Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan (skripsi dan tesis)

Ruang lingkup pendidikan kesehatan menurut Fitriani (2011), dapat
dilihat dari berbagai dimensi yaitu:
a. Dimensi sasaran, ruang lingkup pendidikan kesehatan dibagi menjadi
3 kelompok yaitu:
1) Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu
2) Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok
3) Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas
b. Dimensi tempat pelaksanaanya, pendidikan kesehatan dapat
berlangsung di berbagai tempat yang dengan sendirinya sasaran
berbeda pula yaitu:
1) Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasaran murid
2) Pendidikan kesehatan di puskesmas atau rumah sakit dengan
sasaran pasien dan keluarga pasien.
c. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat
dilakukan berdasarkan 5 tingkat pencegahan dari Leavel dan Clark.
1) Promosi kesehatan
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan sangat diperlukan seperti:
peningkatan gizi, perbaikan kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi
lingkungan serta hiegine perorangan.
2) Perlindungan khusus
Program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus
sangat dibutuhkan terutama di negara berkembang. Hal ini juga
sebagai akibat dari kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang
imunisasi sebagai perlindungan terhadap penyakit pada dirinya
maupun anak-anak masih rendah.
3) Diagnosis dini dan pengobatan segera
Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarkat terhadap
kesehatan dan penyakit maka sering kesulitan mendeteksi penyakit
yang terjadi pada masyarakat, bahkan masyarakat sulit atau tidak
mau diperiksa dan diobati sehingga masyarakat tidak memperoleh
pelayanan kesehatan yang layak.
4) Pembatasan kecacatan
Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang
penyakit sehingga masyarakat tidak melanjutkan pengobatan
sampai tuntas. Dengan kata lain pengobatan dan pemeriksaan yang
tidak sempurna mengakibatkan orang tersebut mengalami
kecacatan.
5) Rehabilitasi
Untuk memulihkan kecacatan kadang-kadang diperlukan latihan
tertentu. Karena kurangnya pengetahuan masyarakat enggan
melakukan latihan yang dianjurkan. Kecacatan juga
mengakibatkan perasaan malu untuk kembali ke masyarakat.
Kadang masyarakat pun kadang-kadang tidak mau menerima
mereka sebagai anggotan masyarakat yang normal.