Kepuasan kerja berpengaruh terhadap beberapa hal diantaranya adalah:
1) Terhadap produktvitas
Orang berpendapat bahwa produktivitas dapat dinaikan dengan
meningkatkan kepuasan kerja. Kepuasan kerja mungkin merupakan
akibat dari produktivitas atau sebaliknya. Produktivitas yang tinggi
menyebabkan peningkatan kepuasan kerja hanya jika tenaga kerja
mempresepsikan bahwa apa yang telah dicapai perusahaan sesuai dengan
apa yang mereka terima (gaji/upah), yaitu adil dan wajar, serta
diasosiasikan dengan performa kerja yang unggul. Dengan kata lain,
performansi kerja menunjukkan tingkat kepuasan kerja seseorang, karena
perusahaan dapat mengetahui aspek-aspek pekerjaan dari tingkat
keberhasilan yang diharapkan.
2) Ketidakhadiran (absensi)
Ketidakhadiran bersifat lebih spontan dan kurang mencerminkan
ketidakpuasan kerja. Tidak ada hubungan antara kepuasan kerja dengan
ketidakhadiran. Sebab, ada dua faktor dalam perilaku hadir, yaitu
motivasi dan kemampuan untuk hadir. Disisi lain, ada pendapat yang
menyatakan bahwa antara kepuasan dan ketidakhadiran /kemangkiran
menunjukkan korelasi negatif. Sebagai contoh perusahaan memberikan
cuti sakit atau cuti kerja dengan bebas tanpa sanksi atau denda, termasuk
kepada pekerja yang sangat puas.
3) Keluarnya Pekerja (Turnover)
Keluar dari pekerjaan mempunyai akibat ekonomis yang besar, maka
besar kemungkinannya hal ini berhubungan dengan ketidakpuasan kerja.
Ketidakpuasan kerja dapat diungkapkan dalam berbagai cara, misalnya
meninggalkan pekerjaan, mengeluh, membangkang, mencuri barang
milik perusahaan/ organisasi, menghindar sebagian tanggung jawab
pekerjaan mereka, dan lainya.
4) Respons Terhadap Ketidakpuasan Kerja
Menurut Robbins (2006), ada empat cara untuk mengungkapakan
ketidakpuasan kerja, yaitu:
a) Keluar (exit), yaitu meninggalkan pekerjaan dan mencari pekerjaan
lain.
b) Menyuarakan (voice), yaitu memberikan saran perbaikan dan
mendiskusikan masalah denagan atasan untuk memperbaiki konsisi.
c) Mengabaikan (neglect), yaitu sikap membiarkan keadaan menjadi
lebih buruk, seperti sering absen atau semakin sering membuat
kesalahan.
d) Kesetiaan (loyalty), yaitu menunggu secara pasif sampai kondisi
menjadi lebih baik, termasuk tetap membela perusahaan terhadap
kritik dari luar.
