Menurut W. Newstrom dan Keith Davis (dalam Hadari Nawawi, 2003)
kepuasan kerja adalah perasaan dan emosi senang atau tidak yang dimiliki pekerja
terhadap pekerjaanya. Kepuasaan kerja adalah suatu sikap yang efektif berupa
perasaan yang relatif menyukai atau tidak menyukai sesuatu (yang terlihat dari
komentar pekerja, misalnya dengan menyatakan: “saya menikmati /menyukai
berbagai variasi yang terdapat di dalam tugas-tugas yang harus saya kerjakan”).
Kepuasan kerja adalah respon emosional terhadap suatu tugas/pekerjaan,
berdasarkan kondisi fisik dan kondisi sosial di tempat seseorang bekerja (John R,
Schmerhorn , James G Hunt dan Richard N. Obsorn dalam Hadari Nawawi, 2003)
sedangkan Stephen P. Robbins (dalam Hadari Nawawi 2003) berpendapat
bahwasanya kepuasan kerja adalah sikap umum dari setiap individu terhadap
pekerjaannya.
Salah satu sarana penting pada manajemen sumber daya manusia dalam
sebuah organisasi adalah terciptanya kepuasan kerja para anggota. Kepuasan kerja
merupakan hal yang bersifat individual. Setiap individu mempunyai tingkat
kepuasan yang berbeda-beda, seperti yang didefinisikan oleh Kreitner & Kinicki
(2005), bahwa kepuasan kerja sebagai efektivitas atau respons emosional terhadap
berbagai aspek pekerjaan.Definisi ini mengandung pengertian bahwa kepuasan
kerja bukanlah suatu konsep tunggal, sebaliknya seseorang dapat relatif puas
dengan suatu aspek dari pekerjaannya dan tidak puas dengan salah satu atau
beberapa aspek lainnya
Menurut Martoyo (2000), kepuasan kerja pada dasarnya merupakan salah
satu aspek psikologis yang mencerminkan perasaan seseorang terhadap
pekerjaannya, ia akan merasa puas dengan adanya kesesuaian antara kemampuan,
keterampilan dan harapannya dengan pekerjaan yang ia hadapi. Kepuasan
sebenarnya merupakan keadaan yang sifatnya subyektif yang merupakan hasil
kesimpulan yang didasarkan pada suatu perbandingan mengenai apa yang
diterima individu dari pekerjaannya dibandingkan dengan yang diharapkan,
diinginkan, dan dipikirkannya sebagai hal yang pantas atau berhak atasnya.
Sementara setiap individu secara subyektif menentukan bagaimana pekerjaan itu
memuaskan.
Kepuasan kerja merupakan persepsi seseorang mengenai pekerjaan,
berdasarkan faktor-faktor lingkungan kerja seperti gaya atasan, aturan dan
prosedur kerja, rekan kerja, kondisi kerja dan tingkat kompensasi yang
diterima. Elemen-elemen kerja yang berhubungan dengan kepuasan
kerjadiantaranya adalah nilai kompensasi, promosikerja, kondisi kerja,
supervisi, cara kerja organisasi dan hubungan yang tercipta antara atasan dan
bawahan (Mosedeghard dan Yannohammadian, 2006).
Menurut Hasibuan (2007) Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang
menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Kepuasan kerja (job statisfaction)
karyawan harus diciptakan sebaik-baiknya supaya moral kerja, dedikasi,
kecintaan, dan kedisiplinan karyawan meningkat. Sikap ini dicerminkan oleh
moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam
pekerjaan, luar pekerjaan, dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Kepuasan
kerja dalam pekerjaan adalah kepuasan kerja yang dinikmati dalam pekerjaan
dengan memperoleh pujian hasil kerja, penempatan, perlakuan, peralatan, dan
suasana lingkungan kerja yang baik. Karyawan yang lebih suka menikmati
kepuasan kerja dalam pekerjaan akan lebih mengutamakan pekerjaannya daripada
balas jasa walaupun balas jasa itu penting.
Menurut Strauss & Sayles (dalam Handoko, 2001) kepuasan kerja juga
penting untuk aktualisasi, individu yang tidak memperoleh kepuasan kerja tidak
akan pernah mencapai kematangan psikologis, dan pada gilirannya akan menjadi
frustasi. Individu yang seperti ini akan sering melamun, mempunyai semangat
kerja yang rendah, cepat lelah dan bosan, emosi tidak stabil, sering absen dan
melakukan kesibukan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang harus
dilakukan.
Menurut Howell (dalam Munandar, 2008) kepuasan kerja adalah hasil
keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap
berbagai aspek dari pekerjaanya.
