Dalam membahas kepuasan kerja, terdapat beberapa teori yang disajikan untuk
menjelaskan mengapa orang menyenangi pekerjaannya, walaupun antara satu teori dengan
teori yang lain saling menunjukkan prinsip yang berbeda. Rivai (2011) menyatakan pada
umumnya ada tiga teori yang dibicarakan, berikut yang sering dibahas dan digunakan.
Teori yang pertama dipelopori oleh Porter (1961 dalam Wijono, 2010), adalah
Discrepancy Theory. Teori yang kedua dikemukakan oleh Zalesnik (1958 dalam As’ad,
2003), dan dikembangkan oleh Adams (1963 dalam As’ad, 2003), adalah Theory
Interpersonal Comparison Process yang dikenal juga sebagai Teori Keadilan atau Equity
Theory. Teori yang ketiga yaitu teori dua faktor (Two factor theory) teori ini dikemukakan
oleh Herzberg (1959 dalam As’ad, 2003).
1) Discrepancy theory
Menurut Porter (dalam Wijono, 2010) bahwa mengukur kepuasan kerja seseorang
dengan menghitung selisih antara apa yang seharusnya dengan kenyataan yang
dirasakan (difference between how much of something there should be and how much
there is now). Apabila yang didapat ternyata lebih besar dari pada yang diinginkan,
maka akan menjadi lebih puas lagi, walaupun terhadap discrepancy yang positif.
Sebaliknya makin jauh kenyataan yang dirasakan itu dibuat standar minimum sehingga
menjadi negative discrepancy, maka makin besar pula ketidakpuasan seseorang
terhadap pekerjaan. Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh individu
merupakan hasil dari suatu perbandingan yang dilakukan oleh dirinya sendiri terhadap
berbagai macam hal yang mudah diperolehnya dari pekerjaan dan menjadi harapannya.
Kepuasan akan dirasakan oleh individu tersebut bila perbedaan atau kesenjangan antara
standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan kecil, sebaliknya
ketidakpuasan akan dirasakan oleh individu bila perbedaan atau kesenjangan antara
standar individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan besar.
2) Interpersonal comparison processes theory
Interpersonal comparison processes theory dikenal juga dengan teori keadilan/Equity
Theory. Teori ini dikemukakan oleh Zalesnik (1958 dalam As’ad, 2003) dan
dikembangkan oleh Adam (1963 dalam As’ad, 2003). Teori keadilan/Equity Theory
menyatakan bahwa orang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasa
adanya keadilan (equity). Perasaan equity atau inequity atas suatu situasi diperoleh
seseorang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas,
sekantor maupun di tempat lain.
3) Two factor theory
Two factor theory dikenal juga dengan nama teori dua faktor. Teori ini dikemukakan
oleh Herzberg (1959 dalam As’ad, 2003). Prinsip teori dua faktor ini adalah kepuasan
kerja dan ketidakpuasan itu merupakan dua hal yang berbeda. Menurut teori dua faktor,
karakteristik pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yang pertama
dinamakan dissatisfies atau ketidakpuasan dan yang lain dinamakan satisfies atau
kepuasan. Satisfies (motivator) ialah faktor-faktor atau situasi yang dibentuknya sebagai
sumber kepuasan kerja yang terdiri dari prestasi, pengakuan, wewenang, tanggung
jawab dan promosi. Dikatakan bahwa hadirnya faktor ini akan menimbulkan
ketidakpuasan, tapi ketiadaaan faktor ini tidak selalu mengakibatkan ketidakpuasan.
Dissastifies (hygiene factors) ialah faktor-faktor yang terbukti menjadi sumber
ketidakpuasan antara lain; penghasilan, pengawasan, hubungan pribadi, kondisi kerja
dan status, jika hal tersebut tidak terpenuhi seseorang akan tidak puas. Namun
perbaikan terhadap kondisi atau situasi ini akan mengurangi atau menghilangkan
ketidakpuasan, hanya saja tidak akan menimbulkan kepuasan karena faktor-faktor ini
bukan sumber kepuasan kerja.
Theory Discrepancy dan Theory Equity (As’ad, 2003) menekankan bahwa kepuasan
orang dalam bekerja ditengarai oleh dekatnya jarak antara harapan dan kenyataan yang
didapat, sesuai dengan harapannya dan demikian juga yang diterima rekan sekerja lain
adalah sama atau adil seperti yang diterima sesuai dengan pengorbanannya. Teori dua
faktor, faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik, dimana faktor intrinsik merupakan sumber
kepuasan kerja dan faktor ekstrinsik merupakan pengurang ketidakpuasan dalam kerja.
