Menurut Tjiptono (2015:298—309) metode penetapan harga
terdiri dari empat kelompok, antara lain sebagai berikut.
1) Metode Penetapan Harga Berbasis Permintaan
Metode ini berfokus pada faktor-faktor yang memengaruhi
keinginan dan kebiasaan konsumen. Metode penetapan harga
berdasarkan permintaan memiliki beberapa metode penetapan harga
yang digunakan, antara lain sebagai berikut.
a) Skimming pricing, ialah menetapkan harga tinggi pada tahap
perkenalan produk baru, kemudian mengurangi harga saat
terjadi persaingan.
b) Penetration pricing, ialah meluncurkan produk baru dengan
harga yang rendah, dengan tujuan untuk mencapai penjualan
yang besar dalam waktu yang singkat.
c) Prestige pricing, ialah harga dianggap sebagai penunjuk tingkat
kualitas atau keistimewaan sebuah produk atau jasa oleh
konsumen.
d) Price lining, ialah apabila perusahaan menjual lebih dari satu
jenis produk, maka harga yang digunakan akan berbeda-beda
dan ditentukan pada level harga yang berbeda pula.
e) Odd-even pricing, ialah harga tersebut hampir mencapai jumlah
genap yang telah ditentukan.
f) Demand-backward pricing, ialah harga yang diperkirakan pada
tingkat harga yang tinggi bagi produk tertentu, menentukan
margin yang perlu dibayarkan kepada grosir atau pengcer,
sehingga harga jual akhir dapat ditetapkan.
g) Product bundle pricing, ialah cara pemasaran yang
menggabungkan dua atau lebih produk ke dalam satu paket
harga.
h) Optional product pricing, ialah strategi yang menggabungkan
penawaran produk aksesoris atau operasional sebagai pelengkap
dari produk utama yang ditawarkan.
i) Captive product pricing, ialah strategi yang digunakan perlu
dipadukan dengan produk utama untuk dapat berfungsi dengan
efektif.
j) By-product pricing, ialah dalam mencari pasar untuk produk
tambahan, orang-orang yang bersedia membayar apapun untuk
menutupi biaya penyimpangan dan pengiriman, sehingga
produk dapat ditawarkan dengan harga yang lebih kompetitif
dengan mengurangi biaya produk.
2) Metode Penetapan Harga Berbasis Biaya
Metode ini mengutamakan faktor penawaran atau biaya
sebagai penentu harga utama. Harga ditentukan dengan cara
menambahkan biaya produksi dan pemasaran dengan jumlah
tertentu untuk menutupi biaya overhead serta memperoleh
keuntungan. Terdapat beberapa metode penetapan harga yang
mengacu pada biaya, antara lain sebagai berikut.
a) Standard markup pricing, ialah menetapkan harga dengan
menaikkan persentase biaya pada semua macam produk dalam
sebuah produk.
b) Cost plus percentage of cost pricing, ialah perusahaan
menaikkan persentase pada biaya produksi atau konstruksi.
c) Cost plus fixed fee pricing, ialah pemasok dan produsen akan
menerima penggantian biaya yang dikeluarkan, namun produsen
hanya akan menerima remunerasi sebagai keuntungan yang
sesuai dengan biaya proyek akhir yang disepakati.
d) Experience curve pricing, ialah biaya satuan barang dna jasa
akan turun sebesar 10%—30% ketika volume produksi dan
penjualan barang atau jasa mengalami peningkatan dua kali
lipat.
3) Metode Penetapan Harga Berbasis Laba
Metode ini menggunakan penyeimbangan antara pendapatan
dan biaya sebagai dasar penetapan harga, dengan tujuan untuk
mencapai target keuntungan tertentu dalam bentuk angka volume
laba atau persentase dari penjualan atau investasi. Metode penetapan
harga berbasis laba memiliki beberapa metode penetapan harga yang
digunakan, antara lain sebagai berikut.
a) Target profit pricing, ialah penetapan harga didasarkan pada
target keuntungan tahunan yang ditentukan secara spesifik.
b) Target return on sales pricing, ialah penetapan harga dilaukan
dengan menentukan tingkat harga tertentu yang mampu
memperoleh keuntungan pada persentase volume penjualan
tertentu.
c) Target return of investment (ROI) pricing, ialah penetapan harga
dilakukan berdasarkan target rasio antara keuntungan dan
investasi total perusahaan pada fasilitas produksi dan aset yang
menopang produk tertentu.
4) Metode Penetapan Harga Berbasis Persaingan
Metode penetapan harga ini berfokus pada persaingan. Dalam
metode ini, ada beberapa cara yang digunakan untuk menetapkan
harga, antara lain sebagai berikut.
a) Customary pricing, ialah harga ditetapkan berdasarkan faktor-
faktor yang termasuk budaya, saluran distribusi yang standar,
dan persaingan yang ada, yang merupakan cara penetapan harga
yang bergantung pada faktor-faktor eksternal.
b) Above, at, or below market pricing, ialah penetapan harga yang
lebih tinggi daripada harga pasar dilakukan dengan metode
above market pricing, penetapan harga yang mengikuti harga
pasar pesaing dilakukan dengan metode at market pricing,
sedangkan penetapan harga yang lebih rendah dari harga pasar
dilakukan dengan metode below market pricing, dan umumnya
harga ditentukan antara 8%—10% lebih murah dari harga
produk merek nasional pesaing.
c) Loss leader pricing, ialah meningkatkan penjualan produk dan
memikat konsumen untuk berkunjung ke toko, dengan cara
mempromosikan produk yang memiliki markup tinggi, sehingga
dapat menjadi daya tarik utama yang membuat konsumen
membeli produk lain yang tersedia.
d) Sealed bid pricing, ialah sistem yang melibatkan perantara
pembelian untuk memberikan penawaran harga
