Pengertian Produktivitas Bongkar Muat


Menurut Gurning dan Budiyanto (2018) produktivitas bongkar muat
adalah tingkat kemampuan dan kecepatan pelaksanaan penanganan kegiatan
pembongkaran barang dari atas kapal sampai ke gudang atau lapangan
penumpukan atau sebaliknya untuk kegiatan pemuatan barang sejak dari
gudang/lapangan penumpukan sampai ke atas kapal.
Tingkat kemampuan tersebut ditunjukkan oleh beberapa indicator, yakni:
1) jumlah rata-rata bongkar muat yang dicapai per jam dan dilakukan oleh 1
gang buruh ( 12 orang) di atas kapal yang diukur dengan satuan ton/gang/jam
(T/G/J);
2) jumlah ratarata bongkar muat barang yang dicapai per jam dan dilakukan
oleh alat bongkar muat petikemas diukur dengan satuan box/crane/hour
(B/C/H);
3) jumlah ratarata bongkar muat barang yang dicapai per jam dan dilakukan
oleh seluruh gang yang ketiga diatas kapal selama kapal berada di dermaga
(BWT) yang diukur dengan satuan ton/kapal/jam (T/K/J) dan lazim disebut
dengan ‘ship’s output’.
Menurut Tohardi dalam penelitian Sutrisno (2017). Produktivitas adalah
sikap mental yang selalu mencari perbaikan pada apa yang telah ada. percaya
bahwa seseorang dapat melakukan pekerjaan dengan lebih baik hari ini
daripada hari kemarin dan esok daripada hari ini.
Produktivitas dalam penelitian Haryono, T. (2018) merupakan
produktivitas bongkar muat juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
teknologi, manajemen operasional, dan pelatihan tenaga kerja. Integrasi
teknologi canggih dalam operasional bongkar muat, seperti penggunaan crane
otomatis dan sistem manajemen data yang terintegrasi, dapat secara signifikan
meningkatkan produktivitas. Selain itu, manajemen operasional yang baik
dengan strategi perencanaan yang matang, seperti penjadwalan dan
penempatan optimal dari tenaga kerja dan peralatan, juga memainkan peran
penting. Tenaga kerja yang terlatih dengan baik dan memiliki kompetensi yang
diperlukan tentu saja akan menambah produktivitas bongkar muat
Produktivitas dalam penelitian Wahyudi, R. (2019), produktivitas
bongkar muat memiliki erat dengan kepuasan kerja para asisten operator crane.
Kepuasan kerja ini mencakup aspek-aspek seperti kondisi kerja, hubungan
antar rekan kerja, dan penghargaan yang diberikan oleh perusahaan. Ketika
asisten operator crane memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi, mereka
cenderung lebih bersemangat dan produktif dalam menjalankan tugas-tugas
mereka, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas bongkar muat.
Maka, menjaga dan meningkatkan kepuasan kerja para asisten operator
merupakan bagian integral dari strategi peningkatan produktivitas bongkar mua
Menurut Sutrisno (2016), produktivitas bongkar muat dapat diartikan
sebagai rasio antara output atau volume barang yang dibongkar dan dimuat
dengan input atau faktor produksi yang digunakan selama periode waktu
tertentu. Istilah ini mencerminkan kemampuan sistem pelabuhan dalam
mengoptimalkan penggunaan sumber daya untuk mencapai volume bongkar
muat maksimal diiringi dengan biaya dan waktu yang minimum. Oleh karena
itu, definisi produktivitas bongkar muat menekankan pada aspek keluaran dan
masukan dalam proses operasional pelabuhan.
Produktivitas bongkar muat juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
teknologi, manajemen operasional, dan pelatihan tenaga kerja. Integrasi
teknologi canggih dalam operasional bongkar muat, seperti penggunaan crane
otomatis dan sistem manajemen data yang terintegrasi, dapat secara signifikan
meningkatkan produktivitas. Selain itu, manajemen operasional yang baik
dengan strategi perencanaan yang matang, seperti penjadwalan dan
penempatan optimal dari tenaga kerja dan peralatan, juga memainkan peran
penting. Tenaga kerja yang terlatih dengan baik dan memiliki kompetensi yang
diperlukan tentu saja akan menambah produktivitas bongkar muat