Istilah work engagement pertama kali diperkenalkan oleh Kahn sebagai
bentuk keterlibatan karyawan dengan organisasi. Dalam hal ini, individu memiliki
kemampuan untuk mengekspresikan diri secara fisik, kognitif, dan emosional saat
melaksanakan pekerjaan di lingkungan kerja . Lebih lanjut, Kahn menyatakan
bahwa work engagement dipengaruhi oleh tiga faktor kunci. Pertama, adanya
hubungan antara tujuan pekerjaan dan peran yang diemban. Kedua, rasa aman
secara psikologis bagi pekerja, yang memastikan bahwa pekerjaan karyawan tidak
akan mengakibatkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Terakhir, ketersediaan
dan akses terhadap sumber daya yang diperlukan untuk menjalankan peran
karyawan dengan efektif.
Bakker dan Leiter menjelaskan work engagement adalah kondisi
kesejahteraan yang berkaitan dengan pekerjaan yang bersifat positif, memuaskan,
dan memotivasi, yang dapat dianggap sebagai lawan dari kelelahan kerja
Karyawan yang terlibat memiliki tingkat energi yang tinggi, dan terlibat dengan
antusias dalam pekerjaan (10). Baker dan Leiter juga mendefinisikan work
engagement sebagai suatu konsep motivasi, ketika karyawan terlibat, karyawan
merasa termotivasi untuk berusaha mencapai tujuan yang menantang. Work
engagement melampaui sekadar respons terhadap kondisi yang ada, karyawan
menunjukkan komitmen pribadi untuk mencapai tujuan ini .
Schaufeli et al. mengatakan work engagement adalah sebuah keadaan
positif, memenuhi, dan berenergi dari pikiran dan perasaan yang ditandai oleh
semangat (vigor), dedikasi (dedication), dan penyerapan (absorbtion) . Vigor
ditandai oleh tingkat energi yang tinggi dan ketahanan mental saat bekerja, serta
keinginan untuk berusaha keras dalam pekerjaan, bahkan ketika menghadapi
tantangan. Dedication ditandai dengan perasaan makna, antusiasme, inspirasi,
kebanggaan, dan tantangan. Sementara itu, absorption ditandai dengan
konsentrasi yang mendalam dan keterlibatan total dalam pekerjaan, di mana
waktu terasa berlalu dengan cepat dan individu mengalami kesulitan untuk
terlepas dari pekerjaan
