Program Pemeliharaan Jalan (skripsi dan tesis)

Program pemeliharaan walaupun mempunyai economic return yang tinggi, akan tetapi tidak begitu menarik di lingkungan dunia konstruksi, karena biaya/paketnya relatif sangat kecil dibandingkan dengan program-program lainnnya seperti peningkatan dan ataupun rehabilitasi. Selain itu program penanganan pemeliharaan jalan dilaksanakan secara partial dan dilaksanakan oleh banyak kontraktor kecil secara tersebar. Hal ini tentu saja tidak efisien, dan dapat dibuktikan melalui pendekatan kuantitatif kontrak-kontrak pemeliharaan rutin yang ada dan disimulasi dengan kontrak pemeliharaan yang berskala besar.

Selain dana yang kecil, waktu pekerjaan kontrak-kontrak pemeliharaan itu hanya berlaku s/d 12 bulan maksimum. Sehingga tidak mendorong industri kontraktor mempunyai peralatan untuk pekerjaan pemeliharaan. Ini merupakan konsekwensi logis dari pertimbangan ekonomis, kalau kontraktor tersebut membeli alat pada saat menang, alat itu belum tentu dapat dipergunakan lagi 12 bulan mendatang, karena dia harus mengikuti tender pada pekerjaan baru. Padahal diketahui bahwa biaya pekerjaan pemeliharaan hanya berkisar 3 s/d 7% dari total biaya jalan.(Antameng, 2005)

Miquel dan J. Condron (1991) dalam studi yang dibiayai oleh Bank Dunia menemukan data bahwa British Columbia dan United Kingdom serta Malaysia yang telah men set-up kontrak maintenance yang tidak partial (Comprehensive). Kontrak tersebut meliputi suatu kawasan besar dan dalam waktu relatif lama. Sebelumnya kontrak pemeliharaan di British Columbia memakan waktu 3 tahun, United Kingdom berjangka waktu 18 bulan dan Malaysia 2 tahun. Berdasarkan jawaban responden terhadap questionnaire yang diajukan oleh Miquel, ditemukan bahwa para kontraktor pada 3 negara tersebut, menghendaki agar kontrak pemeliharaan dapat dilaksanakan selama 5 tahun. Sehingga dapat memberikan kesempatan dan insentif kepada mereka untuk menanam investasi berupa pembelian peralatan pemeliharaan yang berteknologi canggih. Saat ini British Columbia sudah menjalani kontrak pemeliharaan dengan jangka waktu 5 tahun, sedangkan United Kingdom juga melaksanakan 5 tahun kontrak. Malaysia (Taufik Widjojono, 2000) melaksanakan kontrak pemeliharaan dengan jangka waktu 15 tahun.

Jangka waktu kontrak tentunya tidak cukup untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang optimal, diperlukan performance based contract untuk pekerjaan pemeliharaan. Performance based contract akan memberikan sangsi baik kepada pemberi pekerjaan maupun pihak penerima kerja, dan ini tentunya akan berkonsekwensi bahwa kedua belah pihak akan lebih berhati-hati dalam pelaksanaan kontrak.

Zietlow 1999, mendefinisikan performance sebagai bentuk perjanjian antara Penguasa Jalan dengan kontraktor yang menetapkan tingkat minimun dari kinerja pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor dengan parameter yang dapat diukur, sefta mendefinisikan kinerja dari asset system drainase, asset lalulintas, permukaan jalan dan jembatan di dalam konteks outcome dari program pemeliharaan.

Kontrak pemeliharaan berdasarkan kinerja diperkenalkan di Amerika Latin dan banyak negara-negara yang mempergunakan kontrak kinerja untuk pekerjaan pemeliharan jalan. Pengenalan kontrak kinerja untuk pekerjaan tersebut, bersamaan dengan pengenalan Road Fund di Amerika Latin. Adapun bentuk-bentuk standar yang biasa dilaksanakan di Amerika Latin (Africa Technical Note, 1998) adalah sebagai berikut:

  1. IntemationalRoughness Index (IRI) untuk mengukur ketebalan permukaan jalan yang mempengaruhi Biaya Operasi kendaraan.
  2. Tidak adanya “pothole” serta pengawasan terhadap cracks dan rutting.
  3. Jumlah minimum jejak (friction) antara ban mobil dengan permukaan jalan untuk alasan keselamatan.
  4. Jumlah minimum bungkalan dari tanah liat yang menutupi/menghalangi sistem drainase.
  5. Retroflexivity dari road sign and marking.
  6. Pengawasan terhadap tingginya alang-alang atau tumbuhan sampai pada tinggi tertentu

Persyaratan dasar suatu jalan pada hakekatnya adalah dapatnya menyediakan lapisan permukaan yang selalu rata, konstruksi yang kuat sehingga dapat menjamin kenyamanan dan keamanan yang tinggi untuk masa pelayanan (umur jalan) yang cukup lama yang memerlukan pemeliharaan sekecil kecilnya dalam berbagai keadaan.

Konstruksi perkerasan yang lazim pada saat sekarang ini adalah konstruksi perkerasan yang terdiri dari berberapa lapis bahan dengan kualitas yang berbeda, di mana bahan yang paling kuat biasanya diletakkan di lapisan yang paling atas. Bentuk kontruksi perkerasan seperti ini untuk pembangunan jalan-jalan yang ada di seluruh Indonesia pada umumnya menggunakan apa yang dikenal dengan jenis konstruksi perkerasan lentur (Flexible Pavement). Perkerasan lentur (Flexible Pavement) merupakan perkerasan yang menggunakan bahan pengikat aspal dan konstruksinya terdiri dari beberapa lapisan bahan yang terletak di atas tanah dasar,

Masalah kualitas konstruksi jalan di atas sudah banyak dilakukan upaya mengatasinya mulai dari menggunakan spesifikasi baru, mengubah desain perkerasan fleksible dengan rigid pavement, medesentralisasikan desain, melatih para pengawas dan pelaksana, meminta supaya kontraktor memperbaiki AMP dan lain sebagainya, namun realisasinya juga masih belum sesuai yang kita harapkan, masih banyak mutu pekerjaan yang kehandalannya belum sesuai dengan umur rencana yang ditentukan. Jalan yang kita desain dengan umur rencana 10 tahun baru tiga tahun sudah mulai terjadi gejala kerusakan. Kualitas jalan aspal kita masih berkutat pada; bila musim hujan terjadi lobang, dan musim panas masih terjadi rutting. Begitu juga jalan beton yang kita desain 20 tahun baru 3 tahun sudah terjadi kerusakan. Jalan beton baru berumur 3 tahun telah terjadi kerusakan yang cukup merepotkan.

Permukaan perkerasan aspal pada musim panas, terjadi rutting dan lama terjadi lobang dan musim hujan lobang juga muncul cukup banyak. Secara umum deformasi disebabkan terjadinya proses pelelehan campuran aspal pada temperatur alam dan pre compacted oleh roda kendaraan sehingga Void in Mix tidak dapat lagi menampung proses pemuaian aspal pada saat leleh karena temperatur alam (temperatur dipantura pada siang hari mencapai 65°C). Kejadian ini dapat dipahami karena aspal yang digunakan berupa aspal minyak dengan titik lembek 48° C. Penambahan filler yang baik seperti semen bisa menaikkan titik lembek campuran aspal sampai 10° C hal ini berarti Softening Point asphalt campuran (hotmix) hanya bisa mencapai temperatur 58° C, lebih rendah dari aktual. (Purnomo, 2005).

Dari berbagai uraian di atas maka salah satu faktor yang penting dalam operasi pemeliharaan jalanadalah pemilihan aspal yang digunakan karena berkaitan dengan produktivitas penggunaan sumber daya tenaga, waktu dan biaya.

Secara teknis pemeliharaan jalan aspal menggunakan aspal dingin (emulsi) sangat mudah dan cepat dilakukan, namun apakah secara ekonomispun biaya perbaikannya berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan aspal panas (minyak). Oleh karena itu diperlukan analisis menganai manfaat dan biaya (cost-benefit) untuk dijdikan dasar pengambilan keputusan. Menurut Kuiper dalam Kodoatie (2005), ada tiga parameter yang sering dipakai dalam analisis manfaat dan biaya, yaitu:

  1. Perbandingan Manfaat dan Biaya (Benefit/Cost atau B/C)
  2.  Selisih Manfaat dan Biaya (Net Benefit)
  3. Tingkat Pengembalian (Rate of Return)

Ketiga parameter untuk kedua jenis lapis permukaan jalan akan diperbandingkan produktivitasnya dan dialisis secara aktual di lapangan untuk mengetahui mana yang lebih baik dan untuk menganalisis apakah perbedaannya signifikan atau tidak.

Pekerjaan Laburan Aspal Dua Lapis (Burda) (skripsi dan tesis)

Pekerjaan laburan aspal dua lapis (Burda) telah distandarkan oleh Dirjen Bina Marga dalam bentuk Analisa Harga Satuan dengan kode analisa K617. Anggapan-anggapan yang digunakan dalam analisa harga satuan tersebut adalah:

  1. Hasil kerja 600m2/hari
  2. Agregat ukuran tunggal 19 mm dan 9,5 mm tersaring produksi unit pemecah batu ditimbun di lokasi pekerjaan oleh pemasok
  3. Permukaan yang akan diaspal telah selesai dipadatkan dan terikat dengan binder
  4. Lapis primer/resap permukaan menggunakan aspal cutback @ 1L/m2
  5. Lapis seal/penutup menggunakan aspal cutback @ 1,61L/m2 dan @ 1,31L/m2
  6. Agregrat ukuran tunggal dihampar dari dumptruck penghampar @ 60m2/ m3
  7. Sesuai rev. Spek. Umum B.M. maret,89-Buku 3

Sedangkan proses pelaksanaan pekerjaan laburan aspal dua lapis (Burda) adalah sebagai berikut:

  1. Bersihkan permukaan tidak beraspal dari oli dan material lepas
  2. Permukaan perkerasan dilapis prime aspal cutback
  3. Bersihkan dan tutup permukaan yang sudah dilapis dengan dua lapis aspal cutback dan serpihan agregat
  4. Tiap lapis digilas dengan mesin gilas pneumatic roda karet.

Pada pengerjaan Burda diperlukan tiga buah komponen pendukung yaitu pekerja, material, dan peralatan. Rincian masing-masing komponen tersebut untuk volume perkjaan 1800 m2 dapat dilihat pada tabel 3.1:

Tabel 3.2. Tabel  Analisis Harga Satuan Pengerjaan Burda

Komponen Vol Hari Kode Total Vol

(org.hari)

1.      Pekerja a. Mandor

b.Operator terlatih

c. Pembantu Operator

d.                 Supir terlatih

e. Pembantu supir

f. Buruh tak terampil

g.Buruh terampil

1

2

2

1

1

12

2

3

3

3

3

3

3

3

L061

L081

L089

L091

L099

L101

L106

3

6

6

3

3

36

6

      Satuan Kode Total Vol
2.      Material a. Batu sungai tersaring

b.Aspal

c. Minyak baker

d.                 Alat Bantu (set@3 alat)

  m3

kg

lt

set

K017

M061

M065

M170

48,00

5750,00

1270,00

1,44

3.      Peralatan a. Mesin gilas roda karet 8-15 ton

b.Mesin penyemprot aspal

c. Dump truck 3,5 ton/115HP

1

 

1

1

3

 

3

3

E084

 

E153

E211

15,00

 

15,00

15,00

 

Sumber: Analisa Harga Satuan Kode K617 Dirjen Bina Marga

Aspal Secara Umum (skripsi dan tesis)

Dari sejarah dapat diketahui bahwa aspal, atau asphalt (Amerika) atau bitumen (Inggris) telah digunakan sejak dahulu untuk beberapa keperluan baik digunakan untuk pengerasan jalan, maupun untuk pengawetan jenasah dan lain-lain.

Aspal tersusun atas senyawa hydrogen (H) dan karbon (C) yang terdiri dari parafins, naptene dan aromatic. Bahan-bahan tersebut membentuk kelompok-kelompok yang disebut:

  1. Asphaltenese

Kelompok ini membentuk butiran halus, berdasarkan aromatic benzene structure serta mempunyai berat molekul yang tinggi.

  1. Oils

Kelompok ini membentuk cairan yang melarutkan asphaltenese, tersusun dari paraffin (waxy), cyclo paraffin (wax-free),dan aromatic serta mempunyai berat molekul yang rendah

  1. Resins

Kelompok ini membentuk cairan yang menyelubungi asphaltenese dan mempunyai berat molekul yang sedang. Selanjutnya gabungan resin dan oil sering disebut sebagai maltenese.

Menurut jenisnya aspal dapat dibedakan menjadi: (Suprapto, 2004)

  1. Aspal alam

Aspal jenis ini banyak terdapat di alam, seperti lake asphalt di Trinidad Bermuda dan rock asphalt di Pulau Buton Indonesia yang terkenal dengan sebutannya Asbuton (aspal batu buton). Biasanya aspal jenis ini banyak tedapat di daerah yang mengandung minyak bumi.

Kadar bitumen pada aspal alam ini hanya mencapai kurang lebih 30 % sehingga kurang baik untuk langsung digunakan. Oleh karenanya banyak usaha yang dilakukan unuk memperbaiki karakteristik aspal alam.

  1. Aspal Panas

Aspal atau bitumen yang merupakan campuran dari hydrogen (H) dan Carbon (C) yang sangat kompleks. Aspal panas dapat diperoleh dari dari (1) bahan hewani yang diperoleh dari crude oil pada proses akhir pengolahan minyak, di dalam proses penyaringan crude oil, tidak semuanya dapat menghasilkan aspal (2) bahan nabati yang diperoleh dari pengolahan batu bara (disebut tar). Perbedaan kedua jenis aspal minyak ini adalah dari baunya.

Aspal jenis ini banyak digunakan pada pekerjaan coating/pelapisan jalan (misalnya: perbaikan) dan pembuatan beton aspal campuran dingin (cold mix) atau digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat aspal semen atu aspal lain dengan wujud yang berbeda.

  1. Apal Emulsi (Emulsified Asphalt)

Aspal ini dibuat dari bahan dasar aspal, air, dan bahan tambah (agent) dengan cara mendispersikan aspal ke dalam diaran (air) dalam bentuk butiran-butiran halus. Agar bahan yang dicampur dapat bertahan yaitu butiran aspal tidak berkumpul dan menggumpal maka perlu diberikan tambahan bahan lain yaitu surface active agent (bahan pengemulsi).

Daya lekat antara aspal emulsi dan permukaan batu/jalan, sangat tergantung dari proses penguapan air dan realsi kimia antara kedua permukaan yang bersentuhan tersebut. Kelebihan aspal emulsi ini adalah tidak adanya bahaya kebakaran pada saat penggunaannya (hingga sering disebut aspal dingin), tidak ada polusi, bitumen keras dapat diperoleh dalam keadaan cair, cocok dengan pekerjaan yang relative kecil dengan unskilled labour.

Perbandingan keunggulan dan kekurangan antara aspal emulsi dan aspal panas,dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 3.1. Perbandingan Keunggulan dan Kekurangan Aspal Emulsi dan Aspla Panas

Jenis Aspal Keunggulan Kekurangan
Aspal Panas –          Harga satuan lebih murah

–          Tidak terpengaruh oleh cuaca hujan

–          Dapat digunakan sebagai campuran untuk membuat beton aspal

–          Efisiensi penggunaan rendah karena bentuknya semi padat sehingga banyak tertinggal di dalam drum

–          Dibutuhkan pemanasan terlebih dahulu sebelum digunakan

–          Peralatan dan pengerjaan lebih sulit dan tidak cocok dengan pekerjaan yang relaitf kecil dengan unskilled labour

–          Dapat terjadi bahaya kebakaran pada saat penggunaannya, dan menyebabkan polusi.

Aspal Emulsi –          Efisiensi penggunaan tinggi karena bentuknya cair sehingga dapat digunakan sampai habis

–          Tidak dibutuhkan pemanasan   terlebih dahulu sebelum digunakan

–          Peralatan dan pengerjaan cukup mudah dan cocok dengan pekerjaan yang relative kecil dengan unskilled labour

–          Tidak adanya bahaya kebakaran pada saat penggunaannya, tidak ada polusi.

–          Harga satuan lebih mahal

–          Terpengaruh oleh cuaca hujan karena akan larut dalam air

–          Tidak dapat digunakan sebagai campuran untuk membuat beton aspal

Sumber: PT Hutama Prima (2003)

Pemerataan dan Perluasan Memperoleh Pendidikan (skripsi dan tesis)

Dunia pendidikan di Indonesia masih menghadapi beberapa permasalahan besar yaitu: (Kodoatie, 2005)

  1. Rendahnya pemerataan memperoleh pendidikan
  2. Rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan
  3. Lemahnya manajemen pendidikan

Dengan otonomi daerah yang termasuk di dalamnya otonomi pendidikan, penyelenggaraan pendidikan jenjang dasar sampai dengan jenjang menengah termasuk pendidikan luar sekolah, hampir seluruhnya menjadi tanggung jawab pemerintah Kabupaten/Kota. Sehingga diharapkan pengelolaan pendidikan akan lebih baik.

Suatu hal dikatakan efektif jika dapat mencapai atau memenuhi apa yang menjadi tujuannya. Dalam konteks efektifitas sekolah, maka sekolah yang efektif adalah sekolah yang dapat mengembangkan fungsi-fungsi sekolah yang ditetapkan sebagai kapasitas sekolah untuk memaksimumkan pencapaian pelaksanaan fungsi-fungsi sekolah tersebut.

Pemerataan dan perluasan pendidikan atau bisa disebut perluasan kesempatan belajar merupakan salah satu sasaran pembangunan pendidikan. Pemerataan dan perluasan pendidikan dimaksudkan agar setiap orang mepunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Kesempatan memperoleh pendidikan itu tidak dibedakan menurut jenis kelamin, status sosial ekonomi, dan lokasi geografis.

Kebijakan ini menekankan bahwa setiap orang tanpa memandang asal-usulnya mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan pada seua jenis jenjang, maupun jalur pendidikan. Sasaran kebijakan ini adalah untuk menciptakan keadilan dalam pelayanan pendidikan untuk semua segmen masyarakat. Pemerataan ini dimaksudkan untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan yang merata.

Untuk dapat mencapai kebijakan tersebut maka dibuatlah sekolah-sekolah di daerah terpencil seperti SMP terbuka. Mengingatt Siswa SMP Terbuka diperuntukkan bagi =nggota masyarakat usia sekolah tertutama bagi mereka yang tidak mampu untuk menempuh pendidikan reguler(sekolah umum), baik karena kemampuan ekonomi, jarak tempuh, waktu dan lain-lain sedangkan efektifitas adalah pencapaian sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan maka efektifitas SMP terbuka dapat diukur dengan indikator-indikator sebagai berikuts :

  1. Angka Partisipasi Kasar (APK)

Merupakan perbandingan antara jumlah siswa pada jenjang pendidikan tertentu dengan penduduk kelompok usia yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase.

Rumus:

APK =  Jumlah siswa di jenjang pendidikan tertentu x100%

Jumlah penduduk kelompok tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Makin tinggi APK berarti makin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan di daerah, atau makin banyak anak usia di luar kelompok usia sekolah trertentu bersekolah di tingkat pendidikan tertentu. Nilai APK bisa lebih besar dari 100% karena terdapat didwa yang berusia di luar usia resmi sekolah, terletak di daerah terpencil atau perbatasan kota.

  1. Angka Partisipasi Murni (APM)

Merupakan perbandingan antara penduduk kelompok usia sekolah pada jenjang pendidikan tertentu dengan penduduk usia sekolah yang dinyatakan dalam persentase.

Rumus

APM = Jumlah siswa kelompok sekolah di jenjang pendidikan tertentu x100%

Jumlah penduduk kelompok usia tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin tinggi APM berarti semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah, dan tingkat pendidikan tertentu. Nilai ideal APM adalah 100%, bila lebih dari 100% karena adanya siswa usia sekolah dari luar daerah yag bersekolah di daerah tertentu, diperbolehkannya mengulang di setiap tingkat, daerah kota, atau daerah perbatasan.

  1. Angka Partisipasi Murni Usia Sekolah (APM usia sekolah/APMus)

Merupakan perbandingan jumlah siswa kelompok usia tertentu yang bersekolah pada beberapa jenjang pendidikan dengan pendidikan kelompok usia sekolah tertentu yang sesuai dan dinyatakan dengan persentase.

Rumus

APMus = Jumlah siswa kelompok sekolah di jenjang pendidikan x100%

Jumlah penduduk kelompok usia tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin tinggi APMus berarti semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah, dan tingkat pendidikan tertentu. Nilai ideal APM adalah 100%, tidak akan lebih dari 100% karena siswa usia sekolah dan penduduk usia sekolah dihitung dari siswa yang ada di semua jenjang pendidikan pada suatu daerah. Bila ternyata lebih dari 100%, maka perlu dicari tau berapa siswa yang berasal dari daerah lain.

  1. Rasio Siswa per Sekolah (R-S/S)

Merupakan perbandingan antara jumlah siswa dengan jumlah sekolah pada jenjang pendidikan tertentu.

Rumus

R-S/S =  Jumlah siswa di jenjang pendidikan tertentu x100%

Jumlah sekolah pada jenjang pendidikan tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin tinggi rasio berarti semakin padat siswa di sekolah atau kurang jumlah sekolah di suatu daerah

  1. Rasio Siswa per Kelas (R-S/K)

Merupakan perbandingan antara jumlah siswa dengan jumlah kelas pada jenjang pendidikan tertentu.

Rumus

R-S/S =  Jumlah siswa di jenjang pendidikan tertentu x100%

Jumlah kelas pada jenjang pendidikan tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin tinggi rasio berarti semakin padat siswa di kelas atau kurang jumlah kelas di suatu daerah

  1. Rasio Siswa per Guru (R-S/G)

Merupakan perbandingan antara jumlah siswa dengan jumlah guru pada jenjang pendidikan tertentu.

Rumus

R-S/S =  Jumlah siswa di jenjang pendidikan tertentu x100%

Jumlah guru pada jenjang pendidikan tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin tinggi rasio berarti semakin banyak siswa yang dilayani oleh guru atau kurang jumlah guru di suatu daerah

  1. Angka Melanjutkan (AM)

Merupakan perbandingan antara jumlah siswa baru di tingkat I pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan jumlah lulusan pada jenjang yang lebih rendah.

Rumus

R-S/S =  Jumlah siswa di jenjang pendidikan tertentu x100%

Jumlah kelas pada jenjang pendidikan tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin tinggi angkanya maka semakin baik. Idealnya=100% berarti seuma lulusan dapat ditempung di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

  1. Tingkat Pelayanan Sekolah (TPS)

Merupakan perbandingan jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah sekolah ekuivalen atau jumlah lulusan terhadap sekolah ekuivalen. Sekolah ekuivalen adalah sekolah yang diasumsikan memiliki 6 kelas. Tingakt pelayanan SD dan jenjang lebih tinggi dibedakan karena masing-masing sekolah melayani siswa yang berbeda. Khusus SD adalah melayani siswa usia 7-12 tahun, sedangkan SLTP dan SLTA adalah melayani lulusan SD dan SLTP yang akan masuk ke SLTP atau SLTA.

Rumus

TPS-SD= Jumlah penduduk 7-12 tahun

              Jumlah sekolah ekuivalen

TPS-SLTP/SLTA= Jumlah lulusan

                               Jumlah sekolah ekuivalen

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin kecil nilainya berarti semakin baik karena semakin banyak kesempatan belajar di sekolah, walaupun demikian ada batas minimalnya.

Standar ideal untuk mengukur pemerataan pendidikan dihitung dari angka nasional untuk tingkat SD, SLTP, maupun SLTA disajikan dalam table berikut:

Tabel 2.1. Standar Ideal Indikator Pendidikan

No Jenis Indikaor Standar Nasional
Tk.SD Tk. SLTP Tk. SLTA
1

2

3

4

5

6

7

8

Angka Partisipasi Kasar

Angka Partisipasi Murni

Angka Partisipasi Murni US

Rasio Siswa per Sekolah

Rasio Siswa per Kelas

Rasio Siswa per Guru

Angka Melanjutkan

Tingkat Pelayanan Sekolah

Sekitar 100%

Mendekati 100%

100%

240

40

40

–

133

Sekitar 100%

Mendekati 100%

100%

360

40

21

100%

116

Sekitar 100%

Mendekati 100%

100%

360

40

21

100%

102

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Konsep Efektifitas (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya pengertian efektifitas yang umum menunjukkan pada taraf tercapainya hasil, sering atau senantiasa dikaitkan dengan pengertian efisien, meskipun sebenarnya ada perbedaan diantara keduanya. Efektifitas menekankan pada hasil yang dicapai, sedangkan efisiensi lebih melihat pada bagaimana cara mencapai hasil yang dicapai itu dengan membandingkan antara input dan outputnya.

Istilah efektif (effective) dan efisien (efficient) merupakan dua istilah yang saling berkaitan dan patut dihayati dalam upaya untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Tentang arti dari efektif maupun efisien terdapat beberapa pendapat.

Menurut Chester I. Barnard (Prawirosentono, 1999), menjelaskan bahwa arti efektif dan efisien adalah sebagai berikut :

“When a specific desired end is attained we shall say that the action is effective. When the unsought consequences of the action are more important than the attainment of the desired end and are dissatisfactory, effective action, we shall say, it is inefficient. When the unsought consequences are unimportant or trivial, the action is efficient. Accordingly, we shall say that an action is effective if it specific objective aim. It is efficient if it satisfies the motives of the aim, whatever it is effective or not”.

Bila suatu tujuan tertentu akhirnya dapat dicapai, kita boleh mengatakan bahwa kegiatan tersebut adalah efektif. Tetapi bila akibat-akibat yang tidak dicari dari kegiatan mempunyai nilai yang lebih penting dibandingkan dengan hasil yang dicapai, sehingga mengakibatkan ketidakpuasan walaupun efektif, hal ini disebut tidak efisien. Sebaliknya bila akibat yang tidak dicari-cari, tidak penting atau remeh, maka kegiatan tersebut efisien. Sehubungan dengan itu, kita dapat mengatakan sesuatu efektif bila mencapai tujuan tertentu. Dikatakan efisien bila hal itu memuaskan sebagai pendorong mencapai tujuan, terlepas apakah efektif atau tidak.

Disamping itu, menurut Chester Barnard, (Prawirosentono, 1999), pengertian efektif dan efisien dikaitkan dengan system kerjasama seperti dalam organisasi perusahaan atau lembaga pemerintahan, sebagai berikut :

“Effectiveness of cooperative effort relates to accomplishment of an objective of the system and it is determined with a view to the system’s requirement. The efficiency of a cooperative system is the resultant of the efficiency of the individuals furnishing the constituent effort, that is, as viewed by them”.

Efektifitas dari usaha kerjasama (antar individu) berhubungan dengan pelaksanaan yang dapat mencapai suatu tujuan dalam suatu system, dan hal itu ditentukan dengan suatu pandangan dapat memenuhi kebutuhan system itu sendiri. Sedangkan efisiensi dari suatu kerjasama dalam suatu system (antar individu) adalah hasil gabungan efisiensi dari upaya yang dipilih masing-masing individu).

Dalam bahasa dan kalimat yang mudah hal tersebut dapat dijelaskan bahwa : efektifitas dari kelompok (organisasi perusahaan) adalah bila tujuan kelompok tersebut dapat dicapai sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan. Sedangkan efisien berkaitan dengan jumlah pengorbanan yang dikeluarkan dalam upaya mencapai tujuan. Bila pengorbanannya dianggap terlalu besar, maka dapat dikatakan tidak efisien.

Menurut Peter Drucker (Kisdarto, 2002) menyatakan :

“doing the right things is more important than doing the things right. Effectiveness is to do the right things  while efficiency is to do the things right”

Efektifitas adalah melakukan hal yag benar : sedangkan efisiensi adalah melakukan hal secara benar). Atau juga “effectiveness means how far we achieve the goal and efficiency means how do we mix various resources properly” (efektifitas berarti sejauhmana kita mencapai sasaran dan efisiensi berarti bagaimana kita mencampur sumber daya secara cermat).

Efisien tetapi tidak efektif berarti baik dalam memanfaatkan sumberdaya (input), tetapi tidak mencapai sasaran. Sebaliknya, efektif tetapi tidak efisien berarti dalam mencapai sasaran menggunakan sumber daya berlebihan atau lajim dikatakan ekonomi biaya tinggi. Tetapi yang paling parah adalah tidak efisien dan juga tidak efektif, artinya ada pemborosan sumber daya tanpa mencapai sasaran atau penghambur-hamburan sumber daya.

Efisien harus selalu bersifat kuantitatif dan dapat diukur (mearsurable), sedangkan efektif mengandung pula pengertian kualitatif. Efektif lebih mengarah ke pencapaian sasaran. Efisien dalam menggunakan masukan (input) akan menghasilkan produktifitas yang tinggi, yang merupakan tujuan dari setiap organisasi apapun bidang kegiatannya.

Hal yang paling rawan adalah apabila efisiensi selalu diartikan sebagai penghematan, karena bisa mengganggu operasi, sehingga pada gilirannya akan mempengaruhi hasil akhir, karena sasarannya tidak tercapai dan produktifitasnya akan juga tidak setinggi yang diharapkan.

Penghematan sebenarnya hanya sebagian dari efisiensi. Persepsi yang tidak tepat mengenai efisiensi dengan menganggap semata-mata sebagai penghematan sama halnya dengan penghayatan yang tidak tepat mengenai Cost Reduction Program (Program Pengurangan Biaya), yang sebaliknya dipandang sebagai Cost Improvement Program (Program Perbaikan Biaya) yang berarti mengefektifkan biaya.

Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa efektifitas kerja berarti penyelesaian pekerjaan tepat pada waktu yang telah ditetapkan. Artinya apakah pelaksanaan sesuatu tugas dinilai baik atau tidak sangat tergantung pada bilamana tugas itu diselesaikan dan tidak, terutama menjawab pertanyaan bagaimana cara melaksanakannya dan berapa biaya yang dikeluarkan untuk itu.

Pendidikan di Daerah Terisolir atau Daerah Terpencil (skripsi dan tesis)

Daerah terpencil adalah daerah  yang memiliki kondisi sosial, ekonomi dan fisik relatif tertinggal dibandingkan daerah lain atau sekitarnya, yang dicirikan oleh adanya permasalahan sebagai berikut :

  1. rendahnya tingkat kesejahteraan dan ekonomi masyarakat,
  2. keterbatasan Sumberdaya Alam (rendahnya produktifitas lahan /     kritis minus),
  3. rendahnya aksesibilitas
  4. terbatasnya ketersediaan prasarana dan sarana kawasan,
  5. serta rendahnya kualitas Sumberdaya Manusia.

Berkaitan dengan Penuntasan Program Wajib Belajar 9 Tahun, Departemen Pendidikan Nasional menyatakan bahwa salah satu permasalahan penuntasan Wajar 9 tahun berkaitan dengan daerah terisolir adalah pemerataan dan perluasan akses yang didasarkan pada kenyataan bahwa:

  1. APK rata-rata nasional SMP/MTs/Sederajat tahun 2006 masih 88,68%, sehingga ada sekitar 1,47 juta anak usia 13-15 tahun yang belum mendapatkan layanan pendidikan SMP/MTs/Sederajat.

Anak usia 13-15 yang belum memperoleh layanan pendidikan SMP/MTs/Sederajat tersebut te4rsebar di berbagai daerah yang kondisi geografisnya sangat beragam, di daerah terpencil, terpencar dan terisolir.  Pada wilayah yang seperti ini di samping motivasi mereka terhadap perlunya pendidikan masih rendah, perlu ada layanan alternatif/khusus untuk memudahkan mereka mendapatkan layanan pendidikan.  Masalah lain yang dihadapi pada kondisi daerah seperti ini adalah latar belakang ekonomi masyarakat yang sebagian besar sangat rendah sehingga daya dukung masyarakat terhadap pendidikan pun masih sangat lemah.

  1. Terdapat kurang lebih 452 ribu tamatan SD/MI/Sederajat setiap tahun yang tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP/MTs/Sederajat.

Dalam mengupayakan layanan pendidikan dasar yang komprehensif, anak-anak tamatan sekolah dasar/MI atau sederajat yang tidak melanjutkan pendidikannya ke SMP/MTs perlu didukung dengan penyediaan daya tampung yang memadai dan memberikan dorongan agar semangat dan motivasi belajar mereka dapat dilanjutkan.

  1. Angka putus sekolah masih cukup tinggi.

Untuk mensukseskan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar, angka putus sekolah pada pendidikan dasar masih perlu perhatian untuk diturunkan.  Data yang ada menunjukkan bahwa persentase angka putus sekolah di Indonesia untuk SMP/MTs sebesar 2,15% pada tahun 2006 atau sebanyak 247,3 ribu siswa per tahun.  Upaya mempertahankan mereka tetap berada di sekolah dikaitkan dengan penyediaan fasilitas pembelajaran yang memadai dan pemberian dorongan agar motivasi untuk belajar dapat dipertahankan.

Masalah kesenjangan antarwilayah melalui pembangunan daerah tertinggal tetap akan menjadi salah satu perhatian utama pemerintah di dalam memeratakan hasil-hasil pembangunan di seluruh wilayah tanah air. Upaya tersebut menuntut pentahapan karena besarnya permasalahan yang dihadapi. Dalam tahun 2007, pengurangan kesenjangan antarwilayah difokuskan pada penanganan daerah-daerah perbatasan yang sesungguhnya merupakan beranda negara kita terhadap negara-negara tetangga, serta daerah-daerah terisolir yang di dalamnya juga termasuk pulau-pulau kecil terluar. Dalam konteks pengembangan daerah-daerah perbatasan sebagian besar wilayahnya mengalami masalah ketertinggalan pembangunan akibat aksesibilitasnya yang umumnya terbatas dari ibu kota provinsi. Ketertinggalan tersebut selain berpotensi menimbulkan permasalahan sosial politik dengan negara-negara tetangga, juga mendorong munculnya sejumlah kegiatan yang bersifat ilegal. Dengan demikian, penanganan bagi daerah-daerah ini umumnya menggunakan pendekatan kesejehteraan (prosperity approach) yang diintegrasikan dengan pendekatan keamanan (security approach).

Beberapa masalah pokok di daerah perbatasan dan wilayah terisolir seperti: terbatasnya prasarana dan sarana penunjang ekonomi antara lain transportasi, telekomunikasi, ketenagalistrikan dan informasi, rendahnya akses ke pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, tingginya biaya produksi, serta terbatasnya prasarana sosial seperti air bersih, air irigasi, kesehatan, pendidikan akan mendapat perhatian yang besar.

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Terbuka (SMP Terbuka) (skripsi dan tesis)

Menurut Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Nomor 053/U/1996 Tentang definisi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Terbuka merupakan lembaga pendidikan formal yang tidak berdiri sendiri tetapi merupakan bagian dari SMP Induk yang dalam menyelenggarakan pendidikannya menggunakan metode belajar mandiri.

Siswa SMP Terbuka diperuntukkan bagi Anggota masyarakat usia sekolah tertutama bagi mereka yang tidak mampu untuk menempuh pendidikan reguler(sekolah umum), baik karena kemampuan ekonomi, jarak tempuh, waktu dan lain-lain. Siswa SMP Terbuka dapat pindah ke SMP Lainnya dan sebaliknya.

SMP Terbuka yang dirintis sejak tahun pelajaran 1978/1979 merupakan sekolah lanjutan tingkat pertama yang dirancang khusus untuk melayani para anak tamatan SD/MI/sederajat siswa usia 1315 tahun yang tidak dapat mengikuti pelajaran secara biasa pada SMP Reguler setempat, karena berbagai alasan yang antara lain : keadaan sosial ekonomi orang tua siswa, kendala transportasi dari dan ke SMP, kondisi geografis yang sulit, atau kurangnya waktu bagi anak untuk dapat belajar seperti anak-anak pada umumnya di SMP Reguler. Berbagai ragam kendala tersebut merupakan fenomena dan gambaran secara nyata dari kebanyakan siswa SMP Terbuka yang sebenarnya tetap berkeinginan untuk belajar hingga meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Sebagai salah satu pola dalam pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun, SMP Terbuka telah berjasa dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi para anak tamatan SD/MI/sederajat usia maksimal 18 tahun yang memiliki karakteristik khusus tersebut. Karakteristik dimaksud antara lain adalah rendahnya status ekonomi orang tua atau masyarakat dan keterpencilan tempat tinggal siswa, baik secara sosial maupun geografis yang sulit untuk dijangkau oleh pelayanan pendidikan, baik melalui SMP Reguler maupun jenis pendidikan lainnya yang setingkat. Di samping miskin harta, mereka pada umumnya juga miskin informasi.

Sedangkan Kegiatan Pembelajaran SMP Terbuka dilaksanakan sebagai berikut:

  1. Siswa belajar mandiri atau berkelompok sekurang-kurangnya 16 jam pelajaran dalam satu minggu yang dibimbing oleh guru pamong di Tempat Kegiatan Belajar (TKB)
  2. Siswa belajar secara tatap muka di kelas pada Sekolah induk sekurang-kurangnya 12 jam pelajaran dalam satu minggu yang dibimbing oleh Guru bina

Siswa SMP Terbuka adalah Warga Negara Indonesia dengan syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Usia Maksimal 18 tahun
  2. Berijazah dan mempunyai Surat Tanda Tamat Belajar Sekolah Dasar

Tenaga Kependidikan SMP Terbuka terdiri dari

  1. Kepala Sekolah

Kepala Sekolah dari SMP Terbuka adalah kepala Sekolah Induk.

  1. Guru Bina

Guru bina adalah guru pada sekolah induk yang diberi tugas untuk mengajar di SMP Terbuka sesuai mata pelajaran yang ditentukan.

  1. Guru Pamong

Guru pamong adalah pembimbing belajar mandiri siswa yaitu Anggota masyarakat yang peduli akan pendidikan. Dengan ketentuan pendidikan minimal SMA, dan berada pada lingkungan sekitar Tempat Kegiatan Belajar.

Waktu belajar di TKB disepakati oleh siswa dan guru pamong, waktu belajar dapat diadakan pada pagi, siang atau malam hari. Waktu kegiatan belajar di Sekolah Induk diadakan sesuai ketersediaan waktu dan ruangan yang ada di Sekolah Induk.

Siswa SMP Terbuka sepenuhnya dibebaskan dari pungutan apapun, Hal tersebut dikarenakan biaya operasional SMP Terbuka sepenuhnya dibiayai oleh Pemerintah.

Pengkonsepsikan dan Perancangan Rencana Pembangunan Infrastruktur Sekolah (skripsi dan tesis)

  1. Dalam pembahasan mengenai trend perencanaan pendidikan, kecenderungan masa lalu dan masa kini harus diamati dalam batas-batas lingkungannya dan perencana pendidikan harus mengkaji pola-pola dan kecenderungan yang umum dan menonjol pada manusia, tempat, pergerakan, ekonomi dan aktivitas. Dengan memperhatikan perencanaan lingkungan, perhatian yang harus diarahkan adalah orang dan fungsinya  dalam lingkungan tersebut. Perencanaan melibatkan pengarahan dan pengawasan dari penggunaan dan pengembangan sumber daya manusia dan fisik untuk manfaat sosial dan ekonomi semaksimal mungkin.

Tiga jenis konsep infrastruktur, yaitu:

  1. Infrastruktur linear (air, listrik, lalu lintas dan sebagainya)
  2. Infrastruktur planar (permukaan datar)
  3. Infrastruktur spatial

Seperti kebiasaan umum dalam perencana, infrastruktur linear memungkinkan variasi yang tidak terlalu beragam dibandingkan dengan dua infrastruktur lainnya. Dalam beberapa hal, kota bisa dianggap sebagai suatu kombinasi yang rumit dan dinamis dari infrastruktur linier, palanar dan spatial.

Konsep sistem yang dinamis dan berubah yang ditemukan di kota mengharuskan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan bentuknya. Perkembangan bentuk dan struktur perkotaan memiliki implikasi penting untuk perencanaan kota juga sistem sekolah.

Konsep kepadatan hendaklah tidak ditafsirkan secara kaku. Misalkan di Amerika Serikat, perencana terkesan dengan luasnya wilayah dengan demikian merencanakan keterbukaan perencanaan. Sementara di Eropa dimana kepadatan penduduknya sangat tinggi, sasaran perencanaan adalah memanfaatkan ruang yang ada untuk pemakaian terbaik karena wilayah perkotaan menjadi semakin kompleks diperlukan fleksibilitas yang lebih besar agar bisa memadukan orang dengan tempat, pergerakan biaya dan aktivitas. Secara umum harus mempertimbangkan komunikasi dan konsep pergerakan. Disini harus dipertimbangkan keseimbangan antara peraturan dengan pengendalian dan kebebasan penduduk.

Perencanaan pendidikan akan memberikan kontribusi yang besar jika dapat menilai efektifitasnya berbagai program yang ditanganinya. Bangunan dan ruang lainnya sebagian menunjukkan suatu sistem sosial yang kompleks. Setiap aspek terletak pada hubungan kausal dengan yang lainnya. Aspek  perencanaan fisik fasilitas pendidikan harsu sesuai dengan rencana lain pihak pemerintah maupun non pemerintah.

Prinsip perencanaan, khususnya dalam lingkungan fisik, semuanya berkaitan dengan perencanaan lingkungan pendidikan. Empat perhatian perencana adalah:

  • Sejumlah aktivitas yang tercakup dalam berbagai lembaga pendidikan
  • Kebutuhan manusia akan lembaga pendidikan.
  • Perencanaan fasilitas fisik yang berkaitan dengan proses dan teknik
  • Administrasi gedung dan peralatan sekolah

Pendidikan merupakan suatu sistem dalam lingkungan secara keseluruhan, perencanaan sistem pendidikan hendaknya secara langsung diintegrasikan ke dalam aktivitas perkotaan lainnya. Karena sistem pendidikan bukan merupakan sistem tertutup, maka akan terus berinteraksi dengan bagian lain dari mekanisme perkotaan. Prinsip-prinsip yang dan berlaku untuk sistem kota dan sistem sekolah. Perencanaan pembelajaraan dan proyeksi kebutuhan pembelajaran di masa depan  dalam bidang pembelajaran dapat diprediksi untuk memastikan lingkungan fisik yang paling baik untuk pembelajaran.

Pola dan trend yang mempengaruhi orang, tempat, pergerakan, ekonomi dan aktivitas itu bersatu menjadi suatu gambaran yang bermakna berkenaan dengan proses pendidikan.

  1. Pola dan Kecenderungan Umum Pada Manusia

Perencana pendidkan harsu sesuai dengan pekerjaanya. Perencana pendidikan hendaknya seorang analis yang terampil, evaluator yang efektif dan desainer yang cakap. Perencana merupakan seoranf profesional yang dengan pengalaman atau pendidikan mampu membuat konsep mengenai pedoman pelaksanaan satu tugas sampai selesai. Sebagai analisi dan pesintesi, perencana harus memahami keseluruhan kontribusi komponen sistem pendidikan dan interaksi antar komponen tersebut dalam struktur, penggunaan tanah, prosedur perzinan, transportasi, demografi, interaksi sosial dan sistem sekolah merupakan bagian penting dari latar belakangnya. Fungsi perencanaan itu lebih luas daripada sekedar merancanggedung. Pembuatan desain sistem sekolah dalam wilayah tertentu itu melibatkan sejumlah pengetahuan dan ketrampilan dibanding dengan hanya sekedar memvisualisasikan perencanaan gedung sekolah.

Desain untuk lingkungan fisik, seperti desain perencanaan posisi sekolah menunjukkan aktivitas yang akan terjadi dalam ruang (space). Petunjuk khusus mengenai prencanaan dan perencana memang belum begitu jelas. Dalam kaitannya dengan munculnya kekuatan politik, perencana harsu sangat fleksibel. Namun demikian disiplin perencanaan dibagi ke dalam dua kelompok yaitu:

  • Petunjuk metodologi
  • Petunjuk parsial atau tidak lengkap

Permasalahan perencanaan infrastruktur sekolah terletak pada pembuatan penggunaan lahan atau ruang, sedangkan perencana harus membuat sistem suatu lembaga atau organisasi sehingga berbagai komponen yang berada di dalamnya dapat berinteraksi dan berfunsi secara efektif. Konsep fleksibilitas menjadi semakin kuat dalam sistem perencanaan infrastruktur sekolah serta desain arsitektur gedung. Dua konsep ini sangat jelas, pertama merupakan perubahan dalam aktivitas belajar mengajar dan yang ke dua merupakan keterlibatan aktivitas pendukung komunitas yang memberikan kontribusi pada pengembangan sistem pembelajaran.

Fungsi perencana pendidikan sangat banyak dan beragam, akrean seorang perencana dapat berfungsi sebagai perumus dan pelaksana perencanan, pedoman atau perencanaan, pedoman atau pencapaian tujuan. Perencana harus terus menerus memonitor dan mengevaluasi perencanaan dan bertindak sebagai penyangga untuk memastikan penyelesaian dari perencanaan tersebut. Peran utama perencana meliputi:

  • Pemimpin institusi
  • Perencana profesional
  • Komunikator
  • Promotor

Dengan demikian trend dalam perencanaan pendidikan tampaknya mendapatkan fleksibiltas yang lebih besar dalam pelatihan perencanaan pendidikan dan akibatnya sangat besar fleksibiltasnya dalam perncangan lingkungan fisik untuk pembelajaran. Perubahan tang pesat dalam masyarakat teknologi menuntut bahwa lingkungan fisik untuk belajar itu harus fleksibel agar dapat memastikan bahwa siswa dapat terus mengimbangi perubahan sosial, politik, budaya dan fisik di masa depan.

Pekerjaan perncana pendidikan memerlukan interprestasi ringkas mengenai kebutuhan masyarakat dan bagaimana cara perencanaan tersebut memenuhinya. Dengan demikian, perencanaan harus bersifat komprehensif jika perencanaan itu merupakan perencanaan fisk, sosial, ekonomi, transportasi dan perencanaan pendidikan. Perencana harus menyeimbangkan sesuatu menginginkan dengan sesuatu yang memungkinkan terjadi

  1. Pola dan Kecederungan Yang Menonjol Pada Tempat

Dari awal peradaban,lingkungan fisik mempengaruhi sosial manusia. Manusia menggunakan unsur-unsur alam untuk kepentingan dan pemenuhan tujuan sosialnya. Masalah penting lainnya dari perancang fisik ini adalah penciptaan bentuk-bentuk pemukiman yang menunjukkan lingkungan manusia sebagai bagian dari tatanan alami kehidupan. Ini dilakukan dengan membuat fokus interaksi agar bisa meningkatkan pilihan dalam aktivitas dan hubungan infrastruktur.

Salah satu pengukuran pengaruh lingkungan ini adalah tingkat tanggapan lingkungan terhadap individu. Lingkungan yang sesuai dapat secara efektif mempengaruhi perilaku individu dan membantu menggali pengembangan potensi dasarnya. Bila seluruh sistem dikaji, ada tindakan korektif yang dilakukan untuk bebrapa komponen sistem, sehingga keseluruhan sistem bisa berjalan dengan sangat efektif. Dalam perencanaan pendidikan, pendekatan sistem menyeluruh ini diterapkan dalam fasilitas fisik juga program akademi. Lingkungan fisik harus mampu mendukung individu melakukan sejumlah aktivitas. Setting yang sesuai menekankan siswa sebagai individu dan mengahsilkan konsep diri yang lebih positif karena setting tersebut jelas menggambarkan peran individu tersebut dalam sistem pendidikan.

  1. Pengaruh Fisik

Untuk mempertahankan kondisi lingkungan yang ideal selamanya tidaklah mungkin. Tugas perencana pendidikan dalam hal lingkungan fisik merupakan tugas yang kompleks. Tanggung jawab perencana adalah menciptakan bentuk pendidikan yang akan menghasilkan situasi yang membantu pelajar dengan pengaruh efektif agar berperilaku positif. Namun, lingkungan pendidikan harus dianggap sebagai satu perwujudan yang ada dalam batas-batas aktivitas perkotaan untuk menentukan faktor mana yang efektif dan mana yang tidak efektif, perencana pendidikan harys dapat menganalisa keseluruhan lingkungan perkotaan, sehingga pembelajaran bisa berlangsung dan menggunakan berbagai komponen fisik untuk mendukung proses pembelajaran. Perencana secara umum memiliki standar dan kriteria stres juga pengukuran toleransi manusia. Sehingga yang diperlukan adalah sejumlah indeks untuk mengukur  tingkat keterbukaan, menentukan prioritas dan mengevaluasi situasi yang ada sebagai sebagai faktor-faktor lingkungan yang mengubah dan mempengaruhi individu. Hanya dengan evaluasisubjektif mengenai kualitas lingkungan tertentu sejalan dengan perencana secar efektif dapat mendesain sistem fungsional yang optimal. Sistem seperti itu akan memungkinkan aktivitas pendidikan terlaksana secara selaras dengan aktivitas perkotaan lainnya saat individu bergerak dari satu titik ke titik lainnya dalam seluruh sistem tersebut.

  1. Kewilayahan Tempat

Dalam pergerakan, individu selalu menjadi bagian dari lingkungannya. Individu tergantung pada lingkungan berdasarkan kebutuhan dasarnya. Interaksi yang terus menerus antar individu dan lingkungannya itu membentuk suatu lingkungan pembelajaran yang efektif. Karena itu penting untuk efektivitas pembelajaran, perancangan lingkungan pendidikan juga hendaknya terus mempengarugi individu dan juga dipengaruhi oleh individu tersebut. Lingkungan pembelajaran yang dinamis sangat penting karena keakraban menjadikan individu bisa diterima secara otomatis dan cepat tanggap terhadap lingkungan. Jika lingkungan terus berubah. Lingkungan itu akan lebih merangsang dan menarik.

Bagi setiap makluk hidup, ada pola tertentu dari dimensi lingkungan yang berkaitan dengan apa yang umumnya dijadikan acuan sebagai ecologigal niche (posisi atau peran yang menyenangkan dan nyaman di berbagai tempat dalam komunitasnya). Dengan kata lain, ini berarti pola perilaku tertentu yang dikembangkan individu dan kewilayahan (territoriality) yang dibutuhkan sehingga memungkinkan pola perilaku itu berfungsi secara efektif

Di sini ditekankan mengenai interkasi individu dalam sistem sosial, psikologi dan fisiologi. Faktor-faktor lingkungan tersebut membentuk konsep mengenai kewilayahan seseorang (zona intim, zona pribadi, zona sosial dan zona publik). Konsep ini menunjukkan dorongan dasar umtuk memiliki atau menguasai wilayah tertentu. Perilaku ini berkaitan dengan peran tertentu yang dimainkan individu dalam wilayah tersebut.

  1. Peran Persepsi

Manusia memandang lingkungannya dalam kaitannya dengan latar belakang persepsi. Bentuk, ukuran dan kondis tidak memiliki makna kecuali apabila diungkapkan dalam pengalaman persepsi seseorang. Lingkungan itu sendiri tidak begitu berarti bagi siswa sampai siswa secara aktif terlibat dan berinteraksi di dalamnya. Saat siswa dilibatkan dalam lingkungan siswa menginterprestasikan latar belakang persepsi ini dan memberikan respom pada lingkungan tersebut dengan melibatkan berbagai stimuli.

  1. Pola dan Kecenderungan Umum Pada Pergerakan

Dewasa ini orang, benda, pesan disalurkan dalam orbit jaringan aktivitas yang bergerak dari satu node (titik sambungan dalam suatu jaringan) ke node lainnya. Konfigurasi pergerakan ini tampak juga dalam peregerakan lingkungan perkotaan. Namun individu masih berupa mempersepsi bahwa lingkungan tersebut sifatnya konstan dan stabil.

Pergeraakan penuh dengan pengalaman orang-orang di perkotaan. Setiap hari siswa memulai pengalaman belajar siswa dengan pergerakan untuk memulai ke pusat pembelajaran. Namun pengalaman ini tidak dapat dijadilan bagian dari program pendidikan baik secara formal maupun informal. Akibatnya individu tidak peduli terhadap kekacauan, kemacetan dan bahaya. Namun untuk masa sekarang perencana banyak yang menggunakan perhitungan tersebut untuk melibatkan perhitungan seperti siswa berjalan di koridor pada jam tertentu, jalur sekolah dan lain sebagainya.

  1. Pola dan Kecenderungan Umum Pada Ekonomi

Masalah ekonomi perkotaan sangatlah penting bagi perencana pendidikan karena pendidikan karena perangkat pembuatan kepuutsan dalam mengatasi masalah ini belum berkembang secara efektif, masalah organisasi yang memberi kontribusi pada inefisiensi itu memang beragam.

Salah satu kebijakan ekonomi yang menjadi proses berkelanjutan adalah pembaharuan kota (urban renewal). Di dalamnya tercakup pengembangan wilayah, administrasi proyek, pengembangan fasilitas baru, perbaikan fasilitas baru, pembingkaran fasilitas lama, renovasi dengan memperhatikan kepentingan berbagai pihak sehingga masalah-masalah penggunaan lahan tanah tidak menimbulkan konflik. Pembaharuan kota ini memberikan peluang untuk merancang skema yang komprehensif dengan melibatkan berbagai sistem aktivitasnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi pembangunan rumah (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan lokasi pembangunan rumah,  yaitu : (1) aksesibilitas, yang terdiri dari kemudahan transportasi dan jarak ke pusat kota, (2) lingkungan, dalam hal ini terdiri dari lingkungan sosial dan fisik seperti kebisingan, polusi dan lingkungan yang nyaman, (3) peluang kerja yang tersedia, yaitu kemudahan seseorang dalam mencari pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya, (4) tingkat pelayanan, lokasi yang dipilih merupakan lokasi yang memiliki pelayanan yang baik dalam hal sarana dan prasarana dan lain-lain (Drabkin (1980:68)

Luhst (1997) menyebutkan bahwa kualitas kehidupan yang berupa kenyamanan, keamanan dari suatu rumah tinggal sangat ditentukan oleh lokasinya, dalam arti daya tarik dari suatu lokasi ditentukan oleh dua hal yaitu lingkungan dan aksesibilitas.

  1. Lingkungan oleh Luhst didefenisikan sebagai suatu wilayah yang secara geografis dibatasi dengan batas nyata, dan biasanya dihuni oleh kelompok penduduk. Lingkungan mengandung unsur-unsur fisik dan sosial yang menimbulkan kegiatan dan kesibukan dalam kehidupan sehari-hari. Unsur-unsur tersebut berupa gedung-gedung sekolah, bangunan pertokoan, pasar, daerah terbuka untuk rekreasi, jalan mobil dan sebagainya.
  2. Aksesibilitas merupakan daya tarik suatu lokasi dikarenakan akan memperoleh kemudahan dalam pencapaiannya dari berbagai pusat kegiatan seperti pusat perdagangan, pusat pendidikan, daerah industri, jasa pelayanan perbankan, tempat rekreasi, pelayanan pemerintahan, jasa profesional dan bahkan merupakan perpaduan antara semua kegiatan tersebut. Penilaian dari aksesibilitas bisa berupa jarak dari Central Business Distrik (CBD), kemudahan mendapat pelayanan dari transportasi umum yang menuju lokasi bersangkutan atau bisa juga dilihat dari lebar jalan yaitu semakin sempit lebar jalan suatu lahan, maka berarti aksesibilitas dari tempat yang bersangkutan kurang baik..

Prayogo Mirhard (Wonosuprojo dkk, 1993) membahas tentang pengadaan permukiman bagi berbagai tingkat pendapatan dan penentuan lokasi permukiman yang baik perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Aspek Teknis Pelaksanaan

–       Mudah mengerjakannya dalam arti tidak banyak pekerjaan gali dan urug, pembongkaran tonggak kayu, dan sebagainya.

–       Bukan daerah banjir, gempa, angin ribut, perayapan. – Mudah dicapai tanpa hambatan yang berarti.

–       Kondisi tanah baik, sehingga konstruksi bangunan direncanakan semurah mungkin.

–       Mudah mendapat air bersih, listrik, pembuangan air limbah/ kotoran/ hujan.

–       Mudah mendapat bahan bangunan.

–       Mudah mendapat tenaga kerja.

  1. Aspek Tata Guna Tanah

–       Tanah secara ekonomis lebih sukar dikembangkan secara produktif

–       Tidak merusak lingkungan yang telah ada, bahkan kalau dapat memperbaikinya.

–       Sejauh mungkin mempertahankan fungsi sebagai reservoir air tanah,dan penampung air hujan.

  1. Aspek Kesehatan

–       Lokasi sebaiknya jauh dari lokasi pabrik yang dapat mendatangkan polusi.

–       Lokasi sebaiknya tidak terlalu terganggu kebisingan.

–       Lokasi sebaiknya dipilih yang mudah untuk mendapatkan air minum, listrik, sekolah, puskesmas dan lainnya untuk kepentingan keluarga.

–       Lokasi sebaiknya mudah dicapai dari tempat kerja penghuni.

  1.  Aspek Politik Ekonomis

–       Menciptakan kesempatan kerja dan berusaha bagi masyarakat sekitarnya.

–       Dapat merupakan suatu contoh bagi masyarakat disekitarnya untuk membangun rumah dan lingkungan yang sehat.

–       Mudah menjualnya karena lokasinya disukai oleh calon pembeli dan mendapat keuntungan yang wajar.

Goodall (1972) menyebutkan bahwa beberapa pertimbangan yang dilakukan oleh suatu keluarga dalam memilih sebuah rumah yaitu:

  1. suasana kehidupan di lingkungan
  2. lokasi rumah
  3. keadaan fisik rumah
  4. kelengkapan fasilitas rumah
  5. nilai prestisius
  6. harga rumah
  7. pendapatan keluarga

Komaruddin (1997) mengemukaan faktor – faktor pemilihan lokasi perumahan yaitu:

  1. Terjamin kemudahan pencapaian atau aksesibilitas dari dan menuju tempat kerja
  2. Dekat dengan fasilitas sosial dan fasilitas umum
  3. Terhindar dari kerawanan terhadap bencana seperti banjir longsor gempa polusi kebakaran yang membahayakan keselamatan penghuninya
  4. Terjamin secara hukum karena sesuai dengan arahan pemanfaatan tata guna lahan

Brdasarkan uraian teori di atas, maka dalam penelitian ini faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan perumahan yang dibangun secara infill development adalah sebagai berikut (a) Aksesibilitas; (b) Harga tanah; (c) Jumlah penduduk; (d) Biaya

Perkembangan Permukiman di Pinggiran Kota (skripsi dan tesis)

  

Pertumbuhan  kota ke area pinggiran  karena meningkatnya kebutuhan dapat terjadi secara alami.  Kondisi tersebut mengakibatkan  terjadinya  perubahan  penggunaan lahan ke arah luar kota (non urban) terutama untuk memenuhi kebutuhan manusia berupa tempat bermukim telah berlangsung secara bertahap dari waktu ke waktu. Proses perubahan tersebut merupakan  peristiwa terjadinya perubahan  kenampakan fisik kotayang merembet kearah luar yang disebabkan oleh adanya penetrasi  dari  suatu  kelompok  penduduk  area  terbangun  kota  (built  up  area) kearah  luar, sehingga wilayah perbatasan menjadi area yang dituju bagi orientasi perkembangan kota (Adisasmita, 2006). Menurut pendapat Yunus (2002), ketersediaan ruang di wilayah kota dalam kondisi tetap dan terbatas mengakibatkan  pengambilan ruang di area pinggiran kota untuk memenuhi kebutuhan ruang yang digunakan sebagai tempat tinggal dan fungsi-fungsi yang lain.

Tanda-tanda perkembangan kota yang menjalar ke area pinggiran kota dikenal sebagai “invasion” dan proses terjadinya kenampakan fisik kota menuju ke arah luar kota desebut sebagai “urban sprawl” (Northam dalam Yunus, 1994)

Penjalaran fisik kota menurut Northam dalam Yunus (1994)  terbagi menjadi tiga macam model, yaitu :

  1. a)Perkembangan Konsentris (concentric development) adalah penjalaran fisik kota yang bersifat rata pada sisi luar yang terjadi dalam tempo yang lambat dan terdapat tanda-tanda yang mengindikasikan adanya morfologi kota yang kompak.
  2. b)Perkembangan fisik memanjang atau linier (ribbon/linear/axial development) merupakan penjalaran fisik kota pada area yang berada di sepanjang jaringan jalan dan  mengikuti pola jaringan jalan tersebut dan terdapat perbedaan penjalaran dalam setiap bagian perkembangan kota.
  3. c)Perkembangan yang meloncat (leap frog/chercher board development) merupakan penjalaran fisik kota tanpa pola.

Spencer (1979:112),   mengemukakan definisi beberapa alasan yang mendorong perpindahan penduduk ke daerah pinggirann kota: (1) penggunaan tanah untuk permukiman di kota bersaing dengan tanah lain yang lebih komersil, sehingga tanah yang tersedia untuk permukiman semakin berkurang ;(2) penduduk kota semakin meningkat jumlahnya; (3) sarana transportasi menuju pinggiran kota menjadi lebih baik dan fleksibel, sehingga memungkinkan  penduduk  dan  perusahaan-perusahaan   pindah  lebih  jauh  dari pusat-pusat bisnis (kota), menyebar ke pinggiran kota mengikuti jalur transportasi; (4) orang-orang  kota menginginkan  tempat tinggal yang lebih luas dan tenang, karena mereka merasa bahwa tempat tinggal di kota sangat padat dan sesak; (5) Pemerintah  telah  membantu  penduduk  untuk  mengusahakan  pemilikan  rumah yang menarik dengan syarat pembayaran yang ringan di daerah pinggiran kota.

Ruswurm,  1980  dalam  Yunus  (2004:131),  berpendapat  bahwa,  faktor- faktor utama yang mempengaruhi perkembangan pinggiran kota yakni: 1) Pertumbuhan penduduk (population growth); 2) persaingan memperoleh lahan (competition for land); 3) hak-hak kepemilikan (property right); 4) kegiatan “developers” (developers activities); 5) perencanaan (planning controls); 6) perkembangan   teknologi   (technological   development);   7) lingkungan   fisik (physical environement).

Menurut pendapat Rugg (1979 : 71) dalam  Warsono (2006), pinggiran kota merupakan kota yang  letak wilayahnya berada di perbatasan dengan kota di sebelahnya yang memiliki hirarkhi lebih tinggi, berkarakteristik  wilayah pedesaan dan kondisi  intensitas wilayah terbangun lebih rendah dari kota pusatnya, intensitas ini akan menurun dari kota ke desa.

Menurut Bintarto  (1989),  gejala terjadinya perembetan  kota dapat diidentifikasi dari kenampakan  fisik kota ke arah luar yang dapat dilihat melalui terbentuknya zone-zone yang meliputi daerah-daerah  : (1) area yang melingkari sub urban dan merupakan daerah peralihan antara desa kota (sub urban fringe), (2) area batas luar kota yang memiliki sifat-sifat mirip kota (urban fringe), dan (3)  area terletak antara daerah kota dan desa yang   ditandai   dengan   penggunaan   tanah   campuran   (Rural-Urban-Fringe).

Bar-Gal, 1987 dalam Kustur (1997:4), mengemukakan bahwa, sebagai  daerah  urban  fringe,  dapat dilihat   melalui  berbagai  karakteristik, seperti peningkatan harga tanah yang drastis, perubahan fisik penggunaan tanah, perubahan  komposisi  penduduk  dan  tenaga  kerja,  serta  berbagai  aspek  sosial lainnya. Evers (1986:29-31) dalam Warsono (2006) berpendapat bahwa, gejala perkembangan perluasan kota terjadi yang terjadi secara terencana maupun tidak direncanakan (natural), berdampak pada perubahan konsep fungsi tanah sebagai gejala baru di pinggiran kota terutama bagi penduduk asli.

Infill Development (skripsi dan tesis)

Arti kata infill menurut Bartsch (et.al ,2001) adalah daur ulang secara kreatif terhadap tanah kosong atau tanah yang kurang dimanfaatkan di dalam kota maupun di pinggiran kota. lstilah infill development berasal dari bahasa lnggris memiliki arti pengembangan pengisian atau  pembangunan sisipan. Hingga  saat  ini  arti yang  pasti tentang infill development yang dapat digunakan  untuk setiap kondisi kota belum terdefinisi. Beberapa literatur yang  ada  menyebutkan  bahwa  infill development merupakan pengembangan lahan kosong, terabaikan, tertinggalkan, yang terletak di tengah kota,  dengan  pengembangan  utamanya  adalah untuk fungsi perumahan (Suradi dan Setiawan : 2004)

Pembangunan infill, secara sederhana berarti   pembangunan atau pembangunan kembali yang dilakukan pada lahan yang terbengkelai, lahan kosong, atau dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembangunan berkelanjutan . Pembangunan infill merupakan komponen dari pengembangan kawasan mixed –use dan alternatif pengembangan perumahan yang ekonomis. Selain itu pembangunan infill juga berperan bagi pembangunan yang menyebar (sprawl) (NH. Department of Environmental Service, 2008).

Infill development adalah perumahan yang dilakukan pada lahan kosong berada di antara bangunan (Seifeddini, 2009). Infill development menciptakan bangunan baru di tempat kosong dan tidak terpakai banyak sentra dan area komersialnya. Tempat-tempat ini biasanya terletak di lingkungan yang memiliki layanan infrastruktur seperti jalan akses, air, listrik dan lain-lain. (Tarnay, 2004).

Pembangunan perumahan infill di Eropa dan Amerika lebih dikenal dengan pembangunan Inflil saja atau infill development. Hal ini diakibatkan karena definisi model  pembangunan infill oleh para peneliti sebelumnya lebih terkonsentrasi pada pembangunan perumahan .

Arti mengenai pembangunan infill hingga saat ini belum ada kesepakatan berupa definisi secara umum. Beberapa peneliti memberikan paparan tentang pengertian pembangunan infill yang mayoritas definisinya berkaitan atau berorientasi pada pembangunan perumahan;

  1. Menurut Moskowitz dan Lindbloom (2004), pembangunan infill merupakan pembangunan perumahan baru atau gedung lain yang dibangun pada lahan kosong yang lokasinya tersebar pada wilayah atau area padat bangunan;
  2. Infill adalah pembangunan bangunan baru pada lahan yang kosong yang berada pada lingkungan terbangun  , yang merupakan upaya untuk mengisi “lubang” pada lingkungan tersebut (Downtown Brookings, Inc. 2004);
  3. Infill adalah pembangunan bangunan baru di lahan kosong yang berada di sepanjang jalan komersial tradisional, yang memiliki hubungan yang harmonis dengan bangunan-bangunan tua yang terdapat di sekelilingnya.  (City of San Benardino, 2002);
  4. Infill merupakan pengembangan pada lahan kosong yang berada dalam kondisi tidak terpakai, terbengkalai, atau yang ditinggalkan pada suatu area yang telah memiliki infrastruktur (State of Maryland, 2001);
  5. Infill adalah upaya daur ulang pada lahan kosong atau lahan yang kurang dimanfaatkan pada area di dalam kota atau pinggiran kota (Northwest-Midwest Institute and Congress for New Urbanism, 2001);
  6. An infill lot is defined as “any lot that is bounded on one or more sides by lots with existing residences, in an established neighborhood” (Village of Glenview 2003);

 

  1. “Urban Infill and redevelopment area means an area or areas designated by local government where (a) public service such as water and wastewater, transportation, schools, and recreation are already available or are scheduled to be provided in an adopted five-year scheduled of capital improvement; (b) the area (or one or more neighborhoods whitin the area) suffers from passive poverty, unemployment, and general d istress as defined by s. 290.0058 [1998 Florida statues, chapter 290, section 0058]; (c) the are exhibits a proportion of properties that are substandard, overcrowded, dilapidated, vacant or abandoned, or functionally obsolete that is higher than the average for the local government; (d) more then 50 percent of the area is whitin one –quarter mile of a transit stop, or a sufficient number of such transit stops will be made available concurrent with the designation; and (e) the area includes or adjacent to community redevelopment areas, brownfields, enterprise zones, or Main Street programs, or has been designated bay the state or federal government as an urban redevelopment, revitqalizatin, or infill area under empowerment zone, enterprise community, or brownfield showcase community programs or simiar programs.”(State of Florida 2005;

 

  1. Infill adalah pembangunan kembali yang dilakukan pada lahan kosong yang bertujuan  untuk menambah unit perumahan baru (City of Burlington, 1994);
  2. Pembangunan infill merupakan pembangunan situs kosong yang terdapat di daerah perkotaan dan daerah yang letaknya berdekatan dengan perkotaan, yang bertujuan untuk menyediakan layanan dan fasilitas yang diproyeksikan dapat   menampung permintaan masyarakat (Dalvis, 2004);
  3. Enviion, Utah, (2002) mengemukakan pendapatnya bahwa infill tidak seperti reuse, karena infill terjadi  di lahan yang kosong pada  area yang lebih kecil yang terdapat di daerah yang telah mengalami perkembangan;
  4. Nisenson, (2005) mendefinisikan Infill sebagai pembangunan yang dilakukan  pada area yang telah dikembangkan sebelumnya.

Infill development juga memberkan  implikasi positif  baik  yaitu  (1) dari  segi  fisik  (misalnya efisiensi  lahan dan  mengurangi  konversi  tanah-tanah pertanian di pinggiran kota); (2) dari segi sosial (misalnya mendekatkan  jarak tempat tinggal dengan tempat kerja); dan (3) dari segi  ekonomi  (meningkatkan produktivitas kota). (www.nemw.org, dalam Suradi dan Setiawan : 2004).

Menurut Yunus (1999), oleh karena ketersediaan ruang di dalam kota tetap dan terbatas, maka secara alamiah terjadi pemilihan alternatif dalam memenuhi kebutuhan ruang untuk tempat tinggal. Evers dalam Warsono dkk (2009) mengemukakan bahwa, gejala perkembangan perluasan kota yang secara terencana maupun tidak direncanakan (natural), berimplikasi pada berubahnya konsep fungsi tanah sebagai gejala baru di pinggiran kota terutama bagi penduduk asli. Sebagaimana dikatakan oleh Spencer dalam Warsono dkk (2009)  bahwa, proses perkembangan kota ke arah pinggiran yang cenderung alamiah, daripada terencana, merupakan suatu gejala sub-urbanisasi prematur dan tidak terencana, sehingga menciptakan perluasan kota yang liar dan tidak teratur, serta tidak terkendali.

Infill development adalah pembangunan perumahan yang dilakukan pada lahan kosong yang tersisa di antara bangunan yang padat (Seifeddini, 2009).

Rumah (skripsi dan tesis)

Berdasar  Kamus Besar Bahasa Indonesia,  rumah adalah bangunan untuk tempat tinggal. Sementara itu terdapat  beberapa definisi mengenai rumah yaitu;

  1. Berdasar UU Republik Indonesia No. 1 Tahun 2011, rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana bagi pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya.
  2. Menurut Oxford Dictionary,  house is a building for human habitation, especially one that consist of a ground floor and one or more upper storeys.(https://en.oxfordditionaries.com).
  3. Berdasar Cambridge Dictionary, house is a buliding that people, usually one family, live in (https://dictionary.cambridge.org)
  4. Menurut Webster Dictionary, house is a structure intended or used as a habitation or shelter for animals of any kind; but especially, a building or edifice for the habitation of man; a dwelling place, a mansion. House a bulit to live in, not look on. (http://www.webster-dictionary.org)
  5. Rumah adalah tempat hunian atau berlindung dari pengaruh keadaan alam sekitarnya (hujan dan panas) serta merupakan tempat untuk beristirahat setelah melakukan aktifitas untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari. Rumah harus dapat mewadahi kegiatan penghuninya dan cukup luas bagi seluruh pemakainya, sehingga kebutuhan ruang dan aktivitas setiap penghuninya dapat berjalan dengan baik. Lingkungan rumah juga sebaiknya terhindar dari faktor- faktor yang dapat merugikan kesehatan (Hindarto, 2007)

Manfaat Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)

Menurut Norken et al (2012:12), manfaat manajemen risiko yang diberikan terhadap perusahaan dapat dibagi dalam 4 (lima) kategori utama, yaitu:

  1. Manajemen risiko mungkin dapat mencegah perusahaan dari kegagalan.
  2. Manajemen risiko menunjang secara langsung peningkatan laba. Manajemen risiko dapat memberikan laba secara tidak langsung.
  3. Adanya ketenangan pikiran bagi manajer yang disebabkan oleh adanya perlindungan terhadap risiko murni, merupakan harta non material bagi perusahaan itu.
  4. Manajemen risiko melindungi perusahaan dari risiko murni, dan karena kreditur pelanggan dan pemasok lebih menyukai perusahaan yang dilindungi maka secara tidak langsung menolong meningkatkan public image.

Manfaat yang diperoleh dengan menerapkan manajemen risiko antara lain (Mok et.al,1996) :

  1. Memudahkan estimasi biaya
  2. Memberikan pendapat dan intuisi dalam pembuatan keputusan yang dihasilkan dalam cara yang benar.
  3. Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi risiko ketidakpastian dalam keadaan yang nyata
  4. Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk memutuskan berapa banyak informasi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah.
  5. Meningkatkan pendekatan secara sistematis dan logika untuk membuat keputusan.
  6. Menyediakan pedoman untuk membantu perumusan masalah.
  7. Memungkinkan analisa yang cermat dari pilihan-pilihan alternatif.

Sasaran utama manajemen risiko adalah menghindari risiko, yang memunculkan ketidakpastian dan kerugian baik secara proyek, teknis maupun bisnis. Risiko proyek mengancam rencana proyek. Bila risiko proyek menjadi kenyataan maka ada kemungkinan jadwal proyek akan mengalami slip dan biaya menjadi bertambah. Risiko proyek mengidenifikasibiaya, sumber daya, jadwal, pelanggan, personil (staffing dan organisasi), masalah persyaratan. Risiko teknis mengancam kualitas dan ketepatan waktu proyekyang akandihasilkan. Bila risiko teknis menjadi kenyataan makaimplementasinya menjadi sangat sulit atau tidak mungkin. Risiko teknis mengidentifikasi desain potensial, ambiguitas, implementasi, spesifikasi, interfacing, ketidakpastian teknik, verifikasi, keusangan teknik, masalah pemeliharaan, dan teknologi yang leading edengane. Risiko bisnis mengancam viabilitas proyek yang akan dibangun. Risiko bisnis membahayakan proyek. Contoh risiko bisnis adalah pelaksanaan proyekyang baik sebenarnya tidak pernah diinginkan oleh masyarakat, pelaksanaan proyek yang tidak sesuai dengan keseluruhan strategi bisnis bagi perusahaan (risiko strategi), kehilangan dukungan manajemen senior sehubungan dengan perubahan pada fokus atau perubahan pada manusia (risiko manajemen), dan kehilangan hal-halyang berhubungan dengan biaya atau komitmenpersonal (risiko biaya). (Gil dkk, 2014: 1-14)

Sasaran dari monitoring risiko (aktifitas penelurusan proyek) yaitu memperkirakan apakah risiko yang diramalkan benar-benar terjadi, memastikan bahwa langkah aversi risiko yang didefiniskan, untuk risiko telah diterapkan secara benar, dan mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk analisis  risiko masa yang akan datang. (Amornsawadwatana dkk, 2007: 4-8)

Langkah Penanggulangan Risiko (skripsi dan tesis)

Ada tiga faktor yang mempengaruhi konsekuensi jika suatu risiko benar-benar terjadi, yaitu sifatnya risiko yang menunjukkan masalah yang muncul bila terjadi, ruang lingkupnya; menggabungkan kepelikannya (seberapa seriusnya masalah ini) dengan keseluruhan distribusi (berapa banyak proyek yang akan dipengaruhi atau berapa banyak pelanggan terganggu), dan waktunya dengan mempertimbangkan kapan dan untuk berapa lamapengaruh itu dirasakan. Seorang manajer proyek mungkin menginginkan berita buruk terjadi segera mungkin tetapi dalam beberapa kasus penundaan lebih lama akan lebih baik. (Masyhud Ali, 2006)

Langkah-langkah yang direkomendasikan untuk menentukan konsekuensi keseluruhan dari suatu risiko: (Mamduh M. Hanafi, 2006)

  1. Tentukan probabilitas rata-rata dari nilai kejadian untuk masing-masing komponen risiko.
  2. Dengan menggunakan suatu tabel, tentukan pengaruh untukmasing-masing komponen berdasarkan kreteria yangdiperlihatkan.
  3. Lengkapi tabel risiko dan analsis hasilnya seperti dijelaskansebelumnya.

Tim proyek harus melihat tabel risiko pada interval yang regulermengevaluasi lagi masing-masing risiko untuk menentukan kapankeadaan baru menyebabkan probabilitas dan pengaruh berubah. Akibatnya diperlukan penambahan risiko baru ke tabel, menggantirisiko yang tidak relevan dan mengubah pemosisian relatif dari risikolainnya. (Stulz, 2003)

Tingkat referen risiko harus ditentukan sehingga bermanfaat. Sebagian besar proyek, komponen risiko yaitu kinerja, biaya, dukungan dan jadwal mencerminkan tingkat referen risiko. Tingkat referen risiko adalah tingkat degradasi kinerja,peningkatan biaya, kesulitan dukungan, dan melesatnya jadwal yangmenyebabkan proyek diterminasi. (Bramantyo Djohanputra, 2005)

Jika kombinasi risiko menciptakan masalah sehinnga tingkatreferen terlampaui maka kerja berhenti. Tingkat referen memiliki titik tunggal yang disebut referen point/break point dimana keputusan diteruskan atau dihentikansama-sama diterima. Selama penilaian risiko maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:(Mamduh M. Hanafi, 2006)

  1. Tentukan tingkat referen risiko untuk proyek.
  2. Usahakan untuk mengembangkan hubungan antaramasing-masing risikodan masing-masing tingkat referen.
  3. Prediksi himpunan titik referen yang menentukan daerahtereliminasi dibatasi oleh kurva atau area ketidakpastian.
  4. Cobalah memprediksi bagaimana penggabungan kombinasirisiko akan mempengaruhi suatu titik referen

Respon risiko adalah merupakan salah tindakan penanganan yang perlu dilakukan terhadap risiko yang mungkin terjadi. Metode/strategi yang dipakai dalam menangani risiko menurut (norman & flanagan, 1993) yaitu :

  1. Menahan risiko (risk retention), merupakan bentuk penanganan risiko yang mana akan ditahan atau diambil sendiri oleh suatu pihak.
  2. Mengurangi risiko (risk reduction), yaitu tindakan untuk mengurangi risiko yang kemungkinan akan terjadi dengan cara pendidikan dan pelatihan bagi para tenaga kerja dalam menghadapi risiko, perlindungan terhadap kemungkinan kehilangan, dan perlindungan terhadap orang dan properti.
  3. Mengalihkan risiko (risk transfer). Pengalihan ini dilakukan untuk memindahkan risiko kepada pihak lain. Bentuk pengalihan risiko yang dimaksud adalah asuransi dengan membayar premi.
  4. Menghindari risiko (risk avoidance) Menghindari risiko sama dengan menolak untuk menerima risiko yang berarti menolak untuk menerima proyek tersebut.

Langkah pengurangan risiko diperlukan bagi definisi standar dokumentasi dan mekanisme untuk memastikan bahwa dokumendikembangkan secara tepat waktu, guna memastikan kontinuitas. Manajemen risiko dan perencanaan kemungkinan mengasumsikanbahwa usaha pengurangan telah gagal dan risiko menjadi suatukenyataan. Sebagai contoh, diandaikan proyek sedang berlangsung dengan baik dansejumlah orang mengatakan akan keluar dari proyek tersebut maka strategi pengurangan telah dilakukan dengan backupinformasi, dokumentasi dan pengetahuan telah disebar ke semua tim. Manajer proyek akan menyesuaikan lagi jadwal dengan fungsi-fungsi yang telah disusun sepenuhnya dan pendatang baru akan ditambah untuk mengejar dan membagun serta akan ditransfer pengetahuan oleh orang akan keluar. (Stulz, 2003)

Aktifitas analisis risiko mempunyai titik tunggal yang memiliki tujuanuntuk membantu tim proyek dalam mengembangkan strategi yangberkaitan dengan risiko. Strategi yang efektif harus menghindari risiko, memonitoring risiko, dan manajemen risiko dan perencanaan kemungkinan. Sebagai contoh langkah-langkah untuk mengurangi turnover staf adalah:(Mamduh M. Hanafi, 2006)

  1. Temui staf yang ada, untuk menentukan penyebab keluar.
  2. Bertindaklah untuk mengurangi penyebab-penyebab yang ada dibawah kontrol manajemen sebelum proyek dimulai.
  3. Bila proyek dimulai asumsikan turnover akan terjadi dankembangkan teknik-teknik untuk memastikan kontiunitas padasaat orang keluar.
  4. Kumpulkan tim proyek sehingga informasi mengenaimasing-masing aktivitas pengembangan dapat disebarluaskan.
  5. Tentukan standar dokumentasi dan buat mekanisme untukmemastikan bahwa dokumen dikembangkan tepat waktu.
  6. Lakukan kajian antar teman terhadap semua pekerjaan tersebut sehingga lebih dari satu orang yang terbiasa denganpekerjaan itu.
  7. Tentukan backup anggota staf untuk setiap teknologi kritis.

Aktifitas pemonitoran dimulai, manajer proyek memonitor faktor-faktor yang dapat memberikan suatu indikasi apakah risikomungkin sedang menjadi lebih atau kurang. Untuk kasus turnover tinggi, faktor-faktor yang dapat dimonitor misalnya sikap umum anggota tim berdasarkan tekanan proyek, tingkat di mana tim disatu-padukan, hubungan interpersonal di antara anggota tim, masalah pontensial dengan kompensasi dan manfaat, dan keberadaan pekerjakan di dalam perusahaan dan di luarnya. (Masyhud Ali, 2006)

Identifikasi Risiko (skripsi dan tesis)

Pengidentifikasi risiko merupakan proses penganalissan untuk menemukan secara sistematis dan berkesinambungan risiko (kerugian yang potensial) yang menentang perusahaan. Untuk itu diperlukan, Pertama: suatu checklist dari pada semua kerugian potensial  yang mungkin bisa terjadi pada umumnya pada setiap perusahaan; Kedua: untuk menggunakan checklist itu diperlukan suatu pendekatan yang sistematik untuk menentukan mana dari kerugian potensial yang tercantum dalam checklist oleh perusahaan yang  sedang dianalisis. (Norken et al, 2012: 4-5)

Strategi reaktif memonitor proyek terhadap kemungkinan risiko. Umumnya dalam manajemen proyek, sumber-sumber daya sering dikesampingkan, padahal seharusnya sumber-sumber daya tersebut sering menjadi masalah yang sebenarnya / penting. (Rodrigues-da-Silva dkk, 2014: 3-7)

Strategi proaktif dimulai sebelum kerja teknis diawali. Risiko potensial diidentifikasi, probabilitas dan pengaruh proyekdiperkirakan, dan diprioritaskan menurut kepentingan, kemudianmembangun suatu rencana untuk manajemen risiko. (Rodrigues-da-Silva dkk, 2014: 2-4)

Kategori risiko menurut Robert Charette meliputi risiko yang sudah diketahui, risiko yang dapat diramalkan, dan risiko yang tidak diharapkan. Risiko yang sudah diketahui adalah risiko yang dapat diungkap setelah dilakukan evaluasi secarahati-hati terhadap rencana proyek, bisnis, dan lingkungan teknik dimanaproyek sedang dikembangkan, dan sumber informasi reliable lainnya, seperti tanggal penyampaian yangtidak realitas, kurangnya persyaratan yang terdokumentasi, kurangnya ruag lingkupsoftware, dan lingkungan pengembangan yang buruk. Risiko yang dapat diramalkan biasanya diekstrapolasi dari pengalaman proyek sebelumnya, misalnya pergantian staf, komunikasi yang buruk dengan para pelanggan, dan mengurangi usaha staff bila permintaan pemeliharaansedang berlangsung dilayani. Risiko yang tidak diharapkan biasanya dapat benar-benar terjadi, tetapi sangat sulit untukdiidentifikasi sebelumnya. Identifikasi risiko dalah usaha sistematis untuk menentukanancaman terhadap rencana proyek. Tujuan identifikasi risiko adalah untuk menghindari risiko bilamana mungkin, serta menghindarinyasetiap saat diperlukan. (Cervone, 2006: 8-12)

Ada dua cara melakukan proyeksi risiko, yaitu probabilitas di mana risiko adalah nyata dan konsekuensi masalah yang berhubungan dengan risiko. Perencanaan proyek bersama dengan manajer dan staf teknikmelakukan 4 aktifitas proyeksi risiko, yaitu membangun suatu skala yang merefleksikan kemungkinanrisiko yang dirasakan, menggambar konsekuensi risiko, memperkirakan pengaruh risiko pada proyek dan produk, mencatat keseluruhan akurasi proyeksi proyek risiko sehingga, sehingga akan tidak ada kesalahpahaman. (Shiyu Mu dkk, 2014: 5-7)

Jenis-jenis Risiko (skripsi dan tesis)

Risiko diidentifikasikan dan dikelompokkan berdasarkan sumber risiko ke dalam 6 kategori antara lain: (Suwandi, 2010: 22-23)

  1. Risiko Alam

Berhubungan dengan risiko-risiko akibat kerjadian alam, termasuk risiko yang dikategorikan sebagai risiko Act of God.

  1. Risiko Desain

Risiko yang berhubungan dengan desain, spesifikasi, teknologi baru, perubahan desain. Desain yang salah atau tidak lengkap akan menyulitkan pihak pelaksana.

  1. Risiko finansial dan ekonomi

Ketidakstabilan perekonomian akan sangat menggangu kegiatan dan membutuhkan dukungan finansial yang besar sehingga bila terjadi gangguan pada masalah finansial seluruh kegiatan dapat terggangu atau terhenti.

  1. Risiko yang berkaitan dengan risiko politik dan hukum.

Situasi politik, hukum dan peraturan akan sangat mempengaruhi iklim usaha suatu negara.

  1. Risiko konstruksi

Kegiatan pada suatu proyek konstruksi membutuhkan sumber daya yang besar, tingkat penguasan teknologi dan produk yang produktif. Pada tahap pelaksanaan berbagai hal dapat muncul karena faktor ketidakpastian dan bila kontraktor tidak memiliki kemampuan yang cukup kemampuan dalam bidang pelaksanaan.

  1. Risiko lingkungan

Adalah Risiko yang berhubungan dengan lingkungan seperti polusi, kerusakan lingkungan dan lain-lain.

Han dan Diekmann (2001), mengatakan bahwa risiko terbagi atas 4 bagian utama yaitu Natural Risk, Political and social Risk, Economic and Legal Risk dan Behaviours Risk.

Risiko dalam manajemen risiko juga diklasifikasikan ke dalam 4 kategori antara lain: (Sandhyavitri et al, 2015: 21-22)

  1. Risiko operasional adalah risiko yang timbul karena tidak berfungsinya sistem internal yang berlaku, kesalahan manusia, atau kegagalan sistem. Sumber terjadinya risiko operasional paling luas dibanding risiko lainnya yakni selain bersumber dari aktivitas di atas juga bersumber dari kegiatan operasional dan jasa, akuntansi, sistem tekhnologi informasi, sistem informasi manajemen atau sistem pengelolaan sumber daya manusia.
  2. Risiko hazard (bahaya) adalah faktor –faktor yang mempengaruhi akibat akibat yang ditimbulkan dari suatu peristiwa. Hazard menimbulkan kondisi yang kondusif terhadp bencana yang menimbulkan kerugian. Dan kerugian adalah penyimpangan yang tidak diharapkan. Walaupun ada beberapa overlapping (tumpang tindih) di antara kategori-kategori ini, namun sumber penyebab kerugian (dan risiko) dapat diklasifikasikan sebagai risiko sosial, risiko fisik, dan risiko ekonomi. Menentukan sumber risiko adalah penting karena mempengaruhi cara penanganannya.
  3. Risiko Finansial adalah risiko yang diderita oleh investor sebagai akibat dari ketidakmampuan emiten saham dan obligasi memenuhi kewajiban pembayaran deviden atau bunga atau bunga serta pokok pinjaman.
  4. Risiko strategic adalah risiko terjadinya serangkaian kondisi yang tidak terduga yang dapat mengurangi kemampuan manajer untuk mengimplementasikan strateginya secara signifikan.

Risiko dalam manajemen risiko juga diklasifikasikan ke dalam 2 tipe antara lain: (Koriawan, 2011: 34-35)

  1. Risiko murni dan spekulatif

Risiko murni sering disebut risiko statik adalah suatu konsep yang melihat sebuah risiko sebagai suatu ketidakpastian yang dikaitkan dengan adanya kerugian, contoh: risiko kebakaran, risiko kecelakaan. Sedangkan risiko spekulatif atau dinamis adalah mempunyai risiko yang mempunyai kemungkinan adanya kerugian atau mengalami keuntungan.

  1. Risiko fundamental dan khusus

Risiko fundamental adalah risiko yang kemungkinan dapat timbul pada hampir sebagian besar anggota masyarakat. Sifat dari fundamental antara lain bersifat bencana/catastropic. Sedangkan risiko khusus adalah risiko yang menimpa perorangan secara pribadi, tidak selalu bersifat bencana dan umumnya dapat di asuransikan.

Risiko statik adalah risiko yang berasal dari keadaan masyarakat yang tidak mengalami perubahan atau stabil, sedangkan risiko dinamik adalah risiko yang timbul akibat perubahan dalam masyarakat,contoh: risiko akibat adanya perubahan pemimpin. (Suwandi, 2010: 19-20)

Risiko subyektif adalah risiko yang timbul akibat ketidakpastian sikap mental individu yang menyebabkan individu tersebut mengalami keraguan akan akibat yang akan diterima, contoh: risiko bangkrut. Risiko obyektif adalah risiko yang mungkin terjadi dari pengalaman terdahulu, contoh: risiko Investasi. (Suwandi, 2010: 20-21)

Pengertian Risiko (skripsi dan tesis)

Vaughan (1978) dalam (Suwandi, 2010: 27-28 )mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut:

  1. Risk is the chance of loss (risiko adalah kans kerugian), chance of loss berhubungan dengan exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance digunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko adalah tidak ada.
  2. Risk is uncertanty (risiko adalah ketidakpastian), uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan.
  3. Risk is uncertanty (risiko adalah ketidakpastian), uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan.
  4. Risk is the dispersien of actual from expected result (risiko merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan), ahli statistik mendefinisikan risiko sebagai derajat penyimpanan sesuatu nilai suatu posisi sentral atau di sekitar titik rata-rata.
  5. Risk is the probabilty of any outcome different from expected (risiko adalah probabilitas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan). Menurut definisi diatas, risiko bukan probabilitas dari suatu kejadian tunggal, tetapi probababiltas dari outcome yang berbeda dari yang diharapkan. 

Menurut Loosemore et al (1993) dalam (Suwandi, 2010: 17-18), risiko merupakan fenomena yang kompleks yang meliputi dimensi fisik, keuangan, budaya dan sosial dan bagi kebanyakan manager menganggap risiko lebih pada suatu kejadian yang tidak dapat diprediksi yang mungkin terjadi dikemudian hari dan hasilnya dapat berpengaruh pada keuntungan dan tujuan awal.

Risiko adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang. Dalam bidang asuransi, risiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan ketidakpastian, di mana jika terjadi suatu keadaan yang tidak dikehendaki dapat menimbulkan suatu kerugian. (Labombang, 2014: 5-6)

Dalam perkembangan modern risiko dilihat dari dua sisi, yaitu selain adanya ancaman (threat), juga adanya peluang (opportunity). Dari dua sisi tersebut risiko mulai dilihat sebagai ‘Speculative Risk.”atau dapat dikatakan risiko untung-untungan yang apabila terjadi akan menimbulkan keuntungan, kerugian atau tidak rugi (gain, loss atau neutral.). (Lokobal et al, 2014: 2-3)

Risiko berhubungan dengan kejadian di masa yang akan datang. Risiko melibatkan perubahan (spt. perubahan pikiran, pendapat, aksi, atau tempat).  Risiko melibatkan pilihan dan ketidakpastian bahwa pilihan ituakan dilakukan. Risiko tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat dikurangi. (LI Qing dkk, 2014: 4-9).

Manajemen Risiko Proyek (skripsi dan tesis)

Manajemen risiko merupakan suatu proses terstruktur dan sistematis dalam mengidentifikasi, mengukur, memetakan, mengembangkan alternatif penanganan risiko, dan dalam memonitor dan mengendalikan implementasi penanganan risiko. (Gil dkk, 2014: 1-14)

Manajemen risiko diterapkan dalam penetapan strategi di seluruh bagian proyek, didesain untuk mengidentifikasi kejadian potensial yang mungkin mempengaruhi entitas perusahaan, dan mengelola risiko untuk menghindarinya, memberikan jaminan berkenaan dengan pencapaian tujuan proyek. (Serpella dkk, 2014: 1-10)

Manajemen risiko menurut Australian and New Zealand Standard on Risk Management (AS/NZS, 2004) merupakan suatu proses yang logis dan sistematis dalam mengidentifikasi, menganalisa, mengevaluasi, mengendalikan, mengawasi, dan mengkomunikasikan risiko yang berhubungan dengan segala aktivitas, fungsi atau proses dengan tujuan perusahaan mampu meminimasi kerugian dan memaksimumkan kesempatan. Implementasi dari manajemen risiko ini membantu perusahaan dalam mengidentifikasi risiko sejak awal dan membantu membuat keputusan untuk mengatasi risiko tersebut. (Suwandi, 2010: 14-16)

Manajemen risiko sebagai proses identifikasi, pengukuran, dan kontrol keuangan dari sebuah risiko yang mengancam aset dan penghasilan dari sebuah perusahaan atau proyek yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian pada perusahaan tersebut (Smith, 1990).

Dalam perusahaan jasa kontruksi, tindakan manajemen risiko diambil oleh para praktisi atau petugas untuk merespon bermacam-macam risiko.Terdapat dua macam tindakan dalam manajemen risiko adalah mencegah dan memperbaiki. Tindakan mencegah digunakan untuk mengurangi, menghindari, atau mentransfer risiko pada tahap awal proyek konstruksi. Sedangkan tindakan memperbaiki adalah untuk mengurangi efek-efek ketika risiko terjadi atau ketika risiko harus diambil (Shen 1997 dikutip dalam Anonim, 2009). Menurut Dorfman (1998), manajemen risiko dikatakan sebagai suatu proses logis dalam usahamya untuk memahami eksposur terhadap suatu kerugian.

Menurut COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission), risk management (manajemen risiko) dapat diartikan sebagai ‘a process,effected by an entity’s board of directors, management and other personnel,applied in strategy setting and across the enterprise, designed to identify potential events that may affect the entity,manage risk to be within its risk appetite, and provide reasonable assurance regarding the achievement of entity objective. (Koriawan, 2011: 24)

Dari definisi manajemen risiko diatas dapat dijabarkan lebih lanjut berdasarkan kata-kata kunci sebagai berikut: (Norken et al, 2012: 3-4)

  1. On going process, manajemen risiko di laksanakan secara terus menerus dan dimonitor secara berkala. Risiko manajemen bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan sesekali.
  2. Effecteed by people, manajemen risiko ditentukan oleh pihak-pihak yang berada dilingkungan organisasi. Untuk lingkungan pemerintah risiko manajemen di rumuskan oleh pimpinan dan staff instansi yang bersangkutan.
  3. Applied in strategy setting, manajemen risiko telah di susun sejak dari perumusan strategi organisasi oleh pimpinan puncak organisasi.
  4. Applied across the enterprise, strategi ini pilih berdasarkan pengaplikasian manajemen risiko dalam kegiatan operasional, dan mencakup seluruh bagian atau unit pada organisasi.
  5. Designed to identify potencial event, manajemen risiko dirancang untuk mengidentifikasi kejadian atau keadaan yang secara potensial menyebabkan terganggunya tujuan organisasi.
  6. Provide reasonable assurance, risiko yang dikelola dengan tepat dan wajar akan menyediakan jaminan bahwa kegiatan dan pelayanan oleh organisasi dapat berlangsung optimal.
  7. Geared to achieve objective, manajemen risiko dapat menjadi pedoman bagi organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Lintasan Kritis (skripsi dan tesis)

Pada saat ini, penjadwalan dengan hanya memperhitungkan durasi dan ketergantungan pekerjaan saja tidak cukup. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya faktor-faktor yang harus diperhitungkan dalam menjadwalkan suatu proyek. Salah satu faktor yang paling menentukan adalah waktu penjadwalan suatu proyek. Oleh karena itu, banyak sekali metode yang dikembangkan untuk mengatasi masalah ini, salah satu metode tersebut adalah metode lintasan kritis.

Lintasan kritis suatu proyek adalah lintasan dalam suatu jaringan kerja sedemikian sehingga kegiatan pada lintasan ini memiliki kelambanan nol.

Lintasan kritis adalah jalur atau jalan yang dilintasi atau dilalui yang paling menentukan berhasil atau gagalnya suatu pekerjaan. Dengan kata lain lintasan kritis adalah lintasan yang paling menentukan penyelesaian proyek secara keseluruhan.

Lintasan kritis memiliki arti penting dalam pengelolaan proyek karena lintasan kritis merupakan waktu atau durasi penentu penyelesaian proyek. Penundaan atau keterlambatan tugas dalam kategori lintasan kritis menyebabkan penundaan penyelesaian proyek secara keseluruhan. Keterlambatan tugas dalam kategori lintasan non-kritis tidak akan menunda penyelesaian proyek.

Metode Lintasan Kritis (Critical Path Method – CPM) merupakan metode yang digunakan untuk menjadwalkan pekerjaan-pekerjaan dalam suatu proyek. Dalam metode ini, pekerjaan-pekerjaan dan ketergantungannya dimodelkan dalam suatu jaringan yang kemudian dianalisis untuk mendapatkan waktu tercepat dalam menyelesaikan masing-masing pekerjaan.

Manfaat yang diperoleh jika mengetahui lintasan kritis adalah sebagai berikut:

a.       Penundaan pekerjaan pada lintasan kritis menyebabkan seluruh proyek tertunda penyelesaiannya.

b.      Proyek dapat dipercepat penyelesaiannya bila pekerjaan-pekerjaan yang ada di lintasan kritis dapat dipercepat.

c.       Pengawasan atau kontrol hanya diperketat pada lintasan kritis saja, sehingga pekerjaan-pekerjaan di lintasan kritis perlu pengawasan ketat agar tidak tertunda dan kemungkinan ditrade off (pertukaran waktu dengan biaya yang efisien) dan crash program (diselesaikan dengan waktu yang optimum dipercepat dengan biaya yang bertambah pula) atau dipersingkat waktunya dengan tambahan biaya atau lembur.

Time slack (kelonggaran waktu) terdapat pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak dilalui oleh lintasan kritis. Ini memungkinkan bagi manajer untuk memindahkan tenaga kerja, alat-alat, dan biaya-biaya ke pekerjaan-pekerjaan di lintasan kritis demi efisiensi.

Pada kondisi dan situasi tertentu, manajer proyek diharuskan dapat menyelesaikan proyek dalam waktu relatif lebih cepat dibandingkan waktu pada lintasan kritis. Dalam kondisi seperti ini, program linier digunakan untuk menentukan alokasi sumber daya sedemikian sehingga meminimalkan biaya tambahan yang harus dikeluarkan supaya proyek selesai lebih cepat dari waktu yang telah dijadwalkan.

Dewasa ini manajemen proyek sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan konstruksi, baik dalam skala besar maupun skala kecil. manajemen proyek sendiri adalah penerapan fungsi-fungsi manajemen secara sistematis pada suatu proyek, dengan menggunakan resource/sumber daya (manusia, barang dan peralatan) secara efektif dan efisien agar tujuan proyek tercapai secara optimal. manajemen proyek adalah pengelolaan suatu proyek yang mencakup proses pelingkupan, perencanaan, penyediaan staf, pengorganisasian, dan pengontrolan suatu proyek. manajemen proyek yang efektif adalah bagaimana merencanakan, mengelola dan menghantarkan proyek tepat waktu dan dalam rentang anggaran. Jika dalam mengerjakan tugas dan menggunakan alat dan bahan, manusia tidak dibatasi oleh waktu dan biaya tentu saja manajemen proyek tidak diperlukan.

Kunci sukses manajemen proyek adalah pengetahuan seorang manajer proyek tentang pemanfaatan tiga hal yang saling berkaitan dan mempengaruhi, ketiga hal tersebut adalah uang, waktu dan cakupan pekerjaan. Mengatur suatu proyek, hal yang paling penting adalah merencanakan proyek itu dengan sangat hati-hati dan teliti untuk menciptakan hasil yang optimal. Proyek dapat dikatakan sebagai suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu.

Penjadwalan proyek adalah rencana pengurutan kerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan sasaran khusus dengan saat penyelesaian yang jelas. Sebelum proyek dikerjakan, perlu adanya tahap-tahap pengelolaan proyek yang meliputi tahap perencanaan, tahap penjadwalan, dan tahap pengkoordinasian. Dari ketiga tahapan ini, tahap perencanaan dan penjadwalan adalah tahap yang paling menentukan berhasil/tidaknya suatu proyek, karena penjadwalan adalah tahap ketergantungan antar tugas yang membangun proyek secara keseluruhan.

Penentuan Waktu (skripsi dan tesis)

Setelah suatu network ditentukan dan digambarkan, maka langkah berikutnya adalah mengestimasi waktu yang diperlukan untuk masing-masing aktivitas, dan menganalisis seluruh diagram network untuk menentukan waktu terjadinya masing-masing kejadian (event).

Dalam menganalisis dan mengestimasi waktu, maka akan didapatkan suatu lintasan tertentu dari kegiatan-kegiatan pada network, yang menentukan jangka waktu penyelesaian seluruh proyek.

Lintasan yang dimaksud adalah lintasan kritis (critical path). Selain lintasan kritis, masih terdapat lintasan-lintasan lain yang mempunyai jangka waktu yang lebih pendek daripada lintasan kritis, dan biasa disebut dengan float, di mana float mempunyai waktu untuk bisa terlambat, sehingga berapapun panjangnya float tidak akan mempengaruhi proyek yang telah dijadwalkan.

Float sendiri terbagi menjadi dua jenis yaitu: total float dan free float. Float memberikan kelonggaran waktu pada sebuah network. Float juga digunakan pada waktu mengerjakan penentuan jumlah material, peralatan, dan tenaga kerja.

Total float adalah jumlah waktu di mana waktu penyelesaian suatu aktivitas dapat diundur tanpa mempengaruhi saat paling cepat dari penyelesaian proyek secara keseluruhan. Sedangkan yang dimaksud dengan free float adalah jumlah waktu di mana penyelesaian suatu aktivitas dapat diukur tanpa mempengaruhi saat paling cepat dimulainya aktivitas yang lain atau saat paling cepat terjadinya event lain pada network.

Untuk memudahkan perhitungan penentuan waktu, maka digunakan notasi-notasi sebagai berikut:

  • TE = earliest event occurrence time, yaitu saat tercepat terjadinya event/aktivitas.
  • TL = lates event occurrence time, yaitu saat paling lambat terjadinya event.
  • ES = earliest activity start time, yaitu saat tercepat dimulainya aktivitas.
  • EF = earliest activity finish time, yaitu saat paling lambat dimulainya aktivitas.
  • LS = latest activity start time, yaitu saat paling lambat dimulainya aktivitas.
  • LF = latest activity finish time, yaitu saat paling lambat diselesaikannya aktivitas.
  • t = activity duration time, yaitu waktu yang diperlukan untuk suatu aktivitas (biasa dinyatakan dalam hari).
  • S = total slack/total float
  • SF = free slack/free float

Dalam melakukan perhitungan penentuan waktu digunakan tiga buah asumsi dasar, yaitu:

  1. Proyek hanya memiliki satu initial event (titik awal) dan satu terminal event (titik akhir).
  2. Saat tercepat terjadinya initial event adalah hari ke-nol.
  3. Saat paling lambat terjadinya terminal event adalah TL = 0 untuk event ini.

Adapun perhitungan yang harus dilakukan terdiri atas dua cara, yaitu cara perhitungan maju (forward computation) dan perhitungan mundur (backward computation).

Untuk melakukan perhitungan maju dan perhitungan mundur, digunakan lingkaran kejadian (event), lingkaran kejadian ini dibagi atas tiga bagian dan digambarkan seperti Gambar 2.8.

Gambar 2.8. Lingkaran kejadian.

(Ervianto, 2004)

Keterangan:

  1. ruang untuk nomor event.
  2. ruang untuk menunjukkan saat paling cepat terjadinya event (TE), yang merupakan hasil perhitungan maju.
  3. ruang untuk menunjukkan saat paling lambat terjadinya event (TL), yang merupakan hasil perhitungan mundur.

Setelah network dari suatu proyek digambarkan, dan setiap node dibagi menjadi tiga bagian, maka langkah selanjutnya adalah memberi nomor pada masing-masing node. Kemudian mencantumkan pada setiap anak panah (kegiatan) perkiraan waktu pelaksanaan masing-masing kegiatan.

Letak angka yang menunjukkan waktu kegiatan, terletak di bawah anak panah. Satuan waktu yang digunakan pada seluruh proyek harus sama, sebagai contoh pemakaian minggu, hari dan lain-lain. Yang paling penting adalah, apabila perhitungan dilakukan dengan tidak menggunakan komputer, maka sebaiknya duration ini menggunakan angka-angka yang bulat.

Setelah menentukan network, langkah selanjutnya adalah menentukan perhitungan maju dan mundur. Pada perhitungan maju, perhitungan bergerak mulai dari initial event menuju terminal event (maksudnya ialah menghitung saat yang paling tercepat terjadinya events).

Setelah melakukan perhitungan maju, langkah selanjutnya melakukan perhitungan mundur, pada perhitungan mundur, perhitungan bergerak dari terminal event menuju ke initial event. Tujuannya ialah untuk menghitung saat paling lambat terjadinya events dan saat paling lambat dimulainya dan diselesaikannya aktivitas-aktivitas (TL,LS, dan LF). Seperti halnya pada perhitungan maju, pada perhitungan mundur ini pun terdapat tiga langkah, yaitu:

  1.  Pada terminal event berlaku TL = TE.
  2. Saat paling lambat untuk memulai suatu aktivitas sama dengan saat paling lambat untuk menyelesaikan aktivitas itu dikurangi dengan duration aktivitas tersebut,

Setiap aktivitas hanya dapat dimulai apabila event yang mendahuluinya telah terjadi. Oleh karena itu, saat paling lambat terjadinya sebuah event sama dengan nilai terkecil dari saat-saat paling lambat untuk memulai aktivitas-aktivitas yang berpangkal pada event tersebut.

Setelah kedua perhitungan diatas (perhitungan maju dan perhitungan mundur) selesai, barulah float dapat dihitung.

Setelah perhitungan maju dan perhitungan mundur selesai dilakukan, maka langkah berikutnya harus dilakukan perhitungan kelonggaran waktu dari aktivitas (i,j) yang terdiri dari total float dan free float.

Dalam perhitungan float terdapat suatu aktivitas yang tidak mempunyai kelonggaran (float), yang biasa disebut sebagai aktivitas/kegiatan kritis. Dengan kata lain, aktivitas kritis mempunyai S(i,j)=SF(i,j )=0.

Aktivitas-aktivitas kritis akan membentuk lintasan kritis yang dimulai dari initial event sampai ke terminal event. Aktivitas-aktivitas inilah yang tidak boleh ditunda pelaksanaannya, sehingga jika pelaksanaannya

Metode PDM (skripsi dan tesis)

Pengelolaan proyek berskala besar yang berhasil, memerlukan perencanaan, penjadwalan, dan pengkoordinasian yang hati-hati dari berbagai aktivitas yang saling berkaitan. Untuk itu diperlukan prosedur yang didasarkan atas penggunaan network (jaringan) dan teknik-teknik network dalam perencanaan, penjadwalan, dan pengkoordinasian suatu proyek. Penggunaan jaringan dalam bidang manajemen umumnya yaitu penggunaan teknik jaringan aktivitas, atau sering dikenal sebagai teknik jaringan proyek, suatu proyek melibatkan berbagai aktivitas yang saling berhubungan baik langsung atau tidak langsung. Jaringan proyek dibuat dengan mengacu pada ketentuan yang diberlakukan, misalnya AOA (Activity On Arrow), di mana aktivitas digambarkan atau dilambangkan pada busur panah, AON (Activity On Node) atau PDM (Precedence Diagram Method), yaitu aktivitas dilambangkan sebagai simpul. Network planning pada prinsipnya adalah hubungan ketergantungan antara bagian-bagian pekerjaan (variables) yang digunakan/divisualisasikan dalam diagram network.

Menurut Hillier dan Lieberman, prosedur yang paling utama dan terkenal pada saat ini dikenal sebagai PERT (Program Evaluation and Review Technique) dan CPM (Critical Path Methode), walaupun terdapat banyak variasi dengan nama yang berbeda-beda. Program Evaluation Review Technique (PERT) merupakan suatu metoda penjadwalan dengan menimbang durasi aktivitas yang bersifat tidak pasti. Jalur kritis (CP / Critical Path) adalah jalur terpanjang dan didefinisikan sebagai waktu minimal yang dibutuhkan untuk mengerjakan proyek. PERT dan CPM memiliki perbedaan penting. Namun saat ini perbedaan keduanya digabungkan menjadi apa yang disebut PERT–type system.

Walaupun PERT-type system sering digunakan untuk mengevaluasi penjadwalan program penelitian dan pengembangan, namun sekarang ini digunakan pula untuk mengukur danmengendalikan kemajuan berbagai tipe proyek khusus lainnya, sebagai contoh dari tipe-tipe proyek ini adalah program-program konstruksi, pemrograman komputer, rencana pemeliharaan, dan pemasangan sistem komputer.

Simbol-simbol yang digunakan untuk menggambarkan suatu network dalam PERT-type system adalah sebagai berikut:

Anak panah = arrow, menyatakan sebuah kegiatan atau aktivitas. Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang memerlukan duration (jangka waktu tertentu) dalam pemakaian sejumlah resource (sumber tenaga, peralatan, material, biaya. Panjang ataupun kemiringan anak panah tidak mempunyai arti apapun. Sehingga tidak perlu menggunakan skala. Kepala anak panah menjadi arah bahwa kegiatan dimulai dari permulaan dan menuju akhir.

Lingkaran kecil = node, menentukan sebuah kejadian atau event. Kejadian di sini didefinisikan sebagai ujung atau pertemuan dari satu atau beberapa kegiatan.

Anak panah terputus-putus, menyatakan kegiatan semu atau dummy. Dummy disini digunakan untuk membatasi mulainya kegiatan. Seperti halnya arrow panjang, ketebalan dan kemiringan dummy tidak perlu berskala. Perbedaan dummy dengan kegiatan biasa adalah dummy tidak mempunyai durasi (jangka waktu tertentu) karena tidak memakai atau menghabiskan sejumlah resource.

Anak panah tebal menyatakan kegiatan pada lintasan/kegiatan kritis.

Dalam pelaksanaannya simbol-simbol di atas digunakan dengan mengikuti aturan-aturan sebagai berikut:

a.       Di antara dua event yang sama, hanya boleh digambarkan satu anak panah.

b.      Nama suatu aktivitas dinyatakan dengan huruf atau dengan nomor event.

c.       Aktivitas harus mengalir dari event bernomor rendah ke event bernomor tinggi.

d.      Diagram hanya memiliki sebuah initial event dan sebuah terminal event.

e.       Aturan-aturan tersebut dapat digambarkan dalam contoh diagram jaringan

Adapun logika kebergantungan kegiatan-kegiatan itu dinyatakan sebagai berikut:

a.       

Network Planning (skripsi dan tesis)

Network planning sebagai salah satu alat perencanaan dan pengendalian proyek yang menyajikan jaringan dari kegiatan dan kejadian serta logika ketergantungannya satu sama lain. Dengan network planningini sudah dapat digambarkan perencanaan tahapan kerja sekaligus dapat mengatasi jika tahapan kerja tersebut dilaksanakan. Pemakaian metoda network planning memungkinkan melihat urutan kerja yang akan dilakukan secara sistematis dapat melihat kegiatan mana yang tidak bisa ditunda mengakibatkan memperpanjang waktu keseluruhan proyek. Dalam menyusun network planning suatu proyek yang perlu kita tinjau, yaitu:

  1. Kegiatan-kegiatan (activities)
  2. Kejadian-kejadian (event)
  3. Logika hubungan atau ketergantungan satu sama lain (logica interrelationship).

Dengan ketiga unsur tersebut diatas sudah dapat digambarkan rencana mendetail yang merupakan sebuah jaringan kerja (network), dimana didalam taraf pertama ini belum diperhitungkan dan dipertimbangkan faktor waktu dan sumber daya dan biaya.

Di dalam taraf kedua ini adalah peninjauan unsur waktu, berdasarkan teori dan perhitungan ditambah pengalaman, dapat dilakukan perkiraan terhadap waktu (duration) kegiatan, dengan memasukkan masalah waktu ini dapat diketahui lamanya masing-masing kegiatan atau antar kegiatan. Dalam peninjauan ini dapat dilihat bahwa terdapat sebuah atau lebih lintasan tertentu dari kegiatan-kegiatan network yang menentukan jangka waktu penyelesaian seluruh proyek yang disebut lintasan kritis. Untuk jalur kegiatan yang tidak kritis mempunyai jangka waktu yang lebih pendek dibanding lintasan kritis sehingga lintasan yang tidak kritis ini mempunyai waktu untuk bisa terlambat atau waktu tenggangnya (float). Float digunakan pada waktu pengerjaan penetapan penentuan jumlah material, equipment dan tenaga kerja yang dapat memberikan sejumlah kelonggaran waktu dan elastisitas pada sebuah network. Diantara berbagai versi analisis network planning yang amat luas pemakaiannya adalah Metode Precedence Diagram Method (PDM).

Bar-Charts (skripsi dan tesis)

Bar-Charts menyajikan metode pengendalian dengan menggunakan bentuk balok sebagai pengganti item pekerjaan yang dikendalikan. Bentuk bar-chartsatau bagan balok yang lazim dipergunakan adalah berupa pengaturan sedemikian rupa sehingga semua aktivitas didaftarkan dalam suatu kolom sebelah kiri. Bagian kana merupakan skala waktu mendatar, suatu balok horizontal menggambarkan lamanya waktu penyelesaian yang direncanakan untuk masing-masing aktivitas.

Bila dibandingkan dengan metode lain bar-charts mempunyai sejumlah keunggulan, bentuk garis yang sederhana menghasilkan suatu pemahaman yang relative mudah dan metode ini juga merupakan alat pengendalian yang hanya memerlukan sedikit revisi dan pembaharuan data jika dibandingkan dengan sistem yang lebih canggih. Yang sering kali mengalami perubahan maupun revisi.

Tabel 2. 1 Contoh bar-charts berdasarkan

Earliest Star

No Kegiatan Minggu Ke
1 2 3 4 5 6 7
1 A              
2 B              
3 C              
4 D              
5 E              

(Ervianto, 2004)

Disamping keunggulan-keunggulan itu metode ini juga mempunyai keterbatasan, yaitu sebagai berikut

  1. Tidak praktis untuk kegiatan yang banyak
  2. Sulit untuk meramalkan pengaruh perubahan suatu aktivitas terhadap rencana proyek secara keseluruhan.
  3. Tidak dapat menggambarkan kemajuan pekerjaan dari suatu aktivitas individu.

S-Curve (skripsi dan tesis)

S-Curve menyajikan gambaran tingkat-tingkat ukuran kemajuan komulatif secara grafis pada sunbu tegak terhadap waktu pada sumbu mendatar yang dapat memperlihatkan berbagai aspek dari rencana proyek. Kemajuan ini diukur berdasarkan jumlah uang (biaya), kuantitas pekerjaan, jam kerja orang (man-hour) dan setiap ukuran lainnya yang dapat memberikan manfaat ukuran kemajuan ini dinyatakan menurut pengertian satuan sebenarnya atau berbagai persentase dari jumlah kuantitas yang diperhitungkan dapat diukur.

Pada pelaksanaan proyek pada umumnya terdapat kecenderungan pengeluaran atau penggunaan sumber daya untuk setiap satuan waktu hanya sedikit pada tahap awal, berkembangnya mencapai maksimal pada saat puncak, lalu berangsur-angsur berkurang bila telah mendekati tahap akhir pelaksanaan. Hal ini dinyatakan secara grafis, yaitu dengan memadukan kemajuan komulatifnya dengan satuan waktu (hari, minggu, bulan), akan menghasilkan bentuk kurva yang khas berbentuk S dengan kemiringanrelative pada bagian awal, meningkat pada bagian tengah dan akan mendatar pada bagian akhir yang telah mendekati puncak.

Setelah pelaksanaan berlangsung kemajuan pekerjaan yang sebenarnya dapat digambarkan dan dibandingkan dengan apa yang telah direncanakan untuk membuat proyeksi berdasarkan kemiringan kurva sebenarnya. Untuk membuat proyeksi diperlikan informasi dan pemahaman yang baik untuk dapat menafsirkan sebab-sebab dari penyimpangan (deviasi) yang terjadi pada kemajuan yang direncanakan dan dari rencana saat ini dan saat yang akan datang dari manajemen proyek, meskipun aktivitas proyek telah direncanakan dengan semestinya untuk mencapai sasaran waktu dan biaya pelaksanaan, tetapi karena berbagai faktor hal ini tidak dapat tetpenuhi.

Untuk kegiatan-kegiatan tertentu hal tersebut dapat dibenarkan, yaitu pada kegiatan-kegiatan yang meskipun mengalami keterlambatan tetapi tidak mengalami keterlambatan secara keseluruhan (kegiatan-kegiatan non kritis).

Perencanaan Waktu dan Jadwal (skripsi dan tesis)

Penjadwalan (scheduling) merupakan form yang menunjukkan/ menguraikan kegiatan/aktivitas yang ada dalam penyelesaian proyek yang berhubungan dengan durasi/waktu dan hubungan-hubungan yang logis dari kegiatan-kegiatan tersebut. (Mawardi, 2-4)

  1. Data yang dapat diketahui dari scheduling:

1)      Jenis/item pekerjaan/aktivitas

2)      Durasi/waktu untuk tiap aktivitas

3)      Waktu mulai (start) dan waktu akhir (finish) tiappekerjaan

4)      Waktu mulai dan waktu akhir proyek

5)      Hubungan antar pekerjaan/kegiatan à hubungan yang logis

  1. Penjadwalan dengan Network diagram (Diagram Jaringan Kerja) adalah diagram penjadwalan yang menunjukan hubungan-hubungan antar kegiatan/aktivitas/pekerjaan atau event/peristiwa/kejadian dan durasinya dalam suatu proyek
  2. Hubungan antar kegiatan/kejadian didalam network merupakan hubungan yang logis
  3. Aktivitas/kegiatan/pekerjaan adalah bagian unit pekerjaan individual yang ada pada suatu proyek yang memerlukan waktu dan sumber daya dan merupakan lingkup pekerjaan/kegiatan proyek secara menyeluruh

Beberapa metoda perencanaan penjadwalan (scheduling) di dalam proyek konstruksi antara lain: (Ervianto, 2004)

Analisis Pekerjaan (skripsi dan tesis)

Pekerjaan merupakan komponen dasar struktur organisasi dan merupakan alat untuk mencapai tujuan organisasi. Analisis pekerjaan merupakan suatu proses untuk menentukan isi suatu pekerjaan sehingga dapat dijelaskan kepada orang lain untuk tujuan manajemen. Isi pekerjaan hasil analisis dari analisis pekerjaan dalam bentuk tertulis inilah yang sering disebut dengan deskripsi pekerjaan. Selanjutnya, agar suatu pekerjaan dapat dikerjakan oleh orang yang tepat, syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang bersangkutan sering disebut dengan kualifikasi atau spesifikasi personalia. (Ervianto, 2004: 71-72)

Analisis maksudnya pekerjaan diuraikan menjadi komponen-komponen yang tidak hanya mencantumkan aktivitas, tetapi juga memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh si penjabat, bagaimana aktivitas itu saling bekerja sama, kompleksitas, tantangan, serta manfaatnya bagi organisasi. (Mawardi, 2012: 14-15)

Sebelum pekerjaan membangun dilaksanakan, terlebih dahulu dibuat gambar-gambar rencana, peraturan dan syarat-syarat, serta ketentuan-ketentuan lain yang berhubungan dengan bangunan tersebut. Pembuatan gambar-gambar rencana, disebut dengan gambar bestek. (Munawar, 2007: 2-4)

Manajemen SDM (skripsi dan tesis)

Dalam konteks pembangunan nasional, pembangunan manusia yang seutuhnya, kemampuan profesional dan kemampuan kepribadian saling memperkuat satu sama lain. Profesionalisme dapat turut membentuk sikap dan perilaku serta kepribadian yang tangguh merupakan prasyarat dalam membentuk profesionalisme. (Suyatno, 2010: 24-25)

Kebijaksanaan pokok dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia (SDM) adalah sebagai berikut:(Destiltya, 2015: 21-24)

  1. Peningkatan kualitas hidup yang meliputi baik kualitas manusianya seperti jasmani, rohani dan keuangan, maupun kualitas kehidupan seperti perumahan dan pemukiman yang sehat.
  2. Peningkatan kualitas SDM yang produktif dan upaya pemerataan nya.
  3. Peningkatan kualitas SDM yang berkemampuan dalam memanfaatkan, mengembangkan dan menguasai iptek yang berwawasan lingkungan.
  4. Pengembangan pranata yang meliputi kelembagaan dan perangkat hukum yang mendukung upaya peningkatan kualitas SDM.

Manajemen sumber daya manusia (MSDM) merupakan bagian dari manajemen keorganisasian yang memfokuskan diri pada sumber daya manusia. Tugas MSDM adalah untuk mengelola unsur manusia secara baik agar diperoleh tenaga kerja yang puas akan pekerjaannya. (Ditjen Perkeretaapian, 2011: 56-60)

 Dengan demikian kita dapat mengelompokkan tugas MSDM atas tiga fungsi manajerial: perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian; fungsi operasional: pengadaan. kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemutus hubungan kerja;fungsi ketiga adalah kedudukan MSDM dalam pencapaian tujuan organisasi perusahaan secara terpadu. Definisi MSDM menurut Husein Umar adalah sebagai suatu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan atas pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemutus hubungan kerja dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan secara terpadu. (Hadiyanto, 2014: 31-33)

Perencanaan tenaga kerja adalah sebagai suata cara untuk mencoba menetapkan keperluan tenaga kerja untuk suatu periode tertentu baik secara kualitatif maupun kuantitas dengan cara-cara tertentu. Perencanaan ini dimaksudkan agar perusahaan dapat terhindar dari kelangkaan sumber daya manusia saat dibutuhkan maupun kelebihan sumber daya manusia pada saat kurang dibutuhkan. (Hadiyanto, 2014: 12-16)

Cara yang jelas untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja adalah dengan meningkatkan pendayagunaan orang-orang yang sekarang ada. Masalahnya sekarang adalah bahwa persediaan tenaga kerja itu tidak pernah statis, tetap akan dipengaruhi oleh arus masuk (seperti: rekrutmen dan transfer masuk) dan arus keluar (seperti: penyusutan dan arus keluar), serta penumpukan pegawai dengan kualitas kerja yang juga tidak statis. Untuk mengetahui catatan akurat tentang tenaga kerja yang ada maka perlu diketahui satatus pegawai yang akan pensiun atau mengundurkan diri, yang akan dipromosikan, yang akan melahirkan, yang akan cuti panjang dan sebagainya. (Kuswati, 2010: 24-26)

Proses Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi (skripsi dan tesis)

Sebelum pekerjaan membangun dilasanakan, terlebih dahulu dibuat gambar-gambar rencana, peraturan dan syarat-syarat, serta ketentuan-ketentuan lain yang yang berhubungan dengan bangunan tersebut. Pembuatan gambar-gambar rencana, disebut dengan gambar bestek (Djoyowirono, 2005:3).

Pelaksanaan pembangunan dapat dikerjakan sendiri oleh pemilik bangunan (owner), atau lazim berlaku adalah dengan cara bangunan tersebut dilaksanakan oleh pihak lain, yaitu oleh kontraktor atau pemborong. Cara pembangunan yang dilaksanakan oleh pihak kontraktor/pemborongpada umumnya melalui proses pelelangan terbatas. atau dapat pula ditempuh dengan cara penunjukan langsung (pelelangan dibawah tangan). Selanjutnya selama pelaksanaan pembangunan, dilakukan kegiatan pengawasan agar hasil pembangunan dapat memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Pekerjaan pengawasan ini dapat dilaksanakan sendiri oleh pemberi tugas, atau yang lazim dilaksanakan oleh konsultan pengawas (Djoyowirono, 2005:4).

Proses Manajemen Konstruksi (skripsi dan tesis)

Proses manajemen konstruksiadalah sebagai berikut: (Project Management Institute, 2007: 2-6)

  1. Perencanaan (Planning)

Setiap proyek konstruksi selalu dimulai dengan proses perencanaan, agar proses ini berjalan dengan baik, maka harus ditentukan dahulu sasaran utamanya. Perencanaan sebaiknya mencakup penentuan berbagai cara yang memungkinkan setelah itu baru menentukan salah satu cara yang tepat dengan mempertimbangkan semua kendala yang mungkin timbul (Ervianto, 2007;4).

Perkiraan jenis dan sumber daya yang dibutuhkan dalam suatu proyek konstruksi menjadi sangat penting untuk mencapai keberhasilan proyek sesuai dengan tujuan. Kontribusi sumber daya dalam perencanaan memungkinkan perumusan suatu rencana atau beberapa rencana yang akan memberi gambaran secara menyeluruh tentang metode konstruksi yang digunakan dalam mencapai tujuan. Perencanaan dapat didefinisikan sebagai peramalan masa yang akan datang dan perumusan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan berdasarkan peramalan tersebut. Bentuk dari perencanaan berupa: perencanaan prosedur, perencanaan metode kerja, perencanaan standar pengukuran hasil, perencanaan anggaran biaya, perencanaan progaram atau rencana kegiatan beserta jadwal (Ervianto, 2007:5).

  1. Pengorganisasian (Organizing)

Kegiatan ini bertujuan melakukan pengaturan dan pengelompokan kegitan proyek konstruksi agar kinerja yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Tahap ini menjadi sangat penting jika terjadi ketidaktepatan pengaturan dan pengelompokkan, bisa berakibat langsung terhadap tujuan proyek. Pengelompokan kegiatan dapat dilakukan dengan cara menyusun jenis kegiatan dari yang terbesar hingga yang terkecil, penyusunan ini disebut Work Breakdown Structure (WBS). Kemudian dilanjutkan dengan penetapan pihak yang nantinya bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan tersebut, proses ini disebut Organization Breakdown Structure (OBS) (Ervianto, 2007:5).

  1. Pelaksanaan (Actuating)

Pemantauan prestasi kegiatan pengendalian akan digunakan sebagai bahan untuk melakukan langkah perbaikan, baik proyek dalam keadaan lambat atau lebih cepat. Semua permasalahan dalam proyek harus diselesaikan bersama antara pihak-pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi sehingga diperlukan agenda acara yang mempertemukan semua unsur. Kegiatan ini dinamakan koordinasi (Ervianto, 2007:8).

  1. Pengendalian (Controlling)

Pengendalian adalah proses penetapan apa yang telah dicapai, evaluasi kinerja dan langkah perbaikan bila diperlukan. Proses ini dapat dilakukan jika sebelumnya telah ada kegiatan perencanaan, karena esensi pengendalian adalah membandingkan apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang telah terjadi. Variasi dari kedua kegiatan itu mencerminkan potret diri dari proyek tersebut.

Instrumen pengendalian yang biasa digunakan dalam proyekkonstuksi adalah dibentuknya diagram batang beserta kurva “S”. Pembuatan kurva “S” dilakukan pada tahap awal sebelum proyek dimulai dengan menerapkan asumsi-asumsi sehingga dihasilkan rencana kegiatan yang rasional dan sewajar mungkin. Instrumen ini nantinya digunakan sebagai pedoman apa yang seharusnya terjadi dalam proyek konstruksi.

Pemantauan kegiatan yang telah terjadi di lapangan harus dilakukan dari waktu ke waktu. Selanjutnya dilakukan perbandingan antara apa yang seharusnya terjadidangan apa yang telah terjadi. Jika realisasi prestasi kegiatan melebihi dari prestasi rencana, maka dikatakan bahwa proyek dalam keadaan lebih cepat (up-schedule). Akan tetapi, apabila terjadi hal yang sebaliknya, maka dikatakan bahwa proyek terlambat (behind schedule). Yang diharapkan dari pengelola proyek konstruksi tentunya proyek selesai lebih cepat (Ervianto, 2013;7). Gambar 2.1 merupakan bagan alur dari proses manjemen konstruksi.

Planning:     menetapkan apa yang harus dilaksanakan oleh anggotaorganisasi untuk menyelesaikan pekerjaan.

Organizing:  pembagian tugas para anggota organisasi

Actuating:     menggerakkan anggota organisasi secara efisien dan efektif

Controling:   pengawasan dan pengendalian agar pelaksanaan sesuai dengan rencana.

Manajemen Konstruksi (skripsi dan tesis)

Pengetahuan tentang manajemen dalam proyek konstruksi bertujuan untuk lebih memahami peranan dari pengendalian dalam proses pengelolaan proyek. Karena dengan manajemen konstruksi yang baik akan dapat menghasilkan produk atau hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Manajemen adalah proses perencanaan dan pengawasan suatu organisasi untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber daya lainnya. (Tabrani dkk, 2010: 1-4)

Dalam pekerjaan proyek pembangunan jalur kereta api, para pemilik proyek akan semakin menyadari pentingnya nilai waktu, dana dan tenaga kerja yang terlibat dari proses konstruksi. Untuk proyek-proyek yang memerlukan peranan investasi yang besar dengan masalah yang sangat kompleks serta tidak melibatkan tujuan yang terpenting yaitu, mencapai keuntungan ekonomis yang diharapkan maka, pengelolan proyek dan dilaksanakan secara profesional merupakan suatu hal yang terbaik. (Kuswati, 2010: 17-18)

Manajemen konstruksi (construction management) adalah suatu proses dimana suatu pemilik proyek menunjuk ahli) yang dipercaya, yang selanjutnya disebut sebagai Manajer Konstruksi untuk mengkoordinasikan, mengkomunikasikan, proses seluruh kelayakan, perencanaan, perancangan, pelelangan pekerjaan, pelaksanaan konstruksi dan pemanfaatan proyek dengan tujuan untuk meminimalkan waktu dan biaya proyek serta menjaga mutu proyek. Manajemen konstruksi adalah bagaiman suatu pekerjaan pembangunan dikelola agar diperoleh hasil sesuai dengan tujuan dari pembangunan tersebut, dengan melibatkan sekelompok orang yang masing-masing mempunyai kemampuan/keahlian tertentu. Manajemen konstruksi adalah bagaimana sumber daya yang terlibat dalam proyek konstruksi dapat diaplikasikan oleh manajer proyek secara tepat sumber daya dalam proyek konstruksi dapat dikelompokkan sebagai: manpower, material, machines, money, method (Ervianto, 2012:1).

Jadi manajemen konstruksi adalah suatu metode untuk mengelola pelaksanan pembangunan secara disiplin profesional. yang mempunyai suatu tahapan-tahapan proses pembangunan diperlukan suatu kesatuan seoptimal mungkin dari segi biaya, waktu dan mutu. (Kuswati, 2010: 23-24)

Tujuan pokok dari manajemen konstruksi yaitu mengelola atau mengatur pelaksanaan pembangunan sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil sesuai dengan persyaratan (specification). Untuk keperluan pencapaian tujuan ini, perlu diperhatikan pula mengenai mutu bangunan, biaya yang digunakan dan waktu pelaksanaan. (Project Management Institute, 2004: 1-2)

Perkembangan manajemen konstruksi di negara kita tidak dapat lepas dari perkembangan industri jasa konstruksi. Sedang perkembangan industri jasa konstruksi berhubungan erat dengan pelaksanaan pembangunan yang saat ini sedang giat dilaksanakan. Pada umumnya industri jasa konstruksi mencakup aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan pembangunan prasarana dan sarana fisik dalam bidang gedung, bidang teknik sipil, dan bidang instalasi. Dengan meningkatnya volume pembangunan tersebut, maka diikuti pula peningkatan cara pengelolaan pelaksanaan pembangunan yang berupa perkembangan dalam bidang manajemen konstruksi. Demikian pula hubungan kerja yang terjadi antara unsur-unsur pelaksana pembangunan mengalami perkembangan yang disesuaikan dengan volume aktivitas untuk masing-masing jenis bangunan. Selain itu tingkat pemikiran serta tingkat kepuasan dari pemilik proyek semakin tajam, penyelesaian proyek tidak lagi diharapkan hanya diselesaikan dengan apa adanya. Konsultan manajemen konstruksi tidak lagi dituntut sebagai wakil pemilik didalam pengelolaan perencanaan dan pengawasannya saja, melainkan dituntut untuk mengelola secara keseluruhan, dalam arti mulai dari perencanaan, pengawasaan dan tahap pelaksanaan. Berdasarkan hal tersebut, kehadiran konsultan manajemen konstruksi Profesional (Profesional Construction Management)di dalam suatu proyek tidak dapat ditawar-tawar lagi keberadaannya. Pengertian Profesional dalam hal ini adalah badan usaha yang bergerak dibidang konsultan manajemen konstruksi yang berfungsi sebagai wakil pemilik secara totalitas, baik dari segi wewenang, tanggungjawab serta kemampuan dalam merencana, mengelola dan melaksanakan. (Elbetagi, 2012: 42-44)

Lingkup kerja manajemen konstruksi dengan lingkup yang luas sebagai berikut: (Project Management Institute, 2004: 17-20)

  1. Pada Tahap Pra-Konstruksi:
  • Rekayasan nilai
  • Estimasi parameter
  • Jadwal Perancangan dan Pra-Konstruksi
  • Identifikasi aktivitas-aktivitas pokok
  • Pemaketan Pelelangan
  • Penunjukan kontraktor
  • Penyerapan standar prosedur operasional dan tanggung-jawab
  • Proses administrasi proyek
  1. Pada Tahap Konstruksi:
  • Perencanaan dan penjadwalan secara detil
  • Rencana pentahapan Konstruksi
  • Pengoperasian prosedur-prosedur
  • Pengawasan
  • Pemeriksaan
  • Pengujian bahan
  • Penanganan administrasi proyek
  • Penanganan proses perubahan pekerjaan
  • Pengendalian waktu, biaya, dan mutu
  • Pemrosesan Berita Acara untuk pembayaran kontraktor
  • Pengujian terhadap sluruh proyek yang telah diselesaikan

Dengan konsep ini peran manajemen konstruksi sangat besar dalam menentukan keberhasilan proyek dari segi waktu, biaya, mutu, keamanan dan kenyamanan yang optimal. Sehingga merupakan suatu keharusan manajemen konstruksi berdiri sebagai badan usaha profesional sebagai wakil dari pemilik. (Haro Dominguez, 2007: 8-10)

Dalam rangka pencapaian hasil ini, selalau diusahakan pelaksanaan pengawasan mutu (quality control), pengawasan waktu pelaksanaan (time control), dan pengawasan penggunaan biaya (cost control). Ketiga kegiatan pengawasan ini harus dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan . Penyimpangan yang terjadi dari salah satu hasil kegiatan pengawasan dapat berakibat hasil pembangunan tidak sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan (Djoyowirono, 2005;1).

Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Manajemen proyek adalah suatu usaha untuk merencanakan, mengorganisasi serta mengendalikan suatu keinginan dalam mempergunakan waktu dan biaya untuk memdukan peralatan, bahan, tenaga kerja sehingga dapat diterapkan suatu metoda yang sesuai dalam mencapai tujuan proyek dengan cara efisien dan efektif. Manajemen Proyek (project management) adalah aktivitas, perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan berbagai sumber daya proyek agar tujuan jangka pendek sebagaimana yang telah direncanakan dapat dicapai secara menyeluruh sesuai dengan sasaran-sasaran. (Arun Kanda, 2014: 2-4; Suyatno, 2010: 12-14)

Pada manajemen proyek dalam pengertian di atas, aktivitas-aktivitas yang dilakukan beraneka ragam, mulai dari perencanaan program, survey, penelitian, studi kelayakan, perancangan, pengadaan/lelang sampai pelaksanaan, sehingga akan melibatkan berbagai ahli) dan pihak yang lebih banyak (surveyor, perencana/arsitek, ahli) geologi, konstruktor, dan kontraktor) yang merupakan suatu tim yang saling berkaitan dan berhubungan sehingga memerlukan pengelolan (manajemen) yang professional (terpadu) sehingga dengan pendekatan konsep ini dibutuhkan seorang atau badan usaha profesional dibidang manajemen yang akan mengelola proyek tersebut mulai dari perencanaan, perancangan, lelang/tender sampai pelaksanaannya. Dengan konsep ini dapat dilakukan perencanaan secara bersamaan dengan beberapa perencana, begitu juga pada tahap pelaksanaan secara bertahap (fast track) tanpa harus menunggu dahulu perencanaan selesai secara keseluruhan. (Hasibuan dkk, 2007: 7-8)

Dalam hal ini mengelola aktivitas dengan menggunakan konsep manajemen proyek merupakan langkah yang relatif baru, dimana konsep ini ditandai dengan menerapkan suatu pendekatan, metode, dan teknik tertentu pada pemikiran­-pemikiran manajemen dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna dalam rangka menghadapi aktivitas yang dinamis dan non-rutin, yaitu aktivitas proyek konstruksi. (Arun Kanda, 2014: 2-4)

Adapun pengertian manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan aktivitas anggota serta sumber daya yang lain untuk mencapai sasaran organisasi (perusahaan) yang telah ditentukan. Yang dimaksud dengan proses adalah mengerjakan sesuatu dengan pendekatan tenaga, keahlian, peralatan, dana dan informasi. Sedangkan pengertian manajemen proyek muncul dikarenakan penggunaan manajemen itu sendiri yang telah berhasil mengelola aktivitas operasional rutin dengan lingkungan yang stabil, dirasakan kurang mampu dan tidak cukup efisien untuk mengelola aktivitas proyek konstruksi yang sejatinya penuh dengan dinamika dan perubahan cepat, sehingga hasilnya pun tidak bisa optimal. (Suyatno, 2010: 22-23)

Sehubungan dengan itu, dilihat dari wawasan manajemen berdasarkan fungsi dan digabungkan dengan pendekatan sistem, maka yang dimaksud dengan manajemen proyek yaitu merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan sumber daya perusahaan untuk mencapai tujuan jangka pendek yang telah ditentukan, serta menggunakan pendekatan sistem dan hirarki (arus aktivitas) vertical dan horizontal. (Elbetagi, 2002: 12-15)

Manajemen proyek sendiri terbagi menjadi bagian-bagian ilmu yaitu project scope management, project project management, project cost management, project quality management, project human resources management, project communications management, project risk management, project procurement management, dan project integration management(Project Management Institute, 2004). Pada penelitian yang akan dianalisa adalah dari segi pengaturan waktu, dalam hal ini yaitu project project management.

Dalam perkembangannya, manajemen proyek sebagai sistem berkembang secara lebih luas dengan diterapkan pada seluruh tahapan proyek, mulai dari tahapan perencanaan, perancangan, pengadaan dan pelaksanaan, sehingga untuk menerapkannya akan lebih rumit dan komplek karena sumber daya yang ada berlainan dan bervariasi dan mempunyai tujuan-tujuan sesuai dengan tahapan proyeknya. (Gabriel, 2009: 11-14)

Henry Fayol (1841-1925) seorang industriawan Perancis adalah orang pertama yang menjelaskan secara sistematis bermacam aspek pengetahuan manajemen dengan menghubungkan dengan fungsi-fungsinya. Fungsi-fungsi manajemen yang dimaksud adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan. Aliran pemikiran diatas kemudian dikenal sebagai manajemen klasik atau manajemen fungsional (manajemen dipandang sebagai fungsi). Pemikiran manajemen klasik berkembang pada zaman tumbuhnya industri modern dalam rangka mencari upaya menaikkan efisiensi dan produktivitas (hasil) perusahaan pada umumnya dan tenaga kerja pada khususnya. Pemikiran manajemen klasik mencakup periode yang amat panjang dan dikembangkan sejak abad 19, sewaktu aktivitas perusahaan belum sebesar dan sekompleks saat ini. Dari sejarah terlihat bahwa penerapan manajemen klasik untuk operasi perusahaan dan industri amat besar peranannya dalam ikut mengantar kemajuan dan kebesaran bidang tersebut sampai ketaraf dewasa ini. (Suyatno, 2010: 42-25)

Tingkat kebutuhan manajemen proyek dalam mencapai tujuan-tujuan proyek mencakup batasan waktu, batasan biaya, taraf teknologi dan kinerja yang diinginkan, penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien. (Project Management Institute, 2007: 12-16)

Lingkup layanan manajemen proyek mencakup sebagai berikut: (Project Management Institute, 2007: 2-3)

  1. Studi identifikasi tentang kebutuhan-kebutuhan pemilik
  • Definisi tentang syarat-syarat pekerjaan
  • Definisi kuantitas pekerjaan
  • Definisi kebutuhan sumber-sumber daya
  1. Perencanaan proyek
  2. Pemantauan proyek
  • Memantau kemajuan
  • Perbandingan kenyataan dan yang diperkirakan
  • Analisa Dampak
  • Langkah-langkah penyesuaian
  • Konsultansi pendanaan/Konsultansi perijinan
  • Perencanaan Anggaran
  1. Mengatasi berbagai kesulitan proyek antara lain:
  • Faktor kompleksitas
  • Persyaratan-Dersyaratan khusus yang dikehendaki
  • Restrukturisasi organisasi
  • Risiko-risiko proyek
  • Perubahan /pergantian teknologi
  • Perencanaan selanjutnya dan Penentuan harga

Manajemen (skripsi dan tesis)

Manajemen berasal dari kata “to manage” yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi manajemen itu. Jadi, manajemen itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan (Hasibuan dkk, 2007:1;SASOnlineDoc Version8, 2015).

Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan kegiatan anggota serta sumber daya yang lain untuk mencapai sasaran organisasi (perusahaan) yang telah ditentukan. Yang dimaksud dengan proses adalah mengerjakan sesuatu dengan pendekatan yang sistematis. Sedang sumber daya perusahaan terdiri dari tenaga, keahlian, peralatan, dana dan informasi. Adapun maksud dari manajemen itu sendiri adalah bagaimana cara mengatur suatu organisasi untuk mencapai suatu tujuan yang diizinkan, yang efisien dan efektif disisni berarti melakukan pekerjaan dengan baik atau perbandingan yang terbaik antara input atau masukan yaitu berapa jumlah tenaga, besarnya biaya, bahan material dan sumber daya untuk menghasilkan output yaitu berupa produk, dengan demikian dapat dibuat evaluasi dan keputusan alokasi sumber daya berikut. (Suyatno, 2010: 26-28)

Pengertian manajemen yang biasanya dibatasi dengan kata yang ada didalam kata manajemen, menunjukan kekhususan dari manajemen tersebut, seperti manajemen industri, manajemen proyek, manajemen konstruksi. Pengertian manajemen proyek adalah penerapan fungsi-fungsi manajemen (perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian) secara sistematis pada suatu proyek dengan mengggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien agar tercapai tujuan proyek secara optimal.  Pengertian tersebut dapat diartikan manajemen proyek sebagai sistem. Sebelum memahami pengertian tentang manjemen konstruksi, maka perlu untuk mengerti tentang pengertian manajemen proyek. (Tabrani, 2010: 4-6)

Angkutan Kereta Api (skripsi dan tesis)

Sarana angkutan kereta api merupakan salah satu bentuk jasa angkutan yang mempunyai peranan penting dalam melakukan hubungan antar daerah, mempercepat proses pemindahan manusia maupun barang dalam jumlah besar dari tempat-tempat yang jaraknya relatif berjauhan. (Biro Riset LM-FEUI, 2014: 42-44)

Kereta api sebagai salah satu moda transportasi darat mampu memberikan sumbangan yang besar bagi perkembangan ekonomi dan masyarakat. Kereta apilah yang memulai angkutan barang dalam jumlah yang besar dengan biaya yang rendah sehingga dapat merangsang pertumbuhan industri, pertambangan, perdagangan, dan kegiatan lainnya di masyarakat. Banyak kota-kota tumbuh dan berkembang setelah adanya jaringan kereta api. (Purbasari, 2014: 12)

Beberapa keunggulan-keunggulan angkutan kereta api dibandingkan moda transportasi lainnya adalah sebagai berikut: (Biro Riset LM-FEUI, 2014: 22-23)

  1. Mampu mengangkut muatan dalam jumlah yang besar. Lokomotif sebagai tenaga penggerak mampu menarik serangkaian gerbong, yang setiap gerbongnya berkapasitas 15 ton. Jika dalam satu rangkaian terdapat 30 gerbong, maka volume berat barang yang diangkut mencapai kurang lebih 450 ton atau sama dengan 30 kendaraan truk.
  2. Mampu menempuh jarak yang jauh. Semakin bertambah jauh jarak yang ditempuh kereta api maka semakin efisien dan biayanya semakin rendah.
  3. Jadwal perjalanan dengan frekuensi tinggi dapat dilaksanakan.
  4. Jarang sekali terjadi kongesti karena semua fasilitas dimiliki oleh satu perusahaan dalam hal ini PT. Kereta Api Indonesia (KAI) sehingga penyediaan jasa lebih terjamin kelancarannya.
  5. Dapat memberikan tingkat pelayanan yang lebih baik daripada bus.

Perusahaan angkutan rel umumnya berbentuk monopoli yang dikuasai oleh pemerintah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. (Prakarsa, 2010: 27-30)

  1. Bersifat public utility, yaitu jasa angkutan ini dibutuhkan oleh masyarakat banyak dan merupakan angkutan massa.
  2. Bersifat strategis karana mengangkut barang-barang kebutuhan pokok masyarakat, seperti beras,pupuk, semen, minyak dan sebagainya.
  3. Membutuhkan modal/investasi yang sangat besar karena seluruh peralatan basis (rel, bantalan, jembatan, sinyal, dan lain-lain) dan seluruh peralatan operasi (lokomotif, gerbong,dan peralatan penunjang) dimiliki, dipelihara, dan dioperasikan sendiri oleh perusahaan .

Semakin meningkatnya pendapatan masyarakat dan tersedianya berbagai jenis moda transportasi, diperlukan peningkatan kualitas pelayanan yang meliputi: keselamatan, keandalan, ketepatan waktu, kemudahan pelayanan, kenyamanan, kecepatan, energi, dan produktivitas. (Santosa, 2010: 1-2)

  1. Keselamatan Perjalanan

Semakin diperkecilnya gangguan bagi penumpang dan barang yang dimulai sejak awal pejalanan sampai dengan tibanya sampai di tempat tujuan. Dalam istilah perkereta apiandisebut PLH (Peristiwa Luar biasa Hebat), yaitu suatu gangguan perjalanan yang mungkin disebabkan oleh anjloknya kereta api(derail ment), kecelakaan pada pintu perlintasan sebidang (antara kereta api dengan kendaraan jalan kereta api), tabrakan antar kereta api, ataupun kecelakaan yang dibebabkan hal-hal lain. (Munawar, 2007: 3-4)

  1. Keandalan ( reliability)

Keandalan banyak didasari atas sistem pemeliharaan dan tingkat teknologi dalam hal ini kemampuan personel kereta api untuk menanganinya. (Kuswati, 2010: 24-27)

  1. Ketepatan Waktu

Persyaratan masyarakat pengguna jasa yang memungkinkan mereka mampu merencanakan kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan yang berada pada lokasi tujuan. Pengaturan yang terencana sangat dibutuhkan masyarakat. Hal ini dimulai dengan sadar waktu (time consciousness), sebagai salah satu ciri masyarakat maju. (Kuswati, 2010: 45-48)

  1. Kemudahan Pelayanan

Kemudahan pelayanan adalah sebagai suatu kepastian pelayanan yang memungkinkan untuk dapat dilayani, baik dari penumpang maupun barang. Bagi penumpang, kepastian dalam mendapatkan pelayanan ditingkat manapun yang dipilihnya ataupun dalam memperoleh karcis perjalanan sangat didambakan, juga kemudahan dalam mendapatkan ruang kendaraan angkut untuk mengirimkan suatu barang, sebagai pencerminan memperoleh kemudahan pelayanan. (Budi Utomo dkk, 2015: 2-4)

  1. Kenyamanan

Perubahan tingkat kualitas hidup masyarakat Indonesia, menuntut pula suatu pelayanan yang lebih baik daripada keadaan yang sekarang. Tingkat kebersihan, kebisingan, geronjalan, goyangan (vertikal maupun horizontal), adalah beberapa persyaratan umum yang perlu diperhatikan. Beberapa elemen yang mendukung kenyamanan adalah sebagai berikut: (Kuswati, 2010: 22-23)

1)      kapasitas penumpang kereta api,

2)      akomodasi dan ergonomi tempat duduk,

3)      temperatur dan eliminasi,

4)      kenyamanan perjalanan (riding comfort, train vibration),

5)      penampilan (appearance),dan

6)      kebersihan (terhadap kotoran, debu, sampah, dan sebagainya).

  1. Kecepatan

Seiring dengan perubahan tata nilai dan mobilitas masyarakat, tingkat kecepatan perkeretaapian untuk kurun waktu 15 tahun mendatang harus dapat dicapai 150 km per jam. Hal ini sesuai dengan tingkat pendapatan masyarakat saat itu dan disesuaikan dengan kekuatan ekonominya. Jenis angkutan untukmeningkatkan kecepatan sangat terkait dengan biaya energi, keselamatan perjalanan, biaya perawatan, dan pendapatan masyarakatnya. Perubahan nilai kebutuhan masyarakat tersebut didasari atas prakiraan pertumbuhan ekonomi sosial, yang dalam jangka panjang mampu mengubah struktur ekonomi masyarakat. (Sulistyawati, 2014: 6-8)

  1. Energi

Energi merupakan suatu sarana untuk mengembangkan kesejahteraan dan kemajuan bagi kemanusiaan. Perkembangan teknologi telah membuktikan bahwa tidak ada suatu kemajuan tanpa melibatkan energi sebagai sarana penggeraksetiap aktivitas usaha. Jadi penggunaan energi harus seefisien mungkin. (Destiltya, 2015: 6)

  1. Peningkatan Produktivitas

Peningkatan produktivitas merupakan upaya dalam memperbaiki efisiensi dan efektivitas usaha. Sejalan dengan pencanangan efisiensi maka harus mampu menyumbang pangsa yang dipikulnya. (Budi Utomo dkk, 2015: 12)

Beberapa aspek penting yang dapat mempengaruhi tingkat pelayanan yaitu: (Kuswati, 2010: 17-18)

1)      waktu perjalanan atau kecepatan,

2)      keterandalan (reliability),

3)      kenyamanan (comfort),

4)      keamanan,

5)      biaya.

Dibandingkan dengan angkutan jalan kereta api, keunggulan lain dari angkutan kereta api adalah keteraturan dalam pelayanan operasinya, artinya kereta api dapat menyelenggarakan rencana-rencana perjalanan segera teratur dan dapat diandalkan, mempunyai jalur atau jaringan sendiri, tidak mengalami antrian, tundaan, dan kemacetan di jalan seperti halnya angkutan jalan kereta api pada umumnya. (Sulistyawati, 2014: 35-36)

Adapun kerugian-kerugian angkutan kereta api yaitu angkutan kereta api tidak dapat dipakai sefelksibel angkutan darat lainnya karena kegiatan terbatas pada jaringan rel yang ada dan pelayanannya terikat oleh jadwal yang ketat. (Nikmah, 2008: 48-50)

Salah satu tolok ukur pertimbangan pembangunan dan peningkatan sarana dan prasarana kereta api adalah harus mempertimbangkan kondisi dan kepentingan ekonomi berkaitan dengan kegiatan masyarakat yang menggunakan jasa kereta api maupun kegiatan perekonomian lainnya mengingat pengadaannya memerlukan biaya yang cukup besar. (Pribadi, 2012: 2-6)

Proyek transportasi, terutama proyek pembangunan jalan kereta api bukanlah sesuatu yang baru, apa yang berubah dan merupakan hal baru adalah dimensi dari proyek tersebut, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Sejalan dengan perubahan tersebut timbul persaingan yang ketat, hal ini mendorong para pengusaha/praktisi mencari dan menggunakan cara-cara pengelolaan, metode serta teknik yang paling baik, sehingga penggunaan sumber daya benar-benar efektif dan efisien. (Nikmah, 2008: 16-17)

Kebutuhan Transportasi (skripsi dan tesis)

Kebutuhan transportasi timbul dari kebutuhan manusia. Transportasi dapat diartikan sebagai kegiatan yang memungkinkan perpindahan barang dan atau manusia dari satu tempat ke tempat lain. Dari pengertian tersebut maka setiap transportasi mengakibatkan terjadinya perpindahan dan pergerakan yang berarti terjadi lalu lintas. (Hadiyanto, 2014: 36-40)

Sedikitnya ada tiga faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam pemilihan moda. (Purbasari, 2014: 16-18)

  1. Ciri pengguna jalan.
  2. Ciri pergerakan: tujuan, waktu, dan jarak
  3. Ciri fasilitas moda transportasi:waktu perjalanan, biaya, ruang dan tarif parkir

Model pemilihan moda yang baik akan memasukkan hal-hal yang penting tersebut. Manusia dapat memilih moda transportasi yang paling menguntungkan baik dari segi ekonomi, efisiensi, maupun tingkat pelayanan yang diinginkan. Pada kondisi tertentu pemakai alat transportasi dalam melakukan perjalanan dapat memilih antara beberapa macam alat transportasi yang tersedia. Pemilihan ini ditentukan oleh tipe dari perjalanan, karakteristik pelaku perjalanan, maupun tingkat pelayanan dari sistem transportasi. (Zafar, 2010: 32-34)

Klasifikasi Model Simulasi (skripsi dan tesis)

Klasifikasi sistem berdasarkan perilaku dibagi menjadi:

  1. Sistem statis dan Dinamis.

Sistem statis merupakan sistem yang direncanakan, dibangun dan diimplementasikan hanya pada satu tahap saja. Sistem dinamis merupakan sistem yang mempunyai perilaku dasar steady state dan  growth state yang dinamis.  Steady state  merupakan perilaku pada sistem yang terus melakukan perubahan sampai titik tertentu.  Growth satate yaitu kondisi yang melakukan perubahan untuk tumbuh baik secara negative atau positif. Kedua model merupakan jenis model yang mewakili situasi yang berhubungan terhadap waktu. Model statis menjelaskan sebuah hubungan yang tidak berubah terhadap waktu, sementara model dinamais berhubungan dengan interaksi yang berubah terhadap waktu.

  1. Sistem deterministik dan stokastik

Sistem deterministik merupakan sistem yang terbentuk dari sumber data masukan yang tertentu dan dalam proses serta outputnya juga menghasilkan keluaran tertentu yang sedikit atau tidak mengandung nilai random atau probabilistik. Probabilitas atau dapat pula dilakukan bahwa dalam sistem ini setidaknya ada beberapa komponen random terutama pada input datanya.

  1. Sistem Diskrit dan Kontinyu

Sistem diskrit merupakan sistem dengan variabel yang mengalami perubahan langsung pada titik terpisah dalam rentang waktu tertentu. Sistem kontinyu merupakan suatu sistem dimana aktivitas-aktivitas predominan menyebabkan perubahan yang halus pada atribut dari entitas sistem.

Simulasi (skripsi dan tesis)

Simulasi merupakan teknik meniru operasi-operasi atau proses-proses yang terjadi dalam suatu sistem dengan bantuan perangkat komputer dan dilandasi oleh beberapa asumsi tertentu sehingga sistem tersebut bisa dipelajari secara ilmiah (Law dan Kelton, 1991).

Simulasi merupakan alat yang tepat untuk digunakan terutama jika diharuskan untuk melakukan eksperimen dalam rangka mencari komentar terbaik dari komponen-komponen sistem. Hal ini dikarenakan sangat mahal dan memerlukan waktu yang lama jika eksperimen dicoba secara riil. Dengan melakukan studi simulasi maka dalam waktu singkat dapat ditentukan keputusan yang tepat serta dengan biaya yang tidak terlalu besar karena semuanya cukup dilakukan dengan komputer.

Pendekatan simulasi diawali dengan pembangunan model sistem nyata. Model tersebut harus dapat menunjukkan bagaimana berbagai komponen dalam sistem saling berinteraksi sehingga benar-benar menggambarkan perilaku sistem setelah model dibuat maka model tersebut ditransformasikan ke dalam program komputer sehingga memungkinkan untuk disimulasikan.

Model Sistem Antrian (skripsi dan tesis)

Model sistem antrian analitik merupakan model sistem antrian dimana model matematis sistem antrian dapat diselesaikan secara analitik. Penyelesain ini melibatkan dua asumsi utama, yaitu asumsi data interval kedatangan memiliki distribusi poisson dan waktu pelayanan memiliki distribusi exponensial. Penyelesaian analitik memiliki notasi matematis yang menterjemahkan pencarian solusi untuk utilitas sistem maupun waktu tunggu pelanggan baik model single channel single phase ataupun single channel multiple phase. Sedangkan untuk model multiple channel single phase dan multiple channel multiple phase sangat sulit diselesaikan dengan model sistem antrian analitik.

Sehingga untuk menyelesaikan permasalahan dengan keterbatasan permasalahan tersebut, yaitu jika bentuk distribusi baik interval kedatangan maupun distribusi pelayanan tidak berdistribusi poisson maupun exponensial dan jika model antrian adalah multiple channel single phase dan multiple channel multiple phase dapat diselesaikan dengan menggunakan simulasi. Untuk menyelesaikan model sistem antrian dengan simulasi, maka diperlukan untuk mengetahui pola distribusi bentukan dari data pengamatan. Pencairan pola distribusi data disebut dengan fitting data. Setelah diketahui pola distribusi bentukan maka selanjutnya adalah mencari variabel random sesuai dengan bentuk distribusi hasil fitting data. Pembentukan variabel random tersebut sesuai dengan algoritma variat distribusi yang ada.

Model (skripsi dan tesis)

Model adalah suatu representasi atau formulasi dalam bahasa tertentu dari suatu sistem nyata. Model berdasarkan Murthy, dkk (1990) adalah representasi dari sistem, dimana model juga yang memenuhi syarat adalah model yang memenuhi tujuan dari pembuat model.

Model adalah perwakilian dari dunia maya yang disederhanakan. Proses atau cara operasi yang dimodelkan tidak harus persis sama karena yang penting dari sebuah model adalah bagaimana proses berdampak pada sistem, bukan pada kesalahan karena terlalu detail daripada model terlalu sederhana. Model yang detail selain suah untuk dibangun juga akan susahuntuk mengecek dan memperbaiki kesalahan dari model. Model cenderung melupakan isu penting yang harusnya dimodelkan dan melemahkan model itu sendiri. Klasifikasi model menurut Murthy, dkk (1990) adalah:

  1. Model material atau model fisik

Model fisik mempresentasikan sistem secara fisik, materi, yang ada secara langsung di dunia nyata. Model ini dapat berupa replika atau model dengan skla tertentu

  1. Model non-material

Model non-material mempresentasikan secara abstrak. Model ini tidak memiliki kesamaan secara langsung dengan dunia nyata. model matematis sendiri mewakilkan sistem dengan rumus matematis, yang menghubungkan karakter sistem ke dalam rumus matematis.

Kapasitas Sistem (skripsi dan tesis)

Kapasitas sistem adalah jumlah maksimum pengantri, mencakup yang sedang dilayani dan yang berada dalam antrian, yang ditampung oleh fasilitas pelayanan pada saat yang sama. Banyak sistem antrian yang dapat menampung jumlah individu-individu yang relatif besar, tetapi ada beberapa sistem yang mempunyai kapasitas yang terbatas.Bila kapasitas antrian menjadi faktor pembatas besarnya jumlah individu yang dapat dilayani dalam sistem secara nyata, berarti sistem mempunyai kepanjangan antrian yang terbatas.

Pelayanan Dalam Teori Antrian (skripsi dan tesis)

Pola pelayanan biasanya dicirikan oleh waktu pelayanan (service time) yaitu waktu yang dibutuhkan seorang pelayan untuk melayani para pengantri.Waktu pelayanan ini dapat bersifat diterministik (diketahui secara pasti) atau berupa suatu variabel acak yang distribusi probabilitasnya dianggap telah diketahui.Juga yang menarik adalah apakah seorang pengantri hanya dilayani oleh satu pelayan saja, sementara pengantri ini membutuhkan barisan pelayan.Bila tidak disebutkan secara khusus maka anggapan dasarnya adalah bahwa satu pelayanan saja dapat melayani secara tuntas urusan seorang pengantri.

Waktu pelayan adalah waktu yang digunakan untuk melayani individu-individu dalam suatu sistem.Waktu ini mungkin konstan atau random. Bila waktu pelayanan mengikuti distribusi eksponensial atau distribusinya acak maka waktu pelayanan akan mengikuti distribusi poisson. Perbedaan distribusi-distribusi waktu pelayanan dapat diliputi oleh model-model antrian dengan lebih mudah dibandingkan perbedaan distribusi waktu kedatangan.

Kedatangan Dalam Teori Antrian (skripsi dan tesis)

Pola kedatangan adalah cara dimana individu-individu dari populasi dimasuki sistem, yang biasanya dicirikan oleh waktu antar kedatangan yaitu waktu antara kedatangan dua pengantri yang berurutan yang pada suatu fasilitas pelayanan. Individu-individu mungkin datang dengan tingkat kedatangan yang konstan atau acak.

Distribusi probabilitas poisson adalah salah satu pola kedatangan yang paling sering (umum) bila data kedatangan didistribusikan secara random. Hal ini terjadi karena distribusi poisson menggambarkan jumlah kedatangan per unit waktu bila sejumlah besar variabel-variabel random mempengaruhi tingkat kedatangan. Bila pola kedatangan individu mengikuti suatu distribusi poisson maka waktu antar kedatangan atau interrival time (yaitu waktu antar kedatangan setiap individu) adalah random dan mengikuti distribusi eksponensial.

Tipe Antrian (skripsi dan tesis)

Tipe antrian menunjukkan pedoman keputusan yang digunakan untuk menyeleksi individu-individu yang memasuki antrian untuk dilayani terlebih dahulu. Aturan-aturan ini didasar pada yang pertama masuk, pertama keluar, yang terakhir masuk, dan seterusnya. Menurut Taha(2007:548) pada baris antrian terdapat lima jenis tipe antrian yaitu :

  1. First Come First Served adalah disiplin antrian yang menerangkan bahwa penumpang yang datang pertama akan dilayani terlebih dahulu.
  2. Last Come First Served adalah disiplin antrian yang menyebutkan bahwa penumpang yang terakhir datang dalam antrian akan dilayani terlebih dahulu.
  3. Service In Random Order adalah pemberian pelayanan didasarkan pada pemilihan secara sembarang atau berdasarkan pada peluang secara acak, tidak penting siapa yang datang terlebih dahulu.
  4. Emergency First yaitu pelayanan yang diberikan kepada penumpang yang menghadapi keadaan darurat yang perlu ditangani secepatnya. Dalam hal ini tentunya tidak melihat siapa yang datang terlebih dahulu atau yang datang belakangan.

Teori Antrian (skripsi dan tesis)

Antrian adalah kondisi kejadian yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya antrian penumpang pesawat di Bandara Adisutjipto. Menurut Taha (2007:546), fenomena menunggu atau mengantri merupakan hasil langsung dari keacakan dalam operasional pelayanan fasilitas. Secara umum, kedatangan pengantri kedalam suatu sistem dan waktu pelayanan untuk pengantri tersebut tidakdapat diatur dan diketahui waktunya secara tepat, namun sebaliknya fasilitas operasional dapat diatur sehingga dapat mengurangi antrian.Pada sistem antrian terdapat tiga komponen dasar yaitu:

  1. Kedatangan atau input sistem

Kedatangan memiliki karakteristik seperti ukuran populasi, perilaku, dan sebuah distribusi statistik.

  1. Tipe antrian, atau antrian itu sendiri

Karakteristik antrian mencakup apakah jumlah antrian terbatas atau tidak terbatas panjangnya dan materi atau orang­-orang yang ada didalamnya.

  1. Fasilitas pelayanan

Karakteristiknya meliputi desain dan distribusi statistik untuk pelayanan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Masyarakat Mengikuti Kerjasama Hutan Rakyat (skripsi dan tesis)

Berdasarkan perspektif ekologi kebudayaan yang disebutkan oleh Awang (2004), kehutanan sosial merupakan suatu pola interaksi antara petani, teknologi,dan lahan/hutan. Melalui pandangan tersebut dapat dipahami bahwa keputusan petani dalam pengelolaan lahannya sangat tergantung pada keadaan lahan dan input teknologi yang kemudian mempengaruhi keputusan petani berdasarkan status sosialnya. Dalam penelitian ini, pemikiran teoritis tersebut diterjemahkan dalam kerangka empirik yang sesuai dengan keadaan di lapangan untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani mengikuti program kerjasama hutan rakyat.

Pada umumnya faktor-faktor yang berpengaruh tersebut menurut Suharjito (2012) adalah:

  1. Kejelasan hak penguasaan atas lahan. Petani bersedia membudidayakan pohon apabila ada kepastian atas hak penguasaan lahan. Kepastian penguasaan lahan diperlukan oleh petani untuk menjamin investasinya, jaminan memperoleh manfaat dari pohon-pohon tersebut. Biasanya petani melaksanakan budidaya pohon-pohon pada lahan milik individual dan tidak bersedia melaksanakannya pada lahan komunal atau lahan negara karena lahan milik memberikan jaminan lebih pasti untuk memperoleh manfaat dari pada lahan komunal atau lahan negara;
  2. Luas lahan yang dikuasai. Rumahtangga miskin yang menguasai lahan sempit lebih cenderung menggunakan lahannya untuk tanaman pangan, tanaman jangka pendek, atau tanaman subsisten dari pada tanaman pohon-pohon. Rumahtangga yang memiliki lahan sempit cenderung memilih jenis tanaman yang lebih intensif;
  3. Ketersediaan tenaga kerja. Rumahtangga yang kekurangan tenaga kerja pada musim-musim tertentu karena kegiatan migrasi cenderung membudidayakan pohon-pohon karena budidaya pohon-pohon membutuhkan masukan tenaga kerja yang rendah dan memberikan pendapatan yang relatif tinggi;
  4. Ketersediaan dan akses pada pasar produk kayu mendorong budidaya pohon-pohon;
  5. Tingkat kekayaan. Jumlah rumahtangga miskin yang menanam pohon-pohon lebih sedikit dari pada rumahtangga kaya, demikian pula jumlah pohon yang ditanam oleh rumatangga miskin lebih sedikit dari pada jumlah pohon rumahtangga kaya.

Sedangkan menurut Dewi et al. (2011), faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam bermitra dapat dimodelkan sebagai berikut:

keterangan :

Y = Dummy keputusan petani 1, jika petani memilih kemitraan 0, jika petani memilih tidak bermitra atau non mitra

X1 = Usia petani (Tahun)

X2 = Luas lahan (Ha)

D1-D3 = Dummy tingkat pendidikan petani

D1 = 1, jika tingkat pendidikan petani adalah PT 0, jika lainnya

D2 = 1, jika tingkat pendidikan petani adalah SMA 0, jika lainnya

D3 = 1, jika tingkat pendidikan petani adalah SMP 0, jika lainnya

X3 = Pengalaman berusahatani (Tahun)

D4 = Dummy persepsi petani tentang kemitraan 1, jika persepsi petani adalah baik 0, jika lainnya

D5 = Dummy pengaruh petani lain 1, jika dipengaruhi oleh petani lain 0, jika tidak dipengaruhi oleh petani lain

X4 = Jumlah anggota keluarga (Orang)

β0 – β9 = Koefisien regresi

e = Kesalahan

Budidaya Akasia di Lahan Gambut (skripsi dan tesis)

Lahan gambut adalah hasil dekomposisi sisa atau bagian tanaman baik tumbuhan air (paku, lumut dan ganggang) atau rumput maupun tanaman keras (tumbuhan tingkat tinggi) (Sitorus, 2003). Lahan gambut terbentuk dimana tanamantanaman yang tergenang oleh air terurai secara lambat. Gambut yang terbentuk terdiri dari berbagai bahan organik tanaman yang membusuk dan terdekomposisi pada berbagai tingkatan. Ciri khas dari suatu lahan gambut adalah kandungan bahan organiknya yang tinggi (lebih dari 65%). Gambut yang terbentuk dapat mencapai kedalaman lebih dari 15 meter (PFFSEA, 2003).

Lahan gambut merupakan penyimpan karbon yang sangat penting. Lahan gambut hanya menutupi 3% dari luas bumi namun mengandung sekitar 75% dari semua CO2 di atmosfir (Wetlands, 2007). Lahan gambut mempunyai sifat seperti spon yang berarti mampu menyimpan air tawar dalam jumlah besar, sehingga mencegah banjir pada musim hujan dan menyediakan air pada musim kemarau. Hal ini menjadi penting ketika perubahan iklim menghilangkan glasier, curah hujan berubah dan kekeringan yang tak terduga. Lahan-lahan gambut yang digenangi air tidak terbakar secara alami, kecuali pada tahun-tahun yang luar biasa keringnya.

Gambut memiliki daya hantar hidrolik (penyaluran air) secara horizontal yang cepat sehingga memacu percepatan pencucian unsur-unsur hara ke saluran drainase. Hal ini menyebabkan gambut miskin unsur hara. Walaupun tanahnya miskin hara dan sangat sulit digunakan untuk usaha pertanian skala besar, namun semakin banyak kawasankawasan gambut yang dimanfaatkan untuk perkebunan dan perindustrian. Di kawasan dimana lahan gambut ingin dimanfaatkan dibangun kanal-kanal yang bertujuan untuk mengeringkan gambut tersebut sehingga lahan dapat disiapkan untuk usaha-usaha pertanian. Cara ini sangat bermasalah karena mengakibatkan turunnya permukaan air tanah dan menghilangkan air di permukaan tanah. Irigasi atau pengairan di lahan-lahan pertanian sekitarnya juga dapat menyebabkan turunnya permukaan air tanah.

Setelah kering, maka gambut akan kehilangan sifat-sifat alaminya yang seperti spon sehingga gambut tidak dapat mengatur keluar masuknya air. Lahan-lahan gambut yang kering secara tidak alami sangat mudah menjadi kering. Kebakaran, baik yang disengaja maupun tidak, akan diikuti dengan kerusakaan dan kerugian yang proporsional terhadap kegiatan manusia dan tingkat gangguan yang terjadi.` Drainase dan kebakaran digabungkan dengan perubahan iklim mengkonversi lebih banyak gambut menjadi sumber karbon dibandingkan sebagai penyimpan (Holden, 2005)

Akasia dapat tumbuh pada lahan gambut di Provinsi Riau meskipun bukan habitat aslinya. Hasil penelitian Ratna (2008) menunjukkan bahwa A. crassicarpa sebagai tanaman ungglan HTI di hutan rawa gambut memiliki potensi rosot karbon yang tinggi. A. crassicarpa yang berumur 4 tahun mampu menyimpan karbon sebesar 52.82 ton/ha, sedangkan yang berumur 2 tahun menyimpan karbon sebesar 21.93 ton/ha. Besarnya rosot karbon pada A. crassicarpa tersebut apabila dikonversi kepada tingkat penyerapan CO2 maka tanaman yang berumur 4 tahun mampu mengikat CO2 sebesar 158,33 ton/ha sedangkan tanaman 2 tahun sebesar 111,94 ton/ha Kondisi ini menunjukkan bahwa A. crassicarpa dapat menurunkan gas CO2 di atmosfer dalam proses fotosintesisnya yang mengakibatkan penurunan gas rumah kaca sehingga efek kenaikan suhu bumi dan perubahan iklim dapat dikurangi. Pengelolaan HTI perlu diarahkan untuk mencapai profitabilitas yang tinggi dan pemenuhan fungsi rosot karbon dengan cara perdagangan karbon yang perlu ditangkap oleh pemerintah dan swasta dalam mengembangkan HTI.

Hutan Rakyat (skripsi dan tesis)

UU No. 41 (1999) tentang Kehutanan serta Menteri LHK (2015) mendefinisikan hutan hak atau lazim disebut sebagai hutan rakyat adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. Hutan rakyat dapat dimiliki oleh setiap orang, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain atau badan hukum. Sejatinya masyarakat telah lama mengenal pola pemanfaatan lahan yang menyerupai hutan rakyat.

Bagi  masyarakat  Jawa  Tengah  dan  sekitarnya  lahan  tersebut  lebih  dikenal  dengan  sebutan “pekarangan” dimana pada lahan tersebut masyarakat menanam berbagai tanaman keras seperti jati, kelapa, randu, dan lain sebagainya (Suprapto, 2010). Selanjutnya dikatakan bahwa walaupun sebagian besar hutan rakyat di Jawa berada pada tanah dengan status tanah milik rakyat, pengembangan hutan rakyat sangat erat kaitannya dengan program pemerintah khususnya program penghijauan. Menurut laporan studi,  pengembangan hutan rakyat di Jawa dimulai pada tahun 1930 oleh pemerintah kolonial. Kemudian Pemerintah Indonesia pada tahun 1950-an mengembangkan hutan rakyat melalui program “Karang Kitri” dan program penghijauan pada awal tahun 60-an. (Wartaputra (1990 dalam Suprapto, 2010)).

Waluyo  (2003 dalam Megalina (2009))  menyatakan alasan-alasan yang dapat mendukung kegiatan pengembangan hutan rakyat antara lain:

  1. Hutan rakyat ternyata mampu mendukung pasokan bahan baku kayu bagi industri perkayuan.
  2. Pembangunan hutan rakyat memberikan manfaat yang sangat banyak, baik manfaat sosial ekonomi maupun perlindungan lingkungan (konservasi tanah dan air).
  3. Masyarakat  Indonesia  pada  umumnya  sudah  mengenal  bentuk-bentuk hutan rakyat, tetapi petani hutan rakyat pada umumnya masih mempunyai hambatan-hambatan, baik dari segi produksi pengelolaan maupun pengolahan dan pemasaran hasil-hasilnya, sehingga pemanfaatannya belum optimal.
  4. Hak kepemilikan atas lahan hutan rakyat yang jelas akan mendorong petani untuk memanfaatkan, mengelola dan menjaganya dengan lebih baik (terutama di Jawa).
  5. Banyak lahan-lahan pertanian yang sebenarnya tidak cocok untuk usaha pertanian intensif. Di Jawa, lahan yang layak untuk pertanian per penduduk agraris hanya kurang dari seperempat hektar (Talkurputra dan Amien, 1998). Pemerintah menganjurkan agar lahan-lahan  yang tidak layak untuk pertanian agar dikembangkan menjadi untuk hutan rakyat.

Direktur Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi (Dirjen RRL) (1995 dalam Megalina, 2009) menuliskan manfaat pembangunan hutan rakyat adalah sebagai berikut :

  1. Memperbaiki penutupan tanah sehingga akan mencegah erosi percikan.
  2. Memperbaiki peresapan air ke dalam tanah.
  3. Menciptakan  iklim  mikro,  perbaikan  lingkungan  dan  perlindungan sumber air.
  4. Meningkatkan produktifitas lahan dengan berbagai hasil dari tanaman hutan rakyat berupa kayu-kayuan.
  5. Meningkatkan pendapatan masyarakat
  6. Memenuhi   kebutuhan   bahan   baku   industri   pengolahan   kayu   dan kebutuhan kayu rakyat.

Bentuk hutan rakyat yang dikenal dan dibangun di Indonesia menurut Balai Informasi Pertanian (1982), yaitu :

  1. Hutan rakyat murni, yaitu merupakan hutan murni dengan jenis kayu tertentu karena hanya ditanami satu jenis tanaman kayu-kayuan, contohnya ditanami pinus saja atau sengon saja.
  2. Hutan rakyat campuran, yaitu merupakan hutan campuran yang ditanami lebih dari satu jenis tanaman kayu-kayuan.
  3. Hutan rakyat sistem agroforestry, yang merupakan hutan dengan tanaman kayu-kayuan, tanaman pangan, tanaman keras, hijauan pakan dan pemeliharaan ternak.

Sistem yang paling cocok untuk hutan rakyat adalah sistem agroforestry dengan tumpang sari. Pada sistem tumpang sari, lahan ini ditanami bersama-sama tanaman keras dan tanaman pertanian.

Ada beberapa pola pengembangan hutan rakyat seperti dikemukan oleh Usman (2001) sebagai Menteri Kehutanan saat itu bahwa, Pemerintah  menyadari  sepenuhnya keterbatasan  yang  ada  serta  potensi  yang  sangat mungkin untuk pengembangan hutan rakyat yang dilaksanakan dengan  beberapa  pola,  yaitu  pola  swadaya,  pola  subsidi,  dan  pola  kemitraan sebagai berikut:

  1. Pola swadaya  adalah  hutan  rakyat  yang  dibangun  oleh  kelompok atau   perorangan  dengan kemampuan modal dan tenaga dari kelompok atau perorangan itu sendiri. Untuk pola ini posisi pemerintah membantu   sepenuhnya   aspek   teknis,   manajemen,   dan pemasaran, sehingga hutan rakyat dapat berkembang dengan baik.
  2. Pola subsidi adalah hutan rakyat yang dibangun melalui bantuan sebagian atau keseluruhan biaya pembangunannya. Bantuan diberikan oleh pemerintah melalui program penghijauan, padat karya, dan bantuan lainnya, atau dari pihak lain yang peduli terhadap pembangunan hutan rakyat.
  3. Pola kemitraan adalah hutan rakyat yang dibangun atas kerjasama masyarakat dan perusahaan swasta/koperasi dengan insentif permodalan bunga ringan. Dasar pertimbangan kerjasama ini adalah semua pihak yang terkait saling membutuhkan.

Bentuk-bentuk kehutanan masyarakat di Indonesia (skripsi dan tesis)

Dalam berbagai literatur terdapat beberapa istilah yang digunakan secara saling bergantian bahkan diantaranya ada yang saling tertukar sebagai padanan kata dari kehutanan masyarakat. Beberapa istilah asing untuk menyatakan kehutanan masyarakat adalah community forestry, social forestry, participatory forestry dan lain sebagainya. Istilah social forestry sering mengacu kepada bentuk kehutanan industrial yang dimodifikasi untuk memungkinkan distribusi keuntungan kepada masyarakat lokal sekitar hutan.

Kartasubrata (1992) yang dikutip oleh Suharjito dan Darusman (1998) memandang bahwa istilah perhutanan sosial dan kehutanan sosial sebagai padanan istilah social forestry. Lokasi pengembangan social forestry sebagian berada pada tanah milik serta tanah negara seperti hutan produksi, hutan lindung, dan hutan konservasi. Bentuk-bentuk social forestry yang pernah dilaksanakan di Indonesia diantaranya adalah: (1) hutan Rakyat; (2) hutan Serbaguna atau Kemasyarakatan; (3) perhutanan Sosial yang kemudian menjadi program kerjasama Hutan Rakyat. Bentuk-bentuk kehutanan masyarakat di Indonesia dirangkum pada Tabel 2.

Tabel 2. Bentuk-bentuk Kehutanan Masyarakat di Indonesia

No. Nama Status Lahan Masa Keterangan
Pengembangan
1. Hutan Rakyat Lahan milik masyarakat Dimulai sejak tahun 1930-an Merupakan kegiatan lanjutan yang dimulai Pemerintah Belanda
2. Hutan Serbaguna/ Kemasyarakatan Hutan       produksi negara  yang tidak dikonsensikan Sejak  Repelita ketiga  (antara 1979-1984) Dikaitkan dengan kegiatan penghijauan
3. Perhutanan Sosial Hutan       produksi; Perum Perhutani Sejak 1986-2001 Pelaksanaan berupa   usahatani tumpangsari
4. kerjasama hutan   rakyat Hutan       produksi; Perum Perhutan 2001-sekarang Lanjutan        dari

Perhutanan Sosial

Sumber: Suharjito dan Darusman (1998)

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) (2016), melalui Peraturan Nomor: P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 tentang Perhutanan Sosial, memberikan pengertian perhutanan sosial adalah sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat atau masyarakat hukum adat sebagai pelaku utama untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya dalam bentuk: 1) hutan desa, 2) hutan kemasyarakatan, 3) hutan tanaman rakyat, 4) hutan rakyat, 5) hutan adat dan 6) kemitraan kehutanan. Masing-masing bentuk pengelolaan hutan tersebut diberikan pengertian sebagai berikut:

  1. Hutan Desa adalah hutan negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa.
  2. Hutan Kemasyarakatan (Hkm) adalah hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat.
  3. Hutan Tanaman Rakyat (HTR) adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian sumber daya hutan.
  4. Hutan Rakyat atau Hutan Hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah.
  5. Hutan Adat adalah hutan yang berada di dalam wilayah masyarakat hukum adat.
  6. Kemitraan Kehutanan adalah kerja sama antara masyarakat setempat dengan pengelola hutan, pemegang izin usaha pemanfaatan hutan/jasa hutan, izin pinjam pakai kawasan hutan, atau pemegang izin usaha industri primer hasil hutan.

. Kebijakan pengelolaan sumberdaya hutan di Indonesia (skripsi dan tesis)

Dalam pengelolaan sumberdaya hutan, pemerintah mulai memperhatikan aspek kemasyarakatan sejak diterbitkannya SK Menhut No. 691 tahun 1991 tentang Bina Desa Hutan. Melalui peraturan ini pemerintah berusaha membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik yang berada di dalam maupun disekitar hutan. Keputusan tersebut kemudian direvisi melalui SK Menhut No. 69 Jo SK Menhut No. 523 tahun 1997 yang di dalamnya istilah Bina Desa Hutan diganti dengan istilah Pembangunan Masyarakat Desa Hutan (Darmawan et al., 2004).

Darmawan et al. (2004) juga menyatakan bahwa pengelolaan hutan oleh masyarakat memasuki babak baru dengan dikeluarkannya UU No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan yang didasarkan pada pemikiran bahwa keberpihakan kepada rakyat adalah kunci utama keberhasilan pengelolaan hutan. Dengan demikian, praktek-praktek pengeloaan hutan yang berorientasi pada kayu dan kurang memperhatikan hak dan keterlibatan rakyat perlu dirubah menjadi pengelolaan yang berorientasi pada seluruh potensi sumberdaya kehutanan dan masyarakat. Berbagai peraturan kebijakan pengelolaan hutan di Indonesia disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Berbagai Kebijakan Pengelolaan Hutan di Indonesia

No Jenis Peraturan Nomor dan Tahun Perihal
1.

 

Tap MPR

 

No. IX/MPR/2001

 

Pembaruan Agraria dan Pengelolaan

Sumberdaya Alam

2. Undang-undang No. 19 Tahun 2004 Kehutanan (Penetapan PerPPU  No. 1 Tahun 2001 tentang perubahan UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi UU)

 

 

3. Undang-undang No. 18 Tahun 2013 Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan
4. Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2004 Perencanaan Kehutanan
5. Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2004 Perlindungan Hutan
6. Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2007 Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Serta Pemanfaatan Hutan
7. Peraturan Pemerintah  No. 3 Tahun 2008 Perubahan atas PP No. 6 Tahun 2007 Tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Serta Pemanfaatan Hutan
8. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2010 Penggunaan Kawasan Hutan
9. Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2012 Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Kehutanan
10. Peraturan Pemerintah No. 71 tahun 2014 Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut
11. Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2015 Perubahan kedua atas PP No. 24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan
12. Peraturan Menhut No. P.55 Tahun 2011 *) Tata Cara Permohonan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Tanaman Rakyat  Dalam Hutan Tanaman
13. Peraturan Menhut No. P.31 Tahun 2013 *) Perubahan atas Permenhut No. P.55 Tahun 2011 Tentang Permohonan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Tanaman Rakyat  Dalam Hutan Tanaman
14. Peraturan Menhut No. P.39 Tahun 2013 *) Pemberdayaan Masyarakat Setempat Melalui Kemitraan Kehutanan
15. Peraturan Menhut No. P.20 Tahun 2014 Pedoman Umum Pengembangan Perhutanan Masyarakat Pedesaan Berbasis Konservasi
16. Peraturan Menhut No. P.88 Tahun 2014 *) Hutan Kemasyarakatan

 

17. Peraturan Menhut No. P.89 Tahun 2014 *) Hutan Desa
18. Peraturan Men LHK No. P.21 Tahun 2015

 

Penatausahaan Hasil Hutan Yang Berasal Dari Hutan Hak
19. Peraturan Men LHK No. P.32 Tahun 2015 Hutan Hak
20. Peraturan Men LHK No. P.83 Tahun 2016 Perhutanan Sosial (mengganti dan mencabut Permenhut No. *)

Sumber : Rangkuman Penulis

Relevan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di era otonomi daerah, pelaksanaan sebagian pengurusan hutan yang bersifat operasional diserahkan kepada pemerintah daerah tingkat propinsi, sedangkan pengelolaan hutan yang bersifat nasional diatur oleh pemerintah pusat. Salah satu pendekatan pengelolaan hutan yang diterapkan di Indonesia adalah pola hutan kerakyatan ataupun hutan kemasyarakatan.

Penggunaan Informasi Kelayakan dalam Manajemen Sistem Informasi (skripsi dan tesis)

Para pekerja dapat bekerja secara maksimal apabila kegaiatn manajemen di dalam organisasi dapat dilaksanakan dengan baik karena dengan adanya pelaksanaan manajemen yang baik. Demikianpula dalam pekerjaan dan kerjasama informasi. Apabila pekerjaan informasi dalamorganisasi sangat rumit karena mencakup berbagai unit, sububnit, dan subsubunit pada berbagai tingkat transaksi dan manajemen masing-masing, serta hubungan satu sama lainnya maka perlu melokalisasi dan mengelompokkan pekerjaan informasi tersebut agar mudah dikerjakan.

Untuk itu diperlukan suatu pendekatan yang sitemik (elemen-elemn yang saling berhubungan membentuk suatu kesatuan atau organisasi).

Pada umunya setiap sistem terdiri dari empat elemen subsuten yaitu input, proses, output, dan umpan balik yang berguna sebagai kontrol ketiga elemen yang lain.

Namun suatu organisasi merupakan hubungan dari berbagai sub sistem, sehingga memebagi pekerjaannya ke dalam bentuk fungsi-fungsi organisasi.Misalnya fungsi-fungsi pemasaran, produksi, keuangan, personalia, pembekalan, riset, pengolahan data elektronik, dan perencanaan. Setiap fungsi unit tersebut memerlukan data dan informasi dari unit lain atau dari luar organisasi untuk membantu menyelesaikanpekerjaannya. Disamping pekerjannya sendiri, setiap unit juga menghasilkan data dan informasi baik untuk disimpansendiri maupun untuk didistribusikan ke unit-unit lain dalam organisasi atau organisasi lain.

Dalam kaitan penggunaan sebuah informasi kelayakan, yang diharapkan kemudian adalah tindak lanjut manajerial untuk menyesuaikan output dengan umpan balik yang diterima. Fungsi manajerial sendiri terdiri dari beberapa macam dan dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Perencanaan (planning) adalah fungsi manajemen yang berkaitan dengan penyusunan tujuan dan menjabarkannya dalam bentuk perencanaan untuk mencapai tujuan tersebut.
  2. Pengorganisasian (organizing) adalah fungsi manajemen yang berkaitan dengan pengelompokkan personel dan tugasnya sesuai dengan kebutuhan.
  3. Pengaturaan personel (staffing) adalah fungsi manajemen  yang berkaitan dengan kegiatan bimbingan dan pengaturan kerja personel dan pengaturan penempatan unit kerja bagi personel tersebut, pada fungsi ini manjemen melakukan jegiatan seperti penempatan, pelatihan, pengembangan dan kompensasi.
  4. Pengarahan (directing) adalah fungsi manajemen yang berkaitandnegan kegiatan melakukan pengarahan-pengarahan, tugas-tugas, dan instruksi.
  5. Pengawasan (controlling) adadalah kegiatan manajemen yang berkaitan dengan pemeriksaan untuk menetukan apakah pelaksanaannya sudah dikerjakan sesuai dengan perencanaan, sudahsampai sejauh mana kemajuan yang dicapai, serta koreksi bagi pelaksanaan yang belum terselesaikan sesuai rencana.

Pada umunya perkiraan jumlah persentase pekerjaan informasi yang ada pada tiap kegiatan fungsi-fungsi manajemen adalah sebagai berikut:

  • Perencanaan             (30%)
  • Pengorganisasian     (15%)
  • Penyusunan staf      (25%)
  • Pengarahan              (5%)
  • Pengawasan             (80%)

Pengertian Manajemen Sistem Informasi (MSI) (skripsi dan tesis)

Manajemen Sistem Informasi (MSI) berasal dari kata Management of Information System yang lazim disebut MIS. MSI merupakan bahasan yang mempelajari cara-cara mengelola pekerjaan informasi dengan menggunakan pendekatan sistem yang berdasarkan pada prinsip-prinsip manajemen.

Manajemen sendiri adalah proses kegiatan mengelola sumber daya manusia, material dan metode (3M; Men, Material, Method) berdasarkan fungsi-fungsi manejemen agar tujuan dapat tercapai secara efisien dan efektif. Secara operasional manajemen dapat didefinisikan juga sebagai pelaksanaan fungsi-fungsi unit-unit dalam organisasi untuk merencanakan, menganggarkan, mengorganisasikan, mengarahkan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi pekerjaan unit masing-masing untuk mencapai tujuan keseluruhan organisasi secara efisien dan efektif. (Amsyah, 2001)

Manajemen juga berarti sebagai kelompok pimpinan dalam organisasi. Manajemen (management) adalah pekerjaan yang dikerjakan oleh manajerial (manager). Disebutkan bahwa pkerjaan manajer bersifat manjerial (managerial), disamping itu manajerial juga dapat diartikan sebagai pimpinan. Ada tingkat (level) manajemen yaitu manajemen lini atas, manajemen lini tengah dan manajemen lini bawah.

Informasi adalah data yang sudah dioleh, dibentuk atau dimanipulasi sesuai dengan ekeprluan tertentu. Data adalah fakta yang sudah ditulis dalam bentuk catatan atau direkam ke dalam berbagai bentuk media (misalnya komputer). Pekerjaaan infromasi adalah pekerjaan yang meliputi pengumpulan data, penyebaran data dengan meneruskannya ke unit lain atau langsung diolah menjadi informasi, kemudian informasi tersebut diteruskan ke unit lain. Pada unit baru tadi, informasi dapat langsung digunakan atau dioleh sebagai data baru untuk dioleh lagi menjadi informasi sesuai dengan keperluan unit bersangkutan. Informasi tersebut bila perlu atau sesuai prosedur dapat diteruskan ke unit lain.

Jadi dapat disimpulkan bahwa MSI merupakan kegiatan pendukung (supporting) dalam organisasi karena itu diperlukan oleh semua unit organisasi dan berada pada semua unit kerja yang ada dalam organisasi. Kegiatan MSI juga berada dalam organisasi dalam skala apapun. Perbedaan kegiatan MSI hanya besar kecilnya cakupan kegiatan organisasi.

  1. Organisasi dan Informasi

Tanpa dukungan informasi, manajemen suatu organisasi tidak akan dapat mencapai tujuan yang direncanakan, apalagi untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien. Informasi itu sendiri adalah data yang sudah dioleh dengan cara tertentu sesuai dengan bentuk yang diperlukan. Adanya perkembangan teknologi maka data semakin mudah untuk diolah sesuai keprluan tingkat manajemen organisasi. Dengan demikian unit organisasi dapat mencapai tujuannya masing-masing sehingga secara keseluruhan organisasi akan dapat mencapai tujuan secara efisien dan efektif. Sehubungan dengan kebutuhan organisasi dengan pencapaian tujuan organisasi tersebut maka organisasi menerapkan manajemen sebagai proses kegiatan data dan informasi. Adapun kegiatan manajemn tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Perencanaan (planning) yang terdiri dari fungsi-fungsi perencanaan dan penganggaran (budgeting).
  2. Pelaksanaan (operating) yang terdiri dari fungsi-fungsi penagarahan (directing), penggiatan (actuating), pengorganisasian (organizing) dan koordinasi (coordinating)
  3. Pengawasan (controlling) yang terdiri dari fungsi-fungsi pengawasan, penilaian (evaluating) dan pelaporan (reporting).

Sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi maka kegiatan manajemen mengalami pergeseran mengarah pada pendekatan hubungan antar manusia seperti partisipasi (participating), motivasi (motivating), bimbingan dan penyuluhan (counseling). Berdasar pengelompokan kegiatan tersebut maka para penyusun kegaiatn subsistem/sistem informasi pada suatu organisasi atau unit-unit kerja akan mempunyai gambaran mengenai kegiatan dari berbagai data dan informasi yang diperlukan dan dihasilkan pada suatu unit kerja tertentu. Untuk memudahkan pengenalan terhadap kegiatan organisasi dalam rangka pekerjaan informasi dan penyusunan sistem informasi dalam suatu organisasi maka diperlukan pengelompokan berbagai kegiatan tersebut dalam dua kelompok yang lebih sederhana, yaitu:

  1. kegiatan substansif

kegiatan substansif adalah kelompok kegiatan unit-unit kerja yang berhubungan dengan pekerjaan utama dari suatu organisasi. Kegiatan substansif inilah yang membedakan kegiatan organisasi yang satu dengan yang lainnya.

  1. Kegiatan fasilitatif

kelompok kegiatan unit-unit kerja yang berhubungan dengan kegiatan pendukung dalam suatu organisasi. Misalnya kegiatan fasilitatif dalam proyek adalah keuangan, personalia dan lain-lain.

 

Konflik Pengelolaan Sumber Daya Hutan (skripsi dan tesis)

Dalam era otonomi daerah konflik pengelolaan kawasan hutan mengalami pergeseran paradigma yang berpotensi mempercepat proses menipisnya sumber daya hutan dan degradasi lahan hutan yang berakibat pada penurunan fungsi dan daya dukung kawasan hutan.  Konflik ini terjadi secara akumulatif terhadap sejumlah permasalahan yang belum terselesaikan dengan baik di era Orde Baru (ORBA) di masa lalu.  Selain itu, faktor pemahaman dan penanganan sosial, ekonomi dan nilai-nilai budaya masyarakat lokal sekitar kawasan hutan serta belum diakunya hak Adat/Hak Ulayat di beberapa lapisan masyarakat walaupun secara turun-temurun masih diakui keberadaannya dalam tatanan sosial di masyarakat. Penunjukan kawasan hutan ketika itu, masih bersifat sepihak dan Top down tanpa memperhatikan hak-hak keberadaan masyarakat lokal terutama ganti rugi atau kompensasi kepemilikan atas tanah hutan.

Konflik diartikan sebagai benturan yang terjadi antara dua pihak atau lebih yang disebabkan oleh adanya perbedaan pandangan, nilai, status, penguasaan sepihak dan kelangkaan sumberdaya. Menipisnya persediaan sumber daya hutan akan berakibat pada penurunan produktivitas berupa hasil hutan yang berwujud berupa kayu dan non kayu serta nilai jasa hutan lainnya. Konflik dapat timbul antar individu, antar kelompok atau antar lembaga. Konflik pengelolaan sumberdaya hutan yang sering terjadi yakni konflik antara masyarakat di dalam atau pinggir hutan dengan berbagai pihak di luar hutan yang dianggap memiliki otoritas dalam mengelola sumberdaya hutan.

. Bentuk Interaksi dalam Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan serta Ekosistemnya Secara Lestari dan Berkelanjutan (skripsi dan tesis)

Dalam pemanfaatan sumber daya hutan dan ekosistemnya terdapat beberapa aspek penting adalah kekayaan jenis flora maupun fauna yang lebih dikenal dengan biodiversitas atau keaneka ragaman hayati.  Kekayaan spesies baik flora maupun fauna terdapat luar biasa jumlahnya, jika dibandingkan dengan jumlah spesies pada iklim sedang.  Indonesia dengan luas sekitar 1.3 % dari permukaan daratan bumi memiliki kekayaan jenis yang sangat besar antara lain mengandung 10% jenis tumbuhan berbunga di dunia (±25.000 jenis), 12% satwa menyusui (± 500 jenis),  16% jumlah jenis reptil dan ampibi ((± 3.000 jenis), 17% jenis burung ((±1.600 jenis), dan lebih dari 25% jenis ikan (±8.500 jenis),  disamping itu tercatat pula sekitar 663 jenis fauna indemik, 199 jenis mamalia, (Saparjudi:1994 dan Whitmore:1975, dalam Marsono, 2000).  Di bidang kehutanan Whitmore, (1975), melaporkan terdapat 500 jenis Dipterocarpaceae dan 3.000-4.000 jenis Ochidaeceae. Namun dalam kenyataannya, dari jumlah yang banyak tersebut pemanfaatan jenis masih sangat terbatas. Diantara jenis-jenis tumbuhan yang ada tersebut hanya sekitar 150 jenis tanaman pangan yang penting dalam perdagangan dunia.  95% sebagai bahan pengganti tidak lebih dari 30 jenis tumbuhan dan 75% kalori pangan hanya berasal dari 8 jenis tumbuhan sekitar 80% kalori pangan berasal dari 3 jenis tumbuhan yaitu padi, jangung dan gandum (Soemarwoto, 1987, dalam Marsono, 2000).

Berbagai kawasan hutan di Indonesia diperkirakan masih banyak lagi yang mengandung keanekaragaman jenis tumbuhan obat-obatan (herbal) namun saat ini masih terbatas penggunaan pada jenis tumbuhan tertentu.   Sedikitnya pemanfaatan tumbuhan herbal ini, karena minimnya informasi dan penelitian mengenai khasiat tumbuhan-tumbuhan herbal Indonesia yang sejak dahulu sudah dikembangkan oleh masyarakat sekitar kawasan hutan dan saat ini tersebar di berbagai fungsi hutan diantaranya hutan alam produksi, hutan lindung maupun hutan konservasi.

Pemanfaatan tumbuhan obat-obatan sebenarnya telah berlangsung lama secara tradisional oleh berbagai masyarakat di Indonesia.  Hal ini terungkap dalam beberapa penelitian, Tuharea, dkk. (2000), bahwa masyarakat sekitar kawasan hutan telah memanfaatkan tumbuhan obat-obata secara tradisional mereka.  Dalam beberapa kasus menurut penelitian tersebut penggunaan obat telah ditemukan seperti di Anggi sekitar 27 jenis tumbuhan dapat menyembuhkan sebanyak 25 jenis penyakit tertentu, di Kokas sedikitnya masyarakat menemukan sedikitnya 26 jenis tumbuhan dan memberikan khasiat sebanyak 36 jenis penyakit masyarakat serta di Serui terdapat sedikitnya 38 jenis tumbuhan memberikan khasiat untuk 28 jenis penyakit.  Jenis tumbuhan obat-obatan ini pemanfaatannya masih terbatas pada masyarakat sekitar kawasan hutan saja dan belum mengemuka pada tingkat dunia kedokteran modern atau diproduksi untuk kebutuhan manusia secara masal.

Dari sisi yang lain, industri pengolahan hasil tumbuhan herbal misalnya, pemerintah belum mengupayakan diversifikasi  industri lebih spesifik dan bahkan tidak ada walaupun home industry sifatnya, sebagai bagian pemberdayaan.  Marsono (2000), mengatakan bahwa sedikitnya jenis yang dimanfaatkan mewarnai berbagai kebutuhan manusia seperti obat-obatan, kosmetik, bahan pakaian dan lain sebagainya.  Oleh karenanya tidak mustahil bahwa beberapa penyakit yang belum ditemukan obatnya saat ini sebenarnya ada di sumber daya alam yang tersebar di Indonesia.

Pengembangan potensi keanekaragaman sumber daya hutan saat ini belum optimal, dan masih terbuka peluang pada berbagai kawasan hutan tertentu untuk diusahakan dengan pengembangan kelembagaan masyarakat seperti pada kawasan penyangga areal konservasi, areal pemanfaatan pada kawasan lindung dan areal hutan produksi sekalipun yang saat ini hanya berorientasi pada hasil hutan kayunya saja (eksploitatif).  Akibat dari pemanfaatan yang bersifat ekploitatif, hanya dapat mengancam kelestarian kegunaan sumber daya hutan dan ekosistemnya.  Konservasi penggunaan sumber daya hutan dimaksudkan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka waktu yang lama dengan cara mengurangi atau membatasi tingkat pemakaian sumber daya hutan, penggunaan teknologi terbarukan terhadap tumbuhan yang diketemukan kemanfaatannya saat ini, mengurangi pemborosan baik secara ekonomis maupun sosial (Suparmoko, 2006).  Dalam konteks masa pertumbuhan atau riap, konservasi dimaksudkan sebagai penggunaan yang menghasilkan penerimaan bersih maksimum dan sekaligus dapat memperbaiki kapasitas produksi atau pertumbuhan itu sendiri.

Pengelolaan sumber daya hutan pada kawasan hutan lindung merupakan segala bentuk upaya yang mencakup beberapa unit perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan serta pengawasan dan pengendalian dalam rangka mengoptimalkan fungsi dan pengembangan manfaat hutan lindung secara optimal dengan tetap menjaga kelestariannya oleh instansi yang berwenang (cq. Dinas Kehutanan).  Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) yang juga merupakan unit pengelolaan hutan lindung adalah satu kesatuan luas wilayah pengelolaan yang meliputi satu atau lebih kelompok hutan lindung yang penetapannya didasarkan atas kriteria tertentu, dengan tercapainya pendayagunaan fungsi dan peranan hutan lindung secara optimal untuk : a) Mewujudkan sistem penyangga kehidupan yang berkualitas ; b) Mewujudkan terkendalinya tata air secara optimal; c) Menterpadukan semua unsur yang terkait dalam pengelolaan hutan lindung; d) Mengakomodasikan kepentingan dan peran serta masyarakat.

Rencana pengelolaan kawasan hutan lindung dan segala sumber daya hutannya meliputi rencana-rencana yang terdiri atas : a) Rencana Induk Pengelolaan Hutan Lindung(RIPHL); b) Rencana Pengelolaan Hutan Lindung Propinsi (RPHLP); dan c) Rencana Unit Pengelolaan Hutan Lindung(RUPHL).  Rencana induk pengelolaan hutan lindung merupakan rencana jangka panjang pengelolaan hutan lindung dalam ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam jangka waktu dua puluh lima tahunan berisi : 1) Identifikasi keadaan dan masalah yang meliputi biogeofisik, sosial budaya, sosial ekonomi, kelembagaan masyarakat dan lingkungan; 2) Kajian faktor masalah secara ilmiah; 3) Arahan dan rekomendasi pengelolaan hutan lindung; 4) Tahapan pengelolaan; 5) Rencana Induk Pengelolaan Hutan Lindung di susun dan dinilai oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, disahkan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan Dan Pelestarian Alam (PHPA).

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Interkasi Masyarakat dengan Hutan Lindung (skripsi dan tesis)

Secara umum terdapat tiga faktor yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi factor sebuah interaksi masyarakat yaitu: faktor geografis, sosiografis, dan psikografis Lestari (2004),. Dalam penerjemahannya tentu saja ini sangat multi dimensi. Dimana di dalamnya dapat dikaitkan dengan bidang-bidang lain.  Oleh karenanya diperlukan suatu penjelasan yang lebih implicit atau lebih mendalam lagi. Menurut Rumaropen (2009) disebutkan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi interkasi masyarakat dengan hutan adalah sebagai berikut:

  1. Factor tingkat pendidikan
  2. Factor umur
  3. Factor manfaat hutan
  4. Lamanya pemukiman
  5. Tingkat pendapatan
  6. Tenaga kerja yang terlibat

Sedangkan Muljohardjo ( 1987  lebih menekankan bagaimana interkasi dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial ekonomi seperti tingkat pendidikan, umur, luas pekarangan, jenis mata pencaharian, pendapatan dan juga besar kecilnya keuntungan yang dirasakan oleh masyarakat. Interaksi berkaitan erat kaitannya dengan keadaan sosial ekonomi dari individu – individu yang terlibat, semakin tinggi status sosial ekonomi individu dalam masyarakat maka akan semakin tinggi pula kesempatan yang dapat diperoleh dalam setiap kegiatan pembangunan, begitu pula sebaliknya.

Bentuk Interaksi Sosial (skripsi dan tesis)

Upaya manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dilaksanakan melalui proses sosial yang disebut interaksi sosial, yaitu hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok dalam masyarakat. Dalam kenyataan sehari-hari terdapat tiga macam interaksi sosial (Rahman D dkk, 2000: 21-22).

  1. Interaksi antara individu dan individu

Pada interaksi ini individu yang satu memberi pengaruh, rangsangan, atau stimulus kepada individu yang lainnya. Sedangkan individu yang terkena pengaruh akan memberikan reaksi, tanggapan atau respon. Dalam interaksi antara individu dan individu dapat berwujud dalam bentuk berjabat tangan, saling menegur, bercakap-cakap atau mungkin bertengkar.

  1. Interaksi antara individu dan kelompok

Interaksi antara individu dan kelompok secara konkrit dapat dilihat pada. Anggota masyarakat dengan suatu kelompok masyarakat.. Bentuk interaksi ini menunjukkan bahwa kepentingan seorang individu berhadapan dengan kepentingan kelompok.

  1. Interaksi antara kelompok dan kelompok

Bentuk interaksi antara kelompok dan kelompok menunjukkan bahwa kepentingan individu dalam kelompok merupakan satu kesatuan, berhubungan dengan kepentingan individu dalam kelompok yang lain. Dalam interaksi ini setiap tindakan individu merupakan bagian dari kepentingan kelompok misalnya anggota organisasi bekerja sama dengan anggota dari organisasi lain.

Pengertian Interaksi Sosial (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa pengertian mengenai interaksi, diantaranya seperti pernyataan Gerungan (2000: 57) bahwa Interaksi sosial adalah tindakan individu yang satu dapat menyesuaikan diri secara autoplastis kepada individu yang lain, di mana dirinya dipengaruhi oleh diri yang lain Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok (Rahman D dkk, 2000: 21).

Demikian pula dalam pernyataan Walgito(2003: 57) yang menyatakan bahwa Interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dengan individu yang lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, jadi terdapat adanya hubungan saling timbal balik. Hubungan manusia dengan manusia lainnya, atau hubungan manusia dengan kelompok atau hubungan kelompok dengan kelompok disebut sebagai interaksi sosial. Perkembangan seorang individu tidak akan pernah terlepas dari lingkungannya. Hubungan itu berkisar kepada usaha dalam menyesuaikan diri dan penyesuaian diri dapat dilakukan dengan cara autoplastis yaitu seseorang harus menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya, penyesuaian diri dapat juga dilakukan secara aloplastis yaitu seseorang dapat merubah lingkungan agar sesuai dengan keinginan dirinya.

Potensi Kawasan Hutan Lindung (skripsi dan tesis)

Kekayaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang terdiri atas sumber daya alam hewani, sumber daya alam nabati beserta ekosistemnya ataupun gejala keunikan alam dan/atau keindahan alam lainnya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Potensi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya tersebut perlu dikembangkan dan dimanfaatkan bagi sebesar besar kesejahteraan rakyat melalui upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, sehingga tercapai keseimbangan antara perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan secara lestari.

Salah satu upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya ditempuh melalui penetapan sebagian kawasan hutan dan/atau kawasan perairan menjadi antara lain Hutan Lindung yang salah satu fungsinya adalah karena keadaan sifat alamnya diperuntukan guna mengatur tata air (hydro-orologi), pencegahan bencana banjir dan erosi serta memelihara kesuburan tanah, perlindungan dan penyangga sistem kehidupan, obyek dan daya tarik wisata alam untuk dijadikan pusat pariwisata dan kunjungan wisata alam daerah. Pembangunan nasional di berbagai sektor telah berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat, disamping telah meningkatkan kegiatan masyarakat diberbagai bidang, sehingga menimbulkan perubahan pola kehidupan masyarakat yang menuntut kebutuhan hidup yang semakin beragam. Kedua aspek tersebut ditambah dengan meningkatnya minat kembali ke alam terutama bagi masyarakat perkotaan, menyebabkan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan wisata alam.  Sejalan dengan itu, menurut Perrings (2002) dalam Fandeli (2003), bahwa semakin banyak sumberdaya alam yang dimanfaatkan dalam pembangunan, maka keterkaitan pembangunan itu dengan ekonomi ekologi akan semakin besar.  Pernyataan Perrings (2002); dan Fandeli (2003) tersebut tidak terkecuali pada kawasan hutan lindung dan Taman Hutan Raya (TAHURA) yang juga kewenangan pengelolaannya diserahkan pada Daerah sebagai tugas perbantuan, karena mengingat perkembangan usaha kepariwisataan alam sangat ditentukan oleh potensi, estetika dan bentang alamnya yang unik dan berbeda pada tempat lainnya.

Menurut PP. No. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, Kawasan Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata, dan rekreasi.  Penetapan kawasan tertentu sebagai sebagai Kawasan Taman Hutan Raya, apabila telah memenuhi kriteria sebagai berikut: a) Merupakan kawasan dengan ciri khas baik asli maupun buatan, baik pada kawasan yang ekosistemnya masih utuh ataupun kawasan yang ekosistemnya sudah berubah; b) Memiliki keindahan alam dan atau gejala alam; c) Mempunyai luas wilayah yang memungkinkan untuk pembangunan koleksi tumbuhan dan atau satwa, baik jenis asli dan atau bukan asli.

Menurut Fandeli (2002), daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk mendukung perilaku manusia dan makhluk hidup yang lain secara wajar.  Namun dalam perkembangannya istilah daya dukung kemudian dirubah menjadi daya tampung bagi lingkungan binaan.  Daya tampung diartikan sebagai kemampuan suatu lingkungan binaan untuk menampung jumlah individu maksimum.

Kawasan taman hutan raya memiliki daerah penyangga mempunyai fungsi untuk menjaga kawasan tersebut dari segala bentuk tekanan dan gangguan yang berasal dari luar dan atau dari dalam kawasan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan dan atau perubahan fungsi kawasan.  Penetapan daerah penyangga pada hakekatnya berdasarkan pertimbangan kriteria sebagai berikut : a) Secara geografis berbatasan dengan Kawasan Taman Hutan Raya; b) Secara ekologis masih mempunyai pengaruh baik dari dalam maupun dari luar Kawasan Taman Hutan Raya; c) Mampu menangkal segala macam gangguan baik dari dalam maupun dari luar Kawasan Taman Hutan Raya.

Penetapan tanah negara bebas maupun tanah yang dibebani dengan suatu hak (alas titel) sebagai daerah penyangga, ditetapkan oleh Menteri setelah mendengar pertimbangan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Penetapan daerah penyangga dilakukan dengan tetap menghormati hak hak yang dimiliki oleh pemegang hak. Pengelolaan daerah penyangga yang bukan kawasan hutan tetap berada pada pemegang hak dengan tetap memperhatikan ketentuan dan pertimbangan kriteria yang telah disepakati. Untuk membina fungsi daerah penyangga, pemerintah melakukan: a) Peningkatan pemahaman masyarakat terhadap konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya; b) Peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatan kesejahteraan masyarakat; c) Rehabilitasi lahan; d)  Peningkatan produktivitas lahan; e) Kegiatan lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sesuai dengan fungsinya, taman hutan raya dapat dimanfaatkan untuk keperluan: a)   Pariwisata alam dan rekreasi; b) Penelitian dan pengembangan; c) Pendidikan; d) Kegiatan penunjang budidaya.  Kunjungan wisata alam terbatas pada kegiatan mengunjungi, melihat dan menikmati keindahan alam dan perilaku satwa di dalam kawasan pelestarian alam, sedangkan kegiatan pendidikan dapat berupa karya wisata, widya wisata, dan pemanfaatan hasil hasil penelitian serta peragaan dokumentasi tentang potensi kawasan tersebut.

Undang-undang Nomor : 41/1999 menekankan bahwa peruntukannya fungsi hutan ditetapkan menjadi 3 (tiga) yaitu : 1) Hutan Konservasi untuk fungsi konservasi, 2) Hutan Lindung untuk fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, dan Hutan Produksi untuk fungsi produksi.  Namun dari ketiga fungsi tersebut pada hakikatnya hutan dikelola dengan tujuan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan cara, (Marsono, 2000), antara lain ;  1) Memberikan jaminan keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional; 2) Mengoptimalkan aneka fungsi (konservasi, Lindung dan produksi) dan mencapai manfaat lingkungan, sosial-ekonomi, yang seimbang, serasi dan lestari; 3) Meningkatkan daya dukung lingkungan dan Daerah Aliran Sungai; 4) Meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kapasitas dan keberdayaan masyarakat secara partisipatif, berkeadilan dan berwawasan lingkungan sehingga mampu menciptakan ketahanan sosial-ekonomi dan pangan-sandang dan papan, lapangan kerja; dan 5) Menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan keberlanjutan.

Perkembangan kebutuhan kepariwisataan alam, maka taman hutan raya, yang memiliki gejala keunikan alam, keindahan alam, dan lain lain, sangat potensial untuk dikembangkan sebagai obyek dan daya tarik wisata alam disamping sebagai wahana penelitian, pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Agar obyek dan daya tarik wisata alam tersebut dapat dimanfaatkan secara nyata diperlukan modal dan teknologi serta paradigma pengelolaan berbasis masyarakat. Untuk itu, modal masyarakat dan teknologi yang sesuai, perlu diikut sertakan dalam kegiatan pengusahaan pariwisata alam. Pengusahaan taman hutan raya sebagai obyek dan daya tarik wisata alami memberikan dampak positif dalam menciptakan perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, peningkatan kesejahteraan masyarakat, peningkatan pendapatan negara dan pemasukan devisa.

Pengelolaan kawasan hutan lindung, kawasan taman hutan raya di Indonesia harus harus dilaksanakan secara profesional, dilakukan oleh tenaga atau sumber daya manusia yang memenuhi syarat profesionalisme tersebut, berdedikasi tinggi untuk mewujudkan kelestarian ekosistem maupun pengelolaan hutan berkelanjutan (sustainable forest management).  Pengelolaan kawasan hutan lindung dan kawasan taman hutan raya dalam bentuk Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) menurut fungsinya sesuai dengan amanat PP No. 6 Tahun 2007, agar lebih menjamin ; kepangkuan kelola, keragaman usaha, keberpihakan kepada masyarakat (pemberdayaan) dan kelestarian berkelanjutan.

UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya menyatakan bahwa, pengelolaan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam dilaksanakan oleh Pemerintah, yang dalam zona pemanfaatan dapat dibangun sarana kepariwisataan berdasarkan rencana pengelolaan. Untuk kegiatan kepariwisataan dan rekreasi, Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan atas zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam dengan mengikutsertakan rakyat.  Dilihat dari kedua definisi di atas, maka beberapa kegiatan pengelolaan dimungkinkan untuk dilakukan pada kawasan hutan lindung, taman hutan raya dan taman wisata alam dengan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan. Kegiatan-kegiatan tersebut tentunya memberikan pengaruh positif dari sisi ekonomis maupun ekologis dalam berbagai aspek. Kegiatan pengelolaan harus benar-benar mempertimbangkan peranan ekologis dan potensi taman hutan raya dengan kata lain harus dijaga kesesuaian antara tujuan estetika, pelatihan dan penelitian dan perlindungan ketimbang dengan pilihan pemanfaatannya.

Oleh karenanya di dalam sebuah kawasan hutan dan lingkungan di sekitarnya sebagai suatu ekosistem dalam lingkungan hdiup merupakan suatu kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan dan makluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesehjateraan manusia serta makluk hidup lainnya. Lingkungan hidup di Indonesia meliputi aspek social budaya ekonomi dan fisik.

Kriteria sistem pengendalian biaya dan jadwal (skripsi dan tesis)

     Kriteria sistem pengendalian biaya dan jadwal Cost and Schedule Control System Criteria) C/S – CSC adalah penerapan dari konsep nilai hasil dengan memasukkan dan mengaitkan unsur-unsur anggaran, pengeluaran, jadwal, nilai hasil, lingkup kerja, dan organisasi pelaksana. Dengan demikian kriteria ini meletakkan dasar prosedur dan mekanisme pengendalian yang sistematis dan integratif (terpadu) beserta pihak peserta proyek, pemilik, kontraktor, dan pemasok akan memperoleh faedah dari sistem sebagai berikut ini.

  1. Kontraktor   dan   pemasok    dapat   dipakai   sebagai   alat   pemantauan,
    pengendalian biaya, jadwal internal, dan
  2. Pemilik  dapat  meyakini   bahwa  sistem   pemantauan  dan  pengendalian
    internal yang digunakan kontraktor dapat diandalkan, sehingga diperoleh
    data dan informasi yang terpercaya dan objektif untuk bahan membuat
    keputusan.

Asiyanto, 2002 (dalam Fadrizal Lubis, 2004) memberikan penguraian tentang hasil evaluasi biaya dan waktu pelaksanaan dapat disajikan dalam satu formulir evaluasi yang digambarkan dengan tiga macam grafik sebagai berikut ini:

  1. Grafik budget cost work schedule (BCWS), yaitu grafik anggaran
    biaya (cost budget) yang sesuai dengan schedule pekerjaan,
  2. Grafik actual cost work performed (ACWP), yaitu grafik realisasi
    biaya (actual cost) sesuai dengan pekerjaan yang telah diselesaikan,
  3. Grafik budget cost work performed (BCWP), yaitu grafik anggaran
    biaya (cost budget) untuk pekerjaan yang telah diselesaikan .

Formulir ini menggunakan pola formulir time schedule tipe Bar chart yang dilengkapi dengan curva ” S ” dimana jadwal kegiatan untuk tiap item pekerjaan, bobotnya dinilai dengan anggarannya (budgetnya). Kemudian nilai anggaran (budget) secara komulatif dari seluruh kegiatan yang ada pada minggu/bulan yang bersangkutan, digambarkan dengan suatu grafik BCWS seperti proses membuat kurva ” S ” grafik ACWP dan BCWP diperoleh dari nilai realisasinya. Cara pembuatan grafik dapat diuraikan seperti dibawah ini :

  1.  tiap item pekerjaan diberi nilai anggaran nya (budgetnya) atau bobotnya,
  2. nilai bobot item tersebut disebarkan (biasanya secara merata) pada setiap
    minggu/bulan sesuai dengan jadwalnya,
  3. jumlah bobot seluruh item pekerjaan dijumlahkan untuk tiap minggu/bulan dari awal sampai minggu/bulan terakhir secara komulatif. Titik-titik ini dihubungkan dan akan membentuk grafik BCWS,
  4. reaiisasi  biaya dan  penyelesaian tiap  item  pekerjaan dicatai,  nilai atau
    bobotnya untuk tiap bulan secara komulatif,
  5. jumlahkan bobot penyelesaian semua item pekerjaan yang ada untuk tiap
    bulannya secara komulatif. Titik-titik ini dihubungkan dan akan membentuk grafik ACWP,
  6. tiap item  pekerjaan yang diselesaikan, untuk tiap minggu/bulannya diberi nilai anggarannya secara komulatif. Titik-titik ini dihubungkan dan akan membentuk grafik BCWP.

Evaluasi progres tiap bulan dilakukan seperti pada Bar chart schedule. Cara evaluasi grafik dapat dijelaskan sebagai berikut ini.

  1. Evaluasi biaya dengan cara membandingkan grafik ACWP dengan grafik
    BCWP bila ACWP > BCWP, berarti melebihi anggaran (over budget),
    sebaliknya bila terjadi ACWP < BCWP, berarti di bawah anggaran (under
    budget)
    .
  2. Evaluasi waktu pelaksanaan dengan cara membandingkan grafik BCWP
    dengan grafik BCWS, kemudian bila BCWP < BCWS, berarti proyek
    terlambat, dan sebaliknya bila BCWP > BCWS proyek lebih cepat dari
    jadwal (ahead of scheduled). Bila mengukumya vertikal diperoleh nilai
    evaluasi   dalam   bobot   dan   bila   diukur   horisontal,   maka   diperoleh
    keterlambatan / lebih cepat dalam satuan waktu .
  3. Nilai dalam hal ini diukur dengan rupiah, namun juga dapat dikonversikan
    menjadi persen ( % ). Gambar 3.6  berikut ini menjelaskan prakiraan jadwal dan biaya pada akhir proyek.

Proyeksi Biaya dan Jadwal Akhir Proyek (skripsi dan tesis)

Membuat prakiraan biaya atau jadwal penyelesaian proyek yang didasarkan atas hasil analisis indikator yang diperoleh pada saat pelaporan, akan memberikan petunjuk besarnya biaya pada akhir proyek. Atau dapat dikatakan menggambarkan proyeksi mengenai akhir proyek atas dasar angka yang diperoleh pada saat pelaporan. Prakiraan tidak dapat memberikan jawaban dengan angka yang tepat karena didasarkan atas berbagai asumsi, jadi tergantung dari akurasi asumsi yang dipakai.

Meskipun demikian pembuatan prakiraan biaya atau jadwal sangat bermanfaat karena akan memberikan peringatan dini mengenai hal-hal yang akan terjadi dimasa yang akan datang, bila kecenderungan yang ada pada saat ini (saat pelaporan) tidak mengalami perubahan. Dengan demikian masih tersedia kesempatan untuk mengadakan tindakan koreksi atau pembetulan.  Rumus-rumus yang dipakai antara lain sebagai berikut.

Anggaran proyek keseluruhan  =  Anggaran

Anggaran untuk pekerjaan tersisa  =  Anggaran – BCWP      ………………… ( 2.9 )

   

Bila dianggap kinerja biaya pada pekerjaan tersisa adalah tetap seperti pada saat pelaporan, maka prakiraan biaya untuk pekerjaan tersisa (Estimate To Completion = ETC) adalah sama besar dengan anggaran pekerjaan tersisa dibagi indek kinerja biaya, adapun rumusnya sebagai berikut :

ETC =  (Anggaran total  –  BCWP) / CPI   ………………………………………….. (2.10)

 

 

Jadi prakiraan total biaya proyek (Estimate At Complate = EAC) adalah sama dengan jumlah pengeluaran sampai saat pelaporan ditambah prakiraan biaya untuk pekerjaan tersisa, dengan rumus sebagai berikut :

EAC  =  ACWP + ETC         ……………………………………………. (2.11)

 

    

Prakiraan waktu/durasi proyek (Estimate Completion Date = ECD) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

ECD  =  (Sisa waktu / SPI ) + Waktu yang sudah dilalui   ……………….…(2.12)

 

    

          

 

EAS (Estimate At Scheduled) adalah waktu pelaksanaan pekerjaan sampai saat pelaporan ditambah perkiraan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tersisa. Rumusnya adalah sebagai berikut :

EAS  =  Waktu pelaporan + ETS          ………..….……………………..(2.13)

   

ETS (Estimate To Scheduled) adalah perkiraan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tersisa, dengan menganggap kinerja jadwal adalah tetap seperti pada saat pelaporan. Rumusnya adalah sebagai berikut :

    

ETS  =  (Waktu rencana – Waktu pelaporan) / SPI        ……………….. (2.14)

Hubungan antara indikator-indikator ACWP, BCWS dan BCWP terhadap biaya penyelesaian proyek dan ordinat CB menunjukkan jumlah kenaikan biaya terhadap anggaran dan AB keterlambatan penyelesaian. Lebih jelasnya kita lihat pada Gambar  2.9.

Indeks Kinerja (skripsi dan tesis)

Pengelola proyek sering kali ingin mengetahui efisiensi penggunaan sumber daya dan indek kinerja, sehingga untuk mengetahui besar kecilnya indek kinerja dapat dilihat dengan rumus sebagai berikut :

 

Bila kinerja ditinjau lebih lanjut akan terlihat hal-hal sebagai berikut.

  1. Indek kinerja kurang dari satu berarti pengeluaran lebih besar dari anggaran atau waktu pelaksanaan lebih lama dari jadwal yang direncanakan. Bila anggaran dan jadwal sudah dibuat secara realistis, maka berarti ada sesuatu yang tidak benar dalam pelaksanaan pekerjaan.
  2. Sejalan dengan pemikiran diatas, bila indek kinerja lebih dari satu maka kinerja penyelenggaraan proyek lebih baik dari perencanaan, dalam arti pengeluaran lebih kecil dari anggaran atau waktu pelaksanaan lebih cepat dari jadwal yang direncanakan.
  3. Makin besar perbedaannya dari angka satu, maka makin besar penyimpangannya dari perencanaan dasar atau anggaran. Bahkan bila terdapat angka yang terlalu tinggi, yang berarti pelaksanaan pekerjaan sangat baik, namun perlu diadakan evaluasi apakah mungkin perencanaannya atau anggarannya yang tidak realistis.

Analisis Kemajuan Pelaksanaan Proyek (skripsi dan tesis)

 

Pada saat pelaporan data yang terkumpul mengenai kemajuan pekerjaan, ikatan pembelian dan pengeluaran dianalisis untuk setiap paket kerja (kode biaya) yang meliputi :

  1. kemajuan fisik aktual dihitung berdasarkan anggaran yang diaplikasikan (BCWP),
  2. pengeluaran tercatat pada sistem akuntansi (ACWP), dan
  3. perencanan dasar dan anggaran yang mengaitkan jadwal dengan biaya (BCWS).

Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa menganalisis kemajuan proyek dengan memakai metode varians sederhana dianggap kurang mencukupi, karena analisis varians tidak mengintegrasikan aspek biaya dengan jadwal. Untuk mengatasinya digunakan metode konsep nilai hasil dengan indikator BCWP, BCWS dan ACWP. Varians yang dihasilkan disebut varians biaya terpadu (CV) dan varians jadwal terpadu (SV). Berbagai kombinasi antara varians jadwal dan varians biaya disajikan dalam Gambar  3.8.

Rumus yang dipergunakan pada varians biaya dan varians jadwal adalah sebagai berikut :

 

 

 

Cost varians (CV) adalah perbedaan antara biaya yang telah dikeluarkan

dengan biaya yang seharusnya dikeluarkan sesuai dengan prestasi pekerjaan.

Schedule varians (SV) adalah besarnya perbedaan jadwal yang terjadi sebanding dengan perbedaan biaya yang terjadi.

Angka negatif varians biaya terpadu yang menunjukkan bahwa biaya lebih tinggi dari anggaran disebut cost overrun. Angka nol menunjukkan pekerjaan terlaksana sesuai anggaran, sementara angka positif berarti pekerjaan terlaksana dengan biaya kurang dari anggaran, ini disebut cost underrun.

Demikian juga halnya dengan jadwal, angka negatif berarti terlambat, angka nol berarti tepat waktu dan angka positif berarti lebih capat dari pada rencana, untuk lebih jelasnya keterangan ini dapat dilihat pada Tabel  2.1.

 

 

 

 

Tabel  2.1  Analisis Varians Terpadu

No Varians Jadwal (SV) Varians Biaya

(CV)

Keterangan
a Positif Positif Pekerjaan terlaksana lebih cepat dari pada jadwal dengan biaya lebih kecil dari pada anggaran
b Nol Positif Pekerjaan terlaksana tepat sesuai  jadwal dengan biaya lebih rendah dari pada anggaran
c Positif Nol Pekerjaan terlaksana sesuai anggaran dan selesai lebih cepat dari pada jadwal
d Nol Nol Pekerjaan terlaksana sesuai jadwal dan anggaran
e Negatif Negatif Pekerjaan selesai terlambat dan  biaya lebih tinggi dari anggaran
f Nol Negatif Pekerjaan terlaksana sesuai jadwal dengan menelan biaya diatas  anggaran
g Negatif Nol Pekerjaan selesai terlambat dengan biaya sesuai anggaran
h Positif Negatif Pekerjaan selesai lebih cepat dari pada rencana dengan  biaya lebih tinggi dari anggaran
i Negatif Positif Pekerjaan selesai terlambat dari pada rencana dengan biaya lebih rendah dari pada anggaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Konsep Nilai Hasil (Earned Value Concept) (skripsi dan tesis)

Angka-angka yang dihasilkan analisis varians menunjukkan perbedaan hasil kerja pada waktu pelaporan dibandingkan dengan anggaran atau jadwal. Metode ini untuk menjawab apakah proyek pada saat pelaporan masih sesuai dengan anggaran atau jadwal.

Kelemahan metode ini, yaitu menganalisis penyimpangan biaya dan jadwal masing-masing secara terpisah, tidak mengungkapkan masalah kinerja kegiatan yang sedang dilakukan. Misalnya suatu kegiatan tertentu pada saat pelaporan dinyatakan mencapai kemajuan melampaui jadwal yang direncanakan, tetapi belum tentu kegiatan tersebut sesuai anggaran yang dialokasikan untuk pekerjaan tersebut.

Konsep nilai hasil (earned value concept) adalah konsep menghitung besarnya biaya yang menurut anggaran sesuai dengan pekerjaan yang telah diselesaikan atau dilaksanakan (budgeted cost of work performed). Bila ditinjau dari jumlah pekerjaan yang diselesaikan, maka konsep ini mengukur besarnya unit pekerjaan yang telah diselesaikan pada suatu waktu dan dinilai berdasarkan jumlah anggaran yang disediakan untuk pekerjaan tersebut.

Dengan memakai dasar asumsi tertentu, metode tersebut dapat dikembangkan untuk membuat perkiraan atau proyeksi keadaan masa depan proyek, metode konsep nilai hasil ini dapat memperkirakan berbagai kemungkinan diantaranya :

  1. dapatkah proyek diselesaikan dengan dana sisa yang ada,
  2. berapa besar perkiraan biaya untuk menyelesaikan proyek, dan
  3. berapa besar proyeksi keterlambatan pada akhir proyek bila kondisi masih sama seperti saat pelaporan.

Indikator-indikator yang dipakai dalam metode konsep nilai hasil antara lain sebagai berikut.

  1. BCWP (Budgeted Cost of Work Performed)

Indikator BCWP (Budgeted Cost of Work Performed) ini menunjukkan nilai hasil dari sudut pandang nilai pekerjaan yang telah diselesikan terhadap anggaran yang disediakan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.

  1. BCWS (Budgeted Cost of Work Schedule)

BCWS (Budgeted Cost of Work Schedule) adalah anggaran suatu paket pekerjaan yang disusun berkaitan dengan jadwal pelaksanaan. Jadi dalam hal ini terjadi perpaduan antara biaya, jadwal dan lingkup kerja, dimana pada setiap elemen pekerjaan telah dialokasikan biaya dan jadwal yang nantinya dapat menjadi tolok ukur dalam pelaksanaan. Faktor yang menunjukkan kemajuan dan pelaksanan proyek seperti :

1)        varians biaya/Cost Varians (CV), varians jadwal/Schedule Varians (SV),

2)        memantau perubahan varians terhadap angka standar,

3)        indeks produktivitas dan kinerja, dan

4)        prakiraan biaya penyelesaian proyek.

  1. ACWP (Actual Cost of Work Performed)

ACWP (Actual Cost of Work Performed) adalah jumlah biaya aktual dari pekerjaan yang telah dilaksanakan, yaitu segala biaya pengeluaran dari paket kerja termasuk perhitungan overhead.  Jadi ACWP merupakan jumlah aktual dari pengeluaran atau dana yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan pada kurun waktu tertentu.

Varians dengan Grafik ” S ” (skripsi dan tesis)

Cara lain untuk memperagakan adanya varians adalah dengan menggunakan grafik. Grafik dibuat dengan sumbu Y sebagai nilai kumulatif biaya atau jam-orang kerja yang telah digunakan atau persentase ( % ) penyelesaian pekerjaan, sedangkan sumbu X menunjukkan parameter waktu. Ini berarti menggambarkan kemajuan volume pekerjaan yang diselesaikan sepanjang siklus proyek. Bila grafik tersebut dibandingkan dengan grafik serupa yang disusun berdasarkan perencanaan dasar (komulatif pengeluaran berdasarkan anggaran uang /jam-orang) maka akan terlihat jika terjadi penyimpangan .

Grafik yang dibuat dengan sumbu vertikal sebagai nilai kumulatif biaya atau jam-orang atau penyelesaian pekerjaan dan sumbu horisontal sebagai waktu kalender masing-masing dari angka 0 sampai 100, umumnya akan berbentuk huruf S, ini disebabkan oleh kegiatan proyek berlangsung sebagai berikut:

  1. kemajuan pada awalnya bergerak lambat,
  2. diikuti oleh kegiatan yang bergerak cepat dalam kurun waktu yang lebih
    lama,
  3. akhirnya kecepatan kemajuan tersebut menurun dan berhenti pada titik akhir .

Penggunaan grafik “S” pada gambar 3.4 dan gambar 3.5 dijumpai dalam hal-hal sebagai berikut ini :

  1. Pada analisis kemajuan proyek secara keseluruhan.
  2. Penggunaan untuk satuan unit pekerjaan atau elemen-elemennya.
  3. Pada kegiatan engineering dan pembelian untuk menganalisis persentase
    (%) penyelesaian pekerjaan.
  4. Pada kegiatan konstruksi, yaitu untuk menganalisis pemakaian tenaga kerja
    atau jam-orang dan  menganalisis persentase (%)  penyelesaian  serta
    pekerjaan-pekerjaan lain yang diukur dan dinyatakan dalam unit versus
    waktu.

Metode Pengendalian Proyek (skripsi dan tesis)

Suatu sistem pemantauan dan pengendalian disamping memerlukan perencanaan yang realistis sebagai tolok ukur pencapaian sasaran, juga harus dilengkapi dengan  teknik dan metode yang dapat mengungkapkan tanda-tanda terjadinya penyimpangan. Untuk pengendalian biaya dan waktu terdapat dua macam metodenya yaitu : Identifikasi Varians dan Konsep Nilai Hasil (Earned Value Concept). Identifikasi dilakukan dengan membandingkan jumlah uang yang sesungguhnya dikeluarkan dengan anggaran. Sedangkan untuk jadwal, dianalisis kurun waktu yang telah dipakai dibandingkan dengan perencanaan.

Penggunaan varians sebagai teknik dan metode pengendalian proyek dan grafiks “S” yang sering digunakan untuk memperlihatkan varians, penyajian konsep nilai hasil beserta indikator-indikator BCWS, BCWP, dan ACWP yang dianggap sebagai salah satu metode pengendalian yang efektif dan dapat dipakai untuk memperkirakan besarnya biaya dan jadwal sampai pada akhir proyek.

Pada setiap rapat yang membicarakan aspek pengendalian biaya dan jadwal, akan selalu ditanyakan bagaimana kemajuan pelaksanaan kegiatan terakhir, apakah pengeluaran melebihi anggaran atau kemajuan sesuai dengan jadwal. Untuk itu menjelang saat pelaporan dikumpulkan informasi mengenai status akhir kemajuan proyek dengan menghitung jumlah unit yang diselesaikan, kemudian dibandingkan dengan perencanaan atau dengan melihat catatan penggunaan sumber daya, misalnya jam-orang dan membandingkannya dengan anggaran. Teknik demikian dikenal sebagai teknik analisis varians, yang akan memperlihatkan perbedaan antara hal-hal berikut ini :

  1. Biaya pelaksanaan dengan anggaran .
  2. Waktu pelaksanaan dengan jadwal.
  3. Tanggal mulai pelaksanaan dengan rencana.
  4. Tanggal akhir pekerjaan dengan rencana.
  5. Angka kenyataan pemakaian tenaga kerja dengan anggaran.
  6. Jumlah penyelesaian pekerjaan dengan rencana.

Di samping menunjukkan angka perbedaan kumulatif antara rencana dan pelaksanaan pada saat pelaporan, analisis varians juga mendorong untuk melacak dan mengkaji dimana dan kapan telah terjadi varians yang paling dominan dan kemudian mencari penyebabnya untuk diadakan koreksi.

Aspek dan Area Pengendalian Proyek (skripsi dan tesis)

Garis besar aspek dan area pengendalian proyek amat luas, karena masing-masing aspek berkaitan satu dengan yang lain, yang paling penting diantaranya adalah sebagai berikut.

1)        Pengendalian Biaya

Pengendalian biaya dilakukan dengan cara mengelompokkan biaya menjadi per area, seperti biaya kantor pusat, dan lapangan atau biaya jenis pekerjaan seperti biaya engineering, pembelian dan konstruksi.

2)      Pengendalian Waktu (Jadwal)

Pengendalian dilakukan pada pekerjaan kritis. Pertama-tama perencanaan penyusunan jadwal induk, kemudian dirinci menjadi komponen-komponennya yang bersifat kritis yaitu milestone. Jumlah milestone tergantung dari jenis proyek. Masing-masing kegiatan, seperti engineering, pengadaan material dan konstruksi mempunyai kegiatan kritis dan dapat dijadikan milestone.

3)      Pengendalian Penggunaan Jam – Orang

Pengendalian penggunaan jam-orang dapat dikelompokkan menjadi penggunaan per area atau per jenis pekerjaan.

4)      Pengendalian Kinerja dan Produktivitas

Mengendalikan biaya atau waktu secara terpisah tidak dapat memberikan gambaran mengenai  kinerja suatu pekerjaan pada saat laporan. Misalkan suatu pekerjaan pelaksanaannya lebih cepat dari jadwal, hal ini belum tentu menunjukkan sesuatu yang menggembirakan, sebab ada kemungkinan biaya yang dipakai untuk melaksanakan pekerjaan tersebut melebihi anggaran yang dialokasikan untuk itu.

Dalam hal ini penggunaan biaya yang tidak efisien mencerminkan kinerja dari pekerjaan tersebut berada dibawah standar yang ditentukan, sehingga dapat berakibat proyek tidak akan selesai karena kehabisan dana. Oleh karena itu dalam pengendalian proyek diperlukan juga evaluasi dan analisis kinerja pekerjaan saat pelaporan.

5)      Pengendalian Prosedur

Pengendalian prosedur bermaksud mengkaji apakah kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan peraturan yang telah ditentukan. Dalam hal ini yang diperhatikan bukan saja pencapaian sasaran proyek, tetapi juga dicermati cara-cara mencapainya, apakah sudah mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku.

Unsur – Unsur Pengendalian (skripsi dan tesis)

Agar suatu sistem pengendalian dapat berjalan dengan efektif diperlukan 4 (empat) unsur-unsur sebagai berikut ini.

1)        Tolok ukur yang realistis

Tolok ukur pengendalian biaya adalah anggaran, sedangkan untuk jadwal/waktu salah satu tolok ukur yang penting adalah milestone. Anggaran dan jadwal tersebut diintegrasikan menjadi anggaran per waktu atau time prased budget dan dipecah atau dirinci sampai tingkat paket kerja dan kode akutansi biaya.

2)      Perangkat yang dapat memproses dengan cepat dan tepat

Memproses masukan data dan informasi hasil pelaksanaan pekerjaan menjadi indikator-indikator yang dapat dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan.

3)      Prakiraan yang akurat

Meliputi berbagai perkiraan (forecast) biaya dan jadwal kegiatan, seperti biaya dan jadwal untuk pekerjaan tersisa sampai akhir penyelesaian proyek, kecenderungan bilamana tidak mengalami perubahan.

4)      Rencana tindakan (action plan)

Tindakan ini diambil untuk mencegah pengeluaran biaya yang melebihi anggaran (cost overrun) dan keterlambatan (schedule delay) pekerjaan.

Teknik Pengendalian Proyek (skripsi dan tesis)

Teknik dan metode pengendalian biaya serta jadwal/waktu  proyek yang tepat akan mampu mengungkapkan terjadinya penyimpangan saat pelaksanaan suatu pembangunan. Pengendalian biaya dan waktu/jadwal terdapat dua macam teknik dan metode yang luas pemakaiannya, yaitu identifikasi varians dan konsep nilai hasil (earned value concept). Untuk memperlihatkan terjadinya penyimpangan  sering digunakan dengan grafik “S”.

  1. Pengendalian Biaya dan Waktu

Proses pengendalian yang dilanjutkan dengan teknik dan metode pemantauan serta pengendalian yang dianggap efektif untuk kegiatan yang berbentuk proyek. Pengendalian dilaksanakan sepanjang siklus proyek, baik di kantor maupun di lapangan.

Tujuan pengendalian adalah mengusahakan agar pekerjaan berjalan sesuai dengan rencana, maka aspek dan objek pengendalian sama dengan perencanaan. Maksud pengendalian biaya dan waktu/jadwal dilingkungan proyek adalah sebagai berikut :

1)        menciptakan sikap sadar akan anggaran dan jadwal. Ini berarti meminta semua pihak penyelenggara proyek menyadari bagaimana pengaruh kegiatan yang dilakukan terhadap biaya dan jadwal/waktu,

2)        meminimalkan biaya proyek dengan melihat kegiatan. Kegiatan apa saja yang biayanya bisa dihemat.  Selain itu perlu mengusahakan penggunaan waktu (jadwal yang paling efisien dan ekonomis untuk menyelesaikan setiap pekerjaan), dan

3)        menyampaikan kesemua pihak (pimpinan maupun pelaksana), perihal kinerja pemakaian dana dan menekan potensi rawan pemborosan dan penyimpangan guna tindakan koreksi.

Konsep Dasar Sistem Produktivitas (skripsi dan tesis)

Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya dipandang dari sisi out put, maka produktivitas dipandang dari dua sisi sekaligus, yaitu  sisi input dan sisi out put. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi (barang dan jasa).

Mali (1978) dalam Sahid (2003) menyatakan bahwa produktivitas tidak sama dengan produksi, tetapi produksi, performasi kualitas, hasil-hasil, merupakan komponen dari usaha produktivitas. Dengan demikian produktivitas merupakan suatu kombinasi dari efektivitas dan efisiensi, sehingga produktivitas dapat diukur berdasarkan pengukuran berikut :

Dimana:

Q   = Produktivitas

O   = Output yang dihasilkan

I     = Input yang dipergunakan

T    = Pencapaian tujuan

S    = Penggunaan sumber daya

Ev = Efektivitas

Es = Efisiensi

………………………………………………………………………………………… (2.4)

Dimana:

IP  = Indeks produktivitas

S    = Jumlah jam-orang yang sesungguhnya digunakan

T    = Jumlah jam-orang yang diperlukan

Sumanth (1985) dalam Sahid (2003) memperkenalkan suatu konsep format yang disebut sebagai siklus produktivitas (productivity cycle) untuk dipergunakan dalam peningkatan produktivitas terus-menerus. Adapun konsep siklus produktivitas terdiri dari empat tahap dengan penjelasan sebagai berikut ini.

  1. Pengukuran Produktivitas

Secara formal program peningkatan produktivitas harus dimulai melalui pengukuran produktivitas dari sistem industri itu sendiri.

  1. Evaluasi Produktivitas

Mengevaluasi tingkat produktivitas aktual untuk diperbandingkan dengan rencana yang telah ditetapkan. Perbedaan yang terjadi antara tingkat produktivitas aktual dan rencana merupakan masalah produktivitas yang harus dievaluasi dan dicari akar penyebabnya.

  1. Perencanaan Produktivitas

Berdasarkan evaluasi selanjutnya dapat direncanakan kembali target produktivitas yang akan dicapai baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

  1. Peningkatan Produktivitas

Target produktivitas yang telah direncanakan itu, berbagai program formal dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas terus-menerus.

Untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas perusahaan adalah membangun suatu sistem industri yang memperhatikan secara terfokus dan bersama sekaligus pada aspek-aspek kualitas, efektivitas pencapaian tujuan dan efisiensi penggunaan sumber-sumber daya.

  1. Perencanaan Sumber Daya Manusia

Untuk melaksanakan proyek, salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja. Bertolak dari kenyataan tersebut bahwa jenis dan identitas kegiatan proyek tepat sepanjang siklusnya, sehingga penyediaan jumlah tenaga, jenis keterampilan dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang berlangsung. Perencanaan tenaga kerja proyek harus menyeluruh dan terinci meliputi perkiraan, jenis dan kapan keperluan tenaga kerja, seperti tenaga ahli dan berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian, supervisor dan pekerjaan lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi.

Secara teoritis keperluan rata-rata jumlah tenaga kerja dapat dihitung dari total lingkup kerja proyek yang dinyatakan dalam jam – orang atau bulan – orang (man – month) dibagi dengan kurun waktu pelaksanaan. Faktor yang mempengaruhi perencanaan tenaga kerja proyek antara lain :

  1. produktivitas tenaga kerja,
  2. tenaga kerja periode puncak (peak),
  3. jumlah tenaga kerja kantor pusat,
  4. perkiraan jumlah tenaga kerja konstruksi di lapangan, dan
  5. meratakan jumlah tenaga kerja guna mencegah gejolak (fluctuation) yang tajam.
  6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja

Variabel-variabel yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja dilapangan dikelompokkan menjadi :

  1. kondisi fisik dilapangan dan sarana bantu,
  2. supervisi, perencanaan dan koordinasi,
  3. komposisi kelompok kerja,
  4. kerja lembur,
  5. kepadatan tenaga kerja,
  6. kurva pengalaman (learning curve),
  7. pekerja langsung versus sub kontraktor, dan
  8. ukuran besar proyek.

Berikut ini adalah penjelasan 8 (delapan) item tersebut.

  1. Kondisi Fisik Lapangan dan Sarana bantu

Kondisi fisik geografis lokasi proyek, tempat penampungan tenaga kerja yang terawat serta sarana bantu yang berupa peralatan konstruksi amat berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja. Kondisi fisik ini berupa :

1)        iklim, musim atau keadaan cuaca,

2)        misalnya : adanya temperatur udara panas dan dingin, salju serta hujan dan lain-lain.

3)        keadaan fisik lapangan, kondisi fisik lapangan kerja seperti rawa-rawa, padang pasir dan lain-lain, dan

4)        sarana bantu, kurangnya kelengkapan sarana bantu peralatan konstruksi.

  1. Supervisi, Perencanaan dan Koordinasi

Pengawasan adalah segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan tugas pengelola para tenaga kerja, memimpin para pekerja dalam pelaksanaan tugas, termasuk menjabarkan perencanaan dan pengendalian menjadi langkah-langkah pelaksanaan jangka pendek, serta mengkoordinasikan dengan rekan terkait. Tugas menjabarkan perencanaan ini memerlukan pengetahuan yang mendalam mengenai lingkup pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, dan derajat keterampilan tenaga kerja yang akan melaksanakannya.

  1. Komposisi Kelompok Kerja

Pada kegiatan konstruksi, seorang pengawas lapangan memimpin satu kelompok kerja yang terdiri dari bermacam-macam pekerja lapangan (labour craft), seperti tukang batu, tukang besi, tukang kayu dan lain-lain. Yang dimaksud dengan komposisi kelompok kerja adalah :

1)        perbandingan jam-orang yang berhubungan langsung dan pekerja yang dipimpinnya,

2)        perbandingan jam-orang untuk disiplin kerja dalam kelompok kerja.

Perbandingan jam – orang yang berhubungan langsung terhadap total jam – orang kelompok kerja yang dipimpinnya, menunjukkan indikasi besarnya rentang kendali (span of control) yang dimiliki.

  1. Produktivitas Kerja Lembur

Seringkali pekerjaan lembur tidak dapat dihindari, untuk mengejar sasaran jadwal.

  1. Produktivitas Penambahan Tenaga kerja

Percepatan jadwal, diperlukan penambahan tenaga kerja, namun hal ini akan menimbulkan penurunan produktivitas kerja. Makin banyak jumlah tenaga kerja per area atau makin sempitnya area untuk setiap pekerja, maka makin sibuk kegiatan per area tersebut,  yang akhirnya akan mencapai titik dimana kelancaran pekerjaan terganggu dan mengakibatkan penurunan produktivitas, titik ini disebut titik jenuh. Gambar 3.7 menunjukkan pengaruh kepadatan tenaga kerja terhadap produktivitas.

  1. Pengendalian Tenaga kerja

Untuk menyelenggarakan proyek, salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu  keberhasilannya adalah tenaga kerja. Jenis kegiatan dan intensitas proyek berubah cepat sepanjang siklusnya, sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja, jenis keterampilan dan keahlian harus mengikuti perubahan kegiatan yang sedang berlangsung.

 Berdasarkan kenyataan tersebut, maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja, seperti tanaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian, supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi didatangkan. Cara memperkirakan jumlah tenaga kerja yang diperlukan, yaitu dengan mengkonversikan lingkup proyek dari jumlah jam-orang menjadi jumlah tenaga kerja atau keperluan rata-rata jumlah tenaga kerja dapat dihitung dari total lingkup proyek yang dinyatakan dalam jam – orang atau bulan – orang dibagi kurun waktu pelaksanaan.

  1. Pekerja Langsung versus Subkontraktor

Dikenal dua cara bagi kontraktor utama dalam melakasanakan pekerjaan lapangan, yaitu dengan merekrut langsung tenaga kerja dan memberikan kepenyeliaan (direct hire) atau menyerahkan paket kerja tertentu kepada subkontraktor. Dari segi produktivitas umumnya subkontraktor lebih tinggi 5 – 10 % dibandingkan pekerja langsung. Hal ini disebabkan tenaga kerja subkontraktor telah terbiasa dalam pekerjaan yang relatif terbatas lingkup dan jenisnya, ditambah lagi prosedur dan kerjasama telah dikuasai dan terjalin lama antara para pekerja maupun dengan penyelia. Meskipun produktivitas lebih tinggi dan jadwal penyelenyelesaian pekerjaan potensial dapat lebih singkat, tetapi dari segi biaya belum tentu rendah dibanding memakai pekerja langsung, karena adanya biaya overhead dari perusahaan subkontraktor.

  1. Ukuran Besar Proyek

           Menunjukkan bahwa besar proyek (dinyatakan dalam jam – orang) juga mempengaruhi produktivitas tenaga kerja lapangan, dalam arti makin besar ukuran proyek produktivitas menurun.

Waktu Pelaksanaan Proyek (skripsi dan tesis)

Pelaksanaan pekerjaan dengan manajemen profesional meliputi perencanaan/desainer, pelelangan/tender dan pelaksanaan. Perencanaan jadwal waktu dapat dibuat dengan berbagai cara/teknik yang banyak digunakan antara lain dengan bagan balok (bar chart) maupun jaringan kerja (network planning).

Untuk membuat jadwal kerja dengan bagan balok (bar chart) yang pertama harus diketahui adalah durasi dari tiap-tiap pekerjaan. Durasi dihitung dengan rumus sebagai berikut :

D = V/P

 …………………………………………………………………………… (2.1)

Dimana : D  = durasi

V  = volume pekerjaan

P  = produktivitas per satuan waktu

Selanjutnya pelaksanaan tiap-tiap pekerjaan diplot dengan bentuk balok pada bagan dengan memperhatikan urutan pelaksanaannya dengan pekerjaan-pekerjaan yang lain. Bagan balok sangat bermanfaat karena dapat dikembangkan menjadi kurva S, yaitu grafik yang menunjukkan kemajuan/prestasi pada satuan waktu tertentu untuk seluruh proyek, baik dari sisi perencanaan maupun dari realisasi. Prosentase kemajuan pada kurva S didasarkan pada satuan yang sama, yang disebut bobot. Agar ukuran yang digunakan untuk setiap pekerjaan dalam menghitung bobot sama, maka satuan tiap pekerjaan dinyatakan dalam satuan uang (rupiah). Cara penghitungan bobot pekerjaan adalah sebagai berikut :

A = (B/C) x 100%  …………………………………………………………………… (2.2)

Dimana:

A = Bobot pekerjaan (%)

B = Nilai/Biaya item pekerjaan (Rp)

C = Nilai/Biaya total proyek (Rp)

Perilaku Kegiatan Proyek (skripsi dan tesis)

Pengertian suatu proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber daya untuk mendapatkan manfaat. Kegiatan-kegiatan berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas. Sumber daya yang digunakan dalam pelaksanaan proyek dapat berbentuk barang-barang modal, bahan-bahan mentah, tenaga kerja dan waktu. Sumber daya tersebut sebagian atau seluruhnya dapat dianggap sebagai barang atau jasa, konsumsi yang dikorbankan dari penggunaan masa sekarang untuk memperoleh manfaat yang lebih besar dimasa yang akan datang. Dari pengertian di atas, proyek mempunyai ciri-ciri:

  1. memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir,
  2. jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu dalam proses pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan,
  3. bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas, titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas, dan
  4. tidak berulang, macam dan intensitas kegiatan berubah atau tidak sama.

Kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan selanjutnya dilaksanakan, untuk itu perlu mengorganisir dan mengelola sumber daya yang ada agar tercapai sasaran tersebut. Upaya tersebut bertujuan agar kegiatan-kegiatan dapat berjalan lancar mencapai sasaran tanpa banyak penyimpangan yang berarti. Usaha ini dikenal sebagai proses pengendalian yang merupakan salah satu fungsi manajemen proyek .

Di dalam proses mencapai tujuan tersebut ada batasan yang harus dipenuhi yaitu besarnya biaya yang dialokasikan, jadwal/waktu yang ditentukan serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek.

  1. Biaya/Anggaran

Biaya/anggaran adalah suatu batasan alokasi dana yang ditentukan untuk suatu proyek. Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi dari anggaran yang ditentukan. Anggaran tidak hanya ditentukan secara total proyek melainkan terbagi atas anggaran komponen-komponennya atau per periode tertentu (misalnya per triwulan atau per kwartal) yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian penyelesaian bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode tersebut.

  1. Jadwal/Waktu

Waktu/jadwal adalah suatu rentang masa yang ditetapkan untuk penyelesaian suatu proyek. Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu yang telah ditentukan dalam arti penyerahan akhir proyek tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan.

  1. Mutu

Mutu adalah suatu standar/target yang harus dihasilkan suatu produk dengan biaya dan waktu yang telah ditentukan. Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa produk aspal beton maka kriteria yang harus dipenuhi adalah persyaratan material, pencampuran, dan pelaksanaan penghamparan harus sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan untuk mutu aspal beton tersebut.

               Iman Soeharto (1998) memberikan penjelasan suatu konsep biaya pada suatu pekerjaan (aktivitas) dapat dibagi dalam :

  1. Biaya langsung (direct cost), yaitu biaya yang berkaitan langsung dengan volume pekerjaan yang dilaksanakan antara lain biaya untuk upah tenaga kerja dan bahan/material. Hubungan antara biaya langsung dengan waktu pelaksanaan merupakan garis non linier, apabila waktu pelaksanaan dipercepat maka pada umumnya biaya langsung akan makin tinggi.
  2. Biaya tak langsung (indirect cost), yaitu pengeluaran-pengeluaran untuk overhead, gaji pegawai tetap, biaya sewa dan perawatan alat, asuransi, bunga bank dan sebagainya. Biaya ini mempunyai sifat bahwa apabila waktu pelaksanaan diperlambat maka secara total biaya akan semakin tinggi.

H

Perangkat Manajemen (skripsi dan tesis)

Dalam rangka upaya membentuk suatu Sistem Manajemen Proyek yang lengkap serta kokoh, untuk pelaksanaan pada masing-masing tahapan siklus mekanisme tersebut memerlukan alat-alat manajemen, yang umumnya terdiri dari:

  1. Analisis Masalah

Perencanaan proyek dimulai dari masalah-masalah pokok program pembangunan, menyusun strategi yang lebih luas, dan kemudian memilih proyek-proyek yang akan dapat mencapai tujuan-tujuan program tersebut. Diperlukan cara-cara analisis yang sistematis, sederhana, mudah dikomunikasikan, dan didasarkan pada suatu kerangka pemikiran logis.

  1. Kerangka Logis

Kerangka logis merupakan seperangkat pengertian yang saling berkaitan, yang mampu menjelaskan secara logis tentang :

1)        Mengapa suatu proyek harus dilaksanakan,

2)        Bagaimana proyek akan dilaksanakan,

3)        Faktor-faktor luar apa saja yang mengakibatkan ketidakpastian keberhasilan proyek,

4)        Bagaimana wujud proyek bila sudah selesai,

5)        Bagaimana menetapkan ukuran keberhasilan proyek yang sudah selesai.

  1. Analisis Anggaran Keuangan

Anggaran keuangan disusun secara realistis, bertahap waktu, dengan berorientasi pada kegiatan-kegiatan proyek.

  1. Rincian Tanggung Jawab

Rincian tanggung jawab yang merupakan salah satu perangkat Sistem Manajemen Proyek dengan kegunaannya antara lain sebagai berikut:

  1. Dapat membantu tercapainya kesepakatan mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing individu atau satuan organisasi yang terlibat dalam pelaksanaan proyek,
  2. Untuk menyederhanakan pelaksanaan koordinasi proyek dan sebagai sarana untuk media komunikasi antar masing-masing penanggung jawab,
  3. Memperlihatkan hubungan tugas dan jabatan secara jelas, sehingga membantu memastikan bahwa semua tugas dan personil yang diperlukan telah tersusun.
  4. Jadwal Pelaksanaan Proyek

Jadwal pelaksanaan berguna untuk menentukan waktu dan urutan kegiatan-kegiatan proyek, dan dibuat berdasarkan daftar perincian kegiatan.

  1. Sistem Monitoring dan Pelaporan

Dalam rangka pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek dibutuhkan media atau alat yang mampu merangkum informasi-informasi yang harus secara aktif diketahui, diikuti, dan diamati selama pelaksanaan.

  1. Sistem Evaluasi

Evaluasi Ditujukan untuk penyempurnaan pelaksanaan proyek sehingga lebih bersifat berorientasi ke depan, yaitu upaya peningkatan kesempatan demi untuk keberhasilan proyek. Dan dapat memeriksa kemajuan dan kemampuan proyek dalam mengatasi segenap permasalahan yang dihadapi pada setiap saat.

  1. Konsep Pendekatan Tim

Pendekatan tim merupakan upaya membangkitkan semangat untuk menggalang persatuan dalam bekerja sama, memadukan tindakan, meningkatkan komunikasi, mengurangi masalah dan mendorong keikutsertaan mereka yang keterlibatannya diperlukan demi keberhasilan proyek.

Siklus Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Semua kegiatan proyek merupakan suatu siklus mekanisme manajemen yang didasarkan atas tiga tahapan, yaitu : perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (lihat gambar 2.2). Siklus mekanisme manajemen tersebut merupakan proses terus menerus selama proyek berjalan. Oleh karenanya pelaksanaan proyek berlangsung dalam suatu tata hubungan kompleks yang selalu berubah-ubah (dinamis). Rencana semula harus selalu disesuaikan dengan keadaan atau kondisi mutakhir dengan memanfaatkan umpan balikdari hasil evaluasi. Keberhasilan pelaksanaannya tergantung pada upaya dan tindakan yang terkoordinasi dari berbagai satuan organisasi dan jabatan di berbagai jenjang manajemen.

Sistem Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Untuk dapat menangani pelaksanaan proyek dengan baik atau paling tidak dimaksudkan untuk memperkecil peluang timbulnya permasalahan dan mencegah datangnya kesulitan, diperlukan pendekatan dengan menyusun suatu konsep Sistem Manajemen Proyek. Sedangkan konsep sistem yang dimaksud tiada lain adalah penataan serta pengorganisasian atas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan manajemen manajemen proyek.

Sistem manajemen proyek disusun dan dijabarkan menjadi seperangkat pengertian-pengertian, alat-alat, dan petunjuk tata cara yang mudah untuk dilaksanakan sedemikian sehingga :

  1. Mampu menghubungkan dan menjembatani kesenjangan persepsi di antara para perencana pembangunan dan pelaksanaannya, sehingga kesemuanya mempunyai satu kerangka konsep yang sama tentang kriteria keberhasilan suatu proyek,
  2. Dapat memberikan kesamaan bahasa yang sekaligus memadukan tertib teknis dan sosial, yang dapat diterapkan pada setiap proyek disetiap jenjang dengan cara-cara sederhana, jelas, dan sistematis,
  3. Mampu mewujudkan suatu bentuk kerjasama dan koordinasi antar satuan organisasi pelaksanaannya sehingga terwujud suatu semangat bersama untuk merencanakan proyek secara lebih terinci, dan cukup cermat dalam mengantisipasi masalah-masalah yang akan timbul dalam pelaksanaannya.

Sistem Manajemen Proyek yang diberlakukan hendaknya ditujukan untuk dapat digunakan dalam upaya melengkapi tata cara organisasi yang berlaku. Sehingga pemakaian sistem tersebut, khususnya pada proyek-proyek pemerintah, akan membantu para birokrat untuk dapat memenuhi peraturan dan ketentuan pemerintah dalam perencanaan, penyusunan anggaran keuangan dan sistem pelaporan.

Waktu Pelaksanaan Proyek (skripsi dan tesis)

Pelaksanaan pekerjaan dengan manajemen profesional meliputi perencanaan/desainer, pelelangan/tender dan pelaksanaan. Perencanaan jadwal waktu dapat dibuat dengan berbagai cara/teknik yang banyak digunakan antara lain dengan bagan balok (bar chart) maupun jaringan kerja (network planning).

Untuk membuat jadwal kerja dengan bagan balok (bar chart) yang pertama harus diketahui adalah durasi dari tiap-tiap pekerjaan. Durasi dihitung dengan rumus sebagai berikut :

D = V/P

 …………………………………………………………………………… (2.1)

Dimana : D  = durasi

V  = volume pekerjaan

P  = produktivitas per satuan waktu

Selanjutnya pelaksanaan tiap-tiap pekerjaan diplot dengan bentuk balok pada bagan dengan memperhatikan urutan pelaksanaannya dengan pekerjaan-pekerjaan yang lain. Bagan balok sangat bermanfaat karena dapat dikembangkan menjadi kurva S, yaitu grafik yang menunjukkan kemajuan/prestasi pada satuan waktu tertentu untuk seluruh proyek, baik dari sisi perencanaan maupun dari realisasi. Prosentase kemajuan pada kurva S didasarkan pada satuan yang sama, yang disebut bobot. Agar ukuran yang digunakan untuk setiap pekerjaan dalam menghitung bobot sama, maka satuan tiap pekerjaan dinyatakan dalam satuan uang (rupiah). Cara penghitungan bobot pekerjaan adalah sebagai berikut :

A = (B/C) x 100%  …………………………………………………………………… (2.2)

Dimana:

A = Bobot pekerjaan (%)

B = Nilai/Biaya item pekerjaan (Rp)

C = Nilai/Biaya total proyek (Rp)

Perilaku Kegiatan Proyek (skripsi dan tesis)

Pengertian suatu proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber daya untuk mendapatkan manfaat. Kegiatan-kegiatan berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas. Sumber daya yang digunakan dalam pelaksanaan proyek dapat berbentuk barang-barang modal, bahan-bahan mentah, tenaga kerja dan waktu. Sumber daya tersebut sebagian atau seluruhnya dapat dianggap sebagai barang atau jasa, konsumsi yang dikorbankan dari penggunaan masa sekarang untuk memperoleh manfaat yang lebih besar dimasa yang akan datang. Dari pengertian di atas, proyek mempunyai ciri-ciri:

  1. memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir,
  2. jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu dalam proses pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan,
  3. bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas, titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas, dan
  4. tidak berulang, macam dan intensitas kegiatan berubah atau tidak sama.

Kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan selanjutnya dilaksanakan, untuk itu perlu mengorganisir dan mengelola sumber daya yang ada agar tercapai sasaran tersebut. Upaya tersebut bertujuan agar kegiatan-kegiatan dapat berjalan lancar mencapai sasaran tanpa banyak penyimpangan yang berarti. Usaha ini dikenal sebagai proses pengendalian yang merupakan salah satu fungsi manajemen proyek .

Di dalam proses mencapai tujuan tersebut ada batasan yang harus dipenuhi yaitu besarnya biaya yang dialokasikan, jadwal/waktu yang ditentukan serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek.

  1. Biaya/Anggaran

Biaya/anggaran adalah suatu batasan alokasi dana yang ditentukan untuk suatu proyek. Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi dari anggaran yang ditentukan. Anggaran tidak hanya ditentukan secara total proyek melainkan terbagi atas anggaran komponen-komponennya atau per periode tertentu (misalnya per triwulan atau per kwartal) yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian penyelesaian bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode tersebut.

  1. Jadwal/Waktu

Waktu/jadwal adalah suatu rentang masa yang ditetapkan untuk penyelesaian suatu proyek. Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu yang telah ditentukan dalam arti penyerahan akhir proyek tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan.

  1. Mutu

Mutu adalah suatu standar/target yang harus dihasilkan suatu produk dengan biaya dan waktu yang telah ditentukan. Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa produk aspal beton maka kriteria yang harus dipenuhi adalah persyaratan material, pencampuran, dan pelaksanaan penghamparan harus sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan untuk mutu aspal beton tersebut.

               Iman Soeharto (1998) memberikan penjelasan suatu konsep biaya pada suatu pekerjaan (aktivitas) dapat dibagi dalam :

  1. Biaya langsung (direct cost), yaitu biaya yang berkaitan langsung dengan volume pekerjaan yang dilaksanakan antara lain biaya untuk upah tenaga kerja dan bahan/material. Hubungan antara biaya langsung dengan waktu pelaksanaan merupakan garis non linier, apabila waktu pelaksanaan dipercepat maka pada umumnya biaya langsung akan makin tinggi.
  2. Biaya tak langsung (indirect cost), yaitu pengeluaran-pengeluaran untuk overhead, gaji pegawai tetap, biaya sewa dan perawatan alat, asuransi, bunga bank dan sebagainya. Biaya ini mempunyai sifat bahwa apabila waktu pelaksanaan diperlambat maka secara total biaya akan semakin tinggi.

H

Perangkat Manajemen (skripsi dan tesis)

Dalam rangka upaya membentuk suatu Sistem Manajemen Proyek yang lengkap serta kokoh, untuk pelaksanaan pada masing-masing tahapan siklus mekanisme tersebut memerlukan alat-alat manajemen, yang umumnya terdiri dari:

  1. Analisis Masalah

Perencanaan proyek dimulai dari masalah-masalah pokok program pembangunan, menyusun strategi yang lebih luas, dan kemudian memilih proyek-proyek yang akan dapat mencapai tujuan-tujuan program tersebut. Diperlukan cara-cara analisis yang sistematis, sederhana, mudah dikomunikasikan, dan didasarkan pada suatu kerangka pemikiran logis.

  1. Kerangka Logis

Kerangka logis merupakan seperangkat pengertian yang saling berkaitan, yang mampu menjelaskan secara logis tentang :

1)        Mengapa suatu proyek harus dilaksanakan,

2)        Bagaimana proyek akan dilaksanakan,

3)        Faktor-faktor luar apa saja yang mengakibatkan ketidakpastian keberhasilan proyek,

4)        Bagaimana wujud proyek bila sudah selesai,

5)        Bagaimana menetapkan ukuran keberhasilan proyek yang sudah selesai.

  1. Analisis Anggaran Keuangan

Anggaran keuangan disusun secara realistis, bertahap waktu, dengan berorientasi pada kegiatan-kegiatan proyek.

  1. Rincian Tanggung Jawab

Rincian tanggung jawab yang merupakan salah satu perangkat Sistem Manajemen Proyek dengan kegunaannya antara lain sebagai berikut:

  1. Dapat membantu tercapainya kesepakatan mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing individu atau satuan organisasi yang terlibat dalam pelaksanaan proyek,
  2. Untuk menyederhanakan pelaksanaan koordinasi proyek dan sebagai sarana untuk media komunikasi antar masing-masing penanggung jawab,
  3. Memperlihatkan hubungan tugas dan jabatan secara jelas, sehingga membantu memastikan bahwa semua tugas dan personil yang diperlukan telah tersusun.
  4. Jadwal Pelaksanaan Proyek

Jadwal pelaksanaan berguna untuk menentukan waktu dan urutan kegiatan-kegiatan proyek, dan dibuat berdasarkan daftar perincian kegiatan.

  1. Sistem Monitoring dan Pelaporan

Dalam rangka pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek dibutuhkan media atau alat yang mampu merangkum informasi-informasi yang harus secara aktif diketahui, diikuti, dan diamati selama pelaksanaan.

  1. Sistem Evaluasi

Evaluasi Ditujukan untuk penyempurnaan pelaksanaan proyek sehingga lebih bersifat berorientasi ke depan, yaitu upaya peningkatan kesempatan demi untuk keberhasilan proyek. Dan dapat memeriksa kemajuan dan kemampuan proyek dalam mengatasi segenap permasalahan yang dihadapi pada setiap saat.

  1. Konsep Pendekatan Tim

Pendekatan tim merupakan upaya membangkitkan semangat untuk menggalang persatuan dalam bekerja sama, memadukan tindakan, meningkatkan komunikasi, mengurangi masalah dan mendorong keikutsertaan mereka yang keterlibatannya diperlukan demi keberhasilan proyek.

Siklus Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Semua kegiatan proyek merupakan suatu siklus mekanisme manajemen yang didasarkan atas tiga tahapan, yaitu : perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (lihat gambar 2.2). Siklus mekanisme manajemen tersebut merupakan proses terus menerus selama proyek berjalan. Oleh karenanya pelaksanaan proyek berlangsung dalam suatu tata hubungan kompleks yang selalu berubah-ubah (dinamis). Rencana semula harus selalu disesuaikan dengan keadaan atau kondisi mutakhir dengan memanfaatkan umpan balikdari hasil evaluasi. Keberhasilan pelaksanaannya tergantung pada upaya dan tindakan yang terkoordinasi dari berbagai satuan organisasi dan jabatan di berbagai jenjang manajemen.

Sistem Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Untuk dapat menangani pelaksanaan proyek dengan baik atau paling tidak dimaksudkan untuk memperkecil peluang timbulnya permasalahan dan mencegah datangnya kesulitan, diperlukan pendekatan dengan menyusun suatu konsep Sistem Manajemen Proyek. Sedangkan konsep sistem yang dimaksud tiada lain adalah penataan serta pengorganisasian atas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan manajemen manajemen proyek.

Sistem manajemen proyek disusun dan dijabarkan menjadi seperangkat pengertian-pengertian, alat-alat, dan petunjuk tata cara yang mudah untuk dilaksanakan sedemikian sehingga :

  1. Mampu menghubungkan dan menjembatani kesenjangan persepsi di antara para perencana pembangunan dan pelaksanaannya, sehingga kesemuanya mempunyai satu kerangka konsep yang sama tentang kriteria keberhasilan suatu proyek,
  2. Dapat memberikan kesamaan bahasa yang sekaligus memadukan tertib teknis dan sosial, yang dapat diterapkan pada setiap proyek disetiap jenjang dengan cara-cara sederhana, jelas, dan sistematis,
  3. Mampu mewujudkan suatu bentuk kerjasama dan koordinasi antar satuan organisasi pelaksanaannya sehingga terwujud suatu semangat bersama untuk merencanakan proyek secara lebih terinci, dan cukup cermat dalam mengantisipasi masalah-masalah yang akan timbul dalam pelaksanaannya.

Sistem Manajemen Proyek yang diberlakukan hendaknya ditujukan untuk dapat digunakan dalam upaya melengkapi tata cara organisasi yang berlaku. Sehingga pemakaian sistem tersebut, khususnya pada proyek-proyek pemerintah, akan membantu para birokrat untuk dapat memenuhi peraturan dan ketentuan pemerintah dalam perencanaan, penyusunan anggaran keuangan dan sistem pelaporan.

Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Manajemen adalah usaha manusia untuk mencapai tujuan dengan cara yang paling efektif dan efisien. Usaha yang dimaksud adalah bagian dari proses manajemen yaitu suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan secara berurutan atau kronologis. Rangkaian kegiatan dimaksud secara umum yaitu mulai dari penetapan tujuan (goal setting), perencanaan (planning) pengorganisasian (organizing) pelaksanaan (actuating) dan pengawasan/pengendalian (controlling).

  1. Perencanaan

Perencanaan adalah suatu proses yang mencoba meletakkan dasar tujuan dan sasaran termasuk menyiapkan segala sumber daya untuk mencapainya. Perencanaan memberikan pegangan/pedoman bagi pelaksana mengenai alokasi sumber daya dalam melaksanakan kegiatan. Iman Soeharto (1977) secara garis besar menyatakan perencanaan berfungsi untuk meletakkan dasar sasaran proyek, yaitu penjadwalan, anggaran dan mutu. Pengertian diatas menekankan bahwa perencanaan merupakan suatu proses, berarti perencanaan tersebut mengalami tahap-tahap pekerjaan tertentu. Adapun tahapan yang dilalui dalam menyusun suatu perencanaan adalah :

1)      menentukan tujuan yaitu sebagai pedoman yang memberikan arah gerak dari kegiatan yang dilakukan,

2)      menentukan sasaran yaitu suatu titik tertentu yang perlu dicapai untuk mewujudkan suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya,

3)      mengkaji posisi awal terhadap tujuan yaitu untuk mengetahui sejauh mana kesiapan dan posisi, maka perlu diadakan kajian terhadap posisi dan situasi awal terhadap tujuan dan sasaran yang hendak dicapai,

4)      memilih alternatif adalah selalu tersedianya beberapa alternatif yang dapat dipergunakan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran. Dalam memilih alternatif yang paling sesuai untuk suatu kegiatan memerlukan kejelian dan pengkajian yang seksama agar alternatif yang dipilih lebih tepat, dan

5)      menyusun rangkaian langkah untuk mencapai tujuan, proses ini terdiri dari penetapan langkah terbaik yang mungkin dapat dilaksanakan setelah memperhatikan berbagai batasan.

  1. Penjadwalan

Penjadwalan dalam pengertian proyek konstruksi merupakan perangkat untuk menentukan aktifitas yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu proyek dengan urutan serta kerangka waktu tertentu, dimana setiap aktifitas harus dilaksanakan agar proyek selesai tepat waktu dan biaya yang ekonomis (Callahan, 1992). Penjadwalan meliputi tenaga kerja, material, peralatan, keuangan dan waktu. Dengan penjadwalan yang tepat maka beberapa macam kerugian  dapat dihindari seperti keterlambatan, pembengkakan biaya dan perselisihan. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penjadwalan antara lain  bagi pemilik proyek dan pelaksana proyek atau kontraktor.

1)      Bagi Pemilik Proyek dapat digunakan untuk:

  1. a)mengetahui waktu mulai dan selesai proyek,
  2. b)merencanakan aliran kas, dan
  3. c)mengevaluasi efek perubahan terhadap waktu dan biaya proyek.

2)      Bagi Pelaksana Proyek/Kontraktor dapat digunakan untuk :

  1. a)memprediksi kapan suatu kegiatan yang spesifik dimulai dan diakhiri,
  2. b)merencanakan kebutuhan material, peralatan dan tenaga kerja,
  3. c)mengatur waktu keterlibatan sub kontraktor,
  4. d)menghindari konflik antara sub kontraktor dengan pekerja,
  5. e)merencanakan aliran kas, dan
  6. f)mengevaluasi efek perubahan terhadap waktu dan biaya proyek.
  7. Pengendalian

Mockler (1972) dalam  Soeharto (1977) memberikan pengertian tentang pengendalian yaitu adalah usaha yang sistematis untuk menentukan standar yang sesuai dengan sasaran perencanaan, merancang system informasi, membandingkan pelaksanaan dengan standar, kemudian mengambil tindakan pembetulan yang diperlukan agar sumber daya digunakan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai sasaran. Fungsi utama pengendalian adalah memantau dan mengkaji (bila perlu mengadakan koreksi). Pengendalian memantau apakah hasil kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai dengan patokan yang telah digariskan dan memastikan penggunaan sumber daya yang efektif dan efisien.

Manajemen proyek adalah merencanakan, mengorganisir, melaksanakan dan mengendalikan sumber daya untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan. Lebih jauh manajemen proyek menggunakan pendekatan sistem dan hirarki (arus kegiatan) vertikal maupun horizontal.

Manajemen profesional adalah suatu kegiatan yang melibatkan sumber daya di dalamnya, dimana tugas dan tanggung jawab dilakukan secara profesional. Kegiatan yang dimaksud dimulai dari tahapan pembuatan desain, penawaran, penunjukkan pelaksana dan tahapan konstruksi dengan harapan tercapainya tepat mutu, tepat waktu dan tepat biaya.

Manajemen konstruksi mempunyai tugas dan kewajiban untuk menjamin pemilik proyek, akan mendapatkan pelaksanaan proyek yang ekonomis, sesuai dengan kebutuhan pemilik proyek dan menjamin bahwa proyek dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan spesifikasi.

Konsultan perencana mempunyai tugas dan tanggung jawab menangkap ide dan gagasan dari pemilik proyek melalui manajemen konstruksi, kemudian melakukan pengelolaan tahap demi tahap sampai ide tersebut terwujud.

Kontraktor adalah sebagai pelaksana proyek yang diberikan oleh pemilik proyek dengan pengarahan dan pengendalian yang dilakukan oleh manajemen konstruksi, sehingga pelaksanaan sesuai dengan perencanaan yang telah digariskan.

Internal Rate of Return (IRR) (skripsi dan tesis)

Internal Rate of Return (IRR)

Pada metode IRR (Internal Rate of Return) di mana umumnya mencari nilai ekuivalensi cash flow dengan mempergunakan suku bunga sebagai faktor penentu utamanya, dicari adalah suku bunga di saat NPV sama dengan nol. Jadi, pada metode IRR ini informasi yang dihasilkan berkaitan dengan tingkat kemampuan cash flow dalam mengembalikan investasi yang dijelaskan dalam bentuk % periode waktu. Logika sederhananya  menjelasakan seberapa kemampuan cash flow dalam mengembalikan modalnya dan seberapa besar pula kewajiban yang harus dipenuhi. Kemampuan inilah disebut dengan Internal Rate of Return (IRR),

Sedangkan kewajiban disebut dengan Minimum Attractive Rate of Return (MARR). Dengan demikian, suatu rencana investasi akan dikatakan layak jika:

IRR ≥ MARR.

Nilai MARR umumnya ditetapkan secara subjektif melalui suatu pertimbangan tertentu dari investasi tersebut. Dimana pertimbangan yang dimaksud adalah:

  1. Suku bunga investasi
  2. Biaya lain yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan investasi
  3. Faktor risiko investasi

Oleh karena itu, nilai MARR biasanya ditetapkan secara subjektif dengan memperhatikan faktor-faktor di atas. Sementara itu, nilai IRR dihitung berdasarkan estimasi cash flow.

Cara lain untuk mengevaluasi suatu proyek feasibility adalah dengan menghitung Internal Rate of Return (IRR). Internal Rate of Return adalah suatu tingkat bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah seluruh ongkos investasi proyek (Djamin, 1993). Atau dengan kata lain Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat bunga pada saat nilai keuntungan (sekarang). Jika, B adalah benefit atau keuntungan dan C adalah sebagai cost atau biaya, maka Internal Rate of Return (IRR) itu adalah tingkat bunga pada saat B = C atau B – C = 0 atau B/C = 1 (Waldiyono dkk, 1986).

Adakalanya ahli teknik tidak hanya ingin mengetahui apakah proyek tersebut menguntungkan atau tidak, akan tetapi juga ingin mengetahui berapa besar rate of return proyek tersebut. Untuk ini, metode NPV perlu diperdalam, yaitu hubungan antara nilai sekarang bersih dengan rate of return tersebut menggunakan adanya nilai sekarang bersih sama dengan nol. Suatu proyek akan bisa diterima (layak atau tidak dilaksanakan) apabila IRR lebih besar dari tingkat suku bunga.

Break Event Point (BEP) (skripsi dan tesis)

Break Event Point dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana investor dalam kegiatan investasinya telah menghasilkan pendapatan yang sama besarnya dengan jumlah biaya pengeluaran atau seluruh biaya pengeluaran telah tertutupi oleh pendapatan yang dihasilkan atau impas (Martono dan D. Agus Harjito, 2003).

BEP adalah keadaan atau titik dimana kumulatif pengeluaran sama dengan kumulatif pendapatan atau laba sama dengan nol (0), dapat dijelaskan dengan:

  1. Kumulatif pendapatan = kumulatif pengeluaran
  2. Kumulatif pendapatan – kumulatif pengeluaran = 0

Aplikasi titik impas pada permasalahan produksi yang bisa mengakibatkan perusahaan berada pada kondisi impas maka harus dicari fungsi-fungsi biaya maupun pendapatan. Pada saat kedua fungsi tersebut bertemu maka total biaya sama dengan total pendapatan.

Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) (skripsi dan tesis)

Untuk mengkaji kelayakan proyek sering digunakan pula evaluasi yang disebut benefit – cost ratio, B/C Ratio

Rumus yang digunakan sebagai berikut:

                        Nilai sekarang benefit               (PV) B

BCR = ————————————  =          ———-

Nilai sekarang biaya                   (PV) C

Adapun kriteria B/C Ratio akan memberikan petunjuk sebagai berikut:

BCR > 1, usulan proyek diterima.

BCR < 1, usulan proyek ditolak.

BCR = 1, netral

Net Present Value (NPV) (skripsi dan tesis)

Istilah Net Present Value sering diterjemahkan sebagai nilai tunai bersih (sekarang) suatu proyek dikurangi dengan biaya (sekarang) proyek tersebut (Waldiyono dkk, 1986). Maka Net Present Value dari suatu proyek merupakan nilai sekarang (Present Value) dari selisih antara hasil proyek (PV dari benefit) dengan modal yang ditanam (PV dari cost) pada suku bunga tertentu. Dengan demikian untuk menentukan rasio-rasio atau Net Present Value tersebut di atas harus ditetapkan dahulu suku bunga yang akan digunakan, baik untuk menghitung present value benefit maupun cost (Kadariah dkk, 1978).

Secara verbal dapat dinyatakan bahwa Net Present Value (NPV) adalah selisih harga sekarang dari aliran kas bersih (Net Cash Flow / NCF) di masa datang dengan harga sekarang dari investasi awal pada tingkat bunga tertentu (Iman Soeharto, 1995).

Perbedaan antara nilai sekarang dari arus masuk kas dan nilai sekarang dari arus kas keluar. NPV digunakan dalam penganggaran modal untuk menganalisis profitabilitas investasi atau proyek.

Analisis NPV sensitif terhadap keandalan arus kas masa depan yang investasi atau proyek akan menghasilkan.

Kriteria nilai sekarang netto (Net Present Value) didasarkan pada konsep mendiskontokan seluruh aliran kas nilai sekarang. Dengan mendiskontokan semua aliran kas masuk dan keluar selama umur proyek (investasi) ke nilai sekarang,kemudian menghitung netto, maka diketahui selisihnya dengan memakai dasar yang sama, yaitu harga pasar saat ini. Berarti dua hal telah diperhatikan, yaitu faktor nilai waktu dari uang dan selisih besar aliran kas masuk dan keluar dengan demikian sangat membantu mengambil keputusan untuk menentukan pilihan.Adapun kas proyek investasi yang akan dikaji meliputi keseluruhan, yaitu biaya pertama, operasi, produksi, pemeliharaan dan lain-lain pengeluaran. Keuntungan dalam menggunakan metode ini antara lain : memasukkan faktor nilai waktu dari uang, mempertimbangkan semua aliran kas proyek, mengukur besaran absolute dan bukan relative sehingga mudah meningkatkan kekayaan perusahaan atau pemengang saham.

Net Present Value merupakan salah satu teknik capital budgeting yang dapat digunakan untuk menghitung selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih dimasa yang akan datang.

 

NPV = Present cash inflow – Present cash outflow

Menurut Waldiyono dkk (1996), Net Present Value (NPV) sering diterjemahkan sebagai nilai tunai bersih (sekarang) suatu proyek dikurangi dengan biaya (sekarang) proyek tersebut. Jika seandainya present value benefit lebih besar dari present value cost, berarti proyek tersebut layak untuk dilaksanakan atau menguntungkan. Dengan perkataan lain apabila NPV > 0 berarti proyek tersebut menguntungkan, dan sebaliknya jika NPV < 0 maka proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Sedangkan untuk menentukan urutan dari alternatif proyek, diambil berdasarkan nilai NPV yang terbesar sampai dengan yang terkecil. Prioritas utama diberikan kepada proyek yang memiliki nilai NPV besar.

Jika seandainya present value benefit lebih besar dari present value cost, berarti proyek tersebut layak untuk dilaksanakan. atau menguntungkan. Dengan kata lain, apabila NPV > 0 berarti proyek tersebut menguntungkan, dan sebaliknya jika NPV < 0 berarti proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Sedangkan untuk menentukan urutan (ranking) dari berbagai alternatif proyek, diambil berdasarkan nilai NPV yang terbesar sampai dengan yang terkecil. Prioritas utama diberikan kepada proyek yang memiliki nilai NPV terbesar.

Konsep dasar dari metode Net Present Value adalah, bahwa semua penerimaan ataupun pengeluaran mendatang yang berhubungan dengan proyek investasi yang sedang dilaksanakan, diubah kenilai sekarang dengan menggunakan tingkat bunga tertentu, yang menunjukkan jumlah biaya yang terlibat atau tingkat pengembalian yang pantas untuk jumlah biaya tersebut. Metode nilai sekarang dibuat untuk nnemudahkan perhitungan dimana cash flow-nya sangat tidak teratur, akan tetapi biasanya maksud atau implikasi dari metodenya tidak begitu saju mudah dimengerti. Metode ini meliputi perhitungan dari sejumlah uang yang besar, terutama pada proyek-proyek periode jangka panjang.

Penilaian Investasi (skripsi dan tesis)

Dalam analisa proyek ada beberapa kriteria yang sering dipakai untuk menentukan diterima atau tidaknya sesuatu usulan dalam proyek, atau untuk menentukan pilihan antara berbagai macam usulan proyek. Dalam semua kriteria itu baik manfaat (benefit) maupun biaya (cost) dinyatakan dalam nilai sekarangnya (the present value-nya) (Kadariyah, 1986). Beberapa macam kriteria investasi berupa indeks keuntungan proyek dapat mendasari keputusan-keputusan investasi yang akan diambil. Kriteria-kriteria investasi yang penggunaannya dapat dipertanggung-jawabkan yang sering digunakan dalam evaluasi proyek adalah sebagai berikut:

  1. Net Present Value (NPV).
  2. Benefit Cost Ratio (BCR)
  3. Titik Impas / Break Event Point (BEP).
  4. Internal Rate of Return (IRR).

Aliran Kas (Cash Flow) (skripsi dan tesis)

Setiap proyek mempunyai cash inflow dan cash outflow atau arus uang masuk dan arus uang keluar. Masuk dan keluarnya uang digambarkan dalam suatu daftar yang diatur secara sistematis dan kronologis.

Cash Flow (aliran kas) bukan merupakan keuntungan ataupun kerugian perusahaan. Aliran kas bersih merupakan selisih antara nilai aliran kas masuk dari penjualan kas dan sumber lain (misalnya, penjualan mesin lama) dengan aliran kas keluar untuk pembayaran tenaga kerja, bahan mentah, beban tetap, dan pajak. Biasanya, sebagian besar aliran kas masuk itu keluar lagi langsung untuk membayar rekening atau tagihan listrik, pajak, mesin baru, membangun gedung, dan sebagainya. Bagaimanapun juga aliran kas masuk bruto tidak hanya untuk pembayaran pengeluaran sehari-hari, melainkan juga termasuk uang untuk menutupi berkurangnya nilai mesin dan gedung karena lusuh. Pengurangan ini seperti diketahui, disebut penyusutan dan merupakan pengeluaran bukan kas yang dimasukkan dalam laporan rugi-laba perusahaan, yang tentu saja mengurangi keuntungan dan pajak, dan merupakan cara untuk menghindari aliran kas keluar

Biaya Operasional Gedung (skripsi dan tesis)

Biaya operasi dan pemeliharaan gedung merupakan biaya yang harus dikeluarkan secara rutin dalam setiap tahunnya selama umur ekonomis proyek. Biaya operasi dan pemeliharaan gedung menurut Poerbo (1998) meliputi:

  1. Biaya operasi dan pemeliharaan gedung
  2. Biaya listrik, telepon dan AC
  3. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
  4. Asuransi gedung dan peralatan
  5. Biaya personil dari badan pengelola gedung

Pajak Perseroan (Corporation Tax) (skripsi dan tesis)

Besarnya pajak perseroan tergantung peraturan suatu negara pada suatu waktu. Dalam analisis proyek, pajak perseroan diperhitungkan sebesar 30% dari laba yang kena pajak (taxable profit). Poerbo (1998) menyebutkan bahwa laba yang terkena pajak adalah pendapatan kotor atau revenue dikurangi dengan penyusutan, dikurangi dengan biaya operasi dan pemeliharaan gedung, dikurangi lagi dengan bunga.

Berdasarkan buku Petunjuk Pengisian SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak, jumlah hasil penerapan tarif Pasal 17 UU PPh Tahun 2000 atas Penghasilan Kena Pajak adalah sebagai berikut:

  1. Penghasilan kena pajak sampai Rp 50.000.000,00 dikenakan pajak 10 %
  2. Penghasilan   kena   pajak   berikutnya   di   atas   Rp   50.000.000,00 –   Rp 100.000.000,00 dikenakan pajak 15 %
  3. Penghasilan kena pajak berikutnya diatas Rp 100.000.000,00 dikenakan pajak 30%
  4. Penghasilan dimaksud diatas adalah penghasilan bersih perusahaan

Dengan demikian, pengeluaran total proyek yang diperhitungkan dalam evaluasi finansial adalah pengeluaran-pengeluaran untuk pengembalian modal sendiri, pengembalian kredit pinjaman beserta bunganya, pengeluaran operasional dan pemeliharaan, biaya penyusutan untuk barang-barang umur ekonomisnya lebih pendek dari umur ekonomis proyek, dan pengeluaran untuk pajak.

Pengembalian Modal Pinjaman termasuk Bunga (skripsi dan tesis)

Bila selama masa konstruksi tidak dilakukan pembayaran pokok maupun bunga, maka periode tersebut disebut masa tenggang (grace period) tetapi pengembalian modal pinjaman memiliki masa tenggang waktu tertentu. Tenggang waktu tersebut diperhitungkan sejak peminjaman sampai proyek menghasilkan pendapatan atau keuntungan atau setelah berakhirnya masa konstruksi suatu tahapan pelaksanaan. Besarnya modal pinjaman yang harus dikembalikan adalah perkembangan nilai pinjaman akibat pembebanan, bunga sejak modal pinjaman itu dipakai selama masa tenggang waktu (waktu pelaksanaan). Kuiper dalam Kodoatie (1994) menyatakan bahwa terdapat beberapa cara pengembalian hutang, diantaranya adalah:

  1. Pengembalian hutang dengan tidak melakukan cicilan baik cicilan bunga maupun cicilan pokok pinjaman. Untuk metode ini modal pinjaman pada saat ini (present value) akan berkembang menjadi nilai yang akan datang (future value) sesuai dengan tingkat bunga dan masa pengembalian kredit.
  2. Pengembalian hutang dengan hanya membayar bunganya saja selama waktu pinjaman sehingga pada akhir waktu peminjaman, pinjaman yang harus dibayarkan masih sama dengan pinjaman awal.
  3. Pengembalian hutang dengan cara membayar bunga setiap tahun sesuai dengan tingkat bunga selama masa pengembalian kredit ditambah pembayaran angsuran modal pinjaman. Angsuran modal pinjaman ini dapat diartikan sebagai nilai uang yang akan datang (future value) dari modal pinjaman adalah ekivalen dengan nilai pembayaran tahunan (annual payment) sebesar angsuran modal pinjaman selama masa pengembalian kredit pada tingkat suku bunga yang telah ditentukan.
  4. Pengembalian hutang dengan cara melakukan cicilan baik cicilan bunga maupun cicilan pokok pinjaman. Pada metode ini modal berkurang setiap bulan, sehingga bunga yang dikenakan pada pinjaman juga berkurang. Pada penelitian ini diperhitungkan pengembalian modal pinjaman menggunakan metode pengembalian hutang dengan cara melakukan cicilan baik cicilan bunga maupun cicilan pokok pinjaman.

Pengeluaran (skripsi dan tesis)

Yang dihitung sebagai biaya atau pengeluaran proyek (project expenditures) adalah hanya biaya atau ongkos-ongkos yang akan dikeluarkan di masa yang akan datang (future cost) untuk memperoleh penghasilan-penghasilan yang akan datang (future returns) (Pudjosumarto,1988). Untuk pembangunan rusunami, biaya pengeluaran adalah semua pengeluaran pada saat investasi dimulai sampai dengan pekerjaan konstruksi selesai. Pengeluaran untuk suatu pembangunan rusunami adalah meliputi:

  1. Modal sendiri (investasi)
  2. Pengembalian modal pinjaman berikut bunga
  3. Pajak perseroan (corporation tax)
  4. Biaya operasi dan pemeliharaan gedung

Pendapatan (skripsi dan tesis)

Bila komponen biaya adalah biaya yang diperlukan (dikeluarkan) untuk merealisasikan proyek atau investasi menjadi sebuah unit usaha yang diinginkan, maka perkiraan atau proyeksi pendapatan (revenue) adalah perkiraan dana yang masuk sebagai hasil penjualan produksi dari unit usaha yang bersangkutan. Dalam pada itu, analisis titik impas (break even point analysis) akan menunjukkan hubungan antara jumlah produksi, harga satuan dan profitabilitas suatu unit usaha.

Didalam pembangunan Rusunami, yang dimaksud dengan pendapatan (revenue) meliputi hasil penjualan sarusunami, pinjaman modal dan besaran subsidi yang diberikan oleh pemerintah yang bertujuan untuk menekan harga jual sarusunami. Namun pada kenyataannya pendapatan diluar itu masih didapat seperti biaya view yang besaran nilainya setiap lantai berbeda

Perhitungan Terhadap Bunga (skripsi dan tesis)

Sejumlah uang yang dibayarkan untuk memampaskan (compensation) terhadap perolehan dari penggunaan uang disebut bunga atau interest. Tingkat bunga atau rate of interest adalah sejumlah bunga yang dihasilkan dari bagian modal dalam suatu waktu. Tingkat bunga yang biasa dicari dengan persen per tahun atau persen per bulan (Waldiyono dkk, 1986).

Perhitungan bunga ini juga berkaitan dengan perubahan nilai uang terhadap waktu. Perhitungan bunga dilakukan untuk tingkat suku bunga tertentu. Pengertian bunga itu sendiri, adalah sejumlah uang yang harus dibayarkan sebagai imbalan pada waktu pembayaran yang telah ditentukan untuk uang yang dipinjam.

Perhitungan suku bunga ini juga berkaitan dengan perubahan nilai uang terhadap waktu. Persentasenya adalah perbandingan banyaknya bunga dibagi dengan banyaknya uang yang dipinjam, kemudian dikalikan seratus persen (100%).

Dalam hubungannya dengan analisis ekonomi teknik, digunakan 2 (dua) cara umum yaitu, perhitungan bunga biasa dan perhitungan bunga berbunga (compound). Kedua cara tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Perhitungan Bunga Biasa (Simple Interest Calculation)

Perhitungan bunga biasa dihitung dengan menggunakan prinsip menolak semua perkembangan bunga dalam periode terdahulu, jadi perhitungan ini adalah perhitungan bunga tidak berbunga. Total bunga dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

I = P.n

dimana,

I = total bunga (simple rate)

P = modal sekarang (principle)

n = tingkat bunga (interest rate)

Sedangkan jumlah total yang harus dibayar dihitung dengan rumus :

F(n) = P + I

dimana,

F(n) = jumlah yang harus dibayar pada tahun ke-n

  1. Perhitungan Bunga Majemuk (Compound)

Pembayaran bunga pada setiap periode bunga yang ditetapkan pada sejumlah modal asal ditambah pembayaran bunga tersebut sampai saat akhir periode pembayaran disebut bunga majemuk (Waldiyono dkk, 1986). Artinya pada perhitungan bunga compound atau bunga berbunga, bunga untuk satu periode pembayaran dihitung dengan prinsip yang sama dengan bunga biasa, ditambah dengan total semua bunga yang terhitung  sebelumnya.

Apabila modal dinyatakan sebagai P, dan diinvestasikan dengan tingkat bunga sebesar i%, maka secara prinsip bunga pada akhir tahun adalah = P.i

Bunga pada akhir tahun pertama = i

Pada akhir taun pertama, jumlah total = F1

F1 = P + P.i

F1 = P(1 + i)

Bunga pada akhir tahun kedua = i2 = P(1 + i)

Pada akhir tahun kedua, jumlah total = F2

F2 = P(1 + i) + P(1 + i)i

= P(1 + i)(1 + i)

= P(1 + i)2

Bunga pada akhir tahun ketiga = i3 = P(1 + i)2 .i

Pada akhir tahun ketiga, jumlah total = F3

F3 = P(1 + i)2 + P(1 + i)2 .i

= P(1 + i)2 (1 + i)

= P(1 + i)3

Bunga pada akhir tahun ke-n

Pada akhir tahun ke-n, jumlah total = Fn

Fn = P(1 + i)n-1 + P(1 + i)n-1 .i

= P(1 + i)n

Sehingga pada perhitungan bunga majemuk atau bunga berbunga (compound) didapat rumus umum:

Fn = P(1 + i)n

Dalam rumus umum ini (1 + i)n disebut juga single payment amount factor atau compounding factor atau single payment compound amount yang dapat diperoleh lewat tabel.

Perubahan Nilai Uang Terhadap waktu (skripsi dan tesis)

Gagasan bahwa uang yang tersedia saat ini bernilai lebih dari jumlah yang sama di masa depan karena kapasitas pendapatan potensial. Ini prinsip inti keuangan menyatakan bahwa, uang yang disediakan bisa mendapatkan bunga

Uang yang disimpan dalam rekening tabungan akan mendapatkan bunga Karena ini universal, Proses dalam menghitung present value of a future income dinamakan discounting. Tingkat bunga atau interest rate yang digunakan untuk discounting ini dinamakan the discounting rate atau discounting factor. Discounting factor adalah suatu bilangan yang lebih kecil daripada 1 (satu) yang dapat dipakai untuk mengalikan atau mengurangi suatu jumlah di waktu yang akan datang (the future income) (Djamin, 1993).

  1. Present Value

Nilai uang yang tersedia saat ini bernilai lebih dari jumlah yang sama di masa depan karena kapasitas pendapatan potensial. prinsip inti keuangan menyatakan bahwa, uang yang disediakan bisa mendapatkan bunga

  1. Future Value

Adalah nilai asset dimasa mendatang yang setara dengan jumlah tertentu di hari ini dengan mempertimbangkan jangka waktu dan besaran suku bunga

Future Value atau nilai yang akan datang merupakan nilai dari uang di masa yang akan datang setelah diperhitungkan dengan bunga majemuk. Future Value dihitung dengan rumus:

FV = P0 (1+r)n

Dengan P0 adalah nilai saat ini, r adalah besarnya bunga bank, dan n adalah tahun yang diinginkan.

  1. Present Value Factor

Present value factor adalah faktor yang dapat digunakan untuk mempermudah perhitungan untuk mencari nilai sekarang dari serangkaian nilai-nilai. PVIFs dapat disajikan dalam bentuk tabel dengan PVIF nilai dipisahkan oleh masing-masing periode dan kombinasi suku bunga. [1]

Nilai uang dalam arti yang nyata tidak sama dari waktu ke waktu, nilai uang berubah terhadap waktu. Dalam analisis ekonomi teknik, besarnya perubahan tersebut diperhitungkan untuk jangka waktu tertentu. Bila alternatif rekayasa melibatkan investasi kapital untuk perlengkapan, material, dan pekerjaan maka ekonomi teknik analisis biaya proyek dapat dipergunakan sebagai bantuan untuk memutuskan ataupun untuk memilih alternatif mana yang terbaik. Dalam penerapan analisis ini perlu diketahui faktor mutlak yang sangat berpengaruh, yaitu faktor bunga untuk perubahan nilai uang. Nilai uang akan mengalami perubahan dalam rentang waktu yang berbeda. Misalnya, sejumlah uang yang dipinjam akan berubah nilainya satu tahun kemudian pada saat pengembalian. Hal ini  karena perubahan yang terjadi pada waktu antara meminjam dan mengembalikan. Perubahan tersebut dapat mencakup harga barang, material, dan pelayanan. Apabila uang tersebut dipergunakan sendiri oleh pihak pemberi modal untuk suatu  usaha, maka  memilik modal tentu sudah mendapatkan keuntungan satu tahun. Dimana nilai uang ini belum termasuk perhitungan suku bunga pinjaman, tetapi suku bunga pinjaman itu sendiri tergantung langsung dengan perubahan nilai uang. Semakin tinggi perubahan nilai uang, maka semakin besar tingkat suku bunga yang ada. Bila tingkat suku bunga terlalu tinggi maka uang akan semakin sulit bergerak, dalam arti roda ekonomi menjadi semakin lamban. Yang pada akhirnya hal ini mempengaruhi perkembangan dunia usaha karena daya beli masyarakat menurun.

Secara umum perubahan nilai uang tehadap waktu pada suatu negara tergantung kepada:

  1. Tingkat perekonomian negara itu sendiri, dan besarnya pengaruh keadaan negara  terhadap stabilitas ekonominya.
  2. Tingkat perekonomian dunia, dan sejauh mana keadaan dunia mempengaruhi ekonomi negara tersebut.

Kalau perubahan nilai uang terhadap waktu lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang dibebankan pada suatu jenis usaha, maka hasil evaluasi ekonomi teknik terhadap usaha tersebut akan selalu negatif (tidak menguntungkan). Dalam negara berkembang, discount rate yang dipergunakan diambil alih dari pengalaman negara lain yang telah berusaha mengukur social opportunity cost of capital secara sistematis. Oleh lembaga pembiayaan internasional seperti Bank Dunia atau Asian Development Bank sering diajukan angka-angka 10%, 12%, dan 15% sebagai discount rate yang rasional untuk negara  berkembang. Di Indonesia belum ada discount rate yang ditetapkan secara umum oleh Bappenas, namun angka-angka yang dipergunakan biasanya terdapat diantara 10-15 (Gray dkk, 1997).

[1] http://www.investopedia.com/terms/f/futurevalue.asp&rurl=translate.google.co.id

Biaya Investasi (skripsi dan tesis)

Pengertian biaya adalah arus keluar aktiva atau pengguna aktiva lainnya dari suatu investor yang timbul dari penerimaan barang atau jasa. Berdasarkan pendekatan investasi, antara lain:

  1. Biaya Modal adalah jumlah dari semua pengeluaran yang dibutuhkan mulai dari prastudi sampai proyek selesai dibangun. Dalam investasi ini biaya milik investor sendiri bukan pinjaman bank.
  2. Biaya Tahunan adalah biaya yang dikeluarkan oleh pihak pengembang selama pembangunan
  3. Biaya operasional, diperlukan agar dapat memenuhi umur proyek sesuai dengan yang direncanakan pada detail desain.
  4. Bunga, adalah biaya yang terjadi akibat perubahan biaya modal karena adanya tingkat suku bunga selama umur proyek.

Pengertian Investasi (skripsi dan tesis)

Pengertian investasi atau penanaman modal adalah pengikatan sumber-sumber dana dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Dipandang dari sudut perusahaan, investasi adalah konversi uang pada saat sekarang dengan perhitungan untuk memperoleh arus dana atau penghematan arus dana di masa datang. Investasi adalah sebagai proses identifikasi, evaluasi, perencanaan dan pembelanjaan proyek-proyek investasi utama suatu perusahaan (Suad Husnan, 1991). Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa investasi atau penanaman modal merupakan keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pengeluaran dana, dimana jangka waktu kembalinya dana tersebut melebihi satu tahun.

Mekanisme stabilisasi lempung (skripsi dan tesis)

      Mekanisme stabilisasi lempung dengan semen adalah reaksi hidrasi, pozzolanic dan sementasi. Hidrasi adalah suatu proses reaksi kimia semen yang membutuhkan air untuk membentuk media perekat.Hasil hidrasi semen akan membentuk kerangka yang keras secara terus menerus dan tidak berubah lagi (pozzolanic) yang lambat laun akan tersementasi yaitu menjadi suatu struktur yang tahan terhadap pengaruh lingkungan.Kerangka keras tersebut akan memperkuat tanah karena mengikat butiran tanah, mengisi ruang kosong (pori) antar butiran tanah, karena sifat kerangka tersebut impermiabel maka akan mampu mengurangi permeabilitas, kecenderungan untuk swelling juga menurun dan memberikan ketahanan terhadap cuaca.Reaksi ini berjalan lambat sehingga memerlukan masa rawatan tertentu.(Ghani,1991).

      Hardiyatmo (2002)  menyatakan stabilisasi semen adalah untuk menaikan kekuatan tanah, namun reaksi kimia yang menghasilkan kekuatan tersebut belum diketahui dengan jelas dipercaya bahwa dua proses yaitu proses primer dan sekunder.Proses primer terdiri dari hidrolisa dan hidrasi semen, untuk mengikat butiran mineral dan agregat tanah didekatnya.Proses sekunder terdiri dari reaksi antara partikel tanah dan kalsium hidroksida terbebas selama hidrasi semen.

      Kebutuhan air untuk proses hidrasi adalah kurang lebih 25% berat semen (Tjorodimulyo,1996).

      Stabilisasi menggunakan semen tidak tergantung pada jenis mineral tanah yang distabilisasi, sehingga kekuatan dari stabilisasi tergantung pada selimut cairan semen yang mengeras (Rollings dan Rollings,1996).

      Penambahan air pada stabilisasi dengan semen mula mula akan diambil oleh tanah lempung ( karena sifat air yang dipolar yang akan tertarik oleh permukaan lempung bermuatan negatif) sehingga tanah menjadi mengembang menyebabkan bertambahnya jarak antara mineral lempung kemudian tambahan air berikutnya untuk proses hidrasi (semen menyelimuti butiran lempung dan merekatkan antar butiran baik butiran lempung maupun butiran semen sendiri) dan sebagai pelumas mineral lempung pada proses pemadatan proses yang demikian menyebabkan kebutuhan air untuk stabilisasi relatif besar.(Ghani,1991).

      Rollings dan Rollings (1996) bahwa portland semen pada saat dicampur dengan tanah atau agregat akan meningkatkan kekuatan tanah karena adanya proses hidrasi pada semen portland.Keuntungan utama penggunaan semen sebagai bahan stabilisasi adalah ikatan sementasi yang kuat yang akan mengikat partikel tanah menjadi satu kesatuan yang tersementasi.

Stabilisasi Tanah (skripsi dan tesis)

Ingles dan Metcalf (1972), menyatakan bahwa perubahan sifat tanah untuk mendapatkan persyaratan teknis tertentu disebut Stabilisasi.

      Stabilisasi adalah usaha untuk mempertinggi kemampuan tanah untuk mendapatkan pemadatan optimal.(Soekoto,1984).

Stabilisasi tanah menurut Bowles (1984), adalah meliputi salah satu tindakan dibawah ini yaitu :

  1. Menambah kerapatan tanah;
  2. Menambah material yang tidak aktif sehingga meningkatkan kohesi dan atau   tahanan gesek yang timbul;
  3. Menambah bahan tertentu yang menyebabkan terjadinya perubahan kimiawi dan atau fisis pada tanah;
  4. Menurunkan muka air tanah;
  5. Menganti tanah yang buruk dengan tanah yang lebih baik;

Secara umum stabilisasi tanah dapat dibedakan kedalam dua jenis stabilisasi yaitu : Stabilisasi mekanis yang bertujuan untuk menambah kekuatan atau kapasitas dukung tanah dan mengatur gradasi butir tanah.Sedangkan stabilisasi kimiawi adalah mengandalkan kepada suatu bahan stabilisator yang dapat mengubah dan mengurangi sifat tanah yang kurang menguntungkan dalam mencapai kestabilan yang tinggi.(Soekoto,1984)

      Umumnya tanah yang mengandung banyak lempung sulit dicampur dan kadang bahan tambah dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan sifat yang berarti, diketahui bahwa hasil yang baik dalam stabilisasi semen adalah bila tanah bergradasi baik dan mempunyai butiran halus kurang dari 50%, serta plastisitas kurang dari 18% serta batas cair kurang dari 40%.Stabilisasi tanah-semen untuk lempung walaupun kadar semen sudah ditinggikan dalam tanah lempung namun kekuatan campuran lempung – semen sangat lebih kecil dibandingkan dengan tanah berpasir dan kerikil berpasir.( Hardiyatmo,2006).

      Semen dapat bereaksi dengan semua jenis tanah dan jumlah semen yang ditambahkan untuk stabilisasi tanah lempung berkisar antara 6% – 10% berat kering tanah.(Soekoto,1984).

      Lambe (1962) dalam Hardiyatmo (2006), menyatakan banyaknya kadar semen dalam campuran tanah-semen dapat dilihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Kadar semen yang baik untuk campuran tanah-semen ( Lambe,1962)

Macam tanah Kadar semen (% terhadap berat)
Kerikil 5 – 10
Pasir 7 – 12
Lanau 12 – 15
Lempung 12 – 20

   

Air Sebagai Campuran Semen (skripsi dan tesis)

      Pada umumnya semua jenis air dapat digunakan untuk stabilisasi semen, air minum termasuk yang paling baik air dengan kandungan organik tinggi dapat menyebabkan masalah sehingga penggunaanya harus dihindari.Beberapa loam dan lempung membutuhkan kadar air tinggi pada saat pemadatan,dan dapat menyebabkan kekuatan yang lebih rendah Ingels dan Metcalf (1972)  dalam Hardiyatmo (2002).

      Kadar air selalu tergantung pada daya pemadatan, bilamana daya pemadatan berlainan maka kadar air optimum juga akan berlainan.(Wesley 1997).

      Tanah berbutir halus khususnya tanah lempung akan banyak dipengaruhi air, karena pada tanah berbutir halus luas permukaan spesifik menjadi lebih besar, variasi kadar air akan mempengaruhi plastisitas tanah.(Hardiyatmo,2002).

      Hardiyatmo (2002), menyatakan Satu molekul air merupakan batang yang mempunyai muatan positif dan negatif pada ujung yang berlawanan atau dipolar (dobel kutub).Mekanisme yang menyebabkan molekul air dipolar dapat tertarik oleh permukaan partikel lempung secara elektrik (Gambar 2.1):

  1. Tarikan antara permukaan bermuatan negatif dari partikel lempung dengan ujung positif dari dipolar.
  2. Tarikan antara kation dalam lapisan ganda dengan muatan negatif dari ujung dipolar kation-kation ini tertarik oleh permukaan partikel lempung yang bermuatan negatif.
  1. Stabilisasi Tanah

Ingles dan Metcalf (1972), menyatakan bahwa perubahan sifat tanah untuk mendapatkan persyaratan teknis tertentu disebut Stabilisasi.

      Stabilisasi adalah usaha untuk mempertinggi kemampuan tanah untuk mendapatkan pemadatan optimal.(Soekoto,1984).

Stabilisasi tanah menurut Bowles (1984), adalah meliputi salah satu tindakan dibawah ini yaitu :

  1. Menambah kerapatan tanah;
  2. Menambah material yang tidak aktif sehingga meningkatkan kohesi dan atau   tahanan gesek yang timbul;
  3. Menambah bahan tertentu yang menyebabkan terjadinya perubahan kimiawi dan atau fisis pada tanah;
  4. Menurunkan muka air tanah;
  5. Menganti tanah yang buruk dengan tanah yang lebih baik;

Secara umum stabilisasi tanah dapat dibedakan kedalam dua jenis stabilisasi yaitu : Stabilisasi mekanis yang bertujuan untuk menambah kekuatan atau kapasitas dukung tanah dan mengatur gradasi butir tanah.Sedangkan stabilisasi kimiawi adalah mengandalkan kepada suatu bahan stabilisator yang dapat mengubah dan mengurangi sifat tanah yang kurang menguntungkan dalam mencapai kestabilan yang tinggi.(Soekoto,1984)

      Umumnya tanah yang mengandung banyak lempung sulit dicampur dan kadang bahan tambah dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan sifat yang berarti, diketahui bahwa hasil yang baik dalam stabilisasi semen adalah bila tanah bergradasi baik dan mempunyai butiran halus kurang dari 50%, serta plastisitas kurang dari 18% serta batas cair kurang dari 40%.Stabilisasi tanah-semen untuk lempung walaupun kadar semen sudah ditinggikan dalam tanah lempung namun kekuatan campuran lempung – semen sangat lebih kecil dibandingkan dengan tanah berpasir dan kerikil berpasir.( Hardiyatmo,2006).

      Semen dapat bereaksi dengan semua jenis tanah dan jumlah semen yang ditambahkan untuk stabilisasi tanah lempung berkisar antara 6% – 10% berat kering tanah.(Soekoto,1984).

      Lambe (1962) dalam Hardiyatmo (2006), menyatakan banyaknya kadar semen dalam campuran tanah-semen dapat dilihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Kadar semen yang baik untuk campuran tanah-semen ( Lambe,1962)

Macam tanah Kadar semen (% terhadap berat)
Kerikil 5 – 10
Pasir 7 – 12
Lanau 12 – 15
Lempung 12 – 20

   

Semen (skripsi dan tesis)

  1. Semen Portland

      Menurut SII.0013-81 Semen Portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikat silikat kalsium yang bersifat hidrolis bersama bahan tambahan yang biasanya bahan digunakan adalah Gips.

      Nama semen Portland dipatenkan oleh Joseph Aspdin pada tahun 1824 pada material berbentuk bubuk yang merupakan susunan air dan pasir menyerupai sumber batuan kapur alam yang berada dipulau kecil Portland Inggris (Derucher dkk,1998).

      Semen merupakan stabilizing agents yang baik sekali, mengingat bahwa kemampuannya mengeras dan mengikat butir – butir agregat sangat bermanfaat bagi usaha kita mendapatkan masa tanah yang kokoh dan tahan terhadap deformasi.Semen dapat bereaksi pada hampir semua jenis tanah dari yang jenis kasar non kohesip sampai yang sangat plastis sekalipun.(Soekoto,1984).

      Widjojo(1997) menyatakan diantara bahan ikat yang telah diketahui semenlah yang terpenting, karena semen dapat mengadakan pengikatan dan pengerasan didalam air.

      Distribusi ukuran butiran semen yaitu sekitar 0,5 mikron dan 100 mikron, dengan rata rata sekitar 20 mikron (Hardiyatmo,2006).

  1. Susunan semen

      Tjokrodimuljo (1996) menyampaikan tentang kandungan oksida pada bahan dasar semen portland yaitu dapat dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3. Kadar Oksida bahan dasar semen portland (Tjokrodimuljo,1996)

Oksida Jumlah (%)
Kapur,CaO

Silika,SiO2

AluminaAl2O3

Besi,Fe2O3

Magnesia,MgO

Sulfur,SO3

Soda/Potas,Na2+K2O

60 – 65

17 – 25

3 – 8

0,5 – 6

0,5 – 4

1 – 2

0,5 – 1

    Widjojo (1977) menyatakan senyawa kimia yang terdapat pada klinker semen portland seperti Tabel 2.4.

Tabel 2.4 Komposisi susunan kimiawi (Widjojo,1977)

Rumus kimia Singkatan Nama
3CaO.SiO2 C3S Alit
2CaO.SiO2 C2S Belit
2CaO.SiO2 C2S Felit
4CaO.AL2O3.Fe2O3 C4AF Celit
3CaO.AL2O3 C3A Celit
5CaO.3AL2O3 C5A3 Celit

 

      Menurut Tjokrodimulyo (1996) fungsi susunan kimiawi semen adalah :

  1. C3S berpengaruh besar pada pengerasan semen sebelum 14 hari.
  2. C2S berpengaruh besar pada pengerasan setelah 7 hari menyebabkan semen tahan terhadap serangan zat kimia dan mengurangi susut akibat pengeringan.
  3. C3A bereaksi cepat dan akan meningkatkan kekuatan setelah 24 jam.
  4. C4AF belum diketahui fungsinya

      Nilson dan Winter (1991) mengemukakan bahan baku pembentuk semen adalah kapur (CaO) dari batu kapur, Silika (SiO2) dari lempung dan alumina (Al2O3) dari lempung dan sedikit presentase dari Magnesia (Mg0), dan terkadang sedikit Alkali, Oksida besi terkadang ditambah untuk mengontrol komposisinya.

  1. Jenis dan sifatsemen portland

Dari berbagai macam jenis semen portland menurut SII.0013-18 adalah sebagai berikut :

  1. Jenis I             Semen Portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan-persyaratan khusus seperti yang diisyaratkan pada jenis jenis lain.
  2.     Jenis  II          Semen Portland yang dalam penggunaanya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang.
  3.      Jenis  III         Semen Portland yang dalam penggunaanya memerlukan kekuatan yang tinggi pada fase permulaan setelah pengikatan terjadi.
  4.     Jenis   IV         Semen Portland yang dalam penggunaanya memerlukan panas hidrasi yang rendah.
  5.     Jenis  V           Semen Portland yang dalam penggunaanya memerlukan ketahanan yang tinggi terhadap sulfat.

  1. Warna

      Ciri dari semen portland adalah merupakan bubuk halus, biasanya berwarna abu abu dengan ukuran butiran antara 0,5 mikron sampai dengan 80 mikron. (Kerbs dan Walker,1971).

      Warna semen portland tanpa tercampur bahan lain, berwarna abu-abu kehijauan dan setelah membatu menjadi abu-abu kebiru-biruan.(Widjojo,1997).

  1. Berat jenis

      Semen portland sebagian besar partikel lolos saringan 200 dengan spesific gravity berkisar antara 3,12 sampai 3,20.(Kerbs dan Walker,1971).

c.Pengikatan

      Widjojo (1977) Tepung semen portland yang dicampur dengan air hingga menjadi bubur akan mengeras didalam waktu tertentu. Hal ini disebabkan adanya reaksi antara senyawa semen dengan air. Air berlaku sebagai penghidrat dan penghidrolisanya, reaksi hidrasi merupakan suatu reaksi pengikatan air secara kimia hingga terbentuk senyawa hidrat berupa kristal dari senyawa

3 CaO.AL2 O3 + 6H2O —— 3 CaO.AL2O3.6H22O

      Reaksi hidrolisa adalah suatu reaksi pemecahan garam dengan air menjadi asam dan basah dengan reaksi yang terjadi pada silikat-trikalsium :

2[3CaO.SiO2]  + nH2O—— 3CaO.2SiO2.nH2O + 3Ca(OH)2

d.Waktu pengikatan

      Waktu pengikatan semen dibagi 2 ialah masa ikatan awal dan masa ikatan akhir.Ikatan awal untuk semua jenis semen tidak boleh kurang dari 60 menit.hal ini perlu untuk memberikan cukup waktu guna pengolahan sebelum semen tersebut dipergunakan.(Widjojo,1977).

      Pencampuran tanah dan semen tidak boleh lebih dari 30 menit mulai pemadatan tidak boleh lebih dari satu jam setelah pencampuran dan berakhirnya proses pemadatan tidak boleh lebih dari dua jam.(Rollings dan Rollings,1996).

Penanganan Tanah Ekspansif (skripsi dan tesis)

Prosedur penanganan yang dapat digunakan untuk stabilisasi tanah ekspansif sebelum dan sesudah konstruksi jalan adalah dengan langkah-langkah sebagai berikut: (Nelson, 1991)

1.      Stabilisasi Kimiawi (chemical additive)

a.       Stabilisasi Kapur

Stabilisasi kapur banyak dilakukan dengan berhasil pada proyek pengerjaan jalan  karena mampu menurunkan nilai swelling dan meningkatkan plastisitas tanah serta kemampuan tanah dengan mencampurkan kapur pada tanah subgrade dengan konsentrasi tertentu. Mekanisme utama dari stabilisasi kapur adalah adanya reaksi pertukaran kation, flokulasi-aglomerasi, larbonasi kapur, dan reaksi pozzolanic.  

b.      Stabilisasi semen

Stabilisasi semen memanfaatkan reaksi hidrasi semen yang merupakan reaksi pozolanic kompleks dari komponen-komponen penyusun semen. Hasil dari pencampuran semen dengan tanah ekspansif adalah pengurangan batas cair (LL), pengurangan indeks palstisitas (IP), mengurangi perubahan volume potensial (swell potensial) dan meningkatkan tegangan geser. Mekanisme pencampurannya hampir serupa dengan kapur.

c.       Treatment garam

Jenis garam yang digunakan untuk proses stabilisasi ini adalah jenis garam NaCl dan CaCl. Natrium klorida (NaCl) dapat meningkatkan batas kerut (srhinkage limit) dan tegangan geser, sedangkan kalsium klorida (CaCl) dapat menstabilkan perubahan kadar cairan dalam tanah sehingga mengurangi potensi pengembangan. Namun usaha stabilisasi dengan kapur secara ekonomis kurang meguntungkan mengingat durasi ketahannannya hany maksimal sampai 3 tahun saja.

d.      Senyawa organik

Beberapa senyawa organik telah dicoba untuk usaha stabilisasi tanah ekspansif, namun salah satu senyawa organik yang dapat diaplikasikan dengan baik adalah resin (damar). Mekanismenya adalah mencampurkan secara langsung resin dengan tanah ekspansif hingga tanah mengeras.

2.      Pembasahan (prewetting)

Pembasahan dilakukan berdasarkan teori bahwa peningkatan kadar air tanah ekspansif maka volume tanah ekspansif terhitung pada kondisi kembang maksimumnya. Pembasahan dilakukan sebelum konstruksi, namun upaya ini akan memerlukan waktu yang lama bahkan sampai beberapa tahun jika tanah ekspansif yang ditreatmen memiliki konduktifitas hidrolik yang rendah.

Upaya stabilisasi dengan pembasahan dapat dilakukan dengan sukses pada saat musim kering terjadi karena tanah ekspansif memiliki densitas yang rendah dan mampu menyerap air dengan cepat. Pembasahan untuk meningkatkan kadar air hingga 2 -3 % di atas batas plastis (PL) ternyata mampu memberikanhasil yang memuaskan terhadap nilai stabilitas tanah.

3.      Penggantian tanah dengan Pemadatan (soil replacement with compaction)

Penggantian tanah ekspansif dengan tanah non ekspansif dapat memberikan satbilitas yang lebih baik. Beberapa keunggulan penggunaan metode ini adalah bahwa tanah non ekspansif dapat dipadatkan mencapai kadar kering yang tinggi  bahkan melampaui  berat kering dari hasi stabilisasi pembasahan, biaya yang dikeluarkan dapat lebih kecil mengingat peralatan yang dipergunakan untuk metode ini sangat sederhana, penggantian tanah dapat dilakukan dengan cepat.

Namun pada umunya lapisan tanah ekspansif terlalu dalam dan besar untuk dilakukan penggantian sehingga menjadi tidak ekonomis untuk dilakukan, dan jika tanah stabil yang digunakan untuk mengganti tanah ekspansif tidak berada di sekitar daerah konstruksi maka akan menimbulkan biaya tersendiri untuk mendatangkannya.

4.      Kendali kadar air (moisture control)

Ekspansifitas tanah merupakan akibat dari fluktuasi kadar air dalam tanah. Jika fluktuasi kadar air dalam tanah dapat dikendalikan maka akan didapatkan tanah yang stabil. Sebagai persiapan proyek konstruksi jalan maka pengendalian kadar air tanah yang dapat dilakukan pada umumnya dilakukan secara horizontal dan vertikal. 

Selain poypropilen, bahan lain yang dapat dipergunakan sebagai membran adalah aspal karena sifat anti air yang dimilikinya serta fleksibilitasnya yang tinggi. Penggunaan beton sebagai barier juga sering dilakukan, yaitu dengan cara membuat slab beton di bahu jalan dengan lebar tertentu dan menanambahkan slab beton di bawah barier tersebut secara horisontal.

5.      Pembebanan (surcharge loading)

Akibat pengembangan tanah ekspansif dapat diminamlisir dengan memberikan pembebanan yang cukup pada lapisan subgrade. Biasanya metode ini mampu bekerja secara efektif pda tanah yang memiliki derajat ekspansi yang rendah. Analisis laboratorium yang komprehensif sangat diperlukan jika ingin menggunakan  metode ini agar dapat diperhitungkan berat pembebanan yang sesuai. Pada prakteknya banyak tanah ekspansif memiliki derajat ekspansifitas sangat tinggi sehingga sangat tidak mungkin untuk dilakukan pembebanan.

 

6.      Metode thermal (thermal method)

Metode ini dilakukan dengan cara membakar tanah ekspansif sampai suhu 200% sehingga potensial swelnya dapat diturunkan. Namun pengujian secara ekonomis terhadap metode ini belum dilakukan

Potensi pengembangan (skripsi dan tesis)

      Menurut seed dkk (1962) dalam Hardiyatmo (2002) mendefinisikan potensi pengembangan (swell potential) adalah persentase pengembangan dibawah tekanan 6,9 kPa pada contoh tanah yang terbebani secara terkekang pada arah lateral dengan contoh tanah yang dipadatkan pada kadar air optimum sehingga mencapai berat volume kering maksimumnya.

      Menurut Victorine dkk (1997) dalam Syawal (2004) mengukur potensi kembang susut tanah diperlukan dua metoda yaitu pengukuran langsung dan tidak langsung.Metoda langsung dengan mengadakan pengujian sebenarnya terhadap pengembangan, metoda tidak langsung melibatkan klasifikasi dan sifat-sifat fisik tanah untuk memperediksi potensi kembang susut.

a.Metoda langsung ( direct method )

      Dalam menentukan besarnya potensi pengembangan (swell potential) untuk tanah ekspansif  dilakukan pengujian dilaboratorium dengan menngunakan alat type konsolidometer. Pengembangan yang diukur adalah pengembangan arah vertikal setelah tanah sampel digenangi air, ratio dari tinggi awal sampel kedeformasi didefinisikan sebagai persen pengembangan.

b.Metoda tidak langsung (indirect method)

      Seed dkk (1962) dalam Hardiyatmo (2002) memberikan klasifikasi nilai potensi pengembangan yang diperoleh dilaboratorium, dapat diperlihatkan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Klasifikasi potensi pengembangan (Seed dkk,1962)

Derajat ekspansif Potensi pengembangan, S(%)
Rendah

Sedang

Tinggi

Sangat tinggi

0 – 1,5

1,5 – 5

5 – 25

> 25

       Menurut Mechan and Karp (1994) dalam Day (1999) potensial mengembang dapat diketahui berdasarkan nilai prosentasi lempung (ukuran butir < 0,002 mm) dan indeks plastisitas seperti Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Hubungan potensial mengembang dengan IP (Day,1999)

No. %d<0,002 mm Indeks Plastisitas Potensial mengembang
1 0-10 0% – 10% Sangat rendah
2 10-15 10% – 15% Rendah
3 15-25 15% – 25% Medium
4 25-35 25% – 35% Tinggi
5 >35 >35 Sangat tinggi

Tanah Ekspansif (skripsi dan tesis)

Tanah ekspansif adalah tanah berlempung yang mempunyai ciri-ciri yaitu mengalami perubahan volume yang besar dalam merespon langsung  perubahan  kadar air. Tanah ekspansif cenderung mengalami peningkatan volume yaitu akan mengembang (swell) ketika kadar air pada tanah meningkat dan mengalami penyusutan (shrink) ketika kadar air pada tanah menurun.Walaupun potensi ekspansif dapat dihubungkan dengan banyak faktor seperti susunan dan struktur tanah, kondisi lingkungan, dan lain sebagainya, semua itu yang menjadi kontrol utamanya adalah mineralogi tanah lempung.Tanah yang mengandung kaolinite yang berplastisitas rendah cenderung untuk memperlihatkan suatu potensi kembang susut yang lebih rendah dibandingkan tanah yang mengandung montmorillonite yang berplastisitas tinggi.(Syawal,2004).