Bentuk Structural Equation Modelling (SEM) dengan Partial Least Squares (PLS) (skripsi dan tesis)

PLS pertama kali dikembangkan oleh Herman Wold (1996) sebagai metode umum untuk mengestimasi path model yang menggunakan konstruk laten dengan multiple indikator. Pendekatan PLS adalah distribution free (tidak mengasumsikan data berdistribusi tertentu, dapat berupa nominal, kategori, ordinal, interval, dan rasio). PLS merupakan metode analisis powerfull karena tidak didasarkan banyak asumsi, jumlah sampel kecil dan residul distribusi. Walaupun PLS dapat digunakan untuk mengkonfirmasi teori, tetapi PLS juga dapat digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya hubungan antara variabel laten. Model analisis jalur semua variabel laten dalam PLS terdiri dari 3 (tiga) set hubungan, yaitu :

1. Inner Model (Inner relation, structural model dan substantive theory)

Inner Model mespesifikasikan hubungan antar variabel laten berdasarkan pada teori . Model struktural dievaluasi dengan melihat nilai R-Square untuk konstruk laten dependen, Stone Geisser Q-square test untuk predictive relevance dan uji t, serta signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen terhadap variabel laten dependen.

2. Outer Model (Outer relation atau Measurement Model)

Outer Model menspesifikasikan hubungan antar variabel laten dengan indikator. Outer Model terdiri dari 2 (dua) macam mode, yaitu mode reflective (mode A) dan mode formative (mode B). Mode reflektif merupakan relasi dari peubah laten ke peubah indikator atau “effect”. Sedangkan mode formative merupakan relasi dari perubah indikator membentuk peubah laten “causal”. 30 3. Weight Relation Inner dan Outer model memberikan spesifikasi yang diikuti dalam estimasi algoritma PLS.

Definisi Structural Equation Modelling (SEM) (skripsi dan tesis)

SEM merupakan suatu teknik statistika yang mampu menganalisis hubungan peubah laten, peubah indikator dan kesalahan pengukuran secara langsung. Disamping hubungan kausal searah, metode SEM memungkinkan untuk menganalisi hubungan dua arah (Ghozali et al,2005). Konstruk laten adalah variabel-variabel yang tidak dapat diobservasi, sehingga tidak dapat diukur secara langsung. Pengamatan pada variabel laten melalui efek pada variabel-variabel terobservasi. Variabel terobservasi adalah indikator-indikator yang dapat diukur (Ghozali et al,2005). Dalam model SEM, konstruk laten berdasarkan fungsinya dibagi menjadi dua, yaitu: variabel eksogen dan variabel endogen. Variabel eksogen adalah suatu variabel yang tidak dapat dipengaruhi oleh variabel lain (atau disebut variabel independen didalam model regresi). Sedangkan variabel endogen adalah variabel yang dapat dipengaruhi variabel lain. Dalam model SEM, variabel endogen dapat berperan menjadi variabel independen apabila variabel tersebut dapat mempengaruhi variabel lain (Ghozali et al,2005). Menurut Ghozali (2005), proses Structural Equation Modelling mencakup beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:

a. Konseptual Model Tahap ini berhubungan dengan pengembangan hipotesis (berdasarkan teori-teori) sebagai dasar dalam menghubungkan  variabel laten dengan variabel laten lainnya, dan juga dengan indikator-indikatornya.

b. Penyusunan Diagram Alur Tahap ini memudahkan dalam proses menvisualisasikan hipotesis yang telah kita ajukan dalam konseptualisasi model di atas. c. Spesifikasi Model Spesifikasi model yaitu untuk menggambarkan sifat dan jumlah parameter yang diestimasi. Spesifikasi model berkaitan dengan pembentukan awal persamaan struktur sebelum dilakukan estimasi. Model awal ini dilakukan berdasarkan suatu teori atau penelitian sebelumnya.

d. Identifikasi Model Informasi yang diperoleh dari data diuji untuk menentukan apakah cukup untuk mengestimasi parameter dalam model. Nilai yang unik harus diperoleh untuk seluruh parameter dari data yang telah diperoleh sebelumnya.

e. Estimasi Parameter Berkaitan dengan estimasi terhadap model untuk menghasilkan nilai-nilai parameter dengan menggunakan salah satu model estimasi yang tersedia. Pemilihan metode estimasi yang digunakan seringkali ditentukan berdasarkan karakteristik dari variabel-variabel yang dianalisis.

f. Penilaian Model Fit Berkaitan dengan uji kecocokan antara model dengan data. Beberapa kriteria ukuran kecocokan atau Goodness Of Fit (GOF) dapat digunakan untuk melaksanakan langkah ini.

g. Modifikasi Model Setelah melakukan penilaian model fit, maka model penelitian diuji untuk menentukan apakah modifikasi model diperlukan karena tidak fitnya hasil yang diperoleh tahap pada tahap  sebelumnya. Semua modifikasi harus berdasarkan teori yang mendukung.

h. Validasi Silang Model Tahap ini menguji fit tidaknya model terhadap suatu data baru. Validasi silang ini penting apabila terdapat modifikasi yang substansial yang dilakukan terhadap model asli yang dilakukan pada langkah sebelumnya. Secara teknis SEM dibagi dalam 2 (dua) kelompok yaitu SEM berbasis kovarian yang diwakili oleh LISREL dan SEM variance atau sering disebut Component Based SEM yang mempergunakan software SmartPLS dan PLS Graph. Covariance Based SEM lebih bertujuan memberikan pernyataan tentang hubungan kausalitas atau memberikan deskripsi mekanisme hubungan kausalitas (sebab – akibat). Sedangkan Component Based SEM dengan PLS bertujuan mencari hubungan liniear prediktif antar variabel (Ghozali, 2008)

Validitas Dalam SEM (skripsi dan tesis)

1. Convergent validity Uji Validitas yang dimaksud adalah pengujian terhadap indikator dalam variabel laten untuk memastikan bahwa indikator yang digunakan dalam penelitian ini benar-benar mampu dipahami dengan baik oleh responden sehingga responden tidak mengalami kesalahpahaman terhadap indikator yang digunakan.

2. Discriminant validity Pengukuran indikator refleksif berdasarkan cross loading dengan variabel latennya. Bilamana nilai cross loading setiap indikator pada variabel bersangkutan lebih besar dibandingkan dengan cross loading pada variabel laten lainnya maka dikatakan valid. Metode lain dengan membandingkan nilai square root of average variance extracted (AVE) setiap konstruk dengan korelasi antar konstruk lainnya dalam model. Jika AVE konstruk lebih besar dari korelasi dengan seluruh konstruk lainnya maka dikatakan memiliki discriminant validity yang baik

. 3. Composite reliability Composite reliability adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya untuk diandalkan. Bila suatu alat dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten maka alat tersebut reliabel. Dengan kata lain, reliabilitas menunjukkan suatu konsistensi alat pengukur dalam gejala yang sama

Istilah Dalam SEM (skripsi dan tesis)

Berikut istilah – istilah dalam SEM

1. Model jalur ialah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas, perantara dan tergantung. Pola hubungan ditunjukkan dengan menggunakan anak panah. Anak panah tunggal menunjukkan hubungan sebab-akibat antara variabel-variabel eksogen atau perantara dengan satu variabel tergantung atau lebih. Anak panah juga menghubungkan kesalahan-kesalahan (variabel error)  dengan semua variabel endogen masing-masing. Anak panah ganda menunjukkan korelasi antara pasangan variabel-variabel eksogen.

2. Model sebab akibat (causal modeling,) atau disebut juga analisis jalur (path analysis), yang menyusun hipotesis hubungan sebab akibat (causal relationships) diantara variabel- variabel dan menguji model-model sebab akibat (causal models) dengan menggunakan sistem persamaan linier. Modelmodel sebab akibat dapat mencakup variabel-variabel manifes (indikator), variabel-variabel laten atau keduanya.

3. Variabel eksogen dalam suatu model jalur ialah semua variabel yang tidak ada penyebab – penyebab eksplisitnya atau dalam diagram tidak ada anak-anak panah yang menuju ke arahnya, selain pada bagian kesalahan pengukuran. Jika antara variabel eksogen dikorelasikan maka korelasi tersebut ditunjukkan dengan anak panah berkepala dua yang menghubungkan variabel-variabel tersebut.

4. Variabel endogen ialah variabel yang mempunyai anak panah-anak panah menuju ke arah variabel tersebut. Variabel yang termasuk didalamnya mencakup semua variabel perantara dan tergantung.

5. Variabel laten adalah variabel yang tidak dapat diukur secara langsung kecuali diukur dengan satu atau lebih variabel manifes.

6. Variabel manifes adalah variabel yang digunakan untuk menjelaskan atau mengukur sebuah variabel laten. Dalam satu variabel laten terdiri dari beberapa variabel manifes.

7. Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut “beta” yang menunjukkan pengaruh langsung dari suatu variabel bebas terhadap variabel tergantung dalam suatu model jalur tertentu.

8. Analisis faktor penegasan (confirmatory factor analysis), suatu teknik kelanjutan dari analisis faktor dimana dilakukan pengujian hipotesis-hipotesis struktur factor loadings dan interkorelasinya.

SEM (Structural Equation Modeling) (skripsi dan tesis)

SEM (Structural Equation Modeling) adalah suatu teknik statistik yang mampu menganalisis pola hubungan antara konstruk laten dan indikatornya, konstruk laten yang satu dengan lainnya, serta kesalahan pengukuran secara langsung. SEM memungkinkan dilakukannya analisis di antara beberapa variabel dependen dan independen secara langsung (Hair et al, 2006). 11 Teknik analisis data menggunakan Structural Equation Modeling (SEM), dilakukan untuk menjelaskan secara menyeluruh hubungan antar variabel yang ada dalam penelitian SEM adalah merupakan sekumpulan teknik-teknik statistik yang memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan secara simultan. Hubungan itu dibangun antara satu atau beberapa variabel independen (Santoso, 2011). Yamin (2009) mengemukakan bahwa di dalam SEM peneliti dapat melakukan tiga kegiatan sekaligus, yaitu pemeriksaan validitas dan reliabilitas instrumen (setara dengan analisis faktor konfirmatori), pengujian model hubungan antar variabel laten (setara dengan analisis path), dan mendapatkan model yang bermanfaat untuk prediksi (setara dengan model struktural atau analisis regresi). Alasan yang mendasari digunakannya SEM adalah (1) SEM mempunyai kemampuan untuk mengestimasi hubungan antar variabel yang bersifat multiple relationship. Hubungan ini dibentuk dalam model struktural (hubungan antara konstruk dependen dan independen). (2) SEM mempunyai kemampuan untuk menggambarkan pola hubungan antara konstruk laten dan variabel manifes atau variabel indikator

Pengertian Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

Sejarah SEM dan Pengertian Sewal Wright mengembangkan konsep ini pada tahun 1934, pada awalnya teknik ini dikenal dengan analisa jalur dan kemudian dipersempit dalam bentuk analisis Structural Equation Modeling (Yamin, 2009). SEM (Structural Equation Modeling) adalah suatu teknik statistik yang mampu menganalisis pola hubungan antara konstruk laten dan indikatornya, konstruk laten yang satu dengan lainnya, serta kesalahan pengukuran secara langsung. SEM memungkinkan dilakukannya analisis di antara beberapa variabel dependen dan independen secara langsung (Hair et al, 2006).
Teknik analisis data menggunakan Structural Equation Modeling (SEM), dilakukan untuk menjelaskan secara menyeluruh hubungan antar variabel yang ada dalam penelitian. SEM digunakan bukan untuk merancang suatu teori, tetapi lebih ditujukan untuk memeriksa dan membenarkan suatu model. Oleh karena itu, syarat utama menggunakan SEM adalah membangun suatu model hipotesis yang terdiri dari model struktural dan model pengukuran dalam bentuk diagram jalur yang berdasarkan justifikasi teori. SEM adalah merupakan sekumpulan teknik-teknik statistik yang memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan secara simultan. Hubungan itu dibangun antara satu atau beberapa variabel independen (Santoso, 2011).
Image of page 1
SEM menjadi suatu teknik analisis yang lebih kuat karena mempertimbangkan pemodelan interaksi, nonlinearitas, variabel-variabel bebas yang berkorelasi (correlated independent), kesalahan pengukuran, gangguan kesalahan-kesalahan yang berkorelasi (correlated error terms), beberapa variabel bebas laten (multiple latent independent) dimana masing-masing diukur dengan menggunakan banyak indikator, dan satu atau dua variabel tergantung laten yang juga masing-masing diukur dengan beberapa indikator. Dengan demikian menurut definisi ini SEM dapat digunakan alternatif lain yang lebih kuat dibandingkan dengan menggunakan regresi berganda, analisis jalur, analisis faktor, analisis time series, dan analisis kovarian (Byrne, 2010). Yamin (2009) mengemukakan bahwa di dalam SEM peneliti dapat melakukan tiga kegiatan sekaligus, yaitu pemeriksaan validitas dan reliabilitas instrumen (setara dengan analisis faktor konfirmatori), pengujian model hubungan antar variabel laten (setara dengan analisis path), dan mendapatkan model yang bermanfaat untuk prediksi (setara dengan model struktural atau analisis regresi). Dua alasan yang mendasari digunakannya SEM adalah (1) SEM mempunyai kemampuan untuk mengestimasi hubungan antar variabel yang bersifat multiple relationship. Hubungan ini dibentuk dalam model struktural (hubungan antara konstruk dependen dan independen). (2) SEM mempunyai kemampuan untuk menggambarkan pola hubungan antara konstruk laten dan variabel manifes atau variabel indikator.

Uji kecocokan (fit) (skripsi dan tesis)

Setelah melakukan estimasi yang menghasilkan nilai parameter, perlu dilakukan pemeriksaan tingkat kecocokan. Antara variabel dengan data digunakan GOF (Goodness of Fit) untuk mengukur kecocokan model yaitu RMSEA (Root Mean Square Error of Approximation). RMSEA mirip dengan Chi-square yang terkoreksi dengan ukuran sampel. RMSEA mengukur penyimpangan nilai parameter suatu model dengan matriks kovarians populasinya.

RMSEA ≤ 0.05 menunjukkan close fit

0.05 < RMSEA ≤ 0.08 menunjukkan good fit

0.08 < RMSEA ≤ 0.1 menunjukkan mediocre (marginal) fit

0.1 < RMSEA menunjukkan poor fit

Bootstrap (skripsi dan tesis)

Bootstrap adalah salah satu prosedur dalam statistika untuk melihat tingkat ketidakpastian dari hasil estimasi. Bootstrap meliputi langkah-langkah memilih sampel secara random dari suatu set data dengan pengembalian dan melakukan analisis setiap sampel dengan cara yang sama. Setiap sampel yang diambil dikembalikan sebelum mengambil sampel berikutnya. Dengan demikian, satu titik data sangat mungkin untuk terambil lebih dari sekali dalam satu sampel bootstrap. Jumlah elemen dalam setiap sampel sama dengan jumlah elemen dari set data aslinya. Tujuan dari bootstrap yaitu memperbaiki ukuran sampel untuk mengevaluasi kebenaran dalam situasi yang tidak standar. Bootstrap merupakan sebuah pendekatan untuk membuktikan kebenaran model multivariat dengan menggambarkan sejumlah besar subsampel dan menduga model untuk setiap subsampel. Pendugaan dari semua subsampel kemudian digabungkan, tidak hanya menyediakan pendugaan koefisien terbaik. Pendekatan  ini tidak bergantung pada asumsi statistik tentang populasi untuk menilai signifikansi statistik, melainkan membuat penilaiannya hanya berdasarkan data sampel (Hair et.al., 2007). Salah satu bentuk aplikasi metode resampling bootstrap adalah mengestimasi selang kepercayaan dari parameter sampel. Pada kasus selang kepercayaan dan pengujian hipotesis pengambilan sampel bootstrap paling sedikit sebanyak 1000 replikasi bootstrap (Chernick, 2007). Pendugaan bootstrap dapat diperoleh dengan cepat tanpa iterasi untuk beberapa model persamaan struktural yang berguna pada tahap awal penelitian. Metode bootstrap dapat menghasilkan nilai standar eror. Nilai standar eror digunakan untuk menentukan sebuah parameter yang diuji signifikan atau tidak. Sayangnya, metode bootstrap memerlukan data yang lengkap.

Pendugaan Parameter SEM (skripsi dan tesis)

Estimasi terhadap model dilakukan untuk menghasilkan nilai-nilai parameter.
Jenis galat estimasi yang sering terjadi dalam SEM yaitu besar varians dari suatu variabel bernilai negatif. Varians adalah rata-rata dari jumlah kuadrat deviasi.
Sumber-sumber galat yang sering terjadi dalam SEM yaitu (Hair et. al., 1989):
1) Banyaknya parameter yang diestimasi relatif terhadap varians-kovarians
matriks sampel.
2) Penggunaan efek timbal-balik (reciprocal effect). 3) Kegagalan dalam menetapkan skala dari konstruk.
Pendugaan parameter dalam SEM dapat digunakan untuk memperoleh dugaan dari setiap parameter yang dispesifikasikan dalam model yang membentuk matriks ∑ sedemikian sehingga nilai parameter sedekat mungkin dengan nilai yang ada dalam matriks S (matriks kovarians dari sampel). Metode-metode yang digunakan dalam SEM yaitu Maximum Likelihood Estimation (MLE), Weighted Least Square (WLS), Ordinary Least Square (OLS), Unweighted Least Square (ULS), Generalized Least Square (GLS), Instrument Variable (IV), Two Stage Least Square (TSLS), dan Diagonally Weighted Least Square (DWLS).

Identifikasi Dalam SEM (skripsi dan tesis)

Tujuan dari dilakukannya identifikasi model yaitu untuk menentukan analisis dapat dilakukan lebih lanjut atau tidak, maka identifikasi model perlu dilakukan. Berikut ini kategori hasil identifikasi model dalam SEM yaitu:

1) Under-Identified, yaitu model dengan jumlah parameter yang diestimasi lebih besar dari jumlah data yang diketahui. Nilai df pada model ini adalah kurang dari 0 (nol)/negatif.

2) Just-Identified, yaitu model dengan jumlah parameter yang diestimasi sama dengan data yang diketahui. Nilai df pada model ini adalah 0 (nol).

3) Over-Identified, yaitu model dengan jumlah parameter yang diestimasi lebih kecil dari jumlah data yang diketahui. Nilai df pada model ini adalah lebih dari 0 (nol)/positif. Analisis dalam SEM dapat dilakukan jika model yang diperoleh adalah OverIdentified dan SEM menghindari model Under-Identified agar data dapat dianalisis. Pada saat identifikasi kemungkinan diperoleh nilai unik untuk setiap parameter

Langkah Dalam SEM (skripsi dan tesis)

Langkah ini merupakan langkah dalam melakukan identifikasi terhadap permasalahan penelitian, sehingga hubungan antar variabel-variabel yang dihipotesiskan harus didukung oleh teori yang kuat. Spesifikasi model tersebut berdasarkan teori atau penelitian sebelumnya atau bisa juga dengan menggunakan diagram path. Langkah-langkah memperoleh model yaitu: 1) Spesifikasi model pengukuran, yaitu dengan cara: a) Mendefinisikan variabel laten yang ada dalam penelitian. b) Mendefinisikan variabel teramati. c) Mendefinisikan hubungan antara setiap variabel laten dengan variabel teramati yang terkait. 2) Spesifikasi model struktural Dengan cara mendefinisikan hubungan kausal di antara variabel laten. 3) Gambar diagram path dari model hybrid Model hybrid adalah bentuk umum dari SEM yang merupakan kombinasi model pengukuran dan struktural. Model hybrid mengandung variabel-variabel laten maupun variabel-variabel teramati yang terkait

Prosedur SEM (skripsi dan tesis)

Suatu model dikatakan baik jika dapat mendeskripsikan suatu kejadian yang sebenarnya dengan galat yang kecil. Munculnya galat tidak dapat dihindari karena kejadian sebenarnya sangat kompleks sedangkan model hanya menjelaskan hubungan pokoknya saja. Detail dari kejadian yang tidak bisa dijelaskan oleh model akan masuk dalam komponen galat (residual). Terkait dengan data dapat dinyatakan dengan:

Data = Model + Residual

di mana: Data adalah nilai pengukuran yang berkaitan dengan variabel-variabel teramati dan membentuk sampel penelitian. Residual adalah perbedaan antara model yang dihipotesiskan dengan data yang diamati. Model adalah model yang dihipotesiskan atau dispesifikasikan oleh peneliti. Jika nilai residual mendekati 0 (nol), maka kecocokan data-model yang dihasilkan baik. Dalam SEM, selain data mentah, matriks kovarians dan matriks korelasi dari variabel yang diuji dapat digunakan sebagai input. Matriks kovarians adalah matriks yang terdiri dari nilai kovarians antara semua indikator setiap variabel.

Jenis SEM (skripsi dan tesis)

Berikut ini jenis-jenis yang digunakan dalam model persamaan struktural:

1) Diagram Path

Diagram path adalah representasi grafis dari sebuah model yang menggambarkan seluruh hubungan antara variabel-variabel yang ada di dalamnya. Variabel- variabel yang terdapat dalam diagram path adalah variabel teramati dan tidak mengandung variabel laten. Diagram path dibuat untuk mempermudah melihat hubungan yang ada pada model.

2) Confirmatory Factor Analysis (CFA)

Analisis faktor konfirmatori atau Confirmatory Factor Analysis (CFA) dalam SEM merupakan model pengukuran sebuah variabel laten diukur oleh satu atau lebih variabel-variabel teramati. CFA didasarkan pada variabel-variabel teramati adalah indikator-indikator tidak sempurna dari variabel laten atau konstruk tertentu yang mendasarinya. Karakteristik dalam model CFA yaitu: a. Model dibentuk lebih dahulu. 12 b. Jumlah variabel laten ditentukan oleh analisis. c. Pengaruh suatu variabel laten terhadap variabel teramati ditentukan lebih dahulu. d. Beberapa efek langsung variabel laten terhadap variabel teramati dapat ditetapkan sama dengan nol atau konstan. e. Galat pengukuran boleh berkorelasi. f. Kovarians variabel-variabel laten dapat diestimasi atau ditetapkan pada nilai tertentu. g. Identifikasi parameter diperlukan

Galat SEM (skripsi dan tesis)

Galat yang terdapat dalam SEM meliputi:

1) Galat Struktural (Structural Error)

Dilambangkan dengan “zeta”, untuk memperoleh estimasi parameter yang konsisten, galat struktural diasumsikan tidak berkorelasi dengan variabel-variabel eksogen dari model. Walaupun begitu, galat struktural bisa dimodelkan berkorelasi dengan galat struktural yang lain.

2) Galat Pengukuran (Measurement Error)

Variabel teramati X dilambangkan dengan “delta” dan variabel teramati Y dilambangkan dengan “epsilon”. Matriks kovarians dari δ diberi tanda dengan huruf Yunani Θδ “theta delta” dan untuk matriks kovarians dari ε yaitu Θε “theta epsilon”. Galat pengukuran berpengaruh pada penduga parameter dan besar kecilnya varians. Hal ini dapat diatasi oleh SEM melalui persamaan-persamaan yang ada pada model pengukuran

Model SEM (skripsi dan tesis)

Model-model yang terdapat dalam SEM meliputi:

1) Model struktural Model struktural bertujuan untuk memeriksa hubungan yang mendasari atau yang menyusun variabel laten ke dalam model pengukuran dan variabel konstruk lainnya berdasarkan teori. Parameter yang menunjukkan regresi variabel laten eksogen diberi label dengan huruf Yunani (“gamma”), sedangkan untuk regresi variabel laten endogen diberi label dengan huruf Yunani (“beta”), dan matriks kovarians variabel-variabel laten eksogen diberi label dengan huruf Yunani Φ (“phi”).

2) Model pengukuran

Model pengukuran digunakan untuk menduga hubungan antar variabel laten dengan variabel-variabel teramatinya. Variabel laten dimodelkan sebagai sebuah faktor yang mendasari variabel-variabel teramati yang terkait. Muatan-muatan faktor atau factor loadings yang menghubungkan variabel laten dengan variabel- variabel teramati disimbolkan dengan huruf Yunani (“lambda”). 9 Pada model variabel laten SEM, hubungan kausal (sebab-akibat) terjadi diantara variabel-variabel tidak teramati (unobserved variables) atau variabel-variabel laten. Parameter-parameter dari persamaan pada model pengukuran SEM merupakan factor loadings dari variabel laten terhadap indikator-indikator atau variabel-variabel teramati yang terkait. Model SEM memberikan informasi tentang hubungan kausal simultan di antara variabel-variabelnya, memberikan informasi tentang muatan faktor dan galat-galat pengukuran

Variabel SEM (skripsi dan tesis)

Variabel-variabel pada SEM masing-masing saling mempengaruhi. Variabel- variabel yang terdapat dalam SEM meliputi:

1) Variabel laten (Latent Variable) Dalam SEM variabel yang menjadi perhatian adalah variabel laten. Variabel laten atau konstruk laten adalah variabel yang tidak terukur secara langsung, sebagai contoh: perilaku, sikap, perasaan, dan motivasi. Variabel laten terdapat dua jenis, yaitu: a)Eksogen Variabel laten eksogen dinotasikan dengan huruf Yunani adalah “ksi”. Variabel bebas (independenet latent variable) pada semua persamaan yang ada pada SEM, dengan simbol lingkaran dengan anak panah menuju keluar. b)Endogen Variabel laten endogen dinotasikan dengan huruf Yunani adalah “eta”. Variabel terikat (dependent latent variable) pada paling sedikit satu persamaam dalam model, dengan simbol lingkaran dengan anak panah menuju keluar dan satu panah ke dalam. Simbol anak panah untuk menunjukkan adanya hubungan kausal (ekor anak panah untuk hubungan penyebab dan kepala anak panah untuk variabel akibat). Pemberian nama variabel laten pada diagram lintasan bisa mengikuti notasi matematiknya (ksi atau eta) atau sesuai dengan nama dari variabel dalam penelitian

2) Variabel teramati (Observed atau Measured atau Manifest Variable) Variabel teramati adalah variabel yang dapat diamati atau dapat diukur secara empiris dan disebut sebagai indikator. Variabel teramati merupakan efek atau ukuran dari variabel laten. Variabel teramati yang berkaitan dengan variabel eksogen diberi notasi matematik dengan label X, sedangkan yang berkaitan dengan dengan variabel laten endogen diberi label Y. Disimbolkan dengan bujur sangkar atau kotak, variabel ini merupakan indikator. Pemberian nama variabel teramati pada diagram lintasan bisa mengikuti notasi matematiknya atau nama/kode dari pertanyaan-pertanyaan pada kuisioner.

Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

Pemodelan persamaan struktural (Structural Equation Modeling, SEM) adalah salah satu teknik peubah ganda yang dapat menganalisis secara simultan beberapa peubah laten endogenous dan eksogenous (Bollen, 1989). SEM dilakukan untuk menganalisis serangkaian hubungan secara simultan sehingga memberikan efisiensi secara statistik. Pendugaan atas persamaan regresi yang berbeda tetapi terkait satu sama lain secara bersama-sama dilakukan dengan model struktural dalam SEM (Hair et.al., 2007). Dari segi metodologi, SEM memiliki beberapa peranan, di antaranya, sebagai sistem persamaan simultan, analisis kausal linear, analisis lintasan (path analysis), analisis struktur kovarians, dan model persamaan struktural (Wijanto, 2008). Komponen-komponen yang terdapat dalam SEM yang menjadi karakteristik dalam model tersebut yaitu: 1) Variabel yaitu variabel laten dan variabel teramati. 2) Model yaitu model struktural dan model pengukuran. 3) Galat yaitu galat struktural dan galat pengukura

Variabel-Variabel SEM (skripsi dan tesis)

 

Variabel laten merupakan variabel yang tidak dapat diamati atau diukur secara langsung. Variabel laten tidak dapat diukur secara langsung tetapi dapat diwakili atau diukur oleh satu atau lebih variabel (indikator) (Hair et al., 2010:632). Sedangkan, variabel observasi atau manifest variable adalah variabel yang datanya harus dicari melalui penelitian lapangan misalnya melalui 7 instrumen-instrumen survey (Hair et al., 2010:635). Variabel observasi digunakan sebagai indikator dari variabel laten. Sehingga variabel laten bisa diukur secara tidak langsung melalui pengamatan pada variabel observasi. SEM mempunyai 2 jenis variabel laten yaitu variabel laten eksogen dan variabel laten endogen : 1. Variabel laten eksogen adalah variabel yang tidak dipengaruhi oleh variabel laten lainnya. Dalam diagram jalur, variabel laten eksogen ditandai sebagai variabel yang tidak ada kepala panah yang menuju kearahnya dari variabel laten lainnya (Hair et al., 2010:637). Variabel laten eksogen dinotasikan dengan Ksi (ξ). 2. Variabel laten endogen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel laten lainnya. Dalam diagram jalur, variabel endogen ini ditandai oleh kepala panah yang menuju kearahnya dari variabel laten eksogen atau variabel laten endogen (Hair et al., 2010:637). Variabel laten endogen dinotasikan dengan Eta (η).

Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

Structural Equation Modeling (SEM) merupakan teknik dengan kombinasi dari analisis jalur (path) dan analisis regresi yang memungkinkan peneliti menguji secara simultan rangkaian hubungan yang saling terkait antara variabel terukur (measured variables) dan konstrak laten (latent constructs) (Hair et. al, 2010:634). Analisis SEM merupakan analisis multivariat yang bersifat kompleks, karena melibatkan sejumlah variable bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable) yang saling berhubungan membentuk sebuah model. Pada SEM tidak dapat dikatakan ada variabel bebas dan variabel terikat, karena sebuah variabel bebas dapat menjadi variabel terikat pada hubungan yang lain. SEM dapat dikategorikan menjadi 2 model yaitu model struktural dan model pengukuran. Model struktural yaitu model yang menggambarkan hubungan-hubungan yang ada diantara variabel-variabel laten. Sedangkan model pengukuran menggambarkan tentang hubungan antara variabel yang diamati (juga disebut indikator) dengan variabel laten yang mendasarinya (Kline, 1998)

Hubungan Kepercayaan Pasien dengan Kesetiaan Pasien (skripsi dan tesis)

Penelitian yang dilakukan oleh Chaudhuri dalam Aulia (2010) menemukan bahwa kepercayaan merupakan penggerak yang mempengaruhi loyalitas pada benak pelanggan. Hal serupa pun dikemukakan oleh Chumpitaz et al (2005) pada studi penelitian pada bisnis on-line pun menemukan bahwa kepercayaan pelanggan berpengaruh pada loyalitas pelanggan. Morgan dan Hunt (1994) menambahkan pula, bahwa tingginya kepercayaan akan dapat berpengaruh terhadap menurunnya kemungkinan untuk melakukan perpindahan terhadap penyedia jasa lain. Berdasarkan penjabaran diatas, penelitian ini akan menganalisa hubungan kepercayaan terhadap loyalitas pasien

Hubungan Kepuasan Pasien dengan Kesetiaan (skripsi dan tesis)

Kaitan kepuasan dan loyalitas pelanggan dikemukakan oleh Nielsen (1998) dalam Affandi (2011). Meningkatnya kepuasan akan berpengaruh terhadap peningkatan loyalitas pelanggan. Hal tersebut dapat dipahami mengingat tingginya kepuasan akan membuat pelanggan menjaga hubungan baik yang telah terjalin dengan penyedia jasa. Seperti halnya pasien, jika mereka lebih setia atau memiliki loyalitas yang tinggi maka pasien akan lebih sering memanfaatkan rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan, rela membayar lebih banyak dan tetap mau datang berobat kembali meskipun rumah sakit tersebut mengalami kesulitan. Kepuasan belum tentu menyebabkan loyalitas, tetapi loyalitas biasanya diawali dengan kepuasan terlebih dahulu

Hubungan Mutu Pelayanan KEsehatan dengan Kesetiaan (skripsi dan tesis)

Kaitan antara loyalitas pelanggan dan kualitas layanan juga dikemukakan oleh Zeithaml et al (1996) dalam Affandi (2011). Dalam penelitiannya, dikemukakan bahwa kualitas layanan berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku konsumen untuk loyal terhadap suatu layanan/produk. Dalam penelitiannya, Zeithaml menunjukkan bahwa kualitas layanan yang baik akan berdampak pada terbentuknya perilaku konsumen yang positif, seperti pembelian ulang, menurunnya sensitifitas terhadap harga, dan peningkatan nilai layanan di mata konsumen. Dari paparan tersebut dapat diajukan hipotesis bahwa semakin tinggi mutu pelayanan maka semakin tinggi kesetiaan pasien

Hubungan Mutu Pelayanan KEsehatan dengan Kepercayaan (skripsi dan tesis)

Penelitian yang dilakukan Sharma dan Patterson (1999) dalam Hermanto (2006) mengemukakan bahwa untuk mendapatkan kepercayaan yang merupakan salah satu komponen relationship marketing hendaknya didorong oleh kualitas teknis dan fungsional yang memadai. Sehingga menghasilkan hipotesis bahwa semakin tinggi mutu pelayanan maka semakin tinggi kepercayaan.

Hubungan Mutu Pelayanan Kesehatan dengan Kepuasan (skripsi dan tesis)

Trisno (2008) dan Nuraini (2009) mengemukakan bahwa ada hubungan antara mutu pelayanan dengan kepuasan. Pelayanan yang baik adalah kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan standar yang telah ditetapkan. Kemampuan tersebut ditunjukkan oleh sumber daya manusia dan sarana serta prasarana yang dimiliki. Untuk mencapai kecepatan dan ketepatan pelayanan yang akan diberikan, pelayanan yang baik juga perlu didukung oleh ketersediaan dan kelengkapan produk yang dibutuhkan pelanggan. Hal tersebut menghasilkan hipotesis bahwa semakin tinggi mutu pelayanan maka semakin tinggi kepuasan.

Mutu Pelayanan Kesehatan (skripsi dan tesis)

Definisi mutu berpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan. Menurut Wyckof yang dikutip oleh Tjiptono (2002), mutu adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan untuk memenuhi keinginan pelanggan. Baik tidaknya mutu tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan pelanggannya secara konsisten. Parasuraman dkk dalam Tjiptono (2005) mengukur mutu pelayanan dalam lima dimensi dan mengembangkan model yang komprehensif dari mutu pelayanan kesehatan yang berfokus pada aspek fungsi dari pelayanan, yaitu : 1. Reliability (kehandalan) Kemampuan untuk memberikan jenis pelayanan yang tepat, terpercaya, akurat dan konsisten sesuai dengan yang telah dijanjikan kepada konsumen, misalnya penerimaan pasien yang cepat, tepat dan tidak berbelit, pelayanan pemeriksaan, pengobatan, perawatan serta perawat menjelaskan apa yang harus dipatuhi atau tidak bisa dilanggar oleh pasien.

2. Responsiveness (daya tanggap) Kesadaran atau keinginan karyawan untuk membantu konsumen dan memberikan pelayanan dengan cepat dan bermakna serta kesediaan mendengar dan mengatasi keluhan yang diajukan konsumen misalnya penyediaan sarana yang sesuai untuk menjamin terjadinya proses yang tepat (Kotler, 2004).

3. Assurance (jaminan) Pengetahuan atau wawasan, kesopansantunan, percaya diri dari pemberi pelayanan, serta respek terhadap konsumen. Kemampuan karyawan untuk menimbulkan keyakinan dan kepercayaan terhadap janji yang telah dikemukakan terhadap pasien misalnya kepercayaan pasien terhadap jaminan kesembuhan dan keamanan.

4. Empathy (empati) Kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan pelanggan. Kesediaan karyawan untuk peduli memberikan perhatian kepada pasien, misalnya karyawan mencoba mendekatkan diri pada pasien, jika pasien mengeluh maka harus dicari solusi untuk mengatasi keluhan tersebut dengan menunjukkan rasa peduli yang tulus dan penuh kesabaran (Kotler, 2004).

. Tangibles (faktor fisik), yaitu fasilitas fisik, perlengkapan, serta penampilan personil. Yang termasuk aspek tangible adalah gedung, tarif rumah sakit, kebersihan serta penataan ruangan serta perlengkapan yang menunjang pelayanan.

Kepercayaan Pasien (skripsi dan tesis)

Menurut Moven dan Minor (2002) kepercayaan konsumen merupakan suatu perasaan percaya yang bersifat psikologis terhadap suatu produk, baik produk secara fisik maupun manfaat yang diberikan oleh produk tersebut termasuk pada janji-janji suatu merek. Kepercayaan pasien terhadap sumah sakit menggambarkan adanya perasaan yakin dan percaya bahwa rumah sakit akan mampu memenuhi harapannnya sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh rumah sakit tersebut. Adanya kepercayaan ini, akan menciptakan jalinan relasi antara rumah sakit dan pasien sedemikian rupa sehingga dapat mendorong terciptanya kesetiaan/loyalitas pasien yang nantinya akan tercipta kesediaan untuk mempertimbangkan produk baru yang ditawarkan rumah sakit lain dikemudian hari. Setiap orang mempunyai standar pribadinya masing-masing, suatu standar yang tidak resmi dan tidak tertulis. Pasien akan mengukur kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya dengan menggunakan standar pribadinya, yaitu standar tidak resmi tersebut. Namun, sedikit banyak kesenjangan antara harapan pasien dengan kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya dapat dikurangi yaitu dengan adanya komunikasi yang baik antara penyelenggara layanan kesehatan dengan pasien. Menurut Moven dan Minor (2002) kepercayaan objek adalah kepercayaan konsumen terhadap produk, orang atau perusahaan. Hal tersebut digambarkan dalam :

1. Kredibilitas Kredibilitas menggambarkan tingkat keyakinan yang dimiliki oleh satu pihak lain, yang mengandung nilai-nilai kebenaran. Pada umumnya, pengukuran kredibilitas dilakukan melalui kata-kata. Semakin tinggi keyakinan pasien terhadap kata-kata yang tercermin dalam janji rumah sakit, maka semakin tinggi pula tingkat kepercayaan tersebut. Keyakinan ini menggambarkan pula keyakinan dalam artian psikologis (believability) dan realistis (truthfilness) dimana kata-kata tersebut mengandung nilai-nilai kebenaran.

2. Reabilitas Reabilitas hampir sama dengan kredibilitas, yaitu menggambarkan tingkat keyakinan pelanggan terhadap tindakan dari perusahaan. Semakin tinggi tingkat reabilitas maka semakin tinggi pula tingkat kepercayaan pasien terhadap rumah sakit. Hal ini mencakup penilaian terhadap nilai-nilai rumah sakit berdasarkan harapan pelanggan dimasa yang akan datang (predictability) dan nilai-nilai yang telah disosialisasikan kepada para pasien melalui berbagai macam media massa.

3. Keamanan Keamanan menggambarkan tersedianya keamanan atau keselamatan yang telah dan akan dirasakan oleh pelanggan. Keamanan dan keselamatan ini mencakup keamanan mengenai kerahasiaan identitas pasien, keamanan financial dan keamanan dalam proses transaksi dan keamanan bahwa harapannya akan terwujud karena pasien yakin akan kemampuan rumah sakit. Semakin tinggi tingkat keamanan, maka semakin tinggi pula kepercayaan pasien rumah sakit.

4. Kepedulian Kepedulian mencakup perhatian perusahaan terhadap pelanggan. Semakin tinggi kepedulian komitmennya maka semakin tinggi pula konsumernya. Semakin tinggi tingkat kepedulian suatu rumah sakit maka semakin tinggi pula jumlah pasien rumah sakit tersebut

Kepuasan Pasien (skripsi dan tesis)

Menurut Pohan (2007), kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien membandingkan dengan apa yang diharapkannya. Kepuasan pasien merupakan aspek yang paling menonjol dalam operasional pelayanan rumah sakit yang berdampak besar terhadap keberhasilan suatu rumah sakit dalam meningkatkan jumlah kunjungan pasien. Pasien yang puas terhadap kunjungan rumah sakit cenderung akan kembali lagi ke rumah sakit tersebut. Berbagai pengalaman pengukuran kepuasan pasien menunjukkan bahwa upaya untuk mengukur tingkat kepuasan pasien tidak mudah, karena upaya untuk memperoleh informasi yang diperlukan akan berhadapan dengan suatu kendala kultural, yaitu terdapatnya suatu kecenderungan masyarakat yang enggan atau tidak mau mengemukakan kritik, apalagi terhadap fasilitas layanan kesehatan milik pemerintah. Seperti kita ketahui pada saat ini, sebagian besar fasilitas layanan kesehatan yang digunakan oleh masyarakat dari golongan strata bawah adalah fasilitas layanan kesehatan milik pemerintah. Pasien yang puas merupakan aset yang sangat berharga karena apabila pasien puas mereka akan terus melakukan pemakaian terhadap jasa pilihannya, tetapi jika pasien merasa tidak puas mereka akan memberitahukan dua kali lebih hebat kepada orang lain tentang pengalaman buruknya. Untuk menciptakan kepuasan pasien suatu perusahaan atau rumah sakit harus menciptakan dan mengelola suatu sistem untuk memperoleh pasien yang lebih banyak dan kemampuan untuk mempertahankan pasiennya. Indikator kepuasan konsumen yaitu :

1. Karakteristik produk, produk ini merupakan kepemilikan rumah sakit yang bersifat fisik antara lain gedung dan dekorasi. Karakteristik produk rumah sakit meliputi penampilan bangunan rumah sakit, kebersihan dan tipe kelas kamar yang disediakan beserta kelengkapannya.

2. Harga, yang termasuk didalamnya adalah harga produk atau jasa. Harga merupakan aspek penting, namun yang terpenting dalam penentuan kualitas guna mencapai kepuasan pasien. Meskipun demikian elemen ini mempengaruhi pasien dari segi biaya yang dikeluarkan, biasanya semakin mahal harga perawatan maka pasien mempunyai harapan yang lebih besar. Sedangkan rumah sakit yang berkualitas sama tetapi berharga murah, memberi nilai yang lebih tinggi pada pasien.

3. Pelayanan, yaitu pelayanan keramahan petugas rumah sakit dan kecepatan dalam pelayanan. Rumah sakit dianggap baik apabila dalam memberikan pelayanan lebih memperhatikan kebutuhan pasien maupun orang lain yang berkunjung di rumah sakit. Kepuasan muncul dari kesan pertama masuk pasien terhadap pelayanan keperawatan yang diberikan.

4. Lokasi, meliputi letak rumah sakit, letak kamar dan lingkungannya. Merupakan salah satu aspek yang menentukan pertimbangan dalam memilih rumah sakit. Akses menuju lokasi yang mudah dijangkau mempengaruhi kepuasan pasien dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan di rumah sakit maupun pusat jasa kesehatan lainnya. Umumnya semakin dekat rumah sakit dengan pusat perkotaan atau yang mudah dijangkau, mudahnya transportasi dan lingkungan yang baik akan semakin menjadi pilihan bagi pasien yang membutuhkan rumah sakit tersebut.

5. Fasilitas, kelengkapan fasilitas rumah sakit turut menentukan penilaian kepuasan pasien, misalnya fasilitas kesehatan baik sarana dan prasarana, tempat parkir, ruang tunggu yang nyaman dan ruang kamar rawat inap. Walaupun hal ini tidak vital menentukan penilaian kepuasan klien, namun rumah sakit perlu memberikan perhatian pada fasilitas rumah sakit dalam penyusunan strategi untuk menarik konsumen.

6. Citra (image), yaitu reputasi dan kepedulian rumah sakit terhadap lingkungan. Image juga memegang peranan penting terhadap kepuasan pasien dimana pasien memandang rumah sakit mana yang akan dibutuhkan untuk proses penyembuhan. Pasien dalam menginterpretasikan rumah sakit berawal dari cara pandang melalui panca indera dari informasi-informasi yang didapatkan dan pengalaman baik dari orang lain maupun diri sendiri sehingga menghasilkan anggapan yang positif terhadap rumah sakit tersebut.

7. Desain visual, meliputi dekorasi ruangan, bangunan dan desain jalan yang tidak rumit. Tata ruang dan dekorasi rumah sakit ikut menentukan kenyamanan suatu rumah sakit, oleh karena itu desain dan visual harus diikutsertakan dalam penyusunan strategi terhadap kepuasan pasien atau konsumen. Aspek ini dijabarkan dalam pertanyaan tentang lokasi rumah sakit, kebersihan, kenyamanan ruangan, makanan dan minuman, peralatan ruangan, tata letak, penerangan, kebersihan WC, pembuangan sampah, kesegaran ruangan dan lainlain.

8. Suasana, meliputi keamanan, keakraban dan tata lampu. Suasana rumah sakit yang tenang, nyaman, sejuk dan indah akan sangat mempengaruhi kepuasan pasien dalam proses penyembuhannya. Selain itu tidak hanya bagi pasien saja yang menikmati itu akan tetapi orang lain yang berkunjung ke rumah sakit akan sangat senang dan memberikan pendapat yang positif sehingga akan terkesan bagi pengunjung rumah sakit tersebut. Aspek ini tidak hanya penting untuk memberikan kepuasan semata, tetapi juga memberi perlindungan kepada pasien dari hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan pasien seperti jatuh, kebakaran, dan lain-lain.

9. Komunikasi, yaitu tata cara informasi yang diberikan pihak penyedia jasa dan keluhan-keluhan dari pasien. Bagaimana keluhan-keluhan dari pasien dengan cepat diterima oleh penyedia jasa terutama perawat dalam memberikan bantuan terhadap keluhan pasien. Komunikasi dalam hal ini juga termasuk perilaku, tutur kata, keacuhan, keramahan petugas, serta kemudahan mendapatkan informasi dan komunikasi menduduki peringkat yang tinggi dalam persepsi kepuasan pasien rumah sakit. Manfaat utama dari program pengukuran adalah tersedianya umpan balik yang segera, berarti dan objektif. Dengan hasil pengukuran orang bisa melihat bagaimana mereka melakukan pekerjaannya, membandingkan dengan standar kerja, dan memutuskan apa yang harus dilakukan untuk melakukan perbaikan berdasarkan pengukuran tersebut

Kesetiaan Pasien (skripsi dan tesis)

Oliver (1999) menyatakan bahwa kesetiaan (loyalitas) adalah pilihan yang dilakukan konsumen untuk membeli merek tertentu dibandingkan merek yang lain dalam satu kategori produk. Konsumen akan memberikan loyalitas dan kepercayaannya pada merek selama merek tersebut sesuai dengan harapan yang dimiliki oleh konsumen, bertindak dalam cara-cara tertentu dan menawarkan nilai- nilai tertentu. Konsumen yang loyal terhadap suatu merek tertentu memilki sikap yang positif dan setia terhadap merek tersebut. Menurut Griffin (2002) menyatakan ada beberapa hal yang mempengaruhi kesetiaan/loyalitas, yaitu : 1. Pengaruh dari konsumen Karakteristik individu mempunyai kaitan dengan keputusan memakai/membeli merek tertentu. Karakteristik individu itu terdiri dari faktor demografis dan faktor psikografis. Yang termasuk faktor demografis, yaitu usia dan penghasilan. a. Usia Hubungan usia dengan loyalitas merek sangat positif. Semakin bertambah usia seseorang maka loyalitas juga semakin bertambah. Wright dan Sparks dalam Wood (2004) menyatakan bahwa loyalitas merek yang tinggi terdapat pada individu yang berusia 35 sampai 44 tahun. Hal tersebut didukung oleh Murder (2000) yang mengungkapkan bahwa individu antara 18-34 tahun memilki loyalitas rendah. Individu pada usia tersebut merupakan segmen yang mudah dibujuk oleh iklan, lebih fleksibel dalam memilih merek dan lebih suka bereksperimen dengan berbagai merek. b. Penghasilan Menurut Farley dalam Harton R (1984) menyatakan bahwa pendapatan berhubungan dengan loyalitas. Individu dengan pendapatan yang lebih tinggi akan lebih sedikit mencari informasi mengenai harga-harga dari merek lain sehingga individu tersebut lebih setia terhadap merek yang digunakannya. 2. Pengaruh dari merek Dalam mengambil keputusan terhadap pembelian sebuah merek, konsumen akan mencari nilai dan harga dari merek. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa karakteristik produk dapat mempengaruhi loyalitas merek. 3. Pengaruh sosial Kelompok sosial dapat mempengaruhi loyalitas merek. Yang termasuk dalam pengaruh sosial adalah : a. Social group influences (pengaruh kelompok sosial) Kelompok sosial berpengaruh secara langsung ataupun tidak langsung terhadap sikap dan tingkah laku seseorang. Suatu kelompok akan menjadi referensi utama seseorang dalam membeli suatu produk, ketika individu mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok tersebut. Besar tidaknya pengaruh dari kelompok referensi tergantung dari mudah tidaknya individu untuk dipengaruhi. Dalam keluarga, orang tua yang konsisten dalam memilih merek tertentu akan menyebabkan munculnya persepsi positif terhadap merek pada diri anak. Hal ini menyebabkan anak juga akan memilih merek tersebut dan menjadi loyal. b. Peers recommendation (rekomendasi teman sebaya) Selain kelompok referensi, rekomendasi atau anjuran teman sebaya juga dapat mempengaruhi loyalitas. Pengaruh normatif teman sebaya dan identifikasi terhadap kelompok teman sebaya merupakan petunjuk bagi individu untuk mencari produk, merek atau toko. Sehingga dapat dikatakan bahwa norma kelompok berpengaruh secara langsung terhadap evaluasi, memilih dan loyal terhadap merek.

Proses Analisis SEM (skripsi dan tesis)

Menurut Hair et al (1995) dalam Hartono (2006), ada 7 (tujuh) langkah yang harus dilakukan apabila menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) yaitu:
1. Pengembangan model teoritis
Dalam langkah pengembangan model teoritis, hal yang harus dilakukan
adalah melakukan serangkaian eksplorasi ilmiah melalui telaah pustaka guna mendapatkan justifikasi atas model teoritis yang akan dikembangkan. SEM  digunakan bukan untuk menghasilkan sebuah model, tetapi digunakan untuk mengkonfirmasi model teoritis tersebut melalui data empirik.
2. Pengembangan diagram alur
Dalam langkah kedua ini, model teoritis yang telah dibangun pada tahap
pertama akan digambarkan dalam sebuah diagram alur, yang akan mempermudah untuk melihat hubungan kausalitas yang ingin diuji. Dalam diagram alur, hubungan antar konstruk akan dinyatakan melalui anak panah. Anak panah yang lurus menunjukkan sebuah hubungan kausal yang langsung antara satu konstruk lainnya. Sedangkan garis-garis lengkung antar konstruk dengan anak panah pada setiap ujungnya menunjukkan korelasi antara konstruk. Konstruk yang dibangun dalam diagram alur dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu :
1) Konstruk eksogen (exogenous constructs), yang dikenal juga sebagai source variables atau independent variables yang akan diprediksi oleh variabel yang lain dalam model. Konstruk eksogen adalah konstruk yang dituju oleh garis dengan satu ujung panah.
2) Konstruk endogen (endogen constructs), yang merupakan faktor-faktor yang diprediksi oleh satu atau beberapa konstruk. Konstruk endogen dapat
memprediksi satu atau beberapa konstruk endogen lainnya, tetapi konstruk
eksogen hanya dapat berhubungan kausal dengan konstruk endogen.
3. Konversi diagram alur ke dalam persamaan
Persamaan yang didapat dari diagram alur yang dikonversi terdiri dari :
1) Persamaan struktural (structural equation) yang dirumuskan untuk
menyatakan hubungan kausalitas antar berbagai konstruk.
Variabel endogen = variabel eksogen + variabel endogen + error
2) Persamaan spesifikasi model pengukuran (measurement model), dimana harus
ditentukan variabel yang mengukur konstruk dan menentukan serangkaian
matriks yang menunjukkan korelasi antar konstruk atau variabel.
4. Memilih matriks input dan estimasi model
SEM menggunakan input data yang hanya menggunakan matriks
varians/kovarians atau matriks korelasi untuk keseluruhan estimasi yang dilakukan. Matriks kovarian digunakan karena SEM memiliki keunggulan dalam menyajikan perbandingan yang valid antara populasi yang berbeda atau sampel yang berbeda, yang tidak dapat disajikan oleh korelasi. Hair et.al (1996) menyarankan agar menggunakan matriks varians/kovarians pada saat pengujian teori sebab lebih memenuhi asumsi-asumsi metodologi dimana standar error menunjukkan angka yang lebih akurat dibanding menggunakan matriks korelasi.
5. Kemungkinan munculnya masalah identifikasi
Problem identifikasi pada prinsipnya adalah problem mengenai
ketidakmampuan dari model yang dikembangkan untuk menghasilkan estimasi yang
unik. Bila setiap kali estimasi dilakukan muncul problem identifikasi, maka
sebaiknya model dipertimbangkan ulang dengan mengembangkan lebih banyak
konstruk.
6. Evaluasi kriteria goodness of fit
Pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap kesesuaian model melalui telaah
terhadap berbagai kriteria goodness of fit. Berikut ini beberapa indeks kesesuaian dan
cut off value untuk menguji apakah sebuah model dapat diterima atau ditolak menurut
Ferdinand (2000) :
1) Uji Chi-square, dimana model dipandang baik atau memuaskan bila nilai Chisquare nya rendah. Semakin kecil nilai chi-square semakin baik model itu dan
nilai signifikansi lebih besar dari cut off value (p>0,05).
2) RMSEA (The Root Mean Square Error of Approximation), yang
menunjukkan goodness of fit yang dapat diharapkan bila model diestimasi
dalam populasi (Hair et.al., 1995). Nilai RMSEA yang lebih kecil atau sama
dengan 0,08 merupakan indeks untuk dapat diterimanya model yang
menunjukkan sebuah close fit dari model itu berdasarkan degrees of freedom.
3) GFI (Goodness of Fit Index) adalah ukuran non statistikal yang mempunyai
rentang nilai antara 0 (poor fit) sampai dengan 1.0 (perfect fit). Nilai yang
tinggi dalam indeks ini menunjukkan sebuah “better fit”.
4) AGFI (Adjusted Goodness of Fit Index), dimana tingkat penerimaan yang
direkomendasikan adalah bila AGFI mempunyai nilai sama dengan atau lebih
besar dari 0,90.
5) CMIN/DF adalah The Minimum Sample Discrepancy Function yang dibagi
dengan Degree of Freedom. Chi-square dibagi DF-nya disebut chi-square
relatif. Bila nilai chi-square relatif kurang dari 2.0 atau 3.0 adalah indikasi
dari acceptable fit antara model dan data.
6) TLI (Tucker Lewis Index), merupakan incremental index yang
membandingkan sebuah model yang diuji terhadap sebuah baseline model,
dimana sebuah model ≥ 0,95 dan nilai yang mendekati 1 menunjukkan a very
good fit.
7) CFI (Comparative Fit Index), dimana bila mendekati 1, mengindikasi tingkat
fit yang paling tinggi. Nilai yang direkomendasikan adalah CFI ≥ 0,947. Interpretasi dan modifikasi model
Tahap terakhir ini adalah menginterpretasikan model dan memodifikasi model
bagi model-model yang tidak memenuhi syarat pengujian yang dilakukan. Tujuan modifikasi adalah untuk melihat apakah modifikasi yang dilakukan dapat menurunkan nilai chi-square; seperti diketahui, semakin kecilnya angka chi-square menunjukkan semakin fit model tersebut dengan data yang ada.
Proses SEM tentu tidak bisa dilakukan secara manual selain karena
keterbatasan kemampuan manusia, juga karena kompleksitas model dan alat statistik  yang digunakan. Walaupun banya ahli yang sudah menyadari perlunya membuat model yang dapat menjelaskan banyak fenomena sosial dalam hubungan banyak variabel, namun mereka belum dapat menangani kompleksitas perhitungan matematisnya. Saat ini banyak software yang khusus digunakan untuk analisis model SEM, seperti LISREL, AMOS, EQS dan Mplus. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan AMOS 18.0 sebagai alat analisisnya. Sebagai sebuah model persamaan struktur, AMOS telah sering digunakan dalam pemasaran dan penelitian manajemen strategik. Model kausal AMOS menunjukkan pengukuran dan masalah yang struktural dan digunakan untuk menganalisis dan menguji model hipotesis. AMOS sangat tepat untuk analisis seperti ini, karena kemampuannya untuk : (1) memperkirakan koefisien yang tidak diketahui dari persamaan linier struktural, (2) mengakomodasi model yang meliputi latent variabel, (3) mengakomodasi kesalahan pengukuran pada variabel dependen dan independen, (4) mengakomodasi peringatan yang timbal balik, simultan dan saling
ketergantungan

Bagian Dalam Permodelan SEM (skripsi dan tesis)

Secara umum, sebuah model SEM dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu:

1. Measurement Model Measurement model adalah bagian dari model SEM yang menggambarkan hubungan antara variabel laten dengan indikator-indikatornya.

2. Structural Model Structural model menggambarkan hubungan antar variabel-variabel laten atau antar variabel eksogen dengan variabel laten.

Asumsi Untuk menggunakan SEM (skripsi dan tesis)

Asumsi Untuk menggunakan SEM diperlukan asumsi-asumsi yang mendasari penggunaannya. Asumsi tersebut diantaranya adalah:

1. Normalitas Data Uji normalitas yang dilakukan pada SEM mempunyai dua tahapan. Pertama menguji normalitas untuk setiap variabel, sedangkan tahap kedua adalah pengujian normalitas semua variabel secara bersama-sama yang disebut dengan multivariate normality. Hal ini disebabkan jika setiap variabel normal secara individu, tidak berarti jika diuji secara bersama (multivariat) juga pasti berdistribusi normal.

2. Jumlah Sampel Pada umumnya dikatakan penggunaan SEM membutuhkan jumlah sampel yang besar. Menurut pendapat Ferdinand (2002) dalam Wuensch (2006) bahwa ukuran sampel untuk pengujian model dengan menggunakan SEM adalah antara 100-200 sampel atau tergantung pada jumlah parameter yang digunakan dalam seluruh variabel laten, yaitu jumlah parameter dikalikan 5 sampai 10. Satu survei terhadap 72 penelitian yang menggunakan SEM didapatkan median ukuran sampel sebanyak 198. Untuk itu jumlah sampel sebanyak 200 data pada umumnya dapat diterima sebagai sampel yang representatif pada analisis SEM.

3. Multicolinnearity dan Singularity Suatu model dapat secara teoritis diidentififikasi tetapi tidak dapat diselesaikan karena masalah-masalah empiris, misalnya adanya multikolinearitas tinggi dalam setiap model.

4. Data interval Sebaiknya data interval digunakan dalam SEM. Sekalipun demikian, tidak seperti pada analisis jalur, kesalahan model-model SEM yang eksplisit muncul karena penggunaan data ordinal. Variabel-variabel eksogenous berupa variabel-variabel dikotomi atau dummy dan variabel dummy kategorikal tidak boleh digunakan dalam variabel-variabel endogenous. Penggunaan data ordinal atau nominal akan mengecilkan koefesien matriks korelasi yang digunakan dalam SEM.

Konsep dan Istilah Dalam SEM (skripsi dan tesis)

1. Model jalur ialah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas, perantara dan tergantung. Pola hubungan ditunjukkan dengan menggunakan anak panah. Anak panah tunggal menunjukkan hubungan sebab-akibat antara variabelvariabel eksogen atau perantara dengan satu variabel tergantung atau lebih. Anak panah juga menghubungkan kesalahan-kesalahan (variabel error) dengan semua variabel endogen masing-masing. Anak panah ganda menunjukkan korelasi antara pasangan variabel-variabel eksogen.

2. Model sebab akibat (causal modeling,) atau disebut juga analisis jalur (path analysis), yang menyusun hipotesis hubungan sebab akibat (causal relationships) diantara variabel- variabel dan menguji model-model sebab akibat (causal models) dengan menggunakan sistem persamaan linier. Model-model sebab akibat dapat mencakup variabel-variabel manifes (indikator), variabelvariabel laten atau keduanya.

3. Variabel eksogen dalam suatu model jalur ialah semua variabel yang tidak ada penyebab-penyebab ekspilsitnya atau dalam diagram tidak ada anak-anak panah yang menuju ke arahnya, selain pada bagian kesalahan pengukuran. Jika antara variabel eksogen dikorelasikan maka korelasi tersebut ditunjukkan dengan anak panah berkepala dua yang menghubungkan variabel-variabel tersebut

. 4. Variabel endogen ialah variabel yang mempunyai anak panah-anak panah menuju ke arah variabel tersebut. Variabel yang termasuk didalamnya mencakup semua variabel perantara dan tergantung.

5. Variabel laten adalah variabel yang tidak dapat diukur secara langsung kecuali diukur dengan satu atau lebih variabel manifes.

6. Variabel manifes adalah variabel yang digunakan untuk menjelaskan atau mengukur sebuah variabel laten. Dalam satu variabel laten terdiri dari beberapa variabel manifes.

7. Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut “beta” yang menunjukkan pengaruh langsung dari suatu variabel bebas terhadap variabel tergantung dalam suatu model jalur tertentu.

8. Analisis faktor penegasan (confirmatory factor analysis), suatu teknik kelanjutan dari analisis faktor dimana dilakukan pengujian hipotesis-hipotesis struktur factor loadings dan interkorelasinya. Isi sebuah model SEM pastilah variabel-variabel, baik itu variabel laten maupun variabel manifes. Jika ada sebuah variabel laten, pastilah akan ada dua atau lebih variabel manifes.

Banyak pendapat menyarankan sebuah variabel laten sebaiknya dijelaskan oleh paling tidak tiga variabel manifes. Cara sederhana untuk mengetahui apakah sebuah variabel dapat digolongkan menjadi sebuah variabel laten adalah dengan menguji apakah variabel tersebut dapat langsung diukur, jika tidak, dapat dikategorikan sebagai variabel laten yang membutuhkan sejumlah variabel manifes. Dalam sebuah model SEM, sebuah variabel laten dapat berfungsi sebagai variabel eksogen atau variabel endogen. Sebuah variabel dependen dapat saja menjadi variabel independen untuk variabel yang lain

Sejarah dan Pengertian SEM (skripsi dan tesis)

Sewal Wright mengembangkan konsep ini pada tahun 1934, pada awalnya teknik ini dikenal dengan analisa jalur dan kemudian dipersempit dalam bentuk analisis Structural Equation Modeling (Yamin, 2009). SEM (Structural Equation Modeling) adalah suatu teknik statistik yang mampu menganalisis pola hubungan antara konstruk laten dan indikatornya, konstruk laten yang satu dengan lainnya, serta kesalahan pengukuran secara langsung. SEM memungkinkan dilakukannya analisis di antara beberapa variabel dependen dan independen secara langsung (Hair et al, 2006). Teknik analisis data menggunakan Structural Equation Modeling (SEM), dilakukan untuk menjelaskan secara menyeluruh hubungan antar variabel yang ada dalam penelitian. SEM digunakan bukan untuk merancang suatu teori, tetapi lebih ditujukan untuk memeriksa dan membenarkan suatu model. Oleh karena itu, syarat utama menggunakan SEM adalah membangun suatu model hipotesis yang terdiri dari model struktural dan model pengukuran dalam bentuk diagram jalur yang berdasarkan justifikasi teori. SEM adalah merupakan sekumpulan teknik-teknik statistik yang memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan secara simultan. Hubungan itu dibangun antara satu atau beberapa variabel independen (Santoso, 2011). SEM menjadi suatu teknik analisis yang lebih kuat karena mempertimbangkan pemodelan interaksi, nonlinearitas, variabel-variabel bebas yang berkorelasi (correlated independent), kesalahan pengukuran, gangguan kesalahan-kesalahan yang berkorelasi (correlated error terms), beberapa variabel bebas laten (multiple latent independent) dimana masing-masing diukur dengan menggunakan banyak indikator, dan satu atau dua variabel tergantung laten yang juga masing-masing diukur dengan beberapa indikator. Dengan demikian menurut definisi ini SEM dapat digunakan alternatif lain yang lebih kuat dibandingkan dengan menggunakan regresi berganda, analisis jalur, analisis faktor, analisis time series, dan analisis kovarian (Byrne, 2010). Yamin (2009) mengemukakan bahwa di dalam SEM peneliti dapat melakukan tiga kegiatan sekaligus, yaitu pemeriksaan validitas dan reliabilitas instrumen (setara dengan analisis faktor konfirmatori), pengujian model hubungan antar variabel laten (setara dengan analisis path), dan mendapatkan model yang bermanfaat untuk prediksi (setara dengan model struktural atau analisis regresi). Dua alasan yang mendasari digunakannya SEM adalah (1) SEM mempunyai kemampuan untuk mengestimasi hubungan antar variabel yang bersifat multiple relationship. Hubungan ini dibentuk dalam model struktural (hubungan antara konstruk dependen dan independen). (2) SEM mempunyai kemampuan untuk menggambarkan pola hubungan antara konstruk laten dan variabel manifes atau variabel indikator.

KONSEP IDENTIFIKASI MODEL SEM (skripsi dan tesis)

Model – Model Struktural dapat berupa dalam SEM ialah: 1) just – identified, 2) over – identified, dan 3) under – identified

Model ‘Just – identified’– : jumlah poin data varian dan kovarian sama dengan jumlah parameter yang harus diestimasi. Model ini secara ilmiah tidak menarik karena tidak ada Degree of Freedom (DF) sehingga model harus selalu diterima / tidak dapat ditolak (Catatan: DF = data – parameter)

Model ‘Over – identified’– : jumlah poin data varian dan kovarian variabel-variabel yang teramati lebih besar dari jumlah parameter yang harus diestimasi. Dengan demikian terdapat DF positif sehingga memungkinkan penolakan model

Model ‘Under – identified’– : jumlah poin data varian dan kovarian lebih kecil dibandingkan dengan jumlah parameter yang harus diestimasi. Dengan demikian model akan kekurangan informasi yang cukup untuk mencari pemecahan estimasi parameter karena akan terdapat solusi yang tidak terhingga untuk model yang seperti ini.

Saturated Model– : mempunyai parameter bebas sebanyak jumlah moments (rata-rata dan varian). Jika dianalisis dengan data yang lengkap, maka model akan selalu cocok dengan data sampel secara sempurna (Chi square = 0.0; DF = 0)

PRINSIP DASAR DIBALIK SEM (skripsi dan tesis)

Dalam statistik terdapat generaliasi yang menyatakan bahwa beberapa variabel saling berhubungan satu dengan yang lain dalam suatu kelompok persamaan linear. Hubungan tersebut menjadi semakin kompleks tetapi inti pesannya tetap sama, yaitu: kita dapat menguji apakah beberapa variable saling berhubungan melalui seperangkat hubungan linier dengan cara memeriksa varian dank ovarian variable tersebut. Dictum ini dapat diilustrasikan secara sederhana sebagai berikut:

Ada sekelompok angka (kita beri simbol X): 1, 2, dan 3. Sekeleompok angka tersebut mempunyai rata-rata sebesar 2 dan standard deviasi 1. Kemudian sekelompok ini ini (X) kita kalikan 4; maka akan menjadi sekelompok angka sebagai berikut: 4, 8, dan 12 (Kita beri simbol Y). Sekelompok angka tersebut mempunyai rata-rata sebesar 8, standard deviasi 4, dan varian sebesar 16 (varian adalah standard deviasi yang dikuadratkan). Seperangkat angka X dapat dihubungkan dengan seperangkat anhgka Y dengan menggunakan persamaan Y = 4 X; dengan demikian varian Y ialah 16 kali X. Dari persamaan tersebut kita dapat melakukan pengujian hipotesis, yaitu Y dan X dihubungkan dengan menggunakan persamaan Y = 4secara tidak langsung dengan cara membandingkan varian – varian variable X dan Y.

Dalam kaitannya dengan pemahaman tersebut, maka prosedur dalam SEM dilakukan dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Nyatakan secara tegas bahwa beberapa variabel berkaitan antara satu dengan yang lainnya dengan • menggunakan diagram jalur.

Teliti melalui beberapa aturan internal yang kompleks implikasi-implikasi apa saja dalam kaitannya • degan varian – varian dan kovarian-kovariannya beberapa variabel tersebut.

Ujilah apakah semua varian dan kovarian cocok dengan modelnya. •

Laporkan hasil-hasil pengujian statistik, dan juga estimasi-estimasi parameter serta kesalahan-kesalahan • standard untuk semua koefisen numerik yang ada dalam persamaan linear.

Berdasarkan semua informasi di atas, peneliti memutuskan apakah model nampak sesuai dengan data • yang dipunyai atau tidak

ACUAN INDEKS KECOCOKAN MODEL DALAM SEM (skripsi dan tesis)

Untuk mengetahui apakah model yang dibuat didasarkan pada data observasi sesuai dengan model teori atau tidak diperlukan acuan indeks kecocokan model. Berikut ini nilai-nilai indeks kecocokan model yang sering digunakan dalam SEM, diantaranya:

Nilai Chi Square– : semakin kecil maka model semakin sesuai antara model teori dan data sampel. Nilai ideal sebesar <3

Rasio Kritis (Critical Ratio)– : Rasio deviasi tertentu dari nilai rata-rata standard deviasi. Nilai ini diperoleh dari estimasi parameter dibagi dengan standard error . Besar nilai CR adalah 1,96 untuk pembobotan regresi dengan significance sebesar 0,05 untuk koefesien jalurnya

Jika nilai CR > 1,96 – maka kovarian – kovarian faktor mempunyai hubungan signifikan

Jika koefesien struktural dibuat standar– , misalnya 2; maka var laten tergantung akan meningkat sebesar 2

Kesalahan pengukuran– sebaiknya sebesar 0

Pembobotan regresi (regression weight):– sebesar 1, tidak boleh sama dengan 0, bersifat random jika ada tanda ‘$’

Spesifikasi model– dengan nilai konstan 1

Maximum Likehood Estimation– akan bekerja dengan baik pada sampel sebesar >2500

Significance level– (probabilitas) sebaiknya <0.05

– Reliabilitas konstruk (construct reliability): minimal sebesar 0,70 untuk faktor loadings

Varian ekstrak – (uji lanjut reliabilitas): nilai minimal 0.5 semakin mendekati 1 semakin reliabel

Nilai indeks keselarasan (– goodness of fit index) (GFI): mengukur jumlah relatif varian dan kovarian yang besarnya berkisar dari 0 – 1. Jika nilai besarnya mendekati 0 maka model mempunyai kecocokan yang rendah sedang nilai mendekati 1 maka model mempunyai kecocokan yang baik

Nilai indeks keselarasan yang disesuaikan (– Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI): Fungsi sama dengan GFI perbedaan terletak pada penyesuaian nilai DF terhadap model yang dispesifikasi. Nilai AGFI sama dengan atau lebih besar dari 0,9. Jika nilai lebih besar dari 0,9 maka model mempunyai kesesuaian model keseluruhan yang baik

Fungsi perbedaan sampel minimum (– The minimum sample discrepancy function (CMNF)) yang merupakan nilai statistik Chi Square dibagi dengan nilai derajat kebebasan (degree of freedom (df)) disebut juga Chi Square relatif dengan besaran nilai kurang dari 0,2 dengan toleransi dibawah 0,3 yang merupakan indikator diterimanya suatu kecocokan model dan data

Indeks Tucker Lewis (Tucker Lewis – Index (TLI)) dengan ketentuan sebagai penerimaan sebuah model sebesar sama dengan atau lebih besar dari 0,95. Jika nilai mendekati 1 maka model tersebut menunjukkan kecocokan yang sangat tinggi

Indeks Kecocokan Komparatif (– Comparative Fit Index (CFI)) dengan nilai antara 0- 1 dengan ketentuan jika nilai mendekati angka 1 maka model yand dibuat mempunyai kecocokan yang sangat tinggi sedang jika nilai mendekati 0, maka model tidak mempunyai kecocokan yang baik

Index Parsimony– : untuk kecocokan model yang layak nilainya >0,9.

Root mean square error of approximation– , (RMSEA): berfungsi sebagai kriteria untuk pemodelan struktur kovarian dengan mempertimbangkan kesalahan yg mendekati populasi. Kecocokan model yg cocok dengan matriks kovarian populasi. Model baik jika nilainya lebih kecil atau sama dengan 0,05 ; cukup baik sebesar atau lebih kecil dari 0,08

Uji Reliabilitas– : untuk menghitung reliabilitas model yang menunjukkan adanya indikator-indikator

yang mempunyai derajat kesesuaian yang baik dalam satu model satu dimensi. Reliabilitas merupakan ukuran konsistensi internal indikator-indikator suatu konstruk yang menunjukkan derajat sejauh mana setiap indikator tersebut menunjukkan sebuah konstruk laten yang umum. Reliabilitas berikutnya ialah Varian Extracted dengan besar diatas atau sama dengan 0,5. Dengan ketentuan nilai yang semakin tinggi menunjukkan bahwa indikator-indikator sudah mewakili secara benar konstruk laten yang dikembangkan

Parameter dengan nilai 0– mempunyai arti tidak ada hubungan antar variabel yang diobservasi. Parameter dapat secara bebas diestimasi dengan nilai tidak sama dengan 0. Fixed parameter diestimasi tidak berasal dari data, misalnya 1; free parameter diestimasi dari data sampel yang diasumsikan oleh peneliti tidak sama dengan 0.

Root Mean Square Residual (RMR)– : nilai rata-rata semua residual yang ditandarisasi. Nilai RMR berkisar mulai 0 – 1, suatu model yang cocok mempunyai nilai RMR < 0.05.

Parsimony Based Indexes of Fit (PGFI)– : Parsimony model yang berfungsi untuk mempertimbangkan kekompleksitasan model yang dihipotesiskan dalam kaitannya dengan kecocokan model secara menyeluruh. Nilai kecocokan ideal adalah 0.9

Normed Fit Index (NFI)– : Nilai NFI mulai 0 – 1 diturunkan dari perbandingan antara model yang dihipotesiskan dengan suatu model independen tertentu. Model mempunyai kecocokan tinggi jika nilai mendekati 1

Relative Fit Index (RFI)– : merupakan turunan dari NFI dengan nilai 0 -1. Model mempunyai kecocokan yang ideal dengan nilai 0.95

First Fit Index (PRATIO)– : berkaitan dengan model parsimony

Noncentrality Parameter (NCP)– : parameter tetap yang berhubungan dengan DF yang berfungsi untuk mengukur perbedaan antara matriks kovarian populasi dengan matriks kovarian observasi. Dengan Confidence Interval 90% maka NCP berkisar antara 29,983 – 98,953

The Expected Cross Validation Index (ECVI)– : mengukur perbedaan antara matriks kovarian yang dicocokkan dalam sampel yg dianalisis dengan matriks kovarian yang diharapkan yang akan diperoleh dari sampel lain dengan ukuran yang sama. Nilai ECVI dapat berapa saja dan tidak ada kisarannya. Jika model mempunyai nilai ECVI terkecil, maka model tersebut dapat direplikasi.

Hoelter’s Critical N (CN)– : berfungsi untuk melihat kecukupan ukuran sampel yang digunakan dalam riset. CN mempunyai ketentuan suatu model mempunyai ukuran sampel yang cukup jika nilai CN > 200.

Residual– : perbedaan antara matriks kovarian model dengan matriks kovarian sampel, semakin kecil perbedaan maka model semakin baik.

ASUMSI DASAR SEM (skripsi dan tesis)

Untuk menggunakan SEM, peneliti memerlukan pengetahuan tentang asumsi-asumsi yang mendasari penggunaannya. Beberapa asumsi tersebut, diantaranya ialah:

Distribusi normal indikator – indikator multivariat • (Multivariate normal distribution of the indicators): Masing-masing indikator mempunyai nilai yang berdistribusi normal terhadap indikator lainnya. Karena permulaan yang kecil normalitas multivariat dapat menuntun kearah perbedaan yang besar dalam pengujian chi-square, dengan demikian akan melemahkan kegunaannya. Secara umum, pelanggaran asumsi ini menaikkan chi-square sekalipun demikian didalam kondisi tertentu akan menurunkannya. Selanjutnya penggunaan pengukuran ordinal atau nominal akan menyebabkan adanya pelanggaran normalitas multivariat. Perlu diperhatikan bahwa normalitas multivariat diperlukan untuk estimasi kemiripan maksimum / maximum likelihood estimation (MLE), yang merupakan metode dominan dalam SEM yang akan digunakan untuk membuat estimasi koefesien – koefesien (jalur) struktur. Khusus MLE membutuhkan variabel-variabel endogenous yang berdistribusi normal.

Secara umum, sebagaimana ditunjukkan dalam suatu studi-studi simulasi menunjukkan, bahwa dalam kondisi – kondisi data yang sangat tidak normal, estimasi-estimasi parameter SEM, misalnya estimasi jalur masih dianggap akurat tetapi koefesien-koefesien signifikansi yang bersangkutan akan menjadi terlalu tinggi sehingga nilai-nilai chi-square akan meningkat. Perlu diingat bahwa untuk uji keselarasan chi-square dalam model keseluruhan, nilai chi-square tidak harus signifikan jika ada keselarasan model yang baik, yaitu: semakin tinggi nilai chi-square, semakin besar perbedaan model yang diestimasi danmatrices kovarian sesungguhnya, tetapi keselarasan model semakin buruk. Chi-square yang meninggi dapat mengarahkan peneliti berpikir bahwa model-model yang sudah dibuat memerlukan modifikasi dari apa yang seharusnya. Kurangnya normalitas multivariat biasanya menaikkan statistik chi-square, misalnya, statistik keselarasan chi-square secara keseluruhan untuk model yang bersangkutan akan bias kearah kesalahan Type I, yaitu menolak suatu model yang seharusnya diterima. Pelanggaran terhadap normalitas multivariat juga cenderung menurunkan (deflate) kesalahan-kesalahan standar mulai dari menengah sampai ke tingkat tinggi. Kesalahan-kesalahan yang lebih kecil dari yang seharusnya terjadi mempunyai makna jalur-jalur regresi dan kovarian-kovarian faktor / kesalahan didapati akan menjadi signifikan secara statistik dibandingkan dengan seharusnya yang terjadi.

Distribusi normal multivariat variabel-variabel tergantung laten • ( Multivariate normal distribution of the latent dependent variables). Masing-masing variabel tergantung laten dalam model harus didistribusikan secara normal untuk masing-masing nilai dari setiap variabel laten lainnya. Variabel-variabel laten dichotomi akan melanggar asumsi ini karena alasan-alasan tersebut.

Linieritas • (Linearity). SEM mempunyai asumsi adanya hubungan linear antara variabel-variabel indikator dan variabel-variabel laten, serta antara variabel-variabel laten sendiri. Sekalipun demikian, sebagaimana halnya dengan regresi, peneliti dimungkinkan untuk menambah transformasi eksponensial, logaritma, atau non-linear lainnya dari suatu variabel asli ke dalam model yang dimaksud.

Pengukuran tidak langsung • (Indirect measurement): Secara tipikal, semua variabel dalam model merupakan variabel-variabel laten.

Beberapa indikator • (Multiple indicators). Beberapa indikator harus digunakan untuk mengukur masing-masing variabel laten dalam model. Regresi dapat dikatakan sebagai kasus khusus dalam SEM dimana hanya ada satu indikator per variabel laten. Kesalahan pemodelan dalam SEM membutuhkan adanya lebih dari satu pengukuran untuk masing-masing variabel laten.

Rekursivitas • (Recursivity): Suatu model disebut rekursif jika semua anak panah menuju satu arah, tidak ada arah umpan balik (feedback looping), dan faktor gangguan (disturbance terms) atau kesalahan tersisa (residual error) untuk variabel-variabel endogenous yang tidak dikorelasikan. Dengan kata lain, model-model recursive merupakan model dimana semua anak panah mempunyai satu arah tanpa putaran umpan balik, dan peneliti dapat membuat asumsi kovarian – kovarian gangguan kesalahan semua 0. Hal itu berarti bahwa semua variabel yang tidak diukur yang merupakan determinan dari variabel-variabel endogenous tidak dikorelasikan satu dengan lainnya sehingga tidak membentuk putaran umpan balik (feedback loops). Model – model dengan gangguan kesalahan yang berkorelasi dapat diperlakukan sebagai model recursive hanya jika tidak ada pengaruh-pengaruh langsung diantara variabel-variabel endogenous

Data interval: • Sebaiknya data interval digunakan dalam SEM. Sekalipun demikian, tidak seperti pada analisis jalur tradisional, kesalahan model-model SEM yang eksplisit muncul karena penggunaan data ordinal. Variabel-variabel exogenous berupa variabel-variabel dichotomi atau dummy dan variabel dummy kategorikal tidak boleh digunakan dalam variabel-variabel endogenous. Penggunaan data ordinal atau nominal akan mengecilkan koefesien matriks korelasi yang digunakan dalam SEM. Jika data ordinal yang digunakan maka sebelum di analisis dengan SEM, data harus diubah ke interval dengan menggunakan method of successive interval (MSI)

Ketepatan yang tinggi: • Apakah data berupa data interval atau ordinal, data-data tersebut harus mempunyai jumlah nilai yang besar. Jika variabel – variabel mempunyai jumlah nilai yang sangat kecil, maka masalah-masalah metodologi akan muncul pada saat peneliti membandingkan varian dan kovarian, yang merupakan masalah sentral dalam SEM.

Residual-residual acak dan kecil: • Rata-rata residual – residual atau kovarian hasil pengitungan yang diestimasikan minus harus sebesar 0, sebagaimana dalam regresi. Suatu model yang sesuai akan hanya mempunyai residual – residual kecil. Residual – residual besar menunjukkan kesalahan spesifikasi model, sebagai contoh, beberapa jalur mungkin diperlukan untuk ditambahkan ke dalam model tersebut.

Gangguan kesalahan yang tidak berkorelasi • (Uncorrelated error terms) seperti dalam regresi, maka gangguan kesalahan diasumsikan saja. Sekalipun demikian, jika memang ada dan dispesifikasi secara eksplsit dalam model oleh peneliti, maka kesalahan yang berkorelasi (correlated error) dapat diestimasikan dan dibuat modelnya dalam SEM.

Kesalahan residual yang tidak berkorelasi • (Uncorrelated residual error): Kovarian nilai – nilai variabel tergantung yang diprediksi dan residual – residual harus sebesar 0.

Multikolinearitas yang lengkap: • multikolinearitas diasumsikan tidak ada, tetapi korelasi antara semua variabel bebas dapat dibuat model secara eksplisit dalam SEM. Multikolinearitas yang lengkap akan menghasilkan matriks – matriks kovarian tunggal, yang mana peneliti tidak dapat melakukan penghitungan tertentu, misalnya inversi matrix karena pembagian dengan 0 akan terjadi.

Ukuran Sampel• tidak boleh kecil karena SEM bergantung pada pengujian-pengujian yang sensitif terhadap ukuran sampel dan magnitude perbedaan-perbedaan matrices kovarian. Secara teori, untuk ukuran sampelnya berkisar antara 200 – 400 untuk model-model yang mempunyai indikator antara 10 – 15. Satu survei terhadap 72 penelitian yang menggunakan SEM ditemukan median ukuran sampel sebanyak 198. Sampel di bawah 100 akan kurang baik hasilnya jika menggunakan SEM.

Aplikasi utama Structural Equation Modeling (skripsi dan tesis)

Aplikasi utama Structural Equation Modeling meliputi:

Model sebab akibat (1. causal modeling,) atau disebut juga analisis jalur (path analysis), yang menyusun hipotesa hubungan-hubungan sebab akibat (causal relationships) diantara variabel – variabel dan menguji model-model sebab akibat (causal models) dengan menggunakan sistem persamaan linier. Model-model sebab akibat dapat mencakup variabel-variabel manifest (indikator), variabel-variabel laten atau keduanya;

Analisis faktor penegasan (2. confirmatory factor analysis), suatu teknik kelanjutan dari analisis faktor dimana dilakukan pengujian hipotesis – hipotesis struktur factor loadings dan interkorelasinya;

Analisis faktor urutan kedua3. (second order factor analysis), suatu variasi dari teknik analisis faktor, dimana matriks korelasi dari faktor-faktor tertentu (common factors) dilakukan analisis pada faktornya sendiri untuk membuat faktor-faktor urutan kedua;

Model-model regresi (4. regression models), suatu teknik lanjutan dari analisis regresi linear, dimana bobot regresi dibatasi agar menjadi sama satu dengan lainnya, atau dilakukan spesifikasi pada nilai-nilai numeriknya;

Model-model struktur covariance (5. covariance structure models), yang mana model tersebut menghipotesakan bahwa matrix covariance mempunyai bentuk tertentu. Sebagai contoh, kita dapat menguji hipotesis yang menyusun semua variabel yang mempunyai varian yang sama dengan menggunakan prosedur yang sama;

Model struktur korelasi (6. correlation structure models), yang mana model tersebut menghipotesakan bahwa matrix korelasi mempunyai bentuk tertentu. Contoh klasik adalah hipotesis yang menyebutkan bahwa matrix korelasi mempunyai struktur circumplex

Fungsi Structural Equation Modeling/SEM (skripsi dan tesis)

Beberapa fungsi SEM, diantaranya ialah:

Pertama, • memungkinkan adanya asumsi-asumsi yang lebih fleksibel;

Kedua •, penggunaan analisis faktor penegasan (confirmatory factor analysis) untuk mengurangi kesalahan pengukuran dengan memiliki banyak indikator dalam satu variabel laten;

Ketiga, • daya tarik interface pemodelan grafis untuk memudahkan pengguna membaca keluaran hasil analisis

Keempat,• kemungkinan adanya pengujian model secara keseluruhan dari pada koefesien-koefesien secara sendiri-sendiri;

Kelima,• kemampuan untuk menguji model – model dengan menggunakan beberapa variabel tergantung;

Keenam,• kemampuan untuk membuat model terhadap variabel-variabel perantara;

Ketujuh,• kemampuan untuk membuat model gangguan kesalahan (error term);

Kedelapan, kemampuan untuk menguji koefesien-koefesien diluar antara beberapa kelompok • subyek;

Kesembilan,• kemampuan untuk mengatasi data yang sulit, seperti data time series dengan kesalahan otokorelasi, data yang tidak normal, dan data yang tidak lengkap

Pengertian Structural Equation Modeling (skripsi dan tesis)

Structural Equation Modeling, yang dalam buku ini untuk selanjutnya akan disebut SEM, adalah suatu teknik modeling statistik yang bersifat sangat cross-sectional, linear dan umum. Termasuk dalam SEM ini ialah analisis faktor (factor analysis), analisis jalur (path analysis) dan regresi (regression).

Definisi berikutnya menyebutkan SEM adalah teknik analisis multivariat yang umum dan sangat bermanfaat yang meliputi versi-versi khusus dalam jumlah metode analisis lainnya sebagai kasus-kasus khusus.

Definisi lain mengatakan bahwa SEM merupakan teknik statistik yang digunakan untuk membangun dan menguji model statistik yang biasanya dalam bentuk model-model sebab akibat. SEM sebenarnya merupakan teknik hibrida yang meliputi aspek-aspek penegasan (confirmatory) dari analisis faktor, analisis jalur dan regresi yang dapat dianggap sebagai kasus khusus dalam SEM.

Sedikit berbeda dengan definisi-definisi sebelumnya, disebutkan SEM berkembang dan mempunyai fungsi mirip dengan regresi berganda, tetapi nampaknya SEM menjadi suatu teknik analisis yang lebih kuat karena mempertimbangkan pemodelan interaksi, nonlinearitas, variabel – variabel bebas yang berkorelasi (correlated independents), kesalahan pengukuran, gangguan kesalahan-kesalahan yang berkorelasi (correlated error terms), beberapa variabel bebas laten (multiple latent independents) dimana masing-masing diukur dengan menggunakan banyak indikator, dan satu atau dua variabel tergantung laten yang juga masing-masing diukur dengan beberapa indikator. Dengan demikian menurut definisi ini, SEM dapat digunakan sebagai alternatif lain yang lebih kuat dibandingkan dengan menggunakan regresi berganda., analisis jalur, analisis faktor, analisis time series, dan analisis kovarian

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa SEM mempunyai karakteristik yang bersifat sebagai teknik analisis untuk lebih menegaskan (confirm) daripada menerangkan. Maksudnya, seorang peneliti lebih cenderung menggunakan SEM untuk menentukan apakah suatu model tertentu valid atau tidak dari pada menggunakannya untuk menemukan suatu model tertentu cocok atau tidak, meski analisis SEM sering pula mencakup elemen-elemen yang digunakan untuk menerangkan.

Hubungan Religiusitas dengan Perilaku Altruisme (skripsi dan tesis)

 Setiap agama mengajarkan bahwa manusia harus selalu menjaga keharmonisan antara makhluk hidup maupun dengan lingkungan sekitarnya agar manusia dapat melanjutkan kehidupan, karena manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain di dalam kehidupan bermasyarakat sebagaimana setiap agama mengajarkan untuk tolong-menolong terhadap sesama manusia sebagai salah satu aktivitas religiusitas. Religiusitas adalah keberagaman yang berarti meliputi berbagai macam sisi atau dimensi yang bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), namun juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural (Ancok Dkk, 2001) Individu dengan religiusitas yang tinggi tidak hanya meyakini mengenai perbuatan baik dan melakukan amal baik hanya dengan membaca dari kitab, mendengarkan ceramah oleh pemuka agama, atau sekedar menyampaikan dengan ucapan bahwa ia akan berperilaku altruisme, namun ia akan melakukan kerja nyata didalam kehidupannya, sebagai contoh: menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan atau balas budi yang akan diterimanya, mementingkan kepentingan orang lain terlebih dahulu dan lain-lain. Menurut Malhotra (2010), religiusitas merupakan pengaruh utama melakukan perilaku altruisme, karena orang yang religius berkarakteristik lebih stabil sehingga spontanitas untuk beramal lebih tinggi. Munculnya spontanitas untuk berperilaku altruisme merupakan pertanda bahwa individu mampu menerapkan apa yang telah ia yakini sebagai religiusitas didalam kehidupan sehari-harinya. Dengan kata lain individu tersebut mampu mewujudkan perilaku altruisme karena motivasi dari religiusitas. Hal tersebut juga dapat dilihat dari kelima aspek menurut Glock (dalam Ancok dan Suroso, 1994) yang pertama aspek ideologis dimana individu mempercayai Tuhan serta adanya surga dan neraka, Tuhan adalah sang pencipta kehidupan yang memiliki perintah mengenai hal yang tidak boleh dilakukan dan apa yang boleh untuk dilakukan, apa yang baik dan yang buruk. Individu dengan religiusitas tinggi akan melakukan perilaku altruisme dengan menolong sesamanya yang sedang kesusahan dengan ikhlas dan percaya bahwa akan mendapat pahala guna tabungan untuk menuju ke surga, karena merupakan perbuatan baik yang telah dilakukan.
Diperkuat oleh Sappington (dalam Sarwono 1999) yang berpengaruh pada perilaku altruisme bukanlah seberapa kuatnya kepercayaan beragama itu sendiri melainkan bagaimana implikasi seseorang tentang pentingnya perilaku menolong telah diajarkan oleh agama (religiusitas). Ke dua aspek intelektual sejauh mana individu mengetahui tentang ajaran‐ajaran agamanya seperti berbuat baik kepada orang lain maka akan mendapatkan balasan yang baik pula, maka invidu dalam kehidupannya berusaha berperilaku altruisme dengan berbuat baik kepada orang lain seperti memberi bantuan kepada korban bencana alam baik berupa materi maupun jasa menjadi seorang relawan. Seperti yang diungkapkan oleh Rogers (1977) bahwa penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses yang didasari oleh pengetahuan agama, maka perilaku tersebut akan berlangsung lama. Dimana dengan pengetahuan agama yang baik akan membentuk religiusitas yang tinggi dalam diri individu untuk melakukan perilaku yang tidak bertentangan dengan nilai norma dan melakukan tindakan postif untuk dapat berperilaku altruisme. Ke tiga aspek ritualitas dimana individu melaksanakan kewajiban sebagai orang beragama mencakup ritual pemujaan, ketaatan, beramal yang dapat dicerminkan salah satunya dengan berperilaku altruisme yakni beramal baik seperti berbagi rezeki kepada anak yatim piatu sebagai cara untuk bersedekah. Ritualitas merupakan salah satu cara bagaimana individu dapat mewujudkan apa yang ia percaya sesuai dengan tindakan nyata dalam kehidupannya. Internalisasi ritualitas dalam setiap individu merupakan wujud nyata dari kualitas keyakinan seseorang. Ke empat aspek pengalaman yaitu seberapa jauh individu merasakan perasaan dan pengalaman religius seperti: ketika ia mengalami kesusahan tanpa disangka-sangka ia mendapat bantuan dari orang yang dulu telah ia bantu. Seperti yang diungkapkan oleh (Ahyadi, 1995) individu akan mencoba menghayati, menginternalisasi dan menerapkan religiusitas dalam dirinya untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ada salah satunya perilaku altruisme. Ke lima aspek konsekuensi individu merasa bersemangat dalam melakukan setiap perilaku baik dihidupnya karena mengetahui jika perilaku yang dilakukannya didunia akan mendapat balasan tidak hanya didunia namun juga di akhirat, jika berbuat baik mendapat balasan yang baik pula begitupun sebaliknya, maka individu secara sadar berperilaku altruisme seperti: menolong tanpa mengharapkan balas budi atau imbalan dari orang yang telah ditolong. Individu yang mempunyai religiusitas tinggi mempunyai dasar keyakinan yang akan membuatnya lebih mudah menentukan perilakunya mengenai yang harus dilakukan yaitu perilaku altruisme dan yang harus dihindari, karena pada dasarnya religiusitas telah mencakup aturan tentang hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak. Religiusitas tidak dapat dipisahkan dari perilaku individu didalam kehidupan bermasyarakat dan dalam prakteknya religiusitas memiliki beberapa fungsi antara lain fungsi edukatif, fungsi kontrol sosial, fungsi pemupuk rasa solidaritas. Religiusitas menjadi faktor integratif bagi individu dalam berperilaku altruisme dapat dilihat dari faktor kontrol sosial yaitu adanya keterkaitan batin antara tuntutan ajaran religius dengan perwujudan keberagamaan individu untuk melakukan perilaku altruisme dengan sesamanya. Dapat disimpulkan bahwa perwujudan keberagamaan atau dengan kata lain religiusitas adalah faktor dan pedoman individu dalam berperilaku altruisme dikehidupannya, individu meyakini bahwa perilaku altruisme adalah suatu perbuatan baik sesuai dengan nilai-nilai moral yang akan ia lakukan sebagai salah satu cara penerapan atas apa yang telah ia percaya dan yakini sebagai kepercayaan religius dan mengaplikasikan keberagamaannya (religiusitas) yang dapat menjadi motivasi untuk terus melakukan perilaku altruisme.
Seperti yang diungkapkan oleh Coles (2000) bahwa perilaku yang sesuai dengan nilai moral diungkapkan dalam tingkat orang harus berperilaku dan bersikap kepada orang lain. Perilaku tersebut muncul karena adanya pertimbangan kesejahteraan orang lain diatas kepentingan atau keuntungan pribadi (perilaku altruisme) yang berusaha diamalkan atau diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dengan nilai religi yang dianut (religiusitas). Dari keterkaitan diatas semakin memperjelas bahwa religiusitas mempengaruhi individu dalam berperilaku altruisme seperti yang diungkapkan Sarwono (1999) bahwa religiusitas mempengaruhi seseorang untuk menolong, karena ada nilai-nilai religi yang dianut sehingga seseorang mau menolong orang lain. Peneliti juga menyertakan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu mengenai religiusitas dan perilaku altruisme guna memperkuat penjelasan. Penelitian tentang altruisme pernah dilakukan oleh Shah dan Ali (2012) dengan judul Altruism and Belief in just world in young adults: relationship with Religiosity yang bertujuan mengeskplorasikan antara altruisme dan kepercayaan dunia dengan religiusitas pada orang dewasa dan dihasilkan bahwa religiusitas yang tinggi berhubungan positif dengan altruisme yang tinggi pula. Dengan demikian individu yang mempunyai religiusitas tinggi tidak hanya melakukan ritual-ritual keagamaan saja seperti sembahyang dan puasa tetapi hal lain yang juga harus dilakukan adalah menjalin hubungan dan berbuat baik kepada orang lain atau dapat juga dikatakan sebagai beramal baik. Amal baik salah satunya adalah melakukan perilaku altruisme seperti menolong, bekerja sama, berbagi, dan menyumbang (Ancok dan Suroso, 1994). Berdasarkan penjelasan yang sudah disampaikan dapat ditarik kesimpulan adanya hubungan yang positif antara religiusitas dengan perilaku altruisme sehingga semakin tingggi religiusitas, maka perilaku altruisme cenderung semakin tinggi, dan juga sebaliknya semakin rendah religiusitas, maka perilaku altruisme cenderung semakin rendah

Aspek – aspek Religiusitas (skripsi dan tesis)

 Menurut Glock (dalam Ancok dan Suroso, 1994) religiusitas memilki lima aspek : a. Aspek ideologis Berisi tingkatan sejauh mana seseorang menerima hal‐hal yang dogmatik dalam agamanya. Setiap agama mempertahankan seperangkat kepercayaan dimana para penganutnya diharapkan taat. Misalnya: kepercayaan terhadap Tuhan, surga, dan neraka. b. Aspek intelektual Tentang sejauh mana seseorang mengetahui tentang ajaran‐ajaran agamanya,tradisi, terutama yang ada di dalam kitab suci. c. Aspek ritualitas Mengacu pada tingkatan sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban‐ kewajiban ritual dalam agamanya dan hal-hal yang dilakukan untuk mewujudkan komitmen terhadap agama yang dianut. Misalnya sembahyang, beramal, berpuasa. d. Aspek pengalaman Mengenai perasaan‐perasaan atau pengalaman-pengalaman keagamaan yang pernah dialami dan dirasakan oleh individu. Misalnya perasan dekat dengan Tuhan, merasa dilindungi Tuhan, merasa diberkati dan merasa doanya dikabulkan, serta balasan dari perbuatan yang dilakukannya. e. Aspek konsekuensi Mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotivasi oleh ajaran agamanya di dalam kehidupan sosial. Misalnya apakah dia menjenguk temannya yang sakit, membantu orang lain yang sedang mengalami kesusahan, serta menolong tanpa mengharapkan imbalan, dan mengutamakan kepentingan orang lain diatas kepentingan pribadi.
 Lebih lanjut, Ancok dan Nashori (2008) mengungkapkan religiusitas memiliki lima aspek, yaitu : a. Pertama akidah, yaitu tingkat keyakinan seorang Muslim terhadap kebenaran ajaran-ajaran agama Islam. b. Kedua syariah, yaitu tingkat kepatuhan Muslim dalam mengerjakan kegiatankegiatan ritual sebagaimana disuruh dan dianjurkan dalam agama Islam. c. Ketiga akhlak, yaitu tingkat perilaku seorang Muslim berdasarkan ajaran-ajaran agama Islam, bagaimana berealisasi dengan dunia beserta isinya. d. Keempat pengetahuan agama, yaitu tingkat pemahaman Muslim terhadap ajaranajaran agama Islam, sebagaimana termuat dalam al-Qur’an. e. Kelima penghayatan, yaitu mengalami perasaan-perasaan dalam menjalankan aktivitas beragama dalam agama Islam. Konsep dimensi-dimensi religisuitas yang diungkapkan Ancok dan Nashori (2008), menggambarkan konsep religisuitas menurut agama Islam

Pengertian Religiusitas (skripsi dan tesis)

Menurut Ancok dan Suroso (1994) religiusitas adalah keberagaman yang berarti meliputi berbagai macam sisi atau dimensi yang bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), namun juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Sedangkan Nashori dan Mucharam (2002) mendefinisikan religiusitas sebagai seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa pelaksanaan ibadah dan kaidah, dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianut. Sedangkan Pargament (1999) mendefinisikan religiusitas “is an organizational, ritualistic, and ideological system“ adalah organisasi, ritualistik, dan sistem ideologis, senada dengan Piedmont et al. (2009) menyebutkan religiusitas “is concerned with how one’s experience of a transcendent being is shaped by, and expressed through, community or social organization.” berhubungan dengan pengalaman manusia sebagai makhluk transenden yang diekspresikan melalui komunitas/organisasi sosial.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Altruisme (skripsi dann tesis)

 Menurut Myers (2012) faktor-faktor altruisme adalah sebagai berikut : a. Faktor yang mempertimbangkan pengaruh-pengaruh internal terhadap keputusan menolong, hal ini juga termasuk menggambarkan situasi suasana hati, pencapaian reward, empati, mood seseorang. b. Faktor eksternal seperti jenis kelamin, kesamaan karakteristik, kedekatan hubungan, daya tarik antar penolong dan yang ditolong, jumlah pengamatan lain, tekanan waktu, kondisi lingkungan dan antribusi. c. Faktor personal, yaitu mempertimbangkan sifat dari penolong, hal ini mencakup sifat-sifat kepribadian, gender, dan religiusitas subyek (kepercayaan religius).
 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku altruisme menurut Sarwono (1999) adalah: a. Pengaruh situasi, merupakan pengaruh eksternal yang diperlukan sebagai motivasi yang mungkin timbul dalam diri individu pada situasi itu pengaruh ini terdiri atas : (1.) Kehadiran orang lain; (2.) Menolong jika orang lain menolong; (3.) Desakan waktu; (4.) Kemampuan yang dimiliki b. Pengaruh dari dalam diri individu, sangat berperan pada perilaku individu dalam menolong yang dapat dibagi dalam : (1.) Perasaan dari dalam diri individu dapat mempengaruhi perilaku menolong artinya baik perasaan kasihan maupun perasaan antipasti dapat berpengaruh terhadap motivasi individu dalam menolong; (2.) faktor sifat-sifat individu memiliki ciri-ciri dan kualitas yang khas, setiap individu memiliki sifat yang unik dan berbeda dengan sifat individu yang lain; (3.) Agama, ternyata juga dapat mempengaruhi perilaku menolong
. Menurut penelitian Sappington dan Baker (dalam Sarwono, 1999), yang berpengaruh pada perilaku menolong bukanlah seberapa kuatnya ketaatan beragama itu sendiri, melainkan bagaimana kepercayaan atau keyakinan orang bersangkutan tentang pentingnya menolong yang lemah seperti yang diajarkan oleh agama. c. Karakter orang yang ditolong, individu kadang-kadang dipengaruhi oleh karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan apakah orang itu menarik secara fisik atau ada hal-hal lain yang membuat individu merasa tertarik untuk memberikan pertolongan. Berdasarkan uraian faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku altruisme yaitu diantaranya: situasi suasana hati, pencapaian reward, empati, mood seseorang, jenis kelamin, kesamaan karakteristik, kedekatan hubungan, dan daya tarik antar penolong dan yang ditolong, jumlah pengamatan lain, tekanan waktu, kondisi lingkungan dan antribusi, sifat-sifat kepribadian, gender, dan religiusitas. Peneliti memilih faktor religiusitas, karena religiusitas merupakan keberagamaan yang dilakukan oleh individu lewat suatu tindakan salah satunya adalah dengan berbuat baik kepada sesama dengan cara memberikan bantuan tanpa mengharapkan imbalan atau disebut juga dengan perilaku altruisme.

Aspek-aspek Perilaku Altruisme (skripsi dan tesis)

 Menurut Cohen (dalam Sampson, 1976) altruisme terdiri atas aspek – aspek sebagai berikut: a. Sifat suka memberi Perilaku untuk mememnuhi keinginan orang lain, perilaku ini menguntungkan orang lain yang mendapatkan perlakuan. Contoh: berbagi rezeki dengan orang yang lebih membutuhkan. b. Empati Suatu kemampuan untuk merasakan keadaan orang lain, kepekaan perasaan yang dicerminkan dalam perhatian terhadap penderitaan orang lain dan merupakan dasar untuk melakukan tindakan pertolongan bagi orang lain. Contoh : ikut merasa sedih ketika teman mengalami musibah dan memberi pertolongan. c. Sukarela Tindakan yang dilakukan tanpa adanya keinginan untuk mendapatkan imbalan apapun dengan perasaan ikhlas untuk kepentingan orang lain. Contoh : menolong orang lain tanpa mengharapkan balasan dari orang yang ditolong.
 Menurut teori Myers (2012) membagi perilaku altruisme dalam tiga aspek yaitu: a. Memberi perhatian terhadap orang lain Individu membantu orang lain karena adanya kasih sayang. Pengabdian, kesetiaan yang diberikan tanpa ada keinginan untuk memperoleh imbalan untuk dirinya sendiri. b. Membantu orang lain Individu dalam membantu orang lain disadari oleh keinginan yang tulus dan hati nurani dari orang tersebut, tanpa adanya penagruh dari orang lain. c. Mengutamakan kepentingan orang lain Dalam membantu orang lain, kepentingan yang bersifat pribadi dikesampingkan dan lebih mementingkan kepentingan orang lain. Berdasarkan uraian aspek-aspek perilaku altruisme dari kedua tokoh diatas dapat disimpulkan bahwa peneliti memilih aspek-aspek sesuai dengan teori Cohen (dalam Sampson, 1976), yaitu: sifat suka memberi, empati, sukarela. Peneliti memilih ketiga aspek tersebut karena aspek tersebut lebih rinci untuk menjelaskan altruisme secara menyeluruh melalui ketiga aspek yang telah dipaparkan diatas

Pengertian Perilaku (skripsi dan tesis)

 

Altruisme Istilah altruisme (altruism) digunakan pertama kali pada abad ke-19 oleh filsuf Auguste Comte. Altruisme berasal dari kata Yunani “alteri” yang berarti orang lain. Penggunaan istilah “alteri” oleh Comte pada dasarnya untuk menjelaskan bahwa setiap orang yang hidup di muka bumi ini memiliki sebuah tanggung jawab moral untuk melayani umat manusia sepenuhnya, sehingga setiap orang harus memiliki sikap dan perilaku yang tidak hanya mementingkan diri sendiri, tetapi lebih mengutamakan kepentingan orang lain. Altruisme adalah sebuah bentuk yang spesifik dari perilaku yang menguntungkan orang lain tapi tidak ada ekspektasi akan memperoleh keuntungan pribadi (Crisp dan Turner, 2007). Contoh dari altruisme adalah menyelamatkan seseorang dari tertabrak kereta api secara spontan. Usaha menolong ini memng menguntungkan bagi orang lain, namun tidak dapat dipungkiri menyisakan kemungkinan adanya resiko bagi penolong. Batson (1943) menyatakan bahwa altruisme adalah keadaan termotivasi yang dilakukan untuk mencapai kesejahteraan orang lain. Perilaku atau tindakan altruisme merupakan bentuk perilaku sosial yang ditujukan untuk kebaikan orang lain.
Pernyataan ini seperti diungkap oleh Walstern dan Piliavin (Huffman dkk, 1997) perilaku altruisme adalah perilaku menolong (perilaku altruisme) yang timbul bukan karena adanya tekanan atau kewajiban, melainkan tindakan tersebut bersifat suka rela dan tidak berdasarkan norma–norma tertentu, tindakan tersebut juga dapat merugikan penolong, karena meminta pengorbanan waktu, usaha, uang dan tidak ada imbalan atau pun reward dari semua tindakan tersebut. Menurut Cohen (Sampson, 1976) perilaku altruisme diawali adanya suatu keinginan untuk memberikan memberikan pertolongan tanpa mengharapkan imbalan. Lebih lanjut Bartal, dkk (dalam Desmita, 2010) mendefinisikan altruisme sebagai tahap dimana individu melakukan tindakan menolong secara sukarela. Perilaku altruisme yang motifnya untuk mengurangi atau menghilangkan perasaan sedih atau tekanan personal, maka akan menimbulkan perilaku altruisme yang bersifat egoistik. Berdasarkan beberapa pengertian yang sudah dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa perilaku altruisme adalah perilaku menolong yang sengaja ditujukan untuk menguntungkan orang lain yang dilakukan secara suka rela tanpa adanya imbalan yang dapat menyebabkan kerugian waktu, usaha, uang pada si penolong dari semua tindakan tersebut.

Hubungan Antara Religiusitas dengan Altruisme (skripsi dan tesis)

Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Esa selain sebagai makhluk individu, juga sebagai makhluk sosial. Makhluk sosial memiliki arti bahwa manusia memerlukan bantuan atau pertolongan dari orang lain dalam menjalankan kehidupannya, mulai dari lahir sampai meninggal dunia. Sebagai makhluk sosial yang membutuhkan pertolongan orang lain, maka sudah semestinya kita juga secara sukarela memberikan pertolongan atau bantuan kepada orang lain. Perilaku tolong menolong dalam psikologi dikenal dengan altruisme (Wulandari, 2017). Myers (2012) mendefinisikan altruisme adalah motif untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri. Altruisme adalah kebalikan dari egoisme. Orang yang altrustis peduli dan mau membantu orang lain meskipun tidak ada keuntungan yang ditawarkan atau tidak mengharapkan imbalan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi altruisme adalah religiusitas (Myers, 2012). Di samping adanya teori di atas, ada banyak penelitian yang menjelaskan tentang keterkaitan antara altruisme dengan religiusitas. Salah satunya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Batson, Schoenrade, dan Ventis (dalam Zhao, 2012) yang mengatakan bahwa religiusitas merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi altruisme. Senada dengan penelitian tersebut Zhao (2012) menyatakan bahwa orang-orang yang religius mempunyai perilaku yang lebih   altruistik daripada orang yang non religius. Selain itu, Malhotra (2010) dalam penelitiannya juga menemukan bahwa religiusitas merupakan faktor utama yang mempengaruhi altruisme, orang yang religius berkarakteristik lebih stabil, sehingga spontanitas untuk memberikan bantuan lebih besar. Religiusitas adalah sebagai keberagaman yang berarti meliputi berbagai macam sisi atau dimensi yang bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat oleh mata, tapi juga aktivitas yang tak tampak dan terjadi di dalam hati seseorang. Oleh karena itu, keberagamaan seseorang akan meliputi berbagai macam sisi atau dimensi (Ancok & Suroso, 2011).
Menurut Ancok dan Suroso (2011) dengan mengacu pada dimensi religiusitas dari Glock dan Stark, religiusitas Islam meliputi lima dimensi, yaitu: (1) dimensi keyakinan atau akidah, (2) dimensi peribadatan atau syari’ah, (3) dimensi pengalaman atau ihsan, (4) dimensi pengetahuan atau ilmu, dan (5) dimensi pengamalan atau akhlak. Dimensi Keyakinan atau akidah menunjukkan seberapa jauh tingkat keyakinan seorang muslim terhadap kebenaran ajaran-ajaran agamanya, terutama terhadap ajaran-ajaran yang bersifat fundamental dan dogmatik (Ancok & Suroso, 2011). Kemudian Batson, Schoenrade, dan Ventis (dalam Zhao, 2012) mengatakan bahwa semakin kuat keyakinan agama seseorang maka semakin tinggi altruisme yang dimilikinya. Dalam agama Islam menghendaki pemeluknya untuk meyakini ajaran agamanya secara komprehensif dan optimal, salah satu perintah yang sangat  dianjurkan di dalam Islam adalah saling tolong menolong (Gatot, 2015). Perilaku tolong menolong dalam psikologi dikenal dengan altruisme (Wulandari, 2017). Dimensi peribadatan atau syari’ah menunjukkan seberapa jauh seorang muslim dalam menjalankan kewajibannya untuk mengerjakan kegiatan ritual atau beribadah yang dianjurkan oleh agamanya (Ancok & Suroso, 2011). Dalam agama islam menghendaki pemeluknya untuk mengerjakan apa yang diperintahkan, salah satu ibadah yang dianjurkan di dalam Islam yaitu tolong menolong atau meringankan beban orang lain (Gatot, 2015). Sebagaimana yang telah diperintahkan dalam sebuah hadist Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (H.R Muslim) Kemudian Allah SWT menegaskan kembali mengenai kewajiban tolongmenolong dalam hal kebaikan dalam firman-Nya, sebagai berikut : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulanbulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Maidah : 2)
Ayat ini memberikan perintah untuk saling tolong menolong dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa merupaka perintah bagi seluruh manusia. Yakni, hendaknya menolong sebagian yang lain dan berusaha untuk mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan mengaplikasikannya. Sebab setiap kebajikan adalah ketaqwaan dan setiap taqwa adalah kebajikan (Gatot, 2015). Berkaitan dengan tolong menolong salah satu contoh dari tingkah laku menolong yang paling jelas adalah altruisme (Hermaningrum, 2017), sehingga seharusnya seorang penganut agama yang taat memiliki perilaku altruisme (Midlarsky, 2012). Dimensi pengamalan atau akhlak menunjukkan seberapa tingkatan seorang muslim berperilaku dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya, yaitu bagaimana individu berelasi dengan dunianya, terutama dengan manusia lain (Ancok & Suroso, 2011). Bila individu tetap berpegang teguh pada ajaran Islam, maka Islam akan mengarahkan individu untuk berperilaku sesuai dengan norma agama yang dianutnya, keberagamaan akan mengerakkan individu untuk melaksanakan ajaran agama. Salah satu aspek terpenting dalam ajaran agama adalah perbuatan baik terhadap sesama misalnya yaitu saling tolong menolong (Gatot, 2015). Di dalam dimensi pengamalan meliputi bekerjasama, berlaku jujur, memaafkan, mematuhi norma-norma agama, berderma, suka menolong, dan sebagainya (Ancok & Suroso, 2011). Tolong menolong dalam psikologi disebut dengan altruisme (Wulandari, 2017). Dimensi pengalaman atau ihsan menunjukkan seberapa jauh tingkat seorang muslim dalam merasakan dan mengalami perasaan-perasaan dan pengalamanpengalaman religius (Ancok & Suroso, 2011). Dalam agama Islam menghendaki  pemeluknya menghayati ajaran agama secara kaffah (komprehensif) dan optimal, termasuk di dalamnya sifat yang sangat di anjurkan di dalam Islam yaitu tolong menolong sesama manusia (Gatot, 2015). Seorang muslim yang ber-taqwa menjalani segala perintah dan semua ibadah akan merasakan ketenangan di dalam hatinya, maka ketika seseorang berbuat baik kepada sesama dengan memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan akan merasakan ketenangan di dalam hatinya (Taslim, 2010). Membantu orang lain merupakan cakupan dari aspek Altruisme (Myers, 2012). Dimensi pengetahuan atau ilmu menunjukkan seberapa tingkat pengetahuan dan pemahaman seorang muslim terhadap ajaran agamanya, terutama mengenai ajaran-ajaran pokok dari agamanya, yang termuat di dalam kitab sucinya (Ancok & Suroso, 2011). Salah satu perbuatan yang diperintahkan dalam agama Islam adalah membantu orang lain dan mengedepankan kepentingan orang lain (Gatot, 2015). Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’la, sebagai berikut: “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada memiliki keinginan di dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr : 9) Ayat ini menunjukkan selamatnya hati mereka (orang-orang Anshar) dan tidak ada rasa dengki dan iri dihatinya kepada kaum muhajirin. Ayat ini juga menunjukkan sifat orang-orang Anshar yang mengutamakan orang lain daripada diri sendiri meskipun mereka membutuhkannya. Ayat tersebut turun saat peristiwa hijrah Nabi saw dimana kaum Anshar mendahulukan kaum muhajirin (Terjemahan 41 dan Tafsir Al-qur’an, 2013). Seorang muslim yang memiliki pengetahuan tentang ayat tersebut maka akan mencontoh perilaku kaum Anshar yang mendahulukan kepentingan kaum muhajirin (Gatot, 2015). Mendahulukan kepentingan orang lain diatas kepentingan pribadi merupakan cakupan dari aspek altruisme (Myers, 2012). Pada diri individu yang pemahaman agamanya baik tidak hanya sebatas kebenaran yang diyakini, tetapi secara konsisten tercermin dalam perilakunya dan salah satu bentuk dari perilaku tersebut adalah altruisme (Rain dalam Gatot, 2015).

Dimensi-dimensi Religiusitas (skripsi dan tesis)

 Menurut Glock & Stark (dalam Ancok & Suroso, 2011) dimensi-dimensi religiusitas terdiri dari lima macam, yaitu:   a. Dimensi Keyakinan (Religious Belief/ The Ideological Dimensions) Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran ajaran-ajaran tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat kepercayaan dimana para penganut diharapkan diharapkan akan taat. Walaupun demikian, isi dan ruang lingkup keyakinan itu bervariasi tidak hanya diantara agama-agama, tetapi seringkali juga diantara tradisi-tradisi dalam agama yang sama. b. Dimensi Ritualistik (Religious Practice/ The Ritualistic Dimensions) Dimensi ritualistik mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan halhal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktik-praktik keagamaan ini terdiri dari dua kelas penting yaitu ritual dan ketaatan. c. Dimensi Pengalaman atau Eksperiensial (Religious e. Feeling/ The Experiential Dimensions) Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subjektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir (kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatas supernatural). Seperti yang telah dikemukakan bahwa dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsipersepsi, dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang atau didefinisikan oleh  suatu kelompok keagamaan (atau suatu masyarakat) yang melihat komunikasi walaupun kecil dalam suatu esensi ketuhanan, yaitu dengan Tuhan, kenyataan terakhir, dengan otoritas transendental. d. Dimensi Pengetahuan (Religious Knowledge/ The Intellectual Dimensions) Dimensi ini mengacu pada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, tata cara dalam upacara keagamaan, kitab suci dan tradisi-tradisi. Dimensi pengetahuan dan keyakinan saling berkaitan satu sama lain, karena pengetahuan mengenai suatu keyakinan adalah syarat bagi penerimanya. Walaupun demikian, keyakinan tidak perlu diikuti oleh syarat pengetahuan, juga semua pengetahuan agama tidak selalu bersandar pada keyakinan. Lebih jauh, seseorang dapat berkeyakinan kuat tanpa benarbenar memahami agamanya, atau kepercayaan bisa kuat atas dasar pengetahuan yang amat sedikit. e. Dimensi Pengamalan atau Konsekuensi (Religious Effect/ The Consequential Dimensions) Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Walaupun agama banyak menggariskan bagaimana pemeluknya seharusnya berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari, tidak sepenuhnya hanya sebatas mana konsekuensi-konsekuensi agama merupakan bagian dari komitmen keagamaan atau semata-mata berasal dari agama.
 Menurut Ancok dan Suroso (2011) dengan mengacu pada dimensi religiusitas dari Glock dan Stark, religiusitas Islam meliputi lima dimensi, yaitu: a. Dimensi keyakinan atau akidah Islam Dimensi ini menunjukkan seberapa jauh tingkat keyakinan seorang muslim terhadap kebenaran ajaran-ajaran agamanya, terutama terhadap ajaran-ajaran yang bersifat fundamental dan dogmatik. Di dalam isi dimensi akidah menyangkut keyakinan tentang Allah, para malaikat, Nabi atau Rasul, kitab-kitab Allah, surga dan neraka, serta qadha dan qadar. b. Dimensi peribadatan atau syari’ah (ibadah) Dimensi ini menunjukkan sejauh mana seorang muslim dalam menjalankan kewajibannya untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual sebagaimana yang dianjurkan oleh agamanya. Di dalam dimensi peribadatan menyangkut pelaksanaan shalat, puasa, zakat, membaca AlQur’an, berdoa, zikir, haji, ibadah kurban, iktikaf, dan sebagainya. c. Dimensi pengamalan (akhlak) Dimensi ini menunjuk seberapa tingkatan seorang muslim berperilaku dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya, yaitu bagaimana individu berelasi dengan dunianya, terutama dengan manusia lain. Di dalam dimensi ini meliputi perilaku suka menolong, bekerjasama, berderma, menegakkan keadilan dan kebenaran, berlaku jujur, memaafkan, tidak mencuri, mematuhi norma-norma agama dalam berperilaku seksual, berjuang untuk hidup sukses dalam beragama, dan sebagainya.  d. Dimensi penghayatan atau pengalaman (ihsan) Dimensi ini menunjukkan seberapa jauh tingkat seorang muslim dalam merasakan dan mengalami perasaan-perasaan dan pengalamanpengalaman religius. Di dalam keberislaman dimensi ini terwujud dalam perasaan dekat atau akrab dengan Allah, perasaan cinta pada Allah, perasaan doa-doa yang sering terkabul, perasaan tenteram bahagia, perasaan tawakkal, perasaan khusuk ketika beribadah, dan sebagainya. e. Dimensi pengetahuan atau ilmu Dimensi ini menunjukkan seberapa tingkat pengetahuan dan pemahaman seorang muslim terhadap ajaran-ajaran agamanya, terutama mengenai ajaran-ajaran pokok dari agamanya, sebagaimana termuat dalam kitab sucinya. Di dalam dimensi ini meliputi pengetahuan tentang isi AlQur’an, pokok ajaran yang harus diimani dan dilaksanakan (rukun Islam dan rukum iman), hukum dalam Islam, sejarah tentang Islam, dan sebagainya.

Pengertian Religiusitas (Skripsi dan tesis)

Religiusitas berasal dari kata religi berasal dari bahasa Latin yaitu “religio” yang akar katanya adalah religure yang artinya adalah mengikat. Maka dari itu mengandung makna bahwa religi atau agama pada umumnya memiliki aturan dan kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemeluknya. Semua itu berfungsi untuk mengikat seseorang atau sekelompok orang dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia, dan sekitarnya  (Gazalba dalam Ghufron & Risnawati, 2016). Adapun pengertian agama menurut Glock & Stark (dalam Ancok dan Suroso, 2011) adalah sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang terlembagakan, yang semua itu berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai yang paling bermakna (Glock & Stark dalam Ancok & Suroso, 2011). Berdasarkan istilah agama yang telah dijelaskan di atas, kemudian muncul apa yang dinamakan religiusitas. Walaupun berakar kata sama, namun dalam penggunaan istilah religiusitas mempunyai makna yang berbeda dengan religi atau agama. Menurut Mangunjaya (dalam Jalaluddin, 2016) agama lebih menunjukkan kepada kelembagaan yang mengatur tata cara beribadah manusia kepada Tuhan, sedangkan religiusitas lebih melihat kepada aspek yang telah dihayati di dalam lubuk hati manusia.
 Ancok dan Suroso (2011) mendefinisikan religiusitas sebagai keberagaman yang berarti meliputi berbagai macam sisi atau dimensi yang bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat oleh mata, tapi juga aktivitas yang tak tampak dan terjadi di dalam hati seseorang. Oleh karena itu, keberagamaan seseorang akan meliputi berbagai macam sisi atau dimensi. Ghufron dan Risnawita (2016) menjelaskan bahwa religiusitas adalah tingkat penghayatan dan internalisasi ajaran agama sehingga berpengaruh dalam dalam segala tindakan dan pandangan hidup. Selain itu Jabrohim (dalam 27 Jalaluddin, 2016) menjelaskan bahwa dalam pendekatan psikologi, religiusitas merupakan konstruk psikologi dan agama yang tidak terpisahkan. Religiusitas adalah inti dari kualitas hidup manusia, dan harus dimaknakan sebagai rasa rindu, rasa ingin bersatu, rasa ingin berada dengan sesuatu yang abstrak. Religiusitas mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia dan diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia (Nashori, 2008).
Selain itu, Norris dan Inglehart (dalam Wulandari, 2017) mendefinisikan religiusitas yaitu sebagai nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan praktik-praktik agama yang ada dalam suatu masyarakat. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa religiusitas sebagai keberagaman yang berarti meliputi berbagai macam sisi atau dimensi yang bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat oleh mata, tapi juga aktivitas yang tak tampak dan terjadi di dalam hati seseorang. Oleh karena itu, keberagamaan seseorang akan meliputi berbagai macam sisi atau dimensi

Aspek-Aspek Empati (skripsi dan tesis)

Davis (2014) mengemukakan bahwa secara global ada dua aspek dalam empati, yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif terdiri dari pengambilan perspektif (perspective taking) dan Imajinasi (fantacy). Sedangkan aspek afektif terdiri dari perhatian empatik (empathic Concern) dan distress pribadi (personal distress). Keempat aspek tersebut mempunyai arti sebagai berikut: a. Aspek Kognitif
1) Pengambilan Perspektif (Perspective Taking) Perspective-taking didefinisikan oleh Davis sebagai kecenderungan mengadopsi pandangan-pandangan psikologis orang lain secara spontan. Mead (dalam Davis, 1983) menekankan pentingnya kemampuan dalam pengambilan perspektif untuk perilaku non egosentrik, yaitu kemampuan yang tidak berorientasi pada kepentingan sendiri, tetapi pada kepentingan orang lain. Pengambilan perspektif dalam empati meliputi proses self identification dan self positioning. Self identification yaitu mengarahkan individu untuk menyentuh kesadaran dirinya sendiri melalui perspektif yang dimiliki oleh orang lain, sementara self positioning yaitu memandu individu untuk memposisikan diri pada situasi dan kondisi orang lain untuk kemudian membantu penyelesaian masalahnya.
 2) Imajinasi (Fantasy) Kemampuan seseorang untuk mengubah diri mereka secara imajinatif dalam mengalami perasaan dan tindakan dari karakter khayal (membayangkan) dalam buku, film atau cerita yang dibaca dan ditontonnya. Fantacy merupakan aspek yang berpengaruh pada reaksi emosi terhadap orang lain dan menimbulkan perilaku menolong. b. Aspek Afektif 1) Perhatian Empatik (Empathic Concern) Perasaan yang berorientasi pada orang lain berupa simpati, kasihan, peduli dan perhatian terhadap orang lain yang mengalami kesulitan. Aspek ini berhubungan secara positif dengan reaksi emosional, perilaku menolong pada orang lain dan merupakan cerminan dari perasaan kehangatan yang erat kaitannya dengan kepekaan dan kepedulian terhadap orang lain. Perhatian yang muncul pada seseorang mencerminkan pula tingkat kematangan emosi dan empati dari orang tersebut. Seseorang yang telah matang tingkat emosinya memiliki kemungkinan yang lebih besar pula dalam mengendalikan empatinya dengan baik. Perhatian yang diberikan bisa dalam bentuk implisit maupun eksplisit, tergantung bentuk situasi dan kondisinya. 2) Distress Pribadi (Personal Distress) Distress pribadi atau personal distress yaitu orientasi seseorang terhadap dirinya sendiri yang berupa perasaan cemas dan kegelisahan dalam menghadapi setting (situasi) interpersonal yang tidak menyenangkan. Personal Distress yang tinggi membuat kemampuan sosialisai seseorang menjadi rendah.
 Sears (dalam Taufik, 2012) mendefinisikan personal distress sebagai pengendalian reaksi pribadi terhadap penderitaan orang lain, yang meliputi perasaan terkejut, takut, cemas, prihatin, dan tidak berdaya (lebih terfokus pada diri sendiri). Menurut Baron dan Byrne (2005) menyatakan bahwa empati terdiri dari 2 aspek yaitu: 1) Kognitif Individu yang memiliki kemampuan empati dapat memahami apa yang orang lain rasakan dan mengapa hal itu dapat terjadi pada orang tersebut. Kognisi yang relevan termasuk kemampuan untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain, terkadang disebut sebagai pengambilan perspektif (perspective taking), mampu untuk menempatkan diri dalam posisi orang lain. Kemampuan untuk merasa empati pada karakter fiktif. Penonton yang merasa berempati akan mengalami kesedihan, ketakutan, atau kegembiraan, ketika emosi-emosi ini dialami oleh karakter dalam cerita. 2) Afektif Individu yang berempati merasakan apa yang dirasakan orang lain. Bahkan anak-anak yang berusia 2 bulan tampak jelas dapat merasakan stress sebagai respon dari stress yang dirasakan orang lain (Brothers, dalam Baron & Byrne, 2005). Aspek ini tidak hanya merasa simpati terhadap penderitaan orang lain, tetapi juga mengekspresikan kepedulian dan mencoba untuk 25 melakukan sesuatu untuk meringankan penderitaan mereka. Misalnya, individu yang memiliki empati yang tinggi akan lebih termotivasi untuk menolong orang lain daripada mereka yang memiliki empati yang rendah (Schlenker & Britt, dalam Baron & Byrne, 2005).

Pengertian Empati (skripsi dan tesis)

Empati merupakan kemampuan seseorang untuk mengenal dan memahami emosi, pikiran serta sikap orang lain (Davis, 2014). Selain itu, Baron dan Byrne (2005) menyatakan bahwa empati merupakan kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Cohen (dalam Howe, 2013) mendefinisikan empati sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan oleh orang lain dalam rangka untuk merespons pikiran dan perasaan mereka dengan sikap yang tepat. Selain itu, Allport (dalam Taufik, 2012) mendefinisikan empati sebagai perubahan imajinasi seseorang ke dalam pikiran, perasaan, dan perilaku orang lain. Taufik (2012) berpendapat bahwa empati merupakan suatu aktivitas untuk memahami apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan orang lain, serta apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh yang bersangkutan (observer, perceiver) terhadap kondisi yang sedang dialami orang lain, tanpa yang bersangkutan kehilangan kontrol dirinya. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa empati merupakan kemampuan seseorang untuk mengenal dan memahami emosi, pikiran, serta sikap orang lain

Faktor-faktor Altruisme (skripsi dan tesis)

 Menurut Myers (2012) ada beberapa faktor yang mempengaruhi altruisme yaitu faktor internal, faktor situasional, dan faktor personal. Faktor internal meliputi imbalan (reward) dan empati. Faktor situasional meliputi jumlah pengamat, membantu ketika orang lain juga membantu (ada model), tekanan waktu, dan adanya kesamaan. Faktor personal meliputi sifat-sifat kepribadian, gender, dan religiusitas. Faktor-faktor yang mempengaruhi altruisme akan dijelaskan secara rinci di bawah ini:
a. Faktor Internal
 1) Imbalan (reward) Imbalan (reward) yang memotivasi untuk menolong bisa jadi bersifat eksternal ataupun internal. Imbalan yang bersifat eksternal yaitu kita memberi untuk mendapatkan sesuatu. Biasanya seseorang lebih suka menolong orang yang menarik bagi dirinya (Krebs, dalam Myers, 2012). Misalnya ketika sebuah perusahaan menyumbangkan uang agar mendapatkan kesan yang baik. Kemudian contoh lainnya yaitu ketika seseorang menawarkan tumpangan berharap akan mendapatkan penghargaan atau agar bisa bersahabat dengan orang yang diberikan tumpangan tersebut. Lalu imbalan yang bersifat internal yaitu ketika memberikan pertolongan kepada orang lain akan merasa bahwa diri kita berharga, seseorang akan merasa baik setelah melakukan kebaikan. 2) Empati Empati adalah pengalaman yang mewakili perasaan orang lain, menempatkan diri sendiri pada orang lain. Ketika kita merasakan empati, kita tidak berfokus terlalu banyak kepada tekanan yang kita rasakan sendiri, melainkan berfokus kepada mereka yang mengalami penderitaan. Batson (dalam Howe, 2013) menemukan bahwa ketika tingkat perasaan empati sangat tinggi, orang-orang akan cenderung melakukan tindakan altruisme, bahkan dalam situasi-situasi yang relatif mudah untuk tidak terlibat atau tidak merespon sama sekali. Kepedulian empatik muncul ketika seseorang menyadari bahwa orang lain 16 membutuhkan bantuan, sehingga terdorong melakukan sesuatu untuk menolong tanpa memperhitungkan keuntungan. Sejalan dengan Batson, Temuan lain menunjukkan bahwa altruisme sejati memang ada, dengan tergugahnya empati mereka, orang akan membantu meskipun mereka percaya bahwa tidak akan ada satu orang pun yang tahu mengenai perilaku menolong yang mereka lakukan. Kepedulian mereka akan berlanjut hingga seseorang telah terbantu (Fultz dkk., dalam Myers, 2012). Maka dengan tergugahnya empati, banyak orang yang termotivasi untuk membantu orang lain yang sedang membutuhkan atau tertekan, bahkan ketika bantuan tersebut tanpa menyebutkan nama (Myers, 2012).
 b. Faktor Situasional
1) Jumlah Pengamat Latane dan Darley (Myers, 2012) menyimpulkan bahwa ketika jumlah pengamat mengalami peningkatan, masing-masing pengamat tersebut memiliki kemungkinan yang semakin kecil untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, memiliki kecenderungan yang lebih kecil untuk menginterpretasikan apa yang sedang terjadi sebagai suatu masalah atau suatu kondisi darurat, dan memiliki kecenderungan yang lebih kecil untuk berasumsi bahwa mereka bertanggung jawab untuk mengambil suatu tindakan. 17 2) Membantu Ketika Orang Lain Juga Membantu (ada model) Salah satu kondisi yang mempengaruhi seseorang cenderung akan memberikan bantuan adalah ketika baru saja mengobservasi ada orang lain yang juga memberikan bantuan. Bryan dan Mary Ann Test (Myers, 2012) menemukan bahwa para pengemudi di Los Angeles lebih cenderung menawarkan bantuan kepada seorang pengemudi wanita yang mengalami kempes ban jika seperempat mil sebelumnya telah melihat seseorang membantu untuk mengganti ban. 3) Tekanan Waktu Kondisi yang dapat meningkatkan perilaku menolong adalah memiliki setidaknya cukup waktu luang, seseorang yang sedang terburuburu cenderung tidak memberikan pertolongan. Hal ini didukung oleh temuan Darley dan Batson (Myers, 2012) bahwa seseorang yang sedang tidak terburu-buru mungkin akan menawarkan bantuan kepada seseorang yang sedang mebutuhkan, sedangkan orang yang sedang terburu-buru cenderung tidak menawarkan bantuan kepada seseorang yang sedang membutuhkan. 4) Adanya Kesamaan Kesamaan erat kaitannya dengan menyukai, dan menyukai terkait erat dengan membantu, kita akan lebih empati dan cenderung membantu seseorang yang sama atau mirip dengan kita (Miller dkk., dalam Myers, 2012). Bias kesamaan ini terjadi pada tampilan luar ataupun  kepercayaan. Seseorang cenderung membantu orang lain yang memiliki kesamaan atau kemiripan dengan dirinya.
 c. Faktor Personal
1) Sifat-sifat Kepribadian Para peneliti kepribadian telah melakukan penelitian bagaimana sifat kepribadian dalam mempengaruhi altruisme. Pertama, ditemukannya perbedaan individual dalam perilaku menolong dan terlihat bahwa perbedaan-perbedaan tersebut bertahan sepanjang waktu dan dikenali oleh rekan-rekan dari orang tersebut (Hampson dkk., dalam Myers, 2012). Kedua, para peneliti menemukan bahwa seseorang yang memiliki emosi positif yang tinggi, empati, dan efikasi diri adalah orang yang yang paling besar kemungkinan memiliki perhatian dan bersedia memberikan bantuan (Einsberg dkk., dalam Myers, 2012). Ketiga, kepribadian mempengaruhi bagaimana orang tertentu bereaksi terhadap situasi-situasi tertentu Carlo dkk., dalam Myers 2012). Seseorang yang memiliki pemantauan diri yang tinggi akan bergantung pada harapan orang lain, sehingga akan cenderung lebih penolong karena berpikir bahwa perilaku menolong akan mendapatkan imbalan secara sosial (White & Gerstein, dalam Myers, 2012). 2) Jenis Kelamin (Gender) Alice Eagly dan Maureen Crowly (dalam Myers, 2012) menjelaskan bahwa ketika menghadapi situasi-situasi yang berpotensi menimbulkan bahaya ketika ada seseorang yang mebutuhkan bantuan 19 para pria lebih sering memberikan bantuan pada situasi seperti ini. Sedangkan pada situasi-situasi yang lebih aman, para wanita cenderung memberikan bantuan pada situasi-situasi tersebut. Oleh karena itu, perbedaan gender ini tergantung pada situasi yang ada. Jika dihadapkan pada masalah seorang teman, para wanita akan merespons dengan empati yang lebih besar dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menolong (George dkk., dalam Myers, 2012). 3) Religiusitas Batson (dalam Zhao, 2012) mengatakan bahwa religiusitas merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi altruisme. Semua ajaran-ajaran agama besar secara eksplisit mendorong altruisme, oleh karena itu semakin kuat keyakinan agama seseorang maka semakin tinggi altruisme seseorang. Sejalan dengan Batson, Steefen & Masters (dalam Myers, 2012) mengatakan bahwa empat agama terbesar di dunia yaitu Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha semuanya mengajarkan tentang kasih sayang dan beramal. Dalam semua agama-agama ini, menjadikan altruisme sebagai salah satu tujuan yang penting bahkan menjadi yang utama. Harapannya adalah agama harus membantu setiap individu untuk mencapai altruisme (Midlarsky, 2012). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Shah & Ali (2012) sebagian besar agama mendorong adanya altruisme. Agama dapat membawa seseorang untuk berperilaku tanpa pamrih, berbelas kasih, dan bermurah hati. Maka melalui agama dapat menumbuhka altruisme. 20 Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi altruisme menurut Myers yaitu faktor internal, faktor situasional, dan faktor personal. Faktor iternal meliputi imbalan (reward) dan empati. Faktor situasional meliputi jumlah pengamat, membantu ketika orang lain juga membantu (ada model), tekanan waktu, dan adanya kesamaan. Faktor personal meliputi sifat-sifat kepribadian, gender, dan religiusitas.

Aspek-aspek Altruisme (skripsi dan tesis)

Myers (2012) menjelaskan bahwa altruisme memiliki 3 aspek, antara lain:
 a. Memberikan perhatian terhadap orang lain Seseorang memberikan bantuan kepada orang lain karena adanya rasa kasih sayang, pengabdian serta kesetiaan yang diberikan, tanpa ada keinginan untuk memperoleh imbalan untuk dirinya sendiri. b. Membantu orang lain Seseorang yang memberikan bantuan kepada orang lain disadari oleh keinginan yang tulus dan dari hati nuraninya, tanpa ada yang meminta ataupun mempengaruhinya untuk menolong orang lain. c. Meletakkan kepentingan orang lain diatas kepentingan diri sendiri Dalam memberikan bantuan kepada orang lain, kepentingan yang bersifat pribadi akan dikesampingkan dan lebih mementingkan kepentingan orang lain.
Sementara itu Leeds (Taufik, 2012) menjelaskan bahwa suatu tindakan pertolongan dapat dikatakan altruisme jika memenuhi kriteria, yaitu: a. Memberikan manfaat bagi orang yang ditolong atau berorientasi untuk kebaikan orang yang akan ditolong, karena bisa jadi seseorang berniat menolong, namun pertolongan yang diberikan tidak disukai atau dianggap kurang baik oleh orang yang ditolong. b. Pertolongan yang telah diberikan berproses dari empati atau simpati yang selanjutnya menimbulkan keinginan untuk menolong, sehingga tindakannya itu dilakukan bukan karena paksaan melainkan secara sukarela diinginkan oleh yang bersangkutan.  c. Hasil akhir dari tindakan itu bukan untuk kepentingan diri sendiri, atau tidak ada maksud-maksud lain yang bertujuan untuk kepentingan si penolong. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek altruisme menurut Myers meliputi memberikan perhatian kepada orang lain, membantu orang lain, dan meletakkan kepentingan orang lain diatas kepentingan diri sendiri.
 Sementara itu menurut Leeds aspek-aspek altruisme meliputi memberikan manfaat bagi orang yang ditolong atau berorientasi untuk kebaikan orang yang akan ditolong, pertolongan yang diberikan berproses dari empati, dan hasil akhir dari tindakan itu bukan untuk kepentingan diri sendiri. Pada penelitian ini, peneliti memilih aspek-aspek altruisme dari Myers, karena aspek yang dibuat lebih detail sehingga memudahkan peneliti dalam pembuatan instrumen pengumpulan data. Selain itu, teori ini juga telah digunakan dalam beberapa penelitian terdahulu seperti penelitian yang dilakukan oleh Afivah (2016).

Pengertian Altruisme (skripsi dan tesis)

Myers (2012) mendefinisikan altruisme adalah motif untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri. Altruisme adalah kebalikan dari egoisme. Orang yang altruis peduli dan mau membantu orang lain meskipun tidak ada keuntungan yang ditawarkan atau tidak mengharapkan imbalan. Pendapat lain dikemukakan oleh Baron & Byrne (2005) yang menyatakan bahwa altruisme yang sejati adalah kepedulian yang tidak mementingkan diri sendiri melainkan untuk kebaikan orang lain. Selain itu, Santrock (2003) mendefinisikan altruisme adalah minat yang tidak mementingkan dirinya sendiri untuk menolong orang lain. Altruisme diartikan oleh Aronson, Wilson, & Alkert (Taufik, 2012) sebagai pertolongan yang diberikan secara murni, tulus, tanpa mengharap balasan apapun dari orang lain dan tidak memberikan manfaat apapun untuk dirinya. Selain itu, Schroeder, Penner, Dovidio, dan Pilavin (Taylor, dkk., 2009) menyatakan bahwa altruisme adalah tidakan sukarela untuk membantu orang lain tanpa pamrih, atau sekedar ingin beramal baik. Comte (Taufik, 2012) menjelaskan bahwa altruisme berasal dari kata “alter” yang artinya “orang lain”.
Secara bahasa altruisme adalah perbuatan yang berorientasi pada kebaikan orang lain. Comte membedakan antara  perilaku menolong yang altruis dengan perilaku menolong yang egois. Menurutnya dalam memberikan pertolongan, manusia memiliki dua motif, yaitu altruis dan egois. Perilaku menolong yang egois tujuannya mencari manfaat untuk diri sendiri (penolong) atau mengambil manfaat dari orang yang ditolong, sedangkan perilaku menolong yang altruis yaitu perilaku menolong yang ditujukan semata-mata untuk kebaikan orang yang ditolong, selanjutnya Comte menyebut perilaku menolong ini dengan altruisme. Sementara Batson (Taufik, 2012) mengartikan altruisme yang tidak jauh berbeda dengan Comte yaitu dorongan menolong dengan tujuan utama semata-mata untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain, sedangkan egoisme yaitu dorongan menolong dengan tujuan semata-mata untuk kepentingan dirinya. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa altruisme merupakan motif untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri. Orang yang altruis peduli dan mau membantu orang lain meskipun tidak ada keuntungan yang ditawarkan atau tidak mengharapkan imbalan

Penilaian Kualitas Hidup menurut Kidney Disease Quality of Life Short Form (skripsi dan tesis)

 Kidney Dissease Quality of Life Short Form 36 terdiri dari 36 pertanyaan yang akan mengukur delapan dimensi yang terkait dengan kualitas hidup yanitu fungsi fisik yang terdiri dari 10 pertanyaan, masalah fisik terdiri dari 4 pertanyaan, rasa nyeri terdiri dari 5 pertanyaan, fungi sosial terdiri dari 2 pertanyaan, energi terdiri dari 4 pertanyaan, peranan emosi terdiri dari 3 pertanyaan dan kesehatan mental terdiri dari 5 pertanyaan (Ware et al, 1993 dalam Arde Yani, Fitri Ika, 2010). Delapan dimensi tersebut dapat dikumpulkan menjadi dua komponen besar yaitu komponen fisik dan komponen mental. Skor SF 36 berkisar antara 0-100 dimana semakin tinggi skor menunjukkan semakin baiknya kualitas hidup terkait kesehatan pasien (Ware et al, 1993 dalam Arde Yani, Fitri Ika, 2010). Dan 42 penghitungan hasil skor kualitas hidup berasarkan SF 36 menggunakan daftar nilai. Untuk skor akhir, dilakukan perhitungan rata-rata pada masing-masing pertanyaan yang menunjukkan dimensi yang diwakilinya sehingga akan menunjukkan skor masing-masing dimensi yaitu dimensi fungsi fisik, keterbatasan fisik, rasa nyeri, kesehatan umum, fungsi sosial, energi, keterbatasan emosi dan kesehatan mental (RAND, 2009 dalam Arde Yani, Fitri Ika, 2010). 1. Fungsi fisik (Physical Functioning) Terdiri dari 10 pertanyaan yang menilai kemampuan aktivitas seperti berjalan, menaiki tangga, mengbungkuk, mengangkat, dan gerak badan. Nilai rendah menunjukkan keterbataan akibat tersebut, sedangkan nilai yang tinggi menunjukkan kemampuan melakukan semua aktivitas fisik termasuk latihan berat 2. Keterbatasan akibat masalah fisik (Role of Physical) Terdiri dari 4 pertanyaan yang mengevaluasi seberapa besar kesehatan fisik mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari lainnya. Nilai yang rendah menunjukkan bahwa kesehatan fisik menimbulkan masalah terhadap aktivitas sehari-hari, antara lain tidak dapat melakukannya dengan sempurna, terbatas dalam melakukan tertentu atau kesulitan didalam melakukan aktivitas. Nilai yang tinggi menunjukkan kesehatan fisik tidak menimbulkan masalah terhadap pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. 3. Perasaan sakit/nyeri (Bodily Pain) 43 Terdiri dari 2 pertanyaan yang mengevaluasi intensitas nyeri dan pengaruh nyeri terhadap pekerjaan normal baik didalam maupun luar rumah. Nilai yang rendah menunjukkan tidak ada keterbatasan yang disebabkan oleh rasa nyeri. 4. Persepsi kesehatan umum (General Health) Terdiri dari 5 pertanyaan yang mengevaluasi kesehatan saat ini, ramalan tentang kesehatan dan daya tahan terhadap penyakit. Nilai yang rendah menunjukkan perasaan terhadap keehatan diri sendiri yang memburuk. Nilai yang tinggi menunjukkan persepsi teradap kesehatan diri yang baik. 5. Energi/fatique (Vitality) Terdiri dari 4 pertanyaan yang mengevaluasi tingkat kelelahan, capek dan lesu. Nilai yang rendah menunjukkan perasaan lelah, capek dan lesu sepanjang waktu. Nilai yang tinggi menunjukkan perasaan penuh semangat dan berenergi. 6. Fungsi sosial (Social Functioning) Terdiri dari 2 pertanyaan yang mengevaluasi tingkat kesehatan fisik atau masalah emosional yang mengganggu aktivitas sosial normal. Nilai yang rendah menunjukkan gangguan yang sering, nilai yang tinggi menunjukkan tidak adanya gangguan. 7. Keterbatasan akibat masalah emosional (Role Emotional) Terdiri dari 3 pertanyaan yang mengevaluasi tingkat emosional yang mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-harinya. Nilai yang rendah menunjukkan masalah emosional yang mengganggu aktivitas 44 termasuk menurunnya waktu yang dihabiskan untuk beraktivitas, pekerjaan menjadi kurang sempurna, dan bahkan tidak dapat bekerja seperti biasanya. Nilai yang tinggi menunjukkan tidak adanya gangguan aktivitas akibat masalah emosional. 8. Kesehatan mental (Mental Health) Terdiri dari 5 pertanyaan yan mengevaluasi kesehatan mental secara umum termasuk depresi, kecemasan, dan kebiasaan mengontrol emosional. Nilai yang rendah menunjukkan perasaan tegang dan depresi sepanjang waktu. Nilai yang tinggi menunjukkan perasaan tenang, bahagia, dan penuh kedamaian.

Pemberian skor kuesioner didasarkan pada jawaban responden dalam memilih 46 respon. Berikut merupakan penjelasan cara pemberian skor pada kuesioner SF-36: 1. Dimensi fisik terdapat 10 pertanyaan yaitu pada nomer 3,4,5,6,7,8,9, 10, 11, 12. Pada setiap item tersebut apabila responden menjawab respon 1 yaitu sangat membatasi diberikan skor 0, respon 2 yaitu sedikit membatasi diberikan skor 50, respon 3 yaitu tidak membatasi diberikan nilai 100. 2. Dimensi keterbatasan akibat masalah fisik terdapat 4 pertanyaan yaitu pada nomer 13, 14, 15, 16. Pada setiap item pertanyaan apabila responden menjawab respon 1 yaitu “ Ya” diberikan skor 0, sedangkan bila menjawab respon 2 yaitu “Tidak” diberi skor 100. 3. Dimensi perasaan sakit/nyeri terdapat 2 pertanyaan yaitu pada nomer 21 dan 22. Pada soal no 21 apabila responden menjawab pilihan respon 1 yaitu tidak ada nyeri diberikan skor 100, respon 2 yaitu nyeri sangat ringan diberikan skor 80, respon 3 yaitu nyeri ringan diberikan skor 60, respon 4 yaitu nyeri sedang diberikan skor 40, respon 5 yaitu nyeri sekali diberikan skor 20, respon 6 yaitu sangat nyeri sekali diberikan nilai 0. Pada soal no 22 apabila responden menjawab respon 1 diberikan skor 100, respon 2 diberikan skor 75, respon 3 diberikan skor 50, respon 4 diberikan skor 25 dan respon 5 diberikan skor 0. 47 4. Dimensi persepsi kesehatan secara umum terdapat 6 pertanyaan yaitu soal nomer 1, 2, 33, 34, 35, 36. Pada soal noer 1, 2, 34 dan 36 apabila responden menjawab pilihan respon 1 maka diberikan skor 100, respon 2 diberikan kor 75, respon 3 diberikan skor 50, respon 4 diberikan skor 25 dan respon 5 diberikan skor 0. Sedangkan untuk nomer 33 dan 35 pemberian skor respon adalah sebaliknya. 5. Dimensi energi terdapat 4 pertanyaan yaitu soal nomer 23, 27, 29, 31. Pada setiap item pertanyaan apabila responden menjawab respon 1 diberikan skor 100, respon 2 diberikan skor 80, respon 3 diberikan skor 60, respon 4 diberikan skor 40, respon 5 diberikan skor 20 dan respon 6 diberikan skor 0. 6. Dimensi fungsi fisik sosial terdapat 2 pertanyaan yaitu soal nomer 20 dan 32. Pada soal nomer 20 apabila responen memilih respon 1 diberikan skor 100, respon 2 diberikan skor 75, respon 3 diberikan skor 50, repon 4 diberikan 25 dan respon 5 diberikan kor 0. Sedangkan soal nomer 32 pemberian skor sebaliknya. 7. Dimensi keterbatasan akibat masalah emosional terdapat 3 pertanyaan yaitu soal nomer 17, 18, 19. Pada setiap item pertanyaan apabila responden mmemmilih respon 1 yaitu “Ya” diberikan skor 0 sedangkan bila respon 2 yaitu “Tidak” diberikan skor 100. 48 8. Dimensi kesehatan mental terdapat 5 pertanyaan yaitu soal nomer 24, 25, 26, 28, 30. Pada setiap item pertanyaan apabila responden memiliki respon 1 maka diberikan skor 100, respon 2 diberikan skor 80, respon 3 diberikan skor 60, respon 4 diberikan skor 40, respon 5diberikan skor 20 dan respon 6 diberikan skor 0. 2. Menentukan skor pada setiap dimensi Setelah respon responden dikonversikan kedalam bentuk skor, maka skor yang didapat pada masing-masing dimensi kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan nilai yang secara keseluruhan. Kemudian, menentukan rata-rata nilai tiap responden. Setelah itu merata-ratakan jumlah rata-rata nilai masing-masing responden (RAND, 2009).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup (skripsi dan tesis)

Kualitas hidup seseorang tidak dapat didefinisikan dengan pasti, hanya oran tersebut yang dapat mendefinisikannya, karena kualitas merupakan sesuatu yang bersifat subyektif Nurchayati, Sofia (2010). Menurut Yuliaw (2009) dalam Agustiawan dan Siregar (2013) kualitas hidup di pengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
 1. Usia
Usia menentukan kerentanan individu terhadap penyakit. Pada umumnya kualitas hidup cenderung menurun dengan meningkatnya umur. Pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis yang berusia lebih muda akan mempunyai kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan pasien yan berusia tua karena kondisi fisik pasien yang lebih baik. Penderita yang dalam usia produktif merasa terpacu untuk sembuh karena memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi sementara pasien yang lebih tua cenderung menyerahkan keputusan kepada keluara atau anak-anaknya, selain itu kebanyakan pasien yang berusia lanjut memiliki motivasi yang rendah dalam menjalani hemodialisis. Usia juga berkaitan dengan prognosa penyakit dan harapan hidup pasien yang berusia diatas 55 tahun memiliki risiko tinggi terjadinya komplikasi yang memperberat fungsi ginjal dibandingkan paien yan berusia dibawah 40 tahun 37 Indonesiannursing, (2008) dan Siregra, (2013).
Menurut Harlock, (1998), usia dibagi menjadi 3 yaitu:
 a. Masa dewasa awal yaitu 18-40 tahun
Masa dewasa awal secara biologis merupakan masa puncak pertumbuhan fisik yang prima dan usia tersebut dari populasi manusia secara keseluruhan. Pada masa dewasa awal ini perkembangan fisik mengalami degradasi sedikit demi seikit mengikuti umur seseorang menjadi lebih tua. Sedangkan secara segi emosional, dewasa awal adalah masa dimana motivasi untuk meraih sesuatu sangat besar yang didukung kekuatan fisik yang prima.
b. Masa dewasa madya, yaitu 40-60 tahun
Masa usia dewasa madya diartikan sebagai suatu masa menurunnya keterampilan fisik dan pikologis. Pada tahap dewasa madya aspek fisik seseorang mulai melemah, terasuk fungsi alat indra ( terutama indera pendengaran dan penglihatan) serta mengalami penyakit tertentu yang sebelumnya belum pernah dialami. Akibat perubahan fisik yang semakin melemah, akan berpengaruh terhadap peran dan fungsinya di masyarakat menyebabkan menurunnya interaksi. Secara kognitif usia dewasa madya mengalami penurunan kemampuan mengingat, berfikir, dan mekanisme yang memerlukan kecepatan dan keakuratan.
c. Masa dewasa lanjut yaitu 60 tahun ke atas 38
pada tahap ini ditandai dengan semakin melemahnya kemampuan fisik dan pikis seseorang (meliputi pendengaran, penglihatan, daya ingat, pola pikir serta interaksi sosial). Selain itu, pada tahap ini terjadi penurunan pertumbuhan dan reproduksi sel menyebabkan terjadi banyak kegagalan pergantian sel yang rusak sehingga menyebabkan proses penyembuhan terhadap suatu penyakit akan berjalan lebih lama. Secara kognitif, kecepatan memperoleh informasi mengalami penurunan serta ketidakmampuan mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan dalam ingatannya.
 2. Jenis kelamin
Satvik et al (2008) dalam Nurchayati, Sofia (2010) menyatakan bahwa secara nyata perempuan memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki, sedangkan Bakewell et al dalam Farida (2010) mengungkapkan perempuan mudah dipengaruhi oleh depresi karena berbagai alasan yang terjadi dalam kehidupannya, seperti mengalami sakit yang mengarah pada kekurangan kesempatan dalam semua aspek kehidupannya.
3. Pendidikan
Penderita yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas juga memungkinkan dapat mengontrol dirinya dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Selain itu, pengetahuan atau kognitif merupakan  domain yang penting untuk terbentuknya tindakan, prilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada yang tidak didasari pengetahuan (Notoadmojo, 2005). Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka ia akan cenderung berprilaku poitif karena pendidikan yang diperoleh dapat meletakkan dasardasar pengertian dalam diri seseorang.
 4. Pekerjaan
Berbagai jenis pekerjaan akan berpengaruh pada frekuensi dan distribusi penyakit. Hal ini disebabkan sebagian hidup digunakan untuk bekerja dengan berbagai urusan lingkungan yang berbeda (Budiarto dan Anggraini, 2002)..
5. Ekonomi
Sekarang yang mempunyai status sosial yang berkecukupan akan mampu menyediakan fasilitas yang ddiperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, individu yang status sosial ekonominya rendah akan mengalami kesulitan didalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Sunaryo, 2004).
 6. Lamanya menjalani terapi
 Pasien yang telah lama menjalani terapi hemodialisis maka akan semakin patuh dalam menjalani terapi karena pasien telah sapai paa taap enerima keadaanya. Selain itu mereka telah mendapatkan pendidikan kesehatan tentang penyakit an pentingnya menjalani terapi hemodialisis.
 7. Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan medis pada pasien hemodialisis meliputi terapi diet baik makanan maupun cairan serta medikasi. Diet merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani terapi hemodialisis terkait efek uremia. Pembatasan asupan makanan dapat berupa pembatasan asupan nutrium, protein, kalium dan karbohidrat. Program retrikasi cairan bertujuan untuk meminimalkan risiko kelebihan cairan. Peberian medikasi pada pasien dengan hemodialisis harus dipertimbangkan dengan cermat dan dosis pemberian obat harus diturunkan aar karbohidrat ala arah dan jaringan tidak menjadi racun
. 8. Dukungan keluarga
Dukungan keluarga dapat mempengaruhi kepuasan seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari termasuk kepuasan terhadap status kesehatannya. Memberikan perawatan kesehatan kepada keluarga merupakan hal yang paling dalam membantu mencapai suatu keadaan sehat hingga tingkat yang optimum. Moran, dkk (1997) dalam Nurchayati, Sofia (2010) menyatakan dukungan keluarga berpengaruh penting dalam pelaksanaan pengobatan berbagai penyakit kronis. Pada paien penyakit gagal ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis, dukungan keluarga sangat berperan dalam meninkatkan kesehatan yang akan mempengaruhi kualitas hidup pasien.
9. Kesehatan fisik
 Kesehatan fisik mempunyai beberapa dampak terhadap kualita hidup seseorang. Kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas tertentu dapat menjadi faktor mengikat atau menurunya kualitas hidup (Son at al, dalam Mailani, Fitri, 2015)
10. Kesehatan psikologis
 Depresi dan kecemasan merupakan gangguan psikologis yang paling sering dialami yang seseorang yang disebabkan karena gejala uremia, seperti kelelahan, gangguan tiur, menurunnya nafsu makan dan gangguan kognitif (Son, ae al, 2012 dalam Mailani, Fitri, 2015).

Model Konsep Kualitas Hidup (skripsi dan tesis)

 Kualitas hidup sangat berubungan dengan aspek/dominan yang dinilai meliputi fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Model konsep kualitas hidup dari WHOQol-Bref (The World Health Organization Quality of Life-Bref) mulai berkembang sejak tahun 1991. Instrumen ini terdiri dari 26 item pertanyaan yang terdiri dari 4 dimensi (Skevington et al, dalam Nurchayati, Sofia, 2010) yaitu: 1. Kesehatan fisik yang terdiri dari rasa nyeri, energi, istirahat tidur, mobilisasi, aktivitas, pengobatan dan pekerjaan. 2. Psikologis yang terdiri dari perasaan positif dan negatif, cara berfikir, harga diri, body image, spiritual. 3. Hubungan sosial terdiri dari hubungan individu, dukungan sosial, aktivitas seksual. 4. Lingkungan meliputi sumber keuangan, informasi dan keterampilan, rekreasi dan bersantai, lingkungan rumah, akses keperawatan kesehatan dan sosial, keamanan fisik, lingkungan fisik, transportasi.
Menurut lopes dan synder (dalam Edesia, 2008), kualitas hidup dibagi menjadi 4 dimensi, yaitu: a. Dimensi kesehatan fisik 1) Aktifitas sehari-hari 2) Ketergantungan obat dan bantuan medis  3) Energi dan kelemahan 4) Mobilisasi 5) Sakit dan ketidaknyamanan 6) Tidur dan istirahat 7) Kepastian kerja b. Dimensi kesejahteraan psikologis 1) Body image dan appearance, yaitu bagaiman cara individu memandang keadaan tubuh serta penampilannya. 2) Perasaan negatif 3) Perasaan positif 4) Sel-esteem yaitu bagaimana individu tersebut menilai atau menggambarkan dirinya sendiri. 5) Berfikir, belajar, memori, dan konsentrasi. c. Dimensi hubungan sosial 1) Relasi personal. 2) Dukungan sosial. 3) Aktifitas seksual. d. Dimensi hubungan dengan lingkungan 1) Sumber finansial. 2) Perawatan kesehatan dan sosial care. 3) Lingkungan rumah. 4) Kesempatan mendapatkan info baru dan keterampilan. 5) Kegiatan mengikuti rekreasi. 6) Lingkungan fisik. 7) Transportasi

Pengertian Kualitas Hidup (skripsi dan tesis)

Kualitas hidup adalah persepsi individu terhadap posisinya dalam kehidupan, dalam konteks budaya dan sistem nilai diman individu tersebut, dan berhubungan terhadap tujuan, harapan, standar dan keinginan (the world health organization Quality of life-bref). Nurcahyani, Sofia (2010) menyebutkan bahwa kualitas hidup seseorang tidak dapat didefinisikan dengan pasti, hanya orang tersebut yang dapat mendefinisikannya, karena kualitas merupakan sesuatu yang bersifat subyektif. Terdapat dua komponen dasar dari kualitas hidup yaitu, subyektifitas dan multidimensi. Subyektifitas mengandung arti bahwa kualitas hidup lansia hanya dapat ditentukan dari sudut pandang klien itu sendiri dan ini hanya dapat diketahui dengan bertanya langsung kepada klien. Sedangkan multidimensi bermakna bahwa kualitas hidup dipandang dari seluruh aspek kehidupan seseorang secara holistik meliputi aspek biologis, psikologis, sosial dan lingkungan. Sedangkan Polinsky (2000) dalam Nurchayati, Sofia (2010) mengatakan bahwa untuk mengetahui bagaimana kualitas hidup seseorang maka apat diukur dengan mempertimbangkan status fisik, psikologis, sosial dan kondisi penyakit. Kualitas hidup menurut Wolrd Health Organktzation (WHO) adalah perspsi individu mengenai posisi individu dalam hidup dalam 34 konteks budaya dan sistem nilai dimana individu hidup dan hubungannya dengan tujuan, harapan, standar yang ditetapkan, dan perhatian seseorang (Silitonga, 2007).

Pemeriksaan penunjang Gagal Ginjal Kronik (skripsi dan tesis)

Pada gagal ginjal kronik dapat dilakukan pemeriksaan salah satunya dengan ultrasonografi gagal ginjal. Ultrasonografi saat ini digunakan sebagai pemeriksaan rutin dan merupakan pilihan pertama pada penderita gagal ginjal kronik. Pada gagal ginjal tahap awal ukuran ginjal masih terbilang normal sedangkan pada gagal ginjal kronik ukuran ginjal pada umunya mengecil, dengan penipisan parenkim, peninggian ekogenitas parenkim dan batas kartikomedular yang sudah tidak jelas/mengecil. Ultrasonografi juga dapat digunakan   untuk menilai ukuran serta ada tidanya obstruksi ginjal (Andika 2003)

Penatalaksanaan Gagal Ginjal Kronik (skripsi dan tesis)

Penatalaksanaan gagal ginjal kronik (stage V) adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis. Penatalaksanaan tersebut meliputi penanganan konservatif, yaitu : 32 1. Menghambat perburukan fungsi ginjal/mengurangi hiperfiltrasi glomerulus dengan diet seperti pembatasan asupan protein dan fosfat. 2. Terapi farmakologis dan pencegahan serta pengobatan terhadap komplikasi, bertujuan mengurangi hipertensi intraglomerulus dan memperkecil resiko terhadap penyakit kardiovascular seperti diabetes, hipertensi, dislipidemia, anemia, asidosis, neuropati perifer, kelebihan cairan dan keseimbangan elektrolit (Price & Wilson 2005). Terapi pengganti ginjal dilakukan pada seseorang yang mengidap penyakit gagal ginjal kronik atau ginjal tahap akhir, yang bertujuan untuk menghindari komplikasi dan memperpanjang umur pasien. Terapi pengganti ginjal dibagi menjadi dua, antara lain dialysis (hemodialisis dan peritoneal dialisis) dan transplantasi ginjal (Shahgholian et al. 2008).

Patofisiologi Gagal Ginjal Kronik (skripsi dan tesis)

Patofisiologi pada gagal ginjal kronik tergantung dari penyakit yang menyebabkannya. Pada awal perjalanannya, keseimbangan cairan dan penimbunan produksi sisa masih bervariasi dan bergantung pada bagian ginjal yang sakit. Sampai fungsi ginjal turun 30 kurang dari 25%, manifestasi gagal ginjal kronik mungkin minimal karena nefron – nefron lain yang sehat mengambil alih fungsi nefron yang rusak. Nefron yang rusak meningkatkan laju filtrasi, reabsorbsi dan sekresinya serta mengalami hipertrofi dalam proses tersebut. Seiring dengan semakin banyaknya nefron yang mati, nefron yang tersisa menghadapi tugas yang semakin berat, sehingga nefron– nefron tersebut menglami kerusakan dan akhirnya mati. Siklus kematian ini tampaknya berkaitan dengan nefron – nefron yang ada untuk meningkatkan reabsorbsi protein. Seiring dengan progesif penuyusutan dari nefron, akan terjadi pembentukan jaringan parut dan penurunan aliran darah ke ginjal (Corwin 2009). Uremia mengacu pada banyak efek yang dihasilkan dari ketidakmampuan untuk mengekskresikan produk dari metabolisme protein dan asam amino. Beberapa produk metabolisme tertentu menyebabkan disfungsi organ (Milner 2003). Efek multiorgan uremia juga disebabkan oleh gangguan dari berbagai metabolisme dan fungsi endokrin yang biasanya dilakukan oleh ginjal (Milner 2003). Dari urutan kejadian diatas akan menimbulkan berbagai manifestasi klinis dan komplikasi pada seluruh sistem tubuh. Semakin banyak tertimbun sisa akhir metabolisme, maka gejala akan semakin berat. Klien akan merasa kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari–hari akibat timbulnya berbagai macam manifestasi klinis tersebut. Beberapa komplikasi yang ditimbulkan akan berpengaruh buruk terhadap kualitas hidup (Corwin 2009)

Manifestasi Klinis Gagal Ginjal Kronik (skripsi dan tesis)

Tanda dan gejala pada pasien gagal ginjal kronik dapat diklasifikasikan sesuai denga derajatnya. Berikut adalah tanda dan gejala gagal ginjal kronik (Black & Hawks dikutip dalam Nurchayati 2010). a. Derajat I Pasien dengan tekanan darah normal, tanpa abnormalitas hasil tes laboratorium dan tanpa manifestasi klinis . b. Derajat II Umumnya asimptomatik, berkembang menjadi hipertensi dan munculnya nilai laboratorium yang abnormal. c. Derajat III Asimptomatik, nilai laboratorium menandakan adanya abnormalitas pada beberapa sistem organ. d. Derajat IV Munculnya manifestasi klinis penyakit ginjal kronik berupa kelelahan dan penurunan rangsangan. e. Derajat V Peningkatan Blood Urea Nitrogen (BUN) dan anemia.

Etiologi GAgal Ginjal Kronik (skripsi dan tesis0

Beberapa penyakit yang dapat merusak nefron dapat mengakibatkan gagal ginjal yang kronik. Penyebab utama penyakit gagal ginjal kronik adalah diabetes melitus yaitu sebesar 30%, hipertensi 24%, glomerulonhepritis 17%, chronic pyelonephritis 5% dan yang terakhir tidak diketahui penyebabnya sebesar 20% (Milner 2003).

Pengertian Gagal ginjal kronik (Skripsi dan tesis)

Pengertian Gagal ginjal kronik (chronic kidney disease adalah destruksi struktur ginjal yang progresif dan terus menerus. Gagal ginjal kronik dapat timbul dari hampir semua penyakit penyerta, akan terjadi perburukan fungsi ginjal secara progresif yang ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) yang progresif (Corwin 2009).  The National Kidney Foundation (2002) mendefinisikan gagal ginjal kronik sebagai adanya kerusakan ginjal, atau menurunnya tingkat fungsi ginjal untuk jangka waktu tiga bulan atau lebih. Gagal ginjal kronik ini dapat dibagi lagi menjadi 5 tahap, tergantung pada tingkat keparahan kerusakan ginjal dan tingkat penurunan fungsi ginjal. Tahap 5 Chronic Kidney Disease (CKD) disebut sebagai stadium akhir penyakit ginjal (end stage renal disease / end stage renal failure). Tahap ini merupakan akhir dari fungsi ginjal. Ginjal bekerja kurang dar 15% dari normal (Corrigan 2011). Gagal ginjal kronik (GGK) yang mulai perlu dialisis adalah penyakit ginjal kronik yang mengalami penurunan fungsi ginjal dengan laju filtrasi glomerulus (LFG) <15 mL/menit. Pada keadaan ini fungsi ginjal sudah sangat menurun sehingga terjadi akumulasi toksin dalam tubuh yang disebut dengan uremia. Pada keadaa uremia dibutuhkan terapi pengganti ginjal untuk mengambil alih fungsi ginjal dalam mengeliminasi toksin tubuh sehingga tidak terjadi gejala yang lebih berat (Cahyaningsih 2008).

Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan (skripsi dan tesis)

Friedman (1998), membagi 5 tugas kesehatan yang harus dilakukan oleh keluarga yaitu: 1. Mengenal adanya gangguan kesehatan setiap anggotanya, 2. Mengambil keputusan untuk mengambil tindakan yang tepat, 3. Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit, cacat, maupun yang tidak sakit dan memerlukan bantuan, 4. Mempertahankan keadaan lingkungan keluarga yang dapat menunjang peningkatan status para anggotannya, dan 5. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan

Tugas Perkembangan Keluarga (skripsi dan tesis)

 

Adalah tanggung jawab pertumbuhan yang harus dicapai oleh sebuah keluarga dalam setiap tahap perkembangannya sehingga kebutuhan biologis, kewajiban budaya, dan nilai serta aspirasi keluarga terpenuhi (Friedman, 2010). tiga asumsi dasar teori perkembangan keluarga, seperti yang diuraikan oleh (Friedman, 2010) adalah :
1. Perilaku keluarga adalah jumlah pengalaman sebelumnya dari anggota keluarga sebagaimana yang terjadi pada saat ini dan saat pengalaman mereka pada masa depan,
 2. Perkembangan dan perubahan berkali-kali pada keluarga terjadi dengan cara serupa dan konsisten, dan
 3. Keluarga dan anggota kelurga melakukan tugas tertentu dengan waktu spesifik yang diatur oleh mereka dan oleh konteks budaya dan sosial

Fungsi Keluarga (skripsi dan tesis)

 Keberadaan keluarga pada umunya adalah untuk memenuhi fungsifungsi keluarga. Fungsi keluarga, berbeda sesuai dengan sudut pandan terhadap keluarga. Akan tetapi, dari sudut kesehatan keluarga yang sering digunakan adalah fungsi keluarga, yang disusun oleh Friedman berikut ini dijelaskan fungsi keluarga dari Depkes RI dan Friedman (Andarmoyo, 2012): Menurut (PP No.21 Th.1994 dan UU No. 10 Tahun 1992) :
 1. Fungsi Keagamaan Keluarga adalah wahana utama dan pertama menciptakan seluruh anggota kelurga menjadi insane yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.Tugas dari fungsi keagamaan adalah :
1. Membina norma/ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh anggota keluarga,
 2. Menerjemahkan ajaran/norma agama dalam tingkah laku hidup sehari-hari seluruh anggota keluarga,
 3. Memberikan contoh konkrit pengalaman ajaran agama dalam hidup sehari-hari,
 4. Melengkapi dan menambah proses kegiatan belajar anak tentang keagamaan yang tidak atau kurang diperoleh di sekolah atau masyarakat, dan
5. Membina rasa, sikap dan praktik kehidupan keluarga beragama sebagai fondasi menuju keluarga kecil bahagi dan sejahtera.
 2. Fungsi sosial budaya Keluarga berfungsi untuk menggali, mengembangkan dan melestarikan sosial budaya Indonesia, dengan cara:
1. Membina tugas-tugas keluara sebagai lembaga untuk meneruskan norma dan budaya masyarakat dan bangsa yang ingin dipertahankan,
 2. Membina Tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk menyaring norma budaya asing yang tidak sesuai,
 3. Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga dimana anggotanya mengadakan kompromi/adptasi dari praktik globalisasi dunia, dan
 4. Membina budaya keluarga yang sesuai, selaras dan seimbang dengan budaya masyarakat/bangsa untuk terwujudnya keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
 3. Fungsi kasih sayang Keluarga berfungsi mengembangkan rasa cinta dan kasih sayang setiap anggota keluarga, antarkerabat, antargenerasi.
 Termasuk dalam fungsi ini adalah:
 1. Menumbuh kembangkan potensi kasih sayang yang telah ada diantara anggota keluarga ke dalam simbol-simbol nyata/ucapan dan perilaku secara optimal dan terus menerus,
 2. Membina tingkah laku saling menyanyangi baik antara keluarga yang satu dengan yang lainnya secara kuantitatif dan kualitatif,
3. Membina praktik kecintaan terhadapkehidupan duniawi dan ikhrowi dalam keluarga secara serasi, selaras dan seimbang, dan
4. Membina rasa, sikap dan praktik hidup keluarga yang mampu memberikan dan menerima kasih sayang sebagai pola hidup ideal menuju KKBS.
4. Fungsi perlindungan Fungsi yang memberikan rasa aman secara lahir dan batin kepada setiap anggota keluarga.
 Fungsi ini menyangkut :
1. Memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik dari rasa tidak aman yang timbul dari dalam maupun dari luar keluarga,
2. Membina keamanan keluarga baik fisik, psikis, maupun dari berbagai bentuk ancaman dan tantangann yang datang dari luar, dan
 3. Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai modal menuju KKBS.
 5. Fungsi reproduksi Memberikan keutuhan yang berkualitas melalui, pengaturan dan rencana yang sehata dan menjadi insane pembangunan yang handal, dengan cara :
 1. Membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan reproduksi sehat bagi anggota keluarga sekitarnya,
2. Memberikan contoh pengalaman kaidah-kaidah pembentukan keluarga dalam hal usia, pendewasaan fisik maupun mental,
 3. Mengalamkan kaidah reproduksi sehat, baik yang berkaitan dengan waktu melahirkan, jarak dan jumlah ideal anak yang diinginkan dalam keluarga, dan
4. Mengembangkan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal yang kondusif menuju KKBS.
 6. Fungsi pendidikan dan sosialisasi Keluarga nerupakan tempat pendidikan utama dan pertama anggota keluarga yang berfungsi untuk meningkatkan fisik, mental, sosial, dan spiritual secara serasi selaras dan seimbang fungsi ini adalah :
1. Menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga sebagai wahana pendidikan dan sosialisasi anak yang pertama dan utama,
 2. Menyadari, merencanakan dan menciptakan kehidupan keluarga sebagai pusat dimana anak dapat mencari pemecahan masalah  dari konflik yang dijumpai, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat, dan
3. Membina proses pendidikan dan sosialisasi anak tenttang hal-hal yang diperlukan untuk meningkatkan kematangan dan kedewasaan fisik dan mental, yang tidak/kurang diberikan oleh linkungan sekolah maupun masyarakat.
7. Fungsi ekonomi Keluarga meningkatkan ketrampilan dalam usaha ekonomis produktif agar pendapatan keluarga meningkatkan dan tercapai kesejahteraan :
1. Melakukan kegiatan ekonomi baik diluar maupun dalam lingkungan keluarga dalam rangka menompang kelangsungan dan perkembangan kehidupan keluarga
, 2. Mengelola ekonomi keluarga sehingga terjadi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran keluarga,
3. Mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua di luar rumah dan perhatianya terhadap anggota keluarga berjalan seras, selaras, dan seimbang, dan
 4. Membina kegiatan dan hasil ekonomi keluarga sebagai modal mewujudkan KKBS.
 8. Fungsi pembinaan lingkumgan
1. Meningkatkan diri dalam lingkungan sosial budaya dan lingkungan alam sehingga tercipta lingkungan yang seras, selaras, dan seimbang,
2. Membina kesadaran, sikap dan praktik pelestarian lingkungan hidup eksterna keluarga,
3. Membina kesadaran, sikap dan praktik pelestarian lingkungn hidup yang seras, selaras dan seimbang antara lingkungan keluarga dengan lingkungan hidup masyarakat sekitarnya, dan
 4. Membina kesadaran, sikap dan praktik lingkungan hidup sebagai pola hidup keluarga menuju KKBS.
Meskipun banyak fungsi-fungsi keluarga seperti disebutkan diatas,pelaksanaan fungsi keluarga di Indonesia secara singkat dapat sebagai berikut : Asih : Memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman,hangat kepada seluruh anggota keluarga sehingga dapat berkembang sesuai usia da kebutuhan Asah : Memenuhi pendidikan anak sehingga siap menjadi manusia dewasa, mandiri dan dapat memenuhi kebutuhan masa depan Asuh: Memelihara dan merawat anggota keluarga aar tercapai kondisi yang sehat fisik, mental, sosial dan spiritual (Andarmoyo, 2012)
 Sedangkan menurut Friedman (1998) dalam Andarmoyo (2012), fungsi keluarga meliputi:
 1. Fungsi Afektif Yaitu perlindungan psikologis, rasa aman, interaksi, mendewasakan dan mengenal identitas diri individu,
2. Fungsi Sosialisasi Peran Adalah fungsi dan peran di masyarakat, serta sasaran untuk kontak sosial didalam/di luar rumah,
 3. Fungsi Reproduksi Adalah menjamin kelangsungan generasi dan kelangsungan hidup masyarakat, 4. Fungsi Memenuhi Kebutuhan Fisik dan Perawatan Merupakan pemenuhan sandang, pangan dan papan serta perawatan kesehatan,
5. Fungsi Ekonomi Adalah fungsi untuk pengadaan sumber dana, pengalokasian dan serta pengaturan keseimbangan, dan
6. Fungsi Pengontrol/Pengatur Adalah memberikan pendidikan dan norma-norma

Tujuan Keluarga (skripsi dan tesis)

 Menurut Andarmoyo (2012), tujuan dasar pembentukan keluarga adalah:
1. Keluarga merupakan unit dasar yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan individu,
 2. Keluarga sebagai perantara bagi kebutuhan dan harapan anggota keluarga dengan kebutuhan dan tuntunan masyarakat.
3. Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anggota keluarga dengan menstabilkan kebutuhan kasih sayang, sosioekonomi dan kebutuhan seksual, dan
 4. Keluarga memiliki pengaruh yang penting terhadap pembentukan indentitas seorang individu dan perasaan harga diri.
 Alasan Mendasar mengapa keluarga menjadi fokus sentral dalam perawatan adalah:
1. Dalam sebuah unit keluarga, disfungsi apa saja (penyakit, cidera, perpisahan) yang mempengaruhi satu atau lebih keluarga, dan dalam hal tertentu, sering akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain dan unit secara keseluruhan,
 2. Ada hubungan yang kuat dan signifikan antara keluarga dan status kesehatan para anggotanya,
 3. Melalui perawatan kesehatan keluarga yang berfokus pada peningkatan, perawatan diri, pendidikan kesehatan dan konseling keluarga serta upaya yang berarti dapat mengurangi risiko yang akan diciptakan oleh pola hidup keluarga dan bahaya lingkungan.
 4. Adanya masalah-masalah kesehatan pada salah satu anggota keluarga dapat menyebabkan ditemukannya faktor-faktor risiko pada anggota keluarga yang lain, dan 5. Keluarga merupakan sistem pendukung yang sangat vital bagi kebutuhan-kebutuhan individu. (Andarmoyo, 2012)

Pengertian Keluarga (skripsi dan tesis)

 Menurut (Iqbal, 2006) Banyaknya ahli menguraikan pengertian tentang keluarga sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat. berikut ini akan penulis kemukakan pengertian keluarga menurut beberapa ahli
1. Duvall Sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran,yang bertujuan menciptakan dan memepertahankan budaya umum, meningkatkan perkembangan fisik mental, emosional dan sosial dari tiap anggota
2. WHO, 1969 Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah adopsi atau perkawinan.
 3. Berges,1960 Yang dimaksud keluarga adalah :
1. Terdiri dari kelompok orang yang mempunyai ikatan perkawinan, keturunan atau hubungan sedarah atau hasil adopsi,
2. Anggota tinggal bersma dalam satu rumah,
3. Anggota berinteraksi dan berkomunikasi dalam sosial, dan
4. Mempunyai kebiasaan/kebudayaan yang berasal dari masyarakat tetapi keunikan tersendiri.
 5. Departemen kesehatan R.I 1998 Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang terkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
6. Andarmoyo (2016) Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan klien penerima asuhan keperawatan, keluarga berperan dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan bagi anggota keluarga yang sakit
Menurut Iqbal (2006)
Dari pengertian diatas tentang keluarga maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah
1. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah,perkawinan atau adopsi,
 2. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka memperhatikan satu sama lain,
3. Angota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial : suami, istri, anak, kakak, dan adik, dan
4. Mempunyai tujuan yaitu : menciptakan dan mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, sosial, psikologi dan social anggota.
 Dari uraian diatas menunjukan bahwa keluarga juga merupakan sistem. Sebagai sistem keluarga mempunyai anggota yaitu : ayah, ibu, dan anak atau semua individu yang ditinggal di dalam rumah tangga tersebut. Anggota keluarga tersebut saling berinteraksi,intrerelasi,dan interdepent untuk mencapai tujuan bersama. Keluarga merupakan sistem yang terbuka sehingga dapat dipengaruhi oleh supra system yaitu: lingkungan atau masyarakat dan sebaliknya sebagai sub system dari lingkungan atau masyarakat, keluarga dapat mempengarruhi masyarakat (supra system) oleh karena itu betapa pentingnya peran dan fungsi keluara dalam membentuk manusia sebagai anggota masyarakat yang sehat bio-psiko-sosial-spritual. Jadi sangatlah tepat bila keluarga sebagi titik sentral pelayanan keperawatan. Diyakini bahwa keluarga yang sehata akan mempunyai anggota yan sehat dan mewujudkan masyarakat yang sehat.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Dukungan (skripsi dan tesis)

 

Menurut Purnawan (2008) dalam Rahayu (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga adalah:
a. Faktor internal
1. Tahap perkembangan Artinya dukungan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap rentang usia (bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan yang berbeda-beda.
1. Pendidikan atau tingkat pengetahuan Keyakinan seseorang terhadap adanya dukungan terbentuk oleh variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan, latar belakang pendidikan dan pengalaman masa lalu. Kemampuan kognitif akan membentuk cara berfikir seseorang termasuk kemampuan untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga kesehatan dirinya.

2. Faktor emosi Faktor emosional juga mempengaruhi keyakinan terhadap adanya dukungan dan cara melakukannya. Seseorang yang mengalami respon stress dalam setiap perubahan hidupnya cenderung berespon terhadap berbagai tanda sakit, mungkin dilakukan dengan cara mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat mengancam kehidupannya. Seseorang yang 15 secara umum terlihat sangat tenang mungkin mempunyai respon emosional yang kecil selama ia sakit. Seorang individu yang tidak mampu melakukan koping secara emosional terhadap ancaman penyakit mungkin.

3. Spiritual Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang menjalani kehidupannya, mencakup nilai dan keyakinan yang dilaksanakan, hubungan dengan keluarga atau teman, dan kemampuan mencari harapan dan arti dalam hidup.
 b. Eksternal
 1. Praktik di keluarga Cara bagaimana keluarga memberikan dukungan biasanya mempengaruhi penderita dalam melaksanakan kesehatannya. Misalnya, klien juga kemungkinan besar akan melakukan tindakan pencegahan jika keluarga melakukan hal yang sama.
2. Faktor sosio-ekonomi Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereaksi terhadap penyakitnya. Variabel psikososial mencakup: stabilitas perkawinan, gaya hidup, dan lingkungan kerja.Seseorang biasanya akan mencari dukungan dan persetujuan dari kelompok sosialnya, hal ini akan mempengaruhi keyakinan kesehatan dan cara pelaksanaannya. Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang biasanya ia akan 16 lebih cepat tanggap terhadap gejala penyakit yang dirasakan. Sehingga ia akan segera mencari pertolongan ketika merasa ada gangguan pada kesehatannya.
3. Latar belakang budaya Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan individu, dalam memberikan dukungan termasuk cara pelaksanaan kesehatan pribadi

Manfaat Dukungan Keluarga (skripsi dan tesis)

Dukungan sosial keluarga adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang masa kehidupan, sifat dan jenis dukungan sosial berbedabeda dalam berbagai tahap-tahap siklus kehidupan. Namun demikian, dalam semua tahap siklus kehidupan, dukungan sosial keluarga membuat keluarga mampu berfungsi dengan berbagai kepandaian dan akal. Sebagai akibatnya, hal ini meningkatkan kesehatan dan adaptasi keluarga (Friedman, 1998). Wills (1985) dalam Friedman (1998), menyimpulkan bahwa baik efek-efek penyangga (dukungan sosial menahan efek-efek negatif dari stres terhadap kesehatan) dan efek-efek utama (dukungan sosial secara langsung mempengaruhi akibat-akibat dari kesehatan) ditemukan. Sesungguhnya efek-efek penyangga dan utama dari dukungan sosial terhadap kesehatan dan kesejahteraan boleh jadi berfungsi bersamaan

Jenis Dukungan Keluarga (Skripsi dan tesis)

 Menurut Friedman (1998), menyatakan bahwa keluarga berfungsi sebagai sistem pendukung bagi anggotanya. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung, selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan. Terdapat empat dimensi dari dukungan keluarga yaitu:
1. Dukungan emosional berfungsi sebagai pelabuhanistirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan emosional serta meningkatkan moral keluarga (Friedman, 2010). Dukungan emosianal melibatkan ekspresi empati, perhatian, pemberian semangat, kehangatan pribadi, cinta, atau bantuan emosional. Dengan semua tingkah laku yang mendorong perasaan nyaman dan mengarahkan individu untuk percaya bahwa ia dipuji, dihormati, dan dicintai, dan bahwa orang lain bersedia untuk memberikan perhatian (Sarafino, 2011)
2. Dukungan informasi, keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan disseminator (penyebar) informasi tentang dunia (Friedman, 1998). Dukungan informasi terjadi dan diberikan oleh keluarga dalam bentuk nasehat, saran dan diskusi tentang bagaimana cara mengatasi atau memecahkan masalah yang ada (Sarafino, 2011).
 3. Dukungan instrumental, keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit (Friedman, 1998). Dukungan instrumental merupakan dukungan yang diberikan oleh keluarga secara langsung yang meliputi bantuan material seperti memberikan 13 tempat tinggal, memimnjamkan atau memberikan uang dan bantuan dalam mengerjakan tugas rumah sehari-hari (Sarafino, 2011).
4. Dukungan penghargaan, keluarga bertindak (keluarga bertindak sebagai sistem pembimbing umpan balik, membimbing dan memerantai pemecahan masalah dan merupakan sumber validator identitas anggota (Friedman, 2010). Dukungan penghargaan terjadi melalui ekspresi penghargaan yang positif melibatkan pernyataan setuju dan panilaian positif terhadap ide-ide, perasaan dan performa orang lain yang berbanding positif antara individu dengan orang lain (Sarafino, 2011).

Tujuan Dukungan Keluarga (skripsi dan tesis)

Sangatlah luas diterima bahwa orang yang berada dalam lingkungan sosial yang suportif umumnya memiliki kondisi yang lebih baik dibandingkan rekannya yang tanpa keuntungan ini. Lebih khususnya, karena dukungan sosial dapat dianggap mengurangi atau menyangga efek serta meningkatkan kesehatan mental individu atau keluarga secara langsung, dukungan sosial adalah strategi penting yang haru ada dalam masa stress bagi keluarga (Friedman, 2010). Dukungan sosial juga dapat berfungsi sebagai strategi pencegahan guna mengurangi stress akibat negatifnya (Roth, 1996). Sistem dukungan keluarga ini berupa membantu berorientasi tugas sering kali diberikan oleh keluarga besar, teman, dan tetangga. Bantuan dari keluarga besar juga dilakukan dalam bentuk bantuan langsung, termasuk bantuan financial yang terus-menerus dan intermiten, berbelanja, merawat anak, perawatan fisik lansia, melakukan tugas rumah tangga, dan bantuan praktis selama masa krisis (Friedman, 2010)

Sumber Dukungan Keluarga (skripsi dan tesis)

 

Menurut Caplan (1974) dalam Friedman (2010) terdapat tiga sumber dukungan sosial umum, sumber ini terdiri atas jaringan informal yang spontan: dukungan terorganisasi yang tidak diarahkan oleh petugas kesehatan professional, dan upaya terorganisasi oleh professional kesehatan. Dukungan sosial keluarga mengacu kepada dukungan-dukungan sosial yang di pandang oleh anggota keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan untuk keluarga (dukungan sosial bisa atau tidak digunakan, tetapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan). Dukungan sosial keluarga dapat berupa dukungan sosial keluarga internal, seperti dukungan dari suami/istri atau dukungan dari saudara kandung atau dukungan sosial keluarga eksternal (Friedman, 1998).

Pengertian Dukungan Keluarga (skripsi dan tesis)

Dukungan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang melindungi seseorang dari efek setres yang buruk (Kaplan dan Sadock, 2002). Dukungan keluarga menurut Fridman (2010) adalah sikap, tindakan penerimaan keluarga terhadap anggota keluarganny, berupa dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan emosional. Jadi dukunan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang meliputi sikap, tindakan dan penerimaan terhadap anggota keluarga, sehingga anggota keluarga merasa ada yang memperhatikannya. Jadi dukungan sosial keluarga mengacu kepada dukungan-dukungan sosial yang dipandang oleh anggota keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan untuk keluarga yang selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan (Erdiana, 2015).

Langkah-Langkah Analisis PLS (skripsi dan tesis)

Langkah analisis dalam PLS untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Merancang Model Struktural (inner model). Struktural model adalah model yang menspesifikasikan hubungan antar variabel laten. Model ini menggambarkan hubungan antar variabel laten berdasarkan teori substantif (Ghozali, 2006)
.2. Merancang Model Pengukuran (outer model). Outer model adalah model yang menspesifikasikan hubungan antara variabel laten dengan indikatorindikatornya, atau dapat dikatakan bahwa outer model mendefinisikan bagaimana setiap indikator berhubungan dengan variabel latennya (Ghozali, 2006).
3. Mengkonstruksi Diagram Jalur. Langkah ini lebih mudah untuk dipahami, dimana hasil perancangan inner model dan outer model tersebut Estimasi: Koefisien Jalur, Loading dan Weight. Metode pendugaan parameter (estimasi) didalam metode PLS adalah metode kuadrat terkecil (ordinary least square). Proses perhitungan dilakukan dengan cara interaksi, dimana interaksi akan berhenti jika telah mencapai kondisi konvergen.
 5. Evaluasi Goodness of Fit. Evaluasi goodness of fit dibagi menjadi dua yaitu outer model dan inner model.
a. Outer model dibagi menjadi dua, yaitu formatif dan reflektif. Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan adalah indikator reflektif. Outer model dengan indikator refleksif dievaluasi dengan convergent dan discriminant validity dari indikatornya dan composite reliability untuk blok indikator. Convergent validity dinilai berdasarkan korelasi antara item score/ component score dengan construct score yang dihitung dengan PLS. Ukuran refleksif individual dikatakan tinggi jika berkolerasi lebih dari 0,7 dengan konstruk yang ingin diukur. Namun untuk penelitian tahap awal dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0,5 sampai 0,6 dianggap cukup (Chin, 1998). Discriminant validity dinilai berdasarkan crossloading pengukuran dengan konstruk. Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada ukuran konstruk lainnya, hal tersebut menunjukkan bahwa konstruk laten memprediksi ukuran pada blok mereka lebih baik daripada ukuran pada blok lainnya. Selain itu untuk menilai discriminant validity juga dapat dilakukan dengan membandingkan nilai square root of Average Variance Extracted (AVE) setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model. Jika nilai kuadrat AVE setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model, maka dikatakan memiliki discriminant validity yang baik (Fornell dalam Ghozali, 2006). Fornnel dan Larcker (1981) dalam Ghozali (2006) menyatakan bahwa pengukuran ini dapat dilakukan untuk mengukur reliabilitas component score variabel laten dan hasilnya lebih konservatif dibanding composite reliability. Nilai AVE harus lebih besar dari 0,5. Composite reliability blok indikator yang mengukur suatu konstruk dapat dievaluasi dengan dua macam ukuran yaitu internal consistency dan cronbach alpha.
b. Inner model dievaluasi dengan melihat prosentase varian yang dijelaskan, yaitu dengan melihat R2 . Perubahan nilai R2 dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen apakah mempunyai pengaruh yang substantif. Nilai ƒ 2 sama dengan 0,02; 0,15; dan 0,35 dapat diinterpretasikan bahwa predictor variabel laten memiliki pengaruh kecil, menengah, dan besar pada level struktural. Selain itu dilakukan evaluasi Stone-Geisser Q-square untuk predictive relevance dan uji t serta signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural. Q-square mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga parameternya. Nilai Q-square lebih besar dari 0 (nol) menunjukkan bahwa model mempunyai nilai predictive relevance, sedangkan nilai Q-square kurang dari 0 (nol) menunjukkan bahwa model kurang memiliki predictive relevance
6. Pengujian Hipotesis Langkah terakhir adalah pengujian hipotesis dengan kriteria sebagai berikut: Jika H : λ ≤ 0 ; maka berarti hipotesis ditolak Jika H : λ > 0 ; maka berarti hipotesis diterima

Alasan Penggunaan Partial least square/ PLS (skripsi dan tesis)

Alasan penggunaan PLS untuk penelitian ini adalah:

1. PLS bisa mengolah semua jenis data
 2. PLS memiliki dua uji didalamnya yaitu uji measurement model yang menyangkut validitas konstruk dan reliabilitas konstruk. Selain itu juga memiliki uji structural model, yaitu uji t dari partial least square itu sendiri. Sehingga dapat menyajikan berbagai hasil lengkap dan dapat dianalisa secara menyeluruh.
 3. PLS dapat digunakan untuk prediksi, konfimasi teori, dan menjelaskan ada tidaknya hubungan antar variabel laten. (Jogiyanto dan Abdillah, 2009).

4. PLS memiliki hubungan antara variabel laten dan indikatornya dalam bentuk refleksif maupun formatif. Model refleksif mengasumsikan bahwa konstruk atau variabel laten mempengaruhi indikator (arah hubungan kausalitas dari konstruk ke indikator atau manifest). Model refleksif sering disebut dengan principal factor model dimana covariance pengukuran indikator dipengaruhi oleh konstruk laten atau yang mencerminkan variasi dari konstruk laten. Pada model refleksif konstruk unidimensional, digambarkan dalam bentuk elips dengan beberapa anak panah dari konstruk ke indikator. Model ini  memberikan arti bahwa perubahan pada konstruk laten akan mempengaruhi perubahan pada indikator.

5. PLS merupakan pendekatan alternative yang bergeser dari pendekatan SEM berbasis covariance menjadi berbasis variance (Ghozali, 2006). SEM yang berbasis kovarian umumnya menguji kausalitas atau teori sedangkan PLS lebih bersifat predictive model

Self-efficacy (skripsi dan tesis)

 Self-efficacy yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengatasi work family conflict yang dialaminya agar tetap dapat menunjukkan kinerja yang baik dalam pekerjaan. Dalam bagian ini responden akan diberi pertanyaan mengenai kemampuan dirinya dan seberapa besar mereka percaya diri akan kemampuannya itu. Treitsman (2004) menemukan bahwa work-to-family conflict self-efficacy dan family-to-work conflict self-efficacy bukanlah dua faktor yang berbeda dan terpisah. Temuan ini diperoleh dari hasil uji faktor analisis yang dilakukannya terhadap item pernyataan yang digagas oleh Cinamon (2003). Penelitian ini menggunakan pernyataan yang dikemukakan oleh Cinamon (2003) untuk mengukur keyakinan individu terhadap kemampuannya mengatasi work-family conflict. Berikut indikator untuk mengukur self-efficacy dalam mengatasi work-family conflict.
 a. Keyakinan terhadap kemampuan diri dalam penyelesaian tugas-tugas rumah
 b. Keyakinan terhadap kemampuan diri dalam penyelesaian tugas-tugas pada pekerjaan
c. Keyakinan pada kemampuan diri mengenai efektifitas peran dalam keluarga
d. Keyakinan pada kemampuan diri untuk mengatasi tekanan dari keluarga
 e. Keyakinan pada kemampuan diri untuk mengatasi tekanan dari pekerjaan
 f. Keyakinan pada kemampuan diri dalam pengelolaan waktu
Pernyataan kuesioner menggunakan ukuran 5 poin Skala Likert, dimana 1= sangat tidak yakin dan 5= sangat yakin

Alat Ukur Job Satisfaction (skripsi dan tesis)

Job satisfaction adalah kepuasan individu atau reaksi emosional individu atas pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Indikator yang digunakan untuk variabel job satisfaction sesuai dengan gagasan Hartline dan Ferrel (1996) dalam Karatepe dan Killic (2007) yang menyatakan bahwa kepuasan kerja dapat digambarkan melalui hal-hal yang terkait dengan:

a. Kepuasan terhadap pekerjaan secara keseluruhan
b. Kepuasan terhadap rekan kerja

 c. Kepuasan terhadap atasan
d. Kepuasan terhadap kebijakan organisasi
 e. Kepuasan terhadap dukungan organisasi kepada karyawan
f. Kepuasan terhadap gaji/ upah
 g. Kepuasan terhadap kesempatan pengembangan diri di organisasi
Pernyataan kuesioner menggunakan ukuran 5 poin Skala Likert, dimana 1= sangat tidak puas dan 5= sangat puas

Job performance (skripsi dan tesis)

 

Job performance adalah catatan prestasi individu dalam pekerjaannya, atau hasil usaha seseorang atas kemampuan sifat atau karakteristik individu dan persepsinya terhadap peran yang harus dilakukannya.
Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja perawat wanita dalam penelitian ini mengacu pada gagasan Gomes (2000: 142) namun menghilangkan satu indikator yaitu quantity of work karena pekerjaan perawat tidak dapat diukur dari segi jumlah pekerjaan.
a. Quality of work: ketepatan waktu bagi perawat untuk melaksanakan tugastugasnya dan kesesuaian dengan prosedur kerja yang telah ditetapkan
 b. Job knowledge: pengetahuan yang dimiliki perawat mengenai tugas-tugas utamanya
c. Creativeness: keterampilan tambahan yang menunjang pekerjaan
d. Cooperative: kesediaan bekerjasama dengan rekan sesama perawat maupun dokter
 e. Dependability: dapat diandalkan dan dapat dipercaya jika harus bertugas sendirian
f. Initiative: semangat dan antusisame untuk melaksanakan tugas-tugasnya
g. Personal qualities: memiliki kepribadian yang teliti dan tekun
Pernyataan kuesioner menggunakan ukuran 5 poin Skala Likert, dimana poin 1= sangat tidak baik dan poin 5= sangat baik

Alat Ukur Work-family conflict (skripsi dan tesis)

Work- family conflict adalah konflik yang terjadi karena adanya pertentangan peran dalam keluarga dan dalam pekerjaan, dimana responden dituntut sebagai ibu rumah tangga dalam keluarga dan memiliki pekerjaan sebagai perawat dengan jam kerja dan beban kerja yang rawan menimbulkan konflik. Work family conflict dalam penelitian ini dibagi menjadi dua dimensi dimana masing-masing akan diukur pengaruhnya terhadap job performance. Sehingga keduanya akan menjadi variabel yang masing-masing disebut sebagai X1 dan X2 yakni work interference with family (WIF) sebagai X1 dan family interference with work (FIW) sebagai X2. Pengukuran untuk masing-masing pernyataan dalam tiap variabel tersebut menggunakan ukuran 5 poin Skala Likert, dimana poin 1= sangat tidak setuju hingga poin 5= sangat setuju. Indikator yang digunakan untuk work interference with family (WIF) dan family interference with work (FIW) disesuaikan dengan gagasan yang dikemukakan oleh Greenhaus dan Beutell (1985:77).

 Berdasarkan jurnal Carlson, Kacmar dan Williams (2000) yang mengacu pada pendapat Greenhaus dan Beutell (1985), Gutek dkk (1991), work family conflict dibagi menjadi work interference with family (WIF) dan family interference with work (FIW) dimana keseluruhannya memiliki 6 indikator sebagai berikut.

1. Work Interference with Family
 a. Time based work interference with family adalah ketika peran seorang perawat di rumah sakit bersaing untuk waktu dan waktu tersebut dihabiskan untuk aktivitas dalam pekerjaan yang menghalangi aktivitas di rumah.
b. Strain based work interference with family adalah konflik yang memandang ketegangan dari peran perawat yang mengganggu dan bertentangan dengan pratisipasi dari perannya di rumah
. c. Behavior based work interference with family adalah konflik yang terjadi ketika suatu perilaku spesifik yang diperlukan dalam peran perawat tidak kompatibel dengan harapan perilaku dalam peran di rumah.
 2. Family Interference with Work
 a. Time based family interference with work adalah konflik yang terjadi ketika peran di rumah secara serempak bersaing untuk waktu seseorang dan waktu itu dihabiskan untuk aktivitas yang menghalangi untuk menyelesaikan aktivitas pada pekerjaan.
 b. Strain based family interference with work adalah konflik yang memandang ketegangan dari peran di rumah mengganggu dan bertentangan dengan partisipasi dari peran sebagai perawat.
c. Behavior based family interference with work adalah konflik yang terjadi ketika suatu perilaku spesifik yang diperlukan dalam peran di rumah tidak kompatibel dengan harapan perilaku dalam peran sebagai perawat

Pengaruh Work Family Conflict terhadap Job Performance dimoderasi Self efficacy (skripsi dan tesis)

Self-efficacy didefinisikan sebagai kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuannya untuk mengelola dan mengeksekusi tindakan yang dapat dikatakan sebagai kinerja/ performance (Bandura, 1986, p.391). Bandura mengatakan bahwa sel-efficacy berpengaruh penting pada human action dan performance. Bandura menambahkan bahwa kebiasaan seseorang juga dapat mempengaruhi performance, dimana penelitian empiris telah menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara self-efficacy dengan kebiasaan manusia (e.g., Barling dan Beattie, 1983; Stumpf, Brief, dan Hartman, 1987; Taylor, Locke, Lee, dan Gist, 1984). Meta-analysis yang telah dilakukan oleh Sadri dan Robertson (1993) menunjukkan bahwa self-efficacy berhubungan positif dengan performance dan kebiasaan dalam konteks organizational behavior. Speier dan Frese (1997) dalam penelitiannya pada warga Jerman Timur mengatakan bahwa self-efficacy berperan penting untuk menghasilkan performance yang baik. Jika seseorang berpikiran bahwa dirinya tidak mampu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, maka kemungkinan dia akan benar-benar tidak mampu menyelesaikannya. Lebih lanjut Bandura (1986) menambahkan bahwa self-efficacy mempengaruhi ekspektasi seseorang dalam berkinerja untuk mencapai kesuksesan dalam pekerjaan.
Dalam Cognitive Social Theory yang dikemukakan oleh Bandura, dikatakan bahwa self-efficacy merupakan kunci dalam perubahan psikologis dan kualitas dari performance ketika individu tersebut mengalami suatu pengalaman negatif atau tekanan/ stress. Fungsi dari self-efficacy ini dapat diaplikasikan dalam work family conflict. Bernas et al. (2000) dalam penelitiannya menemukan bahwa self-efficacy berperan sebagai moderator dalam hubungan antara bakat skolastik, kinerja akademik, dan ketekunan. Selain itu, Matsui et al. (2008) menemukan bahwa self-efficacy berperan sebagai moderator dalam hubungan antara work family conflict dan tekanan kerja. Penelitian ini kemudian memberikan gambaran bahwa self-efficacy memungkinkan menjadi variabel moderator dalam hubungan antara work family conflict dengan job performance. Seorang individu yang memiliki self-efficacy tinggi, meskipun dia mengalami work family conflict, maka dia akan tetap dapat menghasilkan kinerja yang baik.

Pengaruh Work Family Conflict terhadap Job Performance melalui Job Satisfaction (skripsi dan tesis)

Lambert et al. (2002) menyatakan bahwa work family conflict menjadi penting untuk diperhatikan oleh perusahaan karena hal ini berhubungan dengan adanya konsekuensi negatif, dimana salah satunya adalah penurunan kepuasan kerja. Boles dan Babin, 1996 dalam Boles et al., 2001 menambahkan bahwa “work family conflict berhubungan dengan sejumlah sikap dan konsekuensi pekerjaan yang negatif, termasuk rendahnya kepuasan kerja”. Selanjutnya Kossek dan Ozeki (1998) dalam Haar (2005: 3) menemukan bahwa “karyawan yang memiliki work family conflict tinggi cenderung memiliki kepuasan yang rendah pada pekerjaan”. Dessler dalam Handoko (2001: 196) menyatakan bahwa “karyawan yang mendapatkan kepuasan kerja biasanya mempunyai catatan kehadiran dan perputaran yang lebih baik, kurang aktif dalam kegiatan serikat karyawan dan berprestasi kerja lebih baik daripada karyawan yang tidak memperoleh kepuasan”. Ivancevich (1978) mengindikasikan bahwa kepuasan kerja akan membuat karyawan berkinerja lebih efektif

Pengaruh Work Family Conflict terhadap Job Performance (skripsi dan tesis)

Beberapa studi telah meneliti hubungan antara Work Family Conflict (WFC) dengan job performance dengan hasil yang beragam. Buttler (2004: 554) menyatakan bahwa “jika work family conflict terjadi, maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada mutu pekerjaan dan kemudian berimbas pada performa kerja seseorang”. Ini memunculkan gagasan bahwa work family conflict tidak hanya menjadi permasalahan dalam keluarga namun juga menjadi permasalahan dalam perusahaan. Karatepe dan Sokmen (2006) dalam penelitiannya pada karyawan frontline hotel di Turki menemukan bahwa work family conflict (WFC) berhubungan negatif dengan kinerja karyawan. Selain itu Netemeyer, Maxham III dan Pullig (2005) dalam penelitian dengan sampel karyawan customer service, menemukan bahwa work family conflict (WFC) berpengaruh signifikan pada kinerja karyawan. Steenbergen dan Ellemers (2009) menambahkan, jika para pekerja seringkali merasa bahwa partisipasi mereka dalam keluarga membuat mereka sulit untuk memenuhi peran dalam pekerjaan, seharusnya kinerja dalam pekerjaan akan terkena dampaknya.

Kriteria Untuk Mengukur Job Performance (skripsi dan tesis)

Untuk mengukur performance terlebih dahulu harus diketahui kriterianya, menurut Jossup dan Jessup dalam As’ad (2003: 62), yang pertama diperlukan dalam mengukur performance adalah ukuran mengenai sukses atau tidaknya suatu pekerjaan dapat diselesaikan dan yang kedua adalah bagian-bagian mana yang dianggap penting sekali dalam suatu pekerjaan. Jossup dan Jessup dalam As’ad (2003: 62) menambahkan bahwa pengukuran job performance atau kinerja tergantung pada jenis pekerjaan dan tujuan dari organisasi. Soedjono (2005) mengatakan bahwa beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur performance karyawan secara individu adalah:

 a. Kemampuan kerja. Pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan kualitas standar perusahaan
 b. Kuantitas. Jumlah yang dihasilkan atau jumlah aktivitas yang dapat diselesaikan
 c. Kualitas. Hasil pekerjaan yang dilakukan mendekati sempurna atau memenuhi tujuan yang diharapkan dari pekerjaan tersebut
d. Efisiensi waktu. Yaitu dapat menyelesaikan pekerjaan pada waktu yang telah ditetapkan serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas yang lain
 e. Memenuhi target kontribusi. Yaitu kontribusi kerja yang dihasilkan sesuai dengan target yang sudah ditetapkan perusahaan

 Gomes (2000:142) mengemukakan kriteria performance yang didasarkan atas deskripsi perilaku yang spesifik, yaitu:

 1. “Quantity of work, yaitu jumlah hasil kerja yang didapat dalam suatu periode waktu yang ditentukan;

 2. Quality of work, yaitu kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syaratsyarat kesesuaian dan kesiapan;

3. Job knowledge, yaitu luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan ketrampilan;

 4. Creativeness, yaitu keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul;
5. Cooperative, yaitu kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain (sesame anggota organisasi);
6. Dependability, yaitu kesadaran dan dapat dipercaya dalam kehadiran dan penyelesaian kerja;
7. Initiative, yaitu semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam tanggung jawab besar; 8. Personal qualities, yaitu menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramahtamahan, dan integritas pribadi”.
Gomes (2000: 142) menyatakan bahwa “ukuran performance yang bersifat kuantitatif seperti satuan-satuan produksi dan volume penjualan menghasilkan pengukuran yang konsisten secara relatif. Kriteria-kriteria yang sifatnya subyektif, seperti sikap, kretifitas, dan kerjasama, menghasilkan pengukuran yang kurang konsisten, tergantung pada siapa yang mengevaluasi, dan bagaimana pengukuran itu dilakukan”.

Fungsi Penilaian Job Performance (skripsi dan tesis)

Tujuan utama dari penilaian performance adalah untuk memberikan karyawan umpan balik terhadap performance, untuk mengidentifikasi kebutuhan pengembangan karyawan, untuk membuat keputusan promosi dan penghargaan, untuk membuat keputusan demosi dan pemberhentian, serta mengembangkan informasi tentang seleksi organisasi dan keputusan penempatan (Nelson dan Quick, 2000). Sulistyani dan Rosidah (2003: 225) mengatakan bahwa manfaat penilaian performance bagi organisasi adalah untuk (1) penyesuaian-penyesuaian kompensasi, (2) perbaikan performance, (3) kebutuhan latihan dan pengembangan, (4) pengambilan kepitusan dalm hal penempatan promosi, mutasi, pemecatan, pemberhentian dan perencanaan tenaga kerja, (5) untuk kepentingan penelitian kepegawaian, dan (6) membantu diagnosis terhadap kesalahan desain karyawan. Selain itu, Siswanto (1999: 25) mengatakan bahwa penilaian performance bertujuan untuk mengkomunikasikan tujuan-tujuan manajemen dan tujuan karyawan, memotivasi karyawan untuk meningkatkan kinerjanya, mendistribusikan imbalan, dan untuk mengadakan penelitian mengenai manajemen kinerja.

Job Performance (skripsi dan tesis)

Performance menurut Bernardin dan Russel (1993: 379) adalah “suatu catatan prestasi yang dihasilkan selama periode tertentu”. Sedangkan Byars dan Rue (1995: 482) menyatakan bahwa “performance merupakan tingkat pencapaian tugas-tugas dari pekerjaan individu yang bersangkutan”. Porter dan Lawler dalam Byars dan Rue (1995: 499) menambahkan bahwa “performance adalah seperangkat hasil usaha seseorang yang dimodifikasikan dengan kemampuan, sifat atau karakteristik individu dan persepsinya terhadap peran yang harus dilakukannya”. Jika seorang karyawan dalam suatu perusahaan memiliki performance yang baik, ini akan menunjang pencapaian tujuan perusahaan tersebut secara keseluruhan. Menurut Rivai (2004: 309), performance merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan. Kemudian menurut Mangkunegara (2000: 67), performance karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Job Satisfaction (skripsi dan tesis)

 

Hartline dan Ferrel (1996) dalam Karatepe dan Killic (2007) menyatakan bahwa kepuasan kerja dapat digambarkan melalui kepuasan terhadap berbagai hal yang terkait dengan (1) kepuasan terhadap pekerjaan secara keseluruhan, (2) kepuasan terhadap rekan kerja, (3) kepuasan terhadap atasan, (4) kepuasan terhadap kebijakan organisasi, (5) kepuasan terhadap dukungan organisasi kepada karyawan, (6) kepuasan terhadap gaji/ upah, dan (7) kepuasan terhadap pengembangan diri di organisasi. Berkaitan dengan kepuasan terhadap pimpinan, Ranupandoyo (1997) mengatakan bahwa setiap atasan mempunyai kewajiban untuk mencapai tujuan organisasi dan memberikan perhatian terhadap kebutuhan bawahannya. Khan dalam Husna (1997) mengemukakan keinginan karyawan terhadap fungsi pimpinan yaitu memenuhi kebutuhan bawahan, memberikan pedoman dalam pencapaian tujuan perusahaan sekaligus pencapaian tujuan karyawan, menghilangkan hambatan-hambatan dalam pencapaian tujuan, dan menciptakan tujuan karyawan yang menunjang tujuan perusahaan. Mengenai kepuasan terhadap gaji/ upah, Arnold dan Fieldman (1986) menyatakan bahwa gaji memainkan peran nyata dalam kepuasan kerja, sebab gaji dapat digunakan sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan, symbol dari prestasi, dan sumber pengakuan pada pekerja sebagai refleksi penghargaan atas sumbangan karyawan pada perusahaan. Selanjutnya mengenai kepuasan terhadap kesempatan pengembangan diri di organisasi, Robbins (2003) mengatakan bahwa karyawan cenderung lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dan menawarkan beberapa tugas, kebebabasn dan umpan balik tentang seberapa baiknya mereka melakukan pekerjaan itu, yang secara mental menantang. Smith, Kendal, Hulin dalam Luthans (1998: 144) mengidentifikasikan lima dimensi atau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi seseorang merasa puas atau tidak puas terhadap pekerjaannya, yaitu: 1. Gaji/ upah (pay) Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup karyawan yang dianggap layak atau tidak 2. Pekerjaan itu sendiri (work itself)
 Setiap pekerjaan memerlukan keterampilan tertentu. Sukar atau tidaknya suatu pekerjaan akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja 3. Promosi (promotion) Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh peningkatan karir selama bekerja 4. Penyelia (supervision) Penyelia yang baik adalah yang mau menghargai pekerjaan bawahannya. Bawahan seringkali menganggap bahwa penyelianya adalah sebagai figur ayah atau ibu sekaligus atasan 5. Teman sekerja (coworkers) Dapat digambarkan sebagai hubungan antara karyawan dengan atasannya dan dengan karyawan lain baik yang sama maupun berbeda jenis pekerjaannya Menurut Robbins (2006), aspek-aspek yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja adalah:
1. Pekerjaan yang Menantang Merupakan pekerjaan-pekerjaan yang memberikan kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan dan menawarkan satu varietas tugas, kebebasan dan umpan balik tentang seberapa baiknya melakukan pekerjaan itu, yang secara mental menantang. Karyawan lebih memilih pekerjaan-pekerjaan yang dapat meningkatkan kepuasan dan menyebabkan angka ketidakhadiran menjadi lebih rendah.
 2. Ganjaran yang Pantas Imbalan yang pantas merupakan keinginan karyawan terhadap sistem upah dan kebijakan promosi yang mereka pandang adil dan segaris dengan harapan mereka. Bila upah yang didapat dirasa adil oleh karyawan berdasarkan tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan standar pengupahan komunitas, maka akan dapat menghasilkan kepuasan. 3. Kondisi Kerja yang Mendukung Karyawan lebih menyukai lingkungan fisik yang tidak berbahaya atau yang nyaman. Selain itu kebanyakan karyawan lebih suka bekerja tidak jauh dari rumah, dalam fasilitas yang bersih dan relatif modern, dan dengan alat dan perlengkapan yang memadai. Kondisi kerja yang mendukung baik dari fisik maupun non fisik dapat memberikan kepuasan kerja karyawan. 4. Rekan Kerja yang Mendukung Robbins (2006) mengatakan bahwa “dari kerja, orang mendapatkan lebih dari sekadar uang atau prestasi-prestasi yang berwujud. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan akan interaksi sosial”. Perilaku dari pimpinan juga merupakan penentu utama kepuasan kerja. 5. Kesesuaian Kepribadian dengan Pekerjaan Orang yang berkepribadian kongruen dengan pekerjaan mereka akan merasa bahwa mereka memiliki bakat dan kemampuan yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan mereka. Dengan demikian akan lebih besar kemungkinan untuk berhasil pada pekerjaan tersebut sehingga kemudian mereka akan merasa puas pada pekerjaannya

Fungsi Job Satisfaction (skripsi dan tesis)

 Kreitner dan Kinicki (2005:271) menyatakan bahwa “karyawan akan merasa puas apabila karyawan tersebut merasa perusahaan telah memberikan penghargaan yang terpenuhi”. Kreitner dan Kinicki menambahkan bahwa “penghargaan yang terpenuhi adalah keadaan bila seseorang mendapatkan yang dia harapkan dari suatu pekerjaan”. Menurut Kreitner dan Kinicki (2005:272- 276), untuk meningkatkan kepuasan kerja karyawannya, manajer perlu memperhatikan konsekuensi dari kepuasan kerja yaitu (1) motivasi, (2) keterlibatan dalam pekerjaan, (3) perilaku sebagai anggota organisasi yang baik, (4) komitmen organisasi, (5) ketidakhadiran, (6) berhentinya karyawan dari pekerjaan, (7) stress yang dirasakan, dan (8) prestasi kerja. Davis dan Newstrom (1997:106-109) menjelaskan bahwa manajer perlu mengetahui kepuasan karyawannya dan berusaha untuk meningkatkannya agar dapat membangun organisasi yang lebih baik.
 Beberapa ahli seperti Straus dan Sayles (dalam Handoko, 2001: 195) menyatakan bahwa kepuasan kerja penting untuk aktualisasi diri. Karyawan yang tidak mendapat kepuasan kerja tidak akan pernah mencapai kematangan psikologis, melainkan akan mencapai frustasi. Karyawan seperti ini akan mudah melamun, emosi tidak stabil, sering absen, dan melakukan kesibukan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang harus dilakukan. Dessler (1992: 364) berpendapat bahwa karyawan yang mendapat kepuasan kerja akan mempunyai catatan kehadiran dan perputaran tenaga kerja yang lebih baik, kurang aktif dalam kegiatan serikat pekerja dan (kadang-kadang) kinerjanya lebih baik dibandingkan dengan karyawan yang tidak mendapatkan kepuasan. Dari pendapat Dessler (1992: 364) tersebut dapat dilihat bahwa kepuasan kerja mempengaruhi kinerja (job performance)

Job Satisfaction (skripsi dan tesis)

Kepuasan kerja adalah “perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari evaluasi karakteristiknya” (Robbins, 2003:99). Kreitner dan Kinicki (2005:271) menambahkan bahwa kepuasan kerja adalah “suatu efektivitas atau respon emosional terhadap berbagai aspek pekerjaan”. Terdapat berbagi definisi mengenai kepuasan kerja, salah satunya yang dikemukakan oleh Sutrisno (2009:78). Sutrisno mengatakan bahwa kepuasan kerja merupakan suatu reaksi emosional yang kompleks. Reaksi emosional ini adalah merupakan akibat dari dorongan, keinginan, tuntutan, dan harapan-harapan karyawan terhadap pekerjaan yang dihubungkan dengan realita-realita yang dirasakan karyawan sehingga menimbulkan suatu bentuk reaksi emosional yang berwujud perasaan senang, perasaan puas, ataupun perasaan tidak puas. Pendapat ini didukung oleh Yukl dan Wexley (2005) bahwa “kepuasan kerja merupakan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya”.

 Sutrisno menambahkan bahwa kepuasan kerja juga merupakan suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan yang berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar karyawan, imbalan yang diterima karyawan, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan psikologis. Pendapat ini didukung oleh Tiffin (1958) yang menyatakan bahwa kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerja sama antara pimpinan dengan sesama karyawan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self-Efficacy (skripsi dan tesis)

 

Teori self-efficacy memperkenalkan gagasan bahwa persepsi dari kemampuan individu dipengaruhi oleh empat factor: mastery experience, vicarious experience, verbal persuasion, dan somatic and emotional state (Bandura, 1994, 1997; Pajares, 2002).

1. Mastery experience.
Kita semua memiliki mastery experiences, yakni suatu pengalaman yang didapatkan ketika kita melakukan sesuatu dan berhasil, maka artinya kita telah ahli/ master dalam suatu hal tersebut.
2. Vicarious experience.
 Faktor lain adalah vicarious experience atau observasi mengenai keberhasilan dan kegagalan yang dicapai diri sendiri. Ketika seorang individu melihat individu lain dengan banyak kesamaan telah mencapai suatu keberhasilan dalam melakukan sesuatu, maka itu dapat meningkatkan self-efficacy.
3. Verbal persuasion.
 Faktor ketiga adalah verbal or social persuasion. Ketika orang meyakini secara verbal bahwa dirinya bisa melakukan suatu hal, maka dia akan benar-benar dapat melakukannya. Mendapatkan dukungan verbal akan membuat seseorang merasa yakin pada dirinya sendiri.
4. Somatic and emotional state.
Keadaan psikologis dan emosional seseorang ketika melakukan sesuatu hal akan berdampak pada keberhasilan dan kegagalannya. Stress, kecemasan, kekhawatiran, dan rasa takut adalah perasaan negatif yang dapat mempengaruhi self-efficacy dan menuntun individu dalam kegagalan dan ketidakmampuan untuk perform dalam tugas-tugasnya (Pajares, 2002). Situasi stress membangun gairah emosi, yang mana hal tersebut berpengaruh pada self-efficacy individu dalam mengatasi situasi tersebut (Bandura dan Adams, 1977). Berbicara mengenai emosi negative yang dapat mempengaruhi self-efficacy, terkadang ada pula emosional yang bersifat positif.
Secara singkat, dalam teori self-efficacy, verbal persuasion, mastery experiences,vicarious experiences, dan somatic and emotional states mempengaruhi self-efficacy, dan kemudian mempengaruhi kebiasaan (dapat

Peran Self-Efficacy (skripsi dan tesis)

Self-efficacy memiliki peran penting dalam aktivitas individual dan lingkungan. Teori sosial kognitif berpendapat bahwa keyakinan individual mengenai kemampuan mereka (self-efficacy beliefs) mempengaruhi tujuan individual dan perilaku (Bandura, 1986). Lebih lanjut, teori sosial kognitif mengemukakan bahwa self-efficacy beliefs dapat menggambarkan sejauh mana seseorang bertindak dalam pekerjaannya, seberapa besar usahanya, seberapa besar ketekunannya ketika hambatan muncul, dan keseluruhan level performance (Bandura, 1986). Individu dengan self-efficacy beliefs yang kuat memiliki ketekunan yang lebih besar dan kemauan lebih untuk menyelesaikan pekerjaan yang sulit (Bandura, 1982). Penelitian telah menemukan bahwa self-efficacy beliefs dapat meningkatkan performance individu, keinginan belajar, persuasi sosial, dan sisi psikologis serta reaksi afektif (Lent and Brown, 1996). Bandura (1997) menambahkan bahwa ada hubungan negative antara self-efficacy dengan tingkat stress. Individu yang merasa stress seringkali memiliki self-efficacy beliefs yang rendah, dimana mereka merasa kurang mampu menyelesaikan tugas-tugasnya. Model kognitif memberikan gagasan bahwa penilaian seseorang terhadap kemampuan dirinya sendiri berdampak penting pada keberhasilan mereka mengatasi suatu masalah dan stress (Folkman, 2001; Lazarus and Folkman,1984).
Secara khusus, self-efficacy diidentifikasi merupakan asset penting untuk membantu mengatasi stress karena peran ganda (Kossek et al., 2006; Thomas and Ganster, 1995). Berdasarkan teori sosial-kognitif yang dikemukakan Bandura mengenai self-efficacy, self-efficacy yang kuat menunjukkan self-evaluations yang positif sehingga individu memiliki keyakinan akan kemampuannya untuk memobilisasikan sumberdaya yang dimilikinya guna menyelesaikan tugas-tugas spesifik (Wood and Bandura, 1989). Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa orang tua yang bekerja dan memiliki self-efficacy yang lebih tinggi dapat mengurangi level FIW dan WIF (Cinamon, 2006)

Self-Efficacy (skripsi dan tesis)

Dalam teori sosial kognitif, Bandura (1986) menjelaskan suatu model dimana faktor personal internal (mencakup sisi kognitif dan afektif), faktor lingkungan eksternal, dan faktor keterbukaan perilaku secara dinamis saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain. Dalam model ini, teori sosial kognitif menguji berbagai variable sociocognitive, termasuk self-efficacy beliefs, yang mempengaruhi fungsi psychosocial (Bandura, 1986). Self-efficacy beliefs merupakan keyakinan individual mengenai kapabilitas mereka untuk bekerja dengan baik (Bandura, 1977)

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Work-Family Conflict (skripsi dan tesis)

Yang et al. (2004) menjelaskan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi munculnya work-family conflict, yaitu tuntutan kerja (work demand) dan tuntutan keluarga (family demand). Yang et al. (2004) menambahkan bahwa tuntutan kerja muncul karena adanya kelebihan beban kerja dan tekanan waktu dari pekerjaan sedangkan tuntutan keluarga muncul karena tekanan waktu yang berkaitan dengan tugas rumah tangga misalnya mengurus anak atau menjaga rumah. Menurut Greenhaus dan Beutell (1985), work-family conflict muncul karena adanya beberapa faktor yaitu tekanan pekerjaan (job stressor), tekanan keluarga (family stressor), keterlibatan pekerjaan (job involvement), dan keterlibatan keluarga (family involvement). Greenhaus dan Beutell (1985) menambahkan bahwa “tekanan pekerjaan dapat berupa beban pekerjaan yang terlalu berat, tidak adanya peran yang jelas dalam pekerjaan, dan kurangnya otonomi. Tekanan keluarga adalah beban yang harus ditanggung seseorang karena kehidupan keluarganya. Keterlibatan pekerjaan menunjukkan sejauh mana seseorang memihak secara psikologis pada pekerjaannya. Sedangkan keterlibatan keluarga menunjukkan sejauh mana seseorang memihak atas perannya dalam keluarga”.

Bentuk Work-Family Conflict (skripsi dan tesis)

Netemeyer, Boles dan McMurrian (1996) sesuai dengan Greenhaus dan Beutell (1985) dalam Carlson, dkk (2000) mengemukakan bahwa “ada tiga bentuk dari work-family conflict yaitu time-based, strain-based, dan behavior-based”. Ketiga sumber konflik ini terbukti mendukung terjadinya work-family conflict (Frone et al., 1997).

 a) Time-based Conflict
Konflik time-based terjadi ketika peran seseorang bersaing untuk waktu dan waktu tersebut dihabiskan untuk aktivitas yang menghalangi aktivitas lainnya. Konflik ini berkaitan dengan peran yang berlebihan. Sumber konflik time-based yang berasal dari pekerjaan biasanya berupa jam atau waktu yang berlebihan dalam pekerjaan, jadwal pekerjaan yang tidak fleksibel, atau pekerjaan yang menggunakan sistem shift kerja. Sedangkan sumber konflik time-based yang berasal dari keluarga biasanya berupa tanggungan mempunyai anak kecil, mempunyai keluarga besar, atau suami-istri sama-sama bekerja full-time

 b) Strain-based Conflict
Konflik strain-based memungkinkan timbulnya stress dalam pekerjaan maupun keluarga (Hertz, 1986). Ketika strain (ketegangan) muncul yang disebabkan karena salah satu dari pekerjaan atau keluarga, maka dapat mempengaruhi performance yang lainnya. Sumber konflik strain-based berasal dari pusat pekerjaan dan berhubungan dengan role ambiguity, rendahnya dukungan sosial dari organisasi, serta masalah pengembangan karir (Greenhaus dan Beutell, 1985). Contoh yang berhubungan dengan role ambiguity adalah ketidakjelasan peran yang overload sehingga menghalangi performance di domain yang lain. Netemeyer et al. (1996) menjelaskan bahwa konflik strain-based terjadi ketika meningkatnya ketegangan yang muncul akibat adanya tekanan pada ketidakpuasan, marah, khawatir atau ketakutan yang muncul dari salah satu domain sehingga mempersulit permintaan dari domain yang lain.
 c) Behavior-based Conflict
Greenhaus dan Beutell (1985) berpendapat bahwa pola spesifik pada role behavior (perilaku peran) memungkinkan pertentangan antara harapan dengan kenyataan dalam perilaku di peran lain. Behavioral expectation adalah satu sumber ketidakcocokan dengan harapan dari sumber lain yang bisa menciptakan behavior-based conflict. Konflik ini terjadi ketika perilaku yang ditunjukkan dalam sebuah domain tidak sesuai dengan tuntutan peran dari domain yang lain. Sebagai contohnya adalah kebiasaan dan peran ekspektasi yang menghalangi peran di domain lain. Misalnya ketika gaya perilaku yang ditunjukkan seorang karyawan di tempat dia bekerja tidak disukai oleh pasangan dan anak-anaknya di A rumah, sehingga perilaku tersebut mempengaruhi kehidupan keluarga (Edward dan Rothbard, 2000)

Dimensi Work-Family Conflict (skripsi dan tesis)

Menurut Boyar et al. (2005) work family conflict (WFC) mempunyai dua arah yakni work interference with family (WIF) dan family interference with work (FIW), sehingga konflik yang muncul terkait dengan dua domain tersebut keduanya merupakan hal yang berbeda sehingga mempunyai penyebab dan akibat yang berbeda pula. Beberapa studi menguji work family conflict dalam dua dimensi. Pertama disebut dengan work interference with family (WIF) yakni konflik ini dapat tumbuh dari pekerjaan yang kemudian mengganggu urusan keluarga. Sebagai contoh, orang tua yang merasa bahwa pekerjaan mereka menghalangi untuk menghabiskan waktu penting bersama anak-anaknya yang masih kecil di rumah. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa WIF menjadi kesatuan dengan kematian pekerjaan (Bacharach, 1991), depresi (Thomas dan Ganster, 1995) dan kualitas kehidupan keluarga yang rendah (Higgin dan Duxbury, 1992). Dimensi kedua adalah family interference with work (FIW), yakni konflik yang terjadi ketika urusan keluarga dicampuradukkan dengan pekerjaan. Sebagai contoh, seorang karyawan yang marah karena harus meninggalkan pekerjaan lebih awal untuk menjalankan fungsinya dalam keluarga atau seorang karyawan yang merasa frustasi karena terlambat pergi bekerja karena sebelumnya harus mengantar anaknya ke sekolah. Disamping penelitian mengenai WIF, beberapa penelitian mencatat FIW sebagai sebuah konsep yang berbeda (Gutek et al., 1991; Frone et al., 1992; Netemeyer et al., 1996)

Pengertian Work-Family Conflict (skripsi dan tesis)

Pengertian work-family conflict menurut Greenhaus dan Beutell (1985:77) adalah “suatu bentuk inter-role conflict atau konflik antar peran dimana tekananperan dari domain pekerjaan dan keluarga yang saling bertentangan dalam beberapa hal”. Konflik antar peran merupakan bentuk dari konflik peran dimana tekanan muncul karena adanya partisipasi dari peran lain. Khan et al. (1964) memberikan contoh konflik antar peran yaitu pekerjaan yang melebihi jam kerja atau take-home work yang kemudian memunculkan tekanan dari pasangan (suami/ istri) di rumah agar lebih diperhatikan, dan kemudian konflik ini muncul diantara peran sebagai seseorang yang vokal. Khan et al. (1964) menambahkan bahwa konflik antar peran dialami ketika tekanan meningkat di suatu peran yang bertentangan dengan peran lain. Khan et al. (1964) menegaskan bahwa ketidaksesuaian tekanan ini muncul ketika partisipasi di salah satu peran membuat peran yang lain menjadi dirasa sulit. Voydanoff (2005) berpendapat bahwa “WFC adalah evaluasi kognitif dari sumber dan tuntutan pekerjaan dan keluarga. Keterlibatan satu domain (pekerjaan) membatasi partisipasi domain lain (keluarga)”.

 Greenhaus dan Beutell (1985) mendefinisikan work-family conflict sebagai sebuah bentuk dari konflik antar peran dimana tekanan muncul dari pekerjaan dan keluarga ketika keduanya menuntut tanggungjawab yang sama besarnya. Selain itu Frone (2000) mendefinisikan work-family conflict sebagai bentuk konflik peran dimana tuntutan peran dari pekerjaan dan keluarga tidak dapat disejajarkan dalam beberapa hal. Work-family conflict terjadi dalam bentuk yang beragam (Greenhaus dan Beutell, 1985). Kossek dan Ozeki (1998) menyatakan bahwa work-family conflict berhubungan dengan rendahnya kepuasan kerja secara keseluruhan, dan kecenderungan negatif lain seperti kelelahan emosional (Boles dkk., 1997), serta mengakibatkan peningkatan stress, penurunan performance baik di rumah maupun pada pekerjaan, serta penurunan semangat dan kepuasan kerja (Allen et al., 2000; Frone et al.., 1992; Voydanoff, 2005)

Hubungan antara Spouse Support dan Work-Family Conflict (skripsi dan tesis)

Spouse support atau sering disebut dengan dukungan dari pasangan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi work-family conflict. Spouse support berkaitan dengan dukungan pasangan untuk mengatasi tingginya intensitas waktu kerja di kantor dan di rumah pada istri. Sehingga, untuk menjadi seorang istri yang baik maka perempuan harus mampu menyeimbangkan segala bentuk tugas yang dijalankan ketika bekerja dan mengurus rumah tangga. Maka, hal yang paling dibutuhkan oleh seorang istri adalah dukungan dari suami atau pasangan agar apa yang dikerjakan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Namun, sebaliknya jika seorang perempuan yang memiliki peran ganda tidak mendapatkan dukungan yang kuat dari pasangan maka hal ini dapat mempengaruhi terjadinya work-family conflict. Jones dan Jones (Putrianti, 2007) menemukan bahwa adanya dukungan dari pasangan sangat berkaitan dengan suksesnya peran ganda (dual-career marriage) yang dijalankan oleh seorang istri. Dalam penelitiannya terdapat berbagai sikap seperti pasangan yang menunjukkan perasaan terancam akan rasa tersaingi dan kecemburuan status yang dimiliki oleh istri yang bekerja. Adapun, sikap suami yang tidak keberatan dengan dual-career yang dijalankan oleh seorang istri, selagi istri mampu memenuhi kebutuhan suami. Kondisi ini menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan suami dapat memberikan kesejahteraan, kepuasan, kebahagiaan dalam keluarga dan karier yang dijalankan seorang istri sehingga mampu mengatasi terjadinya workfamily conflict.
 Pentingnya dukungan sosial yang diberikan pasangan dapat mempengaruhi dilema yang dirasakan oleh seorang perempuan terkait pekerjaan dan keluarga (Suriyasam dalam Putrianti, 2007). Diperkuat dengan pernyataan bahwa dukungan dari pasangan yang diberikan secara konsisten dan intens dapat melindungi psikis individu dari kondisi stres sehingga meningkatkan kesehatan psikis oleh (Cassel & Cob dalam Putrianti, 2007). Hal ini membuktikan bahwa dukungan dari pasangan atau suami mampu mengurangi terjadinya stres pada istri yang berakibat pada work-family conflict. Ford, Heinen, dan Langkamer (Soeharto & Kuncoro, 2015) menyatakan bahwa keluarga menjadi hal utama bagi wanita yang sudah menikah sedangkan bagi pria yang sudah menikah pekerjaan menjadi hal yang penting bagi berlangsung nya finansial dan kesejahteraan rumah tangga. Wanita cenderung mengalami konflik dalam keluarga karena sifat kerja yang dijalankan oleh wanita bersifat rutinitas dan pekerjaan pria di dalam keluarga lebih luang. Sehingga, dalam hal ini adanya dukungan suami sangat dibutuhkan dilihat lebih jauh karena waktu suami dalam keluarga lebih luang sehingga sangat mungkin bagi suami untuk menjadi bagian dari spouse support untuk menghambat terjadinya work-family conflict pada istri yang berkarier. Diperkuat oleh pendapat dari Cohen dan Syme (Putri, 2011) dimana peran dari dukungan sosial terutama keluarga yaitu suami terhadap individu atau istri yang memiliki beban kerja yang berat dan rentan terhadap perasaan stres akan sangat bermanfaat, untuk dapat mengurangi peningkatan dan 35 mencegah terjadinya stres berkelanjutan, situasi krisis, dan peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan hidup pasangan. Soeharto dan Kuncoro (2015) menyimpulkan berbagai penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi terjadinya work-family conflict karena adanya dukungan sosial atau dukungan pasangan. Dukungan suami dapat berupa bantuan nasihat, tenaga, dan pengertian terhadap situasi yang dialami oleh istri. Dalam hal ini dapat mengurangi work-family conflict yang dialami oleh istri. Sehingga hasil penelitian dari Soeharto dan Kuncoro (2015) juga mendukung dari penelitian-penelitian sebelumnya bahwa terdapat kesesuaian model teoritis dengan data faktual yang mengasosiasikan spouse support, work-family conflict dan kepuasan kerja pada ibu rumah tangga yang bekerja. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh dari spouse support terhadap kepuasan kerja yang mana dapat mempengaruhi pihak ketiga yaitu workfamily conflict yang terjadi pada ibu rumah tangga yang berkarier. Maka, work-family conflict dapat diturunkan dengan adanya spouse support pada seorang istri.
Gordon dan Whelan (Abd Razak dkk, 2010) menyatakan bahwa dukungan yang diberikan oleh suami merupakan sebuah pelengkap yang sangat penting bagi program keluarga sejahtera. Saat ini, pasangan atau suami dapat memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh istri yang bekerja, hal ini merupakan kunci utama untuk menyulap rumah, keluarga dan tanggung jawab pada masyarakat yang sukses. Didukung oleh pernyataan Aryee, Fields, dan Luk (Abd Razak dkk, 2010) dalam studinya yang mengungkapkan bahwa spouse support berhubungan negatif dengan work-family conflict karena dukungan pasangan dinilai sangat penting untuk mengurangi konflik dalam keluarga maupun pekerjaan yang disebabkan oleh stres yang dirasakan akibat pekerjaan dan pengasuhan yang tidak di atur dengan baik. Patel, Beekhan, Paruk, dan Ramgoon (2008) dalam penelitiannya ditemukan bahwa terdapat hubungan negatif antara work-family conflict dengan spouse support, implikasi dari pernyataan ini bahwa dampak rendahnya dukungan dari pasangan sebagai support system dapat mempengaruhi stres pada perempuan sehingga menimbulkan terjadinya workfamily conflict. Hasil penelitian yang sama juga dijelaskan oleh Agustin (2016) bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara spouse support dengan work-family conflict. Hal ini berarti semakin tinggi spouse support maka semakin rendah work-family conflict, sebaliknya jika semakin rendah spouse support maka semakin tinggi work-family conflict. Dijelaskan bahwa, adanya dukungan pada pekerjaan dan pengasuhan dalam rumah tangga yang diberikan kepada seorang istri dapat menjadi pengaruh yang signifikan pada perempuan yang berkarier dan mengurus rumah tangga. Dalam hal ini, kemungkinan kecil akan terjadinya work-family conflict apabila seorang istri mendapatkan dorongan dan dukungan dari suami atau pasangannya

Aspek-aspek Spouse Support House (skripsi dan tesis)

 (Dorio, 2009) mengemukakan empat dimensi utama dukungan sosial, yaitu :
 a. Kepedulian Emosional (Emotional Concern), dimensi ini melibatkan adanya kepedulian, rasa empati, cinta, kepercayaan, dan mencakup perilaku seperti menunjukkan kepedulian yang efektif.
b. Dukungan instrumental (Instrumental Support), dimensi ini mencerminkan perilaku dan perlakuan yang diberikan seseorang secara langsung untuk membantu orang yang membutuhkan. Contohnya, membantu suami/istri untuk melakukan pekerjaan di dalam rumah tangga.
 c. Dukungan informasi (Informational Support), dukungan ini berupa dukungan informasi yang berguna bagi individu lain. Seperti, memberikan saran dalam penyelesaian masalah kepada pasangan (suami/istri).
 d. Dukungan penghargaan (Appraisal Support), dukungan ini dilakukan dengan cara memberikan penghargaan kepada orang lain sehingga individu merasa dihargai. Dukungan ini tidak hanya berkonotasi dengan evaluasi positif. Contohnya, suami/istri berterimakasih kepada pasangannya karena telah melakukan pekerjaan rumah dengan baik, atau berkonotasi negatif ketika suami/istri mengkritik pasangannya karena melakukan suatu kesalahan.
Menurut Aycan dan Eskin (2005) Terdapat dua bentuk dukungan suamiistri yaitu :
a. Dukungan emosional, diberikan dalam bentuk pemahaman yang tegas, saling mendengarkan cerita pasangan dan memberikan saran, menunjukkan kasih sayang satu sama lain, dan perhatian yang tulus dan intense untuk menunjang kesejahteraan pasangan suami-istri.
b. Dukungan instrumental, diberikan berbentuk bantuan yang nyata dari pasangan akan pekerjaan di dalam rumah tangga dan kegiatan mengasuh anak maupun bantuan untuk menyelesaikan segala bentuk pekerjaan yang harus diselesaikan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek dari spouse support terbagi menjadi 5 aspek di dalamnya yaitu antara lain: dukungan emosional, dukungan informasi, dukungan instrumental, dukungan kelompok, dan dukungan penilaian positif.

Definisi Spouse Support (skripsi dan tesis)

Dalam literatur psikologi di Indonesia spouse support dapat diartikan sebagai dukungan dari suami-istri atau pasangan yang sudah menikah hal ini termaksud dalam dukungan sosial yang diberikan dari orang-orang terdekat. Menurut Hobfoll dan Stokes (Dorio, 2009) dukungan sosial didefinisikan sebagai hubungan atau interaksi sosial yang aktual antar individu dengan adanya keterikatan perasaan cinta dan perhatian pada seseorang atau kelompok tertentu didalam lingkungan sosialnya. Dukungan sosial dianggap sebagai sumber daya yang didapatkan dari lignkungan, dimana individu cenderung membutuhkan bantuan kepada pendukungnya baik secara langsung atau melalui perantara yaitu dengan mengurangi tuntutan dari peran lain (House dalam Dorio, 2009) Uchio (Sarafino & Smith, 2012) menyatakan bahwa dukungan sosial merupakan suatu perasaan yang menimbulkan kenyamanan, kepedulian, kepercayaan, atau tersedianya pertolongan dari orang terdekat atau kelompok. Karena, dukungan tersebut dapat berasal dari pasangan, keluarga, teman, dokter, dan perkumpulan organisasi. Seseorang yang memiliki dukungan sosial percaya bahwa mereka dicintai, berharga, dan menjadi bagian dari jejaring sosial seperti keluarga dan organisasi yang dapat membantu individu jika dibutuhkan. Menurut Aycan dan Eskin (2005) menyatakan bahwa spouse support merupakan suatu dukungan berupa seperti bantuan, saran, pengertian, dan saling memberikan satu sama lain.
Menurut Cohen dan Syme (Putri, 2011) peran dukungan sosial dalam kehidupan individu dijelaskan dalam 2 model, yaitu main effect model, dimana model ini merupakan konsep yang berhubungan dengan peningkatan kualitas hidup individu agar terlepas dari tingkat kesulitan dan tidak ada hubungan secara khusus dengan situasi krisis. Model ini melihat fungsi dari dukungan sosial terhadap kesehatan dan kesejahteraan dengan mengabaikan tingkat stres. Dukungan ini dinilai dari derajat yang dimiliki individu yang dapat dihubungkan dengan jaringan sosial di lingkungannya. Stres-buffering model dukungan sosial ini merupakan sebuah pemenuhan kebutuhan yang muncul akibat dari pengalaman hidup yang dipenuhi dengan kejadian yang merugikan dan perasaan stres. Dukungan sosial ini melindungi individu dari efek pathogenic untuk kejadian yang dipenuhi dengan perasaan stres, dengan adanya dua point utama yang dilibatkan yaitu mencegah individu untuk menginterpretasikan bahwa suatu kejadian penuh stres dan menanggulangi dampak stres yang telah  terjadi dengan mengurangi dan menghilangkan stres yang dialami (Cohen dan Syme dalam Putri, 2011) Patel, Beekhan, Paruk, dan Ramgoon (2008) mendefinisikan spouse support sebagai dorongan langsung dari pasangan suami-istri atau orang yang berarti bagi individu. Dukungan dari pasangan dapat mempengaruhi meningkatnya kesejahteraan individu sebagai anggota keluarga, menjadi keharmonisan dalam keluarga. Dengan demikian, dalam hal ini negosiasi diperlukan setiap waktu antara pasangan agar mendapatkan penyesuaian satu sama lain. Penting untuk diketahui bahwa proses yang dilakukan tidak hanya bersifat statis, tetapi interaksi antar pasangan juga dapat bersifat dinamis, sehingga cara pasangan suami-istri bernegosiasi dapat mempengaruhi berfungsinya peran pasangan di dalam keluarga (Geldard & Geldard, 2011). Schaie dan Willis (Putrianti, 2007) menyatakan bahwa dukungan sosial dari pasangan adalah sebuah sistem yang memiliki unsur dasar dari interdependent relationship (tergantung nya suatu hubungan). Karena, setiap anggota dalam keluarga memiliki peran nya masing-masing sehingga setiap anggota memiliki ketergantungan terhadap anggota lainnya agar peran dalam rumah tangga dapat dijalankan dengan baik. Greenglass, Fiksenbaum, dan Eaton (2006) menambahkan bahwa suami yang memberikan dukungan kepada istri dapat membantu istri dalam menyelesaikan masalah yang dialami dan membesarkan hati istri agar dapat lebih semangat dalam menjalankan perannya hal ini dapat diberikan  suami dalam bentuk memberikan nasihat, memberikan informasi, dan segala sesuatu yang dapat meringankan beban istri. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa spouse support atau sering disebut dengan dukungan dari pasangan menikah (suami-istri) merupakan sebuah bentuk dukungan, dorongan, bantuan yang diberikan pasangan untuk meringankan beban kerja di dalam rumah tangga maupun pekerjaan dikantor yang direalisasikan dalam bentuk emosional maupun tindakan.