Kahn pertama kali membentuk konteks keterikatan yang terjadi di dunia kerja
yang ia sebut personal engagement, dimana ia menyatakan “I defined personal
engagement as the harnessing of organization members’ selves to their work roles;
in engagement, people employ and express themselves physically, cognitively, and
emotionally during role performances” (Saks, 2022, p.1). Definisi ini menjelaskan
bagaimana seorang karyawan mengerahkan berbagai aspek dirinya dalam
menjalankan tugas dan tanggung jawab pekerjaannya, yang tercermin melalui
keterlibatan pada aspek fisik, pemikiran, serta emosi selama bekerja. Selanjutnya,
Christian et al. mengembangkan konsep engagement yang saat ini dikenal
sebagai employee engagement yang didefinisikan sebagai “A relatively enduring
state of mind referring to the simultaneous investment of personal energies in the
experience or performance of work” (Ubaidillah et al., 2018, p.120). Definisi ini
menjelaskan bagaimana seorang karyawan yang engaged dengan pekerjaannya
mengalami kondisi pikiran dimana ia menginvestasikan energi pribadinya ke dalam
pengalaman atau kinerjanya ketika sedang melakukan sebuah pekerjaan yang
relatif bertahan lama. Lalu, Schaufeli menjelaskan kembali konsep engagement
dalam konteks pekerjaan yang nantinya dikenal sebagai work engagement dimana
dia menjelaskan bahwa “engagement is defined as a positive, fulfilling, work-
related state of mind that is characterized by vigor, dedication, and absorption”
(Schaufeli & Bakker, 2023, p.275). Definisi ini mejelaskan bagaimana engagement
merupakan kondisi pikiran seorang karyawan yang cenderung dengan perasaan-
perasaan seperti rasa semangat, berdedikasi dalam pekerjaan, dan terserap
dalam pekerjaan yang dilakukan.
Berdasarkan pemaparan sebelumnya, teori yang akan digunakan oleh
peneliti adalah teori engagement yang dijelaskan oleh oleh Schaufeli dan Bakker
(2023) karena definisi tersebut menggambarkan secara konkrit seperti bagaimana
orang-orang yang memiliki engagement ditandai dengan adanya kondisi seperti
rasa semangat (vigor), dedikasi (dedication), dan perasaan terserap (absorption)
yang jika dibandingkan dengan teori Kahn maupun Christian et al., teori dari
Schaufeli dan Bakker (2023) lebih dapat menggambarkan seorang karyawan yang
memiliki engagement secara spesifik dibandingkan teori dari Kahn serta Christian
et al. yang masih bersifat abstrak. Teori dari Schaufeli dan Bakker (2023) juga
sudah cukup banyak digunakan dalam penelitian-penelitian yang mengangkat
tentang topik dari work engagement yang menandakan relevansinya hingga saat
ini, ditambahkan dengan teori utama dari Schaufeli et al. yang telah dikutip
sebanyak 20.659 kali secara global. Ditambahkan lagi dengan konsep dari
(Schaufeli & Bakker, 2023) yang masih digunakan sebagai acuan dari pengukuran
terkait engagement bahkan sampai saat ini, baik dalam skala internasional
maupun lokal seperti penelitian Cheung et al. (2024) dan penelitian Batmomolin et
al. 2022) yang memperkuat bukti relevansinya hingga saat ini
