Investasi


Investasi adalah penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan di dalam
produksi yang efisien selama periode waktu yang tertentu. Investasi ke dalam
aktiva keuangan dapat berupa investasi langsung dan investasi tidak langsung.
Investasi langsung dilakukan dengan membeli langsung aktiva keuangan dari
suatu perusahaan baik melalui perantara atau dengan cara yang lain. Sebaliknya
investasi tidak langsung dilakukan dengan membeli saham dari perusahaan
investasi yang mempunyai portofolio aktiva-aktiva keuangan dari perusahaan lain
(Jogiyanto, 2003).
Investor dapat melakukan investasi baik dalam sektor riil maupun sektor
keuangan. Sektor riil adalah sektor yang pendiriannya bersifat nyata dalam bentuk
fisik seperti bidang manufaktur, properti, perbankan, perkebunan, peternakan,
pertambangan, dan lain sebagainya. Investasi dalam sektor keuangan adalah
investasi dalam bentuk instrumen keuangan seperti saham, obligasi, dan Surat
Berharga Pasar Uang (SPBU) yang diterbitkan oleh perusahaan maupun negara
(Samsul, 2006).
Menurut Sharpe et al. (1997), proses investasi berkenaan dengan bagaimana
seharusnya seorang investor membuat keputusan mengenai pemilihan sekuritas,
17
seberapa ekstensif investasi sebaiknya dilakukan, dan kapan seharusnya investasi
dilaksanakan. Ada lima langkah dalam membuat keputusan yang menjadi dasar
proses investasi, yaitu :

  1. Kebijakan Investasi
    Kebijakan investasi meliputi penentuan tujuan investor dan
    kemampuannya/kekayaannya yang dapat diinvestasikan. Karena terdapat
    hubungan positif antara risiko dan return untuk strategi investasi, bukan
    suatu hal yang tepat bagi seorang investor untuk berkata bahwa tujuannya
    adalah memperoleh banyak keuntungan. Hal yang tepat bagi seorang
    investor dalam kondisi seperti ini adalah menyatakan tujuannya untuk
    memperoleh banyak keuntungan dengan memahami bahwa ada
    kemungkinan terjadinya kerugian. Tujuan investasi seharusnya dinyatakan
    dalam risiko maupun return.
  2. Analisis Sekuritas
    Langkah kedua dalam proses investasi adalah melakukan analisis sekuritas
    yang meliputi penilaian terhadap sekuritas secara individual (atau beberapa
    kelompok sekuritas) yang masuk dalam kategori luas dari aset finansial
    yang telah diidentifikasi sebelumnya. Salah satu tujuan melakukan penilaian
    tersebut adalah untuk mengidentifikasi sekuritas yang salah harga
    (mispriced). Ada banyak pendekatan terhadap analisis sekuritas, namun
    pendekatan tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua klasifikasi, yaitu
    analisis teknis dan analisis fundamental. Analisis teknis meliputi studi harga
    pasar saham dalam upaya meramalkan gerakan harga pada masa depan
    untuk saham perusahaan tertentu. Analisis fundamental dimulai dengan
    pernyataan bahwa nilai intrinsik dari aset finansial sama dengan present
    value dari semua aliran tunai yang diharapkan diterima oleh pemilik aset.
    Sesuai dengan hal tersebut, analis saham fundamental berupaya meramalkan
    saat dan besarnya aliran tunai dan kemudian mengkonversikannya menjadi
    nilai sekarang (present value) dengan menggunakan tingkat diskon yang
    tepat.
  3. Konstruksi Portofolio
    Konstruksi portofolio melibatkan identifikasi aset khusus yang mana akan
    dijadikan investasi, juga menentukan berapa besar bagian dari investasi
    seorang investor pada tiap aset tersebut. Di sini masalah selektivitas,
    penentuan waktu, dan diversifikasi perlu menjadi perhatian bagi investor.
    Selektivitas, juga disebut microforecasting, merujuk pada analisis sekuritas
    dan memfokuskan pada peramalan pergerakan harga tiap sekuritas.
    Penentuan waktu, juga disebut macroforecasting, meliputi peramalan
    pergerakan harga saham-saham biasa secara umum relatif terhadap sekuritas
    dengan bunga tetap, misalnya obligasi perusahaan. Diversifikasi meliputi
    konstruksi portofolio investor sedemikian rupa sehingga meminimalkan
    risiko, dengan memperhatikan batasan tertentu.
  4. Revisi Portofolio
    Revisi portofolio berkenaan dengan pengulangan periodik dari tiga langkah
    sebelumnya. Sejalan dengan waktu, investor mungkin mengubah tujuan
    investasinya, yang pada gilirannya berarti portofolio yang dipegangnya
    tidak lagi optimal. Oleh karena itu, investor membentuk portofolio baru
    dengan menjual portofolio yang dimilikinya dengan membeli portofolio lain
    yang belum dimiliki.
  5. Evaluasi Kinerja Portofolio
    Evaluasi kinerja portofolio, meliputi penentuan kinerja portofolio secara
    periodik dalam arti tidak hanya return yang diperhatikan tetapi juga risiko
    yang dihadapi. Jadi diperlukan ukuran yang tepat tentang return dan risiko
    dan juga standar yang relevan.