Hubungan antara metode EVA (economic value added) terhadapreturn saham


EVA (economic value added) adalah metode manajemen keuangan untuk
mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan. Menurut Harjono (2010), suatu
perusahaan dapat dikatakan meningkat kekayaan pemegang sahamnya bila tingkat
pengembalian yang dihasilkan lebih besar daripada biaya modal. Bila EVA
semakin tinggi maka harga saham akan semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena
perusahaan tersebut telah berhasil menciptakan kekayaan bagi pemegang
sahamnya, sehingga nilai sahamnya menjadi ikut naik.
EVA merupakan alat ukur kinerja perusahaan yang digunakan untuk
menilai kinerja operasional karena mempertimbangkan required rate of return
yang dituntut oleh investor dan kreditor. Jika EVA lebih besar dari satu berarti
menunjukkan adanya nilai tambah ekonomi terhadap perusahaan selama
operasionalnya. Apabila EVA sama dengan nol, berarti perusahaan berada pada
kondisi impas yang artinya return yang diharapkan sama dengan yang terdahulu
selama operasionalnya, apabila EVA berada dibawah nol, berarti perusahaan
gagal memenuhi harapan para investornya.
EVA sebagai indikator dari keberhasilan manajemen dalam memilih dan
mengelola sumber-sumber dana yang ada diperusahaan tentunya juga akan
berpengaruh positif terhadap return pemegang saham. Dalam konsep EVA ini
biaya modal saham juga diperhitungkan, sehingga memberikan pertimbangan bagi
penyandang dana perusahaan karena biaya modal yang sebenarnya ditanggung
oleh perusahaan. Dengan meningkatnya EVA perusahaan, saham perusahaan akan
diminati oleh investor, hal ini berdampak pada harga saham, harga saham akan
ikut naik sehingga return yang diharapkan oleh para pemegang saham semakin
tinggi. Meningkatnya EVA perusahaan berarti kinerja perusahaan semakin baik
sehingga kesejahteraan para pemegang saham dapat ditingkatkan.