Validitas Konvergen (skripsi dan tesis)

Validitas konvergen mengacu pada dua hal yang sama dikorelasikan memiliki korelasi positif tertentu. Semakin tinggi nilai suatu skala, maka semakin tinggi pula nilai skala yang lain, begitu pula sebaliknya. Dasar korelasi adalah teori yang mendasari

Validitas Multitrait-Multimethod (skripsi dan tesis)

Model ini diperkenalkan oleh Campbell dan Fiske. Asumsi dasar dari metode ini adalah, pertama, konstrak yang sama saat diukur dengan berbagai metode, menunjukkan korelasi positif. Kedua, konstrak yang berbeda jika diukur dengan cara yang sama atau pun berbeda, maka tidak berkorelasi atau berkorelasi rendah. Model multitrait multimethod harus memiliki dua konstrak yang diukur menggunakan dua model penskalaan yang berbeda. Validitas ini merupakan gabungan validitas konvergen dan diskriminan (Periantalo, 2016)

Validitas Konstrak (skripsi dan tesis)

Validitas konstrak menunjukkan sejauh mana skala psikologi mengukur trait (konstrak) teoritik yang hendak diukurnya. Validitas konstrak merupakan kelanjutan validitas isi. Aitem yang telah dibuat kemudian diuji kontrak teoritisnya. Pengujian dilakukan melalui pengambilan data di lapangan. Data pengujian skala dilihat konstrak yang membentuk melalui analisis statistik. Analisis statistik memberikan data pengukuran. Ada beberapa metode dalam mencapai validitas konstrak. Metode yang umum digunakan adalah multitrait-multimethod dan analisis faktor (Periantalo, 2016).

Validitas Tampang (skripsi dan tesis)

Validitas tampang mengacu pada tampang suatu skala psikologi, baik bentuk maupun instruksi. Tujuannya untuk mencapai apresiasi subjek. Subjek diharapkan termotivasi mengerjakan skala psikologi, sehingga subjek bisa mengeluarkan hal yang sebenarnya dalam dirinya (Periantalo, 2016). Validitas tampang merupakan validitas terendah, tetapi sangat penting peranannya. Validitas ini merupakan apresiasi kepada subjek, bentuk hormat peneliti kepada subjek penelitian 25 dan peneliti memperlakukannya secara manusiawi, sehingga subjek merasa tenang dalam pengerjaan skala dan menjawab sungguh-sungguh. Subjek yang menjawab asal-asalan berarti kurang termotivasi untuk mengerjakan skala, maka data skala psikologi bisa menjadi tidak valid. Oleh karena itu, validitas tampang dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu (Periantalo, 2016): a) Membuat skala dengan desain menarik, sehingga subjek yang melihat skala memiliki keinginan untuk mengerjakan skala b) Di waktu dan tempat yang nyaman bagi subjek sehingga subjek merasa tenang saat mengerjakan skala. c) Menyusun kata pengantar yang mengungkapkan tujuan dari penelitian dan memberikan pujian kepada subjek, sehingga subjek merasa bahwa dirinya adalah orang yang bermanfaat. d) Memberikan reward sebagai bentuk memperhatikan subjek.

Validitas Isi (skripsi dan tesis)

Validitas Isi menunjukkan sejauh mana seperangkat aitem mengukur apa yang hendak diukur. Sejauh mana aitem dalam suatu instrumen psikologi dapat menggambarkan apa yang hendak diukur (Azwar, 2016; Periantalo, 2016). Dalam hal ini, validitas didapat melalui penurunan konstrak ke dimensi, indikator perilaku sampai ke aitem, sehingga penulisan aitem merupakan esensi dari pencapaian validitas isi.

Validitas (skripsi dan tesis)

 Berasal dari kata validity yang berarti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu instrumen pengukuran dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat ukur tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran  tersebut. Valid atau tidaknya suatu alat ukur tergantung pada mampu atau tidaknya alat ukur tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat (Azwar, 2010). Analisis validitas berfokus pada usaha mengidentifikasikan dan meminimalkan dampak aneka variabel yang menyebabkan perbedaan dalam skor murni (Friedenberg dalam Supratiknya, 2014). Suatu alat ukur yang valid tidak sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat, tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Dalam konteks ini pengukuran yang valid adalah pengukuran dari alat ukur yang dibuat dengan metode yang benar dan implementasi pengukuran yang benar pula. Jika implementasi pengukuran benar, tetapi alat ukur tidak benar, maka hasil pengukuran juga tidak benar dan akan menghasilkan kesalahan pengukuran yang disebut measurement bias (measurement error), dan begitu pula sebaliknya (Murti, 2011).
Tujuan analisis validitas adalah menentukan sejauh mana skor murni ditentukan oleh sifat atau kemampuan atau atribut yang relevan dengan tujuan tes (Supratiknya, 2014; Ancok, 1995). Sekiranya peneliti menggunakan kuesioner di dalam pengumpulan data penelitian, maka kuesioner yang disusunnya harus mengukur apa yang ingin diukurnya. Alat ukur yang valid memiliki varians error yang kecil karena error pengukurannya kecil sehingga angka yang dihasilkan dapat dipercaya sebagai angka yang sebenarnya atau angka yang mendekati keadaan sebenarnya. Secara empirik, validitas dinyatakan dalam suatu koefisien 24 yaitu koefisien validitas. Validitas dinyatakan oleh korelasi antara distribusi skor tes yang bersangkutan dengan distribusi skor suatu kriteria yang relevan. Koefisien validitas hanya mempunyai makna apabila mempunyai harga positif. Semakin tinggi koefisien validitas mendekati angka 1,0 maka semakin valid hasil ukurnya (Azwar, 2010).

Skala pengukuran (skripsi dan tesis)

Skala pengukuran sangat diperlukan untuk memastikan objek yang diteliti sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Skala yang digunakan bisa berupa satuan yang telah disepakati ahli seperti Satuan Internasional (SI) atau skala yang ditetapkan peneliti sendiri yang dijelaskan dengan menggunakan keteraturan yang jelas pula. Untuk memudahkan pengumpulan data, maka jenis data dapat dibedakan menjadi data numerik (kuantitatif) dan non-numerik (kualitatif). Data numerik dapat berupa dekresi dan kontinu. Data deskresi dapat berupa jumlah bahan, sebagai contoh jumlah kacang dalam satu wajan. Sementara data kontinu adalah data yang diperoleh dari pembacaan pengukuran, sebagai contoh, pembacaan timbangan 100 gr kacang. Pengumpulan data numerik juga sering disebut pengumpulan data parametrik. Data non-numerik dapat berupa skala nominal dan skala ordinal. Skala nominal sebagai contoh pengukuran warna merah, hijau dll. Sementara skala ordinal adalah skala yang didasarkan atas tingkatan seperti, tingkat kesukaan, tidak suka-suka-sangat suka dll.   Pada beberapa kondisi, dimungkinkan untuk memilih apakah akan mengumpulkan data kuantitatif atau kualitatif. Sebagai contoh, Anda dapat meminta umur (usia) orang sebenarnya mereka (kuantitatif) atau mereka memilih dalam kategori adalah anak, remaja, dewasa, atau warga senior (kualitatif). Dengan pra-perencanaan metode analisis data, dapat memilih jenis data dan dengan demikian, desain eksperimental yang paling tepat untuk tujuan penelitian

Jenis Variabel (skripsi dan tesis)

1. Variabel diskrit dan variabel kontinyu. Nilai numerik yang diberikan pada variabel didasarkan pada sifat yang beragam. Misalnya untuk variabel yang bersifat dikotomi mempunyai 2 nilai yang menunjukkan ada atau tidak adanya sifat tertentu, contohnya pria-wanita, pengangguran-bukan pengangguran. Variabel juga bisa terdiri dari dua kategori, misalnya, suku, agama, jenis perusahaan, dan lain-lain. Semua variabelvariabel dalam bentuk kategori-kategori tersebut disebut variabel diskrit. Sedangkan pendapatan, suhu, umur, nilai ujian adalah contoh-contoh variabel kontinyu.

2. Variabel bebas (independent) dan variabel tak bebas atau tergantung (dependent). Jenis variabel ini terutama digunakan dalam menganalisis hubungan antara variabel, yaitu variabel tak bebas dipengaruhi oleh variabel tak bebas. Misalnya, penelitian tentang pengaruh dosis ragi dan penambahan gula terhadap kualitas Gizi dan uji sensori tape biji gandum maka dosis ragi dan penambahan gula adalah variabelvariabel bebas akan mempengaruhi kualitas Gizi dan analisa sensori (variabel tak bebas).

3. Variabel nominal, ordinal, interval, dan ratio. Pengklasifikasian ini didasarkan pada tingkat pengukurannya, yang akan dijelaskan secara lengkap pada berikutnya.

4. Variabel kuantitatif dan kualitatif. Variabel kuantitatif menggunakan skala numerik atau metrik sehingga bisa ditransformasikan melalui operasi matematika dan analisis statistika yang lengkap. Sedangkan variabel kualitatif menggunakan skala nonnumerik (karakter atau string) atau non-metrik. Teknik analisis untuk variabel kualitatif, baik operasi matematika atau analisis statistika, relatif lebih terbatas dibandingkan variabel kuantitatif.

Pengertian Variabel (Skripsi dan tesis)

Variabel adalah konsep yang mempunyai variasi sifat yang dapat dinyatakan dengan jumlah atau besaran yang bernilai kategorial. Pengertian yang lainnya adalah karakteristik obyek yang dapat diklasifikasikan ke dalam sekurang-kurangnya dua klasifikasi. Sedangkan menurut Kerlinger dalam Emory dan Coper (1991), variabel adalah simbol dimana suatu bilangan atau nilai diberikan pada simbol tersebut. Variabel-variabel tersebut bisa diklasifikasikan dalam beberapa jenis

Sumber Data (skripsi dan tesis)

 1. Data Primer adalah data/informasi yang diperoleh dari sumber pertama misalnya melalui survei atau wawancara langsung atau hasil analisa laboratorium.
2. Data Sekunder adalah data/informasi yang diperoleh dari sumber lain misalnya dari laporan mutu atau kajian pustaka

Statistika inferensi atau induktif (skripsi dan tesis)

Statistika inferensi adalah statistika yang bertujuan untuk mengambil kesimpulan data populasi berdasarkan sebagian data yang disebut sampel. Sebagai contoh seorang  peneliti ingin mengetahui hasil ujian satu universitas berdasarkan data yang diambil dari beberapa kelas saja. Hubungan atau relasi empiris yang diamati pada ilmu alam, sosiologi, psikologi dan ekonomi bersifat statis. Pada bidang-bidang ini, pekerjaan empiris dilaksanakan berdasarkan percobaan-percobaan atau survei sampel. Keterbatasan waktu dan ekonomis menyebabkan sulit dilakukan observasi seluruh populasi. Dalam rangka mengambil kesimpulan tentang suatu populasi berdasarkan data dari sampel yang terbatas maka diperlukan proses pengambilan keputusan inferensial atau statistik induktif

Perbedaan jumlah dewan direksi antara perusahaan yang mengalami financial distress dan non financial distress (skripsi dan tesis)

Jensen (1993) mencatat bahwa ukuran dewan direksi yang banyak dapat memonitor proses pelaporan keuangan dengan lebih efektif dibandingkan ukuran dewan direksi yang sedikit. Lebih lanjut Jensen (1993) menyatakan bahwa dari rata-rata ukuran dewan direksi untuk   perusahaan yang tetap sehat, memang lebih besar dibandingkan ukuran dewan direksi dari perusahaan yang mengalami financial distress. Wardhani (2007) dalam penelitiannya tentang pengaruh ukuran direksi terhadap financial distress menyatakan bahwa semakin besar jumlah direksinya maka semakin tinggi kemungkinan perusahaan mengalami kondisi tekanan keuangan. Hal ini di karenakanresources dependence dan banyaknya direksi tersebut justru akan memperparah kinerja perusahaan karena dengan banyaknya direksi masalah koordinasi dan komunikasi akan semakin membesar sehingga perusahaan tidak dapat mengambil keputusan untuk data menyelamatkan perusahaan dengan cepat.

Penelitian yang dilakukan oleh Sastriana dan Fuad (2013) tentang pengaruh corporate governancedan firm size terhadap perusahaan yang mengalami kesuiltan keuangan (financial distress). Struktur corporate governance yang berpengaruh terhadap financial distress adalah variabel jumlah dewan direksi dan jumlah komite audit pada suatu perusahaan. Sedangkan variabel proporsi dewan komisaris independen, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial dan ukuran perusahaan (firm size) terbukti tidak berpengaruh terhadap kondisi financial dstress. Penelitian tersebut juga membandingkan statistik deskriptif perusahaan financial distress dan non financial distress, variabel jumlah anggota dewan direksi pada perusahaan non financial distress memiliki nilai rata-rata lebih besar dibandingkan perusahaan financial distress.
 Variabel komite audit ada perusahaan non financial distress memiliki nilai rata-rata lebih besar dibandingkan perusahaan financial distress. Sedangkan untuk perusahaan non financial distress pada variabel kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris independen, kepemilikan institusional dan firm size memiliki nilai rata-rata lebih kecil dibandingkan perusahaan financial distress. Penelitian yang dilakukan oleh Hanifah dan Purwanto (2013) tentang pengaruh struktur corporate governance dan financial indicators terhadap kondisifinancial distress, hasil dari faktor-faktor yang berpengaruh dalam struktur coporate governance pada perusahaan yang mengalami financial distress adalah ukuran dewan direksi, kepemilikan manajerial, kepemilikan intitusional. Penelitian tersebut juga membandingkan statistik deskriptif perusahaan financial distress dan non financial distress, ukuran dewan direksi pada perusahaan yang mengalami financial distress lebih kecil dari ukuran dewan direksi pada perusahaan non financial distress

Perbedaan proporsi dewan komisaris independen antara perusahaan yang mengalami financial distress dan non financial distress (skripsi dan tesis)

 

Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen Muchsin et al,.(2014). Wardhani (2006) melakukan penelitian tentang mekanisme corporate governance dalam perusahaan yang mengalami permasalahan keuangan (financially distressed firms). Hasil dari penelitian nya menyatakan bahwa komisaris independen justru tidak signifikan baik pada peursahaan financial distress maupun non financial distress. Penelitian tersebut juga membandingkan statistik deskriptif perusahaan financial distress dan non financial distress, variabel proporsi komisaris independen pada perusahaan non financial distress memiliki nilai rata-rata lebih besar dibandingkan perusahaan financial distress.
Parulian(2007) dalam penelitian nya menyatakan kemungkinan terjadinya financial distress akan lebih besar justru apabila perusahaan memiliki lebih banyak komisaris independen. Kriteria independen hanya  dilihat dari kepemilikan saham, padahal sangat mungkin komisaris yang dianggap independen justru memiliki hubungan yang sangat independen. Misalnya, walaupun tidak memiliki saham perusahaan, namun komisaris independen tersebut memiliki hubungan sanak saudara dan lainnya dengan pengelola perusahaan. Fadhilah dan Syafrudin(2013) juga melakukan penelitian tentang pengaruh dewan komisaris independen terhadap financial distress, dari hasil penelitian yang dilakukannya itu dinyatakan bahwa semakin besar proporsi komisaris independen dalam perusahaan maka, kemungkinan terjadinya financial distress semakin menurun. Independensi dewan komisaris merupakan faktor yang mempengaruhi efektivitas dan efisiensi pengawasan yang dilakukan olehnya, sehingga jumlah komisaris yang independen dalam struktur dewan komisaris menentukan kekuatan independensi pengawasan yang dilakukan terhadap manajemen. Secara umum, apabila suatu perusahaan memiliki proporsi komisaris independen yang tinggi dalam struktur dewan komisaris yang tinggi, mekanisme pengawasan akan berjalan lebih independen dan bebas dari benturan kepentingan manajer, dari hasil yang berbeda-beda tersebut dapat dikatakan bahwa pengaruh banyaknya proporsi dewan komisaris independen terhadap financial distress tergantung pada tingkat pengawasan yang dilakukan dari banyaknya komisaris independen itu sendiri.
Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Chariri dan Ariesta (2013) tentang analisis pengaruh struktur dewan komisaris, struktur kepemilikan saham dan komite audit terhadap financial distress. Faktorfaktor yang berpengaruh positif terhadap perusahaan mengalami financial distress adalah variabel proporsi komisaris independen sementara variabel independensi komite audit berpengaruh negatif terhadap perusahaan yang mengalami financial distress. Penelitian tersebut juga membandingkan statistik deskriptif perusahaan financial distress dan non financial distress, variabel proporsi dewan komisaris independen pada perusahaan non financial distress memiliki nilai rata-rata lebih kecil dibandingkan perusahaan financial distress.

Perbedaan kepemilikan institusional antara perusahaan yang mengalami financial distress dan non financial distress (Skripsi dan tesis)

 

Schleifer dan Vishny (1986) dalam Wardhani(2007) menyatakan bahwa tingginya kepemilikan investor institusional akan mendorong aktivitas monitoring karena besarnya kekuatan voting mereka yang akan mempengaruhi kebijakan manajemen. Parulian (2007) dalam penelitiannya menyatakan kepemilikan saham oleh investor institusional akan dapat mengawasi manajemen dalam melaksanakan operasi sehingga lebih terhindar dari kondisi financial distress. 30 Widyasaputri(2012) menguji pengaruh kepemilikan institusional terhadap kondisi financial distress dengan sampel perusahaan yang terdaftar di BEI tahun 2008-2010 yang menunjukkan bahwa seberapapun besarnya persentase kepemilikan institusional dapat membuktikan adanya kondisifinancial distress. Semakin tinggi kepemilikan institusional maka keadaan kondisi keuangan perusahaan semakin terpuruk, karena intitusi perusahaan kurang memiliki kemampuan dalam mengontrol kinerja manajerdan hasil dari penelitian Widyasaputri(2012) tersebut juga menjelaskan bahwa tidak terdapat pengaruh kepemilikan institusional terhadap kondisifinancial distress. Penelitian yang dilakukan oleh Bodroastuti (2009) tentang pengaruh struktur corporate governanceterhadap financial distress. Struktur corporate governance yang berpengaruh positif secara siginifikan terhadap financial distress adalah variabel jumlah dewan direksi, dewan komisaris pada suatu perusahaan. Sedangkan variabel jumlah direksi yang keluar, kepemilikan institusional, kepemilikan oleh direksi dan komisaris terbukti tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kondisi financial distress. Penelitian tersebut juga membandingkan statistik deskriptif perusahaan financial distress dan non financial distress, variabel jumlah dewan direksi, persentase kepemilikan dan persentase saham yang dimiliki direksi dan komisaris pada perusahaan yang mengalami financial distress memiliki nilai rata-rata lebih kecil dibandingkan perusahaan non financial  distress. Sedangkan variabel jumlah dewan komisaris, jumlah direksi keluar, serta persentase kepemilikan institusipada perusahaan yang mengalami financial distress memiliki nilai rata-rata lebih besar dibandingkan perusahaan non financial distress. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Deviacita dan achmad (2013) tentang analisis pengaruh mekanisme corporate governanceterhadap financial distress dan karakteristikcorporate governance yang berpengaruh positif terhadap financial distress adalah variabel kepemilikan manajerial, kepemilikan insitiusional dan keahlian komite audit pada suatu perusahaan. Sedangkan variabel ukuran dewan komisaris, proporsi dewan komisaris independen dan aktivitas dewan komisaris terbukti tidak berpengaruh terhadap kondisi financial dstress. Penelitian tersebut juga membandingkan statistik deskriptif perusahaan financial distress dan non financial distress, variabel kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan keahlian komite audit pada perusahaan non financial distress memiliki nilai rata-rata lebih besar dibandingkan perusahaan yang mengalami financial distress. Sedangkan variabel ukuran dewan komisaris, proporsi dewan komisaris independen dan aktivitas dewan komisaris pada perusahaan non financial distress memiliki nilai rata-rata lebih kecil dibandingkan perusahaan financial distress.

Jumlah Dewan Direksi (skripsi dan tesis)

Direksi adalah organ perusahaan pemegang perusahaan kekuasaan eksekutif diperusahaan. Direksi mengendalikan operasi perusahaan sehari-hari dalam batas yang ditetapkan oleh UUPT, anggaran dasar,  dan RUPS serta di bawah pengawasan dewan komisaris. Tugas dan fungsi utama dewan direksi adalah menjalankan roda manajemen perseroan secara menyeluruh, selain itu mengupayakan perusahaan dapat melaksanakan tanggungjawab sosialnya dan juga harus memperhatikan kepentingan stakeholders, serta mendorong penerapan good corporate governance yang dilaksanakan dengan konsisten. Tunggal (2013) dalam Okkyrianto(2014). Dewan direksi dalam suatu perusahaan akan menentukan kebijakan yang akan diambil atau strategi perusahaan tersebut secara jangka pendek maupun jangka panjang Wardhani (2007). Pentingnya porsi dewan dalam sebuah perusahaan dapat mengindikasikan dua hal, apakah perusahaan yang memiliki dewan dengan jumlah besar dapat meminimalisasi permasalahan agensi antara pemegang saham dengan direksi atau justru sebaliknya.
Adapun penelitian yang dilakukan oleh Darmawati (2004) dalam Bodroastuti(2009) menyatakan bahwa kemungkinan jumlah direksi yang kecil tidak mampu menjalankan perusahaan dengan optimal sedangkan jumlah dewan direksi yang besar memberikan manfaat yang besar bagi perusahaan karena terciptanya network dengan pihak luar dalam menjamin ketersediaan sumber daya. Sehingga dengan adanya jumlah dewan direksi yang besar akan dapat membantu perusahaan dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang efektif serta dapat meningkatkan kinerja dan nilai tambah bagi perusahaan. 29 Namun hal tersebut tidak sependapat dengan penelitian yang dilakukan Widyasaputri(2012) yang menyatakan bahwa banyaknya jumlah dewan dapat mempengaruhi kondisi keuangan karena setiap hasil keputusan yang dijalankan perusahan berasal dari hasil keputusan dewan, banyaknya dewan direksi dalam perusahaan mengindikasikan terjadinya kolusi dalam perushaan dan perusahaan yang mengalami tekanan keuangan yang besar biasanya membutuhkan pertimbangan keadaan keuangan perusahaan dari para direktur.Direksi bertugas dan bertanggung jawab secara kolegial dalam mengelola perusahaan. Masing-masing anggota direksi dapat melaksanakan tugas dan mengambil keputusan sesuai dengan pembagian tugas dan wewenangnya Hadi (2014)

Proporsi Dewan Komisaris Independen (skripsi dan tesis)

Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen Muchsin et al,.(2014). Teori keagenan menilai bahwa komisaris independen dibutuhkan pada dewan komisaris untuk mengawasi dan mengontrol tindakan-tindakan direksi, sehubungan dengan perilaku oportunistik mereka Jensen dan Meckling(1976). Salah satu permasalahan dalam penerapan corporate governance adalah adanya CEO yang memilikikekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan dewan komisaris, Padahal fungsi daridewan komisaris ini adalah untuk mengawasi kinerja dari dewan direksi yang dipimpin oleh CEO tersebut, Efektivitas dewan komisaris dalam menyeimbangkan kekuatan CEOtersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat indepedensi dari dewan komisaris tersebut Lorsch et al,.(1989)dalam Wardhani(2006).
Daily dan Dalton(1994) dalam Febrianto(2010)juga menyatakan bahwa apabila ada resistensi dari CEO untuk menerapkan strategi yang agresif untuk mengatasi kinerja  perusahaan yang terus menurun, maka adanya dewan dari luar akan mendorong pengambilan keputusan untuk melakukan perubahan. Sastriana dan Fuad (2013) menyatakan bahwa adanya fungsi dari komisaris independen dalam mengawasi kinerja dewan direksi dalam hal mengontorol mengenai masalah keuangan agar tidak terjadi suatu tindakan yang dapat merugikan perusahaan, dapat membuat komisaris independen berperan penting supaya perusahaan dapat terhindar dari krisis keuangan (financial distress). Komisaris independen merupakan mekanisme corporate governance yang dapat mengurangi masalah dalam teori agency yang disebut agency problem, karena dengan adanya komisaris independen ini, dapat menghindari Assymetric Informationantara kedua belah pihak yang dapat menimbulkan kemungkinan kondisi kesulitan keuangan Hanifah dan Purwanto(2013). Semakin berfungsinya komisaris independen dalam mengawasi manajer, pengawasanterhadap direksi dalam kebijakan finansial atau penggunaan dana yang merugikan perusahaan dandapat mengarahkan perusahaan ke dalam kesulitan keaungan (financial distress) dapatdiminimalkanChariri dan Ariesta, (2013).

Kepemilikan Institusional (skripsi dan tesis)

 

Kepemilikan Institusional merupakan persentase kepemilikan saham yang dimiliki oleh badan hukum atau institusi keuangan seperti perusahaan asuransi, dana pensiun, reksadana, bank, dan institusiintitusi lainnya Brigham dan Houston(2006) dalam Ayuningtyas(2013). Kepemilikan institusional akan membuat manajer memfokuskan perhatian pada kinerja perusahaan, sehingga dapat mengurangi tindakan manajer perusahaan yang mementingkan diri sendiri Cornet et, al.(2006) dalam Merkusiwati (2014). Kepemilikan institusional seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi, dan kepemilikan institusi lain akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen. Hal ini disebabkan karena kepemilikan saham mewakili suatu sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap keberadaan manajemen sehingga dengan kepemilikan institusional biaya agensi dapat diminimalkan Bodroastuti (2009). Sehingga kepemilikan tersebut akan mengurangi masalah keagenan karena pemegang saham institusional akan mengawasi  perusahaan sehingga manajemen tidak akan merugikan pemegang saham.
Perusahaan dengan kepemilikan institusional yang besar mengindikasikan kemampuan perusahaan dalam memonitor kinerja manajemen, karena semakin besar kepemilikan institusional mengakibatkan adanya efisiensi dalam penggunaan aktiva perusahaan, sehingga dapat mengurangi pemborosan yang dilakukan oleh manajer dalam menjalankan perusahaan yang bersangkutan Faizal(2004) dalam Syafruddin(2012), maka atas hal tersebut juga mengindikasikan bahwa kepemilikan institusional dengan jumlah yang besar dalam perusahaan akan mendorong semakin kecilnya potensi kesulitan keuangan Sastriana dan Fuad (2013). Kepemilikan institusional merupakansalah satu faktor yang dapat mempengaruhikinerja perusahaan. Dengan adanyakepemilikan oleh investor institusionaldapat mendorong peningkatan pengawasanyang lebih optimal terhadap kinerjamanajemen, karena kepemilikan sahammewakili suatu sumber kekuasaan yangdapat digunakan untuk mendukung ataumalah memperburuk kinerja manajemenMuchsin et,al. (2013). Keberadaan investor institusional dianggap mampu menjadi mekanisme monitoringyang efektif dalam setiap keputusan yang diambil oleh manajer. Hal ini disebabkan investorinstitusional terlibat dalam pengambilan yang strategis sehingga tidak mudah percayaterhadap tindakan manipulasi laba Hadi (2014:5)

Karakteristik Corporate Governance (skripsi dan tesis)

Karakteristik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu. Berdasarkan definisi tersebut dapat diartikan bahwa karakeristik merupakan suatu ciri atau sifat yang melekat dan menjadi bagian pada suatu hal tertenu. Corporate governance didefinisikan sebagai cara untuk mengatur, mengawasi dan menjaga tata kelola perusahaan. Corporate governance muncul sebagai suatu fenomena ekonomi untuk memberikan pandangan kepada shareholder atas apa yang harus dilakukan perusahaan dan apa saja yang seharusnya tidak dilakukan Wiley (2009). Berdasarkan definisi mengenai karakterisik dan corporate governance di atas, maka karakterisik corporate governance merupakan suatu ciri yang melekat dalam suatu tata kelola perusahaan dan menjadi bagian dalam melakukan tata kelola perusahaan yang baik. Ada beberapa karakteristik corporate governance yang sering digunakan, Dalam penelitian ini karakteristik corporate governance yang digunakan untuk mengetahui perbedaan perusahaan yang   mengalami financial distress dan non financial distress adalah Kepemilikan Institusional, Proporsi Dewan Komisaris Independen dan Jumlah Dewan Direksi.

Prinsip Utama Good Corporate Governance (skripsi dan tesis)

 Suatu perusahaan harus memenuhi prinsip-prinsip good corporate governance diterapkan pada setiap aspek bisnis serta di semua jajaran perusahaan dan menurut Komite Nasional Corporate Governance (2006) terdiri dari:
 1) Keadilan (fairness), yaitu dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan  pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
 2) Transparansi (transparency), yaitu untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.
3) Akuntabilitas (accountability), yaitu perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transaparan dan wajar. Untuk itu perusahaan hari dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.
4) Pertanggungjawaban (responsibility), yaitu perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.
 5) Independensi (independency), yaitu untuk melancarkan pelaksanaan asas good corporate governance, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mondominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.

Pengertian Corporate Governance (skripsi dan tesis)

Menurut Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor KEP-117/M-/MBU/2002, corporate governance adalah suatu proses dari struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap 20 memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berdasarkan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika. Gideon(2005) dalam Widyasaputri(2012) menyatakanmekanisme corporate governance adalah suatu sistem yang digunakan untuk mengendalikan dan melakukan pengawasan kegiatan yang ada dalam perusahaan. Adanya praktek corporate governance yang baik di dalam suatu perusahaan diharapkan dapat mengurangi resiko yang merugikan bagi perusahaan itu sendiri. Karena menurut Porter(1991) dalam Wardhani(2007) menyatakan bahwa mengapa perusahaan sukses atau gagal mungkin lebih disebabkan oleh strategi yang diterapkan oleh perusahaan. Resiko tersebut juga timbul dari adanya konflik yang terjadi didalam suatu perusahaan mengenai perbedaan kepentingan antara agen dengan principal.
Airesanti (2015) menyatakan bahwa perusahaan sangat memerlukan keberadaan peraturan dan mekanisme pengendalian yang efektif dalam mengarahkan kegiatan operasional perusahaan serta kemampuan untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang memiliki kepentingan agar dapat mengurangi terjadinya konflik kepentingan dan memastikan pencapaian tujuan perusahaan. Menurut Fachrudin (2008) tata kelola perusahaan atau corporate governance dapat juga didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan prinsip-prinsip antara lain fairness, transparency, accountability, dan responsibility yang mengatur hubungan antara pemegang saham, 21 manajemen perusahaan (direksi dan komisaris), pihak kreditur pemerintah, karyawan, serta stakeholders lainnya yang berkaitan dengan hak dan kewajiban masing-masing pihak. Tujuannya adalah untuk menciptakan nilai tambah bagi seluruh stakeholders dalam perusahaan. Adanya nilai tambah bagi stakeholders ini akan menarik investor untuk menanamkan modalnya diperusahaan yang bersangkutan. Kaen(2003) dalam Bodroastuti(2009) menyatakan bahwa corporate governance pada dasarnya menyangkut masalah siapa (who) yang seharusnya mengendalikan jalannya kegiatan korporasi dan mengapa (why) harus dilakukan pengendalian terhadap jalannya korporasi yang dimaksud dengan “siapa” adalah para pemegang saham, sedangkan ”mengapa” adalah karena adanya hubungan antara pemegang saham dengan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan

Dampak Financial Distress (skripsi dan tesis)

Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan bisanya berdampak pada terlambatnya pembayaran hutang yang sudah jatuh tempo kepada kreditor.Menurut NetTel Africa(2002)dalam Fachrudin(2008) kerugian utama perusahaan yang mempunyai tingkat hutang yang lebihtinggi adalah peningkatan resiko kesulitan keuangan, dan akhirnya likuidasi. Hal ini mungkin mempunyai pengaruh merugikan bagi pemilik ekuitas dan hutang. Akibat dari kesulitan keuangan akan dijelaskan sebagai berikut:
1) Resiko biaya kesulitan keuangan mempunyai dampak negatifterhadap nilai perusahaan yang mengoffset nilai pembebasanpajak (tax relief) atas peningkatan level hutang.
 2) Jika pun manajer perusahaan menghindarkan likuidasi ketika kesulitan, hubungannya dengan supplier, pelanggan, pekerja dan kreditor menjadi rusak parah.
 3) Supplier penyedia barang dan jasa secara kredit mungkin lebih berhati-hati, atau bahkan mengehentikan pasokan sama sekali, jika mereka yakin tidak ada kesempatan peningkatan perusahaan dalam beberapa bulan.
 4) Pelanggan mungkin mengembangkan hubungan dengan supplier mereka, dan merencanakan sendiri produksi mereka dengan andaian ada keberlanjutan dari hubungan tersebut. Sehingga dapat disimpulkan dampak dari adanya financial distress ini dapat mengakibatkan pada reaksi dari investor maupun kreditor untuk cenderung lebih berhati-hati dalam berinvestasi maupun memberikan pinjaman pada perusahaan. Hal ini semakin diperparah ketika pelanggan mulai melakukan hubungan dengan pemasok untuk memproduksi suatu produk barang maupun jasa sehingga perusahaan akan kehilangan pelanggan dan semakin membuat perusahaan menjadi bangkrut

Penyebab Financial Distress (skripsi dan tesis)

Financial Distress bisa terjadi pada semua perusahaan, penyebab terjadinya financial distress juga bermacam-macam. Menurut Lizal, (2002) dalam Fachurdin, (2008) mengelompokkan penyebab kesulitan, yang disebut dengan Model Dasar Kebangkrutan atau Trinitas Penyebab Kesulitan Keuangan. Terdapat 3 alasan utama mengapa perusahaan bisa mengalami financial distress dan kemudian bangkrut, yaitu:
 1) Neoclassical model
Financial distress dan kebangkrutan terjadi jika alokasi sumber daya di dalam perusahaan tidak tepat. Manajemen yang kurang bisa mengalokasikan sumber daya (aset) yang ada di   perusahaan untuk kegiatan operasional perusahaan. Mengestimasi kesulitan dilakukan dengan data neraca dan laporan laba rugi. Misalnya profit/assets (untuk mengukur profitabilitas), dan liabilities/assets.
2) Financial model
Pencampuran aset benar tetapi struktur keuangan salah dengan liquidity constraints. Hal ini berarti bahwa walaupun perusahaan dapat bertahan hidup dalam jangka panjang tapi ia harus bangkrut juga dalam jangka pendek. Campuran aset benar tapi struktur keuangan salah dengan liquidity constraints (batasan likuiditas). Hal ini berarti bahwa walaupun perusahaan dapat bertahan hidup dalam jangka panjang tapi ia harus bangkrut juga dalam jangka pendek. Hubungan dengan pasar modal yang tidak sempurna dan struktur modal yang inherited menjadi pemicu utama kasus ini. Tidak dapat secara terang ditentukan apakah dalam kasus ini kebangkrutan baik atau buruk untuk direstrukturisasi. Model ini mengestimasi kesulitan dengan indikator keuangan atau indikator kinerja seperti turnover/total assets, revenues/turnover, ROA, ROE, profit margin, stock turnover, receivables turnover, cash flow/ total equity, debt ratio, cash flow/(liabilities-reserves), current ratio, acid test, current liquidity, short term assets/daily operating expenses, gearing ratio, turnover per employee, coverage of fixed assets, working capital, total equity per share, EPS ratio, dan sebagainya.
3) Corporate governance model
Menurut model ini, kebangkrutan mernpunyai campuran aset dan struktur keuangan yang benar tapi dikelola dengan buruk. Ketidakefisienan ini mendorong perusahaan menjadi out of the market sebagai konsekuensi dari masalah dalam tata kelola perusahaan yang tak terpecahkan. Model ini mengestimasi kesulitan dengan informasi kepemilikan. Kepemilikan berhubungan dengan struktur tata kelola perusahaan dan goodwill perusahaan. Brigham dan Gapenski (1997) mengatakan bahwa semakin besar pembiayaan dari hutang, dan semakin besar beban bunga tetap, semakin besar probabilitas bahwa penurunan earning akan mengarah kepada kesulitan keuangan, karena itu semakin tinggi probabilitas biaya kesulitan keuangan akan dikenakan. Jadi hutang dapat pula menyebabkan kesulitan keuangan. Liou dan Smith(2007 dalam Dwijayanti(2010) mengemukakan beberapa faktor makro ekonomi yangbisa menyebabkan financial distress antara lain fluktuasi dalam inflasi, sukubunga, Gross National Product, ketersediaan kredit, tingkat upah pegawai, dansebagainya Liou dan Smith (2007) dalam Dwijayanti(2010). 1 Dwijayanti (2010) dalam penelitiannya pun juga menyatakan bahwa financial distress bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: a) kesalahan dalam alokasi sumber daya, b) struktur keuangan yang salah. c) tata kelola yang buruk, dan d) kondisi makro ekonomi yang buruk.

Pengertian Financial Distress (skripsi dan tesis)

Menurut Luciana Spica Almilia (2004), mendefinisikan financial distress kondisi financial distress sebagai suatu kondisi dimana 13 perusahaanmengalami delisted akibat laba bersih dan nilai buku ekuitas negatif berturut-turut serta perusahaan tersebut telah di merger. Financial distressjuga bisa didefinisikan sebagai ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban financial yang telah jatuh tempo Beaver et aI,. (2011) dalam Dwijayanti (2010).Sedangkan Hadi (2014) mendefinisikan kesulitan keuangan(financial distress) adalah kesulitan keuangan atau likuiditas yang mungkin sebagai awal kebangkrutan.Menurut Brigham dan Gapenski(1997) dalam Fachrudin(2008) terdapat 5 tipe kondisi kesulitan keuangan yaitu economic failure, business failure, technical insolvency, insolvency in bankruptcy, dan legal bankruptcy.
1) Economic failure Economic failure atau kegagalan ekonomi adalah keadaan dimana pendapatan perusahaan tidak dapat menutupi total biaya, termasuk cost of capitalnya. Bisnis ini dapat melanjutkan operasinya sepanjang kreditur mau menyediakan modal dan pemiliknya mau menerima tingkat pengembalian (rate of return) di bawah pasar. Meskipun tidak ada suntikan modal baru saat sudah harus diganti, perusahaan dapat juga menjadi sehat secara ekonomi.
2) Business failure Kegagalan bisnis didefinisikan sebagai bisnis yang menghentikan operasi dengan akibat kerugian kepada kreditur.
 3) Technical insolvency Sebuah perusahaan dikatakan dalam keadaan technical insolvency jika tidak dapat memenuhi kewajiban ketika jatuh tempo. Ketidakmampuan membayar hutang secara teknis menunjukkan kekurangan likuiditas yang sifatnya sementara, yang jika diberi waktu, perusahaan mungkin dapat membayar hutangnya dan survive. Di sisi lain, jika technical insolvency adalah gejala awal kegagalan ekonomi, ini mungkin menjadi perhentian pertama menuju bencana keuangan (financial disaster).
4) Insolvency in bankruptcy Sebuah perusahaan dikatakan dalam keadaan Insolvency in bankruptcy jika nilai buku hutang melebihi nilai pasar. Kondisi ini lebih serius daripada technical insolvency karena, umumnya, ini adalah tanda economic failure, dan bahkan mengarah kepada likuidasi bisnis. Perusahaan yang dalam keadaan insolvent in bankruptcy tidak perlu terlibat dalam tuntutan kebangkrutan secara hukum.
5) Legal bankruptcy Perusahaan dikatakan bangkrut secara hukum jika telah diajukan tuntutan secara resmi dengan undang-undang Brigham dan Gapenski (1997). Financial distress dimulai ketika perusahaan tidak dapat memenuhi jadwal pembayaran atau ketika proyeksi arus kas mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut akan segera tidak dapat memenuhi kewajibannya Brigham dan Daves (2003) dan menurut Widyasaputri (2012) kondisi financial distress mempunyai arti bahwa perusahaan mengalami kondisi keuangan pada setiap tahunnya semakin menurun. Sehingga dapat disimpulkan kondisi perusahaan yang mengalami financial distress secara terus-menerus akan berdampak pada kebangkrutan yang mempunyai arti bahwa perusahaan sudah tidak beroperasi, tidak dapat membayar kewajiban perusahaan, tidak dapat membayar hutang, dan menghentikan semua kegiatan perusahaan

Teori Agensi (skripsi dan tesis)

Menurut agency theory, adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan dapat menimbulkan konflik. Terjadinya agency conflict disebabkan pihak-pihak yang terkait yaitu principal (yang mengkontrak atau pemegang saham) dan agen (yang menerima kontrak dan mengelola dana principal) mempunyai kepentingan yang saling bertentangan. Apabila agen dan principal berupaya memaksimalkan utilitasnya masing-masing, serta memiliki keinginan dan motivasi yang berbeda, maka agen (manajemen) tidak selalu bertindak sesuai keinginan principal Jensen dan Meckling (1976) dalam Bodroastuti(2009). Hubungan keagenan dalam kontrak kerja adalah hubungan antara pemegang saham (principal) dengan manajer (agent), yang pemegang saham memperkerjakan manajer untuk memberikan jasa kepada pemegang saham untuk kepentingan pemegang saham. Pemegang saham melakukan pendelegasian wewenang pembuatan keputusan kepada manajer perusahaan Lo(2012).Husnan (2001) juga menjelaskan tentang hubungan tersebut dengan mengatakan bahwa masalah tata kelola perusahaan dapat ditelusuri dari pengembangan agency theory yang mencoba menjelaskan bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan (manajer, pemilik  perusahaan dan kreditur) akan berperilaku, karena mereka pada dasarnya mempunyai kepentingan yang berbeda. Namun perbedaan kepentingan dapat menimbulkan asimetri informasi (kesenjangan informasi),principal hanya tertarik pada hasil keuangan yang bertambah atau investasi dalam perusahaan. Sedangkan agen diasumsikan menerima kepuasan berupa kompensasi keuangan dan syarat-syarat yang menyertai dalam hubungan tersebut Zeptian dan Rohman(2013:2).Tentu saja manager sebagai pengelola perusahaan cenderung lebih bersifat oportunistik dalam mencapai tujuan tertentu. Manajer akan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan dibandingkan pemilik (pemegang saham). Adanya asimetri informasi ini menimbulkan dua permasalahan yang disbebakan oleh kesulitan principal untuk mengawasi dan melakukan pengendalian terhadap tindakan-tindakan agen. Dua permasalahan tersebut, yaitu adverse selection dan moral hazard.

 Menurut Scott 2000 dalam Amaliah (2010:3), pengertian dari dua macam asimetri informasi itu yaitu:

 a. Adverse selection, yaitu bahwa para manajer serta orang-orang dalam lainnya biasanya mengetahui lebih banyak tentang keadaan dan prospek perusahaan dibandingkan investor pihak luar dan fakta yang mungkin dapat mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh pemegang saham tersebut tidak disampaikan informasinya kepada pemegang saham.

 b. Moral hazard, yaitu bahwa kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer tidak seluruhnya diketahui oleh pemegang saham maupun pemberi pinjaman. Sehingga manajer dapat melakukan tindakan diluar pengetahuan pemegang saham yang melanggar kontrak dan sebenarnya secara etika atau norma mungkin tidak layak dilakukan. Treskawati (2014) menyatakan bahwa masalah agensi yaitu perbedaan kepentingan antara principal dengan agent yang diyakini sebagai basis dari perilaku manipulasi laporan keuangan oleh managemen kepada principal. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa teori keagenan muncul karena adanya konflik kepentingan antara principal (pemilik perusahaan) dan agen (yang menjalankan perusahaan) yang mempunyai kepentingan untuk keuntungan diri sendiri. Masalah keagenan ini juga terjadi karena adanya asimetris informasi dari agen selaku pihak yang memiliki banyak informasi dibandingkan principal selaku pemilik. Namun masalah keagenan ini dapat diatasi apabila perusahaan menerapkan corporate governance dengan baik sehingga akan dapat memberikan nilai tambah bagi pihak-pihak-pihak yang memiliki kepentingan

Statistika deskriptif (skripsi dan tesis)

Statistika deskriptif adalah bagian dari ilmu statistika yang hanya mengolah, menyajikan data tanpa mengambil keputusan mengenai populasi. Statistika deskriptif berkenaan dengan deskripsi data, misalnya dari menghitung rata-rata dan varian dari data mentah; mendeskripsikan menggunakan tabel-tabel atau grafik sehingga data mentah lebih mudah dibaca dan lebih bermakna. Dengan kata lain hanya melihat gambaran secara umum dari data yang diperoleh. Statistika deskriptif adalah teknik yang digunakan untuk meringkas/menafsirkan data dan menampilkannya dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh setiap orang. Hal ini melibatkan proses kuantifikasi dari penemuan suatu fenomena. Berbagai statistik sederhana, seperti rata-rata, dihitung dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. Statistika deskriptif dapat memberikan pengetahuan yang signifikan pada kejadian fenomena yang belum dikenal dan mendeteksi keterkaitan yang ada di dalamnya. Tetapi dapatkah statistika deskriptif memberikan hasil yang bisa diterima secara ilmiah? Statistik merupakan suatu alat pengukuran yang berhubungan dengan keragaman pada karakteristik objek-objek yang berbeda. Statistika deskriptif adalah bagian dari ilmu statistika yang hanya mengolah, menyajikan data tanpa mengambil keputusan untuk populasi.

Statistik nonparametrik (skripsi dan tesis)

Istilah nonparametrik pertama kali digunakan oleh Wolfowitz, pada tahun 1942. Metode statistik nonparametrik merupakan metode statistik yang dapat digunakan dengan mengabaikan asumsi-asumsi yang melandasi penggunaan metode statistik parametrik, terutama yang berkaitan dengan distribusi normal. Istilah lain yang sering digunakan untuk statistik nonparametrik adalah statistik bebas distribusi (distribution-free statistics) dan uji bebas asumsi (assumption-free test). Statistik nonparametrik tidak mensyaratkan bentuk sebaran parameter populasi. Statistik nonparametrik dapat digunakan pada data yang memiliki sebaran normal atau tidak. Statistik nonparametrik biasanya digunakan untuk melakukan analisis pada data nominal atau ordinal. Contoh metode statistik nonparametrik diantaranya adalah Chi-square test, Median test, Friedman test, dan lain-lain.Dari segi jumlah data, pada umumnya statistik nonparametrik digunakan untuk data berjumlah kecil (n < 30), namun dengan adanya bantuan berupa program statistika seperti spss, anova dan lain lain, jumlah sampel tidaklah menjadi fungsi kendala.

Uji Kruskal – Wallis (skripsi dan tesis)

Uji Kruskal – Wallis sering pula disebut Uji H Kruskal – Wallis, adalah rampatan uji jumlah rang (dwisampel Wilcoxon) untuk sejumlah sampel k>=2. Uji ini digunakan untuk menguji hipotesis nol bahwa k sampel bebas berasal dari populasi yang sama. Diperkenalkan oleh W.H. Kruskal dan W.A. Wallis pada tahun 1945, uji ini merupakan padanan cara nonparametrik untuk menguji kesamaan rataan dalam analisis variansi ekafaktor bila si pencoba ingin menghindari bahwa sampel berasal dari populasi normal.

Uji ini mirip dengan uji Anova pada data parametrik hanya saja tidak dipenuhi anggapan k kenormalan dari data. Analisis yang digunakan berdasarkan Rij yaitu ranking data, bukan data itu sendiri.

Langkah – langkah uji Kruskal – Wallis :

  1. H0 : Semua K populasi adalah identik
  2. H1 : Tidak semua K populasi identik
  3. Tentukan taraf nyatanya.
  4. Tentukan daerah kritisnya dengan menggunakan tabel chi-kuadrat. Dengan derajat kebebasan v = k-1
  5. Melakukan perhitungan uji kruskal – wallis dengan rumus dibawah ini

h =

dengan ni  merupakan jumlah data pengamatan disetiap sampel dan ri merupakan jumlah rang dalam satu sampel data pengamatan.

  1. Bila nilai h jatuh dalam daerah kritis pada tabel, dengan derajat kebebasan v = k – 1, tolak H0 pada taraf nyata. Dan terima H0 jika tidak jatuh dalam daerah kritis pada tabel.

Uji Rang-Tanda (skripsi dan tesis)

Uji Rang-Tanda dicetuskan oleh Frank Wilcoxon pada tahun 1945 dan saat ini disebut sebagai uji rang-tanda Wilcoxon. Uji ini memanfaatkan baik tanda maupun besarnya selisih. Uji rang-tanda Wilcoxon digunakan untuk kasus dua sampel yang dependen bila skala ukur memungkinkan kita menentukan besar selisih yang terjadi, jadi bukan sekedar hasil pengamatan yang berbeda saja. Uji rang-tanda Wilcoxon cocok digunakan bila kita dapat mengetahui besarnya selisih antara pasangan-pasangan harga pengamatan X1 dan Y1 berikut arah selisih yang bersangkutan. Apabila kita dapat menentukan besarnya setiap selisih, maka kita dapat menetapkan peringkat untuk masing-masing selisih itu. Melalui penyusunan peringkat selisih – selisih inilah uji Wilcoxon memanfaatkan informasi tambahan yang tersedia.

Asumsi :

  • Data untuk analisis terdiri atas n buah beda. D1 = Y1 – X1
  • Sampel X dan sampel Y adalah Variabel- variable acak kontinyu dan beda X1 – Y1,  X2 -Y2…dst bersifat kontinyu pula.
  • Hipotesis nol yang di uji menyatakan bahwa median perbedaan pasangan nilai pengamatan kedua sampel sama dengan nol.

Langkah – langkah uji rang-tanda Wilcoxon :

  1. Asumsikan bahwa populasi perbedaan pasangan nilai pengamatan kedua sampel adalah variable acak kontinyu.
  2. Hipotesis
  • Uji satu sisi :
  1. Ho : W (+) = W (-)               Hi  : W (+) > W (-)
  2. Ho : W (+) = W (-)               Hi  : W (+) < W (-)
  • Uji dua sisi :

Ho : W (+) = W (-)                Hi  : W (+) ≠ W (-)

W (+)  : Jumlah semua peringkat selisih pasangan pengamatan (Wi, Yi) yang bertanda positif.

W (-) :  Jumlah semua peringkat selisih pasangan pengamatan (Wi, Yi) yang bertanda negative

  1. Untuk setiap pasangan nilai pengamatan (Xi, Yi), hitung perbedaannya (di = Xi – Yi).
  2. Berikan peringkat terhadap perbedaan nilai pasangan pengamatan, mulai dari peringkat 1 untuk perbedaan terkecil hingga peringkat n untuk perbedaan terbesar. Bila terdapat perbedaan nilai pasangan yang sama, perbedaan pasangan nilai yang sama di beri peringkat rata-ratanya . untuk beda nol, tidak diperhatikan.
  3. Bubuhkan tanda kepada peringkat yang sudah dibuat itu: positif atau negative sesuai dengan tanda perbedaan nilai pengamatan aslinya.
  4. Hitung banyaknya di yang bertanda positif (disebut W+) dan negative (disebut W_).
  5. Statistik uji peringkat bertanda Wilcoxon ialah W. M yang dipakai ialah W+ atau W_ yang nilainya lebih kecil :
  6. W+ = ∑ Ri (Semua peringkat positif) dan               │W-│= │∑Ri│(Semua peringkat Negatif)

Hipotesa nol ditolak apabilai nilai W+, W–, atau W lebih kecil atau sama dengan nilai di tabel yang sesuai.

Uji Tanda (skripsi dan tesis)

Uji tanda digunakan untuk menguji hipotesis mengenai median populasi. Dalam banyak kasus prosedur nonparametrik, rataan digantikan oleh median sebagai parameter lokasi yang relevan untuk diuji.

Uji tanda juga mempunyai asumsi dimana asumsinya adalah distribusinya bersifat binomial. Binomial artinya mempunyai dua nilai. Nilai ini dilambangkan dengan tanda, yaitu positif dan negatif. Ini mengapa ia disebut uji tanda.

Uji tanda banyak digunakan karena uji ini paling mudah untuk dilakukan pengujiannya dan tidak memakan waktu yang lama. Pengerjaan pengujian ini terbilang cukup mudah. Apabila setiap nilai pengamatan memiliki nilai lebih besar dari nilai rataannya maka diganti dengan tanda (+). Sedangkan, apabila setiap nilai pengamatan memiliki nilai kurang dari nilai rataannya maka diganti dengan tanda (-). Dan, apabila nilai pengamatannya sama dengan nilai rataannya maka nilai pengamatan tersebut harus dibuang.

Pengujian uji tanda yang pertama dilakukan adalah menentukan hipotesis nolnya beserta dengan hipotesis tandingannya. Tentukan pula taraf nyatanya beserta nilai proporsi peubah binomial X-nya. Kemudian melakukan penghitungan  Z hitung (apabila jumlah sampel lebih dari 30) dengan nilai n merupakan jumlah data pengamatan setelah dibandingkan dengan nilai rataannya dan nilai x adalah jumlah data pengamatan dengan tanda (+). Dengan begitu nilai Z akan didapat dan nilai P (proporsi)nya dapat ditentukan. Keputusan H0 akan ditolak apabila nilai P yang didapat lebih kecil atau sama dengan nilai taraf nyatanya.

SPSS (Skripsi dan tesis)

SPSS adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk melakukan analisis statistik tingkat lanjut, analisis data dengan algoritma machine learning, analisis string, serta analisis big data yang dapat diintegrasikan untuk membangun platform data analisis. SPSS adalah kependekan dari Statistical Package for the Social Sciences. SPSS sangat populer di kalangan peneliti dan statistikawan untuk membantu melakukan perhitungan terkait analisis data. SPSS menyediakan library untuk perhitungan statistika dengan antarmuka interaktif yang menjadikannya sebagai software analisis data tingkat lanjut paling populer di berbagai universitas, instansi, dan perusahaan (Advernesia, 2018). Terdapat beberapa fitur dasar yang disediakan SPSS, yaitu: statistika deskriptif, statistika bivariat, regresi linear, identifikasi kelompok, analisis spasial, dan R extension. Terdapat dua fitur dasar yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu fitur statistika deskriptif dan fitur statistika bivariat. Statistika deskriptif adalah sebuah metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian data untuk memperoleh suatu informasi dari data tersebut. Beberapa contoh statistika deskriptif yang sering digunakan adalah mean, median, modus, standar deviasi, dan lain-lain. Statistika bivariat digunakan untuk melakukan pengujian antar 2 variabel (variabel bebas dan variabel terikat). Beberapa contoh statistika bivariat adalah ANOVA, uji t, teorema bayes, uji non parametrik, dan lain-lain

Analysis of Variance (ANOVA) (skripsi dan tesis)

Analysis of Variance atau disingkat sebagai ANOVA adalah sebuah metode analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis kesamaan rata-rata dari populasi yang berjumlah tiga atau lebih (Pritasari, Parhusip, & Susanto, 2013). Hasil akhir dari analisis ANOVA adalah nilai F test atau F hitung. Nilai F Hitung ini yang nantinya akan dibandingkan dengan nilai pada tabel f. Jika nilai f hitung lebih dari f tabel, maka dapat disimpulkan bahwa menerima H1 dan menolak H0 atau yang berarti ada perbedaan bermakna rata-rata pada semua kelompok (Hidayat, 2017). ANOVA dibagi menjadi 3 jenis yaitu :
a. One Way ANOVA One Way ANOVA digunakan ketika variabel bebas berjumlah satu dan variabel terikat berjumlah satu atau lebih dari satu.
b. Two Way ANOVA Two Way ANOVA digunakan ketika variabel bebas berjumlah dua dan variabel terikat berjumlah satu atau lebih dari satu.
 c. Mixed ANOVA Mixed ANOVA digunakan ketika variabel bebas berjumlah lebih dari dua dan variabel terikat berjumlah satu atau lebih dari satu.

Statistik Analisis Inferential (Skripsi dan tesis)

Menurut (Jaya & Ardat, 2013), Statistik adalah rekapitulasi dari fakta yang berbentuk angka-angka disusun dalam bentuk tabel dan diagram yang mendeskripsikan suatu permasalahan. Sedangkan statistik inferensial adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dari suatu sampel, dan hasilnya akan digeneralisasikan untuk populasi dimana sampel tersebut diambil. Terdapat dua macam statistik inferensial yaitu:
 a. Statistika Parametrik terutama digunakan untuk menganalisis data interval atau rasio yang diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Seperti korelasi product moment pearson, ANOVA, t-tes, F-tes, regresi dan lain-lain.
 b. Statistika Non Parametrik digunakan terutama untuk menganalisis data nominal dan ordinal dari populasi yang bebas distribusi, jadi tidak harus normal. Seperti: Korelasi spearman rank, kendal tau, chi kuadrat dan lain-lain

Regresi Logistik Multinomial (skripsi dan tesis)

Regresi logistik multinomial merupakan regresi logistik yang digunakan saat variabel dependen mempunyai skala yang bersifat polichotomous atau multinomial. Skala multinomial adalah suatu pengukuran yang dikategorikan menjadi lebih dari dua kategori. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi logistik dengan variabel dependen berskala nominal dengan tiga kategori. Mengacu pada regresi logistik trichotomous[5] untuk model regresi dengan variabel dependen berskala nominal tiga kategori digunakan kategori variabel hasil Y dikoding 0,1, dan 2. Variabel Y terparameterisasi menjadi dua fungsi logit. Sebelumnya perlu ditentukan kategori hasil mana yang digunakan untuk membandingkan.Pada umumnya digunakan Y=0 sebagai pembanding. Untuk membentuk fungsi logit, akan dibandingan Y=1 dan Y=2, terhadap Y=0.  Bentuk model regresi logistik dengan p variabel prediktor(Yudissanta dan Ratna,2012)

Analisis Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Regesi logistik adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk mencari hubungan variabel respon yang bersifat dikotomus (bersekala nominal atau ordinal dengan dua kategori) atau bersifat polikotomus (yang mempunyai skala nominal atau ordinal lebih dari dua kategori) dengan satu atau lebih variabel prediktor yang bersifat kontinu atau kategorik. Perbedaan regresi linier sederhana dan regresi logistik terletak pada variabel respon dimana respon pada regresi logistik adalah berupa kategorik Agresti(2002). Pada regresi logistik, untuk variabel responnya dianggap hanya mempunyai dua nilai yang mungkin, yaitu 0 (gagal) atau 1 (sukses), sehingga variabelrespon (y) tersebut mengikuti distribusi Bernoulli dengan fungsi peluang distribusi)

Regresi Semiparametrik (skripsi dan tesis)

Regresi semiparametrik merupakan gabungan dari regresi parametrik dan nonparametrik (Ruppert, 2003). Dalam regresi semiparametrik mengandung komponen regresi parametrik dan nonparametrik. Komponen dari regresi parametrik yaitu diketahui bahwa terdapat variabel yang memiliki kurva berpola. Sedangkan, komponen regresi nonparametrik yaitu terdapat variabel yang tidak diketahui bentuk kurvanya.

Regresi Nonparametrik (skripsi dan tesis)

Regresi nonparametrik merupakan salah satu model regresi selain regresi parametrik. Regresi nonparametrik sangat tepat digunakan untuk mendeteksi adanya sifat nonlinieritas dan hubungan nonlinier dalam model (Eubank, 1999). Nonlinier tersebut dapat terlihat pada kurva yang terbentuk. Kurva regresi nonparametrik yang terbentuk tidak mengandung pola tertentu atau bisa dikatakan bahwa bentuk kurvanya tidak diketahui.

Regresi Parametrik (skripsi dan tesis)

Regresi parametrik merupakan salah satu model regresi yang digunakan dalam menganalisis hubungan variabel respon (Y) dengan variabel prediktor (X). Dalam regresi terdapat kurva yang terbentuk berdasarkan data yang digunakan. Regresi parametrik memiliki bentuk kurva yang berpola, misal kurva membentuk pola linier, kuadratik, atau eksponensial, dan lain-lain. Dalam regresi parametrik dapat digunakan untuk mengetahui hubungan yang linier terhadap model yang terbentuk. Berikut ini merupakan model regresi berganda jika diberikan n observasi dengan p variabel prediktor (Hardle, 1994)

Persepsi Terhadap Makna Cost (skripsi dan tesis)

 Dalam dunia akademis maupun praktisi, orang sering mengartikan bahwa cost memiliki arti yang sama dengan biaya, harga pokok maupun sebagai harga perolehan. Kerancuan dalam mengartikan makna cost disebabkan karena orang tidak memandang cost sebagai sesuatu yang netral atau generic. Kerancuan ini dipicu karena orang memandang cost sebagai objek, wadah, atau elemen (misalnya expense, loss, asset) dan bukan sebagai pengukur (monetary measurement) elemen itu sendiri, cost bukanlah suatu informasi tapi bila cost dilekati oleh objek atau elemen maka cost tersebut yang bisa dikatakan sebagai suatu informasi (Suwardjono, 2006). Cost bisa dikatakan sebagai sesuatu yang netral atau generic karena cost tidak memiliki konotasi sebagai sesuatu hal yang negative atau mengurangi dan tidak tersangkut dengan waktu terjadinya. Cost dapat diletakan pada berbagai macam objek atau wadah tergantung dari transaksi yang terjadi dalam organisasi, misalnya terjadi pembelian peralatan kantor, maka dalam kasus ini cost melekat pada wadah yang namanya asset (peralatan kantor), cost tersebut dapat berguna sebagai pengukur dalam unit moneter (rupiah) supaya menjadi suatu informasi yang berguna sarana pelaporannya adalah neraca.
 Berdasarkan konsep kesatuan usaha, pada mulanya cost diperlakukan sebagai asset baru kemudian diperlakukan sebagai biaya atau sebagai beban pendapatan, tergantung apakah cost yang melekat pada suatu wadah tersebut dikonsumsi atau tidak dalam menghasilkan pendapatan. Bila sumber ekonomik telah dikonsumsi untuk memproduksi suatu barang dan jasa, dan produk atau jasa tersebut belum diakui atau belum diserahkan kepada pihak ketiga maka sumber ekonomi yang dikorbankan tersebut belum bisa diakui sebagai biaya (expense) tetapi masih dikategorikan sebagai asset. Harga pokok sering digunakan oleh para praktisi maupun akademisi untuk mengartikan makna dari cost of good sold. Padahal kedudukan cost dalam menghasilkan pendapatan adalah sama pentingnya sebab bila dua faktor atau lebih sama-sama diperlukan dalam mencapai suatu tujuan maka tidak logis bila mengatakan faktor yang satunya lebih penting dari faktor yang lain sehingga pengaruh faktor tersebut akan hilang atau berkurang. Setiap faktor memberikan kontribusi yang sama dalam menimbulkan pendapatan berapapun kecilnya, dalam hal ini cost tidak dirangking (Suwardjono, 2006). Oleh karena cost sering terjadi salah presepsi dan sering tertukar oleh expense, maka sebaliknya akan dijelaskan makna expense tersebut, sehingga kerancauan yang terjadi dapat diminimalkan. Sampai saat ini pun orang sering mengartikan expense sebagai beban dan cost sebagai biaya yang dapat kita lihat pada SAK, 2007: Beban (expense) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar berkurangnya asset atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal.
Beban mencakupi baik kerugian maupun  beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaaan yang biasa meliputi, misalnya: beban pokok penjualan, gaji dan penyusutan. Beban tersebut biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya asset seperti kas (dan setara kas), persediaan, asset tetap. Dari beberapa definisi cost yang diuraikan di atas, tidak sesuai bila cost disamakan dengan biaya karena cost merupakan sesuatu yang netral dimana cost dapat dilekatkan pada berbagai wadah atau objek yang masih dikonsumsi, disimpan, serta memiliki manfaat dimasa yang akan datang. Sebagai pengukur dalam unit moneter, sebagai bahan olah akuntansi dan yang terpenting cost bukan merupakan wadah layaknya biaya, rugi dan aktiva, sedangkan biaya merupakan sesuatu yang bersifat pengurang atau merupakan suatu pengorbanan dalam menciptakan pendapatan. Cost yang telah menjadi biaya tidak dapat lagi dikonsumsi. Biaya merupakan objek yang harus diukur dengan cost dan bukan sebagai pengukur itu sendiri. Hal ini sesuai dengan definisi yang dikemukakan oleh FASB, Cost is the sacrifice incurred in economic activities-that whice is given up or forgone to consume, to save, to exchange, to produce, etc. Expense are outflows or other using up of asset or incurrences of liabilities (or combination of both) juring a period frome delivering or producing goods, rendering service, or carrying out other activities that constitute the entity’s ongoing major or central operation. Sebagai contoh jika biaya menjadi padanan kata cost, maka cost of goods sold dan cost of product tidak diterjemahkan sebagai harga pokok penjualan, harga pokok produk, tetapi sebagai biaya barang terjual dan biaya produk. Ketidak konsistenan dalam penggunaan istilah tersebut yang bisa membingungkan dunia akademisi maupun praktisi, hal ini disebabkan karena biaya tidak memiliki makna 20 luas seperti halnya cost. Jadi dapat disimpulkan bahwa expense sangat tepat jika diterjemahkan sebagai biaya, dan cost diserap dengan kata lain yang memiliki makna yang general atau netral. Biaya mempunyai makna sebagai sesuatu yang dikorbankan untuk mencapai tujuan akhir, yaitu berupa penyerahan-penyerahan produk atau jasa untuk memperoleh pendapatan. Pemahaman ini berbeda dengan pemahaman kebanyakan orang yang memandang biaya hanya sekedar pengorbanan. Menurut literatur akuntansi berbahasa Inggris menerangkan bahwa perusahaan mempunyai tujuan khusus selain tujuan akhir. Pengorbanan sumber ekonomik untuk memperoleh potensi jasa berupa mesin, bahan baku dan jasa lainnya yang memproduksi barang, bukan merupakan tujuan akhir suatu unit usaha tetapi lebih merupakan tujuan khusus

Hubungan Cost dan Expense (skripsi dan tesis)

 Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa para ahli di bawah ini, mengatakan bahwa cost memiliki pengertian yang berbeda dengan   biaya (expense) yang didasarkan pada manfaat yang dimilikinya, adalah sebagai berikut: Cost merupakan sesuatu yang timbul dari terdahulu, sebuah pengorbanan yang dibuat untuk mengamankan manfaat, dan diukur dengan harga pertukaran. Expense merupakan penurunan aktiva bersih akibat dari penggunaan jasa ekonomi dalam pembentukan suatu penerimaan atau akibat dari pengenaan pajak pemerintah. Definisi Sprouse dan Moonist (dikutip dari Swardjono, 2006). Expenditure atau pengeluaran kas, kekayaan lainnya, modal saham atau jasa atau yang terjadinya hutang dimana untuk hal tersebut diidentifikasi dengan barang atau jasa yang diperoleh atau dengan kerugian yang terjadi, dan diukur melalui jumlah kas yang dibayar atau hutang atau nilai pasar dari kekayaan lainnya, modal saham, atau jasa yang diberikan dalam tukar menukar atau dalam situasi yang lain, yang mana dasar penilaiannya diterima secara umum. Definisi Kother (dikutip dari Suryaningsum, 2003).
Cost merupakan suatu ukuran moneter dari jumlah sumber daya yang digunakan untuk maksud-maksud tertentu. Expenditure merupakan suatu penurunan aktiva (biasanya kas) atau suatu peningkatan hutang yang dihubungkan dengan terjadinya cost. Expenditure dalam periode akuntansi sama saja dengan cost dari semua barang atau jasa yang diperoleh pada periode itu. Expense merupakan suatu istilah dari cost yang dapat dipergunakan untuk periode akuntansi sekarang, expense mewakili sumber daya yang dikonsumsi melalui aktifitas-aktifitas perusahaan dalam mendapatkan laba (earning) selama periode sekarang. Ketika expenditure terjadi cost yang diralat merupakan aktiva atau merupakan biaya (expense). Jika cost memberikan manfaat (benefit) pada periode mendatang, maka disebut aktiva. Jika tidak, ini merupakan pengurangan dalam laba ditahan dari periode sekarang. Disbursement merupakan pembayaran tunai. Expenditure (pengeluaran) tunai merupakan suatu disbursement, tetapi ada juga pembayaran kas seperti pembayaran hutang, pembayaran kembali pinjaman, atau pembayaran deviden tunai kepada para pemegang saham. Definisi Anthony dan Reece (dikutip dari Suryaningsum, 2003). Pada hakekatnya, cost mempunyai dua kedudukan penting yaitu bisa dikategorikan sebagai aktiva (potensi jasa) dan sebagai biaya (beban pendapatan) secara berurutan. Diantara kedua kedudukan tersebut kadang cost mengalami beberapa proses penggabungan, pemecahan, dan reklasifikasi sebelum menjadi biaya, mula-mula cost akan diperlakukan sebagai aktiva (potensi jasa) yang kemudian akan diperlakukan sebagai biaya (beban pendapatan), (Suwardjono, 2006).
 Dua kedudukan penting cost tersebut dapat memperjelas apakah makna dari cost itu sendiri dan apa makna dari biaya (expense). Cost memiliki makna yang general sedangkan biaya merupakan bagian dari cost, cost yang dikategorikan sebagai aktiva (potensi jasa) masih memiliki manfaat dimasa yang akan datang dan masih dikuasai oleh perusahaan sedangkan cost yang tidak memiliki lagi manfaat dimasa yang akan datang disebut biaya (expense). Cost yang melekat pada suatu objek atau wadah tertentu pada setiap akhir periode harus ditentukan. Apakah cost tersebut akan dibebankan sebagai biaya atau sebagai aktiva atau langsung dibebankan dalam laporan rugi/laba. Menurut Chariri dan Ghozali (2007) ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi jika cost yang melekat dalam suatu objek dikatakan sebagai aktiva: a. Masih memiliki manfaat dimasa yang akan mendatang. b. Masih dikuasai oleh perusahaan. Aktiva bisa dikatakan sebagai pengurang pendapatan yang belum dibebankan, yang menunggu sampai saatnya nanti ditandingkan dengan pendapatan sebagai cost of good sold atau sebagai biaya (expense).
 Menurut Suwardjono (2006), cost bisa dikatakan sebagai biaya jika memiliki kriteria sebagai berikut: a. Tidak lagi dikuasai oleh perusahaan atau telaah keluar dari kesatuan usaha. b. Maanfaatnya telah habis pada periode berjalan atau telah dikonsumsi. c. Hilangnya cost karena menghasilkan pendapatan yang merupakan tujuan akhir dari perusahaan dapat dikategorikan sebagai biaya. Tetapi jika manfaat cost habis bukan karena tujuan akhir dari perusahaan (menghasilkan pendapatan), dalam hal ini manfaatnya habis karena sebab lain (lack of benefit) dikategorikan sebagai rugi. Biaya (expense) merupakan aliran keluarnya aktiva, merupakan asset, bertambahnya hutang dalam rangka menghasilkan pendapatan.

Definisi Cost (skripsi dan tesis)

 Definisi terhadap makna cost banyak diajukan oleh para ahli, definisidefinisi yang dikemukakan oleh para ahli berbeda-beda sudut pandangnya. Dalam   makalah ini akan dikemukakan beberapa definisi yang dirasa cukup mewakili makna cost yang sebenarnya dalam konteks akuntansi sebagai penyedia informasi. Berikut ini beberapa definisi cost yang diambil dari beberapa literatur akuntansi: Makna cost adalah cost yang timbul dari terdahulu, sebuah pengorbanan yang dibuat untuk mengamankan manfaat, dan diukur dengan harga pertukaran. Definisi Sprouse dan Moonits (dikutip dari Suwardjono, 2006). Makna cost adalah sebagai pengukur moneter sumber daya yang digunakan untuk beberapa tujuan, dalam rangka untuk suatu kegiatan, yang nantinya dapat menghasilkan suatu penghasilan. Definisi Anthony, Hawkins, dan Merchant (dikutip dari Suwardjono, 2006). Makna cost adalah aliran keluar (outflows) atau pemakaian aktiva atau timbulnya hutang (atau kombinasi keduanya) selama satu periode yang berasal dari penjualan atau produksi barang, atau penyerahan jasa atau pelaksanaan kegiatan yang lain yang merupakan kegiatan utama suatu entitas.Definisi FASB (dikutip oleh Chariri dan Ghozali, 2007).

Makna cost adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang, atau kas yang dibelanjakan atau kekayaan lain yang ditransfer, modal saham yang dikeluarkan, pelayanan yang dijalankan atau hutang yang terjadi, dengan pertimbangan barang atau jasa diterima atau menjadi diterima. Cost dapat diklasifikasikan (dikelompokan) sebagai cost yang belum habis masa manfaatnya. Cost yang belum habis (aktiva) merupakan cost yang dapat dipergunakan untuk produksi dari penerimaan masa mendatang, dan untuk alasan itu diperlakukan sebagai pengurang dari penerimaan sekarang atau dibebankan terhadap laba ditahan. Cost yang belum habis, dapat ditransfer dari satu kelompok (klasifikasi) ke kelompok yang lain sebelum menjadi cost yang sudah habis manfaatnya sebagaimana yang didefinisikan di atas. Definisi Grady (dikutip dari Suwardjono, 2006). Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa cost merupakan pengukur dalam unit moneter suatu pengorbanan yang dilakukan dalam memperoleh barang atau jasa, cost sebagai pengukur dalam unit moneter bukan sebagai sesuatu yang harus dikorbankan, tetapi yang sebenarnya dikorbankan adalah sumber ekonomiknya baik yang berupa fisik maupun non fisik.

 Sebagai pengukur dalam unit moneter maka cost mengukur seberapa banyak atau seberapa besar penggunaan sumber ekonomik dalam unit moneter untuk tujuan tertentu. Menurut Suwardjono (dikutip oleh Suryaningsum, 2003), pengukuran ini sangat penting karena hasil pengukuran kuantitatif akan menjadi data dasar dalam penyedia informasi untuk menentukan beberapa penggunaan berbagai jenis dan jumlah sumber ekonomik dalam satuan yang homogeny. Pengorbanan yang dilakukan oleh satu unit usaha dalam rangka untuk memperoleh barang dan jasa bukan saja berasal dari pengeluaran kas. Tapi dapat pula berasal dari sumber ekonomik yang lainnya misalnya surat berharga, jasa perusahaan, saham maupun obligasi perusahaan. Dengan kata lain terciptanya cost karena adanya kejadian ekonomik dalam suatu organisasi. Dari segi akuntansi, sebenarnya bukan cost itu sendiri yang mempunyai arti penting akan tetapi justru jasa yang ada dibalik angka cost yang termuat dalam rekeninglah yang mempunyai arti penting. Jadi arti penting objek atau jasa diwakili oleh cost yang tercatat dalam setiap rekening. Jasa-jasa tersebut adalah daya, kemampuan, atau kapasitas yang kalu digabungkan atau ditukar satu sama lainnya dapat menimbulkan daya, kemampuan, atau kapasitas lain yang kekuatannya (besarannya) paling tidak sama dengan yang sebelum dimiliki perusahaan. Misalnya, kas ditukar dengan mesin, ini berarti bahwa daya beli ditukarkan dengan daya produksi (Suwardjono, 2006)

Wilcoxon signed rank tes (skripsi dan tesis)

Wilcoxon signed rank test Merupakan uji non parametrik yang digunakan untuk menganalisis data berpasangan karena adanya dua perlakuan yang berbeda (Pramana, 2012). Wilcoxon signed rank test digunakan apabila data tidak berdistribusi normal. Dasar pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak H0 pada uji wilcoxon signed rank test adalah sebagai berikut: Jika probabilitas (Assymp.sig)<0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Jika probabilitas (Assymp.sig)<0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak.

Kinerja PErusahaan (skripsi dan tesis)

Menurut Jumingan (2006) kinerja merupakan gambaran prestasi yang dicapai perusahaan dalam kegiatan operasionalnya baik menyangkut aspek keuangan, aspek pemasaran, aspek penghimpunan dana dan penyaluran dana, aspek teknologi, maupun aspek sumber daya manusianya Bagi investor, informasi mengenai kinerja perusahaan dapat digunakan untuk melihat apakah mereka akan mempertahankan investasi mereka di perusahaan tersebut atau mencari alternatif lain. Apabila kinerja perusahaan baik, maka nilai usaha akan tinggi. Dengan nilai usaha yang tinggi membuat para investor melirik perusahaan tersebut untuk menanamkan modalnya sehingga akan terjadi kenaikan harga saham. Atau dapat dikatakan bahwa harga saham merupakan fungsi dari nilai perusahaan. Kinerja reksadana dapat diukur dengan menghitung total return dengan melibatkan faktor risiko dalam mencapai kinerja tersebut. Selain melihat return, reksadana juga harus melihat tingkat risiko dalam melakukan portofolionya. Selain itu melihat kinerja suatu reksadana dapat dilihat dari Nilai Aktiva Bersih (NAB) Periode pengukuran dapat dilakukan secara harian, mingguan atau bulanan. Penggunaan subperiode harian merupakan yang paling akurat karena pengaruh deviden dapat diperhitungkan secara tepat

Pengukuran Jensen (skripsi dan tesis)

Tandelilin (2001) menjelaskan metode Jensen merupakan metode yang menunjukkan perbedaan antara tingkat return aktual yang diperoleh portofolio dengan tingkat return yang diharapkan jika portofolio tersebut berada pada garis pasar modal. Persamaan metode Jensen dengan metode Treynor adalah kedua metode ukuran kinerja portofolio tersebut menggunakan garis pasar sekuritas sebagai dasar untuk membuat persamaan. Sedangkan perbedaannya adalah bahwa metode Treynor sama dengan slope garis yang menghubungkan posisi portofolio dengan return bebas risiko, sedangkan metode Jensen merupakan selisih antara return portofolio dengan return portofolio yang tidak dikelola dengan cara khusus

Pengukuran Treynor (skripsi dan tesis)

Tandelilin (2011) menjelaskan metode Treynor merupakan ukuran kinerja portofolio yang dikembangkan oleh Jack Treynor. Pengukuran dengan metode Treynor juga didasarkan atas risk premium, seperti halnya metode Sharpe. Perbedaannya dengan metode Sharpe adalah menggunakan garis pasar sekuritas (security market line) sebagai patok duga, dan bukan garis pasar modal seperti m etode Sharpe. Pengukuran kinerja reksa dana saham menggunakan metode Treynor dihitung dengan memperhatikan fluktuasi pasar. Dalam perhitungannya digunakan pembagi beta ( ) yang merupaka risiko fluktuasi terhadap risiko pasar dan return reksa dana saham dengan varians benchmark

Pengukuran Kinerja Portofolio (skripsi dan tesis)

Agar dapat mengetahui kinerja dari suatu portofolio sudah seharusnya dilakukan evaluasi. Sehingga saat ini evaluasi kinerja portofolio sudah berkembang dengan pesat dan memiliki banyak metode. Evaluasi kinerja portofolio merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengambilan keputusan investasi, baik investasi yang dilakukan sendiri maupunmelalui manajer investasi. Dana yang dikelola meliputi mutual funds, dana pensiun, dana abadi perguruan tinggi (college endowment), dan lain-lain. Evaluasi kinerja investasi sudah berkembang pesat. Teori portofolio modern telah mengubah proses evaluasi yang tidak hanya didasarkan pada return dan risiko tetapi juga sumber return dan risiko tersebut. Karena pengukuran kinerja saham dan portofolio berkaitan dengan pengukuran perubahan return dan risiko investasi tersebut dari waktu ke waktu. Elton dan Gruber mengatakan bahwa ada empat prinsip yang harus diperhatikan dalam mengevaluasi portofolio, yaitu: (Zubir, 2011) a) Mengukur kinerja investasi keseluruhan b) Menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja investasi c) Mengetahui karakter yang bersifat umum dari manajer investasi untuk menghasilkan yang terbaik, dan d) Memprediksi kinerja manajer investasi

Teori Portofolio (skripsi dan tesis)

 

Menurut Fahmi dan Hadi (2011:2) portofolio adalah sebuah bidang ilmu yang khusus mengkaji tentang bagaimana cara yang dilakukan oleh seorang investor untuk menurunkan risiko dalam berinvestasi seminimal mungkin, termasuk salah satunya dengan menganekaragamkan risiko tersebut. Menurut Zubir (2011) portofolio saham adalah investasi yang terdiri dari berbagai saham perusahaan yang berbeda dengan harapan bila harga salah satu saham menurun, sementara yang lain meningkat, maka investasi tersebut tidak mengalami kerugian Menurut Jogiyanto (2003) model Markowitz menggunakan asumsi-asumsi sebagai berikut:
1. Waktu yang diberikan hanya satu periode
2. Tidak ada biaya transaksi
3. Preferensi investor hanya berdasarkan ekspektasi imbal hasil dan risiko dari portofolio
 4. Tidak ada pinjaman dan simpanan bebas risiko
Kemampuan untuk mengestimasikan return saham merupakan hal yang sangat penting dan diperlukan untuk investasi saham. Untuk dapat mengestimasikan return suatu saham dengan baik dan mudah diperlukan suatu model estimasi yaitu dengan menggunakan Capital Asset Pricing Model (CAPM) (Jogiyanto, 2003)

Reksa Dana (skripsi dan tesis)

Reksa dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal dan mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain itu, reksa dana juga diharapkan dapat meningkatkan para pemodal lokal yang berinvestasi di pasar modal. Sangat perlu untuk memahami jenis reksa dana yang tersedia, guna mengetahui mengenai instrumen dimana reksa dana melakukan investasi, karakteristik potensi keuntungan serta risiko yang akan terjadi. Menurut Pratomo dan Nugraha (2004), berdasarkan portofolio investasinya reksa dana terdiri dari empat kategori, yaitu: 1) Reksa Dana Pasar Uang 2) Reksa Dana Pendapatan Tetap 3) Reksa Dana Campuran 4) Reksa Dana Saham

 Menurut Siamat (2005), seperti halnya wahana investasi lainnya, disamping mendatangkan berbagai peluang keuntungan, reksa dana pun mengandung berbagai peluang risiko, antara lain:
1. Risiko berkurangnya nilai Unit Penyertaan.
2. Risiko ini dipengaruhi oleh turunnya harga dari Efek (saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) yang masuk dalam portfolio reksa dana tersebut.
3. Risiko likuiditas.
4. Risiko ini menyangkut kesulitan yang dihadapi oleh manajer investasi jika sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas unit-unit yang dipegangnya. Manajer investasi kesulitan dalam menyediakan uang tunai atas redemption tersebut.
5. Risiko wanprestasi Risiko ini merupakan risiko terburuk, dimana risiko ini dapat timbul ketika perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan reksa dana tidak segera membayar ganti rugi atau membayar lebih rendah dari nilai pertanggungan saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti wanprestasi dari pihakpihak yang terkait dengan reksa dana, pialang, bank kustodian, agen pembayaran, atau bencana alam, yang dapat menyebabkan penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana

Abnormal Return (skripsi dan tesis)

Abnormal return adalah return yang di dapat investor yang tidak sesuai dengan pengharapan. Abnormal return adalah selisih antara return yang diharapkan dengan return yang didapatkan. Selisih return akan positif jika return yang didapatkan lebih besar dari return yang diharapkan atau return yang dihitung. Sedangkan return akan negatif jika return yang didapat lebih kecil dari return yang diharapkan atau return yang dihitung.   Abnormal return adalah salah satu indikator yang dipakai untuk melihat keadaan pasar yang sedang terjadi. Informasi dapat dikatakan memiliki nilai bagi investor apabila informasi tersebut memberikan reaksi untuk melakukan transaksi di pasar modal (Jogiyanto, 2009:557). Aspek kepercayaan dari investor merupakan salah satu aspek yang sangat berpengaruh dalam pasar saham. Oleh sebab itu, suatu pengumuman atau pengungkapan akan ditanggapi oleh investor dengan beragam. Abnormal return adalah selisih antara realized return dan expected return (Jogiyanto, 2009:557). Abnormal return akan positif jika return yang didapatakan lebih besar daripada return yang diharapkan atau return yang dihitung. Sedangkan abnormal return akan negatif jika return yang didapat lebih kecil dari return yang diharapkan atau return yang dihitung. Berikut model abnormal return yang ditunjukkan Brown dan Warner dalam Eduardus Tandelilin (2010:225):
1. Mean-adjusted return
Model ini menganggap jika pasar efisien dan return saham bervariasi secara random di sekitar nilai sebenarnya, maka rata-rata return sekuritas yang dihitung dari periode sebelumnya dapat digunakan sebagai expected return

2. Market-adjusted return
Model ini menghitunh abnormal return dengan menghilangkan pengaruh pasar terhadap return harian sekuritas
3. Market model return ‘Model ini menggambarkan hubungan antara sekuritas dengan pasar dalam sebuah persamaan regresi linier sederhana antara return saham sekuritas dengan return pasar
Return merupakan hasil atau keuntungan yang akan diperoleh investor dari investasi yang dilakukan. Menurut Jogiyanto (2009: 199), return itu sendiri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Realized return Realized return merupakan return yang sesungguhnya terjadi.
b. Expected return Expected return merupakan return yang diharapkan oleh investor ketika menanamkan sahamnya. Brown dan Wardan dalam jogiyanto (2009:558) mengestimasikan expected return menggunakan tiga model, yaitu:
1. Mean-adjusted model Model ini menganggap bahwa expected return bernilai konstan yang sama dengan rata-rata realized return sebelumnya selama periode estimasi.
2. Market model Perhitungan expected return dengn model pasar (market model) dilakukan dengan dua tahap, yaitu: (1) membentuk model ekspektasi dengan menggunakan data realisasi selama periode estimasi dan (2) menggunakan model ekspectasian ini untuk mengestimasi expected return di event window. Model ekspektasi dapat dibentuk menggunakan teknik regresi menggunakan teknik regresi OLS (Ordinary Least Square)
3. Market adjusted return Model market adjusted return menganggap bahwa praduga yang terbaik untuk mengestimasi return saham adalah return indeks pasar pada saat tersebut. Dengan menggunakan model ini, maka tidak perlu menggunakan periode estimasi untuk membentuk model estimasinya, karena return saham yang diestimasi adalah sama dengan return indeks pasar

Pengertian Return Saham (skripsi dan tesis)

Return saham atau tingkat pengembalian saham adalah tingkat pengembalian saham biasa, dan merupakan pembayaran kas yang diterima akibat pemilikan suatu saham dengan perubahan harga pasar saham lalu dibagi dengan harga saham pada saat investasi. Jadi tingkat pengembalian ini berasal dari dua sumber, yaitu pendapatan (deviden) dan perubahan harga saham (capital gain) (Nur Azlina, 2009). Dividen adalah pembagian keuntungan yang diberikan perusahaaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Sedangkan capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual yang diperoleh investor dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder (Darmadji, 2011 : 9). Lebih rincinya, capital gain adalah selisih antara harga jual dan harga beli saham per lembar dibagi dengan harga beli

Pengertian Saham (Skripsi dan tesis)

Saham adalah satu instrumen keuangan yang diperjualbelikan di pasar modal Indonesia. Saham (stock) menurut Tjiptono Darmadji (2011 : 3) dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Saham yang diperdagangkan di bursa ada dua jenis yaitu saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock) (Anogara, 2006: 54). Saham biasa (common stock) adalah saham yang memiliki hak-hak yang setara, tidak memiliki hak istimewa terhadap dividen tetapi memiliki hak suara. Sedangkan saham preferen (preferred stock) adalah saham dengan kelompok khusus yang memiliki preferensi atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh saham biasa. Karakteristik yang paling sering berkaitan dengan saham preferen adalah : (1) saham preferen kumulatif (2) saham preferen partisipasi (3) saham preferen konvertibel, (4) saham preferen yang dapat ditarik, (5) saham preferen 30 yang dapat ditebus (Kiesso. et. al, 2007 : 746). Dari kedua jenis saham tadi, yang paling sering diperdagangkan di BEI adalah saham biasa.

Anomali Pasar (skripsi dan tesis)

 Anomali adalah suatu bentuk fenomena yang ada di pasar. Pada anomali ditemukan berbagai macam hal-hal yang seharusnya tidak ada menjadi pasar efisien yang benar-benar ada. Artinya suatu peristiwa dapat dimanfaatkan untuk memperoleh abnormal return. Dengan kata lain adanya kemungkinan seorang investor untuk memperoleh abnormal return dengan mengandalkan suatu peristiwa tertentu (Gumanti dan Utami, 2002, h.54). Salah satu anomali yang terjadi adalah January Effect. January Effect adalah kecenderungan naiknya harga  saham antara tanggal 31 Desember sampai dengan akhir minggu pertama pada bulan Januari. Terjadinya January Effect dapat ditunjukkan dengan adanya return yang tidak normal atau abnormal return yang diperoleh investor. Ada beberapa penyebab yang memungkinkan terjadinya anomali perilaku saham pada bulan Januari, yaitu: a. Tax Loss Selling Hipotesis tax-loss selling menyatakan bahwa investor akan menjual saham yang nilainya turun. b. Window dressing Window dressing yaitu terjadinya aksi jual pada saham-saham yang memiliki kinerja buruk di akhir tahun. Window dressing ini tidak jauh berbeda dengan tax loss selling, perbedaannya adalah hal ini dilakukan oleh manajer keuangan dengan tujuan agar laporan kinerja portofolio saham yang dilaporkan pada akhir tahun akan tampak bagus kinerjanya. c. Small stock’s beta Saham dengan kapitalisasi pasar kecil memiliki resiko yang lebih besar pada bulan Januari daripada bulan-bulan lainnya. Bila hal tersebut benar maka saham kapitalisasi kecil tersebut akan memiliki rata-rata return yang relatif lebih tinggi pada bulan Januari dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Para investor harus hati-hati dalam memaksimalkan masalah anomali pasar ini sebagai suatu alat dalam mengambil keputusan investasi.
Tidak ada jaminan bagi para investor bahwa anomali pasar akan membantu mereka dalam memperbaiki keputusan investasi karena hasil pengujian empiris mengenai anomali pasar ini bukan merupakan strategi investasi sesungguhnya. Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa fungsi anomali pasar adalah untuk memberikan gambaran yang sekaligus memberikan petunjuk dan arahan kepada investor dan memberikan informasi kepada investor dalam pengambilan keputusan.

Pasar Modal Yang Efisien (skripsi dan tesis)

Konsep efisiensi pasar modal mempunyai banyak pengertian yang berbeda tergantung keperluan pelaku yang menerapkannya. Jogiyanto (2009) membedakan pengertian internal efficiency dengan eksternal efficiency. Eksteral efficiency menunjukkan bahwa pasar berada pada posisi keseimbangan sehingga pengambilan keputusan perdagangan saham atas dasar informasi yang tersedia di pasar tidak dapat memberikan tingkat keuntungan di atas tingkat keuntungan pasar ekuilibrium. Sebaliknya internal efficiency menunjukkan bahwa pasar modal tidak hanya memberikan harga yang benar tetapi juga memberikan jasajasa yang diperlukan dengan biaya serendah mungkin. Jogiyanto (2009) mengungkapkan bentuk efisiensi pasar dapat ditinjau dari segi ketersediaan informasinya saja (enformationally efficient market) atau efisiensi pasar dapat pula ditinjau tidak dari ketersediaan informasi saja tetapi juga dilihat dari kecanggihan pelaku pasar dalam pegambilan keputusan berdasarkan analisis dari informasi yang tersedia (decisionally efficient market).
Berikut diuraikan secara rinci bentuk efisiensi pasar tersebut:
1. Efisiensi pasar berdasarkan informas
 a. Efisiensi bentuk lemah (weak form), pasar dikatakan efisien dalam bentuk lemah jika harga-harga dari sekuritas tercermin secara penuh (fully reflect) informasi masa lalu. Informasi masa lalu ini merupakan informasi yang sudah terjadi. Bentuk efisiensi pasar secara lemah ini berkaitan dengan teori langkah acak (random walk theory) yang menyatakan bahwa masa lalu tidak 25 berhubungan dengan nilai sekarang. Jika pasar efisien secara bentuk lemah, maka nilai-nilai masa lalu tidak dapat digunakan untuk memprediksi harga sekaranng. Ini berarti bahwa bentuk pasar yang efisien bentuk lemah, investor tidak dapat menggunakan informasi masa lalu untuk mendapatkan abnormal return. b. Efiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form), pasar dikatakan efisien bentuk setengah kuat jika harga-harga sekuritas secara penuh (fully reflect) mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan (all publicly available) semua informasi yang berada di laporan-laporan keuangan perusahaan emiten. Pengaruh suatu informasi yang dipublikasikan terhada harga dapat berbentuk informasi yang hanya berpengaruh terhadap harga sekuritas yang bersangkutan, informasi yang mempengaruhi harga-harga sejumlah perusahaan atau informasi yang dipublikasikan dapat pula berpengaruh terhadap harga-harga sekuritas semua perusahaan yang terdaftar di pasar saham. c. Efiensi pasar bentuk kuat (strong form), pasar dikatakan efisien dalam bentuk kuat jika harga-harga sekuritas secara penuh mencerminkan (fully reflect) semua informasi yang tersedia termasuk informasi privat. Jika pasar efisien dalam bentuk ini maka tidak ada individual investor atau grup dari investor yang dapat memperoleh keuntungan tidak normal (abnormal return) karena mempunyai informasi privat.
 2. Efisiensi pasar berdasarkan keputusan
Pembagian efisiensi berdasarkan informasi tidaklah cukup untuk menjamin efisiensi pasar, perbedaan kemampuan dalam menganalisis dan menginterpretasikan informasi sebagai informasi baik atau buruk, memungkinkan bagi pelaku pasar untuk memperoleh abnormal return karena kecanggihannya. Efisiensi pasar perlu juga dilihat berdasarkan kecanggihan pelaku pasar dalam mengolah informasi untuk pengambilan keputusan sehingga efisiensi pasar secara keputusan dapat didefinisikan sebagai efisiensi pasar dimana semua pelaku pasar dapat mengambil keputusan dengan canggih. Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan pasar menjadi efisien. Pasar efisien terjadi karena peristiwa-peristiwa sebagai berikut ini: a. Investor adalah penerima harga (price takers), yang berarti bahwa sebagai pelaku pasar, investor seorang diri tidak dapat mempengaruhi harga dari suatu sekuritas. b. Informasi tersedia luas kepada semua pelaku pasar pada saat yang bersamaan dan harga untuk memperoleh informasi tersebut murah. c. Informasi dihasilkan secara acak (random) dan tiap-tiap pengumuman informasi sifatnya random satu dengan yang lainnya sehingga investor tidak dapat memprediksi kapan emiten akan mengumumkan informasi yang baru.  d. Investor bereaksi dengan menggunakan informasi secara penuh dan cepat, sehingga harga sekuritas berubah dengan semestinya mencerminkan informasi tersebut utnuk mencapai keseimbangan yang baru.
Sebaliknya pasar dikatakan efisien jika kondisi-kondisi berikut terjadi, yaitu: a. Terdapat sejumlah kecil pelaku pasar yang data mempengaruhi harga dari sekuritas. b. Harga dari informasi adalah mahal dan terdapat akses yang tidak seragam antara pelaku pasar yang satu dengan yang lainnya terhadap suatu informasi. c. Informasi yang disebarkan dapat diprediksi baik oleh sebagian dari pelakupelaku. d. Investor adalah individual-individual yang lugas (naïve investor) dan tidak canggih

Pengertian Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Secara umum pasar modal adalah tempat atau sarana bertemunya antara permintaan dan penawaran atas instrumen keuangan jangka panjang. Umumnya 23 lebih dari satu tahun. Pasar modal (capital market) merupakan tempat diperjualbelikannya berbagai instrument keuangan jangka panjang, seperti utang, saham, instrument derivatif, dan instrument lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain, dan sebagai sarana kegiatan berinvestasi (Darmadji, 2011: 1). Pasar modal yang maju dan berkembang adalah impian dari banyak negara karena pasar modal juga dapat mendorong terciptanya alokasi dana yang efisien karena dengan adanya pasar modal pihak yang kelebihan dana (investor) dapat memilih alternatif investasi yang memberikan return relatif besar (Luhgianto : 2011). Menurut Darmadji (2011 : 2), dengan adanya pasar modal, pihak investor dapat menginvestasikan dana tersebut dengan harapan memperoleh imbalan (return), sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan) dapat memanfaatkan dana tersebut tanpa harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan. Pasar modal memiliki peran besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus, fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Selain itu, dengan adanya pasar modal, diharapkan aktivitas perekonomian menjadi meningkat karena pasar modal merupakan alternatif pendanaan bagi perusahaan-perusahaan sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan skala yang lebih besar dan pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan perusahaan dan kemakmuran masyarakat luas

Signalling Theory (skripsi dan tesis)

 Investor harus berhati-hati dengan naik, turun, dan konstannya saham di pasar akan memberikan sinyal positif dan negatif. Apapun informasi yang terjadi dari kondisi saham suatu perusahaan selalu memberi efek bagi keputusan investor sebagai pihak yang menangkap sinyal tersebut. Konsep Signalling theory disini menjadi sangat berperan. Teori sinyal digunakan untuk menjelaskan bahwa pada dasarnya suatu informasi dimanfaatkan untuk memberi sinyal positif maupun negatif kepada pemakainya. Teori sinyal (Leland dan Pyle dalam Scott, 2012:475) menyatakan bahwa pihak eksekutif perusahaan yang memiliki informasi lebih baik mengenai perusahaannya akan terdorong untuk menyampaikan nilai perusahaan melalui pelaporannya dengan mengirimkan sinyal melalui laporan tahunannya. Manajemen tidak sepenuhnya menyampaikan seluruh informasi yang diperolehnya tentang semua hal yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan ke pasar modal, sehingga jika manajemen menyampaikan suatu informasi ke pasar, maka umumnya pasar akan bereaksi terhadap informasi tersebut sebagai suatu sinyal (Listiana:2009).
 Teori sinyal adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa suatu perusahaan harus memberikan sinyal kepada para pengguna laporan keuangan untuk kepentingan mereka (Brigham dalam Susilowati,2011). Sinyal yang diberikan  tersebut berupa informasi tentang kondisi perusahaan kepada pemilik ataupun pihak yang berkepentingan. Misalnya melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan, bisa juga melalui laporan tentang apa yang sudah dilakukan oleh manajer untuk merealisasikan keinginan pemilik perusahaan, atau mungkin berupa informasi yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain. Tujuannya adalah supaya para investor atau calon investor mengerti bagaimana keadaan perusahaan sebenarnya. Teori sinyal juga menjelaskan tentang bagaimana seharusnya seorang investor harus memiliki informasi yang sama tentang prospek perusahaan selain manajer. Namun faktanya manajer sering memiliki informasi yang lebih baik dari investor luar misalnya dalam hal prospek perusahaan yang akan datang. Hal semacam ini disebut dengan informasi asimetri. Teori sinyal juga menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Salah satunya adalah karena adanya informasi asimetri tersebut. Motivasi signaling mendorong manajemen menyajikan laporan laba yang dapat mencerminkan laba sesungguhnya (Sunarto, 2008 dalam Susilowati, 2011). Investor akan melihat prospek return masa depan perusahaan melalui sinyal yang diberikan. Dengan adanya sinyal yang diberikan tersebut investor bisa dengan mudah menentukan keputusannya

Uji Tanda (Sign-Test) (skripsi dan tesis)

Apabila telah ditetapkan pasangan ukuran ordinal yang diambil dari subyek yang sama atau subyek yang dicocokkan, dan apabila hanya ingin diselidiki apakah terdapat perbedaan nyata atau tidak tanpa memperhatikan perbedaan tersebut, maka prosedur uji tanda harus digunakan. Prosedur uji tanda didasarkan pada tanda negatif atau positif dari perbedaan antara pasangan data ordinal. Pada hakekatnya pengujian ini hanya memperhatikan arah perbedaan dan bukan besarnya perbedaan itu.

Statistik Non parametrik (skripsi dan tesis)

Menurut Webster (1998), uji nonparametrik adalah prosedur statistik yang dapat digunakan untuk melakukan uji hipotesis jika tidak ada asumsi tentang distribusi parameter-parameter atau populasi. Menurut Supranto (2002), metode statistik parametrik, seperti statistik uji t atau F, digunakan apabila peneliti mengetahui fakta yang pasti mengenai sekelompok data yang menjadi sumber sampel. Pada dasarnya, peneliti harus bekerja dengan data yang telah diambil secara independen dan tanpa bias dari sekelompok item. Data tersebut haruslah berasal dari populasi yang terdistribusi secara normal dan mempunyai varians yang sama, dan harus diukur setidaknya pada tingkat interval. Metode Statistik nonparametrik dipakai apabila peneliti tidak mengetahui karkteristik kelompok item yang menjadi sumber sampelnya. Metode ini dapat diterapkan terhadap data yang diukur dengan skala ordinal dan dalam kasus tertentu, dengan skala nominal. Pengujian nonparametrik bermanfaat untuk digunakan apabila sampelnya kecil dan lebih mudah dihitung dari pada metode parametrik. Metode nonparametrik juga digunakan secara luas guna mengenalisis data di bidang ilmu sosial (Supranto, 2002).

Pembahasan mengenai statistik nonparametrik meliputi : uji tanda, uji peringkat bertanda Wilcoxon, uji Mann-Whitney, uji deret, dan koefisien korelasi peringkat Spearman. Statistika parametrik adalah ilmu statistika yang mempertimbangkan jenis sebaran/distribusi data, yaitu apakah data menyebar normal atau tidak. Pada umumnya, Jika data tidak menyebar normal, maka data harus dikerjakan dengan metode statistika non-parametrik, atau setidak-tidaknynya dilakukan transformasi agar data mengikuti sebaran normal, sehingga bisa dikerjakan dengan statistika parametrik. Contoh metode statistika parametrik: uji-z (1 atau 2 sampel), uji-t (1 atau 2 sampel), korelasi pearson, Perancangan Percobaan (1 or 2-way ANOVA parametrik), dan lain-lain. Menurut Kurniawan (2007), statistika non-parametrik adalah statistika bebas sebaran (tidak mensyaratkan bentuk sebaran parameter populasi, baik normal atau tidak). Statistika non-parametrik biasanya digunakan untuk melakukan analisis pada data berjenis Nominal atau Ordinal. Data berjenis Nominal dan Ordinal tidak menyebar normal. Contoh metode Statistika non-parametrik:Binomial test, Chi-square test, Median test, Friedman Test, dan lain-lain. Dalam praktik, tidak semua data statistik bisa diolah menggunakan metode parametrik, baik hal itu disebabkan jumlah data yang minim, distribusi data yang tidak normal, jenis data ataupun sebab lainnya. Menurut Santoso (2010, sebagai alternatif dapat digunakan berbagai metode nonparametrik, yang dengan dukungan software seperti SPSS memungkinkan pengguna mengolah data dan menginterpretasi output dengan mudah. Menurut Tentua (2009), metode statistik nonparametrik digunakan untuk situasi seperti: (1) apabila ukuran sampel demikian kecil sehingga distribusi statistik pengambilan sampel tidak mendekati normal, dan apabila tidak ada asumsi yang dapat dibuat tentang bentuk distribusi populasi yang menjadi sumber sampel; (2) apabila digunakan data peringkat atau ordinal; (3) apabila data nominal digunakan (data nominal adalah data di mana sebutan seperti laki-laki atau perempuan diberikan kepada item dan tidak ada implikasi di dalam sebutan tersebut bahwa item yang satu lebih tinggi atau lebih rendah daripada item lainnya). Menurut Tentua (2009), keuntungan dari penggunaan metode nonparametric, yaitu: (1) metode non parametrik tidak mengharuskan data berdistribusi normal, karena itu metode ini sering juga dinamakan uji distribusi bebas (distribution free test). Dengan demikian metode ini dapat dipakai untuk segala distribusi data dan lebih luas penggunaannya.; (2) metode non parametrik dapat dipakai untuk level data seperti nominal dan ordinal; (3) metode non parametrik lebih sederhana dan mudah dimengerti daripada pengerjaan Metode Parametrik. Di samping berbagai keunggulan di atas, metode non parametrik juga mempunyai beberapa kelemahan, seperti: (1) tidak adanya sistematika yang jelas seperti pada metode parametrik, hasilnya dapat meragukan karena kesederhanaan metodenya; (2) tabel-tabel yang dipakai lebih bervariasi dibanding tabel-tabel standar pada metode Parametrik. Beberapa metode statistik non parametrik yang digunakan secara luas

SP SS for Windows (skripsi dan tesis)

 SPSS adalah program atau software yang digunakan untuk olah data statistik. Dari berbagai program olah data statistik lainnya, SPSS merupakan yang paling banyak digunakan dan diminati oleh para peneliti. Dahulu SPSS digunakan untuk olah data statistik pada ilmu sosial sehingga saat itu kepanjangan SPSS adalah Statistical Package for the Social Sciences, tapi seiring berjalannya waktu SPSS mengalami perkembangan dan penggunaan semakin kompleks SPSS yang dahulunya merupakan singkatan dari statistical package for social science merupakan paket program statistika yang paling popular dan paling banyak digunakan di seluruh dunia. Hal inilah yang membuat kepanjangan dari SPSS saat ini adalah statistical product and service solution. Dengan SPSS semua kebutuhan pengolahan data dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat. Kemampuan yang dapat diperoleh dari SPSS meliputi pemrosesan segala bentuk file data, modifikasi data, membuat tabulasi berbentuk distribusi frekuensi, analisis statistik lanjut dan sederhana maupun komplek, pembuatan grafik dan sebagainya. SPSS sebagai software statistika, pertama kali dibuat tahun 1868 oleh tiga mahasiswa Stanford University, yang dioperasikan pada computer mainframe.
 Pada tahun 1984, SPSS pertama kali muncul dengan versi PC (dapat dipakai untuk komputer desktop) dengan nama SPSS/PC+ dan sejalan dengan mulai 29 populernya sistem operasi Windows SPSS pada tahun 1992 juga mengeluarkan versi Windows. Selain itu, antara tahun 1994 sampai tahun 1998, SPSS melakukan berbagai kebijakan strategis untuk mengembangkan software statistik dengan mengakuisisi software home terkemuka. Hal ini membuat SPSS yang tadinya ditujukan bagi pengolahan data statistik untuk ilmu social, sekarang diperlukan untuk melayani berbagai jenis user, seperti untuk proses produksi di pabrik, riset ilmu-ilmu sains dan lainnya (Singgih, 2005: 10).

Uji Kolmogorov Smirnov (skripsi dan tesis)

Dua Sampel Uji Kolmogorov Smirnov digunakan untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel independen bila datanya berbentuk ordinal yang telah tersususn pada tabel distribusi frekuensi kumulatif dengan menggunakan klas-klas interval. Prinsip rumus Kolmogorov Smirnov adalah menghitung selisih absolut antara pada masing-masing interval kelas. Nilai D kemudian dibandingkan dengan nilai kritis tabel Kolmogorov Smirnov, pada ukuran n dan tingkat kemaknaan α.

Uji Mann-Whitney (skripsi dan tesis)

Uji Mann-Whitney digunakan untuk menguji signifikansi hipotesis komparatif dua sampel independen bila datanya berbentuk ordinal. Test ini merupakan yang terbaik untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel independen bila datanya berbentuk ordinal. Bila dalam suatu pengamatan data berbentuk interval, maka perlu dirubah dulu ke dalam data ordinal. 24 Ukuran sampel tidak harus sama karena sampel tersebut tidak berpasangan atau independen sehingga kedua sampel tidak saling mempengaruhi. Sampel diambil dari 2 populasi, di mana perbedaan kedua populasi diamati berdasar sampel acak dari populasi tersebut. Asumsi-asumsi yang diperlukan dalam uji Mann-Whitney antara lain : data merupakan sampel acak hasil pengamatan dari populasi 1 dan sampel acak hasil pengamatan dari populasi 2, kedua sampel tidak saling mempengaruhi, variabel yang diamati adalah variabel acak, dan skala pengukuran yang dipakai adalah ordinal

Distribusi Frekuensi (skripsi dan tesis)

Menurut Santoso (2003: 73) disebutkan bahwa: “distribusi frekuensi pada prinsipnya adalah menyusun dan mengatur data kuantitatif yang masih mentah ke dalam beberapa kelas data yang sama, sehingga setiap kelas bisa menggambarkan karakteristik data yang ada.” Tujuan utama distribusi frekuensi adalah untuk mengorganisasikan data secara sistematik ke dalam berbagai macam klasifikasi tanpa mengurangi informasi yang ada dari data tersebut. Untuk data yang jumlahnya cukup banyak, maka pembuatan distribusi frekuensi dapat dilakukan dengan membagi data-data tersebut ke dalam beberapa kelas sesuai dengan nilainilai (hasil) data yang diperoleh, tetapi bila jumlah data relatif sedikit, maka pembuatan distribusi frekuensi tidak perlu dilakukan dengan membagi ke dalam berbagai macam kelas, sehingga data yang jumlahnya sedikit tersebut digolongkan ke dalam data yang tidak berkelompok. Untuk membuat daftar distribusi frekuensi dengan panjang kelas yang sama, kita lakukan sebagai berikut:

 (1) Tentukan rentang, rentang adalah data terbesar dikurangi data terkecil.
 (2) Tentukan banyak kelas interval yang diperlukan. Banyak kelas sering biasa diambil paling sedikit 5 kelas dan paling banyak 15 kelas, dipilih menurut keperluan. Cara lain cukup bagus untuk n berukuran besar misalnya, dapat menggunakan aturan Sturges,
(3) Tentukan panjang kelas interval p.
(4) Pilih ujung bawah kelas interval pertama. Untuk ini bisa diambil sama dengan data terkecil atau nilai data yang lebih kecil dari data terkecil tetapi selisihnya harus kurang dari panjang kelas yang telah ditentukan. Selanjutnya daftar distribusi diselesaikan dengan menggunakan harga-harga yang telah dihitung.
(5) Membuat tabel distribusi frekuensi yang sesuai dengan jumlah kelas yang ada serta kelas intervalnya.

Pengertian Rank (skripsi dan tesis)

Pandang peubah acak yang masing-masing mempunyai nilai pengamatan . Nilai-nilai pengamatan ini diberi nomor 1, nomor 2, dan seterusnya dari urutan terbesar sampai terkecil. Nomor urutan tersebut adalah rank, yaitu bilamana yang diberikan pada setiap pengamatan sesuai dengan urutan besarnya peubah acaknya. Susunan keseluruhan rank di sebut ranking, di mana setiap anggotanya memiliki nilai rank. Misalnya kita ambil data sebagai berikut 6,8,11,3,2 kemudian setelah dibuat rangking, data menjadi 2,3,6,8,11 di mana rank ke-1 nilainya 2, rank ke-2 nilainya 3, rank ke-3 nilainya 6, rank ke-4 nilainya 8 dan rank ke-5 nilainya 11. 22 Jika diketahui terdapat angka sama dalam suatu data maka angka yang sama diberi peringkat rata-rata dari posisi-posisi yang seharusnya. Misal diambil angka sebagai berikut 6,2,2,7,4,1. Kemudian setelah dibuat rangking data menjadi 1,2,2,4,6,7 di mana rank ke-1 nilainya 1, rank ke-2 nilainya 2, rank ke-3 nilainya 2, sehingga untuk nilai 2 digunakan rata-rata jadi rank ke-2 nilainya 2,5 dan rank ke-3 nilainya 2,5, rank ke-4 nilainya 4, rank ke-5 nilainya 6 dan rank ke6 nilainya 7

Hipotesis Komparatif (Skripsi dan tesis)

 Hipotesis komparatif merupakan dugaan terhadap perbandingan nilai dua sampel atau lebih. Dalam hal komparasi ini terdapat beberapa macam, yakni: (1) Komparasi berpasangan (related) dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel (k sampel). (2) Komparasi independen dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel (k sampel). Contoh: (1) Sampel berpasangan, komparatif dua sampel Contoh rumusan hipotesisnya adalah sebagai berikut : H0 : tidak terdapat perbedaan nilai penjualan sebelum dan sesudah ada iklan. Ha : terdapat perbedaan nilai penjualan sebelum dan sesudah ada iklan. (2) Sampel independen, komparatif tiga sampel
 Contoh rumusan hipotesisnya adalah sebagai berikut : H0 : tidak terdapat perbedaan antara birokrat, akademisi, dan pebisnis dalam memilih partai. Ha : terdapat perbedaan antara birokrat, akademisi, dan pebisnis dalam memilih partai.

Hipotesis Deskriptif (skripsi dan tesis)

Hipotesis Deskriptif merupakan dugaan terhadap nilai satu variabel dalam satu sampel walaupun didalamnya bisa terdapat tiga kategori. Contoh rumusan hipotesisnya adalah sebagai berikut : H0 : kecenderungan masyarakat memilih warna mobil gelap. Ha : kecenderungan masyarakat memilih warna mobil bukan gelap.

Pengujian Hipotesis (skripsi dan tesis)

 Menurut Sugiyono (2005: 5) disebutkan bahwa: “hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori dan belum menggunakan fakta.” Jika asumsi atau dugaan itu dikhususkan mengenai populasi, misalnya mengenai nilai-nilai parameter populasi, maka hipotesis tersebut disebut hipotesis statistik. Setiap hipotesis bisa benar atau tidak benar dan karenanya perlu diadakan penelitian sebelum hipotesis itu diterima atau ditolak. Langkah atau prosedur untuk menentukan apakah menerima atau menolak hipotesis dinamakan pengujian hipotesis. Hipotesis disajikan dalam bentuk pernyataan yang menghubungkan secara eksplisit maupun implisit satu variabel dengan variabel lain. Hipotesis yang baik selalu memenuhi dua persyaratan, yaitu: menggambarkan hubungan antar variabel dan dapat memberikan petunjuk bagaimana pengujian terhadap hubungan tersebut. Di dalam pengujian terdapat dua hipotesis yakni hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (Ha). hipotesis nol (H0) digunakan sebagai dasar pengujian statistik, atau hal yang berlaku secara umum. Dalam pengambilan keputusan H0,  kadang-kadang dilakukan kesalahan.
Ada dua tipe kesalahan yang mungkin dilakukan yakni kesalahan tipe I dan kesalahan tipe II. Kesalahan tipe I terjadi jika menolak hipotesis nol (H0) dengan syarat H0 benar. Sedangkan kesalahan tipe II terjadi jika menerima hipotesis nol (H0) dengan syarat H0 salah. Hipotesis alternatif (Ha) merupakan kesimpulan sementara dari hubungan antar variabel yang sudah dipelajari dari teori-teori yang berhubungan dengan suatu masalah. Bila kita hendak membuat keputusan mengenai perbedaan-perbedaan, kita menguji H0 terhadap Ha. Ha merupakan pernyataan yang kita terima jika H0 ditolak. Menurut Conover (1978: 80) disebutkan bahwa: “taraf signifikan (α) adalah peluang kesalahan tipe I atau peluang bersyarat menolak H0 dengan syarat H0 benar. Jadi α = (Tolak H0 / H0 benar). Taraf kritik (critical level) α adalah taraf signifikan terkecil yang harus dicapai untuk menolak H0 pada suatu pengamatan.” Dalam pengambilan kesimpulan ada kemungkinan untuk berbuat satu diantara dua tipe kesalahan. Maka dari itu peneliti harus dapat mencapai nilai kompromi yang merupakan keseimbangan yang optimal antara peluang-peluang yang diperbuat kedua tipe kesalahan itu. Untuk mencapai keseimbangan itu, maka digunakan fungsi kuasa (power function). Fungsi kuasa (power function) adalah peluang untuk menolak H0 ketika H0 salah. jadi peluang kuasa uji adalah 1 – β. Untuk setiap pengujian dengan α yang ditentukan, besar β dapat dihitung. Harga 1 – β dinamakan kuasa uji. Jika nilai β berbeda untuk harga parameter yang berlainan, maka β bergantung pada parameter, katakanlah θ, sehingga didapat β(θ) 20 sebuah fungsi yang bergantung pada θ. Bentuk β(θ) dinamakan fungsi ciri operasi, dan 1 – β( θ) dinamakan fungsi kuasanya.

Skala Rasio (skripsi dan tesis)

Menurut Soepono (2002: 7) “skala rasio didefinisikan, bila suatu skala interval mempunyai titik nol yang nyata, skala tersebut dinamakan skala rasio.” Dalam skala rasio perbandingan dari tiap titik pada unit pengukuran adalah bebas. Skala rasio sama dengan skala interval, yaitu antara dua nilai yang berurutan mempunyai jarak yang sama atau berupa angka dalam arti yang sebenarnya. Perbedaanya adalah bahwa dalam skala rasio angka 0 bersifat absolute (mutlak). Jadi 0 berarti kosong sama sekali. Misalnya massa 0 kg berarti tidak ada kuantitas sama sekali.

Skala Interval (skripsi dan tesis)

Skala Interval adalah skala yang digunakan untuk data yang menunjukkan adanya penggolongan yang mempunyai besaran sama, data ini mempunyai ciri yang berkelanjutan (kontinu) sehingga dapat diukur, skala ini mempunyai angka 0 mutlak. Oleh sebab itu harga atau nilai yang dimiliki setiap intervalnya adalah sama, misal isi interval 1-2 akan memiliki harga yang sama dengan isi interval 8- 9. Contoh dari skala data ini adalah, prestasi belajar siswa berentang antara 0- 100 atau 0-10, hasil IQ, hasil tes fisik dan sebagainya. Satu hal yang perlu diingat adalah, bahwa pada skala data ini tidak memiliki harga 0 mutlak. Bilangan 0 yang dimiliki disini adalah bilangan 0 relatif, sebab walaupun individu mendapat nilai prestasi belajar 0, ini tidak berarti bahwa individu tersebut prestasi belajarnya kosong sama sekali.

Skala Ordinal (Skripsi dan tesis)

Skala ordinal dapat digunakan untuk menunjukkan status atau tingkat kedudukan individu yang satu dengan yang lainnya dalam karakteristik tertentu. Dalam skala ini dapat menentukan kedudukan individu dalam kelompok, namun tidak dapat mengetahui perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Jarak antara 1 dan 2 dapat berbeda jauh dibandingkan jarak antara 5 dan 6. Penggolongan data ini mempunyai sifat berkelanjutan (kontinu), dimana masingmasing golongan mempunyai besaran sendiri-sendiri. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa, salah satu individu lebih besar (kecil) dibandingkan dengan yang lainnya. Data ordinal seperti pada data nominal, adalah data dengan level lebih tinggi daripada data nominal. Jika pada data nominal, semua data kategori dianggap sama, maka pada data ordinal terdapat tingkatan data. Misalnya hasil ujian akhir suatu SMA menyatakan bahwa: (1) Siswa A sebagai juara 1; (2) Siswa B sebagai juara 2; (3) Siswa C sebagai juara 3; (4) dst. Dalam hal ini angka satu mempunyai nilai lebih tinggi daripada angka 2 maupun 3, tetapi skala ini tidak bisa menunjukkan perbedaan kemampuan antara A, B, dan C secara pasti. Juara satu tidak berarti mempunyai kemampuan dua kali lipat juara dua maupun mempunyai kemampuan tiga kali lipat dari kemampuan juara tiga. Di samping itu perbedaan kemampuan antara siswa juara 1 dengan siswa juara 2, juga berkemungkinan besar tidak sama dengan perbedaan kemampuan siswa juara   2 dengan siswa juara 3. Dengan demikian maka rentangan kemampuan siswa untuk rentangan kemampuan untuk masing-masing juara tidak selalu sama (tetap), walaupun angka yang dipakai sebagai pengganti mempunyai rentangan yang sama.

Skala Nominal (Skripsi dan tesis)

Skala nominal adalah skala yang digunakan untuk mengkategorikan (menggolongkan) data atas dasar kriteria yang jelas dan tegas dan bersifat diskrit. Data penelitian dapat dikategorikan menjadi dua atau lebih, tergantung pada karakteristik data itu sendiri. Skala nominal tidak diberi konotasi perbedaan harga, dengan kata lain, kategori yang satu tidak lebih tinggi dari kategori yang lain. Misalnya adalah kategori dari etnis yang ada di Indonesia; Jawa, Madura, Batak, Bali, Dayak, Sunda, Badui, dan lain sebagainya. Kedudukan setiap etnis tersebut tidak menggambarkan status sosial yang berbeda. Kategori jenis agama yang ada di Indonesia, Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha, kedudukan setiap kategori agama tersebut tidak menunjukkan perbedaan, misalnya agama Islam lebih baik dari agama yang lain. Pengukuran skala ini hanya dapat dilakukan dengan menghitung jumlah frekuensinya saja, berapa jumlah individu yang tergolong etnis Jawa, Bali, Batak dan sebagainya. Angka dari hasil penjumlahan inilah merupakan data berskala nominal, yang selanjutnya akan dianalisis dengan menggunakan statistik. Data bertipe nominal adalah data yang paling rendah dalam level pengukuran data. Jika suatu pengukuran data hanya menghasilkan satu dan hanya satu-satunya kategori, data tersebut adalah data nominal (data kategori). Data nominal dalam praktik statistik biasanya dijadikan angka, yaitu proses yang 16 disebut kategorisasi. Misalnya dalam pengisian data jenis kelamin, laki-laki dikategorikan ‘1’ dan perempuan dikategorikan ‘2’.

Populasi (skripsi dan tesis)

Menurut Sudjana (2005: 6) disebutkan bahwa: “populasi merupakan totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung ataupun pengukuran, kuantitatif atau kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.” Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekadar banyaknya objek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiiki oleh objek tersebut

Statistika Nonparametrik (Skripsi dan tesis)

 Menurut Siegel (1997: 38) disebutkan bahwa: “uji statistika nonparametrik adalah statistika yang modelnya tidak menetapkan syarat-syarat mengenai parameter-parameter populasi yang merupakan induk sampel penelitiannya.” Beberapa asumsi yang berhubungan erat dengan uji statistika nonparametrik adalah bahwa pengamatan tersebut bebas dan variabel yang diamati kontinu, tetapi asumsi yang dibuat adalah lebih lemah dan kurang teliti bila dibandingkan dengan uji parametrik. Oleh karena itu, uji nonparametrik tidak membutuhkan suatu pengukuran dengan tingkat ketelitian yang tinggi seperti uji parametrik. Biasanya uji nonparametrik dipakai untuk menganalisis data dalam skala ordinal dan nominal. Menurut Siegel (1997: 40), keunggulan uji statistika nonparametrik antara lain: Jika sampelnya terlalu kecil, maka tidak ada alternatif lain menggunakan uji statistika nonparametrik, kecuali jika sifat distribusi populasinya diketahui dengan pasti. Uji nonparametrik dapat digunakan untuk menganalisis data yang pada dasarnya adalah data dalam bentuk ranking.
Jadi peneliti hanya dapat mengatakan terhadap subyek penelitian bahwa yang satu memiliki lebih atau kurang karakteristik dibandingkan lainnya,  tanpa dapat mengatakan seberapa besar lebih atau kurang itu. Uji nonparametrik lebih mudah dipelajari dan diterapkan dibandingkan dengan uji parametrik. Menurut Siegel (1997: 41), kelemahan uji statistika nonparametrik antara lain: Jika data telah memenuhi semua anggapan atau asumsi model statistik parametrik, dan jika pengukurannya mempunyai kuasa (power) seperti yang diinginkan, maka penggunaan metode nonparametrik akan merupakan penghamburan data. Tingkat penghamburan atau penyianyiaan itu dinyatakan oleh kekuatan efisiensi kuasa uji nonparametrik. Perlu dinyatakan bahwa jika suatu uji nonparametrik memiliki efisiensi kuasa uji yang besar, maka metode parametrik yang sesuai akan efektif dibandingkan dengan menggunakan metode nonparametrik.

Statistika Parametrik (skripsi dan tesis)

 Statistika parametrik adalah alat bantu analisis data dengan berdasar pada syarat-syarat, bahwa sampelnya harus berdistribusi normal yang diambil secara random, dan datanya berskala interval dan atau rasio. Syarat-syarat itu biasanya tidak diuji dan dianggap sudah dipenuhi, seberapa jauh makna hasil suatu uji parametrik bergantung pada validitas anggapan-anggapan tadi. Uji parametrik juga menuntut bahwa skor-skor yang dianalisis merupakan hasil suatu pengukuran yang sedikitnya berkekuatan sebagai skala interval. Penggunaan analisis statistika parametrik, tergantung dari asumsi-asumsi dasar berkaitan dengan distribusi dan jenis skala data yang diperoleh dari populasi maupun sampel penelitiannya.
Ada beberapa persyaratan asumsi dasar untuk menggunakan statistika parametrik, yaitu:
1. Data yang diperoleh dari observasi harus bersifat independent, di mana pemilihan salah satu kasus tidak tergantung pada pemilihan kasus lainnya.
2. Sampel yang diperoleh dari populasi berdistribusi normal, dan diambil secara random.
 3. Sampel-sampelnya memiliki varians yang sama atau mendekati sama, terutama jika sampelnya kecil
. 4. Variabel-variabel yang digambarkan berupa skala interval atau rasio (Soepono, 2002: 4).
 Data yang berskala nominal atau ordinal tidak memenuhi syarat untuk diolah dengan statistika parametrik. Namun dalam kenyataannya banyak hal dalam hal penelitian, seorang peneliti dihadapkan pada suatu di mana persyaratanpersyaratan di atas tidak dapat terpenuhi, untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan penggunaan analisis statistik ini, maka statistik non parametric lah dapat dipakai sebagai alat bantu untuk menganalisis datanya. Ini merupakan uji statistik yang tidak memerlukan asumsi tentang distribusi dari populas

Statistika Inferensial (Skripsi dan tesis)

Menurut Sugiyono (2005: 13) disebutkan bahwa: “Statistika Inferensial adalah statistika yang digunakan untuk menganalisis data sampel, dan hasilnya akan digeneralisasikan (diinferensikan) untuk populasi di mana sampel diambil.” Statistika inferensial memperkenalkan langkah-langkah dalam tiap usaha untuk mengambil kesimpulan dari fakta yang disajikan sampel. Statistika inferensial dibagi menjadi dua macam, yakni statistika parametrik dan statistika nonparametrik. Statistika inferensial mencakup beberapa langkah yang terprosedur secara sistematik, mulai dari perumusan masalah, kajian pustaka dan kajian temuan penelitian yang relevan dengan masalah penelitian, untuk memformulasikan hipotesis sampai dengan taraf inferensial yang dicerminkan dari hasil analisis statistik untuk pengujian hipotesis dan penggeneralisasian temuannya. Menurut Soepono (2002: 3) dijelaskan bahwa: “fungsi statistik dalam penelitian inferensial adalah sebagai alat bantu yang tidak hanya untuk mendeskripsikan, tetapi lebih ditekankan pada fungsi analisis untuk menginferensialkan (menemukan ciri-ciri statistik tertentu) untuk suatu populasi dari suatu sampel secara random dalam rangka pengujian hipotesis penelitian

Statistika Deskriptif (skripsi dan tesis)

Menurut Sugiyono (2005: 12) disebutkan bahwa: “Statistika Deskriptif adalah statistika yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu statistik hasil penelitian, tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas. Suatu penelitian yang tidak menggunakan sampel, analisisnya akan menggunakan statistika deskriptif.”   Statistika deskriptif pada hakekatnya merupakan tingkatan awal dan pengembangan suatu ilmu atau disiplin yang di dalamnya mencakup gambaran atau koleksi data dari suatu objek atau fenomena yang diamati. Dalam hal ini penelitian hanya bermaksud untuk membangun konfigurasi atau deskripsi apa adanya dari suatu fenomena yang berbeda dalam konteks penelitiannya. Penelitian ini biasanya masih bersifat eksploratif, hasil penelitian ini masih berupa hipotesis yang masih memerlukan pengujian kebenarannya dalam studi lanjutan

Statistika (skripsi dan tesis)

Dari hasil penelitian (riset) maupun pengamatan, baik yang dilakukan khusus ataupun berbentuk laporan, sering diminta atau diinginkan suatu uraian, penjelasan atau kesimpulan tentang persoalan yang diteliti. Sebelum kesimpulan dibuat, keterangan atau data yang telah terkumpul itu terlebih dahulu dipelajari, dianalisis atau diolah dan berdasarkan pengolahan inilah baru kesimpulan dibuat. Tentulah dimengerti bahwa pengumpulan data atau keterangan, pengolahan dan pembuatan kesimpulan harus dilakukan dengan baik, cermat, teliti, hati-hati, mengikuti cara-cara dan teori yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Sudjana (2002: 3) disebutkan bahwa: “Statistika adalah pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan data, pengolahan atau penganalisisannya dan penarikan kesimpulan berdasarkan kumpulan data dan penganalisisannya yang dilakukan.” Ada dua jalan untuk mempelajari statistika, yang pertama melalui kajian statistika matematis atau statistika teoritis, dalam mempelajari statistika diperlukan dasar matematika yang kuat dan mendalam. Yang dibahas antara lain penurunan sifat-sifat, dalil-dalil, rumus-rumus, menciptakan model-model dan segi-segi lainnya yang teoritis dan matematis. Kedua adalah kajian statistika semata-mata dari segi penggunaannya. Aturan-aturan, rumus-rumus, dan sifatsifat dan sebagainya yang telah diciptakan oleh statistika teoritis, diambil dan digunakan bagian yang dipandang perlu dalam berbagai bidang pengetahuan

Statistik (skripsi dan tesis)

Kedudukan statistik dalam konteks penelitian, pada dasarnya adalah sebagai alat bantu untuk memberi gambaran atas suatu peristiwa melalui bentuk yang sederhana, dapat berupa angka-angka atau berupa grafik-grafik. Akurasi penggunaan statistik sebagai alat analisis data sangat tergantung pada pemakainya. Anggapan yang mengatakan bahwa, statistik sebagai alat analisis yang paling tepat maupun anggapan bahwa tanpa statistik, maka penelitian yang dilakukan kurang dapat dipertanggungjawabkan, harus dikesampingkan jauh-jauh. Di samping itu ada pula anggapan bahwa statistik merupakan sesuatu yang sulit dipelajari, terutama bagi orang-orang sosial, juga tidak benar. Sebab pada dasarnya statistik adalah suatu ilmu yang mudah dipelajari asal cara mempelajarinya tepat, dan statistik dapat mendeskripsikan sesuatu yang samar menjadi jelas. Banyak persoalan, dari hasil penelitian (riset) ataupun penelitian pengamatan, baik yang dilakukan khusus ataupun berbentuk laporan, dinyatakan dan dicatat dalam bentuk bilangan atau angka-angka. Kumpulan angka-angka itu sering disusun, diatur dan disajikan dalam bentuk daftar atau tabel.
Jadi kata statistik telah dipakai untuk menyatakan kumpulan data, bilangan maupun non  bilangan yang disusun dalam tabel atau diagram, yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan. Statistik yang menjelaskan sesuatu hal biasanya diberi nama statistik mengenai hal yang bersangkutan. Kata statistik juga masih mengandung pengertian lain, yakni dipakai untuk menyatakan ukuran sebagai wakil dari kumpulan data mengenai suatu hal. Menurut Sudjana (2005: 2) disebutkan bahwa: “Statistik merupakan kumpulan data, bilangan maupun non bilangan yang disususn dalam tabel dan atau diagram yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan.” Di dalam statistik angka merupakan simbol atau pernyataan verbal atas objek yang akan dikemukakan. Kegunaan statistik tidak hanya untuk mendeskripsikan data yang diperoleh pada waktu lampau, misalnya data mengenai jumlah penduduk, pendapatan perkapita masyarakat, tingkat produksi lahan dan tingkat pertumbuhan perekonomian suatu daerah, akan tetapi dengan statistik sebagai simbol data, dapat digunakan sebagai pijakan untuk memprediksi kejadian atau peristiwa di masa yang akan datang serta dapat memberi simpulan yang tegas dan akurat

Kruskal – Wallis (skripsi dan tesis)

Uji Kruskal – Wallis sering pula disebut Uji H Kruskal – Wallis, adalah rampatan uji jumlah rang (dwisampel Wilcoxon) untuk sejumlah sampel k>=2. Uji ini digunakan untuk menguji hipotesis nol bahwa k sampel bebas berasal dari populasi yang sama. Diperkenalkan oleh W.H. Kruskal dan W.A. Wallis pada tahun 1945, uji ini merupakan padanan cara nonparametrik untuk menguji kesamaan rataan dalam analisis variansi ekafaktor bila si pencoba ingin menghindari bahwa sampel berasal dari populasi normal.

Uji ini mirip dengan uji Anova pada data parametrik hanya saja tidak dipenuhi anggapan k kenormalan dari data. Analisis yang digunakan berdasarkan Rij yaitu ranking data, bukan data itu sendiri.

Langkah – langkah uji Kruskal – Wallis :

  1. H0: Semua K populasi adalah identik
  2. H1: Tidak semua K populasi identik
  3. Tentukan taraf nyatanya.
  4. Tentukan daerah kritisnya dengan menggunakan tabel chi-kuadrat.     Dengan derajat kebebasan v = k-1
  5. Melakukan perhitungan uji kruskal – wallis dengan rumus dibawah ini

dengan ni  merupakan jumlah data pengamatan disetiap sampel dan ri merupakan jumlah rang dalam satu sampel data pengamatan

Uji Rang-Tanda (skripsi dan tesis)

Uji Rang-Tanda dicetuskan oleh Frank Wilcoxon pada tahun 1945 dan saat ini disebut sebagai uji rang-tanda Wilcoxon. Uji ini memanfaatkan baik tanda maupun besarnya selisih. Uji rang-tanda Wilcoxon digunakan untuk kasus dua sampel yang dependen bila skala ukur memungkinkan kita menentukan besar selisih yang terjadi, jadi bukan sekedar hasil pengamatan yang berbeda saja. Uji rang-tanda Wilcoxon cocok digunakan bila kita dapat mengetahui besarnya selisih antara pasangan-pasangan harga pengamatan X1 dan Y1 berikut arah selisih yang bersangkutan. Apabila kita dapat menentukan besarnya setiap selisih, maka kita dapat menetapkan peringkat untuk masing-masing selisih itu. Melalui penyusunan peringkat selisih – selisih inilah uji Wilcoxon memanfaatkan informasi tambahan yang tersedia.

Asumsi :

         Data untuk analisis terdiri atas n buah beda. D1 = Y1 – X1

         Sampel X dan sampel Y adalah Variabel- variable acak kontinyu dan beda X1 – Y1,  X2 -Y2…dst bersifat kontinyu pula.

         Hipotesis nol yang di uji menyatakan bahwa median perbedaan pasangan nilai pengamatan kedua sampel sama dengan nol.

Uji Tanda (skripsi dan tesis)

    Uji tanda digunakan untuk menguji hipotesis mengenai median populasi. Dalam banyak kasus prosedur nonparametrik, rataan digantikan oleh median sebagai parameter lokasi yang relevan untuk diuji.

Uji tanda juga mempunyai asumsi dimana asumsinya adalah distribusinya bersifat binomial. Binomial artinya mempunyai dua nilai. Nilai ini dilambangkan dengan tanda, yaitu positif dan negatif. Ini mengapa ia disebut uji tanda.

Uji tanda banyak digunakan karena uji ini paling mudah untuk dilakukan pengujiannya dan tidak memakan waktu yang lama. Pengerjaan pengujian ini terbilang cukup mudah. Apabila setiap nilai pengamatan memiliki nilai lebih besar dari nilai rataannya maka diganti dengan tanda (+). Sedangkan, apabila setiap nilai pengamatan memiliki nilai kurang dari nilai rataannya maka diganti dengan tanda (-). Dan, apabila nilai pengamatannya sama dengan nilai rataannya maka nilai pengamatan tersebut harus dibuang.

Pengujian uji tanda yang pertama dilakukan adalah menentukan hipotesis nolnya beserta dengan hipotesis tandingannya. Tentukan pula taraf nyatanya beserta nilai proporsi peubah binomial X-nya. Kemudian melakukan penghitungan  Z hitung (apabila jumlah sampel lebih dari 30) dengan nilai n merupakan jumlah data pengamatan setelah dibandingkan dengan nilai rataannya dan nilai x adalah jumlah data pengamatan dengan tanda (+). Dengan begitu nilai Z akan didapat dan nilai P (proporsi)nya dapat ditentukan. Keputusan H0 akan ditolak apabila nilai P yang didapat lebih kecil atau sama dengan nilai taraf nyatanya.

Analisis Regresi (skripsi dan tesis)

Regresi adalah salah satu metode statistika yang berguna untuk memodelkan
fungsi hubungan antara variabel respon dengan variabel prediktor. Persamaan
matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai suatu variabel
respon dari nilai-nilai satu atau lebih variabel prediktor disebut persamaan regresi
(Walpole, 1995).

Statistika Deskriptif (skripsi dan tesis)

Statistika deskriptif merupakan metode-metode yang berkaitan dengan
pengumpulan dan penyajian data sehingga memberikan informasi yang berguna.
Metode ini bertujuan untuk menguraikan tentang sifat-sifat atau karakteristik dari
suatu keadaan dan membuat deksripsi atau gambaran yang sistematis dan akurat
mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat dari fenomena yang diselidiki. Contoh dari
penyajian data dalam statistika deskriptif adalah tabel, diagram, dan grafik
(Walpole, 1995).

Uji Mann-Whitney (Skripsi dan tesis)

Metode Mann-Whitney test digunakan untuk menguji dua perbedaan median dari dua sampel yang diambil secara independent, sampel-sampel random tersebut bisa diperoleh dari populasi-populasi yang berdistribusi normal atau tidak berdistribusi normal (Andi, Supangat, 2007). Penggunaan distribusi normal dan distribusi “t” ditunjukkan untuk menguji perbedaan antara 2 sampel mean yang membutuhkan asumsi-asumsi sebagai berikut:
 1. Dua macam sampel yang dipilih adalah bersifat independent random sampel.
2. Populasi asalnya harus berdistribusi normal serta memiliki varians yang sama.  Pada test tanda (Sign test) sebelumnya analisa tidak didasarkan pada pemenuhan kedua asumsi tersebut diatas, namun pada situasi tertentu dimana asumsi pertama dapat dipenuhi (kedua sampel bersifat independen) dan hanya asumsi mengenai normalitas masih diragukan, maka kita lebih baik menggunakan pengujian dengan metode Mann-Whitney yang lebih dikenal dengan U test. Hipotesis nol yang akan diuji adalah bahwa dua sampel independen diambil dari populasi-populasi yang mempunyai mean yang sama, sedangkan hipotesis alternatifnya menyatakan bahwa dua sampel independen diambil dari populasi-populasi yang mempunyai mean yang berbeda.
Bila pengujian dilakukan dengan satu sisi maka hipotesis alternatifnya menyatakan bahwa mean yang berasal dari suatu populasi tertentu adalah lebih besar atau lebih kecil dari mean populasinya. (Djarwanto, 1998) Asumsi yang digunakan pada uji Mann-Whitney : (Siegel, 1997)
1. Dua sampel berukuran n dan m harus independen.
2. Sampel dipilih secara acak.
3. Variabel diukur paling sedikit dalam skala ordinal.
 Langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut (Djarwanto, 2003)
1. Gabungkan kedua sampel independen dan beri rangking pada tiap-tiap anggotanya mulai dari nilai pengamatan terkecil sampai nilai pengamatan terbesar. Untuk memudahkan dapat disusun bentuk array lebih dahulu. Apabila ada dua atau lebih nilai pengamatan yang sama, digunakan jenjang rata-rata.
2. Hitunglah jumlah rangking masing-masing bagi sampel pertama dan kedua dan notasikan dengan dan .
3. Untuk uji statistik U, kemudian dihitung: dari sampel pertama dengan pengamatan (2) atau sampel kedua dengan pengamatan
 4. Dari dua nilai U tersebut yang digunakan adalah nilai U yang lebih kecil. Nilai yang lebih besar ditandai dengan . Sebelum pengujian dilakukan perlu diperiksa apakah telah didapatkan U atau dengan cara membandingkannya dengan nilai . Bila nilainya lebih besar daripada nilai tersebut adalah dan nilai U dapat dihitung
 5. Bandingkan nilai U statistik dengan nilai U dalam tabel

Menentukan Besar Sampel (skripsi dan tesis)

Menurut Roscoe dalam buku Research Methods For Bussines (1992:253) memberikan saransaran tentang ukuran sampel sebagai berikut :
1. Ukuran sampel yang layak digunakan dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan 500.
2. Bila sampel dibagi dalam kategori (pria-wanita, pegawai negeri-swasta) maka jumlah anggota sampel setiap kategori minimal 30.
 3. Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan multivariat (korelasi atau regresi ganda misalnya), maka jumlah anggota sampel minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya variabel penelitiannya ada 5 (independen + dependen) maka jumlah anggota sampel = 10 x 5 = 50.
4. Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, yang menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol maka jumlah anggota sampel masing-masing 10 s/d 20.
Detail mengenai ukuran sampel yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis metode yang digunakan, meskipun ketepatannya perlu digunakan metode statistika dalam menentukan jumlah sampel yang diambil. Pada umumnya untuk tahap awal ataupun untuk peneliti pemula, sampel yang diambil sekitar 10% dari total individu populasi yang diteliti (Sugiarto, 2001) sampel untuk metode yang digunakan. Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan besar sampel yang populasinya diketahui adalah dengan menggunakan metode Slovin.

Pemilihan Sampel dari Polulasi Secara Tidak Acak (Nonrandom atau Nonprobability Sampling) (skripsi dan tesis)

 Non probability sampling (penarikan sampel secara tak acak) dikembangkan untuk menjawab kesulitan yang ditimbulkan dalam menerapkan metode acak, terutama dalam kaitannya dengan pengurangan biaya dan permasalahan yang mungkin timbul dalam pembuatan kerangka sampel. Hasil dari non probability ini sering kali mengandung bias dan ketidaktentuan yang bisa berakibat buruk. Permasalahan yang muncul ini tidak dapat dihilangkan dengan hanya menambah ukuran sampelnya. Alasan inilah yang mengakibatkan keengganan para statistikawan untuk menggunakan metode ini. Teknik–teknik nonrandom terdiri atas 3 macam yaitu:
 1. Quota Sampling
Untuk teknik sampling ini biasanya digunakan data dari populasi yang berkaitan dengan kependudukan seperti: lokasi geografis, usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan. Quota sampling ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah tahapan di mana peneliti merumuskan kategori kontrol atau kuota dari populasi yang ditelitinya. Tahapan kedua adalah penentuan bagaimana sampel akan diambil dapat secara Convenience ( berdasarkan ketersediaan elemen dan kemudahan untuk mendapatkannya atau sampel diambil / terpilih karena sampel tersebut ada pada waktu dan tempat yang tepat ) atau judgment ( sampel diambil berdasarkan kriteria-kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti). Perbedaan antara judgment dengan quota sampling terletak pada adanya suatu batasan pada quota sampling bahwa sampel yang diambil harus sejumlah tertentu yang dijatah dari setiap subgroup yang telah ditentukan dari suatu populasi.
2. Sampling Kebetulan
Sampling kebetulan dilakukan apabila pemilihan anggota sampelnya dilakukan terhadap orang atau benda yang kebetulan ada atau dijumpai. Keuntungannya murah, cepat, dan mudah sedangkan kelemahannya adalah kurang reprensetatif.
3. Sampling Bertujuan
Teknik ini digunakan apabila anggota sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitiannya. Keuntungan menggunakan teknik ini adalah murah, cepat dan mudah serta relevan dengan tujuan penelitiannya. Kerugiannya adalah tidak representatif untuk mengambil kesimpulan secara umum

Jenis Dalam Teknik sampling random (Skripsi dan tesis)

Teknik sampling random terdiri atas empat macam dengan uraian seperti berikut ini (Husaini, Usman,1995):

1. Sampling Random Sederhana Ciri utama sampling ini ialah setiap unsur dari keseluruhan populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih. Caranya ialah dengan menggunakan undian, ordinal, tabel bilangan random, atau komputer. Keuntungannya ialah anggota sampel mudah dan cepat didapat. Kelemahannya ialah kadang-kadang tidak mendapatkan data yang lengkap dari populasinya.

 2. Sampling Bertingkat Sampling ini disebut juga dengan istilah teknik sampling berlapis, berjenjang. Teknik ini digunakan apabila populasinya heterogen atau terdiri atas kelompok-kelompok yang bertingkat. Penentuan tingkat berdasarkan karakteristik tertentu. Misalnya menurut usia, pendidikan, golongan dan sebagainya. Keuntungan menggunakan cara ini adalah anggota sampel yang diambil lebih representatif. Kelemahannya ialah lebih banyak memerlukan usaha pengenalan terhadap karakteristik populasinya.

 3. Sampling Kluster Sampling ini disebut juga sebagai teknik sampling daerah. Teknik sampling ini digunakan apabila populasi tersebar dalam beberapa daerah, propinsi, kabupaten, kecamatan dan seterusnya. Keuntungan menggunakan teknik ini ialah dapat mengambil populasi besar yang tersebar di berbagai daerah, pelaksanaannya lebih murah dan mudah dibandingkan dengan yang lainnya. Kelemahannya adalah jumlah setiap individu pada setiap pilihan tidak sama, ada kemungkinan penduduk suatu daerah berpindah ke daerah lain tanpa sepengetahuan peneliti, sehingga penduuduk tersebut mungkin menjadi anggota rangkap sampel penelitian.
 4. Sampling Sistematis Teknik ini sebenarnya adalah teknik random sampling sederhana yang dilakukan secara ordinal. Artinya anggota sampel dipilih berdasarkan urutan tertentu. Misalnya setiap kelipatan 5 atau 10 dari daftar pegawai di suatu kantor. Keuntungannya adalah  sangat mudah dan cepat. Kelemahannya adalah kadang-kadang kurang mewakili populasinya. 5. Sampling Proporsional Sampling proporsional yaitu sampel yang dihitung berdasarkan perbandingan.

Pemilihan Sampel dari Populasi Secara Acak (Random atau Probability Sampling) (skripsi dan tesis)

 

Dalam probability sampling, pemilihan sampel tidak dilakukan secara subyektif, dalam arti sampel yang terpilih tidak didasarkan semata-mata pada keinginan si peneliti, sehingga setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama (acak) untuk terpilih sebagai sampel. Dengan demikian diharapkan sampel yang terpilih dapat digunakan untuk menduga karakteristik populasi secara obyektif. Di samping itu, teori-teori probabilitas (peluang) yang dipakai dalam probability sampling memungkinkan peneliti untuk mengetahui bias yang muncul dan sejauh mana bias yang muncul tersebut menyimpang dari perkiraan. Selain itu untuk dapat menggunakan probability sampling, kita membutuhkan kerangka sampel yaitu suatu daftar dari unit-unit Universitas Sumatera Utara sampling dalam rangka untuk mendapatkan responden dengan peluang yang telah diketahui sebelumnya.

Teknik Pengumpulan Data (skripsi dan tesis)

 Teknik-teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa cara di antaranya (Husaini, Usman, 2006):
 1. Wawancara
Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitianPada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian
 2. Pengamatan
Selain wawancara, observasi juga merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat lazim dalam metode penelitian kualitatif. Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian
3. Angket
Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket yaitu suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertnyaanpertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden. Responden mempunyai kebiasaan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan presepsinya
. 4. Dokumentasi
 Selain melalui wawancara dan observasi, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cenderamata, jurnal kegiatan dan sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini bisa dipakai untuk menggali infromasi yang terjadi di masa silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoretik untuk memaknai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekadar barang yang tidak bermakna

Data Menurut Sumbernya (skripsi dan tesis)

Berdasarkan sumbernya, data dapat digolongkan menjadi: a. Data Internal dan data eksternal. Data internal adalah data yang bersumber dari suatu organisasi. Data eksternal adalah data yang bersumber dari luar organisasi. b. Data Primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui suatu survey lapangan dengan menggunakan metode pengumpulan data tertentu. Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh suatu lembaga pengumpul data dan dipublikassikan kepada masyarakat pengguna data. Data sekunder akan mempermudah dan mempercepat jalannya penelitian.

Data Menurut Dimensi Waktu (skripsi dan tesis)

Menurut dimensi waktu, data dapat digolongkan menjadi: a. Data runtut waktu (time-series), yaitu data yang secara kronologis disusun menurut waktu. Data runtut waktu digunakan untuk melihat perubahan dalam rentang waktu tertentu. Data runtut waktu dibedakan menjadi: data harian, data mingguan, data bulanan, data tahunan. b. Data silang tempat (cross-section), yaitu data yang dikumpulkan pada suatu titik waktu. Data silang tempat digunakan untuk mengamati perilaku dalam periode yang sama. Contoh: data sensus yang diterbitkan setiap 10 tahun sekali, data jumlah penduduk miskin pada setiap desa pada tahun tertentu.  c. Data pooling, yaitu kombinasi antara data runtut waktu dengan data silang tempat.

Data Menurut Jenisnya (skripsi dan tesis)

Menurut jenisnya, data terdiri dari data kuantitatif dan data kualitatif

a. Data Kuantitatif Data kuantitatif adalah data yang diukur dalam suatu skala numerik (angka). Data kuantitatif dapat dibedakan menjadi: 1. Data interval, yaitu data yang diukur dengan jarak diantara 2 titik pada skala yang sudah diketahui. Sebagai contoh: IPK mahasiswa (interval 0 hingga 4). 2. Data rasio, yaitu data yang diukur dengan suatu proporsi. Sebagai contoh: persentase jumlah pengangguran di propinsi Sumatera Utara, tingkat inflasi Indonesia pada tahun 2000.
 b. Data Kualitatif Data kualitatif adalah data yang tidak dapat diukur dengan skala numerik. Namun karena dalam statistik semua data harus dalam bentuk angka, maka data kualitatif umumnya dikuantifikasi agar dapat diproses. Kuantifikasi dapat dilakukan dengan mengklasifikasikan data dalam bentuk kategori. Data kualitatif dapat dibedakan menjadi 1. Data nominal, yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kategori. Sebagai contoh, industri di Indonesia oleh BPS digolongkan menjadi a. Industri rumah tangga, dengan jumlah tenaga kerjanya 1-4 orang, diberi kategori 1. b. Industri kecil dengan jumlah tenaga kerja 5-19 orang, diberi kategori 2. Angka yang menyatakan kategori ini menunjukkan bahwa posisi data sama derajatnya. Angka ini sekedar menunjukkan kode kategori yang berbeda. 2. Data ordinal yaitu, data yang dinyatakan dalam bentuk kategori, namun posisi data tidak sama derajatnya karena dinyatakan dalam skala peringkat. Sebagi contoh, tingkat kosmopolitan petani suatu daerah dikategorikan: a. Sangat rendah diberi kode 1 b. Rendah diberi kode 2 c. Sedang diberi kode 3 d. Tinggi diberi kode 4 e. Sangat tinggi diberi kode 5

Data (skripsi dan tesis)

Data adalah suatu bahan mentah yang jika diolah dengan benar melalui berbagai analisis dapat memberikan berbagai informasi sehingga dengan informasi tersebut kita dapat mengambil suatu keputusan. Data bisa berwujud suatu keadaan, gambar, suara, huruf, angka, matematika, bahasa ataupun simbol-simbol lainnya yang bisa kita gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian ataupun suatu konsep. Data diperoleh dengan mengukur nilai satu atau lebih variabel dalam sampel atau populasi (Husaini, Usman, 2006).

Kekurangan statistik nonparametrik (skripsi dan tesis)

Kekurangan statistik nonparametrik dibandingkan dengan statistik parametrik ialah : 1. Bila digunakan pada data yang dapat diuji menggunakan statistika parametrik maka hasil pengujian menggunakan statistika nonparametrik menyebabkan pemborosan informasi.  2. Pekerjaan hitung menghitung (aritmetik) karena memerlukan ketelitian terkadang menjemukan. 3. Jika jumlah sampel besar, tingkat efisiensi nonparametrik relatif lebih rendah dibandingkan dengan metode parametrik. 4. Statistik nonparametrik tidak dapat digunakan untuk membuat prediksi (peramalan).

Kelebihan statistik nonparametrik (skripsi dan tesis)

Kelebihan statistik nonparametrik adalah sebagai berikut (Tavi, Supriana,2010): 1. Asumsi –asumsi dalam statistik nonparametrik relatif lebih longgar. Jika pengujian data menunjukkan bahwa salah satu atau beberapa asumsi yang mendasari uji statistik parametrik (misalnya mengenai sifat distribusi data), tidak terpenuhi, maka statistik nonparametrik lebih sesuai diterapkan dibandingkan statistik parametrik. 2. Perhitungan-perhitungan dapat dilakukan dengan cepat dan mudah, sehingga hasil penelitian dapat dengan cepat diselesaikan. 3. Untuk memahami konsep-konsep dan metode-metodenya tidak memerlukan dasar matematika yang mendalam. 4. Uji-uji pada statistik nonparametrik dapat diterapkan jika kita menghadapi keterbatasan data yang tersedia, misalnya jika data telah diukurmenggunakan skala pengukuran yang lemah. 5. Efisiensi statistik nonparametrik lebih tinggi jika dibandingkan dengan metode parametrik untuk jumlah sampel yang sedikit. 6. Asumsi yang digunakan minimum sehingga mengurangi kesalahan penggunaan. 7. Dapat diterapkan pada skala peubah kualitatif (nominal dan ordinal).

Statistik Nonparametrik (skripsi dan tesis)

Metode nonparametrik pertama kali digunakan ketika J.Arbuthnot (1710) mengetahui bahwa pada tahun 1629 sampai tahun 1710 jumlah laki-laki yang diberi nama baptis di London melebihi jumlah wanita. Ia memandang hal ini sebagai kenyataan yang kuat bahwa probabilita dari setiap kelahiran bayi laki-laki atau wanita tidak tepat sama, suatu ketidakcocokan yang dianggap oleh Arbuthnot berasal dari sesuatu yang aneh (Sprent, 1991). Statistik nonparametrik disebut juga statistik bebas sebaran. Statistik nonparametrik tidak mensyaratkan bentuk sebaran parameter populasi. Statistik nonparametrik dapat digunakan pada data yang memiliki sebaran normal atau tidak. Statistik nonparametrik biasanya digunakan untuk melakukan analisis pada data nominal atau ordinal. Universitas Sumatera Utara Metode statistik nonparametrik merupakan metode statistik yang dapat digunakan dengan mengabaikan asumsi-asumsi yang melandasi penggunaan metode statistik parametrik, terutama yang berkaitan dengan distribusi normal. Nama lain yang sering digunakan untuk statistik nonparametrik adalah statistik bebas distribusi. Contoh regresi nonparametrik adalah uji tanda (sign test), uji jenjang bertanda wilcoxon, metode theil, metode deret fourer, uji square, uji mann-whitney dan lain- lain. Perbandingan statistik nonparametrik dan statistik parametrik. Kekurangan dan kelebihan setiap pemilihan prosedur pengujian data, apakah itu menggunakan nonparametrik atau parametrik memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing

Statistik Parametrik (skripsi dan tesis)

Suatu tes statistik parametrik adalah suatu tes yang modelnya menetapkan adanya syaratsyarat tertentu tentang parameter populasi yang merupakan sumber sampel penelitinya. Syarat-syarat itu biasanya tidak diuji dan dianggap sudah dipenuhi. Seberapa jauh makna hasil suatu tes parametrik bergantung pada validitas anggapan-anggapan tadi. Tes-tes parametrik juga menuntut bahwa skor-skor yang dianalisis merupakan hasil suatu pengukuran yang sedikitnya berkekuatan sebagai skala interval (Siegel, Sidney,1986:38). Pada statistik parametrik, pengujian hipotesis (uji parametrik) atau aturan pengambilan keputusan dipengaruhi oleh asumsi-asumsi tertentu. Misalnya, distribusi probabilitas untuk pengambilan sampel dan bentuk varians. Asumsi untuk distribusi misalnya distribusi normal, binomial, distribusi F, dan distribusi student t. Asumsi untuk varians, misalnya memiliki varians yang homogen, seperti pada korelasi dan regresi. Asumsi-asumsi tersebut tidak diuji lagi sudah dianggap sudah terpenuhi (Iqbal, Hasan, 2002).

Uji Chi-Square (skripsi dan tesis)

Chi-square atau kai kuadrat (X2 ) merupakan salah satu jenis uji komparatif nonparametrik yang dilakukan pada dua variabel, dimana skala data kedua variabel adalah nominal atau ordinal. Dasar dari uji chi-square adalah membandingkan perbedaan antara frekuensi observasi dengan frekuensi ekspektasi atau frekuensi yang diharapkan. Frekuensi observasi adalah frekuensi yang nilainya didapat dari hasil percobaan. Sedangkan frekuensi harapan adalah frekuensi yang nilainya dapat dihitung secara teoritis. Perbedaan tersebut untuk meyakinkan apabila harga dari chi-square sama atau lebih besar dari suatu harga yang telah ditetapkan pada taraf signifikan tertentu. Uji chi-square sangat bermanfaat dalam melakukan analisis statistik apabila asumsi-asumsi yang 29 dipersyaratkan untuk penggunaan statistik parametrik tidak dapat terpenuhi. Syarat-syarat dalam menggunakan uji ini adalah frekuensi responden atau sampel yang digunakan besar, karena ada beberapa syarat dimana chi-square dapat digunakan yaitu: a. Tidak ada cell dengan nilai frekuensi kenyataan (actual count) sebesar nol. b. Apabila bentuk tabel kontingensi 2×2, maka tidak boleh ada satu cell saja yang memiliki frekuensi harapan (expected count) kurang dari lima. c. Sedangkan apabila bentuk tabel lebih dari 2×2, maka jumlah cell dengan frekuensi harapan yang kurang dari lima tidak boleh lebih dari 20%. Adapun kegunaan dari uji chi-square sebagai berikut: a. Untuk mengetahui ada tidaknya asosiasi antara dua variabel. b. Untuk mengetahui homogenitas antar-sub kelompok. c. Untuk uji kenormalan data dengan melihat distribusi data. d. Untuk menganalisis data yang berbentuk frekuensi. e. Untuk menentukan besar kecilnya korelasi dari variabel-variabel yang dianalisis. Bentuk distribusi chi-square tergantung dari derajat kebebasan atau yang biasa dilambangkan d.f. (degree of freedom). Chi-square memiliki masing-masing nilai derajat kebebasan yaitu distribusi (kuadrat standard normal) yang merupakan distribusi chi-square dengan d.f. = 1 dan nilai variabel tidak bernilai negatif. Karakteristik dari chi-square yaitu nilainya selalu positif karena nilai chi-square adalah nilai kuadra

Crosstabs (skripsi dan tesis)

Crosstabs atau tabulasi silang merupakan suatu metode analisis deskriptif yang berbentuk tabel, dimana menampilkan tabulasi silang atau tabel kontingensi yang digunakan untuk mengidentifikasi serta mengetahui apakah ada korelasi atau hubungan sebab-akibat antara satu variabel dengan variabel yang lainnya ke dalam suatu matriks. Hasil crosstabs disajikan ke dalam suatu tabel dengan variabel yang tersusun sebagai kolom dan baris serta berisi nilai frekuensi dan persentase. Tabel yang dianalisis pada crosstabs ini adalah hubungan antara variabel dalam baris dengan variabel dalam kolom. Penyajian data pada umumnya adalah data kualitatif. Ciri dari penggunaan crosstabs yaitu data input yang pada umumnya berskala nominal atau ordinal. Pembuatan crosstabs dapat disertai dengan pengolahan atau perhitungan tingkat keeratan hubungan (asosiasi) antar variabel pada crosstabs. Alat statistik yang sering digunakan untuk menguji ada tidaknya hubungan antara baris dan kolom dari sebuah crosstabs adalah uji chi-square. Selain uji chi-square, ada beberapa alat uji lainnya yang dapat digunakan seperti kendall, kappa, dan lain sebagainya

Uji Tanda (Sign Test) (skripsi dan tesis)

Uji tanda atau sign test merupakan uji non-parametrik yang digunakan untuk menguji ada tidaknya perbedaan dari dua buah populasi yang saling berkorelasi, dimana datanya memiliki skala pengukuran ordinal. Metode analisis ini menggunakan data yang dinyatakan dalam bentuk tanda (+) positif dan (-) negatif dari perbedaan antara pengamatan yang berpasangan. Sedangkan nilai 0 tidak diikut sertakan dalam analisis karena nilai 0 berarti tidak terdapat perubahan sebelum dan sesudah perlakuan. Pada prinsipnya, uji tanda memiliki tujuan untuk menghitung selisih nilai dari kedua pasang sampel. Apabila Ho diterima, maka jumlah selisih pasangan data yang positif kurang lebih akan sama dengan pasangan data yang negatif, sehingga sangat diharapkan jumlah selisih pasangan data yang positif dan negatif adalah setengah dari total sampel yang ada. Sedangkan Ho ditolak, jika jumlah selisih pasangan data yang negatif dengan data yang positif memiliki perbedaan nilai yang sangat tinggi. Supranto 26 (2002)

Kelebihan dan Kekurangan Statistik Non-Parametrik (skripsi dan tesis)a

Adapun kelebihan dan kekurangan dalam menggunakan metode statistik nonparametrik adalah sebagai berikut: a. Kelebihan Statistik Non-Parametrik i. Asumsi-asumsi yang digunakan sangatlah sedikit. ii. Tidak membutuhkan asumsi normalitas atau distribusi data tidak harus normal. Namun, statistik non-parametrik tidak terikat pada distribusi normal populasi, tetapi juga dapat digunakan pada populasi berdistribusi normal. iii. Secara umum konsep dan metode statistik non-parametrik lebih mudah dikerjakan dan lebih mudah dipahami dibandingkan dengan statistik  parametrik karena statistik non-parametrik tidak membutuhkan perhitungan matematik yang rumit melainkan lebih sederhana. iv. Dapat diterapkan pada skala data numerik (nominal) dengan jenjang (ordinal). v. Terkadang dalam statistik non-parametrik tidak dibutuhkan urutan atau jenjang secara formal karena sering dijumpai hasil pengamatan yang dinyatakan dalam data kualitatif. vi. Pengujian hipotesis pada statistik non-parametrik dilakukan secara langsung pada pengamatan yang nyata. b. Kekurangan Statistik Non-Parametrik i. Tidak ada sistematika secara jelas. ii. Statistik non-parametrik terkadang mengabaikan beberapa informasi tertentu. iii. Hasil pengujian hipotesis dengan statistik non-parametrik tidak selengkap statistik parametrik. iv. Hasil statistik non-parametrik tidak dapat diekstrapolasikan ke populasi studi yang berbeda dengan statistik parametrik. Hal ini dikarenakan statistik non-parametrik mendekati eksperimen dengan sampel kecil dan umumnya membandingkan dua kelompok tertentu

Ciri-Ciri Statistik Non-Parametrik (skripsi dan tesis)

Dalam menganalisis data tentunya harus mengetahui ciri-ciri dari statistik yang akan digunakan agar dapat lebih mudah dalam menentukan uji yang cocok untuk digunakan pada kasus tersebut. Berikut ciri-ciri dari statistik non-parametrik: a. Data tidak berdistribusi normal b. Umumnya data berskala nominal dan ordinal c. Umumnya dilakukan pada penelitian sosial d. Umumnya jumlah sampel kecil

Pengelompokan Kategori Statistik Non-Parametrik (skripsi dan tesis)

Dalam statistik non-parametrik terdapat pengelompokan yang didasarkan dari kriteria sampel yang diambil pada saat penelitian yaitu sampel tunggal, sampel independen, dan sampel dependen. Adapun penjelasan dari masing-masing kriteria sampel adalah sebagai berikut: a. Sampel Tunggal Sampel tunggal digunakan untuk menduga dan menguji hipotesis dari parameter yang ada, contohnya pengukuran nilai sentral. Pada statistik nonparametrik uji yang digunakan untuk menduga nilai sentral, seperti uji tanda (sampel tunggal) dan uji Wilcoxon. Selain itu, terdapat juga prosedur nonparametrik lainnya, antara lain uji binomial yang digunakan untuk pengukuran proporsi populasi, uji Trend untuk mengetahui kencenderungan dari populasi yang ada, dan uji Cox-Stuart untuk menguji data berdasarkan waktu. b. Sampel Independen Sampel independen memiliki kegunaan untuk membandingkan antara dua variabel yang terukur dari sampel yang bebas. Pengambilan sampel ini berasal dari dua populasi. Pada statistik parametrik dapat menggunakan uji t untuk membandingkan nilai mean dari dua kelompok independen, sedangkan alternatif pengujian dalam statistik non-parametrik dapat menggunakan uji,   antara lain Wald-Wolfowitz Runs test, Mann-Whitney U-test, dan KolmogorovSmirnov Two-Sample test. Namun, apabila ingin membandingkan lebih dari dua populasi maka digunakanlah analisis satu arah bertingkat dengan Median test dan Kruskal-Wallis test. c. Sampel Dependen Sampel dependen pada dasarnya digunakan untuk membandingkan dua variabel yang terukur dari sampel yang berhubungan. Dalam statistik nonparametrik, misalnya untuk mengetahui perbedaan produktivitas kerja, dengan melakukan pengukuran pada sampel pekerja sebelum mendapatkan pelatihan dengan sampel pekerja sesudah mendapatkan pelatihan. Hal seperti ini dapat dilakukan dengan menggunakan pengujian Sign Test dan Wilcoxon’s Matched Pairs Test. Namun jika variabel memiliki sifat yang dikotomi, maka dapat digunakan pengujian McNemar’s Chi-square Test. Selain itu, apabila ternyata terdapat lebih dari dua variabel yang diteliti maka pengujian yang tepat digunakan yaitu Friedman’s two-way analysis of variance dan Cochran Q test.