Sekarang ini banyak sekali perusahaan atau organisasi
memahami sekali perlunya memberi perhatian yang cukup
untuk membangun suatu citra yang menguntungkan bagi suatu
perusahaan tidak hanya dengan melepaskan diri terhadap
terbentuknya suatu kesan publik negatif. Dengan kata lain, citra
perusahaan adalah fragile commodity (komoditas yang
rapuh/mudah pecah). Namun, kebanyakan perusahaan juga
meyakini bahwa citra perusahaan yang positif adalah esensial,
sukses yang berkelanjutan dan dalam jangka panjang
(Seitel,1999: 69).
Menurut Bill Canton dalam Sukatendel (1999: 46)
mengatakan citra adalah “image: the impression, the feeling,
the conception which the public has of a company; a
concioussly created impression of an object, person or
organization” (citra adalah kesan, perasaan, gambaran diri
publik terhadap perusahaan; kesan yang dengan sengaja
diciptakan dari suatu obyek, orang atau organisasi).
Citra perusahaan dapat menjadi informasi ekstrinsik
petunjuk bagi pembeli baik yang ada dan potensi dan mungkin
atau tidak dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan misalnya,
kesediaan untuk memberikan kata positif dari mulut ke mulut.
Citra perusahaan diasumsikan berdampak akibat pada pilihan
pelanggan perusahaan ketika atribut pelayanan sulit untuk
dievaluasi, maka citra perusahaan didirikan dan dikembangkan
di benak konsumen melalui komunikasi dan pengalaman. Citra
perusahaan yang diyakini untuk menciptakan efek halo pada
penilaian kepuasan pelanggan (Andreassen et al., 1999: 22).
