Anggota yang memiliki komitmen terhadap organisasinya akan
lebih dapat bertahan sebagai bagian dari organisasi. Luthans (2006) pada
bukunya Perilaku Organisasi mendefinisikan komitmen organisasi sebagai
sikap, yaitu :
a. Keinginan kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi tertentu.
b. Keinginan untuk berusaha keras sesuai keinginan organisasi.
c. Keyakinan tertentu, dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi.
Dengan demikian komitmen organisasi merupakan sikap yang
merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan proses berkelanjutan
dimana anggota organisasi mengekspresikan perhatiannya terhadap
organisasi dan keberhasilan serta kemajuan yang berkelanjutan. Komitmen
organisasional memberikan hubungan positif terhadap kinerja tinggi
karyawan, tingkat pergantian karyawan yang rendah dan tingkat
ketidakhadiran karyawan yang rendah. Komitmen organisasional juga
memberikan iklim organtau jenis komitmen organisasi yang hangat dan
mendukung.
Meyer et al., (1993) Terdapat tiga golongan menggolongkan
komitmen organisasi menjadi tiga, yaitu :
a. Komitmen afektif (affective commitment)
Komitmen afektif (affective commitment) adalah suatu
pendekatan emosional dari individu dalam keterlibatan dengan
organisasi, sehingga individu akan merasa dihubungkan dengan
organisasi. Komponen afektif berkaitan dengan emosional, identifikasi
dan keterlibatan pegawai didalam suatu organisasi. Komitmen
berkelangsungan (continuance commitment)
Komitmen berkelangsungan (continuance commitment) adalah
hasrat yang dimiliki oleh individu untuk bertahan dalam organisasi,
sehingga individu merasa membutuhkan untuk dihubungkan dengan
organisasi. Komitmen ini didasarkan pada persepsi pegawai tentang
kerugian yang akan dihadapinya jika ia meninggalkan organisasi.
Karyawan dengan komitmen berkelangsungan yang kuat akan
meneruskan keanggotaannya dengan organisasi, karena mereka
membutuhkannya. Luthans (2006) mengemukakan komitmen
berkelangsungan sebagai komitmen berdasarkan kerugian yang
berhubungan dengan keluarnya karyawan dari organisasi. Hal ini
mungkin dikarenakan kehilangan senioritas atas promosi atau benefit.
b. Komitmen normatif (Normative commitment)
Komitmen normatif (normative commitment) adalah suatu
perasaan wajib dari individu untuk bertahan dalam organisasi. Normatif
merupakan perasaan-perasaan pegawai tentang kewajiban yang harus
dia berikan kepada organisasi, dan tindakan tersebut merupakan hal
benar yang harus dilakukan. Karyawan dengan komitmen normatif
yang kuat akan tetap bergabung dalam organisasi karena mereka merasa
sudah cukup untuk hidupnya.
Setiap karyawan memiliki dasar dan perilaku yang berbeda
tergantung pada komitmen organisasi yang dimilikinya. Karyawan
yang memiliki komitmen organisasi dengan dasar afektif memiliki
tingkah laku yang berbeda dengan karyawan yang memiliki komitmen
organisasi dengan dasar continuance. Karyawan yang ingin menjadi
anggota akan memiliki keinginan untuk menggunakan usaha yang
sesuai dengan tujuan organisasi. Sebaliknya karyawan yang terpaksa
menjadi anggota akan menghindari kerugian financial dan kerugian
lain, sehingga karyawan tersebut hanya melakukan usaha yangtidak
maksimal. Sementara itu, komitmen normatif yang berkembang
sebagai hasil daripengalaman sosialisasi bergantung dari sejauh apa
perasaan kewajiban yang dimiliki karyawan. Komitmen normatif
menimbulkan perasaan kewajiban pada karyawan untuk memberi
balasan atas apa yang telah diterima dari organisasi
