Supply hipothesis menjelaskan bahwa perusahaan yang dikontrol
oleh insider memiliki debt agency cost kecil sehingga meningkatkan
penggunaan utang. Menurut Jensen dan Meckling (1976), penggunaan
utang mengurangi kebutuhan ekuitas eksternal dan meningkatkan proporsi
kepemilikan manajerial. Penggunaan utang yang berlebihan akan
meningkatkan bankruptcy cost sehingga mengurangi minat manajer untuk
menambah kepemilikan (Friend dan Lang, 1988) Bird in the hand theory
memandang bahwa dividen tinggi adalah yang terbaik, karena investor lebih
lebih suka kepastian tentang return investasinya serta mengantisipasi risiko
ketidakpastian tentang kebangkrutan perusahaan (Gordon dalam Brigham
dan Gapenski, 1996: 438). Roseff (1982) menyatakan bahwa kepemilikan
manajerial yang tinggi menyebabkan dividen yang dibayarkan pada
pemegang saham rendah. Penetapan dividen rendah disebabkan manajer
memiliki harapan investasi dimasa yang akan datang yang dibiayai dari
sumber internal. Sebaliknya jika pemegang saham lebih menyukai dividen
yang tinggi, maka menimbulkan perbedaan kepentingan, sehingga
diperlukan peningkatan dividen. Struktur Kepemilikan dan Nilai
Perusahaan Fuerst dan Kang (2000) menemukan hubungan yang positif
antara insider ownership dengan nilai pasar setelah mengendalikan kinerja
perusahaan. Nilai perusahaan dapat meningkat jika institusi mampu menjadi
alat monitoring yang efektif (Slovin dan Sushka, 1993). Hubungan antara
analysts coverage yang merupakan external monitoring function dan
Tobins’Q sebagai proksi nilai perusahaan adalah positif dan signifikan
(Chen dan Steiner, 2000).
