Proses pemilihan merek yang dilakukan oleh konsumen dapat
didasarkan atas pengalaman yang dialami, baik itu pengalaman langsung
maupun tidak langsung. Pengalaman tersebut dapat menjadi unsur pemilihan
suatu merek tergantung pada seberapa besar nilai yang dihasilkan dari
pengalaman tersebut, pendapat ini sesuai dengan pendapat Hoch dan
Deighton (1989) yang menyebut bahwa familiarity sebagai jumlah
pengalaman terkait produk yang diakumulasikan. Dan pada saat ini,
pengalaman tersebut sangat mendasar bagi penciptaan preferensi merek
konsumen, dan stimulasi keputusan pembelian di masa depan (Gentile et al.,
2007). Selain itu pendapat dari Howard dan Sheth (1969) yang menyatakan
bahwa preferensi merek mengacu pada kecenderungan konsumen terhadap
merek tertentu yang merangkum pemrosesan informasi kognitif mereka ke
arah rangsangan merek. Itu artinya informasi yang merupakan bagian dari
dimensi brand familiarity dapat mempengaruhi proses terjadinya brand
preference.
