Perkembangan Emosi Anak Usia Dini Usia 5 – 6 Tahun (skripsi dan tesis)

 Menurut Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini Nomor 137 2014 standar isi tentang tingkat pencapaian perkembangan emosi anak usia 5 – 6 tahun yaitu :

Kesadaran Diri 1. Memperlihatkan kemampuan diri untuk menyesuaikan dengan situasi 2. a. Memperlihatkan kehati – hatian kepada orang yang belum dikenal (menumbuhkan kepercayaan pada orang dewasa yang tepat) 3. Mengenal perasaan sendiri dan mengelolanya secara wajar (Mengendalikan diri secara wajar )
 b. Rasa tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang lain 1. Mentaati aturan kelas ( kegiatan, aturan ) 2. Mengatur diri sendiri 3. Bertanggung jawab atas prilakunya untuk kebaikan diri sendiri
c. Prilaku Prososial 1. Mengetahui perasaan temannya dan merespon secara wajar 2. Berbagi dengan orang lain 3. Menghargai hak / pendapat / karya orang lain 4. Bersikap kooperatif dengan teman 5. Menunjukkan sikap toleran 6. Mengepresikan emosi yang sesuai dengan kondisi yang ada (senang – sedih – antusias,dsb)

Karakteristik Perkembangan Emosi (skripsi dan tesis)

Menurut Elizabeth B. Hurlock dalam Syaodih (2008:2.24) perkembangan emosi anak memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Emosi yang kuat Anak kecil bereakasi terhadap suatu stimulasi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang sulit. Anak belum mampu menunjukkan reaksi emosional yang sebanding terhadap stimulasi yang dialaminya.
 b. Emosi seringkali tampak Anak-anak sering kali tidak mampu menahan emosinya, cenderung emosi anak nampak dan bahkan berlebihan.
c. Emosi bersifat sementara Emosi anak cenderung lebih bersifat sementara, artinya dalam waktu yang relative singkat emosi anak dapat berubah dari marah kemudian tersenyum, dari ceria berubah menjadi murung.
d. Reaksi emosi mencerminkan individualitas Semasa bayi, reakasi emosi yang ditunjukkan anak relative sama. Secara bertahap, dengan adanya pengaruh factor belajar dan lingkungan, prilaku  yang menyertai berbagai emosi anak semakin di individualisasikan. Seorang anak akan berlari keluar dari ruangan jika mereka ketekutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis atau menjerit.
e. Emosi berubah kekuatannya Dengan meningkatnya usia, emosi anak pada usia tertentu berubah kekuatannya. Emosi anak yang tadinya kuat berubah menjadi lemah, sementara yang tadinya lemah berubah menjadi emosi yanh kuat.
f. Emosi dapat diketahui melalui gejala prilaku Emosi yang dialami anak dapat pula dilihat dari gejala prilaku anak, seperti pemarah, melamun, gelisah, menangis, sukar berbicara atau dari tingkah laku yang gugup seperti menggigit kuku atau menghisap jempol.

Pengertian emosi (skripsi dan tesis)

Menurut Nugraham & Rachmawati (2010:1.2) emosi adalah perasaan yang ada dalam diri kita, dapat berupa perasaan senang atau tidak senang, perasaan baik atau buruk. Sedangkan menurut Syamsudin dalam Nugraha mengemukakan bahwa “ emosi merupakan suatau suasana yang kompleks (a complex feeling state) dan getaran jiwa (stid up state) yang menyertai atau muncul sebelum atau sesudah terjadinya suatu prilaku

Pengertian Perkembangan Emosi (skripsi dan tesis)

 Menurut Masitoh,dkk (2010:2.12) perkembangan emosi berhubugan dengan seluruh aspek perkembangan anak. Pada tahap ini emosi anak usia prasekolah lebih rinci atau terdiferensiasi. Anak cendrung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka.Sikap marah sering mereka perhatikan dan sering berebut perhatian guru.Pada masa ini anak menjadi lebih mengerti dan mampu berinisiatif, tetapi mungkin terlalu kuat sehingga timbul keinginan menarik rencananya.Hal ini menyebabkan anak merasa bersalah. Pada masa ini anak mampu melakukan partisipasi dan mengambil inisiatif dalam kegiatan fisik, tetapi ada beberapa kegiatan yang dilarang oleh guru dan orang tua. Anak sering memiliki keraguan untuk memilih antara apa yang ingin dikerjakan dengan apa yang harus dikerjakan. Pada usia ini  anak sudah memiliki inisiaif tetapi sering pula mereka tidak bisa memutuskan apa yang akan di kerjakannya.
Menurut Fridani & Wulan dkk (2008:5.3) perkembangan anak usia dini merupakan proses yang sangat kompleks. Perkembangan emosi berkaitan dengan tempramen, perasaan, reaksi, konsep diri, dan harga diri.Emosi dan perasaan memainkan peran dalam segala pengalaman hidup, dalam bekerja, bermain, belajar, dan interaksi antara manusia.Emosi bersifat universal dan evolusioner dalam membantu manusia untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri dan belajar.Setiap individu dari berbagai budaya menunjukkan ekspresi emosi seperti bahagia atau senang, marah, berduka, tertawa karena lucu, dan lain-lain. Emosi anak usia dini adalah bukti dalam menunjukkan ekspresi, bahasa tubuh, postur tubuh, bahasa tubuh yang lain, suara atau vocal, bahasa, gaya komunikasi, dan prilaku yang ditimbulkan karena bermain dengan alat-alat mainan dan alat-alat pembelajaran. Perkembangan emosi adalah proses yang berjalan secara perlahan dari bayi mula dapat mengontrol dirinya ketikamenemukan self comforting behavior atau merasa nyaman

Model Penelitian TIndakan Kelas Menurut Hopkins (skripsi dan tesis)

Model Hopkins dalam Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan subtansif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inquiri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan

Model Kemmis & Taggart (skripsi dan tesis)

 

 Model Kemmis & Teggart dalam Sofyan (2014:110) kegiatan pokok fokus penelitian tindakan terdiri dari (1) Planning, (2) Acting, (3) Observing, (4) Reflecting,
 Planning :
1. Mempelajari aspek-aspek perkembangan yang akan dikembangkan di TK
 2. Mempelajari kurikulum TK
3. Mengembangkan tematik yang sesuai dengan perkembangan anak
 4. Mempersiapkan permainan sesuai dengan tema
5. Membuat RKM
6. Membuat RKH
7. Menyiapkan media pembelajaran yang diperlukan sesuai tema
 8. Menyiapkan sumber belajar
9. Mengembangkan format observasi
10. Mengembangkan format evaluasi
Acting :
1. Melaksanakan kegiatan pembelajaran berdasarkan perencanaan
 2. Melaksanakan pengamatan mengenai isi tindakan 3. Mengumpulkan data perlengkapan lain yang mendukung
 1. Melakukan observasi dengan format observasi
2. Mengamati kegiatan pembelajaran, pengamatan, berperan serta, peneliti terlibat langsung selama kegiatan berlangsung
 Reflecting I :
 1. Mengamati perubahan yang terjadi pada siswa setelah terjadi tindakan
2. Mengadakan pertemuan untuk membahas hasil tindakan
3. Evaluasi Planning :
 1. Merevisi dan memodifikasi pembelajaran sesuai dengan hasil tindakan siklus I Acting :
 1. Mengaplikasian pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang ke II Observing II 1. Mengamati kegiatan pembelajaran sesuai dengan siklus perencanaan yang kedua
 2. Mengumpulkan data tindakan yang kedua Reflecting II
1. Mengamati perubahan yang terjadi pada siswa setelah dilakukan tindakan kedua
 2. Evaluasi tindakan yang kedua

Model Penelitian TIndakan Kelas Menurut Kurt Lewin (skripsi dan tesis)

Model Kurt Lewin dalam Ekawarna (2009) yang sering dijadikan acuan pokok atau dasar dari berbagai model penelitian tindakan (action research), terutama PTK. Dialah orang pertama yang memperkenalkan action research. Konsep pokok action research menurut Krut Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu :

1. Perencanaan (Planning) Pada tahap ini penulis melakukan :
a. Menyusun rencana kegiatan harian (RKH)
b. Menyiapkan instrument penelitian
c. Menyiapkan sumber belajar
d. Mengembangkan scenario pembelajaran
 2. Tindakan (acting) Melakukan tindakan sebagai langkah yang kedua merupakan realisasi dari rencana yang kita buat.Tanpa tindakan rencana hanya merupakan agan-agan yang tidak pernah menjadi kenyataan.
 3. Pengamatan (observing) Berdasarkan pengamatan kita akan dapat menemukan apakah ada hal-hal yang harus segera diperbaiki agar tindakan dapat mencapai tujuan yang kita inginkan.
4. Refleksi (reflecting) Refeksi sebagai langkah keempat, kita lakukan setelah tindakan terakhir. Kita akan mencoba melihat atau merenungkan kembali apa yang telah kita lakukan dan apa dampaknya bagi proses belajar  siswa. Yang lebih penting pula kita renungkan alasan kita melakukan satu tindakan dikaitkan dengan dampaknya. Dengan cara ini kita akan dapat mengenal kekuatan dan kelemahan dari tindakan yang kita lakukan.

Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

 Penelitian tindakan kelas (PTK) mempunyai manfaat yang cukup besar, bagi guru, pembelajaran, maupun bagi sekolah.:
1. Manfaat PTK bagi Guru Bagi guru, PTK mempunyai beberapa manfaat sebagai berikut :
a).PTK dapat dimanfaatkan oleh guru untuk memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya karena memang sasaran akhir PTK adalah perbaikan pembelajaran.
 b).Dengan melakukan PTK guru dapat berkembang secara propesional karena dapat menunjukkan bahwa ia mampu menilai dan memperbaiki pelajaran yang dikelolanya. c).PTK membantu guru lebih percaya guru.
2. Manfaat PTK bagi Pembelajaran/Siswa
 mempunyai manfaat yang sangat besar bagi pembelajaran karena tujuan PTK adalah memperbaiki praktik pembelajaran dengan sasaran akhir memperbaiki belajar siswa. Dengan adanya PTK kesalahan dalam proses pembelajaran akan cepat dianalisis dan diperbaiki, hingga kesalahan tersebut tidak akan berlanjut.
3. Manfaat PTK bagi Sekolah Sekolah mempunyai kesempatan yang besar untuk berubah secara menyeluruh. Dalam konteks ini, PTK memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah, yang tercermin dari peningkatan kemampuan professional para guru, perbaikan proses dan hasil belajar siswa, serta kondusifnya iklim pendidikan di sekolah tersbut.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Menurut Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas pada dasarnya memiliki sejumlah karakteristik atau ciri-ciri sebagai berikut :
 a. Bersifat siklis atau berulang, artinya dalam PTK terdapat siklus-siklus atau perulangan mulai dari perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi sebagai prosedur baku PTK.
b. Bersifat jangka panjang atau longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu lama yang tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan “sekali tembak” selesai pelaksanaannya.
 c. Bersifat particular – spesipik, jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka menguji atau menemukan teori-teori. Hasinya pun tidak untuk di generalisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain, di tempat lain yang konteksnya mirip.
 d. Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekaligus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu di ubah.
e. Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak yang di teliti, bukan menurut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang di teliti.
f. Bersifat kalobaratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja sama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.
g. Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesipik atau khusus dalam pembelajarang yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru, menggarap masalah-masalah yang memiliki urgensi tinggi.
h. Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.
 i. Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasikan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif.
 j. Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Menurut Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan (action research) yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Penelitian tindakan pada hakikatnya merupakan rangkaian “ riset – tindakan – riset – tindakan -… “ yang dilakukan secara siklik dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Sedangkan menurut Wardhani & Wihardit (2012 :1.4) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat

Penelitian Kuasi Eksperimental (skripsi dan tesis)

Kuasi eksperimental adalah sebuah studi eksperimental yang dalam mengontrol situasi penelitian menggunakan cara non random. Desain ini berasal dari riset ilmu sosial yang kemudian diadopsi oleh epidemiologi untuk mengevaluasi dampak intervensi kesehatan masyarakat. Untuk memperoleh taksiran dampak perlakuan yang sebenarnya maka peneliti harus memilih kelompok kontrol yang memiliki karakteristik variable perancu yang sebanding dengan kelompok perlakuan.
Kuasi eksperimental ini dilakukan sebagai alternatif eksperimen randomisasi, tatkala pengalokasian faktor penelitian pada subjek penelitian tidak mungkin, tidak etis atau tidak praktis dilaksanakan dengan randomisasi, misalnya ketika ukuran sampel terlalu kecil

Etika Pada Penelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Etika uji klinik mencakup:
a) Protokol uji klinik yang telah mendapat persetujuan dari komisi etik (ethical clearance)
b) Menjamin kebebasan pasien untuk ikut serta secara sukarela atau menolak atau berhenti sewaktu-waktu dari penelitian
c) Menjamin kesehatan dan keselamatan pasien sejak awal, selama dan sesudah penelitian
d) Keikutsertaan pasien harus dinyatakan dalam written informed-consent.
e) Menjamin kerahasiaan identitas dan segala informasi yang diperoleh dari pasien

Besar sampel Dalam PEnelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang mempengaruhi penetapan besar sampel adalah:
a) Derajat kepekaan uji klinik: jika diketahui bahwa perbedaan kemaknaan klinis antara 2 obat yang diuji tidak begitu besar, berarti diperlukan jumlah sampel yang besar
b) Keragaman hasil: makin kecil keragaman hasil uji antar individu dalam kelompok yang sama, semakin sedikit jumlah subyek yang diperlukan.
c) Derajat kebermaknaan statistik: semakin besar kebermaknaan statistik yang diharapkan dari uji klinik, semakin besar pula jumlah subyek yang diperlukan

Pengacakan atau randomisasi intervensi Dalam penelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Randomisasi atau pengacakan intervensi mutlak diperlukan dalam uji klinik terkendali (RCT), dengan tujuan utama menghindari bias. Dengan pengacakan maka:
a) setiap subjek akan memperoleh peluang yang sama dalam mendapatkan obat uji atau pembandingnya (sebagai kelompok intervensi atau kontrol)
b) subjek yang memenuhi kriteria inklusi akan terbagi sama rata dalam setiap kelompok intervensi, dimana ciri-ciri subjek dalam satu kelompok praktis seimbang.

Rancangan uji klinik (skripsi dan tesis)

Untuk memperoleh hasil yang optimal perlu disusun rancangan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan etis, dengan tetap mengutamakan segi keselamatan dan kepentingan pasien. Dua rancangan yang sering digunakan, yaitu Randomized Clinical Trial (RCT) parallel design dan RCT cross-over design.
(a) Rancangan RCT parallel design
Prinsip dasar rancangan ini adalah secara acak subjek dibagi ke dalam 2 atau lebih kelompok pengobatan. Jumlah subjek pada setiap kelompok harus seimbang atau sama. Masing-masing kelompok akan memperoleh pengobatan/perlakuan yang berbeda, sesuai dengan jenis perlakuannya. Secara skematis adalah sebagai berikut: (R adalah simbol pengacakan atau random)

(b) Rancangan RCT cross-over design
Pada rancangan ini setiap subjek akan memperoleh semua bentuk pengobatan/perlakuan secara selang-seling, yang ditentukan secara acak. Untuk menghindari kemungkinan pengaruh obat/perlakuan yang satu dengan yang lainnya, setiap subjek akan memperoleh periode bebas pengobatan (washed-out period atau WOP). Rnacangan ini hanya dapat dilakukan untuk penyakit yang bersifat kronik dan stabil, seperti misalnya rematoid artritis dan hipertensi

Seleksi atau pemilihan subjek Dalam Penelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Dalam uji klinik, harus ditentukan secara jelas kriteria-kriteria pemilihan pasien, yaitu:
a)Kriteria inklusi, yakni syarat-syarat yang secara mutlak harus dipenuhi subjek untuk dapat berpartisipasi dalam penelitian. Kriterianya antara lain kriteria diagnosis baik klinik maupun laboratoris, tingkat keparahan penyakit, asal pasien (rumah sakit atau populasi), umur, dan jenis kelamin.
b) Kriteria eksklusi (pengecualian), yaitu kriteria yang membatasi partisipasi subjek dalam penelitian. Sebagai contoh hampir sebagian besar uji klinik obat tidak memasukkan wanita hamil sebagai subjek mengingat pertimbangan risiko yang mungkin lebih besar dibanding manfaat yang didapat. Subjek yang mempunyai risiko tinggi terhadap pengobatan/perlakuan uji juga secara ketat tidak dilibatkan dalam penelitian

 

Penelitian Eksperimental (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimental adalah penelitian dengan kontrol (perlakukan) terhadap eksposure. Dengan kata lain, pada penelitian eksperimental, status eksposur ditetapkan oleh peneliti sendiri. Kelebihan utama rancangan penelitian ini adalah apabila intervensi (eksposur) dialokasikan secara acak terhadap sampel yang cukup besar, penelitian ini mempunyai derajat validitas yang tinggi yang tidak mungkin dicapai oleh penelitian observasional lainnya (yaitu deskriptif, kasus kontrol, ataupun kohort).
Dari aspek alokasi intervensi pada subjek penelitian, penelitian eksperimental dibagi menjadi 2 yakni penelitian eksperimental murni dan kuasi eksperimental. Pada penelitian eksperimental murni, intervensi dibagi secara acak pada subjek penelitian. Sebaliknya, pembagian subjek dalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak dilakukan secara random.
Penelitian eksperimental murni dalam konteks klinik dibedakan menjadi penelitian eksperimental dengan intervensi pencegahan dan intervensi terapetik. Penelitian eksperimental dengan intervensi terapetik disebut juga uji klinik.

Rancangan kelompok kontrol yang tidak sama (non-equivalent control group design)

Rancangan peneitian ini sering dipakai dalam penelitian. Dalam
rancangan ini, subjek penelitian atau partisipasi penelitian tidak dipilih secara
acak untuk dilibatkan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Pada dasarnya, langkah-langkah dalam rancangan ini sama seperti pada
rancangan pretest-posstest experimental control group design.
Dalam rancangan ini, ada dua kelompok subjek dimana satu mendapat
perlakuan dan satu kelompok sebagai kelompok control. Keduanya
memperoleh prates dan pascates. Perbedaan dengan kelompok non ekuivalen, bahwa kelompok tidak dipilih secara acak atau random.
Rancangan kelompok nonekuivalen ini disebut juga sebagai untreated
control group design with pretest and posttest. Rancangan penelitian ini
dikategorikan sebagai rancangan eksperimen kuasi (quasi experiment design).
Rancangan ini sangat sering dipakai dalam penelitian.Rancangan di atas (rancangan kuasi eksperimen) tidak menggunakan
random assignment sehingga ada kelemahan-kelemahan jika dibandingkan
rancangan eksperimen yang sebenarnya. Namun demikian, rancangan ini
dilakukan dengan jadwal perlakuan dan pengamatan yang sangat cermat.
Rancangan ini memberikan landasan yang kuat untuk memberikan alasan
untuk mengendalikan ancaman yang berkaitan dengan validitas internal

Non-Equivalent Grup Desain adalah desain yang paling sering
digunakan dalam penelitian sosial. Hal ini terstruktur seperti sebuah
eksperimen pretest posttest-acak. Dalam NEGD, kita paling sering
menggunakan grup utuh yang kita anggap sama seperti perlakuan dan
kelompok kontrol. Dalam pendidikan, kita bisa memilih dua kelas yang
sebanding. Dalam penelitian berbasis masyarakat, kita bisa menggunakan dua
komunitas yang sama. Kita mencoba untuk memilih grup yang semirip
mungkin, tapi kita tidak pernah bisa yakin kelompok-kelompok yang
sebanding. Atau, dengan kata lain, tidak mungkin bahwa kedua kelompok akan
mirip jika mereka kita tugaskan melalui undian acak. Karena sering
kemungkinan bahwa kelompok-kelompok yang tidak setara. Berarti bahwa
tugas yang kita berikan untuk kelompok seharusnya tidak acak. Dengan kata
lain, peneliti tidak menguasai tugas untuk kelompok melalui mekanisme
penugasan acak., ini yang dinamakan desain kelompok non equivalent

Kelompok berhubungan (intact group comparison) (skripsi dan tesis)

Rancangan penelitian intact group comparison atau desebut juga
rancangan static group comparison. Rancangan penelitian intac group desain
ini sebenarnya berasal dari kelompok subjek yang sama dan berhubungan.
Dalam rancangan ini sekelompok subjek yang diambil dari populasi tertentu
dikelompokan secara rambang menjadi dua, yaitu kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakukan tertentu dalam
waktu tertentu, sedangkan kelompok control tidak. Kedua kelompok subjek itu kemudian dikenakan pengukuran atau observasi (tes) yang sama.Faktor validitas seperti sejarah dan maturasi dikendalikan dengan
kelompok control (yang tidak diberi perlakuan). Artinya, dalam situasi yang
secara kebetulan berpengaruh terhadap hasil, yang mungkin juga berpengaruh pada hasil observasi[

Rancangan “separate sample pretest-postest” (skripsi dan tesis)

Rancangan ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian kesehatan
dan keluarga berencana, pengukuran pertama (pretest) dilakukan terhadap
sample yang dipilih secara acak dari populasi tertentu. Kemudian dilakukan
intervensi atau program pada seluruh populasi tersebut. Selanjutnya dilakukan
pengukuran kedua (posttest) pada kelompok sampel lain, yang dipilih secara
acak (random) dari populasi yang sama. Rancangan ini sangat baik untuk
menghindari pengaruh atau efek dari “test”, meskipun tidak dapat mengontrol
“sejarah”, “maturitas”[

Single Subject Design (skripsi dan tesis)

Pada umumnya penelitian pendidikan menggunakan subjek penelitian
dalam bentuk kelompok (kelas). Penelitian seperti ini akan memberikan hasil
yang menggambarkan keadaan satu atau beberapa kelompok, tidak
menggambarkan keadaan individual dalam kelompok tersebut. Pada situasi
eksperimen tertentu, perlakuan perlu diberikan hanya pada satu individu saja.
Penelitian seperti ini disebut sebagai penelitian single subject. Penelitian ini
sangat berguna bagi guru yang sedang melaksanakan penelitian terhadap
individual siswa, misalnya dalam melakukan penelitian bimbingan dan
konseling atau dalam melakukan rehabilitasi dan terapi fisik yang
perlakuannya hanya diberikan pada satu individu saja. Desain single subject
umumnya menggunakan pengukuran yang berulang dan hanya
mengimpleentasikan variabel bebas tunggal yang diharapkan dapat merubah
hanya satu variabel terikat. Pengukuran variabel dilakukan pada kondisi
normal yang disebut baseline[

Times Series Design (skripsi dan tesis)

O1 O2 O3 O4     X       O5 O6 O7 O8
Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak
dapat dipilih secara random. Sebelumnya diberi perlakuan, kelompok diberi
pretest sampai empat kali, dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan
kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest
selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berate kelompok tersebut
keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan
keadaan kelompok daoat diketahui dengan jelas maka baru diberi treatment.
Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja., sehingga tidak
memerlukan kelompok kontrol.
Hasil pretest yang baik adalah O1=O2=O3=O4 dan hasil perlakuan
yang baik adalah O5=O6=O7=O8. Besarnya pengaruh perlakuan adalah =
(O5+O6+O7+O8) – (O1+O2+O3+O4).
Desain time series sebagai kuasi eksperimen memiliki ciri adanya
pengukuran yang berulang-ulang, baik sebelum maupun sesudah perlakuan
terhadap satu atau beberapa intact group

Tujuan, Kelemahan, dan Keunggulan Eksperimen Semu (skripsi dan tesis)

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat
dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimen,
namun pemilahan kedua kelompok tersebut tidak dengan teknik random[4].
Adapun beberapa kelemahan/ keterbatasan yang dimiliki oleh desain
quasi eksperimen adalah terlalu fokus terhadap kejadian yang tidak dapat
diperkirakan dan tidak berkelanjutan sehingga dapat mengaburkan tujuan jika
terjadi perubahan yang tidak terduga akibat faktor fenomena ekonomi atau
perkembangan politik. Dan juga kurang kuatnya pengukuran dalam hal
asosiasi yang menjadikan beberapa efek yang terjadi pengukurannya terbatas.
Hal tersebut mengakibatkan beberapa efek seringkali “tidak terlihat” pada saat pengukuran terjadi (Caporaso, 1973:31-38).
Adapun secara terperinci kelemahan dari penelitian Quasi Eksperiment
adalah sebagai berikut:
a. Tidak adanya randomisasi (randoimization), yang berarti pengelompokan
anggota sampel pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak
dilakukan dengan random atau acak.
b. Kontrol terhadap variabel-variabel yang berpengaruh terhadap eksperimen
tidak dilakukan, karena eksperimenini biasanya dilakukan di masyarakat[5].
Di dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, penggunaan quasi
eksperimen sangat disarankan mengingat kondisi objek penelitian yang
seringkali tidak memungkinkan adanya penugasan secara acak. Hal tersebut
diakibatkan telah terbentuknya satu kelompok utuh (naturally formed
intactgroup), seperti kelompok siswa dalam satu kelas. Kelompok-kelompok
ini juga sering kali jumlahnya sangat terbatas. Dalam keadaan seperti ini
kaidah-kaidah dalam true eksperimen tidak dapat dipenuhi secara utuh, karena pengendalian variabel yang terkait subjek penelitian tidak dapat dilakukan sepenuhnya. Sehingga untuk penelitian yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pembelajaran, direkomendasikan penggunaan teknik quasi experiment di dalam implementasinya (Azam, Sumarno &Rahmat, 2006) [6].
Selain memiliki kelemahan quasi eksperimen juga memiliki
keuntungan. Adapun keuntungannya yaitu pada penelitian ekperimen semu ini
tidak mempunyai batasan yang ketat terhadap randomisasi dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancama-ancaman validitas

Pengertian Eksperimen Semu (kuasi eksperimen) (skripsi dan tesis)

Quasi eksperiment didefinisikan sebagai eskperimen yang memiliki
perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen namun tidak menggunakan
penugasan acak untuk menciptakan perbandingan dalam rangka menyimpulkan
perubahan yang disebabkan perlakuan (Cook & Campbell, 1979). Pada
penelitian lapangan biasanya menggunakan rancangan eksperiment semu
(kuasi eksperimen). Desain tidak mempunyai pembatasan yang ketat terhadap
randomisasi, dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancaman-ancaman
validitas.
Penelitian eksperimen semu atau eksperimen kuasi pada dasarnya samadalam menentukan validitas internal sesuai dengan batasan-batasan yang ada dengan penelitian eksperimen murni. Penelitian eksperimen murni maka  subjek, atau partisipan penelitian dipilih secara random
dimana setiap subjek memperoleh peluang sama untuk dijadikan subjek
penelitian. Peneliti memanipulasi subjek sesuai dengan rancangannya. Berbeda dengan penelitian kuasi, peneliti tidak mempunyai keleluasaan untuk
memanipulasi subjek, artinya random kelompok biasanya diapakai sebagai
dasar untuk menetapkan sebagai kelompok perlakuan dan control. Misalnya,
kita ingin menguji apakah pebelajar yang dibelajarkan melalui buku teks yang
disertai video memperoleh hasil atau prestasi belajar yang lebih unggul, jika
dibandingkan dengan pebelajar yang hanya dibelajarakan dengan buku teks
saja? Untuk maksud tersebut, kita menentukan kelompok subjek mana yang
diberi perlakuan (buku teks dan video) dan control atau kendali (buku teks
saja). Setelah diberi perlakuan dalam kurun waktu tertentu, kedua kelompok
subjek diberi pascates. Hasil pascates ini kita uji dengan teknik statistic
tertentu[1].
Adapula yang menyatakan bahwa eksperimen semu adalah penelitian
yang mendekati percobaan sungguhan di mana tidak mungkin mengadakan
control/ memanipulasikan semua variabel yang relevan. Harus ada kompromi dalam menentukan validitas internal sesuai dengan batasan-batasan yang
ada

 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Reliabilitas Instrumen (Skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi (2008:51-52) koefisien reliabilitas dapat dipengaruhi oleh waktu penyelenggaraan tes-retes. Interval penyelenggaraan yang terlalu dekat atau terlalu jauh, akan mempengaruhi koefisien reliabilitas. Faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi reliabilitas instrument evaluasi di antaranya sebagai berikut::
1)      Panjang tes, semakin panjang suatu tes evaluasi, semakin banyak jumlah item materi pembelajaran diukur.
2)      Penyebaran skor, koefisien reliabelitas secara langsung dipengaruhi oleh bentuk sebaran skor dalam kelompok siswa yang di ukur. Semakin tinggi sebaran, semakin tinggi estimasi koefisien reliable.
3)      Kesulitan tes, tes normative yang terlalu mudah atau terlalu sulit untuk siswa, cenderung menghasilkan skor reliabilitas rendah.

 

4)      Objektifitas, yang dimaksud dengan objektif yaitu derajat dimana siswa dengan kompetensi sama, mencapai hasil yang sama

Tipe-tipe Reliabilitas (skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi (2008) Ada beberapa tipe reliabelitas yang digunakan dalam kegiatan evaluasi dan masing-masing reliebelitas mempunyai konsistensi yang berbeda-beda. Beberap tipe reliebelitas di antaranya: tes-retes, ekivalen, dan belah dua yang ditentukan melalui korelasi.
Berbagai tipe tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1)      Relibalelitas Dengan Tes-Retes
Reliabelitas tes-retes tidak lain adalah derajat yang menunjukkan konsistensi hasil sebuah tes dari waktu ke waktu. Tes-Retes menunjukkan variasi skor yang diperoleh dari penyelenggaraan satu tes evaluasi yang dilaksanakan dua kali atau lebih, sebagai akibat kesalahan pengukuran. Dengan kata lain, kita tertarik dalam mencari kejelasan bahwa skor siswa mencapai suatu tes pada waktu tertentu adalah sama hasilnya, ketika siswa itu dites lagi dengan tes yang sama. Dengan melakukan tes-retes tersebut. Seorang guru akan mengetahui seberapa jauh konsistensi suatu tes mengukur apa yang ingin diukur (Sukardi, 2008).
Sedangkan Arikunto (1997: 88) Metode tes ulang (tes-retes) dilakukan untuk menghindari dua penyusunan dua seri tes. Dalam menggunakan teknik atau metode ini pengetes hanya memiliki satu seri tes tapi dicobakan dua kali. Oleh karena tesnya satu dan dicobakan dua kali, maka metode ini dapat disebut juga dengan single-test-double-trial-method.
Reliebelitas tes retes dapat dilakukan dengan cara seperti berikut:
  1. Selenggarakan tes pada suatu kelompok yang tepat sesuai dengan rencana.
  2. Setelah selang waktu tertentu, misalnya satu minggu atau dua minggu, lakukan kembali tes yang sama dengan kelompok yang sama tersebut.
  3. Korelasikan kedua hasil tes tersebut.
Jika hasil koefisien menunjukkan tinggi, berarti reliabilias tes adalah bagus. Sebaliknya, jika korelasi rendah, berarti tes tersebut mempunyai konsistensi rendah (Sukardi, 2008).
2)      Reliabelitas Dengan Bentuk Ekivalensi
Sesuai dengan namanya yaitu ekivalen, maka tes evaluasi yang hendak diukur reliabelitasnya dibuat identik dengan tes acuan. Setiap tampilannya, kecuali substansi item yang ada, dapat berbeda. Kedua tes tersebut sebaliknya mempunyai karate yang sama. Karakteristik yang dimaksud misalnya mengukur variabel yang sama, mempunyai jumlah item sama, struktur sama, mempunyai tingkat kesulitan dan mempunyai petunjuk, cara penskoran, dan interpretasi yang sama (Sukardi 2008).
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Arikunto (1997: 87) tes paralel atau equivalent adalah dua buah tes yang mempunyai kesamaan tujuan, tingkat kesukaran dan susunan, tetapi butir-butirnya berbeda. Dalam istilah bahasa Inggris disebut Alternate-forms method (parallel forms).
Tes reliabelitas secara ekivalen dapat dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Tentukan sasaran yang hendak dites
  2. Lakukan tes yang dimaksud kepada subjek sasaran tersebut.
  3. Administrasinya hasilnya secara baik.
  4. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, lakukan pengetesan yang kedua kalinya pada kelompok tersebut
  5. Korelasikan kedua hasil skor tersebut (Sukardi, 2008).
Perlu diketahui juga bahwa tes ekivalensi mempunyai kelemahan yaitu bahwa membuat dua buah tes yang secara esensial ekivalen adalah sulit. Akibatnya akan selalu terjadi kesalahan pengukuran (Sukardi, 2008). Pernyataan lain juga disampaikan oleh Arikunto (1997: 88) kelemahan dari metode ini adalah pengetes pekerjaannya berat karena harus menyusun dua seri tes. Lagi pula harus tersedia waktu yang lama untuk mencobakan dua kali tes.
3)      Reliebilitas Dengan Bentuk Belah Dua
Menurut Sukardi (2008: 47) Reliabilitas belah dua ini termasuk reliabilitas yang mengukur konsistensi internal. Yang dimaksud konsistensi internal adalah salah satu tipe reliabilitas yang didasarkan pada keajegan dalam setiap item tes evaluasi. Relibilitas belah dua ini pelaksanaanya hanya satu kali.
Cara melakukan reliabilitas belah dua pada dasarnya dapat dilakukan dengan urutan sebagai  berikut:
  1. Lakukan pengetesan item-item yang telah dibuat kepada subjek sasaran.
  2. Bagi tes yang ada menjadi dua atas dasar dua item, yang paling umum dengan membagi item dengan nomor ganjil dengan item dengan nomor genap pada kelompok tersebut.
  3. Hitung skor subjek pada kedua belah kelompok penerima item genap dan item ganjil.
  4. Korelasikan kedua skor tersebut, menggunakan formula korelasi yang relevan dengan teknik pengukuran (Sukardi, 2008).
Untuk mengetahui seluruh tes harus digunakan rumus Spearman-Brown (Arikunto, 1997):

Pengertian Reliabilitas (skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi (2008: 43) relaibelitas adalah karakter lain dari evaluasi. Reliabelitas juga dapat diartikan sama dengan konsistensi atau keajegan. Suatu instrument evaluasi dikatakan mempunyai nilai reliabelitas tinggi, apabila tes yang dibuat mempunyai hasil konsisten dalam mengukur yang hendak diukur.
Sehubungan dengan reliabelitas ini Scarvia B. Anderson dan kawan-kawan (dalam Arikunto, 1997) menyatakan bahwa persyaratan bagi tes, yaitu validitas dan reliabelitas ini penting. Dalam hal ini validitas lebih penting, dan reliabelitas ini perlu, karena menyokong terbentuknya validitas. Sebuah tes mungkin reliable tapi tidak valid. Sebaliknya tes yang valid biasanya reliable.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Validitas (skripsi dan tesis)

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil tes evaluasi tidak valid. Beberapa faktor tersebut secara garis besar dapat dibedakan menurut sumbernya, yaitu faktor internal dari tes, faktor eksternal tes, dan faktor yang berasal dari siswa yang bersangkutan.
1)      Faktor yang berasal dari dalam tes
  1. Arahan tes yang disusun dengan makna tidak jelas sehingga dapat mengurangi validitas tes
  2. Kata-kata yang digunakan dalam struktur instrument evaluasi, tidak terlalu sulit
  3. Item tes dikonstruksi dengan jelas.
  4. Tingkat kesulitan item tes tidak tepat dengan materi pembelajaran yang diterima siswa.
  5. Waktu yang dialokasikan tidak tepat, hal ini termasuk kemungkinan terlalu kurang atau terlalu longgar.
  6. Jumlah item terlalu sedikit sehingga tidak mewakili sampel
  7. Jawaban masing-masing item evaluasi bisa diprediksi siswa
2)      Faktor yang berasal dari administrasi dan skor tes.
  1. Waktu pengerjaan tidak cukup sehingga siswa dalam memberikan jawaban dalam situasi tergesa-gesa.
  2. Adanya kecrangan dalam tes sehingga tidak membedakan antara siswa yang belajar dengan melakukan kecurangan.
  3. Pemberian petunjuk dari dari pengawas yang tidak dapat dilakukan pada semua siswa.
  4. Teknik pemberian skor yang tidak konsisten.
  5. Siswa tidak dapat memngikuti arahan yang diberikan dalam tes baku.
  6. Adanya joki (orang lain bukan siswa) yang masuk dalam menjawab item tes yang diberikan.
3)      Faktor yang berasal dari jawaban siswa
Seringkali terjadi bahwa interpretasi terhadap item-item tes evaluasi tidak valid, karena dipengaruhi oleh jawaban siswa dari pada interpretasi item-item pada tes evaluasi (Sukardi, 2008).

Macam-macam Validitas (skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi (2008) secara metodologis validitas suatu tes dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu validitas isi, validitas konstruk, validitas konkruen dan validitas prediksi. Macam-macam validitas tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1)      Validitas isi
Yang dimaksud validitas isi ialah derajat dimana sebuah tes evaluasi mengukur cakupan substansi yang ingin diukur. Untuk mendapatkan validitas isi memerlukan dua spek penting, yaitu valid isi dan valid teknik sampling.Valid isi mencakup khususnya, hal-hal yang berkaitan dengan apakah item-item evaluasi menggambarkan pengukuran dalam cakupan yang ingin diukur. Sedangkan validitas teknik sampling pada umunya berkaitan dengan bagaimanakah baiknya suatu sampel tes mempresentasikan total cakupan isi (Sukardi, 2008).
Sedangkan Arikunto (1997: 64) sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena materi yang diberikan tertera dalam kurikulum maka validitas isi juga disebut validitas kurikuler.
2)      Validitas Konstruk
Validitas konstruk merupakan derajat yang menunjukkan suatu tes mengukur sebuah konstruk sementara atau Hyptotetical construct. Secara definitife, konstruk merupakan suatu sifat yang tidak dapat diobservasi, tetapi kita dapat merasakan pengaruhnya melalui salah satu atau dua indera kita (Sukardi, 2008).
Sedangkan Arikunto(1997: 64) sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berfikir seperti disebutkan dalam tujuan instruksional khusus. Dengan kata lain jika butir-butir soal mengukur aspek berfikir tersebut sudah sesuai dengan aspek berfikir yang menjadi tujuan instruksional.
3)      Validitas Konkruen
Validitas konkruen adalah derajat dimana skor dalam suatu tes dihubungkan dengan skor lain yang telah dibuat. Tes dengan validitas konkruen biasanya diadministrasi dalam waktu yang sama atau dengan criteria valid yang sudah ada. Sering kali juga terjadi bahwa tes dibuat atau dikembangkan untuk pekerjaan yang sama seperti beberapa tes lainnya, tetapi dengan cara yang lebih mudah dan lebih cepat. Validitas konkruen ditentukan dengan membangun analisis hubungan dan perbedaan (Sukardi, 2008).
4)      Validitas Prediksi
Validitas prediksi adalah derajat yang menunjukkan suatu tes dapat memprediksi tentang bagaimana baik seseorang akan melakukan suatu prospek  atau tugas atau pekerjaan yang direncanakan. Validitas prediksi suatu tes pada umumnya ditentukan dengan membangun hubungan antara skor tes dan beberapa ukuran keberhasilan dalam situasi tertentu yang digunakan untuk memprediksi keberhasilan, yang selanjutnya disebut sebagai predictor. Sedangkan tingkah laku yang diprediksi disebut criterion (Sukardi, 2008).
Sedangkan menurut Arikunto(1997: 66) memprediksi artinya meramal, dan meramal selalun mengenai hal yang akan datang jika sekarang belum terjadi. Sebuah tes memiliki validitas prediksi atau validitas ramalan apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

Pengertian Validitas Instrumen (skripsi dan tesis)

Karakter pertama dan memiliki peranan sangat penting  dalam instrument evaluasi adalah valid. Suatu instrument dikatakan valid, seperti yang duterangkan oleh Gay (1983) dan Johnson & Johnson (2002), apabila instrument yang digunakan dapat mengukur apa yang seharusnya diukur (Sukardi, 2008).
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Scarvia B. Anderson (dalam Arikunto, 1997) bahwa “A test is valid if it measures what is purpose to measure”. Atau jika diartikan krang lebih, sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Dalam bahasa Indonesia “Valid” disebut dengan istilah “Sahih”.
Menurut Sukardi (2008: 31) validitas instrument suatu evaluasi, tidak lain adalah derajat yang menunjukkan dimana suatu tes mengukur apa yang hendak diukur. Validitas suatu instrument evaluasi mempunyai beberapa makna penting diantaranya seperti berikut:
1)      Validitas berhubungan dengan ketepatan interpretasi hasil tes atau instrument evaluasi untuk group individual dan bukan instrument itu sendiri.
2)      Validitas diartikan sebagai derajat yang menunjukkan kategori yang bisa mencakup kategori rendah, menengah dan tinggi.
3)      Prinsip suatu tes valid, tidak universal. Validitas suatu tes yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah bahwa Ia hanya valid untuk suatu tujuan tertentu saja.

Manfaat Kegiatan Menganalisis Butir Soal (skripsi dan tesis)

Berdasarkan pendapat yang diungkapkan oleh Anastasia dan Urbina (1997) dalam Suprananto (2012), analisis butir soal memiliki banyak manfaat, diantaranya yakni:

  1. Membantu pengguna tes dalam mengevaluasi kualitas tes yang digunakan,
  2. relevan bagi penyusunan tes informal seperti tes yang disiapkan guru untuk siswa dikelas,
  3. mendukung penulisan butir soal yang efektif,
  4. secara materi dapat memperbaiki tes di kelas,
  5. meningkatkan validitas soal dan reliabilitas.

     Linn dan Gronlund (1995) dalam Suprananto (2012: 163), menambahkan bahwa pelaksanaan kegiatan analisis butir soal, biasanya didesain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Apakah fungsi soal sudah tepat?
  2. Apakah soal telah memiliki tingkat kesukaran yang tepat?
  3. Apakah soal bebas dari hal-hal yang tidak relevan?
  4. Apakah pilihan jawabannya efektif?

Selain itu, data hasil analisis butir soal juga sangat bermanfaat sebagai dasar untuk:

  1. Diskusi tentang efisien hasil tes,
  2. kerja remedial
  3. peningkatan secara umum pembelajaran di kelas,
  4. peningkatan keterampilan pada kontruksi tes.

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa analisis butir soal memberikan manfaat:

  1. Menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi dengan baik,
  2. meningkatkan butir soal melalui tiga komponen analisis yaitu, tingkat kesukaran, daya pembeda dan pengecoh soal,
  3. merevisi soal yang tidak relevan degan materi yang diajarkan, ditandai dengan banyaknya anak yang tidak dapat menjawab butir soal tertentu.

Parameter Item Tes yang Baik (skripsi dan tesis)

Sebagaimana telah disebut sebelumnya, bahwa item tes yang baik adalah item yang memenuhi syarat sebagaimana kriteria atau karakteristik item tes yang baik. Karakteristik item yang dimaksud adalah tingkat kesulitan atau kesukaran, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh.

  1. Tingkat Kesulitan atau Kesukaran

Tingkat kesukaran soal adalah peluang menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Tingkat kesukaran dinyatakan dalam indeks kesukaran (dificulty index), yaitu angka yang menunjukkan proporsi siswa yang menjawab benar soal tersebut. Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dan hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu.

Dalam hal ini, item yang baik adalah item yang tingkat kesukarannya dapat diketahui,  tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Sebab, tingkat kesukaran item itu memiliki korelasi dengan daya pembeda. Bilamana item memiliki tingkat kesukaran yang maksimal, maka daya pembedanya akan rendah, demikian pula bila item itu terlalu mudah maka tidak akan memiliki daya pembeda.

Oleh karena itu, sebaiknya tingkat kesukaran soal itu dipertahankan dalam batas yang mampu memberikan daya pembeda. Namun, jika terdapat tujuan khusus dalam penyusunan tes, maka tingkat kesukaran itu bisa dipertimbangkan.  Misalnya, tingkat kesukaran item untuk tes sumatif berbeda dengan tingkat kesukaran pada tes diagnostik.

Untuk menghitung taraf kesukaran soal dari suatu tes dipergunakan rumus sebagai berikut:

TK = U + L

             T

Keterangan:

U  = jumlah siswa yang termasuk kelompok pandai (upper group) yang menjawab benar untuk tiap soal.

   =  jumlah siswa yang termasuk kurang (lower group) yang menjawab benar untuk tiap soal.

T    =  jumlah siswa dari kelompok pandai dan kelompok kurang (jumlah upper group dan lower group)

Misalkan suatu tes yang terdiri atas N soal yang diberikan kepada 40 siswa. Dari hasil tes tersebut, tiap-tiap soal dianalisis taraf kesukarannya. mula-mula hasil tes itu kita susun kedalam peringkat, kemudian kita ambil 25% (10 lembar jawaban siswa kelompok pandai), dan 10 lembar jawaban siswa dari kelompok yang kurang pandai. Kemudian kita tabulasikan. Misalkan dari tabulasi soal kita peroleh hasil sebagai berikut: yang menjawab benar dari kelompok pandai ada 9 siswa, dan yang menjawab benar dari kelompok kurang pandai ada 4 siswa.

Dengan menggunakan rumus diatas, maka taraf kesukaran atau TK dari soal adalah:

TK =  U + L  =  9 + 4  =  0,65 atau 65%

             T             20 

Jadi dapat disimpilkan bahwa nilai dari TK atau tingkat kesukarannya adalah 65%.

Sedangkan dalam bukunya Drs. H. Daryanto, rumus untuk mencari taraf kesukaran atau indeks kesukaran adalah:

P =    B

         JS

Keterangan:

     =  indeks kesukaran.

    =  banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar.

JS    =  jumlah seluruh siswa peserta tes.

Contoh:

Jumlah siswa peserta tes dalam suatu kelas ada 40 siswa. Dari 40 siswa tersebut terdapat 12 siswa yang mampu mengerjakan soal no. 1 dengan benar. Maka berapa indeks kesukarannya?

Jawab:

P  =    B

          JS

    =    12

           40

    =   0,30

Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar.
  2. Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang.
  3. Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah.
  1. Daya Pembeda

Perhitungan daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana suatu butir soal mampu membedakan peserta didik yang sudah menguasai kompetensi dengan peserta didik yang belum atau kurang menguasai kompetensi berdasarkan kriteria tertentu. Semakin tinggi koofisien daya pembeda suatu butir soal, semakin mampu butir soal tersebut membedakan antara peerta didik yang menguasai kompetensi dengan pesertan didik yang kurang menguasai kompetensi.

Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi. Daya pembeda suatu soal tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

DP  =   U – L

              ½ T

Keterangan:

DP =   indeks DP atau daya pembeda yang dicari.

U = jumlah siswa yang termasuk dalam kelompok pandai yang mampu      menjawab benar untuk tiap soal.

L    =   jumlah siswa yang termasuk kurang yang menjawab benar untuk tiap soal.

T    =   jumlah siswa keseluruhan.

Contoh:

Dari hasil tes lomba olimpiade IPS, jumlah siswa yang dites adalah 40 siswa, sedangkan tes tersebut terdiri dari 20 soal. Setelah hasil tes tersebut diperiksa, kemudian disusun kedalam peringkat untuk menentukan 25% siswa yang termasuk kelompok pandai (upper group) dan 25% siswa yang termasuk kelompok kurang (lower group).

Kemudian hasil tes tersebut ditabulasikan dengan menggunakan format tabulasi jawaban tes, kemudian hasil tabulasi dari kedua kelompok tersebut dimasukkan kedalam format analisis soal tes, sehingga kita dapat menghitung tingkat kesukaran dan daya pembeda tiap soal yang kita analisis.

Misalkan dari tabulasi soal no. 1 kita peroleh hasil sebagai berikut: yang menjawab benar dari kelompok pandai ada 10 siswa, dan yang menjawab benar dari kelompok kurang ada 9 siswa. Maka daya pembedanya adalah:

 DP  =   U – L

              ½ T

       =    10 – 9

            ½ x (20)

       =      1

              10

      =     0,10

Jadi dapat disimpulkan bahwa indeks pembedanya adalah 0,10.

Dalam bukunya Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, dijelaskan mengenai klasifikasi daya pembeda, yaitu:

D =  0,00 – 0,20  =  jelek (poor).

D =  0,20 – 0,40  =  cukup (satisfactory).

D =  0,40 – 0,70  =  baik (good).

D =  0,70 – 1,00  =  baik sekali (excellent).

  1. Analisis pengecoh (Efektifitas Distraktor )

Instrumen evaluasi yang berbentuk tes dan objektif, selain harus memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan terdahulu, harus mempunyai distraktor yang efektif. Yang disebut dengan distraktor atau pengecoh adalah opsi-opsi yang bukan merupakan kunci jawaban (jawaban benar).

Butir soal yang baik pengecohnya akan dipilih secara merata oleh peserta didik yang menjawab salah. Sebaliknya, butir soal yang kurang baik, pengecohnya akan dipilih secara tidak merata. Pengecoh dianggap baik bila jumlah peserta didik yang memilih pengecoh itu sama atau mendekati jumlah ideal. Indeks pengecoh dihitung dengan rumus:

IP =   P  x   100%

       (N – B) (n – 1)

 Keterangan:

IP =  indeks pengecoh

P  =  jumlah peserta didik yang memilih pengecoh

N =  jumlah peserta didik yang ikut tes

B =  jumlah peserta didik yang menjawab benar pada setiap soal

n  =  jumlah alternatif jawaban

      1=  bilangan tetap

Catatan:

Jika semua peserta didik menjawab benar pada butir soal tertentu (sesuai kunci jawaban), maka IP = 0 yang berarti soal tersebut jelek. Dengan demikian pengecoh tidak berfungsi.

Contoh:

50 orang peserta didik dites dengan 10 soal bentuk pilihan ganda. Tiap soal memiliki alternatif jawaban (a, b, c, d, e). Kunci jawaban (jawaban yang benar) no. 8 adalah c. Setelah soal no.8 diperiksa untuk semua peserta didik, ternyata dari 50 orang peserta didik, 20 peserta didik menjawab benar dan 30 peserta didik menjawab salah. Idealnya, pengecoh dipilih secara merata.

Analisis Butir Soal Secara Kuantitatif (skripsi dan tesis)

Penelaahan soal secara kuantitatif adalah penelaahan butir soal didasarkan pada bukti empirik. Salah satu tujuan utama pengujian butir-butir soal secara emperik adalah untuk mengetahui sejauh mana masing-masing butir soal membedakan antara mereka yang tinggi kemampuannya dalam hal yang didefinisikan oleh kriteria dari mereka yang rendah kemampuannya.

Data empirik ini diperoleh dari soal yang telah diujikan. Ada dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif yaitu pendekatan secara klasik dan modern.

Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta tes guna meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Pada teori tes klasik, analisis item tes dilakukan dengan memperhitungkan kedudukan item dalam suatu kelas atau kelompok. Karakteristik atau kualitas item sangat tergantung pada kelompok dimana diujicobakan sehingga kualitas item terikat pada sampel responden atau peserta tes yang memberikan respons (sample bounded).

Ada beberapa kelebihan analisis butir soal secara klasik adalah murah, sederhana, familiar, dapat dilaksanakan sehari-hari dengan cepat menggunakan komputer dan dapat menggunakan beberapa data dari peserta tes.

Analisis butir soal secara modern adalah penelaahan butir soal dengan menggunakan teori respon butir atau item response theory. Teori ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu butir dengan kemampuan siswa.

Teori ini muncul karena adanya beberapa keterbatasan pada analisis secara klasik, yaitu:

  1. Tingkat kemampuan dalam teori klasik adalah true score. Artinya, jika suatu tes sulit maka tingkat kemampuan peserta tes akan rendah.sebaiknya, jika suatu tes mudah maka tingkat kemampuan peserta tes tinggi.
  2. Tingkat kesukaran butir soal didefinisikan sebagai proporsi peserta tes yang menjawab benar. Mudah atau sulitnya butir soal tergantung pada kemampuan peserta tes.
  3. Daya pembeda, reliabilitas, dan validitas tes tergantung pada kondisi peserta tes.

Analisis Butir Soal Secara Kualitatif (skripsi dan tesis)

Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap). Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan atau diujikan. Aspek yang diperhatikan dalam penelaahan secara kualitatif mencakup aspek materi, konstruksi, bahasa atau budaya, dan kunci jawaban.

Ada beberapa teknik yang digunakan untuk menganalisis butir soal secara kualitatif, yaitu teknik moderator dan teknik panel. Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang didalamnya terdapat satu orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan secara bersama-sama dengan beberapa ahli.

Sedangkan teknik panel adalah teknik menelaah butir soal berdasarkan kaidah penulisan butir soal. Kaidah itu diantaranya adalah materi, kontruksi, bahasa atau budaya, kebenaran kunci jawaban. Caranya beberapa penelaah diberikan beberapa butir soal yang akan ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penelaahan.

Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif penggunaan format penelaahan soal akan membantu dan mempermudah prosedur pelaksanaannya. Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk menganalisis setiap butir soal

Pengertian Analisi Butir Soal (skripsi dan tesis)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.

Analisis butir soal yang dalam bahasa inggris disebut item analiysis dilakukan terhadap empirik. Maksudnya, analisis itu baru dapat dilakukan apabila suatu tes telah dilaksanakan dan hasil jawaban terhadap butir-butir soal telah kita peroleh. Analisis butir soal adalah suatu kegiatan analisis untuk menentukan tingkat kebaikan butir-butir soal yang terdapat dalam suatu tes sehingga informasi yang dihasilkan dapat kita pergunakan untuk memperbaiki butir soal dan tes tersebut.

 

Identifikasi terhadap setiap butir item soal dilakukan dengan harapan akan menghasilkan berbagai informasi berharga, yang pada dasarnya akan merupakan umpan balik (feed back) guna melakukan perbaikan, pembenahan, dan penyempurnaan kembali terhadap butir-butir soal, sehingga pada masa-masa yang akan yang akan dating tes hasil belajar yang disusun atau dirancang oleh guru itu betul-betul dapat menjalankan fungsinya sebagai alat pengukur hasil belajar yang memiliki kualitas yang tinggi.

Aiken dalam Suprananto (2012) berpendapat bahwa kegiatan analisis butir soal merupakan kegiatan penting dalam penyusunan soal agar diperoleh butir soal yang bermutu. Tujuan kegiatan ini adalah:

  1. Mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum digunakan,
  2. meningkatkan kualitas butir tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif,
  3. mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka telah memahami materi yang telah diajarkan.

Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya tentang siswa mana yang telah menguasai materi dan siswa mana yang belum menguasai materi. Selanjutnya menurut Anastasia dan Urbina (1997) dalam Suprananto (2012), analisis butir soal dapat dilakukan secara kualitatif (berkaitan dengan isi dan bentuknya) dan kuantitatif (berkaitan dengan ciri-ciri statistiknya). Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruksi, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran validitas dan reliabilitas butir soal, kesulitan butir soal serta diskriminasi soal. Kedua teknik ini masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan, oleh karena itu teknik terbaik adalah menggunakan atau memadukan keduanya.

Analisis item (skripsi dan tesis)

Analisis item adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menganalisis apakah item-item pada suatu alat tes telah memenuhi fungsinya, yaitu:

  • Mewakili domain tingkah laku
  • Memiliki derajat kesulitan yang tepat
  • Memiliki daya diskriminasi yang maksimal

Menurut Kaplan & Saccuzzo (2005), analisis item adalah kegiatan mengevaluasi item-item alat tes. Dari kegiatan ini diharapkan didesain sebuah alat tes dengan jumlah item minimum, namun reliabilitas dan validitas yang maksimum.

Analisis item dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.

  • Kualitatif; menyangkut keterwakilan tingkah laku domain menjadi item dalam alat tes (konten dan form)à content validity (menyangkut expert judgement)
  • Kuantitatif; dibagi menjadi item difficulty & item discriminant.
    • item difficulty merupakan presentase (proporsi) orang yang menjawab item dengan benar (P), sedangkan
    • item discriminant adalah perbandingan antara proporsi orang yang menjawab benar dalam kelompok upper dengan proporsi orang yang menjawab benar dalam kelompok lower. Perbedaan proporsi ini disebut sebagai index of discrimination (D).

Teknik Analisis Fungsi Distraktor (skripsi dan tesis)

Pada saat membicarakan tentang tes obyektif bentuk multiple choice item telah dikemukakan bahwa pada tes obyektif bentuk multiple choice item tersebut untuk setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar telah dilengkapi dengan beberapa kemungkinan jawaban, atau yang sering dikenal dengan istilah option atau alternatif. Option atau alternatif itu jumlahnya berkisar antara tiga sampai dengan lima buah, dan dari kemungkinan-kemungkinan jawaban yang terpasang pada setiap butir item itu, salah satu diantaranya adalah merupakan jawaban betul (= kunci jawaban); sedangkan sisanya adalah merupakan jawaban salah. Jawaban-jawaban salah itulah yang biasa dikenal dengan istilah distractor (distraktor = pengecoh). Tujuan utama dari pemasangan distraktor pada setiap butir item itu adalah, agar dari sekian banyak testee yang mengikuti tes hasil belajar ada yang tertarik atau terangsang untuk memilihnya, sebab mereka menyangka bahwa distraktor yang mereka pilih itu merupakan jawaban betul. Jadi mereka pilih itu merupakan jawaban betul. Jadi mereka terkecoh. Tentu saja, makin banyak testee yang terkecoh, maka kita dapat menyatakan bahwa distraktoritu makin dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Distraktor dinyatakan telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distraktor tersebut sekurang-kurangnya sudah dipilih oleh 5% dari seluruh peserta tes. Misalnya, tes hasil belajar diikuti oleh 100 orang testee. Distraktor yang dipasang pada item tersebut dapat dinyatakan berfungsi apabila minimal 5% orang dari 100 orang testee itu sudah “terkecoh” untuk memilih distraktor tersebut.

Teknik Analisis Daya Pembeda Item (skripsi dan tesis)

Daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan ( mendiskriminasi) antara testee yang berkemampuan tinggi ( pandai), dengan testee yang berkemampuan rendah (= bodoh). Mengetahui daya pembeda item itu penting sekali, sebab salah satu dasar yang dipegangi untuk menyusun butir-butir item tes hasil belajar adalah adanya anggapan, bahwa kemampuan antara testee yang satu dengan testee yang lain itu berbeda-beda, dan bahwa butir-butir item tes hasil belajar itu haruslah mampu memberikan hasil tes yang mencerminkan adanya perbedaan-perbedaan kemampuan yang terdapat di kalangan testee tersebut. Daya pembeda item dapat diketahui dengan cara melihat besar kecilnya angka indeks diskriminasi item, yaitu angka yang nenunjukkan besar kecilnya daya pembeda (diskrimnasi power) butir item

Teknik Analisis Derajat Kesukaran Item (skripsi dan tesis)

 

Derajat kesukaran item atau taraf kesulitan butir-butir item tes hasil belajar heruslah seimbang atau sedang, dalam artian tidak terlalu sukar dan tidak terlalu sulit. Hal inilah yang membuat bermutu atau tidaknya butir-butir item tes hasil belajar. Untuk mengetahui tingkat kesulitan butir item tes hasil belajar dikenal dengan istilah difficulty index (angka index kesukaran item) dalam dunia evaluasi belajar umumnya dilambangkan dengan huruf P (proporstion).Dalam kaitan dengan hasil analisis item dari segi derajat kesukaran, maka tindak lanjut yang perlu dilakukan oleh tester adalah sbegai berikut: 1. Untuk butir-butir item yang berdasarkan hasil analisis dalam kategori baik, seyogyanya butir item tersebut segera dicatat dalam buku bank soal. 2. Untuk butir-butir item yang masuk dalam kategori terlalu sukar ada tiga kemungkinan yaitu: (1) butir item tersebut dibuang atau tidak dikelaurkan lagi dalam tes hasil belajar yang akan datang; (2) diteliti ulang, dilacak dan ditelusuri untuk mengetahui factor kesulitan dari butir item tersebutsetelah ada perbaikan maka buitr item terdebut dapat dikeluarkan lagi dalam tes hasil belajar yang akan datang; (3) butir item yang terlalu sukar tidak digunakan dalam tes hasil belajar tetapi dimanfaatkan untuk tes-tes yang lain seperti tes seleksi yang sifatnya ketat, dengan tujuan testee yang berkemampuan rendah akan mudah tersisihkan dari seleksi. 3. untuk butir item yang masuk dalam kategori mudah juga terdapat tiga kemungkinan yaitu: (1) buti item tersebut tidak dipakai dalam tes hasil belajar slanjutnya, (2) diteliti ulang, dilacak dan di telusuri faktornya, setelah ada perbaikan dapat dikeluarkan lagi pada tes hasil belajar berikunya untuk mengetahui derajat kesukarannya lebih baik ataukah tidak,(3) sama seperti halnya butir item yang sukar, butir item ini dapat digunakan dalam tes seleksi yang sifatnya longgar atau tes formalitas saja, tetapi tidak digunakan dalam tes hasil belajar. Kelemahan utama yang terdapat pada angka indeks kesukaran rata-rata P ialah, adanya hubungan yang terbalik antara derajat kesukaran item dengan angka indek itu sendiri. Karena makin rendah angka indeks kesukaran item yang dimiliki oleh sebutir item akan semkain tinggi derajat kesukaran item tersebut, sebaliknya semakin tinggi angka indeks kesukaran yang dimiliki oleh sebutir item, maka derajat kesukaran item tersebut semakin rendah. Jadi hubunga diantara keduanya hubungan yang berlawanan arah. Cara kedua yang dapat ditempuh dalam mencari atau menghitung angka indeks kesukaran item adalah dengan menggunakan skala kesukaran linear. Skala kesukaran linear ini disusun dengan cara mentransformasikan nilai P menjadi nilai z, dimana perubahan dari P ke z itu dilakukan dengan berkonsultasi pada tebal nilai z yang pada umumnya dilampirkan pada buku-buku statistik.

Pengukuran Dalam Analisa Item (skripsi dan tesis)

Menurut Crocker & Algina (1986) pengukuran yang umum digunakan dalam analisa item, adalah: Item difficulty, Item discrimination, dan Item-total correlation.

a. Item Difficulty

Jika skoring pada sebuah item itu dikotomi, maka rata-rata skor item berhubungan dengan banyaknya subyek yang menjawab item tersebut dengan benar. Proporsi orang yang menjawab benar untuk item inilah yang disebut dengan item difficulty, atau yang biasa diberi simbol p (Anastasi & Urbina, 1997).

b. Item Discrimination

Tujuan dari kebanyakan pengukuran psikologis adalah memberikan informasi mengenai perbedaan individu (individual differences) dalam hal konstruk yang diukur tes atau dari kriteria eksternal yang ingin diprediksi oleh alat tes tersebut

(Crocker&Algina, 1986). Oleh karena itu sebuah tes perlu memiliki daya diskriminasi. Pengertian dari daya diskriminasi adalah derajat dimana item dapat membedakan responden dengan skor tinggi dan skor rendah (Cohen&Swerdlik,2005).

erdapat beberapa metode untuk melihat daya diskriminasi sebuah item. Salah satu metodenya melakukan perbandingan dengan cara membedakan kelompok responden dengan menentukan titik potong pada distribusi skor (Crocker&Algina, 1986; Kaplan&Saccuzzo, 2005). Sedangkan metode lainnya merupakan metode koefisien korelasi. Berikut adalah penjelasan mengenai setiap metode.

c.  Item Total Corellation

Metode item-total correlation merupakan suatu teknik analisis item yang mengkorelasikan skor item dengan skor total keseluruhan(Crocker & Algina, 1986; Guilford, 1954; Kaplan & Saccuzzo, 2005; Nunnally & Bernstein, 1994). Dengan kata lain, daya diskriminasi item melihat apakah subyek yang mampu menjawab sebuah item dengan benar juga bisa menjawab dengan benar pada item- item lainnya (Kaplan, 2005). Beberapa jenis korelasi yang digunakan dalam pengujian ini adalah Pearson’s Product Moment Correlation, Point Biserial Correlation, Biserial Correlation, Phi Coefficient, atau Tetrachoric Correlation Coefficient (Crocker & Algina, 1986). Grimm (1993) menjelaskan bahwa jika skor item dan skor total berupa variabel kontinu maka metode korelasi yang digunakan adalah Pearson’s Product Moment Correlation. Kemudian jika variabel skor total adalah kontinu dan skor item dikotomi, maka metode korelasi yang digunakan adalah Point Biserial atau Biserial Correlation.

Analisis Item (skripsi dan tesis)

Dalam penyusunan sebuah alat ukur, tahapan yang harus dilakukan adalah analisis item (Guilford & Fruchter, 1985). Istilah analisis item digunakan untuk mendefinisikan perhitungan dan pengujian statistikal terhadap skor-skor item alat ukurindividual (Crocker & Algina, 1986). Sebuah item dapat dianalisa, baik itu analisa kualitatif (berdasarkan isi maupun bentuk dari item tersebut) dan analisa kuantitatif (berdasarkan muatan-muatan statistik seperti daya prediktif, daya beda dari item tersebut). Analisa kualitatif mencakup pertimbangan isi validitas, sedangkan analisa kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi item (Anastasi & Urbina, 1997). Tujuan utama dalam melakukan analisa item adalah untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas suatu alat ukur(Guilford & Frutcher, 1985).

Faktor – faktor yang mempengaruhi belajar (skripsi dan tesis)

Secara garis besar, Suryabrata (1989) menyatakan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: 1. Faktor – faktor yang berasal dari dalam diri pembelajar, yang meliputi: (a) faktor – faktor fisiologis (b) faktor – faktor psikologis. 2. Faktor – faktor yang berasal dari luar diri pembelajar, yang meliputi: (a) faktor – faktor sosial (b) faktor – faktor non sosial. Faktor – faktor fisiologis yang mempengaruhi belajar mencakup dua hal, yaitu: 1. Keadaan jasmani pada umumnya. Keadaan jasmani yang segar akan siap dan aktif dalam belajarnya, sebaliknya orang yang keadaan jasmaninya lesu dan lemas akan mengalami kesulitan untuk menyiapkan diri dalam melakukan aktifitas belajar. 2. Keadaan fungsi – fungsi fisiologis tertentu. Keadaan fungsi – fungsi fisiologis tertentu, terutama kesehatan pancaindra merupakan alat untuk belajar. Karenanya, berfungsinya indra dengan baik merupakan syarat untuk dapatnya belajar itu berlangsung dengan baik. Indra yang terpenting dalam hal ini adalah mata dan telinga karena kedua indra inilah yang merupakan pintu gerbang masuknya berbagai informasi yang diperlukan dalam proses belajar.
 Faktor – faktor psikologis yang mempengaruhi belajar antara lain mencakup: 1. Minat, adanya minat terhadap objek yang dipelajari akan mendorong orang untuk mempelajari sesuatu dan mencapai hasil belajar yang maksimal. Karena minat merupakan komponen psikis yang berperan mendorong seseorarng untuk meraih tujuan yang diinginkan, sehingga ia bersedia melakukan kegiatan berkisar objek yang diminati. 2. Motivasi, motivasi belajar seseorang akan menentukan hasil belajar yang dicapainya. Bahkan dua orang yang sama, namun memiliki motivasi belajar yang berbeda. Maslow (dalam Frandsen, 1961) mengemukakan motif – motif belajar itu ialah: a. Adanya kebutuhan fisik b. Adanya kebutuhan akan rasa aman c. Adanya kebutuhan akan kecintaan dan penerimaan dari orang lain d. Adanya kebutuhan untuk mendapat kehormatan e. Adanya kebutuhan untuk aktualisasi diri 3. Intelegensi, merupakan modal utama dalam melakukan aktivitas belajar dan mencapai hasil belajar yang maksimal. Orang berintelegensi rendah tidak akan mungkin mencapai hasil belajar yang melebihi orang yang berintelegensi tinggi. 4. Memori, kemampuan untuk merekam, menyimpan, dan mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajari akan sangat membantu dalam proses belajar dan mencapai hasil belajar yang baik. 5. Emosi, penelitian tentang otak menunjukkan bahwa emosi yang positif akan sangat membantu kerja saraf otak untuk “merekatkan” apa yang dipelajari ke dalam memori (Goleman, 1995; LeDoux, 1993, MacLean, 1990). Karena informasi pelajaran yang dikirim ke pusat memori melalui amygdala sebagai pusat emosi berjalan tanpa halangan.
Faktor – faktor sosial yang mempengaruhi belajar merupakan faktor manusia baik manusia itu hadir secara langsung maupun tidak. Faktor ini mencakup: 1. Orang tua, diakui bahwa orang tua, fasilitas belajar yang disediakan, perhatian, dan motivasi merupakan dukungan belajar yang harus diberikan orang tua untuk kesuksesan belajar anak. 2. Guru, terutama kompetensi pribadi dan profesional guru sangat berpengaruh pada proses dan hasil belajar yang dicapai anak didik. 3. Teman – teman atau orang – orang di sekitar lingkungan belajar, kehadiran orang lain secara langsung maupun tidak langsung dapat berpengaruh buruk atau baik pada belajar seseorang. Faktor – faktor non-sosial yang memengaruhi belajar merupakan faktor – faktor luar yang bukan faktor manusia yang memengaruhi proses dan hasil belajar, diantaranya: 1. Keadan udara, suhu, dan cuaca. Keadaan udara dan suhu yang terlalu panas dapat membuat seseorang menjadi tidak nyaman belajar sehingga juga tidak mencapai hasil belajar yang maksimal. 2. Waktu. Sebagian besar orang lebih mudah memahami pelajaran di pagi hari dibanding siang dan sore hari. 3. Tempat. Seseorang biasanya sulit belajar ditempat yang ramai dan bising. 4. Alat – alat atau perlengkapan belajar. Dalam pembelajaran tertentu yang memerlukan alat, belajar tidak akan mencapai hasil yang maksimal jika tanpa alat tersebut.

Definisi Belajar (skripsi dan tesis)

Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti Universitas Sumatera Utara keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Pada dasarnya belajar merupakan tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif (Syah, 2003). Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar (Abdurrahman,1999). Dalam kegiatan pembelajaran, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan – tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional. Menurut Benjamin S. Bloom tiga ranah hasil belajar yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Menurut A.J. Romizowski hasil belajar merupakan keluaran (output) dari suatu sistem pemrosesan masukan (input). Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam – macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau kinerja (performance) (Abdurrahman, 1999). Untuk memperoleh hasil belajar, dilakukan evaluasi atau penilaian yang merupakan tindak lanjut atau cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa. Kemajuan prestasi belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan tetapi juga sikap dan keterampilan. Dengan demikian penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya (Juliah, 2004). Menurut Hamalik (2003) hasil belajar adalah pola – pola perbuatan, nilai – nilai, pengertian – pengertian dan sikap – sikap, serta persepsi dan abilitas. Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa secara nyata setelah dilakukan proses belajar sesuai dengan tujuan pengajaran.Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap – sikap baru, yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa (Hamalik, 2005)

Karakteristik Kurikulum 2013 (skripsi dan tesis)

Kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut (Kemdikbud, 2013: 3). 1. Mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, serta kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik. 2. Sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana di mana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar. 3. Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat. 4. Memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 5. Kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran. 22 6. Kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi dasar, di mana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti. 7. Kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antarmata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).

Kurikulum 2013 (skripsi dan tesis)

Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang merupakan penyempurnaan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum 2013 yang diberlakukan mulai tahun ajaran 2013/2014 memenuhi dua dimensi kurikulum sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, lalu yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran (Kemdikbud, 2013: 1).

Pengertian Kurikulum (skripsi dan tesis)

Kata kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yakni curere. Semula kata curere berupa istilah dalam dunia atletik, artinya “suatu jarak yang harus ditempuh”. Istilah tersebut kemudian masuk ke dalam dunia pendidikan yang diartikan sejumlah mata pelajaran tertentu yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tingkatan (Husen dkk., 1997: 4). Dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Pasal 1 Ayat (16), kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Selain itu, kurikulum adalah suatu program pendidikan yang menyatakan tujuan pendidikan program tersebut (tujuan); isi/bobot berupa prosedur pengajaran dan pengalaman belajar yang perlu untuk mencapai tujuan tersebut (sarana); dan beberapa sarana untuk menilai apakah tujuan pendidikan itu telah tercapai atau tidak (Richard dalam Tarigan, 1990: 78). Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah suatu program pendidikan yang direncanakan dan dirancang secara sistematik sebagai pedoman dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan program tertentu

Kriteria Buku Teks yang Baik (skripsi dan tesis)

Berdasarkan pendapat Greene dan Petty (dalam Tarigan, 2009: 21) terdapat 10 kriteria yang harus dipenuhi untuk buku teks yang berkualitas tinggi, antara lain sebagai berikut. 1. Buku teks harus menarik minat anak-anak. 2. Buku teks harus mampu memberi motivasi bagi siswa. 3. Buku teks juga harus memuat ilustrasi yang menarik hati para siswasiswanya. 4. Buku teks seyogyanya harus mempertimbangkan aspek-aspek linguistik. 5. Buku teks juga haruslah berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya. 6. Buku teks juga harus menstimulasi atau merangsang aktivitas-aktivitas pribadi para siswa. 7. Buku teks haruslah dengan sadar dan tegas menghindari konsep-konsep yang samar-samar. 8. Buku teks juga harus mempunyai sudut pandang yang jelas. 9. Buku teks haruslah mampu memberi pemantapan penekanan nilai-nilai anak dan orang dewasa. 10. Buku teks harus menghargai perbedaan-perbedaan pribadi para siswa dan pemakaiannya.

Fungsi Buku Teks (skripsi dan tesis)

Fungsi buku teks (Tarigan, 2009: 98), antara lain 1. sarana pelaksanaan kurikulum, 2. memasyarakatkan ilmu, 3. menyajikan sudut pandang tertentu, 4. sumber belajar sistematis dan bertahap, 5. menyajikan masalah yang bervariasi dan serasi, 6. menyajikan aneka metode dan sarana pengajaran, 7. menyajikan fiksasi awal bagi tugas-tugas, serta 8. menyajikan sumber bahan evaluasi dan pengajaran remedial. Selain itu, buku teks juga mempunyai fungsi sebagai (1) sarana pengembang bahan dan program pendidikan; (2) sarana pemerlancar tugas akademik guru; (3) sarana pemerlancar ketercapaian tujuan pembelajaran; dan (4) sarana pemerlancar efisien dan efektivitas kegiatan pembelajaran (Agustina, 2011: 12). Berdasarkan pendapat di atas, penulis mengacu kepada pendapat yang menyatakan fungsi buku teks antara lain sarana pelaksanaan kurikulum, memasyarakatkan ilmu, menyajikan sudut pandang tertentu, sumber belajar sistematis dan bertahap, menyajikan masalah yang bervariasi dan serasi, 19 menyajikan aneka metode dan sarana pengajaran, menyajikan fiksasi awal bagi tugas-tugas, serta menyajikan sumber bahan evaluasi dan pengajaran remedial (Tarigan, 2009: 98).

Karakteristik siswa sekolah dasar (skripsi dan tesis)

Karakteristik siswa, menurut Hamzah B Uno (2011: 20), adalah “aspekaspek atau kualitas perseorangan siswa seperti bakat, motivasi, dan hasil belajar yang dimiliki”. Setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal fisik maupun psikisnya. Dalam perkembangannya, siswa sekolah dasar mempunyai karakteristik sebagai berikut. Masa kanak-kanak akhir dibagi menjadi dua fase:

1. Masa kelas-kelas rendah Sekolah Dasar (SD) yang berlangsung antara usia 6/7 tahun-9/10 tahun biasanya duduk di kelas 1,2 dan 3. Ciri-ciri anak masa kelas-kelas rendah SD adalah sebagai berikut. a. Ada hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah.
b. Suka memuji diri sendiri. c. Kalau tidak dapat menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan, tugas atau pekerjaan itu dianggap tidak penting.
 d. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain, jika hal itu menguntungkan dirinya. e. Suka meremehkan orang lain.
 2. Masa kelas-kelas tinggi Sekolah Dasar (SD) yang berlangsung antara usia 9/10 tahun-12/13 tahun, biasanya duduk di kelas 4,5 dan 6. Ciri-ciri anak masa kelas-kelas tinggi SD adalah sebagai berikut. a. Perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari.
b. Ingin tahu, ingin belajar dan realistis. c. Timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus. d. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.
e. Anak-anak suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk bermain bersama dan membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya (Rita Eka Izzaty dkk, 2008:116-117).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik siswa kelas IV SD se-gugus2 Pengasihyang rata-rata berusia antara 9-10 tahun memiliki karakteristik diantaranya yaitu mempunyai perhatian pada kehidupan praktis sehari-hari, mempunyai minat pada mata pelajaran tertentu, selalu ingin tahu, ingin belajar, memandang nilai sebagai ukuran yang tepat 39 mengenaiprestasi belajarnya di sekolah dan suka membentuk kelompok sebaya dan membuat sendiri aturan dalam kelompoknya

Pengaruh Konsep Diri terhadap Minat Belajar Matematika (skripsi dan tesis)

Frymeir (dalam Farida Rahim, 2008: 28-29) berpendapat bahwa konsep diri berkaitan dengan berguna atau tidaknya bagi diri siswa. Siswa akan berminat dengan Matematika jika Matematika dipandang berguna dan membantu meningkakan dirinya. Guru dapat melakukannya dengan cara menghubungkan bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu dan menjelaskan kegunaan Matematika di masa yang akan datang. 37 Ketika siswa mengalami kegagalan yang berulang-ulang, kemungkinan siswa akan merasa rendah diri dan kurang termotivasi dalam mengikuti pelajaran Matematika (Slameto, 2003:183). Jika siswa merasa masa lalunya gagal dalam Matematika, ia akan menilai dirinya kurang pula. Hal tersebut tentu akan membuat siswa merasa kurang senang terhadap pelajaran Matematika yang mengakibatkan kurang minat terhadap pelajaran Matematika. Konsep diri merupakan penilaian terhadap diri sendiri sebagai hasil interaksi dengan orang lain. Ketika anak mendapat dukungan dari orang tua untuk mengembangkan minat Matematikanya, anak akan menilai dirinya mampu dalam memahami materi dan mengerjakan soal Matematika. Dorongan dan pemenuhan kebutuhan anak diperlukan agar anak merasa bahwa orang lain memperdulikan dia.
Oleh karena itu, siswa harus memiliki konsep diri yang positif agar mampu mengembangkan minat terhadap pelajaran tertentu seperti minat terhadap pelajaran Matematika. Demikian pula dalam hal minat belajar Matematika dalam Standar kompetensi 2 yaitu memahami dan menggunakan faktor dan kelipatan dalam pemecahan masalah meliputi kompetensi dasar 2.3 menentukan kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dan faktor persekutuan terbesar (FPB) dan kompetensi 2.4 menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB. Siswa kelas IV yang memiliki konsep diri yang positif akan mampu mengembangkan minat terhadap materi KPK dan FPB tersebut dengan baik

Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar (skripsi dan tesis)

Matematika dianggap ilmu yang membutuhkan kecerdasan yang tinggi, sedangkan siswa yang memiliki kecerdasan yang sedang merasa kurang termotivasi dalam belajar Matematika. Padahal kalau diajarkan secara benar 35 yaitu menggunakan hal-hal yang konkret bagi siswa sekolah dasar, anggapan itu mungkin akan hilang. Hal ini seperti yang dikatakan bahwa “siswa sekolah dasar yang umumnya berusia 7-12 tahun di mana menurut Jean Piaget termasuk dalam tahap operasional konkret” (dalam Muchtar A Karim dkk, 1996: 20-21). Pada usia tersebut anak mengembangkan konsep dengan menggunakan benda-benda konkret. Artinya siswa akan mengerti materi Matematika yang disampaikan guru apabila menggunakan benda-benda konkret. Untuk itu, dalam proses pembelajaran guru harus bertindak efektif untuk meningkatkan motivasi belajar Matematika pada siswa dengan cara sebagai berikut.
a. “Pembelajaran Matematika di sekolah dasar akan lebih menarik perhatian siswa jika proses pembelajarannya sesuai dengan konteks siswa”. (Masykur, 2006: 58). Konteks siswa yang dimaksud adalah melalui pengalaman yang terjadi di lingkungan siswa seperti latar belakang fisik, keluarga, keadaan sosial, keadaan ekonomi dan budaya.
 b. “Guru membantu dan mendorong siswa untuk mengembangkan pemikiran atau penalaran siswa sendiri” (Masykur, 2006: 59). Kemudian menghubungkannya dengan pemikiran orang lain dan disimpulkan sesuai dengan konteks pelajaran. Dan terakhir guru meminta siswa untuk merealisasikan gagasan siswa.
c. “Memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam pemahaman materi maupun kesulitan mengerjakan soal” (Masykur, 2006: 36 61). Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk kecil, pemberian model penyelesaian tugas, pemberitahuan kekeliruan, dan menjaga emosional siswa agar tidak frustasi.
d. “Menumbuhkan minat siswa dalam belajar Matematika” (Masykur, 2006: 70). Minat akan membantu siswa untuk menyenangi materi pelajaran Matematika. Tanpa minat, siswa akan malas untuk belajar. Menumbuhkan minat siswa akan terkait dengan pendekatan pembelajaran, metode, ruang belajar, dan suasana belajar yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Penyampaian materi Matematika yang benar, diharapkan agar Matematika lebih menyenangkan, mengasyikkan, dinamis, dan humanis bagi siswa. Dengan tujuan agar siswa mampu memahami konsep Matematika, menggunakan penalaran dalam Matematika, memecahkan masalah dalam Matematika, mampu mengkomunikasikan gagasan Matematika, dan memiliki sikap menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan sehari-hari

Tujuan Matematika Sekolah Dasar (skripsi dan tesis)

 Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 Tahun 2006 dijelaskan bahwa tujuan pelajaran Matematika di sekolah dasar agar peserta didik mempunyai kemampuan sebagai berikut (Masykur, 2006: 52-53). a) Memahami konsep Matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah. b) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi Matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan Matematika. c) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model Matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh. d) Mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. e) Memiliki sikap menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari Matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Dari pernyataan tersebut disimpulkan bahwa pelajaran Matematika perlu diberikan kepada siswa sekolah dasar dengan tujuan agar siswa mampu memahami konsep Matematika, menggunakan penalaran dalam Matematika, memecahkan masalah dalam Matematika, mampu mengkomunikasikan gagasan Matematika, dan memiliki sikap menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Matematika (skripsi dan tesis)

Menurut Depdiknas (2003: 1) “Matematika berasal dari bahasa Latin “manthanein” atau “mathema” yang artinya belajar atau yang dipelajari”. Sedangkan Masykur dkk (2007: 42) menyatakan bahwa “Matematika menurut bahasa Sansekerta “medha” atau “widya” yang berarti kepandaian”. Dengan mempelajari Matematika seseorang akan mengatur jalan pikirannya dan menambah kepandaiannya. Matematika sama halnya dengan ilmu logika. “Kedudukan Matematika dalam ilmu pengetahuan adalah sebagai ilmu dasar” (Masykur dkk 2007: 42). Sehingga untuk menguasai sains, teknologi dan ilmu lainnya, langkah awal yang dikuasai adalah menguasai Matematika secara benar artinya dapat memahami makna-makna yang terkandung dalam simbol dan lambang dalam Matematika. “Matematika juga merupakan alat komunikasi yang jelas, tepat dan singkat (Masykur dkk, 2007: 49). Dalam Matematika terdapat rumus yang jika ditulis  dalam bahasa verbal membutuhkan jumlah kalimat yang banyak. Hal tersebut kemungkinan akan menyebabkan kesalahan intrepretasi ataupun kesalahan informasi. Misalnya a=b:c, b≠0 apabila diverbalkan akan membutuhkan deretan kata yang jumlahnya banyak yaitu a sama dengan b dibagi c dengan syarat b tidak sama dengan nol. Apabila diverbalkan, kemungkinan saat membaca pernyataan tersebut akan menimbulkan salah tafsir dalam penjedaan misalnya mengartikan bahwa a sama dengan b, hasil tersebut kemudian dibagi c. Padahal yang diharapkan adalah b dibagi c sama dengan a.
 Dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ciri bahasa Matematika adalah jelas, tepat, dan singkat. “Matematika merupakan ilmu penalaran deduktif yang menyatakan bahwa kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya” (Depdiknas, 2003: 2). Namun demikian, pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui pengalaman nyata. Misalnya mengamati fakta yang ada, melihat gejala, dan dilanjutkan dengan memperkirakan hasil baru yang diharapkan, kemudian dibuktikan secara deduktif. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa Matematika merupakan ilmu logika yang menuntun seseorang yang belajar Matematika untuk berfikir secara logis. Matematika digunakan sebagai dasar untuk menguasai sains dan teknologi.

Indikator Minat Belajar (skripsi dan tesis)

Menurut Hurlock (2006: 115) ciri-ciri minat anak adalah sebagai berikut.
a. Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental. Minat disemua bidang berubah selama terjadi perubahan fisik dan mental. Anak-anak yang tumbuh lebih lambat dari teman sebayanya akan mengalami masalah saat menghadapi masalah sosialnya. Hal tersebut dikarenakan minat mereka masih minat anak sedangkan minat teman sebayanya sudah mencapai minat remaja. Dan sebaliknya, anak-anak yang berkembang lebih cepat juga akan mengalami masalah sosialnya karena  minat teman sebayanya adalah minat anak sedangkan minatnya sudah minat remaja.
b. Minat bergantung pada kesiapan belajar Anak-anak tidak dapat mempunyai minat sebelum mereka siap secara fisik dan mental. Misalnya anak belum mempunyai minat terhadap sepak bola sebelum memiliki kekuatan dan koordinasi otot yang diperlukan untuk bermain sepak bola.
c. Minat bergantung pada kesempatan belajar Lingkungan untuk belajar bagi siswa diawali dari rumah, maka minat anak terbatas pada rumah. Dengan bertambah luas lingkungan sosialnya, maka bertambah luaslah minat mereka.
d. Perkembangan minat mungkin terbatas Ketidakmampuan fisik dan mental serta pengalaman sosial akan membatasi minat anak. Misalnya anak yang memiliki kecatatan fisik mungkin akan kurang berminat pada bidang olah raga.
e. Minat dipengaruhi pengaruh budaya Anak-anak mendapat kesempatan oleh orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya untuk belajar apa saja yang dianggap oleh kelompok budayanya merupakan minat yang sesuai. Sebaliknya, anak-anak tidak diberi kesempatan untuk menekuni minat yang tidak sesuai dengan budayanya.
f. Minat berbobot emosional Bobot emosional yang kurang menyenangkan akan melemahkan minat dan bobot emosional yang menyenangkan akan memperkuat minat.
 g. Minat itu egosentris Sepanjang masa perkembangan anak-anak, minat it egosentris. Misalnya anak laki-laki yang mempunyai minat pada Matematika karena berfikir bahwa Matematika merupakan langkah penting menuju kedudukan yang menguntungkan.
 Menurut Slameto (2003: 58) indikator siswa yang mempunyai minat dalam suatu kegiatan tertentu adalah sebagai berikut.
1. Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menyenangi beberapa kegiatan. 2. Kegiatan yang diminati akan diperhatikan terus menerus disertai rasa senang.
3. Memperoleh kepuasaan dari kegiatan yang diminati.
4. Minat pada kegiatan tertentu akan diimplementasikan melalui partisipasi aktif.
5. Lebih menyukai kegiatan tertentu daripada kegiatan yang lain. Berdasarkan pendapat ahli tersebut, penelitian ini menggunakan indikator minat belajar menurut Slameto untuk dikembangkan dalam instrumen penelitian

Pengertian Minat belajar (skripsi dan tesis)

Menurut Pusat Bahasa Depdiknas (2001: 744), kata “minat” memiliki arti kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, dan keinginan”. Keinginan tersebut dapat berasal dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Slameto dalam Djali (2008: 121) juga memaparkan bahwa “minat merupakan rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada sesuatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Dengan kata lain, minat timbul dari dalam diri sendiri”. Selanjutnya Hurlock (1978: 114) menjelaskann bahwa “minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih”. Bila seseorang melihat sesuatu akan menguntungkan baginya, maka seseorang akan berminat terhadap sesuatu. Demikian halnya pada seorang siswa yang merasakan bahwa belajar akan menguntungkan baginya, maka ia akan berminat terhadap belajar. Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas disimpulkan bahwa minat adalah rasa lebih suka dan ketertarikan seseorang terhadap kegiatan tertentu tanpa ada paksaan dari orang lain. Dalam hal ini, minat dapat menimbulkan motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan tertentu.
Anita E Wool Folk (dalam Sunaryo Kartadinata, 1998: 57) memaparkan bahwa “belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari pengalaman”. Morgan dkk (dalam Mulyani, 1998: 15) menguatkan pendapat Anita bahwa “belajar dicirikan dengan perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan dan pengamatan”.  Moh. Uzer Usman (2006: 5) menjelaskan bahwa “belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya”. Setelah mengalami proses belajar, individu akan mengalami perubahan tingkah laku baik aspek pengetahuan, ketrampilan, maupun aspek sikapnya. Tidak semua perubahan tingkah laku dikatakan belajar. Dalam konteks sekolah, seorang anak dikatakan belajar apabila perubahan yang terjadi pada siswa sesuai dengan kebutuhankebutuhan sekolah.

Tinjauan tentang Belajar (skripsi dan tesis)

Fontana berpendapat bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengamatan. Sedangkan menurut Morgan belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Pendapat lain diutarakan oleh Muhibbinn Syah yang mengartikan belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.  Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, maka dapat dikatakan bahwa terdapat tiga komponen dalam kegiatan belajar yakni: sesuatu yang dipelajari, proses belajar dan hasil belajar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktifitas atau usaha yang disengaja yang menghasilkan perubahan berupa sesuatu. Berkaitan dengan belajar, mucul beberapa teori-teori belajar dari para ahli antara lain sebagai berikut.

1. Teori Koneksionisme

Teori ini dikemukakan oleh Torndike, pendapatnya menyatakan bahwa belajar merupakan proses pembentukan dan penguatan hubungan antara stimulus dan respon.

2. Teori Gestalt

Teori ini menegaskan dalam belajar yang penting adalah penyesuaian, pertama yaitu mendapatkan yang tepat, hal ini sangat tergantung pada pengamatan. Dengan kata lain pemecahan problem sangat tergantung pada pengamatan, apabila dapat melihat situasi itu dengan tepat maka problem pencerahan dan dapat memecahkan problem itu

. 3. Teori Guthrie

Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai serangkaian tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Unit-unit ini merupakan respon dari stimulus sebenarnya, respon ini kemudian menjadi stimulus dan menimbulkan respon baru, demikian seterusnya. Guthrie mengatakan, dengan prinsip belajar conditioning, dia mencoba mengubah tingkah laku yang kurang baik. Adapun metode untuk mengubah tingkah laku yaitu reaksi berlawanan, membosankan, dan mengubah lingkunag.

4. Teori Bandura Bandura

menyatakan bahwa proses belajar terjadi denganmengalami dan meniru apa yang ada disekitarnya. Ia menanamkan teorinya dengan social learning dengan menggunakan prinsip modeling dan imitation. Menurutnya  tingkah laku imitasi atau peniruan dari anak tergantung karakteristik, penonton dan karakteristik model.

Dari beberapa teori tersebut dapat dikatakan bahwa hal penting saat kita belajar adalah adanya tingkah laku yang merupakan bagian dari stimulus dan respon. Manusia dapat berfikir dan mengatur tingkah lakunya sendiri untuk mencapai tujaannya dalam kegiatan belajar yang artinya manusia memiliki sistem self. Sistem self bukan unsur psikis yang mengatur tingkah laku, tetapi mengacu ke strukttur kognitif yang memberi pedoman mekanisme dan seperangkat fungsi-fungsi persepsi, evaluasi, dan pengaturan tingkah laku.Banyak sekali istilah dan teori yang berkaitan dengan self, salah satunya adalah self efficacy yang dikemukakan oleh Albert Bandura.

Standar Kompetensi Guru Pendidikan Khusus (skripsi dan tesis)

Kompetensi inti guru pendidikan khusus menyesuaikan kompetensi inti guru sekolah umum sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007.

1. Kompetensi Pedagogik.

a. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional dan intelektual.

b. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.

c. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.

d. Menyelenggarakan pembelajaran/pengembangan yang mendidik.

e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran/pengembangan yang mendidik.

f. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

g. Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik.

h. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.

2. Kompetensi Kepribadian.

a. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional Indonesia.

b. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

c. Menampilkan diri sebagai pribadi yang sabar, tekun, mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa.

d. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

3. Kompetensi Sosial.

a. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi.

b. Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.

c. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya

Komponen-Komponen Utama Sekolah Luar Biasa (skripsi dan tesis)

Komponen-komponen utama yang selalu terdapat dalam proses pembelajaran di sekolah luar biasa adalah:

a. Peserta didik

peserta didik berkebutuhan khusus berdasarkan PP RI No. 72 tahun 1991 terdiri atas kelainan fisik yang meliputi tuna netra, tuna rungu, tuna daksa. Kelainan mental yang meliputi tuna grahita ringan, tuna grahita sedang. Kelainan perilaku yaitu tuna laras atau gabungan diantaranya. Termasuk diantaranya anak autis, lambat belajar dan hiperaktif.

b. Tujuan, tujuan PLB secara rinci yaitu:

1. Mengembangkan kehidupan anak didik dan siswa sebagai pribadi sekurang- kurangnya mencakup upaya untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan, membiasakan berperilaku yang baik, memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar, memelihara kesehatan jasmani dan rohani, memberikan kemampuan untuk belajar dan kepribadian yang mantap dan mandiri.

2. Mengembangkan kehidupan anak didik dan siswa sebagai anggota masyarakat yang sekurang-kurangnya mencakup upaya untuk memperkuat kesadaran hidup beragama dalam masyarakat, menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam lingkungan hidup, memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

3. Mempersiapkan siswa untuk dapat memiliki keterampilan sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja.

4. Mempersiapkan anak didik dan siswa untuk mengikuti pendidikan lanjutan dalam menguasai isi kurikulum yang disyaratkan.

c. Guru

guru SLB berdasarkan PP RI No. 72 tahun 1991 adalah: “Tenaga kependidikan pada satuan pendidikan luar biasa merupakan tenaga kependidikan yang memiliki kualifikasi khusus sebagai guru pada satuan pendidikan luar biasa”. Setiap komponen pembelajaran saling melengkapi untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Hakikat Metode Discovey Inquiry (skripsi dan tesis)

Inquiry selain sebagai model pembelajaran, berfungsi juga sebagai cara yang dapat digunakan  guru untuk mengajar di depan kelas. Adapun pelaksanaannya guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke siswa, Siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan masing-masing kelompok mendapat tugas menelaah suatu permasalahan, kemudian mereka mempelajari, membahas dan meneliti.

Carin yang pendapatnya dikutip Moh Amien (1987: 126) menyatakan inquiry pada dasarnya adalah proses mental yang membawa siswa atau individu mengasimilasi konsep dan prinsip. Pembelajaran inquiry adalah pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan (discovery) konsep dan prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Proses mental dalam pembelajaran dengan metode discovery inquiry meliputi mengamati, mengklasifikasi, melakukan pengukuran, menginterpretasi dan sebagainya.

Menurut H. Sujati (1998: 16) bahwa dalam proses belajar mengajar IPA, siswa harus dilibatkan secara aktif dalam menemukan suatu konsep. Metode pembelajaran yang diduga dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif menemukan konsep adalah metode inquiry. Menurut Moh. Amien (1987: 126) kegiatan inquiry dibentuk dan meliputi kegiatan discovery (penemuan). Dengan demikian kegiatan penemuan menunjukkan kegiatan inquiry.

Bruner dalam bukuyang ditulis Ratna Wilis Dahar (1996: 103) menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dengan sendirinya memberikan hasil terbaik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar  bermakna. Kebaikan dari metode ini adalah:

  1. Siswa akan memahami konsep dasar secara lebih baik, sehingga pengetahuan bertahan lama dan mudah dingat
  2. Hasil belajar mempunyai efek transfer yang lebih baik, dengan kata lain pemahaman konsep dan prinsip sebagai kemampuan kognitif seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi-situasi baru.
  3. Meningkatkan penalaran dan kemampuan siswa untuk berfikir bebas

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa metode discovery inquiry adalah dua metode yang digabungkan menjadi satu. Discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut adalah mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan. Sedangkan inquiry adalah perluasan poses discovery yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses inquiry mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya : merumuskan masalah, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data dan menarik kesimpulan.

Ciri metode discovery inquiry adalah guru menyajikan bahan pembelajaran tidak dalam bentuk jadi, tetapi peserta didiklah yang diberi peluang untuk mengadakan penyelidikan dan menemukan sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Dalam melaksanakan metode discovery inquiry ini keterlibatan siswa secara aktif dalam menemukan konsep lebih diutamakan dengan mengutamakan mengikuti petunjuk kegiatan yang dirancang guru.

Pembelajaran penemuan (discovery)  menurut  Arthur, A Carin membagi pembelajaran penemuan dibagi menjadi 2 jenis yaitu: (1) penemuan terbimbing (guided discovery) dan (2) penemuan bebas (free discovery. Kindsvatter, R William Wilen dan Margareth Ishler (1996:260-262) juga membagi pembelajaran inquiry menjadi 3 jenis yaitu inquiri terbimbing (guided inquiry) dan inquiri bebas (open inquiry) dan (3) inquiry secara individu (individualized inquiry investigation). Dalam inkuiri terbimbing guru menyediakan data dan siswa pertanyaan atau masalah untuk membantu siswa mencari jawaban, kesimpulan, generalisasi dan solus. Pada inkuiri bebas siswa merencanakan solusi mengumpulkan data dan selebihnya sama dengan metode inkuiri terbimbing. Sedangkan pada pembelajaran inkuiri secara individual meliputi ketrampilan mengidentifkasi dan keinginan siswa yang tertarik pada belajar mandiri

Konsep model pembelajaran Biologi (skripsi dan tesis)

             Model pembelajaran digunakan dalam proses belajar mengajar dan diharapkan akan membantu siswa memperoleh informasi, ide, ketrampilan, nilai, cara-cara berfikir, dan makna ekspresi mereka sendiri.   Pembelajaran akan meningkatkan kemampuan belajar siswa,  sehingga mereka dapat belajar lebih mudah dan efektif.

Model Pembelajaran Biologi umumnya berupa model inquiry.  Essensi model  inquiry  adalah melibatkan siswa dalam sebuah problem yang sungguh-sungguh pada penelitian, membantu siswa  dalam mengidentifikasi dan membantu dalam hal mendesain dan menemukan cara (discovery) untuk mengatasi problem tersebut.  Model inquiry IPA Biologi terdiri dari empat fase yaitu:

  1. Siswa ditempatkan pada suasana penelitian
  2. Siswa menyusun problem, termasuk kesulitan yang ada pada penelitian tersebut. Kesulitan ini seperti menginterprestasi data, menggeneralisasikan data, mengontrol eksperimen atau membuat kesimpulan.
  3. Siswa mengidentifikasi problem dalam penelitian
  4. Siswa berspekulasi untuk memecahkan kesulitan dengan mendesain kembali eksperimen, mengorganisasikan dengan cara yang berbeda, menggeneralisasikan data dan mengembangkan gagasan.

Beberapa  dampak pembelajaran dan dampak iringan yang dimiliki model inquiry dapat dilihat pada gambar 1.

            Dampak pembelajaran dan manajemen model inquiry Biologi lebih menekankan pada proses penelitian dalam konsep Biologi, karena dalam proses penelitian inilah fakta menjadi pokok permasalahan dalam penelitian. Guru, dengan model inquiry dapat lebih mudah memotivasi, mengontrol dan mengevaluasi siswa dalam melakukan generalisasi menyangkut hipotesis, interprestasi data, dan mengembangkan gagasannya.

Model Inquiry sesuai dengan tujuan pembelajaran dan pendekatan ketrampilan proses yang sering digunakan guru dalam pembelajaran Biologi. Pembelajaran penemuan (discovery) adalah suatu model yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur dari suatu ilmu (depdiknas, 2003).

Diharapkan model ini dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berfikir, melakukan pemecahan masalah, dan memiliki ketrampilan intelektual. Sesuai dengan yang katakan Wayan (2000) bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara melatih ketrampilan intelektual dan merangsang keingintahuan serta dapat memotivasi kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan yang baru diperoleh.

Upaya Peningkatan Keefektifan Pembelajaran Biologi (skripsi dan tesis)

Sebagai tenaga  profesional guru merupakan pemegang peranan penting dalam upaya peningkatan keefektifan pembelajaran . Berbagai perkembangan paradigma terhadap pandangan belajar-mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa akan optimal.

Keefektifan pembelajaran dapat dinilai dari semakin meningkatnya  gairah, keaktifan dan konsentrasi siswa, saling berbicara dan mendengarkan tetapi tidak saling bertengkar dan ingin pelajaran berlangsung terus: “…..they saw children who were excitef, active, engaged, concentrating, talking and listening but no bickering, and wanting the task continue”, (Antil, Jenkins, Wayne, & Vadasy, 1998: 430).

Menurut Sujana (1991: 35-36), keefektifan pembelajaran dapat dinilai dari: (1) konsistensi kegiatan belajar-mengajar dengan kurikulum, (2) keterlaksanaanya oleh guru, (3) keterlaksanaannya oleh siswa, (4) motivasi belajar siswa, (5) keefektifan belajar siswa dalam kegiatan belajar-mengajar, (6) interaksi guru-siswa, (7) kemampuan guru dalam hal penguasaan bahan pembelajaran, penetapan metode-strategi dan media,dan penerapan evaluasi pembelajaran, (8) kualitas hasil belajar yang dicapai siswa.

Penerapan berbagai model pembelajaran diyakini akan meningkatkan keefektifan pembelajaran Biologi. Salah satu model yang menonjol diantaranya model  inquiry, model ini dikembangkan oleh Suchman (1962). Pada proses pembelajaran dengan model ini, siswa dilatih menyelidiki dan menjelaskan fenomena secara baik dan benar. Inquiry didesain untuk memberikan bimbingan kepada siswa dalam proses ilmiah melalui latihan bahkan banyak memberikan aktivitas proses IPA dalam waktu yang pendek. Dampak dari pelatihan ini telah dilaporkan oleh Schlanker (Joyce & Weil, 1996), latihan inquiry telah meningkatkan pemahaman pada pengetahuan, produktivitas dalam menciptakan pemikiran dan terampil untuk  memilih dan menganalisa informasi. Biologi  sendiri lebih menekankan pada sistem akan gambaran sesungguhnya tentang alam dan makhluk hidup. Pembelajarannya  lebih memberikan kesempatan secara alami pada siswa untuk berkembang  dengan kemampuan memecahkan masalah.

Mills & Dean (Mouly, 1973), mendefinisikan  pendekatan problem solving meliputi: (1) mengamati permasalahan, dengan menganalisa situasi permasalahan yang potensial untuk diteliti, (2) mendeskripsikan problem, dengan pernyataan yang jelas untuk diteliti, (3) mendiskusikan masalah, dengan membuat kepastian bahwa siswa mengerti apa yang termasuk dalam permasalahan, (4) membatasi, memisahkan bagian permasalahan yang dapat dipecahkan secara menguntungkan, (5) merencanakan tindakan, dengan menyiapkan hipotesa yang sesuai untuk penyelidikan, (6) analisis dan pembatasan lebih lanjut, yaitu dengan mengadakan tes kesementaraan pada hipotesis untuk mengidentifikasi cara yang lebih baik untuk menghasilkan solusi,  merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran Biologi. Pendekatan tersebut diatas semirip pendekatan ilmiah yang dicapai dengan langkah-langkah ilimiah, pendekatan ilmiah yang diterapkan dalam proses pembelajaran disebut dengan model pembelajaran inquiry.

Keefektifan Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Sudarsono (1994: 33) menjelaskan keefektifan merupakan rasio antara output terhadap inputnya. keefektifan merupakan ukuran yang menyatakan sejauh mana sasaran dalam hal ini kuantitas, kualitas, dan waktu yang telah dicapai. Paradigma keefektifan bertumpu pada pengukuran yang valid atas kinerja dalam suatu organisasi atau dalam suatu unit yang ada di dalamnya. Kinerja yang diukur merupakan hasil kerja yang telah dicapai dari tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam bentuk persamaan keefektifan sama dengan hasil nyata dibagi hasil yang diharapkan (Depdiknas, 2001: 32)

Bush dan Coleman (200: 47) menyatakan “effetiveness may be largely associated with classroom factors directly affecting teaching and learning” Hal ini berarti bahwa keefektifan terkait dengan faktor-faktor kelas yang secara langsung mempengaruhi kegiatan belajar mengajar.

Proses belajar mengajar yang keefektifannya tinggi, adalah proses belajar mengajar yang menekankan pada peningkatan pemberdayaan siswa. Proses PBM bukan sekedar memorisasi dan recall, bukan sekedar penekanan pada penguasaan tentang materi yag diajarkan (logos), akan tetapi lebih menekankan pada proses internalisasi materi yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan hayati (ethos) serta dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Proses Belajar mengajar yang efektif juga lebih menekankan pada belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be) (Depdiknas, 2001:12-13). Keefektifan pembelajaran Biologi tercermin pada hasil belajar baik aspek kognitif, afektif,  maupun psikomotorik. Bila hasil belajarnya memiliki nilai tinggi maka keefektifan pembelajaran Biologi dinyatakan tinggi.

Pengertian Pantun (skripsi dan tesis)

            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1984: 728) dinyatakan bahwa” Pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b). Tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama atau kedua adalah merupakan tumpuan (sampiran), sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi.

            Pendapat lain mengatakan bahwa pantun adalah jenis karangan yang (puisi) terikat oleh bait, baris rima dan irama. Dari pengertian ini dapat dipertegas bahwa pantun adalah salah satu produk berbentuk puisi, tetapi lebih terikat pada ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dan biasanya karya pantun lebih akrab dengan orang Melayu, karena merupakan kebudayaan asli orang Melayu. Dalam  pantun terpendam mutiara-mutiara  dan kaidah-kaidah yang benilai tinggi untuk dijadikan sebagai pedoman bermasyarakat orang Melayu.  Sebagaimana diungkapkan oleh Hakymi (2004) bahwa: ” dalam pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam tersimpan mutiara-mutiara dan kaidah-kaidah yang tinggi nilainya untuk kepentingan hidup bergaul dalam masyarakat. Kalimat-kalimat yang disusun, diucapkan dengan kata-kata kiasan mengandung makna yang tersirat di dalamnya.”

2.2.1 Jenis Pantun

            Sehubungan dengan permasalahan penelitian maka bahasan berikut lebih mengupas masalah pantun, mulai dari jenis pantun dan syarat-syaratnya.

            Ada beberapa jenis pantun yaitu. Jika dilihat dari bentuknya kita kenal sebagai berikut:

  1. Pantun Biasa  (  Pantun biasa sering juga disebut pantun  saja.)

      Contoh :

 

            Kalau ada jarum patah

            Jangan dimasukkan ke dalam peti

            Kalau ada kataku yang salah

            Jangan dimasukan ke dalam hati

  1. Seloka (Pantun Berkait)

Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.

Ciri-ciri Seloka :

  1. Baris kedua dan keempat  pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua.
  2. Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga
  3. Dan seterusnya

Contoh :

Lurus jalan ke Payakumbuh,

Kayu jati bertimbal jalan

Di mana hati tak kan rusuh,

Ibu mati bapak berjalan

Kayu jati bertimbal jalan,

Turun angin patahlah dahan

Ibu mati bapak berjalan,

Ke mana untung diserahkan

  1. Talibun

Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.

Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga  isi.

      Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat  isi.

      Jadi :

Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.

      Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

      Contoh :

            Kalau anak pergi ke pekan

Yu beli belanak pun beli                sampiran

            Ikan panjang beli dahulu

            Kalau anak pergi berjalan

            Ibu cari sanak pun cari                   isi

            Induk semang cari dahulu

  1. Pantun Kilat ( Karmina) )

      Ciri-cirinya :

  1. Setiap bait terdiri dari 2 baris
  2. Baris pertama merupakan sampiran
  3. Baris kedua merupakan isi
  4. Bersajak a – a
  5. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata

Contoh :

Dahulu parang, sekarang besi     (a)

Dahulu sayang sekarang benci   (a)

Berdasarkan isi nya pantun dibagi menjadi :

  1. a)Pantun muda mudi

Dari jauh kapal melintang

tampak haluan dengan kemudi

dari jauh kanda datang

apa maksud datang ke sini

  1. b)Pantun nasihat

Kalau anak pergi ke lepau

yu beli belanak pun beli

ikan panjang beli dahulu

kalau anak pergi merantau

ibu cari sanakpun cari

induk semamg cari dahulu

  1. c)Pantun agama

Kemumu di dalam semak

buah kepayang banyak minyaknya

biar ilmu setinggi tegak

tak sembayang apa gunanya

  1. d)Pantun  Jenaka

Iluk nian bukit sumbing

jalan ke sawah bersimpang duo

iluk nian bebini sumbing

biak marah ketawo jugo

  1. e)Pantun orang tua

Kalau anak pergi ke pasar

jangan lupa membeli baju

kalau anak sedang belajar

jangan lupa pesan guru

  1. f)Pantun anak-anak

Anak kecubung mandi di sawah

botol kosong nyaring bunyinya

anak sombong banyak ketawa

suka bohong banyak musuhnya

Pembelajaran Menulis Pantun (skripsi dan tesis)

Menulis adalah aktivitas komunikasi. Menurut Karim (1997: 18) memulai menulis terkadang merupakan kegiatan yang sulit untuk dilakukan. Hal ini  dialami oleh orang yang baru belajar menulis maupun penulis yang telah berpengalaman. Penulis-penulis berpengalaman  merasa sudah mempunyai keterikatan tanggungjawab yang besar terhadap tulisan yang akan dikerjakannya. Perasaan ini mendorong para penulis untuk mempersiapkan  selengkap-lengkapnya itu dapat menimbulkan perasaan belum merasa cukup untuk memulai menulis. Sehingga kegiatan menulis tidak lekas dimulai. Untuk mengatasi hal ini hendaknya diingat bahwa perencanaan penulisan itu  bukanlah  suatu yang kaku. Demikian juga yang dialami siswa ketika memulai untuk menulis puisi.

Dalam KTSP menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran menulis diberikan secara bertahap sesuai dengan tingkat kesulitan materi dan kemampuan siswa. Salah satu pembelajaran menulis yang diajarkan di SMP adalah menulis puisi lama atau pantun.

Luxemburg dalam Siswanto (1984: 175) menyatakan bahwa ” Puisi adalah teks monolog yang isinya bukan pertama merupakan sebuah alur. Atau dengan kata lain isinya bukan  semata-mata sebuah cerita, tetapi lebih merupaka sebuah  ungkapan perasaan. Penyair bertanggung jawab pada semua yang ada dalam karya sastranya. Baik bentuk maupun isinya. Sementara itu Waluyo ( 1987: 25) mengemukakan puisi adalah bentuk karya sastra  yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengosentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya.

      Bentuk struktur fisik puisi sering disebut metode puisi. Bentuk dan struktur fisik  puisi menurut Siswanto (2008: 113-123) mencakup perwajahan puisi, diksi, pengimajian, kata konkrit, majas atau bahasa  figuratif, dan verifikasi. Semua unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Perwajahan puisi adalah pengaturan dan penulisan kata, larik dan bait dalam puisi

      Pada puisi lama atau pantun kata-katanya diatur dalam deret yang disebut larik atau baris. Setiap larik  tidak selalu mencerminkan satu pernyataan, bisa saja terdapat dua larik yang mengandung satu pernyataan. Kumpulan pernyataan dalam pantun tidak membentuk paragraf tetapi berbentuk bait. Setiap bait dalam puisi lama atau pantun mengandung satu pokok pikiran.

Diksi adalah pilihan kata-kata yang gunakan penyair dalam pantun. Pemilihan kata dalam pantun berhubungan dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Pilihan kata akan mempengaruhi ketepatan makna dan keselarasan bunyi. Pilihan kata juga berkait erat dengan latar belakang panyair. Seperti puisi lama atau pantun berikut ini:

Dari jauh kapal melintang

tampak haluan dengan kemudi

dari jauh kanda datang

apa maksud datang kemari

Pemilihan kata berhubungan erat dengan latar belakang penyair. Semakin luas wawasan penyair, semakin kaya dan berbobot kata-kata yang digunakan. Kata-kata dalam pantun tidak hanya sekedar kata-kata yang dihafalkan, tetapi sudah mengandung pandangan pengarang. Panyair yang religius akan menggunakan kosakata yang berbeda dengan panyair sosialis.

Imaji adalah kata atau kelompok kata yang dapat  mengungkapkan pengalaman inderawi seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi tiga yaitu : imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti yang dialami penyair. Imaji dapat berhubungan erat dengan kata konkret.

            Kata konkret adalah kata yang dapat diungkapkan dengan indera. Kata konkrit berhubungan kiasan atau lambang. Kata konkret salju dapat melambangkan kebekuan cinta, kehampaan cinta, kehampaan hidup, kekakuan sikap. Kata-kata konkret rawa-rawa dapat melambangkan tempat yang kotor, tempat hidup, bumi dan kehidupan,

Majas adalah bahasa kias yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan  puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna.  Seperti contoh pantun berikut ini:

Muara talang dilingkung bukit

bukit tekungkung sikayu jati

kasih sayang bukanlah sedikit

dari hidup sampai ke mati

Bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksud penyair karena 1) bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, 2) bahasa figuratif adalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam pantun lebih nikmat dibaca, 3) bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas  perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair, 4) bahasa figuratif adalah cara untuk mengonsentrasi makna yang hendak disampaikan. Dan cara menyampaikan sesuatu untuk makna yang luas dan bahasa yang singkat.

Verifikasi dalam pantun terdiri atas rima dan ritme, Rima adalah persamaan bunyi pada pantun, baik awal, tengah maupun akhir baris pantun. Rima mencakup tiruan terhadap  bunyi, bentuk intern pola bunyi dan pengulangan kata atau ungkapan. Ritme merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritme sangat menonjol bila pantun dibacakan. dari variasi keras lemah ritme, secara garis besar dapat dibedakan atas empat metrum. Jambe adalah tekanan bervariasi, ada yang diberi tekanan ada yang tidak. Pada tracheus tekanan keras terdapat pada suku kata pertama. Pada daktylus tekanan terdapat pada awal baris. Dan selanjutnya diseling dua suku kata ketiga dan pada awal kata tidak bertekanan.

Menurut Richard dalam Siswanto (2008), berpendapat bahwa struktur batin puisi terdiri atas empatt unsur, yaitu:  1) tema atau makna, 2) rasa (feeling), 3) nada, dan 4) amanat , gagasan pokok yang ingin disampaikan oleh pengarang atau yang terdapat dalam puisi disebut dengan tema. Rasa dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pokok , Nada dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pembacanya. Ada penyair dalam menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerjasama dengan pembaca untuk memecahkan masalah. Amanat atau tujuan merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair itu menciptakan puisi atau pantun.

Atmazaki (1993) berpendapat bahwa pada dasarnya puisi bukanlah satu-satunya  jenis  karya sastra karena pada setiap bentuk pengungkapan yang  menggunakan bahasa, seseorang dapat saja menemukan dan merasakan puisi atau sesuatu yang puitis. Kepuitisan dapat saja ditemukan dalam karya sastra berbentuk prosa dan drama. Defenisi pantun yang menyebutkan bahwa pantun adalah puisi lama yang merupakan  karangan terikat oleh baris dan bait, oleh rima dan irama, dan oleh jumlah kata dan suku kata sebenarnya.

Pembelajaran Bahasa Indonesia (skripsi dan tesis)

Ada empat aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Keempat aspek itu adalah keterampilan mendengarkan, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan ini saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan aktivitasnya, keterampilan berbicara dan menulis merupakan keterampilan yang bersifat produktif. Sedangkan keterampilan mendengarkan dan membaca merupakan keterampilan reseptif. Namun demikian keempat keterampilan ini dapat diaplkasikan  dalam suatu pembelajaran secara terpadu.

Sujanto (1988: 56) menyatakan bahwa pengajaran bahasa  di sekolah terdiri atas empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Tujuan akhir dari keempat keterampilan tersebut  adalah melalui pembelajaran keterampilan berbahasa siswa bisa mandiri.

Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMP, pada dasarnya tersebar pada komponen kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, pembelajaran keterampilan menulis harus disajikan secara terpadu dengan keterampilan-keterampilan bahasa yang lain, dan harus menggunakan  suatu proses, yaitu pra-menulis  di kelas pengedrafan, perbaikan, pengeditan dan publikasi. Menurut Tompkins (1994: 39) ada delapan bentuk menulis yang dapat diajarkan di tingkat pendidikan dasar, yaitu menulis jurnal, menulis deskriptif, menulis surat menulis narasi, menulis surat, menulis puisi dan menulis persuasif.

Tarigan ( 1993) menulis seperti juga halnya ketiga keterampilan  berbahasa lainnya merupakan  suatu proses perkembangan. Menulis menuntut pengalaman, waktu, kesempatan, latihan, keterampilan-keterampilan khusus dan pengajaran langsung menjadi seorang penulis. Menuntut gagasan-gagasan yang tersusun secara logis, diekspresikan dengan jelas  dan ditata secara menarik. Selanjutnya menuntut penelitan yang terperinci, observasi yang seksama, perbedaanyang tepat dalam memilih judul, bentuk dan gaya. Akhirnya ia menuntut kita untuk menulis, mengoreksi cetakan percobaan, menulis kembali dan menyempurnakannya untuk mengembangkan kata dari seorang bakal penulis menjadi seorang pengarang yang memuaskan.

Manfaat Metode Mind Mapping (skripsi dan tesis)

Menurut Buzan (2010:5) mengungkapkan bahwa Mind mapping merupakan cara mencatat yang kreatif, efektif, dan memetakan pikiran-pikiran kita, secara menarik, mudah dan berdaya guna, bagi anak-anak, disarankan sebaiknya menerapkan metode Mind mapping ini sejak dini. Karena ternyata metode ini ampuh diterapkan pada anak mulai usia 4 tahun. Anak-anak bisa diajarkan metode Mind mapping di usia 4 tahun, atau umur berapa saja bagi anak-anak yang sudah bisa mengenal objek. Selain memaksimalkan kinerja otak kanan dan kiri siswa untuk memahami sebuah konsep atau materi, penggunaan media pembelajaran juga sangat penting untuk membantu siswa mempelajari objek, suara, proses, peristiwa atau lingkungan yang sulit dihadirkan didalam kelas.

Alamsyah (2009) menyebutkan beberapa manfaat dari penggunaan metode mind mapping, antara lain:

  1. Dapat melihat gambaran secara menyeluruh dengan jelas
  2. Dapat melihat detail tanpa kehilangan benang merahnya antar topik
  3. Terdapat pengelompokkan informasi
  4. Menarik perhatian mata dan tidak membosankan
  5. Memudahkan berkonsentrasi
  6. Proses pembuatannya menyenangkan karena melibatkan warna, gambar-gambar dan lain-lain
  7. Mudah mengingatnya karena ada penanda-penanda visualnya

Windura (2008) menambahkan khusus dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, kegunaan dan aplikasi mind map sangat banyak, antara lain untuk meringkas, mengkaji ulang (review), mencatat, mengajar, bedah buku, presentasi, penelitian dan manajemen waktu (time management).

Langkah-Langkah Menggunakan Mind Mapping (skripsi dan tesis)

Buzan (2009) menjelaskan untuk membuat mind map, bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut:

1) Kertas, minimal berukuran A4

2) Pensil warna atau sepidol

3) Imajinasi.

4) Otak kita sendiri

Alamsyah (2009) menjelaskan setiap peta pikiran (mind map) mempunyai elemen-elemen sebagai berikut:

  1. Pusat peta pikiran atau central topic, merupakan ide atau gagasan utama.
  2. Cabang utama atau basic ordering ideas (BOI), cabang tingkat pertama yang langsung memancar dari pusat peta pikiran.
  3. Cabang, merupakan pancaran dari cabang utama, dapat dituliskan ke segala arah.
  4. Kata, menggunakan kata kunci saja.
  5. Gambar, dapat menggunakan gambar-gambar yang disukainya.
  6. Warna, gunakan warna-warni yang menarik dalam peta pikiran.

Langkah-langkah membuat mind map (Windura, 2008):

  1. Mulai dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan vertikal atau horizontal
  2. Menentukan central topic yang akan dibuat dengan metode mind mapping, central topic biasanya adalah judul buku atau judul bab yang dipelajari dan harus diletakkan di tengah kertas serta diusahakan berbentuk gambar.
  3. Membuat basic ordering ideas (BOI) untuk central topic yang telah dipilih, gunakan warna yang berbeda pada masing-masing garis BOI. BOI biasanya adalah judul bab atau sub bab dari buku yang akan dipelajari atau bisa juga dengan menggunakan 5WH (what, where, why, who, when, dan how). Buzan (2009) menjelasakan garis BOI dibuat lebih tebal dibandingkan dengan garis cabang-cabang selanjutnya setelah cabang utama (BOI) dan seluruh garis cabang utama (BOI) harus tersambung ke pusat/central topic .
  4. Melengkapi setiap BOI dengan cabang-cabang yang berisi data-data pendukung yang terkait garis cabang kedua, ketiga, dan selanjutnya lebih tipis dibandingkan garis cabang utama (BOI) dan warna garis cabang kedua, ketiga, dan selanjutnya tersebut mengikuti warna BOI nya masing-masing
  5. Melengkapi setiap cabang dengan gambar, simbol, kode, daftar, grafik agar lebih menarik, lebih mudah untuk diingat dan dipahami, jika perlu lengkapi dengan garis penghubung bila ada BOI yang saling terkait satu dengan lainnya serta tuliskan kata kuncinya saja untuk setiap garis.

Pengertian Metode Mind Mapping (skripsi dan tesis)

Menurut Buzan (2009), mind map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar dari otak. Mind map adalah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran kita. Catatan yang dibuat tersebut membentuk gagasan yang saling berkaitan, dengan topik utama di tengah dan subtopik serta perincian menjadi cabang-cabangnya. Buzan (2009), menjelaskan bahwa mind map juga merupakan peta rute hebat bagi ingatan, memungkinkan kita menyusun fakta dan pikiran sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal. Ini berarti mengingat informasi akan lebih mudah dan lebih bisa diandalkan daripada menggunakan teknik pencatatan tradisional.

Menurut Windura (2008), mind map adalah suatu teknis grafis yang dapat menyelaraskan proses belajar dengan cara kerja alami otak. Mind map melibatkan otak kanan sehingga proses pembuatannya menyenangkan, dan mind map merupakan cara paling efektif dan efisien untuk memasukkan, menyimpan, dan mengeluarkan data dari otak kita.

Menurut Alamsyah (2009), mind mapping selaras dengan cara kerja alami otak, karena mind mapping melibatkan kedua belahan otak, seseorang mencatat dengan melibatkan simbol-simbol atau gambar-gambar yang disukainya, menggunakan warna-warna untuk percabangan-percabangan yang mengindikasikan makna tertentu dan bisa melibatkan emosi, kesenangan, kreativitas seseorang dalam membuat catatan-catatan. Menurut Septiana (2007), agar pembelajaran membekas dalam ingatan peserta didik, maka diperlukan penekanan hal-hal yang telah dipelajari selama sesi kelas itu. Gambar atau tulisan yang menarik dan berkesan dapat membantu siswa mengingat kembali hal-hal yang telah mereka lakukan dan pelajari.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan (skripsi dan tesis)

Sifat disiplin yang dimiliki oleh siswa merupakan hasil interaksi berbagai unsur di sekelilingnya. Disiplin juga merupakan sikap yang bersifat lahir dan batin yang pembentukannya memerlukan latihan-latihan yang disertai oleh rasa kesadaran dan pengabdian, dimana perbuatan setiap perilaku merupakan pilihan yang paling tepat bagi dirinya. Hal ini tidak terlepas karena sikap disiplin seseorang sangat relatif tergantung pada dorongan yang ada di sekelilingnya, dimana dorongan tersebut sangat mudah mengalami perubahan, bisa meningkat, menurun bahkan bias hilang. Itu artinya sikap disiplin yang ada pada diri siswa tergantung dengan keadaan lingkungan sekitarnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya sikap disiplin siswa tidak terlepas dari faktor yang mempengaruhi belajar, karena pada dasarnya sikap disiplin adalah tahap belajar siswa dari sikap tidak teratur menjadi sikap teratur. Faktor-faktor itu antara lain:

1)      Faktor keluarga

Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan utama, tapi juga dapat menjadi penyebab kesulitan disiplin dalam belajar. Itu artinya keluarga adalah salah satu lembaga pendidikan yang pertama kali yang mendidik anak menjadi baik. Dalam keluarga inilah anak didik mendapat pengetahuan pertama kali tentang apapun, begitu juga dengan sikap disiplin harus pertama kali ditanamkan pada anak ketika masih berada dalam lingkungan keluarga, karena keluarga adalah komunitas sosial kecil yang pertama yang di terjuni anak. Ketika disiplin sudah ditanamkan sejak kecil atau dini dalam lingkungan keluarga maka sikap disiplin pada anak akan menjadi suatu kebiasaan ketika mereka berada di luar rumah atau lingkungan keluarga. Hal ini terjadi karena “tiap pengaruh lingkungan yang menentukan tingkah laku si anak yang terutama ialah dari keluarga”.

2)      Lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah ini menyangkut faktor guru, faktor alat sekolah, faktor kondisi gedung dan faktor waktu sekolah. Semua faktor yang termasuk lingkungan sekolah tersebut dapat berpengaruh terhadap disiplin siswa ketika mereka berada di lingkungan sekolah.

Di antara faktor-faktor yang mempengauhi kedisiplinan siswa adalah faktor guru, hal ini disebabkan karena kadang-kadang guru tidak kulifiet, misalnya sebagi berikut: (1) Dalam pengambilan metode yang ia gunakan atau dalam mata pelajaran yang dipegangnya, sehingga dalam penyampaian mata pelajaran kurang pas dengan metodenya yang menyebabkan anak didik malas mengikuti pelajaran atau kurang; (2) Hubungan guru dengan murid kurang baik, yang bermula pada sikap guru yang tidak di senangi oleh murid- muridnya seperti kasar, tidak pernah senyum, menjengkelkan, suka membengkak dan lain- lain; (3) Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha diagnosis kesulitan belajar, misalnya dalam bakat, minat, sifat, kebutuhan-kebutuhan anak dan sebagainya; (4) Guru menuntut standar pelajaran di atas kemampuan anak. Artinya ketika guru menyampaikan pelajaran sedangkan siswa tidak memahaminya, maka guru masih terus melanjutkan pelajaran yang ia sampaikan pada murid karena dia menganggap bahwa pelajaran yang ia sampaikan pada siswa sudah sesuai dengan standar. Padahal materi yang di berikan oleh guru tidak di pahami oleh siswa, sehingga menyebabkan malasnya belajar pada diri siswa.

3)      Masyarakat

Masyarakat sebagai suatu lingkungan yang lebih luas daripada keluarga dan sekolah turut menentukan berhasil tidaknya pendidikan dan pembinaan disiplin. Situasi masyarakat tidak selamanya konstan atau stabil, sehingga situasi tersebut dapat menghambat atau memperlancar terbentuknya disiplin anggota masyarakat.

Masyarakat yang dapat dijadikan medan pembinaan disiplin ialah masyarakat yang mempunyai karakter campuran antara masyarakat yang menekankan ketaatan dan loyalitas penuh,serta masyarakat yang permisif atau terlalu terbuka. Dalam situasi mesyarakat seperti ini, tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kebudayaan dan bersikap terbuka namun selektif terhadap pengaruh dari luar. Kontrol yang disertai kelonggaran yang bijaksanan akan mewujudkan pribadi yang semakin matang dan bertanggung jawab.

Menurut Brown dan Brown ada beberapa penyebab perilaku siswa yang indisiplin, dan mengelompokkannya sebagai berikut: (1) Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh guru; (2) Perilaku tidak disiplin bias disebabkan oleh sekolah; kondisi sekolah yang kurang menyenangkan, kurang teratur, dan lain-lain dapat menyebabkan perilaku yang kurang atau tidak disiplin; (3) Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh siswa, siswa yang berasal dari keluarga yang broken home; (4) Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh kurikulum, kurikulum yang tidak terlalu kaku, tidak atau kurang fleksibel, terlalu dipaksakan dan lain-lain bisa menimbulkan perilaku yang tidak disiplin, dalam proses belajar mengajar pada khususnya dan dalam proses pendidikan pada umumnya.

Jenis Perilaku Kedisiplinan (skripsi dan tesis)

Setidaknya ada dua bentuk disiplin yang perlu dikembangkan oleh sekolah, yaitu preventif dan kuratif. Disiplin preventif, yaitu upaya menggerakkan siswa mengikuti dan mematuhi peraturan yang berlaku. Dengan hal itu pula, siswa berdisiplin dan dapat memelihara dirinya terhadap peraturan yang ada. Disiplin korektif, yaitu upaya mengarahkan siswa untuk tetap mematuhi peraturan. Bagi yang melanggar diberi sanksi untuk memberi pelajaran dan memperbaiki dirinya sehingga memelihara dan mengikuti aturan yang ada.

Menurut Lembaga Ketahanan Nasional (1974 : 14) jenis perilaku disiplin adalah sebagai berikut: (1) takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) kepatuhan dinamis, artinya bukan kepatuhan yang mati dalam mewajibkan seseorang untuk patuh; (3) kesadaran, yang artinya adanya kepatuhan yang sudah menyatu dengan hati dan perbuatan;. (4) rasional, yaitu kepatuhan melalui proses berfikir; (5) sikap mental yang menyatu dalam diri, artinya kepatuhan yang sudah dijabarkan dalam setiap perilaku dan perbuatan, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga yang bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara; (6) keteladanan, artinya setiap orang harus dapat menjadi teladan atau contoh yang baik bagi orang lain; (7) keberanian dan kejujuran, artinya sikap yang tidak mendua, yaitu sikap tegas dan lugas dalam menerapkan aturan atau sanksi.

Seseorang yang dalam hatinya telah tertanam kedisiplinan akan terdorong untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan norma dan peraturan yang berlaku. Sikap dan perbuatan yang selalu taat pada peraturan yang berlaku tersebut merupakan perwujudan dari perilaku disiplin yang akan menyatu dengan seluruh aspek kepribadian seseorang. Untuk mewujudkan perilaku disiplin secara terus-menerus, maka kualitas atau kriteria tersebut di atas harus didukung oleh aspirasi dan kehendak berbuat dari para pelakunya

Tujuan Kedisiplinan (skripsi dan tesis)

Kedisiplinan siswa dalam belajar sangatlah penting, oleh karena itu adanya sikap disiplin yang tertanam pada siswa mempunyai tujuan agar dapat menjaga hal-hal yang menghambat atau mengganggu kelancaran proses belajar-mengajar, juga dapat membuat anak didik terlatih dan mempunyai kebiasaan yang baik serta bisa mengontrol setiap tindakannya sehingga akan membentuk pribadi yang mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Setiap tindakan yang dilakukan siswa akan dampak pada perkembangan mereka sehingga mereka akan menyadari bahwa hakikat segala apa yang diperbuat akan kembali pada diri mereka sendiri.

Maman Rachman (1999) mengemukakan bahwa tujuan disiplin sekolah adalah : (1) memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang, (2) mendorong siswa melakukan yang baik dan benar, (3) membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh sekolah, dan (4) siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat baginya serta lingkungannya.

Selain tujuan di atas, masih ada tiga tujuan lain yang berkaitan dengan kedisiplinan ini. Pertama, kedisiplinan mesti diterapkan tanpa menunjukkan kelemahan, tanpa menunjukkan amarah dan kebencian. Bahkan kalau perlu dengan kelembutan agar para pelanggar kedisiplinan menyadari bahwa disiplin itu diterapkan demi kebaikan dan kemajuan dirinya. Kedua, kedisiplinan mesti diterapkan secara tegas, adil dan konsisten. Aturan disiplin diterapkan tanpa pandang bulu dan berlaku bagi masyarakat sekolah. Ketidakadilan dan inkonsistensi dalam menegakkan disiplin hanya akan membuat ketidakjelasan dan kebingungan bagi siswa serta hilangnya kewibawaan dan kepercayaan semua pihak terhadap sekolah. Ketiga, ketika kedisiplinan mulai menampakkan pertumbuhannya, sama seperti biji tanaman yang baru tumbuh, benih itu mesti dijaga dan dirawat dengan penuh kesabaran. Sebaiknya hindari menggunakan ancaman-ancaman dan kekerasan karena hal itu hanya akan menjadi panasnya terik matahari yang akan menghanguskan benih yang sedang tumbuh itu. Perlu dipakai cara-cara yang selaras dengan perkembangan dan kebutuhan siswa sehingga mereka semakin jatuh cinta pada kegiatan belajar.

Urgensi Kedisiplinan (skripsi dan tesis)

Adanya sikap disiplin yang harus dimiliki oleh setiap anak didik sangat perlu dalam kehidupan mereka, karena ketika mereka mempunyai sifat disiplin maka hidup mereka akan menjadi teratur. Menurut Hurlock (2000: 83) mengemukakan bahwa disiplin itu perlu untuk perkembangan anak, karena ia memenuhi beberapa kebutuhan tertentu, di antaranya adalah: (1) disiplin memberi anak rasa aman dengan memberitahukan apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan; (2) dengan membantu anak menghindari perasaan bersalah dan rasa malu akibat perilaku yang salah, perasaan yang pasti mengakibatkan rasa tidak bahagia dan penyesuaian yang buruk. Disiplin memungkinkan anak hidup menurut standar yang disetujui kelompok sosial dan dengan demikian memperoleh persetujuan social; (3) dengan disiplin, anak belajar bersikap menurut cara yang akan mendatangkan pujian yang akan ditafsirkan anak sebagai tanda kasih sayang dan penerimaan. Hal ini esensial bagi penyesuaian yang berhasil dan kebahagiaan; (4) disiplin yang sesuai dengan perkembangan berfungsi sebagai motivasi pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yang diharapkan darinya; (5) disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani atau suara dari dalam yang membimbing dalam mengambil suatu keputusan dan pengendalian perilaku.

Unsur-Unsur Kedisiplinan (skripsi dan tesis)

Disiplin diharapkan mampu mendidik siswa untuk berperilaku sesuai denagn standar yang ditetapkan kelompok sosial mereka. Siswa hendaknya memiliki empat unsur pokok disiplin seperti yang diungkapkan Hurlock (2000:84-85), yaitu:

1)      Peraturan

Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk berbuat atau bertingkah laku, tujuannya adalah membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi dan kelompok tertentu. Peraturan memiliki dua fungsi penting yaitu: fungsi pendidikan, sebab peraturan merupakan alat memperkenalkan perilaku yang disetujui anggota kelompok kepada anak, dan fungsi preventif karena peraturan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan.

Peraturan dianggap efektif apabila setiap pelanggaran atas peraturan itu mendapat konsekuensi yang setimpal. Jika tidak, maka peraturan tersebut akan kehilangan maknanya. Peraturan yang efektif akan membantu seorang anak agar merasa terlindungi sehingga anak tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak pantas.

Isi setiap peraturan harus mencerminkan hubungan yang serasi diantara anggota keluarga, memiliki dasar yang logis untuk membuat berbagai kebijakan, dan menjadi model perilaku yang harus terwujud didalam keluarga. Proses penentuan setiap peraturan dan larangan bagi anak-anak bukan merupakan sesuatu yang dapat dikerjakan seketika dan berlaku untuk jangka panjang, peraturan dapat diubah agar dapat disesuaikan dengan perubahan keadaan, pertumbuhan fisik, usia dan kondisi saat ini didalam keluarga.

2)      Hukuman

Hukuman berasal dari kata latin Punier yang berarti menjatuhkan hukuman kepada seseorang karena suatu kesalahan, perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau balasan. Hukuman memiliki tiga fungsi yang berperan penting dalam perkembangan anak, (1) menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat, (2) mendidik, sebelum anak mengerti pengaturan, mereka dapat belajar bahwa tindakan tersebut benar atau salah dengan mendapat hukuman, (3) memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima di masyarakat.

3)      Penghargaan

Istilah penghargaan berarti setiap bentuk penghargaan atas hasil yang baik. Penghargaan tidak hanya berbentuk materi tetapi dapat juga berbentuk pujian, kata-kata, senyuman, atau tepukan di punggung. Penghargaan mempunyai peranan penting yaitu, (1) penghargaan mempunyai nilai mendidik, (2) penghargaan berfungsi motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial dan (3) penghargaan berfungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial, dan tiadanya penghargaan melemahkan perilaku tersebut.

4)      Konsistensi

Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas, mempunyai tiga fungsi yaitu (1) mempunyai nilai mendidik yang besar, (2) konsistensi mempunyai nilai motivasi yang kuat untuk melakuakn tindakan yang baik di masyarakat dan menjauhi tindakan buruk, dan (3) konsistensi membantu perkembangan anak untuk hormat pada aturan-aturan dan masyarakat sebagai otoritas. Anak-anak yang telah berdisiplin secara konsisten mempunyai motivasi yang lebih kuat dan komitmen untuk berperilaku sesuai dengan standar sosial yang berlaku dibanding dengan anak-anak yang berdisiplin secara tidak konsisten.

Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peraturan berfungsi sebagai pedoman perilaku, hukuman sebagai akibat dari pelanggaran peraturan, penghargaan berfungsi sebagai penguatan positif untuk berperilaku baik dan sesuai dengan peraturan yang berlaku, serta konsisten dalam mentaati peraturan dan cara yang digunakan untuk mengajarkan peraturan dan diwujudkan dengan memiliki komitmen dalam melaksanakan peraturan bola. Dalam permainan sepak bola, rambu-rambu penanaman telah jelas bagi mereka dengan hukuman yang sudah jelas pula dan telah diketahut oleh pan pemarn bob Jika pemain melakukan suatu pelanggaran tata tertib permainan, maka dengan segera wasit memberikan kartu kuning sebagai tanda penngatan bagi yang bersangkutan. Jika akumulasi pelanggaran yang berbentuk kartu kuning tersebut telah mencapai tingkat tertentu, maka wasit akan segera mengeluarkan kartu merah sebagai tanda bahwa pemain haruis dikeluarkan dari gelanggang permainan Demikian juga dengan pemberlakuan Sistern Poin Pelanggaran (Yusransyah, 2003 3-4)

Pengertian Disiplin Belajar (skripsi dan tesis)

Disiplin berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar. Dari kata ini timbul kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Dan sekarang kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peratuaran atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian.

Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib. Menurut Moeliono (1993:208) disiplin artinya adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tata tertib, aturan, atau norma, dan lain sebagainya. Disiplin adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu system tunduk pada peraturanperaturan yang ada dengan senagng hati.

Konsep disiplin berkaitan dengan tata tertib, aturan, atau norma dalam kehidupan bersama (yang melibatkan orang banyak). Moeliono dalam (nhowitzer.multiply.com) mengemukakan bahwa “disiplin adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tata tertib, aturan, atau norma, dan lain sebagainya”.

Robert menjelaskan bahwa, “disiplin menimbulkan gambaran yang amat keras, bayangan tentang hukuman, pembalasan dan bahkan kesakitan. Pada sisi lain,”disiplin” mengacu pada usaha membantu orang lain melalui pengajaran dan pelatihan. Contohnya, kata “a disciple” dalam bahasa Inggris berarti seseorang yang mengikuti ajaran orang lain dalam (www.nakertrans.go.id).

Istilah “disiplin” mengandung banyak arti. Good’s Dictionary of Education menjelaskan disiplin yaitu : “(1) proses atau hasil pengarahan atau pengendalian keinginan, dorongan atau kepentingan demi suatu citat-cita atau untuk mencapai tindakan yang lebih efektif dan dapat diandalkan; (2) pencarian cara-cara bertindak yang tepilih dengan gigih, aktif dan diarahkan sendiri, sekalipun menghadapi rintangan atau gangguan; (3) pengendalian perilaku murid dengan langsung dan otoriter melalui hukuman dan/atau hadiah; (4) secara negatif pengekangan setiap dorongan, sering melalui cara yang tak enak, menyakitkan; (5) suatu cabang ilmu pengetahuan” (Sutisna 1989 : 109).

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kedisiplinan adalah kepatuhan atau ketaatan seseorang dalam menjalankan peraturan yang ada dengan tegas dan senang hati tanpa ada paksaan dari pihak lain atau dari luar, melainkan timbul dari dalam dirinya sendiri untuk mematuhinya. Sedangkan kedisiplinan siswa dapat diartikan sebagai kepatuhan atau ketaatan anak dalam belajar yang dilandasi rasa tanggung jawab dan kesadaran yang tinggi tanpa harus menunggu perintah dari orang lain.

Kedisiplinan pada siswa terbentuk apabila siswa sudah dapat bertingkah luhur sesuai dengan pola tingkah laku yang baik menurut norma tingkah laku di sekolah. Siswa dikatakan disiplin dalam belajar apabila tanpa hukuman dan ancaman, siswa telah sadar bahwa belajar merupakan salah satu tanggung jawab bagi seorang siswa. Disiplin sekolah adalah usaha sekolah untuk memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah.

Pengukuran Sikap Profesionalisme Mahasiswa (skripsi dan tesis)

Beberapa  sikap   profesional  yang penting  adalah:  rasa  bangga  terhadap pekerjaan, kerja keras,     bekerja sama   dalam  tim, kebutuhan belajar sepanjang waktu, mengutamakan mutu dan kualitas  kerja yang terstandar, kebutuhan        bekerja efektif, efisien dan produktif, kebutuhan kreatif dan inovasi,       memiliki kekuatan untuk berubah,      dan komunikasi yang  efektif (Gisslen, 2007).

Dalam penelitian lain Hastuti dkk. 2003) mengungkapkan bahwa profesionalisme dicerminkan melalui lima dimensi, yaitu Pertama, pengabdian pada profesi dicerminkan dari dedikasi dengan menggunakan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki serta keteguhan untuk tetap melaksanakan pekerjaan meskipun imbalan ekstrinsik kurang. Sikap ini adalah ekspresi dari pencurahan diri yang total terhadap pekerjaan. Kedua, kewajiban sosial adalah suatu pandangan tentang pentingnya peranan profesi serta manfaat yang diperoleh baik masyarakat maupun kalangan profesional lainnya karena adanya pekerjaan tersebut. Ketiga, kemandirian dimaksudkan sebagai suatu pandangan bahwa seorang yang profesional harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain (pemerintah, klien dan mereka yang bukan anggota profesi). Setiap ada campur tangan dari luar dianggap sebagai hambatan kemandirian secara profesional. Keempat, keyakinan terhadap profesi adalah suatu keyakinan bahwa yang paling berwenang menilai apakah suatu pekerjaan yang dilakukan profesional atau tidak adalah rekan sesama profesi, bukan pihak luar yang tidak mempunyai kompetensi dalam bidang ilmu dan pekerjaan tersebut. Kelima, hubungan dengan sesama profesi adalah dengan menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk di dalamnya organisasi formal dan kelompok kolega informal sebagai ide utama dalam melaksanakan pekerjaan.

Machfoedz (1999) menggunakan variabel-variabel pembentuk profesionalisme yang dikembangkan oleh Novin dan Tucker (1993) yang terdiri dari skill, knowledge, dan characteristics (ethics).Dalam penelitian tersebut, Machfoedz (1999), melakukan pengujian terhadap perbedaan tingkat profesionalisme antara dosen perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) serta dosen di Jawa dengan di luar Jawa. Dalam penelitian dengan pengukuran hampir sama maka Stein et al. (1998) melakukan pengujian terhadap perbedaan tingkat profesionalisme mahasiswa semester awal dan mahasiswa semester akhir di Amerika Serikat. Tingkat profesionalisme mahasiswa akuntansi ditentukan oleh penguasaan terhadap tiga variabel pembentuk profesionalisme, yaitu pengetahuan (knowledge), keahlian (skill), dan sikap (attitude). Variabel pengetahuan terdiri dari pengetahuan umum, pengetahuan organisasional dan bisnis, dan pengetahuan berkaitan dengan keahlian yang dikembangkan. Variabel skill terdiri dari skill intelektual, skill interpersonal, dan skill berkomunikasi, sedangkan variabel attitude ditentukan oleh personal attitude.

Pengertian Sikap Profesionalisme Mahasiswa (skripsi dan tesis)

Pribadi (dalam Hamalik, 2004:2) menyatakan bahwa profesi adalah suatu pernyataan atau janji terbuka, bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan atau pekerjaan, karena merasa terpanggil untuk pekerjaan itu. Profesi dan profesionalisme dapat dibedakan secara konseptual seperti dikemukakan oleh Lekatompessy (2003). Profesi merupakan jenis pekerjaan yang memenuhi beberapa kriteria, sedangkan profesionalisme merupakan suatu atribut individual yang penting tanpa melihat apakah suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau tidak.

Dalam pengertian lain disebutkan bahwa profesionalisme berkaitan dengan sikap bertanggungjawab terhadap apa yang telah ditugaskan kepadanya. Menurut Rahma (2012) profesionalisme adalah suatu atribut individual yang penting tanpa melihat suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau tidak. Jadi dapat dikatakan bahwa profesionalisme itu adalah sikap tanggungjawab dari seorang pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan dengan keikhlasan hatinya. Menurut Novin dan Tucker (2003) mengidentifikasi profesionalisme sebagai penguasaan di bidang: pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan karakteristik (ethics). Sedangkan Hill et al. (2008) menyatakan bahwa profesionalisme ditentukan oleh penguasaan dalam hal knowledge, skill, dan attitudes.

Dimensi Dalam Ekspektasi Karir Mahasiswa (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian Fransiska (2013) terdapat lima tahapan yang menyangkut kematangan karir yakni:

1)   tahap pemahaman diri, menyangkut pengungkapan fakta individu baik mengenai aktifitas-aktifitas biasa dan ekstra kurikulernya, pengalaman kerja dan lain-lain serta fakta tentang masalahmasalahnya baik pribadi, pendidikan, kejuruan maupun kombinasi ketiganya. Dalam tahapan ini adapun indikator-indikator yang ingin dicapai adalah:

(a) pengembangan potensi diri;

(b) pentingnya suatu pekerjaan;

(c) pengembangan bakat;

(d) upaya meraih cita-cita;

(e) mengapa orang bekerja;

(f) kebutuhan manusia; dan

(g) peranan pekerjaan untuk pengembangan diri;

2)   tahap pencarian informasi pekerjaan, bertujuan agar individu mempunyai pilihan pekerjaan yang tepat dan realistik dan mempersiapkan dengan baik, tidak hanya diperlukan pengetahuan dan pemahaman pribadi saja tetapi juga harus mengetahui dunia kerja, pasar kerja, permintaan dan kesempatan kerja. Adapun indikator-indikator yang ingin dicapai pada tahapan ini adalah:

(a) cara mencari informasi pekerjaan;

(b) persyaratan kerja sesuai kehalian;

(c) pekerjaan/keahlian yang dibutuhkan masa mendatang;

(d) upaya menghindari menganggur setelah tamat;

(e) informasi jenis-jenis lapangan kerja yang dapat dimasuki setelah lulus; dan

(f) cara mencari pekerjaan;

3)   tahap mendapatkan  informasis setelah pilihan tempat bekerja seperti: bacaan, pengenalan subyek, media audio visual, konferensi, tour ke industri dan sebagainya. Adapun indikator-indikator yang dicapai pada tahapan ini adalah:

(a) memberikan informasi tentang cara belajar yang baik;

(b) menunjukkan bahan bacaan yang dapat meningkatkan pengetahuan;

(c) memberikan pengetahuan tentang pergaulan yang sehat;

(d) menunjukkan kesempatan/peluang masa depan;

(e) memberikan cara menghadapi tantangan hidup masa depan; dan

(f) menyampaikan informasi karir masa depan;

4)   tahap penempatan mencakup beberapa indikator yang ingin dicapai yaitu:

(a) informasi lapangan pekerjaan yang ada didaerah setempat;

(b) informasi lapangan pekerjaan yang ada di daerah lain dan

5)   tahap penyelesaiannya melengkapi bimbingan karir atau kejuruan dengan menempatkan terbimbing dalam pasar kerja dan menyesuaikan dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Adapun indikator-indikator yang ingin dicapai dalam tahapan ini adalah:

(a) cara melamar pekerjaan;

(b) persiapan wawancara untuk mencari pekerjaan;

 (c) informasi tentang persyaratan kerja sesuai dengan program keahlian;

(d) informasi tentang cara menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja; dan

 (e) informasi tentang kondisi lingkungan kerja pekerjaan yang sesuai dengan program keahlian.

Dalam penelitian Sugahara dan Boland, 2006 terdapat pengukuran mengenai ekspektasi karir yaitu:

  1. Nilai Intrinsik Pekerjaan.

Nilai Intrinsik ini berhubungan dengan kepuasan seseorang ketika melakukan pekerjaan. Jika seseorang memiliki tingkat kepuasan yang tinggi hal ini akan menimbulkan sikap positif terhadap pekerjaan tersebut, namun apabila seseorang tidak puas dengan pekerjaannya maka akan menimbulkan sikap yang negatif (Meilani Oktavia, 2005; Zyl dan Villier, 2011)

  1.  Prospek Karier

 Sugahara dan Boland (2006) mengemukakan bahwa penghasilan merupakan salah satu bagian dari prospek karier yang berpengaruh terhadap keputusan mahasiswa dalam pemilihan karier. Menurut Yuanita Widyasari (2010) faktor gaji mempengaruhi persepsi mahasiswa mengenai pemilihan karier sedangkan Zyl dan Villier (2011) mengungkapkan bahwa penghasilan mempengaruhi mahasiswa i untuk berkarier

  1.  Pasar Kerja.

 Pasar kerja dipercaya berhubungan dengan keputusan mahasiswa dalam menentukan pemilihan karier mereka (Meilani Oktavia, 2005; Sugahara dan Boland, 2006; Yuanita Widyasari, 2010; Zyl dan Villier, 2011).

Pengertian Ekspektasi Karir Mahasiswa (skripsi dan tesis)

Ekspektasi karier adalah harapan akan pekerjaan yang dipegang selama masa kerja seseorang. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Srijanti dan Artiningrum (2006:24) yang menyebut pekerjaan dan minat yang selaras akan menjadi penyebab suksesnya hidup. Pada kehidupan nyata, tentunya seorang mahasiswa menginginkan kesuksesan dalam hidupnya sehingga harapan akan karier itu sendiri dapat mempengaruhi sikap profesionalisme.

Ekspektasi karir menyangkut tentang harapan seseorang terhadap peningkatan karirnya dimasa depan. Dewasa ini salah satu penjelasan mengenai ekspektasi yang dapat diterima adalah Teori Harapan dari Vroom yang menyatakan bahwa kekuatan dari sesuatu cenderung untuk bertindak dengan suatu cara tertentu tergantung dari pada kekuatan dari pengharapan, bahwa tindakan itu akan diikuti oleh perbuatan tertentu dan daya tarik keluaran bagi individu (dalam Astini, 2009). Robbins menambahkan harapan pegawai tersebut direalisasikan dalam bentuk: 1) kepuasan kerja, 2) keterlibatan kerja dan 3) komitmen pada organisasi (dalam Astini, 2009).Ekspektasi berkaitan erat dengan motivasi, karena semakin tinggi harapan maka akan semakin tinggi pula motivasi yang dimiliki.

Pengertian ekspektasi karir menurut beberapa sumber menyebutkan sebagai kuatnya kecenderungan seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu tergantung pada kekuatan harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti oleh suatu hasil tertentu dan pada daya tarik dari hasil itu bagi yang bersangkutan (KBBI, 1991:254-447; UNESCO, 2002; 47). Dalam pengertian lain ekspektasi karir juga dikaitkan dengan istilah Job expectation berhubungan dengan perkiraan mahasiswa mengenai hal apa sajakah yang akan diterimanya apabila bekerja sebagai akuntan profesional. Dalam penelitian Sugahara dan Boland (2008) di Australia, job expectation disebut sebagai vocational expectation factors.

Berdasarkan urian di atas maka,  job expectation yang berhubungan dengan perkiraan mahasiswa mengenai hal apa sajakah yang akan diterimanya apabila bekerja sebag apekerja profesional. Pada teori harapan, job expectation lebih berfokus pada hubungan kinerja-penghargaan yang melihat tingkatan kepuasan individu atas keyakinan bahwa bekerja pada tingkat tertantu akan menghasilkan pencapaian yang diinginkan.

Dimensi Dalam Konsep Akademik Mahasiswa (skripsi dan tesis)

Marsh (2002) mengemukakan bahwa konsep diri akademik yang mengacu pada persepsi dan perasaan siswa terhadap dirinya berhubungan dengan bidang akademikl, secara umum mempunyai tiga aspek utama yaitu kepercayaan diri, penerimaan diri, dan penghargaan diri. Dari beberapa apek tersebut maka dapat dijelaskan secara lebih terinci, terutama dikaitkan dengan keadaan para pelajar.

  1. Kepercayaan diri

Siswa yang mempunyai kepercayaan diri tinggi akan merasa yakin akan kemampuan nya di bidang yang akan digeluti dan mereka akan berusaha untuk meraih prestasi yang tinggi. Sebaliknya siswa yang akan mempunyai kepercayaan diri rendah akan diliputi oleh keraguan dalam belajar dan menekuni pendidikan sesuai dengan bidang yang digelutinya disekolah.

  1. Penerimaan diri

Para siswa yang dapat menerima baik kelebihan maupun kekurangannya akan dapat memperkirakan kemampuan yang dimilikinya, dan yakin terhadap ukuran-ukurannya sendiri tanpa harus terpengaruh pendapat orang lain selanjutnya siswa akan mampu untuk menerima keterbatasan dirinya tanpa harus menyalahkan orang lain.

  1. Penghargaan diri

Rasa harga diri pada diri individu tumbuh dan berasal dari penilaian pribadi yang kemudian menghasilkan suatu akibat terutama pada proses pemikiran, perasaan-perasaan, keinginan-keinginan, nilai-nilai dan tujuannya yang membawa ke arah keberhasilan atau kegagalannya (Nathaniel, dalam Kwartarini, 2008). Pada siswa yang menghargai dirinya akan berpikir positif tentang dirinya maupun bidang yang mereka geluti disekolah, dan hal ini akan mendorong mereka dalam mencapai suatu kesuksesan dalam bidang pendidikan.

Selain tiga aspek utama konsep diri akademik yang telah dikemukakan diatas, Song dan Hatie (2004) menambahkan bahwa terdapat 3 komponen utama dalam Konsep Diri Akademik, yaitu :

  1. Classroom Self Concept. Hal ini berarti bahwa siswa membandingkan dirinya dengan teman-teman lain dalam kelas.
  2. Ability Self Concept. Hal ini mengacu pada konsep diri yang berhubungan dengan kemampuan akademik siswa
  3. Achievement Self Concept. Hal ini mengacu pada pengertian konsep diri yang berhubungan dengan prestasi aktual akademik siswa.

Pengertian Konsep Akademik Mahasiswa (skripsi dan tesis)

Konsep Diri Akademik adalah satu set tingkah laku dan perasaan yang merefleksikan persepsi diri, evaluasi diri yang relatif stabil dan tingkah laku yang berpusat pada performa dalam tugas berbasis sekolah (Chapman & Boersma, 1991). Sedangkan menurut (Marsh & Craven, 1997; Shavelson, Hubner, & Stanton, 1976; dalam Guay, 2004) konsep diri akademik adalah evaluasi persepsi diri yang terbentuk melalui pengalaman yang disertai interpretasi terhadap lingkungan sekolah. Konsep diri akademik didefinisikan sebagai kemampuan akademik yang terbentuk melalui pengalaman individu dan interaksinya dengan lingkungan oleh O’Mara dkk (2006, dalam (Rosen, 2010).

Eccles et ala 1987; 1992 (dalam Guay, 2004) mengatakan bahwa konsep diri akademik (keyakinan aktual tentang kemampuan) termasuk ketekunan, performa, pilihan melalui ekpektansi kesuksesan (keyakinan tentang bagaimana ia dapat menyelesaikan tugas sekolah dengan baik). Konsep diri akademik mengacu pada pengetahuan dan persepsi individu mengenai dirinya sendiri dalam situasi prestasi akademik (Wigfield & Karpathian, 1991 dalam Dowson dkk). Bong dan Skaalvik (2003) menyatakan bahwa konsep diri akademik terutama mengindikasikan kemampuan individu memandang diri sendiri di dalam area akademik. Lebih jauh, Eccles (1983 dalam Moller, dkk, 2011) menyatakan bahwa konsep diri akademik memainkan peran utama dalam perkembangan motivasi dan pilihan perilaku akademik. Peningkatan konsep diri akademik perlu menjadi perhatian utama dalam seting pendidikan dan perkembangan anak.

Pengukuran Kondisi Belajar Mahasiswa (skripsi dan tesis)

Menurut Arikunto (2007) adapun komponen-komponen pendukung proses kegiatan pembelajaran, antara lain sebagai berikut:

1)        Kurikulum

Kurikulum adalah rancangan materi yang dipersiapkan berdasarkan rancangan yang sistematik dan koordinatif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang diterapkan. Cakupan kurikulum meliputi empat bagian, antara lain sebagai berikut:

  1. Bagian yang berkenaan dengan tujuan yamg hendak dicapai dalam proses proses belajar mengajar,
  2. Bagian yang berisi pengetahuan, informasi-informasi, data, aktifitas dan pengalaman-pengalaman yang merupakan bahan bagi penyusunan kurikulum yang isinya berupa metode pelajaran yang kemudian dimasukan dalam silabus,
  3. Bagian yang berisi metode atau cara menyampaikan mata pelajaran tersebut
  4. Bagian yang berisi metode atau cara melakukan penilaian dan pengukuran atas hasil yang dicapai

2)        Materi

Materi adalah bahan-bahan yang akan di pelajari dalam proses kegiatan belajar maupun bahan-bahan yang akan keluar dalam evaluasi hasil belajar. Materi atau bahan pengajaran merupakan isi atau bahan pengajaran yang sangat penting. Materi merupakan isi kurikulum yang diberikan kepada siswa saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Materi dalam proses pembelajaran harus dikuasai oleh pendidik, sebab akan menimbulkan kesulitan dalam proses belajar mengajar jika kurang dikuasai.

3)        Pendekatan proses pembelajaran

Dalam proses pembelajaran, terdapat beberapa jenis pendekatan dalam proses pembelajaran. Diantaranya adalah menggunakan pendekatan sistem induktif, tematik, partisipatif (andragogis), konstruktif, Partisipatif andragogis dan berbasis lingkungan.

4)        Metode

Metode adalah cara yang ditempuh dalam proses kegiatan belajar. Dengan tetap memperhatikan aspek psikologi dan sosial kelompok masyarakat yang berbeda-beda, dan berdasarkan pendekatan-pendekatan tersebut di atas, secara garis besar proses pembelajaran dilakukan melalui metode kooperatif, metode interaktif, metode eksperimen, tutorial, diskusi, penugasan, raktek, belajar mandiri, demonstrasi (peragaan), observasi, simulasi, dan studi kasus.

Khususnya dalam kondisi perkuliahan maka Akademik artinya bersifat akademis, sedangkan akademis artinya mengenai (berhubungan dengan akademi; bersifat ilmiah; bersifat ilmu pengetahuan; bersifat teori; tanpa arti praktis yang langsung (Depdikbud, 2008: 15). Fajar (2002: 5) menyatakan bahwa akademik dapat dimaknai sebagai kondisi dimana seseorang dapat menyampaikan dan menerima gagasan pemikiran dan ilmu pengetahuan sekaligus dapat mengujinya secara bebas, jujur, terbuka, dan leluasa. Terdapat berbagai macam kegiatan akademik yang dijalankan di suatu lembaga pendidikan di sekolah maupun perguruan tinggi meliputi: tugas-tugas yang disusun dalam program perkuliahan, seminar, praktikum, kuliah kerja nyata, praktik kerja lapangan, penulisan skripsi, tesis, maupun disertasi. Kegiatan tersebut diselesaikan dalam jenjang waktu yang telah ditetapkan dalam suatu lembaga pendidikan terkait. Faktor akademis berarti faktor-faktor yang berhubungan langsung dengan proses pembelajaran di Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal. yang meliputi berbagai  Faktor Akademik yaitu diantaranya adalah :

  1. Kurikulum

Kurikulum merupakan suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar dibawah bimbingan dan tanggung jawab lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya (S. Nasution, 2010: 5). Sedangkan Slameto (2010: 65) menyatakan bahwa kurikulum menyajikan bahan ajar agar peserta didik menerima, menguasai dan mengembangkan bahan ajar itu, sehingga bahan ajar itu mempengaruhi belajar peserta didik. Kurikulum yang kurang baik akan berpengaruh kurang baik pula terhadap hasil belajar, misalnya kurikulum yang terlalu padat diluar kemampuan peserta didik, tidak sesuai dengan bakat, minat dan perhatian peserta didik. Kurikulum Prodi Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal. terdiri atas kurikulum institusional dan kurikulum inti. Kurikulum institusionsl terkait dengan bahan kajian yang merupakan ciri khas perguruan tinggi yang bersangkutan, sedangkan kurikulum inti terkait dengan kelompok bahan kajian yang harus dicakup dalam Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal yang dirumuskan dalam berbagai mata kuliah sebagai ciri khas program studi. Untuk mencapai kompetensi lulusan program studi perlu ditentukan kelompok bahan kajian. Dari bahan kajian itu dirumuskan nama mata kuliah sebagai materi kajian beserta bobot satuan kredik semester (SKS) yang siap diinteraksikan melaluiproses pembelajaran. Mata kuliah-mata kuliah yang disusun dapat dikategorikan ke dalam kegiatan teori (T) sebesar 58,33% – 63,89%, prakti (P) sebesar 30,56% – 36,81%, dan lapangan (L) sebesar 4,17% – 6,94%. Jumlah SKS untuk jenjang Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal  adalah 144 SKS. Untuk dapat menyelesaikan jenjang pendidikan dapat ditempuh dengan dua jalur, yaitu melalui tugas akhir skripsi (TAS) dan tugas akhir bukan skripsi (TABS) (

  1. Dosen

Keberhasilan pembelajaran sebuah pendidikan di perguruan tinggi turut dipengaruhi oleh kualitas dosennya, sedangkan kualitas dosen itu meliputi:

  1. Efektifitas pengajaran

Menurut Slameto (2010: 92-95) bahwa keefektifan seorang pendidik atau dosen dalam konteks perguruan tinggi dalam melaksanakan pembelajaran harus memiliki syarat antara antara lain:

  1. Dosen harus menggunakan banyak metode pada waktu memberi kuliah agar penyajian bahan dapat lebih menarik.
  2. Dosen perlu mempertimbangkan perbedaan individual dari mahasiswa, tidak cukup hanya menggunakan pembelajaran klasikal saja, karena masing-masing mahasiswa mempunyai perbedaan dari beberapa segi.
  3. Dosen akan mengajar efektif bila selalu membuat perencanaan perkuliahan sebelum mengajar.
  4. e) Pengaruh dosen yang sugestif perlu diberikan pula kepada mahasiswa agar memacu untuk lebih giat belajar. Dosen perlu memberikan pujian yang positif agar mahasiswa memiliki sikap yang positif pula.
  5. Dosen harus mampu menciptakan suasana yang demokratis di sekolah yang bertujuan untuk mengerti kebutuhan mahasiswa yang sebenarnya.
  6. Dosen perlu memberikan masalah yang merangsang bagi mahasiswa untuk berpikir pada saat penyajian materi.
  7.  Dalam pelaksanaan interaksi belajar mengajar, dosen harus banyak memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk dapat menyelidiki sendiri, mengamati sendiri, belajar sendiri, serta mencari pemecahan masalah sendiri.
  8. Dosen perlu mengadakan pengajaran remedial bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar agar interaksi belajar mengajar meningkat.
  9. Peran dosen pembimbing akademik

Dosen pembimbing akademik merupakan staf pendidik yang ditetapkan untuk membimbing seorang atau lebih mahasiswa di jurusan tertentu di suatu perguruan tinggi (Utomo dan Hargiarto ( 2011: 75). Sedangkan Dent dan Rennie dalam Utomo dan Hargiarto (2011: 78) menyatakan bahwa pembimbing akademik yang baik harus menjadi pendengar yang efektif dan berempati kepada mahasiswa karena seringkali itulah yang dibutuhkan oleh mahasiswa yang dibimbingnya. Tugas pembimbing akademik diuraikan oleh Nugroho Budi Utomo dan Putut Hargiarto (2011: 79) adalah:

(1) Merupakan Role Model sebagai seorang pendidik di program studi;

 (2) Menanamkan nilai-nilai luhur etika perguruan tinggi, seperti norma keagamaan dan kaidah profesional yang baik kepada mahasiswa dalam menjalankan profesinya sebagai alumni perguruan tinggi;

(3) Menciptakan suasana yang serasi dengan mahasiswa bimbingannya sehingga dapat memacu gairah belajarmahasiswa;

(4) Pembimbing akademik diharapkan dapat selalu memberikan apresiasi dan positive reward yang menumbuhkan motivasi dan semangat belajar mahasiswa (empowering).

  1. Mahasiswa

Djaali (2008: 99) menyatakan bahwa kesehatan, intelegensi, minat dan kesehatan akan berpengaruh terhadap keberhasilan dalam menyelesaikan studi seseorang. Apabila seseorang sering sakit akan mengakibatkan tidak bergairah belajar dan secara psikologi sering mengalami gangguan pikiran dan perasaan kecewa karena konflik. Faktor intelegensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Minat yang besar atau keinginan yang kuat terhadap sesuatu merupakan modal besar untuk mencapai tujuan.

  1. Layanan Akademik

Pengertian layanan akademik adalah perihal atau cara melayani sesuatu untuk keperluan akademik. Menurut Munir (2005: 27) bahwa layanan hakikatnya adalah serangkaian kegiatan, karena itu proses layanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan, meliputi seluruh kehidupan. Petugas layanan akademik dapat membantu kelancaran proses perkuliahan, namun bisa juga menghambat. Tugas petugas layanan akademik diantaranya adalah menyiapkan keperluan perkuliahan, seperti LCD dan kelengkapannya, mngatur jadwal kuliah, pengarsipan data mahasiswa termasuk nilai, dan sebagainya.

  1. Sarana dan prasarana

Sarana ialah peralatan (bergerak) yang digunakan dalam proses pembelajaran. Sarana pendukung akademik ialah sarana untuk kegiatan perkuliahan, praktik atau praktikum yang tekait langsung dan sifatnya khusus dalam perkuliahan, pelaksanaan praktik atau pelaksanaan kegiatan praktikum pada bidang studi terkait. Misalnya untuk perkuliahan ialah OHP, LCD, infocus, TV sedangkanuntuk praktikum/praktik ialah alat-alat laboratorium, komputer, mesin-mesin, dan sebagainya (Ditjen Dikti, 2006: 4). Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang terselenggarakannya suatu proses dan memiliki sifat permanen isalnya lapangan, gedung olahraga, dan sebagainya (Soepartono, 2010: 5). Sarana dan prasarana yang diperlukan bagi keterlaksanaan belajar mengajar Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal. cukup banyak karena memerlukan banyak sarana dan prasarana yang masing-masing mata kuliah memiliki karekter yang tidak sama.

Karakteristik Siswa (skripsi dan tesis)

  1. 1.Status Sosial Ekonomi

Status sosial ekonomi sering disebut dengan kelas sosial atau status sosial. Menurut Polak (dalam Gunawan, 2010 : 40) berpendapat bahwa Status adalah kedudukan sosial seseorang dalam kelompok serta dalam masyarakat. Sedangkan Soerjono Soekanto (2006 : 210) berpendapat bahwa status sosial ekonomi adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulan, prestisnya, dan hak-hak serta kewajibannya.

Lebih lanjut status dibagi menjadi 3 macam yaitu:

  1. Ascribed status yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran.
  2. Achieved status yaitu kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan ini diperoleh tidak atas dasar kelahiran tergantung dari kemampuan masing-masing dalam mengejar serta mencapai tujuannya.
  3. Assigned status yang merupakan kedudukan yang diberikan kepada seseorang yang berjasa yang telah memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa status sosial ekonomi orang tua adalah kedudukan seseorang di masyarakat dalam lingkungan pergaulan, prestis yang diperoleh dari usaha sendiri  atau yang telah berjasa memperjuangkan dan memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat.

  1. 2.Pengukuran Status Sosial Ekonomi Orang Tua

1)        Pendidikan

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia karena pendidikan akan memberikan pengetahuan dan wawasan yang luas tentang kehidupannya di masa yang akan datang. Pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap kedudukan seseorang di masyarakatnya. Apabila seseorang berpendidikan tinggi maka akan semakin tinggi status sosialnya. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi. Seperti dijelaskan pada pasal 17 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi pendidikan menengah. Pendidikan dasar terdiri dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar hendaknya melanjutkan pendidikan menengah untuk menambah ilmu pengetahuan. Seperti dijelaskan pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 18 pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat. Kemudian setelah menempuh pendidikan menengah alangkah baiknya dapat menempuh pendidikan tinggi. Tetapi biasanya tidak semua orang dapat melanjutkan ke pendidikan tinggi karena terhambat oleh biaya yang mahal. Seperti dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 19 pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

Dengan demikian semakin tinggi pendidikan yang ditempuh seseorang maka semakin tinggi derajat atau status sosial ekonomi orang tersebut di kehidupan masyarakat.

2)        Pekerjaan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:682) pekerjaan adalah barang apa yang dilakukan (diperbuat, dikerjakan, dsb), tugas kewajiban, hasil bekerja, perbuatan yang merupakan mata pencaharian yang dijadikan pokok penghidupan dan sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah. Dalam suatu pekerjaan, ada beberapa jenis pekerjaan. Menurut Mantra (2009 :239) ada beberapa jenis pekerjaan, yaitu:

  1. Pemimpin dan manajer senior
  2. Tenaga ahli
  3. Teknisi dan sejenisnya
  4. Tenaga produksi dan tenaga terkait
  5. Tata usaha dan usaha jasa tingkat lanjutan
  6. Tata usaha dan usaha jasa tingkat menengah
  7. Pekerja produksi dan angkutan tingkat menengah
  8. Pekerja produksi dan angkutan tingkat rendah
  9. Pekerja kasa dan pekerja terkait

Kemudian Ida Bagus Mantra membagi status pekerjaan yaitu:

  1. Berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain termasuk kelompok ini:

(1) Tukang becak atau yang membawa becak atas resiko sendiri

(2) Sopir taksi yang membawa mobil atas resiko sendiri

(3) Kuli-kuli di pasar, stasiun yang tidak mempunyai majikan

  1. Berusaha dengan dibantu anggota rumah tangga, buruh tidak tetap termasuk kelompok ini:
  2.           Pengusaha warung yang dibantu keluarga atau dibantu buruh tidak tetap dan tidak dibayar
  3.           Penjaja keliling dengan dibantu keluarga atau dibantu buruh tidak tetap

                         iii.          Petani yang mengusahakan tanah sendiri dengan dibantu anggota keluarga atau sewaktu-waktu menggunakan buruh tidak tetap

  1. Berusaha dengan buruh tetap; pengusaha yang memeperkerjakan buruh tetap dibayar tanpa memperhatikan ada kegiatan apa tidak
  2. Buruh karyawan; seseorang yang bekerja pada orang lain atau instansi dengan menerima upah berupa uang dan atau barang.
  3. Pekerja; tanpa menerima upah, misalnya anak membantu ibu berjualan, pekerja keluarga, pekerja bukan keluarga tetapi tidak dibayar

Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa perbuatan yang merupakan mata pencaharian pokok sebagai penghidupan yang terdiri dari beberapa jenis dengan usaha sendiri atau dengan bantuan orang lain. Menurut Sri Hastuti (Purnomo, 2013:28) jenis pekerjaan di Indonesia digolongkan menjadi:

  1. Golongan pegawai negeri adalah mereka yang diangkat oleh pejabaat yang berwenang serta digaji menurut peraturan perundangan yang berlaku. Pegawai negeri dibagi menjadi dua, yaitu:

1)   Pegawai Negeri Sipil yang terdiri dari pegawai sipil pusat/daerah dan jabatan negeri lainnya.

2)   ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)

  1. Golongan pedagang yaitu mereka yang mempunyai perusahaan/bidang usaha besar/kecil. Ada dua pengertian pedagang, yaitu:

(1) Pedagang dalam arti luas, yaitu usahawan dan pedagang

(2) Pedagang dalam arti sempit, yaitu pedagang yang mengusahakan barang-barang yang dibutuhkan untuk dijual belikan

  1. Golongan petani yaitu mereka yang mata pencahariannya sebagai petani dengan bercocok tanam, seperti berladang/bersawah
  2. d) Golongan buruh yaitu mereka yang bekerja dengan menjual jasa seperti tukang becak, tukang bantu, dan lain-lain.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Mahasiswa (skripsi dan tesis)

Menurut (Suprapto, 2007; 65) ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa memilih pendidikan tinggi kejuruan diantaranya:

  1. Kemauan

Kemauan adalah suatu kegiatan yang menyebabkan seorang manusia sanggup melakukan berbagai tindakan yang perlu untuk mencapai tujuan tertentu. Merupakan hal yang penting karena dengan adanya kemauan merupakan salah satu faktor penggerak seseorang untuk mau melakukan sesuatu seperti dalam hal memilih sekolah.

  1. Ketertarikan

Ketertarikan adalah perasaan senang, terpikat, menaruh minat kepada sesuatu. Pada saat ada ketertarikan timbul dalam diri seseorang maka ada daya juang dalam mencapai atau meraih yang ingin dicapai. Dengan adanya ketertarikan dari siswa untuk sekolah di pendidikan tinggi kejuruan maka mahasiswa tersebut mempunyai minat untuk masuk pendidikan tinggi kejuruan.

  1. Lingkungan Keluarga

Berkaitan dengan pendidikan di lingkungan keluarga, bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama. Bahwa proses pendidikan di lingkungan keluarga dapat mempengaruhi kepribadian anak sebagai anak didik di dalam anggota keluarga. Karena orang tua adalah sebagai orang dewasa yang mendidik anak-anak di lingkungan keluarga di rumah, maka menjadi faktor penting bagi orang tua terhadap perkembangan kedewasaan anak untuk memahami tentang pribadi anak sebagai individu yang tumbuh dan berkembang, melalui perhatian orang tua terhadap masa depan anak, dengan pemberian wawasan terutama tentang pendidikan, sehingga adanya harapan orangtua terhadap anak untuk diarahkan sesuai dengan kebutuhan dan keadaan sosial yang sedang berlangsung. Orang tua merupakan pendidik pertama dan sebagai tumpuan dalam bimbingan kasih sayang yang utama. Maka orang tualah yang banyak memberikan pengaruh dan warna kepribadian terhadap seorang anak. Dengan demikian mengingat pentingnya pendidikan di lingkungan keluarga, maka pengaruh di lingkungan keluarga terhadap anak dapat mempengaruhi apa yang diminati oleh anak.

  1. Lingkungan Sekolah

Proses pendidikan terhadap mahasiswa di sekolah menjadi tanggung jawab tenaga pengajar. Pendidikan di sekolah berperan membantu orang tua di lingkungan keluarga dalam melakukan pembinaan kepada peserta didik yang dibawa dari keluarganya. Jadi pada dasarnya yang berpengaruh terhadap perkembangan mahasiswa yaitu proses pendidikan di sekolah yang digunakan sebagai bekal untuk diterapkan dalam kehidupan di lingkungan masyarakat. Seorang guru dalam proses pendidikan juga dapat memberikan motivasi dan dorongan kepada siswa dalam menumbuhkan minatnya. Sebagai pendidik dalam lembaga pendidikan formal di sekolah maka secara langsung seorang guru telah menerima kepercayaan dari masyarakat untuk memangku jabatan dan tanggung jawab pendidikan. Jabatan seorang pendidik adalah suatu tugas yang mulia, karena guru merupakan panutan semua orang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, apalagi yang dibutuhkan orang pada dasarnya adalah kearah pengembangan kualitas SDM yang berguna. Oleh karena itu peran seorang guru dalam kehidupan sehari-hari sangat menentukan bagi kelangsungan hidup anak didik (siswa) dalam proses pendidikan.

  1. Kondisi Sekolah

Kondisi sekolah juga dapat mempengaruhi minat siswa dalam memilih sekolah. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi besarnya minat yang timbul dari diri seseorang terhadap suatu objek sehingga masing-masing faktor tersebut memiliki peran yang berbeda sesuai dengan kondisi masing-masing. Ada kalanya salah satu faktor sangat dominan di dalam meningkatkan minat seseorang, sedangkan faktor yang lain tidak terlalu dominan. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi masing-masing individu yang tentunya antara individu yang satu dengan yang lain berbeda

Menurut Slameto (2010:54) ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat yaitu:

1)   Faktor yang ada pada diri mahasiswa itu sendiri yang disebut faktor individu (intern), yang meliputi:

  1. Faktor biologis, meliputi: kesehatan, gizi, pendengaran dan penglihatan. Jika salah satu dari faktor biologis terganggu akan mempengaruhi hasil prestasi belajar.
  2. Faktor psikologis, meliputi: intelegensi, minat dan motivasi serta perhatian ingatan berfikir.
  3. Faktor kelelahan, meliputi: kelelahan jasmani dan rohami. Kelelahan jasmani nampak dengan adanya lemah tubuh, lapar dan haus serta mengantuk. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu akan hilang.

2)   Faktor yang ada pada luar individu yang disebut dengan faktor ekstern, yang meliputi:

  1. a) Faktor keluarga.
  2. b) Faktor sekolah
  3. c) Faktor masyarakat

Pengukuran Minat Mahasiswa (skripsi dan tesis)

Minat merupakan gejala psikis yang belum dapat diamati secara langsung, yang dapat diamati ialah manifestasinya dalam perbuatan atau tingkah laku. Menurut Jensen (2008 : 30) kondisi yang merupakan indikator bahwa seseorang mempunyai minat terhadap suatu pembelajaran ditunjukan oleh perilaku atau tindakan sebagai berikut :

1)   Secara intrinsik tertantang oleh materi yang tidak terlalu mudah, tetapi tidak terlalu sulit.

2)   Tekanan yang rendah sampai sedang, relaksasi yang biasa. Para pembelajar merasa tidak terlalu tertekan dengan suasana pembelajaran.

3)   Rasa ingin tahu dari pembelajar.

Ada tujuh ciri minat yang dikemukakan oleh Hurlock (2008:155), ciri tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. a.Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental.

Minat juga berubah selama terjadi perubahan fisik dan mental, contohnyaperubahan minat karena perubahan usia.

  1. Minat tergantung pada persiapan belajar

Kesiapan belajar merupakan salah satu faktor penyebab meningkatnya minat. Seseorang tidak akan mempunyai minat sebelum mereka siap secara fisik maupun mental.

  1. Minat bergantung pada kesempatan belajar

Minat anak-anak maupun dewasa bergantung pada kesempatan belaja ryang ada . Sebagian anak kecil yang lingkungannya terbatas pada rumah,maka minat mereka juga tumbuh di rumah. Dengan pertumbuhan di lingkungan sosial, mereka menjadi tertarik pada minat orang diluar rumahdiluar rumah yang mereka kenal.

  1. Perkembangan minat mungkin terbatas

Perkembangan minat terbatas dapat dikarenakan keadaan fisik yang tidak memungkinkan. Seseorang yang cacat fisik tidak memiliki minat yangsama pada olahraga seperti teman sebayanya yang perkembangannya normal. Perkembangan minat juga dibatasi oleh pengalaman sosial yang terbatas.

  1. Minat yang dipengaruhi oleh pengaruh budaya

Kemungkinan berkembangnya minat akan lemah jika tidak diberikesempatan untuk menekuni minat tersebut, apabila dianggap tidak sesuai oleh kelompok budaya mereka.

  1. Minat berbobot emosional

Minat berhubungan dengan perasaan. Jika suatu objek dihayati sebagaisesuatu yang sangat berharga, maka timbul perasaan senang yang akhirnyamemunculkan minat. Bisa diartikan, bobot emosional ikut menentukankekuatan minat. Bobot emosional yang tidak menyenangkan akanmelemahkan minat, dan sebaliknya bobot emosional yang menyenangkanakan menguatkan minat.

  1. .Minat dan egosentris

Minat berbobot egrosentris jika seseorang terhadap seseuatu baik manusiamaupun barang mempunyai kecenderungan untuk memilikinya.

Menurut Cague (dalam Permanik,1991: 20) menjabarkan bahwa minatmeliputi dua macam, yaitu:

  1. Minat Spontan

Minat yang tumbuh secara spontan dari dalam diri seseorang tanpaterpengaruh pihak luar.

  1. .Minat terpola

Minat yang timbul sebagai akibat adanya pengaruh dari kegiatan-kegiatanberencana yang terpola, terutama kegiatan belajar-mengajar baik dari lembaga sekolah maupun dari luar sekolah

Pengertian Minat Mahasiswa (skripsi dan tesis)

Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Oleh sebab itu, apa yang dilihat seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya, sejauh yang dilihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri. Bernard dalam Sardiman mengatakan bahwa minat tidak timbul secara tiba-tiba atau spontan, melainkan timbul akibat partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja (Sardiman, 2008; 45).

Menurut Slameto (2010: 180), minat adalah suatu rasa lebih suka dan suatu rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktifitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri, semakin kuat atau semakin dekat hubungan tersebut, maka minat akan semakin besar. Suatu minat dapat diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya. Hal yang disukai tersebut dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktifitas. Mahasiswa yang memiliki minat terhadap subyek tertentu cenderung akan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut. Sedangkan menurut Djaali (2008:121)  bahwa Minat dapat diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukan bahwa mahasiswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian”.

Menurut Ahmadi (2003), minat adalah sikap seseorang yang termasuk dalam tiga fungsi jiwa (kognisi, konasi, dan emosi) yang tertuju pada hubungan yang terdapat unsur perasaan yang sangat kuat. Minat timbul karena seseorang melihat dan mengenal sesuatu, lalu akan diterima oleh rasa, dan akan diputuskan hal tersebut disukai atau tidak. Rasa suka dan senang terhadap sesuatu yang dilihat dan diterima, akan menimbulkan minat pada seseorang. Minat menurut Murphy & Harris (dalam Hurlock, 2008: 440) bahwa minat adalah motif yang dipelajari yang mendorong individu untuk bertindak sesuai dengan keinginannya itu. Hal ini didefinisikan sebagai kesenangan dengan kegiatan ketika individu bebas untuk memilih. Minat tidak hanya tergantung pada status fisik dan mental, tetapi juga pada kesempatan. Hal ini tergantung pada lingkungan dan pada orang terdekat.

Pelaksanaan Point Pelanggaran Siswa (skripsi dan tesis)

Bobot Poin Pelanggaran adalah poin yang dikenakan kepada siswa atas pelanggaran yang dilakukan siswa terhadap Tata Tertib yang ditetapkan oleh sekolah. Tujuannya adalah demi terjaganya suasana kondusif di lingkungan sekolah dan kenyaman belajar siswa. Poin maksimal bagi pelanggaran siswa adalah 100 poin. Bobot jumlah poin maksimal tersebut dihitung selama masa siswa belajar di sekolah, apabila seorang siswa telah mencapai poin tersebut maka akan dikembalikan kepada orang tua (dikeluarkan). Sebelum mencapai poin maksimal sebelumnya akan diberi peringatan-peringatan dan panggilan orang tua secara tertulis.

  1. 25 poin diberi peringatan tertulis oleh wali kelas dan BP.
  2. 50 poin di panggil orang tua/wali diberi peringatan tertulis oleh wali kelas dan BP
  3. 70 poin di panggil orang tua/wali di diberi peringatan dan membuat perjanjian tertulis dan ditanda tangani oleh wali kelas, BP, Pembina Kesiswaan dan diketahui oleh kepala sekolah.
  4. 80 poin di panggil orang tua/wali diberi peringatan terakhir, membuat perjanjian tertulis diatas materai yang ditanda tangani oleh wali kelas, BP, Pembina Kesiswaan dan diketahui oleh Kepala Sekolah dan diberi sangsi SKORSING selama 1minggu. Apabila siswa melanggar perjanjian yang telah dibuat akan dikembalikan pada orang tua/dikeluarkan dari sekolah.
  5. 100 poin, maka siswa bersangkutan dikembalikan ke orang tua/dikeluarkan dari sekolah.

Pelaksanaan Model Pembelajaran “Everyone Is A Teacher Here” (skripsi dan tesis)

Strategi pembelajaran “everyone is a teacher here” merupakan salah satu cara pemecahan masalah untuk memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Strategi ini memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang pengajar terhadap peserta didik lain (Silberman, 2009). Strategi “everyone is a teacher here” yaitu strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan proses pembelajaran siswa, dan dapat disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh pembelajaran pada berbagai mata pelajaran, khususnya  pencapaian tujuan yaitu meliputi aspek: kemampuan mengemukakan pendapat, kemampuan menganalisa masalah, kemampuan menuliskan pendapat-pendapatnya (kelompoknya) setelah melakukan pengamatan, kemampuan menyimpulkan, dan lain-lain. Penerapan dari strategi “everyone is a teacher here”  yaitu dimulai dari guru memberikan bahan/sumber bacaan yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan.

 Siswa kemudian ditugaskan untuk membaca dan membuat sebuah pertanyaan dari materi/bahan yang sedang akan diajarkan. Pertanyaan tersebut dibuat dalam suatu kartu  yang  dipersiapkan oleh guru secara kelompok. Setelah selesai siswa membuat pertanyan, kartu pertanyaan (card quest) tersebut dikumpulkan kemudian dibagikan kembali kepada siswa secara acak. Selanjutnya, yaitu siswa diberi tugas untuk melakukan presentasi dengan membaca pertanyaan dan menjawabnya, siswa lain diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan. Guru pada tahapan ini dapat mengevaluasi (memberikan penilaian). Berdasarkan uraian tersebut, melalui strategi pembelajaran strategi “everyone is a teacher here” diharapkan siswa akan lebih bergairah dan senang dalam menerima pelajaran sejarah (Nugroho, 2009)

Secra singkat maka langkah-langkah pembelajaran dengan strategi  “everyone is a teacher here” antara lain: (a) membagikan secarik kertas kepada seluruh peserta didik dan kemudian meminta mereka untuk menuliskan satu soal tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari di kelas atau sebuah topik khusus yang akan didiskusikan di dalam kelas, (b) mengumpulkan kertas, acak kertas tersebut kemudian bagikan kepada setiap peserta didik. Pastikan bahwa tidak ada peserta didik yang menerima soal yang ditulis sendiri. Minta mereka untuk membaca dalam hati soal dalam kertas tersebut kemudian memikirkan jawabannya. (c) meminta peserta didik secara sukarela untuk membacakan soal tersebut  dan menjawabnya (d) setelah jawaban diberikan, mintalah perserta didik lainnya untuk menambahkan, (e) melanjutkan dengan sukarelawan berikutnya.

Efikasi Diri (Self-Efficacy) (skripsi dan tesis)

 

Menurut Bandura (1997), dari semua pemikiran yang mempengaruhi fungsi manusia, dan merupakan bagian penting dari teori kognitif sosial adalah efikasi diri. Efikasi diri adalah “penilaian diri terhadap kemampuan diri untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang ditetapkan”. Efikasi diri memberikan dasar bagi motivasi manusia, kesejahteraan, dan prestasi pribadi (Hidayat, 2011) Efikasi diri (self-efficacy) merupakan salah satu faktor personal yang menjadi perantara atau mediator dalam interaksi antara faktor perilaku dan faktor lingkungan. self-efficacy dapat menjadi penentu keberhasilan performansi dan pelaksanaan pekerjaan. efikasi diri juga sangat mempengaruhi pola pikir, reaksi emosional, dalam membuat keputusan (Mujiadi, 2003).

Efikasi diri tidak boleh dikacaukan dengan penilaian tentang konsekuensi yang akan dihasilkan dari sebuah perilaku, tetapi akan membantu menentukan hasil yang diharapkan. Kepercayaan diri pada individu akan membantu mencapai keberhasilan (Hidayat, 2011). Reivich dan Shatte dalam Jackson (2004) efikasi diri adalah hasil dari pemecahan masalah yang berhasil efikasi diri merepresentasikan sebuah keyakinan bahwa kita mampu memecahkan masalah yang kita alami dan mencapai kesuksesan. Efikasi diri adalah perasaan kita bahwa kita efektif dalam dunia. Telah dihabiskan banyak waktu untuk mendiskusikan tentang efikasi diri, karena melihat betapa pentingnya hal tersebut dalam dunia nyata. Dalam pekerjaan, orang yang memiliki keyakinan terhadap kemampuan mereka untuk memecahkan masalah, muncul sebagai pemimpin, sementara yang tidak percaya terhadap kemampuan diri mereka menemukan diri mereka “hilang dalam orang banyak”. Mereka secara tidak sengaja memperlihatkan keraguan mereka, dan teman mereka mendengar, dan belajar untuk mencari nasehat dari yang lainnya (Reivich dan Shatte, 2002)

Prosedur Pelaksanaan Metode Pembelajaran Jigsaw (skripsi dan tesis)

Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan metode pembelajaran Jigsaw yang mengacu pada prosedur Jigsaw learning oleh Silberman (2009) sebagai berikut :

a. Pilihlah materi belajar yang dapat dipisah menjadi beberapa segmen atau bagian-bagian.

b. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa ada 30 sementara jumlah segmen yang ada berjumlah 5, maka masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi ajar yang berbedabeda.

c. Kelompok yang telah terbentuk, kemudian masing-masing akan mengirimkan anggotanya ke kelompok lain sehingga terbentuklah kelompok Jigsaw dalam jumlah yang sama.

d. Setiap kelompok Jigsaw diminta untuk menyampaikan materi yang telah mereka pelajari di dalam kelompok asal kepada seluruh anggota kelompok Jigsaw.

e. Kembalikan suasana kelas seperti semula kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.

f. Sebagai variasi, sampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi yang telah disampaikan

Elemen-Elemen dalam Metode Pembelajaran Jigsaw (skripsi dan tesis)

Slavin (1988) mengemukakan terdapat dua elemen esensial yang terdapat di dalam metode pembelajaran Jigsaw sebagai metode yang efektif, antara lain :

1. Adanya pencapaian kelompok pada setiap siswa ( a Group Goal for the Students).

Pencapaian kelompok ini penting dalam memotivasi siswa untuk saling membantu satu sama lain, dimana di dalam kelas Jigsaw tiap anggota kelompok memegang peran untuk mengajarkan satu sama lain. Tanpa adanya pencapaian kelompok tersebut, seorang siswa tidak akan memberikan penjelasan pada materi subtopik yang diembannya dengan adekuat kepada tiap anggota kelompoknya karena siswa tidak mendapat motivasi untuk melaksanakannya dengan baik.

2. Akuntabilitas Individu (Individual Accountability)

Akuntabilitas individu akan mengilhami setiap anggota kelompok untuk melakukan tugas mereka dengan baik, ini disebabkan karena kualitas setiap individu bergantung pada informasi yang diberikan kepada setiap anggota kelompok. Kagan (Warsono dkk, 2012) menambahkan bahwa setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk meningkatkan kecakapan dan kinerja anggota kelompok yang lain maupun bertanggung jawab meningkatkan kinerja kelompok secara keseluruhan (Numbered head Together). Hal tersebut diyakini oleh Slavin (1987) jika penghargaan kelompok bersumber dari penghargaan individu pada seluruh anggota kelompok, maka pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan penghargaan siswa.

Manning dan Lucking (Dollard & Mahoney, 2007) menambahkan bahwa pentingnya menempatkan siswa ke dalam kelompok yang heterogen. Pembentukan kelompok tersebut tidak hanya dilakukan berdasarkan keberagaman suku tetapi juga dalam pengelompokan berdasarkan tingkat kemampuan akademis. Siswa yang lamban akan belajar dengan baik dari siswa yang memiliki nilai akademis yang lebih tinggi.

Aspek-Aspek Pembelajaran Kooperatif (skripsi dan tesis)

Huda (2014) mengungkapkan bahwa aspek yang terdapat dalam pembelajaran Kooperatif dibagi atas empat bagian, bagian tersebut antara lain :

a. Tujuan

Seluruh siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil dan diminta untuk mempelajari materi tertentu dan saling memastikan setiap anggota kelompok juga mempelajari materi tersebut.

b. Level Kooperasi

Di dalam level kooperasi kerjasama diterapkan dalam level kelas, yaitu dengan cara memastikan bahwa semua siswa di ruang kelas benar-benar mempelajari materi yang ditugaskan dan level sekolah dengan cara memastikan bahwa semua siswa disekolah benar-benar mengalami kemajuan secara akademik.

c. Pola Interaksi

Setiap siswa saling mendorong kesuksesan antarsatu sama lain. Siswa mempelajari materi pembelajaran bersama siswa lain, saling menjelaskan cara menyelesaikan tugas pembelajaran, saling mendorong untuk bekerja keras, dan saling memberikan bantuan akademik jika ada yang membutuhkan.  Melalui pola interaksi inilah muncul di dalam dan diantara kelompokkelompok kooperatif.

d. Evaluasi

Sistem evaluasi didasarkan pada kriteria tertentu. Penekanannnya biasanya terletak pada pembelajaran dan kemajuan akademik setiap individu siswa, biasa pula difokuskan pada setiap kelompok, semua siswa ataupun sekolah. Berdasarkan teori diatas, peneliti sepakat bahwa metode pembelajaran ini memiliki aspek-aspek seperti yang dikemukakan oleh Huda (2014) yaitu tujuan, level kooperasi, pola interaksi dan evaluasi.

Pengertian Metode Pembelajaran Jigsaw (skripsi dan tesis)

Metode pembelajaran Jigsaw menurut Slavin (2008) merupakan model pembelajaran kerjasama dimana siswa ditempatkan ke dalam tim-tim yang beranggotakan enam orang untuk mengerjakan bahan akademis yang telah dipecah menjadi bagian-bagian untuk masing-masing anggota. Metode pembelajaran Jigsaw adalah teknik pengajaran di dalamnya materi-materi ajar dibagi di antara anggota-anggota sebuah kelompok kooperatif, dimana siswa mengemban tanggung jawab yang berbeda untuk mempelajari materi berbeda dan mengajarkannya ke anggota-anggota kelompok yang lain (Ormrod, 2009). Didalam pembelajaran Jigsaw ini informasi baru dibagi secara adil diantara semua anggota kelompok, dan setiap siswa harus mengajarkan materi bagiannya ke siswa-siswa yang lain (Aronson & Panoe dalam Ormrod, 2009). Silberman (2009) menjelaskan Jigsaw learning merupakan sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok” (group-to-group exchange) dengan suatu perbedaan penting, yakni setiap peserta didik mengajarkan sesuatu.

Fungsi Pengecoh/Distractor (skripsi dan tesis)

Berbeda dengan soal bentuk uraian, pada soal pilihan ganda telah dilengkapi beberapa pilihan jawaban. Di antara pilihan jawaban yang ada, hanya satu yang benar. Selain jawaban yang benar tersebut, adalah jawaban yang salah. Jawaban yang salah itulah yang dikenal dengan distractor (pengecoh). Butir soal yang baik, pengecohnya akan dipilih secara merata oleh peserta didik yang menjawab salah. Sebaliknya, butir soal yang kurang baik, pengecohnya akan dipilih secara tidak merata oleh peserta didik. Tujuan utama dari pemasangan distractor pada setiap butir item adalah agar dari sekian banyak peserta tes yang mengikuti tes hasil 52 belajar ada yang tertarik untuk memilihnya. Distractor akan mengecoh peserta didik yang kurang mampu untuk dapat dibedakan dengan yang mampu. Distractor yang baik adalah yang dapat dihindari oleh peserta didik yang pandai dan akan dipilih oleh peserta didik yang kurang pandai. Dengan demikian distractor baru dapat dikatakan telah berfungsi dengan baik apabila distraktor tersebut telah memiliki daya rangsang atau daya tarik yang baik. Menurut Anas Sudijono (2011: 411), mengungkapkan bahwa distractor telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distractor tersebut telah dipilih sekurang-kurangnya 5% dari seluruh peserta tes. Distrsctor yang telah menjalankan fungsinya dengan baik dapat digunakan kembali pada tes yang akan datang. Dengan demikian, efektivitas distractor adalah seberapa baik pilihan yang salah tersebut dapat mengecoh peserta tes yang memang tidak mengetahui kunci jawaban yang tersedia. Semakin banyak peserta tes yang memilih distractor tersebut, maka distractor itu dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Jika peserta tes mengabaikan semua option (tidak memilih) disebut omit. Dilihat dari segi omit, sebuah item dikatakan baik jika omitnya tidak lebih dari 10 % pengikut tes.

Fungsi Pengecoh/Distractor (skripsi dan tesis)

Berbeda dengan soal bentuk uraian, pada soal pilihan ganda telah dilengkapi beberapa pilihan jawaban. Di antara pilihan jawaban yang ada, hanya satu yang benar. Selain jawaban yang benar tersebut, adalah jawaban yang salah. Jawaban yang salah itulah yang dikenal dengan distractor (pengecoh). Butir soal yang baik, pengecohnya akan dipilih secara merata oleh peserta didik yang menjawab salah. Sebaliknya, butir soal yang kurang baik, pengecohnya akan dipilih secara tidak merata oleh peserta didik. Tujuan utama dari pemasangan distractor pada setiap butir item adalah agar dari sekian banyak peserta tes yang mengikuti tes hasil 52 belajar ada yang tertarik untuk memilihnya. Distractor akan mengecoh peserta didik yang kurang mampu untuk dapat dibedakan dengan yang mampu. Distractor yang baik adalah yang dapat dihindari oleh peserta didik yang pandai dan akan dipilih oleh peserta didik yang kurang pandai. Dengan demikian distractor baru dapat dikatakan telah berfungsi dengan baik apabila distraktor tersebut telah memiliki daya rangsang atau daya tarik yang baik. Menurut Anas Sudijono (2011: 411), mengungkapkan bahwa distractor telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distractor tersebut telah dipilih sekurang-kurangnya 5% dari seluruh peserta tes. Distrsctor yang telah menjalankan fungsinya dengan baik dapat digunakan kembali pada tes yang akan datang. Dengan demikian, efektivitas distractor adalah seberapa baik pilihan yang salah tersebut dapat mengecoh peserta tes yang memang tidak mengetahui kunci jawaban yang tersedia. Semakin banyak peserta tes yang memilih distractor tersebut, maka distractor itu dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Jika peserta tes mengabaikan semua option (tidak memilih) disebut omit. Dilihat dari segi omit, sebuah item dikatakan baik jika omitnya tidak lebih dari 10 % pengikut tes.

Reliabilitas Tes (skripsi dan tesis)

Menurut Nana Sudjana (2006: 17), ada empat cara yang digunakan untuk melakukan uji reliabilitas tes, yaitu:

a) Reliabilitas Tes Ulang
Tes ulang (retest) adalah penggunaan alat penilaian terhadap subjek yang sama dilakukan dua kali dalam waktu berlainan.
 b) Reliabilitas Pecahan
Setara Mengukur reliabilitas bentuk pecahan setara tidak dilakukan dengan pengulangan pada subjek yang sama, tetapi menggunakan hasil dari bentuk tes sebanding atau setara dengan yang diberikan kepada subjek yang sama pada waktu yang berbeda. Dengan demikian, diperlukan dua perangkat tes yang disusun agar memiliki derajat kesamaan atau kesetaraan, baik dari segi isi, tingkat kesukaran, abilitas yang diukur, jumlah pertanyaan, bentuk pertanyaan, maupun segi-segi teknis lainnya.
 c) Reliabilitas Belah Dua
Dalam prosedur ini tes diberikan kepada kelompok subjek cukup satu kali atau pada satu saat. Butir-butir soal dibagi menjadi dua bagian yang sebanding, biasanya dengan membedakan soal nomor genap dengan soal nomor ganjil. Setiap bagian soal diperiksa hasilnya, kemudian skor dari kedua bagian tersebut dikorelasikan untuk dicari koefisien korelasinya. Mengingat korelasi tersebut hanya berlaku sebagian, tidak untuk seluruh soal, maka koefisien korelasi yang diperolehnya tidak untuk seluruh soal, tetapi hanya untuk separuhnya.
 d) Kesamaan Rasional
Prosedur ini dilakukan dengan menghubungkan setiap butir dalam satu tes dengan butir-butir yang lainnya dalam tes itu sendiri secara keseluruhan. Dalam penelitian ini untuk mengukur reliabilitas digunakan cara kesamaan rasional. Setiap butir dikorelasikan dengan butir-butir yang lainnya secara keseluruhan

Reliabilitas (skripsi dan tesis)

Reliabilitas adalah tingkat atau derajat konsistensi dari suatu instrumen. Reliabilitas tes berkenaan dengan pertanyaan apakah suatu tes teliti dan dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Suatu tes dikatakan reliabel jika selalu memberikan hasil yang sama bila diteskan pada kelompok yang sama pada waktu atau kesempatan yang berbeda (Zainal Arifin, 2011: 258). Menurut Nana Sudjana (2006: 16), “Reliabilitas alat penilaian adalah ketetapan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya”. Artinya, kapan pun alat penilaian tersebut digunakan akan memberikan hasil yang relatif sama. Hal senada juga diungkapkan Validitas Item Validitas Logika Validitas Validitas Empiris Validitas Tes Validitas Isi Validitas Konstruksi Validitas Ramalan Validitas Bandingan 45 Chabib Thoha (2003: 118), “reliabilitas sering diartikan dengan keterandalan”. Artinya, suatu tes memiliki keterandalan jika tes tersebut dipakai mengukur berulang-ulang hasilnya sama. Dengan demikian reliabilitas dapat pula diartikan dengan keajegan atau stabilitas. Reliabilitas merupakan salah satu persyaratan bagi sebuah tes. Reliabilitas sebuah soal perlu karena sebagai penyokong terbentuknya validitas butir soal sehingga sebuah soal yang valid biasanya reliabel.

Teknik Analisis Butir (skripsi dan tesis)

Soal Analisis kualitas tes merupakan suatu tahapan yang harus ditempuh untuk mengetahui derajat kualitas suatu tes. Dalam penilaian hasil belajar diharapkan tes dapat menggambarkan hasil yang objektif dan akurat. Dalam melaksanakan analisis butir soal, pembuat soal dapat melakukan analisis secara kualitatif, dalam kaitannya dengan isi dan bentuk, dan analisis secara kuantitatif dalam kaitannya dengan ciri–ciri statistikanya atau prosedur peningkatan secara judgment dan prosedur peningkatan secara empirik. Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruk, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi soal yang termasuk validitas dan reliabilitas soal. 1) Validitas Validitas mencerminkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen tes berfungsi sebagai alat ukur hasil belajar. Suatu tes dapat dikatakan memiliki validitas apabila tes tersebut dapat mengukur objek yang seharusnya diukur dan sesuai dengan kriteria tertentu. Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Tes yang memiliki 39 validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran. a) Validitas Tes Menurut Anas Sudijono (2011: 163), penganalisisan terhadap tes hasil belajar sebagai suatu totalitas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penganalisisan dengan jalan berpikir secara rasional (logical analysis) dan penganalisisan yang dilakukan dengan mendasarkan diri pada kenyataan empiris (empirical analysis). (1)Pengujian Validitas Tes Secara Rasional Validitas rasional adalah validitas yang diperoleh atas dasar hasil pemikiran, validitas yang diperoleh dengan berpikir secara logis. Dengan demikian maka suatu tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas rasional apabila setelah dilakukan penganalisisan secara rasional tes hasil belajar tersebut memang telah mengukur apa yang seharusnya diukur dengan tepat (Anas Sudijono, 2011: 164). Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas rasional atau belum, maka dapat dilakukan penelusuran melalui dua segi, yaitu dari segi isi (content) dan dari segi susunan atau konstruksinya (construct). (a)Validitas Isi (Content Validity) Menurut Anas Sudijono ( 2011: 164-165) validitas isi adalah validitas yang dilihat dari segi isi tes tersebut sebagai 40 alat pengukur hasil belajar, yaitu sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah mewakili secara representatif terhadap seluruh materi atau bahan pelajaran yang seharusnya diteskan/diujikan. Dalam praktik, validitas isi dari suatu tes hasil belajar dapat diketahui dengan jalan membandingkan antara isi yang terkandung dalam tes hasil belajar dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan untuk masingmasing mata pelajaran. Jika penganalisisan secara rasional itu menunjukkan hasil yang telah mencerminkan tujuan instruksional khusus di dalam tes hasil belajar, maka tes hasil belajar yang sedang diuji tersebut dapat dinyatakan sebagai tes hasil belajar yang telah memiliki validitas isi. Upaya lain yang dapat ditempuh dalam rangka mengetahui validitas isi dari tes hasil belajar adalah dengan menyelenggarakan diskusi panel (Anas Sudijono, 2011: 165). (b)Validitas Konstruksi (Construct Validity) Validitas konstruksi dapat diartikan sebagai validitas yang dilihat dari segi susunan, kerangka, atau rekaan. Suatu tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas konstruk apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut telah benar-benar dapat secara tepat mengukur aspek-aspek berpikir seperti aspek kognitif, aspek afektif, dan 41 aspek psikomotorik sebagaimana telah ditentukan dalam tujuan instruksional khusus (Anas Sudijono, 2011: 166). Validitas konstruksi dari suatu tes hasil belajar dapat dilakukan penganalisisannya dengan melakukan pencocokan antara aspek-aspek berpikir yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut dengan aspek-aspek yang dikehendaki untuk diungkap oleh tujuan instruksional khusus. Seperti pada penganalisisan validitas isi, pada penganalisisan validitas konstruksi juga dapat dilakukan dengan menyelenggarakan diskusi panel (Anas Sudijono, 2011: 167). (2)Pengujian Validitas Tes Secara Empiris Validitas empiris adalah validitas yang bersumber pada atau diperoleh atas dasar pengamatan di lapangan. Tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas empiris apabila berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap data hasil pengamatan di lapangan terbukti bahwa tes hasil belajar secara tepat telah dapat mengukur hasil belajar yang seharusnya diukur lewat tes hasil belajar tersebut (Anas Sudijono, 2011: 167). Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas empirik atau belum, maka dapat dilakukan penelusuran melalui dua segi, yaitu dari segi daya ketepatan meramalnya (Predictive Validity) dan daya ketepatan bandingannya (Concurrent Validity). 42 (a)Validitas Ramalan (Predictive Validity) Validitas ramalan dari suatu tes adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah sebuah tes telah dapat secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa mendatang (Anas Sudijono, 2011: 168). Untuk mengetahui apakah suatu tes hasil belajar telah memiliki validitas ramalan, maka dapat dilakukan dengan mencari korelasi antara tes hasil belajar yang sedang diuji validitas ramalannya dengan kriterium yang ada. Jika di antara kedua variabel tersebut terdapat korelasi yang signifikan, maka tes yang sedang diuji tersebut telah memiliki daya ramal yang tepat, artinya apa yang telah diramalkan, betul-betul telah terjadi secara nyata dalam praktik. (b)Validitas Bandingan (Concurrent Validity). Tes sebagai alat pengukur dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan apabila tes tersebut dalam kurun waktu yang sama secara tepat telah mampu menunjukkan adanya hubungan searah antara tes pertama dengan tes berikutnya (Anas Sudijono, 2011: 176). Dalam rangka menguji validitas bandingan, data yang mencerminkan pengalaman yang diperoleh pada masa lalu dibandingkan dengan data hasil tes yang diperoleh pada masa 43 sekarang. Jika hasil tes yang sekarang memiliki hubungan searah dengan hasil tes berdasar pengalaman masa lalu, maka tes tersebut dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan. Perbedaan antara validitas ramalan dengan validitas bandingan adalah apabila kriterium yang dihubungkan itu terdapat pada waktu yang akan datang, maka validitasnya disebut validitas ramalan. Sebaliknya, apabila kriterium tersebut terdapat atau tersedia pada saat sekarang atau pada kurun waktu bersamaan dengan alat pengukur yang sedang diuji validitasnya, maka validitasnya disebut validitas bandingan. b) Validitas Item Menurut Anas Sudijono (2011: 163), validitas item dari suatu tes adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebutir item (yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tes sebagai suatu totalitas), dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir item tersebut. Hubungan antara butir item dengan tes hasil belajar sebagai suatu totalitas adalah bahwa semakin banyak butir-butir item yang dapat dijawab oleh peserta didik, maka skor total hasil tes tersebut akan semakin tinggi. Untuk sampai pada kesimpulan bahwa item-item yang ingin diketahui validitasnya, dapat digunakan teknik korelasi sebagai 44 teknik analisisnya. Sebutir item dapat dinyatakan valid apabila skor item yang bersangkutan terbukti memiliki kesejajaran dengan skor total.

Pengertian Analisis Butir Soal (skripsi dan tesis)

Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis. Tugas melakukan evaluasi terhadap alat pengukuran yang telah digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar peserta didik pada umumnya dilupakan oleh evaluator. Menurut Nana Sudjana (2006: 135), “Analisis butir soal atau analisis item adalah pengkajian pertanyaan-pertanyaan tes agar diperoleh 37 perangkat pertanyaan yang memiliki kualitas yang memadai”. Menurut Daryanto (2007: 177), “Analisis soal adalah suatu prosedur sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun”. Tujuan penelaahan butir soal adalah untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu untuk digunakan. Di samping itu, tujuan analisis butir soal juga untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif serta untuk mengetahui informasi diagnostik pada peserta didik apakah mereka sudah atau belum memahami materi yang telah diajarkan. Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya, di antaranya dapat menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru. Salah satu cara memperbaiki proses belajar-mengajar yang paling efektif adalah dengan cara mengevaluasi tes hasil belajar yang diperoleh dari proses belajar-mengajar itu sendiri. Dengan kata lain, hasil tes tersebut kita olah sedemikian rupa sehingga hasil dari pengolahan itu dapat diketahui komponen manakah dari proses belajarmengajar itu yang masih lemah. Pengolahan tes hasil belajar dalam rangka memperbaiki proses belajar-mengajar salah satunya adalah dengan melakukan analisis butir soal.

Ciri-ciri Tes Hasil Belajar yang Baik (skripsi dan tesis)

Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 57-63), sebuah tes dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memiliki persyaratan tes. Setidaknya ada lima ciri yang harus dimiliki agar tes dapat dikatakan yang baik sebagai alat ukur yaitu memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas, dan ekonomis.
1) Validitas
Kata valid dalam bahasa Indonesia sering diartikan dengan istilah shahih. Sebuah tes dapat dikatakan telah memiliki “validitas” apabila tes tersebut dengan shahih telah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur lewat tes tersebut. Dalam pembicaraan evaluasi pada umumnya orang hanya mengenal istilah “valid” untuk alat evaluasi atau instrumen evaluasi. Hingga saat ini belum banyak yang menerapkan istilah “valid” untuk data. Sebuah data atau informasi dapat dikatakan valid apabila sesuai dengan keadaan senyatanya.
2) Reliabilitas
Reliabilitas sering dikaitkan dengan masalah kepercayaan. Tes dapat dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berulang kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukkan ketetapan. Dengan kata lain, jika para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berbeda maka setiap siswa akan tetap berada pada ururan (ranking) yang sama pada kelompoknya.
3) Objektivitas
Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor-faktor subjektivitas yang mempengaruhi. Dalam hal ini kaitannya dengan sistem pemberian skor terhindar dari unsur-unsur subjektivitas yang melekat pada penyusun tes. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan pada sistem scoring, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.
 4) Praktikabilitas Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah pengadministrasiannya. Tes yang praktis adalah tes yang:
 a) Mudah dilaksanakan
 b) Mudah pemeriksaannya
c) Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan/diawali oleh orang lain.  5) Ekonomis Yang dimaksud ekonomis adalah pelaksanaan tes tidak membutuhkan biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.