Definisi Social Exchange Theory (SET)


Evolusi dari social exchange theory (SET) bermula dari
Bronislaw Malinowski pada 1922 yang mengamati sistem
pertukaran sosial dari perspektif antropologi terhadap praktik
pertukaran barang antar kelompok di masyarakat Melanesia. Setelah
mengalami beberapa perkembangan, Peter M. Blau pada 1964
merumuskannya sebagai social exchange theory (SET). Menurut
Blau (1964), social exchange theory (SET) merupakan interaksi
sukarela antara individu yang dilakukan dengan harapan akan
memperoleh balasan dari pihak lain, baik secara langsung maupun
tidak langsung. Hubungan ini didorong oleh ekspetasi akan imbalan
sosial seperti penghargaan, bantuan, atau pengakuan yang tidak
selalu bersifat material. Namun, perkembangan definisi social
exchange theory (SET) yang digunakan untuk memahami secara
dalam bagaimana organizational climate berpengaruh terhadap
individual innovative behavior karyawan dijelaskan oleh
Cropanzano et al. (2017) dalam Ahmad et al. (2023) yang
mendefinisikan social exchange theory sebagai:
a. Inisiatif dari pelaku (actor) terhadap pihak lain (target).
b. Respon dari pihak target dalam bentuk sikap atau perilaku
sebagai bentuk timbal balik.
c. Hubungan yang terbentuk sebagai hasil dari proses pertukaran
tersebut.
Teori ini menjelaskan bahwa hubungan antara karyawan dan
organisasi bersifat timbal balik, di mana setiap perlakuan positif dari
organisasi akan memunculkan respon positif dari individu dalam
bentuk peningkatan komitmen dan kontribusi terhadap pekerjaan.
Asif & Shahbaz (2025) meneliti bagaimana innovative
organizational climate memengaruhi innovative work behavior
menggunakan social exchange theory (SET). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa organizational climate yang inovatif tidak
hanya memengaruhi perilaku karyawan secara langsung, tetapi juga
secara tidak langsung yaitu melalui social exchange theory (SET)
dimana iklim dalam perusahaan menciptakan persepsi pertukaran
positif dalam karyawan. Kaufman et al. (2001) dalam Singh et al.,
(2023) menjelaskan bahwa dengan adanya social exchange theory
(SET), menumbuhkan perceived organizational support dalam
karyawan sehingga mendorong munculnya extra-role behavior
seperti kesediaan untuk memberikan ide dan solusi terhadap
permasalahan yang dihadapi organisasi. Melalui organizational
climate yang suportif, karyawan akan merasakan suasana kerja yang
nyaman sebagai bentuk dukungan dari perusahaan. Oleh karena itu,
sebagai bentuk balasannya, mereka terdorong untuk terlibat lebih
aktif dalam proses inovasi, baik dalam mengusulkan ide baru,
maupun dalam mengimplementasikannya untuk mendukung tujuan
perusahaan. Melalui dorongan dan inisiatif karyawan dalam
memberikan kontribusi serta kreativitasnya, terbentuk individual
innovative behavior yang berkelanjutan sehingga menguntungkan
bagi perusahaan