Dasar Statistika (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya statistika terbagi menjadi dua yakni stastika deskriptif dan statistika inferensial. Statistika inferensial terbagi menjadi dua yaitu statistik parametrik dan statistik non-parametrik. Statistik non-parametrik merupakan analisis yang tidak menggunakan parameter seperti yang terdapat pada statistik non-parametrik, misalnya: mean, standar deviasi, dan variansi. Statistik nonparametrik juga sering disebut dengan metode distribusi bebas. Statistik nonparametrik menjadi alternatif dari statistik parametrik ketika asumsi-asumsi yang mendasari dalam statistik parametrik tidak dapat terpenuhi, sebab metode ini tidak memerlukan asumsi atau mengabaikan asumsi-asumsi yang menjadi landasan metode statistika parametrik terutama yang berkaitan dengan distribusi normal. Selain itu, statistik non-parametrik digunakan pada data yang berskala nominal dan ordinal serta populasi yang bebas distribusi. Semua permasalahan statistik sebenarnya dapat diselesaikan dengan statistik non-parametrik. Namun harus dipahami bahwa tidak semua permasalahan statistik dapat diselesaikan dengan menggunakan statistik parametrik sehingga harus menggunakan statistik non-parametrik.

Software IBM SPSS (skripsi dan tesis)

Santoso (2010) berpendapat bahwa software SPSS dapat dijadikan sebagai alternatif pengguna untuk mengolah data dan menginterpretasi output dengan mudah dalam menyelesaikan permasalahan pada metode non-parametrik. SPSS (Statistical Product and Service Solution) merupakan program aplikasi bisnis yang berguna untuk melakukan perhitungan atau menganalisa data statistik dengan menggunakan komputer. Dalam SPSS yang perlu dilakukan untuk memulai menganalis data yaitu mendesain variabel yang akan dianalisis, memasukkan data, dan melakukan perhitungan sesuai dengan tahapan yang ada pada menu yang tersedia. SPSS memiliki berbagai macam fitur yang ditawarkan untuk mengolah data dalam berbagai kasus, seperti: a. IBM SPSS Data Collection : untuk pengumpulan data b. IBM SPSS Statistics : untuk menganalisis data c. IBM SPSS Modeler : untuk memprediksi trend d. IBM Analytical Decision Management : untuk pengambilan keputusan SPSS banyak diaplikasikan serta digunakan oleh pengguna di segala bidang bisnis, perkantoran, pendidikan, dan penelitian. Secara spesifik, pemanfaatan program ini digunakan untuk riset pemasaran, penilaian kredit, peramalan bisnis, penilaian kepuasan konsumen, pengendalian, serta pengawasan dan perbaikan mutu suatu produk.
Keunggulan dari SPSS dibandingkan dengan program yang lainnya adalah kemudahan dalam memasukkan data, kemudahan dalam mengolah data dengan hanya memilih uji statistik yang sudah tersedia, cepat dalam menampilkan output, dan output mudah untuk dipahami, dibaca, dan dicetak. Selain itu, SPSS mampu mengakses data dari berbagai macam format data yang tersedia seperti base, lotus, access, text file, spreadsheet, bahkan mengakses database melalui ODBD (Open Data Base Connectivity) sehingga 18 data yang berbagai macam format dapat langsung terbaca SPSS yang selanjutnya untuk dianalisis. SPSS dapat menguji data yang berjenis data kualitatif maupun data kuantitatif. Informasi yang diberikan oleh SPSS sangatlah akurat, hal ini dapat dilihat dengan memperlakukan missing data secara tepat yaitu dengan memberi alasannya misalnya pernyataan atau pertanyaan yang tidak relevan dengan kondisi responden, pernyataan atau pertanyaan tidak dijawab oleh responden, maupun ada pernyataan atau pertanyaan yang memang harus dilompati. Statistik yang termasuk software dasar SPSS, yakni: a. Statistik Deskriptif (Frekuensi, Deskripsi, Tabulasi Silang, Penelusuran, dan Statistik Deskripsi Rasio) b. Statistik Bivariat (Rata-Rata, ANOVA, t-test, Korelasi (Bivariat, Persial, Jarak), dan NonParametrik Test) c. Prediksi Hasil Numerik (Regresi Linear) d. Prediksi untuk mengidentifikasi kelompok (Diskriminan, Analisis Cluster (Two-Step, K-means, Hierarkis), dan Analisis Faktor)

Kuesioner (skripsi dan tesis)

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi suatu pernyataan atau pertanyaan tertulis kepada responden (Sugiyono, 2013). Kuesioner berdasarkan bentuknya terbagi menjadi dua jenis, yaitu: a. Kuesioner Tertutup Kuesioner yang menyajikan pertanyaan dan alternatif pilihan jawaban sehingga responden hanya dapat memberikan tanggapan yang terbatas pada pilihan yang telah diberikan. Contoh dari kuesioner tertutup ini yaitu penilaian pelayanan pada sebuah cafe dan diberikan beberapan alternatif pilihan jawaban seperti sangat baik, baik, cukup, dan buruk. b. Kuesioner Terbuka Kuesioner yang memberikan kebebasan bagi responden untuk memberikan jawaban atau tanggapan atas pertanyaan yang telah diberikan, biasanya responden dapat menulis sendiri jawabannya berupa uraian. Contoh dari kuesioner terbuka yaitu “menurut anda seberapa pentingkah penggunaan smartphone?”. Penggunaan kuesioner banyak digunakan oleh peneliti karena dianggap lebih efektif dan efisien untuk mengumpulkan data dari responden yang jumlahnya besar dan dalam ruang lingkup wilayah penelitian yang luas. Pertanyaan pada kuesioner dapat digunakan untuk mengukur pendapat, sikap, dan pengetahuan.

Penentuan Ukuran Sampel (skripsi dan tesis)

Ukuran sampel merupakan banyaknya individu, subjek, atau elemen dari populasi yang diambil sebagai sampel. Menurut Sugiyono (2013) mendefinisikan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Sedangkan sampel adalah bagian dari beberapa anggota yang dipilih dari populasi (Sekaran dan Bougie, 2010). Apabila ukuran sampel yang diambil terlalu besar atau terlalu kecil maka akan menjadi masalah dalam penelitian. Sampel yang baik yaitu sampel yang memberikan pencerminan optimal atau dapat mewakili terhadap populasinya (representative). Berikut pendapat para ahli tentang ukuran sampel: a. Gay dan Diehl (1992) mengasumsikan bahwa semakin banyak sampel yang diambil maka akan semakin representative dan hasilnya dapat di genelisir atau dapat diterima, namun akan sangat bergantung pada jenis penelitiannya. i. Penelitian bersifat deskriptif maka sampel minimumnya sebesar 10% dari populasi. ii. Penelitan yang bersifat korelasional maka sampel minimumnya 30 subyek. iii. Penelitian kausal-perbandingan maka sampelnya sebanyak 30 subyek per grup. iv. Sedangkan penelitian ekperimental maka sampel minimumnya sebanyak 15 subyek per grup. b. Roscoe (1975) menentukan ukuran sampel yang tepat yaitu sebesar ≥30 dan ≤500 sampel dan jika sampel dipecah ke dalam sub-sampel maka ukuran sampel minimum 30 untuk setiap kategori yang ada. Sugiyono (2013) menambahkan bahwa untuk penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu yang dikembangkan dari Isaac dan Michael untuk tingkat kesalahan sebesar 1%, 5%, dan 10%.

Metode Pengambilan Sampel (skripsi dan tesis)

Sampling adalah cara pengumpulan data dengan hanya elemen sampel yang diteliti, hasilnya merupakan data perkiraan atau estimate, bukan data sebenarnya. Sedangkan teknik sampling adalah suatu teknik pengambilan sampel (Sugiyono, 2013). Alasan teknik sampling lebih sering digunakan karena lebih menghemat waktu, biaya, serta tenaga, terkadang tidak diketahui objek secara keseluruhan, dan sering terjadi kesalahan dalam pengumpulan data dikarenakan banyak objek atau elemen yang harus diteliti. Suatu keputusan yang didasarkan atas data perkiraan hasil penelitian sampel akan selalu menimbulkan resiko. Resiko ini tidak dapat dihindari namun hanya dapat diperkecil dengan jalan memperkecil kesalahan sampling yaitu dengan memilih sampling yang tepat yang dapat mewakili populasi dari sampel yang diambil. Pada dasarnya teknik sampling dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu probability sampling dan non-probability sampling. a. Metode dalam probability sampling i. Simple Random Sampling ii. Proportionate Stratified Sampling iii. Disproportionate Stratified Random Sampling iv. Cluster Sampling 13 b. Metode dalam non-probability sampling i. Sampling Sistematis ii. Sampling Kuota iii. Sampling Insidental iv. Sampling Jenuh v. Purposive Sampling vi. Snowball Sampling

Sumber Data (skripsi dan tesis)

Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu: a. Data Primer Merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber data utama. Data primer biasa disebut juga data asli yang memiliki sifat up to date. Teknik yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data primer dengan cara seperti wawancara, observasi, dan penyebaran kuesioner. b. Data Sekunder Merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti dari berbagai sumber yang telah ada. Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti pusat statistik, buku, laporan, makalah, jurnal, dan lain sebagainya

Metode Penelitian (skripsi dan tesis)

Metode penelitian merupakan suatu proses dari pencarian solusi permasalahan setelah melalui pembelajaran dan analisis faktor-faktor situasional (Sekaran dan Bougie, 2010). Sedangkan Sugiyono (2013) mendefinisikan metode penelitian adalah cara ilmiah untuk memperoleh data dalam suatu permasalahan dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dari pernyataan tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu: cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan. Cara ilmiah artinya kegiatan penelitian didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu: a. Rasional Cara yang dilakukan dalam kegiatan penelitian haruslah masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. b. Empiris Cara yang dilakukan dalam kegiatan penelitian dapat diamati oleh indera manusia sehingga orang lain dapat memahami cara-cara yang digunakan. c. Sistematis Proses dalam kegiatan penelitian harus menggunakan tahap-tahapan yang bersifat logis. Menurut jenis data dan analisisnya, metode penilitian dibedakan menjadi: a. Penelitian Kualitatif Penelitian yang datanya adalah data kualitatif sehingga analisisnya juga kualitatif (deskriptif). Data kualitatif merupakan data yang berbentuk kata, kalimat, dan gambar (Sukmadinata, 2009).
Namun, data kualitatif dapat dirubah menjadi data kuantitatif dengan cara diskoring. Contoh data kualitatif yaitu sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan lain-lain. Metode ini mendasarkan kesimpulan penelitian pada asumsi-asumsi interpretasi yang tetap mengacu pada fakta dan teori pendukung. b. Penelitian Kuantitatif Penelitian yang datanya adalah data kuantitatif sehingga analisisnya juga kuantitatif (inferensi). Data kuantitatif merupakan data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan seperti: 1, 2, 3, 4, …, dst, atau skor 5 = sangat setuju, skor 4 = setuju, skor 3 = ragu-ragu, skor 2 = kurang setuju, skor 1 = tidak setuju. Contoh dari aplikasi metode ini adalah survey. Metode ini 12 berdasar pada prinsip pembuktian hipotesis. Penelitian dilakukan untuk membuktikan apakah hipotesis tersebut benar atau salah.

Metode Demonstrasi (skripsi dan tesis)

Metode adalah cara yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan bahan pelajaran agar tujuan atau kompetensi dasar dapat tercapai. Ada beberapa prinsip yang perlua diperhatikan dalam penggunaan metode mengajar ini, prinsip tersebut berkaitan dengan faktor perkembangan kemampuan siswa, diantaranya: a. Metode mengajar harus memungkinkan dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa lebih jauh terhadap materi pelajaran (curriosity). b. Metode mengajar harus memungkinkan dapat memberikan peluang untuk berekspresi yang kreatif dalam aspek seni. c. Metode mengajar harus memungkinkan siswa belajar melalui pemecahan masalah. d. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk selalu ingin menguji kebenaran sesuatu (sikap skeptis). e. Medode mengajar harus memungkinkan siswa untuk melakukan penemuan (berinkuiri) terhadap suatu topik permasalahan. f. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk mampu menyimak. g. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri (independent study). h. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara bekerja sama (cooperative learning). i. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk lebih termotivasi dalam belajarnya (Masitoh dan Laksmi Dewi, 2009: 108).
Pembelajaran secara umum adalah kegiatan yang dilakukan guru sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Pemeblajaran adalah upaya guru menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dan siswa serta antarsiswa. Peristiwa belajar yang disertai proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik daripada belajar hanya dari pengalaman dalam kehidupan sosial di masyarakat. Hal ini karena belajar dengan proses pembelajran melibatkan peran serta guru, bahan belajar, dan lingkungan kondusif yang sengaja diciptakan. Pada hakekatnya, pembelajaran (belajar dan mengajar) merupakan proses komunikasiantara guru dan siswa. Komunikan pada proses pembelajaran adalah siswa, sedangkan komunikatornya adalah guru dan siswa. Jika siswa menjadi komunikator terhadap siswa lainnya dan guru sebagai fasilitator. Akan terjadi proses interaksi dengan kadar pembelajaran tinggi (Hamdani, 20011: 72). Seorang guru sebaiknya memiliki rasa ingin tahu, mengapa dan bagaimana anak belajar dan menyesuaikan dirinya dengan kondisi-kondisi belajar dalam lingkungannya. Hal tersebut akan menambah pemahaman dan wawasan guru sehingga memungkinkan proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dan optimal, karena pengetahuan tentang kejiwaan anak yang berhubungan dengan masalah pendidikan bisa dijadikan sebagai dasar dalam memberikan motivasi kepada peserta didik sehingga mau dan mampu belajar dengan sebaik-baiknya (Mulyasa, 2007: 267). Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang sangat efektif karena perhatian siswa dapat dipusatkan pada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingga hal-hal yang penting dapat diamati, perhatian siswa lebih mudah dipusatkan pada proses belajar dan tidak tertuju pada hal-hal lain. Siswa juga turut aktif bereksperimen, maka siswa memperoleh pengalaman- pengalaman praktek untuk mengembangkan kecakapannya dan memperoleh pengakuan dan penghargaan dari teman-teman dan gurunya (Team Didaktik Metodik IKIP Surabaya, 1989: 57). Peristiwa belajar di dalamnya mengandung aktivitas walaupun kadarnya berbeda-beda. Bagaimana seorang guru dapat mengaktifkan siswa belajar sangat tergantung pada kepiawaian guru itu sendiri dalam melaksanakan dan mengelola pembelajaran. Saat ini guru MI/SD dituntut memiliki kemampuan untuk membelajarkan siswa secara aktif baik fisik, mental/intelektual, dan emosional. Kadar aktivitas tang tinggi dalam belajar membuat siswa memperoleh hasil belajar yang lebih bermakna. Siswa sebaiknya dapat memperoleh pengalaman langsung melalui interaksi eksplorasi dan melakukan investigasi (penyelidikan) dengan lingkungan belajar baik lingkungan sosial, pisik maupun lingkungan alam. Sebagai contoh dalam pembelajarn IPA pokok materi sifat-sifat benda. Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objeknya atau caranya melakukan sesuatu untuk mempertunjukkan proses tertentu. Demonstrasi dapat digunakan pada semua mata pelajaran. Dalam pelaksanaan demonstrasi ini guru harus sudah yakin bahwa seluruh siswa dapat memperhatikan (mengamati) terhadap objek yang akan didemonstrasikan. Selama proses demonstrasi guru sudah mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam demonstrasi tersebut. Ada beberapa karakteristik metode mengajar dan bagaimana hubungannya dengan pengalaman belajar siswa (Masitoh dan Laksmi Dewi, 2009: 121)

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar (skirpsi dan tesis)

Adapun uraian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
belajar tersebut adalah sebagai berikut:
Dari Luar
Lingkungan
Alam
Sosial
Instrumental
Guru
Sarana & Fasilitas
Program/Bahan
Kurikulum
Dari Dalam
Fisiologis
Psikologis
Kondisi fisiologis
umum
Kondisi panca
indera
Minat
Kemampuan
kognitif
Motivasi
Bakat
Kecerdasan
f
a
k
t
o
r
1. Faktor dari Luar
Faktor dari luar terdiri dari 2 bagian penting, yaitu:
a. Faktor Environmental input (lingkungan)
Kondisi lingkungan juga mempengaruhi proses dan hasil
belajar. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik atau alam dan
lingkungan sosial. Belajar pada keadaan udara yang segar, akan lebih
baik hasilnya daripada belajar dalam keadaan udara yang panas dan
pengap. Lingkungan sosial baik yang berwujud manusia maupun hal- hal lainnya juga dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar.
Seseorang yang sedang belajar memecahkan soal akan terganggu bila
ada orang lain yang mondar-mandir di dekatnya. Lingkungan sosial lain
seperti suara mesin, gemuruh pasar dan yang lain-lainnya.
b. Faktor-faktor Instrumental
Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan
penggunaannya dirancang sesuai dengan yang diharapkan. Faktorfaktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya
tujuan-tujuan belajar yang telah dirancangkan. Faktor-faktor
instrumental dapat berwujud faktor-faktor keras (hardware) seperti
gedung perlengkapan belajar, alat-alat praktikum, perpustakaan dan lain
sebagainya. Sedangkan faktor-faktor lunak (software) misalanya
kurikulum, bahan/program yang harus dipelajari, pedoman-pedoman
belajar dan lain sebagainya.
2. Faktor dari dalam
Faktor dari dalam adalah kondisi individu atau anak yang belajar itu
sendiri. Faktor individu dapat dibagi menjadi 2 bagian:
a. Kondisi Fisiologis Anak
Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima,
tidak dalam keadaan capai dan lain sebagainya akan sangat membantu
dalam proses dan hasil belajar.
b. Kondisi Psikologis Anak
Dibawah ini akan diuraikan beberapa faktor psikologis yang
dianggap uatama dalam mempengaruhi proses dan hasil belajar.
1) Minat
Minat sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Kalau
sesorang tidak minat untuk mempelajari sesuatu, ia tidak dapat
diharapkan akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal
tersebut, sebaliknya kalu sesorang memepelajari sesuatu dengan
mnat maka hasil yang diharapkan akan lebih baik (Abu Ahmadi dan
joko Tri Prasetya, 1997: 107). Minat merupaka kecenderungan atau
keinginan yang tinggi dan besar terhadap sesuatu. Minat tidak termasuk
dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada faktor-faktor
internal lainnya seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi dan
kebutuhan. Reber (Muhibin Syah. 2003:151). Maka diharapkan guru
dapat menggunakan metode belajar yang tepat sehingga dapat
menimbulkan minat belajar yang tinggi bagi siswa dalam mngikuti
proses pembelajaran.
2) Kecerdasaan
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk
menyesuaikan diri dengan keadaaan yang dihadapinya. Intelegensi
yang baik atau kecerdasan yang tinggi merupakan faktor bagi anak
dalam belajar . Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai
kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau
menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat
(Hamdani, 2011: 136).
3) Bakat
Bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap
proses dan hasil belajar sesorang.
4) Motivasi
Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi untuk belajar adalah kondisi
psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar. Kepribadian
seorang guru, cara penyajian pelajaran yang menarik perhatian
siswa, fasilitas termasuk media pendidikan, buku-buku referensi
yang memadai, dan perangsang-perangsang lain mengenai belajar,
akan sangat berpengaruh dalam usaha membangkitklan motivasi
belajar bagi para peserta didik (Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya,
1997: 110). Adapun motivasi dibagi menjadi dua, motivasi intrinsik dan
ekstrinsik. Motovasi intrinsik yaitu motivasi yang timbul dari dalam diri
peserta didik misalnya: cita-cita, semangat belajar dan sebgainya.
Sedangkan motivasi ekstrinsik yaitu motivasi dari luar peserta didik yang
datang dari luar seperti, pujian, hadiah, suri taulada dan sebagainya yang
dapat membuat peserta didik lebih bersemangat mengejar keinginannya.
5) Kemampuan-kemampuan Kognitif
Tujuan pendidikan yang berarti juga tujuan belajar itu meliputi
tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek
psikomotorik. Kemampuan-kemampuan kognitif yang terutama yaitu
kemampuan sesorang dalam melakukan persepsi, mengingat dan
berfikir sangat mempengaruhi belajar

Hasil Belajar (skripsi dan tesis)

Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil- hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotoris (Nana Sudjana, 2009: 3). Hasil belajar atau prestasi merupakan perubahan perilaku baik peningkatan pengetahuan, perbaikan sikap, maupun peningkatan keterampilan yang dialami siswa ketika sedang dalam proses pembelajaran atau setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran. Hasil diantaranya meliputi ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik. Hasil belajar seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik pengetahuan dalam bentuk penguasaan, keterampilan berfikir maupun kemampuan motorik (Sukmadinata, 2004:102-103). Namun dalam penilaian hasil belajar pada penelitian ini hanya mencakup satu ranah penilian yaitu ranah kognitif saja karena peneliti hanya mencari nilai hasil tes dari siswa.
Menurut Bunyamin S. Bloom, dkk (1956) hasil belajar dapat dikelompokkan kedalam tiga domain yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. (Zaenal Arifin, 2009: 39) 1) Domain kognitif (cognitive domain), yaitu kemampuan dalam memahami pengetahuan. 2) Domain afektif (affective domain), yaitu internalisasi sikap yang menunjuk kearah pertumbuhan batiniah dan terjadi bila peserta didik menjadi sadar tentang nilai yang diterima, kemudian mengambil sikap sehingga menjadi bagian dari dirinya dalam membentuk nilai dan menentukan tingkah laku. 3) Domain psikomotor, yaitu kemampuan peserta didik yang berkaitan dengan gerakan tubuh atau bagian-bagiannya, mulai dari gerakan yang sederhana sampai dengan gerakan yang kompleks. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor dari dalam diri siswa terutama menyangkut kemampuan yang dimiliki siswa. Salah satu faktor lingkungan yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar adalah kualitas pengajaran. Yang dimaksud dengan kualitas pengajaran adalah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses pembelajaran dalam mencapai tujuan instruksional. Pendapat ini sejalan dengan teori belajar di sekolah (Theory of school lerning) dari Bloom, bahwa ada 3 (tiga) variabel utama dalam teori belajar di sekolah, yaitu karakteristik individu, kualitas pengajaran, dan hasil belajar siswa (Robertus Angkoro dan A. Kosasih, 2007: 50-51)

Pembelajaran IPA (skripsi dan tesis)

 Ilmu pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari ilmu pengetahuan atau sains yang semula dari bahasa Inggris Science. Kata Science sendiri berasal dari bahasa Latin Scientia yang berarti saya tahu. IPA mempelajari alam semesta, benda-benda yang ada dipermukaan bumi, perut bumi, dan di luar angkasa, baik yang dapat diamati indra maupun yang tidak dapat diamati indra (Trianto, 2010: 136). Nilai-nilai IPA yang dapat ditanamkan dalam pembelajaran IPA antara lain sebagai berikut: 1) Kecakapan bekerja dan berfikir secara teratur dan sistematis menurut langkah-langkah metode ilimiah. 2) Keterampilan dan kecakapan dalam mengadakan pengamatan, mempergunakan alat-alat eksperimen untuk memecahkan masalah. 3) Memiliki sikap ilmiah yang diperlukan dalam memecahkan masalah baik dalam kaitannya dengan sains maupun dalam kehidupan sehari-hari. IPA sebagai mata pelajaran di SD/MI merupakan materi yang wajib diajarkan. IPA diberikan pada siswa SD/MI sebagai landasan bagi pemahaman mata pelajaran tersebut di tingkat yang lebih tinggi. Metode penyampaian yang kurang apriori terhadap mata pelajaran ini, apalagi IPA dikenal sebagai mata pelajaran eksak yang penuh dengan rumus dan hafalan teori yang menjadikan IPA sebagai salah satu pelajaran yang tidak menarik.
Berikut adalah prinsip yang baik dan perlu dilakukan dalam pembelajaran IPA: 1. Learning to know merupakan prinsip bahwa belajar adalah untuk mengetahui atau memahami. Dengan prinsip ini pembelajaran harus dikondisikan agar murid aktif dan menciptakan suasana untuk selalu ingin mengetahui dan memahami sesuatu yang baru. Dengan demikian pembelajaran hendaknya menciptakan sikap penasaran pada murid, sehingga murid selalu ingin belajar lebih jauh. 2. Learning to do adalah prinsip belajar untuk mengerjakan sesuatu. Prinsip ini mewujudkan bahawa murid dalam belajar bukan hanya untuk sekedar mengetahui, tetapi juga mampu mempraktekkan. Dengan prinsip ini keserasian dan keseimbangan antara teori dan praktek. 3. Learning to be adalah prinsip belajar untuk mencapai sesuatu. Prinsip ini mengarahkan murid untuk selalu bekerja keras dalam mencapai sesuatu yang tidak putus asa. Dengan demikian murid memiliki pandangan dan bekerja keras, karena dalam dirinya akan muncul perjuanagn dalam mencapai sesuatu. 4. Lerning to live together adalah prinsip belajar untuk hidup bersama. Murid merupakan bagian dari sebuah sistem, komunitas dan masyarakat (Wahidin, 2006: 18). Dengan demikian proses belajar mengajar IPA lebih ditekankan pada pendekatan keterampilan proses, sehingga siswa dapat menemukan faktafakta, membangun konsep-konsep, teori-teori dan sikap ilmiah siswa itu sendiri yang akhirnya dapat berpengaruh positif terhadap kualitas proses pendidikan maupun produk pendidikan. Untuk itu perlu menggunakan metode pembelajaran IPA yang melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-idenya. Guru hanya memberi tangga yang membantu siswa untuk mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa dapat menaiki tangga tersebut

Pengertian Belajar (skripsi dan tesis)

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Hamdani, 2011: 20). Perubahan ini bersifat konstan dan berbekas. Proses belajar dan perubahan merupakan bukti hasil yang diproses, belajar tidak hanya mempelajari mata pelajaran, tetapi juga penyususnan, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan lain dan cita-cita. Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan pada dirinya akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang berisikan segala aktivitas manusia baik fisik maupun psikis yang mengakibatkan perubahan tingkah laku yang berlangsung secara terus- menerus berupa pengetahuan, kemampuan, pemahaman, kebiasaan, pengalaman, ketrampilan dan hal-hal yang baru dan bersifat konsta. Hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku. Seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, keterampilan motorik, atau penguasaan nilai-nilai (sikap). Pada dasarnya pembelajaran yang digunakan haruslah mempunyai kreativitas tersendiri seingga peserta didik yang menjadi subjek dalam belajar menjadi lebih terpacu dan termotivasi untuk selalu ingin belajar, dalam pembelajaran harus ada kreativitas yang dimunculkan baik yang terletak pada guru dan yang dimunculkan dari peserta didik. Kreativitas siswa guru dalam akan memunculkan loyalitas guru dalam mengajar dibandingkan hanya ada keinginan untuk menyampaikan materi. Upaya peningkatan mutu pendidikan haruslah dilakukan dengan menggerakkan seluruh komponen yang menjadi subsistem dalam suatu sistem mutu pendidikan. Subsistem yang pertama dan utama dalam peningkatkan mutu pendidikan adalah faktor guru. Di tangan gurulah hasil pembelajaran yang merupakan salah satu indikator mutu pendidikan lebih banyak ditentukan, yakni pembelajaran yang baik sekaligus bernilai sebagai pemberdayaan kemampuan (ability) dan kesanggupan (capability) peserta didik. Tanpa guru yang dapat dijadikan andalannya, mustahil suatu sistem pendidikan dapat mencapai hasil sebagaimana diharapakan. Maka prasyarat utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses belajar mengajar yang menjamin optimalisasi hasil pembelajaran ialah tersedianya guru dengan kualifikasi dan kompetensi yang mampu memenuhi tuntutan tugasnya. Mutu pendidikan pada hakekatnya adalah bagaimana proses belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas berlangsung dengan baik dan bermutu.
Jadi, mutu pendidikan ditentukan di dalam kelas melalui PBM (Kunandar, 2011: 48). Beberapa ciri belajar menurut Hamdani (2011: 22) adalah sebagai berikut: 1) Belajar dilakukan dengan sadar dan mempunyai tujuan . Tujuan ini digunakan sebagai arah kegiatan, sekaligus tolak ukur keberhasilan belajar. 2) Belajar merupakan pengalaman sendiri, tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. 3) Belajar merupakan proses interaksi antara individu dan lingkungan. Hal ini berarti individu harus aktif apabila dihadapkan pada lingkungan tertentu. Keaktifan ini dapat terwujud karena individu memiliki berbagai potensi untuk belajar. 4) Belajar mengakibatkan terjadinya perubahan pada diri orang yang belajar. Perubahan tersebut bersifat integral, artinya perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor yang tak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Zaenal Arifin (2009: 10), mengungkapkan yakni dalam mengelola pembelajaran, pendidik lebih dituntut untuk dalam melaksanakan 4 tugas: 1) Merencanakan, keberhasilan mengajar sangat bergantung pada kemampuan pendidik dalam merencanakan yang mencakup antara lain tujuan belajar siswa, cara siswa mencapai tujuan tersebut dan sarana yang diperlukan. 2) Mengatur, tugas ini adalah mengenai apa yang mencakup rencana dan pengetahuan tentang bentuk dan macam kegiatan yang harus dilaksanakan dan bagaimana semua komponen dapat bekerja sama untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. 3) Mengarahkan, karena salah satu tugas pendidik adalah memberikan motivasi, mengarahkan dan memberikan inspirasi kepada siswa untuk belajar dengan adanya pengarahan yang baik. 4) Mengevaluasi, seorang guru bertugas mementau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Dari penjelasan di atas mengenai tugas guru dalam proses belajar mengajar yakni mulai dari merencanakan, mengorganisasikan, mengawasi dan mengevaluasi. Cara belajar yang dipergunakan turut menentukan hasil belajar yang di hasilkan. Cara yang tepat akan membawa hasil yang memuaskan, sedangkan cara yang tidak disesuaikan menyebabkan belajar kurang berhasil. Pentingnya menjaga motivasi belajar dan kebutuhan minat dan keinginannya pada proses belajar tak dapat dipungkiri, karena dengan menggerakkan motivasi yang terpendam dan menjaganya dalam kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan siswa akan menjadikan siswa itu lebih giat belajar. Barang siapa yang bekerja berdasarkan motivasi yang kuat, ia tidak akan merasa lelah dan tidak cepat bosan. Oleh karena itu, guru perlu memelihara motivasi siswa dengn metode dan cara pembelajaran yang tepat sehingga proses belajar mengajar menarik, aktif, bermakna dan menyenangkan bagi siswa

Empat Aspek Pokok dalam Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Menurut Kemmis dan Mc Taggart (1998), penelitian tindakan kelas dilakukan melalui proses yang dinamis dan komplementari yang terdiri dari empat momentum esensial yaitu sebagai berikut: a. Penyusunan Rencana Perencanaan adalah mengembangkan rencana tinadakan yang secara kritis untuk meningkatkan apa yang telah terjadi. Rencana PTK hendaknya disusun berdasarkan kepada hasil pengamatan awal yang refleksif. Hasil pengamatan awal terhadap proses yang terjadi dalam situasi yang ingin diperbaiki dituangkan dalam bentuk catatan-catatan lapangan yang lengkap yang menggambarkan dengan jelas cuplikan atau episode proses pembelajaran dalam situasi yang akan ditingkatkan atau diperbaiki. b. Tindakan Tindakan yang dimaksud disini adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali, yang merupakan variasi praktik yang cermat dan bijaksana. c. Observasi Pengamatan atau observasi dilakukan pada semua kegiatan yangbditunjukan untuk mengenali, merekam dan mendokumentasikan setiap indikator dari proses dan hasil yang dicapai baik yang ditimbulkan oleh tindakan terencana maupun akibat sampingan. Pelaksanaan pengamatan atau observasi yang terpenting adalah mencari data tentang pelaksanaan tindakan, karena itu peneliti harus cermat menentukan metode, teknik dan mempersiapkan alat yang tepat agar data yang diperoleh benar (valid) (Achmad Fuad, 2009: 140). d. Refleksi Refleksi adalah meningat dan merenungkan suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah, persoalan dan kendala yang nyata dalam tindakan strategis (Kunandar, 2011: 75). Kegiatan refleksi mencakup kegiatan analisis, interpretasi dan evaluasi yang diperoleh saat melakukan kegiatan observasi. Data yang terkumpul saat observasi secepatnya dianalisis dan diinterpretasi sehingga akan segera diketahui apakah tindakan yang dilakukan telah mencapai tujuan. Interpretasi atau pemaknaan hasil observasi ini menjadi dasar untuk melakukan evaluasi sehingga dapat disusun langkah berikutnya dalam pelaksanaan tindakan (Achmad Fuad, 2009: 141).

Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Prinsip dalam pelaksanaan PTK adalah sebagai berikut: a. Tidak boleh menggangu PBM dan tugas menagajar. b. Tidak boleh terlalu menyita waktu. c. Metodologi yang digunakan harus tepat dan terpercaya. d. Masalah yang dikaji benar-benar ada dan dihadapi guru. e. Memegang etika kerja (minta izin, membuat laporan). f. PTK bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu proses belajar mengajar. g. PTK menjadi media guru untuk berpikir kritis dan sistematis. h. PTK menjadikan guru terbiasa melakukan aktivitas yang bernilai akademik dan ilmiah. i. PTK hendaknya dimulai dari permasalahan pembelajaran yang sederhana, konkret, jelas dan tajam. j. Pengumpulan data atau informasi dalam PTK tidak boleh terlalu banyak menyita aktu dan terlalu rumit karena dikhawatirkan adapat mengganggu tugas utama guru sebagai pengajar dan pendidik.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

PTK berbeda dengan penelitian formal (konvensional) pada umumnya. PTK memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut: a. On-the job problem oriented (masalah yang diteliti adalah masalah rill atau nyata yang muncul dari dunia kerja peneliti atau yang ada dalam kewenangan atau tanggung jawab peneliti). Dengan demikian, PTK didasarkan pada masalah yang benar-benar dihadapi guru dalam proses belajar mengajar di kelas. b. Problem-solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah). PTK yang dilakukan guru sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh guru dalam PBM di kelasnya melalui suatu tindakan (treatment) tertentu sebagai upaya menyempurnakan proses pembelajaran dikelasnya. c. Improvement-oriented (berorientasi pada peningkatan mutu). PTK dilaksanakan dalam rangka memperbaiki atau meningkatkan mutu PBM yang dilakukan guru di kelasnya. Engan peningkatan mutu pBM, pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan secara makro. d. Ciclc (siklus). Konsep tindakan (action) dalam PTK diterapkan melalui urutan yang terdiri dari beberapa tahap berdaur ulang (cyclical). Siklus pTK terdiri dari 4 tahapan, yakni perencanaan tindakan, melakukan tindakan, pengamatan atau observasi dan analisis atau refleksi. e. Action oriented. Dalm PTK selalu didasarkan pada adanya tindakan (treatment) tertentu untuk memperbaiki PBM di kelas. f. Pengkajian terhadap dampak tindakan. g. Spesifics contextual. Permasalahan dalam PTK adalah permasalahan yang sifatnya spesifik kontekstual dan situasional sesuai dengan karakteristik siswa dalam kelas tersebut h. Partisipatory (collaborative).PTK dilaksanakan secara kolaboratif dan bermitra dengan pihak lain, seperti teman sejawat. i. Peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi. j. Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus (Kunandar, 2011: 58-63)

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (skripsi dan tesis)

Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari classroom action research, yaitu satu action research yang dilakukan dikelas. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebgai guru, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan hasil belajar siswa meningkat. Action research digunakan untuk menemukan pemecahan masalah yang dihadapi seseorang dalam tugasnya sehari-hari dimanapun tempatnya di kelas, di kantor, di rumah sakit dan seterusnya. Dilihat dari runag lingkup, tujuan metode dan prakteknya, action research dapat dianggap sebagai penelitian micro. Action research adalah penelitian yang bersifat partisipatif dan kolaboratif. Maksudnya, penelitiannya dilakukan sendiri oleh peneliti, dan diamati oleh rekan-rekannya. Action research mendorong para guru agar memikirkan apa yang mereka lakukan sehari-hari dalam menjalankan tugasnya, membuat para guru kritis terhadap apa yang mereka lakukan tanpa bergantung pada teori yang muluk-muluk yang bersifat universal yang ditemukan oleh para pakar penelitian yang seringkali tidak cocok dengan situasi dan kondisi kelas. Keterlibatan peneliti action research dalam penelitiannya sendiri itulah yang membuat dirinya menjadi pakar peneliti untuk kelasnya dan keperluan sehari-harinya dan tidak membuat ia tergantung pada para pakar peneliti yang tidak tahu mengenai masalah-masalah kelasnya sehari-hari (Hamzah B.Uno dkk, 2011: 51)

Pengertian Prestasi Belajar (skripsi dan tesis)

“Kebutuhan untuk prestasi adalah mengatasi hambatan, melatih kekuatan, berusaha melakukan sesuatu yang sulit dengan baik dan secepat mungkin”. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne (1985: hlm. 40) menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990:hlm. 110) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Prestasi merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat atau periode tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut, prestasi dalam penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran. Fontana seperti yang dikutip oleh Udin S. Winataputra (1995:2) dikemukakan bahwa learning (belajar) mengandung pengertian proses perubahan yang relative tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Pengertian belajar juga dikemukakan oleh Slameto (2003:2) yakni belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. 50 Selaras dengan pendapat-pendapat di atas, Thursan Hakim (2000:hlm. 1) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dll. Hal ini berarti bahwa peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diperlihatkan dalam bentuk bertambahnya kualitas dan kuantitas kemampuan seseorang dalam berbagai bidang. Dalam proses belajar, apabila seseorang tidak mendapatkan suatu peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, maka orang tersebut sebenarnya belum mengalami proses belajar atau dengan kata lain ia mengalami kegagalan di dalam proses belajar. Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan prestasi belajar yang baik perlu diperhatikan kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal dalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa, seperti kesehatan, keterampilan, kemapuan dan sebaginya. Kondisi eksternal adalah kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia, misalnya ruang belajar yang bersih, sarana dan prasaran belajar yang memadai.

Winkel (1996:hlm. 226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Maka prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Sedangkan menurut Arif Gunarso (1993 :hlm. 77) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Prestasi belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes yang relevan. Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar. Menurut Saifudin Anwar (2005 : 8-9) mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. 52 Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terrencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi.Pengertian prestasi belajar adalah sesuatu yang dapat dicapai atau tidak dapat dicapai. Untuk mencapai suatu prestasi belajar siswa harus mengalami proses pembelajaran. Dalam melaksanakan proses pembelajaran siswa akan mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam pengusasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan dalam pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan tes angka nilai yang diberikan oleh guru ( Asmara. 2009 : hlm. 11 ).

 Menurut Hetika ( 2008: hlm. 23 ), prestasi belajar adalah pencapaian atau kecakapan yang dinampakkan dalam keahlian atau kumpulan pengetahuan. Harjati ( 2008: hlm. 43 ), menyatakan bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang dilakukan dam menghasilkan perubahan yang dinyatakan dalam bentuk simbol untuk menunjukkan kemampuan pencapaian dalam hasil kerja dalam waktu tertentu. Pengtahuan , pengalaman dan keterampilan yang diperoleh akan membentuk kepribadian siswa, memperluas kepribadian siswa, memperluas wawasan kehidupan serta meningkatkan kemampuan siswa. Bertolak dari hal tersebut maka siswa yang aktif melaksanakan kegiatan dalampembelajaran akan memperoleh banyak pengalaman. Dengan demikian siswa yang aktif dalam pembelajaran akan banyak pengalaman dan prestasi belajarnya meningkat. Sebaliknya siswa yang tidak aktif akan minim/sedikit pengalaman sehingga dapat dikatakan prestasi belajarnya tidak meningkat atau tidak berhasil.Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah sesuatu yang dapat dicapai yang dinampakkan dalam pengetahuan, sikap, dan keahlian

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Belajar (skripsi dan tesis)

 

Suatu aktivitas timbul karena adanya minat atau keinginan peserta didik terhadap pembelajaran, untuk itu suatu aktivitas akan muncul jika ada stimulus atau rangsangan. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar. Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pada diri seseorang, terdiri atas dua bagian, yaitu faktor internal dan factor eksternal. Secara rinci kedua faktor tersebut akan dijelaskan sebagai berikut: 1. Faktor Internal Faktor internal adalah seluruh aspek yang terdapat dalam diri individu yang belajar, baik aspek fisiologis (fisik) maupun aspek psikologis (psikhis). b. Aspek Fisik (Fisiologis) Orang yang belajar membutuhkan fisik yang sehat. Fisik yang sehat akan mempengaruhi seluruh jaringan tubuh sehingga aktivitas belajar tidak rendah. Keadaan sakit pada pisik/tubuh mengakibatkan cepat lemah, kurang bersemangat, mudah pusing dan sebagainya. Oleh karena itu agar seseorang dapat belajar dengan baik maka harus mengusahakan kesehatan dirinya. c. Aspek Psikhis (Psikologi) 1. Perhatian Perhatian adalah keaktipan jiwa dalam menerima suatu pembelajaran yang di berikan oleh guru ke siswa. 2. Pengamatan Pengamatan adalah pengamatan dalam pembelajaran sangat untuk mengetahui masuk tidaknya materi yang di berikan dari guru ke siswa. 3. Fantasi Fantasi adalah sebagai kemampuan jiwa untuk membentuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru. Dengan pantasi ini, maka dalam belajar akan menambah wawasan siswa. 4. Ingatan Ingatan (memori) ialah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan dan memproduksi kesan-kesan. Jadi ada tiga unsur 47 dalam perbuatan ingatan, ialah : menerima kesan-kesan, menyimpan, dan mereproduksikan. 5. Bakat Bakat adalah salah satu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada. Sejak lahir manusia mempunyai bakat yang berbeda-beda. 6. Berfikir Berfikir adalah merupakan aktivitas mental untuk dapat merumuskan pengertian, mensintesis dan menarik kesimpulan. 7. Motif Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan. 2. Faktor Eksternal Faktor eksternal terdiri atas: 1), keadaan keluarga, 2) guru dan cara mengajar 3), alat-alat pelajaran, 4) motivasi sosial, dan 5) lingkungan serta kesempatan. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan dibawah ini: a. Keadaan keluarga Siswa sebagai peserta didik di lembaga formal (sekolah) sebelumnya telah mendapatkan pendidikan di lingkungan keluarga. Di keluargalah setiap orang pertama kali mendapatkan pendidikan. Pengaruh pendidikan di lingkungan keluarga, suasana di lingkungan keluarga,. b. Guru dan cara mengajar Lingkungan sekolah, dimana dalam lingkungan ini siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar, dengan segala unsur yang pergaulan dengan temannya dan lain-lain turut mempengaruhi tinggi rendahnya kadar aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. c. Alat-alat pelajaran Sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alatalat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar anak-anak. d. Lingkungan dan kesempatan Lingkungan, dimana siswa tinggal akan mempengaruhi perkembangan belajar siswa, misalnya jarak antara rumah dan sekolah yang terlalu jauh, sehingga memerlukan kendaraan yang cukup lama yang pada akhirnya dapat melelahkan siswa itu sendiri. Selain itu, kesempatan yang disebabkan oleh sibuknya pekerjaan setiap hari, pengaruh lingkungan yang buruk dan negative serta factor-faktor lain terjadi di luar kemampuannya. Faktor lingkungan dan kesempatan ini lebih-lebih lagi berlaku bagi cara belajar pada orang-orang dewasa.(

Menurut Jessica (2009, hlm. 1-2) faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar, yaitu: 1. Faktor Internal (dari dalam individu yang belajar). Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor yang mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain yaitu: motivasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya. 2. Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar). Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar siswa. Adapun faktor yang mempengaruhi adalah mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, dan pembentukan sikap.

Jenis-jenis Aktivitas Belajar (skripsi dan tesis)

 Aktivitas Belajar memerlukan aktivitas, sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar jika tidak ada aktivitas. Ada banyak sekali jenis-jenis dalam melakukan aktivitas dalam belajar, berikut peneliti paparkan. Adapun jenis-jenis aktivitas dalam belajar yang digolongkan oleh Paul B. Diedric (Sardiman, 2011, hlm. 101) Humairoh, Iftitah Dian. (2015).
 a. Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain. b. Oral Activities, seperti menyatakan merumuskan, bertanya, memberi saran, berpendapat, diskusi, interupsi. c. Listening Activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato. d. Writing Activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, menyalin. e. Drawing Activities, menggambar, membuat grafik, peta, diagram. f. Motor Activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model, mereparasi, berkebun, beternak. g. Mental Activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, mengambil keputusan. h. Emotional Activities, seperti misalnya, merasa bosan, gugup, melamun, berani, tenang. 45 Banyak jenis-jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa selama mengikuti pembelajaran. Berkenaan dengan hal tersebut Paul B. Dierich (dalam Sardiman, 2004: hlm. 101) menggolongkan aktivitas siswa dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut: 1. Kegiatan-kegiatan Visual Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja dan bermain. 2. Kegiatan-kegiatan Lisan (oral) Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi. 3. Kegiatan-kegiatan Mendengarkan Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio. 4. Kegiatan-kegiatan Menulis Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket. 5. Kegiatan-kegiatan Menggambar Menggambar, membuat grafik, chart, diagram, peta dan pola. 6. Kegiatan-kegiatan Metrik Melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun. 7. Kegiatan-kegiatan Mental Merenung, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktorfaktor, melihat hubungan-hubungan dan membuat keputusan. 8. Kegiatan-kegiatan Emosional Minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain. Berdasarkan berbagai pengertian jenis aktivitas di atas, peneliti berpendapat bahwa dalam belajar sangat dituntut keaktifan siswa. Siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan. Tujuan pembelajaran tidak mungkin tercapai tanpa adanya aktivitas siswa.

Pengertian Aktivitas Belajar (skripsi dan tesis)

Aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting didalam interaksi belajar-mengajar. Ada beberapa prinsip dalam aktivitas belajar yang berorientasi pada pandangan ilmu jiwa, yakni menurut pandangan ilmu jiwa lama dan ilmu jiwa modern. Menurut pandangan ilmu jiwa lama aktivitas didominasi oleh guru sedang menurut padangan ilmu jiwa modern, aktivitas didominasi oleh siswa. Aktivitas sangat diperlukan dalam belajar, karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat untuk mengubah tingkah laku. Menurut Rouseau dalam Sardiman (1990, hlm. 94) bahwa aktivitas belajar yaitu ”Segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengamatan sendiri, penyelidikan sendiri dengan fasilitas yang diciptakan sendiri baik secara rohani maupun teknis”. Pengertian aktivitas belajar yang dikemukakan oleh Gie (Junaidi, 2010, hlm. 1) yaitu: Keberhasilan siswa dalam belajar tergantung pada aktivitas yang dilakukannya selama proses pembelajaran. Aktivitas belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas secara sadar yang dilakukan seseorang yang mengakibatkan perubahan dalam dirinya, berupa perubahan pengetahuan atau kemahiran yang sifatnya tergantung pada sedikit banyaknya perubahan. Dari uraian diatas dapat diambil pengertian aktivitas belajar adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian dalam kegiatan belajar guna menunjang keberprestasian proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Aktivitas belajar merupakan hal yang sangat penting bagi siswa, karena 44 memberikan kesempatan kepada siswa untuk bersentuhan dengan obyek yang sedang dipelajari seluas mungkin, karena dengan demikian proses konstruksi pengetahuan yang terjadi akan lebih baik

Kekurangan Model Problem Based Learning (skripsi dan tesis)

Sama halnya seperti manusia, jika memiliki kelebihan pasti ia memiliki kekurangan. Begitupun dengan model Problem Based Learning, meskipun terdapat beberapa kelebihan pada model Problem Based Learning tetap saja terdapat kekurangan yang perlu diperhatikan: Kekurangan Problem Based Learning (PBL) (Barrow,Min liu, 2005). 1. Proses Belajar Mengajar dapat diterapkan untuk setiap materi pelajaran, ada bagian guru berperan aktif dalam menyajikan materi, Proses Belajar 40 Mengajar lebih cocok untuk pembelajaran yang menuntut kemampuan tertentu yang kaitannya dengan pemecahan masalah. 2. Dalam satu kelas yang memiliki tingkat keragaman siswa yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam pembagian tugas. Kekurangan Problem Based Learning (PBL) (Sanjaya, 2007:hlm. 220). 1. Perubahan peran siswa dalam proses pembelajran 2. Perubahan peran guru dalam dalam proses pembelajran 3. Perumusan masalah yang sesuai 4. Asesmen yang valid atas program dan pembelajran siswa 5. Memerlukan waktu yang panjang dibandingkan dengan model pembelajaran yang lain. 6. Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak memiliki kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka akan merasa enggan untuk mencoba

Kelebihan Model Problem Based Learning (skripsi dan tesis)

Penggunaan model Problem Based Learning ini merupakan usaha seorang guru dalam meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar, berikut beberapa kelebihan dari model pembelajaran Problem Based Learning. Model pembelajaran (Problem Based Learning) ini menurut Barrow,Min liu (2005): 1. Siswa didorong untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah masalah dalam situasi nyata. 2. Siswa memiliki kemampuan membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas belajar. 38 3. Pembelajaran berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada hubungannya tidak perlu dipelajari oleh siswa. Hai ini mengurangi beban siswa dengan menghafal atau menghimpun informasi. 4. Terjadi aktivitas ilmiah pada siswa melalui kerja kelompok. 5. Siswa terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan, baik dari perpustakaan, internet, wawancara, dan observasi. 6. Siswa memiliki kemampuan menilai kemajuan belajarnya sendiri. 7. Siswa memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah dalam kegiatan diskusi atau presentasi hasil pekerjaan mereka. 8. Kesulitan belajar siswa secara individual dapat diatasi melalui kerja kelompok dalam bentuk Peer Teaching

Langkah-langkah Pembelajaran Model Problem Based Learning (skripsi dan tesis)

Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah menurut Barrow, Min Liu (2005) memaparkan langkah dalam pembelajaran berbasis masalah ini : a. Guru Menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. memotivasi siswa dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. b. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menerapkan topok, tugas, jadwal, dan lain-lain). c. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis,dan pemecahan masalah. d. Guru membantu siswa dalam merencanakan serta menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagai tugas dengan temannya. e. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Menurut Trianto (2007 : Hlm. 68) langkah-langkah penggunaan model pembelajaran Problem Based learning ada 6, yaitu: a. Pengajuan pertanyaan atau masalah. Guru memunculkan pertanyaan yang nyata di lingkungan siswa serta dapat diselidiki oleh siswa kepada masalah yang autentik ini dapat berupa cerita, penyajian fenomena tertentu, atau mendemontrasikan suatu kejadian yang mengundang munculnya permasalahan atau pertanyaan. b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, ilmu-ilmu sosial) masalah yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa dapat meninjau dari berbagi mata pelajaran yang lain. c. Penyelidikan autentik. Pembelajaran berdasarkan masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah yang disajikan. Metode penyelidikan ini bergantung pada masalah yang sedang dipelajari. d. Menghasilkan produk atau karya. Pembelajaran berdasarkan masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat juga berupa laporan, model fisik, video maupun program computer 37 e. Kolaborasi Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerjasama untuk terlibat dan saling bertukar pendapat dalam melakukan penyelidikan sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang disajikan. Pada Model pembelajaran berdasarkan masalah terdapat lima tahap utama yang dimulai dengan memperkenalkan siswa tehadap masalah yang diakhiri dengan tahap penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Kelima tahapan tersebut disajikan dalam bentuk tabel (dalam Nurhadi, 2004:hlm. 111)

Karakteristik Model Problem Based Learning (skripsi dan tesis)

 Berdasarkan teori yang dikembangkan Barrow,Min liu (2005) menjelaskan karakteristik dari Problem Based Learning (PBL) yaitu: 1. Leaning is student-centered Proses pembelajaran dalam PBL lebih menitikberatkan kepada siswa sebagai orang belajar.oleh karena itu,PBL didukung juga oleh teori kontruktivisme dimana siswa di dorong untuk dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri.  2. Authentic Prpblem form the organizing focus for learning Masalah yang disajikan kepada siswa adalah masalah yang otentik sehingga siswa mampu dengan mudah memahami masalah tersebut serta dapat menerapkannnya dalam kehidupan profesionalnya nanti. 3. New information is acquired through self-directed learning Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja siswa belum mengetahui dan memahami semua pengetahuan prasyaratnya sehingga siswa berusaha untuk mencari sendiri melalui sumbernya,baik dari buku ataupun informasi lainnya. 4. Learning occurs in small groups Agar terjadi interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam usaha membangun pengetahuan secara kolaboratif,PBM dilaksanakan dalam kelompok kecil. Kelompok yang dibuat menuntut pembagian tugas yang jelas dan penetapan tujuan yang jelas. 5. Teacher act as fasilitators Pada pelaksanakan PBM ,guru hanya berperan sebagai fasilitator,meskipun begitu guru harus selalu memantau perkembangan aktivitas siswa dan mendorong mereka agar mencapai target yang hendak dicapai.
 Model pembelajaran merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memiliki nama, ciri, sintak, pengaturan, dan budaya misalnya discovery learning, project-based learning, problem-based learning, inquiry learning, dan masih banyak lagi model pembelajaran lainnya. 1. Pertama, strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam pembelajaran ini tidak mengharapkan peserta didik hanya sekedar mendengarkan, mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi pembelajaran berbasis masalah peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkannya. 2. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran. 3. Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris, sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas

Pengertian Model Problem Based Learning (skripsi dan tesis)

Model Problem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) adalah model pembelajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan ( Duch,1995). Finkle dan Torp (1995) menyatakan model Problem Based Learning (PBL) merupakan pengembangan kurikulum dan sistem pengajaran yang mengembangkan serta simultan strategi pemecahan masalah dan dasardasar pengetahuan dan keterampilan dengan menempatkan para peserta didik dalam peran aktif sebagai pemecah permasalahan sehari-hari yang tidak terstruktur dengan baik. Model Problem based learning (PBL) merupakan suatu pendekatan pembelajarn atau metode mengajar yang fokus pada siswa dengan mengarahkan siswa menjadi pembelajar mandiri yang terlibat langsung secara aktif terlibat dalam pembelajaran berkelompok. PBL membantu siswa untuk mengembangkan ketrampilan mereka dalam memberikan alas an dan berpikir ketika mereka mencari data atau informasi agar mendaptkan solusi untuk memecahkan masalah, Suyanto ( 2008:21) Model Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu strategi pengajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual.
 Problem  Based Learning (PBL) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran (Nurhadi dkk, 2009;16). Menurut Riyanto (2009:288) Problem Based Learning (PBL) memfosuskan pada siswa menjadi pembelajaran yang mandiri dan terlibat lansung secara aktif dalam pembelajran kelompok. Model ini membantu siswa untuk mengembangkan berpikir siswa dalam mencari pemecahan masalah melalui pencarian data sehingga diperoleh solusi untuk suatu masalah dengan rasional dan ontentik

Ciri Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Berikut beberapa hal yang perlu dipahami tentang penelitian tindakan kelas: 1. PTK adalah suatu pendekatan untuk meningkatkan pendidikan dengan melakukan perubahan ke arah perbaikan terhadap hasil pendidikan dan pembelajaran. 2. PTK adalah partisipatori,melibatkan orang yang melakukan kegiatan untuk meningkatkan praktiknya sendiri. 3. PTK dikembangkan melalui suatu self-reflective spiral;a spiral of cycles of planning,acting,observing,reflecting,the re-planning. 4. PTK adalah kolaboratif, melibatkan partisipan bersama-sama bergabung untuk mengkaji praktik pembelajaran dan mengembangkan pemahaman tentang makna tindakakan. 5. PTK menumbuhkan kesadaran diri mereka yang berpartisipasi dan berkolaborasi dalam seluruh tahapan PTK.   6. PTK adalah proses belajar yang sistematis, dalam proses tersebut menggunakan kecerdasan kritis membangun komitmen melakukan tindakan. 7. PTK memerlukan orang untuk membangun teori tentang praktik mereka (Guru). 8. PTK memerlukan gagasan dan asumsi kedalam praktik untuk mengkaji secara sistematis bukti yang menantangnya (memberikan hipotesis tindakan). 9. PTK memungkinkan kita untuk memberikan rasional justifikasi tentang pekerjaan kita terhadap orang lain dan membuat orang menjadi kritis dalam analisis.(Menurut Hopkins,1993)

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Adapun tujuan penelitian tindakan kelas menurut Zainal Arifin (2012, hlm. 100) adalah untuk: 1. Memperbaiki dan meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah dan LPTK. 2. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pendidikan dan pembelajaran di dalam kelas. 3. Meningkatkan kemampuan dan layanan profesional guru dan tenaga kependidikan.   4. Mengembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah dan LPTK, sehingga tercipta sikap proaktif untuk melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan (substainable). 5. Meningkatkan dan mengembangkan keterampilan guru dan tenaga kependidikan khususnya di sekolah dalam melakukan PTK. 6. Meningkatkan kerjasama profesional diantara guru dan tenaga kependidikan di sekolah dan LPTK. Merajuk pada tujuan tersebut dapat kita ketahui bahwa hasil PTK dapat dijadikan sumber masukan dalam rangka melakukan pengembangan kurikulum dan pembelajaran. PTK dapat membantu guru untuk lebih memahami hakikat pendidikan dan pembelajaran secara empirik.

Prinsip Penelitian TIndakan Kelas (Skripsi dan tesis)

PTK dapat berjalan dengan baik apabila dalam perencanaan dan pelaksanaannya menggunakan 6 prinsip sebagai berikut:

1. Tugas pertama dan utama guru di sekolah adalah mengajar siswa sehingga apapun metode PTK yang akan diterapkan tidak akan mengganggu komitmen sebagai pengajar. 2. Metode pengumpulan data yang di gunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganngu proses pembelajaran. 3. Prinsif yang ketiga,bahwa metodologi yang digunakan harus cukup reabele sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara cukup meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya dan memperoleh data yang dapat digunakan untuk “Menjawab”hipotesis yang di kemukakannya. 4. Masalah penelitian yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan masalah yang merisaukannya. Bertolak dari tanggung jawab profesionalnya,guru sendiri memiliki komitmen ini juga diperlukan sebagai motivator intrinsik bagi guru untuk”bertahan”dalam pelaksanaan kegiatan yang jelas-jelas menuntut lebih dari yang sebelumnya diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas pengajarnya. 26 5. Dalam menyelenggarakan PTK, Guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Hal ini penting ditekankan karena selain melibatkan anak-anak manusia,PTK juga hadir dalam suatu konteks organisasional sehingga penyelenggaraannya harus mengindahkan tatakrama kehidupan berorganisasi. 6. Kelas merupakan cakupan tanggung jawab seorang guru, namun dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin digunakan classroom excedding perspektive,dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks dalam kelas atau mata pelajaran tertentu,melainkan dalam perspektif yang lebih luas ini akan berlebih-lebih lagi terasa urgensinya apabila dalam suatu PTK terlibat dari seorang pelaku

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) (skripsi dan tesis)

Menurut hopkins (1993), PTK disebut dengan classroom action research. Penelitian model ini menurut Suyanto (1996) sedang berkembang dengan pesat di negara-negara maju. Seperti Inggris, Amerika, Australia, dan Kanada. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang cukup besar terhadap PTK. Hal ini disebabkan jenis penelitian ini mampu menawarkan berbagai cara dan prosedur baru yang lebih mengena dan bermanfaat dalam memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran di kelas. Berdasarkan uraian di atas, penelitian tindakan kelas mempunyai karakteristik yang berbeda dengan penelitian formal. PTK merupakan: (a) an inquiry on practice from within, (b) a collaborative effort between school teachers and teacher educators, dan (c) a reflective practice made public. Berdasarkan karakteristik tersebut dapat dijelaskan bahwa kegiatan PTK dipicu oleh permasalahan praktis yang secara langsung dihayati dalam pelaksanaan tugas sehari-hari oleh guru sebagai pengelola program pembelajaran di kelas. Guru sebagai jajaran staf pengajar di suatu sekolah secara praktis mengetahui berbagai permasalahan yang dihadapi di kelasnya berkaitan dengan permasalahan pengajaran. PTK itu bersifat practice driven dan action driven. Hal itu bearati bahwa PTK bertujuan memperbaiki pengajaran secara praktis dan secara langsung. Oleh 25 karena itu, banyak kalangan menamakan PTK sebagai penelitian praktis (practical inquiry).PTK hanya memusatkan perhatian pada permasalahan yang spesifik.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Menurut Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas pada dasarnya memiliki sejumlah karakteristik atau ciri-ciri sebagai berikut : a. Bersifat siklis atau berulang, artinya dalam PTK terdapat siklus-siklus atau perulangan mulai dari perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi sebagai prosedur baku PTK. b. Bersifat jangka panjang atau longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu lama yang tertentu (misalnya 2-3 bulan) secarakontinu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan “sekali tembak” selesai pelaksanaannya. c. Bersifat particular – spesipik, jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka menguji atau menemukan teori-teori. Hasinya pun tidak untuk di generalisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain, di tempat lain yang konteksnya mirip. d. Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekaligus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu di ubah. e. Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak yang di teliti, bukan menurut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang di teliti. f. Bersifat kalobaratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja sama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian. g. Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesipik atau khusus dalam pembelajarang yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru, menggarap masalah-masalah yang memiliki urgensi tinggi. h. Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasikan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif. j. Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Menurut Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan (action research) yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Penelitian tindakan pada hakikatnya merupakan rangkaian “ riset – tindakan – riset – tindakan -… “ yang dilakukan secara siklik dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Sedangkan menurut Wardhani & Wihardit (2012 :1.4) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat

Model Penelitian Tindakan Kelas Menurut Riel (skripsi dan tesis)

Model ke dua dikembangkan oleh Riel (2007) yang membagi proses penelitian tindakan menjadi tahap-tahap: studi dan perencanaan, pengambilan tindakan, pengumpulan dan analisis kejadian, refleksi. Riel mengemukakan bahwa untuk mengatasi masalah diperlukan studi dan perencanaan. Masalah ditentukan  berdasarkan pengalaman empiris yang ditemukan sehari-hari. Setelah masalah teridentifikasi kemudian direncanakan tindakan yang sesuai untuk mengatasi permasalahan dan mampu dilakukan oleh peneliti. Perangkat pendukung tindakan (media, RPP) disiapkan pada tahap perencanaan. Tahap berikutnya pelaksanaan tindakan, kemudian mengumpulkan data/informasi dan menganalisis. Hasil evaluasi kemudian dianalisis, dievaluasi dan ditanggapi. Kegiatan dilakukan sampai masalah bisa diatasi (Endang Mulyatiningsih, 2011:70)

Model Penelitian TIndakan Kelas Menurut Kurt Lewin (skripsi dan tesis)

Menjadi acuan pokok atau dasar dari adanya berbagai model Penelitian Tindakan yang lain, khususnya PTK. Dikatakan demikian karena dialah yang pertama kali memperkenalkan action research atau penelitian tindakan. Konsep model ini terdiri dari empat komponen (siklus), yaitu ; perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. (Wijaya Kusuma, 2011:20)

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

 Menurut Wijaya Kusuma (2009:9) penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru di dalam kelas. Menurut O’Brien sebagaimana dikutip oleh Endang Mulyatiningsih (2011:60) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan ketika sekelompok orang (siswa) diidentifikasi permasalahannya, kemudian peneliti (guru) menetapkan suatu tindakan untuk mengatasinya. Cohen dan Manion sebagaimana dikutip oleh Padmono (2010) menyatakan penelitian tindakan adalah intervensi kecil terhadap terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut. Pandangan ini menunjukkan bahwa penelitian tindakan dapat dilakukan secara kolaboratif dengan pakar.
Pakar memberikan alternatif pemecahan dan alternatif tersebut perlu diuji sejauh mana efektifitasnya. Dengan demikian peneleitian tindakan menurut Cohen dan Manion bukan mutlak harus dilakukan oleh pekerja sendiri (guru sendiri) akan tetapi guru dapat meminta atau bekerja sama dengan pihak lain. Selanjutnya Kemmis dan Taggart sebagaimana dikutip oleh Padmono (2010) menyatakan penelitian tindakan adalah suatu penelitian refleksif diri kolektif yang dilakukan 10 oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktek pendidikan dan praktek sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktek-praktek itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktek-praktek tersebut. Kemmis dan Taggart memandang, bahwa penelitian ini dilakukan secara kolektif untuk memperbaiki praktek yang mereka lakukan dimana perbaikan dilakukan berdasar refleksi diri. Dalam bukunya Becoming Critical : Education, Knowledge, an Action Research 1986. Kemmis dan Carr lebih jelas menyatakan penelitian tindakan adalah bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh partisipan (guru, siswa, atau kepala sekolah, misalnya) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktek-praktek sosial atau pendidikan yang dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktek-praktek ini, dan (c) situasi-situasi (dan lembaga-lembaga) dimana praktek-praktek tersebut dilaksanakan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat dapat memperbaiki atau meningkatkan praktek pembelajaran di kelas secara professional

Manfaat dari Kegiatan Kolase dari daun Pisang (skripsi dan tesis)

Ada banyak manfaat yang akan di dapat dari kegiatan kolase dari daun pisang keringyaitu :
1. Melatih Motorik Halus Saat bermain kolase, anak harus menempelkan satu persatu guntingan dari daun pisang yang digunakan untuk kolase.Sebagian anak mungkin agak kesulitan melakukannya karena butuh gerakan-gerakan halus dan jari jemari untuk menempelkan dibidang gambar.Kemampuan morik halus yang baik sangat penting karena berpengaruh terhadap aktivitas anak sehari-hari.
2. Meningkatkan Kreativitas Pilih permainan kolase yang juga memancing kreativitas. Salah satunya yang menyedikan pilihan, baik warna, bidang tempel, karakter, atau lainnya yang memenuhi selera
3. Melatih Konsentrasi Butuh konsentrasi cukup tinggi bagi anak saat menempel. Lambat laun kemempuan konsentrasinya akan semakin terarah. Pada saat kosentrasi menempel dibutuhkan pula koordinasi pergerakkan tangan dan mata.Koordinasi ini sangat baik untuk merangsang pertumbuhan otak di masa yang sangat penting.
 4. Mengenal Warna Kolase terdiri atas banyak sekali warna : merah, hijau, kuning, biru, dan lainnya. Anak dapat belajar mengenal warna agar wawasan dan kosa katanya bertambah.
5. Mengenal Bentuk Selain warna, beragam bentuk pun pada kolase.Ada segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang, dan gambar-gambar yang bukan geometris.Pengenalan bentuk geometris dasar yang baik, kelak membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik.Pemehaman ini membuat otak lebih aktif sehingga kecerdasan anak tumbuh lebih maksimal.
6. Melatih Memecahkan Masalah Kegiatan kolase merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan anak.Tetapi bukan masalah yang sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak.Masalah yang mengasikkan yang b mebuat anak tanpa sadar sebenarnya sedang dilatih untuk memecahkan sebuah masalah.
7. Mengasah Kecerdasan Splokasial Kecerdasan special adalah kemampuan seseorang untuk mengenal dan memahami ruang. Kemampuan special akan ikut terasah dalam permainan kolase ini. 8. Melatih Ketekunan Tak mudah menyelesaikannya kegiatan kolase dalam waktu cepat. Butuh ketekunan dan kesabaran saat mengerjakannya mengingat setiap bentuk yang akan ditempel satu persatu. Tak heran bila permainan ini pun dapat melatih ketekunan dan kesabaran anak.
9. Meningkatkan Kepercayaan Diri Bila anak mampu menyelesaikannya, dia akan mendapatkan kepuasan tersendiri. Dalam dirinya tumbuh kepercayaan diri bahwa dia mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik.Kepercayaan diri sangat positif untuk menambah daya kreativitas anak karena mereka tidak kuat atau malu saat mengerjakan sesuatu

Langkah- langkah Pembelajaran Kolase di TK (skripsi dan tesis)

 Dalam Sumanto (2006) langkah-langkah guru dalam mengajar pembuatan kolase di TK adalah :
 1. Guru menyiapkan kertas gambar atau Koran sesuai ukuran yang di inginkan, menyiapkan daun pisang kering untuk di tempelkan, lem dan peralatan lainnya.
 2. Bahan membuat kolase disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat, untuk lingkungan desa gunakan bahan yang mudah di tempelkan. Misalnya daun pisang kering, batang pisang kering dan lainnya. Untuk lingkungan kota gunakan bahan buatan, bahan limbah, barang bekas dengan pertimbangan lebih mudah digunakan.
 3. Guru memandu langkah kerja membuat kolase dimulai dari, menyiapkan bahan yang akan ditempelkan, memberi lem pada bahan yang akan ditempelkan dan cara menempel bahan yang telah diberi lem sampai menjadi kolase.
4. Guru di harapkan juga mengingatkan pada anak agar dapat melakukannya dengan tertib dan setelah selesai merapikan atau membersihkan tempat belajar.
5. Selama kegiatan berlangsung guru sebagai peneliti dan kolaborator berkeliling mengamati kerja anak. Selain itu guru memberi motivasi kepada anak agar mampu membuat hasil karya sesuai keinginannya.Serta mendampingi dan memberi motivasi dan semangat kepada anak sampai anak bisa menciptakan karya yang sesuai dengan imajinasinya.
6. Guru menghargai ide anak dengan memberikan penguatan dan reward, berupa acunga jempol, tanda bintang dan sebagainya kepada anak saat kegiatan berlangsung sehingga anak lenih termotivasi.

Bahan dan Peralatan Kolase untuk Pembelajaran di TK (skripsi dan tesis)

Bahan yang digunakan dalam pembutan kolase di TK tentu akan berbeda dengan bahan pembuatan kolase pada umumnya. Tetapi dalam prinsipnya pembuatannya dan prinsip kerjanya, baik untuk kolase pada TK maupun pada umumnya adalah sama. Dalam Pamadhi dan Sukardi (2008:5.39) bahan pembuatan kolase di TK yaitu kertas, kain, gabus, lem, daun kering, sedotan, gelas bekas aqua, potongan kayu dadu, benang, bijibijian, sendok plastik, karet, benang, manic-manik atau masih banyak media lainnya. Bahan – bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan kolase untuk anak TK adalah berupa bahan alam, bahan buatan dan bahan kertas. Bahan yang menarik serta mudah di dapatkan dalam pembuatan kolase untuk anak  TK menggunakan alat bidang dasaran berupa kertas HVS, kertas gambar, lem kayu, lem kertas, gunting dan pensil, serta menggunakan bahan alam dan kertas seperti kertas lipat, kertas bungkus kado, Koran, biji kedelai, biji jagung, daun pisang kering dan kacang hijau

Pengertian Kolase (skripsi dan tesis)

Dalam Pamadhi dan Sukardi (2008:5.4) kolase yaitu merupakan karya seni rupa dua dimensi yang menggunakan bahan bermacam-macam selama bahan dasar tersebut dapat dipadukan dengan bahan dasar lain yang akhirnya dapat menyatu menjadi karya yang utuh dan dapat mewakili ungkapan perasaan estetis orang yang membuatnya. Kegiatan kolase dalam pengertian ini adalah kegiatan berolah seni rupa yang menggabungkan tekhnik melukis (lukisan tangan) dengan keterampilan menyusun dan merekatkan bahan-bahan pada kertas gambar atau bidang dasar yang digunakan daun pisang,sampai di hasilkan tatanan yang unik, menarik dan berbeda menggunakan bahan kertas, bahan alam dan bahan buatan

Perkembangan Emosi Anak Usia Dini Usia 5 – 6 Tahun (skripsi dan tesis)

 Menurut Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini Nomor 137 2014 standar isi tentang tingkat pencapaian perkembangan emosi anak usia 5 – 6 tahun yaitu :

Kesadaran Diri 1. Memperlihatkan kemampuan diri untuk menyesuaikan dengan situasi 2. a. Memperlihatkan kehati – hatian kepada orang yang belum dikenal (menumbuhkan kepercayaan pada orang dewasa yang tepat) 3. Mengenal perasaan sendiri dan mengelolanya secara wajar (Mengendalikan diri secara wajar )
 b. Rasa tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang lain 1. Mentaati aturan kelas ( kegiatan, aturan ) 2. Mengatur diri sendiri 3. Bertanggung jawab atas prilakunya untuk kebaikan diri sendiri
c. Prilaku Prososial 1. Mengetahui perasaan temannya dan merespon secara wajar 2. Berbagi dengan orang lain 3. Menghargai hak / pendapat / karya orang lain 4. Bersikap kooperatif dengan teman 5. Menunjukkan sikap toleran 6. Mengepresikan emosi yang sesuai dengan kondisi yang ada (senang – sedih – antusias,dsb)

Karakteristik Perkembangan Emosi (skripsi dan tesis)

Menurut Elizabeth B. Hurlock dalam Syaodih (2008:2.24) perkembangan emosi anak memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Emosi yang kuat Anak kecil bereakasi terhadap suatu stimulasi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang sulit. Anak belum mampu menunjukkan reaksi emosional yang sebanding terhadap stimulasi yang dialaminya.
 b. Emosi seringkali tampak Anak-anak sering kali tidak mampu menahan emosinya, cenderung emosi anak nampak dan bahkan berlebihan.
c. Emosi bersifat sementara Emosi anak cenderung lebih bersifat sementara, artinya dalam waktu yang relative singkat emosi anak dapat berubah dari marah kemudian tersenyum, dari ceria berubah menjadi murung.
d. Reaksi emosi mencerminkan individualitas Semasa bayi, reakasi emosi yang ditunjukkan anak relative sama. Secara bertahap, dengan adanya pengaruh factor belajar dan lingkungan, prilaku  yang menyertai berbagai emosi anak semakin di individualisasikan. Seorang anak akan berlari keluar dari ruangan jika mereka ketekutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis atau menjerit.
e. Emosi berubah kekuatannya Dengan meningkatnya usia, emosi anak pada usia tertentu berubah kekuatannya. Emosi anak yang tadinya kuat berubah menjadi lemah, sementara yang tadinya lemah berubah menjadi emosi yanh kuat.
f. Emosi dapat diketahui melalui gejala prilaku Emosi yang dialami anak dapat pula dilihat dari gejala prilaku anak, seperti pemarah, melamun, gelisah, menangis, sukar berbicara atau dari tingkah laku yang gugup seperti menggigit kuku atau menghisap jempol.

Pengertian emosi (skripsi dan tesis)

Menurut Nugraham & Rachmawati (2010:1.2) emosi adalah perasaan yang ada dalam diri kita, dapat berupa perasaan senang atau tidak senang, perasaan baik atau buruk. Sedangkan menurut Syamsudin dalam Nugraha mengemukakan bahwa “ emosi merupakan suatau suasana yang kompleks (a complex feeling state) dan getaran jiwa (stid up state) yang menyertai atau muncul sebelum atau sesudah terjadinya suatu prilaku

Pengertian Perkembangan Emosi (skripsi dan tesis)

 Menurut Masitoh,dkk (2010:2.12) perkembangan emosi berhubugan dengan seluruh aspek perkembangan anak. Pada tahap ini emosi anak usia prasekolah lebih rinci atau terdiferensiasi. Anak cendrung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka.Sikap marah sering mereka perhatikan dan sering berebut perhatian guru.Pada masa ini anak menjadi lebih mengerti dan mampu berinisiatif, tetapi mungkin terlalu kuat sehingga timbul keinginan menarik rencananya.Hal ini menyebabkan anak merasa bersalah. Pada masa ini anak mampu melakukan partisipasi dan mengambil inisiatif dalam kegiatan fisik, tetapi ada beberapa kegiatan yang dilarang oleh guru dan orang tua. Anak sering memiliki keraguan untuk memilih antara apa yang ingin dikerjakan dengan apa yang harus dikerjakan. Pada usia ini  anak sudah memiliki inisiaif tetapi sering pula mereka tidak bisa memutuskan apa yang akan di kerjakannya.
Menurut Fridani & Wulan dkk (2008:5.3) perkembangan anak usia dini merupakan proses yang sangat kompleks. Perkembangan emosi berkaitan dengan tempramen, perasaan, reaksi, konsep diri, dan harga diri.Emosi dan perasaan memainkan peran dalam segala pengalaman hidup, dalam bekerja, bermain, belajar, dan interaksi antara manusia.Emosi bersifat universal dan evolusioner dalam membantu manusia untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri dan belajar.Setiap individu dari berbagai budaya menunjukkan ekspresi emosi seperti bahagia atau senang, marah, berduka, tertawa karena lucu, dan lain-lain. Emosi anak usia dini adalah bukti dalam menunjukkan ekspresi, bahasa tubuh, postur tubuh, bahasa tubuh yang lain, suara atau vocal, bahasa, gaya komunikasi, dan prilaku yang ditimbulkan karena bermain dengan alat-alat mainan dan alat-alat pembelajaran. Perkembangan emosi adalah proses yang berjalan secara perlahan dari bayi mula dapat mengontrol dirinya ketikamenemukan self comforting behavior atau merasa nyaman

Model Penelitian TIndakan Kelas Menurut Hopkins (skripsi dan tesis)

Model Hopkins dalam Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan subtansif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inquiri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan

Model Kemmis & Taggart (skripsi dan tesis)

 

 Model Kemmis & Teggart dalam Sofyan (2014:110) kegiatan pokok fokus penelitian tindakan terdiri dari (1) Planning, (2) Acting, (3) Observing, (4) Reflecting,
 Planning :
1. Mempelajari aspek-aspek perkembangan yang akan dikembangkan di TK
 2. Mempelajari kurikulum TK
3. Mengembangkan tematik yang sesuai dengan perkembangan anak
 4. Mempersiapkan permainan sesuai dengan tema
5. Membuat RKM
6. Membuat RKH
7. Menyiapkan media pembelajaran yang diperlukan sesuai tema
 8. Menyiapkan sumber belajar
9. Mengembangkan format observasi
10. Mengembangkan format evaluasi
Acting :
1. Melaksanakan kegiatan pembelajaran berdasarkan perencanaan
 2. Melaksanakan pengamatan mengenai isi tindakan 3. Mengumpulkan data perlengkapan lain yang mendukung
 1. Melakukan observasi dengan format observasi
2. Mengamati kegiatan pembelajaran, pengamatan, berperan serta, peneliti terlibat langsung selama kegiatan berlangsung
 Reflecting I :
 1. Mengamati perubahan yang terjadi pada siswa setelah terjadi tindakan
2. Mengadakan pertemuan untuk membahas hasil tindakan
3. Evaluasi Planning :
 1. Merevisi dan memodifikasi pembelajaran sesuai dengan hasil tindakan siklus I Acting :
 1. Mengaplikasian pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang ke II Observing II 1. Mengamati kegiatan pembelajaran sesuai dengan siklus perencanaan yang kedua
 2. Mengumpulkan data tindakan yang kedua Reflecting II
1. Mengamati perubahan yang terjadi pada siswa setelah dilakukan tindakan kedua
 2. Evaluasi tindakan yang kedua

Model Penelitian TIndakan Kelas Menurut Kurt Lewin (skripsi dan tesis)

Model Kurt Lewin dalam Ekawarna (2009) yang sering dijadikan acuan pokok atau dasar dari berbagai model penelitian tindakan (action research), terutama PTK. Dialah orang pertama yang memperkenalkan action research. Konsep pokok action research menurut Krut Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu :

1. Perencanaan (Planning) Pada tahap ini penulis melakukan :
a. Menyusun rencana kegiatan harian (RKH)
b. Menyiapkan instrument penelitian
c. Menyiapkan sumber belajar
d. Mengembangkan scenario pembelajaran
 2. Tindakan (acting) Melakukan tindakan sebagai langkah yang kedua merupakan realisasi dari rencana yang kita buat.Tanpa tindakan rencana hanya merupakan agan-agan yang tidak pernah menjadi kenyataan.
 3. Pengamatan (observing) Berdasarkan pengamatan kita akan dapat menemukan apakah ada hal-hal yang harus segera diperbaiki agar tindakan dapat mencapai tujuan yang kita inginkan.
4. Refleksi (reflecting) Refeksi sebagai langkah keempat, kita lakukan setelah tindakan terakhir. Kita akan mencoba melihat atau merenungkan kembali apa yang telah kita lakukan dan apa dampaknya bagi proses belajar  siswa. Yang lebih penting pula kita renungkan alasan kita melakukan satu tindakan dikaitkan dengan dampaknya. Dengan cara ini kita akan dapat mengenal kekuatan dan kelemahan dari tindakan yang kita lakukan.

Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

 Penelitian tindakan kelas (PTK) mempunyai manfaat yang cukup besar, bagi guru, pembelajaran, maupun bagi sekolah.:
1. Manfaat PTK bagi Guru Bagi guru, PTK mempunyai beberapa manfaat sebagai berikut :
a).PTK dapat dimanfaatkan oleh guru untuk memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya karena memang sasaran akhir PTK adalah perbaikan pembelajaran.
 b).Dengan melakukan PTK guru dapat berkembang secara propesional karena dapat menunjukkan bahwa ia mampu menilai dan memperbaiki pelajaran yang dikelolanya. c).PTK membantu guru lebih percaya guru.
2. Manfaat PTK bagi Pembelajaran/Siswa
 mempunyai manfaat yang sangat besar bagi pembelajaran karena tujuan PTK adalah memperbaiki praktik pembelajaran dengan sasaran akhir memperbaiki belajar siswa. Dengan adanya PTK kesalahan dalam proses pembelajaran akan cepat dianalisis dan diperbaiki, hingga kesalahan tersebut tidak akan berlanjut.
3. Manfaat PTK bagi Sekolah Sekolah mempunyai kesempatan yang besar untuk berubah secara menyeluruh. Dalam konteks ini, PTK memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah, yang tercermin dari peningkatan kemampuan professional para guru, perbaikan proses dan hasil belajar siswa, serta kondusifnya iklim pendidikan di sekolah tersbut.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Menurut Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas pada dasarnya memiliki sejumlah karakteristik atau ciri-ciri sebagai berikut :
 a. Bersifat siklis atau berulang, artinya dalam PTK terdapat siklus-siklus atau perulangan mulai dari perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi sebagai prosedur baku PTK.
b. Bersifat jangka panjang atau longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu lama yang tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan “sekali tembak” selesai pelaksanaannya.
 c. Bersifat particular – spesipik, jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka menguji atau menemukan teori-teori. Hasinya pun tidak untuk di generalisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain, di tempat lain yang konteksnya mirip.
 d. Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekaligus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu di ubah.
e. Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak yang di teliti, bukan menurut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang di teliti.
f. Bersifat kalobaratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja sama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.
g. Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesipik atau khusus dalam pembelajarang yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru, menggarap masalah-masalah yang memiliki urgensi tinggi.
h. Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.
 i. Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasikan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif.
 j. Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Menurut Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan (action research) yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Penelitian tindakan pada hakikatnya merupakan rangkaian “ riset – tindakan – riset – tindakan -… “ yang dilakukan secara siklik dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Sedangkan menurut Wardhani & Wihardit (2012 :1.4) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat

Desain Intact-Group Comparison (skripsi dan tesis)

Pada desain ini, populasi dibagi atas dua kelompok, tidak secara random. Kelompok
pertama merupakan unit percobaan untuk perlakuan dan kelompok kedua merupakan
kelompok untuk suatu kontrol. Kemudian dicari perbedaan antara rerata pengukuran dari
keduanya, dan perbedaan ini dianggap disebabkan oleh perlakuan
Prosedur dalam melaksanakan percobaan dengan desain ini, adalah sebagai berikut:
1. pilihlah unit percobaan secara dengan membagi dua kelompok dari suatu populasi.
2. gunakan perlakuan terhadap kelompok percobaan dan tanpa perlakuan pada
kelompok kontrol (kelompok kedua)
3. ukurlah hasil perlakuan, misalnya dengan melakukan posttest
4. hitunglah rerata dari masing-masing ukuran kelompok, dan bandingkan dengan
menggunakan statistik yang cocok.
Desan ini mempunyai validitas internal yang lemah, karena tidak dilakukan randomisasi.
Pengaruh counfonding antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua tidak ada,
karena pengukuran pertama (pretest) tidak dilakukan.
Beberapa pengaruh luar belum tentu dihilangkan, antara lain error history, instrumentasi,
dan error testing.

Desain satu kelompok pretest- posttest (skripsi dan tesis)

Desain penelitian ini terdapat dua kali pengukuran dengan satu kali perlakuan.
Pengukuran pertama dilakukan sebelum perlakuan diberikan, dan pengukuran data kedua dilakukan sesudah perlakuan dilaksanakan. Desain ini merupakan perbaikan terhadap desain sebelumnya. Misalnya, percobaan
dilakukan pada kelompok-kelompok ibu hamil untuk melihat kebaikan sistem
pengelolaan ibu hamil melalui pendampingan. Pemberian tablet Fe merupakan suatu perlakuan X. Pertama-tama diukur rerata kadar Hb Ibu hamil melalui pemeriksaan darah sebelum diberi perlakuan. Sesudah perlakuan (pemberian tablet Fe) dilaksanakan, kemudian diukur lagi kadar Hbnya. Kemudian dibuat perbandingan antara rerata Hb sebelum dan sesudah perlakuan untuk melihat pengaruh pemberian kadar Fe.
Kelemahan:
Validitas internal masih dirasakan relatif kurang. Tidak ada jaminan yang menyatakan bahwa perbedaan rerata kadar Hb ibu hamil sebelum dan sesudah perlakuan selalu disebabkan oleh pemberian tablet Fe.
Desain ini menghasilkan banyak error, antara lain error yang disebabkan oleh: efek testing, pengaruh instrumen (alat tes Hb), error history, bias pemilihan, dan error regresi.
Efek testing adalah error yang disebabkan karena berubahnya motivasi ibu hamil setelah dites pertama kali sebelum perlakuan sehingga pola makan dapat berubah sebelum atau selama perlakuan. Pengaruh instrumen, artinya error yang disebabkan karena jenis keakuratan dan presisi dari alat tes Hb. Error history dapat terjadi karena subjek berubah misalnya menjadi lebih mampu secara ekonomi atau akses gizi. Bias pemilihan terjadi karena ada subjek penelitian yang drop out sehingga tidak dapat mengikuti tes.
Keuntungan:
Karena adanya pretest sebelum dikenakan perlakuan, dan adanya post-test sesudah perlakuan diberikan, maka dapat dibuat perbandingan terhadap kadar Hb Ibu hamil dari kelompok percobaan yang sama. Bias variabel pemilihan subjek penelitian, dapat dihilangkan dengan menjamin bahwa kedua tes tersebut adalah semua anggota unit percobaan.

Desain one shot case study (skripsi dan tesis)

Pada one shot case study, perlakuan dikenakan pada kelompok unit percobaan tertentu, dan kemudian diadakan pengukuran terhadap variabel terikatDesain percobaan ini, digunakan hanya satu kelompok percobaan tanpa kontrol. Misalnya
menyajikan suatu pelajaran dengan sistem ceramah. Kemudian diukur pengaruh pemberian
ceramah tersebut dengan mengadakan ujian setelah ceramah diberikan. Prestasi belajar
kelompok tersebut diukur berdasarkan hasil posttest di atas dengan mencari meannya.
Keuntungan:
Desain ini berguna untuk mengembangkan suatu prakarsa atau sebagai suatu desain untuk penelitian eksplorasi atau penelitian pendahuluan.
Kelemahan:
1. Desain ini tidak mempunyai kontrol, oleh karena itu validitas internal tidak ada sama sekali. Validitas eksternal juga tidak ada, karena kesimpulan yang diperoleh tidak mempunyai jaminan ketepatan.
2. Desain ini tidak mempunyai dasar untuk membuat perbandingan, kecuali secara subjektif dan intuitif

Kelebihan dan kelemahan Desain Percobaan (skripsi dan tesis)

Kelebihan:
1. Dengan adanya desain percobaan, maka telah terjalin kerjasama antara ahli statistik dengan peneliti dalam menganalisis dan memberikan interpretasi terhadap data.
2. Pada percobaan, peneliti dapat membuat preplanning yang sistematik terlebih dahulu.
3. Perhatian dapat ditujukan terhadap hubungan-hubungan tertentu dalam mengukur dan mengenal sumber-sumber variasi.
4. Jumlah uji yang digunakan dapat ditentukan lebih dahulu dengan tingkat
kepercayaan yang tinggi.
5. Dengan adanya pengelompokan, maka pengaruh yang dapat diukur secara lebih tepat.
6. Kesimpulan yang diperoleh dapat diketahui secara pasti dengan kepastian
matematika.
Kelemahan:
1. Desain dan analisa percobaan selalu dinyatakan dalam “bahasa” ahli-ahli statistik.
2. Desain percobaan relatif membutuhkan biaya yang besar dan juga memakan waktu yang lama

Perlakuan dan Faktorial (skripsi dan tesis)

Perlakuan atau treatment adalah suatu set khusus yang dikenakan atau yang dilakukan terhadap sebuah unit percobaan dalam batas-batas desain yang digunakan. Contoh perlakuan; jenis obat dengan dosis tertentu, motivasi, jenis media pendidikan, dan lainlain. Jika di dalam suatu percobaan dijumpai lebih dari satu perlakuan, maka perlakuan itu disebut perlakuan kombinasi. Contohnya jika kita akan meningkatkan pengetahuan siswa sekolah tentang penyakit HIV&AIDS maka kita teliti 3 media sebagai perlakuannya, yaitu leaflet, kaset, dan film dokumenter. Dalam percobaan tersebut terdapat 3 buah perlakuan, yaitu 3 jenis media. Kemudian ada penelitian lagi tentang
efektifitas metode penyampaian informasi, misalnya dicoba 2 metode yaitu ceramah, dan diskusi. Jika kedua percobaan di atas digabung menjadi suatu percobaan, yang meneliti pengaruh media dan metode penyampaian informasi terhadap pengetahuan siswa tentang HIV&AIDS, maka yang dilakukan adalah suatu perlakuan kombinasi.
Banyak penelitian percobaan yang meneliti dengan lebih dari satu perlakuan atau lebih dari satu variabel bebas. Pada bahasa desain percobaan, variabel bebas demikian sering juga disebut faktor. Faktor ini sering dijabarkan dalam huruf kecil. Harga atau nilai dari faktor dinamakan level dari faktor. Jika ada suatu percobaan dengan 3 faktor, maka percobaan tersebut dinamakan percobaan 3 faktorial. Penelitian faktorial mempunyai jumlah perlakuan kombinasi sebanyak perkalian antar jumlah level dari masing-masing
faktor. Contoh ada percobaan dengan 3 faktor:
Faktor 1 dengan 2 level; a dan b
Faktor 2 dengan 2 level; c dan d
Faktor 3 dengan 3 level; e, f, dan g
Maka jumlah perlakuan kombinas sebanyak 2 x 2 x 3 = 12 kombinasi

Kontrol internal (skripsi dan tesis)

Kontrol internal adalah banyaknya perimbangan, bloking, dan pengelompokan
dari unit-unit percobaan yang digunakan dalam percobaan. Kontrol internal ini
berguna untuk membuat prosedur uji lebih kuat, lebih efisien, dan efektif. Desain percobaan harus menentukan kontrol internal yang cocok.
Pengelompokan atau grouping adalah membagi unit-unit percobaan dalam
kelompok yang homogen. Tiap unit percobaan dalam suatu kelompok harus
memperoleh perlakuan yang sama. Misalnya, jika seorang peneliti mengadakan penelitian tentang pengaruh sejenis obat dengan 3 macam dosis, terhadap manusia, maka ia akan mengelompokkan unit percobaan atas 3 kelompok. Tiap kelompok disuntikkan obat di atas, yaitu kelompok 1 dengan dosis A, kelompok 2 dengan dosis B, dan kelompok 3 dengan dosis C. Kita lihat bahwa, unit percobaan tiap kelompok harus homogen, dan tiap kelompok hanya memperoleh satu perlakuan saja.
Bloking adalah membagi unit-unit percobaan dalam kelompok yang homogen,
tetapi tipa kelompok dibagi lagi dalam beberapa kelompok lain. Pengelompokan pertama dinamakan bloking, dan dari masing-masing blok dibuat perlakuan yang berbeda. Bloking dilakukan jika unit-unit percobaan yang digunakan tidak homogen Jumlah perlakuan pada tiap blok sama dengan jumlah jenis perlakuan yang ingin dicoba, tetapi jumlah unit percobaan dalam tiap blok tidak perlu sama. Balancing adalah cara seorang peneliti membagi unit percobaan dalam kelompok, dalam blok dan dalam menentukan jumlah unit percobaan pada satu perlakuan, sehingga terdapat suatu keseimbangan yang akan membawa kepada kelebihbaikan hasil percobaan. Dengan adanya kontrol internal ini, maka penelitian percobaan yang dilakukan terkurangi pengaruh dari confounding.

Tiga prinsip dasar desain percobaan (skripsi dan tesis)

a. Replikasi
Replikasi adalah pengulangan dari percobaan dasar. Replikasi berguna untuk:
(1) Memberkan suatu error estimasi. Error estimasi diperlukan sebagai unit dasar untuk mengukur signifikan tidaknya beda yang diperoleh dan juga untuk
mengukur jarak interval kepercayaan (confidence interval).
(2) Memberikan estimasi yang lebih tepat terhadap error percobaan.
Dengasumsi tertentu, error percobaan dapat juga dicari tanpa replikasi, tetapi
estimasi error percobaan yang diperoleh dengan cara ini kurang tepat.
(3) Memperoleh estimasi yang lebih baik terhadap pengaruh mean (mean effect) dari tiap faktor karena:
Sx = ∂2 / n
∂ = error percobaan dan n = banyaknya replikasi.
Unit percobaan adalah sebuah unit dimana percobaan dikaksanakan. Misalnya
20 plot jagung atau 30 murid adalah unit percobaan. Dalam melakukan
percobaan, maka akan terlihat adanya kegagalan untuk memberikan hasil yang
serupa walaupun kedua percobaan tersebut memperoleh perlakuan yang sama.
Kegagalan ini disebut error percobaan. Error percobaan disebabkan antara lain:
(1) Kesalahan dari percobaan yang sedang dilaksanakan.
(2) Kesalahan pengamatan.
(3) Kesalahan pengukuran.
(4) Variasi dari bahan yang digunakan dalam percobaan.
(5) Pengaruh kombinasi dan faktor-faktor luar biasa.
Error percobaan dapat dikurangi dengan cara:
(1) Menggunakan bahan atau material percobaan yang lebih homogen
(2) Mengadakan stratifikasi yang lebih hati-hati terhadap material percobaan
(3) Melakukan percobaan dengan lebih hati-hati
(4) Menggunakan desain percobaan yang lebih cocok
Jumlah replikasai yang perlu diadakan bergantung pada banyak hal. Faktor-faktor yang terpenting yang mempengaruhi banyaknya replikasi suatu percobaan adalah:
(1) Luas serta jenis unit percobaan
(2) Bentuk unit percobaan
(3) Variabilitas material percobaan
(4) Derajat ketelitian yang diinginkan
(5) Tersedianya material percobaan
Secara praktis, jumlah replikasi yang digunakan adalah sedemikian rupa
sehingga degree of freedom dalam analisa varians nantinya tidak lebih dari 10-
15.
Contoh lain:
Untuk menghindari kesalahan sekecil mungkin maka banyaknya ulangan
(replikasi) dalam eksperimen di hitung dengan rumus sebagai berikut:
( t – 1 ) ( r – 1 ) > 15
t = Jumlah perlakuan 9 macam konsentrasi
r = Jumlah pengulangan
(t-1)(r-1) ≥15
(9-1)(r-1) ≥15
8(r-1) ≥15
8r-8 ≥15
8r ≥15+8
8r ≥ 23
r ≥ 23:8
r ≥ 2,87 = 3

Ciri-ciri desain percobaan (skripsi dan tesis)

a. variabel-variabel serta kondisi yang diperlukan diatur secara ketat dan dikontrol.
Manipulasi terhadap variabel baik secara langsung atau tidak langsung
dilakukan.
b. Variabel-variabel yang ingin diteliti selalu dibandingkan dengan variabel kontrol.
c. Analisa varian selalu digunakan, dimana analisa ini berusaha untuk:
(1) Meminimumkan varian dari error
(2) Meminimumkan varian variabel yang tidak termasuk dalam variabel-variabel
yang diteliti.
(3) Memaksimumkan varian dari variabel-variabel yang diteliti dan yang berkaitan
dengan hipotesis yang dibangun.

Definisi, Manfaat, dan Klasifikasi Penelitian eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen atau percobaan adalah rancangan penelitian dimana peneliti dengan sengaja memberikan suatu perlakuan atau intervensi (variabel bebas) kepada subjek penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan tersebut terhadap variabel terikat (variabel yang diteliti). Faktor penelitian dalam eksperimen lazim disebut perlakuan (treatment), atau intervensi. Unit eksperimen, unit pengamatan, dan unit analisis dalam
eksperimen dapat merupakan individu atau agregat individu (kelompok).
Pada kasus tertentu, misalnya bidang eksakta, penelitian-penelitian yang paling mampu mengetahui pengaruh faktor penelitian dapat diakomodir melalui penelitian eksperimen. Hal ini disebabkan variabel-variabel dalam proses eksperimen itu dapat dikontrol secara ketat

Kelemahan dan Kekuatan Kuasi Eksperimental (skripsi dan tesis)

Kuasi eksperimental mempunyai kekuatan lebih mungkin diterapkan dan lebih murah dibandingkan eksperimen randomisasi, terutama pada penelitian yang ukuran sampel sangat besar atau sangat kecil. Sedangkan kelemahan dari kuasi eksperimental antara lain; karena pada desain ini tidak dilakukan randomisasi maka peneliti kurang mampu mengendalikan factor-faktor penganggu. Alokasi non random ini bahkan dapat mengakibatkan bias yang sulit dikontrol pada analisis data.

Jenis Desain Eksperimen Kuasi (skripsi dan tesis)

Kuasi eksperimental dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu:
1. One group pre and post test design
Merupakan kuasi eksperimental dimana masing-masing subjek menjadi kontrol bagi dirinya sendiri dan pengamatan variabel hasil dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Kelompok kontrol untuk dirinya sendiri disebut dengan kontrol internal

2. After only with control design
Mengamati variable hasil pada saat yang sama terhadap kelompok perlakuan dan kelompok control, setelah perlakuan diberikan kepada kelompok perlakuan (subjek). Dengan cara non random peneliti memilih kelompok control yang memiliki karakteristik atau variable variable perancu potensial yang sebanding dengan kelompok perlakuan.

3. After and Before with control design
Desain ini mirip dengan RCT kecuali penunjukan kelompok subjek tidak dilakukan dengan random. Pengaruh perlakuan ditentukan dengan membandingkan perubahan nilai-nilai variable hasil pada kelompok perlakukan dengan perubahan nilai-nilai pada kelompok control. Desain ini lebih baik dari dua desain eksperimen kuasi yang terdahulu, karena mengatasi kemungkinan variasi eksternal yang diakibatkan perubahan waktu serta menggunakan kelompok pembanding eksternal

4 Desain campuran
Desain campuran mengkombinasikan elemen-elemen pembanding internal dan eksternal. Kombinasi tersebut meningkatkan kemampuan mengatasi ancaman validitas selanjutnya meningkatkan kemampuan untuk manrik inferensi kausal

Penelitian Kuasi Eksperimental (skripsi dan tesis)

Kuasi eksperimental adalah sebuah studi eksperimental yang dalam mengontrol situasi penelitian menggunakan cara non random. Desain ini berasal dari riset ilmu sosial yang kemudian diadopsi oleh epidemiologi untuk mengevaluasi dampak intervensi kesehatan masyarakat. Untuk memperoleh taksiran dampak perlakuan yang sebenarnya maka peneliti harus memilih kelompok kontrol yang memiliki karakteristik variable perancu yang sebanding dengan kelompok perlakuan.
Kuasi eksperimental ini dilakukan sebagai alternatif eksperimen randomisasi, tatkala pengalokasian faktor penelitian pada subjek penelitian tidak mungkin, tidak etis atau tidak praktis dilaksanakan dengan randomisasi, misalnya ketika ukuran sampel terlalu kecil

Etika Pada Penelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Etika uji klinik mencakup:
a) Protokol uji klinik yang telah mendapat persetujuan dari komisi etik (ethical clearance)
b) Menjamin kebebasan pasien untuk ikut serta secara sukarela atau menolak atau berhenti sewaktu-waktu dari penelitian
c) Menjamin kesehatan dan keselamatan pasien sejak awal, selama dan sesudah penelitian
d) Keikutsertaan pasien harus dinyatakan dalam written informed-consent.
e) Menjamin kerahasiaan identitas dan segala informasi yang diperoleh dari pasien

Penilaian respons (skripsi dan tesis)

Penilaian respons pasien terhadap proses terapetik yang diberikan harus bersifat objektif, akurat, dan konsisten. Empat kategori utama yang sering digunakan adalah:
a) Penilaian awal sebelum perlakuan: sesaat sebelum uji dilakukan, keadaan klinis hendaknya dicatat secara seksama berdasarkan parameter yang telah disepakatidimulai.
b) Kriteria utama respons pasien: indikasi utama pengobatan merupakan kriteria utama yang harus dinilai. Jika yang diuji obat analgetik-antipiretika, maka kriteria utama penilaian adalah penurunan panas, ada tidaknya kejang atau gejala lain sebagai manifestasi demam dan yang lainnya.
c) Kriteria tambahan: dari segi keamanan pemakaiannya. Misalnya efek samping baik yang berbahaya maupun yang tidak.
d) Pemantauan pasien: faktor-faktor yang mempengaruhi ketaatan pasien untuk berpartisipasi dalam penelitian hendaknya dapat dikontrol sebaik mungkin

Pembutaan (blinding) (skripsi dan tesis)

Yang dimaksud dengan pembutaan adalah merahasiakan bentuk terapi yang diberikan. Dengan pembutaan, maka pasien dan/atau pemeriksa tidak mengetahui yang mana obat yang diuji dan yang mana pembandingnya. Biasanya bentuk obat yang diuji dan pembandingnya dibuat sama. Tujuan utama pembutaan ini adalah untuk menghindari bias pada penilaian respons terhadap obat yang diujikan. Pembutaan dapat dilakukan secara:
single blind (jika identitas obat tidak diberitahukan kepada pasien), double-blind (jika baik pasien maupun dokter pemeriksa tidak diberitahu obat yang diuji maupun pembandingnya), atau triple blind (jika pasien, dokter pemeriksa ataupun individu yang melakukan analisis tidak mengetahui identitas obat yang diuji dan pembandingnya)

Besar sampel Dalam PEnelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang mempengaruhi penetapan besar sampel adalah:
a) Derajat kepekaan uji klinik: jika diketahui bahwa perbedaan kemaknaan klinis antara 2 obat yang diuji tidak begitu besar, berarti diperlukan jumlah sampel yang besar
b) Keragaman hasil: makin kecil keragaman hasil uji antar individu dalam kelompok yang sama, semakin sedikit jumlah subyek yang diperlukan.
c) Derajat kebermaknaan statistik: semakin besar kebermaknaan statistik yang diharapkan dari uji klinik, semakin besar pula jumlah subyek yang diperlukan

Pengacakan atau randomisasi intervensi Dalam penelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Randomisasi atau pengacakan intervensi mutlak diperlukan dalam uji klinik terkendali (RCT), dengan tujuan utama menghindari bias. Dengan pengacakan maka:
a) setiap subjek akan memperoleh peluang yang sama dalam mendapatkan obat uji atau pembandingnya (sebagai kelompok intervensi atau kontrol)
b) subjek yang memenuhi kriteria inklusi akan terbagi sama rata dalam setiap kelompok intervensi, dimana ciri-ciri subjek dalam satu kelompok praktis seimbang.

Rancangan uji klinik (skripsi dan tesis)

Untuk memperoleh hasil yang optimal perlu disusun rancangan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan etis, dengan tetap mengutamakan segi keselamatan dan kepentingan pasien. Dua rancangan yang sering digunakan, yaitu Randomized Clinical Trial (RCT) parallel design dan RCT cross-over design.
(a) Rancangan RCT parallel design
Prinsip dasar rancangan ini adalah secara acak subjek dibagi ke dalam 2 atau lebih kelompok pengobatan. Jumlah subjek pada setiap kelompok harus seimbang atau sama. Masing-masing kelompok akan memperoleh pengobatan/perlakuan yang berbeda, sesuai dengan jenis perlakuannya. Secara skematis adalah sebagai berikut: (R adalah simbol pengacakan atau random)

(b) Rancangan RCT cross-over design
Pada rancangan ini setiap subjek akan memperoleh semua bentuk pengobatan/perlakuan secara selang-seling, yang ditentukan secara acak. Untuk menghindari kemungkinan pengaruh obat/perlakuan yang satu dengan yang lainnya, setiap subjek akan memperoleh periode bebas pengobatan (washed-out period atau WOP). Rnacangan ini hanya dapat dilakukan untuk penyakit yang bersifat kronik dan stabil, seperti misalnya rematoid artritis dan hipertensi

Seleksi atau pemilihan subjek Dalam Penelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Dalam uji klinik, harus ditentukan secara jelas kriteria-kriteria pemilihan pasien, yaitu:
a)Kriteria inklusi, yakni syarat-syarat yang secara mutlak harus dipenuhi subjek untuk dapat berpartisipasi dalam penelitian. Kriterianya antara lain kriteria diagnosis baik klinik maupun laboratoris, tingkat keparahan penyakit, asal pasien (rumah sakit atau populasi), umur, dan jenis kelamin.
b) Kriteria eksklusi (pengecualian), yaitu kriteria yang membatasi partisipasi subjek dalam penelitian. Sebagai contoh hampir sebagian besar uji klinik obat tidak memasukkan wanita hamil sebagai subjek mengingat pertimbangan risiko yang mungkin lebih besar dibanding manfaat yang didapat. Subjek yang mempunyai risiko tinggi terhadap pengobatan/perlakuan uji juga secara ketat tidak dilibatkan dalam penelitian

 

Penelitian Eksperimental (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimental adalah penelitian dengan kontrol (perlakukan) terhadap eksposure. Dengan kata lain, pada penelitian eksperimental, status eksposur ditetapkan oleh peneliti sendiri. Kelebihan utama rancangan penelitian ini adalah apabila intervensi (eksposur) dialokasikan secara acak terhadap sampel yang cukup besar, penelitian ini mempunyai derajat validitas yang tinggi yang tidak mungkin dicapai oleh penelitian observasional lainnya (yaitu deskriptif, kasus kontrol, ataupun kohort).
Dari aspek alokasi intervensi pada subjek penelitian, penelitian eksperimental dibagi menjadi 2 yakni penelitian eksperimental murni dan kuasi eksperimental. Pada penelitian eksperimental murni, intervensi dibagi secara acak pada subjek penelitian. Sebaliknya, pembagian subjek dalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak dilakukan secara random.
Penelitian eksperimental murni dalam konteks klinik dibedakan menjadi penelitian eksperimental dengan intervensi pencegahan dan intervensi terapetik. Penelitian eksperimental dengan intervensi terapetik disebut juga uji klinik.

Rancangan kelompok kontrol yang tidak sama (non-equivalent control group design)

Rancangan peneitian ini sering dipakai dalam penelitian. Dalam
rancangan ini, subjek penelitian atau partisipasi penelitian tidak dipilih secara
acak untuk dilibatkan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Pada dasarnya, langkah-langkah dalam rancangan ini sama seperti pada
rancangan pretest-posstest experimental control group design.
Dalam rancangan ini, ada dua kelompok subjek dimana satu mendapat
perlakuan dan satu kelompok sebagai kelompok control. Keduanya
memperoleh prates dan pascates. Perbedaan dengan kelompok non ekuivalen, bahwa kelompok tidak dipilih secara acak atau random.
Rancangan kelompok nonekuivalen ini disebut juga sebagai untreated
control group design with pretest and posttest. Rancangan penelitian ini
dikategorikan sebagai rancangan eksperimen kuasi (quasi experiment design).
Rancangan ini sangat sering dipakai dalam penelitian.Rancangan di atas (rancangan kuasi eksperimen) tidak menggunakan
random assignment sehingga ada kelemahan-kelemahan jika dibandingkan
rancangan eksperimen yang sebenarnya. Namun demikian, rancangan ini
dilakukan dengan jadwal perlakuan dan pengamatan yang sangat cermat.
Rancangan ini memberikan landasan yang kuat untuk memberikan alasan
untuk mengendalikan ancaman yang berkaitan dengan validitas internal

Non-Equivalent Grup Desain adalah desain yang paling sering
digunakan dalam penelitian sosial. Hal ini terstruktur seperti sebuah
eksperimen pretest posttest-acak. Dalam NEGD, kita paling sering
menggunakan grup utuh yang kita anggap sama seperti perlakuan dan
kelompok kontrol. Dalam pendidikan, kita bisa memilih dua kelas yang
sebanding. Dalam penelitian berbasis masyarakat, kita bisa menggunakan dua
komunitas yang sama. Kita mencoba untuk memilih grup yang semirip
mungkin, tapi kita tidak pernah bisa yakin kelompok-kelompok yang
sebanding. Atau, dengan kata lain, tidak mungkin bahwa kedua kelompok akan
mirip jika mereka kita tugaskan melalui undian acak. Karena sering
kemungkinan bahwa kelompok-kelompok yang tidak setara. Berarti bahwa
tugas yang kita berikan untuk kelompok seharusnya tidak acak. Dengan kata
lain, peneliti tidak menguasai tugas untuk kelompok melalui mekanisme
penugasan acak., ini yang dinamakan desain kelompok non equivalent

Kelompok berhubungan (intact group comparison) (skripsi dan tesis)

Rancangan penelitian intact group comparison atau desebut juga
rancangan static group comparison. Rancangan penelitian intac group desain
ini sebenarnya berasal dari kelompok subjek yang sama dan berhubungan.
Dalam rancangan ini sekelompok subjek yang diambil dari populasi tertentu
dikelompokan secara rambang menjadi dua, yaitu kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakukan tertentu dalam
waktu tertentu, sedangkan kelompok control tidak. Kedua kelompok subjek itu kemudian dikenakan pengukuran atau observasi (tes) yang sama.Faktor validitas seperti sejarah dan maturasi dikendalikan dengan
kelompok control (yang tidak diberi perlakuan). Artinya, dalam situasi yang
secara kebetulan berpengaruh terhadap hasil, yang mungkin juga berpengaruh pada hasil observasi[

Rancangan “separate sample pretest-postest” (skripsi dan tesis)

Rancangan ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian kesehatan
dan keluarga berencana, pengukuran pertama (pretest) dilakukan terhadap
sample yang dipilih secara acak dari populasi tertentu. Kemudian dilakukan
intervensi atau program pada seluruh populasi tersebut. Selanjutnya dilakukan
pengukuran kedua (posttest) pada kelompok sampel lain, yang dipilih secara
acak (random) dari populasi yang sama. Rancangan ini sangat baik untuk
menghindari pengaruh atau efek dari “test”, meskipun tidak dapat mengontrol
“sejarah”, “maturitas”[

Single Subject Design (skripsi dan tesis)

Pada umumnya penelitian pendidikan menggunakan subjek penelitian
dalam bentuk kelompok (kelas). Penelitian seperti ini akan memberikan hasil
yang menggambarkan keadaan satu atau beberapa kelompok, tidak
menggambarkan keadaan individual dalam kelompok tersebut. Pada situasi
eksperimen tertentu, perlakuan perlu diberikan hanya pada satu individu saja.
Penelitian seperti ini disebut sebagai penelitian single subject. Penelitian ini
sangat berguna bagi guru yang sedang melaksanakan penelitian terhadap
individual siswa, misalnya dalam melakukan penelitian bimbingan dan
konseling atau dalam melakukan rehabilitasi dan terapi fisik yang
perlakuannya hanya diberikan pada satu individu saja. Desain single subject
umumnya menggunakan pengukuran yang berulang dan hanya
mengimpleentasikan variabel bebas tunggal yang diharapkan dapat merubah
hanya satu variabel terikat. Pengukuran variabel dilakukan pada kondisi
normal yang disebut baseline[

Times Series Design (skripsi dan tesis)

O1 O2 O3 O4     X       O5 O6 O7 O8
Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak
dapat dipilih secara random. Sebelumnya diberi perlakuan, kelompok diberi
pretest sampai empat kali, dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan
kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest
selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berate kelompok tersebut
keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan
keadaan kelompok daoat diketahui dengan jelas maka baru diberi treatment.
Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja., sehingga tidak
memerlukan kelompok kontrol.
Hasil pretest yang baik adalah O1=O2=O3=O4 dan hasil perlakuan
yang baik adalah O5=O6=O7=O8. Besarnya pengaruh perlakuan adalah =
(O5+O6+O7+O8) – (O1+O2+O3+O4).
Desain time series sebagai kuasi eksperimen memiliki ciri adanya
pengukuran yang berulang-ulang, baik sebelum maupun sesudah perlakuan
terhadap satu atau beberapa intact group

Tujuan, Kelemahan, dan Keunggulan Eksperimen Semu (skripsi dan tesis)

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat
dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimen,
namun pemilahan kedua kelompok tersebut tidak dengan teknik random[4].
Adapun beberapa kelemahan/ keterbatasan yang dimiliki oleh desain
quasi eksperimen adalah terlalu fokus terhadap kejadian yang tidak dapat
diperkirakan dan tidak berkelanjutan sehingga dapat mengaburkan tujuan jika
terjadi perubahan yang tidak terduga akibat faktor fenomena ekonomi atau
perkembangan politik. Dan juga kurang kuatnya pengukuran dalam hal
asosiasi yang menjadikan beberapa efek yang terjadi pengukurannya terbatas.
Hal tersebut mengakibatkan beberapa efek seringkali “tidak terlihat” pada saat pengukuran terjadi (Caporaso, 1973:31-38).
Adapun secara terperinci kelemahan dari penelitian Quasi Eksperiment
adalah sebagai berikut:
a. Tidak adanya randomisasi (randoimization), yang berarti pengelompokan
anggota sampel pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak
dilakukan dengan random atau acak.
b. Kontrol terhadap variabel-variabel yang berpengaruh terhadap eksperimen
tidak dilakukan, karena eksperimenini biasanya dilakukan di masyarakat[5].
Di dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, penggunaan quasi
eksperimen sangat disarankan mengingat kondisi objek penelitian yang
seringkali tidak memungkinkan adanya penugasan secara acak. Hal tersebut
diakibatkan telah terbentuknya satu kelompok utuh (naturally formed
intactgroup), seperti kelompok siswa dalam satu kelas. Kelompok-kelompok
ini juga sering kali jumlahnya sangat terbatas. Dalam keadaan seperti ini
kaidah-kaidah dalam true eksperimen tidak dapat dipenuhi secara utuh, karena pengendalian variabel yang terkait subjek penelitian tidak dapat dilakukan sepenuhnya. Sehingga untuk penelitian yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pembelajaran, direkomendasikan penggunaan teknik quasi experiment di dalam implementasinya (Azam, Sumarno &Rahmat, 2006) [6].
Selain memiliki kelemahan quasi eksperimen juga memiliki
keuntungan. Adapun keuntungannya yaitu pada penelitian ekperimen semu ini
tidak mempunyai batasan yang ketat terhadap randomisasi dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancama-ancaman validitas

Pengertian Eksperimen Semu (kuasi eksperimen) (skripsi dan tesis)

Quasi eksperiment didefinisikan sebagai eskperimen yang memiliki
perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen namun tidak menggunakan
penugasan acak untuk menciptakan perbandingan dalam rangka menyimpulkan
perubahan yang disebabkan perlakuan (Cook & Campbell, 1979). Pada
penelitian lapangan biasanya menggunakan rancangan eksperiment semu
(kuasi eksperimen). Desain tidak mempunyai pembatasan yang ketat terhadap
randomisasi, dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancaman-ancaman
validitas.
Penelitian eksperimen semu atau eksperimen kuasi pada dasarnya samadalam menentukan validitas internal sesuai dengan batasan-batasan yang ada dengan penelitian eksperimen murni. Penelitian eksperimen murni maka  subjek, atau partisipan penelitian dipilih secara random
dimana setiap subjek memperoleh peluang sama untuk dijadikan subjek
penelitian. Peneliti memanipulasi subjek sesuai dengan rancangannya. Berbeda dengan penelitian kuasi, peneliti tidak mempunyai keleluasaan untuk
memanipulasi subjek, artinya random kelompok biasanya diapakai sebagai
dasar untuk menetapkan sebagai kelompok perlakuan dan control. Misalnya,
kita ingin menguji apakah pebelajar yang dibelajarkan melalui buku teks yang
disertai video memperoleh hasil atau prestasi belajar yang lebih unggul, jika
dibandingkan dengan pebelajar yang hanya dibelajarakan dengan buku teks
saja? Untuk maksud tersebut, kita menentukan kelompok subjek mana yang
diberi perlakuan (buku teks dan video) dan control atau kendali (buku teks
saja). Setelah diberi perlakuan dalam kurun waktu tertentu, kedua kelompok
subjek diberi pascates. Hasil pascates ini kita uji dengan teknik statistic
tertentu[1].
Adapula yang menyatakan bahwa eksperimen semu adalah penelitian
yang mendekati percobaan sungguhan di mana tidak mungkin mengadakan
control/ memanipulasikan semua variabel yang relevan. Harus ada kompromi dalam menentukan validitas internal sesuai dengan batasan-batasan yang
ada

 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Reliabilitas Instrumen (Skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi (2008:51-52) koefisien reliabilitas dapat dipengaruhi oleh waktu penyelenggaraan tes-retes. Interval penyelenggaraan yang terlalu dekat atau terlalu jauh, akan mempengaruhi koefisien reliabilitas. Faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi reliabilitas instrument evaluasi di antaranya sebagai berikut::
1)      Panjang tes, semakin panjang suatu tes evaluasi, semakin banyak jumlah item materi pembelajaran diukur.
2)      Penyebaran skor, koefisien reliabelitas secara langsung dipengaruhi oleh bentuk sebaran skor dalam kelompok siswa yang di ukur. Semakin tinggi sebaran, semakin tinggi estimasi koefisien reliable.
3)      Kesulitan tes, tes normative yang terlalu mudah atau terlalu sulit untuk siswa, cenderung menghasilkan skor reliabilitas rendah.

 

4)      Objektifitas, yang dimaksud dengan objektif yaitu derajat dimana siswa dengan kompetensi sama, mencapai hasil yang sama

Tipe-tipe Reliabilitas (skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi (2008) Ada beberapa tipe reliabelitas yang digunakan dalam kegiatan evaluasi dan masing-masing reliebelitas mempunyai konsistensi yang berbeda-beda. Beberap tipe reliebelitas di antaranya: tes-retes, ekivalen, dan belah dua yang ditentukan melalui korelasi.
Berbagai tipe tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1)      Relibalelitas Dengan Tes-Retes
Reliabelitas tes-retes tidak lain adalah derajat yang menunjukkan konsistensi hasil sebuah tes dari waktu ke waktu. Tes-Retes menunjukkan variasi skor yang diperoleh dari penyelenggaraan satu tes evaluasi yang dilaksanakan dua kali atau lebih, sebagai akibat kesalahan pengukuran. Dengan kata lain, kita tertarik dalam mencari kejelasan bahwa skor siswa mencapai suatu tes pada waktu tertentu adalah sama hasilnya, ketika siswa itu dites lagi dengan tes yang sama. Dengan melakukan tes-retes tersebut. Seorang guru akan mengetahui seberapa jauh konsistensi suatu tes mengukur apa yang ingin diukur (Sukardi, 2008).
Sedangkan Arikunto (1997: 88) Metode tes ulang (tes-retes) dilakukan untuk menghindari dua penyusunan dua seri tes. Dalam menggunakan teknik atau metode ini pengetes hanya memiliki satu seri tes tapi dicobakan dua kali. Oleh karena tesnya satu dan dicobakan dua kali, maka metode ini dapat disebut juga dengan single-test-double-trial-method.
Reliebelitas tes retes dapat dilakukan dengan cara seperti berikut:
  1. Selenggarakan tes pada suatu kelompok yang tepat sesuai dengan rencana.
  2. Setelah selang waktu tertentu, misalnya satu minggu atau dua minggu, lakukan kembali tes yang sama dengan kelompok yang sama tersebut.
  3. Korelasikan kedua hasil tes tersebut.
Jika hasil koefisien menunjukkan tinggi, berarti reliabilias tes adalah bagus. Sebaliknya, jika korelasi rendah, berarti tes tersebut mempunyai konsistensi rendah (Sukardi, 2008).
2)      Reliabelitas Dengan Bentuk Ekivalensi
Sesuai dengan namanya yaitu ekivalen, maka tes evaluasi yang hendak diukur reliabelitasnya dibuat identik dengan tes acuan. Setiap tampilannya, kecuali substansi item yang ada, dapat berbeda. Kedua tes tersebut sebaliknya mempunyai karate yang sama. Karakteristik yang dimaksud misalnya mengukur variabel yang sama, mempunyai jumlah item sama, struktur sama, mempunyai tingkat kesulitan dan mempunyai petunjuk, cara penskoran, dan interpretasi yang sama (Sukardi 2008).
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Arikunto (1997: 87) tes paralel atau equivalent adalah dua buah tes yang mempunyai kesamaan tujuan, tingkat kesukaran dan susunan, tetapi butir-butirnya berbeda. Dalam istilah bahasa Inggris disebut Alternate-forms method (parallel forms).
Tes reliabelitas secara ekivalen dapat dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Tentukan sasaran yang hendak dites
  2. Lakukan tes yang dimaksud kepada subjek sasaran tersebut.
  3. Administrasinya hasilnya secara baik.
  4. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, lakukan pengetesan yang kedua kalinya pada kelompok tersebut
  5. Korelasikan kedua hasil skor tersebut (Sukardi, 2008).
Perlu diketahui juga bahwa tes ekivalensi mempunyai kelemahan yaitu bahwa membuat dua buah tes yang secara esensial ekivalen adalah sulit. Akibatnya akan selalu terjadi kesalahan pengukuran (Sukardi, 2008). Pernyataan lain juga disampaikan oleh Arikunto (1997: 88) kelemahan dari metode ini adalah pengetes pekerjaannya berat karena harus menyusun dua seri tes. Lagi pula harus tersedia waktu yang lama untuk mencobakan dua kali tes.
3)      Reliebilitas Dengan Bentuk Belah Dua
Menurut Sukardi (2008: 47) Reliabilitas belah dua ini termasuk reliabilitas yang mengukur konsistensi internal. Yang dimaksud konsistensi internal adalah salah satu tipe reliabilitas yang didasarkan pada keajegan dalam setiap item tes evaluasi. Relibilitas belah dua ini pelaksanaanya hanya satu kali.
Cara melakukan reliabilitas belah dua pada dasarnya dapat dilakukan dengan urutan sebagai  berikut:
  1. Lakukan pengetesan item-item yang telah dibuat kepada subjek sasaran.
  2. Bagi tes yang ada menjadi dua atas dasar dua item, yang paling umum dengan membagi item dengan nomor ganjil dengan item dengan nomor genap pada kelompok tersebut.
  3. Hitung skor subjek pada kedua belah kelompok penerima item genap dan item ganjil.
  4. Korelasikan kedua skor tersebut, menggunakan formula korelasi yang relevan dengan teknik pengukuran (Sukardi, 2008).
Untuk mengetahui seluruh tes harus digunakan rumus Spearman-Brown (Arikunto, 1997):

Pengertian Reliabilitas (skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi (2008: 43) relaibelitas adalah karakter lain dari evaluasi. Reliabelitas juga dapat diartikan sama dengan konsistensi atau keajegan. Suatu instrument evaluasi dikatakan mempunyai nilai reliabelitas tinggi, apabila tes yang dibuat mempunyai hasil konsisten dalam mengukur yang hendak diukur.
Sehubungan dengan reliabelitas ini Scarvia B. Anderson dan kawan-kawan (dalam Arikunto, 1997) menyatakan bahwa persyaratan bagi tes, yaitu validitas dan reliabelitas ini penting. Dalam hal ini validitas lebih penting, dan reliabelitas ini perlu, karena menyokong terbentuknya validitas. Sebuah tes mungkin reliable tapi tidak valid. Sebaliknya tes yang valid biasanya reliable.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Validitas (skripsi dan tesis)

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil tes evaluasi tidak valid. Beberapa faktor tersebut secara garis besar dapat dibedakan menurut sumbernya, yaitu faktor internal dari tes, faktor eksternal tes, dan faktor yang berasal dari siswa yang bersangkutan.
1)      Faktor yang berasal dari dalam tes
  1. Arahan tes yang disusun dengan makna tidak jelas sehingga dapat mengurangi validitas tes
  2. Kata-kata yang digunakan dalam struktur instrument evaluasi, tidak terlalu sulit
  3. Item tes dikonstruksi dengan jelas.
  4. Tingkat kesulitan item tes tidak tepat dengan materi pembelajaran yang diterima siswa.
  5. Waktu yang dialokasikan tidak tepat, hal ini termasuk kemungkinan terlalu kurang atau terlalu longgar.
  6. Jumlah item terlalu sedikit sehingga tidak mewakili sampel
  7. Jawaban masing-masing item evaluasi bisa diprediksi siswa
2)      Faktor yang berasal dari administrasi dan skor tes.
  1. Waktu pengerjaan tidak cukup sehingga siswa dalam memberikan jawaban dalam situasi tergesa-gesa.
  2. Adanya kecrangan dalam tes sehingga tidak membedakan antara siswa yang belajar dengan melakukan kecurangan.
  3. Pemberian petunjuk dari dari pengawas yang tidak dapat dilakukan pada semua siswa.
  4. Teknik pemberian skor yang tidak konsisten.
  5. Siswa tidak dapat memngikuti arahan yang diberikan dalam tes baku.
  6. Adanya joki (orang lain bukan siswa) yang masuk dalam menjawab item tes yang diberikan.
3)      Faktor yang berasal dari jawaban siswa
Seringkali terjadi bahwa interpretasi terhadap item-item tes evaluasi tidak valid, karena dipengaruhi oleh jawaban siswa dari pada interpretasi item-item pada tes evaluasi (Sukardi, 2008).

Macam-macam Validitas (skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi (2008) secara metodologis validitas suatu tes dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu validitas isi, validitas konstruk, validitas konkruen dan validitas prediksi. Macam-macam validitas tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1)      Validitas isi
Yang dimaksud validitas isi ialah derajat dimana sebuah tes evaluasi mengukur cakupan substansi yang ingin diukur. Untuk mendapatkan validitas isi memerlukan dua spek penting, yaitu valid isi dan valid teknik sampling.Valid isi mencakup khususnya, hal-hal yang berkaitan dengan apakah item-item evaluasi menggambarkan pengukuran dalam cakupan yang ingin diukur. Sedangkan validitas teknik sampling pada umunya berkaitan dengan bagaimanakah baiknya suatu sampel tes mempresentasikan total cakupan isi (Sukardi, 2008).
Sedangkan Arikunto (1997: 64) sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena materi yang diberikan tertera dalam kurikulum maka validitas isi juga disebut validitas kurikuler.
2)      Validitas Konstruk
Validitas konstruk merupakan derajat yang menunjukkan suatu tes mengukur sebuah konstruk sementara atau Hyptotetical construct. Secara definitife, konstruk merupakan suatu sifat yang tidak dapat diobservasi, tetapi kita dapat merasakan pengaruhnya melalui salah satu atau dua indera kita (Sukardi, 2008).
Sedangkan Arikunto(1997: 64) sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berfikir seperti disebutkan dalam tujuan instruksional khusus. Dengan kata lain jika butir-butir soal mengukur aspek berfikir tersebut sudah sesuai dengan aspek berfikir yang menjadi tujuan instruksional.
3)      Validitas Konkruen
Validitas konkruen adalah derajat dimana skor dalam suatu tes dihubungkan dengan skor lain yang telah dibuat. Tes dengan validitas konkruen biasanya diadministrasi dalam waktu yang sama atau dengan criteria valid yang sudah ada. Sering kali juga terjadi bahwa tes dibuat atau dikembangkan untuk pekerjaan yang sama seperti beberapa tes lainnya, tetapi dengan cara yang lebih mudah dan lebih cepat. Validitas konkruen ditentukan dengan membangun analisis hubungan dan perbedaan (Sukardi, 2008).
4)      Validitas Prediksi
Validitas prediksi adalah derajat yang menunjukkan suatu tes dapat memprediksi tentang bagaimana baik seseorang akan melakukan suatu prospek  atau tugas atau pekerjaan yang direncanakan. Validitas prediksi suatu tes pada umumnya ditentukan dengan membangun hubungan antara skor tes dan beberapa ukuran keberhasilan dalam situasi tertentu yang digunakan untuk memprediksi keberhasilan, yang selanjutnya disebut sebagai predictor. Sedangkan tingkah laku yang diprediksi disebut criterion (Sukardi, 2008).
Sedangkan menurut Arikunto(1997: 66) memprediksi artinya meramal, dan meramal selalun mengenai hal yang akan datang jika sekarang belum terjadi. Sebuah tes memiliki validitas prediksi atau validitas ramalan apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

Pengertian Validitas Instrumen (skripsi dan tesis)

Karakter pertama dan memiliki peranan sangat penting  dalam instrument evaluasi adalah valid. Suatu instrument dikatakan valid, seperti yang duterangkan oleh Gay (1983) dan Johnson & Johnson (2002), apabila instrument yang digunakan dapat mengukur apa yang seharusnya diukur (Sukardi, 2008).
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Scarvia B. Anderson (dalam Arikunto, 1997) bahwa “A test is valid if it measures what is purpose to measure”. Atau jika diartikan krang lebih, sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Dalam bahasa Indonesia “Valid” disebut dengan istilah “Sahih”.
Menurut Sukardi (2008: 31) validitas instrument suatu evaluasi, tidak lain adalah derajat yang menunjukkan dimana suatu tes mengukur apa yang hendak diukur. Validitas suatu instrument evaluasi mempunyai beberapa makna penting diantaranya seperti berikut:
1)      Validitas berhubungan dengan ketepatan interpretasi hasil tes atau instrument evaluasi untuk group individual dan bukan instrument itu sendiri.
2)      Validitas diartikan sebagai derajat yang menunjukkan kategori yang bisa mencakup kategori rendah, menengah dan tinggi.
3)      Prinsip suatu tes valid, tidak universal. Validitas suatu tes yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah bahwa Ia hanya valid untuk suatu tujuan tertentu saja.

Manfaat Kegiatan Menganalisis Butir Soal (skripsi dan tesis)

Berdasarkan pendapat yang diungkapkan oleh Anastasia dan Urbina (1997) dalam Suprananto (2012), analisis butir soal memiliki banyak manfaat, diantaranya yakni:

  1. Membantu pengguna tes dalam mengevaluasi kualitas tes yang digunakan,
  2. relevan bagi penyusunan tes informal seperti tes yang disiapkan guru untuk siswa dikelas,
  3. mendukung penulisan butir soal yang efektif,
  4. secara materi dapat memperbaiki tes di kelas,
  5. meningkatkan validitas soal dan reliabilitas.

     Linn dan Gronlund (1995) dalam Suprananto (2012: 163), menambahkan bahwa pelaksanaan kegiatan analisis butir soal, biasanya didesain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Apakah fungsi soal sudah tepat?
  2. Apakah soal telah memiliki tingkat kesukaran yang tepat?
  3. Apakah soal bebas dari hal-hal yang tidak relevan?
  4. Apakah pilihan jawabannya efektif?

Selain itu, data hasil analisis butir soal juga sangat bermanfaat sebagai dasar untuk:

  1. Diskusi tentang efisien hasil tes,
  2. kerja remedial
  3. peningkatan secara umum pembelajaran di kelas,
  4. peningkatan keterampilan pada kontruksi tes.

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa analisis butir soal memberikan manfaat:

  1. Menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi dengan baik,
  2. meningkatkan butir soal melalui tiga komponen analisis yaitu, tingkat kesukaran, daya pembeda dan pengecoh soal,
  3. merevisi soal yang tidak relevan degan materi yang diajarkan, ditandai dengan banyaknya anak yang tidak dapat menjawab butir soal tertentu.

Parameter Item Tes yang Baik (skripsi dan tesis)

Sebagaimana telah disebut sebelumnya, bahwa item tes yang baik adalah item yang memenuhi syarat sebagaimana kriteria atau karakteristik item tes yang baik. Karakteristik item yang dimaksud adalah tingkat kesulitan atau kesukaran, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh.

  1. Tingkat Kesulitan atau Kesukaran

Tingkat kesukaran soal adalah peluang menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Tingkat kesukaran dinyatakan dalam indeks kesukaran (dificulty index), yaitu angka yang menunjukkan proporsi siswa yang menjawab benar soal tersebut. Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dan hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu.

Dalam hal ini, item yang baik adalah item yang tingkat kesukarannya dapat diketahui,  tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Sebab, tingkat kesukaran item itu memiliki korelasi dengan daya pembeda. Bilamana item memiliki tingkat kesukaran yang maksimal, maka daya pembedanya akan rendah, demikian pula bila item itu terlalu mudah maka tidak akan memiliki daya pembeda.

Oleh karena itu, sebaiknya tingkat kesukaran soal itu dipertahankan dalam batas yang mampu memberikan daya pembeda. Namun, jika terdapat tujuan khusus dalam penyusunan tes, maka tingkat kesukaran itu bisa dipertimbangkan.  Misalnya, tingkat kesukaran item untuk tes sumatif berbeda dengan tingkat kesukaran pada tes diagnostik.

Untuk menghitung taraf kesukaran soal dari suatu tes dipergunakan rumus sebagai berikut:

TK = U + L

             T

Keterangan:

U  = jumlah siswa yang termasuk kelompok pandai (upper group) yang menjawab benar untuk tiap soal.

L    =  jumlah siswa yang termasuk kurang (lower group) yang menjawab benar untuk tiap soal.

T    =  jumlah siswa dari kelompok pandai dan kelompok kurang (jumlah upper group dan lower group)

Misalkan suatu tes yang terdiri atas N soal yang diberikan kepada 40 siswa. Dari hasil tes tersebut, tiap-tiap soal dianalisis taraf kesukarannya. mula-mula hasil tes itu kita susun kedalam peringkat, kemudian kita ambil 25% (10 lembar jawaban siswa kelompok pandai), dan 10 lembar jawaban siswa dari kelompok yang kurang pandai. Kemudian kita tabulasikan. Misalkan dari tabulasi soal kita peroleh hasil sebagai berikut: yang menjawab benar dari kelompok pandai ada 9 siswa, dan yang menjawab benar dari kelompok kurang pandai ada 4 siswa.

Dengan menggunakan rumus diatas, maka taraf kesukaran atau TK dari soal adalah:

TK =  U + L  =  9 + 4  =  0,65 atau 65%

             T             20 

Jadi dapat disimpilkan bahwa nilai dari TK atau tingkat kesukarannya adalah 65%.

Sedangkan dalam bukunya Drs. H. Daryanto, rumus untuk mencari taraf kesukaran atau indeks kesukaran adalah:

P =    B

         JS

Keterangan:

P      =  indeks kesukaran.

B     =  banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar.

JS    =  jumlah seluruh siswa peserta tes.

Contoh:

Jumlah siswa peserta tes dalam suatu kelas ada 40 siswa. Dari 40 siswa tersebut terdapat 12 siswa yang mampu mengerjakan soal no. 1 dengan benar. Maka berapa indeks kesukarannya?

Jawab:

P  =    B

          JS

    =    12

           40

    =   0,30

Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar.
  2. Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang.
  3. Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah.
  1. Daya Pembeda

Perhitungan daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana suatu butir soal mampu membedakan peserta didik yang sudah menguasai kompetensi dengan peserta didik yang belum atau kurang menguasai kompetensi berdasarkan kriteria tertentu. Semakin tinggi koofisien daya pembeda suatu butir soal, semakin mampu butir soal tersebut membedakan antara peerta didik yang menguasai kompetensi dengan pesertan didik yang kurang menguasai kompetensi.

Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi. Daya pembeda suatu soal tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

DP  =   U – L

              ½ T

Keterangan:

DP =   indeks DP atau daya pembeda yang dicari.

U = jumlah siswa yang termasuk dalam kelompok pandai yang mampu      menjawab benar untuk tiap soal.

L    =   jumlah siswa yang termasuk kurang yang menjawab benar untuk tiap soal.

T    =   jumlah siswa keseluruhan.

Contoh:

Dari hasil tes lomba olimpiade IPS, jumlah siswa yang dites adalah 40 siswa, sedangkan tes tersebut terdiri dari 20 soal. Setelah hasil tes tersebut diperiksa, kemudian disusun kedalam peringkat untuk menentukan 25% siswa yang termasuk kelompok pandai (upper group) dan 25% siswa yang termasuk kelompok kurang (lower group).

Kemudian hasil tes tersebut ditabulasikan dengan menggunakan format tabulasi jawaban tes, kemudian hasil tabulasi dari kedua kelompok tersebut dimasukkan kedalam format analisis soal tes, sehingga kita dapat menghitung tingkat kesukaran dan daya pembeda tiap soal yang kita analisis.

Misalkan dari tabulasi soal no. 1 kita peroleh hasil sebagai berikut: yang menjawab benar dari kelompok pandai ada 10 siswa, dan yang menjawab benar dari kelompok kurang ada 9 siswa. Maka daya pembedanya adalah:

 DP  =   U – L

              ½ T

       =    10 – 9

            ½ x (20)

       =      1

              10

      =     0,10

Jadi dapat disimpulkan bahwa indeks pembedanya adalah 0,10.

Dalam bukunya Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, dijelaskan mengenai klasifikasi daya pembeda, yaitu:

D =  0,00 – 0,20  =  jelek (poor).

D =  0,20 – 0,40  =  cukup (satisfactory).

D =  0,40 – 0,70  =  baik (good).

D =  0,70 – 1,00  =  baik sekali (excellent).

  1. Analisis pengecoh (Efektifitas Distraktor )

Instrumen evaluasi yang berbentuk tes dan objektif, selain harus memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan terdahulu, harus mempunyai distraktor yang efektif. Yang disebut dengan distraktor atau pengecoh adalah opsi-opsi yang bukan merupakan kunci jawaban (jawaban benar).

Butir soal yang baik pengecohnya akan dipilih secara merata oleh peserta didik yang menjawab salah. Sebaliknya, butir soal yang kurang baik, pengecohnya akan dipilih secara tidak merata. Pengecoh dianggap baik bila jumlah peserta didik yang memilih pengecoh itu sama atau mendekati jumlah ideal. Indeks pengecoh dihitung dengan rumus:

IP =   P  x   100%

       (N – B) (n – 1)

 Keterangan:

IP =  indeks pengecoh

P  =  jumlah peserta didik yang memilih pengecoh

N =  jumlah peserta didik yang ikut tes

B =  jumlah peserta didik yang menjawab benar pada setiap soal

n  =  jumlah alternatif jawaban

      1=  bilangan tetap

Catatan:

Jika semua peserta didik menjawab benar pada butir soal tertentu (sesuai kunci jawaban), maka IP = 0 yang berarti soal tersebut jelek. Dengan demikian pengecoh tidak berfungsi.

Contoh:

50 orang peserta didik dites dengan 10 soal bentuk pilihan ganda. Tiap soal memiliki alternatif jawaban (a, b, c, d, e). Kunci jawaban (jawaban yang benar) no. 8 adalah c. Setelah soal no.8 diperiksa untuk semua peserta didik, ternyata dari 50 orang peserta didik, 20 peserta didik menjawab benar dan 30 peserta didik menjawab salah. Idealnya, pengecoh dipilih secara merata.

Analisis Butir Soal Secara Kuantitatif (skripsi dan tesis)

Penelaahan soal secara kuantitatif adalah penelaahan butir soal didasarkan pada bukti empirik. Salah satu tujuan utama pengujian butir-butir soal secara emperik adalah untuk mengetahui sejauh mana masing-masing butir soal membedakan antara mereka yang tinggi kemampuannya dalam hal yang didefinisikan oleh kriteria dari mereka yang rendah kemampuannya.

Data empirik ini diperoleh dari soal yang telah diujikan. Ada dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif yaitu pendekatan secara klasik dan modern.

Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta tes guna meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Pada teori tes klasik, analisis item tes dilakukan dengan memperhitungkan kedudukan item dalam suatu kelas atau kelompok. Karakteristik atau kualitas item sangat tergantung pada kelompok dimana diujicobakan sehingga kualitas item terikat pada sampel responden atau peserta tes yang memberikan respons (sample bounded).

Ada beberapa kelebihan analisis butir soal secara klasik adalah murah, sederhana, familiar, dapat dilaksanakan sehari-hari dengan cepat menggunakan komputer dan dapat menggunakan beberapa data dari peserta tes.

Analisis butir soal secara modern adalah penelaahan butir soal dengan menggunakan teori respon butir atau item response theory. Teori ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu butir dengan kemampuan siswa.

Teori ini muncul karena adanya beberapa keterbatasan pada analisis secara klasik, yaitu:

  1. Tingkat kemampuan dalam teori klasik adalah true score. Artinya, jika suatu tes sulit maka tingkat kemampuan peserta tes akan rendah.sebaiknya, jika suatu tes mudah maka tingkat kemampuan peserta tes tinggi.
  2. Tingkat kesukaran butir soal didefinisikan sebagai proporsi peserta tes yang menjawab benar. Mudah atau sulitnya butir soal tergantung pada kemampuan peserta tes.
  3. Daya pembeda, reliabilitas, dan validitas tes tergantung pada kondisi peserta tes.

Analisis Butir Soal Secara Kualitatif (skripsi dan tesis)

Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap). Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan atau diujikan. Aspek yang diperhatikan dalam penelaahan secara kualitatif mencakup aspek materi, konstruksi, bahasa atau budaya, dan kunci jawaban.

Ada beberapa teknik yang digunakan untuk menganalisis butir soal secara kualitatif, yaitu teknik moderator dan teknik panel. Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang didalamnya terdapat satu orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan secara bersama-sama dengan beberapa ahli.

Sedangkan teknik panel adalah teknik menelaah butir soal berdasarkan kaidah penulisan butir soal. Kaidah itu diantaranya adalah materi, kontruksi, bahasa atau budaya, kebenaran kunci jawaban. Caranya beberapa penelaah diberikan beberapa butir soal yang akan ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penelaahan.

Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif penggunaan format penelaahan soal akan membantu dan mempermudah prosedur pelaksanaannya. Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk menganalisis setiap butir soal

Pengertian Analisi Butir Soal (skripsi dan tesis)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.

Analisis butir soal yang dalam bahasa inggris disebut item analiysis dilakukan terhadap empirik. Maksudnya, analisis itu baru dapat dilakukan apabila suatu tes telah dilaksanakan dan hasil jawaban terhadap butir-butir soal telah kita peroleh. Analisis butir soal adalah suatu kegiatan analisis untuk menentukan tingkat kebaikan butir-butir soal yang terdapat dalam suatu tes sehingga informasi yang dihasilkan dapat kita pergunakan untuk memperbaiki butir soal dan tes tersebut.

 

Identifikasi terhadap setiap butir item soal dilakukan dengan harapan akan menghasilkan berbagai informasi berharga, yang pada dasarnya akan merupakan umpan balik (feed back) guna melakukan perbaikan, pembenahan, dan penyempurnaan kembali terhadap butir-butir soal, sehingga pada masa-masa yang akan yang akan dating tes hasil belajar yang disusun atau dirancang oleh guru itu betul-betul dapat menjalankan fungsinya sebagai alat pengukur hasil belajar yang memiliki kualitas yang tinggi.

Aiken dalam Suprananto (2012) berpendapat bahwa kegiatan analisis butir soal merupakan kegiatan penting dalam penyusunan soal agar diperoleh butir soal yang bermutu. Tujuan kegiatan ini adalah:

  1. Mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum digunakan,
  2. meningkatkan kualitas butir tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif,
  3. mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka telah memahami materi yang telah diajarkan.

Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya tentang siswa mana yang telah menguasai materi dan siswa mana yang belum menguasai materi. Selanjutnya menurut Anastasia dan Urbina (1997) dalam Suprananto (2012), analisis butir soal dapat dilakukan secara kualitatif (berkaitan dengan isi dan bentuknya) dan kuantitatif (berkaitan dengan ciri-ciri statistiknya). Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruksi, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran validitas dan reliabilitas butir soal, kesulitan butir soal serta diskriminasi soal. Kedua teknik ini masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan, oleh karena itu teknik terbaik adalah menggunakan atau memadukan keduanya.

Analisis item (skripsi dan tesis)

Analisis item adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menganalisis apakah item-item pada suatu alat tes telah memenuhi fungsinya, yaitu:

  • Mewakili domain tingkah laku
  • Memiliki derajat kesulitan yang tepat
  • Memiliki daya diskriminasi yang maksimal

Menurut Kaplan & Saccuzzo (2005), analisis item adalah kegiatan mengevaluasi item-item alat tes. Dari kegiatan ini diharapkan didesain sebuah alat tes dengan jumlah item minimum, namun reliabilitas dan validitas yang maksimum.

Analisis item dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.

  • Kualitatif; menyangkut keterwakilan tingkah laku domain menjadi item dalam alat tes (konten dan form)à content validity (menyangkut expert judgement)
  • Kuantitatif; dibagi menjadi item difficulty & item discriminant.
    • item difficulty merupakan presentase (proporsi) orang yang menjawab item dengan benar (P), sedangkan
    • item discriminant adalah perbandingan antara proporsi orang yang menjawab benar dalam kelompok upper dengan proporsi orang yang menjawab benar dalam kelompok lower. Perbedaan proporsi ini disebut sebagai index of discrimination (D).

Teknik Analisis Fungsi Distraktor (skripsi dan tesis)

Pada saat membicarakan tentang tes obyektif bentuk multiple choice item telah dikemukakan bahwa pada tes obyektif bentuk multiple choice item tersebut untuk setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar telah dilengkapi dengan beberapa kemungkinan jawaban, atau yang sering dikenal dengan istilah option atau alternatif. Option atau alternatif itu jumlahnya berkisar antara tiga sampai dengan lima buah, dan dari kemungkinan-kemungkinan jawaban yang terpasang pada setiap butir item itu, salah satu diantaranya adalah merupakan jawaban betul (= kunci jawaban); sedangkan sisanya adalah merupakan jawaban salah. Jawaban-jawaban salah itulah yang biasa dikenal dengan istilah distractor (distraktor = pengecoh). Tujuan utama dari pemasangan distraktor pada setiap butir item itu adalah, agar dari sekian banyak testee yang mengikuti tes hasil belajar ada yang tertarik atau terangsang untuk memilihnya, sebab mereka menyangka bahwa distraktor yang mereka pilih itu merupakan jawaban betul. Jadi mereka pilih itu merupakan jawaban betul. Jadi mereka terkecoh. Tentu saja, makin banyak testee yang terkecoh, maka kita dapat menyatakan bahwa distraktoritu makin dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Distraktor dinyatakan telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distraktor tersebut sekurang-kurangnya sudah dipilih oleh 5% dari seluruh peserta tes. Misalnya, tes hasil belajar diikuti oleh 100 orang testee. Distraktor yang dipasang pada item tersebut dapat dinyatakan berfungsi apabila minimal 5% orang dari 100 orang testee itu sudah “terkecoh” untuk memilih distraktor tersebut.

Teknik Analisis Daya Pembeda Item (skripsi dan tesis)

Daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan ( mendiskriminasi) antara testee yang berkemampuan tinggi ( pandai), dengan testee yang berkemampuan rendah (= bodoh). Mengetahui daya pembeda item itu penting sekali, sebab salah satu dasar yang dipegangi untuk menyusun butir-butir item tes hasil belajar adalah adanya anggapan, bahwa kemampuan antara testee yang satu dengan testee yang lain itu berbeda-beda, dan bahwa butir-butir item tes hasil belajar itu haruslah mampu memberikan hasil tes yang mencerminkan adanya perbedaan-perbedaan kemampuan yang terdapat di kalangan testee tersebut. Daya pembeda item dapat diketahui dengan cara melihat besar kecilnya angka indeks diskriminasi item, yaitu angka yang nenunjukkan besar kecilnya daya pembeda (diskrimnasi power) butir item

Teknik Analisis Derajat Kesukaran Item (skripsi dan tesis)

 

Derajat kesukaran item atau taraf kesulitan butir-butir item tes hasil belajar heruslah seimbang atau sedang, dalam artian tidak terlalu sukar dan tidak terlalu sulit. Hal inilah yang membuat bermutu atau tidaknya butir-butir item tes hasil belajar. Untuk mengetahui tingkat kesulitan butir item tes hasil belajar dikenal dengan istilah difficulty index (angka index kesukaran item) dalam dunia evaluasi belajar umumnya dilambangkan dengan huruf P (proporstion).Dalam kaitan dengan hasil analisis item dari segi derajat kesukaran, maka tindak lanjut yang perlu dilakukan oleh tester adalah sbegai berikut: 1. Untuk butir-butir item yang berdasarkan hasil analisis dalam kategori baik, seyogyanya butir item tersebut segera dicatat dalam buku bank soal. 2. Untuk butir-butir item yang masuk dalam kategori terlalu sukar ada tiga kemungkinan yaitu: (1) butir item tersebut dibuang atau tidak dikelaurkan lagi dalam tes hasil belajar yang akan datang; (2) diteliti ulang, dilacak dan ditelusuri untuk mengetahui factor kesulitan dari butir item tersebutsetelah ada perbaikan maka buitr item terdebut dapat dikeluarkan lagi dalam tes hasil belajar yang akan datang; (3) butir item yang terlalu sukar tidak digunakan dalam tes hasil belajar tetapi dimanfaatkan untuk tes-tes yang lain seperti tes seleksi yang sifatnya ketat, dengan tujuan testee yang berkemampuan rendah akan mudah tersisihkan dari seleksi. 3. untuk butir item yang masuk dalam kategori mudah juga terdapat tiga kemungkinan yaitu: (1) buti item tersebut tidak dipakai dalam tes hasil belajar slanjutnya, (2) diteliti ulang, dilacak dan di telusuri faktornya, setelah ada perbaikan dapat dikeluarkan lagi pada tes hasil belajar berikunya untuk mengetahui derajat kesukarannya lebih baik ataukah tidak,(3) sama seperti halnya butir item yang sukar, butir item ini dapat digunakan dalam tes seleksi yang sifatnya longgar atau tes formalitas saja, tetapi tidak digunakan dalam tes hasil belajar. Kelemahan utama yang terdapat pada angka indeks kesukaran rata-rata P ialah, adanya hubungan yang terbalik antara derajat kesukaran item dengan angka indek itu sendiri. Karena makin rendah angka indeks kesukaran item yang dimiliki oleh sebutir item akan semkain tinggi derajat kesukaran item tersebut, sebaliknya semakin tinggi angka indeks kesukaran yang dimiliki oleh sebutir item, maka derajat kesukaran item tersebut semakin rendah. Jadi hubunga diantara keduanya hubungan yang berlawanan arah. Cara kedua yang dapat ditempuh dalam mencari atau menghitung angka indeks kesukaran item adalah dengan menggunakan skala kesukaran linear. Skala kesukaran linear ini disusun dengan cara mentransformasikan nilai P menjadi nilai z, dimana perubahan dari P ke z itu dilakukan dengan berkonsultasi pada tebal nilai z yang pada umumnya dilampirkan pada buku-buku statistik.

Pengukuran Dalam Analisa Item (skripsi dan tesis)

Menurut Crocker & Algina (1986) pengukuran yang umum digunakan dalam analisa item, adalah: Item difficulty, Item discrimination, dan Item-total correlation.

a. Item Difficulty

Jika skoring pada sebuah item itu dikotomi, maka rata-rata skor item berhubungan dengan banyaknya subyek yang menjawab item tersebut dengan benar. Proporsi orang yang menjawab benar untuk item inilah yang disebut dengan item difficulty, atau yang biasa diberi simbol p (Anastasi & Urbina, 1997).

b. Item Discrimination

Tujuan dari kebanyakan pengukuran psikologis adalah memberikan informasi mengenai perbedaan individu (individual differences) dalam hal konstruk yang diukur tes atau dari kriteria eksternal yang ingin diprediksi oleh alat tes tersebut

(Crocker&Algina, 1986). Oleh karena itu sebuah tes perlu memiliki daya diskriminasi. Pengertian dari daya diskriminasi adalah derajat dimana item dapat membedakan responden dengan skor tinggi dan skor rendah (Cohen&Swerdlik,2005).

erdapat beberapa metode untuk melihat daya diskriminasi sebuah item. Salah satu metodenya melakukan perbandingan dengan cara membedakan kelompok responden dengan menentukan titik potong pada distribusi skor (Crocker&Algina, 1986; Kaplan&Saccuzzo, 2005). Sedangkan metode lainnya merupakan metode koefisien korelasi. Berikut adalah penjelasan mengenai setiap metode.

c.  Item Total Corellation

Metode item-total correlation merupakan suatu teknik analisis item yang mengkorelasikan skor item dengan skor total keseluruhan(Crocker & Algina, 1986; Guilford, 1954; Kaplan & Saccuzzo, 2005; Nunnally & Bernstein, 1994). Dengan kata lain, daya diskriminasi item melihat apakah subyek yang mampu menjawab sebuah item dengan benar juga bisa menjawab dengan benar pada item- item lainnya (Kaplan, 2005). Beberapa jenis korelasi yang digunakan dalam pengujian ini adalah Pearson’s Product Moment Correlation, Point Biserial Correlation, Biserial Correlation, Phi Coefficient, atau Tetrachoric Correlation Coefficient (Crocker & Algina, 1986). Grimm (1993) menjelaskan bahwa jika skor item dan skor total berupa variabel kontinu maka metode korelasi yang digunakan adalah Pearson’s Product Moment Correlation. Kemudian jika variabel skor total adalah kontinu dan skor item dikotomi, maka metode korelasi yang digunakan adalah Point Biserial atau Biserial Correlation.

Analisis Item (skripsi dan tesis)

Dalam penyusunan sebuah alat ukur, tahapan yang harus dilakukan adalah analisis item (Guilford & Fruchter, 1985). Istilah analisis item digunakan untuk mendefinisikan perhitungan dan pengujian statistikal terhadap skor-skor item alat ukurindividual (Crocker & Algina, 1986). Sebuah item dapat dianalisa, baik itu analisa kualitatif (berdasarkan isi maupun bentuk dari item tersebut) dan analisa kuantitatif (berdasarkan muatan-muatan statistik seperti daya prediktif, daya beda dari item tersebut). Analisa kualitatif mencakup pertimbangan isi validitas, sedangkan analisa kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi item (Anastasi & Urbina, 1997). Tujuan utama dalam melakukan analisa item adalah untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas suatu alat ukur(Guilford & Frutcher, 1985).

Data Persepsi (Skripsi dan tesis)

Persepsi pada dasarnya menyangkut proses informasi pada diri seseorang dalam hubungannya dengan obyek stimulus. Dengan demikian persepsi merupakan gambaran arti atau interpretasi yang bersifat subyektif, artinya persepsi sangat tergantung kemampuan dan keadaan diri yang bersangkutan. Dalam kamus psikologi persepsi diartikan sebagai proses pengamatan seseorang terhadapsegala sesuatu di lingkungannya dengan menggunakan indera yang dimilikinya, sehingga menjadi sadar terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan tersebut. Data persepsi dapat diperoleh secara pendekatan langsung (direct) atau diturunkan (derived) (Supranto,2004). Untuk mendapakan data persepsi secara langsung, responden diminta membuat pertimbangan mengenai kemiripan atau ketidakmiripan (similarity or dissimilarity) berbagai jenis merek atau stimulus. Pendekatan turunan ialah mengumpulkan data persepsi dengan pendekatan berbasis pada atribut, menghendaki responden memberikan nilai merek atau stimulus pada atribut yang teridentifikasi.

Model (skripsi dan tesis)

Definisi model adalah suatu penggambaran abstrak dari sistem dunia
nyata, yang akan bertindak seperti dunia nyata untuk aspek-aspek tertentu.
Model dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu model kuantitatif, kualitatif, dan
ikonik. Model yang baik akan memberikan gambaran perliaku dunia nyata
sesuai dengan permasalahan dan akan meminimalkan perilaku yang tidak
signifikan dari sistem yang dimodelkan.
Salah satu cara untuk menyelesaikan permsalahan yang kompleks
adalah dengan menggunakan konsep model simulasi. Dengan menggunakan
simulasi, maka model akan mengkomputasikan jalur waktu dari variabel
model untuk tujuan tertentu dari input sistem dan parameter model. Karena itu
model simulasi akan dapat memprediksi dunia riil yang kompleks. Model juga
dapat digunakan untuk keperluan optimasi, dimana suatu kriteria model
dioptimalkan terhadap input atau struktur sistem alternatif. Karena itu, model
dapat dibangun dengan basis data (data base) atau basis pengetahuan
(knowledge base)
Tahapan-tahapan untuk melakukan simulasi model adalah sebagai berikut.
a. Penyusunan konsep
Pada tahap ini dilakukan identifikasi variabel-variabel yang berperan
dalam menimbulkan gejala atau proses. Variabel-variabel tersebut saling
berinteraksi, saling berhubungan, dan saling berketergantungan. Kondisi ini
28
dijadikan sebagai dasar untuk menyusun gagasan atau konsep mengenai gejala
atau proses yang akan disimulasikan.
b. Pembuatan model
Gagasan atau konsep yang dihasilkan pada tahap pertama selanjutnya
dirumuskan sebagai model yang berbentuk uraian, gambar, atau rumus.
c. Simulasi
Simulasi dilakukan dengan menggunakan model yang telah dibuat. Pada
model kuantitatif, simulasi dilakukan dengan memasukkan data ke dalam
model, sedangkan pada model kualitatif, simulasi dilakukan dengan
menelusuri dan melakukan data atau informasi yang dikumpulkan untuk
memahami perilaku gejala atau proses model.
d. Validasi hasil simulasi
Validasi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi
dengan gejala atau proses yang ditirukan. Model dapat dinyatakan baik jika
kesalahan atau simpangan hasil simulasi terhadap gejala atau proses yang
terjadi di dunia nyata relatif kecil. Hasil simulasi yang sudah divalidasi
tersebut digunakan untuk memahami perilaku gejala atau proses serta
kecenderungan di masa depan, yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi
pengambil keputusan untuk merumuskan suatu kebijakan di masa mendatang
(Eriyatno, 2003 dalam Yuniarti 2010)

Analisis Prospektif (skripsi dan tesis)

Analisis prospektif adalah suatu cara atau pendekatan untuk
menganalisis beragam kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa
depan, berdasarkan situasi saat ini. Analisis prospektif tidak sama dengan
peramalan karena situasi saat ini tidak dapat digunakan untuk meramal masa
depan.
La prospective berasal dari Bahasa Perancis yang apabila
diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi a preactive and proactive
approach atau apabila diterjemahkan dalam satu kata yang sepadan adalah
foresight karena kata proactivity jarang digunakan. Bila diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia menjadi tinjauan ke masa depan. Pendekatan
prospektif menekankan pada proses-proses evolusi jangka panjang, sehingga
dimensi waktu menjadi salah satu unsurnya. Analisis prospektif ini adalah
salah satu dari metoda dengan pendekatan sistem.
Tujuan analisis prospektif adalah:
1) untuk mendefinisikan tujuan pembangunan jangka panjang dari sistem
yang dipelajari,
2) untuk menentukan strategi yang akan diikuti agar sistem mencapai tujuan.
Strategi berupa rangkaian keputusan yang penting untuk mencapai tujuan
dan dugaan untuk memperkirakan interaksi yang mungkin sebagai akibat
dari setiap keputusan
3) untuk menterjemahkan strategi kedalam perencanaan, tujuan umum dan
strategi yang muncul dari analisis prospektif yang berguna untuk
menentukan prioritas dalam proses perencanaan.
Analisis prospektif tepat digunakan untuk perancangan strategi karena
analisis prospektif dapat digunakan untuk mempersiapkan tindakan strategis
dan melihat apakah perubahan dibutuhkan di masa depan. Terdapat tiga
langkah yang harus dilakukan dalam analisis prospektif, yaitu:
1) mengidentifikasi faktor penentu di masa depan,
2) menentukan tujuan strategis dan kepentingan pelaku utama (stakeholder)
3) mendefinisikan dan mendeskripsikan evolusi kemungkinan masa depan.
(Godet et al., 1999 dalam Yuniarti, 2010)

Multi dimensional scaling (skripsi dan tesis)

Multi dimensional scaling (kerap dlsingkat MOS, dan untuk selanjutnya singkatan lni akan digunakan dalam tulisan lni) merupakan suatu metode yang mempresentasikan kesamaan atau ketldaksamaan jarak perbedaan antar objek (Suryabrata, 2000). Makin mirip objek tertentu dengan objek lainnya, maka makin dekat jarak antara objek yang bersangkutan, sedangkan makin Jauh jarak antar objek menunjukkan makin tidak menyerupal (berbeda). MOS terkait dengan situasi di mana stimuli secara simuftan sangat bervariasi dengan beberapa dimensi (Torgerson, 1956). Sementara Messick (1956a) menyatakan bahwa yang dimaksud MOS adalah satu teknik untuk melakukan estimasi jarak antara titik dari serangkaian stimuli. Pada tulisan lainnya Messick (1955) mengungkap bahwa model pengukuran MOS berdasar pada analisis Euclidean jarak  psikologis, dan jarak tersebut secara umum dapat diperoleh dari keputusan kesamaan di antara stimuli dibanding dimensi yang telah didefinisikan. Gullford (1954) menyatakan esensi dari teori MOS adalah sekumpulan stimuli yang sama dapat direpresentasikan sebagai serangkaian titik dalam ruang dimensi n. Dalam mengkaji tema yang sama Messick (1955) mengungkap bahwa konsep dasar dari MOS adalah jarak psikologis, yang merupakan konstruk dan secara luas telah digunakan oleh para ahli psikologi, sedangkan keputusan jarak psikologis ini dapat diperoleh melalui konsep kesamaan dan ketldaksamaan di antara stimuli, atau konsep lain dibanding dengan kesamaan (dalam atribut sikap misalnya setuju dan ketidaksetujuan). Leblh lanjut Suryabrata (2000} menambahkan bahwa MOS digunakan untuk menellti kesamaan (similarity) dan ketidaksamaan (dissimilarity) satu objek yang direpresentasikan dengan jarak (distance) melalui pengamatan letak titik  dalam bidang berdlmensi 2 (dua) atau 3 (tiga). Semakin dekat jarak antar titik semakin sama (similarity) atau dapat juga dapat dimaknai semakin tlnggi tingkat korefasinya, dan begitu sebaliknya semakin jauh letak titik dari titik lainnya, semakin tidak sama (dissimilarity) atau semakin rendah tingkatkorelasinya. 

Data Rasio (skripsi dan tesis)

Skala pengukuran rasio pada dasarnya adalah skala pengukuran interval yang
memiliki nilai 0 mutlak dan bilangan-bilangannya dapat diperbandingkan secara mutlak. Contoh data rasio adalah data hasil pengukuran berat, panjang, banyaknya benda dan lain sebagainya. Jika kita nyatakan panjang benda adalah 0 cm, artinya benda itu tidak memiliki panjang sama sekali. Nilai 0 pada skala ini memang menunjukkan bahwa atribut yang diukur sama sekali tidak ada pada obyek yang bersangkutan. Demikian pula, dapat dikatakan bahwa obyek dengan panjang 15 cm adalah lima kali lebih panjang dari pada obyek dengan panjang 3 cm. Data berlevel rasio dapat dikenai keempat operasi hitung yaitu perkalian, pembagian, penambahan dan pengurangan. Data rasio bersifat invarian ketika dikenai transformasi dengan rumusan Y=cX dengan c adalah bilangan konstan. Operasi statistik yang diperbolehkan untuk data rasio adalah koefisien variasi, mean geometris dan mean harmonis

Data Interval (skripsi dan tesis)

Suatu hasil pengukuran disebut berada pada level interval jika hasil pengukuran tersebut adalah hasil pengukuran ordinal yang memiliki jarak antarjenjang yang tetap atau selalu sama. Bila terdapat jenjang kualitatif 1, 2 dan 3, maka secara kualitatif dan kuantitatif jarak antara 1 dan 2 adalah sama dengan jarak antara 2 dan 3. Seperti hasil pengukuran ordinal, data interval tidak memiliki harga 0 mutlak. Salah satu contoh hasil pengukuran interval adalah hasil pengukuran suhu pada thermometer. Bilangan-bilangan pada thermometer memperlihatkan jenjang dan kadar suhu yang berinterval sama. Dapat dikatakan bahwa 360 C adalah 60 C lebih panas daripada 300 C. Sedangkan 120 C adalah 60 C lebih dingin daripada 180 C. Akan tetapi, tidak dapat dikatakan bahwa 360 C adalah tiga kali lebih panas daripada 120 C. Bilangan 0 pada pengukuran suhu tidak bersifat mutlak. Artinya suhu 00 C tidak berarti tidak memiliki panas sama sekali. Perbedaan bilangan pada
level interval memiliki arti perbedaan kualitatif dan kuantitatif. Data pada level interval dapat diolah dengan operasi hitung penambahan dan pengurangan. Data hasil pengukuran interval akan bersifat invariant jika dikenai transformasi linier yaitu transformasi bilangan dengan persamaan garis lurus yang dirumuskan sebagai y=a+bx. Operasi statistik yang dapat digunakan untuk data interval adalah mean aritmatik, standar deviasi, deviasi rata-rata, korelasi product-moment, t-test dan F-test

Data Ordinal (skripsi dan tesis)

Suatu hasil pengukuran disebut berada pada level ordinal jika nilai berfungsi
untuk menunjukkan perbedaan jenjang kualitatif. Perbedaan nilai antar obyek
tidak menunjukkan perbedaan kuantitatif tetapi hanya menunjukkan perbedaan kualitatif. Bila terdapat jenjang kualitatif 1, 2 dan 3, dapat dikatakan 3>2 dan 2>1 serta 3>1. Akan tetapi, jarak antara 3 dan 2 dengan jarak antara 2 dan 1 tidak dapat dikatakan sama. Jarak jenjang antara dua nilai yang berurutan tidak selalu sama. Nilai 0 dalam skala ordinal tidak memiliki nilai mutlak. Contoh penerapan data ordinal adalah pemberian rangking misalnya untuk siswa-siswi dalam suatu kelas. Jenjang kualitatif antara rangking pertama dengan rangking kedua belum tentu sama dengan jenjang kualitatif antara rangking kedua dengan rangking ketiga. Karena jarak antara dua nilai yang berurutan tidak selalu sama secara kualitatif maka setiap nilai jenjang dapat diganti dengan nilai lain selama urutan jenjang yang satu dengan jenjang yang lain tidak berubah. Penggantian ini disebut transformasi monotonik. Transformasi monotonik mengubah nilai tetapi tidak merubah urutan bilangan. Operasi statistik yang diijinkan untuk data ordinal adalah median, persentil, korelasi rangking, Sign Test dan Run Tes