Konservatisme merupakan konsep yang menunda pengakuan arus kas
masuk di masa depan dan sebagai akuntansi konservatif yang menyatakan
akuntan melaporkan informasi akuntansi terendah dari beberapa nilai yang
mungkin untuk aset dan pendapatan, dan tertinggi untuk kewajiban dan beban
(Kothari, 2012). Konservatisme sebagai preferensi untuk metode akuntansi
yang menghasilkan nilai terendah untuk aset dan pendapatan di satu sisi, dan
menghasilkan nilai tertinggi untuk utang dan biaya, di sisi lain. Atau dengan
kata lain, konservatisme menghasilkan nilai buku ekuitas terendah (Asri, 2017).
Menurut FASB Statement of Concept No. 2 konservatisme merupakan
reaksi hati-hati dalam menghadapi ketidakpastian yang melekat untuk mencoba
memastikan bahwa ketidakpastian dan risiko dalam lingkungan bisnis sudah
cukup dipertimbangkan (Zubaidah & Nasrizal, 2019). (Watts, 2008)
mendefinisikan konservatisme sebagai prinsip kehati-hatian dalam pelaporan
keuangan dimana perusahaan tidak terburu-buru dalam mengakui dan
mengukur aset dan laba serta segera mengakui kerugian dan utang yang
berpeluang terjadi. Pelaporan yang berdasarkan kehati-hatian akan memberikan
manfaat yang terbaik bagi seluruh pengguna laporan keuangan (Almilia, 2011).
Menurut (Maulia & Handojo, 2022), konsevatisme adalah respon dari
seorang akuntan dan manajer ketika dihadapkan dalam kondisi ketidaik pastian
dalam mengukur dampak ekonomi dari suatu transaksi baik biaya maupun
pendapatan. Dalam prinsip konservatisme, pengakuan pendapatan dan beban
diakui jika telah benar-benar terjadi. Sehingga pendapatan dan beban yang
diaku akan mencerminkan kondisi perusahaan yang sebenarnya dan bukan
menggunakan basis akrual. Semakin konservatif perusahaan dalam mengakui
beban maupun pendapatan, maka laba yang disajikan akan semakin berkualitas
karena pengakuan beban dan pendapatan adalah yang telah benar-benar terjadi.
