Menurut Kotler dan Armstrong dan Keller (2018:180), keputusan pembelian
adalah keputusan pembeli tentang merek mana yang dibeli. Proses pengambilan
keputusan yang rumit sering melibatkan beberapa keputusan. Keputusan ini melibatkan
pilihan antara dua atau lebih alternatif. Keputusan pembelian konsumen adalah tahap
dimana konsumen juga mungkin membentuk niat untuk membeli produk yang paling
disukai, dimana keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda, atau menghindar
sangat dipengaruhi resiko yang dirasakan. Sunyoto dalam Nasib (2018:39) menjelaskan
pengambilan keputusan merupakan proses kognitif yang mempersatukan memori,
pemikiran, pemrosesan informasi, dan penilaian-penilaian secara evaluatif. Proses
pengambilan keputusan melibatkan proses kognitif yang kompleks, di mana individu
harus memperhitungkan informasi yangtersedia, mengevaluasi pilihan yang tersedia, dan
kemudian membuat keputusan berdasarkan analisis dan evaluasi mereka. Proses ini
melibatkan penggunaan memori, pemikiran, dan pemrosesan informasi secara kritis.
Selain itu, individu juga harus membuat penilaian evaluatif tentang konsekuensi dari
setiap pilihan yang tersedia sebelum memutuskan langkah yang akan diambil. Proses
keputusan konsumen untuk mengambil keputusan pembelian tidak bisa terjadi tiba-tiba
atau dengan sendirinya, pasti terdapat stimulus atau rangsangan dari luar kendali
konsumen. Rangsangan pemasaran untuk pembelian produk terdiri dari 4P untukproduk
fisik dan 7P untuk produk jasa, yaitu: produk, harga, tempat, promosi, orang, proses dan
bukti fisik. Rangsangan lain adalah kekuatan-kekuatan utama dalam lingkungan, yaitu:
ekonomi, teknologi, politik dan budaya. Rangsangan-rangsangan ini mempengaruhi
pembeli dan berubah menjadi tanggapan pembeli untuk memutuskan pilihan produk
atau jasa, merek, toko, waktu dan jumlah yang juga akan dijadikan indikator dalam
keputusan pembelian. Menurut Fandy Tjiptono (2018:92) agar tujuan tercapai, maka
setiap perusahaan harus berusaha menghasilkan dan menyampaikan barang dan jasa.
