Menurut Steers 1985 (dalam Seniati,2002) komitmen organisasi memiliki
tiga aspek utama, yaitu : identifikasi, keterlibatan dan loyalitas karyawan terhadap
organisasi atau perusahaannya.
a. Aspek Pertama
Yaitu rasa identifikasi, yang mewujud dalam bentuk kepercayaan
karyawan terhadap organisasi, dapat dilakukan dengan memodifikasi tujuan
organisasi, sehingga mencakup beberapa tujuan pribadi para karyawan ataupun
dengan kata lain perusahaan memasukkan pula kebutuhan dan keinginan
karyawan dalam tujuan organisasinya. Sehingga akan membuahkan suasana
saling mendukung diantara para karyawan dengan organisasi. Lebih lanjut,
suasana tersebut akan membawa karyawan dengan rela menyumbangkan sesuatu
bagi tercapainya tujuan organisasi, karena karyawan menerima tujuan organisasi
yang dipercayai telah disusun demi memenuhi kebutuhan pribadi mereka pula
(Pareek, 1994 : 113).
b. Aspek Kedua
Yaitu keterlibatan atau partisipasi karyawan dalam aktivitas-aktivitas
keorganisasian juga penting untuk diperhatikan karena adanya keterlibatan
karyawan menyebabkan mereka akan mau dan senang bekerja sama baik dengan
pimpinan ataupun dengan sesama teman kerja. Salah satu cara yang dapat dipakai
untuk memancing keterlibatan karyawan adalah dengan memancing partisipasi
mereka dalam berbagai kesempatan pembuatan keputusan, yang dapat
menumbuhkan keyakinan pada karyawan bahwa apa yang telah diputuskan
adalah merupakan keputusan bersama. Disamping itu, karyawan merasakan
diterima sebagai bagian utuh dari organisasi, dan konsekuensi lebih lanjut,
mereka merasa wajib untuk melaksanakan bersama karena adanya rasa terikat
dengan yang mereka ciptakan (Sutarto, 1989 :79). Oleh Steers (1985 : 53)
dikatakan bahwa tingkat kehadiran mereka yang memiliki rasa keterlibatan tinggi
umumnya tinggi pula. Mereka hanya absen jika mereka sakit hingga benar-benar
tidak dapat masuk kerja. Jadi, tingkat kemangkiran yang disengaja pada individu
tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pekerja yang keterlibatannya lebih
rendah.
Ahli lain, Beynon (dalam Marchington, 1986 : 61) mengatakan bahwa
partisipasi akan meningkat apabila mereka menghadapi suatu situasi yang penting
untuk mereka diskusikan bersama, dan salah satu situasi yang perlu didiskusikan
bersama tersebut adalah kebutuhan serta kepentingan pribadi yang ingin dicapai
oleh karyawan organisasi. Apabila kebutuhan tersebut dapat terpenuhi hingga
karyawan memperoleh kepuasan kerja, maka karyawanpun akan menyadari
pentingnya memiliki kesediaan untuk menyumbang usaha bagi kepentingan
organisasi. Sebab hanya dengan pencapaian kepentingan
organisasilah, kepentingan merekapun akan lebih terpuaskan.
c. Aspek ketiga
Yaitu loyalitas karyawan terhadap organisasi memiliki makna kesediaan
seorang untuk melanggengkan hubungannya dengan organisasi, kalau perlu
dengan mengorbankan kepentingan pribadinya tanpa mengharapkan apapun
(Wignyo-soebroto, 1987). Kesediaan karyawan untuk mempertahankan diri
bekerja dalam perusahaan adalah hal yang penting dalam menunjang komitmen
karyawan terhadap organisasi dimana mereka bekerja. Hal ini dapat diupayakan
bila karyawan merasakan adanya keamanan dan kepuasan di dalam organisasi
tempat ia bergabung untuk bekerja
