waktu subjek dan jumlah serta kompleksitas kasus. Faktor yang terakhir yaitu persetujuan dengan yang mempunyai wewenanag dan yang menyandang dana. Instrumen yang memerlukan waktu lama untuk melakukan analisa tertentu perlu untuk dipertimbangkan yang menyandang dana.

Lama dan Pemilihan Waktu Wawancara (skripsi dan tesis)

 Wawancara harus selesai dalam jangka waktu satu jam menurut saran Field & Morse (1985 dalam Holloway & Wheeler, 1996). Sebetulnya waktu wawancara tergantung dari partisipan. Seorang peneliti harus melakukan kontrak waktu dengan partisipan, dengan begitu maka mereka bisa membuat rencana kegiatan pada hari tersebut tanpa terganggu wawancara. Partisipan pada umumnya memang menginginkan waktunya hanya satu jam. Untuk partisipan yang usianya lanjut, yang mengalamai kelemahan fisik, ataupun sakit mungkin memerlukan istirahat setelah 30 menit atau 20 menit.
Untuk partisipan yang masih anak-anak juga tidak dapat berkonsentrasi dalam waktu yang cukup lama. Sehingga peneliti harus melakukan penilaian mereka sendiri, mengikuti apa yang diinginkan partisipan, dan dengan penggunaan waktu yang sesuai kebutuhan dari topik penelitian. Lamanya wawancara pada umumnya tidak lebih dari 3 jam. Apabila lebih dari 3 jamm, maka konsentrasi tidak akan didapatkan bahkan kalau wawancara tersebut dilakukan oleh seorang peneliti yang berpengelaman pun. Apaila dalam waktu yang maksimal data masih belum didapatkan, maka wawancara dapat diulangi sekali lagi atau lebih di waktu yang berbeda. Wawancara singkat berulang kali lebih efektif jika dibandingkan dengan wawancara sekali dalam waktu yang panjang.

Teknik Analisis Komparatif Konstan (Constant Comparative Analysis) (skripsi dan tesis)

Teknik Analisis Komparatif adalah teknik yang dipakai dalam membandingkan kejadian-kejadian yang telah terjadi ketika seorang peneliti melakukan analisa kejadian tersebut dan secara terus-menerus dilakukan sepanjang penelitian tersebut dilakukan. Anselm L. Strouss dan Berney G. Galaser mengemukakan tentang beberapa Teknik Komparatif Konstan yakni: melakukan perbandingan kejadian yang bisa diterapkan dalam setiap kategori, tahap memperpadukan kategori-kategori dan juga ciri-cirinya, tahap pembatasan ruang lingkup teori dan juga tahap penulisan teori. (lihatlah Berney G. Galaser dan Anselm L. Strouss, The Discovery of Grounded Theory, Ichicago: Aldeline Publishing Company, tt, yang telah diterjemahkan Machrus Syamsuddin dan Abdul Syukur Ibrahim, Surabaya: Usaha Nasional, tt, hl.66, dikutip Burhan Bungin, 2003:101).
1.Tahap melakukan perbandingan kejadian yang bisa diterapkan di setiap kategori.
Dalam tahap ini terdapat 2 kegiatan yang perlu dilakukan oleh seorang peneliti, yakni mencatat kejadian dan memberikan komentar mengenai catatan tersebut. Dalam proses penelitian setiap kejadian yang releven dengan masalah penelitian baiknya dicatat oleh peneliti, meskipun kejadian itu terjadi berulang kali. Dari hasil pencatatan itu peneliti bisa melakukan perbandingan (dimensi, kondisi ketika berlangsungnya kejadian, konsekuensi, serta hubungan dengan kategori yang lain) secara terus menerus sampai peneliti bisa menemukan ciri-ciri kategori teoritis.
Dengan hasil pencatatan peneliti tersebut, maka akan mengalami atau menemukan berbagai konflik dalam taraf pemikiran, dengan begitu maka peneliti akan tertarik dengan hal-hal yang sifatnya teoritis. Dari sinilah seorang peneliti akan memulai membuat komentar mengenai gagasan tema yang sedang diteliti. Dalam tahap ini hal yang menonjol ialah bagaimana peneliti bisa menangkap kategori-kategori dan ciri-cirinya dalam tiap kejadian, setelah itu akan dianalisa dengan teori sehingga bisa menunjang analisis selanjutnya.
2. Tahap Memadukan kategori dan Ciri-cirinya.
Dalam tahap inilah peneliti memperbandingkan kejadian-kejadian yang telah ada lalu dari kejadian itu muculah kategori-kategori. Contohnya seorang peneliti menemukan kategori penolakan tentang program KB kepada masyarakat pedesaan, sedangkan untuk kategori penerimmaan program KB terdapat di masyarakat perkotaan. Lalu selanjutnya peneliti memaddukan ciri tiap-tiap kategori, contohnya penolakan masyarakat desa yang mempunyai tingkat pendidikan rendah, kelompok agamis, pasangan yang baru saja menikah, sedangkan kelompok masyarakat desa yang kerjanya sebagai pegawai dan guru cenderung dapat menerima KB. Itu artinya pada tahap inilah peneliti dituntuk mencari ciri-ciri kategori secara rinci sehingga data yang diperoleh dalam penelitian bisa dianalisa lebih mendalam.
3. Tahap Membatasi Lingkup Teori
Dalam tahap ini lebih banyak dilihat dari bagaimanaya peneliti membatasi lingkup sekian banyaknya teori sederhana yang terbentuk melalui tahap sebelumnya, lalu digeneralisasikan ke dalam arus teori yang relevensinya lebih besar.
4. Tahap Menulis Teori
Jika seorang peneliti sudah yakin kalau kerangka analisisnya bisa membentuk teori subtantif yang sistemmatik, maka hal itu merupakan pernyataan yang akurat dengan alasan mengenai permasalahan-permasalahan yang dikaji dan bisa dipahami oleh orang lain yang mempunyai minat dengan hasil penelitian tersebut.

Teknik Analisis Taksonomik (Taksonomic Analysis) (skrispi dan tesis)

Model teknik analisis domain menghasilkan analisis yang sifatnya umum, namun belumm terperinci dan sifatnya masih menyeluruh. Jika yang dimau adalah sebuah hasil analisis yang berfokus pada suatu domain ataupun sub-domain tertentu maka suatu penelitian akan menjadi lebih tepat jika memakai analisis Taksonomik. Melalui Analisis Taksonomik, maka analisis akan berfokus pada domain tertentu, setelah itu memilih domain tersebut untuk dijadikan sub-domain dan bagian-bagian yang lebih terperinci dan khusus yang memiliki rumpun yang serup

Teknik Analisis Komparatif Konstan (Constant Comparative Analysis) (skripsi dan tesis)

Teknik Analisis Komparatif adalah teknik yang dipakai dalam membandingkan kejadian-kejadian yang telah terjadi ketika seorang peneliti melakukan analisa kejadian tersebut dan secara terus-menerus dilakukan sepanjang penelitian tersebut dilakukan. Anselm L. Strouss dan Berney G. Galaser mengemukakan tentang beberapa Teknik Komparatif Konstan yakni: melakukan perbandingan kejadian yang bisa diterapkan dalam setiap kategori, tahap memperpadukan kategori-kategori dan juga ciri-cirinya, tahap pembatasan ruang lingkup teori dan juga tahap penulisan teori. (lihatlah Berney G. Galaser dan Anselm L. Strouss, The Discovery of Grounded Theory, Ichicago: Aldeline Publishing Company, tt, yang telah diterjemahkan Machrus Syamsuddin dan Abdul Syukur Ibrahim, Surabaya: Usaha Nasional, tt, hl.66, dikutip Burhan Bungin, 2003:101).
1.Tahap melakukan perbandingan kejadian yang bisa diterapkan di setiap kategori.
Dalam tahap ini terdapat 2 kegiatan yang perlu dilakukan oleh seorang peneliti, yakni mencatat kejadian dan memberikan komentar mengenai catatan tersebut. Dalam proses penelitian setiap kejadian yang releven dengan masalah penelitian baiknya dicatat oleh peneliti, meskipun kejadian itu terjadi berulang kali. Dari hasil pencatatan itu peneliti bisa melakukan perbandingan (dimensi, kondisi ketika berlangsungnya kejadian, konsekuensi, serta hubungan dengan kategori yang lain) secara terus menerus sampai peneliti bisa menemukan ciri-ciri kategori teoritis.
Dengan hasil pencatatan peneliti tersebut, maka akan mengalami atau menemukan berbagai konflik dalam taraf pemikiran, dengan begitu maka peneliti akan tertarik dengan hal-hal yang sifatnya teoritis. Dari sinilah seorang peneliti akan memulai membuat komentar mengenai gagasan tema yang sedang diteliti. Dalam tahap ini hal yang menonjol ialah bagaimana peneliti bisa menangkap kategori-kategori dan ciri-cirinya dalam tiap kejadian, setelah itu akan dianalisa dengan teori sehingga bisa menunjang analisis selanjutnya.
2. Tahap Memadukan kategori dan Ciri-cirinya.
Dalam tahap inilah peneliti memperbandingkan kejadian-kejadian yang telah ada lalu dari kejadian itu muculah kategori-kategori. Contohnya seorang peneliti menemukan kategori penolakan tentang program KB kepada masyarakat pedesaan, sedangkan untuk kategori penerimmaan program KB terdapat di masyarakat perkotaan. Lalu selanjutnya peneliti memaddukan ciri tiap-tiap kategori, contohnya penolakan masyarakat desa yang mempunyai tingkat pendidikan rendah, kelompok agamis, pasangan yang baru saja menikah, sedangkan kelompok masyarakat desa yang kerjanya sebagai pegawai dan guru cenderung dapat menerima KB. Itu artinya pada tahap inilah peneliti dituntuk mencari ciri-ciri kategori secara rinci sehingga data yang diperoleh dalam penelitian bisa dianalisa lebih mendalam.
3. Tahap Membatasi Lingkup Teori
Dalam tahap ini lebih banyak dilihat dari bagaimanaya peneliti membatasi lingkup sekian banyaknya teori sederhana yang terbentuk melalui tahap sebelumnya, lalu digeneralisasikan ke dalam arus teori yang relevensinya lebih besar.
4. Tahap Menulis Teori
Jika seorang peneliti sudah yakin kalau kerangka analisisnya bisa membentuk teori subtantif yang sistemmatik, maka hal itu merupakan pernyataan yang akurat dengan alasan mengenai permasalahan-permasalahan yang dikaji dan bisa dipahami oleh orang lain yang mempunyai minat dengan hasil penelitian tersebut.

Model Analisis Domain (Domain Analysis) (skripsi dan tesis)

Analisis domain dipakai dalam melakukan analisis gambaran suatu objek penelitian tingkat permukaan atau secara umum, tetapi relatif utuh mengenai objek penelitian tersebut. Biasanya teknik analisis domain dipakai dalam penelitian yang tujuannya adalah eksplorasi. Maksudnya hasil penelitian tersebut hanya ditargetkan untuk mendapatkan gambaran selengkapnya/ seutuhnya dari suatu objek yang diteliti, tanpa perlu dirincikan secara rinci unsur-unsur yang terdapat dalam keutuhan objek yan diteliti tersebut.
Contohnya orang yang melakukan penelitian menganalisis suatu lembaga sosial, maka kategori simbolik atau domain dari lembaga sosial yaitu: keluarga, rumah sakit, organisasi kepemuddaan, pesantren, perguruan tinggi. Domain dari pesantren terdiri atas: Kyai, guru, santri, juru masak dan lain-lain.
erdapat 6 langkah dalam analisis domain menurut Spredly yaitu:
  • Menentukan pola hubungan semantik tertentu atas dasar fakta atau informasi yang telah tersedia di catatan harian peneliti lapangan.
  • Mempersiapkan kerja analisis domain.
  • Menentukan kesamaan data dari catatan harian peneliti lapangan.
  • Melakukan pencarian konsep induk serta kategori simbolis dari domain tertentu yang ada kesesuaian dengan pola hubungan semantik.
  • Menyusun daftar secara keseluruhan domain dari semua data yang tersedia.

Model Analisis Interaktif Miles & Huberman (skripsi dan tesis)

Model analisis interaktif menurut miles dan huberman yaitu dalam penelitian kualitatif memungkinkan dilakukan analisis data ketika peneliti berada di lapangan ataupun sesudah kembali dari lapangan baru di adakan analisis. Dalam penelitian ini analisis data telah dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Miles dan Huberman (1984: 23) alur analisis mengikuti model analisis interaktif. Dalam penelitian proses analisis ini dilakukan melalui 4 tahap, berikut ini:
– Pengumpulan Data
Data yang didapat dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dicatat pada catatan lapangan yang terdiri atas 2 bagian yaitu bagian deskriptif dan bagian reflektif. Pengertian catatan deskriptif yaitu catatan alami, (merupakan catatan mengenai apa yang disaksikan, didengar, dilihat dan dialammmi sendiri oleh peneliti tanpa  adanya penafsiran dan pendapat dari peneliti terhadap fenomena yang dialaminya). Catatan reflektif adalah catatan yang isinya kesan, pendapat, komentar serta tafsiran peneliti mengenai apa penemuan yang dijumpai. Selain itu merupakan  bahan rencana  pengumpulan data untuk tahap selanjutnya.
– Reduksi Data
Selanjutnya sesudah data terkumpul dibuat reduksi data, untuk menentukan data yang relevan dan mempunyai maka, memfokuskan data yang mengarah pada pemecahan masalah, penemuan, pemaknaan atau untuk menjawab pertanyaan penelitian. Selanjutnya melakukan penyederhanaan serta menyususn secara sistematis dan menjabarkan hal-hal penting mengenai hasil penemuan dan maknanya. Dalam proses reduksi data, hanya temuan data atau temuan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian yang direduksi. Sedangkan untuk data yang tidak ada kaitannya dengan masalah penelitian dibuang. Atau dengan kata lain reduksi data dipakai untuk analisis yang mengarahkan, menggolongkan, menajamkan dan membuang yang tidak penting danmengorganisasikan data. Dengan begitu maka akan mempermudahkan peneliti untuk menarik sebuah kesimpulan.
– Penyajian Data
Penyajian data bisa berbentuk tulisan, gambar, tabel dan grafik. Tujuan penyajian data untuk menggabungkan informasi sehingga bisa memberikan gambaran terhadap keadaan yang terjadi. Dalam hal ini, supaya peneliti tidak mengalami kesulitan dalam penguasaan informasi secara baik dan menyeluruh dan juga bagian-bagian tertentu dari hasil peneltian. Maka dari itulah peneliti harus membuat naratif, grafik atau matrik untuk mempermudah penguasaan data atau informasi tersebut.  Dengan cara seperti itu maka peneliti bisa tetap menguasai data dan tidak tenggelam dalam kesimpulan informasi yang bisa membosankan. Hal seperti ini dilakukan karena data yang tersususun kurang baik dapat mempengaruhi peneliti dalam mengambil kesimpulan yang memihak dan dalam bertindak secara ceroboh, dan tidak mendasar. Mengenai display data harus dissadari sebagai bagian di dalam analisis data.
– Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan dilakukan selama berlangsungnya penelitian, seperti halnya proses reduksi data, sesudah data telah terkummpul memadai maka akan dapat diperoleh kesimpulan sementara, dan sesudah data benar-benar lengkap maka dapat diperoleh kesimpulan akhir.
Mulai  dari awal penelitian, peneliti selalu ingin berusaha menemukan makna data yang terkumpul. Oleh sebab itu perlu untuk menemukan tema, pola, persamaan, hubungan, hipotesis, hal-hal yang sering muncul dan lain-lain. Awalnya kesimpulan yang diperoleh bersifat kabur, tentatif dan diragukan namun dengan bertambahnya data baik itu dari hasil observasi maupun wawancara dan dari diperolehnya keseluruhan data hasil penelitian. Maka kesimpulan-kesimpulan tersebut harus diklarifikasikan dan diverifikasikan selama berlangsungya penelitian.
Selanjutnya data-data yang ada disatukan ke dalam unit-unit informasi yang menjadi rumusan kategori-kategori dengan berpegang pada prinsip holistik dan bisa ditafsirkan tanpa adanya informasi tambahan. Data tentang informasi yang dirasa sama disatukan dalam satu kategori, sehingga memberikan kemungkinan munculnya kategori baru dari kategori yang telah ada.

Model (skripsi dan tesis)

Pemodelan (Santosa, 2005) Model dapat digunakan untuk menampilkan,
mengeksplorasi, dan menjelaskan data proyek. Menciptakan sebuah model adalah untuk menunjukkan hubungan antara berbagai item dalam
sebuah proyek, misalnya: menggunakannya untuk mendemonstrasikan teori yang sedang dibangun, isu permasalahan dalam sebuah kerja tim, atau
bagaimana mendukung data dengan dugaan/hipotesa awal. Model yang diperoleh merupakan visualisasi dari konsep-konsep yang hubungannya dicari dan akan makin jelas setelah dianalisis

Analisis N Vivo (skripsi dan tesis)

Analisis data kualitatif dapat dilakukan dengan cara manual atau menggunakan bantuan komputer. Cara manual umumnya dipakai sebelum
personal computer menyebar secara luas pada 1980an. Richards (2009) menyatakan analisis data kualitatif dengan cara manual adalah pekerjaan
yang melelahkan, berat,dan menyita banyak waktu. Setelah personal computer menyebar luas, perangkat lunak word–processing mulai digunakan
untuk membantu analisis data kualitatif. Program inisebenarnya ditujukan untuk menulis dan menyunting kata-kata namun dalam penelitian
kualitatif, program ini dapat dipakai untuk mengetik, mengedit, dan menyimpan data penelitian. Di kemudian hari, program word–processing
juga dapatdigunakanuntuk membuat grafik, mencari kata atau frase, menambahkan komentar, hingga membuat link dengan file lain, yang mana
fungsi-fungsi tersebut dapat mendukung analisis data kualitatif. Walaupun dilengkapi fungsi-fungsi itu, perangkat lunak word–processing tetaplah
tidak setangguh computer-assisted qualitative data analysis software (CAQDAS) (Lindlof dan Taylor, 2002). CAQDAS dapat dipahami sebagai suatu
perangkat lunak yang dilengkapi dengan alat-alat untuk memfasilitasi analisis data kualitatif
Suatu software dikategorikan sebagai CAQDAS jika memiliki kemampuan mencari, menghubungkan item-item, mengkode, melakukan query,
membuat anotasi, dan memetakan data penelitian. Dalam pemilihan CAQDAS, Earl Babbie (2010) memberikan saran untuk menggunakan NVivo karena program ini tergolong cukup populer di kalangan peneliti. Berdasarkan website resmi QSR International, perusahaan pembuat NVivo-
software ini dipakai sekitar 400.000 peneliti di 150 negara. Penggunaan NVivo juga didukung oleh Walsh(2003) yang mengatakan bahwa NVivo
merupakan software bekerja seperti map-map dalam teknik analis data kualitatif manual hanya saja map tersebut jauh lebih cerdas. Dampaknya
peneliti yang terbiasa memakai cara manual dalamanalisisdata kualitatif tidak akan merasa asing dengan software ini. Dengan pertimbangan tersebut maka dalam tulisan ini akan dibahas lebih jauh mengenai penggunaan NVivo.
NVivo merupakan software analisis data kualitatif yang dikembangkan oleh Qualitative Solution and Research (QSR) international. QSR sendiri adalah
perusahaan pertama yang mengembangkan software analisis data kualitatif. NVivo bermula dari kemunculan software NUD*IST (Nonnumeric
Unstructured Data, Index Searching, and Theorizing) pada tahun 1981 (Bazeley, 2007). NUD*IST awalnya diciptakan oleh seorang programer bernama Tom Richards untuk mem bantuistrinya, LynRichards, yangberprofesi
sebagai sosiolog.

DEFINISI PENGUMPULAN DATA (skripsi dan tesis)

Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti biasanya telah memiliki dugaan berdasarkan teori yang ia gunakan, dugaan tersebut disebut dengan hipotesis (Baca juga: Pengertian Hipotesis dan Langkah Perumusan Hipotesis). Untuk membuktikan hipotesis secara empiris, seorang peneliti membutuhkan pengumpulan data untuk diteliti secara lebih mendalam.

Proses pengumpulan data ditentukan oleh variabel-variabel yang ada dalam hipotesis. Pengumpulan data dilakukan terhadap sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Data adalah sesuatu yang belum memiliki arti bagi penerimanya dan masih membutuhkan adanya suatu pengolahan. Data bisa memiliki berbagai wujud, mulai dari gambar, suara, huruf, angka, bahasa, simbol, bahkan keadaan. Semua hal tersebut dapat disebut sebagai data asalkan dapat kita gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian, ataupun suatu konse

Jenis Wawancara (skripsi dan tesis)

Terdapat dua jenis wawancara, yakni: 1). wawancara mendalam (in-depth
interview), di mana peneliti menggali informasi secara mendalam dengan cara terlibat langsung dengan kehidupan informan dan bertanya jawab secara bebas tanpa pedoman pertanyaan yang disiapkan sebelumnya sehingga suasananya hidup, dan dilakukan berkalikali; 2). wawancara terarah (guided interview) di mana peneliti menanyakan kepada informan hal-hal yang telah disiapkan sebelumnya. Berbeda dengan wawancara mendalam, wawancara terarah memiliki kelemahan, yakni suasana tidak hidup, karena peneliti terikat dengan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Sering terjadi pewawancara atau peneliti lebih memperhatikan daftar pertanyaan yang diajukan daripada bertatap muka dengan informan, sehingga suasana terasa kaku.

Wawancara (skripsi dan tesis)

Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa wawancara (interview) adalah suatu kejadian atau suatu proses interaksi antara pewawancara (interviewer) dan sumber informasi atau orang yang di wawancarai (interviewee) melalui komunikasi langsung (yusuf, 2014).
Metode wawancara/interview juga merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden/ orang yang di wawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara. Dalam wawancara tersebut biasa dilakukan secara individu maupun dalam bentuk
kelompok, sehingga di dapat data informatik yang orientik.
Wawancara bertujuan mencatat opini, perasaan, emosi, dan hal lain berkaitan dengan individu yang ada dalam organisasi. Dengan melakukan interview, peneliti dapat memperoleh data yang lebih banyak sehingga peneliti dapat memahami budaya melalui bahasa dan ekspresipi hak yang diinterview; dan dapat melakukan klarifikasi atas hal‐ hal yang tidak diketahui. Pertanyaan pertama yang perlu diperhatikan dalam interview adalah Siapa yang
harus diinterview ? Untuk memperoleh data yang kredibel makain terview harus dilakukan dengan Know ledgeable Respondent yang mampu menceritakan dengan akurat fenomena yang diteliti. Isu yang kedua adalah Bagaimana membuat responden mau bekerjasama? Untuk merangsang pihak lain mau meluangkan waktu untuk diinterview, maka perilaku
pewawancara dan responden harus selaras sesuai dengan perilaku yang diterima secara sosial sehingga ada kesan saling menghormati. Selain itu, interview harus dilakukan dalam waktu dan tempat yang sesuai sehingga dapat menciptakan rasa senang, santai dan bersahabat.
Kemudian, peneliti harus berbuat jujur dan mampu meyakinkan bahwa identitas responden tidak akan pernah diketahui pihak lain kecuali peneliti dan responden itu sendiri. Data yang diperoleh dari wawancara umumnya berbentuk pernyataan yang menggambarkan pengalaman, pengetahuan, opini dan perasaan pribadi. Untuk memperoleh data ini peneliti dapat menggunakan metode wawancara standar yangt erskedul (Schedule Standardised
Interview), interview standart akterskedul (Non‐Schedule Standardised Interview) atau interview informal (Non Standardised Interview). Ketiga pendekatan tersebut dapat dilakukan dengan teknik sebagai berikut: a) Sebelum wawancara dimulai, perkenalkan diri dengan sopan untuk menciptakan hubungan baik b) Tunjukkan bahwa responden memiliki kesan
bahwa dia orang yang “penting” c) Peroleh data sebanyak mungkin d) Jangan mengarahkan jawaban e) Ulangi pertanyaan jika perlu f) Klarifikasi jawaban g) Catat interview (Chairi, 2009).
Teknis pelaksanaan wawancara dapat dilakukan secara sistematis atau tidak sistematis. Yang dimaksud secara sistematis adalah wawancara dilakukan dengan terlebih dahulu peneliti menyusun instrument pedoman wawancara. Disebut tidak sistematis, maka peneliti meakukan wawancara secara langsung tanpa terlebuh dahulu menyusun instrument pedoman wawancara. Saat ini. dengan kemajuan teknologi informasi, wawancara bisa saja dilakukan
tanpa tatap muka, yakni melalui media telekomunikasi. Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya. Dalam wawancara harus direkam, wawancara yang direkamakn memberikan nilai tambah. Karena, pembicaraan yang di rekam akan menjadi bukti otentik bila terjadi salah penafsiran. Dan setelah itu data yang direkam selanjutnya ditulis kembali dan diringkas. Dan peneliti memberikan penafsiran atas data yang diperoleh lewat wawancara. Susunan wawancara itu dapat dimulai dengan sejarah kehidupan, tentang gambaran umum situasi pertisipan. Pertanyaan yang diajukan juga berupa hasil pengalaman. Dalam mengajukan pertanyaan, peneliti harus memberikan penekanan kepada arti dari pengalaman
tersebut. Prinsip umum pertanyaan dalam wawancara adalah ; harus singkat, open ended, singular dan jelas. Peneliti harus menyadari istilah-istilah umum yang dimengerti partisipan. Dan sebaiknya wawancara tidak lebih dari 90 menit. Bila dibutuhkan, peneliti dapat meminta waktu lain untuk wawancara selanjutnya (Semiawan, 2010). Wawancara mendalam adalah
interaksi/pembicaraan yang terjadi antara satu orang pewawancara dengan satu orang informan (Manzilati, 2017).
Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau, merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya. Karena merupakan proses pembuktian, maka bisa saja hasil wawancara
sesuai atau berbeda dengan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Agar wawancara efektif, maka terdapat berapa tahapan yang harus dilalui, yakni ; 1). mengenalkan diri, 2). menjelaskan maksud kedatangan, 3). menjelaskan materi wawancara, dan 4). mengajukan pertanyaan (Yunus, 2010: 358).

Teknik Pengumpulan Data Metode Kualitatif (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian kualitatif, kualitas riset sangat tergantung pada kualitas dan kelengkapan  data yang dihasilkan. Pertanyaan yang selalu diperhatikan dalam pengumpulan data adalah apa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana. Penelitian kualitatif bertumpu pada triangulation data
yang dihasilkan dari tigametode : interview, participan to bservation, dan telaah catatan organisasi (document records)
Dalam penelitian kualitatif pengumpulan data lazimnya menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara. Juga tidak diabaikan kemungkinan menggunakan sumbersumber non-manusia (non-human source of information), seperti dokumen, dan rekaman (record) yang tersedia. Pelaksanaan pengumpulan data ini juga melibatkan berbagai aktivitas pendukung lainnya, seperti menciptakan rapport, pemilihan informan, pencatatan data/informasi hasil pengumpulan data. Karena itu dalam bagian ini akan dibahas secara berturut-turut; Penciptaan rapport, Pemilihan informan, Pengumpulan data dengan metode observasi, dokumentasi, wawancara, Pengumpulan data dari sumber non-manusia dan
Pencatatan data/ informasi hasil pengumpulan data.
a. Penciptaan Rapport
Menurut Faisal (1990) penciptaan rapport ini merupakan prasyarat yang amat penting. Peneliti tidak akan dapat berharap untuk memperoleh informasi secara produktif dari informan apabila tidak tercipta hubungan harmonis yang saling mempercayai antara pihak peneliti dengan pihak yang diteliti.Terciptanya hubungan harmonis satu dengan yang lain
saling mempercayai, tanpa kecurigaan apapun untuk saling membuka diri, merupakan permasalahan yang berkaitan dengan penciptaan rapport. Untuk mencapai tingkat rapport yang membuat informan bisa menjadi semacam co-reseacher (sejawat atau pasangan bagi seorang peneliti), menurut Faisal, lazimnya ia mengalami proses 4 (empat) tahap, yaitu; (1)
apprehension (2) exploration (3) cooperation, dan (4) participation.
b. Pemilihan Informan
Pemilihan informan dengan sendirinya perlu dilakukan secara purposif (bukan secara acak) yaitu atas dasar apa yang diketahui tentang variasi-variasi yang ada atau elemenelemen yang ada atau sesuai kebutuhan penelitian. Dengan kata lain jika suatu penelitian sudah tidak ada informasi yang dibutuhkan lagi (data yang diperoleh sudak dianggap cukup) maka peneliti tak perlu lagi melanjutkannya dengan mencari informasi atau informan lain (sample baru). Artinya jumlah sample/ informan bisa sangat sedikit, tetapi bisa juga sangat
banyak. Itu sangat tergantung pada; (1) memilihan informannya itu sendiri, dan (2) kompleksitas/keragaman fenomena yang di kaji (pokok masalah penelitian). Jadi yang penting dalam penelitian kualitatif adalah tuntasnya perolehan informasi bukan jumlah sample atau informannya. Oleh karena itu terdapat tiga tahap yang biasa dilakukan dalam pemilihan sample/informan, yaitu: (1) pemilihan sample/informan awal, apakah informan (untuk diwawancarai) ataukah suatu situasisosial (untuk diobservasi). (2) pemilihan sample/informan lanjutan, guna memperluas informasi dan melacak seganap variasi
informasi yang mungkin ada, dan (3) menghentikan pemilihan sample/informan lanjutan sekiranya sudah tidak muncul lagi informasi- informsi baru (Subadi, 2006)
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan oleh peneliti untuk
mengumpulkan data-data penelitian dari sumber data (subyek maupun sampel penelitian). Teknik pengumpulan data merupakan suatu kewajiban, karena teknik pengumpulan data ini
nantinya digunakan sebagai dasar untuk menyusun instrumen penelitian. Instrument penelitian merupakan seperangkat peralatan yang akan digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data-data penelitian (Kristanto, 2018). Pengumpulan data merupakan tahapan yang sangat
penting dalam sebuah penelitian. Teknik pengumpulan data yang benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena itu, tahapan ini tidak boleh salah
dan harus dilakukan dengan cermat sesuai prosedur dan ciri-ciri penelitian kualitatif. Sebab, kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam metode pengumpulan data akan berakibat fatal, yakni berupa data yang tidak credible, sehingga hasil penelitiannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta(participant observaction), wawancara mendalam (in depth interview), dan dokumentasi (Sugiono, 2017). Pada dasarnya kegunaan data (setelah diolah dan dianalisis)
ialah sebagai dasar yang objektif didalam proses pembuatan keputusan–keputusan/kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam rangka ntuk memecahkan persoalan oleh pengambil keputusan (Situmorang, 2010).
Misalnya, jika peneliti ingin memperoleh informasi mengenai persepsi guru terhadap kurikulum yang baru, maka teknik yang di pakai ialah wawancara, bukan observasi. Sedangkan, jika peneliti ingin mengetahui bagaimana guru menciptakan suasana kelas yang
hidup, maka teknik yang dipakai adalah observasi. Begitu juga jika, ingin diketahui mengenai kompetensi siswa dalam mata pelajaran tertentu, maka teknik yang dipakai adalah tes, atau bisa juga dokumen berupa hasil ujian. Dengan demikian, informasi yang inin di peroleh menentukan
jenis teknik yang di pakai (materials determine a means) (Rahardjo, 2011).
Namun, masih di perlukan kecakapan peneliti menggunakan teknik-teknik tersebut.
Karena bisa jadi jika belum berpengalaman atau belum memiliki pengetahuan yang memadai, peneliti tidak berhasil menggali informasi yang dalam, sebagaimana karakteristik data dalam penelitian kualitatif, karena kurang cakap menggunakan teknik tersebut, walaupun teknik yang dipilih sudah tepat. Solusinya terus belajar dan membaca hasil-hasil penelitian sebelumnya
yang sejenis akan sangat membantu menambah kecakapan peneliti.
Penggunaan istilah „data‟ sebenarnya meminjam istilah yang lazim dipakai dalam metode penelitian kualitatif yang biasanya berupa tabel angka. Namun, dalam metode penelitian kualitatif yang dimaksudkan dengan data adalah segala informasi baik lisan maupun tulis, bahkan bisa berupa gambar atau foto, yang berkontribusi untuk menjawab masalah penelitian
sebagaimana dinyatakan di dalam rumusan masalah atau focus penelitian.
Dalam bahasa teknik pengumpulan data untuk penelitian kualitatif akan dibagi menjadi dua kegiatan belajar belajar yakni : kegiatan belajar 1) tentang teknik wawancara dan observasi, kegiatan belajar 2) tentang teknik dokumentasi dan trialungasi (Suwendra, 2018). Dan di dalam metode penelitian kualitatif juga lazimnya data di kumpulkan dengan beberapa teknik pengumpulan data kualitatif, yaitu ; 1) wawancara, 2) observasi, 3) dokumentasi, dan 4) diskusi terfokus (Focus Group Discussion). Sebelum masing-masing teknik tersebut diuraikan secara rinci, perlu ditegaskan di sini bahwa hal sangat penting yang harus dipahami oleh setiap peneliti adalah alasan mengapa masing-masing teknik tersebut dipakai, untuk memperoleh informasi apa, dan pada bagian focus masalah mana yang memerlukan teknik wawancara, mana yang memerlukan teknik observasi, dst. Pilihan teknik tergntung pada jenis informasi yang di peroleh.
Keberhasilan dalam pengumpulan data banyak ditentukan oleh kemampua n peneliti menghayati situasi sosial yang dijadikan fokus penelitian. Ia dapat melakukan wawancara dengan subjek yang ia teliti, ia harus mampu mengamati situasi sosial, yang terjadi dalam konteks yang sesungguhnya, ia dapat memfoto fenomena, symbol, dan tanda yang terjadi, ia mungkin pula merekam dialog yang terjadi. Peneliti tidak akan mengakhiri fase pengumpulan data, sebelum ia yakin bahwa data yang terkumpul dari berbagai sumber yang berbeda dan terfokus pada situasi sosial yang di teliti telah mampu menjawab tujuan penelitian. Dalam konteks ini validitas, reabilitas, dan triangulasi (triangulation) telah dilakukan dengan benar, sehingga ketepatan (accuracy) dan kredibilitas (credibility) tidak diragukan lagi oleh siapapun (yusuf, 2014).
Data penelitian kualitatif biasanya berbentuk teks, foto, cerita, gambar, artifacts, dan bukan berupa angka-angka hitung-hitungan. Data dikumpulkan bilamana arah dan tujuan penelitian sudah jelas dan juga bila sumber data yaitu informan atau partisipan sudah diidentifikasi, dihubungi serta sudah mendapatkan persetujuan atas keinginan mereka untuk memberikan informasi yang dibutuhkan. Jadi, data penelitian kualitatif diperoleh dengan berbagai macam cara : wawancara, observasi, dan dokumen. Perolehan data dengan berbagai macam cara ini disebut triangulasi (triangulation). Alasan menggunakan trangulasi adalah bahwa tidak ada metode pengumpulan data tunggal yang sanga cocok dan dapat benar-benar sempurna. Dalam banyak penelitian kualitatif, peneliti umumya menggunakan teknik triangulasi dalam arti menggunakan interview dan observasi (Semiawan, 2010).

Triangulasi Kualitatif (skripsi dan tesis)

Triangulasi adalah menguji keabsahan data dengan mencocokkan atau membandingkannya dengan sesuatu yang lain (di luar data yang mau diuji keabsahannya). Katakan saja bahwa anda mau menguji keabsahan data anda maka yang perlu dan segera dilakukan adalah mencari data atau sesuatu yangrelevan dengan data anda.

Dua cara yang bisa anda lakukan saat anda melakukan triangulasi:

Triangulasi dengan sumber yang sama tetapi dengan cara atau metode yang berbeda

Triangulasi dengan cara atau metode yang sama tetapi dengan sumber yang berbeda

Dari dua cara triangulasi di atas ternyata yang paling banyak digunakan adalah pencocokkan dengan sumber yang berbeda. Triangulasi sumber data adalah  mengecek kembali data-data yang sudah anda dapatkan dari informan utama dengan cara menanyakan kebenaran data kepada informan tambahan (bisa satu atu lebih).

Sedangkan triangulasi metode adalah mengecek kembali data dengan cara yang berbeda.

Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk melahirkan sebuah teori baru atau mengembangkan sebuah teori lama yang dihasilkan oleh peneliti sebelumnya. Jika anda tidak menemukan sebuah teori (baru) maka bisa dikatakan bahwa penelititan yang anda lakukan nihil hasilnya. Melahirkan sebuah teori baru tentunya bukan sembarang teori tetapi sebuah teori yang akan bisa dan dapat diterima oleh orang banyak. Oleh karena itu perlu dilakukan triangulasi teori sebelum teori anda dipublikasikan yaitu dengan mencocokkan teori anda dengan teori yang relevan bertujuan untuk menghindari penyimpangan individual.

Karakteristik Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Creswell (2007, p. 45-47) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian kualitatif yang baik, antara lain:

  1. peneliti menggunakan prosedur mendapatkan data yang tepat.
  2. Peneliti membatasi penelitian di dalam asumsi dan karakteristik dari pendekatan kualitatif.
  3. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam penelitiannya.
  4. Peneliti memulai penelitian dengan satu fokus.
  5. Penelitian berisi metode yang rinci, pendekatan yang tepat dalam pengumpulan data, analisis data, dan penulisan laporan.
  6. Peneliti menganalisis data menggunakan pemisahan analisis dalam beberapa level.
  7. Peneliti menulis secara persuasif, sehingga pembaca dapat merasakan pengalaman yang sama.
  8. Proses penelitian dengan pendekatan kualitatif

Penelitian kualitatif dimulai dengan ide yang dinyatakan dengan pertanyaan penelitian (research questions). Pertanyaan penelitian tersebut yang nantinya akan menentukan metode pengumpulan data dan bagaimana menganalisisnya. Metode kualitatif bersifat dinamis, artinya selalu terbuka untuk adanya perubahan, penambahan, dan penggantian selama proses analisisnya (Srivastava, A. & Thomson, S.B., 2009).

Alasan memilih metode kualitatif (skripsi dan tesis)

Sale, et al. (2002) menyatakan bahwa penggunaan metode dipengaruhi oleh dan mewakili paradigma yang merefleksikan sudut pandang atas realitas. Lebih lanjut, Kasinath (2013) mengemukakan ada tiga alasan untuk menggunakan metode kualitatif, yaitu (a) pandangan peneliti terhadap fenomena di dunia (a researcher’s view of the world), (b) jenis pertanyaan penelitian (nature of the research question), dan (c) alasan praktis berhubungan dengan sifat metode kualitatif (practical reasons associated with the nature of qualitative methods).

Sementara itu, menurut McCusker, K., & Gunaydin, S. (2015), pemilihan penggunaan metode kualitatif dalam hal tujuan penelitiannya adalah untuk memahami bagaimana suatu komunitas atau individu-individu dalam menerima isu tertentu. Dalam hal ini, sangat penting bagi peneliti yang menggunakan metode kualitatif untuk memastikan kualitas dari proses penelitian, sebab peneliti tersebut akan menginterpretasi data yang telah dikumpulkannya.

Metode kualitatif membantu ketersediaan diskripsi yang kaya atas fenomena. Kualitatif mendorong pemahaman atas substansi dari suatu peristiwa. Dengan demikian, penelitian kualitatif tidak hanya untuk memenuhi keinginan peneliti untuk mendapatkan gambaran/penjelasan, tetapi juga membantu untuk mendapatkan penjelasan yang lebih dalam (Sofaer, 1999). Dengan demikian, dalam penelitian kualitatif, peneliti perlu membekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai terkait permasalahan yang akan ditelitinya.

Definisi penelitian kualitatif (skripsi dan tesis)

Definisi penelitian kualitatif dapat ditemukan pada banyak literatur. Antara lain, Ali dan Yusof (2011) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai:

Any investigation which does not make use of statistical procedures is called “qualitative” nowdays, as if this were a quality label in itself.

Definisi dari Ali dan Yusof tersebut, menekankan pada ketidakhadiran penggunaan alat-alat statistik dalam penelitian kualitatif. Hal ini tentunya untuk mempermudah dalam membedakan penggunaan metode kualitatif dengan penggunaan metode kuantitatif. Karena metode kuantitatif bergantung pada penggunaan perhitungan dan prosedur analisis statistika.

Sementara itu, metode kualitatif lebih menekankan pada pengamatan fenomena dan lebih meneliti ke subtansi makna dari fenomena tersebut. Analisis dan ketajaman penelitian kualitatif sangat terpengaruh pada kekuatan kata dan kalimat yang digunakan. Oleh karena itu, Basri (2014) menyimpulkan bahwa fokus dari penelitian kualitatif adalah pada prosesnya dan pemaknaan hasilnya. Perhatian penelitian kualitatif lebih tertuju pada elemen manusia, objek, dan institusi, serta hubungan atau interaksi di antara elemen-elemen tersebut, dalam upaya memahami suatu peristiwa, perilaku, atau fenomena (Mohamed, Abdul Majid & Ahmad, 2010).

Pengertian Metode Penelitian (skripsi dan tesis)

Secara umum metode penelitian didefinisikan sebagai suatu
kegiatan ilmiah yang terencana, terstruktur, sistematis dan
memiliki tujuan tertentu baik praktis maupun teoritis. Dikatakan sebagai ‘kegiatan ilmiah’ karena penelitian dengan aspek
ilmu pengetahuan dan teori. ‘Terencana’ karena penelitian
harus direncanakan dengan memperhatikan waktu, dana dan
aksesibilitas terhadap tempat dan data.
Sekaran (2003) mendefinisikan penelitian sebagai suatu
kegiatan yang terorganisir, sistematis, berdasarkan data,
dilakukan secara kritis, objektif, ilmiah untuk mendapatkan
jawaban atau pemahaman yang lebih mendalam atas suatu
masalah. Intinya, menurut beliau, yaitu memberikan masukan
Pengertian, Tujuan, dan Latar Belakang Penelitian 5
yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan untuk membuat
suatu keputusan. Masukan tersebut rnerupakan hasil
penelahaan dan analisis data yang dibuat secara seksarna.
Ditambahkannya pula bahwa data dapat berupa angka atau
teks, baik kuantitatif rnaupun kualitatif.
John Creswell (2008) rnendefinisikan penelitian sebagai
suatu proses bertahap bersiklus yang dirnulai dengan
identifikasi masalah atau isu yang akan diteliti. Setelah masalah
teridentifikasi kernudian diikuti dengan rnereviewbahan bacaan
atau kepustakaan. Sesudah itu rnenentukan dan rnernperjelas
tujuan penelitian. Dilanjutkan dengan pengurnpulan dan
analisa data. Kernudian rnenafsirkan (interpretation) data
yang diperoleh. Penelitian ini berpuncak pada pelaporan hasil
penelitian. Pembaca atau audience akan rnengevaluasi dan
selanjutnya rnenggunakannya. Dari identifikasi rnasalah hingga
pelaporan, sernuanya berlangsung dalarn suatu proses yang
bertahap yang berurutan secara teratur dan sistematis

Triangulasi Dalam Kualitatif (skripsi dan tesis)

Triangulasi adalah teknik pemeriksanaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.

Menurut Patton (1980) ini bisa dicapai dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi, membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan yang lain, serta membandingkan hasil wawancara dengan isu suatu dokumen yang berkaitan.

Beberapa cara yang diusulkan Patton (1980) untuk meningkatkan transferabilitas penelitian adalah dengan melakukan konsep trianggulasi, yang meliputi empat hal :

  1. Trianggulasi data : menggunakan sumber data yang beranekaragam.
  2. Trianggulasi peneliti : menggunakan beberapa peneliti atau evaluator yang berbeda untuk mengecek penelitian.
  3. Trianggulasi teori : menggunakan perspektif yang berbeda untuk menginterpretasi data yang sama.
  4. Trianggulasi metodologis : menggunakan beberapa metode yang berbeda untuk meneliti hal yang sama.

Teknik triangulasi lebih mengutamakan efektivitas proses dan hasil yang diinginkan. Oleh karena itu, triangulasi dapat dilakukan dengan menguji apakah proses dan hasil metode yang digunakan sudah berjalan dengan baik. Seperti (1) peneliti menggunakan wawancara mendalam dan observasi partisipasi untuk pengumpulan data. (2) dilakukan uji silang terhadap materi catatan-catatan harian itu untuk memastikan tidak adainformasi yang bertentangan antara catatan harian wawancara dan catatan harian observasi. (3) hasil konfirmasi itu perlu diujikan lagi dengan informasi sebelumnya karena bisa jadi konfirmasi itu bertentangan dengan informasi yang telah dihimpun sebelumnya.

Kredibilitas Dalam Analisis Kualitatif (skripsi dan tesis)

Upaya untuk menjaga kredibilitas dalam penelitian
adalah melalui langkah-langkah sebagai berikut
(Sugiyono, 2012 :270)
a.Perpanjangan pengamatan
Peneliti kembali ke lapangan untuk melakukan
pengamatan untuk mengetahui kebenaran data yang
diperoleh maupun menemukan data baru.
b. Meningkatkan ketekunan
Melakukan pengamatan secara lebih cermat.
Dengan meningkatakan ketekunan, peneliti dapat
melakukan pengecekan kembali apakah data yang
ditemukan benar atau salah.
c. Triangulasi
Pengecekan data sebagai sebagai sumber dengan
berbagai cara dan berbagai waktu.
d. Analisis kasus negatif
Peneliti mencara data yang berbeda dengan data
yang ditemukan. Apabila tidak ada data yang berbeda
maka data yang ditemukan sudah dapat dipercaya.
e. Menggunakan bahan referensi
Bahan referensi yang dimaksud adalah sebagai
pendukung data yang ditemukan, sebagai contoh data
hasil wawancara perlu didukung adanya rekaman
wawancara.
f. Menggunakan member check
Mengadakan kesepakatan dengan informan bahwa
data yang telah diterima sudah sesuai dengan hasil
wawancara. Apabila data sudah benar maka data
sudah dianggap valid, maka peneliti perlu melakukan
diskusi dengan pemberi data agar penafsiran akan data
yang diperoleh dapat disepakati

KARAKTERISTIK PENELITIAN ILMIAH (skripsi dan tesis)

 

 

Penelitian ilmiah didasarkan atas logika, terorganisasi, dan teliti dalam identifikasi masalah, pengumpulan data, analisis data dan penarikan kesimpulan yang valid. Kadar (tinggi-rendahnya) mutu ilmiah suatu penelitian ilmiah dapat diukur dengan dua kriteria, yaitu:

  1. Kemampuannya untuk memberikan pengertian tentang masalah yang diteliti sehingga jelas.
  2. Kemampuannya untuk meramalkan, artinya sampai di mana kesimpulan yang sama dapat dicapai, apabila data yang sama ditemukan di tempat waktu lain.

Ciri-ciri penelitian ilmiah, adalah sebagai berikut:

  1. Purposiveness, memiliki fokus tujuan yang jelas.
  2. Rigor, teliti dan memiliki dasar teori dan desain metodologi yang baik.
  3. Testability, prosedur pengujian hipotesis jelas.
  4. Replicability, pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau kasus sejenis lainnya.
  5. Objectivity, berdasarkan atas fakta dari data actual, bukan penilaian yang subjektif dan emosional.
  6. Generalizability, semakin luas ruang lingkup penggunaan hasil penelitian semakin berguna.
  7. Precision, mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat.
  8. Parsimony, kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.