Loyalitas karyawan kepada perusahaan merupakan kesetiaan atau
bentuk dari keterikatan emosi yang mendalam terhadap perusahaan akibat
adanya kepuasan terhadap kebijakan yang diterapkan oleh perusahaan
kepadanya. Poerwopoespito (2004), menyebutkan bahwa loyalitas kepada
pekerjaan tercermin pada sikap karyawan yang mencurahkan kemampuan dan
keahlian yang dimiliki, melaksanakan tugas dengan tanggungjawab, disiplin
serta jujur dalam bekerja. Poerwopoespito (2005), juga menjelaskan bahwa
sikap karyawan sebagai bagian dari perusahaan yang paling utama adalah
loyal.
Setiap perusahaan memiliki visi dan misi yang ingin dicapainya.
Pencapaian visi dan misi tersebut dilakukan dengan menyusun berbagai
tugas dan peran yang membentuk sebuah struktur organisasi. Dalam struktur
suatu organisasi pasti memiliki pemimpin guna mengarahkan dan mengatur
sumber daya yang ada agar tujuan organisasi tercapai. Pendekatan seorang
atasan kepada bawahannya dalam memimpin sebuah organisasi tercermin
dalam gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan seorang atasan yang
berbeda di setiap organisasi menyebabkan perbedaan hasil yang dicapai oleh
masing-masing organisasi.
Dalam pembentukan loyalitas kerja diperlukan adanya kesadaran diri
individu, baik langsung atau tidak langsung, yang didukung oleh berbagai
faktor. Gaya kepemimpinan transformasional merupakan salah satu faktor
penentu loyalitas karyawan terhadap perusahaan. Sense of power, merupakan
wujud kepemimpinan transformasional dalam menciptakan pemberdayaan
karyawan. Pemberdayaan merupakan kebutuhan instrinsik dari dalam
individu untuk memiliki kebebasan membuat keputusan (self-determination)
dan merasa yakin pada efektifitas diri (self-efficacy) (Spreitzer, 1997).
Melalui konsep ini, bawahan diberikan tugas dan wewenang yang lebih
besar dalam pengambilan keputusan. Dengan keyakinannya, bawahan akan
memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian prestasi organisasi dan
berperilaku yang lebih efektif.
