Menurut Tepper et al. (2015), ada tiga faktor yang memengaruhi supervisi
lanjutan:
- Social learning
Dengan melihat lingkungan mereka, seseorang belajar perilaku dan
sikap yang dianggap tepat dalam berbagai konteks. Ini menjelaskan
mengapa supervisor berperilaku kasar karena mereka menjadi percaya
bahwa itu dapat diterima dan bermanfaat melalui proses pembelajaran
sosial. - Identity threat
Ketika seorang atasan menghadapi ancaman identitas atau krisis
identitas, mereka lebih cenderung menyalahgunakan bawahan
langsung mereka. Ini terjadi karena mereka mengalami ancaman
terhadap identitas mereka sebagai seorang pemimpin, rasa kekuasaan
atau kendali mereka, atau kemampuan mereka untuk memenuhi
tanggung jawab mereka dengan baik. - Self-regulation impairment
Kemampuan seseorang untuk mengelola pikiran, emosi, dan
keinginan mereka dengan cara yang menghasilkan korelasi antara
perilaku dengan tujuan dikenal sebagai gangguan regulasi diri.
