Pengertian Brand Image


Beberapa perusahaan mengelola brand image sebagai aset dalam rangka
mencapai target suatu produk tertentu. Namun pada kenyataannya, beberapa
perusahaan tidak menguasai bagaimana menentukan brand image yang tepat
sasaran dan memiliki citra positif di masyarakat. Banyak perusahaan yang secara
tidak konsisten menciptakan brand image di mata pelanggan yang akhirnya
merugikan citra perusahaan itu sendiri. Sedikit yang memahami dimensi-dimensi
apa saja yang mempengaruhi brand image suatu perusahaan untuk menciptakan
persepsi yang “berkualitas”, dan diyakini dapat dipromosikan ke seluruh pelanggan
sehingga memperoleh kesan yang baik dari pengalaman yang dirasakan. Gambaran
merek, juga dikenal sebagai “brand image”, didasarkan pada informasi dan
pengalaman pelanggan sebelumnya dengan merek tertentu (Keller & Swaminathan,
2020).
Konsistensi dari pembentukan brand image adalah sesuatu yang sangat
penting. Menghadirkan brand image yang konsisten dengan produk dan promosi
dapat meningkatkan ketertarikan dan kepercayaan pelanggan. Selain itu, ada
keuntungan besar lainnya dalam strategi manajemen perusahaan. Bahkan jika
kinerja brand image memiliki reputasi dan konsistensi yang baik akan sangat susah
ditiru oleh pesaing. Tugas perusahaan adalah bagaimana membentuk brand image
yang memberi kesan pada pelanggan. Citra merek (brand image) sangat erat
berhubungan dengan sikap dan perilaku konsumen yang berupa preferensi terhadap
suatu merek (EspĂ­ndola, 2020).
Brand Image memiliki peranan sangat penting dalam mengembangkan
sebuah merek karena brand image sendiri memiliki keterkaitan dengan reputasi dan
kredibilitas perusahaan yang akan menjadi acuan untuk bagaimana pelanggan terus
mencoba dan membeli bahkan menggunakan sebuah produk atau jasa sehingga
dengan sendirinya menciptakan kesan dan persepsi yang berakhir dengan sebuah
pengalaman tertentu yang menentukan apakah keputusan pelanggan menjadi loyal
(loyalis) atau mudah berpindah ke produk tertentu (oportunis). Merek merupakanbagian penting dari hubungan bisnis dengan pelanggannya, lebih dari sekedar nama
atau simbol (Kotler et al., 2019). Jika konsumen memiliki kesan positif terhadap
suatu merek, konsumen cenderung membeli produk tersebut lagi. Sebaliknya, jika
citra merek bersifat negatif, konsumen cenderung tidak akan membeli produk
tersebut lagi (Mcpheron, 2021). Persepsi konsumen tentang sebuah merek yang
membentuk kepercayaan (brand trust) mereka terhadapnya disebut brand image.
Tiga komponen utama membentuk brand image: (1) Corporate image
adalah gambaran yang dimiliki pelanggan tentang perusahaan dengan produk
tertentu, seperti kredibilitas, popularitas, jaringan perusahaan, dan segmen
pasarnya. (2) User image adalah gambaran yang dimiliki pelanggan tentang
menggunakan produk, seperti gaya hidup dan status sosial. (3) Product image
adalah gambaran pelanggan tentang fitur produk (Caputo, 2021).
Brand image dipengaruhi oleh beberapa faktor, (1) Kesesuaian ekonomi
(Economic fit), yaitu kesesuaian antara merek dan harga yang ditawarkan, adalah
salah satu faktor yang mempengaruhi citra merek. (2) Kesesuaian simbolik
(Symbolic fit) adalah kesesuaian keuntungan simbolik yang dinikmati konsumen
ketika mereka ingin membeli barang dengan merek tersebut, seperti meningkatkan
prestise atau gengsi, mengidentifikasi ego atau kebanggaan saat menggunakan
merek tersebut, dan sebagainya. (3) Kesesuaian sensori (Sensory fit) meliputi
kesesuaian perasaan atau pengalaman dengan situasi ketika menggunakan produk
dari merek tersebut yang dapat memberikan kesan positif terhadap merek tersebut.
(4) Kesesuaian futuris (Futuristic fit) meliputi hal-hal yang terkait dengan masa
depan (Chernev, 2020).