Menurut Stoltz (2000), kecerdasan adversitas adalah suatu kemampuan untuk
mengubah hambatan menjadi suatu peluang keberhasilan mencapai tujuan. Kecerdasan
adversitas mempengaruhi pengetahuan, kreativitas, produktivitas, kinerja, usia, motivasi,
pengambilan resiko, perbaikan, energi, vitalitas, stamina, kesehatan, dan kesuksesan dalam
pekerjaan yang dihadapi.
Kecerdasan adversitas (AQ) mempunyai tiga bentuk. Pertama, AQ adalah suatu
kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi
kesuksesan. Melalui riset-riset yang telah dilakukan kecerdasan adversitas menawarkan
suatu pengetahuan baru dan praktis dalam merumuskan apa saja yang diperlukan dalam
meraih keberhasilan. Kedua, AQ adalah suatu ukuran untuk mengetahui respon individu
terhadap kesulitan. Melalui kecerdasan adversitas pola-pola respon terhadap kesulitan
tersebut untuk pertama kalinya dapat diukur, dipahami dan diubah. Ketiga, AQ adalah
serangkaian perangkat atau instrumen yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki
respon individu terhadap kesulitan yang akan mengakibatkan perbaikan efektivitas pribadi
dan profesional individu secara keseluruhan. Kecerdasan adversitas (Adversity Quotient –
AQ) disusun berdasarkan hasil riset penting lusinan ilmuwan kelas atas dan lebih dari 500
kajian di seluruh dunia dengan memanfaatkan tiga cabang ilmu pengetahuan, yaitu
psikologi kognitif, psikoneuroimunologi, dan neurofisiologi (Stoltz, 2000).
Stoltz (2000) juga mengemukakan bahwa AQ memberi tahu Anda seberapa jauh
Anda mampu bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan Anda untuk mengatasinya,
AQ meramalkan siapa yang mampu mengatasi kesulitan dan siapa yang akan hancur, AQ
meramalkan siapa yang akan melampaui harapan-harapan atas kinerja dan potensi mereka
serta siapa yang akan gagal, AQ meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa yang
akan bertahan, serta AQ juga meramalkan bagaimana orang menanggapi perubahan.
Beberapa ahli lain menyebut istilah kecerdasan adversitas dengan resilience.
Resilience yang berasal dari bahasa latin yaitu resilire (melompat atau mundur) adalah
konsep yang berhubungan dengan adaptasi positif dalam menghadapi tantangan. Menurut
Papalia & Olds (2008) resilience adalah sikap ulet dan tahan banting yang dimiliki
seseorang ketika dihadapkan dengan keadaan yang sulit. Dalam ilmu perkembangan
manusia, resilience memiliki makna yang luas dan beragam, mencakup kepulihan dari
masa traumatis, mengatasi kegagalan dalam hidup, dan menahan stres agar dapat berfungsi
dengan baik dalam mengerjakan tugas sehari – hari. Dan yang paling utama, resilience itu
berarti pola adaptasi yang positif atau menunjukkan perkembangan dalam situasi sulit
(Papalia, dkk., 2008).
Dalam kajian psikologi klinis, selain resilience, ada pula ahli lain yang menyebut
dengan istilah hardiness. Kobasa (dalam Schultz, 2002) menyebutkan bahwa keteguhan
hati hardiness melibatkan kemampuan untuk secara sudut pandang atau secara
keperilakuan mengubah stresor yang negatif menjadi tantangan yang positif. Schultz
(2002) menjelaskan bahwa individu yang memiliki tingkat hardiness yang tinggi memiliki
sikap yang membuat mereka lebih mampu dalam melawan stres. Individu dengan hardy
personality percaya bahwa mereka dapat mengontrol atau mempengaruhi kejadiankejadian dalam hidupnya. Mereka secara mendalam berkomitmen terhadap pekerjaannya
dan aktivitas-aktivitas yang mereka senangi, dan mereka memandang perubahan sebagai
sesuatu yang menarik dan menantang lebih daripada sebagai sesuatu yang mengancam.
