Ryff dan Keyes (1995) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor-
faktor yang mempengaruhi psychological well-being seseorang yaitu:
1) Faktor Internal
a) Usia
Menurut Ryff dan Keyes (1995), usia seorang individu akan
mempengaruhi perbedaan dalam dimensi-dimensi psychological
well-being. Aspek-aspek yang berkaitan dengan penguasaan
lingkungan dan otonomi diri seseorang akan menunjukkan
peningkatan seiring pertambahan usianya.
b) Jenis Kelamin
Perbedaan tingkat psychological well-being antara pria dan
wanita juga dipengaruhi oleh stereotip gender yang dimana pria
sering digambarkan sebagai sosok yang agresif dan mandiri,
sementara wanita digambarkan sebagai sosok yang pasif,
tergantung, serta sensitif terhadap perasaan orang lain (Papalia,
Olds, & Feldman, 2001).
c) Kepribadian
Ryff dan Keyes (1995) mengemukakan bahwa salah satu faktor
yang mempengaruhi psychological well-being adalah
kepribadian. Individu yang memiliki kepribadian yang sehat
adalah individu yang memiliki usaha untuk mengelola tuntutan
eksternal dan/atau internal tertentu secara efektif, sehingga
individu tersebut mampu menghindari stress dan konflik, memiliki
banyak kompetensi pribadi dan sosial, seperti penerimaan diri,
dan mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan
lingkungan.
2) Faktor eksternal
a) Status sosial ekonomi
Ryff dan Singer (1996) mengemukakan bahwa perbedaan kelas
sosial akan mempengaruhi profil psychological well-being
individu. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa pada individu
yang memiliki tingkat Pendidikan yang tinggi memiliki profil
psychological well-being yang tinggi khususnya pada dimensi
tujuan hidup dan pengembangan pribadi. Selain itu, tingkat
Pendidikan yang tinggi dan status pekerjaan juga berpengaruh
terhadap tingkat psychological well-being pada dimensi
penerimaan diri dan dimensi tujuan hidup. Orang yang
menempati kelas sosial yang tinggi cenderung memiliki perasaan
yang lebih positif terhadap diri sendiri dan masa lalu mereka,
serta lebih memiliki rasa keterarahan dalam hidup dibandingkan
dengan mereka yang berada di kelas sosial yang lebih rendah
(Ryff, 1995).
b) Budaya
Psychological well-being yang berkaitan dengan dimensi
penerimaan diri dan otonomi lebih banyak ditemukan pada
masyarakat yang memiliki budaya individualistik (Ryff & Singer,
1996). Sementara itu masyarakat yang memiliki budaya yang
berorientasi kolektifitas dan saling bergantung, akan lebih banyak
menunjukkan nilai yg positif pada dimensi hubungan positif
dengan orang lain.
c) Dukungan Sosial
Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Salovey, Rothman,
Detweller & Stewart (2000) menunjukkan adanya hubungan yang
kuat antara dukungan sosial dengan kesejahteraan. Orang yang
mempunyai hubungan dengan sekitarnya akan mampu
mengatasi stressor (misalnya kehilangan pekerjaan, mengidap
penyakit, berpisah dengan pasangan hidup, dsb.) dengan lebih
baik.
d) Pekerjaan
Page (2005) menyatakan bahwa faktor-faktor yang berkaitan
dengan pekerjaan seperti jam kerja, pengakuan, kondisi kerja,
keamanan pekerjaan, gaji akan berpengaruh terhadap
psychological well-being seseorang
