- Peran perawat
Peran perawat sangat penting dalam memberikan tindakan keperawatan seperti terapi psikoedukasi keluarga dengan tujuan yang sesuai untuk meningkatkan pengetahuan tentang autisme. Pengetahuan yang dapat ditingkatkan tentang autisme seperti: menejemen stres, menejemen beban dan pemberdayaan komunitas dalam membantu keluarga, manajemen perawatan anak dengan autisme. Perawatan pada anak autisme juga dapat berdiskusi dengan tenaga kesehatan lain untuk meningkatkan perawatan dalam menghadapi anak dengan autisme (Qolina, Hamid & Wardani, 2017).
- Medikamentosa
Pemberian terapi medikamentosa (obat-obatan) hanya dapat diberikan oleh dokter yang memiliki wewenang atau dokter spesialis disabilitas (autisme). Pemberian obat dengan anak penyandang autisme tidak dapat diberikan obata secara sembarang karena obat diberikan harus atas indikasi yang kuat. Gejala autisme yang dapat dihilangkan dengan obat-obatan yaitu: hiperaktivitas yang hebat, menyakiti diri sendiri, menyakiti orang lain (agresif), merusak (destruktif) dan gangguan tidur. Beberapa obat-obatan yang digunakan oleh anak autisme di Indonesia meliputi: obat yang bekerja di reseptor serotonin dan dopamin memberikan pengaruh pada aktifitas berlebih dan ketidakmampuan interaksi sosial (aripriprazole, olanzapine, quetiapin), obat yang bekerja sebagai antagonis serotonin dan dopamin memberikan pengaruh dalam mengurangi perilaku repetitif, agresivitas, kecemasan, depresi dan mencelakai diri sendiri (risperidone), asam folat (mempengaruhi kerja saraf dan fungsi kognitif), vitamin B6 (menjaga sel darah merah), clozapine (untuk mengatasi skizofrenia berat dan bekerja untuk mengubah aktivitas zat kimia di otak), trihexylphenidyl (berpengaruh untuk meningkatkan kendali pada otot dan mengurangi kekakuan), methylphenidate (untuk mengstimulasi sistem saraf pusat), piracetam (obat anti kejang) (Maggyvin & Sinuraya, 2016).
- Psikologis
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari pikiran manusia. Mempelajari ilmu dalam psikologi dapat memberikan pemahaman dan perawatan pada anak autisme. Psikologi dapat memainkan perannya untuk membantu anak yang mengalami autisme dan bekerjasama untuk intervensi medis dengan dokter, perawat dan farmasi (Rudy, 2018). Sebelum memutuskan intervensi pada anak autisme, penting dilakukan penilaian oleh psikologis anak yang meliputi: tingkat kemampuan intelektual, fungsi adaptif khusus dalam domain keterampilan bantuan diri dan sosial, penilaian spesifik menggunakan skala autisme dan masalah perilaku (kirmani & jahan, 2015).
Psikoterapi, terapi kognitif, dan terapi bicara dilihat dari penggunaan kata yang diucapkan. Anak autisme yang bermasalah dengan verbal dapat menggunakan psikoterapi, psikoterapi sangat beguna untuk anak autisme yang memiliki gejala seperti kecemasan atau kompulsi. Psikoterapi dapat membantu anak penyandang autisme merasakan atau memahami tindakan dan reaksi yang dapat dirasakan oleh orang lain (Rudy, 2018).
Applied Behavioral Analysis (ABA) adalah bentuk terapi perilaku yang didasarkan pada psikologi tradisional. ABA sering digunakan untuk mengobati anak autisme dengan individu. Namun, ABA bukan terapi bicara melainkan terapi yang diajarkan keterampilan menggunakan hadiah untuk memperkuat jawaban yang benar atau tindakan yang disukai. ABA biasanya disediakan oleh terapis dengan pelatihan ABA tertentu (Rudy, 2018).
Menurut Febry dan Marendra (2010), autisme merupakan gangguan nourobiologis yang menetap. Gangguan norologis ini tidak bisa diobati tetapi gejala-gejalanya bisa disembuhkan atau hanya dapat dikurangi. Applied Behavioral Analysis biasa digunakan di Indonesia dari Kirmani dan Jahan (2015); Febry dan Marendra (2010) yaitu:
- One on one. Satu terapis menangani satu anak
- Kepatuhan (compliance) dan kontak mata.
- Siklus dari Disrete Trial Training, tahap ini dimulai dengan memberi instruksi dan diakhiri dengan pemberian imbalan.
- Mengarahkan anak ke perilaku target dengan pemberian banyak contoh dan makin lama contoh makin dikurangin secara bertahap.
- Shaping. Pemberian tahap-tahap satu perilaku yang diharapkan semakin mendekati tujuan.
- Mengajarkan perilaku yang kompleks, komudian dipecah menjadi beberapa aktivitas ringan yang disusun secara berurutan.
- Discrimination training. Tahap identifikasi dengan adanya pembanding yang mana satu item sudah dilabel benar, yang kemudian ditambah secara bertahap.
- Mengajarkan pada anak konsep warna, bentuk, huruf, angka, dan lain-lain.
Langkah dalam penyembuhan autisme menurut Fadhli (2010) menyebutkan bahwa pada autisme ringan yang biasanya jarang terdiagnosis atau bahkan diagnosis pada anak bisa keliru. Jika anak didiagnosis keliru maka anak tersebut tidak dapat ditangani dengan tepat karena pemulihan perkembangan pada anak sangat bergantungan dengan deteksi dini yang tepat. Deteksi dini yang tepat dan terpadu dapat mengurangi gejala-gejala autisme semaksimal mungkin. Bahkan jika anak dengan penderita autisme mempunyai kecerdasan yang normal dapat kemungkinan bisa mencapai jenjang pendidikan yang tinggi.
Penanganan anak yang terdeteksi sejak dini autisme dapat dilakukan dengan penanganan multidisipliner atau penanganan terpadu yang mulai dari terapi obat, terapi bicara, terapi perilaku, pendididkan khusus, dan bila diperlukan terapi dengan okupasi (Fadhli, 2010).
- Peran orang tua
Orang tua adalah menjadi kepala keluarga dan orang yang paling dekat dengan anak. Peran orang tua bagi anak sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh anak dalam bentuk karakter yang baik dan cerdas. Orang tua harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap anak mulai dari merawat mengasuh sampai membesarkan anak dan mengatur kehidupan anak mulai dari kecil (Madyawati, 2016).
Sebagai orang tua selain persiapan ekonomi yang cukup termasuk ekonomi cadangan darurat bagi pendidikan anak autisme, orang tua perlu mempersiapkan mental saat memasukkan anak autisme di sekolah reguler. Akan banyak kejutan yang perlu disikapi secara bijaksana oleh orang tua di sekolah reguler, seperti misalnya penolakan dari orang tua anak lain ataupun bullying dari sesama siswa. Kesiapan mental orang tua akan sangat mendukung anak dalam mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Keaktifan orang tua dalam membangun jejaring sosial di sekolah akan membantu anak autisme untuk berkembang secara maksimal. Hal ini berguna selain untuk mengkampanyekan keberadaan anak autisme juga untuk membangun pemahaman lingkungan bahwa anak autisme tidak perlu dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas mental anak-anak lainnya, bahkan anak-anak akan bisa belajar tentang arti kerukunan dalam ke perbedaan (Farida, 2015).
Bagi orang tua yang memilih homeschooling sebagai pilihan layanan pendidikan bagi anak autisme, orang tua juga perlu mempersiapkan mental dalam menghadapi rutinitas belajar anak autisme sehari-hari. Kebosanan dan kejenuhan karena perkembangan yang lambat dari anak autisme bila dibandingkan dengan anak-anak lainnya seringkali membebani pikiran orang tua, sehingga orang tua harus selalu punya kesabaran dan cara yang kreatif untuk mengatasinya. Demikian pula bila akan menghadirkan pengajar tambahan, orang tua harus mampu bekerjasama dengan baik dengan para pengajar tersebut (Priyanto, 2009).
Orangtua sangat membutuhkan ilmu dan pengetahuan untuk membesarkan anak yang mengalami autisme termasuk cara penanganan juga. Untuk penanganan anak yang mengalami autisme orang tua membutuhkan keterbukaan untuk berkomunikasikan kondisi anak mereka secara jujur dan harus bekerja sama dengan dokter jiwa anak, dokter anak, terapis, psikolog, guru di sekolah, termasuk saudara-saudara didalam keluarga besar. Keluarga/orangtua dengan anak yang penyandang autisme, sebanyak mungkin memberikan pengalaman baru untuk mengstimulasi terbentuknya sambungan synaps di otak anak. Anak autisme tidak disembunyikan atau dibatasin lingkungannya. Anak yang mengalami autisme membutuhkan lingkungan yang luas, bersosialisasi dan terhubung dengan banyak hal yang baru seperti hal pada anak pada umumnya (Boham, 2013).
