Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (skripsi dan tesis)

Orang dewasa yang berusia 20 tahun keatas, indeks massa tubuh (IMT) diinterpretasi menggunakan kategori status berat badan standar yang sama untuk semua umur bagi laki-laki dan perempuan. Interpretasi IMT pada anak-anak dan remaja adalah spesifik mengikut usia dan jenis kelamin (Soegondo. 2012). Untuk selanjutnya klasifikasi indeks massa tubuh akan disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 2.1 Klasifikasi Indeks Massa Tubuh

Kategori Kg/m2
BB kurang < 18.5 BB
normal 18.5 – 22.9
Overweight 23.0 – 24.9
Obes I 25.0 – 29.9
Obes II > 30

Sumber: Centre for Obesity Research and Education 2007

 

Tabel 2.2. Tabel IMT berdasarkan usia dan jenis kelamin untuk anak-anak dan remaja

Kategori Kg/m2
BB kurang Berdasarkan usia di bawah persentil 5
BB normal Berdasarkan usia antara persentil 5 – 85
Memiliki risiko kelebihan berat Berdasarkan usia antara 85 – 95
BB lebih Berdasarkan usia di atas 95

Sumber: Centre for Obesity Research and Education 2007

Pengertian Indeks Massa Tubuh (skripsi dan tesis)

Indeks massa tubuh (IMT) adalah nilai yang diambil dari perhitungan antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang. IMT dipercayai dapat menjadi indikator atau mengambarkan kadar adipositas dalam tubuh seseorang. IMT  tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi penelitian menunjukkan bahwa IMT berkorelasi dengan pengukuran secara langsung lemak tubuh seperti underwater weighing dan dual energy x-ray absorbtiometry (Grummer-Strawn LM et al., 2012). IMT merupakan altenatif untuk tindakan pengukuran lemak tubuh karena murah serta metode skrining kategori berat badan yang mudah dilakukan.

IMT juga dikaitkan dengan rumus matematis yang dinyatakan sebagai berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Penggunaan rumus ini hanya dapat diterapkan pada seseorang berusia antara 19 hingga 70 tahun, berstruktur tulang belakang normal, bukan atlet atau binaragawan, dan bukan ibu hamil atau menyusui. Pengukuran IMT ini dapat digunakan terutama jika pengukuran tebal lipatan kulit tidak dapat dilakukan atau nilai bakunya tidak tersedia (Supariasa dan Dewa Nyoman I. 2012)

Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut: Menurut rumus metrik:

Sumber: Grummer-Strawn LM et al., 2012.

Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah (skripsi dan tesis)

Menurut American Diabetes Association (2014), ada berbagai cara yang biasa dilakukan untuk memeriksa kadar glukosa darah, di antaranya:

1)      Tes Glukosa Darah Puasa

Tes glukosa darah puasa mengukur kadar glukosa darah setelah tidak mengkonsumsi apa pun kecuali air selama 8 jam. Tes ini biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum sarapan.

Tabel 2.4. Klasifikasi Kadar Glukosa Darah Puasa

 

Hasil

Kadar Glukosa Darah Puasa
Normal                                           Kurang dari 100 mg/dL
Prediabetes                                             100 – 125 mg/dL
Diabetes                                    Sama atau lebih dari 126 mg/dL

Sumber : American Diabetes Association (2014)

2)      Tes Glukosa Darah Sewaktu

Kadar glukosa darah sewaktu disebut juga kadar glukosa darah acak atau kasual. Tes glukosa darah sewaktu dapat dilakukan kapan saja. Kadar glukosa darah sewaktu dikatakan normal jika tidak lebih dari 200 mg/dL.

3)      Uji Toleransi Glukosa Oral

Tes toleransi glukosa oral adalah tes yang mengukur kadar glukosa darah sebelum dan dua jam sesudah mengkonsumsi glukosa sebanyak 75 gram yang dilarutkan dalam 300 mL air.

Tabel 2.5. Klasifikasi Hasil Uji Toleransi Glukosa Oral

 

Hasil

Hasil Uji Toleransi Glukosa Oral
Normal                                           Kurang dari 140 mg/dL
Prediabetes                                             140 – 199 mg/dL
Diabetes                                    Sama atau lebih dari 200 mg/dL

Sumber : American Diabetes Association (2014)

4)      Uji HBA1C

Uji HBA1C mengukur kadar glukosa darah rata-rata dalam 2 – 3 bulan terakhir. Uji ini lebih sering digunakan untuk mengontrol kadar glukosa darah pada penderita diabetes.

Tabel 2.6. Klasifikasi Kadar HBA1C

 

Hasil

Kadar HBA1C
Normal                                          Kurang dari 5,7%
Prediabetes                                             5,7 – 6,4 %
Diabetes                                    Sama atau lebih dari 6,5%

Sumber : American Diabetes Association (2014)

  1. Faktor – faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah

Menurut Suyono (2009) faktor – faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah adalah :

1)      Umur

Semakin tua umur seseorang maka resiko peningkatan kadar glukosa darah dan gangguan toleransi glukosa akan semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena melemahnya semua fungsi organ tubuh termasuk sel pankreas yang bertugas menghasilkan insulin. Sel pankreas bisa mengalami degradasi yang  menyebabkan hormon insulin yang dihasilkan terlalu sedikit, sehingga kadar gula darah menjadi tinggi.

2)      Indeks Massa Tubuh

Indeks Massa Tubuh yang berlebihan dan obesitas menggambarkan gaya hidup yang tidak sehat. Salah satu penyebab yang sering ditemukan adalah karena makan berlebih. Pola hidup yang seperti ini dapat memperberat kerja organ tubuh termasuk kerja sel pankreas yang memproduksi hormon insulin dalam jumlah yang banyak karena banyaknya bahan makanan yang dikonsumsi.

3)      Diet dan Susunan Makanan

Jenis diet dan komposisi makanan juga mempengaruhi kadar gula darah. Diet dengan pola menu seimbang lebih dianjurkan untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh dan dapat menghindarkan dari beberapa jenis penyakit – penyakit khususnya penyakit degeneratif. Konsumsi makanan dalam jumlah yang tidak berlebihan dan teratur dapat mencegah pelonjakan kadar glukosa darah secara tepat. Jumlah total kalori seseorang dikategorikan baik adalah berkisar antara 80 % – 100 % dari total kalori yang dianjurkan. Cara menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan seseorang adalah dengan menggunakan rumus Harris Beneict yang mempertimbangkan jenis kelamin, BB, TB, umur, dan faktor aktifitas.

4)      Jenis Makanan

Pemilihan jenis makanan sangat berperan dalam mengendalikan kadar gula darah. Makanan yang tinggi serat dan pemilihan jenis karbohidrat kompleks yang mempunyai indeks glikemik yang rendah dapat mengendalikan kadar gula darah dengan cara yang lebih aman dan sehat. Jenis makanan dengan indeks glikemik yang tinggi dapat mempercepat kenaikan kadar gula darah dan jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat mempercepat munculnya Gangguan Toleransi Glukosa (GTG). Apabila individu mengkonsumsi makanan indeks glikemik tinggi dalam jangka panjang, kebutuhan insulin tentunya akan bertambah banyak, terjadi hiperinsulinemia yang akhirnya muncul gangguan toleransi glukosa. (Pemayun, 2007)

5)      Jenis Kelamin

Kadar glukosa darah menurut jenis kelamin sangat bervariasi. Kadar glukosa darah perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki – laki di Amerika. Hal ini berarti risiko gangguan toleransi glukosa pada wanita Amerika lebih tinggi dibandingkan laki – laki. Sama halnya dengan Amerika, wanita di Indonesia mempunyai risiko gangguan toleransi glukosa lebih tinggi dibandingkan dengan laki – laki, hal ini disebakan karena tingkat aktifitas fisik wanita Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan laki – laki, serta pada wanita diketahui komposisi lemak tubuh lebih tinggi dibandingkan dengan laki – laki. Komposisi lemak yang tinggi menyebabkan wanita akan cenderung lebih mudah gemuk dan hal ini berkaitan dengan risiko GTG. (Pemayun, 2007)

6)      Aktifitas Fisik

Aktifitas fisik secara teratur menambah sensitifitas insulin dan menambah toleransi glukosa. Penelitian prospektif memperlihatkan bahwa aktifitas fisik berhubungan dengan berkurangnya risiko terhadap gangguan toleransi glukosa terutama pada kelompok berisoko tinggi yaitu wanita usia > 40 tahun dengan BB berlebih. Aktifitas fisik mempunyai efek menguntungkan pada lemak tubuh, distribusi lemak tubuh, dan kontrol glukosa darah sehingga dapat mencegah terjadinya Gangguan Toleransi Glukosa (GTG). Olah raga dapat mencegah peningkatan kadar gula darah disebabkan karena bertambahnya sensitivitas insulin yang dapat dicapai dengan pengurangan Indeks Massa Tubuh melalui bertambahnya aktifitas fisik. (Pemayun, 2007)

Definisi Glukosa Darah (skripsi dan tesis)

Glukosa adalah karbohidrat terpenting bagi tubuh karena glukosa bertindak sebagai bahan bakar metabolik utama. Glukosa juga berfungsi sebagai prekursor untuk sintesis karbohidrat lain, misalnya glikogen, galaktosa, ribosa, dan deoksiribosa. Glukosa merupakan produk akhir terbanyak dari metabolisme karbohidrat. Sebagian besar karbohidrat diabsorpsi ke dalam darah dalam bentuk glukosa, sedangkan monosakarida lain seperti fruktosa dan galaktosa akan diubah menjadi glukosa di dalam hati. Karena itu, glukosa merupakan monosakarida terbanyak di dalam darah (Murray, Granner, dan Rodwell, 2009).

Selain berasal dari makanan, glukosa dalam darah juga berasal dari proses glukoneogenesis dan glikogenolisis (Kronenberg et al., 2008). Kadar glukosa darah diatur sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan tubuh. Dalam keadaan absorptif, sumber energi utama adalah glukosa. Glukosa yang berlebih akan disimpan dalam bentuk glikogen atau trigliserida. Dalam keadaan pasca-absorptif, glukosa harus dihemat untuk digunakan oleh otak dan sel darah merah yang sangat bergantung pada glukosa. Jaringan lain yang dapat menggunakan bahan bakar selain glukosa akan menggunakan bahan bakar alternatif (Sherwood, 2011)

Setelah mengkonsumsi makanan yang kaya akan karbohidrat, kadar glukosa darah dalam tubuh meningkat. Hal ini akibat hasil absorpsi karbohidrat dalam bentuk glukosa. Glukosa tersebut didistribusikan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Sebagian glukosa dalam darah disimpan di hati dalam bentuk glikogen. Dalam keadaan tidak ada asupan makanan (puasa), glikogen ini kelak akan diuraikan atau dipecah melalui proses glikogenolisis. Proses glikogenolisis memecah glikogen untuk menghasilkan glukosa.(Murray, et al. 2009)

Jumlah glukosa dalam darah dan cadangan glikogen di dalam tubuh akan habis jika lebih dari 30 jam tubuh tidak mendapat sedikit pun makanan sebagai sumber glukosa (energi). Hati dan organ-organ lain berperan dalam fungsi homeostasis glukosa. Regulasi konsentrasi glukosa darah dipengaruhi oleh sistem hormon. Hormon utama yang sangat berperan adalah insulin dan glukagon yang dihasilkan kelenjar pankreas serta hormon glukokortikoid yang dihasilkan kelenjar adrenal. (Thompson, et al. 2011)

Peningkatan glukosa darah akan sejalan dengan proses pencernaan karbohidrat. Saat pencernaan karbohidrat akan terjadi perangsaan terhadap sekresi insulin dan inhibisi terhadap sekresi glukagon. Perbedaan kadar hormon insulin dan glukagon saling bertolak belakang dalam merespon kadar glukosa darah. Insulin dan glukagon memiliki peran untuk mengatur homeostatis darah. (Martini, 2012)

Hormon dan fungsinya dalam mengatur kadar glukosa darah dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 2.3. Fungsi Hormon dalam Meregulasi Kadar Glukosa Darah

 

Hormon Pengaruhya terhadap

glukosa

Rangsangan utama

untuk disekresikan

Peran

dalammetabolisme

Glukagon §     ↑ Glikogenolisis

§     ↓ Glikogenesis

§     ↑ Glukoneogenesis

§     ↑ Asam amino darah

§     ↓ Glukosa darah

Regulator utama pada

siklus absorptif dan pasca-absorptif,

proteksi tubuh terhadap hipoglikemia

Insulin §     ↑ Ambilan glukosa

§     ↓ Glikogenolisis

§     ↓ Glukoneogenesis

§     ↑ Glikogenesis

§     ↑ Asam amino darah

§     ↑ Glukosa darah

Regulator utama pada

siklus absorptif dan pasca-absorptif

Epinefrin §     ↑ Sekresi glukagon

§     ↑ Glikogenolisis

Stimulasi sarah simpatis

(contoh : saat olahraga /

stress)

Penghasil energi dalam

keadaan sulit / darurat dan saat olahraga

Sumber: Sherwood, 2011

 

Klasifikasi Makanan Menurut Indeks Glikemik (skripsi dan tesis)

Makanan digolongkan ke dalam tiga golongan indeks glikemik. Klasifikasi makanan dilihat dari indeks glikemiknya ditunjukkan pada tabel 2.2.

Tabel 2.5. Klasifikasi Makanan Menurut Indeks Glikemik

 

No. Kategori Pangan Rentang Indeks Glikemik
 

1.

 

IG rendah

 

< 55

 

2.

 

IG sedang (intermediet)

 

55-70

 

3.        

 

IG tinggi

 

>70

Sumber : Almatsier (2010)

Makanan dengan IG tinggi mampu memberikan energi yang cukup besar untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa darah akan meningkatakan insulin sehingga cadangan sel adiposa meningkat. Sel adiposa yang meningkat akan mengeksresikan leptin. Leptin akan menghambat rangsangan neuropetide Y sehingga produksi hormon orexins untuk meningkatkan nafsu makan menjadi menurun. Leptin juga akan merangsang melanocortins untuk merangsang pelepasan corticotropin-releasing hormone yang berfungsi untuk menekan nafsu makan. Penggolongan makanan bedasarkan IG dapat membantu orang untuk memilih makanan yang sesuai dengan kebutuhannya. Makanan dengan IG ringan atau sedang mampu meningkatkan kadar glukosa darah secara lebih perlahan dibandingkan dengan makanan dengan IG tinggi (Lee dan Niemman, 2007)

 

Faktor yang Mempengaruhi Indeks Glikemik (skripsi dan tesis)

Indeks Glikemik dapat berbeda-beda di setiap makanan. Indeks glikemik makanan yang jenisnya sama bisa saja berbeda; hal ini berhubungan dengan cara pengolahan dan penyajian makanan. Proses pengolahan makanan dapat mengubah struktur dan komposisi zat gizi sehingga berpengaruh terhadap daya serap zat gizi yang terkandung dalam makanan tersebut. Semakin mudah makanan diserap tubuh maka semakin cepat kadar glukosa dalam darah akan meningkat, sehingga makanan tersebut tergolong dalam kategori IG tinggi. Sedangkan jika makin lambat diserap oleh tubuh maka kenaikan glukosa darah pun akan terjadi perlahan, sehingga didapatkan makanan yang masuk kategori IG rendah. (Lee dan Niemman, 2007). Faktor yang mempengaruhi indeks glikemik ditunjukkan pada tabel 2.1.

Tabel 2.1. Faktor yang Mempengaruhi Indeks Glikemik

 

No. Faktor Pengaruh terhadap Indeks Glikemik
1. Cara pengolahan makanan Bentuk makanan mempengaruhi kemampuan enzim untuk

mencerna

2. Kadar serat makanan Serat    meningkatkan    viskositas    di    intestinal    dan

memperlambat interaksi antara pati dan enzim pencernaan

3. Kadar protein dan lemak Protein dan lemak yang tinggi dalam makanan membuat

waktu pengosongan lambung lebih lama

4. Kadar gizi lainnya Vitamin C di makanan yang asam dapat membuat proses

penyerapan berjalan lebih lama

Sumber: Planck (2007)

 

Indeks Glikemik (IG) (skripsi dan tesis)

Indeks glikemik pangan merupakan indeks (tingkatan) pangan menurut efeknya dalam meningkatkan kadar gula darah. Pangan yang mempunyai IG tinggi bila dikonsumsi akan meningkatkan kadar gula dalam darah dengan cepat dan tinggi. Sebaliknya, seseorang yang mengonsumsi pangan ber-IG rendah maka peningkatan kadar gula dalam darah berlangsung lambat dan puncak kadar gulanya rendah (Widowati, 2008).

Indeks glikemik adalah nilai yang menunjukkan kemampuan suatu makanan yang mengandung karbohidrat dalam meningkatkan kadar glukosa darah. Salah satu implikasi indeks glikemik dalam kehidupan adalah untuk dapat membantu seorang penderita diabetes melitus atau seorang yang obesitas dalam memilih makanan, khususnya makanan-makanan yang indeks glikemiknya rendah. (Thompson, et al. 2011)

Makanan berkabohidrat memiliki efek terhadap konsentrasi glukosa darah yang dikenal sebagai respon glikemik. Beberapa makanan mampu meningkatkan dan menurunkan kadar glukosa darah dengan cepat, sedangkan beberapa makanan lain meningkatkan dan menurunkan kadar glukosa darah secara bertahap atau perlahan. Pemilihan makanan yang tepat dapat mempengaruhi kadar glukosa darah, kadar kolesterol dan kadar trigliserilda. Konsep indeks glikemik ditemukan untuk menunjukkan secara kuantitatif kemampuan makanan dalam mempengaruhi kadar glukosa darah. Konsep indeks glikemik pertama kali dikembangkan oleh Dr. David Jenkins, Professor Gizi di Universitas Toronto, pada tahun 1981. Konsep indeks glikemik pertama beranggapan bahwa setiap makanan berkabohidrat dapat mempengaruhi kadar glukosa darah. Indeks glikemik akhirnya dikembangkan dengan tujuan membantu pasien penderita diabetes dalam mengkonsumsi makanan. (Almatsier, 2010)

Indeks glikemik dihitung berdasarkan pada peningkatan kadar glukosa darah selama dua jam pertama setelah mengkonsumsi makanan berkabohidrat (sejumlah 50 gram karbohidrat), dibandingkan dengan jumlah yang sama pada makanan yang dijadikan makanan rujukan. Roti tawar putih biasanya digunakan sebagai makanan rujukan dan dianggap memiliki nilai IG sebesar 100. Pada praktiknya nilai IG didapatkan setelah memeriksa peningkatan kadar glukosa darah selama dua jam pertama pencernaan makanan tersebut. Setelah pemeriksaan kadar glukosa darah, akan didapatkan kurva kadar glukosa darah.

Indeks glikemik ditentukan dari perhitungan Luas Area di Bawah Kurva (LABK). Untuk mendapatkan indeks glikemik, terlebih dahulu dihitung LABK pada makanan standar yaitu roti tawar putih. Selanjutnya dihitung LABK pada makanan yang dicari indeks glikemiknya

Status Gizi Anak (skripsi dan tesis)

 

2.8.1  Penilaian Status Gizi

Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variable tertentu. Penilaian status gizi secara langsung untuk individu dan masyarakat dapat menggunakan berbagai cara, yaitu metode antropometri, biofisik, pemeriksaan biokimia, dan pemeriksaan klinis. Sedangkan secara tidak langsung penilaian status gizi dapat menggunakan survei konsumsi makanan, statistic vital, dan faktor ekologi ( Supariasa, 2001 ).

 

2.8.2  Penggunaan Indeks Antropometri

Secara umum antropometri artinya adalah ukuran tubuh manusia.Ditinjau dari sudut pandang gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.Antropometri secara umum digunakan untuk melihatb ketidakseimbangan asupoan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh ( Supariasa, 2001 ). Di masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi.

Umumnya obesitas pada anak ditentukan berdasarka tiga metode pengukuran antropometri sebagai berikut ( Damayanti, 2002 ) :

  1. Berat badan dibandingkan dengan tinggi badan ( BB / TB ). Obesitas pada anak didefinisikan sebagai berat badan menurut tinggi badan diatas persentil 90. Atau 120 lebih banyak dibandingkan berat badan ideal. Sedangkan berat badan 140% lebih besar dibandingkan berat badan ideal didefinisikan sebagai superobesitas.

 

  1. WHO pada ttahun 1997, NIH ( The National Institues of Health ) pada tahun 1998 dan The Expert Committee on Clinical Guidelines for Overweight in Adolescent Preventive Service telah merekomendasikan Body Mass Index ( BMI ) atau Indeks Massa Tubuh ( IMT ) sebagai baku pengukuran obesitas pada anak. Inte.rpretasi IMT berdasarkan umur dan jenis kelamin anak. IMT adalah cara termudah untuk memperkirakan obesitas serta kolerasi tinggi dengan massa lemak tubuh. Nilai batas IMT ( cut of point ) untuk kelebihan berat badan pada anak dan remaja ialah persentil ke – 95.

 

  1. Pengukuran langsung lemak sub-kutan dengan mengukur tebal lemak lipatan kulit ( TLK ). Ada 4 macam cara pengukuran TLK yang ideal, yakni TLK bisep, TLK trisep, TLK subkapular, dan TLK suprailiaka.

Berikut ini adalah table yang menunjukkan batas persentil dalam menentukan status gizi anak usia 2 – 20 tahun dengan IMT / U.

 

 

Dampak Obesitas (skripsi dan tesis)

 

2.7.1  Dampak Klinis

Damayanti ( 2002 ) mengatakan anak gemuk cenderung mengalami peningkatan tekanan darah, denyut jantung serta keluaran jantung dibandingkan anak normal seusianya.Hipertensi ditemukan pada 20 – 30% anak gemuk. Diabetes Melitus tipe 2 ( NIDDM ) jarang ditemukan pada anak gemuk tetapi hiperinsulinemia dan intoleransi glukosa hamper selalu ditemukan pada morbid obese.

Obstructive sleep apnea sering dijumpai pada penderita obesitas ( 1/ 100 obesitas anak ), gejalanya mulai dari mengorok sampai mengompol ( sering kali diduga akibat NIDDM atau dieresis osmotic ). Penyebabnya adalah penebalan jaringan lemak di daerah faringeal yang diperberat oleh adanya hipertrofi adenotonsilar.Obstruksi saluran nafas intermiten di malam hari menyebabkan tidur gelisah serta menurunkan oksigenasi.Sebagai kompensasi anak cenderung mengantuk keesokan harinya dan hipoventilasi.

Kegemukan menyebabkan kerentanan terhadap kelainan kulit khususnya di daerah lipatan. Kelainan ini termasuk ruam panas, intertrigo, dermatitis moniliasis, dan acanthosis nigricans ( kondisi yang merupakan tanda hipersensitivitas insulin ). Sebagai tambahan jerawat dapat muncul dan dapat memperburuk persepsi diri si anak.

 

2.7.2  Dampak Psikososial

Damayanti ( 2002 ) mengatakan anak obesitas umumnya jarang bermain dengan teman sebayanya, cenderung menyendiri, tidak diikutsertakan dalam permainan serta canggung atau menarik diri dari kontak sosial. Masalah psikososial ini disebabkan oleh faktor internal, yaitu depresi, kurang percaya diri, persepsi diri yang negatif, maupun rendah diri karena selalu menjadi bahan ejekan teman – temannya.Faktor eksternal juga berpengaruh besar karena sejak dini lingkungan menilai orang gemuk sebagai orang yang malas, bodoh, dan lamban.

 

2.7.3  Dampak Ekonomi

Ada tiga jenis ongkos yang disebabkan oleh obesitas. Pertama ongkos langsung( direct cost ), termasuk di dalamnya ongkos untuk pengobatan ayau terapi obesitas. Kedua ongkos yang tidak dapat diraba ( intangible cost), yaitu ongkos yang ada karena dampak obesitas pada hidup secara umum dan khususnya pada aspek kesehatan. Ketiga ongkos tidak langsung ( indirect cost ), termasuk di dalamnya ialah absentisme anak masuk ke sekolah atau kegiatan lainnya ( WHO, 2002 ).

Hui ( 1985 ) mengatakan bahwa orang dengan obesitas harus mengeluarkan biaya yang besar untuk kehidupannya seperti pakaian, makanan dan bahkan furnitureserta biaya transportasi yang berbeda dengan orang yang tidak obesitas.

Perilaku Kesehatan (skripsi dan tesis)

 

Green ( 1980 ) menganalisis bahwa faktor perilaku ditentukan oleh 3 faktor utama, yakni :

2.6.1  Faktor predisposisi ( disposing factor )

Yakni faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai – nilai, tradisi, dan sebagainya.

2.6.2  Faktor pemungkin ( enabling factor )

Yakni faktor yang memungkinkan atau memfasilitasi perilaku atau tindakan seseorang.Yang dimaksud dengan faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan.

2.6.3  Faktor penguat ( reinforcing factor )

Yakni faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku.Yang dimaksud dengan faktor penguat adalah tokoh masyarakat yang berpengaruh dalam masyarakat.

Pengetahuan ( Knowledge ) (skripsi dan tesis)

 

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu atau diperoleh dari pengalaman.Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera penglihatan dan pendengaran. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( Notoatmodjo, 1993 ).

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan.

2.4.1  Tahu ( know)

Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali ( recall ), sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

2.4.2  Memahami ( comprehension)

Diartiakan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang  objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

 

2.4.3  Aplikasi ( application )

Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya. Dapat pula diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum – hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks dan situasi yang lain.

2.4.4  Analisa ( analysis)

Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen – komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

2.4.5  Sintesis ( synthesis )

Menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi – formulasi yang ada.

2.4.6  Evaluasi ( evaluation)

Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.Penilaian – penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria – kriteria yang telah ada.

Penyebab Obesitas (skripsi dan tesis)

 

Menurut hukum termodinamik, obesitas terjadi karena ketidakseimbanganantara asupan energi dengan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Kelebihan energi tersebut dapat disebabkan oleh asupan energi yang tinggi atau keluaran energy yang rendah ( Damayanti, 2002 ).

Soetjiningsih ( 1995 ) menyebutkan 3 faktor utama penyebab obesitas adalah masukan energi yang melebihi dari kebutuhan tubuh, penggunaan kalori yang kurang, dan faktor hormonal.Disamping itu obesitas juga di sebabkan oleh beberapa faktor predisposisi seperti faktor herediter, suku bangsa, dan persepsi bayi gemuk adalah bayi sehat.Damayanti secara garis besar membagi faktor penyebab obesitas menjadi 2, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Berikut ini akan di paparkan berbagai penyebab obesitas yang di rangkum dari berbagai sumber.

 

2.3.1            Faktor Genetik

Tingginya angka obesitas pada orang tua yang memiliki anak obes dipercaya bahwa faktor genetik menjadi faktor yang cukup penting.Penelitian telah menunjukkan 60 – 70% remaja obes mempunyai salah satu atau kedua orang tua yang juga obes. 40 remaja obes mempunyai saudara kandung yang juga obes ( Pipes, 1993 ).

Faktor genetik yang diketahui mempunyai peranan kuat adalah parental fatness, anak yang obesitas biasanya berasal dari keluarga yang obesitas. Bila kedua orang tua obesitas, sekitar 80% anak – anak mereka akan menjadi obesitas. Bila salah satu orang tua obesitas kejadiaannya menjadi 40%, dan bila kedua orang tua tidak obesitas maka prevalensi obesitas akan turun menjadi 14%. Peningkatan resiko menjadi obesitas tersebut kemungkina disebabkan oleh pengaruh gen atau faktor lingkungan dalam keluarga ( Damayanti, 2002 )./

 

2.3.2            Konsumsi ASI

Telah diketahui sejak dulu bahwa pemberian susu formula dan makanan semi solid dapat menjadi penyebab obesitas ( Pipes, 1993 ). Y.H. Hui dalam bukunya Principles and Issue in Nutrition menyebutkan bahwa salah satu penyebab obesitas yakni pengaruh kondisi masa kecil ( chiidhood conditioning ) dimana salah satu turunan dari childhood conditioning ialah infancy eating dan maladjustment. Ini berarti bayi telah di berikan makanan tambahan/ pendamping ASI yang padat serta susu formula yang tinggi kalorinya terlalu dini. Hal itu tentu saja menggagalkan bayi dari proses pemberian ASI eksklusif yang seharusnya menjadi hak mereka dan dapat mencegah dari kemungkinan menjadi obesitas di kemudian hari. Untuk mencegah obesitas orang tua harus memberi ASI tanpa memberi makanan pendamping ASI ( MP ASI ) sebelum usia 3 – 4 bulan, setelah usia 5 – 6 bulan orang tua baru di perbolehkan memberi MP ASI pada anak. Pemberian ASI eksklusif sejak saat lahir hingga usia 6 bulan merupakan langkah awal yang paling tepat dalam menjamin asupan yang baik ( Mokoagow, 2007 ).

Handayani ( 2007 ) dalam penelitiannya tentang durasi pemberian ASI dan resiko terjadinya obesitas pada anak pra – sekolah di kabupaten Purworejo menyebutkan pemberian ASI dapat memperkecil resiko terjadinya obesitas, jika ASI di berikan >12 – < 24 bulan. Selain itu umur mulai mendapatkan makanan tambahan juga menjadi faktor yang dapat menyebabkan terjadinya obesitas pada anak.

 

2.3.3            Kebiasaan Makan

Hui ( 1985 ) mengatakan bahwa orang obes sangat suka sekali makan. Mereka biasanya makan dengan jumlah kalori lebih banyak daripada yang mereka butuhkan. Kebiasaan makan diartikan sebagai cara individu atau kelompok individu dalam memilih pangan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologik, psikologik, sosial, dan budaya. Kebiasaan makan sebagai tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhnnya akan makanan meliputi sikap, kepercayaan dan pemilihan makanan. Kebiasaan makan juga merupaka istilah yang digunakan untuk menggambarkan kebiasaan dan perilaku yang berhubungan dengan makanan dan makan. Seperti tata karma, frekuensi makan, pola makan yang dimakan, kepercayaan yang dimakan ( misalnya pantangan ), distribusi makanan diantara anggota keluarga, penerimaan terhadap makanan ( suka atau tidak suka ) dan pemilihan bahan makan yang hendak dimakan ( Suhardjo, 1989 ).

Pada penelitian tentang hubungan pola makan dan aktivitas fisik pada anak dengan obesitas usia 6 -7 tahun di Semarang tahun 2003 menyebutkan bahwafrekuensi makan lebih dari 3 kali sehari setiap hari memiliki resiko terjadinya obesitas 2,1 kali dibandingkan makan kurang atau sama dengan 3 kali sehari ( Damayanti, 2002 ).

 

2.3.4            Kebiasaan Sarapan

Penelitian membuktikan bahwa ketika mengkonsumsi sarapan seorang anak akan memiliki tingkah laku dan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan ketika tidak mengkonsumsi sarapan. Pollitt et al. dalam penelitiannyya menemukan anak usia 9 – 11 tahun dengan gizi baik yang melewatkan sarapan menunjukkan sebuah penurunan respon yang akurat dalam memecahkan masalah, namun meningkat dalam keakuratan berfikir jangka pendek. Anak perempuan lebih menyukai sarapan di rumah  ( 46% ) dibandingakan anak laki – laki , dan sekitar 20% dari anak usia 10 tahun melewatkan sarapannya setiap hari ( Wortingthon, 2000 ).

Penelitian di wilayah Minneapolis, Amerika Serikat oleh Pereira ( 2008 ) menyebutkan remaja yang melewatkan sarapan setiap harinya mempunyai kecenderungan resiko untuk mengalami kegemukan lebih tinggi. Ia juga menyimpulkan makan pagi secara rutin dapat mengendalikan nafsu makan lebih baik sepanjang hari. Hal inilah yang mencegah dari makan berlebihan saat makan siang atau makan malam.

Albiner ( 2003 ) mengatakan sarapan bersifat mempunyai pengaruh terhadap ritme, pola, dan siklus waktu makan. Orang yang tidak sarapan akan merasa lapar pada siang hari dan malam hari daripada orang yang sarapan. Sehingga mereka akan mengkonsumsi lebih banyak makanan pada siang dan malam hari. Selain itu, sarapan bersifat lebih mengenyangkan disbanding makan pada siang atau malam hari.Sehingga sarapan dapat mengurangi rasa lapar pada siang dan malam hari.

 

2.3.5            Konsumsi Fast Food

Konsumsi fast food/ makanan cepat saji yang banyak mengandung energi dari lemak, karbohidrat, dan gula akan mempengaruhi kualitas diet dan meningkatkan resiko obesitas ( MMI Volume 40, Nomor 2 Tahun 2005 ). Meningkatnya konsumsi fast food diyakini merupakan satu masalah, karena obesitas meningkat pada masyarakat yang keluarganya banyak keluar mencari makanan cepa saji dan tidak mempunyai waktu lagi untuk menyiapkan makanan di rumah ( WHO, 2000 ).Padahal makanan tersebut sangat beresiko untuk terjadinya obesitas pada anak karena banyak mengandung lemak dan kolesterol.  Anak – anak yang memakan fast food lebih dari 3 kali perminggu cenderung menjadi sedikit tidak suka pada makanan yang lebih sehat seperti buah, sayur, susu, dan makanan lain ketika mereka diminta untuk memilih ( Kimberly et al., 2006 ).

 

2.3.6            Kebiasaan Jajan

Makanan jajanan yang umumnya di sukai anak – anak adalah berupa kue – kue yang sebagian besar terbuat dari tepung dan gula. Oleh karena itu, makanan jajanan tersebut hanya memberikan sumbangan energi saja, sedangkan tambahn zat pembangun dan pengatur sangat sedikit ( Suhardjo, 1989 ).

Jika anak sudah dibiasakan jajan, maka anak ini akan menangis dan tidak mau makan kalau keinginannya tidak dipenuhi. Jajan boleh di lakukan sekali – kali supaya anak mendapat selingan makanan dari luar, asal jangan ia sendiri yang membeli. Orang tua harus mengontrol dan memperhatikan makanan jajanan anak ( Suhardjo, 1989 ).

2.3.7            Kebiasaan Makan Cemilan Saat Nonton TV

Hui ( 1985 ) mengatakan cemilan dikatakan buruk jika mengandung gula, garam, dan lemak yang berlebihan namun rendah protein, vitamin, dan mineral. Wortingthon ( 2000 ) mengatakan nonton TV pada anak – anak juga berhubungan dengan kebiasaan makan cemilan. Sering menonton TV berkorelasi positif dengan perilaku ngemil. Dietz ( 1985 ) menemukan efek buruk TV, yakni sering menonton TV semakin besar resiko diabetes. Selain itu, selama menonton TV biasanya anak makan lebih banyak makanan yang diiklankan di TV  dalam jumlah besar.

2.3.8            Susu dan Olahannya

Meskipun selama ini susu disebut – sebut sebagai makanan yang baik untuk anak – anak, namun tidak berarti susu merupakan makanan yang sempurna. Susu tidak dapat tahan lama dan cepat basi. Susu sedikit mengandung zat besi dan beberapa vitamin, namun kaya akan lemak dan kolesterol. Beberapa individu dapat mengalami alergi susu, dan pada beberapa kasus susu dapat menyebabkan konstipasi dan penarahan pada usus. Susu juga dapat menyebabkan obesitas bila dikonsumsi secara berlebihan baik dalam produk susu maupun dalam produk makanan yang merupakan olahan susu ( Hui, 1985 ).

2.3.9            Aktivitas Fisik

Suatu data menunjukkan bahwa aktivitas fisik anak – anak cenderung menurun.Aktivitas meliputi aktivitas sehari – hari, kebiasaan, hobi, maupun latihan dan olahraga.Anak yang kurang atau enggan melakukan aktivitas fisik menyebabkan tubuh kurang menggunakan energi yang tersimpan di dalam tubuh.Oleh karena itu, jika asupan energi berlebihan tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik yang sesuai maka secara kontinyu dapat mengakibatkan obesitas. Padahal cara yang paling mudah dan umum dipakai untuk meningkatkan pengeluaran energi adalah dengan melakukan latihan fisik atau gerak badan ( Damayanti, 2002 ).

Sebaliknya menonton televisi akan menurunkan aktivias fisik dan keluaran energi karena mereka menjadi jarang atau kurang berjalan, bersepeda, maupun naik – turun tangga. Di samping itu menonton program televisi tertentu terbukti menurunkan laju metabolisme tubuh. Sebuah penelitian kohort mengatakan bahwa menonton televisi lebih dari 5 jam meningkatkan prevalensi dan angka kejadian obesitas padaanak usia 6 – 12 tahun ( 18% ),serta menurunkan angka keberhasilan sembuh dari terapi obesitas sebanyak 33% ( Damayanti, 2002 ).

Pipes ( 1993 ) menyebutkan ketidak aktifan menjadi salah satu penyebab obesitas. Anak – anak dan remaja obes sedikit bergerak/ beraktivitas daripada anak dengan berat badan normal. Kegiatan aktivitas fisik sangat diperlukan oleh anak – anak.Oleh karena itu peran orang tua sangat besar dalam mencegah obesitas pada anak.Orang tua yang sering melakukan olahraga sering mengajarkan anak – anak mereka untuk menyukai dan menikmati aktivitas fisik.

Mu’tadin ( 2002 ) mengatakan meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi 1/3 pengeluaran energi seseorang dengan berat badan normal, namun bagi orang yang memiliki kelebihan berat badan, aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Saat berolah raga kalori terbakar, semakin banyak berolah raga maka semakin banyak kalori yang hilang.Kalori secara tidak langsung mempengaruhi system metabolism basal. Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami penurunan metabolism basal tubuhnya. Kekurangan aktivitas gerak akan nmenyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan olah raga menjadi sangat sulit dan kurang dapat dinikmati.

Tidak berbeda dengan TV, ternyata komputer dan video games juga turut andil dalam kejadian obesitas pada anak.Meskipun beberapa komputer dan video games memiliki komponen mendidik, namun kebanyakan jauh dari aktivitas pembakaran lemak.Beberapa dokter mengatakan bahwa TV sedikit lebih berbahaya dari video games, karena komputer dan video games mendorong anak – anak untuk melakukan aktivitas yang banyak menggunakan koordinasi tangan – mata dan gerak motorik lainnya. Gerakan ini menghasilkan lebih banyak pembuangan energi daripada duduk berdiam diri di depan TV ( Kimberly, 2006 ).

2.3.10                   Pendapatan Keluarga

Pada umumnya, semakin baik taraf hidu seseorang semakin meningkat daya belinya dan semakin tinggi mutu makanan yang tersedia untuk keluarganya.Golongan ekonomi kuat cenderung boros dan konsumsinya melampaui kebutuhan sehari – hari.Akibatnya berat badan terus – menerus bertambah. Beberapa penyakit karena kelebihan gizi pun sering ditemukan ( Suhardjo, 1989 ).

Apriadji ( 1986 ) mengatakan sebuah keluarga yang pendapatannya cukup tinggi ternyata makanannya kurang memenuhi syarat. Anak – anak dalam keluarga ini sering mengantuk di sekolah dan enggan bermain – main.Setelah diteliti ternyata orang tua mereka lebih mementingkan rumah yang megah dengan perabotan mewah.Mereka begitu bersemangat untuk membeli kebutuhan sekunder.Bahkan lebih parah lagi, perhatian mereka terhadap makanan kaleng dan makanan hasil olahan pabrik semakin kuat. Gordon – Larsenn et al. ( 2003 ) menemukan hubungan antara pendapatan orang tua dengan kejadian obesitas pada remaja di AS.

 

2.3.11                   Konsumsi Sayur dan Buah – buahan

Sayur dan buah dapat mencegah kejadian obesitas karena dapat mengurangi rasa lapar namun tidak menimbulkan kelebihan lemak, kolesterol, dan sebagainya.Sayur dan buah umumnya juga mengandung serat kasar yang dapat membantu melancarkan pencernaan dan mencegah konstipasi.Banyak anak yang kurang menyukai sayuran dalam menu makanan dengan alasan karena rasanya yang kurang enak. Pola makan keluarga tertentu yang tidak mengutamakan  sayuran dan buah dalam menu makanan utama menambah parah kurangnya asupan sayuran pada anak ( Hui, 1985).

 

2.3.12                   Jenis Kelamin

Apriadji ( 1986 ) mengatakan jenis kelamin adalah faktor internal yang menentukan kebutuhan gizi sehingga ada hubungan antara jenis kelamin dengan status gizi. Anak perempuan biasanya lebih memperhatikan penampilan sehingga seringkali membatasi makanannya, selain itu anak perempuan juga mempunyai kemampuan makan dan aktivitas fisik yang lebih rendah dari anak laki- laki ( Wortingthon seperti yang dikutip oleh Fathia, 2003 ). Namun penelitian Troiano dan Flegal ( 1998 ) pada anak usia 6 – 11 tahun menemukan bahwa kejadian obesitas pada anak laki – laki lebih besar daripada anak perempuan, dan angka tersebut terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

 

2.3.13                   Jumlah Anggota Keluarga

Keluarga dengan banyak anak dan jarak kelahiran antar anak yang amat dekat akan menimbulkan banyak masalah. Jika pendapatan keluarga hanya pas – pasan sedangkan anak banyak makan pemerataan dan kecukupanm makanan di dalam keluarga kurang bias di jamin. Keluarga ini bias di sebut keluarga rawan, karena kebutuhan gizinya hamper tidak tercukupi dan dengan demikian penyakit punterus meningkat ( Apriadji, 1986 ). Semakin besar jumlah penduduk di suatu daerah maka pemerintah harus menyediakan bahan makanan dengan jumlah yang lebih besar ( Apriadji, 1986 ).

 

2.3.14                   Pengetahuan dan Pendidikan Gizi Ibu

Tingkat pendidikan akan mempengaruhi konsumsi pangan melalui cara pemilihan bahan pangan. Semakin tinggi pendidikan orang tua, cenderung akan semakin baik memilih kualitas dan kuantitas bahan makanan ( Masyitah, 1999 ).

Perilaku mengandung aspek – aspek sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Pengetahuan gizi adalah pengetahuan tentang cara yang benar untuk memilih bahan makanan kemudian mengolah serta mendistribusiknnya. Di samping itu pengetahuan gizi juga mencakup bagaimana menyajikan makanan sehat secara ekonomis ( Apriadji, 1986 ).

 

2.3.15                   Status Ibu Bekerja

Ada beberapa perbedaan dalam pembentukan kebiasaan makan bagi anak – anak apabila ibu mereka disamping sebagai ibuu rumah tangga berperan juga sebagai pencari nafkah. Karena seorang ibu yang bekerja sebagai pencari nafkah di luar rumah berarti sebagian dari waktunya akan tersita, sehingga peranannya dalam hal mempersiapkan makanan terpaksa dikerjakan oleh orang lain, demikian juga pemberian makanan terhadap anak – anaknya. Seorang ibu yang bekerja hendaknya benar – benar membagi waktu agar anak – anaknya tetap mendapat perhatian khusus serta pekerjaan juga tidak terlantar ( Suhardjo, 1989 ).

Pemeriksaan Laboratorium Obesitas (skripsi dan tesis)

 

  1. Pada pemeriksaan arah di temukan adanya gangguan endokrin.
  2. kemungkinan terjadinya ganguan metabolism hidrat arang dan lemak.
  3. Pada air seni ( urine ) ditemukan pengeluaran zat tertentu

Kelainan – kelainan tersebut akan menghilang dengan sendirinya jika obesitas yang di derita sembuh.

Gejala Klinis Obesitas (skripsi dan tesis)

 

Obesitas dapat terjadi pada setiap umur dan gambaran klinis obesitas pada anak dapat bervariasi dari yang ringan sampai dengan yang berat sekali. Menurut Soedibyo( 1986 ), gejala klinis umum pada anak yang menderita obesitas adalah sebagai berikut :

  1. Pertumbuhan berjalan dengan pesat/ cepat di sertai adanya ketidakseimbangan antara peningkatan berat badan yang berlebihan di bandingkan tinggi badannya
  2. Jaringan lemak bawah kulit menebal sehingga tebal lipatan kulit lebih daripada yang normal dan kulit tampak lebih kencang.
  3. Kepala tampak relatif lebih kecil di bandingkan dengan tubuh atau di bandingkan dengan dadanya ( pada bayi ).
  4. Bentuk pipi lebih tembem, hidung dan mulut tampak relative lebih kecil, mungkin disertai dengan bentuk dagunya yang ganda ( dagu ganda ).
  5. Pada dada terjadi pembesaran payudara yang dapat meresahkanbila terjadi pada anak laki – laki.
  6. Perut membesar menyerupai bandul lonceng, kadang disertai garis – garis putih atau ungu ( striae ).
  7. Kelamin luar pada anak wanita tidak jelas ada kelamin, akan tetapi pada anak laki – laki tampak relatif kecil.
  8. Pubertas pada anak laki – laki terjadi lebih awal dan akibatnya pertumbuhan kerangka lebih cepat berakhir sehingga tingginya pada masa dewasa relatif lebih pendek.
  9. Lingkar lengan atas dan paha lebih besar dari normal, tangan relatif lebih kecil dan jari – jari bentuknya meruncing.
  10. Dapat terjadi ganguan psikologis berupa : gangguan emosi, sukar bergaul, senang menyendiri dan sebagainya.
  11. Pada kegemukan yang berat muungkin terjadi gangguan jantung dan paru yang di sebut Sindrom Pickwickian dengan gejala sesak nafas, sianosis, pembesaran jantung dan kadang – kadang penurunan kesadaran.

 

Definisi Obesitas (skripsi dan tesis)

 

Obesitas tidak sama dengan overweight. Obesitas merupakan keadaan patologis, yaitu terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang di perlukan untuk fungsi tubuh yang normal ( Soetjiningsih, 1995 ). WHO ( 2000 ) secara sederhana mendefinisikan obesitas sebagai kondisi abnormal atas akumulasi lemak yang ekstrim pada jaringn adipose. Inti dari obesitas ini adalah terjadinya keseimbangan energi positif yang tidak di inginkan dan bertambahnya berat badan. Sedangkan overweight adalah kelebihan berat badan di bandingkan dengan berat ideal yang dapat di sebabkan oleh penimbunan jaringan lemak atau jaringan non – lemak, misalnya pada seorang atlet binaragawan kelebihan berat badan dapat di sebabkan oleh hipertrofi otot ( Damayanti, 2002 ). Obesitas pada anak merupakan salah satu factor yang dapat mempengaruhi kejadian obbesitas pada dewasa. Sekitar 26% bayi dan anak – anak dengan status obesitas akan tetap menderita obesitas dua puluh tahun kemudian ( Dietz, 1987 )

Pengertian Puskesmas (skripsi dan tesis)

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.Pelayanan Kesehatan adalah upaya yang diberikan oleh Puskesmas kepada masyarakat, mencakup perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pencatatan, pelaporan, dan dituangkan dalam suatu sistem.Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang:

  1. memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan
    kemampuan hidup sehat;
  2.  mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu
  3. hidup dalam lingkungan sehat; dan
  4. memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga,
    kelompok dan masyarakat (Permenkes, 2014).

Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan di DKK Banyumas, program ASI eksklusif adalah salah satu indikator dari program bidang pelayanan kesehatan yang sangat berpengaruh terhadap angka kesehatan masyarakat Banyumas. Dengan cakupan ASI eksklusif yang baik, maka akan baik pula derajat kesehatan masyarakatnya. Hal ini kemudian menjadi misi dari DKK agar semua programnya dapat tercapai dengan baik. Pertemuan rutin dengan pihak puskesmas, kader, lintas sektoral, maupun masyarakat terutama ibu-ibu hamil dan menyusui sering dilakukan.Perencanaan program kadang tidak dilakukan, karena program tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun, hanya laporan evaluasi saja yang akhirnya menjadi data pendukung.

Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan ASI (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan ASI antara lain:

  1. Perubahan sosial budaya.
  2. Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.

Kenaikan tingkat partisipasi wanita dalam angkatan kerja dan adanya emansipasi dalam segala bidang kerja dan di kebutuhan masyarakat menyebabkan turunnya kesediaan menyusui dan lamanya menyusui.

  1. Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol.

Persepsi masyarakat akan gaya hidup mewah membawa dampak menurutnya kesediaan menyusui. Bahkan adanya pandangan bagi kalangan tertentu bahwa susu botol sangat baik dan cocok untuk bayi. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu meniru orang lain, atau hanya untuk prestise.

  1. Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya.

Budaya modern dan perilaku masyarakat yang meniru negara barat mendesak para ibu untuk segera menyapih anaknya dan memilih air susu buatan sebagai jalan keluarnya.

  1. Faktor psikologis.
  2. Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.

Adanya anggapan para ibu bahwa menyusui akan merusak penampilan. Padahal setiap ibu yang mempunyai bayi akan mengalami perubahan payudara, walaupun menyusui atau tidak menyusui.

  1. Tekanan batin.

Ada sebagian kecil ibu mengalami tekanan batin di saat menyusui bayi sehingga dapat mendesak si ibu untuk mengurangi frekuensi dan lama menyusui bayinya, bahkan mengurangi menyusui.

  1. Faktor fisik ibu.

Alasan yang cukup sering diungkapkan ibu untuk menyusui adalah karena ibu sakit, baik sebentar maupun lama. Tetapi sebenarnya jarang sekali ada penyakit yang mengharuskan berhenti menyusui. Dan jauh lebih berbahaya untuk mulai memberi bayi makanan buatan daripada membiarkan bayi menyusu dari ibunya yang sakit.

  1. Kurangnya andil petugas kesehatan.

Dalam memberikan manajemen laktasi sebagai dasar pengetahuan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan ASI eksklusif, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat dan pemberian ASI.

 

 

  1. Meningkatnya promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI.

Peningkatan sarana komunikasi dan transportasi yang memudahkan periklanan distribusi susu buatan menimbulkan menurunnya kesediaan dan lamanya menyusui baik di desa maupun perkotaan. Distribusi, iklan dan promosi susu buatan berlangsung terus dan bahkan meningkat bukan hanya di televisi, radio dan surat kabar melainkan juga ditempat-tempat praktek swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat di Indonesia (Siregar, 2004).

Pengertian ASI Eksklusif (skripsi dan tesis)

Definisi ASI menurut Depkes adalah sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang sangat seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI adalah makanan bayi yang paling sempurna, baik kualitas maupun kuantitasnya (Depkes RI, 2002).

Menurut WHO, ASI eksklusif adalah pemberian air susu ibu pada bayi baik langsung maupun tidak langsung sampai bayi berusia 4-6 bulan, tanpa mendapatkan cairan dan makanan padat lainnya kecuali sirup yang mengandung vitamin, mineral atau obat. Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama (Krammer et al.,2003; Fewtrell et al., 2007; Manaf, 2010). Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan (Nielsen, 2010).

Laporan pertemuan pakar ASI WHO tentang lama menyusui ASI yang optimal yaitu terdapat perbedaan menyusui eksklusif 4-6 bulan dan 6 bulan (Krammer et al., 2003; Li, 2003; Kac, 2004; Fewtrell et al., 2007; Baker, 2008) :

  1. Mempunyai efek protektif terhadap penyakit infeksi gastrointestinal pada menyusui 6 bulan.
  2. Amenorea laktasi ibu yang menyusui eksklusif 6 bulan lebih panjang.
  3. Penurunan berat badan ibu pasca persalinan lebih banyak pada ibu menyusui eksklusif 6 bulan.
  4. Menghemat cadangan zat besi ibu.
  5. Dengan lama menyusui 6 bulan dapat mencegah kekurangan besi dan mikronutrien lain pada beberapa bayi yang rentan.

Pemberian ASI eksklusif didukung olehPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 berisi tentang :

  1. Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif yang berisi tentang peraturan dimana bayi harus diberikan asi sejak dilahirkan selama 6 bulan tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain,
  2. Untuk menjamin hak bayi untuk mendapatkan asi dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya,
  3. Meningkatkan peran dan dukungan keluarga, masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah terhadap pemberian ASI Eksklusif (DEPKES RI, 2012).

Rumah Sakit (skripsi dan tesis)

Rumah Sakit adalah institusi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif) yang menyediakan pelayanan Gawat inap, Gawat jalan, Gawat Darurat dan pelayanan tindakan medik lain serta dapat sebagai tempat pendidikan tenaga kesehatan dan sarana penelitian.

      Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai-nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial.

      Menurut UU RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Kesehatan, maka pengaturan penyelenggaraan rumah sakit bertujuan:

  1. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
  2. Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit.
  3. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit.
  4. Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia rumah sakit, dan rumah sakit.

Selain itu rumah sakit juga merupakan salah satu sarana kesehatan yang berfungsi untuk melakukan upaya kesehatan rujukan dan upaya kesehatan penunjang. Pembangunan rumah sakit bertujuan untuk meningkatkan mutu, cakupan dan efisiensi pelaksanaan rujukan medik dan rujukan kesehatan secara terpadu serta meningkatkan dan memantapkan manajemen rumah sakit yang meliputi kegiatan-kegiatan perencanaan, penggerakan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian dan penilaian yang bertujuan untuk meningkatkan mutu dan efisiensi pelayanan. Dalam rangka meningkatkan mutu rumah sakit, penyelenggaraannya harus memperhatikan standar yang disesuaikan dengan kelas/ tipe rumah sakit yaitu:

  1. Standar Manajemen

Rumah sakit merupakan bagian dari jejaring pelayanan kesehatan untuk mencapai indikator kinerja kesehatan yang ditetapkan daerah. Oleh karena itu, rumah sakit harus mempunyai hubungan koordinatif, kooperatif dan fungsional dengan dinas kesehatan dan sarana pelayanan kesehatan lainnya.

  1. Standar Pelayanan
  2. Pelayanan medik spesialistik dan sub spesialistik, seperti pelayanan medik penyakit dalam, dedah, kebidanan dan kandungan serta kesehatan anak.
  3. Pelayanan medik spesialistik lainnya seperti poli mata, telinga, hidung dan tenggorokan (THT), kulit dan kelamin, kesehatan jiwa, syaraf, gigi dan mulut, jantung, paru, bedah syaraf, dan orthopedi.
  4. Pelayanan medik sub spesialistik seperti pelayanan medik umum yang tidak tertampung oleh pelayanan medik spesialistik yang ada.
  5. Pelayanan penunjang medic seperti Radiologi, Laboratorium, Anestesi, Gizi, Farmasi, Rehabilitasi medik.
  6. Pelayanan keperawatan.
  7. Pelayanan administrasi dan umum.

      Di Indonesia dikenal tiga jenis rumah sakit sesuai dengan kepemilikan, jenis pelayanan dan kelasnya. Berdasarkan kepemilikannya, dibedakan tiga macam rumah sakit, yaitu Rumah Sakit Pemerintah (Rumah Sakit Pusat, Rumah Sakit Provinsi, Rumah Sakit Kabupaten), Rumah Sakit BUMN/ABRI, dan Rumah Sakit Swasta yang menggunakan dana investasi dari sumber dalam negeri (PMDN) dan sumber luar negeri (PMA). Jenis rumah sakit yang kedua adalah Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Jiwa, Rumah Sakit Khusus (mata, paru, kusta, rehabilitasi, jantung, kangker dan sebagainya). Jenis Rumah Sakit yang ketiga adalah Rumah Sakit kelas A, kelas B (pendidikan dan non pendidikan), Rumah Sakit kelas C, dan Rumah Sakit kelas D.

      Kelas rumah sakit juga dibedakan berdasarkan jenis pelayanan yang tersedia. Pada rumah sakit kelas A tersedia pelayanan spesialistik yang luas termasuk subspesialistik. Rumah sakit kelas B mempunyai pelayanan minimal sebelas spesialistik dan subspesialistik terdaftar. Rumah sakit kelas C mempunyai minimal empat spesialistik dasar (bedah, penyakit dalam, kebidanan, dan anak). Rumah sakit kelas D hanya terdapat pelayanan medis dasar.

Faktor Obesitas (Konsultasi Skripsi dan Tesis)

Menurut para ahli, didasarkan pada hasil penelitian, obesitas dapat   dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah :

1.      Umur

Obesitas dapat terjadi pada semua umur, obesitas  sering  dianggap sebagai kelainan pada umur pertengahan

2.      Jenis kelamin

Jenis kelamin ikut berperan dalam timbulnya obesitas terutama obesitas lebih umum dijumpai pada wanita

3.      Genetik

Kegemukan dapat diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya di dalam     sebuah keluarga. Itulah sebabnya kita seringkali menjumpai orangtua yang gemuk cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula.  Dalam hal ini nampaknya faktor genetik telah ikut campur dalam menentukan jumlah unsur sel lemak dalam tubuh.  Hal ini dimungkinkan karena pada saat  ibu yang obesitas sedang hamil maka unsur sel lemak yang berjumlah besar dan melebihi ukuran normal, secara otomatis akan diturunkan kepada sang bayi selama dalam kandungan. Maka tidak heranlah bila bayi yang lahirpun memiliki unsur lemak tubuh yang relatif sama besar (Tambunan, 2002).

Orang yang obes lebih responsif dibanding dengan orang berberat badan normal terhadap isyarat lapar eksternal, seperti rasa dan bau makanan, atau saatnya waktu makan. Orang yang gemuk cenderung makan bila ia merasa ingin makan, bukan makan pada saat ia lapar. Pola makan berlebih inilah yang menyebabkan mereka sulit untuk keluar dari kegemukan jika sang individu tidak memiliki kontrol diri dan motivasi yang kuat untuk mengurangi berat badan. Menurut dr. Inayah Budiasti, ahli nutrisi dari RS Jakarta fenomena makan cepat saji merupakan sala satu penyebab utamanya. Makanan cepat saji mengandung energy yang sangat tinggi karena 40-50% adalah lemak.sementara kebutuhan tubuh akan lemak hanya sekitar  15% sebagian besar kebutuhan tubuh adalah karbohidrat yang mencapai 60% dan Protein 20%  (Budiasti,  2004)

  1. Kurang Gerak/Olahraga

Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap pengendalian berat tubuh. Pengeluaran energi tergantung dari dua faktor : 1) tingkat aktivitas dan olah raga secara umum; 2) angka metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi minimal tubuh. Dari kedua faktor tersebut metabolisme basal memiliki tanggung jawab dua pertiga dari pengeluaran energi orang normal (Tambunan,  2002)

Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu pertiga pengeluaran energi seseorang dengan berat normal, tapi bagi orang yang memiliki kelebihan berat badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Pada saat berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka semakin banyak kalori yang hilang. Kalori  secara tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal. Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami penurunan metabolisme basal tubuhnya. Kekurangan aktifitas gerak akan menyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan olah raga menjadi sangat sulit dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya olah raga secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya metabolisme basal tubuh orang tersebut. Jadi olah raga sangat penting dalam penurunan berat badan tidak saja karena dapat membakar kalori, melainkan juga karena dapat membantu mengatur berfungsinya metabolisme normal.

  1. Pengaruh Emosional

Sebuah pandangan populer adalah bahwa obesitas bermula dari masalah emosional yang tidak teratasi. Orang-orang gemuk haus akan cinta kasih, seperti anak-anak makanan dianggap sebagai simbol kasih sayang ibu, atau kelebihan makan adalah sebagai subtitusi untuk pengganti kepuasan lain yang tidak tercapai dalam kehidupannya.  Walaupun penjelasan demikian cocok pada beberapa kasus, namun sebagian orang yang kelebihan berat badan tidaklah lebih terganggu secara psikologis dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badan normal. Meski banyak pendapat yang mengatakan bahwa orang gemuk biasanya tidak bahagia, namun sebenarnya ketidakbahagiaan /tekanan batinnya lebih diakibatkan sebagai hasil dari kegemukannya. Hal tersebut karena dalam suatu masyarakat seringkali tubuh kurus disamakan dengan kecantikan, sehingga orang gemuk cenderung malu dengan penampilannya dan kesulitannya mengendalikan diri terutama dalam hal yang berhubungan dengan perilaku makan.

Orang gemuk seringkali mengatakan bahwa mereka cenderung makan lebih banyak apa bila mereka tegang atau cemas, dan eksperimen membuktikan kebenarannya. Orang gemuk makan lebih banyak dalam suatu situasi yang sangat mencekam; orang dengan berat badan yang normal makan dalam situasi yang kurang mencekam (McKenna,1999).

Dalam suatu studi yang dilakukan White (1977) pada kelompok orang dengan berat badan berlebih dan kelompok orang dengan berat badan yang kurang, dengan menyajikan kripik (makanan ringan) setelah mereka menyaksikan empat jenis film yang mengundang emosi yang berbeda, yaitu film yang tegang, ceria, merangsang gairah seksual dan sebuah ceramah yang membosankan. Pada orang gemuk didapatkan bahwa mereka lebih banyak menghabiskan kripik setelah menyaksikan film yang tegang dibanding setelah menonton film yang membosankan. Sedangkan pada orang dengan berat badan kurang selera makan kripik tetap sama setelah menonton film yang tegang maupun film yang membosankan  (Tambunan, 2002)

      6.Lingkungan

Faktor lingkungan ternyata juga mempengaruhi seseorang untuk menjadi gemuk. Jika seseorang dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap gemuk adalah simbol kemakmuran dan keindahan maka orang tersebut akan cenderung untuk menjadi gemuk. Selama pandangan tersebut  tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal maka orang yang obesitas tidak akan mengalami masalah-masalah psikologis sehubungan dengan kegemukan (Tambunan, 2002) Aurora  (2007) berpendapat  bahwa lingkungan modern telah banyak mengurangi kesempatan untuk melakukan aktifitas fisik, trasfortasi yang nyaman, komputer, pekerjaan rumah (PR) yang banyak, film, dan televisi, serta makanan cepat saji telah mendorong kebiasaan hidup yang santai dan malas.

 

TAHU (skripsi dan tesis)

 

Tahu merupakan suatu produk makanan berbentuk padat dengan tekstur lunak, dibuat melalui proses pengolahan kedelai dengan cara pengendapan protein, dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diizinkan ( BPOM, 1992 ).

Ditinjau dari segi kesehatan, tahu juga memiliki kandungan zat yang sangat diperlukan untuk memperbaiki gizi masyarakat hal ini dikarenakan tahu terbuat dari kedelai yang memiliki  nilai biologis protein yang mendekati nilai protein hewani, serta mengandung karbohidrat  dan mineral seperti kalium, phosphor, magnesium serta vitamin, disamping itu juga mengandung asam amino yang dibutuhkan tubuh manusia misalnya nitrogen (Santosa, 1993).

Komposisi tahu bermacam-macam, hal ini tergantung dari jenis kedelai sebagai bahan baku serta proses pembuatannya. Menurut Smith (1972) didalam tahu terdapat :

  1. Air 88%
  2. Protein 6-8%
  3. Lemak 3,5%
  4. Abu 0,6%

 

Air buangan industri (skripsi dan tesis)

 

Air buangan merupakan air limbah yang sudah tidak dapat dipergunakan oleh masyarakat dan mempunyai efek yang sangat membahayakan kesehatan manusia, merugikan ekonomi, merusak atau membunuh kehidupan dalam air dan dapat merusak keindahan. Efek yang kiranya perlu lebih diperhatikan dalam industri yang merupakan tantangan dan kebutuhan hidup bagi masyarakat (Sugiharto,1987).

Sedangkan Putranto (1989) mendefinisikan air buangan adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri, dan tempat-tempat umum. Biasanya buangan ini mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan  kehidupan manusia. Menurut Azwar (1996), air limbah biasanya muncul sebagi akibat hasil perbuatan manusia, termasuk industrialisasi.

 

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (skripsi dan tesis)

 

Pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial adalah tanggung jawab semua individu dan semua penyedia jasa pelayanan kesehatan. Setiap orang harus bekerja sama untuk mengurangi risiko infeksi bagi pasien dan petugas RS. Petugas kesehatan terdiri atas: petugas medis seperti dokter dan perawat; petugas sanitasi atau kebersihan lingkungan; petugas penunjang seperti petugas perawatan peralatan teknis dan bangunan, manajemen, apoteker, pengadaan bahan dan produk, dan pelatihan pekerja kesehatan. Program pencegahan dan pengendalian infeksi RS yang efektif harus komprehensif dan mencakup kegiatan surveilans serta pelatihan petugas kesehatan. Menurut WHO (2002), survailans merupakan proses yang efektif untuk mengurangi frekuensi infeksi yang terjadi di RS. Program tersebut harus mendapat dukungan yang efektif pada tingkat nasional dan daerah disertai dengan kesiapan dana untuk meunjang keberhasilan program tersebut. Keterkaitan hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.2.

 

Pemerintah dalam merespon kejadin infeksi nosokomial mengeluarkan kebijakan dalam bentuk Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) RI nomor 270/2007 tentang Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan lain, dan Kepmenkes No. 382/Menkes/SK/III/2007 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan lainnya. Berdasarkan Kepmenkes tersebut, Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin) di bawah naungan Departemen Kesehatan RI mengeluarkan buku Pedoman Pencegahan dan pengendalian Infeksi di RS dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya. Dalam teori sistem ilmu politik yang dikembangkan oleh David Easton tahun 1953, kebijakan publik dipandang sebagai respons sistem politik terhadap tuntutan yang muncul dari lingkungannya (Rudana, 2008)

 

Pencegahan infeksi nosokomial membutuhkan program terpadu dan pemantauan mencakup komponen-komponen sebagai berikut (WHO, 2002):

  1. Membatasi penularan organisme secara langsung antara pasien dalam masa perawatan melalui pencucian tangan dan sarung tangan memadai yang digunakan, praktek aseptis yang sesuai, strategi isolasi, sterilisasi dan desinfeksi, dan laundry (pencucian).
  2. Mengendalikan risiko lingkungan terhadap infeksi.
  3. Melindungi pasien dengan penggunaan profilaksis antimikroba yang tepat, gizi, dan vaksinasi.
  4. Membatasi risiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif dan mempromosikan penggunaan antimikroba optimal.
  5. Surveilans terhadap infeksi, identifikasi, pengendalian wabah penyakit.
  6. Pencegahan infeksi pada petugas RS.
  7. Meningkatkan kemampuan petugas RS dalam praktek perawatan pasien dan edukasi berkelanjutan kepada petugas RS.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Infeksi Nosokomial (skripsi dan tesis)

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan infeksi nosokomial menurut WHO (2002) antara lain: kerentanan pasien, agen mikrobia, faktor lingkungan dan resistensi bakteri. Berikut ini uraian dari faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi nosokomial.

 

2.1.2.1 Kerentanan Pasien

Seperti terlihat pada Gambar 2.2 pada kotak berwarna merah menunjukkan faktor internal yang mempengaruhi akuisisi infeksi pasien meliputi:

  1. Usia karena masa kanak-kanak dan usia tua memiliki hubungan dengan penurunan resistensi terhadap infeksi
  2. Status kekebalan, misalnya bagian dari flora bakteri normal dalam manusia dapat menjadi patogen ketika pertahanan kekebalan tubuh terganggu, obat-obatan imunosupresif atau iradiasi dapat menurunkan resistensi terhadap infeksi, luka kulit atau selaput lendir melewati mekanisme pertahanan alam, dan malnutrisi juga risiko terhadap infeksi.
  3. Penyakit kronis yang mendasari pasien seperti tumor ganas, leukemia, diabetes mellitus, gagal ginjal, atau Acquired ImmunoDeficiency Syndrome (AIDS) mengalami peningkatan kerentanan terhadap infeksi dengan patogen oportunis
  4. Diagnostik dan intervensi terapeutik, misalnya biopsi, pemeriksaan endoskopi, kateterisasi, intubasi / ventilasi dan suction dan prosedur bedah meningkatkan risiko infeksi. Benda atau bahan yang tercemar dapat diperkenalkan secara langsung ke jaringan atau situs steril normal seperti saluran kemih dan saluran pernafasan bawah.

 

2.1.2.2 Agen Mikrobia

Pasien dapat terkena berbagai mikroorganisme selama perawatan di rumah sakit. Kontak antara pasien dan mikroorganisme tidak dengan sendirinya selalu menghasilkan perkembangan penyakit klinis. Kemungkinan terkena infeksi tergantung karakteristik dari mikroorganisme seperti perlawanan terhadap agen antimikroba, intrinsik virulensi, dan jumlah (inokulum) dari bahan infektif.

 

Transmisi agen mikrobia atau mikroorganisme yang menyebabkan infeksi nosokomial dapat diperoleh dalam beberapa cara, yaitu:

  1. Infeksi endogen dari flora normal pasien

Bakteri yang ada di flora normal menyebabkan infeksi karena penularan ke saluran kemih, kerusakan jaringan, terapi antibiotik yang tidak tepat yang memungkinkan pertumbuhan yang berlebihan. Sebagai contoh, bakteri Gram-negatif dalam saluran pencernaan sering mengakibatkan infeksi luka operasi setelah pembedahan perut dan infeksi saluran kemih pada pemasangan kateter.

 

  1. Infeksi silang atau eksogen dari flora pasien lain atau petugas RS

Bakteri ini menular antar pasien: (a) melalui kontak langsung antara pasien, misalnya tangan, tetesan air liur atau cairan tubuh lain, (b) di udara (droplet atau debu yang terkontaminasi oleh bakteri pasien), (c) melalui staf yang terkontaminasi melalui pasien perawatan yang menjadi pembawa sementara atau permanen, kemudian menularkan bakteri kepada pasien lain melalui kontak langsung selama perawatan, (d) melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh pasien, tangan petugas RS, pengunjung dan sumber-sumber lingkungan misalnya air, cairan lain, makanan.

 

  1. Infeksi endemik dari perawatan kebersihan lingkungan RS
  1. Beberapa jenis mikroorganisme bertahan hidup dalam lingkungan rumah sakit: Dalam air, daerah basah, dan kadang-kadang dalam produk steril atau desinfektan, antara lain Pseudomonas, Acinetobacter, Mycobacterium.
  2. Dalam barang-barang seperti kain linen, peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam perawatan.
  3. Dalam makanan.
  4. Dalam debu dan tetesan nukleus yang dihasilkan oleh batuk atau pada saat berbicara. Hal ini dapat terjadi karena bakteri dengan ukuran diameter lebih kecil dari 10 μm dapat bertahan di udara selama beberapa jam dan dapat dihirup dengan cara yang sama seperti debu halus (WHO, 2002).

 

Kontaminasi bakteri luka preoperasi diketahui sebagai risiko utama faktor terjadinya ILO. Kualitas mikrobiologi udara ruang operasi adalah salah satu parameter yang signifikan untuk mengendalikan ILO. Menurut Dixon (1981) bahwa pada operasi tulang pinggul ditemukan adanya kesamaan bakteri yang terdapat pada luka pasien dan bakteri yang terdapat di udara, hasilnya antara lain jumlah terbesar yaitu S. epidermidis pada luka pasien terdapat 34 bakteri, sedangkan dari hasil sampel udara sebanyak 37 bakteri. Kemudian diikuti 20 S. aureus yang terdapat di luka pasien, dan 9 bakteri dari sampel udara.

 

Penelitian dilaksanakan oleh Kaur dan Hans (2007) di tujuh ruang operasi dari sebuah rumah sakit pendidikan perawatan tersier kota India dengan fasilitas 1000 tempat tidur yang dilakukan selama satu tahun. Sebanyak 344 sampel yang diambil berulang kali dari tujuh operasi yang berbeda di ruang operasi, kemudian diproses dengan hasil isolasi bakteri yaitu S. aureus (16%), negatif Coagulase Staphylococcus (26,7%), Acinetobacter spp. (2,03%) dan Klebsiella spp. (0,3%). Berkumpulnya staf medis di ruang operasi, disertai residen dan mahasiswa merupakan masalah penting, bersamaan dengan masalah desain dan ventilasi yang terdapat diruang operasi tersebut.

 

Di negara berkembang, kekurangan dalam desain bangunan dan ventilasi yang tidak tepat berkontribusi terhadap kontaminasi mikroorganisme di dalam ruang lingkungan RS. Kurangnya udara segar karena peningkatan isolasi bangunan, kurang terpelihara atau dioperasikan sistem ventilasi, kurang diatur suhu dan tingkat kelembaban relatif berkontribusi terhadap kehadiran dan multiplikasi mikroorganisme di udara (Srikanth P., et al. 2008).

 

Indonesia memiliki peraturan dalam menetapkan atura persyaratan kesehatan lingkungan RS melalui Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004. Peraturan tersebut merupakan pedoman pihak pengelola RS agar bertanggung jawab di dalam mewujudkan lingkungan RS yang sehat.

 

Untuk mencapai kualitas udara dalam ruang RS yang baik merupakan sebuah tantangan bagi teknisi perawatan bangunan gedung dan petugas kesehatan. Petugas kesehatan harus berlatih melakukan perawatan medis dengan mengontrol sumber polutan untuk mengurangi emisi polutan, antara lain melakukan diagnosis klinis untuk mengidentifikasi pasien menular dengan isolasi yang tepat. Di sisi lain, teknisi ruangan harus merancang, mengoperasikan, dan memelihara pemanas, ventilasi, dan sistem pendingin ruangan yang efektif dalam upaya pengurangan dan pengenceran polutan udara dalam ruangan (Leung dan Chan, 2006).

 

2.1.2.3 Faktor Lingkungan

Pasien dengan infeksi atau pembawa mikroorganisme patogen dirawat di rumah sakit adalah sumber potensial infeksi untuk pasien dan petugas RS. Pasien yang terinfeksi di rumah sakit merupakan sumber infeksi lebih lanjut. Kondisi penuh sesak di dalam rumah sakit dan ketika pasien sering transfer dari satu unit ke unit lain sangat rentan terhadap infeksi dalam satu daerah, misalnya bayi yang baru lahir, pasien luka bakar, dan perawatan intensif. Pasien tersebut berkontribusi terhadap perkembangan infeksi nosokomial. Flora mikroba dapat mencemarkan benda, perangkat, dan bahan-bahan yang kemudian menghubungi situs tubuh rentan pasien (WHO, 2002).

 

Selain itu, petugas kesehatan dan pengunjung juga merupakan sumber infeksi asal udara yang signifikan di antara pasien. Airborne droplet sering mengandung bakteri seperti S. aureus, S. epidermidis, dan bakteri-bakteri batang gram negatif. Bakteri tersebut pada umumnya sebagai penyebab terjadinya infeksi nosokomial luka operasi (Spengler et al, 2000).

 

Sumber mikroorganisme penyebab penyakit di RS yang paling besar berasal dari tangan petugas dan penderita infeksi. Kemudian melalui beberapa media antara lain air, makanan, dan udara dapat menimbulkan kontaminasi mikroorganisme di rumah sakit. Udara bukan merupakan habitat untuk mikroorganisme. Sel-sel mikroorgansme berada dalam udara sebagai kontaminan bersama debu atau dengan tetesan ludah. Mikroorganisme patogen dipindahkan melalui udara dan masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran respirasi. Hal ini menyebabkan penyakit pada saluran pernapasan. Mikroorganisme patogen asal udara, cenderung untuk berjangkit secara epidemi kemudian muncul secara eksplosif dan menyerang banyak orang dalam waktu singkat sebagai wabah penyakit (Pelczar dan Chan, 1988).

 

Patogen udara secara alami dapat menimbulkan infeksi melalui beberapa rute tapi umumnya ditransmisikan melalui aerosol yang disimpan di distal saluran udara, misalnya, virus campak dan variola (cacar) virus. Patogen udara oportunis secara alami menimbulkan penyakit melalui rute yang lain (misalnya saluran cerna), tetapi dapat juga menimbulkan infeksi melalui distal paru-paru dan dapat menggunakan partikel halus aerosol sebagai sarana perkembangbiakan di lingkungan yang menguntungkan (Srikanth et al., 2008).

 

2.1.2.4 Resistensi Bakteri

Banyak pasien menerima obat antimikroba. Seleksi dan pertukaran unsur-unsur resistensi genetik melalui pemberian antibiotik mempromosikan multidrugresistant dengan adanya strain bakteri. Mikroorganisme dalam flora manusia normal yang sensitif terhadap obat ditekan, sedangkan strain resisten bertahan dan dapat menjadi endemik di rumah sakit. Meluasnya penggunaan antimikroba untuk terapi atau profilaksis adalah penentu utama resistensi.

 

Infeksi Nosokomial (skripsi dan tesis)

 

Frekuensi kejadian infeksi nosokomial yang paling sering terjadi menurut WHO (2002) adalah infeksi luka operasi, infeksi saluran kemih, dan infeksi saluran pernapasan bawah. Berikut ini kriteria yang digunakan untuk surveilans infeksi nosokomial, yaitu:

  1. Infeksi luka operasi yaitu adanya cairan purulen, abses, selulitis menyebar di situs bedah atau luka operasi selama satu bulan setelah operasi. Infeksi biasanya diperoleh selama operasi itu sendiri baik eksogen, misalnya dari udara, peralatan medis, ahli bedah dan staf lainnya, dan endogenus dari flora pada kulit atau di situs operasi. Mikroorganisme penyebab infeksi bervariasi tergantung pada jenis dan lokasi operasi dan antimikroba yang diterima oleh pasien. Faktor risiko utama adalah kontaminasi yang terjadi selama operasi tergantung pada panjang operasi, dan kondisi umum pasien. Faktor lain yaitu kualitas teknik bedah, pemasangan benda asing termasuk drain, virulensi dari mikroorganisme, adanya infeksi di tempat lain, pencukuran sebelum operasi, dan pengalaman tim bedah.
  2. Infeksi saluran kemih yaitu kultur urin positif (1 atau 2 spesies) dengan setidaknya 105 bakteri/ml, dengan atau tanpa gejala klinis.
  3. Infeksi pernafasan yaitu gejala pernafasan dengan setidaknya 2 dari tanda-tanda berikut muncul selama dirawat di RS: batuk, sputum purulen, infiltrate baru dengan infeksi di dada pada saat dilakukan sinar rontgen. Koloni mikroorganisme berada di dalam perut, saluran pernapasan atas dan bronkus menyebabkan infeksi di paru-paru (pneumonia). Mikroorganisme tersebut umunya berasal dari dalam tubuh, antar lain sistem pencernaan atau hidung dan tenggorokan, tetapi juga dapat berasal dari luar tubuh seperti  dari peralatan pernapasan yang terkontaminasi.
  4. Infeksi kateter vaskular yaitu peradangan, limfangitis atau cairan bernanah di lokasi penyisipan kateter.

KRITERIA MASALAH PENELITIAN YANG BAIK (skripsi dan tesis)

 

 

Mengenai bagaimana memilih masalah penelitian yang baik akan memenuhi beberapa kriteria antara lain:

  1. Relatif masih baru

Pengertian “baru” disini maksudnya ialah masalah penelitian tersebut belum pernah diungkap atau masih jarang dilakukan penelitian oleh orang lain. Dengan kata lain, masalah tersebut masih hangat-hangatnya di masyarakat. Hal in penting agar tidak terjadi usaha yang sia-sia karen asudah pernah dilakukan oleh orang lain. Di sinilah perunya banyak membaca literatur atau hasil-hasil penelitian lain. Tanpa banyak membaca, kita tidak tahu apakah masalah penelitian kita sudah dihawab oleh penelitian lain atau belum

  1. Aktual,

Masalah penelitian yang aktual disini diartikan masalah tersebut be artinya memang masalah yang akan diteliti ini menjadi masalah saat ini

  1. Memadai, artinya sesuai dengan kemampuan dan yang diharapkan dari peneliti

 

(Soekidjo, 2010)

 

 

 

PENGERTIAN PERUMUSAN MASALAH (skripsi dan tesis)

 

Sebelum diuraikan baaimana merumuskan masalah penelitian, terlebih dahulu akan dibahas apa yang dimaksud dengan masalah. Masalah adalah kesenjangan (gap) antara harapan dengan kenyataan, antara apa yang diinginkan atau yang dituju dengan apa yang terjadi atau faktanya. Merumuskan masalah penelitan ini dapat dilakukan dalam bentuk pernyataan (problem statement) dan juga dalam bentuk pertanyaan (research question)

(Soekidjo, 2010)

PENGERTIAN  TUJUAN PENELITIAN (skripsi dan tesis)

Tujuan penelitian adalah stau indikasi ke arah aman atau data (informasi) apa yang akan dicari melalui penelitian itu. Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang konkret, dapat diamati (observable) dan measurable.

Biasanya tujuan penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan khusus pada hakikatnya adalah penjabaran dari tujuan umum.

(Soekidjo, 2010)

PENGERTIAN MANFAAT PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

Manfaat peneltian adalah kegunaan hasil penelitian nanti, baik bagi kepentingan pengembangan program maupun kepentingan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, dalam manfaat penelitian ini harus diuraikan secara terperinci manfaat atau apa gunanya hasil penelitian nanti. Dengan kata lain, data (informasi) yang akan diperoleh dari penelitian tersebut akan dimanfaatkan untuk apa, dalam rangka pengembangan program kesehatan.  Dari segi ilmu, data atau informasi yang diperoleh dari  penelitian tersebut akan mempunyai kontribusi apa bagi engembangan ilm pengetahuan. Secara spesifik, manfaat penelitian di bidang apapun seyogyanya mencakup dua aspek, yakni:

  1. Manfaat praktis atau aplikatif

Adalah manfaat penelitian dari aspek praktis atau aplikatif, yakni manfaat penelitian bagi program. Di bidang kesehatan dengan sendirinya manfaat penelitiannya adalah bagi pembangunan kesehatan atau bagi pengembangan program kesehatan

  1. Manfaat teoritis atau akademis

Adalah manfaat penelitian dari aspek teoritis yakni manfaat penelitian bagi pengembangan ilmu. Di bidang kesehatan atau kedokteran dengan sendirinya manfaat peenlitian tersebut harus dapat menambah khasanah ilmu kesehatan, khususnya terkait dengan kekhususan bidang kesehatan yang diteliti.

Bag beberapa penelitian akademis (amahasiswa), kadang-kadang manfaat pebelitian ini uga dilihat dari kepentingan pribadi peneliti yakni sebagai pengalaman proses belajar mengajar khususnya dalam bidang metodologi penelitian. Sebenarnya manfaat penelitian seperti ini tidak perlu dicantumkan karena memang enelitian apa saja bagi peneliti otomatis merupakan pengalaman pribadi dalam melakukan penelitian.

(Soekidjo, 2010)

 

 

 

PENGERTIAN TUJUAN PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

 Tujuan penelitian adalah suatu indikasi ke arah mana, atau data (informasi) apa yang akan dicari melalui penelitian itu. Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentukpernyataan yang konkret, dapat diamati (observable) dan dapat diukur (measurable).

Biasanya, tujuan penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan khusus pada hakikatnya adalah penjabaran dari tujuan umum. Apabila tujuan umum suatu penelitian tidak dapat atau tidak perlu dispesifikasikan lagi, maka tidak perlu adanya tujuan umum dan khusu, cukup dibuat “tujuan penelitian” saja.

 

(Soekidjo, 2010)

PENGERTIAN DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL (skripsi dan tesis)

 

Untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel diamati/dteliti, perlu sekali variabel-variabel tersebut diberi beri batasan atau definisi operasioanl. Definisi operasional ini juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat ukur).

Pada waktu menyusun definisi operasional biasanya sekaligus mencakup:

  1. Cara pengukuran
  2. Hasil pengukuran (pengkategorian hasilpengukuran)
  3. Skala pengukuran

 

(Soekidjo, 2010)

PENGERTIAN  HIPOTESIS (skripsi dan tesis)

 

Hipotesis adalah satu jawaban sementara dari pertanyaan peneltian. Biasanya hipotesis dirumuskan dalam bentuk hubungan antara dua variabel (variabel bebas dan variabel terikat). Hipotesis ebrfungsi untuk menentukan ke arah pembuktian, artinya hipotesis ini merupakan pernyataan yang harus dibuktikan. Kalau hipotesis tersebut terbukti maka akan menjadi thesis. Lebih dari itu, rumusan hipotesis itu sudah akan tercermin variabel-variabel yang akan diamati atau diukur dan bentuk hubungan antara varabel-variabel yang akan dihipotesiskan. Oleh sebab itu, hipotesis seyogyanya spesifik, konkret dan observable.

Kadang-kadang hipotesis tersebut dapat dijabarkan ke dalam hipotesis-hipotesis yang lebih spesifik lagi (sub hipotesis). Beberapa orang sering membedakan adanya hipotesi mayor dan hipotesis minor. Hipotesis mayor masih lebih bersifat umum sedangkan hipotesis minor merupakan penjabaran hipotesis mayor, oleh sebab itu lebih bersifat spesifik.

(Soekidjo, 2010)

PENGERTIAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

 

Yang dimaksud dengan kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap knsep yang lainnya, atau antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti. Konsep sendiri adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggenarolisasikan suatu pengertian. Oleh sebab itu konsep tidak dapat diukur dan diamati secara langsung. Agar dapat diamati dan dapat diukurm maka konsep tersebut harus dijabarkan ke dalam variabel-variabel. Dari variabel itulah, konsep dapat diamati dan diukur.

 

 

 

(Soekidjo, 2010)

FUNGSI DARI TINJAUAN KEPUSTAKAAN (skripsi dan tesis)

Untuk mendukung permasalahan yang akan diungkapkan dalam usulan penelitian, diperlukan tinjauan kepustakaan yang kuat. Tinjauan kepustakaan ini sangat penting dalam mendasari penelitian yang akan dilakukan. Fungsi tinjauan kepustakaan ini meliputi dua hal, yaitu:

  1. Tinjauan teori yang berkiatan dengan permasalahan yang akan diteliti. Hal ini dimaksudkan agar para peneliti dapat mempunyai wawasan yang luas sebagai dasar untuk mengembangkan atau mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti. Lebih dari itu, tinjauan teori ini dimaksudkan agar peneliti dapat meletakkan atau mengidentifikasi masalah yang ingin diteliti itu dalam konteks pengetahuan yang sedang dianalisis. Oleh sebab itu,s ering di dalam tinjauan kepustakaan ini diuraikan kerangka teori sebagai dasar untuk mengembangkan kerangka konsep penelitian
  2. Tinjauan dari hasil-hasil penelitian lain yang berkaitan denan masalah yang akan diteliti. Hal in penting, di samping akan memperluas pandangan dan pengetahuan peneliti, juga peneliti dapat menghindari pengulangan dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh oang lain (menjaga originalitas penelitian). Dalam tinjauan kepustakaan ini, peneliti mencoba meninjau atau mereview terhadap teori-teori dari hasil penelitian orang lain. Hal ini berarti bahwa pemikiran dan pendapat-pendapat pembuat pembuat proposal penelitian seyogyanya dimasukkan dalam tinjauan kepustakaan tersebut.

 

(Soekidjo, 2010)

 

KRITERIA DALAM PENELITIAN KLINIS (skripsi dan tesis)

 

Menurut undang-undang, maka penelitian klinis harus memenuhi tiga kriteria yakni:

  1. Kegiatan peneliitan klinis itu mencakup pemberian obat oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien
  2. Ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa obat tersebut mempunyai efek yang bermanfaat bagi pasien
  3. Pemberian obat tersebut bertujuan untuk menentukan berapa besar dan sampai berapa jauh suatu obat mempunyai efek-efek yang menguntungkan atau merugikan

(Soekidjo, 2010)

JENIS DALAM PENELITIAN INTERVENSI (skripsi dan tesis)

 

Pada dasarnya ada dua tipe penelitian intervensi ini, yakni intervensi di bidang preventif dan penelitian intervensi di bidang kuratif.

  1. Penelitian intervensi preventif

Penelitian ini mencoba mempelajari hubungan faktor resko dengan kejadian suatu penyakit dengan memberikan perlakuan atau manipulasi terhadap faktor tersebut pada subjek. Walau efek perlakuan yang diberikan secara kolektif pada individu dalam masyarakat tersebut dapat diamati dengan pendekatan individual tetapi pengamatan tersebut lebih sering dilakukan dengan pendekatan kelompok.

  1. Penelitian intervensi kuratif

Penelitian eksperimental kuratif/intervensi mencoba memberikan perlakuan terhadap perkembangan suatu penyakit. Dengan kata lain, penelitian ini akan mengungkapkan apakah riwayat alamiah suatu penyakit dapat dimanipulasi atau di intervensi secara spesifik. Perlakuan dalam tipe penelitian ini adalah berupa pemberian penatalaksnaan tindakan kuratif kepada masyarakat untuk menanggulangi penyakit endemi masyarakat. Perlakuan bisa berupa penyuluhan kepada masyarakat dalam bentuk pengobaan massal

 

(Soekidjo, 2010)

 

 

 

 

 

PENGERTIAN PENELITIAN INTERVENSI (skripsi dan tesis)

Penelitian intervensi adalah penelitian eksperimental yang dikenakan pada masyarakat sebagai kesatuan himpunan subjek. Peneliti melakukan manipulasi atau memberikan perlakuan bukan dengan pendekatan subjek secara individual seperti pada penelitian klinik, melainkan dengan pendekatan kelompok. Perlakuan diberikan dalam wujud paket yang dikenakan pada subjek secara kolektif dalam komunitas. Efek perlakuan diamati dengan menggunakan satuan analisis inividual maupun kelompok

Nama lain dari penelitian intervensi ini adalah penelitian operasional. Disebut penelitian operasional karena peneliian ini dilakukan sekaligus untuk meperbaiki suatu sistem atau program yang sedang berjalan. Beberapa peneliti menamakan penelitian ini sebagai action research atau penelitian tindakan karena penelitian dilakukan dengan melakukan tindakan yakni intrevensi atau manipulasi salah satu variabel

(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN SEPARATE SAMPLE PRETEST POSTTEST (skripsi dan tesis)

Rancangan ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian kesehatan dan keluarga berencana. Pengukuran pertama (pretest) dilakukan terhadap sampel yag dipilih secara acak dari populasi tertentu. Kemudian dilakukan intervensi atau program pada seluruh populasi tersebut. Selanjutnya, dilakukan pengukuran kedua (post test) pada kelompok sampel lain yang juga dipilih secara acak (random) dari populasi yang sama. Rancangan ini sangat baik untuk menghindari pengaruh atau efek dari “pretest: meskipn tidak dapat mengkontrol sejarah, maturitas dan instrumen. Rancangan ini dapat di ilustrasikan sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
Kel. Eksperimen 01 x
Kel. Kontrol x 02

 

Di samping itu, ke empat rancangan eksperimen semu ini rancangan eksperimen sungguhan (true experiment) juga dapat digunakan dalam penelitian eksperimen, hanya simbol R (randomisasi) dilakukan atau diabaikan.

(Soekidjo, 2010)

 

 

RANCANGAN NON EQUIVALENT CONTROL GROUP (skripsi dan tesis)

 

 

Dalam penelitian lapangan, biasanya lebih dimungkinkan untuk membandingkan hasil intervensi program kesehatan dengan suatu kelompok kontrol yang serupa, tetapi tidak perlu kelompok yang benar-benar sama. Misalnya kita akan melakukan studi tentang perngaruh pelatihan kader terhadap cakupan Posyandu. Kelompok kader yang akan diberikan pelatihan, tidak mungkin sama betul dengan kelompok kader yang tidak akan diberi pelatihan (kelompok kontrol). Bentuk rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
Kel. Eksperimen 01 x 02
Kel. Kontrol 01 x 02

 

Rancangan ini disebut sebagai non equivlent control group dan sangat baik digunakan untuk evaluasi program pendidikan kesehatan atau pelatihan-pelatihan lainnya. Di samping itu, rancangan ini juga baik untuk membandingkan hasil intervensi program kesehatan di suatu kecamatan atau desa atau sebaliknya. Dalam rancangan ini pengelompokkan kontrol tidak dapat dilakukan secara random atau acak. Oleh sebab itu rancangan ini sering disebut juga non randomized control pretest posttest design

RANCANGAN RANGKAIAN WAKTU DENGAN KELOMPOK PEMBANDING (skripsi dan tesis)

 

 

Pada dasarnya rancangan ini adalah rancangan rangkaian waktu, hanya saja menggunakan kelomok pembanding (kontrol). Rancangan ini lebih memungkinkan adanya kontrol terhadap validitas internal sehingga keuntungan dari rancangan ini lebih menjamin adanya validitas internal yang tinggi. Bentu rancangan tersebut adalah sebagaimana tercantum sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
Kel. Eksperimen 01 02 03 x 04 05 06 07
Kel. Kontrol 01 02 03 x 04 05 06 07

 

 

(Soekidjo, 2010)

 

RANCANGAN RANGKAIAN WAKTU (skripsi dan tesis)

 

 

Rancangan ini seperti rancangan pretest post test, kecuali mempunyai keuntungan dengan melakukan observasi (pengukuran yang berulang-ulang), sebelum dan sesudah perlakuan. Bentuk rancangan ini adalah sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
01 02 03 04 X 05 06 07 08

 

Dengan menggunakan serangkan observasi (tes) dapat memungkinkan validitasnya lebih tinggi. Karena pada rancangan pre tes postets kemungkinan hasil 02 dipengaruhi oleh faktor lain di luar perlakuan sangat besar. Sedangkan pada rancangan ini, oleh karena observasi dilakukan lebih dari satu kali (baik sebelum maupun sesudah perlakuan) maka pengaruh faktor luar tersebut dapat dikurangi

 

(Soekidjo, 2010)

 

 

RANCANGAN POSTTEST DENGAN KELOMPOK KONTROL (skripsi dan tesis)

 

 

Rancangan ini juga merupakan eskperimen sungguhan dan hampir sama dengan rancangan  Randomizes Salomon Four Grup, hanya bedanya tidak dilakukan pre test. Karena kasus-kasus telah dirandomisasi baik pada kelompok eksperimen maupin kelompok kontrol. Kelompok-kelompok tersebut dianggap sama sebelum dilakukan perlakuan. Bentuk rancangan ini sebagai berikut:

Perlakuan Post Test
R (kelompok Eksperimen) X 02
R (kelompok Kontrol) 02

 

Dengan rancangan ini, memungkinkan peneliti mengukur pengaruh perlakuan (intervensi) pada kelompok eksperimen dengan cara membandingkan kelompok tersebut dengan kelompok kontrol. Tetapi rancangan ini tidak memungkinkan peneliti untuk menentukan sejauh mana atau seberapa besar perubahan itu terjadi, sebab pretest tidak dilakukan untuk menentukan data awal

(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN RANDOMIZES SALOMON FOUR GRUP (skripsi dan tesis)

 

 

Rancangan ini dapat mengtaasi kelemahan eksternal validitas uang ada pada rancangan randomized control group pretest posttes. Apabila pretest mungkin mempengaruhi subjek sehingga mereka menjadi lebih sensitif terhadap perlakuan (X) dan mereka bereaksi secara berbeda dari subjek yang tidak mengalami pretest maka generalisasi dari penelitian ini untuk populasi. Demikian pula kalau ada interaksi antara pretest dengan perlakuan (X). Rancangan Salomon ini dapat mengtasi masalah ini dengan menambah kelompok ke 3 (dengan perlakuan, tanpa pretest) dan yang ke 4 (tanpa perlakuan, tanpa pretest). Bentuk rancangan ini sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
Kel. Eksperimen (a) 01 X 02
Kel. Kontrol 01 02
Kel. Kontrol X 02
Kel. Kontrol 02

 

 

(Soekidjo, 2010)

 

RANCANGAN PERBANDINGAN KELOMPOK STATIS (skripsi dan tesis)

 

Rancangan ini seperti rancangan Rancangan Post Test Only Design, hanya bedanya menambahkan kelompok kontrol atau kelompok pembanding. Kelompok eksperimen menerima perlakuan (X) yang diikuti dengan pengukuran kedua atau observasi (02). Hasil observasi ini kemudian dikontrol atau dibandingkan dengan hasil observasi pada kelompok kontrol yang tidak menerima program atau intervensi. Rancangan ini dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Perlakuan Post Test
Kelompok eksperimen X 02
Kelompok kontrol 02

 

Dengan rancangan ini , beberapa faktor pengganggu seperti sejarah, testing, maturasi dan instrumen dapat dikontrol walaupun tidak dapat diperhitungkan efeknya.

(Soekidjo, 2010)

 

RANCANGAN ONE GROUP PRETEST POST TEST (skripsi dan tesis)

Rancangan ini juga tidak ada kelompok pembanding (kontrol), tetapi tidak sudah dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen (program). Bentuk rancanganini adalah sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
01 X 02

 

Kelemahan dari rancangan ini antara lain tidak ada jaminan bahwa perubahan yang terjadi pada variabel dependen karena intrevensi atau perlakuan. Tetapi perlu dicatat bahwa rancangan ini tidak terhindar dari berbaga kelemahan tersehadap validitas misalnya sejarah, testing, maturasi dan instrumen

 

(Soekidjo, 2010)

 

RANCANGAN POST TEST ONLY DESIGN (skripsi dan tesis)

Dalam rancangan ini perlakuan atau intervensi telah dilakukan (X) kemudan dilakukan pengukuran (observasi) atau post test (02). Selama tidak ada kelompok kontrol, hasil 02 tidak mungkin dibandingkan engan yang lain. Rancangan ini sering disebut “The One Shot Case Study”. Hasil observasi (02) hanya memberikan informasi yang bersifat deskriptif. Rancangan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Eksperimen Posttets
X 02

Dalam rancangan ini sama sekali tidak ada kontrol dan tidak ada internal validitas. Sifatnya yang cepat dan mudah, menyebabkan rancangan ini sering digunakan untuk meneliti suatu program yang inovatif. Misalnya dalam bidang pendidikan kesehatan. Di samping itu, rancangan in tidak mempunyai dasar untuk melakukan komparasi atau perbandingan. Oleh sebab itu kesimpulan yang diperoleh dapat menyesatkan. Namn demikian rancangan ini mempnunyai keuntungan antara lain dapat digunakan untuk menjajagi masalah-masalah yang diteliti atau mengembangkan gagasan atau metode-metode atau alat-alat tertentu.

 

(Soekidjo, 2010)

FAKTOR –FAKTOR DALAM VALIDITAS EKSTERNAL PENELITIAN KUASI EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

  1. Efek seleksi berbagai bias

Karakteristik anggota kelompok atau sampel eksperimen menentukan sekali terhadap generalisasi yang diperoleh. Kekeliruan dalam memilih anggota sampel dapat mengganggu hasil eksperimen. Oleh sebab itu, agar sampel yang diambil dapat representatf terhadap opulasi perlu diakukan identifikasi dan kontrol yang tepat

  1. Efek pelaksanaan pretest

Pretest banyak mempengaruhi variabel eksperimen, sedang pretest hanya dilakukan terhadap sampel. Oleh karena itu, eneralisasi yang diperoleh dari pelaksanaan eksperimen terhadap sampel, kemungkinan tidak daat berlaku untuk seluruh populasi sebab hanya anggota sampel yang mengalami pretest yang dapat mempengaruhi generalisasi, perlu dilakukan kontrol yang cermat dalam pelaksanaan pretes sehingga tidak mempunyai pengaruh terhada perlakuan yang menjadi dasar membuat generalisasi

  1. Efek prosedur eksperimen

Eksperimen yang dilakukan terhadap anggota-anggota sampel yang menyadari bahwa dirinya sedang dicoba atau di eksperimen menyebabkan generalisasi yang diperoleh tida berlaku bagi populasi karena adanya perbedaan pengalaman antara anggota sampel denga anggota populasi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan ontrol terhadap pengaruh prosedur eksperimen tersebut

  1. Gangguan penangan perlakuan berganda

Jika subjek pada kelompok eksperimen di paparkan terhadap perlakuan dua kali atau lebih secara berturut-turut, maka perlakuan yang terdahulu mempunyai efek terhadap yang diberikutnya. Hal ini menyebabkan perlakuan terakhir yang muncul dipengaruhi oleh perlakuan sebelumnya. Jadi generalisasi yangdiperoleh hanya berlaku bagi subjek yang mempunyai pengalaman dengan pelaksanaan dan pemunculan perlakuan ganda secara berturut-turut

 

(Soekidjo, 2010)

FAKTOR –FAKTOR DALAM VALIDITAS INTERNAL PENELITIAN KUASI EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi atau mengganggu validitas internal dalam penelitian kuasi tersebut dapat disebut sebagai ancaman-ancaman validitas internal itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Sejarah (history)

Peristiwa yang terjadi pada waktu yang lalu kadang-kadang dapat berpengaruh terhadap variabel keluaran (variabel terikat) . oleh karrena itu terjadi perubahan variabelterikat, kemungkinan bukan sepenuhnya disebabkan karena perakuan atau eksperimen tetapi juga dipengaruhi oleh faktr sejarah atau pengalaman subjek penelitian trhadap masalah-masalah yang dicobakan atau masalah-masalah lain yang berhubungan dengan eksperimen tersebut.

  1. Kematangan (maturitas)

Manusia, binaang atau makluk hidup lainnya sebagai subjek penelitian selalu mengalami perubahan. Pada manusai, perubahan berkiatan dengan proses kematangan atau maturitas baik secara biologis maupun psikologis. Dengan bertambahnya kematangan pada subjek ini akan berpengaruh terhadap variabel terikat. Dengan demikian, maka perubahan yang terjadi pada variabel terikat bukan saja karena adanya eksperimen tetapi juga disebabkan karena proses kematangan pada subjek yang mendapatkan perlakuan atau eksperimen

  1. Seleksi (selection)

Dalam memilih anggota kelompok eksperimen dan kelompok kontrool bisa terjadi perbdaan ciri-ciri atau sifat-sifat anggota kelompok satu dengn kelompok yang lainnya. Misalnya anggota-anggota kelompok eksperimen lebih tinggi pendidikannya dibandingkan dengana anggota-anggota kelompok kontrol sehingga sebelum diadakan perlakuan sudah terjadi pengaruh yang berbeda terhadap kedua kelompok tersebut. Setelah adanya perlakuan pada kelompok eksperimen, maka besarnya perubahanvariabel terikat yang terjadi mendapat gangguan dari variabel pendidikan tersebut. Dengan kata lain, perubahan yang terjadi pada variabel terikat tidak saja pengaruh perlakuan tetapi juga karena pengaruh pendidikan

  1. Prosedur tes (testing)

Pengalaman pada pretest dapat mempengaruhi hasil posttest, karena kemungkinan para subjek penelitian dapat mengingat kembali jawaban-jawaban yang salah pada waktu pretest dan kemudian pada waktu posttest subjek tersebut dapat memperbaiki jawabannya. Oleh sebab itu, perubahan variabel terikat tersebut bukan hanya karena hasl eksperimen saja, melainkan juga karena pengaruh dari pretest.

  1. Instrumen (instrumentation)

Alat ukur atau alat pengumpul data (instrumen) pada pretest biasanya digunakan lagi pada posttest. Hal ini sudah tentu akan berpengaruh terhadap hasil posttest tersebut. Dengan perkataan lain, perubahan yang terjadi pada variabel terikat, tidak disebabkan oleh perlakuan atau eksperimen saja tetapi juga karena pengaruh eksperimen.

  1. Mortalitas (mortality)

Pada proses dilakukan eksperimen atau pada waktu pretest dan posttest sering terjadi subjek yang drop out baik karena pindah, sakit ataupun meninggal dunia. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap hasil eksperimen

  1. Regresi ke arah nilai rata-rata

Ancaman ini terjadi karena adanya nilai ekstrem tinggi maupun ekstrem rendah dari hasil pretest (pengukuran pertama) cenederung untuk tidak ekstrem lagi pada posttest (pengukuran setelah namun biasanya mendekati nilai rata-rata. Perubahan yang terjadi pada variabel terikat tersebut bukan pada perubahan yang sebenarnya, melainkan merupakan perubahan semu. Oleh sebab itu ke aah nilai rata-rata ini juga disebut regresi semu. Untuk mempertinggi validitas internal eksperimen ini, maka faktor-faktor tersebut harus dikontrol atau diwaspadai dan diupayakan sehingga seminimal mungkin mengganggu validitas internal

 

(Soekidjo, 2010)

VALIDITAS HASIL PENELITIAN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

 

Dalam penelitian eksperimen, terutama eksperimen semu (quasi experiment) selalu dipertanyakan mengenai validitasnya, baik validitas internal maupun validitas eksternal

  1. Validitas internal

Validtas internal berhubungan dengan ketepatan mengindentifikasi variabel-variabel keluaran (hasil eksperimen) tersebut, hanya sebagai akibat dari adanya perlakuan (eksperimen). Dengan kata lain, seberapa jauh hasil atau atau perubahan yang terjadi pada variabel terikat tersebut sebagai pengaruh atau akiat dari adanya perlakuan atau eksperimen (terutama eksperimen semu). Banyak faktor yang mempengaruhi validitas internal ini sehingga dapat mengganggu hasil eksperimen.

  1. Validitas eksternal

Validitas eksternal ini berkaitan dengankemungkinan generalisasi dari hasil eksperimen tersebut. Hal ini berarti, apakah hasil eksperimen tersebut terjadi pula, apabila eksperimen yang sama dilakukan pada populasi lain. Dengan kata lain, seberapa jauhkah representatif penemuan-penemuan penelitian ini dan seberapa jauh hasil-hasil penelitian tersebut dapat digeneralisasikan kepada subjek-subjek atau kondisi yang serupa atau semacam. Untuk mengontrol validitas eksternal ini diperlukan pengajian terhadap beberapa faktor.

PERANAN KONTROL DALAM PENELITIAN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian eksperimen, kontrol mempunyai peranan yang sangat penting antara lain:

  1. Untuk mencegah munculnya faktor-faktor yang sebenarnya tidak diharapkanberpengaruh terhadap variabel terikat
  2. Untuk membedakan berbagai variabel yang tidak diperlukan dari variabel yang diperlukan
  3. Untuk menggambarkan secara kuantitatif hubungan antar variabel bebas dengan variabel terikat dan sejauh mana tingkat hubungan antara ke dua variabel tersebut.

(Soekidjo, 2010)

FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT DIKONTROL DALAM PENELITIAN (skripsi dan tesis)

  1. Sasaran atau objek yang diteliti (diamati)
  2. Peneliti atau orang yang melakukan percobaan
  3. Variabel bebas (independent variable) yaitu kondisi munculnya variabel terikat
  4. Variabel terikat (dependent variables) yaitu variabel yang akan terpengaruh/berubah setelah dikenakan perlakuan atau percobaan
  5. Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
  6. Populasi dan sampel
  7. Skor rata-rata (mean) hasil tes

 

 

(Soekidjo, 2010)

LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

 

Agar diperoleh hasil yang optimal, penelitian eksperimen biasanya menempuh langkah-langkah antara lain:

  1. Melakukan tinjuan literatur terutama yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti
  2. Mengidentifikasi dan membatasi masalah peneliian
  3. Merumuskan hipotesis-hipotesis penelitian
  4. Menyusun rencana eksperimen yang mncakup:
  5. Menentukan variabel bebas dan variabel terikat yakni variabel yang akan diukur perubahannya setelah adanya intervensi atau perlakuan
  6. Memilih disain atau model eksperimen yang akan digunakan
  7. Menentukan sapel
  8. Menyusun metode atau model eksperimen dan alat ukur
  9. Menyusun outline prosedur pengumpulan data
  10. Menyusun hipotesis statistik
  11. Melakukan pengumpulan data tahap pertama (pretest)
  12. Melakukan eksperimen atau percobaan
  13. Mengumpulkan data tahap kedua (postest)
  14. Mengolah dan menganalisis data
  15. Menyusun laporan

(Soekidjo, 2010)

 

PENELITIAN EVALUASI (skripsi dan tesis)

 

Penelitian evaluasi dilakukan untuk melihat apkah suatu program yang sedang atau sudah dilakukan. Misalnya penelitian evluasi tentang perkembangan pelayanan Puskesmas. Hasilnya penelitian ini digunakan untuk perbaikan dan peningkatan program-program tersebut. Dalam mengolah hasil penelitian evaluasi ini, biasanya menggunakan analisis staistik sederhana saja misalnya analisi persentase.

(Soekidjo, 2010)

STUDI PREDIKSI (skripsi dan tesis)

 

Studi ini digunakan untuk memperkirakan tentang kemungkinan munculnya suatu gejala berdasarkan gejala lain yang sudah muncul dan diketahui sebelumnya. Dalam bidang kesehatan, studi prediksi ini digunakan terutama :

  1. Untuk membuat perkiraan terhadap suatu atribut dari atribut lain
  2. Untuk membuat perkiraan terhadap suatu atribut dari hasil pengukuran
  3. Untuk membuat perkiraan terhadap suatu pengukuran dari suatu atribut lainnya
  4. Untuk membuat perkiraan terhadap pengukuran dari pengukuran lain

Dalam melakukan uji statistik biasanya menggunakan analisis regresi. Sebagaimana dengan teknik korelasi, maka dalam prediksi penafsiran analisis statistika di dasarkan pada koefesien yang diperoleh. Untuk melihat apakah ada munculnya suatu gejala itu adahubungannya dengan gejala lain dan sampai sebearapa besar derajat hubungan tersebut

(Soekidjo, 2010)

STUDI KORELASI (skripsi dan tesis)

 

 

Studi korelasi ini pada hakikatnya merupakan penelitian atau penelaahan hubungan antara dua variabel pada suatu situasi atau sekelompok subjek. Hal ini dilakukan untuk melihat hubungan antara gejala satu dengan gejala yang lain, atau variabel satu dengan variabel yang lain.

Untuk mengetahui korelasi antara suatu variabel dengan varabellain tersebut diusahakan dengan mengindentifikasi variabel yan ada pada suatu objek, kemudian diidentifikasi pula variabel lan yang ada pada objek yang sama dan dilihat apakah ada hubungan antara keduanya.

Dalam uji statistik biasanya menggunakan analiss korelasi. Seacara sederhana dapat diakukan dengan cara melihat skors atau nilai rata-rata dari variabel yang satu dengan skors rata-rata dari variabel yang lain. Koefisien korelasi yang diperoleh selanjutnya dapat dijadikan dasar untuk menguji hipotesis penelitian yang dikemukakan terhadap masalah tersebut dan sejauh mana hubungan antara keduanya.

(Soekidjo, 2010)

 

STUDI PERBANDINGAN (COMPARATIVE STUDY) (skripsi dan tesis)

Penelitian dengan menggunakan metode studi perbandingan dilakukan dengan cara membandingkan persamaan dan perbedaan sebagai fenomena untuk mencari faktor-faktor apa atau situasi apa bagaiman yang menyebabkan timbulnya suatu peristiwa tertentu. Studi ini dimulai dengan mengadakan pengumpulan fakta tentang faktor-faktor yang menyebabkan gejala tertentu, kemudian dibandingkan dengan situasi lain atau sekaligus membandingkan suatu gejala atau peristiwa dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dari dua atau beberapa kelompok sampel. Setelah mengetahui persamaan dan perbedaan penyebab selanjutnya ditetapkan bahwa sesuatu faktor yang menyebabkan munculnya suatu gejala ada objek yang diteliti itulah sebenarnya yang meyebabkan munculnya gejala tersebut baik kepada objek yang diteliti maupun pada objek yang dibandingkan

(Soekidjo, 2010)

STUDI PENELAHAAN KASUS (CASE STUDY) (skripsi dan tesis)

 

Studi kasus dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui studi kasus yang terdiri dari unit tunggal. Pengertian unit tunggal disini adalah satu orang, sekelompok penduduk yang terkena suatu masalah, atau sekelompok masyarakat di suatu daerah. unit yang menjadi kasus rtersebut dianalisis secara mendalam di analisis baik dari seg yang berhubungan dengan keadaan kasus itu sendir, faktor yang mempengaruhi, kejadian-kejadian khusus yang muncul sehubungan dengan kasus maupun tinakan ataupun reaksi kasus terhadap suatu perlakuan atau pemaparan tertentu. Meskipun di dalam studi kasus ini yang diteliti hanya berbentuk unit tunggal, namun dianalisis secara mendalam meliputi berbagai aspke yang cukup luas serta penggunaan berbagai teknik integratif

 

(Soekidjo, 2010)

TAHAP-TAHAP PENELITIAN COHORT (skripsi dan tesis)

 

Langkah-langkah pelaksanaan penelitian cohort antara lain sebagai berikut:

  1. Identifikasi faktor resiko dan efek
  2. Menetapkan subjek penelitian (menetapkan populasi dan sampel)
  3. Pemilihan subjek dengan faktor resiko posiif dari subjek dengan efk negatif
  4. Memilih subjek yang akan menjadi anggota kelompok kontrol
  5. Menganalisis dengan membandingkan proporsi subjek yang mendapat efek positif dengan subjek yang mendapat efek negatif baik pada kelompok resiko positif maupun kelompok beresiko negatif (kontrol)

 

(Soekidjo, 2010)

TAHAP-TAHAP PENELITIAN CASE CONTROL (skripsi dan tesis)

 

Tahap-tahap penelitian case control ini adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi variabel-variabel penelitian (faktor resiko dan efek)
  2. Menetapkan subjek penelitian (populasi dan sampel)
  3. Identifikasi kasus
  4. Pemilihan subjek sebagai kontrol
  5. Melakukan pengukuran retrospektif (melihat ke belakang) untukmelihat faktor resiko
  6. Melakukan analisis dengan membandingkan proporsi antara variabel-variebl objek penelitian dengan variabel-variabel kontrol

 

(Soekidjo, 2010)

TAHAP-TAHAP PENELITIAN CROSS SECTIONAL (skripsi dan tesis)

Dari skema rancangan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penelitian cross sectional adalah sebagai berikut:

  1. Mengdentifikasi variabel-variabel penelitian dan mengindentifikasi faktor resiko dan faktor efek
  2. Menetapkan subjek penelitian atau populasi dan sampel
  3. Melakukan observasi atau pengukuran variabel-variabel yang merupakan faktor resiko dan efek sekaligus berdasarkan status keadaan variabel pada saat itu (pengumpulan data)
  4. Melakukan analisis korelasi dengan cara membandingkan prporsi antar kelompok-kelompok hasil observasi (pengukuran)

(Soekidjo, 2010)

PENGERTIAN DAN JENIS FAKTOR RESIKO DALAM PENELITIAN KESEHATAN (skripsi dan tesis)

 

 

Faktor resiko adalah faktor-faktor atau keadaan-keadaan yan mempengaruhi perkembangan suatu penyakit atau status kesehatan tertentu. Faktor resiko berbeda dengan agen (penyebab penyakit), dimana faktor resiko merupakan suatu kondisi yang memungkinkan adanya mekanisme hubungan antara agen penyakit dengan induk semang (host) dan penjami yaitu manusia, sehingga terjadinya efek (penyakit). Sedangkan agen adalah suatu faktor yang harus ada untuk terjadnya penyakit.

Ada dua macam faktor resiko yaitu:

  1. Faktor resiko yang berasal dari organisme itu sendiri (faktor resiko intrinsik). Faktor intrinsik itu sendiri dibedakan menjadi:
  2. Faktor jenis kelamin dan usia
  3. Faktor-faktor anatomi atau konstitusi tertentu
  4. Faktor nutrisi
  5. Faktor resiko yang berasal dari lingkungan (faktor resiko ekstrinsik) yang memudahkan seseorang terjangkit suatu penyakit tertentu. Berdasarkan jenisnya, faktor ekstrinsik ini dapat berupa: keadaan fisik, kimiawi, biologis, psikologis sosial buadaya dan perilaku

 

(Soekidjo, 2010)

PENGERTIAN PENELITIAN SURVEI ANALITIK (skripsi dan tesis)

 

 

Survei analitik adalah survei atau penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi. Kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena atau antara faktor resiko dengan faktor efek. Yang dimaksud dengan faktor efek adalah sutu fenomena yang mengakibatkan terjadinya efek (pengaruh).

(Soekidjo, 2010)

 

 

JENIS PENELITIAN SURVEI DESKRIPTIF (skripsi dan tesis)

 

Di dalam penelitian kesehatan, jenismasalah survei deskriptif dapat igolongkan dalam hal-hal sebagai berikut:

  1. Survei rumah tangga

Adalah suatu survei deskriptif yang ditujukan kepada rumah tangga. Biasanya pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada kepala keluarga. Informasi yang diperoleh dari kepala keluarga tidak saja infomrasi mengenai dirinya kepala keluarga tersebut, tetapi juga infrmasi tentang diri atau keadaan anggota-anggota keluarga lainnya dan bahkan informasi tentang rumah dan lingkungannya.

  1. Survei morbiditas

Adalah suatu survei deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui kejadian dan distribusi penyakit dalam masyarakat atau pupulasu. Survei ini dapat sekaligus digunakan untuk mengetahui insidence atau kejadian suatu penyakit maupun prevalensi

  1. Survei analisis jabatan

Survei ini bertujuan untukmengetahui tentang tugas dan tanggung jawab petugas kesehatan serta kegiatan-kegiatan para petugas tersebut berhubungan dengan pekerjaan mereka.  Di samping itu, survei inin juga dapat mengetahui status dan hubungan antara satu dengan yang lainnya atau hubungan antara atasan dan bawahan, kondisi kerja serta fasilitas yang ada untuk melaksanakan tugas

  1. Survei pendapat umum

Survei ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang pendapat umum terhadap suatu program pelayanan kesehatan yang sedangerjalan dan yang menyangkut seluruh lapisan masyarakat. Survei ini dapat juga digunakan untuk menggali pendapat seluruh masyarakat atau publik tentang pelayanan kesehatan dan masalah-masalah kesehatan masyarakat.

 

(Soekidjo, 2010)

PENGERTIAN DAN TUJUAN PENELITIAN SURVEI DESKRIPTIF (skripsi dan tesis)

 

Survei deskriptif dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya bertujuan untuk melihat gambaran fenomena (termasuk kesehatan) yang trjadi pada suatu populasi tertentu. Pada umumnya survei deskriptif digunakan untuk membuat penilaian terhadap suatu kondisi dan penyelenggaran suatu program di masa sekarang, kemudian hasilnya digunakan untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut. Survei deskriptif didefinisikan suatu penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Dalam bidang kesehatan masyarakat survei deskriptif digunakan untuk menggambarkan atau memotret masalah kesehatan serta yang terkait dengan kesehatan sekelompok penduduk atau orang yang tinggal dalam komunitas tertentu

(Soekidjo, 2010)

MANFAAT PENELITIAN KESEHATAN/KEDOKTERAN (skripsi dan tesis)

 

Dalam rangka pengembangan penelitian kesehatan/kedokteran, dperlukan perencanaan yangbaik dan teliti. Perencanaan yang teliti sangat memerlukan informasi dan data yanga kurrat ini diperlukan bantuan penelitian yang relevan. Secara singkat manfaat penelitian kesehatan/kedokteran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

  1. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menggambarkan tentang keadaan atau status kesehatan idividu, kelompok maupun masyarakat
  2. Hasil penelitian kesehatan dapat digunaan untuk menggambarkan kemampuan sumberdaya, kemungkinan sumbernya tersebut guna mendukung pengembangan pelayanankesehatan yang direncanakan
  3. Hasil penelitian kesehatan dapat dijadikan sarana untuk menyusun kebijaksanaan dalam menyusun strategi pengembangan pelayanan kesehatan
  4. Hasil penelitian kesehatan dapat dilukiskan kemampuan dalam pembiayaan, peralatan dan ketenagakerjaan baik secara kuantitas maupun kualitats guna mendukung sistem kesehatan

 

(Soekidjo, 2010)

 

 

 

 

 

 

TUJUAN PENELITIAN KESEHATAN (skripsi dan tesis)

 

Tujuan penelitian kesehaan/kedokteran erat hubungannya dngan peelitian yang akan dilakukan. Tujuan penelitian penjelajahan berbeda dengan penelitian pengembangan, bebeda pila penelitian verifikatif. Demikian pula penelitian dasar, akan lain pula tujuannya dengan penelitian terapan. Tetapi secara umum semua jenis penelitian kesehatan/kesokteran itu antara lain, adalah:

  1. Menemukan atau mengkaji fakta baru maupun fakta lama sehubungan dengan bidang kesehatan/kedokteran
  2. Mengadakan analisiterhadap hubungan atau interaksi antara fakta-fakta yang ditemukan serta hbungannya dengan teori-teori yang ada
  3. Mengembangkan alat, teori atau konsep baru dalam bidang kesehatan/kedokteran yang memberi kemungkinan bagi peningkatan kesehatan masyarakat khususnya dan peningkatan kesehjateraan manusia pada umumnya

Pendapat lain mengelompokkan tujuan penelitian kesehatan/kedokteran itu menjadi tiga, yaitu:

  1. Untuk merumuskan teori, konsep dan atau generalisasi baru tentang penelitian kesehatan/kedokteran
  2. Untuk memperbaiki atau modifikasi teori, sistem atau program pelayanan penelitian kesehatan/kedokteran
  3. Untukmemperkokoh teori, konsep, sistem atau generalisasi yang sudah ada

(Soekidjo, 2010)

 

 

 

JENIS PENELITIAN BERDASARKAN SUMBER DATA (skripsi dan tesis)

 

Dari segi tempat atau sumber data darimana suatu penelitian itu dilakukan jenis penelitian kesehatan dibedakan menjadi:

  1. Penelitian perpustakaan

Penelitian perpustakaan dilakuka hanya dengan mengumpulkan dan mempelajari data dari literatur, laoran-laporan dan dokumen-dokumen lannya yang telah ada di perpustakaan.

  1. Penelitian labotarium

Penelitian labotarium dilakukan di dalam labotarium, pada umumnya digunakan dalam penelitian-penelitian klinis.

  1. Penelitian lapangan

Penelitian lapangan dilaksanakan di masyarakat dan masyarakat sebagai objek penelitian.

 

(Soekidjo, 2010)

JENIS PENELITIAN KESEHATAN BERDASARKAN TUJUAN (skripsi dan tesis)

 

Ditinjau dari segi tujuan, penelitian kesehatan apat digolongkan menjadi tiga:

  1. Penelitian penjelajahan (eksploratif)

Penelitian penjelajahan bertujuan utnuk menemukan probelamtika-problematika baru dalam dunia kesehatan

  1. Penelitian pengembangan

Penelitian pengembanan bertujuan utnuk mengembangkan pengetahuan atau teori baru di bidang kesehatan atau kedokteran.

  1. Penelitian verifikatif

Penelitian verifikatif bertujuan untuk menguji kebenaran suatu teori dlam bidang kesehatan atu kedokteran.

(Soekidjo, 2010)

JENIS PENELITIAN DALAM RANAH EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

 

  1. Penelitian dasar

Penelitian ini dilakukan untuk memahami atau menjelaskan gejala yang muncul pada suatuikhwal atau kejadian. Kemudian dari gejala yang terjadi pada ikhwal tersebut dianalisis dan kesimpulannya adalah merupakan pengethuan atau teori baru. Jenis penelitianin isering juga disebut dengan peneliitan murni atau “pure research” karena dilakukan untuk merumuskan suatu teori atau dasar pemikiran ilmiah tentang kesehatan/kedokteran.

  1. Penelitian terapan

Penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki atau memodifikasi proses suatu sistem atau program dengan menerapkan teori kesehatan  yang ada. Dengan kata lain, penelitian ini berhubungan dengan penerapan suatu sistem atau metiode yang terbaik sesuai dengan sumber daya yang tersedia untuk suatu hal atau suatu keadaan. Artinya, penelitian ini dilakukan, sementara itu sistem tersebut di uji coba dan dimodifikasi. Penelitian terapan ini sering disebut sebagai penelitian operasional.

  1. Penelitian tindakan

Penelitia ini dilakukan terutama untuk mencari suatu dasar pengetahuan praktis guna memperbaiki suatu situasi atau keadaan kesehatan masyarakat yang dilakukan secara terbatas. Biasanya penelitian ini dilakukan erhadap suatu keadaan yang sedang berlangsung. Penelitian ini biasanya dilakukan dimana pemecahan masalah perlu dilakukan dan hasilnya diperlukan untuk memperbaiki suatu keadaan

  1. Penelitian evaluasi

Penelitian ini dilakukan untukmelakukan penilaian terhadap suatu pelaksanaan kegiatan atau program yang sedang dilakukan dalam rangka mencari umpan balik yang akan dijadikan dasar untuk memperbaiki suatu program atau sistem. Penelitian evaluasi ada dua tipe, yaitu tinjauan (review) dan pengujian (trial).

 

(Soekidjo, 2010)

JENIS PENELITIAN BERDASARKAN SURVEI ANALITIK (skripsi dan tesis)

 

Dalam penelitian survei analitik, dari analisis korelasi dapat diketahui seberapa jauh kontribusi faktor resiko tertentu terhadap adanya suatu kejadian tertentu (efek). Secara garis besar survei analitik ini dibedaan dalam tiga pendekatan (jenis) yakni:

  1. Potong silang (cross sectional)

Dalam penelitian seksional silang atau potong silang, variabel sebab atau resiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur dan dikumpulkan secara simultan (dalam waktu yang bersamaan)

  1. Studi restrospektif (retrospective study)

Penelitian ini adalah penelitian yang berusa melihat ke belakang. Artinya pengumpulan data dimulai dari efek atau akibat yang telah terjadi. Kemudian dari feek tersebut ditelusuri ke belakang tentang penyebabnya atau variabel-variabel yang mempengaruhi akibat tersebut. Dengan kata lain, penelitian retrospektif ini berangkat dari dependent variables kemudian di cari independent variables.

  1. Studi Prospektif (cohort)

Penelitian ini adalah penelitian yang melihat ke depan (forward looking) artinya penelitian dimulai dari variabel penyebab atau faktor resiko kemudian diikuti akibanya pada waktu yang akan datang. Dengan kata lain, peneliitan in berangkat dari variabel independen kemudian diikuri akibat dari independen variabel tersebut terhadap dependen variabel.

 

(Soekidjo, 2010)

JENIS PENELITIAN DALAM RANAH SURVEI (KESEHATAN) (skripsi dan tesis)

 

 

Penelitian survei digolongkan menjadi dua yaitu penelitian survei yang bersifat deskriptif (descriptive) dan analitik (analytical).

  1. Dalam penelitian survei deskriptif, peneitian diarahkan untuk mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan di dalam suatu komunitas atau masyarakat. Dalam survei deskriptif pada umumnya penelitian menjawab pertanyaan bagaimana (how)
  2. Penelitian survei analitik maka penelitian diarakahkan untuk menjelaskan suatu keadaan atau situasi. Survei ini ppada umumnya berusaha menjawab pertanyaan mengapa (why)? Oleh sebab itu juga disebut dengan penelitian penjelasan (explanatory study).

 

(Soekidjo, 2010)

JENIS PENELITIAN KESEHATAN (skripsi dan tesis)

 

Pengelompokkan jenis penelitian kesehatan ini bermacam-macam menurut aspek mana penelitian itu ditinjau. Berdasarkan metode yang digunakan maka penelitian kesehatan dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu

  1. Metode penelitian survey

Penelitian survey adalah suatu penelitian yang dilakukan tanpa melakukan intervensi terhadap subjek penelitian (masyarakat), sehingga sering disebut dengan penelitian non eksperiman. Dalam survei, penelitian tidak dilakukan terhadap seluruh objek yang diteliti atau populasi tetapi hanya mengambil sebagian dari populasi tersebut (sampel). Sampel adalah bagian dari populai yang dianggap mewakili populasinya. Dalam penelitian survei, hasil dari peneliitian tersebut merupakanhasil dari keseluruhan. Dengan kata lain, hasil dari sampel tersebut dapat digeneralisasikan sebagi hasil populasi.

  1. Metode penelitian eksperimen

Dalam penelitian eksperimen atau percobaan, peneliti melakukan percobaan atau perlakuan terhadap variabel independennya, kemudian mengukur akibat atau pengaruh percobaan tersebut terhadap dependen variabel. Yang dimaksud dengan percobaan atau perlakuan di sini adalah suatu usaha modifikasi kondisi secara sengaja dan terkontrol dalam menentukan peristiwa atau kejadian, serta pengamatan terhadap perubahanyang terjadi akibat dari peristiwa tersebut.

  1. Metode penelitian surveilans

Dalam epidemiologi, khususnya pemberantasan penyakit menular, penelitian harus dilakukan secara terus menerus untuk mengetahui perkembangan penyakit-penakit yang bersangkutan. Penelitian yangterus menerus dilakukan dalam rangka memantau perkembangan suatu penyakit itu disebut dengan surveilans. Surveilans (surveillance) yang artinya pengamatan secara terus menerus terhadap suatu penyakit atau suatu kelompok atau masyarakat. Pengamatan dalam rangka surveilans dapat dilakukan terhadap kejadian suatu penyakit baik penyakit menular atau tidak menular

 

(Soekidjo, 2010)

 

Pengobatan Anti Retro Viral (ARV) (skripsi dan tesis)

Penanganan utama terhadap AIDS melalui pengobatan yang disebut sebagai antiretroviral agents. Di pertengahan tahun 1980-an, obat utama bagi AIDS adalah AZT (azidothymidine) yang berfungsi untuk memperlambat reproduksi HIV pada tahapan awal. Selanjutnya di pertengahan tahun 1990-an berkembang obat anti-retroviral baru yang disebut sebagai protease inhibitors, yang juga berfungsi untuk menangani reproduksi HIV dan secara dramatis mengurangi jumlah virus tersebut dalam banyak inveksi HIV yang dialami, tetapi tidak semuanya. (Sarafino, 2006). Terapi ARV selalu digunakan dalam bentuk kombinasi, oleh karena itu disebut HAART (Highly Active Antiretroviral Therapy). Sampai saat ini sudah ada dua bentuk kombinasi dimana kombinasi pertama adalah Neviral-Duviral dan Duviral-Efaviren (Schumaker, 2008)

ODHA memerlukan ARV biasanya bila level CD4 < 350/mm3. Penggunaan ARV di Indonesia sudah dimulai pada tahun 1990 dengan menggunakan obat paten, baru pada bulan Nopember tahun 2001 menggunakan obat generik. Kimia Farma sendiri baru mampu memproduksi ARV generik pada akhir tahun 2003, sehingga obat ARV dapat diberikan secara cuma-Cuma sejak tahun 2004. Hingga saat ini sumber obat ARV di Indonesia berasal dari dana APBN yang diproduksi oleh Kimia Farma dan dari Global Fund dengan perbandingan dana 70:30 (Yayasan Citra Usadha Indonesia. 2008).

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa anti-retroviral adalah suatu obat yang adapat digunakan untuk mencegah reproduksi retrovirus, yaitu virus yang terdapat pada HIV. Obat ini tidak untuk mencegah penyebaran HIV dari orang yang terinfeksi ke orang lain, tidak untuk menyembuhkan infeksi HIV dan juga tidak berfungsi untuk membunuh virus (agar tidak berkembang menjadi AIDS karena jika hal ini terjadi maka akan membuat kerusakan pada sel tubuh yang terkena infeksi virus tersebut). Antiretroviral digunakan untuk memblokir atau menghambat proses reproduksi virus, membantu mempertahankan jumlah minimal virus di dalam tubuh dan memperlambat kerusakan sistem kekebalan sehinga orang yang terinfeksi HIV dapat merasa lebih baik/nyaman dan bisa menjalani kehidupan normal.

Penyebab Kanker (skripsi dan tesis)

 

  1. Teori penyebab kanker

Menurut Tambayong (2000) teori penyebab kanker ada 4 yaitu :

1)         Teori mutasi somatik

Kelainan dalam gen timbul akibat perubahan mutasi, yang mungkin diinduksi oleh zat karsinogenik, dan adanya faktor herediter.

2)         Teori diferensiasi aberans atau epigenetik

Kelainan timbul akibat adanya gangguan pengaturan dari gen normal.

3)         Teori virus

Virus disebut sebagai kemungkinan penyebab kanker pada manusia, virus tersebut disebut virus onkogenik. Ada bukti yang menunjukkan bahwa virus mengubah genom sel yang terinfeksi kemudian mengubah turunan dari selnya. Dua virus onkogenik adalah virus DNA dan RNA.

4)         Teori seleksi sel

Menurut teori ini kanker berkembang tahap demi tahap, melalui proses mutasi. Proses ini dapat berhenti dan reversibel bila stimulusnya tak ada lagi.

 

  1. Faktor penyebab kanker

1)         Faktor genetik

Faktor genetik merupakan salah satu faktor penyebab kanker. Jenis kanker yang sering diturunkan dalam faktor genetik yaitu kanker payudara, kanker kulit, dan kanker indung telur.

2)         Faktor gaya hidup

Gaya hidup juga menjadi faktor timbulnya penyakit kanker. Gaya hidup yang dimaksud seperti merokok, kebiasaan makan, kebiasaan minum minuman beralkohol, dan perilaku seksual yaitu melakukan hubungan intim diusia dini serta sering berganti-ganti pasangan.

3)         Faktor virus

Virus Papilloma menyebabkan kutil kelamin (genitalis) merupakan salah satu penyebab kanker leher rahim pada wanita. Virus Sitomegalo menyebabkan Sarkoma Kaposi (kanker sistem pembuluh darah yang ditandai oleh lesi kulit berwarna merah). Virus Hepatitis B dapat menyebabkan kanker hati.

4)         Faktor emosional

Emosional di sini yang di maksudkan adalah stress. Stres berat menyebabkan ganggguan keseimbangan seluler tubuh. Keadaan tegang terus menerus dapat mempengaruhi sel, dimana sel jadi hiperaktif dan berubah sifat menjadi ganas sehingga menyebabkan kanker.

5)         Faktor gangguan keseimbangan hormon

Hormon dapat merupakan promotor terjadinya keganasan. Bila kadar hormon tertentu meningkat selama waktu yang lama dapat mencetuskan kanker payudara, endometrium, vagina, prostat, atau tiroid.

6)         Faktor radiasi

Radiasi dapat menyebabkan kanker payudara, tiroid, dan leukemia serta sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker kulit.

7)         Faktor Infeksi

Parasit Schistososma hematobium mengakibatkan kanker planoseluler. Infeksi oleh Clonorchis yang dapat menyebabkan kanker pankreas dan saluran empedu.

8)         Faktor penurunan imunitas

Penurunan imunitas karena tindakan kedokteran (iatrogen) misalnya penggunaan kemoterapi, pemberian kortikosteroid jangka lama, atau terapi penyinaran luas dapat mengakibatkan timbulnya keganasan setelah sepuluh tahun atau lebih.

Rahim (skripsi dan tesis)

 

Rahim (uterus) adalah organ berdinding tebal, muskular, pipih, cekung yang tampak mirip buah pir terbalik (Bobak, 2004). Uterus terdiri dari tiga bagian, yaitu fundus yang merupakan tonjolan bulat di bagian atas dan terletak di atas insersi tuba falopi, korpus yang merupakan bagian utama yang mengelilingi kavum uteri berbentuk segitiga, dan isthmus yakni bagian sedikit konstriksi berbentuk silinder yang menghubungkan korpus dengan serviks. Besarnya uterus berbeda-beda, bergantung pada usia dan pernah melahirkan anak atau belum. Ukuran uterus kira-kira sebesar telur ayam kampung. Ukuran uterus pada nulipara adalah 5,5-8 cm x 3,5-4 cm x 2-2,5 cm dengan berat 40-50 gram, sedangkan ukuran uterus pada multipara adalah 9-9,5 cm x 5,5-6 cm x 3-3,5 cm dengan berat 60-70 gram. Letak rahim yang normal adalah anteversiofleksi (Rustam, 1998).

Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan, yaitu endometrium, miometrium, dan peritoneum. Endometrium ialah suatu lapisan membran  mukosa yang mengandung banyak pembuluh darah. Miometrium tersusun atas lapisan-lapisan serabut otot polos yang terbentang ketiga arah (longitudinal, transversal, dan oblique). Peritoneum merupakan membran serosa yang melapisi seluruh korpus uterus, kecuali seperempat permukaan anterior bagian bawah dimana terdapat kandung kemih dan serviks (Bobak,2004).

Bagian bawah uterus adalah serviks atau leher rahim. Tempat perlekatan serviks uteri dengan vagina. Panjang serviks sekitar 2,5 sampai 3cm, 1cm menonjol ke dalam vagina pada wanita tidak hamil. Serviks terutama disusun oleh jaringan ikat fibrosa serta jumlah kecil serabut otot dan jaringan elastic. Muara sempit antara kavum uteri dan kanal endoserviks (kanal di dalam serviks yang menghubungkan kavum uteri dengan vagina), disebut ostium interna. Muara sempit antara endoserviks dan vagina disebut ostium eksterna.

Fungsi utama uterus adalah sebagai tempat bertumbuh dan  berkembangnya janin. Namun, uterus juga memiliki fungsi lain diantaranya pada siklus menstruasi uterus berperan dengan peremajaan endometrium, berkontraksi terutama pada proses persalinan dan setelah persalinan (Rustam, 1998).

 

Gambar 1.

Sistem Reproduksi Wanita (ADAM,2012)

Penatalaksanaan Bayi berat lahir rendah (BBLR) (skripsi dan tesis)

 

Konsekuensi dari anatomi dan fisiologi yang belum matang menyebabkan bayi BBLR cenderung mengalami masalah yang bervariasi. Hal ini harus diantisipasi dan dikelola pada masa neonatal. Penatalaksanaan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi stress fisik maupun psikologis. Adapun penatalaksanaan BBLR meliputi (Wong, 2008; Pillitteri, 2003) :

  1. Dukungan respirasi

Tujuan primer dalam asuhan bayi resiko tinggi adalah mencapai dan mempertahankan respirasi. Banyak bayi memerlukan oksigen suplemen dan bantuan ventilasi. Bayi dengan atau tanpa penanganan suportif ini diposisikan untuk memaksimalkan oksigenasi karena pada BBLR beresiko mengalami defisiensi surfaktan dan periadik apneu. Dalam kondisi seperti ini diperlukan pembersihan jalan nafas, merangsang pernafasan, diposisikan miring untuk mencegah aspirasi, posisikan tertelungkup jika mungkin karena posisi ini menghasilkan oksigenasi yang lebih baik, terapi oksigen diberikan berdasarkan kebutuhan dan penyakit bayi. Pemberian oksigen 100% dapat memberikan efek edema paru dan retinopathy of prematurity (Wong et al.,2008).

  1. Termoregulasi

Kebutuhan yang paling krusial pada BBLR setelah tercapainya respirasi adalah pemberian kehangatan eksternal. Pencegahan kehilangan panas pada bayi distress sangat dibutuhkan karena produksi panas merupakan proses kompleks yang melibatkan sistem kardiovaskular, neurologis, dan metabolik. Bayi harus dirawat dalam suhu lingkungan yang netral yaitu suhu yang diperlukan untuk konsumsi oksigen dan pengeluaran kalori minimal. Menurut Thomas (1994) suhu aksilar optimal bagi bayi dalam kisaran 36,5°C – 37,5°C, sedangkan menurut Sauer dan Visser (1984) suhu netral bagi bayi adalah 36,7°C – 37,3°C (Wong et al., 2008).

Menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu (Kosim Sholeh, 2005) :

  • Kangaroo Mother Care atau kontak kulit dengan kulit antara bayi dengan ibunya. Jika ibu tidak ada dapat dilakukan oleh orang lain sebagai penggantinya.
  • Pemancar pemanas
  • Ruangan yang hangat
  • Inkubator

 

  1. Perlindungan terhadap infeksi

Perlindungan terhadap infeksi merupakan bagian integral asuhan semua bayi baru lahir terutama pada bayi preterm dan sakit. Pada bayi BBLR imunitas seluler dan humoral masih kurang sehingga sangat rentan denan penyakit. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah infeksi antara lain :

  • Semua orang yang akan mengadakan kontak dengan bayi harus melakukan cuci tangan terlebih dahulu.
  • Peralatan yang digunakan dalam asuhan bayi harus dibersihkan secara teratur. Ruang perawatan bayi juga harus dijaga kebersihannya.
  • Petugas dan orang tua yang berpenyakit infeksi tidak boleh memasuki ruang perawatan bayi sampai mereka dinyatakan sembuh atau disyaratkan untuk memakai alat pelindung seperti masker ataupun sarung tangan untuk mencegah penularan (Wong et al., 2008)

 

  1. Hidrasi

Bayi resiko tinggi sering mendapat cairan parenteral untuk asupan tambahan kalori, elektrolit, dan air. Hidrasi yang adekuat sangat penting pada bayi preterm karena kandungan air ekstraselulernya lebih tinggi (70% pada bayi cukup bulan dan sampai 90% pada bayi preterm). Hal ini dikarenakan permukaan tubuhnya lebih luas dan kapasitas osmotik diuresis terbatas pada ginjal bayi preterm yang belum berkembang sempurna sehingga bayi tersebut sangat peka terhadap kehilangan cairan ( Pilliteri et al., 2003)

  1. Nutrisi

Nutrisi yang optimal sangat kritis dalam manajemen bayi BBLR tetapi terdapat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi mereka karena berbagai mekanisme ingesti dan digesti makanan belum sepenuhnya berkembang. Jumlah, jadwal, dan metode pemberian nutrisi ditentukan oleh ukuran dan kondisi bayi. Nutrisi dapat diberikan melalui parenteral ataupun enteral atau dengan kombinasi keduanya Pilliteri et al., 2003) .

Bayi preterm menuntut waktu yang lebih lama dan kesabaran dalam pemberian makan dibandingkan bayi cukup bulan. Mekanisme oral-faring dapat terganggu oleh usaha memberi makan yang terlalu cepat. Penting untuk tidak membuat bayi kelelahan atau melebihi kapasitas mereka dalam menerima makanan. Toleransi yang berhubungan dengan kemampuan bayi menyusu harus didasarkan pada evaluasi status respirasi, denyut jantung, saturasi oksigen, dan variasi dari kondisi normal dapat menunjukkan stress dan keletihan (Wong et al., 2008).

Bayi akan mengalami kesulitan dalam koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas sehingga berakibat apnea, bradikardi, dan penurunan saturasi oksigen. Pada bayi dengan reflek menghisap dan menelan yang kurang, nutrisi dapat diberikan melalui sonde ke lambung. Kapasitas lambung bayi prematur sangat terbatas dan mudah mengalami distensi abdomen yang dapat mempengaruhi (Wong et al., 2008)

 

  1. Penghematan energi

Salah satu tujuan utama perawatan bayi resiko tinggi adalah menghemat energi, Oleh karena itu BBLR ditangani seminimal mungkin. Bayi yang dirawat di dalam inkubator tidak membutuhkan pakaian , tetapi hanya membutuhkan popok atau alas. Dengan demikian kegiatan melepas dan memakaikan pakaian tidak perlu dilakukan. Selain itu, observasi dapat dilakukan tanpa harus membuka pakaian (Politeri et al., 2008).

Bayi yang tidak menggunakan energi tambahan untuk aktivitas bernafas, minum, dan pengaturan suhu tubuh, energi tersebut dapat digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Mengurangi tingkat kebisingan lingkungan dan cahaya yang tidak terlalu terang meningkatkan kenyamanan dan ketenangan sehingga bayi dapat beristirahat lebih banyak (Pilliteri et al., 2003).

Posisi telungkup merupakan posisi terbaik bagi bayi preterm dan menghasilkan oksigenasi yang lebih baik, lebih menoleransi makanan, pola tidur-istirahatnya lebih teratur. Bayi memperlihatkan aktivitas fisik dan penggunaan energi lebih sedikit bila diposisikan telungkup (Pilliteri et al., 2003).

PMK akan memberikan rasa nyaman pada bayi sehingga waktu tidur bayi akan lebih lama dan mengurangi stress pada bayi sehingga mengurangi penggunaan energi oleh bayi (Pilliteri et al., 2003).

 

  1. Stimulasi Sensori

Bayi baru lahir memiliki kebutuhan stimulasi sensori yang khusus. Mainan gantung yang dapat bergerak dan mainan- mainan yang diletakkan dalam unit perawatan dapat memberikan stimulasi visual. Suara radio dengan volume rendah, suara kaset, atau mainan yang bersuara dapat memberikan stimulasi pendengaran. Rangsangan suara yang paling baik adalah suara dari orang tua atau keluarga, suara dokter, perawat yang berbicara atau bernyanyi. Memandikan, menggendong, atau membelai memberikan rangsang sentuhan (Wong et al., 2008).

Rangsangan suara dan sentuhan juga dapat diberikan selama PMK karena selama pelaksanaan PMK ibu dianjurkan untuk mengusap dengan lembut punggung bayi dan mengajak bayi berbicara atau dengan memperdengarkan suara musik untuk memberikan stimulasi sensori motorik, pendengaran, dan mencegah periodik apnea (Pilliteri et al., 2003).

  1. Dukungan dan Keterlibatan Keluarga

Kelahiran bayi preterm merupakan kejadian yang tidak diharapkan dan membuat stress bila keluarga tidak siap secara emosi. Orang tua biasanya memiliki kecemasan terhadap kondisi bayinya, apalagi perawatan bayi di unit perawatan khusus mengharuskan bayi dirawat terpisah dari ibunya. Selain cemas, orang tua mungkin juga merasa bersalah terhadap kondisi bayinya, takut, depresi, dan bahkan marah. Perasaan tersebut wajar, tetapi memerlukan dukungan dari perawat (Pilliteri et al., 2003).

Perawat dapat membantu keluarga dengan bayi BBLR dalam menghadapi krisis emosional, antara lain dengan memberi kesempatan pada orang tua untuk melihat, menyentuh, dan terlibat dalam perawatan bayi. Hal ini dapat dilakukan melalui metode kanguru karena melalui kontak kulit antara bayi dengan ibu akan membuat ibu merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam merawat bayinya. Dukungan lain yang dapat diberikan perawat adalah dengan menginformasikan kepada orang tua mengenai kondisi bayi secara rutin untuk meyakinkan orang tua bahwa bayinya memperoleh perawatan yang terbaik dan orang tua selalu mendapat informasi yang tepat mengenai kondisi bayinya (Pilliteri et al., 2003).

Faktor Penyebab Pneumonia (skripsi dan tesis)

 

Beberapa penyebab dari bayi dengan berat badan lahir rendah (Proverawati dan Ismawati, 2010).

  1. Faktor ibu
    • Penyakit
  • Mengalami komplikasi kehamilan, seperti anemia, perdarahan antepartum, preekelamsi berat, eklamsia, infeksi kandung kemih.
  • Menderita penyakit seperti malaria, infeksi menular seksual, hipertensi, HIV/AIDS, TORCH, penyakit jantung.
  • Penyalahgunaan obat, merokok, konsumsi alkohol.
    • Ibu
  • Angka kejadian prematitas tertinggi adalah kehamilan pada usia < 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
  • Jarak kelahiran yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari 1 tahun).
  • Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya.
    • Keadaan sosial ekonomi
  • Kejadian tertinggi pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini dikarenakan keadaan gizi dan pengawasan antenatal yang kurang.
  • Aktivitas fisik yang berlebihan
  • Perkawinan yang tidak sah
  1. Faktor janin

Faktor janin meliputi : kelainan kromosom, infeksi janin kronik (inklusi sitomegali, rubella bawaan), gawat janin, dan kehamilan kembar.

  1. Faktor plasenta

Faktor plasenta disebabkan oleh : hidramnion, plasenta previa, solutio plasenta, sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik), ketuban pecah dini.

  1. Faktor lingkungan

Lingkungan yang berpengaruh antara lain : tempat tinggal di dataran tinggi, terkena radiasi, serta terpapar zat beracun.

Klasifikasi Bayi berat lahir rendah (BBLR) (skripsi dan tesis)

 

Ada beberapa cara dalam mengelompokkan BBLR (Proverawati dan Ismawati, 2010) :

  1. Menurut harapan hidupnya

1) Bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500-2500 gram.

2) Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) dengan berat lahir 1000-1500 gram.

3) Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) dengan berat lahir kurang dari 1000 gram.

  1. Menurut masa gestasinya

1) Prematuritas murni yaitu masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKB-SMK).

2) Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi kecil untuk masa kehamilannya (KMK).

Komplikasi Pneumonia (skripsi dan tesis)

 

Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis, perikarditis purulenta, pneumotoraks atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis prulenta. Empiema torasis merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia bakteri, curiga ke arah ini apabila terdapat demam persisten meskipun sedang diberi antibiotik, ditemukan tanda klinis dan gambaran foto dada yang mendukung yaitu adanya cairan pada satu atau kedua sisi dada (Probe et al., 2000).

Ilten et,al. (2005) melaporkan mengenai komplikasi miokarditis (tekanan sistolik kanan meningkat, kreatinin kinase meningkat, dan gagal jantung) yang cukup tinggi pada seri pneumonia anak berusia 2-24 bulan. Oleh karena miokarditis merupakan keadaan yang fatal, maka dianjurkan untuk melakukan deteksi dengan teknik noninvasif seperti EKG, ekokardiografi, dan pemeriksaan enzim

Tatalaksana Pneumonia (skripsi dan tesis)

 

Menurut Buku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit, WHO (2009). Penatalaksanaan pneumonia pada anak dibagi menjadi 2 yaitu penatalaksanaan untuk pneumonia ringan dan penatalaksanaan untuk pneumonia berat.

  • Penatalaksanaan Pneumonia Ringan
    • Anak dirawat jalan
    • Beri antibiotik kotrimoksasol (4 mg TMP/kgbb/ kali) selama 3 hari atau, Amoksisilin (25 mg/ kgbb/kali) selama 3 hari. Pada pasien imunodefisiensi diberikan selama 5hari.
  • Penatalaksanaan Pneumonia Berat
    • Anak dirawat inap
    • Beri Ampisilin atau Amoksisilin (25-50 mg/ kgbb/ kali IM atau IV setiap 6 jam) yang harus dipantau dalam 24 jam pertama, veri selama 72 jam. Bila respon baik veri Amoksisilin oral (15 mg/kgbb/kali 3 kali sehari) selama 5 hari
    • Bila keadaan klinis memburuk sebelum 48 jam atau terdapat keadaan yang berat (tidak menyusu, muntah, kejang, letargis, tidak sdar, sianosis, distress pernafasan) maka ditambahkan kloramfenikol (25 mg/kgbb/kaliIM atau IV setiap 8 jam)
    • Bila datang dalam kondisi klinis berat, segera berikan oksigen dan pengobatan kombinasi ampisilin-kloramfenikol atau ampisilin gentamisin
  • Terapi Suportif:
    • Pemberian oksigen sesuai derajat sesaknya, pemberian dilakukan sampai tanda hipoksia (seperti tarikan dinding dada ke dalam yang berat atau napas cepat) tidak ditemukan lagi.
    • Nutrisi parenteral diberikan selama pasien masih sesak. Kebutuhan cairan rumatan diberikan sesuai umur anak, tetapi hati-hati terhadap kelebihan cairan/overhidrasi.

Pemeriksaan penunjang pneumonia (skripsi dan tesis)

 

Foto Rontgen toraks proyeksi posterior-anterior merupakan dasar diagnosis utama pneumonia. Foto lateral dibuat bila diperlukan informasi tambahan, misalnya efusi pleura. Pada bayi dan anak yang kecil gambaran radiologi seringkali tidak sesuai dengan gambaran klinis. Tidak jarang secara klinis tidak ditemukan apa-apa tetapi gambaran foto toraks menunjukkan pneumonia berat (WHO, 2009). Gambaran radiologis yang klasik dapat dibedakan menjadi 3 macam:

  • Konsolidasi lobar atau segmental disertai adanya air bronchogram (pneumatokel), biasanya disebabkan infeksi akibat pneumococcus atau bakteri lain.
  • Pneumonia interstisial, biasanya karena virus atau Mycoplasma; gambaran berupa corakan bronchovaskular bertambah, peribronchial cuffing, dan overaeriation; bila berat terjadi pachy consolidation karena atelektasis.

Gambaran pneumonia karena S. aureus dan bakteri lain biasanya menunjukkan gambaran bilateral yang difus, corakan peribronchial yang bertambah, dan tampak infiltrat halus sampai ke perifer

Gambaran Klinis Pneumonia (skripsi dan tesis)

 

            Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat ringannya penyakit, pada bayi gejalanya tidak jelas seringkali tanpa demam dan batuk, namun secara umum adalah sebagai berikut (Probe et al.,2000):

  • Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah atau diare, kadang-kadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.
  • Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk (nonproduktif / produktif), sesak napas, retraksi dada, napas cepat/takipnea, napas cuping hidung, air hunger, merintih/grunting, dan sianosis.

WHO telah menggunakan penghitungan frekuensi napas per menit berdasarkan golongan umur sebagai salah satu pedoman untuk memudahkan diagnosa Pneumonia, terutama di institusi pelayanan kesehatan dasar. Napas cepat/ takipnea, bila frekuensi napas:

– umur < 2 bulan          : ≥ 60 kali/menit

– umur 2-11 bulan        : ≥ 50 kali/menit

– umur 1-5 tahun         : ≥ 40 kali/menit

– umur ≥ 5 tahun         : ≥ 30 kali/menit

Pada pemeriksaan fisik paru dapat ditemukan tanda klinis sebagai berikut, auskultasi terdengar suara nafas menurun dan fine crackles (ronki basah halus) pada daerah yang terkena, dull (redup) pada perkusi (WHO, 2009).

Patofisiologi Pneumonia (skripsi dan tesis)

 

Paru memiliki beberapa mekanisme pertahanan yang efektif yang diperlukan karena sistem respiratori selalu terpajan dengan udara lingkungan yang seringkali terpolusi serta mengandung iritan, patogen, dan alergen. Sistem pertahanan organ respiratorik terdiri dari tiga unsur, yaitu refleks batuk yang bergantung pada integritas saluran respiratori, otot-otot pernapasan, dan pusat kontrol pernapasan di sistem saraf pusat (Mc Phee et al. 2006 ).

Pneumonia terjadi jika mekanisme pertahanan paru mengalami gangguan sehingga kuman patogen dapat mencapai saluran napas bagian bawah. Agen-agen mikroba yang menyebabkan pneumonia memiliki tiga bentuk transmisi primer: (1) aspirasi sekret yang berisi mikroorganisme patogen yang telah berkolonisasi pada orofaring, (2) infeksi aerosol yang infeksius, dan (3) penyebaran hematogen dari bagian ekstrapulmonal. Aspirasi dan inhalasi agen-agen infeksius adalah dua cara tersering yang menyebabkan pneumonia, sementara penyebaran secara hematogen lebih jarang terjadi. (Mupamenunda, 2005)

Menurut Mc Phee et.al. (2006) Setelah mencapai alveoli, maka mikroorganisme patogen akan menimbulkan respon khas yang terdiri dari empat tahap berurutan:

  1. Stadium Kongesti (4 – 12 jam pertama): eksudat serosa masuk ke dalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor.
  2. Stadium Hepatisasi merah (48 jam berikutnya): paru tampak merah dan bergranula karena sel-sel darah merah, fibrin, dan leukosit PMN mengisi alveoli.
  3. Stadium Hepatisasi kelabu (3 sampai 8 hari): paru tampak kelabu karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang.
  4. Stadium Resolusi (7 sampai 11 hari): eksudat mengalami lisis dan direabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada strukturnya semula.

Etiologi. Pneumonia (skripsi dan tesis)

Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme (virus atau bakteri) dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain (aspirasi, radiasi,dll). Secara klinis sulit membedakan pneumonia bakterial dan pneumonia viral. Demikian juga dengan pemeriksaan radiologis dan laboratorium, biasanya tidak dapat menentukan etiologi (Rizkianti cit Shingelton, 2009).

Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting pada perbedaan dan kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spektrum etiologi, gambaran klinis dan strategi pengobatan. Etiologi pneumonia pada neonatus dan bayi kecil meliputi Streptococcus group B dan bakteri Gram negatif seperti E.colli, Pseudomonas sp, atau Klebsiella sp. Pada bayi yang lebih besar dan anak balita, pneumonia sering disebabkan oleh infeksi Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenzae tipe B dan Staphylococcus aureus, sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, selain bakteri tersebut, sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma pneumonia (Probe, 2000 ).

Di negara maju, pneumonia pada anak terutama disebabkan oleh virus, disamping bakteri, atau campuran bakteri dan virus. Virus yang terbanyak ditemukan adalah Respiratory Syncytial virus (RSV), Rhinovirus, dan virus parainfluenza. Bakteri yang terbanyak adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenzae tipe B, dan Mycoplasma pneumoniae. Kelompok anak berusia 2 tahun ke atas mempunyai etiologi infeksi bakteri yang lebih banyak daripada anak berusia di bawah 2 tahun (Probe, 2000).

Pengertian Pneumonia (skripsi dan tesis)

 

 

Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan utama pada anak di berbagai negara terutama di negara berkembang termasuk di Indonesia. Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia di bawah lima tahun. Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) hampir 1 dari 5 balita di negara berkembang meninggal karena pneumonia (WHO,2010).

Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan tuberkulosis. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian. Terdapat berbagai faktor risiko yang menyebabkan tingginya angka mortalitas pneumonia pada anak balita di negara berkembang. Faktor risiko tersebut adalah pneumonia yang terjadi pada masa bayi, berat badan lahir rendah (BBLR), tidak mendapat imunisasi, tidak mendapat ASI yang adekuat, malnutrisi, defisiensi vitamin A, tingginya prevalensi kolonisasi bakteri patogen di nasofaring, dan tingginya pajanan terhadap polusi udara (Rizkianti, 2009).

Berdasarkan tempat  terjadinya infeksi, dikenal dua bentuk pneumonia, yaitu: 1) Pneumonia masyarakat (community-acquired pnumonia), bila infeksinya terjadi di masyarakat, dan 2) pneumonia RS atau pneumonia nosokomial (hospital-acquired pneumonia), bila infeksinya didapat di RS. Selain berbeda dalam lokasi tempat terjadinya infeksi, kedua bentuk pneumonia ini juga berbeda dalam spektrum etiologi, gambaran klinis, penyakit dasar atau penyakit penyerta, dan prognosisnya. Pneumonia yang didapat di RS sering merupakan infeksi sekunder pada berbagai penyakit dasar yang sudah ada, sehingga spektrum etiologinya berbeda dengan infeksi yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, gejala klinis, derajat beratnya penyakit dan komplikasi yang timbul lebih kompleks dan memerlukan penanganan khusus sesuai dengan penyakit dasarnya (Probe,2000).

Kerusakan Hati (skripsi dan tesis)

Penyebab utama kerusakan hati adalah :

  • Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama
  • Tidak buang air di pagi hari.
  • Pola makan yang terlalu berlebihan.
  • Tidak makan pagi.
  • Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan.
  • Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan.
  • Minyak goreng yang tidak sehat! Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil. Jangan mengkonsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh yang fit.
  • Mengkonsumsi masakan mentah (sangat matang) juga menambah beban hati. Sayur mayur dimakan mentah atau dimasak matang 3/ 5 bagian. Sayur yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga, jangan disimpan.

Penentuan Karsinoma (skripsi dan tesis)

Pemeriksaan fisik

  • .Hati: Biasanya membesar pada awal sirosis, bila hati mengecil artinya prognosis kurang baik..Konsistensi hati biasanya kenyal, tepi tumpul dan nyeri tekan.
  • Ascites dan vena kolateral di perut dan ekstra abdomen
  • .Manifestasi di luar perut : Spider nevi di tubuh bagian atas, bahu, leher, dada, pinggang, caput medusae

Pemeriksaan Faal

Faal metabolik yang dilakukan oleh jaringan hati,maka ada banyak pula, lebih dari 100, jenis test yang mengu-kur reaksi faal hati. Semuanya, disebut sebagai “tes faal hati”.Sebenarnya hanya beberapa yang- benar-benar mengukur faalhati. Diantara berbagai tes tersebut tidak ada tes tunggal yangefektif mengukur faal hati secara keseluruhan. Beberapa testerlalu peka sehingga tidak khas, sebagian lagi dipengaruhi pulaoleh faktor-faktor di luar hati, sebagian lagi sudah obsolete. Sebaliknya makin banyak tes yang diminta maka makin besar pula kemungkinannya mendapatkan defisiensi biokimia. Cara pemeriksaan shotgun semacam itu akan menimbulkan kebingungan.

  1. Integritas Sel

Enzim-enzim AST, ALT & GLDH akan meningkat bila terjadi kerusakan sel hati. Biasanya peningkatan ALT lebih tinggi daripada AST pada kerusakan hati yang akut, mengingat ALTmerupakan enzim yang hanya terdapat dalam sitoplasma selhati (unilokuler). Sebaliknya AST yang terdapat baik dalamsitoplasma maupun mitochondria (bilokuler) akan mening kat lebih tinggi daripada ALT pada kerusakan hati yang lebih dalam dari sitoplasma sel. Keadaan ini ditemukan pada keru-sakan sel hati yang menahun.2,5,7Adanya perbedaan pening-katan enzim AST dan ALT pada penyakit hati ini mendorongpara peneliti untuk menyelidiki ratio AST & ALT ini. De Ritiset al mendapatkan ratio AST/ALT =0,7 sebagaibatas penyakit hati akut dan kronis. Ratio lni yang terkenal dengan narna ratio De Ritis memberikan hasil < 0,7 pada penyakit hati akut dan > 0,7 pada penyakit hati kronis. Batas 0,7 ini dipakai apabila peme-riksaan enzim-enzim tersebut dilakukan secara optimized, sedangkan apabila pemeriksaan dilakukan dengan cara kolori-metrik batas ini adalah 1.7 Istilah “optimized”yang dipakai olehperkumpulan ahli kimia di Jerman ini mengandung arti bahwacara pemeriksaan ini telah distandardisasi secara optimum baiksubstrat, koenzim maupun lingkungannya. Enzim GLDHbersifat unikoluker dan terletak di dalam mitochondria. Enzimini peka dan karena itu baik untuk deteksi dini dari kerusakansel hati terutama yang disebabkan oleh alkohol, selain itu juga berguna untuk diagnosa banding ikterus. Perlu diketahui bahwacortison dan sulfonil urea pada dosis terapi dapat menurunkankadar GLDH. Pemeriksaan enzim LDH total akan lebihbermakna apabila dapat dilakukan pemeriksaan isoenzimnyayaitu LDH 5. Dalam hubungannya dengan metabolisme besi,sel hati rnembentuk transferin sebagai pengangkut Fe dan juga menyimpannya dalam bentuk feritin dan hemosiderin.Cu terdapat di dalam enzim seruloplasmin yang dibentuk oleh hati. Kelebihan Cu akan segera diekskresi oleh hati Wierzchowski, J., Holmquist, B. and Vallee, B. L.1992)

  1. Metabolisme Ekskresit

BSP (bromsulfonftalein), suatu zat warna, merupakan tes yang peka terhadap adanya kerusakan hati. Diukur retensinya didalam darah beberapa waktu setelah disuntikkan intravena Di dalam darah ia diikat oleh albumin dan di “uptake”olehsel-sel hati, dikonyugasi dan diekskresi melalui empedu. Padapenyuntikan 5 mg/kg berat badan maka setelah 45 menitretensinya kurang dari 5% pada keadaan normal.Korelasinya baik dengan kelainan histopatologik. Tes iniberguna pada hepatitis anikterus, mengetahui kerusakan setelahsembuh dari hepatitis, sirosis hati, semua tingkat hepatitiskronik, tersangka perlemakan hati dan keracunan hati. Namun tes ini kurang disenangi karena dapat timbul efek samping, walaupun jarang, yang fatal seperti renjatan anafilaktis.Akhir-akhir ini makin banyak dikerjakan pemeriksaan kadarasam empedu dalam darah. Tes ini mempunyai makna sepertites retensi BSP dan juga amat peka terutama kadarnya 2 jam setelah makan.Kadar amonia mengukur faal detoksifikasi hati yang meru-bahnya menjadi ureum. Faal ini baru terganggu pada kerusakanhati berat karena itu tes ini baru berguna untuk mengikutiperkembangan sirosis hati yang tidak terkompensir atau komahepatikum. Kadarnya juga akan meningkat bila ada shuntportokaval yang mem”by-pass” hati.Tes toleransi galaktosa menguji kemampuan faal hati meng-ubah galaktosa menjadi glukosa. Tes ini sudah jarang dilaku-kan. (Winkler, et al. 1971).

  1. Faal Eksresi

kadar bilirubin serum terutama panting untuk membedakan jenis-jenis ikterus. Pemeriksaan ini yang umum-nya memakai metodik Jendrassik dan Grof (1938) dapat dipengaruhi oleh kerja fisik dan makanan tertentu seperti karoten,oleh karena itu pengambilan sampel sebaiknya pagi harisesudah puasa. Pada ikterus prahepatik yang dapat disebabkanoleh proses hemolisis ataupun kelainan metabolisme sepertisindroma Dubin-Johnson, ditemukan peningkatan dari bilirubinbebas. Ikterus hepatik sebagai akibat kerusakan sel hati akanmeningkatkan baik bilirubin babas maupun bilirubin (diglukuronida) dalam darah serta ditemukannya bilirubin (diglukuronida) didalam urin. Sedangkan ikterus obstruktif, baikintra maupun ekstra hepatik, akan meningkatkan terutamabilirubin diglukuronida di dalam darah dan urin. Kadarurobilinogen dalam urin akan meningkat pada ikterus hepatik,sebaliknya ia akan menurun atau tidak ada sama sekali padaikterus obstruktif sesuai dengan derajat obstruksinya. Seperti telah disinggung sebelumnya pemeriksaan asam em-pedu makin banyak dipakai sebagai tes faal hati.Pemeriksaan ini dimungkinkan untuk dipakai di dalam kliniksejak ditemukannya metodik onzimatik yang relatif sederhanadibandingkan metodik-metodik sebelumnya. Dalam keadaan normal hanya sebagian kecil saja asam empedu terdapat di da lam darah sedangkan sebagian besar di- up take oleh sel hati. Pada kerusakan sel hati, hati gagal mengambil asam empedu, sehingga jumlahnya meningkat dalam darah. Pemeriksaan iniseperti pemeriksaan BSP dapat mendeteksi kelainan hati yang ringan disamping untuk follow up dan menguji adanya shunt portcaval (Mc Manus JFA dan Mowry RW. 1960).

  1. Faal Sintesa

Albumin disintesa oleh hati. Pada gangguan faal hati kadarnyadi dalam darah akan menurun.Cara pemeriksaan yang banyak dipakai sekarang adalah carabromcresylgreen. Selain dengan cara di atas, penurunan kadaralbumin juga dapat diukur secara elektroforesa dengan per-alatan khusus yang lebih mahal. Selain dengan pemeriksaanalbumin, pemeriksaan enzim cholinesterase(ChE) juga dipakaisebagai tolok ukur dari faal sintesa hati.  Penurunan aktivitas ChE ternyata lebih spesifik dari pemeriksaan albumin, karena aktivitas ChE kurang dipengaruhi faktor-faktor di luar hati dibandingkan dengan pemeriksaan kadar albumin.Penetapan masa protrombin plasma berguna untuk mengujisintesa faktor-faktor pembekuan II, VII, IX dan X.Semua pemeriksaan tersebut lebih berguna untuk menilai atau membuat prognosa dari pada mendeteksi penyakit hati kronis .

Gejala Klinis Hepatoma (skripsi dan tesis)

Gejala dini samar dan nonspesifik berupa kelelahan, anoreksia, dispepsia, flatulen, konstipasi atau diare, berat badan berkurang, nyeri tumpul atau berat pada epigastrium atau kuadran kanan atas(1). Manifestasi utama dan lanjut sirosis merupakan akibat dari dua tipe gangguan fisiologis:

  1. Gagal sel hati

-Ikterus

-Edema perifer

-Kecenderungan perdarahan

-Eritema palmaris (telapak tangan merah)

-Angioma laba-laba

-Fetor hepatikum

-Ensefalopati hepatik

  1. Hipertensi portal

-Splenomegali

-Varises oesofagus dan lambung

-Manifestasi sirkulasi kolateral lain

Sedang asites dapat dianggap sebagai manifestasi gagal hepatoseluler dan hipertensi portal (Skursky, L.,  et. al, 1979)

Keluhan dan gejala yang timbul sangat bervariasi. Pada awalnya penyakit kadang tanpa disertai keluhan atau sedikit keluhan seperti perasaan lesu, dan berat badan menurun drastis. Penderita sering mengeluh rasa sakit atau nyeri tumpul (rasa nyeri seperti ditekan jari atau benda tumpul) yang terus menerus di perut kanan atas yang sering tidak hebat tetapi bertambah berat jika digerakkan.

 

Patologi Karsinoma Hepatoma (skripsi dan tesis)

Secara makroskopis biasanya tumor beerwarna putih, padat kadang nekrotik kehijauan atau hemoragik. Sering diketemuukan thrombus tumor di dalam vena hepatica atau porta intrahepaik. Pembagian atas tipe morfologisnya adalah ekspansif, dengan batas yang jelas; infiltratif, menyebar atau menjalar; multifokal. Menuru WHO secara hitologik HCC dapat diklasifikasikan berdasarkan organisasi struktural sel tumor sebagai berikut: rabekular, pseudoglandular, kompak dan sirous (Meyskens, F. L. J. R. et al, 1985)

Hepatoma 75 % berasal dari sirosis hati yang lama/menahun. Khususnya yang disebabkan oleh alkoholik dan postnekrotik.  Pedoman diagnostik yang paling penting adalah terjadinya kerusakan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Pada penderita sirosis hati  yang disertai pembesaran hati mendadak.

Tumor hati yang paling sering adalah metastase tumor ganas dari tempat lain. Matastase ke hati dapat terdeteksi pada lebih dari 50 % kematian akibat kanker. Hal ini benar, khususnya untuk keganasan pada saluran pencernaan, tetapi banyak tumor lain juga memperlihatkan kecenderungan untuk bermestatase ke hati, misalnya kanker payudara, paru-paru, uterus, dan pankreas. Diagnosa sulit ditentukan, sebab tumor biasanya tidak diketahui sampai penyebaran tumor yang luas, sehingga tidak dapat dilakukan reseksi lokal lagi

Efek biologis alkoholisme (skripsi dan tesis)

Alkohol dengan cepat diserap dari usus halus ke dalam peredaran darah. Penyerapan alkohol terjadi lebih cepat dibandingkan metabolisme dan pembuangannya dari tubuh, sehingga kadar alkohol dalam darah meningkat dengan cepat. Sejumlah kecil alkohol dalam darah dibuang ke dalam air kemih, keringat dan udara pernafasan.

Sebagian besar alkohol dimetabolisme di hati dan menghasilkan sekitar 210 kalori/100 gram (7 kalori per mililiter) dari alkohol murni yang diminum. Alkohol segera menekan fungsi otak; seberapa beratnya tergantung kepada kadarnya di dalam darah; semakin tinggi kadarnya, semakin berat gangguan yang terjadi. Kadar alkohol dapat diukur dalam darah atau dapat diperkirakan dengan mengukur jumlahnya dalam contoh udara yang dihembuskan.

Penggunaan alkohol jangka jumlah yang berlebihan bisa merusak berbagai organ di tubuh, terutama hati, otak dan jantung. Alkohol cenderung menyebabkan toleransi, sehingga seseorang yang secara teratur minum lebih dari 2 gelas alkohol/hari, bisa mengkonsumsi alkohol lebih banyak daripada non-alkoholik, tanpa mengalami intoksikasi.

Pecandu alkohol juga dapat menjadi toleransi terhadap obat-obatan anti-depresi lainnya. Sebagai contoh, pecandu yang minum barbiturat/benzodiazepin biasanya membutuhkan dosis yang lebih besar untuk memperoleh efek pengobatannya.  Toleransi tampaknya tidak merubah cara metabolisme atau pembuangan alkohol. Alkohol bahkan menyebabkan otak dan jaringan lainnya menyesuaikan diri dengan kehadiran alkohol.

Bila seorang pecandu tiba-tiba berhenti minum, akan terjadi gejala putus obat. Sindroma putus obat alkohol biasanya dimulai dalam 12-48 jam setelah seseorang berhenti meminum alkohol. Gejalanya meliputi gemetar, lemah, berkeringat dan mual. Beberapa pecandu mengalami kejang (diseburt epilepsi alkoholisme).

 

Peminum berat yang berhenti minum bisa mengalami halusinasi alkohol. Mereka mengalami halusinasi dan mendengar suara-suara yang tampaknya menuduh dan mengancam, menyebabkan ketakutan dan teror. Halusinasi alkohol bisa berlangsung berhari-hari dan dapat dikendalikan dengan obat-obatan anti-psikosa (seperti klorpromazin atau tioridazin). Jika tidak diobati, gejala putus alkohol dapat menyebabkan sekumpulan gejala yang lebih serius yang disebut Delirium Tremens (DTs). DTs biasanya tidak segera terjadi, tetapi muncul sekitar 2-10 hari setelah berhenti minum.

Pada DTs, pecandu pada awalnya merasakan cemas, kemudian terjadi kebingungan, sulit tidur, mimpi buruk, keringat berlebihan dan depresi berat. Denyut nadi cenderung menjadi lebih cepat.

Episode ini bisa meningkat menjadi halusinasi, ilusi yang menimbulkan rasa takut dan gelisah dan disorientasi terhadap halusinasi lihat yang menimbulkan teror. Benda yang terlihat dalam cahaya terang menimbulkan rasa takut. Pada akhirnya, penderita menjadi sangat kebingungan dan mengalami disorientasi berat. Penderita DTs kadang merasa lantai bergerak, dinding roboh dan ruangan berputar. Tangan menjadi gemetar yang kadang menjalar ke kepala dan seluruh tubuh, dan sebagian besar penderita menjadi sangat tidak terkoordinasi. DTs bisa berakibat fatal, apalagi jika tidak diobat.

Masalah lainnya secara langsung berhubungan dengan efek racun dari alkohol terhadap otak dan hati. Kerusakan hati karena alkohol menyebabkan hati tidak mampu membuang bahan-bahan racun dari dalam tubuh sehingga menyebabkan koma hepatikum. Pecandu yang mengalami koma hepatikum, tampak mengantuk, setengah sadar dan kebingungan, dan biasanya tangannya gemetar. Koma hepatikum bisa berakibat fatal dan harus segera diobati.

Penyebab Alkoholisme (skripsi dan tesis)

Penyebab seseorang menjadi pecandu alkohol belum diketahui secara pasti, namun penggunaan alkohol bukan satu satunya faktor penyebab. Dari orang-orang yang meminum alkohol, sekitar 10% menjadi pecandu. Pecandu alkohol memiliki angka kejadian yang lebih tinggi dibandingkan pecandu zat lainnya.

Alkoholisme lebih sering diderita para anak-anak pecandu dari pada anak-anak yang diadopsi, yang memperlihatkan bahwa alkoholisme melibatkan kelainan genetik atau biokimia. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa orang yang beresiko menjadi alkoholik tidak mudah mengalami keracunan, karena itu otak mereka kurang sensitif terhadap efek yang ditimbulkan oleh alkohol.

Selain kemungkinan kelainan genetik, latar belakang dan kepribadian tertentu dapat menjadi faktor pendukung seseorang menjadi pecandu. Pecandu sering berasal dari keluarga yang pecah dan dari mereka yang hubungan dengan orang tuanya kurang harmonis. Pecandu alkohol cenderung merasa terisolasi, sendiri, malu, depresi atau bermusuhan. Mereka biasa memamerkan perilaku perusakan diri, dan mungkin secara seksual tidak dewasa. Meskipun demikian, penyalahgunaan dan ketergantungan alkohol sangat umum sehingga pecandu mudah dikenali diantara orang-orang dengan berbagai kepribadian.

Ambang Batas Konsumsi alkohol (skripsi dan tesis)

Risiko mortalitas pada individu yang mengkonsumsi alkohol ternyata berbentuk  kurva U. Risiko terendah terdapat  di kalangan yang minum alkohol 1-6 kali perminggu (relative risk-1). Orang- orang yang sama sekali abstain mempunyai relative risk 1,37 (95%CI:  1,20-1,56) sedangkan orang yang  minum alkohol lebih dari 70 kali seminggu mempunyai relative risk 2,29  (95%CI: 1,75-3,00).  Risiko mortalitas mulai berbeda ber makna pada populasi yang minum alkohol lebih dari 42 kali seminggu (dalam Erman,1994)

Risiko ini tidak tergantung pada usia, jenis kelamin, body mass index atau pun kebiasaan merokok. Dalam penelitian ini yang dianggap sebagai satu kali konsumsi alkohol adalah yang setara dengan 9-13 g. alkohol, yaitu satu botol bir, segelas anggur atau satu seloki spir. Penelitian dilakukan secara prospektif dilakukan atas 7324 wanita dan 6051 pria berusia 30-79 tahun di Copenhagen, Denmark selama tahun 1976-1988. Dalam kurun waktu tersebut, 2229 orang meninggal, 1398 di antaranya wanita

Berdasarkan WHO (2007) alkoholisme di definisikan sebagai ”suatu pola konsumsi alkohol yang disertai risiko konsekuensi yang mencelakakan”, secara fisik, mental, atau masyarakat. Hal itu termasuk minum lebih dari batas yang direkomendasikan oleh pejabat kesehatan atau ditetapkan oleh undang-undang. Batas ini disesuiakan di masing-masing wilayah. Penggunaan yang membahayakan, juga disebut penyalahgunaan alkohol, mencakup minum-minum yang sudah menimbulkan kerusakan fisik atau mental namun masih belum sampai pada ketergantungan. Sedangkan ketergantungan adalah ”hilangnya kendali untuk berhenti minum”. Seseorang yang bergantung pada alkohol sangat menghasratkan alkohol, terus minum walaupun mengalami berbagai masalah yang ditimbulkan oleh alkohol, dan sangat menderita kalau tidak minum alkohol.

Misalkan di Prancis dan Inggris menyarankan ”batas yang masuk akal” sebanyak tiga takaran per hari bagi pria dan dua takaran bagi wanita. Institut Penyalahgunaan dan Kecanduan Alkohol Nasional AS lebih lanjut menyarankan agar ”orang-orang yang berusia 65 tahun atau lebih membatasi konsumsi alkohol mereka menjadi satu takaran per hari

Berdasarkan penelitian di atas maka dapat diketahui bahwa konsumsi alkohol sebanyak 1-6 kali ternyata memberikan efek positif (berkurangnya resiko mortalitas pada individu). Hal ini dimungkinkan karena alkohol memberikan efek antioksidan yang mempengaruhi regenerasi sel. Selain itu dalam ambang batas tersebut maka tubuh juga mampu mendegenerasi alkohol sehingga tidak tertimbun dalam darah.

Dalam cara pengukuran lain yaitu melalui Kadar alkohol dalam darah diketahui dapat menimbulkan berbagai efek. Pengaruh kadar alkohol dalam darah dapat mengakibatkan hal sebagai berikut:

  • 50 mg/dL Masih mampu bersosialisasi, tenang
  • 80 mg/dL Koordinasi berkurang (kemampuan mental & fisik berkurang) Refleks menjadi lebih lambat (kedua hal tsb mempengaruhi keselamatan mengemudi)
  • 100 mg/dL Gangguan koordinasi yg jelas terlihat
  • 200 mg/dL Kebingungan, Ingatan berkurang, Gangguan koordinasi semakin berat (tidak dapat berdiri)
  • 300 mg/dL Penurunan kesadaran
  • 400 mg/dL atau lebih Koma, kematian, Pankreas Peradangan (pankreatitis), kadar gula darah renadah, kanker, Jantung Denyut jantung abnormal (aritmia, gagal jantung, Pembuluh darah Tekanan darah tinggi, aterosklerosis, stroke, Otak Kebingungan, berkurangnya koordinasi, ingatan jangka pendek yg buruk, psikosa, Saraf Berkurangnya kemampuan untuk berjalan (kerusakan saraf di lengan dan tungkai yg mengendalikan pergerakan)

Definisi Alkoholisme (skripsi dan tesis)

Alkoholisme adalah penyakit menahun yang ditandai dengan kecenderungan untuk meminum lebih daripada yang direncanakan, kegagalan usaha untuk menghentikan minum minuman keras dan terus meminum minuman keras walaupun dengan konsekuensi sosial dan pekerjaan yang merugikan

Alkoholisme adalah masalah yang sering terjadi. Hampir 8% orang dewasa di Amerika Serikat memiliki masalah dalam penggunaan alkohol. Pria 4 kali lebih sering menjadi alkoholik (pecandu alkohol) dibandingkan wanita. Semua orang dari semua kelompok umur bisa terkena. Makin banyak anak-anak dan orang dewasa memiliki masalah alkohol dengan konsekuensi yang mengerikan.

Alkohol menyebabkan ketergantungan fisik maupun psikis. Alkoholisme biasanya mempengaruhi kemampuan seseorang untuk bersosialisasi dan untuk bekerja dan menyebabkan banyak kerusakan perilaku lain. Pecandu alkohol sering mengalami keracunan alkohol, bahkan hampir setiap hari. Pecandu alkohol tidak dapat mengatur perilakunya, cenderung untuk menyetir di saat mabuk, dan menderita cedera fisik karena terjatuh, berkelahi atau kecelakaan kendaraan bermotor. Beberapa pecandu alkohol juga dapat menjadi kasar/bengis.

 

Otitis Media (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Daly KA et al, (1996) dalam The Family Study Of Otitis Media: Design And Disease And Risk Factor Profiles (Studi Mengenai Factor Resiko Keluarga Pada Otitis Media) menunjukkan bahwa factor resiko keluarga adalah genetik berhubungan dengan factor lingkungan (penggunaan botol susu, keikutsertaan sekolah kelompok bermain, dan paparan rokok). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Srikanth (2009) Knowledge, Attitudes And Practices With Respect To Risk Factors For Otitis Media In A Rural South Indian Community (Faktor Pengetahuan, Perilaku dan Praktek Yang Berhubungan Dengan Faktor Kejadian Otitis Media di Komunitas Masyarakat Pedesaan Indian Selatan) menunjukkan bahwa factor sosiodemografi seperti kurangnya pengetahuan mengenai sikap dan praktek mengenai kesehatan diketahui sebagai salah satu factor resiko yang berhubungan dengan tingginya prevelensi otitis media di komunitas pedesaan masyarakat Indian Selatan.

Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Elemraid (2009) dalam Nutritional Factors In The Pathogenesis Of Ear Disease In Children: A Systematic Review (Rangkuman Sistematis Mengenai Faktor Nutrisi yang berhubungan dengan patogenesis Penyakit Telinga Anak) menunjukkan bahwa faktor Nutrisi serta faktor pengetahuan mengenai nutrisi berhubungan dengan meningkatnya prevelensi kejadian penyakit telinga anak-anak.

Faktor lain yang diduga berhubungan dengan faktor resiko kejadian otitis media adalah usia dan riwayat orang tua. Pada anak-anak, semakin seringnya terserang infeksi saluran pernapasan atas, kemungkinan terjadinya otitis media akut juga semakin besar. Jarak antara saluran tenggorok, hidung, dan telinga yang pendek sekali dibandingkan orang dewasa. Pendeknya saluran tenggorok, hidung, dan telinga menyebabkan kuman pada saluran tersebut naik ke telinga. Apalagi muara telinga atau tuba eustaschius pada anak masih pendek dan lebar sehingga sangat mudah terjadi infeksi dari daerah sekitarnya. Selain itu, pendeknya saluran tenggorok, hidung, dan telinga menyebabkan kuman pada saluran tersebut naik ke telinga  juga disebabkan oleh faktor keturunan. Oleh karenanya faktor riwayat orang tua yang pernah menderita otitis media akan diturunkan ke anaknya (Djaafar dkk, 2007).

 

 

Terapi Otitis Media (skripsi dan tesis)

Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Pada stadium oklusi pengobatan terutama bertujuan untuk membuka kembali tuba Eustachius, sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Untuk ini diberikan obat tetes hidung. HCI efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik (anak < 12 tahun) atau HCI efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk yang berumur di atas 12 tahun dan pada orang dewasa.   Selain itu sumber infeksi harus diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab penyakit adalah kuman, bukan oleh virus atau alergi (Mansjoer, 2000).

Terapi pada stadium presupurasi ialah antibiotika, obat tetes hidung dan analgetika. Antibiotika yang dianjurkan ialah dari golongan penisilin atau ampisilin. Terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar didapatkan konsentrasi yang adekuat di dalam darah, sehingga tidak terjadi mastoiditis yang terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa, dan kekambuhan. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi terhadap penisilin, maka diberikan eritromisin.

Pada anak, ampisilin diberikan dengan dosis 50 – 100 mg/kg BB per hari, dibagi dalam 4 dosis, atau amoksilin 40 mg/kg BB/hari dibagi dalam 3 dosis, atau eritromisin 40 mg/kg BB/hari (Mansjoer, 2000).

Pada stadium supurasi selain diberikan antibiotika, idealnya harus disertai dengan miringotomi, bila membran timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala-gejala klinis lebih cepat hilang dan ruptur dapat dihindari.Pada stadium perforasi sering terlihat sekret banyak keluar dan kadang terlihat sekret keluar secara berdenyut (pulsasi). Pengobatan yang diberikan adalah obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.

Pada stadium resolusi, maka membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi dan perforasi membran timpani menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani. Keadaan ini dapat disebabkan karena berlanjutnya edema mukosa telinga tengah. Pada keadaan demikian antibiotika dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila 3 minggu setelah pengobatan sekret masih tetap banyak, kemungkinan telah terjadi mastoiditis.

Bila OMA berlanjut dengan keluarnya sekret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif sub akut.            Bila perforasi menetap dan sekret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif kronis (OMSK).

Pada terapi antibiotika secara oral maka pilihan pertama adalah Amoksisilin; pilihan kedua digunakan bila diperkirakan organismenya resisten terhadap amoksisilin adalah amoksisilin dengan klavulanat (sugmentin; sefalosporin generasi kedua), atau trimetoprin sulfametoksazol. Pada klien yang alergi penisilin, dapat diberikan eritronmisin dan sulfonamide atau trimetoprimsulfa. Pada pengobatan OMA terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan kegagalan terapi. Risiko tersebut digolongkan menjadi risiko tinggi kegagalan terapi dan risiko rendah (Mansjoer, 2000).

Gejala Klinik Otitis Media (skripsi dan tesis)

Gejala klinik OMA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien. Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga., keluhan di samping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.

Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil gejala khas OMA ialah suhu tubuh tinggi dapat sampai 39,50C (pada stadium supurasi), anak gelisah dan sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang.

Stadium Otitis Media (skripsi dan tesis)

Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium : (1) stadium oklusi tuba Eustachius, (2) stadium hiperemis, (3) stadium supurasi, (4) stadium perforasi dan (5) stadium resolusi. Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membran timpani yang diamati melalui liang telinga luar.

  1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius

Tanda adanya oklusi tuba Eustachius ialah gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, akibat absorpsi udara. Kadang-kadang membran timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi,  tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.

  1. Stadium Hiperemis (Stadium Pre – Supurasi)

Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edem Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.

  1. Stadium Supurasi

Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membran timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar.

Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia, akibat tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan. Di tempat ini akan terjadi ruptur.

Bila tidak dilakukan insisi membran timpani (miringotomi) pada stadium ini, maka kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan nanah keluar ke liang telinga luar. Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup kembali, sedangkan apabila terjadi

  1. Stadium Perforasi

Stadium ini jarang ditemukan keculai karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut dengan otitis media akut stadium perforasi.

  1. Stadium Resolusi

Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahan-lahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul. OMA dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi.

Patologi Otitis Media (skripsi dan tesis)

Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, inflamasi jaringan disekitarnya (eg : sinusitis, hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( eg : rhinitis alergika).

Kuman penyebab utama pada OMA ialah bakteri piogenik, seperti Streptokukus hemolitikus, Stafilokukus aureus, Pneumokukus. Selain itu kadang-kadang ditemukan juga Hemofilus influenza, Escherichia colli, Streptokukus anhemolitikus, Proteus vulgaris dan Pseudomonas aurugenosa. Hemofillus influenza sering ditemukan pada anak yang berusia di bawah 5 tahun.