Konflik peran terjadi ketika seseorang diberikan peran yang membuatnya
sulit beradaptasi ke peran lain (Robbin dan Judge, 2015:183). Konflik peran terjadi
ketika mereka diinstruksikan oleh dua atau lebih peran pada saat yang sama, dan
dengan tugas yang berbeda sehingga menimbulkan ambiguitas (Choi dan Kim,
2015:13). Role conflict adalah jenis konflik yang dihasilkan dari berbagai peran.
Konflik ini terjadi karena individu secara bersamaan memainkan berbagai peran,
beberapa memiliki harapan yang saling bertentangan.
Role conflict, terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara harapan dan
persyaratan yang terkait dengan peran seseorang. Mencapai harapan dan dapat
memperumit harapan dan peran lainnya. Role conflict merupakan ketidaksesuaian
permintaan peran tugas dengan tugas yang biasa dikerjakan (Wiguna, 2017:506).
Role conflict ada dua pengertian yaitu keberadaan dari tujuan dan sasaran hasil
suatu pekerjaan yang telah didefinisikan dengan jelas (Goal Clarity) dan
keberadaan dari setiap individu di mana mereka merasa yakin tentang bagaimana
harus melakukan pekerjaannya (Process Clarity). Dari ulasan diatas dapat
disimpulkan bahwa role conflict adalah suatu keadaan yang dialami seseorang
dengan peran pekerjaan yang dialaminya.
2.1.2.1. Indikator Role Conflict
Menurut Rizzo dan Lirtzman (2017:3), konflik peran diukur menggunakan
indikator-indikator sebagai berikut:
- Sumber Daya Manusia
Setiap individu bekerja dengan cara yang berbeda dan beberapa menerima tugas
tanpa bakat yang cukup untuk menyelesaikannya. - Mengesampingkan Aturan
Mengesampingkan peraturan yang ada supaya bisa menuntaskan tugas dan
menerima permintaan dua pihak atau lebih yg tidak sinkron satu sama lain. - Kegiatan Yang Tidak Perlu
Pekerjaan yang dapat diterima oleh satu pihak tetapi tidak bagi pihak lain, dan
kegiatan yang sebenarnya tidak menjadi prioritas. - Instruksi Yang Ambigu
Penjelasan tentang pekerjaan yang tidak jelas atau adanya perbedaan antara
penjelasan dengan pelaksanaan pekerjaan yang seharusnya.
