Dimensi Brand Image


Menurut Widyaningsih dalam Cendana (2017) yang
merangkum dari hasil studi terhadap berbagai literatur dan riset-riset
yang relevan, disimpulkan bahwa dimensi-dimensi utama yang
memengaruhi dan membentuk citra sebuah merek tertuang dalam
berikut ini:

  1. Identitas merek (Brand Identity)
    Dimensi pertama adalah brand identity atau identitas merek.
    Brand identity merupakan identitas fisik yang berkaitan dengan
    merek atau produk tersebut sehingga konsumen mudah
    mengenali dan membedakannya dengan merek atau produk
    lain, seperti logo, warna, kemasan, lokasi, identitas perusahaan
    yang memayunginya, slogan, dan lain-lain.
  2. Personalitas merek (Brand Personality)
    Dimensi kedua adalah brand personality atau personalitas
    merek. Brand personality adalah karakter khas sebuah merek
    yang membentuk kepribadian tertentu sebagaimana layaknya
    manusia, sehingga khalayak konsumen dengan mudah
    membedakannya dengan merek lain dalam kategori yang sama,
    misalnya karakter tegas, kaku, berwibawa, ningrat, atau murah
    senyum, hangat, penyayang, berjiwa sosial, atau dinamis,
    kreatif, independen, dan sebagainya.
  3. Asosiasi merek (Brand Association)
    Dimensi ketiga adalah brand association atau asosiasi merek.
    Brand association adalah hal-hal spesifik yang pantas atau
    selalu dikaitkan dengan suatu merek, bisa muncul dari
    penawaran unik suatu produk, aktivitas yang berulang dan
    konsisten misalnya dalam hal sponsorship atau kegiatan social
    responsibility, isu-isu yang sangat kuat berkaitan dengan merek
    tersebut, ataupun person.
  4. Sikap dan perilaku merek (Brand Attitude & Behavior)
    Dimensi keempat adalah brand attitude atau sikap dan perilaku
    merek. Brand attitude and behavior adalah sikap atau perilaku
    komunikasi dan interaksi merek dengan konsumen dalam
    menawarkan manfaat-manfaat dan nilai yang dimilikinya.
    Kerap sebuah merek menggunakan cara-cara yang kurang
    pantas dan melanggar etika dalam berkomunikasi, pelayanan
    yang buruk sehingga memengaruhi pandangan publik terhadap
    sikap dan perilaku merek tersebut, atau sebaliknya, sikap dan
    perilaku simpatik, jujur, konsisten antara janji dan realitas,
    pelayanan yang baik dan kepedulian terhadap lingkungan dan
    masyarakat luas membentuk persepsi yang baik pula terhadap
    sikap dan perilaku merek tersebut.
    Jadi, brand attitude & behavior mencakup sikap dan perilaku
    komunikasi, aktivitas dan atribut yang melekat pada merek saat
    berhubungan dengan khalayak konsumen, termasuk perilaku
    karyawan dan pemilik merek.
  5. Manfaat dan keunggulan merek (Brand Benefit & Competence)
    Dimensi kelima adalah brand benefit and competence atau
    manfaat dan keunggulan merek. Brand benefit and competence
    merupakan nilai-nilai dan keunggulan khas yang ditawarkan
    oleh suatu merek kepada konsumen yang membuat konsumen
    dapat merasakan manfaat karena kebutuhan, keinginan, mimpi
    dan obsesinya terwujudkan oleh apa yang ditawarkan tersebut.
    Nilai dan manfaat di sini dapat bersifat functional, emotional,
    symbolic maupun social, misalnya merek produk deterjen
    dengan benefit membersihkan pakaian (functional benefit/
    values), menjadikan pemakai pakaian yang dibersihkan jadi
    percaya diri (emotional benefit/ values), menjadi simbol gaya
    hidup masyarakat modern yang bersih (symbolic benefit/
    values) dan memberi inspirasi bagi lingkungan untuk peduli
    pada kebersihan diri, lingkungan dan hati nurani (social
    benefit/ values). Manfaat, keunggulan dan kompetensi khas
    suatu merek akan memengaruhi brand image produk, individu
    atau lembaga/ perusahaan tersebut.