Gab Model Kualitas Layanan


Model Servqual (Service Quality), model ini juga dikenal dengan istilah gap
analysis modelyang dikembangkan oleh tiga peneliti Amerika, Zeithaml, A.
Parasuraman, dan Berry. Untuk mengetahui kulitas layanan digunakan gap model
serqual. Model ini meliputi analisis terhadap 5 gap yang berpengaruh terhadap
kualitas layanan (Tjiptono, 2014:271), berikut penjelasannya:

  1. Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen.
    Pada kenyataannya pihak manajeman suatu perusahaan tidak selalu dapat
    merasakan atau memahami apa yang diinginkan konsumen secara tepat.
    Akibatnya manajemen tidak mengetahui bagaimana suatu layanan harus didesain,
    dan layanan-layanan pendukung atau sekunder apa saja yang diinginkan
    konsumen. Contohnya pengelola katering mungkin mengira para konsumennya
    lebih mengutamakan ketepatan waktu pengantaran makanannya, padahal para
    konsumen tersebut mungkin lebih memperhatikan variasi menu yang disajikan.
  2. Gap antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan spesifikasi
    kualitas layanan.
    Kadangkala manajemen mampu memahami secara tepat apa yang
    diinginkan oleh konsumen, tetapi mereka tidak menyusun suatu standar kinerja
    tertentu yang jelas. Hal ini bisa dikarenakan tiga faktor, yaitu tidak adanya
    komitmen total manajemen terhadap kualitas jasa, kekurangan sumber daya, atau
    karena adanya kelebihan permintaan. Sebagai contoh, manajemen suatu bank
    meminta para stafnya agar memberikan pelayanan secara cepat tanpa menentukan
    standar atau ukuran waktu pelayanan yang dapat dikategorikan cepat.
  3. Gap antara spesifikasi kualitas layanan dan penyampaian pelayanan.
    Ada beberapa penyebab terjadinya gap ini, misalnya karyawan kurang
    terlatih (belum menguasai tugasnya), beban kerja melampaui batas, tidak dapat
    memenuhi standar kinerja yang ditetapkan. Selain itu mungkin pula karyawan
    dihadapkan pada standar-standar yang kadangkala bertentangan satu sama lain,
    misalnya para juru rawat diharuskan meluangkan waktunya untuk mendengarkan
    keluhan atau masalah pasien, tetapi disisi lain mereka juga harus melayani para
    pasien dengan cepat.
  4. Gap antara penyampaian pelayanan dan komunikasi eksternal.
    Seringkali harapan konsumen dipengaruhi oleh iklan dan pernyataan atau
    janji yang dibuat oleh perusahaan. Resiko yang dihadapi perusahaan adalah
    apabila janji yang diberikan ternyata tidak dapat dipenuhi. Akan tetapi saat
    konsumendatang dan merasakan bahwa ternyata fasilitas praktikum dan
    perpustakaannya biasa-biasa maka sebenarnya komunikasi eksternal yang
    dilakukan lembaga pendidikan tersebut telah mendistorsi harapan konsumen dan
    menyebabkan terjadinya persepsi negatif terhadap kulitas layanan lembaga
    tersebut.
  5. Gap antara pelayanan yang dirasakan dan pelayanan yang diharapkan
    Gap ini terjadi apabila konsumen mengukur kinerja atau prestasi
    perusahaan dengan cara yang berlainan atau bisa juga keliru mempersepsikan
    kualitas layanan tersebut. Misalnya seorang dokter bisa saja terus mengunjungi
    pasiennya untuk menunjukan perhatiannya.