Ide inovatif merupakan elemen penting bagi kesinambungan dan
kesuksesan organisasi (AlEssa & Durugbo, 2022). Persaingan ketat dan kekuatan
pasar yang membuat organisasi mencari ide inovatif untuk memutakhirkan
organisasi agar tetap kompetitif (Wang et al., 2018; Strobl et al., 2020, dalam
AlEssa & Durugbo, 2022). Aset tak berwujud dalam organisasi yakni manusia
dapat menciptakan dan menstimulasi inovasi (Mariz-Perez et al., 2012, dalam
AlEssa & Durugbo, 2022). Dengan kata lain, inovasi organisasi merupakan hasil
inovasi individu (Hughes et al., 2018; Spanuth & Wald, 2017, dalam Kmieciak,
2020).
Peneliti sebelumnya (Mensah et al., 2023) mengatakan bahwa perilaku
inovatif sangat dibutuhkan organisasi agar dapat bertahan dan bersaing, sehingga
dibutuhkan pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempengaruhinya dalam
jenis praktik GHRM. Perilaku inovatif merupakan sebuah proses multi-tahap mulai
dari identifikasi masalah, pencetusan ide atau solusi, pemberian dukungan pada ide,
dan pengimplementasian (Pieterse et al., 2010, dalam Venketsamy & Lew, 2024).
Inovatif berawal dari inovasi yang memiliki arti menghasilkan dan mengenalkan
penemuan atau ide baru dan berdaya guna. Kemudian inovasi tersebut
11
diimplementasikan pada kehidupan pekerjaan sehari-hari di organisasi (Janssen,
2000, dalam Jain, 2022).
Terdapat beberapa pendapat mengenai Employee Innovative Work
Behaviour. (Saether, 2019, dalam Venketsamy & Lew, 2024) mengatakan bahwa
Innovative Work Behaviour adalah sebuah perilaku multi-tahap dengan tujuan
meningkatkan proses, produk, maupun prosedur, hingga di titik mengaplikasikan
ide baru dalam kehidupan bekerja individu, kelompok, maupun organisasi.
Innovative Work Behaviour menurut (Dorenbosch et al., 2005; Scott & Bruce,
1994; Spanuth & Wald, 2017, dalam Kmieciak, 2020) merupakan konsep kompleks
yang dapat mencakup aktivitas perilaku seperti eksplorasi, pembuatan, promosi,
dan implementasi ide. Ada 2 komponen pada Innovative Work Behaviour yaitu:
a) Pembuatan Ide
Perilaku kreatif dengan tujuan mencari dan menghasilkan
pendekatan serta solusi baru yang otentik bahkan metode dan teknik
kerja baru untuk persoalan yang terjadi (Kmieciak, 2020). Axtell et
al., 2000, dalam Kmieciak, 2020 mengatakan bahwa pembuatan
atau pembangkitan ide berdasar pada karakter setiap individu
(kreativitas, kepercayaan diri, pengetahuan pekerjaan, dan tuntutan
pekerjaan) daripada karakter kelompok dan organisasi.
b) Realisasi Ide
Merujuk pada implementasi ide-ide baru dengan tatanan produk
atau proses baru pada organisasi (Kmieciak, 2020). Axtell et al.,
2000, dalam Kmieciak, 2020 juga mengatakan yang sebaliknya bahwa realisasi ide sebagai proses sosial, dampak untuk karyawan
lain. Sebuah inovasi akan tercapai dengan adanya persetujuan,
keterlibatan, dan dukungan dari orang lain. Inovasi menjadi proses
multi-tahap yang memiliki kesepakatan yaitu pembuatan ide harus
dikuti dengan realisasi ide (De Jong & Den Hartog, 2010; Krause,
2004; Spanuth & Wald, 2017, dalam Mensah et al., 2023). Output
inovatif dapat seputar memperluas dan pemutakhiran produk,
layanan, prosedur, hingga proses evolusi metode produksi dan
sistem manajemen yang baru (Crossan & Apaydin, 2010; Tidd et al.,
2001, dalam Bos-Nehles et al., 2017). Innovative work behaviour
diterapkan untuk meningkatkan proses, produk, maupun layanan
perusahaan (De Jong & Den Hartog, 2010; Yidong & Xinxin, 2013;
Venketsamy & Lew, 2022, dalam Mensah et al., 2023).
Terdapat istilah lain dalam IWB yaitu Green Innovative Work Behaviour
(GIWB). GIWB merupakan sebuah tingkat karyawan dalam mengambil inisiatif
sendiri dalam mengimplementasikan praktik ramah lingkungan dalam organisasi
(Alnaqbi et al., 2024). Green innovative work behaviour merupakan perilaku kerja
yang menstimulasi ide, produk, proses, atau layanan baru yang memberi dampak
positif terhadap lingkungan (Alnaqbi et al., 2024). Output dari GIWB mencakup
peningkatan kinerja lingkungan, pengurangan kerusakan lingkungan, peningkatan
keterlibatan karyawan, dan peningkatan reputasi organisasi (Hamann et al., 2021,
dalam Alnaqbi et al., 2024). Selain itu, persepsi atau pemahaman karyawan
terhadap GHRM terhadap lingkungan mempengaruhi GIWB karyawan
(Aboramadan, 2022)
