Tujuan dan Manfaat Rasio Likuiditas


Menurut Kasmir (2018:132-133) tujuan dan manfaat yang dapat dipetik dari
hasil rasio likuiditas sebagai berikut;

  1. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau utang
    yang segera jatuh tempo pada saat ditagih.
  2. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka
    pendek dengan aktiva lancar secara keseluruhan.
  3. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka
    pendek dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan sediaan atau piutang.
  4. Untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang ada
    dengan modal kerja perusahaan.
  5. Untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar
    utang.
  6. Sebagai alat perencanaan ke depan, terutama yang berkaitan dengan
    perencanaan kas dan utang.
  7. Untuk melihat kondisi dan posisi likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu
    dengan membandingkannya untuk beberapa periode.
  8. Untuk melihat kelemahan yang dimiliki perusahaan, dari masing-masing
    komponen yang ada di aktiva lancar dan utang lancar.
  9. Menjadi alat pemicu bagi pihak manajemen untuk memperbaiki kinerjanya,
    dengan melihat rasio likuiditas yang ada pada saat ini

Pengertian Rasio Likuiditas


Pengertian Rasio Likuiditas menurut Fred dalam kutipan Kasmir (2018:129)
menyatakan rasio likuiditas (liqudity ratio) merupakan rasio yang menggambarkan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek”.
Menurut Sugiono dan Untung (2016:57) “Rasio likuiditas adalah rasio yang
bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
jangka pendeknya”. Menurut Fahmi (2019:121) “Rasio likuiditas adalah
kemampuan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat
waktu”. Berdasarkan beberapa definisi yang sudah diungkapkan diatas dapat
disimpulkan bahwa rasio likuditas adalah rasio yang dapat mengukur kemampuan
suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat
waktu. Perusahaan yang dapat memenuhi kewajiban keuangannya tepat waktu
berarti perusahaan dalam keadaan likuid, dan perusahaan dapat memenuhi
kewajiban keuangan tepat pada waktunya apabila perusahaan tersebut memiliki alat
pembayaran yang lebih besar daripada utang lancarnya atau utang jangka pendek.
Sebaliknya jika perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya tersebut maka
perusahaan tersebut dalam keadaan illikuid.
Menurut Kasmir (2018:112) terdapat dua macam hasil penilaian terhadap
pengukuran rasio ini, yaitu sebagai berikut:

  1. Apabila perusahaan mampu memenuhi kewajibannya, dikatakan
    perusahaan tersebut likukid.
  2. Sebaliknya apabila perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban
    tersebut atau tidak mampu, dikatakan illikuid

Jenis-Jenis Rasio Keuangan


Menurut Fred Weston dalam Kasmir (2018:108), jenis-jenis rasio keuangan
adalah sebagai berikut:
a. Rasio Likuiditas
Merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendek.
b. Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva
perusahaan dibiayai dengan utang
c. Rasio Aktivitas
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkata efisiensi
pemanfaatan sumber daya perusahaan (penjualan, sediaan, penagihan
piutang, dan lainnya)
d. Rasio Profitabilitas
Merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari
keuntungan atau laba dalam suatu periode tertentu.
e. Rasio Pertumbuhan
Merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam
mempertahankan posisi ekonominya di tengah pertumbuhan
perekonomian dan sektor usahanya.
f. Rasio Penilaian
Merupakan rasio yang memberikan ukuran kemampuan manajemen
menciptakan nilai pasar usahanya.
Menurut Sujarweni (2017:61), umumnya rasio dapat dikelompokkan dalam
4 tipe dasar, yaitu sebagai berikut :
a. Rasio Likuiditas
Yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek yang berupa
hutang-hutang jangka pendek.
b. Rasio Solvabilitas / Leverage
Yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
untuk memenuhi seluruh kewajibannya baik jangka pendek maupun
jangka panjang.
c. Rasio Aktivitas
Yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efektifitas
penggunaan aktiva atau kekayaan perusahaan, seberapa jauh aktiva
perusahaan dibiayai dengan hutang atau dibiayai oleh pihak luar.
d. Rasio Profitabilitas
Yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat imbalan atau
perolehan (keuntungan) dibanding penjualan atau aktiva, mengukur
seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam
hubungan dengan penjualan, aktiva maupun laba dan modal sendiri

Hubungan Rasio Keuangan dan Kinerja Keuangan


Rasio keuangan dan kinerja perusahaan memiliki hubungan yang erat,
karena pada rasio keuangan ada banyak jumlahnya dan rasio itu mempunyai
manfaatnya masing-masing. Bagi investor akan melihat rasio dengan penggunaan
yang paling sesuai dengan analisis yang akan dilakukan maka rasio tersebut tidak
akan dipergunakan karena dalam konsep keuangan dikenal dengan nama
fleksibelitas, artinya rumus atau berbagai bentuk formula yang dipergunakan
haruslah sesuai dengan kasus yang diteliti. Perusahaan tidak bisa
menggeneralisasikan seluruh rumus yang ada karena semua rumus cocok pada
semua kasus yang diteliti. Atau dalam istilah pakar keuangan bahwa pasar adalah
laboratorium yang paling bagus untuk menguji segala kemampuan dan analisa yang
dimiliki, maka segala kepemilikan formula dan berbagai pemikiran yang dimiliki
akan terbukti pada saat diuji ke pasar

Pengertian Analisis Laporan Keuangan


Menurut Harahap (2018:190), pengertian analisis laporan keuangan yaitu :
“Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih
kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang
mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif
maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi
keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan
keputusan yang tepat”.
Menurut Sujarweni (2017:35), pengertian analisis laporan keuangan yaitu :
“Analisis laporan keuangan merupakan suatu analisis yang dilakukan untuk
melihat pada suatu keadaan keuangan perusahaan, bagaimana pencapaian
keberhasilan perusahaan masa lalu, saat ini, dan prediksi di masa
mendatang, analisis laporan keuangan tersebut akan digunakan dasar
pengambilan keputusan oleh pihak-pihak yang berkepentingan”.
Menurut Munawir (2010:55), pengertian analisis laporan keuangan yaitu :
“Analisis rasio keuangan adalah salah satu cara pemrosesan dan
penginterprestasioan informasi akuntansi yang dinyatakan dalam artian
relatif maupun absolut untuk menjalankan hubungan atau perimbangan
antara jumlah tertentu dengan jumlah yang lain dengan menggunakan alat
analisis berupa rasio”.

Analisis Laporan Keuangan


Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu
perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Bagi para analis, laporan
keuangan merupakan media yang paling penting untuk menilai prestasi dan kondisi
ekonomis suatu perusahaan. Suatu analisis terhadap laporan keuangan dilakukan
untuk mengetahui secara rinci hubungan antara satu pos dengan pos yang lain yang
ada di dalam laporan keuangan.

Sifat Laporan Keuangan


Dalam pencatatan sebuah laporan keuangan dilakukan dengan
menggunakan kaidah-kaidah yang berlaku. Kaidah yang dimaksud adalah patokan
ataupun ukuran sebagai pedoman yang berlaku secara umum agar tidak
menyimpang. Menurut Munawir (2010:6) sifat- sifat laporan keuangan terbagi
menjadi 3, yaitu :

  1. Fakta yang telah dicatat (recorded fact). Berarti bahwa laporan keuangan
    ini dibuat atas dasar fakta dari catatan akuntansi, seperti jumlah uang kas
    yang tersedia dalam perusahaan maupun yang disimpan di bank, jumah
    piutang , persediaan barang dagangan, hutang maupun aktiva tetap yang
    dimiliki perusahaan. Pencatatan dari pos-pos ini berdasarkan catatan
    historis dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa lampau, dan
    jumlah-jumlah uang yang tercatat dalam pos-pos itu dinyatakan dalam
    harga-harga pada waktu terjadinya peristiwa tersebut (at original cost).
  2. Prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan di dalam akuntansi (accounting
    convention and postulate). Berarti data yang dicatat itu didasarkan pada
    prosedur maupun anggapan-anggapan tertentu yang merupakan prinsip-
    prinsip akuntansi yang lazim (General Accepted Accounting Principles).
    Hal ini dilakukan dengan tujuan memudahkan pencatatan (expediensi) atau
    untuk keseragaman.
  3. Pendapat pribadi (Personal Judgement). Dimaksudkan bahwa, walaupun
    pecatatan transaksi telah diatur oleh konvensi-konvensi atau dalil-dalil
    dasar yang sudah ditetapkan dan menjadi standar praktek pembukuan,
    namun penggunaan dari konvensi-konvensi dan dalil dasar tersebut
    tergantung dari pada akuntan atau manajemen perusahaan yang
    bersangkutan. Judgement atau pendapat ini tergantung kepada kemampuan
    atau integritas pembuatnya yang dikombinasikan dengan fakta yang
    tercatat dan kebiasaan serta dalil dasar akuntansi yang telah disetujui akan
    digunakan didalam beberapa hal

Jenis-jenis Laporan Keuangan


Laporan keuangan tahunan merupakan laporan yang sangat penting bagi
perusahaan karena didalam laporan keuangan terdapat suatu informasi keuangan
keuangan perusahaan, saat usaha semakin meningkat dan membutuhkan modal,
ingin mengajukan pinjaman ke bank, maka laporan keuangan perusahaan yang akan
dilihat perbankan. Menurut Sugiyono dan Untung (2016:1),”informasi tentang
kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan sangat berguna berbagai pihak, baik
pihak-pihak didalam (internal) maupun diluar (eksternal) perusahaan. Setiap
laporan keuangan memiliki peranan masing-masing sesuai dengan kebutuhan
perusahaan. Menurut Kasmir (2018:58), ada 5 jenis laporan keuangan yaitu:

  1. Neraca (Balance Sheet)
    Neraca merupakan laporan yang menunjukkan jumlah aktiva (harta),
    kewajiban (utang), dan modal perusahaan (ekuitas) perusahaan pada saat
    tertentu.
  2. Laporan Laba Rugi (Income Statement)
    laporan laba rugi merupakan laporan yang menunjukkan kondisi usaha
    dalam suatu periode tertentu yang tergambar dari jumlah pendapatan yang
    diterima dan biaya yang telah dikeluarkan sehingga dapat diketahui apakah
    perusahaan dalam keadaan laba atau rugi.
  3. Laporan Perubahan Modal
    Laporan Perubahan Modal menggambarkan jumlah modal yang dimiliki
    perusahaan saat ini serta sebab-sebab berubahnya modal.
  4. Laporan Arus Kas
    Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan semua aspek yang
    berkaitan dengan kegiatan perusahaan, baik yang berpengalaman langsung
    atau tidak langsung terhadap kas.
  5. Laporan Catatan atas Laporan Keuangan
    Laporan Catatan atas Laporan Keuangan merupakan lapotan yang dibuat
    berkaitan dengan laporan keuangan yang disajikan.

Tujuan Laporan Keuangan


Tujuan laporan keuangan menurut Kasmir (2016:10-11) adalah sebagai
berikut:

  1. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang
    dimiliki perusahaan pada saat ini;
  2. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal
    yang dimiliki perusahaan pada saat ini;
  3. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang
    diperoleh pada suatu periode tertentu;
  4. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang
    dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu;
  5. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi
    terhadap aktiva, pasiva, dan modal perusahaan;
  6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam
    suatu periode;
  7. Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan;
  8. Informasi keuangan lainnya.

Pengertian Laporan Keuangan


Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses kegiatan pencatatan
akuntansi yang memberikan informasi mengenai perkembangan suatu perusahaan
kepada pihak internal maupun eksternal. Laporan keuangan biasanya disusun
berdasarkan periode tertentu misalnya, tahunan ataupun bulanan. Hal ini sesuai
dengan pendapat Kasmir (2018:7) yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan
“Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan
perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu”.
Akuntansi merupakan suatu bahasa bisnis dimana laporan keuangan
dijadikan sebagai suatu alat komunikasi yang digunakan oleh para pihak yang
berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan guna mengetahui
kondisi keuangan perusahaan.
Menurut Hery (2016:3), pengertian laporan keuangan adalah :
“Laporan keuangan (financial statements) merupakan produk akhir dari
serangkaian proses pencatatan dan pengikhtisaran data transaksi bisnis”.
Menurut Sujarweni (2017:1), pengertian laporan keuangan adalah :
“Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan
pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan
kinerja perusahaan tersebut”

Pengukuran dan Analisis Kinerja Keuangan


Menurut Hery (2018: 25) Pengukuran kinerja keuangan adalah penting
sebagai sarana atau indikator dalam rangka memperbaiki kegiatan operasional
perusahaan. Menurut Hery (2018:25) Berdasarkan tekniknya, analisis kinerja
keuangan dapat dibedakan menjadi sembilan macam, yaitu:

  1. Analisis perbandingan laporan keuangan, merupakan teknik analisis
    dengan cara membandingkan laporan keuangan dari dua periode atau
    lebih untuk menunjukkan perubahan dalam jumlah (absolut) maupun
    dalam persentase (relatif).
  2. Analisis tren, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk
    mengetahui tendensi keadaan keuangan dan kinerja perusahaan, apakah
    menujukkan kenaikan atau penurunan.
  3. Analisis persentase per komponen (common size), merupakan teknik
    analisis yang digunakan untuk mengetahui persentase masing-masing
    komponen aset terhadap total aset; persentase masing-masing
    komponen utang dan modal terhadap passiva (total aset); persentase
    masing-masing komponen laba rugi terhadap penjualan bersih.
  4. Analisis sumber dan penggunaan modal keja, merupakan teknik
    analisis yang digunakan untuk mengetahui besarnya sumber dan
    penggunaan modal kerja selama dua periode waktu yang dibandingkan.
  5. Analisis sumber dan penggunaan kas, merupakan teknik analisis yang
    digunakan untuk mengetahui kondisi kas dan peubahan kas pada suatu
    periode waktu tertentu.
  6. Analisis rasio keuangan, merupakan teknik analisis yang digunakan
    untuk mengetahui hubungan diantara pos tertentu dalam neraca maupun
    laporan laba rugi.
  7. Analisis perubahan laba kotor, merupakan teknik analisis yang
    digunakan untuk mengetahui posisi laba kotor dari satu periode ke
    periode berikutnya, serta sebab-sebab terjadinya perubahan laba kotor
    tersebut.
  8. Analisis titik impas, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk
    mengetahui tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan tidak
    mengalami kerugian.
  9. Analisis kredit, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk
    menilai layak tidaknya suatu permohonan kredit debitor kepada
    kreditor, seperti bank

Tahap-Tahap dalam Menganalisis Kinerja Keuangan


Menurut Fahmi (2016:3) ada lima tahapan dalam menganalisis kinerja
keuangan suatu perusahaan secara umum,yaitu:

  1. Melakukan review terhadap data laporan keuangan
    Review disini dilakukan dengan tujuan agar laporan keuangan yang
    sudah dibuat tersebut sesuai dengan penerapan kaidah-kaidah yang
    berlaku umum dalam dunia akuntansi, sehingga dengan demikian hasil
    laporan keuangan tersebut dipertanggungjawabkan.
  2. Melakukan perhitungan
    Penerapan metode perhitungan disini adalah disesuaikan dengan kondisi
    dan permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil dari
    perhitungan tersebut akan memberikan suatu kesimpulan sesuai dengan
    analisis yang diinginkan.
  3. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh
    Dari hasil hitungan yang sudah diperoleh tersebut kemudian dilakukan
    perbandingan dengan hasil hitungan dari berbagai perusahaan lainnya.
    Metode yang paling umum digunakan untuk melakukan perbandingan
    ini ada dua yaitu:
    a. Time series analysis, yaitu membandingkan secara antarwaktu atau
    antar peroleh, dengan tujuan itu nantinya akan terlihat secara grafik.
    b. Cross sectional approach, yaitu melakukan perbandingan terhadap
    hasil hitungan rasio-rasio yang telah dilakukan antara satu perusahan
    dan perusahaan lainnya dalam ruang lingkup yang sejenis dilakukan
    dengan cara bersamaan.
  4. Melakukan penafsiran (interpretation) terhadap berbagai permasalahan
    yang ditemukan
    Pada tahap ini analisis melihat kinerja keuangan perusahan adalah
    setelah dilakukan ketiga tahap tersebut selanjutnya dilakukan penafsiran
    untuk melihat apa-apa saja permasalahn dan kendala-kendala yang di
    alami oleh perbankan tersebut.
  5. Mencari dan memberikan pemecahan masalah (solution) terhadap
    berbagai macam permasalahan yang ditemukan
    Pada tahap terakhir ini setelah ditemukan berbagai permasalahan yang
    dihadapi maka daicarikan solusi guna memberikan suatu input atau
    dimasukkan agar apa yang menjadi kendala dan hambatan selama ini
    dapat terselesaikan.

Manfaat Kinerja Keuangan


Menurut Sujarweni (2017:73) berikut ini manfaat dari kinerja keuangan,
yaitu:

  1. Untuk mengukur prestasi yang telah diperoleh suatu organisasi secara
    keseluruhan dalam suatu periode tertentu.
  2. Untuk menilai pencapaian perdepartemen dalam memberikan
    kontribusi bagi perusahaan secara keseluruhan.
  3. Sebagai dasar penentuan strategi perusahaan untuk masa yang akan
    datang.
  4. Untuk memberikan petunjuk dalam pembuatan keputusan dan kegiatan
    organisasi pada umumnya dan divisi atau bagian organisasi pada
    khususnya.
  5. Sebagai dasar penentuan kebijaksanaan penanaman modal agar dapat
    meningkatkan efesiensi dan produktivitas perusahaan

Tujuan Kinerja Keuangan


Menurut Sujarweni (2017:71), tujuan dari penilaian kinerja, yaitu:

  1. Untuk mengetahui likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan untuk
    memperoleh kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi.
  2. Untuk mengetahui solvabilitas yaitu kemampuan perusahaan untuk
    memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut
    dilikuidasi baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang.
  3. Untuk mengetahui profitabilitas/rentabilitas yaitu menunjukkan
    kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode
    tertentu.
  4. Untuk mengetahui stabilitas usaha, yaitu kemampuan perusahaan untuk
    melakukan usahanya dengan stabil

Pengertian Kinerja Keuangan


Kinerja perusahaan dapat dikatakan sebagai suatu usaha formal yang
dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas dari aktivitas
atau kegiatan suatu perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu
tertentu. Secara singkat arti dari kinerja adalah “prestasi kerja”. Kinerja juga bisa
diartikan “hasil kerja” yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang sesuai
tanggung jawab yang diberikan. Dari kinerja keuangan seseorang atau sekelompok
orang, perusahaan dapat mengetahui keuntungan yang didapat sudah mencapai
tingkat tinggi atau belum. Apabila hasil dari kinerja keuangan tersebut baik maka
laba yang ada dalam suatu perusahaan mengalami kenaikan, sebaliknya jika kinerja
tidak baik maka akan mengalami penurunan laba di suatu perusahaan.
Menurut Rudianto (2013:189), “Kinerja keuangan merupakan hasil atau
prestasi yang telah dicapai oleh manajemen perusahaan dalam menjalankan
fungsinya mengelola aset perusahaan secara efektif selama periode tertentu”.
Menurut Hery (2018: 25) “Pengukuran kinerja keuangan merupakan suatu
usaha formal untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas perusahaan dalam
menghasilkan laba dan posisi kas tertentu. Dengan pengukuran kinerja keuangan
ini dapat dilihat prospek pertumbuhan dan perkembangan keuangan perusahaan
dari mengandalakan sumber daya yang dimilikinya”.
Sedangkan, menurut Fahmi (2011:2) “Kinerja keuangan merupakan
gambaran dari pencapaian keberhasilan perusahaan dapat diartikan sebagai hasil
yang telah dicapai atas berbagai aktivitas yang dilakukan. Dapat dijelaskan bahwa
kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana
suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan
pelaksanaan keuangan secara baik dan benar”.

Analisis Laporan Keuangan Perbankan


Analisis laporan keuangan perbankan bertujuan antara lain
untuk mengetahui tingkat pencapaian kinerja perusahaan bank, untuk
mengetahui perkembangan perbankan dari suatu periode ke periode
berikutnya, sebagai bahan pertimbangan bagi manajemen dalam
melaksanakan kegiatan operasional dan penyususnan rencana kerja
anggaran bank, untuk memonitor pelaksanaan dari suatu kebijakan
perusahaan yang telah diterapkan, sehingga dapat diadakan
perbaikan/penyempurnaan dimasa yang akan datang dan sebagainya.
(Indra Bastian dan Suhardjono, 2006:284)
Metode analisis laporan keuangan yang lazim dipergunakan
dalam praktik perbankan anatara lain:

  1. Analisis varians (variance analysis), yaitu metode analisis yang
    dipergunakan untuk mengetahui pencapaian kinerja dibandingkan
    dengan rencana kerja yang telah ditetapkan, serta
    mengidentifikasikan terjadinya deviasi.
  2. Analisis komparatif (comparative analysis), yaitu metode analisis
    yang dilakukan dengan cara membandingkan keragaman usaha
    bank pada suatu periode dengan periode lainnya, baik secara
    absolut maupun relatif atas total/bagian tertentu.
  3. Analisis lingkungan (environment analysis), yaitu metode analisis
    yang dilakukan dengan cara membandingkan hasil usaha yang
    telah dicapai suatu unit kerja terhadap industri usaha yang sama di
    wilayah kerjanya.
  4. Analisis rasio (ratio analysis), yaitu metode analisis yang
    dilakukan dengan cara membandingkan pos-pos tertentu dalam
    neraca maupun laba rugi.

Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan


Karakteristik kualitatif laporan keuangan menurut PSAK (2007)
merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan
berguna bagi pemakai. Terdapat empat karakteristik kualitatif pokok
yaitu:
1) Dapat dipahami
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan
keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh
pemakai
2) Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi
kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan.
Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat memperngaruhi
keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka
mengevaluasi peristiwa masa lalu,masa kini atau masa depan,
menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu.
3) Keandalan
Agar bermanfaat, informasi juga harus andal (reliable).Informasi
memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang
menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya
sebagai penyajian yang tulus atau jujur dari seharusnya disajikan
atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.
4) Dapat dibandingkan
Pemakai harus dapat membandingkan laporan keuangan
perusahaan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan
(trend) posisi dan kinerja keuangan.Pemakai juga harus dapat
membandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk
mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi
keuangan secara relatif.

Tujuan Laporan Keuangan


Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh
Ikatan Akuntan Indonesia tujuan laporan keuangan adalah menyediakan
informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan
posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar
pemakai dalam pengambilan keputusan.
Tujuan umum laporan keuangan yang diatur dalam PAI yaitu:
1) Memberikan informasi keuangan yang dapat dipercayai mengenai
aktiva dan kewajiban serta ekuitas suatu bank.
2) Memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan
dalam aktiva netto (aktiva dikurangi kewajiban) suatu bank yang
timbul dari kegiatan usaha dalam rangka memperoleh laba.
3) Memberikan informasi keuangan yang membantu para pengguna
laporan di dalam menaksir potensi perubahan dalam menghasilkan
laba.
4) Memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam
aktiva dan kewajiban suatu bank, seperti informasi mengenai
aktivitas pembayaran dan investasi.
5) Memberikan informasi tentang sejauh mana pengungkapan informasi
lain yang berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk
kebutuhan pengguna laporan, seperti informasi mengenai kebijakan
akuntansi yang dianut bank.

Usaha Bank Perkreditan Rakyat (BPR)


Usaha-usaha Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah :
1) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa
deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu.
2) Memberikan kredit.
3) Menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia
(SBI), deposito berjangka, sertifikat deposito, dan/atau tabungan
pada bank lain. SBI adalah sertifikat yang ditawarkan Bank
Indonesia kepada BPR apabila BPR mengalami over likuiditas.
Usaha yang tidak boleh dilakukan BPR adalah :
1) Menerima simpanan berupa giro.
2) Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing.
3) Melakukan penyertaan modal dengan prinsip prudent banking dan
concern terhadap layanan kebutuhan masyarakat menengah ke
bawah.
4) Melakukan usaha perasuransian.
5) Melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana yang
dimaksud dalam usaha BPR

Tujuan Penilaian Kinerja


Tujuan penilaian kinerja perusahaan menurut Munawir (2000:31)
adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan
untuk memperoleh kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi
atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi keuangannya pada saat
ditagih.
2) Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan
untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut
dilikuidasi baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka
panjang.
3) Untuk mengetahui tingkat rentabilitas atau profitabilitas, yaitu
menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba
selama periode tertentu.
4) Untuk mengetahui tingkat stabilitas usaha, yaitu kemampuan
perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur
dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar
beban bunga atas hutang-hutangnya termasuk membayar kembali
pokok hutangnya tepat pada waktunya serta kemampuan membayar
deviden secara teratur kepada para pemegang saham tanpa mengalami
hambatan atau krisis keuangan.

Manfaat Penilaian Kinerja


Adapun manfaat dari penilaian kinerja adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengukur prestasi yang dicapai oleh suatu organisasi dalam
suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat keberhasilan
pelaksanaan kegiatannya.
2) Selain digunakan untuk melihat kinerja organisasi secara keseluruhan,
maka pengukuran kinerja juga dapat digunakan untuk menilai
kontribusi suatu bagian dalam pencapaian tujuan perusahaan secara
keseluruhan.
3) Dapat digunakan sebagai dasar penentuan strategi perusahaan untuk
masa yang akan datang.
4) Memberi petunjuk dalam pembuatan keputusan dan kegiatan
organisasi pada umumnya dan divisi atau bagian organisasi pada
khususnya.
5) Sebagai dasar penentuan kebijaksanaan penanaman modal agar dapat
meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan

Pengertian Kinerja Keuangan

Pengertian kinerja menurut Indra Bastian (2006:274) adalah
gambaran pencapaian pelaksanaan/program/kebijaksanaan dalam
mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi suatu organisasi.
Konsep kinerja keuangan menurut Indriyo Gitosudarmo dan Basri
(2002:275) adalah rangkaian aktivitas keuangan pada suatu periode
tertentu yang dilaporkan dalam laporan keuangan diantaranya laporan laba
rugi dan neraca.
Menurut Irhan Fahmi (2011:2) kinerja keuangan adalah suatu
analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah
melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan
secara baik dan benar. Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran
tentang kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-
alat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui mengenai baik buruknya
keadaan keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja
dalam periode tertentu. Hal ini sangat penting agar sumber daya digunakan
secara optimal dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Penilaian kinerja keuangan merupakan salah satu cara yang dapat
dilakukan oleh pihak manajemen agar dapat memenuhi kewajibannya
terhadap para penyandang dana dan juga untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan oleh perusahaan

Jenis – Jenis Laporan Keuangan


Laporan keuangan bagi perusahaan yang telah lama berdiri,
disajikan secara komparatif dengan tahun sebelumnya.Penyajian
laporan secara komparatif memberikan gambaran perusahaan saat ini
dan perkembanganya. Penjelasan mengenai laporan keuangan dapat
dilihat seperti dibawah ini :
a. Neraca
Adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang
dan modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu.
Bentuk neraca beragam tergantung pada tujuan yang akan
dicapai. Menurut Greuning (2015:24) neraca adalah :
laporan neraca menyediakan informasi tentang posisi
keuangan suatu perusahaan. Neraca harus menyajikan
secara terpisah kategori dan klasifikasi utama aktiva
dan kewajiban.

b. Laporan Laba Rugi
Menurut Warren, Reeve dan Fees (2016:24) laporan laba
rugi adalah :
Laporan pendapatan dan beban selama periode waktu
tertentu.Laporan laba rugi juga melaporkan kelebihan
pendapatan terhadap beban-beban yang terjadi.
Menurut Horne dan Wachowicz (2015:193), laporan laba
rugi adalah :
Ringkasan dan pendapatan dan biaya perusahaan selama
periode tertentu, diakhiri dengan laba bersih atau rugi bersih
untuk periode tersebut.
Secara garis besar dapat dirumuskan yaitu laporan yang
menunjukkan pendapatan dan biaya yang terjadi dalam kegiatan
operasi perusahaan selama periode tertentu.
Secara umum bentuk laporan laba/rugi yang digunakan
adalah sebagai berikut:
1) Bentuk single step
Dengan menggabungkan semua penghasilan menjadi satu
kelompok dan semua biaya dalam satu kelompok, sehingga
untuk menghitung laba/rugi bersih hanya memerlukan satu
langkah yaitu mengurangkan total penghasilan terhadap
total biaya.
2) Bentuk multi step
Dilakukan pengelompokan yang lebih teliti sesuai dengan
prinsip yang digunakan secara umum
c. Laporan Arus Kas
Menurut Warren, Reeve dan Fees (2016:24) laporan arus
kas adalah suaru ikhtisar penerimaan kas dan pembayaran kas
selama periode waktu tertentu.
Menurut Wid, Subramanyam dan Halsey (2015:26) laporan
arus kas melaporkan arus kas masuk dan keluar bagi aktivitas
operasi, investasi dan pendanaan perusahaan secara terpisah.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa laporan
arus kas menggambarkan perputaran uang (kas dan bank)
selama periode waktu tertentu yang terdiri atas kas atau untuk
kegiatan operasional, kas atau untuk kegiatan investasi dank as
atau untuk kegiatan pendanaan.
d. Laporan Perubahan Ekuitas
Menurut Greuning (2015:24), laporan perubahan ekuitas
menunjukkan informasi mengenai kenaikan atau penurunan
dalam aktiva atau kekayaan perusahaan.
Menurut Darsono dan Ashari (2014:24), laporan perubahan
ekuitas menjelaskan perubahan modal, laba ditahan, agio dan
disagio. Laporan ini menggambarkan saldo dab perubahan hak
si pemilik yang melekat pada perusahaan.
PSAK No.1 tahun 2014 menyebutkan bahwa perusahaan
harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai komponen
utama laporan keuangan, yang menunjukkan: (1) Laba atau rugi
bersih periode bersangkutan, (2) setiap pos pendapatan dan
beban, keuntungan dan kerugian beserta jumlahnya yang
berdasarkan PSAK yang terkait diakui secara langsunh dalam
ekuitas. (3) transaksi modal dengan pemilik dan distribusi
kepada pemilik. (4) saldo akumulasi laba atau rugi pada awal
dan akhir periode serta perubahanya. (5) rekonsiliasi antara nilai
tercatat dari masing-masing jenis modal saham, agio saham,dan
cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan
secara terpisah setiap perubahan

Pengguna Laporan Keuangan


Pengguna laporan keuangan memerlukan informasi yang
memadai untuk mengevaluasi kekuatan keuangan perusahaan dan
distribusi kepemilikan perusahaan. Menurut Darsono dan Ashari
(2007:11) pengguna laporan keuangan dan kebutuhan informasi
keuangan dapat dikelompokkan sebagai berikut : investor atau
pemilik, pemberi pinjaman (kreditur), pemasok atau kreditur usaha
lainnya, pelanggan, karyawan, pemerintah, dan masyarakat.
Adapun penjelasan dari masing-masing pengguna laporan
keuangan adalah sebagai berikut :
a. Investor atau pemilik
Pemilik perusahaan menanggung resiko atas harta yang
ditempatkan pada perusahaan.Pemilik kebutuhan informasi
untuk menilai apakah perusahaan memiliki kemampuan
membayar deviden. Disamping itu untuk menilai apakan
investasinya akan tetap dipertahankan atau dijual. Bagi calon
pemilik laporan keuangan dapat memberikan informasi
mengenai kemungkinan penempatan investasi dalam
perusahaan.
b. Pelanggan
Dalam beberapa situasi, pelanggan sering membuat kontrak
jangka panjang dengan perusahaan, sehingga perlu informasi
mengenai kesehatan keuangan perusahaan yang akan melakukan
kerjasama.
c. Karyawan
Karyawan dan serikat buruh memerlukan informasi keuangan
guna menilai kemampuan perusahaan untuk mendatangkan laba
dan stabilitas usahanya.Dalam hal ini, karyawan membutuhkan
informasi untuk menilai kelangsungan hidup perusahaan sebagai
tempat menggantungkan hidupnya.
d. Pemerintah
Informasi keuangan bagi pemerintah dipergunakan untuk
menentukan kebijakan dalam bidang ekonomi,misalnya lokasi
sumber daya, UMR, pajak, pungutan serta bantuan.
e. Masyarakat
Laporan keuangan dapat dipergunakan untuk bahan ajar,
analisis, serta informasi trend dan kemakmuran.

Keterbatasan Laporan Keuangan


Laporan keuangan dipersiapkan atau dibuat dengan maksud
untuk memberikan gambaran secara periodik yang dilakukan pihak
manajemen yang bersangkutan. Jadi laporan keuangan bersifat
historis serta menyeluruh.
Menurut jumingan (2014:10) empat keterbatasan laporan
keuangan adalah sebagai berikut :
a. Laporan keuangan pada dasarnya merupakan laporan antara
(interm report), bukan merupakan laporan final karena laba
rugi riil hanya dapat ditentukan bila perusahaan dijual atau
dilikuidasi. Karena alasan tersebut laporan keuangan perlu
disusun untuk periode waktu tertentu.
b. Laporan keuangan ditunjukkan dalam jumlah rupiah yang
tampaknya pasti. Sebenarnya jumlah rupiah ini dapat saja
berbeda bila dipergunakan standart lain (karena adanya lebih
dari satu standar yang diperkenankan). Apabila
diperbandingkan dengan laporan keuangan seadanya
perusahaan tersebut dilikuidasi, jumlah rupiahnya dapat
sangat berbeda.
c. Neraca dan laporan laba rugi mencerminkan transaksi-
transaksi keuangan dari waktu ke waktu.selama jangka waktu
itu mungkin nilai rupiah sudah menurun.
d. Laporan keuangan tidak memberikan gambaran yang lengkap
mengenai keadaan perusahaan. Laporan keuangan tidak
mencerminkan semua factor yang mempengaruhi kondisi
keuangan dan hasil usaha karena tidak semua factor dapat
diukur dalam satuan uang

Tujuan Laporan Keuangan


Tujuan laporan keuangan menurut SAK tentang
Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
(2014:4) adalah :
menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan,
kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang
bermanfaat bagi sejumlah besar pemakaian dalam mengambil
keputusan ekonomi.
Tujuan laporan keuangan ini menolong pemakai laporan
keuangan memprediksi masa depan melalui perbandingan,
evaluasi dan analisa trend.
Tujuan penyusunan laporan keuangan secara umum
adalah sebagai berikut :
1) Memberikan informasi keuangan tentang jumlah
aktiva,kewajiban dan modal.
2) Memberikan informasi tentang hasil usaha yang
tercermin dari pendapatan yang diperoleh dan biaya-
biaya yang dikeluarkan dalam periode tertentu.
3) Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan
yang terjadi pada aktiva,kewajiban dan modal.
4) Memberikan informasi tentang kinerja manajemen dalam
suatu periode

Manfaat Laporan Keuangan


Laporan keuangan mempunyai beberapa manfaat sebagai
berikut :
1) Sebagai alat penguji untuk mengetahui kebenaran
pekerjaan pembukuan
2) Untuk memperoleh gambaran tentang keadaan keuangan
suatu perusahaan mengenai posisi keuangan dan
perkembangan perusahaan (laba/rugi)
3) Sebagai dasar pengambilan keputusan merupakan alat
komunikasi antara perusahaan dengan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan kegiatan perusahaan

Pengertian Laporan Keuangan


Laporan keuangan merupakan salah satu alat yang dipakai
untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan yang disusun dalam
setiap akhir periode yang berisi tentang pertanggung jawaban
keuangan secara keseluruhan. Laporan keuangan ini memberikan
gambaran atas keuangan perusahaan dalam satu periode akuntansi
yang terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan laba rugi
komprehensif, laporan perubahan equitas pemegang saham, laporan
arus kas dan catatan atas laporan keuangan.
Laporan keuangan tersebut bertujuan untuk memberikan
informasi keuangan kepada yang berkepentingan, baik kepada
pemilik, manajemen maupun pihak eksternal perusahaan yang
berkepentingan. Laporan keuangan akan memberikan hasil yang
terbaik jika digunakan dalam suatu kombinasi untuk menunjukan
suatu perubahan kondisi keuangan selama periode tertentu. Laporan
keuangan pada dasarnya merupakan hasil dari proses akuntansi yang
disajikan dalam bentuk kuantitatif, dimana informasi-informasi yang
disajikan didalamnya dapat membantu berbagai pihak (dalam
maupun luar perusahaan) dalam mengambil keputusan yang sangat
berpengaruh bagi kelangsungan hidup perusahaan (Istikomah,
2005:1).
Pencatatan pengeluaran dan penerimaan setiap akhir
periode akuntansi dinyatakan perusahaan dalam laporan keuangan
yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal,
dan laporan arus kas. Laporan keuangan merupakan alat yang sangat
penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi
keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang
bersangkutan. Dengan mengadakan analisa terhadap pos-pos neraca
dapat diketahui atau akan diperoleh gambaran tentang posisi
keuangan, sedangkan analisa terhadap laporan rugi laba akan
memberikan gambaran tentang hasil atau perkembangan usaha
perusahaan yang bersangkutan. Laporan keuangan bagi suatu
perusahaan hanyalah sebagai sarana evaluasi dari pekerjaan bagian
akuntansi, tetapi untuk selanjutnya laporan keuangan tidak hanya
sebagai sarana evaluasi saja tetapi juga sebagai dasar untuk
menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan tersebut,
dimana dengan hasil analisa tersebut pihak-pihak yang
berkepentingan mengambil keputusan. Nilai yang tercantum dalam
laporan keuangan selalu berubah-ubah setiap periodenya, atau selalu
mengalami penambahan dan pengurangan. Perubahan nilai yang ada
dalam laporan keuangan akan berpengaruh di dalam mengambil
keputusan. Oleh karena itu laporan keuangan sangat berarti bagi
pihak-pihak yang berkepentingan misalnya pemilik perusahaan,
pemasok, investor, pegawai, pemerintah (khususnya dalam hal
perpajakan). Laporan keuangan dapat berarti bagi pihak-pihak yang
berkepentingan maka perlu mengadakan analisa hubungan dari
berbagai pos-pos dalam suatu laporan keuangan yang sering disebut
analisis laporan keuangan

Pertumbuhan Laba


Definisi menurut Nurhadi (2014:141), menyatakan pengertian
pertumbuhan laba adalah sebagai berikut : “Pertumbuhan laba
menunjukkan persentase kenaikan laba yang dapat dihasilkan
perusahaan dalam bentuk laba bersih”.
Dewi Utari, Ari dan Darsono (2014:67), menyatakan bahwa
pertumbuhan laba perusahaan yang baik mencerminkan bahwa kondisi
kinerja perusahaan juga baik, jika kondisi ekonomi baik pada umumnya
pertumbuhan perusahaan baik.
Oleh karena laba merupakan ukuran kinerja dari suatu perusahaan,
maka semakin tinggi laba yang dicapai perusahaan, mengindikasikan
semakin baik kinerja perusahaan dengan demikian para investor tertarik
untuk menanamkan modalnya (Dewi Utari , Aridan Darsono 2014:67).
Pertumbuhan laba dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

  1. Besarnya perusahaan.
  2. Umur perusahaan.
  3. Tingkat Leverager
  4. Tingkat penjualan.
  5. Perubahan laba masa lalu.
    Menurut I Nyoman Kusuma (2014:249), pertumbuhan laba
    dipengaruhi oleh perubahan komponen-komponen dalam laporan
    keuangan misalnya perubahan penjualan, perubahan harga pokok
    penjualan, perubahan beban operasi, perubahan beban bunga dan
    perubahan pajak penghasilan.
    Namun begitu pertumbuhan laba juga dapat dipengaruhi oleh
    faktor-faktor luar seperti adanya peningkatan harga akibat inflasi, nilai
    tukar rupiah, kondisi ekonomi, kondisi politik suatu negara dan adanya
    kebebasan manajerial yang memungkinkan manajer memilih metode
    akuntansi dan membuat estimasi yang dapat meningkatkan laba (I
    Nyoman Kusuma, 2014:249)

Manajemen Aset


Analisis rasio keuangan yang dapat digunakan dalam
mengevaluasi kondisi dan kinerja keuangan perusahaan, menurut
Harmono (2014:106) analisis laporan keuangan dapat
diklasifikasikan ke dalam empat aspek rasio keuangan perusahaan
yaitu meliputi :
a. Manajemen Aset
Manajemen Aset yang meliputi kemampuan perusahaan
dalam memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu
perusahaan, hal ini ditunjukkan oleh laba yang di hasilkan dari
penjualan dan pendapatan investasi. Manajemen Aset ditunjukkan
atas laba yang di ukur dengan dasar penjualan sehingga
menghasilkan profit margin, dimana profit margin semakin besar
maka semakin baik karena di anggap kemampuan perusahaan
dalam mendapatkan laba cukup tinggi dan akan berpengaruh baik
terhadap pertumbuhan laba.
1) Rasio Profitabilitas
Menurut G. Sugiyarsi dan F. Winarni (2015:118)
rasio profitabilitas adalah :
profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan
memperoleh laba dalam hubunganya dengan penjualan, total
aktiva, maupun modal sendiri.

Kekurangan Analisis Rasio Keuangan


Menurut Sawir (2015:44) kekurangan analisis ratio
keuangan antara lain:
a. Kesulitan dalam mengidentifikasi kategori industry dari
perusahaan yang dianalisis apabila perusahaan tersebut bergerak
dibeberapa bidang usaha.
b. Rasio disusun dari data akuntansi dan data dipengaruhi oleh cara
penafsiran yang berbeda dan bahkan bias merupakan hasil
manipulasi.
c. Perbedaan metode akuntansi akan menghasilkan perhitungan
yang berbeda, misalnya perbedaan metode penyusutan atau
metode penilaian persediaan.
d. Informasi rata-rata industry adalah data umum dan hanya
merupakan perkiraan

Pengertian Analisis Rasio Keuangan


Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan
antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah tertentu dengan jumlah
lain. Dengan penggunaan alat analisis berupa rasio ini akan dapat
menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisis tentang
baik atau buruknya keadaan posisi keuangan suatu perusahaan
terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka
rasio pembanding yang digunakan sebagai standar. Menurut
Greuning (2015:28) analisis ratio keuangan adalah :
disiplin, dimana alat bantu analisis diterapkan terhadap
laporan keuangan dan data keuangan lainya dengan tujuan
untuk menginterprestasikan trend dan hubungan dalam suatu
cara yang konsisten dan tegas.
Secara umum analisis rasio keuangan adalah hubungan antara
angka-angka yang ada pada laporan keuangan. Secara pokok analisis
berurusan dengan mengubah data menjadi informasi dan membantu
proses ddiagnosis yang bertujuan untuk mengawasi dan meramalkan
informasi.
Analisis laporan keuangan pada dasarnya dapat dilakukan
melalui cara perbandingan sebagai berikut :
a. cross sectional approach
merupakan suatu cara mengevaluasi kinerja keuangan dengan
membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan dengan rasio
semacam dari perusahaan sejenis dalam periode yang sama.
b. time series analisis
merupakan suatu cara mengevaluasi kinerja keuangan dengan
membandingkan rasio sekarang (present ratio) dengan rasio dari
waktu-waktu yang lalu (histories ratio) atau dengan rasio yang
diperkirakan untuk waktu yang akan dating dari perusahaan
tersebut

Manfaat menilai Kinerja Keuangan


Manfaat penilaian kinerja keuangan adalah :
a. Memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai pengelolaan
utang termasuk mengenai keadaan keuangan secara keseluruhan.
b. Mengidentifikasi lebih awal masalah keuangan yang timbul
sebelum terlambat.
c. Mengidentifikasi masalah keuangan yang ada yang mungkin
tidak disadari oleh perusahaan.
d. Memberikan gambaran nyata mengenai kelebihan dan
kekurangan keadaan keuangan dan cara pengelolaan piutang.
Gambaran tentang perkembangan keuangan perusahaan dapat
diperoleh dengan mengadakan analisis terhadap kinerja keuangan
perusahaan yaitu dengan cara menganalisis laporan keuangan
perusahaan dengan menggunakan teknik analisis yang ada sehingga
nantinya perusahaan dapat mengetahui kemajuan, kemunduran serta
kegagalan perusahaan yang menyangkut bidang keuangan. Menurut
sucipto (2014), manfaat penilaian kinerja yaitu :
1) Untuk menelola operasi organisasi secara efektif dan efesien
melalui pemotivasian karyawan secara maksimum.
2) Untuk membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan
dengan karyawan seperti promosi,transfer serta pemberhentian.
3) Untuk mengidentifikasi kebutuhan penelitian dan
pengembangan karyawan dan untuk menyediakan kriteria
seleksi dan evaluasi program penelitian karyawan.
4) Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana
atasan mereka menilai kinerja.
5) Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan

Tujuan Penilaian Kinerja Keuangan


Menurut jumingan (2014:239) tujuan penilaian kinerja
adalah:
a. Untuk mengetahui keberhasilan pengelolaan keuangan
perusahaan terutama kondisi likuiditas, kecukupan modal dan
profitabilitas yang dicapai dalam tahun berjalan maupun tahun
sebelumnya.
b. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam
mendayagunakan semua asset yang dimiliki dalam
menghasilkan profit secara efisien.
Kinerja perusahaan tergantung pada keputusan yang dibuat
oleh manajer secara terus-menerus, guna mencapai suatu tujuan
tertentu secara efektif dan efisien dalam menjalankan usahanya.
Pengukuran kinerja perusahaan ditimbulkan sebagai akibat dari
proses pengambilan keputusan manajemen, merupakan persoalan
kompleks dan sulit, karena menyangkut efektivitas pemanfaatan
modal, efisiensi kegiatan perusahaan dan menyangkut nilai dan
keamanan berbagai tuntuan yang timbul terhadap perusahaan dari
pihak ketiga.

Pengertian Kinerja Keuangan


Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat diartikan sebagai
prospek atau masa depan, pertumbuhan dan potensi perkembangan
yang baik bagi perusahaan. Informasi kinerja keuangan diperlukan
untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi, yang
mungkin dikendalikan di masa depan dan untuk memprediksi
kapasitas produksi dari sumber daya yang ada (Barlian, 2003).
Pimpinan perusahaan atau manajemen sangat berkepentingan
terhadap laporan keuangan yang telah di analisis, karena hasil
tersebut dapat dijadikan sebagai alat dalam pengambilan keputusan
lebih lanjut untuk masa yang akan datang. Dengan menggunakan
análisis rasio, berdasarkan data dari laporan keuangan, akan dapat
diketahui hasil-hasil finansial yang telah di capai di waktu-waktu
yang lalu, dapat diketahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki
perusahaan, serta hasil-hasil yang di anggap cukup baik.
Kinerja keuangan menurut Jumingan (2016:239) adalah
sebagai berikut :
Kinerja keuangan merupakan gambaran kondisi keuangan
perusahaan pada suatu periode tertentu menyangkut aspek
penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur
dengan indikator kecukupan modal, likuiditas, dan profitabilitas
Kinerja keuangan menurut Fahmi (2014:2) adalah sebagai
berikut :
Kinerja keuangan merupakan gambaran dari pencapaian kebehasilan
perusahaan dapat diartikan sebagai hasil yang telah dicapai atas
berbagai aktivitas yang telah dilakukan.Dapat dijelaskan bahwa
kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat
sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan
menggunakan aturan-aturan pelaksanakan keuangan secara baik dan
benar.
Kinerja Keuangan menurut Sutrisno (2014:53) adalah sebagai
berikut :
Kinerja keuangan merupakan prestasi yang dicapai perusahaan
dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan
perusahaan.
Secara umum dapat dikatakan kinerja keuangan adalah prestasi
yang dapat dicapai oleh perusahaan dibidang keuangan dalam suatu
periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan.
Disisi lain kinerja keuangan menggambarkan kekuatan struktur
keuangan suatu perusahaan dan sejauh mana asset yang tersedia,
perusahaan sanggup meraih keuntungan. Hal ini berkaitan erat
dengan kemampuan manajemen dalam mengelola sumber daya yang
dimiliki perusahaan secara efektif dan efesien

Pengukuran Kinerja Keuangan


Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan
diatas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain.
Analisis kinerja keuangan merupakan proses pengkajian secara kritis terhadap
review data, menghitung, mengukur, menginterprestasi, dan memberi solusi
terhadap keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu.
Kinerja keuangan dapat dinilai dengan beberapa alat analisis. Berdasarkan
tekniknya, analisis keuangan dapat dibedakan menjadi 8 (delapan) macam,
menurut Jumingan (2006:242) yaitu:

  1. Analisis Perbandingan Laporan Keuangan, merupakan teknik analisis
    dengan cara membandingkan laporan keuangan dua periode atau lebih
    dengan menunjukkan perubahan, baik dalam jumlah (absolut) maupun
    dalam persentase (relatif).
  2. Analisis Tren (tendensi posisi), merupakan teknik analisis untuk
    mengetahui tendensi keadaan keuangan apakah menunjukkan kenaikan
    atau penurunan.
  3. Analisis Persentase per-Komponen (common size), merupakan teknik
    analisis untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing
    aktiva terhadap keseluruhan atau total aktiva maupun utang.
  4. Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja, merupakan teknik
    analisis untuk mengetahui besarnya sumber dan penggunaan modal
    kerja melalui dua periode waktu yang dibandingkan.
  5. Analisis Sumber dan Penggunaan Kas, merupakan teknik analisis untuk
    mengetahui kondisi kas disertai sebab terjadinya perubahan kas pada
    suatu periode waktu tertentu.
  6. Analisis Rasio Keuangan, merupakan teknik analisis keuangan untuk
    mengetahui hubungan di antara pos tertentu dalam neraca maupun
    laporan laba rugi baik secara individu maupun secara simultan.
  7. Analisis Perubahan Laba Kotor, merupakan teknik analisis untuk
    mengetahui posisi laba dan sebab-sebab terjadinya perubahan laba.
  8. Analisis Break Even, merupakan teknik analisis untuk mengetahui
    tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan tidak mengalami
    kerugian

Jenis Inovasi


Menciptakan inovasi harus bisa menentukan inovasi seperti
apa yang seharusnya dilakukan dalam meningkatkan pelayanan
publik di Kecamatan Tegalrejo, agar inovasi tersebut dapat
berguna dan berjalan sebagaimana mestinya. Jenis-jenis inovasi
diharapkan dapat memberikan masukan yang positif dalam
menciptakan inovasi layanan publik (Robertson dalam Nugroho
& Siahaan, 2005), jenis-jenis inovasi tersebut antara lain:
1) Inovasi terus menerus
Adalah modifikasi dari produk yang sudah ada dan bukan
pembuatan produk yang baru sepenuhnya. Inovasi ini
menimbulkan pengaruh yang paling tidak mengacaukan
pola perilaku yang sudah mapan. Contohnya,
memperkenalkan perubahan model baru, menambahkan
mentol pada rokok atau mengubah panjang rokok.
2) Inovasi Terusmenerus secara dinamis
Mungkin melibatkan penciptaan produk baru atau
perubahan produk yang sudah ada, tetapi pada umumnya
tidak mengubah pola yang sudah mapan dari kebiasaan
belanja pelanggan dan pemakaian produk. Contohnya
antara lain, sikat gigi listrik, compact disk, makanan
alami dan raket tenis yang sangat besar.
3) Inovasi terputus
Melibatkan pengenalan sebuah produk yang sepenuhnya
baru yang menyebabkan pembeli mengubah secara
signifikan pola perilaku mereka. Contohnya, komputer,
videocassete recorder.

Pengertian Kinerja Keuangan


Kinerja perusahaan dapat dikatakan sebagai suatu usaha formal yang
dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas dari aktivitas
perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Menurut Sucipto
(2003:6) pengertian kinerja keuangan adalah “penentuan ukuran-ukuran tertentu
yang dapat mengukur keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan dalam
menghasilkan laba”.
Pengukuran kinerja didefinisikan sebagai “performing measurement“,
yaitu kualifikasi dan efisiensi serta efektifitas perusahaan dalam pengoperasian
bisnis selama periode akuntansi. Dengan demikian pengertian kinerja adalah suatu
usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan
efektivitas dari aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu
tertentu (Hanafi, 2007:69).
Penilaian kinerja menurut Srimindarti (2006:34) adalah “penentuan
efektivitas operasional, organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran, standar dan
kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya secara periodik”. Ada dua macam
kinerja, yakni kinerja opeasional dan kinerja keuangan. Kinerja operasional lebih
ditekankan pada kepentingan internal perusahaan seperti kinerja cabang/divisi
yang diukur dengan kecepatan dan kedisiplinan. Sedangkan kinerja keuangan
lebih kepada evaluasi laporan keuangan perusahaan pada waktu dan jangka
tertentu.
Untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan maka secara umum perlu
dilakukan analisis terhadap laporan keuangan, yang menurut Brigham dan
Houston (2007:78) mencakup (1) pembandingan kinerja perusahaan dengan
perusahaan lain dalam industri yang sama dan (2) evaluasi kecenderungan posisi
keuangan perusahaan sepanjang waktu. Laporan keuangan perusahaan
melaporkan baik posisi perusahaan pada suatu waktu tertentu maupun operasinya
selama beberapa periode yang lalu.

Pengukuran Kinerja Keuangan


Kinerja keuangan perusahaan berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian
kinerja. Pengukuran kinerja adalah kualifikasi dan efisiensi serta efektivitas
perusahaan dalam pengoperasian bisnis selama periode akuntansi.
Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan di atas
kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain. Analisis
kinerja keuangan merupakan proses pengkajian secara kritis terhadap review
data, menghitung, mengukur, menginterprestasi, dan memberi solusi terhadap
keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu.
a. Rasio Likuiditas
Menurut Kasmir (2012:130) Rasio likuiditas atau sering juga disebut
dengan nama rasio modal kerja merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan. Caranya adalah dengan
membandingkan komponen yang ada di neraca, yaitu total aktiva lancar
dengan total passiva lancar (utang jangka pendek). Penilaian dapat
dilakukan untuk beberapa periode sehingga terlihat perkembangan
likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu.
Tujuan dan manfaat rasio likuditas untuk perusahaan menurut Kasmir
(2012:132) adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau
    utang yang secara jatuh tempo pada saat ditagih. Artinya, kemampuan
    untuk membayar kewajiban yang sudah waktunya dibayar sesuai jadwal
    batas waktu yang telah ditetapkan (tanggal dan bulan tertentu).
  2. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka
    pendek dengan aktiva lancar secara keseluruhan. Artinya jumlah
    kewajiban yang berumur di bawah satu tahun atau sama dengan satu
    tahun, dibandingkan dengan total aktiva lancar.
  3. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka
    pendek dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan sediaan atau
    piutang. Dalam hal ini aktiva lancar dikurangi sediaan dan utang yang
    dianggap likuiditasnya lebih rendah.
  4. Untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang ada
    dengan modal kerja perusahaan.
  5. Untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk
    membayar utang.
  6. Sebagai alat perencanaan ke depan, terutama yang berkaitan dengan
    perencanaan kas dan utang.
  7. Untuk melihat kondisi dan posisi likuiditas perusahaan dari waktu ke
    waktu dengan membandingkannya untuk beberapa periode.
  8. Untuk melihat kelemahan yang dimiliki perusahaan, dari masing-
    masing komponen yang ada di aktiva lancar dan utang lancar.
  9. Menjadi alat pemicu bagi pihak manajemen untuk memperbaiki
    kinerjanya, dengan melihat rasio likuiditas yang ada pada saat ini.

Pengertian Inovasi


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2009), inovasi
diartikan pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru;
penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang
sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Inovasi
organisai bisa didefinisikan sebagai cara-cara baru dalam
pengaturan kerja, dan dilakukan dalam sebuah Organisasi untuk
mendorong dan mempromosikan keunggulan kompetitif. Inti dari
inovasi organisasi adalah kebutuhan untuk memperbaiki atau
mengubah suatu produk, proses atau jasa (Sutarno, 2012).
Inovasi merupakan sebuah ide, praktek, atau objek yang
dianggap baru oleh individu satu unit adopsi lainnya (Rogers,
2003) . Sedangkan menurut (Damanpour dalam Suwarno, 2008)
menjelaskan bahwa sebuah inovasi dapat berupa produk atau jasa
baru, teknologi proses produksi yang baru, sistem struktur dan
administrasi baru atau rencana baru bagi anggota organisasi.
Pada suatu Inovasi tidak bisa terlepas dai beberapa proses
yang harus dijalani baik di sektor publik maupun sektor swasta.
Proses inovasi adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh
individu atau organisasi, mulai dari sadar atau tahu adanya
inovasi sampai menerapkan (implementasi) inovasi. Inovasi
sebagai suatu proses digambarkan sebagai proses yang siklus dan
berlangsung terus menerus, meliputi fase kesadaran,
penghargaan, adopsi, difusi dan implementasi (De Jong, Hartog,
& N. Deanne, 2003).
Strategi yang perlu diperhatikan dalam memunculkan
inovasi pertama perlu mempertimbangkan pertambahan
keuntungan yang akan dicapai (Hussey, 2003). Hal ini dapat
dilakukan melalui pengukuran sampai sejauh mana kompetitor
akan sulit mengikuti langkah yang diambil. Kedua apakah ada
kemungkinan untuk memperluas keuntungan yang akan
diperoleh. Dengan demikian, bagian akhir dari sebuah inovasi
adalah sejauh mana langkah yang diambil dapat menguntungkan
dan tidak diambil keuntungannya oleh pesaing dan mendapatkan
keuntungan.
Setelah para ahli menjelaskan terkait pengertian Inovasi,
namun sampai saat sekarang ini tidak ada satu kesepemahaman
definisi mengenai Inovasi, namun secara umum dapat
disimpulkan bahwa inovasi memiliki atribut (Rogers dalam
Suwarno, 2008) :
1) Relative Advantage atau keuntungan relative
Sebuah inovasi harus mempunyai keunggulan dan nilai
lebih dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Selalu
ada sebuah nilai kebaruan yang melekat dalam inovasi
yang menjadi ciri yang membedakannya dengan yang
lain. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi
dapat diukur berdasarkan nilai ekonominya, atau
mungkin dari faktor status sosial (gengsi), kesenangan,
kepuasan, atau karena mempunyai komponen yang
sangat penting. Makin menguntungkan bagi penerima,
makin cepat tersebarnya inovasi.
2) Compatibility atau kesesuaian
Inovasi memiliki tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai
atau (values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari
penerima. Inovasi yang tidak sesuai dengan nilai atau
norma yang diyakini oleh penerima tidak akan diterima
secepat inovasi yang sesuai dengan norma yang ada.
Misalnya penyebarluasan penggunaan alat KB
dimasyarakat yang keyakinan agamanya melarang
penggunaan alat tersebut, maka tentu saja penyebaran
inovasi akan terhambat.
3) Complexity atau Kerumitan
Adalah tingkat kesukaran untuk memahami dan
menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang
mudah dimengerti dan mudah digunakan oleh penerima
akan cepat tersebar, sedangkan inovasi yang sukar
dimengerti atau sukar digunakan oleh penerima akan
lambat proses penyebaranya. Misalnya masyarakat
pedesaan yang tidak mengetahui tentang teori
penyebaran bibit penyakit melalui kuman, diberitahu
oleh penyuluh kesehatan agar membiasakan memasak
air yang akan diminum, karena air yang tidak dimasak
jika diminum dapat menyebabkan sakit perut. Tentu saja
ajakan itu sukar diterima. Makin mudah dimengerti
suatu inovasi akan makin cepat diterima oleh
masyarakat.
4) Triability atau kemungkinan dicoba
Inovasi hanya bisa diterima apabila telah teruji dan
terbukti mempunyai keuntungan atau nilai dibandingkan
dengan inovasi yang lama. Sehingga sebuah produk
inovasi harus melewati fase “uji publik”, dimana setiap
orang atau pihak mempunyai kesempatan untuk menguji
kualitas dari sebuah inovasi.
5) Observability atau Kemudahan diamati
Sebuah inovasi harus juga dapat diamati, dari segi
bagaimana sebuah inovasi bekerja dan menghasilkan
sesuatu yang lebih baik. Suatu inovasi yang hasinya
mudah diamati akan makin cepat diterima oleh
masyarakat, dan sebaliknya inovasi yang sukar diamati
hasilnya, akan lama diterima oleh masyarakat.
Pada penelitian yang pernah dilakukan oleh Borins (2001)
melalui survey tentang inovasi di sektor publik mendapatkan
kesimpulan bahwa :
1) 50% Inovasi di Sektor Publik merupakan inisiatif dari
front line staff dan manager tingkat menengah (middle
manager).
2) 70% Inovasi yang dihasilkan bukan merupakan respon
dari krisis.
3) 60% Inovasi melewati organisasional (Cut Cross
Organizational Boundaries).
4) Inovasi hadir lebih dikarenakan oleh motivasi untuk
dikenali atau dihargai (recognition) dan kebanggaan
daripada sekedar penghargaan finansial

Tujuan Analisis Rasio Keuangan


Analisis rasio keuangan digunakan untuk melihat prospek dan risiko
perusahaan pada masa yang mendatang. Faktir prospek dalam rasio tersebut
Akan memperngaruhi harapan investor terhadap perusahaan pada masa-masa
mendatang (Hanafi, 2013:75).

Analisis Rasio Keuangan


Analisis Rasio Keuangan merupakan angka yang diperoleh dari hasil
perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang
mempunyai hubungan relevan dan signifikan (berarti). Analisis rasio
keuangan merupakan salah satu Cara untuk menilai kinerja perusahaan di
masa lalu dan masa sekarang (Harahap, 2011:297).

Tujuan Pengukuran Kinerja Keuangan


Tujuan pengukuran kinerja keuangan sangat penting untuk diketahui karena
pengukuran yang dilakukan dapat mempengaruhi perilaku pengambilan
keputusan dalam perusahaan. Pengukuran kinerja keuangan suatu perusahaan
tergantung pada sudut pandang yang diambil dan tujuan analisis. Karena
alasan itu, pihak manajemen perusahaan sangat perlu menyesuaikan kondisi
perusahaan dengan alat ukur penilaian kinerja yang akan digunakan serta
tujuan pengukuran kinerja keuangan tersebut.
Ada empat tujuan dilaksanakannya pengukuran kinerja keuangan perusahaan
(Munawir 2004:31) yakni untuk:

  1. Mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan dalam
    memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera diselesaikan pada saat
    ditagih.
  2. Mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk
    memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut
    dilikuidasi, kewajiban keuangan yang dimaksud mencakup keuangan
    jangka pendek maupun jangka panjang.
  3. Mengetahui tingkat profitabilitas atau rentabilitas, yaitu kemampuan
    perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dengan
    menggunakan aktiva atau modal secara produktif.
  4. Mengetahui tingkat stabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam
    menjalankan dan mempertahankan usahanya sehingga tetap stabil.
    Kemampuan yang dimaksud diukur dari kemampuan perusahaan
    membayar pokok hutang dan beban bunga tepat pada waktunya.
    Dengan tujuan tersebut, penilaian kinerja keuangan mempunyai beberapa
    peranan bagi perusahaan. Penilaian kinerja keuangan dapat mengukur
    tingkat biaya dari berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh perusahaan,
    untuk menentukan atau mengukur efisiensi setiap bagian, proses atau
    produksi serta untuk menentukan derajat keuntungan yang dapat dicapai
    oleh perusahaan yang bersangkutan, untuk menilai dan mengukur hasil
    kerja pada tiap-tiap bagian individu yang telah diberikan wewenang dan
    tanggungjawab, serta untuk menentukan perlu tidaknya digunakan
    kebijaksanaan atau prosedur yang baru untuk mencapai hasil yang lebih
    baik (Wild dan Halsey, 2005; Munawir, 2002).

Penilaian Kinerja Keuangan


Menurut Srimindarti (2006:34) penilaian kinerja keuangan yaitu penentuan
efektivitas operasional, organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran,
standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya secara periodik.
Pengukuran kinerja diaplikasikan perusahaan untuk melaksanakan perbaikan
atas kegiatan operasionalnya supaya bisa bersaing dengan perusahaan lain.
Untuk investor, informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan dapat
digunakan untuk melihat apakah mereka akan mempertahankan investasi
mereka di perusahaan tersebut atau mencari alternatif lain. Apabila kinerja
perusahaan baik maka nilai usaha akan tinggi. Dengan nilai usaha yang tinggi
membuat para investor melihat perusahaan tersebut untuk menanamkan
modalnya sehingga akan terjadi kenaikan harga saham atau dapat dikatakan
bahwa harga saham merupakan fungsi dari nilai perusahaan.
Sedangkan bagi perusahaan, informasi kinerja keuangan perusahaan dapat
dimanfaatkan untuk hal-hal sebagai berikut:

  1. Untuk mengukur prestasi yang dicapai oleh suatu organisasi dalam suatu
    periode tertentu yang mencerminkan tingkat keberhasilan pelaksanaan
    kegiatannya.
  2. Dapat digunakan sebagai dasar penentuan strategi perusahaan untuk masa
    yang akan datang.
  3. Memberi petunjuk dalam pembuatan keputusan dan kegiatan organisasi
    pada umumnya dan divisi atau bagian organisasi pada khususnya.
  4. Sebagai dasar penentuan kebijaksanaan penanaman modal agar dapat
    meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan.

Kualitas Pelayanan Publik


Kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan
dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas serta
lingkungan yang memenuhi harapan pelanggan atau konsumen
menurut Garvin dalam Nasution (2001). Selanjutnya Menurut
Buddy dalam (Wahyuningsih, 2002), kualitas adalah strategi
dasar bisnis yang menghasilkan barang dan jasa yang memenuhi
kebutuhan dan kepuasan konsumen internal dan eksternal, secara
eksplisit dan implisit. Dalam hal ini, kualitas berarti soal
memenuhi harapan pelanggan. Selanjutnya konsep tersebut
dikenal dengan kepuasan pelanggan (customer satisfication).
Kualitas juga dapat diartikan sebagai hasil persepsi dari
perbandingan antara harapan dengan kinerja aktual yang diterima.
Crosby, Lehtimen dan Wyckoff dalam Zauhar (2001:22)
menyatakan bahwa : “Kualitas adalah penyesuaian terhadap
perincian-perincian (conformance to specification) dimana
kualitas ini dipandang sebagai derajat keunggulan yang ingin
dicapai, dilakukanya control terus-menerus dalam mencapai
keunggulan tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan”.
Berdasarkan poin-poin yang sudah dijelaskan dapat
disimpulkan bahwa kualitas merupakan hasil persepsi dari
perbandingan antara harapan dengan kinerja aktual yang diterima
mengenai tingkat baik buruknya sesuatu derajat atau taraf
kepandaian atau kecakapan dan sebagainya.
Pelayanan publik merupakan suatu upaya membantu dan
atau memberi manfaat kepada publik melalui penyediaan barang
dan atau jasa yang dibutuhkan oleh pelanggan. Pada sektor publik
pelayanan pemerintah diartikan sebagai pemberian pelayanan
oleh agen pemerintah melalui pegawainya (the delivery of service
by government agency using own employees) (Savas, 1987)
Saat ini konsep pelayanan perlu dibudayakan dalam
lingkungan birokrasi publik. Prinsip-prinsip keahlian proposional
dan demokratisasi dapat diwujudkan dalam sektor pelayanan
publik, Serta perlu juga digalahkan sistem kemitraan
(partnership) antara pihak pemerintah dan pengguna jasa/swasta
perlu juga diupayakan secara serius berupa pemberdayaan
terhadap pengguna jasa pengguna pelayanan publik itu sendiri.
Konsep pelayanan publik harus rasional, efektif dan efisien
yang dilakukan melalui manajemen terbuka, dilakukan secara
ilmiah berdasarkan kajian dan penelitian serta didukung oleh
cabang-cabang ilmu lainya. Pelayanan publik harus memiliki
inovatif yakni pembaharuan yang dilakukan terus menerus untuk
menghadapi lingkungan yang dinamis, berubah dan berkembang,
berorientasi kepada hasil kerja yang optimal, dan dilakukan
secara professional, menggunakan tenaga kerja professional,
terampil dan menggunakan teknologi modern yang tepat guna.
Kualitas pelayanan (service quality) adalah hasil persepsi
dari perbandingan antara harapan dengan kinerja aktual yang
diterima pelanggan. Zauhar (2005), menjelaskan bahwa Kualitas
pelayanan adalah penyesuaian terhadap perincian-perincian
(conformance to specification) dimana kualitas ini dipandang
sebagai derajad keunggulan yang ingin dicapai, dilakukannya
kontrol terus menerus dalam mencapai keunggulan tersebut
dalam rangka memenuhi kebutuhan pengguna jasa. Pelayanan
merupakan respon terhadap kebutuhan manajerial yang hanya
terpenuhi jika pengguna jasa itu mendapatkan produk yang
mereka inginkan.
Albert & Zemke (1985) telah mengemukakan pandangannya
tentang kualitas pelayanan publikyang merupakan hasil interaksi
dari berbagai aspek, yaitu sistem pelayanan, SDM pemberi
layanan, strategi, dan pelanggan (customers)

Pengertian Kinerja Keuangan


Kinerja keuangan dalam konteks dunia usaha mengandung pengertian yang
sangat luas. Pengertian kinerja keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia
(2007) adalah kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengendalikan
sumber daya yang dimilikinya.
Kinerja keuangan merupakan gambaran kondisi keuangan perusahaan pada
suatu periode tertentu menyangkut aspek penghimpunan dana maupun
penyaluran dana, yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal,
likuiditas, dan profitabilitas (Jumingan, 2006:239).
Kinerja keuangan merupakan gambaran dari pencapaian keberhasilan
perusahaan dapat diartikan sebagai hasil yang telah dicapai atas berbagai
aktivitas yang telah dilakukan. Dapat dijelaskan bahwa kinerja keuangan
adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu
perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan
pelaksanaan keuangan secara baik dan benar (Fahmi, 2012:2).
Menurut Rudianto (2013:189) kinerja keuangan adalah hasil atau prestasi
yang telah dicapai oleh manajemen perusahaan dalam menjalankan fungsinya
megelola aset perusahaan secara efektif selama periode tertentu. Kinerja
keuangan sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk mengetahui dan
mengevaluasi sampai dimana tingkat keberhasilan perusahaan berdasarkan
aktivitas keuangan yang telah dilaksanakan.

Kelebihan dan Kelemahan ROI


Kelebihan ROI antara lain (Abdullah 2002:50 dalam Anugrahani, 2007) :
a. Selain ROI berguna sebagai alat control juga berguna untuk
keperluan perencanaan. ROI dapat digunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan apabila perusahaan akan melakukan
ekspansi.
b. ROI dipergunakan sebagai alat ukur profitabilitas dari masing-masing
produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Dengan menerapkan sistem
biaya produksi yang baik, maka modal dan biaya dapat dialokasikan
ke dalam produk yang dihasilkan oleh perusahaan, sehingga dapat
dihitung masing-masing.
c. Kegunaan ROI yang paling prinsip adalah berkaitan dengan efisiensi
penggunaan modal, efisiensi produk dan efisiensi penjualan. Hal ini
dapat dicapai apabila perusahaan telah melaksanakan praktik akutansi
secara benar dalam artian mematuhi sistem dan prinsip-prinsip
akutansi yang ada .
Kelemahan ROI antara lain (Abdullah 2002:51 dalam Anugrahani, 2007) :
a. Mengingat praktek akutansi dalam perusahaan seringkali berbeda
maka kelemahan prinsip yang dihadapi adalah kesulitan dalam
membandingkan rate of return suatu perusahaan dengan perusahaan
lain.
b. Dengan menggunakan analisa rate of return atau return on investment
saja tidak dapat dipakai untuk membandingkan dua perusahaan atau
lebih dengan memperoleh hasil yang memuaskan.
Sistem Du Pont dan ROI sedikit berbeda karena pada Du Pont, ROI
merupakan Net Profit Margin dikalikan dengan perputaran aktiva. Perusahaan
yang mengembangkan sistem analisis ini sehingga sering disebut dengan sistem
Du Pont atau ROI dengan pendekatan Du Pont. Analisis ini lebih menekankan
pada seberapa banyak laba yang bisa diperoleh dengan seluruh kekayaan yang
dimiliki oleh perusahaan

Pengertian Return On Investment


Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih
berdasarkan tingkat aset yang tertentu. Rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi
manajemen aset, yang berarti efisiensi manajemen (Hanafi dan Halim, 2007:84).
Darsono dan Ashari (2005:57) menyatakan dengan mengetahui rasio ini,
bisa menilai apakah perusahaan ini efisien dalam memanfaatkan aktivanya dalam
kegiatan operasional perusahaan. Rasio ini juga memberikan ukuran yang lebih
baik atas profitabilitas perusahaan karena menunjukkan ukuran yang lebih baik
atas profitabilitas perusahaan karena menunjukkan efektivitas manajemen dalam
menggunakan aktiva untuk memperoleh pendapatan.
Besarnya ROI dipengaruhi oleh dua faktor :
(a) Tingkat perputaran aktiva yang digunakan untuk operasi.
(b) Profit Margin, Yaitu besarnya keuntungan operasi yang
dinyatakan dalam prosentase dan jumlah penjualan bersih. Profit Margin
ini mengukur tingkat keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan
dihubungkan dengan penjualannya (Anugrahani, 2007)

Pendekatan Du Pont System


Sistem Du Pont sering digunakan untuk pengendalian divisi, prosesnya
disebut dengan pengendalian terhadap tingkat pengembalian investasi (ROI). Jika
ROI untuk divisi tertentu berada di bawah angka yang ditargetkan, melalui sistem
Du Pont dapat ditelusuri sebab–sebab terjadinya penurunan ROI.
Tahap-tahap dalam melakukan analisis Du Pont adalah sebagai berikut:

  1. Menghitung rasio aktifitas yaitu Total Assets Turn Over (TATO)
    Total Assets Turn Over (TATO) atau perputaran aktiva digunakan untuk
    mengukur efisiensi penggunan aktiva untuk menghasilkan penjualan.
    Rumus yang digunakan dalam menghitung perputaran aktiva adalah
    sebagai berikut:
    Total Assets Turnover = Penjualan Bersih / Total Aktiva
  2. Menghitung profit margin
    Profit margin digunakan untuk untuk mengukur kemampuan perusahaan
    dalam menghasilkan keuntungan. Operating profit margin mengukur
    persentase dari profit yang diperoleh perusahaan dari tiap penjualan
    sebelum dikurangi dengan biaya bunga dan pajak. Pada umumnya semakin
    tinggi rasio ini maka semakin baik. Rumus yang digunakan dalam
    menghitung net profit margin adalah sebagai berikut:
    Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) / Penjualan Bersih
  3. Menghitung Return On Investment (ROI)
    Rumus yang digunakan dalam menghitung perputaran aktiva adalah
    sebagai berikut:
    Return on Investment = Net profit margin x Assets turnover
    Menurut Harahap (2010:335), Du Pont menganggap penting angka Return
    on Investment (ROI) sehingga ia memulainya dari langkah ini

Prinsip-Prinsip Pelayanan Publik


Saat ini sudah seharusnya pelayanan publik yang diberikan
oleh Birokrasi hendaknya berdasarkan prinsip-prinsip dasar
berikut ini yang telah dikemukakan oleh Sulistio & Budi (2009) :

  1. Rasional, efektif dan efisien yang dilakukan melalui
    manajemen terbuka.
  2. Ilmiah, berdasarkan kajian dan penelitian serta didukung
    oleh cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya.
  3. Inovatif, pembaruan yang dilakukan terus-menerus untuk
    menghadapi lingkungan yang dinamis, berubah dan
    berkembang.
  4. Produktif, berorientasi kepada hasil kerja yang optimal.
  5. Profesionalisme, penggunaan tenaga kerja profesional,
    terampil dalam istilah “The Right Man in The Right
    Pleace”.
  6. Penggunaan teknologi modern yang tepat guna.
    Islamy dalam Sulistio dan Budi (2009:41) menyatakan
    bahwa pelayanan publik harus dilaksanakan oleh Birokrasi
    Pemerintah berdasarkan kepada prinsip-prinsip pelayanan prima
    berikut ini:
  7. Appropriateness (kesesuaian)
  8. Accesibility (keterjangakauan)
  9. Continuity (keberlanjutan)
  10. Technically (teknis)
  11. Profitability (menguntungkan)
  12. Equitability (adil)
  13. Transparency (terbuka)
  14. Accountability (bertanggungjawab)
  15. Effectiveness and Efficiency (efektif dan efisien)
    Berbeda dengan pendapat ahli lainnya, yang menjelaskan
    terkait prinsip prinsip pelayanan publik yang harus diterapkan
    oleh pemerintah diantaranya (Ibrahim, 2008) :
  16. Persamaan keuntungan dan logika usaha
    Pelanggan atau masyarakat mampu diberikan kualitas
    pelayanan yang baik sehingga mampu memberikan
    keuntungan.
  17. Kewenangan dalam pengambilan keputusan
    Untuk pengambilan keputusan harus mampu
    didesentralisasikan sedapat mungkin antara organisasi dan
    pelanggan.
  18. Fokus pengorganisasisan
    Organisasi harus terstruktur dan berfungsi, sehingga
    tujuan utama dapat menggerakan sumberdaya yang ada
    dan dapat mendukung garis depan operasional.
  19. Kontrol atau Pengawasan
    Pemimpin dan pengawasan harus memperhatikan dan
    memberikan dorongan semangat dan dukungan kepada
    setiap karyawan agar tercapainya kinerja yang baik untuk
    pemenuhan kepuasan oleh masyarakat.
  20. Sistem Penghargaan/ganjaran
    Wujud kualitas yang dirasakan pelanggan merupakan
    fokus dari sistem penghargaan atau ganjaran.
  21. Fokus pengukuran
    Kepuasan pelanggan dengan kualitas pelayanan harus
    menjadi fokus dan pengukuran yang ingin dicapai.
    Pandangan para ahli menggunakan berbagai pendekatan
    dalam menerapkan prinsip pelayanan publik, ada yang
    menggunakan pendekatan masyarakat sebagai pelanggan atau
    menggunakan penerapan New Public Management. Selain itu
    para ahli ada yang menggunakan pendekatan New Public Service
    yang memposisikan masyarakat sebagai warga negara yang lebih
    mengedepankan kepuasan tanpa harus membeda bedakan
    pelayanan yang diberikan.
    Jika merujuk kepada Keputusan Menteri Pendayagunaan
    Aparatur Negara Nomor 63 Tahun 2003 tentang Pedoman
    Penyelenggaraan Pelayanaan terdapat prinsip pelayanan publik
    yaitu:
  22. Kesederhanaan
    Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit, mudah
    dipahami dan mudah dilaksanakan.
  23. Kejelasan
    Yaitu persyaratan teknis administratif pelayanan publik,
    unit kerja atau pejabat yang berwenang dan
    bertanggungjawab memberikan pelayanan dan
    penyelesaian keluhan atau persoalan dalam pelaksanaan
    pelayanan, serta kejelasan rincian biaya pelayanan dan
    tata cara pembayaran.
  24. Kepastian Hukum
    Yaitu pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun
    waktu yang telah ditentukan.
  25. Akurasi
    produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat dan
    sah.
  26. Keamanan
    Yaitu proses dan produk pelayanan publik memberikan
    rasa aman dan kepastian hukum.
  27. Tanggungjawab
    Pimpinan penyelenggaraan pelayanan publik atau pejabat
    yang ditunjuk bertanggungjawab atas penyelenggaraan
    pelayanan dan penyelesaian keluhan atau persoalan dalam
    pelaksanaan pelayanan publik.
  28. Kelengkapan sarana dan prasarana
    Yaitu tersedianya sarana dan prasarana kerja, peralatan
    kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk
    penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan
    informatika.
  29. Kemudahan Akses
    Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan memadai,
    mudah dijangkau oleh masyarakat.
  30. Kedisiplinan, kesopanan dan keramahan
    Yaitu pemberi pelayanan harus bersikap disiplin, sopan
    santun, ramah serta memberikan pelayanan dengan ikhlas.
  31. Kenyamanan, pelayanan harus tertib, teratur disediakan
    ruang tunggu yang nyaman, bersih, rapi serta dilengkapi
    fasilitas pendukung pelayanan seperti tempat parkir, toilet
    dan tempat sampah.
    Secara umum para ahli bahkan sampai menteri sudah
    menjelaskan tetang prinsip yang harus dikedepankan oleh
    penyedia layanan. Prinsip tersebut menjadi acuan dan patokan
    untuk menyelenggarakan pelayanan demi terwujudnya kepuasan
    masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan. Pada intinya
    prinsip pelayanan bertujuan untuk membuat standarisasi
    kesetaraan pelayanan di setiap penyedia pelayanan agar
    terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Kegunaan Analisis Du Pont System


Menurut Munawir (2007:91) ada beberapa kegunaan dari menganalisis
laporan keuangan dengan metode Du Pont System yaitu :
a. Sebagai salah satu kegunaannya yang bersifat prinsipil ialah sifatnya
yang menyeluruh. Manajemen bisa mengetahui tingkat efisiensi
penggunaan modal, efisiensi bagian produksi, dan efisiensi bagian
penjualan.
b. Dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas masing-masing produk
yang dihasilkan perusahaan sehingga dapat diketahui produk yang
potensial.
c. Apabila perusahaan mempunyai data industri sehingga diperoleh rasio
industri, maka dengan analisis ini perusahaan dapat membandingkan
efisiensi penggunaan modal pada perusahaan dengan perusahaan lain
yang sejenis.
d. Untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan suatu unit atau bagian.
e. Dapat digunakan untuk keperluan kontrol dan perencanaan, misalnya
digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan

Komponen-Komponen Penyelenggaraan PelayananPublik


Standard pelayanan publik dari sebuah unit pelayanan publik
harus mencantumkan komponen-komponen dasar dalam
pelayanan agar setiap masyarakat paham dan mengerti terkait hak
mereka yang didapatkan saat mendapatkan pelayanan. Dalam
pelaksanaannya standard pelayanan publik menjadi sebuah acuan
bagi para pelaksana pelayanan publik sebagai standard dalam
melaksanakan pelayanan (Mukarom & Laksana, 2015).
Jones (1996:114) menjelaskan bahwa komponen dalam
standard pelayanan publik sekurang-kurangnya memiliki unsur
sebagai berikut :
1) Dasar Hukum, adalah peraturan perundang-undangan
yang menjadi dasar penyelenggaraan pelayanan.
2) Persyaratan, adalah syarat (dokumen atau hal lain) yang
harus dipenuhi dalam pengurursan suatu jenis pelayanan,
baik persyaratan teknis maupun administratif.
3) Sistem, mekanisme, dan prosedur adalah tata cara
pelayanan yang dibakukan bagi pemberi dan penerima
pelayanan, termasuk pengaduan.
4) Jangka waktu penyelesaian, adalah jangka waktu yang
diberlalukan untuk menyelesaikan seluruh proses
pelayanan dari setiap jenis pelayanan.
5) Biaya/tarif, adalah ongkos yang dikenakan kepada
penerima layanan dalam mengurus dan/atau memperoleh
pelayanan dari penyelenggara yang besarnya ditetapkan
berdasarkan kesepakatan antara penyelenggara dan
masyarakat.
6) Produk pelayanan, adalah hasil pelayanan yang diberikan
dan diterima sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan.
7) Sarana, prasarana, dan/atau fasilitas, adalah peralatan dan
fasilitas yang diperlukan dalam penyelenggaraan
pelayanan, termasuk peralatan dan fasilitas pelayanan bagi
kelompok rentan.
8) Kompetensi pelaksana, adalah kemampuan yang harus
dimiliki oleh pelaksana meliputi pengetahuan, keahlian,
keterampilan dan pengalaman.
9) Pengawasan internal, adalah sistem pengendalian internal
dan pengawasan langsung yang dilakukan oleh pimpinan
satuan kerja atau atasan langsung pelaksana.
10) Penanganan pengaduan, saran, dan masukan, adalah tata
cara pelaksanaan penanganan pengaduan dan tindak
lanjut.
11) Jumlah pelaksana, adalah tersedianya pelaksana sesuai
dengan beban kerja. Informasi mengenai komposisi atau
jumlah petugas yang melaksanakan tugas sesuai
pembagian dan uraian tugas.
12) Jaminan pelayanan, adalah memberikan kepastian
pelayanan dilaksanakan sesuai dengan standard
pelayanan.
13) Jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan, adalah
dalam bentuk komitmen untuk memberikan rasa aman,
bebas dari bahaya, resiko, dan keragu-raguan.
14) Evaluasi kinerja pelaksanan, adalah penilaian untuk
mengetahui seberapa jauh pelaksanaan kegiatan sesuai
dengan standard pelayanan.
Beberapa hal diatas merupakan standar pelayanan publik
yang harus dipenuhi oleh penyedia pelayanan dan dalam hal ini
adalah Pemerintah. Setelah unsurpelayanan publik tersebut
terpenuhi, selanjutnya penyedia pelayanan harus
mempublikasikan kepada masyarakat agar mereka mengerti dan
paham terkait hak dan kewajiban yang diterima saat mendapatkan
pelayanan publik. Dengan dipublikasikan terkait standar
pelayanan yang ada, masyarakat juga bisa menilai baik atau
buruknya pelayanan yang diberikan. Apabila pelayanan yang
didapatkan tidak sesuai dengan standar pelayanan yang ada, maka
masyarakat berhak untuk protes atau melaporkan unit pelayanan
publik yang bersangkutan kepada pengawas atau layanan
pengaduan yang ada

Metode Pembanding Analisis Rasio Keuangan


Menurut Atmaja (2008:417- 418), pada pokoknya ada dua cara yang dapat
dilakukan di dalam membandingkan ratio financial perusahaan, yaitu antara lain :
a. Comparative Analysis (Cross Section Analysis)
Comparative analysis adalah membandingkan rasio keuangan perusahaan
dengan rasio rata-rata industri.
b. Trend Analysis (Time Series Analysis)
Trend analysis adalah pendekatan yang menggunakan perbandingan rasio
keuangan perusahaan dari waktu ke waktu (misal, dari tahun ke tahun).
Jika trend membaik disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan
relatif baik, demikian sebaliknya.

Macam-macam Rasio Keuangan


Menurut Sartono (2011:114) ada empat kelompok rasio keuangan yang
digunakan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan. Empat kelompok rasio
keuangan tersebut adalah :
a. Rasio Likuiditas, yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban finansial yang berjangka pendek tepat pada
waktunya.
b. Rasio Aktivitas, menunjukkan sejauh mana efisiensi perusahaan dalam
menggunakan assets untuk memperoleh penjualan.
c. Financial Leverage Ratio, menunjukkan kapasitas perusahaan untuk
memenuhi kewajiban baik itu jangka pendek maupun jangka panjang.
d. Rasio Profitabilitas, dapat mengukur seberapa besar kemampuan
perusahaan memperoleh laba baik dalam hubungannya dengan penjualan,
assets maupun laba bagi modal sendiri.

Pengertian Rasio Keuangan


Menurut Tampubolon (2013:39) analisis rasio keuangan merupakan alat
utama dalam analisis keuangan, karena analisis dapat digunakan untuk menjawab
berbagai pertanyaan tentang keadaan keuangan korporasi.
Menurut Harahap (2010:297) Rasio Keuangan adalah angka yang
diperoleh dari hasil perbandingan dari suatu pos laporan keuangan dengan pos
lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti).
Menurut James C.van Horne dalam buku Kasmir (2010:93) rasio
keuangan merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan
diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka yang lainnya.Rasio
keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja
perusahaan

Metode Analisis Laporan Keuangan


Menurut Kasmir (2010:95-96) dalam praktiknya terdapat dua macam
metode analisis laporan keuangan yang bisa dipakai, yaitu:

  1. Analisis vertikal (statis)
    Analisis vertikal merupakan analisis yang dilakukan terhadap hanya 1
    periode laporan keuangan saja.Analisis dilakukan antara pos-pos yang
    ada, dalam suatu periode.
  2. Analisis horizontal (dinamis).
    Analisis horizontal,merupakan analisis yang dilakukan dengan
    membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode

Pengertian dan Tujuan Analisis laporan Keuangan


Menurut Harahap (2010:189-190) Analisis laporan keuangan terdiri dari
dua kata yaitu Analisis dan Laporan Keuangan. Untuk menjelaskan pengertian ini,
kita dapat menjelaskan masing-masing kata. Kata analisis adalah memecahkan
atau menguraikan suatu unit menjadi berbagai unit terkecil. Sedangkan laporan
keuangan adalah Neraca, Laba/Rugi dan Arus Kas (Dana). Kalau dua pengertian
ini digabungkan, analisis laporan keuangan berarti:
“Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih
kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau mempunyai
makna antara yang satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif
maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi
keuangan yang lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan
keputusan yang tepat.”
Menurut Bernstein (1983) dalam buku Harahap (2010:190) :“Analisis laporan
keuangan mencakup penerapan metode dan teknik analitis atas laporan keuangan
dan data lainnya untuk melihat dari laporan itu ukuran-ukuran dan hubungan
tertentu yang sangat berguna dalam proses pengambilan keputusan”.
Menurut Harahap (2010:195-197) secara lengkap kegunaan/tujuan analisis
laporan keuangan adalah sebagai berikut :

  1. Dapat memberikan informasi yang lebih luas,lebih dalam daripada
    yang terdapat dari laporan keuangan biasa.
  2. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata
    (explicit) dari suatu laporan keuangan atau yang berada di balik
    laporan keuangan. (implicit).
  3. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan
    keuangan.
  4. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam
    hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan
    dengankomponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan
    informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
  5. Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan
    model-model dan teori-teori yang terdapat dilapangan seperti untuk
    prediksi,peningkatan (rating).
  6. Dapat memberi informasi yang diinginkan oleh para pengambil
    keputusan.
  7. Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria
    tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
  8. Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain
    dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau
    standar ideal.
  9. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami
    perusahaan, baik posisi keuangan,hasil usaha,struktur keuangan dan
    sebagainya.
  10. Bisa juga memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan
    dimasa yang akan datang

Pengguna Laporan Keuangan


Pihak-pihak yang berkepentingan dalam laporan keuangan (Agustin,
2014:39) adalah:

  1. Manager
    Bagi manager laporan keuangan digunakan sebagai alat pengukuran
    kinerja keuangan telah dicapai perusahaan dan sebagai pedoman dalam
    perencanaan masa depan.
  2. Pemilik perusahaan
    Bagi pemilik perusahaan laporan keuangan berguna untuk menilai
    kesuksesan pihak manajemen dalam menjalankan perusahaan .
  3. Para investor
    Para investor menggunakan laporan keuangan untuk mengetahui prospek
    keuangan dimasa yang akan datang untuk jaminan investasinya.
  4. Kreditor
    Kreditor memerlukan laporan keuangan untuk mengetahui kemampuan
    perusahaan dalam melunasi pinjamannya

Macam-macam Laporan Keuangan


Kasmir (2010:67) dalam praktiknya kita mengenal beberapa macam
laporan keuangan seperti:
a. Neraca
b. Laporan laba rugi
c. Laporan perubahan modal
d. Laporan arus kas
e. Laporan catatan atas laporan keuangan
Dan masing-masing laporan memiliki komponen keuangan tersendiri dan
tujuan dan maksud tersendiri pula.
Menurut Brigham & Houston (2006:46) Neraca adalah sebuah laporan
tentang posisi keuangan perubahan pada suatu titik waktu tertentu.
Menurut Kasmir (2010:67) Neraca, merupakan laporan yang menunjukkan
jumlah aktiva (harta), kewajiban (hutang) dan modal perusahaan (ekuitas)
perusahaan pada saat tertentu.
Secara garis besar komponen neraca dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Aktiva lancar terdiri dari:
    a. Kas;
    b. Rekening pada bank (rekening giro dan rekening
    tabungan);
    c. Deposito berjangka (time deposite)
    d. Surat-surat berharga(efek-efek)
    e. Piutang;
    f. Persediaan
    g. Biaya yang dibayar dimuka;
    h. Pendapatan yang masi harus diterima;
    i. Aktiva lancar lainnya.
  2. Aktiva tetap terdiri dari:
    a. Aktiva tetap berwujud,yaitu
  3. Tanah
  4. Mesin
  5. Bangunan
  6. Peralatan
  7. Kendaraan
  8. Akumulasi Penyusutan;dan
  9. Aktiva tetap lainnya;
    b. Aktiva tetap tidak berwujud yaitu:
  10. Goodwill
  11. Hak cipta
  12. Lisensi;dan
  13. Merek dagang
  14. Aktiva lainnya terdiri dari antara lain:
  15. Gedung dalam proses
  16. Tanah dalam penyelesaian
  17. Piutang jangka panjang
  18. Uang jaminan
  19. Uang muka investasi;dan
  20. Lainnya.
    Kemudian komponen utang (kewajiban) serta modal (ekuitasa) tergambar
    dalam posisi passiva sebagai berikut :
  21. Utang lancar (kewajiban jangka pendek) terdiri dari:
    a. Utang dagang
    b. Utang wesel
    c. Utang bank
    d. Utang pajak
    e. Biaya yang masi harus dibayar
    f. Utang sewa guna usaha
    g. Utang dividen
    h. Utang lancar lainnya.
  22. Utang jangka panjang terdiri dari:
    a. Utang hipotek
    b. Utang obligasi
    c. Utang bank jangka panjang;dan
    d. Utang janghka panjang lainnya.
  23. Ekuitas terdiri dari:
    a. Modal saham
    b. Agio saham
    c. Laba ditahan
    d. Cadangan laba ;dan
    e. Modal sumbangan.
    Secara lengkap informasi yang disajikan dalam neraca meliputi:
  24. Jumlah rupiah masing-masing jenis aktiva
  25. Jenis-jenis aktiva atau harta (asset) yang dimiliki
  26. Jenis-jenis kewajiban atau hutang (liability)
  27. Jumlah rupiah masing-masing jenis kewajiban atau utang.
  28. Jenis-jenis modal
  29. Serta jumlah rupiah masing-masing jenis modal
    Menurut Brigham & Houston (2006:50) laba rugi adalah laporan yang
    mengiktisarkan pendapatan dan pengeluaran perusahaan selama satu periode
    akuntansi, yang biasanya selama satu kuartal atau satu tahun

Prinsip Dasar Akuntansi Keuangan


Dalam buku karangan (Harahap, 2010:141) APB Statement No.4
dijelaskan beberapa prinsip atau sifat dan elemen dasar dari akuntansi (keuangan).
Prinsip-prinsip ini mendasari setiap sifat dan ciri laporan keuangan dan output
akuntansi lainnya. Prinsip itu adalah sebagai berikut:

  1. Accounting Entity (entitas)
    Yang menjadi fokus perhatian akuntansi adalah “entity” tertentu atau
    lembaga tertentu yang akan dilaporkan,bukan lembaga lainnya.
  2. Going Concern (Kontinuitas operasi)
    Dalam penyusunan laporan keuangan harus dianggap bahwa perusahaan
    (entity) yang dilaporkan terus beroperasi di masa-masa yang akan datang.
    Jika perusahaan dianggap tidak mampu melanjutkan usahanya harus
    diungkapkan oleh akuntan.
  3. Measurement (Pengukuran)
    Akuntansi adalah sebagai media pengukuran sumber-sumber ekonomi
    (Economy Resource) dan Keawajiban (Liability).Akuntansi harus
    mengukur hasil transaksi, ukuran yang dipakai adalah unit moneter.
  4. Time Period (Periode Waktu)
    Laporan keuangan menyajikan informasi untuk waktu atau periode
    tertentu.Laporan harus memiliki batas waktu yang jelas.
  5. Monetary Unit (Unit Moneter)
    Pengukuran transaksi adalah dalam bentuk nilai atau unit uang.
  6. Accrual
    Penentu pendapatan dan biaya dari posisi harta dan kewajiban ditetapkan
    berdasarkan kejadian tanpa melihat apakah transaksi pembayaran atau
    penerimaan kas telah dilakukan atau belum.
  7. Excahange Price (Harga Pertukaran)
    Nilai yang terdapat dalam laporan keuangan didasarkan pada harga
    pertukaran pada saat terjadinya transaksi.
  8. Aproximation (Penaksiran)
    Dalam akuntansi tidak dapat dihadirkan penaksiran-penaksiran.Seperti
    taksiran harga,pemilihan prinsip,dan sebagainya.
  9. Judgement (Pertimbangan)
    Dalam penyusunan laporan keuangan banyak diperlukan petimbangan-
    pertimbangan berdasarkan keahlian, baik pertimbangan memilih alternatif
    prinsip maupun pemilihan cara penyajian dalam laporan keuangan.
  10. General Purpose (Bertujuan Umum)
    Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang dihasilkan
    akuntansi keuangan ditujukan buat pemakai secara umum, bukan pemakai
    khusus.
  11. Interrelated Statement (laporan yang sangat terkait)
    Neraca, Daftar Laba/Rugi dan Laporan Sumber dan Penggunaan Kas
    mempunyai hubungan yang sangat erat dan berkaitan.Angka dan neraca
    laba/rugi saling terkait.
  12. Subtance Over Form
    Akuntansi lebih menekankan kenyataan ekonomis suatu kejadian daripada
    bukti legalnya atau formalnya.
  13. Materiality (materialitas)
    Laporan keuangan hanya memuat informasi yang dianggap penting. Dan
    dalam setiap pertimbangan yang dilakukannya tetap melihat
    signifikansinya secara umum.Indikator materialitasnya adalah dikalikan
    dengan dampaknya terhadap laporan keuangan.

Tujuan dan Sifat Laporan Keuangan

Menurut Fahmi (2011:5), tujuan laporan keuangan adalah untuk
memberikan informasi kepada pihak yang membutuhkan tentang kondisi
suatu perusahaan dari sudut angka-angka dalam satuan moneter menyediakan
informasi yang bermanfaat bagi pembuatan keputusan bisnis dan ekonomis
oleh investor yang ada dan yang potensial, kreditor, manajemen, pemerintah
dan pengguna lainnya.
Menurut Kasmir (2010:86) secara umum laporan keuangan bertujuan
untuk memberikan informasi keuangan suatu perusahaan, baik pada saat tertentu
maupun pada periode tertentu.
Kasmir (2010:87) berikut ini, beberapa tujuan pembuatan atau penyusunan
laporan keuangan yaitu :

  1. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta)yang
    dimiliki perusahaan pada saat ini.
  2. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal
    yang dimiliki perusahaan pada saat ini.
  3. Memberikan informasi tentang jumlah pendapatan yang diperoleh
    pada suatu periode tertentu.
  4. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang
    dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu.
  5. Memberikan informasi tentang perubahan yang terjadi terhadap
    aktiva,pasiva,dan modal perusahaan.
  6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam
    suatu periode.
  7. Memberikan informasi tentang catatan atas laporan keuangan.
  8. Informasi keuangan lainnya.
    Kasmir (2010:88) Dalam praktiknya sifat laporan keuangan dibuat:
  9. Bersifat historis
    Bersifat historis artinya bahwa laporan Keuangan dibuat dan disusun dari
    data masa lalu atau masa yang sudah lewat dari masa sekarang.
  10. Meyeluruh
    Bersifat Meyeluruh maksudnya laporan keuangan dibuat selengkap
    mungkin.

Pengertian dan Arti pentingnya Laporan Keuangan


Menurut Harahap (2010:105) Laporan Keuangan adalah laporan yang
menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat
tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis keuangan yang lazim dikenal
adalah: Neraca atau Laporan Laba/Rugi, atau hasil usaha, laporan perubahan
ekuitas, laporan perubahan posisi keuangan dan catatan dan laporan lain serta
materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Bagi para analis, Laporan keuangan merupakan media yang paling penting
untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan. Pada tahap ini
seorang analis tidak akan mampu melakukan pengamatan langsung ke suatu
perusahaan, seandainya dilakukan ia tidak akan dapat mengetahui banyak tentang
perusahaan. Selain itu dengan laporan keuangan akan tergambar jelas posisi
keuangan pada periode tertentu

Pengertian Kinerja Keuangan


Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan
suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan, sehingga
dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaaan keuangan suatu perusahaan
yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu.
Pengertian kinerja keuangan menurut Fahmi (2011:2) adalah suatu
analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah
melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan yang
telah memenuhi standard dan ketentuan dalam SAK (Standar Akuntansi
Keuangan) atau GAAP (General Accepted Accounting principle)”.
Menurut Sutrisno (2009: 53) “Kinerja keuangan perusahaan merupakan
prestasi yang dicapai perusahaan dalam suatu periode tertentu yang
mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan tersebut”.
Menurut Jumingan (2006:239) “Kinerja keuangan merupakan gambaran
kondisi keuangan pada suatu periode tertentu baik menyangkut aspek
penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan
indicator kecukupan modal, likuiditas dan profitabilitas”

Rasio Aktivitas


Kasmir (2018:172), mengungkapkan bahwa “ rasio aktivitas adalah rasio
yang digunakan untuk mengukur kelangsungan hidup perusahaan dalam
memanfaatkan sumber dayanya”.
Rasio yang membedakan tingkat kesepakatan dan minat pada sumber daya
untuk suatu periode. Artinya, adalah normal bahwa akan ada keseimbangan
seperti yang diinginkan antara kesepakatan dan sumber daya seperti saham,
piutang, dan sumber daya tetap lainnya. Kapasitas eksekutif untuk memanfaatkan
dan meningkatkan sumber daya yang diklaim adalah target mendasar dari rasio ini
Dalam penelitian ini sang penulis menggunakan rasio aktifitas berupa Fixed
Assets Turn Over (FATO) dan Total Assets Turn Over (TATO) yang merupakan
indikator dalam rasio aktifitas

Innovativeness dalam rantai pasokan memiliki pengaruh positif terhadaptingkat integrasi rantai pasokan.


Hasil penelitian (Huang, Yen , & Liu , 2014) menunjukkan bahwa integrasi
rantai pasokan memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kinerja
pemasoki. Ditemukan bahwa ada hubungan positif antara integrasi rantai pasokan
dan Kemampuan Kompetitif dan integrasi rantai pasokan memiliki efek positif pada
Kinerja Bisnis (Özdemir, Simonetti, & Jannelli, 2015). Pada penelitian yang di
lakukan oleh (LEUSCHNER, ROGERS , & CHARVET , 2013) memberikan bukti
bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara integrasi rantai pasokan dan
kinerja perusahaan.
Integrasi rantai pasokan meningkatkan kinerja jika kompleksitas pasokan
tinggi, sedangkan pengaruh integrasi rantai pasokan yang sangat terbatas atau tidak
ada dapat dideteksi jika kompleksitas pasokan rendah (Gimenez, Vaart, & Donk ,
2012). Integrasi dalam rantai pasokan secara positif dapat mempengaruhi kinerja
rantai pasokan (Koçoğlu, İmamoğlu, İnce, & Keskin, 2011). Integrasi rantai
pasokan (indeks integrasi rantai pasokan) ditemukan secara signifikan terkait
dengan kinerja rantai pasokan (Talavera, 2017)

Rasio Solvabilitas


Rasio Solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh
mana sumber daya perusahaan dibiayai dengan kewajiban. Ini menyiratkan
seberapa besar kesulitan kewajiban yang ditanggung oleh perusahaan
dibandingkan dengan sumber dayanya. Rasio solvabilitas digunakan untuk
mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar komitmennya secara umum,
baik saat ini maupun jangka panjang dengan asumsi perusahaan dibubarkan
(dipertukarkan)

Rasio Cepat (Quick Ratio)


Demikian pula, dengan rasio saat ini, rasio ini juga digunakan untuk
mengukur kapasitas perusahaan untuk memenuhi komitmen yang berkembang.
namun, dalam rasio ini, ukuran kapasitas untuk membayar yang ditunjukkan lebih
masuk akal daripada rasio saat ini, karena dalam rasio cepat tidak semua sumber
daya saat ini dipertimbangkan, khususnya dengan menyimpan komponen stok
terlebih dahulu dan kemudian membandingkannya dan semua- keluar kewajiban
saat ini. Rasio cepat ini menggunakan sumber daya yang akan berubah menjadi
uang lebih cepat. Sebab stok dipandang sebagai sumber daya terpanjang saat ini
untuk diubah menjadi uang tunai, jumlah yang dipartisi dengan perhitungan rasio
saat ini dilarang.
Kasmir (2018: 137), menyatakn bahwa “rasio cepat adalah rasio yang
memungkinkan perusahaan untuk memenuhi atau membayar komitmen atau
kewajiban saat ini dengan menggunakan sumber daya saat ini tanpa
mempertimbangkan nilai saham”

Innovativeness dalam rantai pasokan memiliki pengaruh positif terhadaptingkat kinerja rantai pasokan.


Tingkat kualitas kemitraan dan integrasi rantai pasokan secara positif
dipengaruhi oleh mekanisme sosialisasi dan kemampuan inovasi teknologi. Dengan
meningkatnya kemampuan inovasi teknologi, tingkat integrasi rantai pasokan akan
meningkat (Lin, 2014). Produsen lebih cenderung menjadi efektif dalam integrasi
rantai pasokan ketika melakukan upaya tanpa henti untuk memahami ide-ide baru
dengan mencari peluang baru (Seo, Dinwoodie , & Kwak, 2014). Kemampuan
untuk bekerja bersama dengan mitra telah memungkinkan perusahaan untuk
mengintegrasikan dan menghubungkan operasi untuk meningkatkan efektivitas
serta memulai inovasi radikal dan tambahan (Soosay, Hyland, & Ferrer, 2008)

Rasio Likuiditas


Likuiditas merupakan salah satu unsur yang menentukan tercapai atau
tidaknya suatu perusahaan. Pengaturan uang perlu memenuhi komitmen sesaat
yang menentukan sejauh mana perusahaan menanggung bahaya atau pada
akhirnya, kapasitas perusahaan untuk mendapatkan uang tunai atau kapasitasnya
untuk mengubah sumber daya non-tunai menjadi uang tunai. Dengan
memperkirakan likuiditas, cenderung dirasakan berapa banyak uang yang dimiliki
seseorang dengan menjual kelimpahannya.
Kasmir (2018:110) menyimpulkan bahwa “rasio likuiditas adalah rasio yang
menggambarkan kapasitas perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka
pendek”.
Satu lagi kapasitas rasio likuiditas adalah untuk menunjukkan atau
mengukur kapasitas perusahaan untuk memenuhi komitmen yang berkembang,
dua komitmen di luar perusahaan dan di dalam perusahaan.
Menurut Kasmir (2018:112), efek dari penilaian pengukuran rasio likuiditas
adalah:

  1. Dengan asumsi perusahaan dapat memenuhi komitmennya, dikatakan
    bahwa perusahaan itu cair.
  2. Kemudian lagi, jika perusahaan tidak dapat memenuhi komitmennya
    atau tidak bisa, maka perusahaan tersebut dianggap tidak likuid.
    Rasio likuiditas sering juga dianggap sebagai rasio modal yang berfungsi
    adalah rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas perusahaan atau tidak

Jenis Rasio Keuangan


Setiap rasio keuangan memiliki alasan tertentu, alasan dan yang berarti.
kemudian, pada saat itu, klarifikasi setiap konsekuensi dari rasio yang disengaja
untuk menyelesaikannya lebih signifikan untuk arah independen.
Menurut Kasmir (2018:107), jenis-jenis rasio keuangan adalah sebagai
berikut:

  1. Rasio Likuiditas
  2. Rasio Solvabilitas
  3. Rasio Aktivitas
  4. Rasio Profitabilitas
    Sedangkan urutan menurut Rudianto (2013: 191), adalah sebagai berikut:
  5. Rasio Produktivitas
  6. Rasio Likuiditas
  7. Rasio Solvabilitas
  8. Rasio Aktivitas

Pengertian Analisis Rasio


Analisis laporan keuangan keuangan perusahaan menggambarkan hubungan
atau keselarasan antara jumlah tertentu yang menggunakan jumlah lain.
Pemeriksaan rasio keuangan melibatkan informasi ringkasan fiskal yang ada
sebagai alasan penilaiannya, meskipun tergantung pada informasi dan kondisi
masa lalu, penyelidikan rasio keuangan mengharapkan untuk menilai bahaya di
masa depan dan pintu terbuka yang menakjubkan. Estimasi dan hubungan antara
satu hal dan satu hal lagi dalam laporan keuangan yang muncul dalam rasio
keuangan memberikan tujuan yang signifikan untuk menentukan soliditas
perusahaan.
Kasmir (2018:104), menyimpulkan bahwa “rasio keuangan adalah tindakan
untuk melihat angka-angka yang terkandung dalam laporan anggaran dengan
membagi satu angka dengan angka lainnya”.
Rudianto (2013: 191), menyatakan bahwa “rasio keuangan adalah teknik
mendalam untuk menemukan korelasi antara satu catatan tertentu dan satu catatan
lagi dalam laporan keuangan suatu perusahaan dan hubungan antara catatan-
catatan ini”.

Pengukuran Kinerja Keuangan


Estimasi kinerja dilibatkan oleh perusahaan untuk lebih mengembangkan
latihan fungsional mereka untuk menyaingi perusahaan yang berbeda.
Pemeriksaan pelaksanaan keuangan menyiratkan proses pemeriksaan
mendasar pada informasi, memastikan, memperkirakan, menguraikan, dan
memberikan jawaban untuk akun perusahaan untuk periode tertentu.
Menurut Jumingan (2014) kinerja keuangan dapat dinilai dengan
menggunakan beberapa perangkat berwawasan. Dilihat dari caranya, penyidikan
keuangan dapat dibagi menjadi 8 (delapan) jenis, yaitu:

  1. Analisis Perbandingan Laporan Keuangan adalah prosedur logis yang
    menggunakan pendekatan melihat laporan fiskal minimal 2 periode dengan
    menunjukkan perubahan, baik secara keseluruhan (besar) maupun secara
    tarif (cukup).
  2. Analisis Tren (kemiringan posisi), adalah strategi ilmiah untuk menentukan
    kecenderungan kondisi keuangan untuk naik atau turun.
  3. Analisis Persentase per-komponen (ukuran normal), adalah prosedur logis
    untuk memutuskan tingkat kepentingan di setiap sumber daya untuk sumber
    daya dan kewajiban agregat atau absolut.
  4. Analisis sumber dan penggunaan modal kerja, merupakan strategi yang
    tepat untuk menentukan awal dan penggunaan modal kerja melalui 2
    kerangka waktu yang ditinjau.
  5. Analisis sumber dan Penggunaan Uang, adalah strategi mendalam untuk
    memutuskan keadaan uang yang digabungkan dengan perubahan uang riil
    pada waktu tertentu.
  6. Analisis Rasio Keuangan, adalah suatu metode penyelidikan keuanganuntuk
    memutuskan hubungan antara hal-hal yang pasti dalam laporan akuntansi
    dan artikulasi pembayaran baik secara sendiri-sendiri maupun pada waktu
    yang bersamaan.
  7. Analisis Perubahan laba kotor, yang berarti strategi logis untuk mengetahui
    posisi manfaat dan penjelasan di balik penyesuaian manfaat.
  8. Analisis Break Even Point (BEP), adalah strategi logis untuk memutuskan
    tingkat kesepakatan yang harus dicapai agar perusahaan tidak mengalami
    kerugian

Kinerja Rantai Pasokan


Dalam studi (Talavera, 2017) ini, satu set langkah-langkah rantai pasokan
yang lebih holistik dikembangkan yang berusaha untuk mengukur efisiensi rantai
pasokan, responsif, fleksibilitas, kepuasan pelanggan, dan efisiensi biaya. Studi ini
juga mencoba mengukur ukuran kinerja rantai pasokan secara holistik dengan
berfokus pada dua dimensi: (a) langkah-langkah efektivitas rantai pasokan (yang
mengacu pada langkah-langkah output yang mencerminkan responsifitas rantai
pasokan untuk merespons kebutuhan mitra rantai pasokan) dan (b) langkah-langkah
efisiensi rantai pasokan (yang mengacu pada langkah-langkah berbasis biaya atau
keuangan untuk menilai efisiensi rantai pasokan).
Banyak organisasi saat ini telah menyadari bahwa metrik kinerja sangat
penting untuk mengelola bisnis dan mencapai hasil yang diinginkan. Banyak
organisasi ingin melakukan ” right things ” (efektivitas) dan melakukannya “right”
(efisiensi). Namun, hanya menyatakan dua tujuan tidak memadai kecuali ada metrik
spesifik dan terukur yang memungkinkan organisasi untuk mengukur apakah tujuan
ini tercapai atau tidak (Coyle, Gibson, Novack, & Langley, 2016). Ada empat
kategori utama untuk memeriksa kinerja logistik dan rantai pasokan: (1) waktu, (2)
kualitas, (3) biaya, (4) Metrik pendukung.
Dari studi yang dilakukan oleh (Akyuz & Erkan, 2010) berpendapat bahwa
metrik pengukuran kinerja harus:
1) Mencerminkan keseimbangan antara ukuran finansial dan non-finansial
2) Mampu mengukur kemitraan, kolaborasi, kelincahan, fleksibilitas,
produktivitas informasi, dan mampu mendefinisikan keunggulan bisnis
Jelas bahwa membangun dan menerapkan sistem pengukuran kinerja untuk
memenuhi semua persyaratan ini adalah tugas yang menantang yang memerlukan
pertimbangan simultan dari manajemen proses bisnis, masalah teknis dan
organisasi / manajerial. Tantangan-tantangan ini diperkuat oleh meningkatnya
tekanan untuk mengukur kemitraan, kolaborasi, kelincahan, dan persyaratan
keunggulan bisnis di era sekarang. Karena itu, masalah ini memerlukan pendekatan
‘seimbang’, ‘luas organisasi’, ‘dinamis’ dan ‘pembelajaran berkelanjutan’ berdasarkan
praktik manajemen proses bisnis yang baik (Akyuz & Erkan, 2010).
Kinerja rantai pasokan mengacu pada aktivitas rantai pasokan yang diperluas
dalam memenuhi persyaratan pelanggan akhir, termasuk ketersediaan produk,
pengiriman tepat waktu, dan semua inventaris serta kapasitas yang diperlukan
dalam rantai pasokan untuk memberikan kinerja tersebut secara responsif. Kinerja
rantai pasokan melintasi batas perusahaan karena mencakup bahan dasar,
komponen, sub-rakitan, dan produk jadi, dan distribusi melalui berbagai saluran ke
pelanggan akhir. Ini juga melintasi garis organisasi fungsional tradisional seperti
pengadaan, manufaktur, distribusi, pemasaran & penjualan, dan penelitian &
pengembangan (Hausman , 2003).
Rantai Pasokan perlu tampil di tiga dimensi utama:

  1. Layanan, berkaitan dengan kemampuan untuk mengantisipasi, menangkap dan
    memenuhi permintaan pelanggan dengan produk yang dipersonalisasi dan
    pengiriman tepat waktu; Aset melibatkan apa pun dengan nilai komersial,
    terutama inventaris dan uang tunai; dan Kecepatan mencakup metrik yang
    terkait waktu – mereka melacak respons dan kecepatan eksekusi.
    Aset, utama yang terlibat dalam rantai pasokan adalah inventaris di seluruh
    rantai. Dua metrik yang biasanya digunakan untuk inventaris adalah: Nilai
    Moneter dan Pasokan Waktu atau Perputaran Persediaan
  2. Kecepatan, Ada serangkaian metrik yang terkait dengan ketepatan waktu,
    kecepatan, daya tanggap, dan fleksibilitas. Lainnya adalah: Waktu Siklus
    (Aliran) di Node, Waktu Siklus Rantai Suplai, Siklus Konversi Tunai, dan
    Fleksibilitas “Terbalik”

Tujuan Dan Manfaat Pengukuran Pada Kinerja Keuangan


Munawir (2014), mengungkapkan alasan untuk memperkirakan kinerja
keuangan perusahaan adalah untuk:

  1. Memutuskan tingkat likuiditas, secara spesifik, kapasitas perusahaan
    untuk memenuhi komitmen keuangan harus dipenuhi dengan cepat, atau kapasitas
    perusahaan untuk memenuhi komitmen keuangannya pada jam pemilihan.
  2. Menentukan tingkat solvabilitas, untuk lebih spesifik kapasitas
    perusahaan untuk memenuhi komitmen manfaatnya untuk memenuhi komitmen
    keuangan saat ini dan jangka panjang dalam kasus likuidasi.
  3. Memutuskan tingkat profitabilitas, untuk lebih spesifik kapasitas
    perusahaan untuk mendapatkan manfaat dalam periode tertentu.
  4. Keandalan bisnis, secara spesifik: Mengetahui kapasitas perusahaan
    untuk menyelesaikan latihannya dengan mantap, diperkirakan oleh kapasitas
    perusahaan untuk membayar bunga atas komitmen ini dengan segera.
    Sementara itu, menurut Rusmanto (2011: 621), Ridhawati (2014) perkiraan
    kinerja keuangan berencana untuk:
  5. Menyampaikan data yang berharga dalam pilihan penting tentang sumber
    daya untuk digunakan dan mendorong pimpinan untuk menetapkan pilihan yang
    melayani kepentingan perusahaan
  6. Memperkirakan kinerja unit usaha sebagai elemen perjuangan
  7. Yang akan terjadi, estimasi kinerja digunakan sebagai alasan untuk
    mensurvei kemungkinan perubahan aset keuangan yang mungkin dikendalikan di
    kemudian hari.
    Kinerja keuangan memiliki keunggulan tertentu, selanjutnya adalah
    keunggulan penilaian kinerja (Mulyadi 2007:416 ; Sripeni, 2014), penilaian
    kinerja digunakan oleh manajemen diantaranya adalah:
  8. Menangani kegiatan asosiasi dengan sukses dan efektif melalui
    inspirasiperwakilan terbesar.
  9. Membantu menentukan pilihan yang terkait dengan pekerja, misalnya,
    kenaikan pangkat, perpindahan, dan pemutusan hubungan kerja.
  10. Mengenali kebutuhan persiapan dan kemajuan pekerja dan
    memberikanmodel penentuan dan penilaian program persiapan yang representatif.
  11. Memberikan kritik kepada perwakilan tentang bagaimana atasan
    mereka menilai presentasi mereka.
  12. Memberikan premis untuk distribusi penghargaan

Kinerja Keuangan


Kinerja Keuangan adalah kinerja manajemen, yang merupakan perluasan
nilai keuangan dan diperkirakan manfaatnya. Konsekuensi dari memperkirakan
penanda keuangan sangat penting sehingga mitra dapat memahami status
fungsional perusahaan dan tingkat pencapaian perusahaan.
Kinerja perusahaan adalah ukuran yang tepat yang diambil oleh perusahaan
untuk menilai kelayakan dan kecukupan latihan yang dilakukan selama jangka
waktu tertentu. Presentasi perusahaan dapat diperkirakan dari keterlibatannya
dengan menghasilkan manfaat dan kewajiban jangka panjang, menciptakan
manfaat dari sumber dayanya, dan membiayai latihannya.
Handayani (2013:6), menyimpulkan bahwa kinerja adalah penggambaran
suatu tingkatan untuk menyelesaikan pelaksanaan kegiatan/program/pendekatan
untuk memahami tujuan, tujuan, misi, dan visi perhimpunan yang dituangkan
dalam penyempurnaan rencana strategis nperusahaan (strategic plan).
Menurut Kurniasari (2014:12), kinerja keuangan adalah kemanfaatan kerja.
Area keuangan dilakukan oleh perusahaan dan ditampilkan dalam laporan
anggaran perusahaan. Anda dapat menilai hasil keuangan perusahaan
menggunakan peralatan yang berwawasan.
Menurut Rudianto (2012) “kinerja Keuangan menyiratkan apa yang akan
terjadi atau pencapaian yang telah dicapai oleh suatu perusahaan para
manajemendalam melakukan kapasitasnya dalam mengawasi sumber daya
perusahaan secara memadai selama periode tertentu”.
Dari pemahaman beberapa pakar di atas, kita dapat mencapai kesimpulan
bahwa penyajian keuangan adalah pencapaian perusahaan dalam periode yang
menggambarkan kondisi kesejahteraan keuangan perusahaan dengan
menggunakan tanda kecukupan modal, likuiditas, dan keuntungan. Dengan kinerja
keuangan, perusahaan dapat lebih efektif mengetahui kondisi keuangan
perusahaan pada setiap periode tertentu, baik dalam hal peningkatan aset atau
pengeluaran cadangan.

Integrasi Rantai Pasokan


Integrasi rantai pasokan adalah rencana kerja sama dan kegiatan yang
dilakukan antara pemasok, produsen, distributor gudang, dan pengecer yang
bertujuan untuk mengembangkan produk dengan mengubah bahan baku menjadi
barang jadi bagi pelanggan (Qi, Huo, Wang, & Yeung, 2017). Integrasi rantai
pasokan berupaya untuk meningkatkan keterkaitan dalam setiap komponen rantai,
untuk memfasilitasi pengambilan keputusan yang lebih baik dan untuk
mendapatkan semua bagian dari rantai untuk berinteraksi dengan cara yang lebih
efisien dan dengan demikian menciptakan visibilitas rantai pasokan dan
mengidentifikasi hambatan (Chadha & Gagandeep, 2013). Menurut (Flynn, Huo,
& Zhao, 2010) integrasi rantai pasokan adalah kolaborasi antara industrialis dan
mitra rantai pasokan lainnya untuk mengembangkan aliran bahan, sumber daya,
suku cadang, dan informasi yang efektif dan efisien untuk menghasilkan produk
dan layanan yang bernilai bagi pelanggan dengan menggunakan biaya yang rendah
dan dengan waktu yang cepat.
Poin kunci tentang integrasi adalah bahwa semua organisasi dalam rantai
pasokan yang sama memiliki tujuan keseluruhan yang sama, yaitu untuk
memuaskan pelanggan akhir mereka. Pada dasarnya, semua anggota ingin menjual
lebih banyak produk kepada pelanggan akhir – dengan demikian memberikan
manfaat tambahan yang dapat dibagikan oleh anggota rantai. Jika ada bagian dari
rantai pasokan gagal bekerja ke arah ini, maka seluruh rantai pasokan menderita.
Jadi pesaing bukanlah perusahaan lain dalam rantai pasokan yang sama, tetapi
perusahaan dalam rantai pasokan lainnya. Tujuan dari rantai pasokan terpadu
adalah untuk meningkatkan efisiensi secara keseluruhan dan mengurangi biaya
keseluruhan, daripada meminta masing-masing organisasi bekerja secara mandiri
dan mendorong biaya dan inefisiensi ke bagian lain dari rantai tersebut. Manfaat
dari integrasi eksternal adalah biaya yang lebih rendah karena operasi yang
seimbang, stok yang lebih rendah, lebih sedikit ekspedisi, penghapusan duplikasi
kegiatan yang membuang waktu atau tidak menambah nilai, layanan pelanggan
yang lebih baik, dengan waktu tunggu yang lebih singkat, pengiriman lebih cepat
dan lebih banyak costumation (Waters, 2009).
Pembelian dan manajemen rantai pasokan saat ini mencerminkan
penekanan yang berkembang mengenai pentingnya pemasok. Hubungan pemasok
bergeser dari pendekatan permusuhan ke pendekatan yang lebih kooperatif dengan
pemasok terpilih. Integrasi Pasokan melibatkan pemasok yang mengelola secara
profesional dan mengembangkan hubungan kerja yang erat dengan kelompok
internal yang berbeda. Integrasi sebagai “proses inkorprasi atau menyatukan
kelompok, fungsi, atau organisasi yang berbeda, baik secara formal atau informal,
secara fisik atau dengan teknologi informasi, untuk bekerja bersama dan sering
secara bersamaan pada bisnis umum terkait tugas atau tujuan”. Integrasi Eksternal
adalah manajemen rantai pasokan mewakili wajah eksternal organisasi dan juga
berfungsi sebagai kendaraan utama untuk mengintegrasikan pemasok eksternal dan
entitas lain ke dalam organisasi. Hal ini dilakukan dengan membuat dan
memelihara hubungan dengan grup eksternal dengan perusahaan, Hubungan ini
dalam beberapa hal lebih penting daripada hubungan internal manajemen pasokan.
Perkerjaan utama manajemen pasokan melakukan integrasi eksternal dengan
pemasok. Tanggung jawab utama manajemen rantai suplai adalah mempertahankan
komunikasi yang terbuka dengan pemasok dan memilih pemasok untuk melakukan
bisnis (Handfield, Monczka, Giunipero, & Patterson, 2011).
Faktor-faktor integrasi rantai pasokan yang divalidasi menunjukkan dua
proses untuk integrasi dengan pemasok dan dengan pelanggan. Ini melibatkan
pengambilan keputusan bersama dalam proses kritis dengan mitra rantai pasokan
dan berbagi informasi dengan mitra rantai pasokan (Talavera, 2017)

Tujuan Analisis Rasio Keuangan


Menurut Hery (2016:140) pada bukunya yang berjudul “Analisis Laporan
Keuangan”, tujuan analisis rasio keuangan yaitu:

  1. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca
    dan ditafsirkan.
  2. Rasio merupakan pengganti yang cukup sederhana dari informasi yang
    disajikan laporan keuangan yang pada dasarnya sangat rinci dan rumit.
  3. Rasio sangat bermanfaat dalam pengambilan keputusan.
  4. Dengan rasio lebih mudah untuk membandingkan suatu perusahaan terhadap
    perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik.

Manajamen Rantai pasokan (supply chain management)


Rantai pasokan didefinisikan sebagai sekumpulan tiga atau lebih entitas
(organisasi atau individu) yang terlibat langsung dalam aliran produk, layanan,
keuangan, dan / atau informasi hulu dan hilir dari suatu sumber ke pelanggan
(Mentzer , et al., 2001). Rantai pasokan didefinisikan sebagai proses manufaktur
terintegrasi di mana bahan baku diproduksi menjadi produk akhir, kemudian
dikirim ke pelanggan (melalui distribusi, ritel, atau keduanya) Pada level tertinggi,
rantai pasokan terdiri dari dua proses dasar dan terintegrasi: (1) Proses Perencanaan
Produksi dan Pengendalian Persediaan, dan (2) Proses Distribusi dan Logistik
(Beamon , 1999).
Manajemen rantai pasok (supply chain management atau SCM) adalah
sistem terintegrasi yang mengoordinasikan keseluruhan proses di dalam
organisasi/perusahaan dalam mempersiapkan dan menyampaikan produk/jasa
kepada konsumen. Proses ini mencakup proses perencanaan (plan), sumber input
bagi proses (source) misalnya pengiriman bahan mentah dari pemasok, proses
transformasi input menjadi output (make), transportasi, distribusi pergudangan
(deliver), sistem informasi dan pembayaran produk/ jasa, sampai produk/jasa
dikonsumsi oleh konsumen, dan layanan pengembalian produk/jasa (return).
Tujuan dari setiap sistem rantai pasok adalah memaksimumkan akumulasi nilai
(value) daan profit yang diciptakan oleh setiap komponen di dalam rantai pasok,
yaitu nilai tambah yang diciptakan oleh pemasok kepada manufaktur, manufaktur
kepada distributor, dan dari distributor kepada konsumen. Nilai ini tercipta dari nilai
layanan dan harga sebuah produk jadi dengan total biaya yang ditanggung oleh
seluruh sistem rantai pasok.
Jika dahulu persaingan merupakan persaingan antarorgansisasi/ perusahaan/
manufaktur sekarang berubah menjadi persaingan antar-rantai pasok. Jika cara
pandang dan sikap perusahaan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, maka ia
akan kalah dalam persaingan. Ini karena nilai tambah yang diberikan pada sebuah
rantai pasok lebih besar dari nilai tambah dari sebuah perusahaan saja (atau nilai
tambah dari manufaktur saja). Begitu juga biaya yang muncul dan keuntungan yang
diperoleh dalam satu sistem rantai pasok akan lebih optimum dibandingkan biaya
dan keuntungan hanya dari satu perusahaan saja di dalam sistem rantai pasok. Dari
titik di mana bahan mentah diproses sampai menghasilkan barang jadi, maka
semakin tinggi value-nya, semakin tinggi keuntungan yang bisa diperoleh dari
penghasilan yang berasal dari barang jadi daripada dari bahan mentah (semakin
dekat dengan konsumen, maka nilai tambah sebuah produk/jasa semakin tinggi.
Dengan demikian, keuntungan punsemakin besar). Nilai produk ini mencakup
perbandingan harga sebuah produk/jasa dengan apa yang diperoleh konsumen dari
produk/iasa tersebut (Martono, 2018).

Pengertian Rasio Keuangan


Rasio keuangan merupakan suatu perhitungan rasio dengan
menggunakan laporan keuangan yang berfungsi sebagai alat ukur dalam menilai
kondisi keuangan dan kinerja keuangan. Rasio keuangan adalah angka yang
diperoleh dan hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos
lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (Hery,
2016:138).

Jenis-jenis Laporan Keuangan


Menurut Arief Sugiono dan Edi Untung (2015:3), laporan keuangan
terdiri dari 5 (lima) laporan dasar, yaitu:
a. Laporan Laba Rugi
Laporan keuangan yang menyajikan hasil usaha perusahaan yang meliputi
pendapatan dan biaya (beban) yang dikeluarkan sebagai akibat dari
pencapaian tujuan dalam suatu periode tertentu.
b. Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan keuangan yang memuat tentang saldo awal dan akhir laba ditahan
dalam nerca untuk menunjukkan suatu analisa perubahan besarnya laba
selama jangka waktu tertentu.
c. Neraca
Laporan keuangan yang menunjukkan posisi keuangan yang meliputi
kekayaan, kewajiban serta modal pada waktu tertentu.
d. Laporan Arus Kas
Laporan keuangan yang memperlihatkan aliran kas selama periode tertentu,
serta memberikan informasi terhadap sumber-sumber kas serta penggunaan
kas dari setiap kegiatan dalam periode yang dicakup.
e. Catatan atas laporan keuangan
Laporan keuangan yang dibuat berkaitan dengan laporan keuangan lain yang
disa jikan. Laporan ini memberikan informasi atau penjelasan secara rinci
atau detail yang dianggap perlu terhadap laporan keuangan yang ada.
Tujuannya agar pengguna laporan keuangan menjadi jelas dengan data yang
disajikan.

Pihak-pihak yang Memerlukan Laporan Keuangan


Penyusunan laporan keuangan ditujukan untuk memenuhi kepentingan
berbagai pihak, baik pihak internal maupun eksternal perusahaan. Menurut
Kasmir (2016:18) pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan,
yaitu:

  1. Pemilik
    Pemilik yang dimaksud adalah mereka yang memiliki usaha, dapat disebut
    juga para pemegang saham. Para pemegang saham berkepentingan untuk melihat
    kondisi dan posisi perusahaan saat ini, melihat perkembangan dan kemajuan
    perusahaan dalam suatu periode, dan melihat kinerja manajemen atas target yang
    telah ditetapkan.
  2. Manajemen
    Bagi pihak manajemen laporan keuangan yang dibuat merupakan cermin
    kinerja mereka dalam suatu periode tertentu. Pihak manajemen dapat menilai dan
    mengevaluasi kinerja mereka dalam suatu periode apakah target-target yang
    dibuat tercapai atau tidak, melihat kemmapuan mereka mengoptimalkan sumber
    daya yang dimiliki perusahaan, melihat kekuatan dan kelemahan yang dimiliki
    perusahaan, dan menjadi dasar pengambilan keputusan di masa yang akan datang.
  3. Kreditor
    Kreditor adalah pihak penyandang dana bagi perusahaan. Kepentingan pihak
    kreditor adalah untuk melihat kemampuan perusahaan dalam membayar
    pinjaman, memantau terhadap kredit yang sudah berjalan untuk melihat kepatuhan
    perusahaan membayar kewajibannya, dan tidak menginginkan pinjaman yang
    diberikan menjadi beban nasabah dalam pengembaliannya.
  4. Pemerintah
    Pemerintah melalui Departemen Keuangan mewajibkan kepada setiap
    perusahaan untuk menyusun dan melaporkan keuangan perusahaan secara
    periodik. Arti penting laporan keuangan bagi pemerintah adalah untuk menilai
    kejujuran perusahaan dalam melaporkan seluruh keuangan perusahaan yang
    sesungguhnya dan mengetahui kewajiban perusahaan terhadap negara dari hasil
    laporan keuangan yang dilaporkan.
  5. Investor
    Investor adalah pihak yang hendak menanamkan dana di suatu perusahaan.
    Bagi investor yang ingin menanamkan dananya dalam suatu usaha sebelum
    memutuskan untuk membeli saham, perlu memertimbangkan banyak hal secara
    matang. Dasar pertimbangan investor adalah dari laporan keuangan yang disajikan
    perusahaan yang akan ditanamnya. Dalam hal ini investor akan melihat prospek
    usaha ini sekarang dan masa yang akan datang. Prospek yang dimaksud adalah
    keuntungan yang akan diperolehnya (dividen) serta perkembangan nilai saham ke
    depan

Tujuan Laporan Keuangan


Menurut Pernyataan buku Akuntansi Keuangan berdasarkan Standar
Akuntansi Keuangan (SAK) berbasis International Financial Reporting
Standards (IFRS) tahun 2012, tujuan laporan keuangan adalah menyediakan
informasi tentang posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu
perushaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi.
Berikut ini merupakan beberapa tujuan penyusunan laporan keuangan
menurut Kasmir (2016:10):
a. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki
perusahaan pada saat ini;
b. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang
dimiliki perusahaan saat ini;
c. Memberikan informasi tentang jumlah pendapatan yang diperoleh pada suatu
periode tertentu;
d. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan
perusahaan dalam suatu periode tertentu;
e. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu
periode tertentu;
f. Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan;
g. Informasi keuangan lainnya.
Sedangkan menurut Hery (2016:5), tujuan laporan keuangan terdapat
tujuan khusus dan tujuan umum, yaitu:
a. Tujuan khusus laporan keuangan
Menyajikan posisi keuangan hasil usaha, dan perubahan posisi keungan
lainnya secara wajar dan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku
umum.
b. Tujuan umum
Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber daya ekonomi dan
kewajiban perusahaan dengan tujuan menilai kekuatan dan kelemahan
perusahaan, menunjukkan posisi keuangan dan investasi perusahaan, menilai
kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajibannya, dan kemampuan sumber
daya yang ada untuk pertumbuhan perusahaan; memberikan informasi yang
terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang berasal dari kegiatan usaha
dalam mencari laba dengan tujuan memberikan gambaran tentang jumlah dividen
yang diharapkan pemegang saham, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
membayar kewajiban kepada kreditor, supplier, pegawai, pemerintah, dan
kemampuannya dalam mengumpulkan dana untuk kepentningan ekspansi
perusahaan, dan menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan dalam
mendapatkan laba jangka panjang; memungkinkan untuk menaksir potensi
perusahaan dalam menghasilkan laba; memberikan informasi yang diperlakukan
lainnya tentang perubahan aset dan kewajiban; dan mengungkapkan informasi
relevan lainnya yang dibutuhkan oleh para pemakai laporan

Innovativeness


Innovativeness berarti organisasi bersedia untuk mengejar ide dan konsep
baru dalam proses, produk, atau pengembangan layanan. Proaktif mengacu pada
organisasi dengan karakteristik yang berwawasan ke depan dan responsif dalam
lingkungan industri yang terlibat (Green, Covin, & Slevin, 2008). Dari perspektif
makro, ‘innovativeness’ adalah kapasitas inovasi baru untuk menciptakan perubahan
paradigma dalam sains dan teknologi dan / atau struktur pasar dalam suatu industri.
Dari perspektif mikro, ‘innovativeness’ adalah kapasitas dari inovasi baru untuk
memengaruhi sumber daya pemasaran, sumber daya teknologi, keterampilan,
pengetahuan, kemampuan, atau strategi perusahaan (Garcia & Calantone, 2002).
Innovativeness menyimpulkan kesediaan untuk proaktif dalam melepaskan
kebiasaan lama dan untuk mencoba ide-ide eksperimental dengan mencari peluang
baru daripada mengambil keuntungan dari kekuatan saat ini (Panayides & Lun,
2009).
Inovasi sering dikaitkan dengan produk baru, temuan baru,atau invensi,
teknologi baru, cara baru, model baru, aroma baru, kemasan baru, dan hal-hal lain
yang baru. Inovasi sebagai keberhasilan ekonomi berkat adanya pengenalan cara
baru atau kombinasi baru dari cara-cara lama dalam mentransformasi input menjadi
output (teknologi) yang menghasilkan perubahan besar atau drastis dalam
perbandingan antara nilai guna yang dipersepsikan oleh konsumen atas manfaat
suatu produk (barang dan/atau jasa) dan harga yang di tetapkan oleh produsen.
Inovasi yang berhasil adalah inovasi yang menciptakan nilai besar untuk konsumen,
untuk komunitas, dan lingkungan pada saat yang sama.
Inovasi tidak saja berarti “kebaruan” atau sesuatu yang baru, barang
dan/atau jasa baru atau sistem produksi baru atau cara memasarkan yang baru;
“kebaruan” itu perlu disertai dengan dampak positif bagi konsumen dan produsen;
“kebaruan” itu harus menciptakan nilai guna bagi konsumen dan nilai tambah bagi
produsen; “kebaruan” yang menghasilkan kesuksesan ekonomi dan social,pada
konteks inovasi dan penciptaan nilai tingkat individu, organisasi, dan masyarakat
(society). Perusahaan berinovasi untuk meciptakan relasi antara nilai guna dan
harga nilai (nilai moneter) yang lebih tinggi atas produk yang di hasilkannya bagi
konsumen (consumers) dan/atau pengguna (users) yang ditargekan, yang pada
akhirnya produk tersebut tidak hanya akan bermanfaat bagi konsumen dan/atau
pengguna tetapi juga bagi produsen.
Secara singkat inovasi adalah pengenalan cara-cara baru atau kombinasi
baru dari cara-cara lama dalam mentransformasi input menjadi ouput sehingga
menghasilkan perubahan besar dalam perbandingan antara nilai guna dan harga
yang ditawarkan kepada konsumen dan/atau pengguna. Inovasi harus berhasil
menciptakan nilai (yang dipersepsikan konsumen dan/atau pengguna) yang lebih
tinggi daripada harga yang harus dibayar konsumen atau pembeli (Fontana, 2011).
Wawancara yang dilakukan oleh (Sawhney, Wolcott, & Arro, 2006) pada
manajer inovasi di sejumlah perusahaan besar, dan mereka mengembangkan
kuesioner survei yang dikirim ke 19 perusahaan. Menganalisis data ini, mereka
memperoleh ‘radar inovasi’ untuk mewakili 12 dimensi inovasi bisnis yang mereka
identifikasi. Definisi mereka tentang ‘inovasi bisnis’ tidak berfokus pada hal-hal
baru, melainkan apa pun yang menciptakan nilai baru bagi pelanggan. Oleh karena
itu menciptakan hal baru tidak perlu atau tidak cukup untuk penciptaan nilai
tersebut. Sebagai gantinya, mereka mengusulkan pendekatan sistematis untuk
inovasi bisnis, yang mana terjadi dalam 12 dimensi berbeda:

  1. Offerings, Penawaran adalah produk dan layanan perusahaan. Inovasi
    sepanjang dimensi ini membutuhkan penciptaan produk dan layanan baru yang
    dihargai oleh pelanggan.
  2. Platform, platform adalah seperangkat komponen umum, metode perakitan atau
    teknologi yang berfungsi sebagai blok bangunan untuk portofolio produk atau
    layanan. Inovasi platform melibatkan pengeksploitasian “kekuatan kesamaan”
  • menggunakan modularitas untuk membuat serangkaian penawaran turunan
    yang lebih cepat dan murah daripada jika mereka merupakan barang yang
    berdiri sendiri.
  1. Solutions, Solusi adalah kombinasi produk, layanan, dan informasi yang
    disesuaikan dan terintegrasi yang memecahkan masalah pelanggan. Inovasi
    solusi menciptakan nilai bagi pelanggan melalui berbagai macam dan
    kedalaman integrasi berbagai elemen.
  2. Customers, Pelanggan adalah individu atau organisasi yang menggunakan atau
    mengkonsumsi penawaran perusahaan untuk memenuhi kebutuhan tertentu.
    Untuk berinovasi sepanjang dimensi ini, perusahaan dapat menemukan segmen
    pelanggan baru atau mengungkap kebutuhan yang tidak terpenuhi (dan
    terkadang tidak diartikulasikan).
  3. Customer Experience, Dimensi ini mempertimbangkan segala hal yang dilihat,
    didengar, dirasakan, dan dialami oleh pelanggan saat berinteraksi dengan
    perusahaan setiap saat. Untuk berinovasi di sini, perusahaan perlu memikirkan
    kembali antarmuka antara organisasi dan pelanggannya.
  4. Value Capture, Pengambilan Nilai mengacu pada mekanisme yang digunakan
    perusahaan untuk merebut kembali nilai yang diciptakannya. Untuk berinovasi
    sepanjang dimensi ini, perusahaan dapat menemukan aliran pendapatan yang
    belum dimanfaatkan, mengembangkan sistem penetapan harga baru dan
    sebaliknya memperluas kemampuannya untuk menangkap nilai dari interaksi
    dengan pelanggan dan mitra.
  5. Processes, Proses adalah konfigurasi kegiatan bisnis yang digunakan untuk
    melakukan operasi internal. Untuk berinovasi sepanjang dimensi ini,
    perusahaan dapat mendesain ulang prosesnya untuk efisiensi yang lebih besar,
    kualitas lebih tinggi, atau waktu siklus yang lebih cepat. Perubahan tersebut
    mungkin melibatkan memindahkan proses atau memisahkan front-end dari
    backendnya.
  6. Organization, Organisasi adalah cara di mana perusahaan menyusun dirinya,
    kemitraannya, dan peran serta tanggung jawab karyawannya. Inovasi organisasi
    sering melibatkan memikirkan kembali ruang lingkup kegiatan perusahaan serta
    mendefinisikan kembali peran, tanggung jawab dan insentif dari berbagai unit
    bisnis dan individu.
  7. Supply Chain, Rantai pasokan adalah urutan kegiatan dan agen yang
    memindahkan barang, layanan dan informasi dari sumber ke pengiriman produk
    dan layanan. Untuk berinovasi dalam dimensi ini, perusahaan dapat
    merampingkan aliran informasi melalui rantai pasokan, mengubah strukturnya
    atau meningkatkan kolaborasi para pesertanya.
  8. Presence, Points of presence adalah saluran distribusi yang digunakan
    perusahaan untuk membuat penawaran ke pasar dan tempat-tempat di mana
    penawarannya dapat dibeli atau digunakan oleh pelanggan. Inovasi dalam
    dimensi ini melibatkan penciptaan titik kehadiran baru atau menggunakan yang
    sudah ada dengan cara-cara kreatif.
  9. Networking, Sebuah perusahaan dan produk serta layanannya terhubung ke
    pelanggan melalui jaringan yang terkadang dapat menjadi bagian dari
    keunggulan kompetitif perusahaan. Inovasi dalam dimensi ini terdiri dari
    peningkatan jaringan yang meningkatkan nilai penawaran perusahaan.
  10. Brand, Merek adalah simbol, kata atau tanda yang melaluinya perusahaan
    mengomunikasikan janji kepada pelanggan. Untuk berinovasi dalam dimensi
    ini, perusahaan memanfaatkan atau memperluas mereknya dengan cara-cara
    kreatif.

Pengertian Laporan Keuangan


Laporan keuangan pada perusahaan merupakan hasil akhir dari kegiatan
akuntansi (siklus akuntansi) yang mencerminkan kondisi keuangan dan hasil
operasi perusahaan. Informasi tentang kondisi keuangan dan hasil operasi
perusahaan sangat berguna bagi beberapa pihak, baik pihak-pihak yang ada
didalam (internal) perusahaan maupun pihak-pihak yang berada diluar (eksternal)
perusahaan. Oleh karena itu laporan keuangan dapat dipakai sebagai alat untuk
berkomunikasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data keuangan
perusahaan, dan karena inilah maka laporan keuangan sering disebut juga
“languange of business” (Arief dan Edi, 2015:1). Seorang akuntan diharapkan
mampu untuk mengorganisir selruh data akuntansi hingga menghasilkan laporan
keuangan dan bahkan harus dapat menginterpretasikan serta menganalisis laporan
keuangan yang dibuatnya (Hery, 2016:3).

Analisis Kinerja Keuangan


Menurut Hery (2016:25) mengatakan bahwa analisis kinerja keuangan
merupakan suatu proses pengkajian kinerja keuangan secara kritis, yang meliputi
peninjauan data keuangan, penghitungan, pengukuran, interpretasi, dan pemberian
solusi terhadap masalah keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu. Kinerja
keuangan dapat dinilai dengan menggunakan beberapa alat analisis. Berdasarkan
tekniknya, analisis kinerja keuangan dapat dibedakan menjadi 9 macam, yaitu:
a. Analisis Perbandingan Laporan Keuangan, merupakan teknik analisis
dengan cara membandingkan laporan keuangan dari dua periode atau lebih
untuk menunjukkan perubahan dalam jumlah (absolut) maupun dalam
persentase (relatif).
b. Analisis Trend, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui
tendensi keadaan keuangan dan kinerja perusahaan, apakah menunjukkan
kenaikan atau penurunan.
c. Analisis Persentase per Komponen (Common Size), merupakan teknik
analisis yang digunakan untuk mengetahui persentase masing-masing
komponen aset terhadap total aset; persentase masing-masing komponen
utang dan modal terhadap total pasiva (total aset); persentase masing-masing
komponen laporan laba rugi terhadap penjualan bersih.
d. Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja, merupakan teknik analisis
yang digunakan untuk mengetahui besarnya sumber dan penggunaan modal
kerja selama dua periode waktu yang dibandingkan.
e. Analisis Sumber dan Penggunaan Kas, merupakan teknik analisis yang
digunakan untuk mengetahui kondisi kas dan perubahan kas pada suatu
periode waktu tertentu.
f. Analisis Rasio Keuangan, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk
mengetahui hubungan di antara pos tertentu dalam neraca maupun laporan
laba rugi.
g. Analisis Perubahan Laba Kotor, merupakan teknik analisis yang digunakan
untuk mengetahui posisi laba kotor dari suatu periode ke periode berikutnya
serta sebab-sebab terjadinya perubahan laba kotor tersebut.
h. Analisis Titik Impas, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk
mengetahui tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan tidak
mengalami kerugian.
i. Analisis Kredit, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk menilai
layak tidaknya suatu permohonan kredit debitor kepada kreditor, seperti bank.

Tujuan Kinerja Keuangan


Ada empat tujuan dilaksanakannya pengukuran kinerja keuangan perusahaan
Munawir (2004:31) yaitu untuk:

  1. Mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan dalam
    memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera diselesaikan pada saat
    ditagih.
  2. Mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk
    memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi,
    kewajiban keuangan yang dimaksud mencakup keuangan jangka pendek
    maupun jangka panjang.
  3. Mengetahui tingkat profitabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam
    menghasilkan laba selama periode tertentu dengan menggunakan aktiva atau
    modal secara produktif.
  4. Mengetahui tingkat stabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam
    menjalankan dan mempertahankan usahanya sehingga tetap stabil.
    Kemampuan yang dimaksud diukur dari kemampuan perusahaan membayar
    pokok hutang dan beban bunga tepat pada waktunya.

Pengertian Kinerja Keuangan


Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat
sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-
aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar (Fahmi, 2012:2). Kinerja
keuangan perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu
perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan, sehingga dapat
diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang
mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu.

Internet of Things (IoT)


Dunia teknologi semakin hari semakin memberikan hal-hal baru yang
sebelumnya tidak pernah ada, dimana perkembangan teknologi saat ini telah
memberikan beberapa dampak yang sangat signifikan bagi kehidupan manusia itu
sendiri. Dunia komunikasi saat ini menjadi salah satu contoh yang sangat
terdisrupsi akibat kehadiran teknologi. Dari hadirnya surat sebagai alat komunikasi
kemudian kehadiran kode atau sandi morse, hingga hadirnya telepon yang membuat
setiap orang mampu berkomunikasi pada saat itu juga dan kemudian tergantikan
dengan kehadiran media komunikasi lainnya seperti Skype, WhatsApp, Messanger
dan apapun itu yang menggunakan platform internet sebagai basis untuk
menghadirkan komunikasi yang lebih dekat dan nyata kepada setiap masyarakat
sehingga tingkat ketergantungan masyarakat kepada dunia teknologi saat ini
menjadi sangat tinggi.
Menurut Patel (2017), masyarakat percaya bahwa Internet of Things (IoT)
dapat memberikan perubahan yang cukup signifikan, menciptakan suatu revolusi
di dunia industri, dan berdampak luas kepada masyarakat. Tetapi hal ini perlu
disadari bahwa diperlukan suatu waktu yang cukup panjang untuk seluruh
masyarakat dapat mengadopsi IoT itu sendiri. Masih dalam artikelnya, Patel (2017)
mengemukakan bahwa dengan semakin meningkatnya konektivitas yang terjadi di
masyarakat maka hal tersebut ikut membantu IoT semakin terhubung dengan cepat.
Berdasarkan laporan dari McKinsey Global Institute bahwa perkembangan IoT
dapat memberikan dampak positif secara ekonomi antara $3,9 – $11,1 triliun di
tahun 2025 dan tentu itu merupakan suatu angka yang cukup fantastis. Lebih lanjut,
bahwa semakin terciptanya infrastruktur yang semakin membaik, ikut pula
membantu masyarakat semakin terhubung satu sama lainnya dan semakin mudah
pula setiap masyarakat untuk menikmati jaringan atau koneksi internet yang saat
ini masih sebagian besar dinikmati masyarakat perkotaan terutama di negara-negara
ekonomi berkembang sehingga dengan terciptanya infrastruktur yang semakin
memadai, semakin mudah pula setiap orang terhubung dan IoT menjadi hal yang
semakin mudah tercapai baik itu dari sisi pengumpulan data yang saat ini semakin
hari semakin dirasakan ketika melakukan suatu aktifitas di dunia maya. Kebutuhan
IoT semakin terasa bagi beberapa industri dimana hal itu akan berkaitan dengan
pola pengambilan keputusan dari setiap level manajemen sehingga keputusan-
keputusan yang akan diambil semakin tepat, efisien, dan efektif serta mengurangi
beberapa dampak negatif yang dapat terjadi. Data yang semakin terhubung dan
akurat memberikan kesempatan kepada setiap elemen industri untuk melihat
keputusan di dalam setiap tindakan perusahaan.
Bagaimana dengan isu keamanan di dalam dunia IoT? Hal tersebut juga
telah menjadi isu yang paling penting dibahas dimana saat ini masyarakat
terhubung atau terkoneksi di dunia maya dengan berbagi data personal yang tentu
saja dapat membahayakan setiap individu tersebut. Beberapa hal yang menjadi
kekhawatiran adalah bagaimana cara memproteksi penggunaan internet agar
terhindar dari serangan yang dikenal dengan istilah cyberattack dimana serangan
yang terjadi secara spesifik menargetkan perangkat-perangkat yang berhubungan
dengan IoT seperti appliances, dan routers. Lebih lanjut diutarakan oleh Patel
(2017) dalam artikelnya bahwa serangan cyber yang terjadi dikarenakan akibat
kelemahan dari manusia itu sendiri semisal dalam pemilihan kata sandi atau
penggantian kata sandi secara berkala. Serangan itu sebagai hasil demonstrasi atas
rentannya IoT yang dihasilkan dari kekurangan atas kepedulian terhadap menjaga
dan mengatur perangkat tersebut dan kelemahan itu tidak dengan serta merta dapat
dieliminasi melalui data enkripsi, program yang mendeteksi adanya serangan,
kontrol biometrik, atau melalui teknologi canggih lainnya.

Jenis-Jenis Rasio Keuangan


Untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan rasio-
rasio keuangan, dapat dilakukan dengan beberapa rasio keuangan. Setiap rasio
keuangan memiliki tujuan, kegunaan dan arti tertentu.
A. Rasio Profitabilitas
Profitabilitas adalah rasio yang mengukur efektivitas manajemen secara
keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh
dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi (Fahmi, 2010). Menurut
(Mafiroh et al., 2016), profitabilitas menunjukkan seberapa efisien dan efektif suatu
perusahaan dalam memanfaatkan serta menggunakan aset perusahaan dalam
menghasilkan laba. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik
menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan.
Dalam penelitian ini sang penulis menggunakan rasio profitabilitas berupa
Return on Sales (ROS) dan Return on Assets (ROA), kedua rasio ini merupakan
indikator dalam rasio profitabilitas.
1.) Return on Assets (ROA)
Return On Assets (ROA) merupakan salah satu bentuk rasio profitabilitas
yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan
dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan dalam operasi perusahaan
untuk menghasilkan keuntungan atau profit.
2.) Return on Sales (ROS)
Rasio Keuangan yang mengukur seberapa efisien perusahaan menghasilkan
laba dari pendapatan penjualannya. Dengan kata lain, Rasio ROS atau Return on
Sales ini mengukur kinerja perusahaan dengan cara menganalisis persentase dari
total pendapatan perusahaan yang dapat dikonversikan menjadi keuntungan atau
laba perusahaan.
B. Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan suatu
perusahaan untuk melunasi hutangnya sebelum dan ketika jatuh tempo. Dengan
kata lain, kita dapat mengatakan rasio ini menunjukkan seberapa cepat perusahaan
dapat mengubah aset lancarnya menjadi uang tunai sehingga dapat melunasi
kewajibannya secara tepat waktu. Umumnya, Likuiditas dan solvabilitas jangka
pendek digunakan bersama-sama.
Menurut (Tamam & Wibowo, 2017), Likuiditas adalah kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat jatuh tempo.
Menurut Hery (2016:23) Rasio Likuiditas (liquidity ratio) merupakan rasio yang
menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya yang segera jatuh tempo.
Perusahaan yang mempunyai tingkat likuiditas yang tinggi berarti
perusahaan tersebut mempunyai dana internal yang tinggi pula dengan demikian
perusahaan akan mengurangi pendanaan eksternalnya. Ini disebabkan karena
perusahaan dengan tingkat likuiditas tinggi mempunyai dana internal yang besar,
sehingga perusahaan tersebut akan lebih menggunakan dana internalnya terlebih
dahulu untuk membiayai investasinya sebelum menggunakan pembiayaan
eksternal melalui utang. Masalah likuiditas berhubungan dengan masalah
kemampuan suatu perusahan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang
segera harus dipenuhi. Suatu perusahaan yang mempunyai kemampuan membayar
belum tentu dapat memenuhi segala kewajiban jangka pendeknya yang segera harus
dipenuhi.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan Rasio Likuiditas berupa Quick
Ratio (QR), rasio ini merupakan salah satu indikator dalam rasio likuiditas.
C. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas membandingkan berbagai elemen laporan keuangan
perusahaan. Maksud dari perbandingan ini adalah untuk membedakan beban utang
perusahaan secara keseluruhan terhadap aset atau ekuitasnya. Rasio solvabilitas
biasanya digunakan oleh pemberi pinjaman dan departemen kredit internal untuk
menentukan kemampuan pelanggan untuk membayar kembali hutang mereka.
Menurut (Afrinda, 2013) Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasikan,
baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang. Ketika rasio likuiditas
menggunakan jangka pendeknya untuk meramalkan arus kas yang lebih akurat.
Sedangkan pada waktu jangka panjang tidak digunakan karena kurang tepat
diandalkan, dan karenanya rasio solvabilitas menggunakan ukuran analisis jangka
panjangnya (Mansur, 2015).
Rasio ini disebut juga rasio laverage, yang menggambarkan kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-
kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi. Karena sebesar apa beban hutang
yang ditanggung perusahaan akan dibandingkan dengan aktivanya. Jika aset
perusahaan lebih banyak dimiliki oleh pemegang saham, maka perusahaan tersebut
kurang laverage. Jika kreditor memliki aset secara dominan, maka perusahaan
tersebut memiliki tingkat laverage yang tinggi.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan Rasio Solvabilitas berupa Debt
to Asset Ratio (DAR), rasio ini merupakan salah satu indikator dalam rasio
solvabilitas.
D. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas (activity ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya
atau dapat pula dikatakan rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efesiensi
(efektivitas) pemanfaatan sumber daya perusahaan (Kasmir, 2016). Dalam
praktiknya rasio aktivitas yang digunakan perusahaan memiliki beberapa tujuan
yang hendak dicapai. Rasio aktivitas juga memberikan banyak manfaat bagi
kepentingan perusahaan maupun bagi pihak luar perusahaan, untuk masa sekarang
maupun di masa yang akan datang. Rasio aktivitas membandingkan antara tingkat
penjualan dengan investasi pada semua aktiva yang dimiliki.

Keunggulan Analisis Rasio Keuangan


Meurut Hery (2016:21) analisis rasio keuangan memiliki beberapa keunggulan
sebagai alat analisis, yaitu:
1) Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah
dibaca dan ditafsirkan.
2) Rasio merupakan pengganti yang cukup sederhana dari informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan yang pada dasarnya sangat rinci dan
rumit.
3) Rasio dapat mengidentifikasi posisi perubahan dalam industri.
4) Rasio sangat bermanfaat dalam pengambilan keputusan.Dengan rasio lebih
mudah untuk membandingkan suatu perusahaan terhadap perusahaan lain
atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik (time series).
5) Dengan rasio lebih mudah untuk melihat tren perusahaan serta melakukan
prediksi dimasa yang akan datang.

Proses Digitalisasi


Teknologi digital dengan cepat melakukan penetrasi di berbagai sektor
industri dan gelombang perubahan ini akan terus tumbuh di berbagai sektor
industri. Perkembangan dan pertumbuhan ini telah menggulung berbagai sektor
konvensional, dapat kita sebutkan beberapa perusahaan retail yang berjaya di
Indonesia telah melakukan suatu tindakan penyelamatan dengan hanya membuka
di titik-titik tertentu yang dirasa masih mempunyai pasar yang potensial atau
bahkan melakukan tindakan paling dramatis yaitu dengan menutup usaha akibat
gempuran teknologi yang semakin atau dengan mudah menyentuh masyarakat itu
sendiri. Bagaimana peranan fasilitas wireless internet saat ini telah menjadi
kebutuhan masyarakat sehingga hampir di seluruh tempat telah menawarkan
fasilitas ini kepada setiap konsumen sehingga dimana tempat yang menyediakan
fasilitas wifi dengan baik maka dapat dipastikan tempat tersebut akan laris manis
dikunjungi oleh konsumen.
Pola konsumsi masyarakat pun secara perlahan mulia bergeser dari yang
mengunjungi toko-toko ritail untuk berbelanja, maka saat ini mulai mendatangi
gerai-gerai tersebut secara digital melalui beberapa e-commerce yang ada di
Indonesia saat ini seperti Lazada, Tokopedia, Blibli, dan bahkan tersedia pula agen
penjualan tiket secara on-line seperti yang dilakukan oleh Traveloka, PegiPegi,
Blibli, Agoda dan masih banyak lagi sehingga tidaklah heran bahwa kehadiran
teknologi di tengah masyarakat telah mampu mengubah seluruh pola konsumsi
yang ada sebelumnya. Penetrasi dunia digital tentu saja memberikan gambaran
bahwa ekonomi digital telah mengalami kemajuan yang cukup pesat hingga saat ini
(Bughin, 2017). Masih menurut Bughin (2017) bahwa hasil rata-rata industri saat
ini hanya tersisa 40% yang masih belum terdigitalisasi yang berarti secara perlahan
seluruh industri menuju atau memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini.
Revolusi indsutri yang terjadi pada akhir abad ke-18 dan pada awal abad
ke-19 telah tercatat sebagai salah satu kekuatan baru yang mengubah segalanya
tetapi perubahan yang terjadi saat itu tidaklah secepat yang terjadi pada saat ini dan
jika dibandingkan dengan revolusi industri, perubahan saat ini diprediksi lebih
cepat sepuluh kali lebih cepat (Dobbs, 2015) dan semua ini terjadi berkat sebuah
transformasi teknologi yang terjadi saat ini. Setiap perubahan yang terjadi akan
meresonansi satu dan yang lainnya sehingga tren teknologi saat ini yang
berkembang saat ini memberikan kekuatan, pengaruh atau dampak pada saat
berinteraksi bersama, dan memberikan manfaat satu sama lain. Salah satu tren yang
terjadi yang semakin mendukung disrupsi teknologi ini adalah adanya urbanisasi
sehingga bertumbuhnya aktivitas ekonomi di beberapa negara yang sedang
bertumbuh (emerging market).
Masih menurut Dobbs (2015), hal lain yang menjadi disrupsi adalah
karena akselerasi dan dampak ekonomi yang timbul akibat dampak teknologi yang
ada saat ini; dari proses cetak manual, mesin uap, dan hingga hadirnya internet yang
ada. Teknologi saat ini menjadi hal yang wajar (ubiquity) di dalam kehidupan kita
sehari-hari dan proses perubahan yang sangat cepat terjadi. Seperti yang
disampaikan oleh Dobbs (2015) bahwa dibutuhkan 50 tahun setelah telepon
ditemukan untuk menjangkau perumahan di Amerika, dan dibutuhkan 38 tahun
untuk menarik 50 juta pendengar tetapi hal ini berbeda ketika Facebook mampu
menarik enam juta pengguna dalam jangka waktu satu tahun dan jumlah tersebut
berlipat ganda 100 kali dalam waktu lima tahun ke depan, sebuh hal yang sangat
luar biasa bagaimana teknologi bekerja dengan kecepatannya dan bagaimana
teknologi dapat menjangkau masyarakat dari berbagai belahan dunia tanpa
membutuhkan waktu yang lama. Kekuatan untuk memproses dan konektivitas
adalah hanya bagian dari sebuah cerita, dimana dampak kehadiran teknologi ini
berlipat ganda melalui revolusi konektivitas data yaitu dengan mengumpulkan atau
mengolah data-data yang tidak sepadan/sama (unprecedented) menjadi suatu
informasi yang berguna dan dengan perkembangan teknologi menjadikan
kolaborasi yang apik sehingga memunculkan berbagai macam platform model
bisnis yang baru seperti Alibaba, Tokopedia, Bukalapak, Go-Jek, hingga Uber dan
memberikan berbagai pilihan baru kepada masyarakat dan baik itu disadari atau
tidak, hal tersebut telah mendisrupsi aktivitas masyarakat itu sendiri.

Manfaat analisis rasio keuangan


Menurut Fahmi (2014:53) manfaat yang bisa diambil dengan
dipergunakannya rasio keuangan yaitu:

  1. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai alat
    menilai kinerja dan prestasi perusahaan
  2. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat bagi pihak manajemen sebagai
    rujukan untuk membuat perencanaan.
  3. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai alat untuk mengevaluasi
    kondisi suatu perusahaan dari perspektif keuangan
  4. Analisis rasio keuangan juga bermanfaat bagi para kreditor dapat digunakan
    untuk memperkirakan potensi risiko yang akan yang dihadapi dikaitkan
    dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan
    pengembalian pokok pinjaman.
  5. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak
    stakeholder organisasi

Analisis Rasio Keuangan


Analisis rasio keuangan adalah suatu aktivitas untuk menganalisis laporan
keuangan dengan cara membandingkan satu akun dengan akun yang lainnya yang
terdapat dalam laporan keuangan, perbandingan tersebut bisa antar akun dalam
laporan keuangan neraca maupun rugi laba (V. W. Sujarweni, 2017). Analisis rasio
keuangan ini dapat mengungkapkan hubungan yang penting antar perkiraan laporan
keuangan dan dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja
perusahaan. (Hery,2016:20).
Analisis rasio keuangan pada umumnya digunakan oleh 3 kelompok utama
pemakai laporan keuangan yaitu:

  1. Manajer perusahaan, menerapkan rasio untuk membantu menganalisis,
    mengendalikan, dan meningkatkan kinerja operasi serta keuangan
    perusahaan.
  2. Analisis kredit, termasuk petugas pinjaman bank dan analisis peringkat
    obligasi, yang menganalisis rasio-rasio untuk mengidentifikasi kemampuan
    debitor dalam membayar utang-utangnya.
  3. Analis saham, yang tertarik pada efisiensi, resiko, dan prospek pertumbuhan
    perusahaan.

Rasio Keuangan


Laporan keuangan melaporkan aktivitas yang sudah dilakukan perusahaan
dalam suatu periode tertentu. Aktivitas yang sudah dituangkan dalam angka-angka,
baik dalam bentuk mata uang rupiah maupun dalam mata uang asing. Angka-angka
yang ada dilaporan keuangan menjadi kurang berarti jika hanya dilihat satu nsisi
saja. Artinya jika hanya dengan melihat apanya. Angka-angka ini akan menjadi
lebih apabila dapat kita bandingkan antara satu komponen dengan komponen
lainnya. Caranya adalah dengan membandingkan angka-angka yang ada dalam
laporan keuangan atau antar laporan keuangan. Setelah melakukan perbandingan,
dapat disimpulkan posisi keuangan suatu perusahan untuk periode tertentu. Pada
akhirnya kita dapat menilai kinerja manajemen dalam periode tersebut.
Perbandingan ini kita kenal dengan nama analisis rasio keuangan
Menurut Hery (2017, hal.138) “rasio keuangan adalah angka yang diperoleh
dari hasil perbandingan antara satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang
mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan”.
Menurut Kasmir (2018:104), “merujuk rasio keuangan adalah tindakan
untuk melihat angka-angka yang terkandung dalam laporan anggaran dengan
membagi satu angka dengan angka lainnya”

Pihak-pihak yang memerlukan laporan keuangan


Laporan keuangan disusun berdasarkan berbagai tujuan. Tujuan uramanya
adalah untuk kepentingan pemilik dan manajemen perusahaan dan memberikan
informasi kepada berbagai pihak yang sangat berkepentingan terhadap perusahaan.
Artinya pembuatan dan penyusunan laporan keuangan ditujukan untuk memenuhi
kepentingan berbagai pihak, baik pihak intern maupun ekstern perusahaan.
Menurut Kasmir (2012 ; 19), Ada 5 (lima) pihak yang memiliki hak untuk
mendapatkan informasi seputar laporan keuangan, antara lain :

  1. Pemilik
    Pemilik pada saat ini adalah mereka yang memiliki usaha tersebut. Hal ini
    tercemin dari kepemilikam saham yang dimilikinya
  2. Manajemen
    Kepentingan pihak manajemen perusahaan terhadap laporan keuangan
    perusahaan yang mereka buat yang memiliki arti tertentu. Bagi pihak
    manajemen laporan keuangan yang dibuat merupakan cermin kinerja
    mereka dalam suatu periode tertentu
  3. Kreditor
    Kreditor adalah pihak penyandang dana bagi perusahaan. Artinya pihak
    pemberi dana seperti bank atau lembaga keuangan lainnya. Kepentingan
    pihak kreditor terhadap laporan keuangan perusahaan adalah dalam hal
    memberi pinjaman atau pinjaman yang telah berjalan sebelumnya.
  4. Pemerintah
    Pemerintah juga memiliki nilai penting atas laporan keuangan yang dibuat
    perusahaan. Bahkan pemerintah melalui Departemen Keuangan
    mewajibkan kepada setiap perusahaan untuk menyusun dan melaporkan
    keuangan perusahaan secara periodik.
  5. Investor
    Investor adalah pihak yang hendak menanamkan dana disuatu perusahaan.
    Jika suatu perusahaan memerlukan dana untuk memperluas usaha atau
    kapasitas usahanya disamping memperoleh pinjaman dari lembaga
    keuangan seperti bank dapat pula diperoleh dari para investor melalui
    penjualan saham.

Syarat-syarat laporan keuangan


Syarat-syarat laporan keuangan merupakan ciri khas membuat informasi dalam
laporan keuangan yang berguna bagi para pemakai dalam pengambilan keputusan
yang bernilai ekonomis (W. V. Sujarweni, 2017). Berikut syarat-syarat yang harus
dipenuhi didalam membuat laporan keuangan :
1) Dapat dipahami
Para pemakai harus dapat memahami kualitas penting informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan. Para pemakai harus mengetahui tentang
aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi dan juga ketentuan yang wajar.
2) Relevan
Informasi yang diberikan harus relevan agar dapat memenuhi kebutuhan
dalam proses pengambilan keputusan. Dengan adanya informasi yang
relevan dapat mempengaruhi keputusan ekonomi para pemakai agar dapat
mengevaluasi kejadian masa lalu, masa kini atau masa yang akan datang.
3) Keandalan
Supaya lebih bermanfaat, Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
juga harus andal. Agar dapat diandalkan, Informasi yang disajikan harus
lengkap dalam batasan materialistis dan biaya, bebas dari pengertian
menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya sebagai
penyajian yang jujur dan wajar dari yang seharusnya disajikan.
4) Dapat dibandingkan
Para pengguna laporan keuangan harus bisa membandingkan laporan
keuangan perusahaan antar periode guna mengidentifikasi kecenderungan
posisi keuangan. Selain itu pengguna laporan keuangan juga harus bisa
membandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk mengevaluasi
posisi keuangan serta posisi keuangan perusahaan secara relatif
5) Mempunyai daya uji
Laporan keuangan dapat diuji kebenarannya apabila telah disusun sesuai
dengan panduan konsep-konsep dasar akuntansi dan prinsip-prinsip
akuntansi yang telah disahkan
6) Netral
Laporan keuangan harus disajikan secara netral yaitu apabila disajikan
secara umum dan obyektif serta tidak memihak pada kepentingan para
pengguna tertentu.
7) Tepat waktu
Yang berarti bahwa laporan keuangan yang disajikan harus tepat waktu.
8) Lengkap
Artinya laporan keuangan yang disusun harus memenuhi syarat-syarat
seperti diatas agar tidak meyesatkan para pembaca.

Disruptive Mindset


Dunia baru yang dikenal saat ini adalah semua kebutuhan manusia dibuat
menjadi lebih mudah, dekat, dan terjangkau tentu dibutuhkan pula kepemimpinan
yang memahami dan mengerti akan tantangan masa depan yang sedang terjadi
dampak dari perkembangan dan pertumbuhan teknologi itu sendiri. Cragun dan
Sweetman (2016) mengidentifikasi bahwa terdapat lima pemicu sehingga
terjadinya suatu perubahan sejak tahun 1980 dan kelima kategori penyebab itu
adalah: Teknologi (IT), Teori Manajemen, Peristiwa Negara, Daya Saing Global,
serta Geopolitik. Permasalahan yang muncul ini senantiasa diatasi dengan pola
pemikiran yang baik dan tentu saja melihat jalan keluar yang tepat dalam
menyelesaikannya sehingga menghasilkan kejutan baru yang positif yang akan
berguna bagi kehidupan manusia.
Seringnya terdengar konsep platform yang disebutkan oleh para pengusaha
perusahaan rintisan yang dikenal dengan istilah startup dan datang dengan ide
segar yang dilengkapi dengan kekuatan baru yaitu teknologi yang siap menerobos
pasar lama dan tentu saja akan mengubah peta pola konsumsi masyarakat yang ada
selama ini (Kasali, 2017). Hal ini mungkin hanya menjadi sebuah hal yang abstrak
beberapa dekade yang lalu tetapi hal ini menjadi nyata saat ini seiring dengan
perkembangan teknologi yang tumbuh dengan cepat sehingga memungkinkan
semua orang untuk ikut dan menikmati keunggulan teknologi saat ini. Pola
pemikiran ini tentu jauh jika dibandingkan dengan para incumbent yang mungkin
masih memikirkan atau menyalahkan para generasi muda yang hanya dengan
menenteng laptop, menggunakan kaos, dan bercelana jeans mampu merebut pasar
yang telah bangun bertahun-tahun, hal ini dikarenakan pola pemikiran yang telah
berubah dalam melihat celah antara kebutuhan dan permasalahan masyarakat
dengan kemampuan teknologi yang dimiliki sehingga dapat memberikan solusi
yang tepat, efektif, dan efisien bagi masyarakat.
Pola pemikiran baru yang hadir di tengah-tengah kita semua adalah
bagaimana cara untuk saling berbagi. Di masa ekonomi memiliki, semua orang
ingin menguasai aset, ingin memiliki yang sebesar-besarnya dan saat ini hal
tersebut banyaknya aset pribadi yang menganggur, dan hal tersebut menimbulkan
masalah baru, dimana idle capacity tersebut tidak bergerak dan tidak menghasilkan
sepeser pun uang malah menjadi beban biaya yang teramat besar bagi pemilik aset
tersebut, dan secara harafiah dapat dikatakan bahwa kelebihan bagi sekelompok
orang berarti kekurangan bagi sekelompok orang lainnya yang pada akhirnya
menimbulkan ketimpangan. Ketimpangan ini dilihat sebagai peluang oleh para
pelaku-pelaku usaha muda yang telah memiliki mindset untuk saling berbagi tadi
sehingga dengan keunggulan teknologi yang miliki dan melihat celah yang ada,
menggeser pola konsumsi masyarakat dari yang ingin memiliki menjadi untuk
berbagi dengan memanfaatkan aset-aset yang berlebihan tadi sehingga hal
terpenting adalah bukan memiliki, tetapi tersedia atau tidaknya barang dan jasa
yang ingin di tawarkan serta bagaimana membuat seluruh masyarakat
menikmatinya dan dengan kata lain saling tolong menolong.
Lebih lanjut, pola pemikiran baru yang tercipta saat ini akan memicu pada
perkembangan Artificial Intelegence (AI) dimana perkembangan AI akan menjadi
salah satu kunci utama di masa yang akan datang. Hal-hal baru akan tercipta seiring
dengan pola konsumsi masyarakat itu sendiri yang dibarengi dengan pemenuhan
kebutuhan manusia pada khususnya. Hal tersebut telah terlihat di saat ini bagaimana
13
dunia maya sangat dekat dengan kebutuhan konsumsi masyarakat, bahkan dengan
satu klik semua sudah bisa tersedia di depan mata tanpa masyarakat harus datang
ke gerai konvensional yang dulu menjadi primadona dan merajai pasar konsumsi
masyarakat tetapi jaman telah berganti, perkembangan teknologi telah mengubah
seluruh pola konsumsi masyarakat itu sendiri. Telah kita saksikan bagaimana gerai-
gerai besar menutup seluruh atau sebagian gerai di beberapa toko karena tidak kuat
menghadapi perubahan jaman sekarang dan gempuran toko-toko on-line yang
bertebaran di depan layar ponsel pintar masyarakat saat ini, dan yang lebih menarik
pemilik gerai-gerai on-line tersebut sebagian besar anak muda yang menganggu
pola bisnis konvensional yang ada saat ini, dari kepemilikan aset yang mutlak
menjadi kepemilikan bersama atau sharing economy.
Istilah pengumpulan data atau Big Data menjadi hal yang mutlak saat ini,
dimana data-data ini menjadi sangat penting dan berguna di masa sekarang, tidak
lain dan tidak bukan adalah untuk mengetahui preferensi dan pola konsumsi
masyarakat itu sendiri dari sisi usia, jenis kelamin, hobi, dan lain sebagainya
sehingga produk yang ditawarkan ataupun jasa yang ditawarkan akan langsung
mengenai sasaran pada preferensi tertentu atau pada kelompok usia, jenis kelamin,
hobi orang-orang tertentu dan tentu saja hal tersebut akan membuat produk dan jasa
yang akan ditawarkan menjadi lebih mudah dan terarah. Tanpa disadari gelombang
perubahan ini terus terjadi dan semakin terasa dan terlihat pada generasi muda
dengan gawai terbaru dan teranyar yang miliki. Gawai-gawai yang berada di
genggaman kita dan di tangan para generasi muda ini telah mengikis jarak dan
waktu sehingga produk dan jasa yang ditawarkan semakin mudah digapai dan
dijangkau hanya dengan satu sentuhan lembut di layar ponsel pintar yang dimiliki
saat ini, begitu mudah, nyaman, dan singkat proses transaksi itu terjadi sehingga
dapat dikatakan pola konsumsi yang terjadi secara konvensional semakin bergeser
dan kebutuhan akan informasi terbaru akan produk dan jasa yang ditawarkan
semakin meningkat. Pola pemikiran baru ini akan mengajak kita ke arah sana, ke
arah baru dimana disruptive idea akan sering kita jumpai dan mendobrak para
pemain konvensional yang selama ini ada dan bertahan cukup lama sehingga
kehadiran pemikiran atau ide yang baru dan segar ini tentu saja akan memberikan
solusi atas permasahalan yang terjadi di tengah masyarakat dan akan memberikan
solusi-solusi yang tepat serta efisien dan efektif kepada masyarkat.
Pola pemikiran baru ini akan sulit untuk dibendung dan akan semakin
menyebar seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin hari semakin
canggih dan akan mengubah tatanan hidup masyarakat itu sendiri. Ketergantungan
akan teknologi akibat kemudahan yang ditawarkan akan menjadi hal yang lumrah
di kemudian hari dan akan menciptakan peluang-peluang baru ataupun hambatan-
hambatan baru, tetapi untuk saat ini, kemajuan teknologi yang telah ada terbukti
memberikan sumbangsih positif bagi kebutuhan masyarakat di dalam pemenuhan
kebutuhan sehari-hari . Terobosan baru dalam perkembangan teknologi, dimana
algoritma yang akan digunakan akan menjadi penentu kemana konsumsi
masyarakat akan terjadi, sehingga hubungan manusia dan AI akan mengubah pola
kerja industri selama ini yang telah ada dan telah mengambil hati masyarakat (Rao,
Anand 2017)

Jenis jenis Laporan keuangan


Laporan keuangan perusahaan yang disusun oleh perusahaan terdiri dari
beberapa jenis, tergantung pada maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan
itu. Setiap laporan keuangan memiliki arti tersendiri dalam memandang kondisi
keuangan perusahaan, baik sebagian maupun secara keseluruhan. Namun dalam
prakteknya perusahaan diharuskan untuk menyusun beberapa jenis laporan
keuangan sesuai dengan standar yang telah ditentukan, terutama untuk kepentingan
mereka sendiri atau untuk kepentingan orang lain.
Menurut Kasmir (2014:82), secara umum ada lima jenis laporan keuangan yang
bisa disusun, yaitu:

  1. Laporan Posisi Keuangan
    Laporan Posisi Keuangan merupakan laporan yang menunjukkan posisi
    keuangan perusahaan pada tanggal tertentu. Arti dari posisi keuangan
    dimaksudkan adalah posisi jumlah dan jenis aktiva (harta) dan pasiva
    (kewajiban dan ekuitas) suatu perusahaan.
  2. Laporan Laba Rugi
    Laporan Laba Rugi merupakan laporan keuangan yang menggambarkan
    hasil usaha perusahaan dalam satu periode tertentu. Dalam laporan laba rugi
    ini tergambar jumlah pendapatan dan sumber-sumber pendapatan yang
    diperoleh. Kemudian juga tergambar jumlah biaya dan jenis-jenis yang
    dikeluarkan selama periode tertentu.
  3. Laporan Perubahan Modal
    Laporan Perubahan Modal merupakan laporan yang berisi jumlah dan jenis
    modal yang dimiliki pada saat ini. Kemudian, laporan ini juga menjelaskan
    perubahan modal dan sebab-sebab terjadinya perubahan modal di
    perusahaan.
  4. Laporan Arus Kas
    Laporan Arus Kas merupakan laporan yang menunjukkan arus kas masuk
    dan kas keluar perusahaan. Arus kas masuk merupakan pendapatan atau
    pinjaman dari pihak lain, sedangkan arus kas keluar merupakan biayabiaya
    yang telah dikeluarkan perusahaan. Baik arus kas masuk maupun arus kas
    keluar dibuat untuk periode tertentu.
  5. Catatan Atas Laporan Keuangan
    Catatan Atas Laporan Keuangan merupakan laporan yang dibuat berkaitan
    dengan laporan keuangan yang disajikan. Laporan ini memberikan
    informasi tentang penjelasan yang dianggap perlu atas laporan keuangan
    yang ada sehingga menjadi jelas sebab penyebabnya. Tujuannya adalah agar
    pengguna laporan keuangan dapat memahami jelas data yang disajikan.

Tujuan Laporan keuangan


Secara umum laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi
keuangan suatu perusahaan, yang ditujukan kepada pihak internal dan eksternal
sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Laporan keuangan
juga dapat disusun secara mendadak sesuai kebutuhan perusahaan maupun secara
berkala. Jelasnya adalah laporan keuangan mampu memberikan informasi
keuangan kepada pihak dalam dan luar perusahaan yang memiliki kepentingan
terhadap perusahaan.
Sesuai pendapat yang dikemukakan oleh Kasmir (2013; 11), “ada delapan
tujuan pembuatan atau penyusunan laporan keuangan yaitu:

  1. Memberikan data tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki
    perusahaan pada saat ini
  2. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang
    dimiliki perusahaan pada saat ini
  3. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh
    pada suatu periode tertentu
  4. Memberikan data tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan
    perusahaan dalam suatu periode tertentu
  5. Memberikan data tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap
    aktiva, pasiva, dan modal perusahaan
  6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu
    periode tertentu
  7. Memberikan informasi tentang Penataan data pada catatan atas laporan
    fiskal
  8. Informasi keuangan lainnya
    Menurut Mamduh M. Hanafi (2016:30), tujuan laporan keuangan adalah
    sebagai berikut :
  9. Informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan.
  10. Laporan keuangan harus memberikan informasi yang bermanfaat untuk
    pemakai eksternal dalam memperkirakan jumlah, waktu, dan ketidakpastian
    (risiko) penerimaan kas yang berkaitan.
  11. Laporan keuangan harus dapat memberikan informasi yang bermanfaat
    untuk memperkirakan aliran kas perusahaan.

Laporan Keuangan


Laporan keuangan pada dasarnya merupakan suatu informasi yang
menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan, dan lebih jauh informasi
tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran kinerja keuangan perusahaan tersebut.
Adapun jenis laporan keuangan pada umumnya antara lain: neraca, laporan laba
rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas. Laporan keuangan hanyalah
sebagai “alat penguji” dari kegiatan-kegiatan perusahaan seperti kegiatan
pendanaan, kegiatan investasi, dan kegiatan operasional yang kemudian digunakan
untuk menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan tersebut dengan
menganalisisnya.
PSAK No. 1 (revisi 2009) menyatakan laporan keuangan adalah suatu
penyajian terstruktur dari kondisi keuangan dan kinerja keuangan suatu perusahaan.
Jadi laporan keuangan merupakan salah satu informasi yang sangat bermanfaat
dalam menilai perkembangan suatu perusahaan sehingga dapat digunakan untuk
menilai hasil kinerja yang diperoleh pada saat lampau, sekarang dan rencana waktu
yang akan datang pada perusahaan.
Menurut Kasmir (2014:7), laporan keuangan adalah laporan yang
menunjukkan kondisi keuangan perusahaan saat ini atau periode kedepannya.
Maksud dan tujuan laporan keuangan menunjukkan kondisi keuangan perusahaan.
Menurut Atma Hayat dkk (2018:81), bahwa pengertian laporan keuangan
adalah hasil akhir dari proses akuntansi, dimana dalam proses tersebut semua
transaksi yang terjadi akan dicatat, diklasifikasikan, diikhtisarkan untuk kemudian
disusun menjadi suatu laporan keuangan