Stres Kerja


Stres kerja dilambangkan sebagai kekuatan, tekanan, kecenderungan
atau upaya seseorangdalam kekuatan mental pada pekerjaannya. Stres kerja
ini dapat menimbulkan emosi tidak stabil, perasaan tidak tenang, suka
menyendiri, sulit tidur, merokok berlebihan, tidak bisa rileks, cemas,
tegang, gugup, tekanan darah meningkat dan mengalami gangguan
pencernaan Mangkunegara (2000).
Robbins (2006) stres sebagai suatu tanggapan menyesuaikan diri
yang dipengaruhi oleh perbedaan individu dan proses psikologis, sebagai
konsekuensi dari tindakan. Stres yang dialami oleh individu dalam
lingkungan pekerjaannya seringkali dipicu oleh hal-hal yang berasal dari
dalam diri karyawan (internal factor) dan dari luar (external factor) yang
membawa konsekuensi berbeda bagi masing-masing individu tergantung
bagaimana mereka merespon penyebab stres. Menurut Anatan dan Ellitan
(2007) faktor penyebab stres meliputi:
a. Extra organizational stresor, yaitu penyebab stres dari luar organisasi
meliputi perubahan sosial dan teknologi yang berakibatkan adanya
perubahan gaya hidup masyarakat, perubahan ekonomi dan finansial
mempengaruhi pola kerja seseorang, kondisi masyarakat relokasi dan
kondisi keluarga.
b. Organizational stresor, penyebab stres dari dalam organisasi yang
meliputi kondisi kebijakan dan strategi administrasi, struktur dan desain
organisasi, proses organisasi, dan kondisi lingkungan kerja.
c. Group stresor, penyebab stres dan kelompok dalam organisasi yang
timbul akibat kurangnya kesatuan dalam melaksanakan tugas dan kerja
terutama pada level bawahan, kurangnya dukungan dari atasan,
munculnya konflik antar personal, interpersonal, dan antar kelompok.
d. Individual stresor, stres yang berakibat dari dalam diri individu yang
muncul akibat konflik dan ambiguitas peran, beban kerja yang terlalu
berat, dan kurangnya pengawasan dari pihak perusahan.
Mangkunegara (2000) mengemukakan bahwa stres kerja diukur
oleh beberapa hal, antara lain: beban kerja yang terlalu berat, waktu kerja
yang mendesak, kualitas pengawasan kerja yang rendah, iklim kerja yang
tidaksehat, otoritas kerja yang tidak memadai yang berhubungan dengan
tanggungjawab, konflik kerja, serta perbedaan nilai antara karyawan dengan
pemimpin