Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Religiusitas


Doe dan Marsha Walch (dalam Darmayanti,2008) menyatakan jika anak
memperoleh spiritual parenting yang baik, maka mereka akan tumbuh kembang
menjadi pribadi yang spiritual sekalipun cara berfikir mereka masih operasional
konkret.
Selanjutnya Tittley lebih tegas menyatakan bahwa kunci dari
perkembangan kepercayaan (jiwa keagamaan) anak adalah rumah, tempat
dibangkitkan dan diterimanya kepercayaan (iman). Dirumah anak-anak
mengembangkan pengalaman terhadap Tuhan dengan memproyeksi ide dari orang
dewasa disekitar mereka sehingga mereka menerima dan memahamai apa yang
diajarkan kepada mereka tanpa kritik, mencontoh kepercayaan orang disekitar
bahkan menjadikannya sebagai kepercayaan bagi dirinya. Lebih lanjut dan
mendalam Jamaluddin (dalam Darmayanti, 2008) menyatakan bahwa jiwa
keagamaan dalm diri seseorang dipengaruhi faktor eksternal dan internal.
Faktor Internal:
a. Faktor Hereditas
Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan
yang diwariskan secara turun temurun, melainkan bentuk dari berbagai unsur
kejiwaan lain yang mencakup kognitif, afektif, dan konatif. Tetapi dalam
penelitian terhadap janin terungkap bahwa makanan dan perasaan ibu berpengaruh
terhadap kondisi janin yang dikandungnya.
b. Tingkat Usia
Perkembangan jiwa keagamaan dipengaruhi oleh perkembangan berpikir
seseorang. Anak yang menginjak berpikir kritis lebih kritis pula dalam memahami
ajaran agama.
c. Kepribadian
Kepribadian sering disebut sebagai identitas (jati diri) seseorang yang
sedikit banyaknya menampilkan ciri-ciri pembeda diri individu lain diluar
jiwanya. Perbedaan ini diperkirakan berpengaruh terhadap perkembangan aspek-
aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan.
d. Kondisi Kejiwaan
Dalam hubungan dengan perkembangan jiwa keagamaan sangatlah terkait
sebab orang yang mengidap schizophrenia akan mengisolasi dari kehidupan sosial
serta persepsinya tentang agama akan dipengaruhi oleh berbagai halusinasi.
Faktor Eksternal:
a. Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan satuan sosial yang paling sederhana dalam kehidupan
manusia. Anggota-anggotanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Bagi anak-
anak keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang dikenalnya.Dengan
demikian kehidupan keluarga menjadi fase awal bagi pembentukan jiwa
keagamaan anak.
b. Lingkungan Institusional
Dapat berupa institusi formal seperti sekolah, yayasan atau lembaga-
lembaga dan juga institusi non formal. Unsur-unsur yang menopang pembentukan
jiwa keagamaan tersebut melalui disiplin yang diberikan, simpati, ketekunan,
kejujuran, toleransi, keteladanan, sabar dan keadilan.
c. Lingkungan Mayarakat
Lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat akan
berpengaruh positif bagi perkembangan jiwa anak, sebab kehidupan keagamaan
terkondisi dalam tatanan nilai maupun institusi keagamaan dan sebaliknya