Pada dasarnya Turnover Intention merupakan keinginan seseorang untuk
berpindah dan mencoba lingkungan yang baru dan hal itu biasanya ditandai dengan
perilaku seseorang yang cenderung bersikap negatif. Menurut Harnoto (2002:2):
“Turnover intentions ditandai oleh berbagai hal yang menyangkut perilaku
karyawan, antara lain: absensi yang meningkat, mulai malas kerja, naiknya
keberanian untuk melanggar tata tertib kerja, keberanian untuk menentang atau
protes kepada atasan, maupun keseriusan untuk menyelesaikan semua tanggung
jawab karyawan yang sangat berbeda dari biasanya.” Indikasi-indikasi tersebut bisa
digunakan sebagai acuan untuk memprediksikan turnover intentions karyawan
dalam sebuah perusahaan.
a. Absensi yang meningkat
karyawan yang berkinginan untuk melakukan pindah kerja, biasanya
ditandai dengan absensi yang semakin meningkat. Tingkat tanggung jawab
pegawai dalam fase ini sangat kurang dibandingkan dengan sebelumnya.
b. Mulai malas bekerja
Pegawai yang berkinginan untuk melakukan pindah kerja, akan lebih malas
bekerja karena orientasi pegawai ini adalah bekerja di tempat lainnya yang
dipandang lebih mampu memenuhi semua keinginan pegawai bersangkutan
c. Peningkatan terhadap pelanggaran tata tertib kerja
Berbagai pelanggaran terhadap tata tertib dalam lingkungan pekerjaan
sering dilakukan pegawai yang akan melakukan turnover. Pegawai lebih
sering meninggalkan tempat kerja ketika jam-jam kerja berlangsung,
maupun berbagai bentuk pelanggaran lainnya
d. Peningkatan protes terhadap atasan
Pegawai yang berkinginan untuk melakukan pindah kerja, lebih sering
melakukan protes terhadap kebijakan-kebijakan perusahaan kepada atasan.
Materi protes yang ditekankan biasanya berhubungan dengan balas jasa atau
aturan lain yang tidak sependapat dengan keinginan pegawai.
e. Perilaku positif yang sangat berbeda dari biasanya
Biasanya hal ini berlaku untuk pegawai yang karakteristik positif. Pegawai
ini mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas yang
dibebankan, dan jika perilaku positif pegawai ini meningkat jauh dan
berbeda dari biasanya justru menunjukkan pegawai ini akan melakukan
turnover.
Sedangkan pendapat lain mengenai indikator tunover intention
Menurut Mobley et al dalam Tika Nur Haimah et all (2016) Indikator
pengukuran turnover intention terdiri atas:
- Memikirkan untuk keluar (Thinking of Quitting): mencerminkan
individu untuk berpikir keluar dari pekerjaan atau tetap berada di
lingkungan pekerjaan. Diawali dengan ketidakpuasan kerja yang dirasakan
oleh karyawan, kemudian karyawan mulai berfikir untuk keluar dari tempat
bekerjanya saat ini. - Pencarian alternatif pekerjaan (Intention to search for alternatives):
mencerminkan individu berkeinginan untuk mencari pekerjaan pada
organisasi lain. Jika karyawan sudah mulai sering berpikir untuk keluar dari
pekerjaannya, karyawan tersebut akan mencoba mencari pekerjaan diluar
perusahaannya yang dirasa lebih baik. - Niat untuk keluar (Intention to quit): mencerminkan individu yang berniat
untuk keluar. Karyawan berniat untuk keluar apabila telah mendapatkan
pekerjaan yang lebih baik dan nantinya akan diakhiri dengan keputusan
karyawan tersebut untuk tetap tinggal atau keluar dari pekerjaannya.
Kesimpulan yang diambil dari uraian diatas adalah apabila seorang karyawan sudah
memiliki keinginan yang tinggi untuk keluar dari perusahaan dimana ia bekerja dan
sudah memiliki tujuan lingkungan perusahaan yang baru seseorang maka akan
menunjukkan sikap-sikap yang melenceng dari aturan yang sudah ditetapkan,
karena merasa tidak menyukai dan sudah merasa tidak nyaman lagi untuk bekerja
pada perusahaan tersebut.
