Perilaku Temper Tantrum dan Iklim Sekolah


Temper tantrum adalah salah satu usaha anak untuk memaksakan
kehendaknya pada orangtua, yang biasanya tampak dalam bentuk menjerit-
jerit, berteriak dan menangis sekeras-kerasnya, berguling-guling di lantai dan
sebagainya. Proses munculnya dan terbentuknya temper tantrum pada anak,
biasanya berlangsung diluar kesadaran anak. Demikian pula orang tua atau
pendidiknya tidak menyadari bahwa dialah sebenarnya yang memberi
kesempatan bagi pembentukan tantrum pada anak (Achroni, 2012).
Hasil-hasil riset yang dirangkum oleh Campbell (2005) menyatakan
bahwa pengasuhan yang asal-asalan, tidak konsisten, dan penuh penolakan
akan mendatangkan kemarahan anak, frustrasi dan ketidakpatuhan. Selain itu,
ada beberapa faktor juga yang dapat menyebabkan terjadinya temper tantrum
pada anak seperti contoh terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu,
ketidakmampuan anak mengungkapkan diri, tidak terpenuhinya kebutuhan,
pola asuh orang tua, anak merasa lelah, anak merasa lapar, anak dalam keadaan
sakit, anak sedang stress, dan anak tidak aman dalam kondisi lingkungannnya
(Tasmin, 2002).
Iklim sekolah merupakan bagian dari lingkungan belajar yang akan
mempengaruhi kepribadian dan tingkah laku seseorang, sebab dalam
melaksanakan tugas sekolahnya seorang siswa akan selalu berinteraksi dengan
lingkungan belajarnya. Peserta didik menjadikan iklim yang kondusif sebagai
suatu perilaku, nilai-nilai, sikap untuk melakukan penyesuaian dengan
lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan struktur yang
melibatkan sejumlah orang dengan tugas dalam melaksanakan suatu fungsi
untuk memenuhi suatu kebutuhan (pendidikan) (Hadiyanto,2004).
Riset yang paling banyak dilakukan pada area mikrosistem adalah
berfokus pada tingkah laku anak yang dipengaruhi aktivitas pengasuhan di
keluarga dan sekolah. Hal ini diperkuat oleh Fanz, McClelland, dan
Weinberger (2008) melalui penelitiannya selama 36 tahun yang membuktikan
bahwa kehidupan sosial di rumah maupun di sekolah sangat mempengaruhi
terbentuknya tingkah laku sosial pada anak. Pembelajaran formal di institusi
pendidikan maupun di rumah akan efektif dalam mengembangkan standar
tingkah laku yang disampaikan berdasar pada acuan norma yang dianut
bersama dan didukung oleh penguatan-penguatan sosial. Penelitian Roeser dkk
(2001) menjelaskan bahwa perkembangan fungsi-fungsi emosi dan sosial anak
juga banyak dipengaruhi oleh sistem sekolah. Hal ini dikuatkan oleh pendapat
Kupperminc (2001) mengatakan bahwa pengaruh sekolah tidak hanya pada
kemampuan akademik dan prestasi saja, tetapi juga berpengaruh pada
perkembangan psikososial peserta didik itu sendiri. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian Gettinger (2001), kurikulum pada pendidikan harus merefleksikan
pemahaman pendidikan mengenai bagaimana anak-anak belajar, dan
bagaimana memberikan pengalaman belajar yang penuh makna untuk
menstimulasi pertumbuhan fisik dan perkembangan aspek-aspek
psikologisnya. Hal inilah yang diungkap oleh para ahli pendidik seperti Dewey,
Montessori, Vygotsky, Erikson, dan Piaget (Mooney, 2003) yaitu pendidikan
harus terfokus pada peserta didik, yang berisikan program kegiatan belajar
yang aktif dan interaktif, serta melibatkan dunia peserta didik dan sekitarnya.
Aktif dimaksudkan bahwa program kegiatan belajar yang diterapkan harus
menstimulasi peserta didik untuk terus belajar melalui pengalaman-
pengalaman di sekolah. Interaktif yaitu peserta didik terlibat di setiap program
kegiatan belajar serta adanya komunikasi yang terjadi antara pendidik dengan
peserta didik, atapun peserta didik dengan peserta didik lainnya. Pada intinya,
proses pembelajaran ini diharapkan untuk menstimulasi atau merangsang
pertumbuhan fisik dan perkembangan aspek-aspek psikologis peserta didik
secara optimal yang pada intinya bertujuan agar peserta didik mampu
menyesuaikan diri dengan baik dengan membawa nilai-nilai yang diterima
secara sosial. Bennet, Elliott, dan Peters (2005) menyatakan bahwa kelas dan
sekolah yang menyediakan struktur yang teratur dan pengalaman belajar yang
positif melindungi siswa dari tekanan dan faktor yang dapat menjadi pemicu
munculnya tingkah laku bermasalah yang mereka bawa dari rumah.
Pendapat lain dari Sarwono (2010) menyatakan, lingkungan merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan
perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik mupun lingkungan
psiko-sosiologis, termasuk didalamnya adalah belajar. Terhadap faktor
lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti
pengalaman, karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dari
pengalaman itu, karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya.
Lingkungan keluarga dan lingkungan teman sebaya yang baik akan menjadi
model untuk ditiru oleh anak usia prasekolah. Jadi lingkungan tertentu dapat
memicu seseorang untuk melakukan keinginannya, apabila seseorang
memiliki keinginan atau motif yang baik maka dapat terwujud juka didukung
dengan kondisi lingkungan yang kondusif untuk melakukan hal tersebut.
Sebaliknya apabila lingkungan tidak kondusif atau kurang mendukung, maka
kondisi ini akan mengendurkan motif seseorang sehingga tidak menutup
kemungkinan untuk berbuat buruk atau jahat untuk melampiaskan
keinginannya yang tidak tercapai. Selain itu, anak juga dapat meniru perilaku
yang ada di lingkungan sekitarnya. Sehingga hendaknya orang tua dapat
memperhatikan kondisi lingkungan baik lingkungan keluarga, sekolah,
maupun sepermainan. Salah satunya dengan memperhatikan cara orang tua
dalam mengungkapkan atau menyalurkan emosi marah-marah yang dapat
ditiru anak pada saat anak mengalami ledakan emosi. Sehingga dengan
memberikan lingkungan yang baik kejadian temper tantrum dapat
diminimalkan.