Engagement dibangun melalui proses, butuh waktu yang
panjang serta komitmen yang tinggi dari pemimpin. Untuk itu,
dibutuhkan kekonsistenan pemimpin dalam mementoring
karyawan Dalam menciptakan engagement, pimpinan organisasi
diharapkan memiliki beberapa keterampilan. Beberapa
diantaranya adalah teknik berkomunikasi, teknik memberikan
feedback dan teknik penilaian kinerja (McBain, 2007, dalam
Mujiasih, 2012). Hal-hal ini menjadi jalan bagi manajer untuk
menciptakan engagement sehingga secara khusus hal-hal ini
disebut sebagai penggerak employee engagement.
- Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja yang kondusif juga sangat berpengaruh
terhadap engagement karyawan. Menciptakan lingkungan kerja
yang kondusif berarti menciptakan suatu kondisi dimana
karyawan merasa nyaman untuk bekerja. Dalam Budaya
Organisasi, menciptakan lingkungan yang kondusif biasanya
merupakan bagian dari nilai organisasi yang dikembangkan dari
filosofi dasarnya.
Nilai ini biasanya tertuang dalam salah satu prinsip atau
asas yang mendasari pola interaksi antar sesama karyawan.
Dengan prinsip-prinsip semacam itu, karyawan diharapkan akan
menemukan lingkungan kerja yang kondusif. Kenyamanan
kondisi lingkungan kerja menjadi pemicu terciptanya work
engagement pada karyawan.
Ada beberapa kondisi lingkungan kerja yang diharapkan
dapat menciptakan engagement. Pertama, lingkungan kerja yang
memiliki keadilan distributif dan prosedural. Hal ini terjadi
karena karyawan yang memiliki persepsi bahwa ia mendapat
keadilan distributif dan prosedural akan berlaku adil pada
organisasi dengan cara membangun ikatan emosi yang lebih
dalam pada organisasi. Kedua, lingkungan kerja yang melibatkan
karyawan dalam pengambilan keputusan. Kondisi ini
mempengaruhi karyawan secara psikologis, mereka menganggap
bahwa mereka berharga bagi organisasi. Hal ini membuat
karyawan akan semakin terikat dengan organisasi. Ketiga,
organisasi yang memperhatikan keseimbangan kehidupan kerja
dan keluarga karyawan (McBain, 2007, dalam Mujiasih, 2012)
