Definisi Job Demands


Secara singkat, tuntutan adalah suatu hal yang harus diselesaikan.
Individu yang bekerja akan dihadapkan dengan berbagai macam tuntutan
pekerjaan yang harus diselesaikan. Tuntutan pekerjaan (job demands)
didefinisikan sebagai tuntutan yang menjadi pemicu terjadinya kelelahan
secara psikologis (psychological stressor), misalnya bekerja secara non stop
dalam jam kerja yang lama, beban pekerjaan yang terlalu banyak dan
terbatasnya waktu yang diberikan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Hal ini juga dapat menimbulkan konflik personal yang berkaitan dengan
tuntutan pekerjaan (Love, Irani & Standing, 2007).
Menurut Kristensen (2004) job demands adalah tuntutan pekerjaan
yang harus diselesaikan dengan waktu yang tersedia untuk menyelesaikan
sejumlah pekerjaan tersebut, dimana di dalamnya terdapat aspek waktu kerja
dan kecepatan kerja yang dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Karasek (dalam Peterson, 2009) menjelaskan bahwa job demands mengacu
pada pengalaman kerja yang dapat menimbulkan stres atau beban kerja.
Secara khusus, konsep job demands terdiri dari kecepatan dan kesulitan
pekerjaan, waktu yang tersedia untuk melakukan pekerjaan, beban kerja dan
tuntutan yang saling bertentangan (Karasek 1998, dalam Peterson 2009).
Pada tahun 1990, Karasek menulis sebuah buku bersama Tores Thorell
berjudul “Healthy Work: Stress, Productivity, and The Reconstruction of
Working Life”. Dalam buku tersebut, menjelaskan bahwa job demands atau
psychological demands merupakan gambaran dari seberapa keras
seseorang bekerja (how hard you work). Dalam jurnal yang ditulis oleh
Preston pada tahun 2007 “Job demands pertain to perceived work load,
unexpected tasks, and job-related interpersonal conflict”.
Sale dan Kerr (2001) menyatakan job demands merupakan
unidimensional construct, yang artinya hanya memiliki satu dimensi, yaitu job
demands itu sendiri. Job demands berkaitan dengan persepsi seseorang
mengenai seberapa keras ia bekerja. Dalam bukunya, Karasek dan Theorell
(1990) menjelaskan bahwa job demands dipengaruhi oleh beban kerja, yaitu
berat atau tidaknya pekerjaan yang dilakukan seseorang dan apakah
pekerjaan yang dilakukan berlebih, atau lebih banyak dari deskripsi kerja
yang diberikan. Selain itu, job demands juga berkaitan dengan tekanan
dalam waktu, yaitu adanya batas waktu yang diberikan kepada pekerja dalam
menyelesikan pekerjaan, kemudian job demands juga berkaitan dengan
konflik personal yang dialami pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Pada kenyataannya, teori ini terus berkembang, Kristensen (dalam
Anwarsyah, 2012) mengembangkan job demands menjadi berbagai bentuk,
yaitu quantitative demands, cognitive demands, emotional demands,
demands for hiding emotions, dan sensory demands. Namun dalam teori ini,
hanya quantitative demands yang dapat diterapkan pada seluruh jenis
pekerjaan. Kristensen (2004) mendefinisikan quantitative demands
merupakan suatu hal yang berhubungan secara langsung dengan jumlah
pekerjaan yang harus dikerjakan dan sumber utama stres adalah tidak
cocoknya jumlah pekerjaan dan waktu yang tersedia untuk mengerjakan
pekerjaan tersebut. Konsep quantitative demands ini sama dengan job
demands yang dikembangkan Karasek dan Theorell pada tahun 1990