Disiplin kerja memiliki dampak yang kuat pada suatu organisasi untuk
mencapai keberhasilan. Disiplin kerja dapat diukur dengan lima indikator sebagai
berikut ( Rivai, 2011 ) :
- Kehadiran. Hal ini menjadi indikator yang mendasar untuk mengukur kedisiplinan,
dan biasanya karyawan yang memiliki disiplin kerja rendah terbiasa untuk
terlambat dalam bekerja. - Ketaatan pada peraturan kerja. Karyawan yang taat pada peraturan kerja tidak akan
melalaikan prosedur kerja dan akan selalu mengikuti pedoman kerja yang
ditetapkan perusahaan. - Ketaatan pada standar kerja. Hal ini dapat dilihat dari besarnya tanggungjawab
karyawan terhadap tugas yang diamanahkan kepadanya. - Tingkat kewaspadaan tinggi. Karyawan memiliki kewaspadaan tinggi akan selalu
berhati-hati, penuh perhitungan dan ketelitian dalam bekerja, serta selalu
menggunakan sesuatu secara efektif dan efisien. - Bekerja etis. Beberapa karyawan mungkin melakukan tindakan yang tidak sopan
ke pelanggan atau terlibat dalam tindakan yang tidak pantas. Hal ini merupakan
salah satu bentuk tindakan indisipliner, sehingga bekerja etis sebagai salah satu
wujud dari disiplin kerja karyawan.
Sedangkan menurut Sutrisno (2009), terdapat empat indikator disiplin kerja,
antara lain : - Taat terhadap aturan waktu. Dilihat dari jam masuk kerja, jam pulang, dan jam
istirahat yang tepat waktu sesuai dengan aturan yang berlaku di perusahaan. - Taat terhadap peraturan perusahaan. Peraturan dasar tentang cara berpakaian, dan
bertingkah laku dalam pekerjaan. - Taat terhadap aturan perilaku dalam pekerjaan. Ditunjukkan dengan cara-cara
melakukan pekerjaan-pekerjaan sesuai dengan jabatan, tugas, dan tanggung jawab
serta cara berhubungan dengan unit kerja lain. - Taat terhadap peraturan lainnya di perusahaan. Aturan tentang apa yang boleh dan
apa yang tidak boleh dilakukan oleh para pegawai dalam perusahaan
