Penetapan harga mencakup dimensi strategis dan taktis. Menurut
Tjiptono dan Chandra (2020:427—443), ada enam opsi strategi yang
dapat dikategorikan menurut konteks spesifik, yaitu sebagai berikut.
1) Penetapan harga produk baru
Dalam menetapkan harga produk baru harus ditentukan
dengan hati-hati, karena memengaruhi potensi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup. Secara umum, ada dua strategi utama yang
dapat dipilih, antara lain:
a) Skimming pricing, yaitu perusahaan membebankan harga awal
yang tinggi untuk produk baru. Biasanya setelah beberapa waktu
harga dikurangi dengan produk yang sama atau versi yang lebih
murah.
b) Penetration pricing, yaitu perusahaan membebankan harga awal
yang relatif rendah pada awal siklus hidup produk untuk
mendapatkan pangsa pasar yang besar dan mencegah pesaing
memasuki pasar.
2) Penetapan harga produk yang sudah mapan
Terdapat tiga opsi yang dapat digunakan dalam strategi
penetapan harga produk yang telah ada di pasaran, antara lain:
a) Mempertahankan harga, yaitu strategi yang diterapkan dengan
maksud menjaga posisi pasar serta memperkuat citra positif di
mata konsumen dan masyarakat.
b) Menurunkan harga, yaitu strategi mengurangi harga yang
diterapkan untuk menghadapi dan memenangkan persaingan
dengan faktor pertimbangan pengaruh jangka panjang, pengaruh
kualitas, pengaruh terhadap produk lain, dan pengaruh terhadap
daya kerja finansial. Sehingga, konsumen yang selektif dalam
membeli produk tidak akan berpaling ke pesaing lainnya yang
lebih murah.
c) Menaikkan harga, yaitu strategi yang diterapkan untuk menjaga
profitabilitas pada saat inflasi, memanfaatkan perbedaan produk,
atau untuk membagi pasar yang dilayani.
3) Strategi fleksibilitas harga
Terdapat dua jenis strategi dalam fleksibilitas harga, antara
lain sebagai berikut.
a) Strategi harga tunggal, yaitu strategi yang dilakukan dengan
menetapkan harga yang sama untuk konsumen yang membeli
produk dengan kualitas dan kuantitas yang sama dalam kondisi
yang sama.
b) Strategi harga fleksibel, yaitu strategi yang dilakukan dengan
menetapkan harga yang berbeda untuk setiap konsumen yang
berbeda dengan kualitas produk yang sama.
4) Penetapan harga lini produk (price lining)
Strategi price lining dapat digunakan jika perusahaan
memasarkan lebih dari satu jenis atau lini produk. Harga produk lini
produk ini dapat bervariasi dan diatur pada tingkat harga yang
berbeda.
5) Leasing
Leasing yaitu sebuah perjanjian dimana pemilik suatu aset
(lessor) setuju untuk memberikan penggunaan aset tersebut kepada
pihak lain (lessee) untuk jangka waktu yang telah ditetapkan, dengan
imbalan yang telah disepakati. Ada dua jenis leasing, yaitu sebagai
berikut.
a) Operating lease, yaitu leasing yang memiliki masa berlaku yang
dapat dibatalkan dan umumnya berdurasi lebih pendek dari masa
manfaat ekonomis aset yang sedang dilakukan leasing.
b) Financial lease, yaitu leasing yang berlangsung dalam jangka
waktu yang lama dan tidak dapat dibatalkan, mengharuskan
penyewa untuk membayar biaya sewa hingga akhir masa
manfaat ekonomis aset tersebut.
6) Penetapan harga jasa
Produk jasa berbeda dari produk barang fisik karena tidak
berbentuk fisik, produksi dan konsumsinya tidak dapat dipisahkan,
kualitasnya bersifat subjektif, tidak tahan lama dan tidak dapat
disimpan. Ada tiga jenis strategi yang termasuk dalam kategori ini,
antara lain sebagai berikut.
a) Satisfaction-based pricing, yaitu faktor yang sering
memengaruhi pandangan konsumen saat membeli layanan, oleh
karena itu tujuan utama dari pricing ini adalah untuk mengurangi
risiko-risiko yang terkait dengan persepsi konsumen tersebut.
b) Relationship-pricing, yaitu strategi untuk menarik, memelihara,
dan meningkatkan hubungan dengan konsumen.
c) Efficiency pricing, yaitu strategi yang berkaitan tentang
memahami, mengelola, dan mengurangi biaya
