Jenis desain penelitian klinis (skripsi dan tesis)

Desain penelitian dapat diklasifikasikan berdasarkan ada atau tidaknya intervensi menjadi dua kelompok, yakni studi observasional dan studi eksperimental. Pada studi observasional peneliti tidak mengintervensi subyek penelitian mana yang mendapat perlakuan apa; peneliti hanya mengamati, mengukur variabel, mengelompokkan dan menganalisis data. Termasuk dalam studi observasional adalah laporan kasus dan seri kasus, studi cross sectional (termasuk uji diagnostik), studi kohort (termasuk di dalamnya analisis kesintasan), studi kasus-kontrol, dan meta-analisis. Berbeda dengan studi observasional, pada studi eksperimental atau disebut juga sebagai studi intervensional, peneliti melakukan intervensi dengan cara menentukan subyek mana yang mendapat perlakuan apa (meski sebaiknya caranya adalah dengan randomisasi). Studi eksperimental dapat dilakukan di laboratorium, di lingkungan klinik, dan dapat juga di komunitas. Studi eksperimental yang dilakukan di klinik disebut sebagai uji klinis (clinical 42 trial). Baku emas uji klinis adalah uji klinis randomisasi (UKR) atau randomized controlled trial (RCT).

Meta-analisis (skripsi dan tesis)

Meta-analisis adalah metode analisis statistik yang menggabungkan data dari dua atau lebih penelitian dengan topik serupa yang bertujuan untuk memberikan satu kesimpulan penelitian. Subjek penelitian merupakan laporan penelitian orisinal baik yang sudah dipublikasi maupun yang belum. Desain penelitian ini adalah metode analisis gabungan yang memiliki level validitas paling tinggi. \ Meta-analisis memiliki keterbatasan yang terletak pada masalah metodologi yaitu kesesuaian penggunaan teknik statistika untuk penggabungan data berbagai penelitian. Meta-analisis harus dihindari jika kualitas penelitian sebelumnya tidak baik karena akan memberikan hasil yang tidak valid. Meta-analisis tidak dianjurkan dilakukan pada penelitian yang terlalu heterogen. Meta-analisis potensial terhadap bias publikasi.

 Meta-analisis terdiri dari empat langkah yaitu identifikasi penelitian yang disertakan dalam meta-analisis. Langkah kedua adalah seleksi atau penilaian kualitas laporan penelitian. Langkah ketiga meta-analisis berupa abstraksi atau kuantifikasi hasil penelitian untuk digabungkan. Langkah terakhir adalah analisis, yakni penggabungan dan pelaporan hasil meta-analisis

Uji Klinis (skripsi dan tesis)

 Uji klinis merupakan bentuk penelitian eksperimental untuk meneliti efek dari intervensi tertentu, biasanya berupa terapi untuk satu penyakit. Subjek penelitian dalam populasi penelitian secara acak dialokasikan menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hasil penelitian diperoleh dengan membandingkan status penyakit subjek penelitian. Desain penelitian terkuat adalah uji klinis acak terkontrol (randomized controlled trial). Keunggulan utama dari uji klinis adalah kontrol atas confounding factor, berbagai jenis bias dapat ditiadakan atau dikurangi dengan efektif. Uji klinis merupakan desain penelitian terbaik untuk meneliti hubungan kausalitas. Kekurangan uji klinis yaitu memerlukan banyak partisipan, biaya yang mahal dan pelaksanaan yang rumit. Uji klinis tidak tepat digunakan untuk meneliti penyakit yang jarang terjadi. Uji klinis memiliki resiko intervensi pada manusia.

Tahapan uji klinis dalam pengembangan obat terdiri dari empat fase. Fase pertama yaitu penerapan pertama suatu obat baru pada manusia yang melibatkan 20-80 relawan subjek sehat untuk di monitor secara ketat. Tujuan utama fase ini untuk menentukan mekanisme aksi farmakologik dari obat dan mendapatkan bukti awal efektivitas obat. Fase kedua adalah pengambilan data awal dari efektivitas 10 obat baru pada pasien dengan penyakit target atau kondisi tertentu. Fase kedua melibatkan sekitar 100 sampai 300 pasien yang dimonitor secara ketat untuk dilihat efek samping jangka pendek. Fase ketiga melibatkan ribuan pasien dengan penyakit target yang secara acak diberikan obat baru dan plasebo atau pengobatan yang ada (terapi standar) kemudian dibandingkan efek dari tiap kelompok intervensi tersebut. Fase ini menambahkan informasi mengenai efektivitas dan keamanan yang dibutuhkan untuk evaluasi seluruh risiko dan keunggulan obat tersebut. Fase keempat atau disebut juga sebagai uji pasca-pemasaran (postmarketing trial) bertujuan untuk mengevaluasi obat baru dalam jangka waktu yang relatif lama (5 tahun atau lebih). Fase terakhir penting untuk mendeteksi efek samping yang timbul dari pemakaian obat tersebu

Penelitian Eksperimental (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimental atau intervensional adalah penelitian dengan pemberian perlakuan atau intervensi terhadap subjek penelitian, peneliti akan mempelajari efek dari intervensi tersebut. Penelitian eksperimental memiliki kapasitas asosiasi yang lebih tinggi dari penelitian observasional sehingga simpulan yang diperoleh lebih definitif. Penelitian eksperimental memerlukan biaya yang tinggi dan pelaksanaannya rumit sehingga penggunaannya lebih terbatas. Penelitian eksperimental bersifat prospektif dan secara khusus dirancang untuk mengevaluasi dampak langsung dari pengobatan atau tindakan pencegahan terhadap penyakit.

Kohort (skripsi dan tesis)

 Kohort adalah bentuk penelitian prospektif untuk menyelidiki hubungan antara paparan atau faktor risiko potensial dengan status penyakit pasien. Kohort mengidentifikasi subjek yang bebas dari penyakit dan mengklasifikasikan subjek berdasarkan ada atau tidaknya paparan atau faktor risiko. Peneliti akan mengikuti subjek dalam jangka waktu tertentu untuk meneliti perkembangan penyakit dan mengevaluasi perbedaan status penyakit antara kelompok subjek dengan faktor risiko dengan kelompok subjek tanpa faktor risiko.

Penelitian kohort merupakan desain penelitian yang dapat digunakan untuk menghitung angka insidensi. Insidensi adalah jumlah dari kasus baru suatu penyakit dalam populasi risiko selama periode waktu tertentu. Analisis dari penelitian kohort melibatkan penghitungan baik dari cumulative incidence atau incidence rate. Perbandingan antara insidens terjadinya efek pada kelompok dengan faktor risiko dengan insidens terjadinya efek pada kelompok tanpa faktor risiko menghasilkan Relative Risk (RR). Relative risk dihitung dengan formula RR=a/(a+b):c/(c+d). Interpretasi hasil dari relative risk yaitu jika bernilai sama dengan satu berarti tidak ada hubungan antara faktor risiko 8 dengan penyakit. Nilai relative risk kurang dari satu berarti faktor risiko tersebut memiliki asosiasi negatif atau penurunan risiko terjadinya penyakit. Nilai relative risk lebih dari satu berarti faktor risiko tersebut merupakan faktor risiko yang berbahaya atau berhubungan positif dengan terjadinya penyakit.
Kelebihan penelitian kohort yaitu paparan atau faktor risiko diukur sebelum terjadinya penyakit sehingga dapat dipastikan paparan mendahului terjadinya penyakit. Kohort berguna untuk meneliti paparan atau faktor risiko yang jarang terjadi dan dapat meneliti berbagai efek hasil atau penyakit. Kelemahan utama dalam desain penelitian ini adalah membutuhkan biaya yang lebih mahal dan waktu penelitian yang lama. Kohort memiliki risiko kehilangan subjek penelitian untuk diikuti perkembangan penyakitnya. Kohort tidak tepat untuk meneliti penyakit atau hasil yang jarang terjadi

Kasus kontrol (skripsi dan tesis)

Penelitian kasus kontrol merupakan bentuk penelitian retrospektif yang menelaah hubungan antara penyakit dengan faktor risiko tertentu dengan membandingkan dua kelompok yang berbeda status penyakit berdasarkan faktor risiko yang diteliti. Kasus kontrol memilih sebuah grup partisipan dengan penyakit tertentu (kasus) dan sebuah grup dari individu sebanding yang bebas dari penyakit (kontrol). Pemilihan subjek penelitian dimulai dari efek atau penyakit, lalu ditelusuri ke masa lalu untuk mengidentifikasi adanya faktor risiko.  Penelitian membandingkan karakteristik dari grup kasus dan kontrol, menyimpulkan bahwa karakteristik yang berbeda berhubungan dengan terjadinya penyakit. Peneliti mendapatkan riwayat pajanan melalui survei pasien atau ulasan rekam medis. Kasus kontrol bersifat retrospektif yaitu pengumpulan data terjadi sebelum hipotesis terbentuk.   Penelitian kasus kontrol berguna untuk meneliti penyakit yang langka atau ketika hasil yang dievaluasi jarang terjadi. Keunggulan lainnya yaitu dapat meneliti berbagai paparan atau faktor risiko sekaligus dalam satu penelitian. Kasus kontrol memiliki waktu penelitian yang lebih singkat dan biaya yang lebih rendah  dibandingkan dengan penelitian kohort atau uji klinis.

Kekurangan penelitian kasus kontrol yaitu potensial terhadap bias seleksi jika tidak memiliki grup kontrol yang tepat. Penelitian kasus kontrol potensial terhadap recall bias. Kasus kontrol memiliki keterbatasan hanya dapat meneliti satu efek hasil atau penyakit.
Mengetahui hubungan antara paparan dengan penyakit diukur dengan Odds Ratio (OR) yang merupakan perbandingan peluang paparan pada kasus dengan peluang paparan pada kontrol. Tabel 2.3 menyajikan data penelitian kasus kontrol. Odds ratio dikalkulasikan dengan rumus OR= (a/b):(c/d)=ad/bc. Interpretasi hasil dari odds ratio yaitu bila bernilai sama dengan satu berarti tidak ada hubungan antara paparan atau faktor risiko dengan penyakit. Nilai odds ratio lebih dari satu berarti paparan atau faktor risiko tersebut berhubungan dengan terjadinya penyakit. Nilai odds ratio kurang dari satu berarti paparan atau faktor risiko tersebut merupakan faktor protektif atau ada penurunan risiko terjadinya penyakit.

Potong Lintang (skripsi dan tesis)

 Penelitian potong lintang adalah penelitian yang mengevaluasi pajanan dan hasil penyakit pada satu waktu tertentu secara bersamaan. Potong lintang menghubungkan status pajanan atau faktor risiko dengan terjadinya penyakit tanpa meneliti urutan waktu dari perkembangan penyakit. Pemilihan subjek penelitian dilakukan secara acak dari populasi yang ada, kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap status penyakit dan faktor risiko yang dimiliki oleh subjek penelitian
Potong lintang merupakan desain penelitian yang dapat digunakan untuk menghitung angka prevalensi. Prevalensi adalah proporsi dari individu yang memiliki penyakit pada suatu populasi dalam waktu tertentu. Prevalensi berguna untuk mengukur beban penyakit dalam populasi.
 Perbandingan antara prevalensi kasus atau efek pada kelompok dengan faktor risiko dengan prevalensi kasus pada kelompok tanpa faktor risiko dinyatakan dengan Prevalence Ratio (PR). Prevalence ratio dikalkulasikan dengan rumus PR=a/(a+b):c/(c/d). Interpretasi hasil dari prevalence ratio jika bernilai sama dengan satu berarti tidak ada hubungan antara faktor risiko dengan penyakit. Nilai prevalence ratio kurang dari satu berarti faktor risiko memiliki asosiasi negatif dengan terjadinya penyakit. Nilai prevalence ratio lebih dari satu berarti faktor risiko tersebut memiliki asosiasi positif dengan terjadinya penyakit

Serial Kasus (skripsi dan tesis)

Serial kasus adalah penelitian pada sekelompok pasien dengan diagnosis yang sama, pasien diikuti untuk ditelaah perjalanan alami penyakit baik dari presentasi klinis, riwayat dan prognosisnya. Serial kasus membantu untuk memahami distribusi penyakit dalam populasi dan mempelajari variasi penyakit dari waktu ke waktu. Serial kasus bisa mencakup penyakit yang sering ditemukan namun terdapat hal-hal khusus yang layak untuk dipublikasi misalnya terdapatnya perubahan manifestasi klinis, laboratorium, ataupun perjalanan penyakit yang tidak lazim. Serial kasus yang seringkali dilakukan adalah pengaruh tindakan pengobatan pada sejumlah kasus. Kelemahan dari serial kasus terletak pada kualitas data karena tidak ada standarisasi pengumpulan informasi pasien, pengukuran, tes, dan evaluasi lainnya. Kelebihan serial kasus yaitu berguna dalam memberikan data awal untuk uji klinis. Serial kasus berperan penting dalam penelitian epidemiologi untuk mempelajari gejala penyakit dan membentuk definisi kasus

Laporan Kasus (skripsi dan tesis)

Laporan kasus adalah penelitian yang mendeskripsikan kelainan, penyakit, sindrom yang jarang ditemukan atau penyakit yang biasa ditemukan namun memiliki presentasi yang tidak lazim. Respon yang tidak lazim terhadap pengobatan penyakit juga sering dilaporkan dalam laporan kasus. Pengembangan prosedur atau teknik baru sering diawali dengan laporan atau serial kasus.3,6,11 Laporan kasus biasanya dimulai dengan deskripsi kasus yang disajikan secara kronologis sejak kasus pertama kali diperiksa, riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang sampai penegakan diagnosis dan penentuan tata laksana. Laporan kasus dilengkapi dengan diskusi membandingkan penemuan tersebut dengan kasus serupa yang pernah dilaporkan dalam kepustakaan dunia. Laporan kasus hanya dapat menyimpulkan penemuan atau mekanisme yang tidak terduga dari suatu penyakit

Penelitian Observasional (skripsi dan tesis)

Penelitian observasional adalah pengamatan atau pengukuran terhadap berbagai jenis subjek penelitian yang dilakukan menurut keadaan alamiah, tanpa ada manipulasi atau intervensi dari peneliti. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik, perilaku dan paparan pada subjek dengan penyakit, kondisi atau komplikasi tertentu. Peneliti sebagai investigator tidak melakukan tindakan 3 terhadap subjek penelitian, tetapi mengamati secara alami hubungan antara faktor risiko dengan hasil observasi.

Non Probalitiy sampling (skripsi dan tesis)

Tiap subyek dalam populasi (terjangkau) tidak memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih maupun tidak terpilih sebagai sampel penelitian. a. Consecutive sampling : semuaa subyek yang datangberurutan dan memenuhi criteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi. b. Convenient sampling : merupakan cara termudah sekaligus terlemah untuk menarik sampel. Sampel diambil tanpa sistematika tertentu, sehingga jarang dianggap mewakili populasi terjangkau. c. Judgmental samling/ purposive sampling : peneliti memilih responden berdasarkan pada pertimbangan subyektif dan praktis, bahwa responden tersebut dapat memberikan informasi yang memasai untuk menjawab pertanyaan penelitian

Probability sampling (skripsi dan tesis)

Tiap subyek dalam populasi (terjangkau) memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih maupun tidak terpilih sebagai sampel penelitian. a. Simple random sampling : dari seluruh subyek dalam populasi ditentukan besaran sampel sesuai perhitungan, kemudian tiap subyek diberi nomor dan dipilih sebagian dari mereka (sesuai besar sample yang dibutuhkan) dengan bantuan tabel angka random atau dengan ramdomisasi menggunakan program computer. b. Systematic sampling : setelah dilakukan penomoran subyek, kemudian ditentukan tiap subyek dengan nomor ke-sekian yang dipilih menjadi sampel. c. Stratified random sampling : sampel dipilih secara acak untuk tiap strata, kemudian hasilnya digabungkan menjadi satu sample yang terbebas dari variasi untuk setiap strata. Variabel yang sering digunakan untuk stratifikasi adalah: gender, usia, ras, kondisi social-ekonomi. Status gizi, lokasi penelitian. d. Cluster sampling : sample dipilih secara acak pada kelompok individu dalam populasi yang terjadi secara alamah, misalnya : kelurahan, kecamatan, kodya, kabupaten, dsb.Cara ini efektif untuk populasi yang tersebar luas.

Penelitian Cohort (skripsi dan tesis)

 

Pada penelitian cohort yang diidentifikasi lebih dahulu adalah kausa atau factor risikonya, kemudian sekelompok subyek (disebut sebagai kohort) diikuti secara prospektif selama periode tertentu untuk menentukan terjadi atau tidaknya efek. Hal ini berlawanan denga penelitian case-control. Subyek yang terpapar fakror risiko menjadi kelompok yang diteliti, sedangkan subyek yang tidak terpapar menjadi kelompok control, kemudian kedua kelompok tersebut diamati selama periode waktu tertentu untuk kemudian ditentukan apakah telah terjadi efek atau penyakit yang diteliti (prospektif) Pada penelitian cohort, hasil pengukuran yang diperoleh dapat dihitung sebagai risiko insidens atau risiko relatif, yaitu perbandingan antara insidens efek pada kelompok dengan factor risiko dengan insidens efek pada kelompok tanpa factor risiko.. Selain cohort prospektif dikenal juga cohort retrospektif, yaitu peneliti mengidentifikasi factor risiko dan efek pada subyek yang terjadi di masa lalu, atau dengan kalimat lain, saat penelitian dilakukan, outcome/ efek yang diteliti sudah terjadi

Penelitian case-control (skripsi dan tesis)

Peneliti melakukan observasi/ pengukuran variabel bebas dan variabel tergantung pada waktu yang berbeda. Peneliti melakukanpengukuran variabel tergantung (efek), sedangkan variabel bebasnya dicari secara retrospektif. Maka dari itu studi ini disebut juga sebagai studi longitudinal, yaitu subyek tidak hanya diobservasi pada satu saat tetapi diikuti selama periode yang ditentukan. Pada studi ini dilakukan identifikasi subyek (kasus) yang telah terkena penyakit (efek), kemudian ditelusur secara retrospektif ada atau tidaknya faktor risiko yang diduga berperan. Pada penelitian case-control, hasil pengukuran yang diperoleh dapat dihitung sebagai odds ratio. Odds ratio menunjukkan berapa besar peran faktor risiko yang diteliti terhadap terjadinya penyakit (efek)

Penelitian cross-sectional (skripsi dan tesis)

Peneliti melakukan pengamatan/ observasi/ pengukuran pada satu waktu tertentu (semua subyek tidak harus dimamati/diukur tepat dalam waktu yang sama), tiap subyek hanya diamati satu kali dan pengukuran variabel subyek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut. Pada studi ini peneliti tidak melakukan tindak lanjut terhadap pengukuran yang dilakukan. Pada penelitian cross-sectional, hasil pengukuran yang diperoleh dapat dihitung sebagai rasio prevalens, yaitu perbandingan antara prevalens efek pada kelompok subyek yang memiliki faktor risiko dengan prevalens efek pada kelompok subyek tanpa faktor risiko.

Penelitian Observasional (skripsi dan tesis)

Pada penelitian observasional peneliti melakukan pengamatan atau pengukuran terhadap satu atau lebih variabel subyek penelitian. Penelitian ini memiliki kapasitas asosiasi yang hanya sampai pada tingkatan dugaan atau dugaan kuat dengan landasan teori atau telaah logis. Pada studi observasioanl asosiasi sebab-akibat lebih lemah dibandingkan dengan studi eksperimental. Penelitian ini dapat dibagi menjadi 2 yaitu penelitian deskriptif dan penelitian analitik. 1. Penelitian Deskriptif Pada penelitian ini peneliti hanya melakukan deskripsi mengenai fenomena yang ditemukan, dan tidak menganalisis mengenai mengapa fenomena tersebut terjadi. Pada studi ini tidak diperlukan rumusan hipotesis sehingga terhadap data yang dikumpulkan tidak dilakukan uji hipotesis/ uji statistika. Contohnya antara lain : insidensi, prevalensi, survey, gambaran klinis. Data pada penelitian deskriptif dapat digunakan untuk penelitian analitik pada tahapan berikutnya. 2. Penelitian Analitik Peneltian ini memiliki tujuan utama mencari hubungan antara variabel satu dengan yang lain. Pada penelitian ini dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh, sehingga pada penelitian ini selalu diperlukan hipotesis. Hubungan antar variabel dapat dilakukan dengan berbagai jenis uji hipotesis (uji statistika). Laporan penelitian analitik selalu diawali dengan deskripsi subyek penelitian terlebih dahulu sebelum dilakukan analisis. Penelitian analitik obserbvasional umumnya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : cross-sectional, case-cotrol, dan cohort. Akhir-akhir ini meta-analysis, suatu desain khusus yang menghubungkan banyak studi, digolongkan dalam studi observasional analitik

Penelitian Eksperimental (skripsi dan tesis)

Studi eksperimental sering disebut pula studi intervensional adalah salah satu rancangan penelitian yang dipergunakan untuk mencari hubungan sebab-akibat. Pada studi eksperimental peneliti melakukan manipulasi terhadap satu atau lebih variabel penelitian kemudian mempelajari efek perlakukan tersebut. Pada penelitian ini asosiasi sebab-akibat yang diperoleh lebih tegas dan nyata sehingga simpulan yang dapat diperolehpun lebih definitive disbanding penelitian observasional. Namun studi ini umumnya memerlukan biaya yang mahal dan pelaksanaannya rumit. Di klinik studi ini sering dilakukan dan didominasi oleh uji klinis untuk menilai efek terapi obat atau prosedur pengobatan/ perawatan/ tindakan. Di lapangan studi eksperimental dilakukan dalam bentuk intervensi komunitas, misalnya penelitian tentang pengaruh penyuluhan cara menggosok gigi terhadap indeks kebersihan mulut. Di laboratorium studi ini dilakukan dengan bakteri atau hewan coba. Diantara ketiga lokasi ini, kondisi yang ideal dapat dibuat di laboratorium, di klinik sampai batas tertentu dapat dibuat mendekati ideal, sedangkan di lapangan studi eksperimental/ intervensi dilakukan atas dasar keadaan factual yang ada di masyarakat. Studi eksperimental memiliki tingkatan (gradasi), yaitu mulai dari : o studi pra-eksperimental/ pre-experimental study  studi kuasi eksperimental/ quasi experimental study (tidak ada randomisasi)  studi eksperimental murni/ true experimental study (desain terkuat, ditandai adanya randomisasi)

 Kohort (skripsi dan tesis)

Penelitian kohort atau sering disebut penelitian prospektif adalah suatu penelitian survey (non eksperimen) yang paling baik dalam mengkaji hubungan antara factor resiko dengan efek (penyakit). Faktor resiko yang akan dipelajari diidentifikasi dulu kemudian diikuti ke depan secara prospektif timbulnya efek yaitu penyakit atau salah satu indicator status kesehatan. Contoh klasik studi kohort adalah Framingham Heart Study.
Rancangan penelitian kohort disebut juga sebagai survey prospektif meskipun sesungguhnya kurang tepat. Rancangan penelitian ini merupakan rancangan penelitian epidemiologis noneksperimental yang paling kuat mengkaji hubungan antara faktor risiko dengan dampak atau efek suatu penyakit.
Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan longitudinal ke depan, dengan mengkaji dinamika hubungan antara faktor risiko dengan efek suatu penyakit. Pendekatan yang dilakukan adalah mengidentifikasi faktor risiko, kemudian dinamikanya diikuti atau diamati sehingga timbul suatu efek atau penyakit.
Kesimpulan hasil penelitian diketahui dengan membandingkan subyek yang mempunyai efek positif (sakit) antara kelompok subyek dengan faktor risiko positif dan faktor risiko negative (kelompok kontrol).
 
Kelebihan penelitian Kohort :
a.    Dapat membandingkan dua kelompok, yaitu kelompok subyek dengan faktor risiko positif dan subyek dari kelompok control sejak awal penelitian.
b.    Secara langsung menetapkan besarnya angka risiko dari waktu ke waktu.
c.    Keseragaman observasi terhadap faktor risiko maupun efek dari waktu ke waktu.
 
Kekurangan penelitian Kohort :
a.    Memerlukan waktu penelitian yang relative cukup lama.
b.    Memerlukan sarana dan prasarana serta pengolahan data yang lebih rumit.
c.    Kemungkinan adanya subyek penelitian yang drop out sehingga mengurangi ketepatan dan kecukupan data untuk dianalisis.
d.    Menyangkut etika sebab faktor risiko dari subyek yang diamati sampai terjadinya efek, menimbulkan ketidaknyamanan bagi subyek.

Case Control (skripsi dan tesis)

Rancangan penelitian ini ada yang menyebutnya sebagai studi retrospektif, meskipun istilah ini kurang tepat. Penelitian ini berusaha melihat ke belakang, yaitu data digali dari dampak (efeknya) atau akibat yang terjadi. Kemudian dari dampak tersebut ditelusuri variable-variabel penyebabnya atau variable yang mempengaruhi.
Penelitian epidemiologi kasus-kontrol ini hasil korelasinya lebih tajam dan mendalam bila dibandingkan dengan rancangan penelitian potong-lintang, sebab menggunakan subyek kontrol atau subyek dengan dampak positif dicarikan kontrolnya dan subyek dengan dampak negatif juga dicari kontrolnya. Kemudian variable penyebab atau yang berpengaruh ditelusuri lebih dulu, baru kemudian faktor risiko atau variable yang berpengaruh diamati secara retrospektif.
 
Kelebihan penelitian case control :
a.    Tidak menghadapi kendala etik, seperti halnya penelitian kohort dan eksperimental.
b.    Pengambilan kasus dan kontrol pada kurun waktu yang bersamaan.
c.    Adanya pengendalian faktor risiko sehingga hasil penelitian lebih tajam.
d.    Tidak perlu intervensi waktu, lebih ekonomis sebab subyek bias dibatasi.
 
Kekurangan penelitian case control :
a.    Tidak diketahuinya efek variable luar oleh karena keterbatasan teknis yaitu variable yang tidak ikut dikenakan waktu matching.
b.    Bias penelitian akibat tidak dilakukan pengukuran oleh peneliti dengan tanpa mengetahui yang harus diukur (blind measurement).
c.    Kelemahan pengukuran variable secara retrospektif adalah obyektivitas dan reliabilitasnya sehingga untuk faktor-faktor risiko yang tidak jelas informasinya dari anamnesis maupun data rancangan sekunder sangat berisiko bila menggunakan rancangan mengatasinya, anamnesis sebaiknya dilengkapi data penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis, misalnya pemeriksaan laboratorium klinis, roentgenologi, mikrobiologis, dan imunologis. Apabila data tersebut adalah data sekunder, perlu dilengkapi dengan uraian mengenai cara memperopleh data secara lengkap.
d.    Kadang-kadang untuk memilih kontrol dengan matching kita mengalami kesulitan oleh karena banyaknya faktor risiko dan/atau sedikitnya subyek penelitian.

Cross Sectional (skripsi dan tesis)

Jenis penelitian ini berusaha mempelajari dinamika hubungan hubungan atau korelasi antara faktor-faktor risiko dengan dampak atau efeknya. Faktor risiko dan dampak atau efeknya diobservasi pada saat yang sama, artinya setiap subyek penelitian diobservasi hanya satu kali saja dan faktor risiko serta dampak diukur menurut keadaan atau status pada saat observasi.
Angka rasio prevalensi memberi gambaran tentang prevalensi suatu penyakit di dalam populasi yang berkaitan dengan faktor risiko yang dipelajari atau yang timbul akibat faktor-faktor risiko tertentu.
 
·      Kelebihan studi cross-sectional:
Kelebihan rancangan studi potong lintang adalah kemudahannya untuk untuk dilakukan dan murah, sebab tidak memerlukan follow-up. Jika tujuan penelitian “sekedar“ mendeskripsikan distribusi penyakit dhubungkan dengan paparan faktor-faktor penelitian, maka studi potong lintang merupakan rancangan studi yang cocok, efisien dan cukup kuat disegi metodologik. Selain itu seperti penelitian observasional lainnya, studi potong lintang tidak “memaksa” subjek untuk mengalami factor yang diperkirakan bersifat merugikan kesehatan (factor resiko). Demikian pula, tidak ada subjek yang kehilangan kesempatan memperoleh terapi yang diperkirakan bermanfaat, bagi subjek yang kebetulan menjadi control.
 
Kekurangan penelitian cross sectional :
a.    Dibutuhkan subyek penelitian yang relatif besar atau banyak, dengan asumsi variable bebas yang berpengaruh cukup banyak.
b.    Kurang dapat menggambarkan proses perkembangan penyakit secara tepat.
c.    Faktor-faktor risiko tidak dapat diukur secara akurat dan akan mempengaruhi hasil penelitian.
d.    Nilai prognosanya atau prekdisinya (daya ramal) lemah atau kurang tepat.
e.    Korelasi faktor risiko dengan dampaknya adalah paling lemah bila dibandingkan dengan rancangan penelitian analitik yang lainnya.
f.     Kesimpulan hasil penelitian berkaitan dengan kekuatan rancangan yang disusun sangat berpengaruh, umumnya kekuatan rancangan yang baik adalah sekitar 40%, artinya hanya sebesar 40% variable bebas atau faktor risiko mampu menjelaskan variable terikat atau dampak, sisanya yaitu 60% tidak mampu dijelaskan dengan model yang dibua

Penelitian “Cross-Sectional” (skripsi dan tesis)

Kalau pada penelitian kohor dan kasus kelola ada pendekatan periode waktu tertentu (period time approach) baik secara prospektif (ke depan) maupun retrospektif (ke belakang), pada penelitian cross-sectional waktunya hanya pada saat observasi saja (point time approach). Oleh karenanya, metode ini sering pula disebut sebagai penelitian prevalensi atau kadang-kadang disebut sebagai survai. Disebut sebagai penelitian prevalensi karena hasil penelitian hanya dapat menghitung angka prevalensi yaitu angka yang menggambarkan banyaknya kasus (baru dan lama) pada periode tertentu saja. Penelitian ini yang merupakan penelitian yang paling lemah diantara penelitian epidemiologik lainnya, dapat dipakai sebagai tahap pertama dalam penelitian kohor atau dapat pula digunakan untuk rnencari kelompok kasus dan kelompok kontrol dalam penelitian kasus kelola. Akan tetapi, biasanya penelitian inilah yang paling sering dilakukan, umpamanya dalam Survai Kesehatan Rumah Tangga dan Survai Demografi Kesehatan Indonesia. Dari survai-survei tersebut, dapat diketahui umpamanya data tekanan darah ibu hamil, proporsi akseptor KB dan prevalensi penyakit kencing manis. Keunggulan metode penelitian ini antara lain mudah dilaksanakan, relatif murah, menghasilkan angka prevalensi dan dapat mengamati banyak variabel. Sedangkan keterbatasannya tidak dapat meneliti kondisi atau kasus penyakit yang sedikit (rare)

banyak “bias” yang timbul, kurang baik untuk meramalkan kecenderungan, memerlukan sampel besar, kurang akurat untuk menggambarkan suatu penyakit dan faktor risiko serta tidak dapat menghitung angka insidensi

Penelitian Kasus Kelola (skripsi dan tesis)

Sebenaraya, informasi yang diharapkan dari penelitian kasus kelola hampir sama dengan yang dihasilkan dari penelitian kohor, tetapi waktunya lebih pendek dan jauh lebih efisien. Penelitian ini yang juga sering disebut sebagai penelitian retrospektif merupakan bagian dari epidemiologi modern. Berbeda dari penelitian kohor yang subjek penelitiannya diambil berdasarkan status keterpaparan (exposure status), penelitian kasus kelola memilih kelompok kasus dan kelompok kelola berdasar status penyakit (disease status), sehingga secara umum harus terbebas dari status keterpaparan. Disamping itu, kelompok kelola harus berasal dari populasi yang sama dengan kelompok kasus, sehingga bila kelompok kelola tersebut mempunyai penyakit yang diamati, maka kelompok kelola tersebut seharusnya menjadi kelompok kasus.
 Sebagai catatan, status penyakit yang dimaksud di sini tidak melulu mengidap atau tidak mengidapnya seseorang terhadap suatu penyakit, tetapi dapat juga umpamanya sudah meninggal atau masih hidupnya seorang bayi. Pada penelitian ini, setelah 2 kelompok subyek dipilih, ditanyakan atau diamati faktor faktor yang mempengaruhi status penyakit tersebut secara retrospektif, entah 1 tahun yang lalu ataupun beberapa waktu yang lalu. Untuk melihat faktor faktor yang mempengaruhi kematian perinatal umpamanya, ditanyakan tentang ada tidaknya pemeriksaan kehamilan, komplikasi hamil, komplikasi bersalin, penolong persalinan, faktor lingkungan, status sosial ekonomi dan pendidikan ibu. Keunggulan metode ini terutama dapat digunakan dengan kasus penyakit yang sedikit, umpamanya terhadap ADDS, kematian perinatal dan maternal. Disamping itu, relatif murah, waktunya relatif singkat dan penelitiannya merupakan penelitian yang relatif kecil. Sebaliknya kritik terhadap metode penelitian ini, karena adanya banyak “bias”.
Masalah “selection bias” terjadi karena sulitnya memilih kelompok kasus dan kelompok kelola. Bias yang lain adalah “information bias” atau “recall bias”. Contohnya, seorang ibu yang kehilangan anaknya akan selalu lebih ingat kejadian-kejadian terdahulu daripada seorang ibu yang anaknya masih segar bugar pada saat wawancara. Atau seorang ibu yang bayinya cacad (kelompok kasus) akan selalu lebih ingat obat yang dimakan pada trimester pertama kehamilannya dibanding dengan ibu yang bayinya normal. Sementara itu, dalam penelitian ini hanya dapat diamati satu variabel tidak bebas saja. Keterbatasan yang lain adalah tidak dapat dihitungnya angka insidensi.

Penelitian Kohor (skripsi dan tesis)

Penelitian kohor dikenal juga sebagai longitudinal studies, prospective studies ataupun follow-up studies. Pada penelitian ini, sampel yang semula bebas dari suatu penyakit tetapi berbeda status paparan (exposure) nya, diikuti sampai waktu tertentu. Keunggulan metodf ini terutama karena dapat menghitung angka insidensi (incidence rate), yaitu angka yang mencerminkan kasus baru suatu penyakit. Pisamping itu juga dapat mengeksplorasi lebih dari satu variabel tergantung (outcome), nyaris tanpa “bias” dan dapat menetapkan angka risiko secara langsung dari satu saat ke saat yang lain. Sebaliknya, karena waktu yang diperlukan untuk penelitian ini relatif lebih lama dan memerlukan jumlah sampel yang cukup besar, maka penelitian ini sangat mahal dantidak efisien. Keterbatasan lainnya, kadang-kadang hasil penelitian ini berlakunya tidak cukup lama. Sementara itu, subyek yang dipakai sebagai sampel ada saja yang tidak dapat diikuti sampai selesai (drop out).

Dasar Pengetahuan kesehatan Reproduksi pada Remaja (skripsi dan tesis)

Menurut BKKBN (2008), dasar pengetahuan kesehatan reproduksi yang perlu diketahui remaja yaitu : 1) Pengetahuan tentang perubahan fisik, kejiwaan, dan kematangan seksual. Misalnya informasi tentang haid dan mimpi basah, tentang alat reproduksi remaja laki-laki dan perempuan. 2) Proses reproduksi yang bertanggung jawab sebagai bekal pemahaman seks bagi kebutuhan manusia secara biologis, menyalurkan dan mengendalikan naluri seksual yang menjadi kegiatan positif seperti olahraga atau hobi yang bermanfaat. Sementara penyaluran berupa hubungan seksual hanya untuk melanjutkan keturunan yaitu dengan cara menikah terlebih dahulu. 3) Pergaulan yang sehat antara remaja laki-laki dan perempuan, serta kewaspadaan terhadap masalah remaja yang banyak ditemukan. Remaja juga memerlukan pembekalan tentang kiat untuk mempertahankan diri secara fisik maupun psikis dan mental dalam menghadapi berbagai godaan, seperti ajakan untuk melakukan hubungan seksual diluar nikah dan penggunaan NAPZA. 4) Persiapan pranikah. Informasi ini diperlukan agar calon pengantin lebih siap secara mental dan emosional dalam memasuki kehidupan berkeluarga. 5) Kehamilan dan persalinan, serta cara pencegahannya. Remaja perlu mengetahui tentang hal ini, sebagai persiapan remaja laki-laki dan perempuan dalam memasuki kehidupan berkeluarga masa depan.

Pengertian Kesehatan Reproduksi Remaja (skripsi dan tesis)

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi, komponen, dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak hanya bebas dari penyakit atau bebas dari kecacatan, namun juga sehat secara mental dan sosial budaya (BKKBN, 2008)

Pengertian Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Menurut WHO (1992), sehat adalah suatu keadaan yang lengkap meliputi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial bukan semata-mata bebas dari penyakit atau kelemahan. Hal ini diharapkan agar adanya keseimbangan yang serasi dalam interaksi antara individu dengan masyarakat dan makhluk hidup lain serta lingkungannya (Mubarak, 2009). Menurut WHO (1994), kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan kesejahteraan fisik, emosional, mental dan sosial yang utuhberhubungan dengan reproduksi, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan namun dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Individu yang sehat secara reproduksi memiliki cara pendekatan yang positif dan penuh rasa hormat terhadap seksualitas dan hubungan seksual, mereka juga berpotensi untuk merasakan kesenangan dan pengalaman seksual yang aman, bebas dari paksaan, diskriminasi dan kekerasan (Potter & Perry, 2009). Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2000), kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi, serta proses reproduksi yang pemikiran kesehatan reproduksi 10 bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit melainkan bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan seksual yang aman (Triwibowo & Pusphandani, 2015)

Hubungan Media dengan Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Penggunaan media terkait dengan kesehatan reproduksi menjadi hal yang dilematis. Di satu sisi, media dapat memberikan informasi yang tepat mengenai kesehatan reproduksi. Namun tidak sedikit remaja yang menggunakan media secara tidak tepat, misalnya melihat gambar dan video porno. Berdasarkan penelitian Andriani, dkk. (2016) yang dilakukan pada siswa SMK Negeri 1 Kendari didapatkan hasil bahwa akses media informasi yang negatif menjadi faktor yang membuat perilaku seksual remaja menjadi berisiko (p value= 0,001). Peran media menjadi penting dalam membentuk pengetahuan seorang remaja dalam memahami masalah kesehatan reproduksi. Informasi yang kurang tepat, akan sangat mempengaruhi pengetahuan yang menjadi kurang tepat juga. Sumber informasi itu dapat diperoleh dengan bebas mulai dari teman sebaya, bukubuku, film, video, sosial media, bahkan dengan mudah membuka situs-situs lewat internet. Berdasarkan hasil penelitian pada santri di Pondok Pesantren Darut Taqwa Bulusan Semarang keragaman jenis media informasi pada kategori banyak terpapar ≥5 jenis media informasi berhubungan dengan kesehatan reproduksi dengan p value= 0,001 (Sidik, 2015). Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Nurmasnyah, dkk. (2013) pada mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta didapatkan hasil bahwa media, baik cetak maupun elektronik, telah menyumbangkan informasi terkait dengan kesehatan reproduksi. Materi yang ada dalam kesehatan reproduksi pada media seperti penundaan usia kawin, HIV-AIDS, 28 infeksi menular seksual (IMS), iklan kondom, narkoba, minuman keras dan mencegah kehamilan. Hasil penelitian Putri (2015) pada remaja di SMP 3 Muhammadiyah Wirobrajan didapatkan hasil p value= 0,000. Artinya, terdapat hubungan secara signifikan antara pemanfaatan media massa dengan tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja. Dengan pemanfaatan media massa yang tinggi akan menambah pengetahuan seseorang menjadi lebih baik sehingga membantu seorang dalam pemahaman tentang pentingnya mengetahui kesehatan reproduksi pada remaja.

Hubungan Peran Keluarga dengan Kesehatan Reproduksi (skripsid an tesis)

Keluarga merupakan pendidik pertama dan utama bagi anaknya. Keluarga merupakan benih akal penyusunan kematangan individu dan struktur kepribadian. Anak-anak mengikuti orang tua dan berbagai kebiasaan dan perilaku dengan demikian keluarga adalah elemen pendidikan lain yang paling nyata, tepat dan amat besar (Putri dalam Andriani, dkk., 2016). Pengetahuan dan persepsi yang salah tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi dapat menyebabkan remaja berperilaku berisiko terhadap kesehatan reproduksinya. Oleh karena itu, peran orang tua dan guru menjadi penting dalam mendampingi remaja mencari dan menemukan informasi kesehatan reproduksi yang tepat (Kemenkes RI, 2018). Hasil penelitian Andriani, dkk. (2016) diketahui bahwa peran kelurga berhubungan secara signifikan dengan perilaku seksual remaja (p value= 0,004). Dimana semakin negatif peran keluarga maka semakin besar kemungkinan mereka untuk melakukan perilaku seksual yang berisiko. Perilaku seksual yang berisiko tersebut dapat memperburuk kesehatan reproduksi remaja. Orang tua diharapkan  memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang seksual, menyediakan waktu yang cukup, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sehingga remaja akan lebih yakin dan tidak merasa canggung untuk membicarakan topik yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi.
Menurut Uyun (2013) orang tua diharapkan mampu mendidik anak dengan 5 fungsi, diantaranya fungsi yang pertama yaitu fungsi religius dengan mendidik dan mengajak anak pada kehidupan yang beragama. Kedua, fungsi edukatif dengan mengajar dan memberi informasi tentang kesehatan reproduksi pada anak. Ketiga, fungsi protektif dengan melarang atau menghindarkan anak dari perbuatanperbuatan yang tidak diharapkan, mengawasi atau membatasi perbuatan anak dalam hal-hal tertentu, menganjurkan untuk melakukan perbuatan yang diharapkan mengajak bekerja sama dan saling membantu, memberi contoh yang tauladan. Fungsi keempat yaitu fungsi sosialis dengan mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik. Sehingga diperlukan fungsi sosialisasi dari orangtua sebagai penghubung dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial. Kelima, fungsi ekonomi dengan memberi nafkah dan menyediakan barang yang dibutuhkan anak untuk kebersihan diri guna mendukung kesehatan reproduksi (Uyun, 2013). Hasil penelitian Nurmasnyah Nurmasnyah, dkk. (2013) diketahui bahwa peran orang tua sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi lebih rendah dibandingkan teman sebaya. Responden lebih suka membicarakan atau menanyakan tentang kesehatan reproduksi kepada temannya dibandingkan orang tuanya. Hal tersebut menunjukkan kurangnya peran keluarga dalam kesehatan reproduksi.

Hubungan Sikap dengan Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

 Manusia dilahirkan dengan sikap pandangan atau sikap perasaan tertentu, tetapi sikap terbentuk sepanjang perkembangan. Peranan sikap dalam kehidupan manusia sangat besar. Bila sudah terbentuk pada diri manusia, maka sikap itu akan turut menentukan cara tingkah lakunya terhadap objek–objek sikapnya. Adanya sikap akan menyebabkan manusia bertindak secara khas terhadap objeknya (Gerungan, 2012). Menurut Nurhakim, dkk. (2018) berdasarkan hasil penelitiannya terhadap siswa SMAN 4 Garut diketahui bahwa masih banyak sikap remaja yang tidak mendukung kesehatan reproduksi karena mereka menganggap bahwa masalah seks masih tabu atau kurang sopan untuk dibicarakan, terutama pada pada orang tua. Padahal setiap remaja bisa membicarakan hal ini dengan guru disekolah dan orangtua selama dirumah agar informasi yang didapatkan benar. Sikap yang baik (positif) akan suatu hal akan membuat seseorang tidak melakukan tindakan yang negatif yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi.
Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Aritonang (2015) didapatkan hasil  bahwa seseorang yang memiliki sikap positif (baik) maka semakin negatif untuk melakukan hubungan seksual pra nikah dengan p value= 0,001, yang mana hubungan seksual pra nikah ini dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi. Hasil penelitian Fitri dan Masyudi (2017) pada remaja putri di SMA Negeri 2 Takengon didapatkan hasil p value= 0,05. Artinya, terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dengan kesehatan reproduksi pada remaja putri. Semakin negatif sikap remaja putri maka semakin tinggi masalah kesehatan reproduksi.

Hubungan Pengetahuan dengan Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Pengetahuan diawali dari rasa ingin tahu yang ada dalam diri manusia. Pengetahuan selama ini diperoleh dari proses bertanya dan selalu ditujukan untuk menemukan kebenaran (Hendra, 2008). Pengetahuan dasar tentang kesehatan reprosuksi pada remaja menurut Kemenkes RI salah satunya yaitu pengenalan dan mengetahui tentang proses, fungsi, dan sistem alat reproduksi. Pengetahuan dan persepsi yang salah tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi dapat menyebabkan remaja berperilaku berisiko terhadap kesehatan reproduksinya sehingga sangat penting untuk melihat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi (Kemenkes RI, 2018). Remaja yang mempunyai pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi dapat berhati-hati dalam melangkah. Remaja akan dapat memberikan penilaian mengenai patut tidaknya melakukan melakukan hubungan seksual dengan pasangannya sebelum menikah. Penilaian yang dibuat remaja tersebut dilakukan secara sadar bukan keterpaksaan (Imron, 2012). Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi sangat diperlukan oleh remaja. Hal ini dikarenakan dengan memiliki informasi dan pengetahuan yang benar maka remaja akan banyak mengambil manfaat. Dampak positif dari pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi yaitu dapat mencegah perilaku seks pranikah serta dampaknya termasuk kehamilan tidak di inginkan, HIV/AIDS, dan IMS dapat dicegah (Oie, 2014). Pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi dapat berpengaruh dengan ada atau tidaknya masalah kesehatan reproduksi terutama pada remaja. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Fitri dan Masyudi (2017) pada remaja putri di SMA Negeri 2 Takengon didapatkan hasil p value= 0,05. Artinya, terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kesehatan reproduksi pada remaja putri.
Hasil penelitian Winerungan, dkk. (2013) pada remaja di SMP negeri 8 Manado didapatkan hasil bahwa pengetahuan berpengaruh dengan kejadian iritasi vagina yang merupakan masalah kesehatan reproduksi dengan p value= 0,000. 24 Artinya, semakin kurang tingkat pengetahuan yang dimiliki remaja maka semakin tinggi kejadian iritasi vagina yang merupakan masalah kesehatan reproduksi. Hasil penelitian Sugiarto (2012) juga menunjukkan bahwa pengetahuan yang kurang tentang kesehatan reproduksi dapat menimbulkan masalah kesehatan reproduksi (kurangnya perilaku pencegaha keputihan). Dari penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan perilaku pencegaha keputihan (p value= 0,008

Organ Reproduksi Wanita (skripsi dan tesis)

Organ reproduksi wanita dibagi menjadi dua yaitu organ reroduksi dalam dan luar (Widyastuti, 2012).
 1) Organ reproduksi luar
 a. Mons veneris (Rambut Kemaluan) Merupakan suatu bangunan yang terdiri atas kulit yang di bawahnya terdapat jaringan lemak menutupi tulang kemaluan/simphisis. Mons veneris ditutupi rambut kemaluan. Fungsi Mons veneris adalah sebagai pelindung terhadap benturan-benturan dari luar dan dapat menghindari infeksi dari luar dan berfungsi untuk melindungi alat genetalia dari masuknya kotoran selain itu untuk estetika (Irianto, 2014). b. Labia Mayora (bibir besar) Terdiri atas bagian kanan dan kiri lonjong mengecil ke bawah dan bersatu di bagian bawah. Bagian luar labia mayora terdiri dari kulit berambut, kelenjar lamak, dan kelenjar keringat. Bagian dalamnya tidak berambut dan mengandung kelenjar lemak, bagian ini mengandung banyak ujung syaraf sehingga sensitif terhadap hubungan seks. Berfungsi untuk menutupi organorgan genetalia di dalamnya dan mengeluarkan cairan pelumas pada saat menerima rangsangan seksual (Irianto, 2014). c. Labia Minora (bibir kecil) Merupakan lipatan kecil di bagian dalam labia mayora. Bagian depannya mengelilingi klitoris. Kedua labia ini mempunyai pembuluh darah, sehingga dapat menjadi besar saat keinginan seks bertambah. Labia ini analog dengan kulit skrotum pada pria. Berfungsi untuk menutupi organ-organ genetalia di dalamnya serta merupakan daerah erotik yang mengandung pambuluh darah dan syaraf (Irianto, 2014).  d. Klitoris Merupakan bagian yang erektil, seperti penis pada wanita. Mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf sehingga sangat sensitif saat hubungan seks (Irianto, 2014). e. Vestibulum (Vestibula) Bagian kelamin ini dibatasi oleh kedua labia kanan-kiri dan bagian atas oleh klitoris serta bagian belakang pertemuan labia minora. Pada bagian vestibulum terdapat muara vagina (liang senggama), saluran kencing, kelenjar Bartholini dan kelenjar Skene. Berfungsi untuk mengeluarkan cairan apabila ada rangsangan seksual yang berguna untuk melumasi vagina pada saat bersenggama (Irianto, 2014). f. Himen (selaput dara) Merupakan selaput tipis yang menutupi sebagian lubang vagina luar. Pada umumnya himen berlubang sehingga menjadi saluran aliran darah menstruasi atau cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar rahim dan kelenjar endometrium (lapisan dalam rahim) (Widyastuti, 2012).
 2) Organ Reproduksi dalam a. Vagina (Liang Kemaluan) Merupakan saluran muskulo-membranasea (otot-selaput) yang menghubungkan rahim dengan dunia luar. Bagian ototnya berasal dari otot levator ani dan otot sfingter ani (otot dubur) sehingga dapat dikendalikan dan dilatih. Dinding vagina mempunyai lipatan sirkuler (berkerut) yang disebut “rugae”. Berfungsi sebagai sebagai jalan lahir bagian lunak, sebagai sarana hubungan seksual, saluran untuk mengalirkan lendir dan darah menstruasi (Irianto, 2014). b. Rahim (Uterus) Bentuk rahim seperti buah pir atau alpukat, dengan berat sekitar 30 gram. Terletak di panggul kecil diantara rektum (bagian usus sebelum dubur) dan di depannya terletak kandung kemih. Hanya bagian bawahnya disangga oleh ligamen yang kuat, sehingga bebas untuk tumbuh dan berkembang saat kehamilan. Berfungsi sebagai alat tempat terjadinya menstruasi, sebagai alat tumbuh dan berkembangnya hasil konsepsi, tempat pembuatan hormon misal HCG (Irianto, 2014). c. Tuba Fallopii (Saluran telur) Tuba Fallopii berasal dari ujung ligamentum latum berjalan ke arah lateral, dengan panjang sekitar 12 cm. Tuba Fallopii bukan merupakan saluran lurus, tetapi mempunyai bagian yang lebar sehingga membedakannya menjadi empat bagian. Tuba fallopii merupakan bagian yang paling sensitif terhadap infeksi dan menjadi penyebab utama terjadinya kemandulan (infertilitas). Fungsi tuba fallopii sangat vital dalam proses kehamilan, yaitu menjadi saluran tempat bertemunya spermatozoa dan ovum, mempunyai fungsi penangkap ovum, tempat terjadinya pembuahan (fertilitas), menjadi saluran dan tempat pertumbuhan hasil pembuahan sebelum mampu menanamkan diri pada lapisan dalam Rahim (Irianto, 2014). d. Indung Telur (Ovarium) Indung telur terletak antara rahim dan dinding panggul, dan digantung ke rahim oleh ligamentum ovarii proprium dan ke dinding panggul oleh ligamentum infundibulo-pelvikum. Indung telur merupakan sumber hormonal perempuan yang paling utama, sehingga mempunyai dampak keperempuanan dalam pengatur proses menstruasi. Indung telur mengeluarkan telur (ovum) setiap bulan silih berganti kanan dan kiri. Pada saat telur (ovum) dikeluarkan perempuan di sebut “dalam masa subur”. Fungsi ovarium adalah sebagai penghasil sel telur/ovum, sebagai organ yang menghasilkan hormon (estrogen dan progesteron) (Irianto, 2014). e. Parametrium (Penyangga rahim) Merupakan lipatan peritonium dengan berbagai penebalan, yang menghubungkan rahim dengan tulang panggul. Lipatan atasnya mengandung tuba fallopii dan ikut serta menyangga indumg telur. Bagian ini sensitif terhadap infeksi sehingga mengganggu fungsinya (Widyastuti, 2012). 2.2 Hubungan Pengetahuan dengan Kesehatan Reproduksi

Unsur-unsur Kesehatan Reproduksi Remaja (skripsi dan tesis)

Remaja merupakan fase kehidupan manusia yang spesifik, pada saat usia remaja terjadi peningkatan hormon-hormon seksual. Peristiwa ini berdampak macam-macam pada fisik dan jiwa remaja. Secara fisik akan muncul apa yang disebut sebagai tanda-tanda seks sekunder seperti payudara membesar, bulu-bulu kemaluan tumbuh, haid pada perempuan, dan mimpi basah pada laki-laki. Secara 16 psikologis muncul dorongan birahi yang besar tetapi juga secara psikologis mereka masih dalam peralihan dari anak-anak kedewasa. Secara biologis aktivitas organ dan fungsi reproduksi mereka meningkat pesat tetapi secara psikoloogis aktivitas organ dan fungsi reproduksi mereka meningkat pesat tetapi secara psikologis dan sosiologis mereka dianggap belum siap menjadi dewasa. Konflik yang terjadi antara berbagai perkembangan tersebut membuat mereka juga beresiko mengalami masalah kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi tersendiri (Widyastuti, 2012). Oleh karena itu kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi remaja perlu ditangani secara khusus dengan cara-cara yang ditunjukkan untuk menyiapkan mereka menjadi remaja (yang kelak menjadi orang tua) yang bertanggung jawab. Mereka bukan saja memerlukan informasi dan pendidikan, tetapi juga pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi mereka. Pemberian informasi dan pendidikan tersebut harus dilakukan dengan menghormati kerahasiaan dan hak-hak privasi lain mereka. Masalah kesehatan seksual dan reproduksi adalah isu-isu seksual remaja, termasuk kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi tidak aman, penyakit menular melalui seks, dan HIV/AIDS, dilakukan pendekatan melalui promosi perilaku seksual yang bertanggung jawab dan reproduksi yang sehat, termasuk disiplin pribadi yang mandiri serta dukungan pelayanan yang layak dan konseling yang sesuai secara spesifik untuk umur mereka. Hal-hal yang ada seputar kesehatan reproduksi remaja antara lain.
 1. Kesehatan Alat-Alat Reproduksi
 Masalah-masalah yang berkaitan dengan kondisi kesehatan alat-alat reproduksi ini menyentuh remaja perempuan juga remaja laki-laki. Masalah-  masalah yang dihadapi remaja perempuan antara lain adalah payudara mengeluarkan cairan, benjolan pada payudara, masalah seputar haid (nyeri haid yang tidak teratur), keputihan, dan infeksi saluran reproduksi. Selain itu juga diajukan pertanyaan-pertanyaan, seputar siklus haid, waktu terjadinya masa subur, masalah keperawanan dan masalah jerawat (Widyastuti, 2012).
 2. Hubungan dengan Pacar
 Persoalan-persoalan yang mewarnai hubungan dengan pacar adalah masalah kekerasan oleh pacar, tekanan untuk melakukan hubungan seksual, pacar cemburuan, pacar berselingkuh dan bagai mana menghadapi pacar yang pemarah. Tindakan seseorang dapat digolongkan sebagai tindak kekerasan dalam percintaan bila salah satu pihak merasa terpaksa, tersinggung dan disakiti dengan apa yang telah di lakukan pasangannya (Irianto, 2014).
3. Masturbasi
 Masturbasi atau onani adalah salah satu cara yang dilakukan jika seseorang tidak mampu mengendalikan dorongan seksual yang dirasakannya. Jika dibandingkan dengan melakukan hubungan seksual, maka onani dapat dikatakan mengandung resiko yang lebih kecil bagi pelakunya untuk menghadapi kehamilan yang tidak dikehendaki dan penularan penyakit menular seksual. Bahaya onani adalah apabila dilakukan dengan cara tidak sehat misalnya menggunakan alat yang bisa menyebabkan luka atau infeksi. Onani juga bisa menimbulkan masalah bila terjadi ketergantungan/ketagihan, bisa juga menimbulkan perasaan bersalah (Irianto, 2014).
 4. Hubungan Seksual Sebelum Nikah
Para remaja berpacaran dewasa ini berkisar dari melakukan ciuman bibir, raba-raba daerah sensitif, saling menggesekkan alat kelamin (petting) sampai ada pula yang melakukan senggama. Perkembangan zaman juga mmpengaruhi perilaku seksual dalam berpacaran para remaja. Hal ini dapat dilihat bahwa hal-hal yang ditabukan remaja pada beberapa tahun yang lalu seperti berciuman dan bercumbu, kini sudah dianggap biasa. Bahkan, ada sebagian kecil dari mereka setuju dengan free sex. Perubahan dalam nilai ini, misalnya terjadi dengan pandangan mereka terhadap hubungan seksual sebelum menikah (Irianto, 2014).
5. Penyakit Menular Seksual
Hubungan seksual sebelum menikah juga berisiko terkena penyakit menular seksual seperti sifilis, gonorhoe (kencing nanah), herps sampai terinfeksi HIV.
6. Aborsi
Salah satu cara menghadapi kehamilan yang tidak di inginkan adalah dengan melakukan tindakan aborsi. Aborsi masih merupakan tindakan yang ilegal di Indonesia. Upaya sendiri untuk melakukan aborsi banyak dilakukan dengan mengkonsumsi obat-obatan tertentu, jamu, dan lain-lain (Irianto, 2014).

Hak-Hak Reproduksi (skripsi dan tesis)

Hak-hak reproduksi menurut kesepakatan dalam Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan bertujuan untuk mewujudkan kesehatan bagi individu secara utuh, baik kesehatan jasmani maupun rohani, meliputi : 1. Hak mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi 2. Hak mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi 3. Hak kebebasan berfikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi 4. Hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan 5. Hak untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak 6. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksinya 7. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual 8. Hak mendapatkan manfaat kemajuan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya 9. Hak atas pelayanan dan kehidupan reproduksinya 10. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga  11. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi 12. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi (Widyastuti, 2012).
Menurut BKKBN 2016, kebijakan teknis operasional di Indonesia, untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak reproduksi: 1. Promosi hak-hak reproduksi Dilaksanakan dengan menganalisis perundang-undangan, peraturan, dan kebijakan saat ini berlaku apakah sudah seiring dan mendukung hak-hak reproduksi dengan tidak melupakan kondisi lokal sosial budaya masyarakat. 2. Advokasi hak-hak reproduksi Advokasi dimaksudkan agar mendapat dukungan komitmen dari para tokoh politik tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM/LSOM, dan swasta. 3. KIE hak-hak reproduksi Dengan KIE diharapkan masyarakat semakin mengerti hak-hak reproduksi sehingga dapat bersama-sama mewujudkannya. 4. Sistem pelayanan hak-hak reproduksi

Perkembangan Kesehatan Reproduksi Remaja (skripsi dan tesis)

Masa remaja juga dicirikan dengan banyaknya rasa ingin tahu pada diri seseorang dalam berbagai hal, tidak terkecuali bidang seks. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, organ reproduksi pun mengalami perkembangan dan pada akhirnya akan mengalami kematangan. Pada masa pubertas, hormon-hormon yang mulai berfungsi selain menyebabkan perubahan fisik/tubuh juga mempengaruhi dorongan seks remaja (BKKBN, 2011). Remaja mulai merasakan dengan jelas meningkatnya dorongan seks dalam dirinya, misalnya muncul ketertarikan dengan orang lain dan keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual. Kematangan organ reproduksi dan perkembangan psikologis remaja yang mulai menyukai lawan jenisnya serta arus media informasi baik elektronik maupun non elektronik akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual individu remaja tersebut (Mappiare, 2012). Sebagai akibat proses kematangan sistem reproduksi ini, seorang remaja sudah dapat menjalankan fungsi prokreasinya, artinya sudah dapat mempunyai keturunan. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa remaja sudah mampu bereproduksi dengan aman secara fisik. Usia reproduksi sehat untuk wanita adalah antara 20 – 30 tahun. Faktor yang mempengaruhinya ada bermacam-macam. Misalnya, sebelum wanita berusia 20 tahun secara fisik kondisi organ reproduksi seperti rahim belum cukup siap untuk memelihara hasil pembuahan dan pengembangan janin. Selain itu, secara mental pada umur ini wanita belum cukup matang dan dewasa. Ibu muda biasanya kemampuan perawatan pra-natal kurang  baik karena rendahnya pengetahuan dan rasa malu untuk datang memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan (BKKBN, 2011). Salah satu masalah yang sering timbul pada remaja terkait dengan masa awal kematangan organ reproduksi pada remaja adalah perilaku seks bebas (free sex) masalah kehamilan yang terjadi pada remaja usia sekolah diluar pernikahan, dan terjangkitnya penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS (BKKBN, 2011)

Ruang Lingkup Kesehatan Repoduksi (skripsi dan tesis)

Secara garis besar, ruang lingkup kesehatan reproduksi (BKKBN, 2011) meliputi: 1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir 2. Kesehatan reproduksi remaja 3. Pencegahan dan penanggulangan pada penyimpangan seksual dan napza yang dapat berakibat pada HIV/AIDS 4. Kesehatan reproduksi pada usia lanjut Uraian ruang lingkup kesehatan reproduksi remaja berdasarkan pada pendekatan siklus kehidupan, yakni memperhatikan kekhususan kebutuhan penanganan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar fase kehidupan tersebut. Ini dikarenakan masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase kehidupan dapat diperkirakan, maka apabila tidak ditangani dengan baik maka akan berakibat buruk bagi masa kehidupan selanjutnya Salah satu ruang lingkup kesehatan reproduksi dalam siklus kehidupan adalah kesehatan reproduksi remaja. Tujuan dari program kesehatan reproduksi remaja adalah untuk membantu remaja agar memahami kesehatan reproduksi, sehingga remaja memiliki sikap dan perilaku sehat serta bertanggung jawab kaitannya dengan masalah kehidupan reproduksi (Widyastuti dkk., 2012).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi (Taufan, 2010) yaitu: 1. Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan kurangnya pengetahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil). 2. Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain, kurangnya peran orang tua dalam mendidik dan menawasi anak, dsb).  3. Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua dan remaja, depresi karena ketidak seimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita terhadap pria yang memberi kebebasan secara materi). 4. Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual)

Perubahan Fisik Yang Mulai Menandai Kematangan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Terjadi pertumbuhan fisik yang cepat pada remaja, termasuk pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ seksual) untuk mencapai kematangan, sehingga  mampu melangsungkan fungsi reproduksi. Perubahan ini ditandai dengan munculnya tanda-tanda sebagai berikut. 1. Perubahan seks primer Perubahan seks primer ditandai dengan mulai berfungsinya alat-alat reproduksi yaitu ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki. 2. Perubahan seks sekunder Pada remaja putri yaitu pinggul melebar, pertumbuhan rahim dan vagina, payudara membesar, tumbuh rambut di ketiak dan sekitar kemaluan atau pubis. Pada remaja laki-laki yaitu terjadi perubahan suara, tumbuhnya jakun, penis dan buah zakar bertambah besar, terjadinya ereksi dan ejakulasi, dada lebih besar, badan berotot, tumbuhnya kumis, cabang dan rambut disekitar kemaluan dan ketiak (Kemenkes RI, 2010).

Pengertian Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Reproduksi berasal dari kata re yang artinya kembali dan kata produksi artinya membuat atau menghasilkan. Jadi istilah reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya. Sedangkan yang disebut organ reproduksi adalah pertumbuhan tulangtulang dan kematangan seksual yang berfungsi untuk reproduksi manusia, yang terjadi masa remaja. Kesehatan reproduksi menurut Kemenkes RI (2015) adalah keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi. Ruang lingkup pelayanan kesehatan repoduksi menurut International Conference Population and Development (ICPD) tahun 1994 di Kairo terdiri dari kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pencegahan dan penanganan infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS, kesehatan reproduksi remaja, pencegahan dan penanganan komplikasi aborsi, pencegahan dan penanganan infertilitas, kesehatan reproduksi usia lanjut, deteksi dini kanker saluran reproduksi serta kesehatan reproduksi lainnya seperti kekerasan seksual, sunat perempuan dan sebagainya.
Kesehatan reproduksi menurut Depkes RI adalah suatu keadaan sehat, secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kedudukan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi serta proses reproduksi, dan pemikiran kesehatan reproduksi 10 bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit, melainkan juga bagaimana seseorang dapat memiliki seksual yang aman dan memuaskan sebelum dan sudah menikah (Nugroho, 2010). Guna mencapai kesejahteraan yang berhubungan dengan fungsi dan proses sistem reproduksi, maka setiap orang (khususnya remaja) perlu mengenal dan memahami tentang hak-hak reproduksi berikut ini. 1. Hak untuk hidup 2. Hak mendapatkan kebebasan dan keamanan 3. Hak atas kesetaraan dan terbebas dari segala bentuk diskriminasi 4. Hak privasi 5. Hak kebebasan berpikir 6. Hak atas informasi dan edukasi 7. Hak memilih untuk menikah atau tidak, serta untuk membentuk dan merencanakan sebuah keluarga 8. Hak untuk memutuskan apakah ingin dan kapan mempunyai anak 9. Hak atas pelayanan dan proteksi kesehatan 10. Hak untuk menikmati kemajuan ilmu pengetahuan 11. Hak atas kebebasa berserikat dan berpartisipasi dalam arena politik 12. Hak untuk terbebas dari kesakitan dan kesalahan pengobatan (Kemenkes RI, 2010)

Pengertian aktivitas fisik (skripsi dan tesis)

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga dan energi sehingga menyebabkan pembakaran energi. Energi yang diperlukan untuk melakukan aktivitas fisik bervariasi menurut tingkat intensitas dan lama melakukan aktivitas fisik. Semakin berat dan semakin lama aktivitas fisik dilakukan, maka semakin tinggi energi yang diperlukan . Upaya menurunkan berat badan melalui aktivitas fisik umumnya hanya menurunkan berkisar 2-3%, sedangkan olahraga mempengaruhi kecepatan penurunan berat badan menurut frekuensi dan durasinya

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi (skripsi dan tesis)

Faktor yang mempengaruhi konsumsi panngan yang dimakan seseorang menurut Khomsan (2006), adalah faktor ekonomi dan harga, dan faktor sosial budaya dan religi. Faktor ekonomi dan harga dapat mempengaruhi secara langsung karena perbedaan pendapatan seseorang dapat mempengaruhi perubahan konsumsi mkananan yang dimakan. Faktor sosial budaya dan religi dapat mempengaruhi konsumsi makanan karena kebudayaan seseorang berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan yang digunakan untuk dikonsumsi, kebudayaan juga menentukan makanan yang boleh dimakan atau makanan yang bersifat tabu  . Terdapat faktor lain yang mempengaruhi pola makan seseorang  , yaitu: (1) Presonal Preference, yakni pola makan atau konsumsi seseorang dapat dipengaruhi oleh kesukaan atau ketidaksukaannya terhadap makanan tersebut. perasaan suka tidak suka seseorang terhadap makanan tergantung pada asosiasinya terhadap makanan tersebut; (2) Rasa lapar, nafsu makan, dan rasa kenyang, yang diartikan sebagai, rasa lapar merupakan sensasi yang kurang menyenangkan, karena berhubungan dengan kekurangan makanan. Sebaliknya, nafsu makan adalah sensasi yang menyenangkan berupa keinginan seseorang untuk makan. Ada pula rasa kenyang yaitu perasaan puas karena telah memenuhi keinginan makan

Pengertian konsumsi makanan (skripsi dan tesis)

Konsumsi pangan adalah jenis dan jumlah pangan yang dimakan oleh seseorang dengan tujuan pada waktu tertentu. Mengkonsumsi pangan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan individu secara biologis, psikologis, maupun sosial. Hal ini terkait dengan fungsi makanan yaitu gastronomik, identitas budaya, religi, magis, komunikasi, lambang status ekonomi, kekuatan dan kekuasaan . Asupan zat gizi pada orang dewasa lebih terfokus pada bagaimana memelihara berat badan yang sehat dan latihan fisik, menghindari berat badan yang berlebihan, dan melanjutkan untuk membangun kekuatan. Kebutuhan energi umum orang dewasa ditetapkan melalui batasan makan yang direkomendasikan dan tingkat aktifitas

Edukasi gizi (skripsi dan tesis)

Edukasi gizi menurut Fasli Jalal (2010) adalah suatu proses yang berkesinambungan untuk menambah pengetahuan tentang gizi, membentuk sikap dan perilaku hidup sehat dengan memperhatikan pola makan sehari-hari dan faktor lain yang mempengaruhi makanan, serta meningkatkan derajat kesehatan dan gizi seseorang. Tujuan dari pemberian edukasi gizi adalah mendorong terjadinya perubahan perilaku yang positif yang berhubungan dengan makanan dan gizi8 . Bentuk dari kegiatan edukasi gizi salah satunya adalah penyuluhan. Langkah-langkah dalam melakukan penyuluhan menurut Maulana (2007)9 adalah: (1) Mengenali masalah, masyarakat dan wilayah; (2) Menentukan prioritas penyuluhan; (3) Menentukan tujuan penyuluhan dengan mempertimbangkan tujuan yang jelas, realistis (dapat dicapai) dan dapat diukur; (4) Menentukan sasaran penyuluhan; (5) Menentukan isi penyuluhan; (6) Menentukan metode penyuluhan yang akan digunakan; (7) Memilih alat peraga atau media penyuluhan;  (8) Menyusun rencana penilaian (evaluasi); (9) Menyusun rencana kerja atau rencana pelaksanaan

Karakteristik Siswa SD Usia 10-12 Tahun (skripsi dan tesis)

Anak usia SD umur 10-12 tahun merupakan individu yang sangat aktif dalam melakukan aktivitas fisik dan mengisi waktu luangnya. Mereka tidak bisa tinggal diam selalu bergerak setiap rangsangan dari sekelilingnya selalu dijawab dengan gerakan. Mereka selalu ingin mencoba sesuatu yang dilihatnya. Menurut Sukinta (1992: 43) karakteristik siswa MI/SD Usia 10-12 tahun adalah : a) pertumbuhan otot lengan tungkai makin bertambah b) Ada kesegaran mengenai badannya c) Anak laki-laki lebih menguasai permainan kasar d) Pertumbuhan tinggi dan berat tidak baik e) Kekuatan otot tidak menunjang pertumbuhan f) Waktu reaksi makin baik g) Perbedaan akibat jenis kelamin makinnyata h) Koordinasi makin baik i) Badan lebih sehat dan kuat j) Tungkai mengalami masa pertumbuhan yang lebih kuat bila diban dingkan dengan bagian badan atas. Karakteristi usia anak ini membutuhkan energi yang sangat banyak, energi yang dibutuhkan dproses dari zat gizi yang dikonsumsinya. Terpenuhinya sumber energi yang dan makin banyak gerak akan akan membuat pertumbuhan yang baik disamping dukungan faktor gizi.

Keterkaitan Antara Status Gizi dengan Kesegaran Jasmani (skripsi dan tesis)

Sebagai usaha menunjang pelaksanaan program pemerintah dalam hal peningkatan kesehatan masyarakat, berbagai upaya dapat dilakukan yang bertiik pangkal pada bermacam bidang, berbagai jalur tetapi tujuannya sama. Salah satu cara adalah melakukan aktifitas fisik melalui latihan jasmani atau olahraga.sehubung dengan itu, maka pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan diberikan melalui SD sampai SLTA. Menurut Moelyono (1999: 35), seseorang yang memiliki kondisi gizi yang baik akan tampil aktif, giat bekerja, gembira, jarang sakit. Anak yang ada dalam kondisi kurang gizi pada umumnya lemas, lekas lelah, tidak bergairah, sering sakit dan biasanya kurang dapat melakukan hobinya kerena keadaan tubuhnya lemah. Dengan kata lain anak yang kondisi gizinya baik akan memiliki kecukupan energi yang dibuthkan untuk melakukan aktivitas termasuk di dalamnya aktivitas fisik

Tes Kesegaran Jasmani (skripsi dan tesis)

 Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Menurut Anne Anastasi dalam karya tulisnya (psychological testing) yang dikutip oleh Anas Sudijono (2005: 66), yang dimaksud tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang obyektif sehingga dapat digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis dan tingkah laku individu. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa tes adalah cara (yang dapat dipergunakan/prosedur yang dapt ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian dibidang pendidikan, yang 18 dibentuk pemberian tugas baik berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus di jawab atau perintah, sehingga dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee. Di mana nilai tersebut dibandingkan dengan nilai-nilai yang dicapai oleh testee lainnya, atau dibandingkan dengan nilai standar tertentu. Dalam mengukur tingkat kesegaran jasmani seseorang dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa tes antara lain:
 a) Tes Kesegaran Jasmani Indonesia dari TK-SMA
 TKJI meliputi 5 butir yaitu lari cepat, angkat tubuh, angkat tubuh untuk putra dan gantung siku untuk putri, baring duduk, loncat tegak dan lari jauh. Di setiap tingkat jumlah proporsi tes TKJI dari TK-SMA berbeda-beda hal ini disesuaikan berdasarkan jenis tingkatan kelas atau umur. Sumber: TKJI Depdiknas.PPKJ.2010.
b) Harvard Step Tes Merupakan tes pengukuran dengan naik turun bangku selama 5 menit, digunakan untuk mengukur kardiorespirasi.
 c) Multi State Fitness Tes
 Merupakan tes yang menggunakan irama musik danpelaksanaannya yaitu iramanya secara bertahap dari tahap satu ketahap berikutnya frekwensinya semakin meningkat.
 d) Tes Cooper
 Merupakan tes lari selama 12 menit dimana dalam tes  cooper ini manggunakan istilah kapasitas aerobik karena prooogram standar penafsiran hasil tes disusun berdasarkan prediksi langsung terhadap VO2 maks.
e) Tes A.C.S.P.F.T
 Merupakan tes yang terdiri dari beberapa item yaitu lari cepat 40 meter, lompat jauh tanpa awalan, bergantuang siku tekuk, lari jauh 600 meter, shutle run 4 x 10 meter,sit up 30 detik tekuk togok ke mika Menurut Suryanto dkk dalam jurnal penelitian.
f) Tes Lari 1000 meter
 Intrumen dari tes kesegaran jasmani menurut Diknas PPKJ Tahun 2009 yaitu tes lari 1000 meter bagi usia 10-12 tahun dengan menggunakan norma penilaian

Faktor Yang Mempengaruhi Kesegaran Jasmani (skripsi dan tesis)

.

 Kesegaran jasmani yang baik sangat diperlukan oleh setiap orang. Dari komponen-komponen kesegaran jasmani menunjukkan bahwa kesegaran jasmani ternyata memiliki pengertian yang luas dan kompleks. Kesegaran jasmani yang dibutuhkan setiap orang berbeda, tergantung dari sifat tantangan sifat fisik yang dihadapi. Menurut http/www.afand.cybermq.com faktor-faktor yang mempengaruhi  kesegaran jasmani adalah: 1. Umur. Kebugaran jasmani anak-anak meningkat sampaimencapai maksimal pada usia 25-30 tahun, kemudian akanterjadi penurunan kapasitas fungsional dari seluruh tubuh,kira-kira sebesar 0,8-1% per tahun, tetapi bila rajinberolahraga penurunan ini dapat dikurangi sampai separuhnya. 2. Jenis Kelamin. Sampai pubertas biasanya kebugaran jasmani anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan, tapi setelah pubertas anak-anak laki-laki biasanya mempunyai nilai yang jauh lebih besar. 3. Genetik. Berpengaruh terhadap kapasitas jantung paru, postur tubuh, obesitas, haemoglobin/sel darah dan serat otot. Makanan.Daya tahan yang tinggi bila mengkonsumsi tinggi karbohidrat(60- 70%).Diet tinggi protein terutama untuk memperbesar otot dan untuk olahraga yang memerlukan kekuatan otot yang besar. 4. Rokok. Kadar CO yang terhisap akan mengurangi nilai VO2 maksimal, yang berpengaruh terhadap daya tahan, selain itu menurut penelitian Perkins dan Sexton, nicotine yang ada,dapat memperbesar pengeluaran energi dan mengurangi nafsu makan

Komponen Kesegaran Jasmani (skripsi dan tesis)

Ada beberapa komponen kesegaran jasmani dan itu sangat penting untuk diketahui karena komponen-komponen tersebut merupakan penentu baik buruknya tingkat kesegaran jasmani seseorang. Menurut Endang Rini S dkk (2008: 2) komponen kesegaran jasmani dikelompokkan menjadi: a. Komponen yang berhubungan dengan kesehatan, meliputi daya tahan paru dan jantung, kekuatan, daya tahan otot, kelentukan dan komposisi tubuh. b. Kesegaran yang berhubungan dengan ketrampilan, meliputi kecepatan, koordinasi, power, kelincahan, perasaan gerak. Menurut Djoko Pekik Irianto (2000: 40) kesegaran yang berhubungan dengan kesehatan memiliki empat komponen dasar, meliputi: a) Daya tahan paru jantung. b) Kekuatan dan daya tahan otot. c) Kelentukan. d) Komposisi tubuh.
 Menurut Abdul Kadir Ateng (1992: 66) komponen kebugaran jasmani terdiri atas kekuatan dan daya tahan otot, daya tahan respirasikardiovaskuler, tenaga otot, kelentukan, kecepatan, kelincahan, koordinasi, keseimbangan, dan ketepatan. Mengacu pada batasan kesegaran jasmani dan pendapat para pakar mengenai unsur yang terdapat dalam kesegaran jasmani maka dapat ditarik kesimpulan bahwa komponen kesegaran jasmani adalah unsur-unsur yang dimiliki oleh jasmani dan mampu berfungsi dengan baik pula.Komponenkomponen tersebut bersifat saling melengkapi dan untuk meningkatkan kesegaran jasmani kita harus melatihnya. Dapat dikemukakan bahwa ada empat komponen penting yang minimal dapat meningkatkan kesegaran jasmani yaitu: a) Dayatahan kardiorespirasi Dayatahan kardiorespirasi adalah kapasitas system jantung, parudan pembuluh darah untuk berfungsi secara optimal saat melakukan aktivitas sehari-hari dalam waktu yang cukup lama tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Daya tahan jantung paru sangat penting untuk menunjang kerja otot dengan mengambil oksigen dan menyalurkannya keseluruh jaringan otot yang sedang aktif sehingga dapat digunakan untuk proses metabolisme tubuh. b) Daya tahan otot. Menurut Djoko Pekik Irianto (2000: 47) daya tahan otot adalah : “ kemampuan otot untuk melakukan serangkaian kerja dalam waktu lama”. c) Kekuatan otot. Kekuatan otot adalah tenaga, gaya atau tegangan yang dapat dihasilkan oleh otot atau sekelompok otot pada suatu kontraksi dengan beban maksimal. Seseorang mungkin memiliki kekuatan pada bagian otot tertentu namun belum tentu memiliki pada bagian otot lainnya. 16 d) Kecepatan. Kecepatan adalah kemampuan tubuh untuk melakukan gerakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Menurut Abdul Kadir Ateng (1992: 66) kecepatan adalah kemampuan individu untuk melakukan gerakan-gerakan yang berulang-ulang dalam waktu yang sesingkatsingkatnya. e) Power/ daya ledak. Power adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kekuatan maksimum, denganusaha yang dikerahkan dalam waktu yang sependekpendeknya. Menurut Suharno dalam skripsi Murdiman(1995: 37) menyatakan daya ledak adalah kemampuan sebuah otot atau sekelompok otot untuk mengatasi beban dengan kecepatan tinggi dalam satu gerakan yang utuh. Jadi dapat disimpulkan daya ledak merupakan kemampuan otot untuk melakukan usaha dalam waktu yang cepat.

Pengertian Kesegaran Jasmani (skripsi dan tesis)

Pendidikan jasmani memiliki peranan yang sangat penting dalam mengintensifkan penyelenggaraan pendidikan suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain, dan berolahraga yang dilakukan secara sistematis, terarah, dan terencana. Melalui pendidikan jasmani diharapkan dapat membantu siswa memiliki kesegaran jasmani yang baik. Tingkat kesegaran jasmani yang dimiliki seseorang menjadi peranan penting dalam melakukan aktivitas atau kegiatan sehari-hari. Tingkat kesegaran jasmani yang tinggi diperlukan oleh semua orang, termasuk anak usia sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA/sederajat). Dengan memiliki tingkat kesegaran jasmani yang tinggi, siswa mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan waktu lebih lama dibanding siswa yang memiliki tingkat kesegaran jasmani yang rendah.
Menurut Djoko Pekik Irianto (2004: 2-3) kesegaran jasmani adalah “ Kemampuan seseorang untuk dapat melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa menimbulkankelelahan yang berlebihan sehingga masih dapat menikmati waktuluangnya.” Kesegaran digolongkan menjadi 3 kelompok  yaitu: 1. Kesegaran statis: keadaan seseorang yang bebas dari penyakit dan cacat atau disebut sehat. 2. Kesegaran dinamis: kemampuan seseorang untuk bekerja secara efisien yang tidak memerlukan ketrampilan khusus. Misalnya berjalan, berlari, melompat. 3. Kesegaran motorik: kemampuan seseorang untuk bekerja secara efisien yang menuntut ketrampilan khusus. Misalnya seorang pelari dituntut memiliki teknik berlari yang benar untuk memenangkan perlombaan. Menurut Mochamad Sajoto (1988: 43) menyatakan bahwa kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang menyelesaikan tugas sehari-hari dengan tanpa mengalami kelelahan yang berarti, dengan pengeluaran energi yang cukup besar, guna memenuhi kebutuhan geraknya dan menikmati waktu luang serta untuk memenuhi keperluan darurat bila sewaktu-waktu diperlukan.
 Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kesegaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk dapat melakukan tugas serta pekerjaan sehari-hari secara efisien dan efektif tanpa mengalami kelelahan yang berlebih, sehingga masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggang dan keperluan mendadak. Dengan demikian kesegaran jasmani yang diperlukan setiap individu tidak sama tergantung pada kebutuhan dan tugas fisik yang dilakukannya. Semakin berat tugasnya semakin tinggi kesegaran jasmani yang harus dimiliki.

Pemeriksaan status gizi (skripsi dan tesis)

Status gizi adalah ekperesi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk fariabel tertentu atau dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan indikator baik buruknya penyediaan makanan sehari-hari. Status gizi yang baik diperlukan untuk mempertahankan kebugaran dan kesehatan. Menurut Djoko Pekik Iriyanto (2007: 65-66) pemeriksaan status gizi dibedakan menjadi dua yaitu: 1) Pemeriksaan langsung Untuk mengetahui status gizi seseorang dapat dilakukan pemeriksaan langsung. 2) Pemeriksaan tidak langsung Selain pemeriksaan gizi secara langsung juga juga dilakukan pemeriksaan secara tidak langsung. Pengukuran untuk anak menggunakn indek berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) pada usia 6-17 tahun. Pengukuran status gizi dalam penelitian ini dihitung dengan membagi berat badan dalam gram dan tinggi badan dengan centi meter dikuadratkan. Hasil penghitungan tersebut kemudian dikonsultasikan pada tabel penelitian status gizi berdasarkan BB/TB (Winarto dalam Djoko Pekik Iriyanto, 2006: 19). Cara penghitungan ini dibedakan antara anak laki-laki dan perempuan. Adapun 12 cara penelitiannya adalah dengan menghitung perosentase pencapaian BB standar berdasarkan tinggi badan

Macam-macam zat gizi dan pentingnya gizi lengkap bagi anak (skripsi dan tesis)

 Anak sekolah dasar kelas atas khususnya kelas V, VI berkisar pada usia 10-12 tahun. Pada usia ini, jika kesehatan tidak terganggu maka pertumbuhan badan sangat cepat. Agar kesehatan anak tetap terjaga maka anak diharuskan mengkonsumsi makanan yang lengka. Dalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh anak untuk pertumbuhan yaitu berupa: karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, air dan serat makanan. Menurut Djoko Pekik Iriyanto(2007)
 1. Karbohidrat
Karbohidrat adalah satu atau beberapa senyawa kimia termasuk gula, pati dan serat. 2. Lemak Dalam tubuh
 lemak bermanfaat sebagai. • Sebagai sumber energi, 1 gram lemak menghasilkan 9 kalori. • Melarutkan fitamin sehingga dapat diserap oleh usus. • Memperlama rasa kenyang.
3. Protein
 Tubuh manusia memerlukan protein untuk menjalankan berbagai fungsi antara lain: • Membangun sel tubuh, ssemakin bertambahnya usia semakin bertambahnya jaringan baru seperti tulang dan otot. • Mengganti sel tubuh, sering jaringan atau sel rusak misalnya akibat cidra sehingga perlu protein sebagai pengganti sel-sel yangrusak tersebut. • Membuat air susu enzim dan hormon • Membuat protein darah. • Menjaga keseimbangan asam basa dalam tubuh.
4. Vitamin Dalam tubuh, vitamin bekerja sebagai,biokatalisator yaitu bekerja sebagai pelancar reaksi-reaksi dalam tubuh.
 5. Mineral
Secara umum fungsi mineral dalam tubuh sebagai berikut: • Menyediakan bahan sebagai komponen penyusun tulang dan gigi. • Membantu fungsi organ, memelihara irama jantung, kontraksi otot. • Memelihara keteraturan metabolisme seluler
. 6. Air
Air merupakan komponen besar dalam setruktur tubuh manusia kurang lebih 60-70% berat badan orang dewasa berupa air, sehingga air sangat diperlukan oleh tubuh. Sebagai komponen yang paling besar air memiliki peranan yang sangat penting yaitu  • Sebagai transportasi zat-zat gizi, membuang sisa-sisa meta bolisme, hormon kesasaran. • Mengatur temperatur tubuh terutama selama aktifitas fisik • Mempertahankan keseimbangan volume darah

Hakikat gizi (skripsi dan tesis)

Zat gizi adalah zat yang di peroleh dari bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari yang berfungsi untuk proses-proses didalam tubuh. Menurut Asmira (1980: 9), zat gizi adalah zat-zat yang diperoleh oleh tubuh dan berasal dari makanan, dikatakan bahwa kebutuhan tubuh akan zat-zat gizi tidak dapat dipenuhi hanya satu atau dua makanan saja, karena pada umunya tidak ada satu bahan makanan yang mengandung gizi yang sangat lengkap. (Rizqie 2001: 1), Mengatakan zat gizi adalah setiap zat yang dicerna, diresap dan digunakan mendorong kelangsungan faal tubuh. Beberapa zat gizi dapat dibuat oleh tubuh sendiri dan sebagian besar lainnya harus diperoleh dari makanan yang dikonsumsi setiap hari melalui makanan

Status Gizi Remaja (skripsi dan tesis)

Analisis darah dari NDNS tahun 1997 menemukan bahwa: a. 13 % anak laki-laki dan 27% anak perempuan mempunyai kadar ferritin serum rendah, yang menunjukkan cadangan zat besi yang rendah. b. Kadar darah vitamin C, folat, riboflavin, dan tiamin rendah. c. 8% anak laki-laki dan 11, 5% anak perempuan mempunyai kolesterol plasma di atas 5,2 mmol/L. d. Penggunaan garam meja berhubungan dengan peningkatan tekanan darah sistolik e. 10-25% mempunyai kadar plasma vitamin D rendah

Pola Makan Remaja (skripsi dan tesis)

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa dan melibatkan perubahan fisik dan emosionalnya, seiring bertambahnya kemandirian dan banyaknya pilihan pribadi. Makanan yang menjadi pilihan remaja berakibat pada asupan dan status gizi mereka. Remaja memilih makanan karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti : a. Kenyamanan, terutama saat makan di luar rumah b. Preferensi c. Selera d. Merek e. Mode dan tekanan atau pengaruh dari kelompok sebaya f. Ideologi pribadi, seperti pilihan untuk diet vegetarian g. Sibuk dengan pengendalian berat badan h. Memilih makanan yang kurang sehat sebagai perilaku untuk menentang orang tua dan solidaritas dengan teman sebaya i. Mengikuti diet tertentu untuk meningkatkan kemampuan olahraga (More, 2013: 389-392). Kebutuhan gizi pada remaja harus tercukupi, apabila tidak cukup maka akan menghambat perkembangan tulang, sehingga berdampak pada kekerdilan. Kekurangan gizi pada masa remaja juga dapat menghambat pubertas. Beberapa komponen gizi bagi remaja adalah sebagai berikut (More, 2013: 393-394): a. Vitamin Referensi vitamin untuk remaja pada dasarnya sama dengan orang dewasa, namun untuk niasin dan vitamin B6 harus lebih tinggi daripada kebutuhan orang dewasa.
Untuk remaja putri disarankan untuk mengkomsumsi makanan sebagai berikut : 1) ekstrak ragi 2) Biji-bijian, kacang buncis dan kacang polong 3) Jeruk dan jus jeruk 4) Sayur berwarna hijau b. Mineral Referensi untuk kalsium, fosfor dan zat besi lebih tinggi daripada untuk orang dewasa, sedangkan untuk magnesium pada remaja putri harus lebih tinggi dibanding untuk orang dewasa yang digunakan untuk masa pertumbuhan dan perkembangan remaja. c. Kalsium dan fosfor Kalsium dan fosfor dibutuhkan untuk pertambahan jaringan tulang. Asupan kalsium yang adekuat pada masa remaja dapat mencegah osteoporosis. Kepadatan tulang yang rendah dan tulang retak pada remaja putri mungkin bisa disebabkan karena kandungan fosfat yang 47 tinggi dalam minuman karbonasi yang diminum bersama diet rendah kalsium yang umumnya dilakukan remaja tanpa mengkonsumsi tiga porsi susu, keju dan/atau yogurt. d. Zat besi Zat besi merupakan nutrisi pokok selama pertumbuhan. Zat besi untuk anak laki-laki yang berumur 11-18 tahun disarankan sebanyak 11,3 mg/hari lebih tinggi daripada laki-laki yang berusia lebih mudah atau laki-laki dewasa. Sedangkan untuk anak perempuan yang berumur 11-18 tahun kadar zat besi lebih tinggi yaitu 14,8 mg/hari yang digunakan untuk menutupi kehilangan terkait saat menstruasi.
The National Diet and Nutrition Surveys (NDNS) menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi ketidakseimbangan nutrisi pada remaja yaitu (More, 213: 400-401) : a. Ngemil, yaitu salah satu pola makan yang biasa ditemui pada remaja, dimana biasanya remaja lebih banyak mengkonsumsi makanan berupa camilan kering sederhana daripada buah segar. b. Tingginya konsumsi makanan dan minuman ringan yang mengandung gula berlebih. c. Buruknya konsumsi buah dan sayuran, dimana banyak remaja makan di bawah porsi dalam satu hari d. Asupan makanan yang berbasis susu tidak adekuat, sejak usia 11 tahun dan hanya minum susu sedikit.  e. Diet teratur f. Tidak sarapan Selain faktor-faktor di atas, kurang gizi pada remaja juga disebabkan oleh (More, 2013:402-406): a. Obesitas, yaitu kelebihan berat badan di atas berat badan normal. b. Vegetarianisme. Pada dasarnya diet vegetarian tidak masalah, namun apabila tidak direncanakan dengan baik dan tidak seimbang, hasilnya malah tidak adekuat. c. Pelangsingan yang tidak semestinya. Pelangsingan yang tidak diawasi dan tidak perlu dilakukan bisa menyebabkan asupan mikronutrien yang rendah. d. Gangguan makan, seperti anoreksia nervosa, bulimia nervosa dan gangguan makan yang tidak tergolongkan e. Alkohol. Mengkonsumsi alcohol yang tinggi merupakan salah satu penyebab kekhawatiran kesehatan dan sosial remaja. Remaja belum mempunyai kemampuan yang tinggi dalam metabolism alcohol dibanding orang dewasa. Meminum alcohol secara regular dapat menyebabkan konsumsi energy yang tinggi, karena alcohol mempunyai kepadatan energy yang tinggi sehingga tidak menimbulkan nafsu makan

Karakteristik Siswa SMP (skripsi dan tesis)

Anak usia sekolah menengah pertama, berada pada tahap perkembangan pubertas (10-14 tahun). Menurut Desmita (2010: 36) terdapat beberapa karakteristik siswa usia Sekolah Menengah Pertama yaitu: a. Terjadinya ketidakseimbangan proporsi tinggi dan berat badan b. Mulai timbulnya cirri-ciri seks sekunder c. Kecenderungan ambivalensi, serta keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul,serta keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua. d. Senang membandingkan kaedah-kaedah, nilai-nilai etika atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa. e. Mulai mempertanyakan secara skeptic mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan f. Reaksi dan ekspresi emosi masih labil g. Mulai mengembangkan standard dan harapan terhadap perilaku diri sendiri yang sesuai dengan dunia sosial h. Kecenderungan minat dan pilihan karir relative sudah lebih jelas.
 Menurut Yusuf (2004: 26-27), masa usia Sekolah Menengah bertepatan dengan masa remaja. Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena mempunyai sifat-sifat yang khas dan perannya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa. Masa remaja terbagi lagi menjadi: a. Masa praremaja (remaja awal) Masa ini berlangsung dalam waktu yang relative singkat. Ditandai dengan sifat-sifat negatif dengan gejala seperti tidak tenang, kurang suka bekerja, pemisitik, dan lain sebagainya. Secara garis besar, sifat negatif tersebut terbagi menjadi negatif dalam berprestasi (jasmani maupun prestasi mental) dan negatif dalam sikap sosial, baik dalam bentuk menarik diri dalam masyarakat maupun dalam bentuk agresif. b. Masa remaja (remaja madya) Pada masa ini mulai timbul dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang mampu memahami dan menolongnya, teman yang bisa merasakan suka dan dukanya. Pada masa ini, juga mulai terbentuknya proses pendirian atau pandangan hidup. Selain itu, pada anak laki-laki sering aktif meniru, sedangkan pada anak perempuan kebanyakan pasif, mengagumi dan memujanya dalam khayalan. c. Masa remaja akhir Selanjutnya adalah masa remaja akhir, pada masa ini sudah mampu menentukan pendirian hidupnya dan terpenuhi tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu menemukan pendirian hidup dan mulai memasuki masa dewasa

Gaya Hidup Sehat (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler seperti yang dikutip oleh Kotler dan Keller (2009: 210), gaya hidup didefinisikan sebagai berikut: “Secara luas, gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang terungkap pada aktivitas, minat dan opininya. Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya”. Menurut Silvy menyebutkan gaya hidup menunjukkan bagaimana seseorang hidup, bagaimana orang tersebut mengelola keuangannya dan bagaimana mengelola waktu yang mereka miliki. Definisi lain menyebutkan bahwa gaya hidup sering dideskripsikan sebagai suatu kegiatan, minat dan pendapat seseorang serta lebih keperilaku seseorang yaitu bagaimana orang tersebut memanfaatkan uang dan waktunya serta bagaimana mengisi kehidupannya (Listyorini, 2012: 14).
 Mowen dalam Syaifulloh dan Sri (2013: 1167) menyebutkan bahwa gaya hidup adalah suatu pola yang menunjukkan bagaimana orang hidup, bagaimana dia membelanjakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktunya. Bloch seperti yang dikutip oleh Wijaya (2013: 151) menyebutkan bahwa gaya hidup sehat merupakan orientasi pencegahan masalah kesehatan dan memaksimalkan kesejahteraan pribadi melalui pola konsumsi. Seseorang yang mempunyai gaya hidup sehat, cenderung untuk melakukan usaha-usaha yang sehat bagi tubuhnya misalnya dengan berolahraga, mengkonsumsi makanan natural dan menerapkan pola hidup yang seimbang. Selain itu, seseorang yang mempunyai gaya hidup sehat cenderung lebih mempertimbangkan semua kegiatan yang menunjang kesehatan (Wijaya, 2013: 151-152). Definisi lain menyebutkan bahwa gaya hidup sehat sebagai tindakan seseorang yang berkaitan dengan kesehatan yang diukur dengan indikator konsumsi makanan organic, perawatan kesehatan dan keseimbangan hidup. Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa gaya hidup sehat adalah gambaran mengenai perilaku seseorang yang meliputi bagaimana orang tersebut memanfaatkan waktu dan uang yang dimilikinya serta bagaimana cara ia menggunakan hidupnya dalam menjaga kesehatan tubuhnya. Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, konsumsi alcohol dan aktivitas fisik yang rendah. Penelitian ini akan memfokuskan pada aktivitas fisik.
 Irianto (2006: 7-10) menyebutkan bahwa untuk memperoleh tubuh yang bugar dan sehat harus memahami pola hidup sehat, yaitu: a. Makan Makanan merupakan setiap sustrat yang bisa diproses di dalam tubuh, terutama untuk membangun dan mendapatkan tenaga untuk kesehatan sel di dalam tubuh. Tidak semua makanan dapat memberikan kesehatan, terdapat beberapa kriteria makanan yang sehat, yaitu: 1) Mempunyai kuantitas yang cukup 2) Seimbang 3) Mempunyai kualitas yang cukup 4) Sehat/bersih 5) Makanan harus segar alami 6) Diutamakan kategori nabati 7) Memasak dengan tidak berlebihan 8) Penyajiannya yang teratur 9) Makanan disajikan sebanyak 5 kali (3 kali makanan utama dan 2 kali makanan selingan) 10) Minum air putih sebanyak 18 Liter setiap hari b. Istirahat Tubuh manusia mempunyai kemampuan kerja yang terbatas, sehingga tidak akan mampu bekerja sepanjang waktu tiada henti. Salah satu indikator keterbatasan fungsi tubuh adalah kelelahan. Oleh karena 43 itu, istirahat sangat diperlukan agar tubuh mempunyai waktu melakukan pemulihan, sehingga dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan nyaman. c. Berolahraga Olahraga adalah salah satu alternatif untuk memperoleh kebugaran tubuh, karena dengan berolahraga tubuh akan memperoleh manafaat seperti fisik, psikis dan sosial. Saat ini masyarakat sudah banyak yang menyadari pentingnya berolahraga, sehingga banyak ditemukan cara berolahraga yang dilakukan baik secara individual maupun berkelompok

Pengukuran Kebugaran Jasmani (skripsi dan tesis)

Tingkat kebugaran jasmani dalam penelitian ini diukur dengan indikator tes kesegaran jasmani Indonesia (TKJI) untuk anak sekolah, yang terdiri atas: 1) Lari 50/60 meter   2) Tes gantung angkat tubuh untuk putra, tes gantung siku tekuk untuk putri 3) Tes baring duduk selama 60 detik 4) Tes loncat tegak 5) Tes lari 1000 meter untuk putra dan 800 meter untuk putri (Ulfa dkk, 2017: 716)

Faktor yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebugaran jasmani seseorang adalah (Shomoro & Mondal, 2014) : 1) Umur
Tingkat kebugaran jasmani maksimal akan tercapai pada saat seseorang berusia 30 tahun.
2) Jenis Kelamin
Kebugaran jasmani laki-laki setelah mengalami pubertas akan lebih baik bila dibandingkan dengan perempuan, yang disebabkan perkembangan otot dan kekuatan otot yang semakin baik.
3) Merokok
Nikotin yang terdapat di dalam rokok akan meningkatkan pengeluaran energy dalam tubuh dan kadar karbondioksida, sehingga mempengaruhi daya tahan tubuh.
 4) Status Kesehatan
Gangguan fungsi pada tubuh seseorang akan mempengaruhi kemampuan tubuh dalam melakukan aktivitas. Oleh karena itu kesehatan seseorang juga akan mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani.
5) Aktivitas fisik
Olahraga adalah salah satu aktivitas fisik yang dapat mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani karena energi yang digunakan dan dikeluarkan selama melakukan kegiatan sangat bermanfaat untuk tubuh.
 6) Obesitas
Penggunaan tenaga yang lebih banyak akan membuat kebutuhan oksigen jauh lebih besar yang akan memacu jantung untuk bekerja lebih keras.

Aspek-Aspek Kebugaran Jasmani (skrispi dan tesis)

 Lutan (2001: 63) seperti yang dikutip oleh Rismayanthi (2012: 32) menyebutkan bahwa terdapat dua aspek dalam kebugaran jasmani seseorang, yaitu
: 1) Kebugaran yang berkaitan dengan kesehatan  Kebugaran yang berkaitan dengan kesehatan ini mengandung empat unsur pokok, yaitu: a) Kekuatan otot dan daya tahan otot b) Daya tahan aerobic c) Fleksibilitas d) Komposisi tubuh
2) Kebugaran yang berkaitan dengan performa, mengandung unsurunsur sebagai berikut: a) Koordinasi b) Agility c) Kecepatan gerak d) Power e) Keseimbangan
 c. Komponen Kebugaran Jasmani
Menurut Irianto dalam Rismayanthi (2012: 32) mengelompokkan komponen kebugaran jasmani menjadi empat komponen, yaitu: 1) Daya tahan kardio respirasi adalah sanggup tidaknya sistem jantung, paru-paru dan pembuluh darah dalam menjalankan fungsinya secara optimal ketika melakukan kegiatan sehari-hari dalam waktu yang lama dan tidak disertai rasa lelah yang berarti. 2) Daya tahan jantung paru sangat penting dalam menunjang kerja otot, yaitu dengan cara mengambil oksigen dan menyalurkannya ke otot yang aktif.  3) Daya tahan otot dan kekuatan otot, daya tahan otot merupakan kemampuan otot dalam melaksanakan aktivitas kerja dalam waktu yang lama. Kekuatan otot merupakan kemampuan otot dalam melawan beban suatu usaha. 4) Kelenteruan, yaitu kemampuan persendian untuk bergerak melawan beban dalam suatu usaha. 5) Komposisi tubuh adalah perbandingan berat tubuh berupa lemak dengan tubuh tanpa lemak yang dinyatakan dalam persentase. Kumar dan Sudhakara (2018: 908) menjelaskan bahwa kebugaran jasmani meliputi beberapa komponen yaitu derajat kesehatan yang memadai, postur tubuh, fungsi organ vital yang baik, nutrisi dan kebiasaan kesehatan yang baik, yang didukung oleh daya tahan, kekuatan, stamina dan fleksibilitas. Guta (2017: 35) menyebutkan bahwa kebugaran jasmani meliputi kekuatan otot, daya tahan otot, daya tahan kardiovaskular, kekuatan, keseimbangan dan koordinasi.
 d. Macam-Macam Kebugaran Jasmani Menurut Irianto dalam Rismayanthi (2012: 32) menyebutkan bahwa kebugaran jasmani dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu: 1) Kebugaran statis, yaitu kondisi seseorang yang bebas dari penyakit dan cacat fisik. 2) Kebugaran dinamis, yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja dengan efisien dan tidak membutuhkan keterampilan khusus. 3) Kebugaran motoris, yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja secara efisien yang menuntut keterampilan khusus.

Definisi Kebugaran Jasmani

 Secara umum, kebugaran adalah kemampuan seseorang dalam melaksanakan kerja sehari-hari dengan efisien, dimana tidak menimbulkan kelelahan yang berlebihan sehingga masih bisa mengisi waktu luangnya dengan kegiatan lain (Irianto, 2004: 2). Rusli Lutan dalam kutipan Rismayanthi (2012: 31) menyebutkan bahwa kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan adalah mampu tidaknya seseorang dalam melakukan aktivitas fisik yang membutuhkan daya tahan dan fleksibilitas. Menurut Irianto seperti yang dikutip oleh Rismayanthi (2012: 31) menyebutkan secara umum kebugaran jasmani yaitu kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas sehari-hari dengan efisien tanpa adanya kelelahan yang berlebihan, sehingga bisa menikmati waktu luang yang dimilikinya.
Definisi lain menyebutkan kebugaran jasmani adalah mampu tidaknya seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya tanpa diikuti kelelahan dan masih bisa menikmati waktu luangnya serta masih bisa melaksanakan tugas yang tidak terduga (Sumarjo, dalam Rismayanthi, 2012: 31). 34 Guta (2017: 35) mendefinisikan kebugaran jasmani sebagai kemampuan untuk melaksanakan tugas sehari-hari dengan semangat dan kewaspadaan tanpa merasa lelah dan masih mempunyai waktu luang dan energi untuk mengerjakan tugas yang tidak biasa dan keadaan darurat yang tidak bisa diduga. Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebugaran jasmani adalah kemampuan tubuh seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan tidak menimbulkan kelelahan yang berarti, sheingga tubuh masih mempunyai tenaga untuk mengatasi beban kerja tambahan atau berikutnya. Kumar dan Sudhakara (2018: 908) menyebutkan bahwa kebugaran jasmani pada umumnya diperoleh melalui latihan, nutrisi yang baik, dan istirahat yang cukup. Pada awalnya, istilah kebugaran jasmani diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanda adanya rasa lelah yang berarti. Kebugaran jasmani sebagai bagian dari kebugaran secara umum, diartikan sebagai sarana untuk mengembangkan kepribadian seseorang secara keseluruhan

Definisi Status Gizi (skripsi dan tesis)

Gizi adalah suatu proses menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolism dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari oragn-organ serta menghasilkan energi. Status gizi adalah keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan gizi dan penggunaan zat gizi tersebut atau bentuk dari nutriture variabel tertentu (Supariasa, 2016: 20). Status gizi adalah suatu keadaan dimana ekspresi dari keadaan tersebut menimbulkan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan faktor indikator baikburuknya asupan makanan sehari-hari (Rismayanthi, 2012: 31). Menurut Almatsier (2010: 3), status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat mengkonsumsi makanan dan menggunakan zat-zat yang bergizi.
 Teori Habict, seperti yang dikutip oleh Waspadji dkk (2010: 92) mendefinisikan bahwa status gizi adalah sebagai berikut: Status gizi adalah tanda-tanda atau penampilan fisik yang diakibatkan karena adanya keseimbangan antara pemasukan gizi di satu pihak, serta pengeluaran oleh organisme di lain pihak yang terlihat melalui variabel-variabel tertentu, yaitu melalui suatu indikator status gizi. Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan status gizi adalah suatu keadaan atau kondisi yang menunjukkan kondisi tubuh seseorang berdasarkan asupan makanan yang dikonsumsinya, apakah memenuhi zat-gizi atau tidak. Seseorang yang mempunyai status gizi optimal adalah kondisi seseorang dimana antara asupan zat gizi di dalam tubuhnya dengan kebutuhan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuhnya seimbang (Waspadji dkk, 2010: 92). Seseorang yang mengalami kekurangan gizi atau kelebihan gizi disebut dengan malnutrisi. Supariasa (2016: 20) membagi malnutri menjadi empat bentuk, yaitu: 1) Undernutrition, yaitu suatu kondisi dimana seseorang mengalami kekurangan pangan secara relative atau absolute selama periode tertentu. 2) Specific deficiency, yaitu suatu kondisi dimana seseorang mengalami kekurangan zat gizi tertentu. 3) Overnutrition, yaitu suatu kondisi dimana seseorang mengalami kelebihan konsumsi pangan selama periode tertentu. 11 4) Imbalance, yaitu suatu kondisi dimana seseorang mengalami malnutrisi karena disproporsi zat gizi.

Nutrisi dan Kognitif (skripsi dan tesis)

Hubungan antara nutrisi dengan otak telah menjadi fokus dari banyak penelitian. Penelitian telah menunjukkan dampak asupan nutrisi terhadap fungsi otak. Pembawa pesan kimia dalam otak yang disebut neurotransmitter telah dipelajari   dalam hubungannya dengan gizi. Growden dan Wurtman (1980) mengemukakan bahwa otak tidak bisa lagi dipandang sebagai organ otonom, bebas dari proses metabolisme lainnya di dalam tubuh; sebaliknya, otak perlu dipengaruhi oleh asupan nutrisi, konsentrasi asam amino dan kolin (dalam darah) yang merangsang otak untuk membentuk banyak neurotransmiter seperti serotonin, asetilkolin, dopamin, dan norepinefrin. Asupan nutrisi sangat penting untuk otak, yang fungsinya untuk membentuk asam amino dan kolin dalam jumlah yang tepat. Asam amino dan kolin merupakan dua molekul prekursor yang diperoleh dari darah yang dibutuhkan bagi otak untuk berfungsi secara normal. Hal ini tidak mengherankan jika apa yang kita makan langsung mempengaruhi otak (Colby-Morley,1981).
 Wood didalam Kretsch et al. (2001) menunjukkan kemungkinan lebih lanjut bahwa nutrisi memiliki peran dalam mempengaruhi fungsi kognitif. Penelitian telah dilakukan pada anak usia sekolah untuk melihat korelasi langsung antara gizi buruk dan prestasi sekolah yang menurun. Zat besi memainkan peranan penting dalam fungsi otak. Kretsch et al. mengutip hasil penelitian yang dilakukan pada pria berusia 27-47 dan terbukti bahwa zat besi mempengaruhi konsentrasi. Skor yang rendah pada tes konsentrasi sejalan dengan rendahnya zat besi yang ada dalam tubuh. Penelitian dilakukan untuk melihat hubungan antara zat besi dengan konsentrasi anak; anak-anak dengan anemia defisiensi besi terbukti memiliki konsentrasi yang rendah. Kretsch et al. juga menemukan bahwa zinc adalah zat nutrisi lain yang ikut berperan dalam fungsi kognitif, khususnya memori. Dalam tes fungsi mental, peneliti menemukan bahwa kemampuan responden untuk mengingat kata – kata sehari – hari melambat secara signifikan setelah tiga minggu mengurangi konsumsi zinc (Wood, 2001). Erickson (2006) menyebutkan lima zat nutrisi kunci, berdasarkan penelitian, diperlukan untuk menjaga agar otak berfungsi dengan baik. Keseluruhan zat ini dapat diperoleh dari makanan yang dikonsumsi. Protein dapat ditemukan dalam daging, ikan, susu, dan keju. Protein digunakan untuk membentuk sebagian besar jaringan  tubuh, termasuk neurotransmitter pembawa pesan kimia yang membawa informasi dari satu sel otak ke sel-sel otak lainnya. Kurangnya protein, menyebabkan performa sekolah yang buruk dan menyebabkan anak-anak menjadi lesu, dan pasif, yang semuanya membantu mempengaruhi perkembangan sosial dan emosi anak. Karbohidrat biasanya ditemukan dalam biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran. Karbohidrat dipecah menjadi glukosa (gula) sehingga dapat digunakan otak sebagai sumber energi. Mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan seseorang merasa lebih tenang dan santai karena zat kimia otak yang disebut serotonin. Serotonin dibuat dalam otak melalui penyerapan dan konversi triptofan. Tryptophan diserap dalam darah dan penyerapan ini ditingkatkan dengan karbohidrat (Erickson, 2006).
Erickson juga menyebutkan bahwa lemak membentuk lebih dari 60% dari bagian otak dan bertindak sebagai kontrol aspek parsial contohnya suasana hati. Asam lemak omega-3 sangat penting untuk meningkatkan kinerja otak dan kurangnya lemak ini dapat menyebabkan depresi, memori lemah, IQ rendah, ketidakmampuan belajar, dan disleksia. Makanan penting untuk memastikan asupan asam lemak Omega-3 adalah ikan tertentu dan kacang-kacangan (Erickson,2006). Erickson (2006) menyebut vitamin dan mineral sebagai zat penting untuk fungsi otak optimal. Yang paling penting adalah vitamin A, C, E, dan vitamin B kompleks. Mangan dan magnesium adalah dua mineral penting untuk fungsi otak; natrium, kalium dan kalsium berperan dalam transmisi pesan dan proses berpikir.

Pemeriksaan antropometri untuk Status Gizi (skripsi dan tesis)

 Antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh manusia dalam hal ini dimensi tulang, otot, dan jaringan lemak (Hendarto, 2011). Antropometri saat ini telah digunakan untuk menilai status nutrisi, kesehatan, dan perkembangan dari anak (Srivastava, 2012).   Ada beberapa dasar pengukuran tinggi dan berat badan, berdasarkan buku Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik tahun 2011, ukuran – ukuran yang lazim digunakan dalam menilai tumbuh kembang anak, antara lain:
1. Tinggi badan
 Panjang badan diukur dengan menggunakan papan pengukur panjang untuk anak dibawah 2 tahun atau PB kurang dari 85 cm. Pengukuran panjang badan dilakukan oleh 2 orang pemeriksa. Pemeriksa pertama memposisikan sang bayi agar lurus dipapan pengukur sehingga kepala sang bayi agar lurus di papan pengukur sehingga kepala sang bayi menyentuh papan penahan kepala dalam posisi bidang datar. Pemeriksa kedua menahan agar lutut dan tumit sang bayi menempel dengan papan penahan kaki (Hendarto, 2011). Untuk anak yang dapat berdiri tanpa bantuan dan kooperatif, tinggi badan diukur dengan menggunakan stadiometer, yang memiliki penahan kepala yang bersudut 90 terhadap stadiometer yang dapat digerakkan. Sang anak diukur dengan telanjang kaki atau dengan kaus kaki tipis dan dengan pakaian minimal agar pengukur dapat memeriksa apakah posisi anak tersebut sudah benar. Saat pengukuran sang anak harus berdiri tegak, kedua kaki menempel, tumit, bokong, dan belakang kepala menyentuh stadiometer, dan menatap kedepan pada bidang datar (Hendarto, 2011). 2. Berat badan
Berat badan diukur dengan menggunakan timbangan berat badan. Sampai anak berumur 24 bulan atau berdiri sendiri, maka digunakan timbangan bayi. Sebelum menimbang, timbangan dikalibrasi sehingga jarum menunjuk angka nol. Pada saat melakukan penimbangan, sebaiknya menggunakan pakaian seminimal mungkin. Berat badan dicatat dengan ketelitian 0,01 Kg pada bayi dan 0,1 Kg pada anak yang lebih besar (Hendarto, 2011)
 3. Lingkar kepala
Lingkar kepala diukur dengan menggunakan pita pengukur fleksibel yang tidak dapat diregangkan. Panjang lingkar sebaiknya diambil dari lingkar maksimum dari kepala, yaitu diatas tonjolan supraorbital dan melingkari oksiput. Saat pengukuran harus diperhatikan agar pita pengukur tetap datar pada permukaan kepala dan paralel di kedua sisi. Pengukuran dicatat dengan ketelitian sampai 0,1 cm (Hendarto, 2011)
. 4. Lingkar lengan atas (LILA)
 Untuk pengukuran LILA, anak harus berdiri tegak lurus dengan lengan dilemaskan disisi tubuh. Pita ukur yang fleksibel dan tidak dapat diregangkan diletakkan tegak lurus dengan aksis panjang dari lengan, dirapatkan melingkari lengan, dan dicatat dengan ketelitian sampai ke 0,1 cm. sebaiknya dilakukan 3 kali dan diambil nilai rata – ratanya (Hendarto, 2011).
 5. Tebal lipatan kulit triseps (TLK)
Dalam mengukur TLK, seorang anak harus dalam posisi tegak dengan lengan disisi tubuh. TLK diukur di pertengahan lengan atas, tepat ditengah otot triseps di lengan bagian belakang (diukur dan diberi tanda sebelumnya). Pengukur mencubit lemak dengan ibu jari dan jari telunjuk, sekitar 1 cm diatas titik tengah yang telah ditandai, dan dengan menempatkan caliper pada titik yang telah ditandai. Empat detik kemudian, caliper dilepaskan, hasil pengukuran diambil lalu caliper dilepaskan. Pengukuran sebaiknya dilakukan 3 kali, lalu diambil rata – ratanya (Hendarto, 2011).

Masalah gizi anak usia sekolah (skripsi dan tesis)

 Ada beberapa masalah gizi yang terjadi pada anak usia sekolah dalam buku Peranan Gizi dalam Siklus Kehidupan tahun 2012, antara lain:
1. Anemia defisiensi besi
 Keadaan ini terjadi, karena terlalu sedikit kandungan zat besi dalam makanan yang dikonsumsi terutama pada anak yang sering jajan sehingga mengendurkan keinginan untuk menyantap makanan lain (Adriani, 2012)
2. Penyakit Defisiensi Yodium
Salah satu gambaran penyakit kekurangan yodium adalah pembesaran kelenjer gondok yang disebut penyakit gondok oleh awam atau nama ilmiahnya struma simpleks (Adriani, 2012).
 3. Karies gigi  Karies gigi sering terjadi pada anak, karena terlalu sering makan cemilan yang lengket dan banyak mengandung gula. Karies yang terjadi pada gigi sulung memang tidak berbahaya, namun kejadian ini biasanya terus berlangsung sampai anak menjadi dewasa. Gigi yang berlubang akan menyerang gigi yang permanen bahkan sebelum gigi tersebut menembus gusi (Adriani, 2012).
 4. Berat badan berlebih (Obesitas)
Jika tidak teratasi, berat badan berlebih akan berlanjut sampai remaja dan dewasa. Sama seperti pada orang dewasa, kelebihan berat badan terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar. Berbeda dengan dewasa, berat badan anak tidak boleh diturunkan, karena penyusutan berat akan sekaligus menghilangkan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan. Laju pertumbuhan berat selayaknya dihentikan atau diperlambat sampai proporsi berat badan terhadap tinggi badan kembali normal. Perlambatan ini dicapai dengan cara mengurangi makan dan memperbanyak olahraga (Adriani, 2012).
 5. Berat Badan Kurang
 Kekurangan berat yang berlangsung pada anak yang sedang tumbuh merupakan masalah serius. Kondisi ini mencerminkan kebiasaan yang buruk. Sama seperti masalah kelebihan berat, langkah penanganan harus didasarkan kepada penyebab serta kemungkinan pemecahannya (Adriani, 2012)

Faktor – faktor yang mempengaruhi status gizi (skripsi dan tesis)

A. Faktor Eksternal Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
 1) Pendapatan Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut (Santoso, 1999).
 2) Pendidikan Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap, dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan status gizi baik (Suliha, 2001).
3) Pekerjaan Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang hidup keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu – ibu akan mempunyai pengaruh terhadap keluarga (Markum, 1991).
4) Budaya Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan (Soetjiningsih, 1998).
B. Faktor Internal Faktor internal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
1) Usia Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
 2) Jenis Kelamin Jenis kelamin sepertinya mempengaruhi status nutrisi dari segi genetik (Felix, 2010).
3) Kondisi Fisik Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan lanjut usia, semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesadaran mereka yang buruk. Bayi dan anak – anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat.
 4) Infeksi Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan (Suhardjo, et, all, 1986).

Definisi Gizi (skripsi dan tesis)

Gizi adalah asupan makanan yang sesuai dengan kebutuhan diet tubuh. Gizi baik adalah keseimbangan antara asupan makanan dan aktivitas fisik. Kurang gizi dapat menyebabkan kekebalan tubuh berkurang, peningkatan kerentanan terhadap penyakit, gangguan perkembangan fisik dan mental, serta mengurangi produktivitas (WHO, 2013). Gizi kurang didefinisikan sebagai asupan makanan yang tidak mencukupi dan menyebabkan terjadinya penyakit infeksi yang berulang. Dalam hal ini termasuk kurus untuk usia seseorang, terlalu pendek, dan kekurangan vitamin dan mineral (UNICEF, 2006). Gizi lebih didefinisikan sebagai asupan nutrisi yang berlebihan atau makanan yang berlebihan dimana akhirnya mempengaruhi kesehatan yang dapat berkembang menjadi obesitas, yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang serius, termasuk penyakit jantung, hipertensi, kanker dan diabetes tipe 2 (UNITE FOR SIGHT, 2012). Status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan penggunaannya (Cakrawati, 2012). Status nutrisi berbanding lurus dengan kesehatan tubuh dari individu (Goon et al, 2011).

Faktor penyebab gizi buruk (skripsi dan tesis)

 WHO menyebutkan bahwa banyak faktor dapat menyebabkan gizi buruk, yang sebagian besar berhubungan dengan pola makan yang buruk, infeksi berat dan berulang terutama pada populasi yang kurang mampu. Diet yang tidak memadai, dan penyakit infeksi terkait erat dengan standar umum hidup, kondisi lingkungan, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, perumahan dan perawatan kesehatan (WHO, 2012). Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk, diantaranya adalah status sosial ekonomi, ketidaktahuan ibu tentang pemberian gizi yang baik untuk anak, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (Kusriadi, 2010).
 a. Konsumsi zat gizi
 Konsumsi zat gizi yang kurang dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan badan dan keterlambatan perkembangan otak serta dapat pula terjadinya penurunan atau rendahnya daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi (Krisnansari d, 2010). Selain itu faktor kurangnya asupan makanan disebabkan oleh ketersediaan pangan, nafsu makan anak,gangguan sistem pencernaan serta penyakit infeksi yang diderita (Proverawati A, 2009).
b. Penyakit infeksi
Infeksi dan kekurangan gizi selalu berhubungan erat. Infeksi pada anak-anak yang malnutrisi sebagian besar disebabkan kerusakan fungsi kekebalan tubuh, produksi kekebalan tubuh yang terbatas dan atau kapasitas fungsional berkurang dari semua komponen seluler dari sistem kekebalan tubuh pada penderita malnutrisi (RodriquesL, 2011)
c. Pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan
 Seorang ibu merupakan sosok yang menjadi tumpuan dalam mengelola makan keluarga. pengetahuan ibu tentang gizi balita merupakan segala bentuk informasi yang dimiliki oleh ibu mengenai zat makanan yang dibutuhkan bagi tubuh balita dan kemampuan ibu untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Mulyaningsih F, 2008). Kurangnya pengetahuan tentang gizi akan mengakibatkan berkurangnya kemampuan untuk menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan salah satu penyebab terjadinya gangguan gizi (Notoadmodjo S, 2003). Pemilihan bahan makanan, tersedianya jumlah makanan yang cukup dan keanekaragaman makanan ini dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu tentang makanan dan gizinya. Ketidaktahuan ibu dapat menyebabkan kesalahan pemilihan makanan terutama untuk anak balita (Nainggolan J dan Zuraida R, 2010).
 d. Pendidikan ibu
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah diberikan pengertian mengenai suatu informasi dan semakin mudah untuk mengimplementasikan pengetahuannya dalam perilaku khususnya dalam hal kesehatan dan gizi (Ihsan M.Hiswani, Jemadi, 2012). Pendidikan ibu yang relatif rendah akan berkaitan dengan sikap dan tindakan ibu dalam menangani masalah kurang gizi pada anak balitanya (Oktavianis, 2016). http://repository.unimus.ac.id
 e. Pola asuh anak
Pola asuh anak merupakan praktek pengasuhan yang diterapkan kepada anak balita dan pemeliharaan kesehatan (Siti M, 2015). Pola asuh makan adalah praktik-praktik pengasuhan yang diterapkan ibu kepada anak balita yang berkaitan dengan cara dan situasi makanPola asuh yang baik dari ibu akan memberikan kontribusi yang besar pada pertumbuhan dan perkembangan balita sehingga akan menurunkan angka kejadian gangguan gizi dan begitu sebaliknya (Istiany,dkk, 2007).
f. Sanitasi
Sanitasi lingkungan termasuk faktor tidak langsung yang mempengaruhi status gizi. Gizi buruk dan infeksi kedua – duanya bermula dari kemiskinan dan lingkungan yang tidak sehat dengan sanitasi buruk (Suharjo, 2010). Upaya penurunan angka kejadian penyakit bayi dan balita dapat diusahakan dengan menciptakan sanitasi lingkungan yang sehat, yang pada akhirnya akan memperbaiki status gizinya (Hidayat T, dan Fuada N, 2011).
 g. Tingkat pendapatan
Tingkat pendapatan keluarga merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi balita (Mulyana DW, 2013). Keluarga dengan status ekonomi menengah kebawah, memungkinkan konsumsi pangan dan gizi terutama pada balita rendah dan hal ini mempengaruhi status gizi pada anak balita ( Supariasa IDN, 2012). Balita yang mempunyai orang tua dengan tingkat pendapatan kurang memiliki risiko 4 kali lebih besar menderita status gizi kurang dibanding dengan balita yang memiliki orang tua dengan tingkat pendapatan cukup (Persulessy V, 2013).
h. Ketersediaan pangan
Kemiskinan dan ketahanan pangan merupakan penyebab tidak langsung terjadinya status gizi kurang atau buruk (Roehadi S, 2013). Masalah gizi yang muncul sering berkaitan dengan masalah kekurangan pangan, salah satunya timbul akibat masalah ketahanan pangan ditingkat rumahtangga, yaitu kemampuan rumahtangga memperoleh makanan untuk semua anggotanya (Sobila ET, 2009).
 i. Jumlah anggota keluarga
 Jumlah anggota keluarga berperan dalam status gizi seseorang. Anak yang tumbuh dalam keluarga miskin paling rawan terhadap kurang gizi. apabila anggota keluarga bertambah maka pangan untuk setiap anak berkurang, asupan makanan yang tidak adekuat merupakan salah satu penyebab langsung karena dapat menimbulkan manifestasi berupa penurunan berat badan atau terhambat pertumbuhan pada anak, oleh sebab itu jumlah anak merupakan faktor yang turut menentukan status gizi balita (Faradevi R, 2017).
 j. Sosial budaya
 Budaya mempengaruhi seseorang dalam menentukan apa yang akan dimakan, bagaimana pengolahan, persiapan, dan penyajiannya serta untuk siapa dan dalam kondisi bagaimana pangan tersebut dikonsumsi. Sehingga hal tersebut dapat menimbulkan masalah gizi buruk (Arifn Z, 2015).

Definisi Gizi Buruk (skripsi dan tesis)

Gizi buruk adalah status gizi yang didasarkan pada indeks berat badan menurut umur (BB/U) yang merupakan padanan istilah underweight (gizi kurang) dan severely underweight (gizi buruk). Balita disebut gizi buruk apabila indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) kurang dari -3 SD (Kemenkes, 2011). Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun (Wiku A, 2005

Sanitasi lingkungan Terhadap Status Gizi (skripsi dan tesis)

Menurut Behrman dan Deolalikar (1989), serta Strauss and Thomos (1995), rumah tangga merupakan fungsi pengguna yang menentukan dalam hal kesehatan dan status gizi masing-masing anggota keluarga. Teori lain yang ada saat ini menyatakan status gizi yang baik untuk usia pra sekolah bergantung pada keamanan rumah tangga, lingkungan yang cukup sehat dan perawatan kelahiran dan jumlah anak (ACC/SCN , 1992). Sekalipun demikian, status gizi tersebut tidak hanya hasil dari keiga faktor tersebut, tetapi juga interaksi antara ketiganya (Blau et al, 1996; Haddad et al, 1996; Smit and Haddad, 1999; ACC/ SCN/ IFPRI, 2000). Lingkungan dapat dikatakan sebagai suatu benda maupun suasana yang terbentuk akibat dari interaksi yang ada dialam tersebut. Lingkungan memiliki cakrawala yang sangat luas, sehingga untuk memudahkan pemahaman tentang lingkungan, seringkali diklasifikasikan sesuai kebutuhan. Lingkungan air, udara dan tanah merupakan lingkungan yang sangat dibutuhkan oleh manusia.Lingkungan biologis yang terdiri dari flora dan fauna juga merupakan lingkungan yang diperlukan manusia, meski memiliki efek positif dan negative untuk kesehatan manusia. Jika manusia tidak mampu memelihara lingkungan tersebut, maka akan dapat menimbulkan masalah kesehtan yang dapat bersifat langsung maupun tak langsung. Pengaruh langsung oleh karena lingkungan banyak mengandung bakteri atau kandungan lain yang tak sesuai dengan standar bagi kesehatan manusia. Sedangkan pengaruh tidak langsung dapat muncul sebagai dampak pendayagunaan, misalnya air industri yang menimbulkan pencemaran sehingga dapat mengganggu kesehatan. Penyakit dapat disebabkan oleh berbagai unsur fisis maupun biologis. Namun, sebagian besar penyakit dapat timbul dari perilaku dan adat kebiasaan yang menyimpang dari standar sehat. Hal tersebut dikarenakan ketidak tahuan atau ketidak pedulian masyarakat terhadap kesehatan, dan hasil akhirnya adalah pencemaran lingkungan, kesehatan yang terganggu sehingga muncul gangguan status gizi

Akses pelayanan kesehatan Terhadap Status Gizi (skripsi dan tesis)

Kategori pelayanan kesehatan yang berorientasi pada public lebih diarahkan secara langsung. Sarana transportasi menjadi pendukung dalam partisipasi seseorang dalam menggunakan layanan kesehatan.Kemudahan dalam mengakses lokasi atau tempat kegiatan dan waktu pelaksanaan kegiatan menjadi penguat dalam partisipasi penggunaan layanan kesehatan (Ife & Tesoriero, 2008).Selain itu, jarak tempuh yang dicapai dari rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi perhatian seseorang dalam keaktifan memanfaatkan pelayanan kesehatan (Asdhany & Kartini, 2012). Hasil penelitian Maulana (2013) menunjukkan bahwa ibu yang aktif ke posyandu mempunyai status gizi balita yang tidak BGM (Bawah Garis 22 Merah) sebesar 90,16% dan ibu yang tidak aktif ke posyandu dengan status gizi BGM sebesar 77,08%. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa keaktifan mengikuti posyandu berhubungan dengan status gizi pada balita

Riwayat ASI Eksklusif Terhadap Status Gizi (skripsi dan tesis0

ASI Eksklusif dimaksudkan untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi pada bayi secara eksklusif. Depkes RI (2004) menyatakan bahwa pemberian ASI Eksklusif tanpa makanan dan minuman melainkan air susu ibu saja dalam waktu nol sampai enam bulan. Setelah 6 bulan, bayi bisa diberikan makanan tambahan lain, sedangkan ASI sendiri sebaiknya diberikan sampai usia 2 tahun. Hasil penelitian Widyastuti (2007) menunjukkan bahwa status gizi pada balita berhubungan dengan ASI Eksklusif

Penyakit Infeksi Terhadap Status Gizi (skripsi dan tesis)

Penyakit infeksi dapat dikatakan sebagai proses alamiah karena akibat dari masalah gizi yang diakibatkan interaksi bakteri dengan lingkungan. Ketidakseimbangan faktor ini akan merubah proses metabolisme sehingga muncul penyakit. Tingkat kesakitan yang dimulai dari ringan sampai berat dapat menimbulkan sakit kronis, cacat bahkan kematian (Supariasa, 2002). 20 Penurunan nafsu makan dan adanya gangguan penyerapan dalam sauran pencernaan bisa diakibatkan karena adanya penyakit.Usia balita rentan terhadap penyakit infeksi dikarenakan penyempurnaan jaringan tubuh yang masih mengalami proses untuk membentuk pertahanan tubuh. Pada umumnya penyakit yang menyerang bayi maupun balita bersifat akut yaitu dapat terjadi secara mendadak dan timbulnya gejala sangat cepat.Status gizi dengan penyakit infeksi dikatakan hubungan sebab akibat, karena penyakit infeksi dapat memperburuk keadaan gizi begitupun sebaliknya (Supariasa, 2002). Kesehatan lingkungan sebagai suatu hal yang sangat perlu diperhatikan, karena faktor lingkungan ini dapat berpengaruh terhadap timbulnya suatu penyakit. Penyakit infeksi misalnya diare atau ISPA akan dapat menyebabkan perubahan status gizi pada balita. Adapun ruang lingkup kesehatan lingkungan yang saat ini menjadi perhatian puskesmas sebagai salah satu program nya adalah kondisi rumah, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih, pembuangan air limbah dan sanitasi tempat pengolahan makan (Depkes RI, 2010). Hasil penelitian Lestari (2015) yang dilakukan di Kendari dengan lokasi penelitian dipesisir pantai, menunjukkan bahwa gizi balita berhubungan dnegan penyakit infeksi. Sebagian besar balita yang menderita 21 penyakit infeksi akan mengalami malnutrisi karena kebutuhan nutrisi yang tidak seimbang dalam tubuh

Asupan nutrisi (skripsi dan tesis)

Asupan nutrisi berkaitan dengan ketidakcukupan zat gizi yang diperoleh, apabila hal ini berlangsung lama makan terjadi penurunan berat badan. Terjadinya perubahan fungsi ditandai dengan ciri yang khas akan merubah struktur anatomi dengan munculnya tanda yang klasik (Supariasa, 2002). Masa balita sebagai masa yang paling penting dan memerlukan perhatian khusus dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Pemantauan dapat dilakukan melalui proses pengaturan pola makan yang baik. hal ini akan mempengaruhi kecukupan nutrisinya. Kurang gizi yang merupakan gangguan akibat kesalahan dalam memenuhi kebutuhan pangan secara kualitas maupun kuantitasnya. Penyediaan pangan yang kurang, kebiasaan makan yang salah, kemiskinan dan ketidakpahaman akan kebutuhan zat gizi juga mempengaruhi status gizi seseorang khususnya balita. Pola makan anak 1-5 tahun terbentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan lingkungan luar. Kebiasaan makan yang dipelajari lebih awal dalam keluarga akan lebih bertahan dibandingkan dengan lingkungan luar. Oleh sebab itu, masa balita merupakan waktu yang tepat untuk membentuk kebiasaan atau pola makan yang baik (Waladouw dkk, 2013).
 Kebiasaan makan antara satu keluarga berbeda dengan keluarga yang lain akibat dari perbedaan tempat tinggal, ketersediaan pangan, kondisi kesehatan anak, selera makan, kemampuan daya beli dan kebiasaan makan keluarga (Walalangi, dkk, 2015). Menurut Almatseir (2009), ikatan kimia yang membentuk zat gizi diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya dalam membentuk energi, memelihara jaringan dan mengatur metabolisme tubuh. Tubuh memerlukan zat-zat yang penting bagi tubuh. Karbohidrat sebagai sumber energi dalam melakukan kegiatan sehari-hari yang dapat diperoleh dari golongan tepung seperti beras, kentang, dan kelompok gula. Kekurangan protein adalah KEP (Kurang Energi Protein) merupakan akibat yang dapat ditimbulkan apabila kekurangan protein.Zat makanan yang berupa protein juga dapat diperoleh melalui tumbuh-tumbuhan ataupun hewan.Kedua jenis protein tersebut berfungsi dalam me-regenerasi sel yang rusak, pembentukan enzim dan 18 hormon. Satu gram protein akan menghasilkan sekitar 4,1 kalori.
Tubuh yang kekurangan protein akan terserang penyakit busung lapar. Protein dapat ditemukan pada ikan, daging, telur, kedelai, dll. Selain itu, lemak juga merupakan sumber tenaga yang berfungsi dalam menghasilkan kalori.Zat makanan vitamin dan mineral juga diklasifikasikan menjadi larut dan tidak larut.Zat besi sebagai salah satu jenis dari mineral diperlukan tubuh dalam jumlah yang sangat sedikit. Pembentukan jaringan, tulang, hormone, enzim, keseimbangan cairan dan proses pembekuan darah merupakan beberapa fungsi dari zat besi dalam tubuh. Selain itu, zat besi juga sebagai komponen penting dalam pernafasan yakni terbentuknya hemoglobin dalam mengikat oksigen pada sel darah merah. Asupan nutrisi balita yang disesuaikan dengan umur dan bentuk makanan yang dimakan menurut DepKes RI (2002), yaitu asi eksklusif pada umur 0-4 bulan, makanan lumat usia 4-6 bulan, makanan lembek usia 6-12 bulan dan makanan keluarga yaitusatu sampai satu setengah piring nasi/pengganti, dua sampai tiga potong lauk hewani, satu sampai dua potong lauk nabati, setengah mangkuk sayur, dua sampai tiga potong buah dan satu gelas susu usia 12-24 bulan. Adapun bentuk makanan yang dikonsumsi satu sampai tiga piring nasi/pengganti, dua sampai tiga potong lauk hewani, satu sampai dua potong lauk nabati, satu sampai satu setengah mangkuk sayur, dua sampai tiga potong buah-buahan dan satu sampai dua 19 gelas susu usia 24 bulan keatas. Makanan lumat yang dimaksud berupa makanan yang dihancurkan dan dibuat dari tepung, sedangkan makanan lunak yaitu dimasak dengan air yang lebih banyak dan tampak berair. Balita sebagai salah satu anggota keluarga yang sangat membutuhkan perhatian khusus setidaknya cukup makan perharinya untuk memenuhi kebutuhan dalam pertumbuhannya. Oleh sebab itu, keluarga membutuhkan pengetahuan lebih terkait penyediaan gizi yang baik di rumah.Pemerataan pembagian makanan dalam keluarga juga sangat diperlukan sehingga setiap anggota keluarga tercukupi kebutuhannya dan keanekaragaman makanan yang dikonsumsi juga perlu menjadi perhatian khusus (Indarti, 2016). Hasil penelitian Erni dkk (2008) terkait asupan zat gizi di suku anak dalam Provinsi Jambi menunjukkan hubungan yang erat asupan energy dan protein dengan status gizi balita dilihat dari BB/U, TB/U dan BB/TB.Hal ini berarti balita dengan asupan energy dan protein yang cukup, mempunyai status gizi yang baik

Karakteristik Ibu (skripsi dan tesis)

a. Umur
 Umur bagi ibu hamil berkisar antara 20-35 tahun karena akan berdampak pada kondisi bayi yang akan dilahirkan. Apabila kurang dari 20 tahun keadaan ibu masih belum siap secara biologis berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi, sehingga lebih banyak untuk kebutuhan diri sendiri. Kondisi rahim maupun organ lainnya juga belum terbentuk secara sempurna.Hal ini dapat menjadi penghambat perkembangan janin. Adapun secara psikologis ibu dengan usia kurang dari 20 tahun memiliki emosi yang labil, sedangkan ibu dengan usia lebih dari 35 tahun memiliki kondisi kesehatan yang rentan terhadap penyakit sehingga berakibat terhambatnya pertumbuhan balita tersebut (UNICEF, 2002). Usia ibu berhubungan secara signifikan dengan status gizi menurut hasil penelitian Khotimah, dkk (2013). Namun Himawan (2006) berkata lain dalam penelitiannya, bahwaumur ibu tidak berhubungan dengan status gizi balita.
 b. Pendidikan
Pendidikan ibu merupakan factor utama dalam hal menyusun makan keluarga, pengasuhan maupun perawatan anak (Suhardjo, 2003). Peningkatan pendidikan wanita dapat menimbulkan kesadaran akan pengembangan diri dalam melakukan kegiatan sosial. Tuntutan kebutuhan akan ekonomi yang meningkat menimbulkan keharusan ibu akan pekerjaan terkait pendapatan dalam keluarga (Engle, 2000). Hasil penelitian Kristianti (2013), menjelaskan bahwa pendidikan ibu tidak ada kaitannya dengan status gizi, karena sebagian besar ibu memiliki tingkat pendidikan tinggi sehingga cenderung memiliki pengetahuan yang luas dan mudah dalam menangkap informasi yang diterima. Namun, dalam penelitian Khaidir (2015) dengan menganalisis data Riskesdas 2010 menjelaskan bahwa status pekerjaan dapat berhubungan dengan status gizi balita.
 c. Pekerjaan
Pekerjaan erat kaitannya dengan pendapatan yang diperoleh. Hal yang muncul selain memperoleh materi yaitu penelantaran anak akibat dari kegiatan ibu di luar rumah. Pengasuhan dan keadaan gizi sejak bayiakan mempengaruhi masa-masa penting di usia 5 tahun kebawah. Penurunan berat badan tidak jarang terjadi pada balita karena perilaku ibu yang kurang mempersiapkan makan anak. Pekerjaan diluar rumah maupun didalam rumah akan berpengaruh terhadap kurangnya pemantauan ibu dalam konsumsi makan anaknya. Kristianti dalam penelitianya di Salomo Pontianak menyatakan jikapekerjaan ibu tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi anak.Berbeda halnya dengan penelitian yang dilakukan Himawan (2006) yakni ada kaitanpekerjaan dengan status gizi balita. d. Paritas Paritas dikategorikan tinggi apabila melahirkan anak ke-4 atau lebih. Dampak yang ditimbulkan pada ibu dengan paritas tinggi dan masih memberikan ASI pada anak sebelumnya, maka perhatian ibu akan lebih focus pada anak yang baru dilahirkan. Oleh karena itulah, pemberhentian ASI yang dilakukan pada anak sebelumnya akan menjadi faktor pendorong terjadinya gizi buruk (Sjahmien, 2003). Sejalan dengan penjelasan tersebut,  Himawan(2006) dalam penelitiannya juga menjelaskankaitan yang erat paritas ibu dengan status gizi balita.
e. Jumlah balita
Jumlah balita yang dilimili dalam keluarga akan mempengaruhi ketersediaan pangan. Ketersediaan pangan dalam keluarga akan berbeda antara keluarga yang satu dengan yang lain, dikarenakan perbedaan penghasilan. Status ekonomi yang rendah didukung oleh jumlah anak dalam keluarga yang besar akan memberikan peluang kepada anak tersebut untuk menderita gizi kurang maupun gizi buruk. Anak yang tumbuh dalam keluarga miskin berpeluang besar untuk mengalami gangguan status gizi. Sama halnya dengan anak yang paling kecil akan berpengaruh terhadap kekurangan pangan. Apabila anggota keluarga bertambah khususnya balita, maka pangan yang akan diterima oleh balita lainnya akan berkurang. Asupan nutrisi yang tidak seimbang mempengaruhi terjadinya penurunan berat badan. Oleh sebab itu, jumlah anak akan menentukan status gizi balita (Faradevi, 2011). Hasil penelitian Karundeng dkk (2015) menyatakan bahwa status gizi balita tidak dipengaruhi oleh jumlah anak dalam keluarga.Hal ini dikarenakan sebagian besar ibu sudah mempunyai pengalaman dalam merawat anak.Namun fenomena yang terjadi dalam penelitian ini, yaitu  masih ditemukannya jumlah anak yang kurang dari 3 tahun berstatus gizi kurang.

 f. Jarak kelahiran
 Jarak kelahiran tidak dapat dipisahkan dari paritas atau jumlah kelahiran. Paritas yang tinggi akan secara langsung berpengaruh pada jarak kelahiran yang semakin pendek.Seorang ibu paling tidak memerlukan sedikitnya 24 bulan untuk pemulihan setelah melahirkan.Adapun kemungkinan yang dapat terjadi adalah lahir premature atau bayi yang lahir dengan berat badan rendah (UNICEF, 2002). Berdasarkan hasil analisis penelitian Karundeng (2015), membuktikan adanya hubungan jarak kelahiran dengan status gizi balita. Namun penelitian ini menjelaskan ada faktor lain yang mempengaruhi terjadinya status gizi baik pada jarak kelahiran kurang dari 3 tahun.
 g. Status Perkawinan
Perkawinan menurut Soekanto (2000) merupakan ikatan yang sah antara seorang laki-laki dengan perempuan, sehingga timbul hak-hak dan kewajiban antara mereka.Ikatan lahir dan batin sebagai suami istri menjadi dasar dari status perkawinan.
h. Tingkat pengetahuan
Kurang gizi yang banyak didirita oleh balita dikatakan sebagai golongan rawan pada anak. Masa peralihan antara penyapihan dengan 16 waktu pertama makan akan dipengaruhi oleh pola pengasuhan ibu terkait asupan nutrisinya. Pengetahuan ibu terkait status gizi sangat berperan dalam menyiapkan bahan makanan yang akan dberikan, maupun kebiasaan pemberina makanan pada balita (Suhardjo, 2003). Hilmawan (2006) dalam hasil analisinya menyatakan jika pengetahuan ibu berhubungan dengan status gizi balit.Walaupun demikian, usaha untuk meningkatkan pengetahuan terkait status gizi tetap dilakukan melalui penyuluhan maupun kunjungan rumah yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan petugas gizi ke masyaraka

Penilaian Status Gizi (skripsi dan tesis)

Status gizi dapat dinilai secara langsung melalui pemeriksaan ukuran tubuh manusia, metode klinis dengan melihat perubahan yang terjadi secara fisik pada tubuh seseorang, metode biokimia dengan pemeriksaan specimen yang diuji menggunakan laboratorium dan secara biofisik dengan melihat kemampuan fungsi jaringan.Adapun secara tidak langsung dapat dinilai melalui survey konsumsi makanan (supariasa, 2001). Penilaian status gizi didasarkan pada tiga kategori BB/U, TB/U dan BB/TB dengan mengkonversikan nilai berat badan dan tinggi badan kedalam Z-Score, menggunakan baku antropometri WHO (2006) . Dikatakan gizi kurang, pendek ataupun kurus jika nilai Z-Score (≥ 3,0 s.d <-2,0) dan gizi baik (≥ -2,0 s.d ≤2,0). Kebutuhan zat gizi tidak sama bagi setiap orang, tergantung banyak hal salah satunya adalah usia. Balita membutuhkan zat gizi didasarkan pada kecukupan gizi (AKG) asupan energi, protein, lemak dan karbohidrat sesuai kelompok umur dan rata-rata perhari diantaranya yaitu pada usia 0-6 bulan (550 kkal, 12 gr, 34gr dan 58 gr), usia 7-11 bulan (725 kkal, 18gr, 36gr dan 82gr), usia 1-3 tahun (1125kkal, 26gr, 44gr dan 155gr) dan pada usia 4-6 tahun (1600kkal, 35gr, 62gr dan 220gr) (Permenkes RI, 2013).

Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan (skripsi dan tesis)

 

Angka kecukupan gizi yang dianjurkan merupakan suatu ukuran keckupan rata-rata zat gizi setiap hari untuk semua orang yang disesuiakan dengan golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, aktivitas tubuh untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal dan mencegah terjadinya defisiensi zat gizi (Depkes, 2005b ). Angka Kecukupan Energi (AKE) merupakan rata-rata tingkat konsumsi energi dengan pangan yang seimbang yang disesuaikan dengan pengeluaran energi pada kelompok umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan aktivitas fisik.
Angka Kecukupan Protein (AKP) merupakan rata-rata konsumsi protein untuk menyeimbangkan protein agar tercapai semua populasi orang sehat disesuaikan dengan kelompok umur, jenis kelamin, ukuran tubuh dan aktivitas fisik. Kecukupan karbohidrat sesuai dengan pola pangan yang baik berkisar antara 50-65% total energi, sedangkan kecukupan lemak berkisar antara 20-30% total energi (Hardinsyah dan Tambunan, 2004).

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi (skripsi dan tesis)

.1. Umur
Kebutuhan energi individu disesuaikan dengan umur, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas. Jika kebutuhan energi (zat tenaga) terpenuhi dengan baik maka dapat meningkatkan produktivitas kerja, sehingga membuat seseorang lebih semangat dalam melakukan pekerjaan. Apabila kekurangan energi maka produktivitas kerja seseorang akan menurun, dimana seseorang akan malas bekerja dan cenderung untuk bekerja lebih lamban. Semakin bertambahnya umur akan semakin meningkat pula kebutuhan zat tenaga bagi tubuh. Zat tenaga dibutuhkan untuk mendukung meningkatnya dan semakin beragamnya kegiatan fisik (Apriadji, 1986).
2. Frekuensi Makan Frekuensi konsumsi makanan dapat menggambarkan berapa banyak makanan yang dikonsumsi seseorang. Menurut Hui (1985), sebagian besar remaja melewatkan satu atau lebih waktu makan, yaitu sarapan. Sarapan adalah waktu makan yang paling banyak dilewatkan, disusul oleh makan siang. Ada beberapa alasan yang menyebabkan seseorang malas untuk sarapan, antara lain mereka sedang dalam keadaan terburu-buru, menghemat waktu, tidak lapar, menjaga berat badan dan tidak tersedianya makanan yang akan dimakan. Melewatkan waktu makan dapat menyebabkan penurunan konsumsi energi, protein dan zat gizi lain (Brown et al, 2005). Pada bangsa-bangsa yang frekuensi makannya dua kali dalam sehari lebih banyak orang yang gemuk dibandingkan bangsa dengan frekuensi makan sebanyak  tiga kali dalam sehari. Hal ini berarti bahwa frekuensi makan sering dengan jumlah yang sedikit lebih baik daripada jarang makan tetapi sekali makan dalam jumlah yang banyak (Suyono, 1986).
3. Asupan Energi
Energi merupakan asupan utama yang sangant diperlukan oleh tubuh. Kebutuhan energi yang tidak tercukupi dapat menyebabkan protein, vitamin, dan mineral tidak dapat digunakan secara efektif. Untuk beberapa fungsi metabolisme tubuh, kebutuhan energi dipengaruhi oleh BMR (Basal Metabolic Rate), kecepatan pertumbuhan, komposisi tubuh dan aktivitas fisik (Krummel & Etherton, 1996). Energi yang diperlukan oleh tubuh berasal dari energi kimia yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi. Energi diukur dalam satuan kalori. Energi yang berasal dari protein menghasilkan 4 kkal/gram, lemak 9 kkal/gram, dan karbohidrat 4 kkal/ gram (Baliwati, 2004).
4. Asupan Protein
Protein merupakan zat gizi yang paling banyak terdapat dalam tubuh. Fungsi utama protein adalah membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh (Almatsier, 2001). Fungsi lain dari protein adalah menyediakan asam amino yang diperlukan untuk membentuk enzim pencernaan dan metabolisme, mengatur keseimbangan air, dan mempertahankan kenetralan asam basa tubuh. Pertumbuhan, kehamilan, dan infeksi penyakit meningkatkan kebutuhan protein seseorang (Baliwati, 2004)Sumber makanan yang paling banyak mengandung protein berasal dari bahan makanan hewani, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan dan kerang. Sedangkan sumber protein nabati berasal dari tempe, tahu, dan kacang-kacangan. Catatan Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 1999, menunjukkan secara nasional konsumsi protein sehari rata-rata penduduk Indonesia adalah 48,7 gram sehari (Almatsier, 2001). Anjuran asupan protein berkisar antara 10 – 15% dari total energi (WKNPG, 2004).
5. Asupan Karbohidrat
 Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi kehidupan manusia yang dapat diperoleh dari alam, sehingga harganya pun relatif murah (Djunaedi, 2001). Sumber karbohidrat berasal dari padi-padian atau serealia, umbi-umbian, kacangkacangan dan gula. Sumber karbohidrat yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sebagai makanan pokok adalah beras, singkong, ubi, jagung, taslas, dan sagu (Almatsier, 2001). Karbohidrat menghasilkan 4 kkal / gram. Angka kecukupan karbohidrat sebesar 50-65% dari total energi. (WKNPG, 2004). WHO (1990) menganjurkan agar 55 – 75% konsumsi energi total berasal dari karbohidrat kompleks. Karbohidrat yang tidak mencukupi di dalam tubuh akan digantikan dengan protein untuk memenuhi kecukupan energi. Apabila karbohidrat tercukupi, maka protein akan tetap berfungsi sebagai zat pembangun (Almatsier, 2001). Faktor-faktor…, Desy Khairina, FKMUI, 2008
.6. Asupan Lemak
 Lemak merupakan cadangan energi di dalam tubuh. Lemak terdiri dari trigliserida, fosfolipid, dan sterol, dimana ketiga jenis ini memiliki fungsi terhadap kesehataan tubuh manusia (WKNPG, 2004). Konsumsi lemak paling sedikit adalah 10% dari total energi. Lemak menghasilkan 9 kkal/ gram. Lemak relatif lebih lama dalam sistem pencernaan tubuh manusia. Jika seseorang mengonsumsi lemak secara berlebihan, maka akan mengurangi konsumsi makanan lain. Berdasarkan PUGS, anjuran konsumsi lemak tidak melebihi 25% dari total energi dalam makanan seharihari. Sumber utama lemak adalah minyak tumbuh-tumbuhan, seperti minyak kelapa, kelapa sawit, kacang tanah, jagung, dan sebagainya. Sumber lemak utama lainnya berasal dari mentega, margarin, dan lemak hewan (Almatsier, 2001).
7. Tingkat Pendidikan
Pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan pengetahuan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka sangat diharapkan semakin tinggi pula pengetahuan orang tersebut mengenai gizi dan kesehatan. Pendidikan yang tingggi dapat membuat seseorang lebih memperhatikan makanan untuk memenuhi asupan zat-zat gizi yang seimbang. Adanya pola makan yang baik dapat mengurangi bahkan mencegah dari timbulnya masalah yang tidak diinginkan mengenai gizi dan kesehatan (Apriadji, 1986). Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, akan mudah dalam menyerap dan menerapkan informasi gizi, sehingga diharapkan dapat menimbulkan perilaku dan gaya hidup yang sesuai dengan informasi yang didapatkan mengenai gizi dan kesehatan. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan (WKNPG, 2004). Pendidikan juga berperan penting dalam meningkatkan status gizi seseorang. Pada umumnya tingkat pendidikan pembantu rumah tangga masih rendah (tamat SD dan tamat SMP). Pendidikan yang rendah sejalan dengan pengetahuan yang rendah, karena dengan pendidikan rendah akan membuat seseorang sulit dalam menerima informasi mengenai hal-hal baru di lingkungan sekitar, misalnya pengetahuan gizi. Pendidikan dan pengetahuan mengenai gizi sangat diperlukan oleh pembantu rumah tangga. Selain untuk diri sendiri, pendidikan dan pengetahuan gizi yang diperoleh dapat dipraktekkan dalam pekerjaan yang mereka lakukan.
8. Pendapatan
Pendapatan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi status gizi, Pembantu rumah tangga mendapatkan gaji (pendapatan) yang masih di bawah UMR (Gunanti, 2005). Besarnya gaji yang diperoleh terkadang tidak sesuai dengan banyaknya jenis pekerjaan yang dilakukan. Pendapatan seseorang akan menentukan kemampuan orang tersebut dalam memenuhi kebutuhan makanan sesuai dengan jumlah yang diperlukan oleh tubuh. Apabila makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi jumlah zat-zat gizi dibutuhkan oleh tubuh, maka dapat mengakibatkan perubahan pada status gizi seseorang (Apriadji, 1986). Ada dua aspek kunci yang berhubungan antara pendapatan dengan pola konsumsi makan, yaitu pengeluaran makanan dan tipe makanan yang dikonsumsi. Apabila seseorang memiliki pendapatan yang tinggi maka dia dapat memenuhi kebutuhan akan makanannya (Gesissler, 2005). Faktor-faktor…, Desy Khairina, FKMUI, 2008 26 Meningkatnya pendapatan perorangan juga dapat menyebabkan perubahan dalam susunan makanan. Kebiasaan makan seseorang berubah sejalan dengan berubahnya pendapatan seseorang (Suhardjo, 1989). Meningkatnya pendapatan seseorang merupakan cerminan dari suatu kemakmuran. Orang yang sudah meningkat pendapatannya, cenderung untuk berkehidupan serba mewah. Kehidupan mewah dapat mempengaruhi seseorang dalam hal memilih dan membeli jenis makanan. Orang akan mudah membeli makanan yang tinggi kalori. Semakin banyak mengonsumsi makanan berkalori tinggi dapat menimbulkan kelebihan energi yang disimpan tubuh dalam bentuk lemak. Semakin banyak lemak yang disimpan di dalam tubuh dapat mengakibatkan kegemukan (Suyono, 1986).
9. Pengetahuan
Tingkat pendidikan seseorang sangat mempengaruhi tingkat pengetahuannya akan gizi. Orang yang memiliki tingkat pendidikan hanya sebatas tamat SD, tentu memiliki pengetahuan yang lebih rendah dibandingkan orang dengan tingkat pendidikan tamat SMA atau Sarjana. Tetapi, sebaliknya, seseorang dengan tingkat pendidikan yang tinggi sekalipun belum tentu memiliki pengetahuan gizi yang cukup jika ia jarang mendapatkan informasi mengenai gizi, baik melalui media iklan, penyuluhan, dan lain sebagainya. Tetapi, perlu diingat bahwa rendah-tingginya pendidikan seseorang juga turut menentukan mudah tidaknya orang tersebut dalam menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Berdasarkan hal ini, kita dapat menentukan metode penyuluhan gizi yang tepat. Di samping itu, dilihat dari segi kepentingan gizi keluarga, pendidikan itu sendiri amat diperlukan agar seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi di dalam keluarga dan dapat mengambil tindakan secepatnya (Apriadji, 1986). Pengetahuan gizi sangat penting, dengan adanya pengetahuan tentang zat gizi maka seseorang dengan mudah mengetahui status gizi mereka. Zat gizi yang cukup dapat dipenuhi oleh seseorang sesuai dengan makanan yang dikonsumsi yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan. Pengetahuan gizi dapat memberikan perbaikan gizi pada individu maupun masyarakat (Suhardjo, 1986).

Metode Pengukuran Konsumsi Makanan (skrispi dan tesis)

Metode pengukuran konsumsi makanan digunakan untuk mendapatkan data konsumsi makanan tingkat individu. Ada beberapa metode pengukuran konsumsi makanan, yaitu sebagai berikut :
1. Recall 24 jam (24 Hour Recall) Metode ini dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah makanan serta minuman yang telah dikonsumsi dalam 24 jam yang lalu. Recall dilakukan pada saat wawancara dilakukan dan mundur ke belakang sampai 24 jam penuh. Wawancara menggunakan formulir recall harus dilakukan oleh petugas yang telah terlatih. Data yang didapatkan dari hasil recall lebih bersifat kualitatif. Untuk mendapatkan data kuantitatif maka perlu ditanyakanenggunaan URT (Ukuran Rumah Tangga). Sebaiknya recall dilakukan minimal dua kali dengan tidak berturut-turut. Recall yang dilakukan sebanyak satu kali kurang dapat menggambarkan kebiasaan makan seseorang (Supariasa, 2001). Metode recall sangat tergantung dengan daya ingat individu, sehingga sebaiknya responden memiliki ingatan yang baik agar dapat menggambarkan konsumsi yang sebenarnya tanpa ada satu jenis makanan yang terlupakan. Recall tidak cocok bila dilakukan pada responden yang di bawah 7 tahun dan di atas 70 tahun. Recall dapat menimbulkan the flat slope syndrome, yaitu kecenderungan responden untuk melaporkan konsumsinya. Responden kurus akan melaporkan konsumsinya lebih banyak dan responden gemuk akan melaporkan konsumsi lebih sedikit, sehingga kurang menggambarkan asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak yang sebenarnya (Supariasa, 2001).
2. Food Record
 Food record merupakan catatan responden mengenai jenis dan jumlah makanan dan minuman dalam satu periode waktu, biasanya 1 sampai 7 hari dan dapat dikuantifikasikan dengan estimasi menggunakan ukuran rumah tangga (estimated food record) atau menimbang (weighed food record) (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).
3. Food Frequency Questionnaire (FFQ)
 FFQ merupakan metode pengukuran konsumsi makanan dengan menggunakan kuesioner untuk memperoleh data mengenai frekuensiseseorang dalam mengonsumi makanan dan minuman. Frekuensi konsumsi dapat dilakukan selama periode tertentu, misalnya harian, mingguan, bulanan maupun tahunan. Kuesioner terdiri dari daftar jenis makanan dan minuman (Supariasa, 2001).
 4. Penimbangan makanan (Food Weighing)
 Metode penimbangan makanan dilakukan dengan cara menimbang makanan disertai dengan mencatat seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi responden selama satu hari. Persiapan pembuatan makanan, penjelasan mengenai bahan-bahan yang digunakan dan merk makanan (jika ada) sebaiknya harus diketahui (Gibson, 2005).
5. Metode Riwayat Makan
Metode riwayat makan dilakukan untuk menghitung asupan makanan yang selalu dimakan dan pola makan seseorang dalam waktu yang relatif lama, misalnya satu minggu, satu bulan, maupun satu tahun. Metode ini terdiri dari 3 komponen, yaitu wawancara recall 24 jam, memeriksa kebenaran recall 24 jam dengan menggunakan kuesioner berdasarkan frekuensi konsumsi sejumlah makanan, dan konsumsi makanan selama tiga hari, termasuk porsi makanan (Gibson, 2005)

Masalah Gizi Lebih (skripsi dan tesis)

Status gizi lebih merupakan keadaan tubuh seseorang yang mengalami kelebihan berat badan, yang terjadi karena kelebihan jumlah asupan energi yang disimpan dalam bentuk cadangan berupa lemak. Ada yang menyebutkan bahwa masalah gizi lebih identik dengan kegemukan. Kegemukan dapat menimbulkan dampak yang sangat berbahaya yaitu dengan munculnya penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, hipertensi, gangguan ginjal dan masih banyak lagi (Soerjodibroto, 1993). Masalah gizi lebih ada dua jenis yaitu overweight dan obesitas. Batas IMT untuk dikategorikan overweight adalah antara 25,1 – 27,0 kg/m2 , sedangkan obesitas adalah ≥ 27,0 kg/m2 . Kegemukan (obesitas) dapat terjadi mulai dari masa bayi, anakanak, sampai pada usia dewasa. Kegemukan pada masa bayi terjadi karena adanya penimbunan lemak selama dua tahun pertama kehidupan bayi. Bayi yang menderita kegemukan maka ketika menjadi dewasa akan mengalami kegemukan pula. Kegemukan pada masa anak-anak terjadi sejak anak tersebut berumur dua tahun sampai menginjak usia remaja dan secara bertahap akan terus mengalami kegemukan sampai usia dewasa. Kegemukan pada usia dewasa terjadi karena seseorang telah mengalami kegemukan dari masa anak-anak (Suyono, 1986).

Masalah Gizi Kurang (skripsi dan tesis)

Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik,  perkembangan otak, kemampuan kerja, dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Gizi kurang merupakan suatu keadaan yang terjadi akibat tidak terpenuhinya asupan makanan (Sampoerno, 1992). Gizi kurang dapat terjadi karena seseorang mengalami kekurangan salah satu zat gizi atau lebih di dalam tubuh (Almatsier, 2001). Akibat yang terjadi apabila kekurangan gizi antara lain menurunnya kekebalan tubuh (mudah terkena penyakit infeksi), terjadinya gangguan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, kekurangan energi yang dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja, dan sulitnya seseorang dalam menerima pendidikan dan pengetahuan mengenai gizi (Jalal dan Atmojo, 1998). Gizi kurang merupakan salah satu masalah gizi yang banyak dihadapi oleh negara-negara yang sedang berkembang. Hal ini dapat terjadi karena tingkat pendidikan yang rendah, pengetahuan yang kurang mengenai gizi dan perilaku belum sadar akan status gizi. Contoh masalah kekurangan gizi, antara lain KEP (Kekurangan Energi Protein), GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium), Anemia Gizi Besi (AGB) (Apriadji, 1986).

Indeks Antropometri (skripsi dan tesis)

Indeks antropometri adalah pengukuran dari beberapa parameter. Indeks antropometri bisa merupakan rasio dari satu pengukuran terhadap satu atau lebih pengukuran atau yang dihubungkan dengan umur dan tingkat gizi. Salah satu contoh dari indeks antropometri adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) atau yang disebut dengan Body Mass Index (Supariasa, 2001). IMT merupakan alat sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia  harapan hidup yang lebih panjang. IMT hanya dapat digunakan untuk orang dewasa yang berumur diatas  tahun. Dua parameter yang berkaitan dengan pengukuran Indeks Massa Tubuh, terdiri dari :
1. Berat Badan Berat badan merupakan salah satu parameter massa tubuh yang paling sering digunakan yang dapat mencerminkan jumlah dari beberapa zat gizi seperti protein, lemak, air dan mineral. Untuk mengukur Indeks Massa Tubuh, berat badan dihubungkan dengan tinggi badan (Gibson, 2005).
 2. Tinggi Badan Tinggi badan merupakan parameter ukuran panjang dan dapat merefleksikan pertumbuhan skeletal (tulang) (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).

Penilaian Status Gizi (skripsi dan tesis)

Penilaian status gizi merupakan penjelasan yang berasal dari data yang diperoleh dengan menggunakan berbagai macam cara untuk menemukan suatu populasi atau individu yang memiliki risiko status gizi kurang maupun gizi lebih (Hartriyanti dan Triyanti, 2007). Penilaian status gizi terdiri dari dua jenis, yaitu :

1. Penilaian Langsung
 a. Antropometri Antropometri merupakan salah satu cara penilaian status gizi yang berhubungan dengan ukuran tubuh yang disesuaikan dengan umur dan tingkat gizi seseorang. Pada umumnya antropometri mengukur dimensi dan komposisi tubuh seseorang (Supariasa, 2001). Metode antropometri sangat berguna untuk melihat ketidakseimbangan energi dan protein. Akan tetapi, antropometri tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi zat-zat gizi yang spesifik (Gibson, 2005).

 b. Klinis Pemeriksaan klinis merupakan cara penilaian status gizi berdasarkan perubahan yang terjadi yang berhubungan erat dengan kekurangan maupun kelebihan asupan zat gizi. Pemeriksaan klinis dapat dilihat pada jaringan epitel yang terdapat di mata, kulit, rambut, mukosa mulut, dan organ yang dekat dengan permukaan tubuh (kelenjar tiroid) (Hartriyanti dan Triyanti, 2007). c. Biokimia Pemeriksaan biokimia disebut juga cara laboratorium. Pemeriksaan biokimia pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi adanya defisiensi zat gizi pada kasus yang lebih parah lagi, dimana dilakukan pemeriksaan dalam suatu bahan biopsi sehingga dapat diketahui kadar zat gizi atau adanya simpanan di jaringan yang paling sensitif terhadap deplesi, uji ini disebut uji biokimia statis. Cara lain adalah dengan menggunakan uji gangguan fungsional yang berfungsi untuk mengukur besarnya konsekuensi fungsional daru suatu zat gizi yang spesifik Untuk pemeriksaan biokimia sebaiknya digunakan perpaduan antara uji biokimia statis dan uji gangguan fungsional (Baliwati, 2004). d. Biofisik Pemeriksaan biofisik merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat kemampuan fungsi jaringan dan melihat perubahan struktur jaringan yang dapat digunakan dalam keadaan tertentu, seperti kejadian buta senja (Supariasa, 2001).

2. Penilaian Tidak Langsung
a. Survei Konsumsi Makanan Survei konsumsi makanan merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi oleh individu maupun keluarga. Data yang didapat dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Data kuantitatif dapat mengetahui jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi, sedangkan data kualitatif dapat diketahui frekuensi makan dan cara seseorang maupun keluarga dalam memperoleh pangan sesuai dengan kebutuhan gizi (Baliwati, 2004).

 b. Statistik Vital Statistik vital merupakan salah satu metode penilaian status gizi melalui data-data mengenai statistik kesehatan yang berhubungan dengan gizi, seperti angka kematian menurut umur tertentu, angka penyebab kesakitan dan kematian, statistik pelayanan kesehatan, dan angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan kekurangan gizi (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).
c. Faktor Ekologi Penilaian status gizi dengan menggunakan faktor ekologi karena masalah gizi dapat terjadi karena interaksi beberapa faktor ekologi, seperti faktor biologis, faktor fisik, dan lingkungan budaya. Penilaian berdasarkan faktor ekologi digunakan untuk mengetahui penyebab kejadian gizi salah (malnutrition) di suatu masyarakat yang nantinya akan sangat berguna untuk melakukan intervensi gizi (Supariasa, 2001).

Pengertian Status Gizi (skripsi dan tesis)

Status gizi adalah suatu ukuran mengenai kondisi tubuh seseorang yang dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Status gizi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang, gizi normal, dan gizi lebih (Almatsier, 2005). Status gizi normal merupakan suatu ukuran status gizi dimana terdapat keseimbangan antara jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan energi yang dikeluarkan dari luar tubuh sesuai dengan kebutuhan individu. Energi yang masuk ke dalam tubuh dapat berasal dari karbohidrat, protein, lemak dan zat gizi lainnya (Nix, 2005). Status gizi normal merupakan keadaan yang sangat diinginkan oleh semua orang (Apriadji, 1986). Status gizi kurang atau yang lebih sering disebut undernutrition merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari energi yang dikeluarkan. Hal ini dapat terjadi karena jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari anjuran kebutuhan individu (Wardlaw, 2007). Status gizi lebih (overnutrition) merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh lebih besar dari jumlah energi yang dikeluarkan (Nix, 2005). Hal ini terjadi karena jumlah energi yang masuk melebihi kecukupan energi yang dianjurkan untuk seseorang, akhirnya kelebihan zat gizi disimpan dalam bentuk lemak yang dapat mengakibatkan seseorang menjadi gemuk (Apriadji, 1986).

Definisi Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi) (skripsi dan tesis)

Hipertensi adalah desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada arteri (pembuluh nadi).Hipertensi juga disebut dengan tekanan darah tinggi, dimana tekanan tersebut dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah  sehingga hipertensi ini berkaitan dengan tekanan sistolik dan tekanan diastolik. (Gunawan, 2001, dalam Sugiharto,2007) Ketika jantung memompa darah melewati arteri, darah menekan dinding pembuluh darah.Mereka yang menderita hipertensi mempunyai tinggi tekanan darah yang tidak normal.Penyempitan pembuluh nadi (aterosklerosis) merupakan gejala awal yang umum terjadi pada hipertensi.Karena arteri-arteri terhalang lempengan kolesterol dalam aterosklerosis, sirkulasi darah melewati pembuluh darah menjadi sulit.Ketika arteri-arteri mengeras dan mengerut dalam aterosklerosis, darah memaksa melewati jalam yang sempit itu, sebagai hasilnya tekanan darah menjadi tinggi. (Wirakusumah, 2002, dalam Sugiharto,2007) Tingginya tekanan sistolikberhubungan dengan besarnya curah jantung sedangkan tingginya tekanan diastolik berhubungan dengan besarnya resistensi perifer atau hambatan pembuluh perifer dapat meningkatkan tekanan darah (Prodjosudjadi, W, 2000 dalam Rasmaliah,2005)

Definisi Tekanan Darah (skripsi dan tesis)

Tekanan darah adalah desakan darah terhadap dinding – dinding arteri darah tersebut di pompa dari jantung ke jaringan. Tekanan darah merupakan gaya yang diberikan darah pada dinding pembuluh darah. Tekanan ini bervariasi sesuai pembuluh darah terkait dan denyut jantung.(Kaplan, 1998, dalam Sugiharto,2007) Pada pengukuran tekanan darah di kenal dua istilah, yaitu tekanan darah sistolik dan diastolik.Tekanan darah sistolik (angka yang di atas) menunjukkan besarnya tekanan di arteri – arteri (pembuluh nadi) ketika otot jantung yang berkontraksi dan memompa darah ke dalamnya.Tekanan darah diastolik (angka yang di bawah) menunjukkan besarnya tekanan di arteri – arteriketika otot jantung relaks setelah berkontraksi. (AS, 2010)

Perkembangan Remaja (skripsi dan tesis)

1. Perkembangan Fisik

 Menurut Dacey & Travers (2004), perkembangan fisik remaja ditandai dengan adanya suatu periode yang disebut pubertas. Pada masa pubertas, hormone seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu Follicle-Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Perkembangan secara cepat dari kedua hormon tersebut menyebabkan terjadinya perubahan sistem biologis seorang anak. Pada anak perempuan, peristiwa pertawa yang terjadi adalah telarke, yaitu terbentuknya payudara diikuti oleh pubarke, yaitu tumbuhnya rambut pubis di ketiak, lalu menarke, yaitu  periode haid pertama. Selain itu terjadi juga pertumbuhan otot yang cepat, tumbuhnya rambut pubis serta suara yang semakin halus. Perubahan yang terjadi pada anak laki-laki yaitu suara yang semakin berat, pertumbuhan otot dan pertumbuhan rambut tubuh. Perkembangan fisik remaja akan berlangsung sangat cepat sejak awal terjadinya pubertas.
2. Perkembangan Kognitif
Tahap ini merupakan tahap yang paling tinggi dalam perkembangan kognitif individu, dimana remaja mempunyai kemampuan untuk memanipulasi informasi dan mempunyai pemikiran yang lebih luas lagi. Pada masa remaja, proses pembentukan gambaran tubuh sudah diikuti dengan proses kognisi. Pproses kognisi tersebut berupa pemikiran dan keinginan untuk mengidentifikasikan diri sesuai dengan tokoh idolanya. Proses pembentukan gambaran tubuh yang baru pada masa remaja ke dalam diri adalah bagian dari tugas perkembangan yang sangat penting (Dacey & Kenny, 2001).
3. Perkembangan Sosial
Menurut Handel (dalam Rice, 1990), sejak masa puber, remaja umumnya mulai memperhatikan dan membandingkan hal-hal khusus seperti penampilan fisik (misalnya bentuk tubuh) dan kemampuan sosialisasinya dengan lingkungan pergaulan dan tokoh idolanya. Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian social. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah (Hurlock, 1999)

Remaja (skripsi dan tesis)

Istilah remaja berasal dari kata latin, yaitu adolescere yang berarti perkembangan menjadi dewasa (Monks, 1999). Menurut Santork (2003), masa remaja adalah masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial. Masa remaja memiliki batasan yang berbeda-beda menurut beberapa ahli. Hall (dalam Santrock, 2003) menyatakan bahwa usia remaja adalah masa antara usia 12 sampai 23 tahun. Monks (1999) berpendapat bahwa batasan usia remaja antara 12 sampai 21 tahun yang terbagi dalam tiga fase, yaitu remaja awal (12-15 tahun), remaja tengah/madya (15-18 tahun), dan remaja akhir (18-21 tahun)

Dampak Perilaku Diet (skripsi dan tesis)

Menurut Hawks (2008), tindakan diet penurunan berat badan menimbulkan beberapa dampak bagi seseorang yang melakukannya, yaitu : 1. Dampak Biologis Diet akan meningkatkan level systemic cortisol. Cortisol merupakan pertanda dari timbulnya stress yang merupakan predictor terhadap level rasa lapar dan hal lain merupakan faktor yang beresiko terhadap timbulnya tulang yang rapuh. 2. Dampak Psikologis Individu yang melakukan diet biasanya akan lebih depresi dan emosional dari pada individu yang tidak diet, dan akan mengalami kecemasan serta kurangnya penyesuaian diri yang baik pada area sosialisasi, kematangan, tanggung jawab dan struktur nilai intrapersonal. 3. Dampak Kognitif Kerusakan dalam working memory, waktu reaksi, tingkat perhatian dan performansi kognitif dipengaruhi oleh bentuk tubuh, makanan dan diet yang disebabkan oleh kecemasan yang dihasilkan oleh efek stress terhadap diet.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tindakan Diet (skripsi dan tesis)

Menurut McDuffie dan Kirkley dalam Kurnianingsih (2009) mengemukakan secara umum faktor-faktor yang memengaruhi tindakan diet penurunan berat badan pada remaja yaitu :

 1. Status Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2001). Cara untuk mengetahui status gizi seseorang ada berbagai macam cara, salah satunya dengan menghitung nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan berat badan dan tinggi badan seseorang tersebut. Dwyer (1997) mengatakan bahwa orang yang memiliki berat badan lebih, lebih perhatian terhadap berat badannya dari pada orang yang  memiliki berat badan lebih ringan. Pada umumnya memang seseorang yang memiliki berat badan lebih melakukan banyak cara untuk dapat menurunkan berat badanya sampai seperti yang diinginkan.
2. Citra Tubuh
 Citra tubuh merupakan gambaran kombinasi tentang keakuratan satu persepsi mengenai ukuran tubuh, perasaan dan perilaku yang menerima atau menolak perasaan tersebut (Heinberg, 1996). Seseorang yang menilai buruk akan bentuk tubuhnya cenderung akan melakukan tindakan diet untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal
. 3. Pengetahuan tentang Diet
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoadmojo, 2003). Pengetahuan tentang diet berarti seseorang tersebut telah melakukan penginderaan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan diet, baik melalui indera penglihatan maupun pendengaran.
 4. Sikap Keluarga
Keluarga memberikan pengaruh yang besar terhadap sikap dan perilaku makan remaja. Pada umumnya seorang remaja putri meniru pola makan yang dilakukan ibunya. Menurut Strober dalam Kurnianingsih  (2009), komentar negatif dan sindiran tentang bentuk tubuh dan ukuran tubuh yang dilontarkan oleh keluarga akan menyakiti hati anak dan mengakibatkan anak tersebut mengembangkan hubungan dan kebiasaan yang tidak sehat dengan makanan
. 5. Sikap Teman Sebaya
Davis (1999) mengatakan bahwa teman sebaya dapat memberikan pengaruh buruk terhadap kebiasaan yang tidak sehat seperti melakukan upaya penurunan berat badan dan kebiasaan makan yang salah dan timbulnya persaingan sekaligus tekanan untuk menjadi yang terkurus dan terkecil. Pada umumnya para remaja merasa lebih nyaman berteman dengan seseorang yang sebaya karena dapat memberikan keamanan emosional dan memiliki masalah yang sama. Levine dalam Field (2001) berpendapat bahwa perilaku mengontrol berat badan berhubungan dengan teman sebaya, tekanan yang ditimbulkan oleh teman sebaya ditemukan dapat meningkatkan resiko terjadinya perilaku makan menyimpang.
6. Media Massa
Media massa memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan sikap dan perilaku remaja, apalagi di jaman yang modern seperti sekarang ini. Malinauskas (2006) menyatakan bahwa media massa dipercaya mendorong dan memberi tekanan pada remaja putri untuk membentuk tubuh yang ideal, hal ini akan mengakibatkan seseorang menjadi cemas akan berat dan bentuk tubuhnya. Penelitian yang dilakukan oleh Bergs dalam Kurnianingsih (2009) di Minnesota menunjukkan membaca artikel diet di majalah juga dapat memengaruhi perilaku diet, sebesar 44% remaja putri tingkat menengah yang membaca artikel tentang diet akan menunjukkan perubahan perilaku makan menjadi ekstrim, lebih ketat, dan tidak sehat selama lima tahun kedepan, selain itu juga menimbulkan perilaku makan dan kesehatan yang salah seperti penggunaan pil diet, laksatif, memuntahkan makanan dengan sengaja untuk mengontrol berat badan.

Jenis Diet (skripsi dan tesis)

Kim dan Lennon (2006), menjabarkan beberapa perilaku diet kedalam dua kelompok, yaitu : 1. Diet Sehat Diet dapat diasosiasikan dengan perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat, seperti mengubah pola makan dengan mengkonsumsi makanan rendah kalori dan melakukan aktifitas fisik secara wajar. Diet sehat adalah penurunan berat badan yang dilakukan dengan jalan perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat, seperti mengubah pola makan dengan mengkonsumsi makanan rendah kalori dan rendah lemak, menambah aktifitas fisik secara wajar. Diet sehat dilakukan dengan memperhitungkan asupan makanan sehari hari yang diperbolehkan. 2. Diet Tidak Sehat Orang-orang yang melakukan diet semata-mata bertujuan untuk memperbaiki penampilan akan cenderung menempuh cara-cara yang tidak sehat untuk menurunkan berat badan. Diet tidak sehat adalah penurunan berat badan yang dilakukan dengan melakukan perilaku-perilaku yang membahayakan kesehatan, seperti melewatkan waktu makan dengan sengaja, penggunaan obat-obatan penurunan berat badan, mengkonsumsi penahan nafsu makan serta muntah dengan sengaja

Diet Penurunan Berat Badan (skripsi dan tesis)

Diet berasal dari bahasa Yunani, yaitu diaita yang berarti cara hidup. Menurut Saraswati (2006), diet adalah membatasi dengan cermat konsumsi kalori atau jenis makanan tertentu. Pada prinsipnya diet adalah membatasi konsumsi makanan sampai di bawah kebutuhan ideal tubuh. Dengan demikian, diet tidak saja berarti menurunkan berat badan, tetapi mengatur dan membatasi jumlah asupan makanan yang dibutuhkan tubuh yang bersangkutan agar terjadi keseimbangan energi. Menurut tim kedokteran EGC tahun 1994 (dalam Hartantri, 1998) diet adalah kebiasaan yang diperbolehkan dalam hal makanan dan minuman yang dimakan oleh seseorang dari hari ke hari, terutama yang khusus dirancang untuk mencapai tujuan dan memasukkan atau mengeluarkan bahan makanan tertentu. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dikatakan bahwa fungsi diet itu sendiri bermacam-macam. Saraswati (2013) membagi diet itu sendiri menjadi diet normal, diet untuk menaikkan dan menurunkan berat badan, diet khusus penyakit tertentu, diet alergi makanan, diet kelompok usia tertentu, dan diet ibu menyusui dan mengandung. Akan tetapi didalam masyarakat pada umumnya, diet dilakukan untuk tujuan penurunan berat badan. Maka dari itu dalam penelitian ini, diet yang dimaksud adalah diet yang bertujuan untuk menurunkan berat badan.

 Hill, dkk (1992) berpendapat bahwa perilaku diet menjadi populer di masyarakat, termasuk di kalangan remaja karena dipandang sebagai usaha yang mudah dilakukan, ekonomis, dan yang terpenting tanpa efek samping yang nyata. Menurut French (1995), diet dapat memberi keuntungan psikososial yaitu berkurangnya berat badan maka penampilan diri menjadi semakin baik. Hal ini tentu membuat seseorang dengan bentuk badan yang tidak ideal atau memiliki berat badan lebih dari normal akan melakukan tindakan diet penurunan berat badan untuk memperbaiki penampilannya dan menumbuhkan rasa percaya diri akan bentuk tubuhnya. Tubuh ideal menjadi dambaan bagi kebanyakan kaum perempuan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa kaum lelaki tidak menginginkan bentuk tubuh yang ideal. Untuk itu baik kaum perempuan maupun kaum lelaki melakukan banyak cara untuk dapat menurunkan berat badan agar terlihat lebih menarik dan lebih percaya diri dalam beraktifitas

Kepuasan Sebagai Variabel Intervening Antara Kualitas Terhadap Loyalitas (skripsi dan tesis)

 

Menurut Barnes (2003) untuk meningkatkan loyalitas, harus meningkatkan tingkat kepuasan setiap pelanggan dan mempertahankan tingkat kepuasan tersebut dalam jangka panjang. Untuk meningkatkan kepuasan, perlu menambahkan nilai pada apa yang kita tawarkan. Menambahkan nilai akan membuat pelanggan merasa bahwa mereka mendapat lebih dari apa yang mereka bayar atau bahkan lebih dari yang mereka harapkan. Hal itu tidak harus berarti menurunkan harga atau memberikan produk-produk tambahan. Selanjutnya Barnes (2003) menyatakan bahwa mencapai tingkat kepuasan tertinggi adalah tujuan utama pemasaran. Pada kenyataannya, akhir-akhir ini banyak perhatian tercurah pada konsep kepuasan “total”, yang implikasinya adalah mencapai kepuasan sebagian saja tidaklah cukup untuk membuat pelanggan setia dan kembali lagi. Ketika pelanggan merasa puas akan pelayanan yang didapatkan pada saat proses transaksi dan juga puas akan barang atau jasa yang mereka dapatkan, besar kemungkinan meraka akan kembali lagi dan melakukan pembelian-pembelian yang lain dan juga akan merekomendasikan pada teman-teman dan keluarganya tentang perusahaan tersebut dan produkproduknya. Juga kecil kemungkinan mereka berpaling ke pesaing-pesaing anda. Mempertahankan kepuasan pelanggan dari waktu ke waktu akan membina hubungan yang baik dengan pelanggan. Hal ini dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dalam jangka panjang. Pemasaran bukanlah semata-mata membuat penjualan, melainkan tentang bagaimana memuaskan pelanggan terus-menerus. Ketika pelanggan merasa puas maka akan tercipta sikap yang loyal pada konsumen. Kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan akan dapat memperkirakan tingkat loyalitas konsumen.

Kotler dan Keller (2007) menyatakan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh dan kepuasan konsumen akan menentukan minat membeli atau menggunakan kembali suatu produk. Artinya semakin baik bentuk pelayanan yang diberikan dan didukung oleh tingkat kepuasan yang tinggi tentunya akan membentuk loyalitas pada konsumen. Kualitas memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan pelanggan dalam menentukan loyalitas konsumen. Kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalin ikatan hubungan yang kuat dengan perusahaan. Dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan perusahaan untuk memahami dengan seksama harapan pelanggan serta kebutuhan mereka. Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan melalui pemberian pelayanan yang menyenangkan tentu akan tercipta loyalitas yang tinggi pada konsumen terhadap perusahaan (Tjiptono, 2006). Dalam menciptakan kepuasan pelanggan, perusahaan harus dapat meningkatkan kualitas layanannya (service quality). Kepuasan pelanggan dapat diciptakan melalui kualitas layanan yang diberikan oleh perusahaan kepada para pelanggannya. Semakin baik kualitas layanannya, akan semakin tinggi pula kepuasan pelanggan terhadap perusahaan tersebut. Tingginya kualitas layanan juga tidak lepas dari dukungan internal perusahaan, terutama dukungan dari sumber daya manusianya (Chen, 2007).

Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Loyalitas (skripsi dan tesis)

Persepsi pasien tentang pelayanan memegang peranan yang sangat penting. Kualitas pelayanan akan terpenuhi apabila proses penyampaian jasa dari pemberi jasa kepada pasien sesuai dengan apa yang dipersepsikan oleh pasien. Kotler (2005) menyatakan bahwa kualitas layanan merupakan jaminan terbaik untuk menciptakan dan mempertahankan kesetiaan konsumen dan benteng pertahanan dalam menghadapi persaingan global. Artinya pelayanan yang berkualitas dari perusahaan akan mempengaruhi loyalitas konsumen. Parasuraman, et al (1988) menyatakan bahwa kualitas layanan merupakan konsep yang terdiri dari lima dimensi yaitu: tangible, reliability, responsive-ness, assurance dan empaty. Lima dimensi ini sangat berperan dalam membentuk tingkat loyalitas pelanggan. Pelayanan berkaitan erat dengan loyalitas pelanggan dan secara umum dapat diwujudkan dengan tiga cara pokok (Tjiptono, 2006) yaitu : 1. Memperlakukan pelanggan yang tidak puas sedemikian rupa sehingga dapat mempertahankan loyalitas mereka. 2. Perusahaan memberikan jaminan yang luas dan tidak terbatas pada ganti rugi yang dijanjikan. 3. Perusahaan memenuhi atau melebihi harapan pelanggan yang mengeluh dengan cara menangani keluhan mereka secara profesional.

Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Pasien (skripsi dan tesis)

Bahia dan Nantel (2000) menyatakan bahwa pasien dan keluarganya cenderung sangat kritis terhadap masalah kesehatannya yang disimpan dalam riwayat kesehatan di dokumen rekam medik rumah sakit sehingga mereka relatif tidak akan mentolerir adanya kesalahan penyampaian jasa pelayanan kesehatan rumah sakit bila berkaitan dengan dana yang dikeluarkan. Menurut Cronin dan Taylor (1992) terkait dengan hubungan antara kualitas jasa dan kepuasan konsumen, khususnya dalam hal apakah keduanya merupakan dua konstruk yang berbeda, secara ringkas menyatakan bahwa para manajer penyedia jasa perlu mengetahui bagaimana mengukur kualitas jasa, aspek-aspek khusus apa yang paling baik menentukan kualitas jasa itu, dan apakah konsumen membeli jasa dari sebuah perusahaan karena dipersepsi memiliki kualitas yang paling tinggi atau dari perusahaan yang mampu memberikan kepuasan paling tinggi

Kepuasan Pasien (skripsi dan tesis)

Perusahaan yang sukses dalam jangka panjang adalah perusahaan yang dapat memuaskan kebutuhan konsumennya dalam segi pelayanan, sebab kepuasan atau ketidakpuasan konsumen akan suatu produk dan pelajarannya akan mempengaruhi perilaku selanjutnya. Pada dasarnya tujuan dari suatu bisnis pemasaran barang dan jasa adalah untuk menciptakan pelanggan yang merasa puas. Terciptanya kepuasan pelanggan dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya hubungan antara perusahaan dan pelanggan menjadi harmonis, memberikan dasar bagi pembelian ulang dan terciptanya kesetiaan pelanggan, dalam membeli produk atau jasa yang ditawarkan serta merekomendasikan kepada orang lain dari mulut ke mulut (Tjiptono, 2007). Dewasa ini, konsep tujuan perusahaan telah bergeser dimana tujuan perusahaan tidak lagi semata-mata mencari laba, namun juga untuk memuaskan konsumen.

Tjiptono (2007) mengungkapkan bahwa kepuasan konsumen merupakan evaluasi purna beli di mana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya memberikan hasil (outcome) sama atau melampaui harapan konsumen, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil yang diperoleh tidak memenuhi harapan konsumen. Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2007), kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Konsumen yang tidak merasa puas atas kualitas dan pelayanan yang diperoleh cenderung menimbulkan masalah, sebaliknya apabila mereka puas maka akan tercipta hubungan yang baik dan harmonis. Hal ini akan menjadi dasar yang baik bagi terciptanya pembelian ulang dan terciptanya loyalitas konsumen yang akan menguntungkan perusahaan. Beralihnya konsumen disebabkan oleh kurang pekanya perusahaan dalam memberi pelayanan dan rasa tidak puas konsumen. Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa kepuasan konsumen adalah suatu tanggapan atau penilaian antara persepsi dan ekspektasi pembeli mengenai nilai suatu produk yang ditawarkan oleh produsen. Apabila kinerja berada di bawah harapan, maka konsumen akan kecewa. Sebaliknya, apabila kinerja sesuai dengan harapan, konsumen akan sangat puas. Harapan konsumen dapat dibentuk dapat dibentuk dari pengalaman masa lampau, komentar dari kerabatnya serta janji dan informasi dari pemasar dan saingannya. Konsumen yang puas akan setia lebih lama, kurang sensitif terhadap harga dan memberi komentar yang baik tentang perusahaan. Kepuasan pelanggan sangat tergantung pada persepsi dan harapan pelanggan. Sebuah perusahaan perlu mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi dan harapan pelanggan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan harapan pelanggan terhadap produksi air minum di antaranya adalah sebagai berikut (Yuliarmi dan Riyasa, 2007) : 1. Kebutuhan dan keinginan, yaitu berkaitan dengan hal-hal yang dirasakan oleh pelanggan saat pelanggan sedang mencoba melakukan transaksi dengan perusahaan. Jika pada saat itu kebutuhan dan keinginan terhadap produksi air minum yang ditawarkan oleh perusahaan air minum sangat besar, maka harapan-harapan pelanggan yang berkaitan dengan kualitas produk dan layanan perusahaan akan tinggi pula, begitu juga sebaliknya. 2. Pengalaman masa lalu (terdahulu) ketika mengkonsumsi produk dan layanan, baik dari perusahaan maupun pesaing-pesaingnya. 3. Pengalaman teman-teman, cerita teman pelanggan tentang kualitas produk dan layanan perusahaan yang akan didapat oleh pelanggan. 4. Komunikasi melalui iklan dan pemasaran atau persepsi yang timbul dari image periklanan dan pemasaran yang akan dilakukan oleh perusahaan. Upaya mewujudkan kepuasan pelanggan bukan merupakan hal yang mudah. Banyak hal yang membuat pelanggan merasa tidak puas terhadap pelayanan perusahaan. Alma (2004) menyebutkan antara lain : 1. Tidak sesuai harapan dengan kenyataan 2. Layanan selama proses menikmati jasa tidak memuaskan 3. Perilaku personil yang kurang memuaskan 4. Suasana dan kondisi fisik lingkungan yang tidak menunjang 5. Cost terlalu tinggi, karena jarak terlalu jauh, banyak waktu terbuang dan harga yang tidak sesuai. 6. Promosi/ iklan terlalu muluk, tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam mengevaluasi kepuasan terhadap produk, jasa atau perusahaan tertentu, konsumen umumnya mengacu pada berbagai faktor atau dimensi.

Faktor yang sering digunakan dalam mengevaluasi kepuasan terhadap suatu produk manufaktur (Tjiptono, 2006), antara lain meliputi: a. Kinerja (performance) karakteristik operasi pokok dari produk inti (core product) yang dibeli. b. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features), yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap. c. Kehandalan (reliability), yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal digunakan. d. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications), yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya. e. Daya tahan (durability), berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan. f. Serviceability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi serta penanganan keluhan yang memuaskan. g. Estetika, yaitu daya tarik produk terhadap panca indera. h. Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), yaitu citra dan reputasi produk serta tanggungjawab perusahaan terhadapnya. Kepuasan konsumen berarti bahwa kinerja suatu barang atau jasa sekurang-kurangnya sama dengan apa yang diharapkan, konsumen yang tidak pernah mengajukan keluhan (complain) bukan berarti konsumen tersebut merasa puas, namun mereka akan beralih ke produk perusahaan lain tanpa mengkonfirmasikan keberatannya. Konsumen yang berani mengungkapkan ketidakpuasannya seringkali justru konsumen yang setia. Terciptanya kepuasan konsumen akan memberi manfaat kepada perusahaan karena pembeli merasa terpenuhi keinginannya dan kebutuhan akan membeli ulang (repeat buying) dan terciptanya loyalitas terhadap jasa pelayanan yang diterima, selain itu mereka akan lebih loyal terhadap harga serta akan merekomendasikannya dari mulut ke mulut kepada teman sekitarnya untuk menggunakan jasa tersebut dan menguntungkan perusahaan.

Menurut Kartajaya (2000), untuk memuaskan konsumen sekaligus agar konsumen mengkonsumsi suatu produk atau jasa lebih banyak adalah dengan memberikan sesuatu yang tidak ada pada average industri. Hal ini bisa terjadi bila konsumen diperlakukan sebagai manusia seutuhnya (Total Human Being) yang berarti manusia yang mempunyai fisik, pikiran, dan jiwa. Terciptanya kepuasan konsumen dapat memberikan beberapa manfaat, seperti yang disebutkan oleh Tjiptono (2007) sebagai berikut. 1) Hubungan antara konsumen dan perusahaan menjadi harmonis. 2) Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang. 3) Terciptanya loyalitas konsumen. 4) Membentuk rekomendasi dari mulut ke mulut

Kotler dan Keller (2007) mengemukakan empat metode yang banyak digunakan dalam mengukur kepuasan konsumen, antara lain. 1. Sistem Keluhan dan Saran Perusahaan dapat menggunakan kotak saran yang diletakkan di tempat strategis, menggunakan kartu komentar, saluran telepon khusus bebas pulsa atau melalui website. Namun metode ini bersifat pasif, maka sulit mendapatkan gambaran lengkap mengenai kepuasan atau ketidakpuasan konsumen. Tidak semua konsumen akan menyampaikan keluhannya, namun mereka dapat langsung berganti pemasok atau menghentikan pembelian terhadap produk atau jasa. Upaya ini juga tidak dapat dilaksanakan secara maksimal apabila perusahaan tidak memberi timbal balik dan tindak lanjut yang memadai bagi konsumen yang menyampaikan keluhan dan saran mereka. 2. Ghost Shopping Metode ini dilakukan dengan mempekerjakan beberapa orang ghost shoppers untuk berperan sebagai konsumen potensial jasa perusahaan pesaing. Ghost shoppers dapat melaporkan temuan penting mengenai kekuatan dan kelemahan perusahaan dibandingkan dengan pesaingnya. Selain itu ghost shoppers juga dapat mengobservasi cara perusahaan dan pesaingnya melayani permintaan konsumen, menjawab pertanyaan konsumen, dan menangani setiap masalah terkait dengan keluhan konsumen. 3. Lost Customer Analysis Perusahaan menghubungi para konsumen yang telah berhenti melakukan pembelian atau yang telah beralih pemasok agar dapat memahami mengapa hal itu terjadi dan supaya dapat mengambil kebijakan perbaikan/penyempurnaan selanjutnya. Akan tetapi, ada kesulitan dalam pelaksanaan metode ini, yaitu mengidentifikasi dan menghubungi mantan konsumen yang bersedia memberi masukan dan evaluasi kinerja perusahaan. 4. Survey Kepuasan Konsumen Penelitian mengenai kepuasan konsumen dapat dilakukan melalui survey, baik melalui via pos, telepon, e-mail, maupun wawancara langsung. Melalui survey, perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan langsung dari konsumen dan juga memberi sinyal positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap konsumen.

Viktor (2008) menyatakan dimensi dari kepuasan konsumen adalah sebagai berikut. 1) Harapan umum merupakan harapan konsumen sebelum menerima jasa, menyangkut tentang pelayanan. 2) Pengalaman yang diperoleh merupakan penilaian konsumen atas manfaat dari suatu produk jasa yang berhubungan dengan kemampuan produk tersebut guna memenuhi kebutuhan pengguna. 3) Kepuasan overall merupakan tingkat kepuasan konsumen secara keseluruhan setelah menerima jasa, mencakup penilaian tentang pengalaman yang dialaminya.

Citra RUmah Sakit (skripsi dan tesis)

Peran citra sangat memengaruhi keberhasilan kegiatan suatu lembaga seperti rumah sakit. Citra perusahaan yang positif, akan membantu dalam era kondisi persaingan saat ini. Menurut Zeitham, (1996) dikutip oleh Puspita, (2009) menyatakan citra perusahan yang baik merupakan asset bagi kebanyakan perusahaan, karena citra dapat berdampak kepada kualitas, nilai dan kepuasan. Citra tidak dapat dicetak seperti membuat barang di pabrik, akan tetapi citra ini adalah kesan yang diperoleh sesuai dengan pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang sesuatu. Citra terbentuk dari bagaimana perusahaan melaksanakan kegiatan operasionalnya yang mempunyai landasan pada segi pelayanan (Alma, 2005). Menurut Andreassen (1998) dalam Puspita (2009) menyatakan citra perusahan dapat diidentifikasi sebagai suatu faktor untuk mengevaluasi jasa dan perusahaan secara keseluruhan. Evaluasi secara keseluruhan terhadap perusahaan diukur dengan menggunakan 3 indikator yaitu: (1) pendapat keseluruhan perusahaan, (2) pendapat mengenai kontribusi perusahaan untuk masyarakat dan (3) kesukaan terhadap perusahaan. Sutojo (2004) mengatakan citra masyarakat terhadap perusahaan didasari pada apa yang mereka ketahui atau mereka kira tentang perusahaan yang bersangkutan. Keberhasilan perusahaan membangun citra dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu: 1. Citra dibangun berdasarkan orientasi terhadap manfaat yang dibutuhkan dan diinginkan kelompok sasaran. 2. Manfaat yang ditonjolkan cukup realitas. 3. Citra yang ditonjolkan sesuai dengan kemampuan perusahaan. 4. Citra yang ditonjokan mudah dimengerti kelompok sasaran. 5. Citra yang ditonjolkan merupakan sarana untuk mencapai tujuan usaha. Citra perusahaan yang baik dan kuat mempunyai manfaat sebagai berikut: (1) daya saing jangka menengah dan panjang yang mantap, (2) menjadi perisai selama masa krisis, (3) menjadi daya tarik eksekutif handal, (4) meningkatkan efektifitas strategis pemasaran, dan (5) penghematan biaya operasional. Menurut Goonroos (2000) pengalaman dalam menggunakan jasa merupakan sebuah fungsi dari dua dimensi yaitu Technical quality dan functional. Dua model dimensi kualitas jasa tersebut menentukan citra perusahan, hal ini karena adanya pengaruh pelanggan akan kualitas jasa tersebut. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Cooper (1994) yang dikutip oleh Lita (2004) bahwa pelayanan kesehatan dimiliki dan diberikan kepada pengguna jasa oleh suatu institusi seperti rumah sakit akan berpengaru pada citra rumah sakit tersebut

Ukuran-ukuran Kepuasan Pasien (skripsi dan tesis)

Menurut Pohan (2006) kepuasan pasien dapat diukur dengan beberapa indikator, indikator-indikator tersebut diantaranya: 1. Kepuasan terhadap akses layanan kesehatan, hal ini dinyatakan oleh sikap dan pengetahuan tentang sejauh mana layanan kesehatan itu tersedia pada waktu dan tempat saat dibutuhkan, kemudahan dalam memperoleh layanan kesehatan, serta sejauhmana pasien mengerti bagaimana sistem pelayanan kesehatan itu bekerja. 2. Kepuasan terhadap proses layanan kesehatan, termasuk hubungan antar manusia. Hal ini ditentukan dengan malakukan pengukuran sejauh mana ketersedian layanan rumah sakit menurut penilaian pasien, persepsi tentang perhatian dokter atau profesi layanan kesehatan lainnya, tingkat kepercayaan dan keyakinan terhadap dokter, tingkat pengertian tentang kondisi atau diagnos, dan sejauh mana tingkat kesulitan untuk dapat mengerti nasihat dokter atau profesi layanan kesehatan lainnya. 3. Kepuasan terhadap sistem layanan kesehatan, hal ini ditentukan oleh sikap terhadap fasilitas fisik dan lingkungan layanan kesehatan, sistem perjanjian termasuk waktu menunggu serta sifat keuntungan dan layanan kesehatan yang ditawarkan. Menurut Sabarguna (2008) pengukuran kepuasan pasien meliputi 4 (empat) aspek, keempat aspet tersebut adalah: a. Kenyamana, meliputi: lokasi rumah sakit, kenyamanan ruang, makanan, peralatan ruang, dan kebersihan rumah sakit. b. Hubungan pasien dengan petugas rumah sakit, meliputi: keramahan, komunikatif, responatif, suportif, dan cekatan. c. Kompetensi teknis petugas, meliputi: keberanian bertindak, pengalaman, gelar, terkenal, dan kursus. d. Biaya, meliputi: mahalnya pelayanana, ada tidaknya keringanan, kemudahan proses. Pengukuran kepuasan pasien menunjukan bahwa upaya untuk mengukur tingkat kepuasan pasien tidaklah mudah, karena upaya untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengukur tingkat kepuasan pasien akan berhadapan dengan suatu kendala kultur, yaitu terdapatnya suatu kecenderungan masyarakat yang tidak mau mengemukakan kritik, apalagi terhadap fasilitas layanan kesehatan milik pemerintah, hal ini disebabkan sebagian besar fasilitas layanan kesehatan yang digunakan oleh masyarakat dari golongan strata bahwa (Pohan, 2006). Pohan (2003) juga mengemukakan ketidakmudahan pengukuran kepuasan pasien dikarenakan layanan kesehatan tidak mengalami semua perlakuan yang dialami pasar biasa. Dalam layanan kesehatan, pilihan-piihan yang ekonomis tidak jelas. Pasien tidak mungkin atau sulit mengetahui apakah layanan kesehatan yang didapatinya optimal atau tidak. Apabila fasilitas layanan kesehatan dianggap produsen suatu layanan kesehatan, akan dijumpai suatu rentetan dari struktur dan proses. Didalam struktur terdapat gedung, peralatan, obat, profesi layanan kesehatan, prosedur, kebijaksanaan dan organisasi. Proses akan menyangkut penyelenggara pelayanan itu sendiri. Keluaran akan menghasilkan sesuatu untuk kepentingan pasien dan penyelenggara dari layanan kesehatan itu sendiri.

Pengertian Kepuasan Pasien (skripsi dan tesis)

Menurut Pohan (2006) kepuasan dapat diartikan sebagai perasaan seseorang atau masyarakat setelah membandingkan hasil yang dirasakan dengan harapannya. Apabila hasil yang dirasakan sama atau melebihi harapannya maka akan timbul perasaan puas, sebaliknya akan timbul perasaan kecewa atau ketidakpuasan apabila hasil yang dirasakan tidak sesuai dengan harapan. Kepuasan adalah reaksi emosi terhadap kualitas pelayanan yang dirasakan dan kualitas pelayanan yang dirasakan merupakan pendapat menyeluruh atau sikap yang berhubungan dengan keutamaan pelayanan. Dengan kata lain kepuasan pelanggan adalah kualitas pelayanan yang dipandang dari kepentingan konsumen dalam hal ini adalah pasien (Anjaryani, 2009). Oliver (1997) dikutip oleh Koentjoro (2007) menyatakan kepuasan merupakan respon pelanggan terhadap dipenuhinya kebutuhan dan harapan. Hal tersebut merupakan penilain pelanggan terhadap pelayanan, yang merupakan cerminan tingkat kenikmatan yang didapatkan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dan harapan, termasuk didalamnya tingkat pemenuhan yang kurang atau tingkat pemenuhan yang melebihi kebutuhan dan harapan. Setiap pasien memiliki standar pembanding untuk menilai pelayanan yang diterimanya. Hasil penilai tersebut menunjukan persepsi apakah kebutuhan dan harapan dipenuhi atau tidak, yang akan menghasilkan kepuasan atau ketidakpuasan. Ungkapan dari rasa kepuasan atau ketidakpuasan dapat berupa tindakan untuk membeli kembali, memberikan pujian, mengajukan komplain, atau menceritakan apa yang dialaminya kepada orang lain. Kepuasan pasien terbentuk dari penilain pasien terhadap kualitas/mutu, kinerja hasil, dan pertimbangan biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang diperoleh dari produk atau pelayanan yang diterima (Koentjoro, 2007). Dengan demikian, kepuasan terjadi karena penilaian terhadap manfaat serta kenikmatan yang diperoleh lebih dari apa yang dibutuhkan atau dihatapkan

Dimensi Pengukuran Kualitas Pelayanan Rumah Sakit (skripsi dan tesis)

Menurut Zeithaml dan Berry (1988) dikutip oleh Tjiptono (2005) mengemukakan ada 5 (lima) dimensi yang digunakan untuk mengukur kualitas pelayanan. Beberapa dimensi tersebut diantaranya: 1. Kehandalan (Reliablility), berkaitaan dengan kemampuan rumah sakit untuk memberikan pelayanan yang sesuai dengan akurat, segera dan sesuai dengan waktu yang disepakati. 2. Daya tanggap (Responsiveness), berkaitan dengan kesedian dan kemampuan para staff untuk membantu pasien dan memberikan palayanan dengan tanggap. 3. Keyakinan (Assurance), berkaitan dengan kemampuan, pengetahuan, keterampilan staff dalam menangani setiap palayanan yang diberikan sehingga mampu menunbuhkan kepercayaan dan rasa aman pada pasien. 4. Kepedulian (Empathy), berkaitan dengan rumah sakit bertindak demi kepentingan pasien, seperti kemudahan dalam melakukan hubungan komunitas yang baik, perhatian, memahami kebutuhan pasien. 5. Bukti fisik (Tangibles), berkenaan dengan daya tarik fasilitas fisik, perlengkapan yang tersedia, material yang digunakan rumah sakit serta penampilan karyawan. Gronroons (2000) memaparkan tiga dimensi utama atau faktor yang dipergunakan konsumen dalam menilai kualitas, ketiga dimensi tersebut diantaranya Outcome-Related (Technical quality), Process-Related (Fungtional Quality), dan Image-Related Dimentions. Ketiga dimensi ini kemudian dijabarkan sebagai berikut: 1. Professionalism and skill, yaitu merupakan outcome-related, dimana pelanggan menganggap bahwa penyedian jasa, para karyawan, sistem operasional dan sumber daya fisiknya memiliki pengetahuan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah pelanggan secara professional. 2. Attitudes and behavior yaitu merupakan process related. Pelanggan merasa bahwa karyawan dalam memberikan pelayanan selalu memperhatikan mereka dan berusaha membantu memecahkan masalah pelanggan secara spontan dan dengan senang hati. 3. Accessibility and flexibility merupakan process related. Pelanggan merasa bahwa penyedin jasa, lokasi, jam kerja, karyawan, dan sistem operasionalnya dirancang dan dioperasikan sedemikian rupa sehingga pelanggan dapat mengakesnya dengan mudah. Selain itu juga dirancang dengan maksud agar dapat bersifat fleksibel dalam menyesuaikan permintaan dan keinginan pelanggan. 4. Reliability and trustworthiness merupakan process related. Pelanggan meyakini apapun yang terjadi atau telah disepakati, mereka bisa mengandalkan penyedia jasa, karyawan dan sistem dalam memenuhi janji-janjinya dan bertindak demi kepentingan pelanggan. 5. Service recovery merupakan process related. Pelanggan meyakini bila ada kesalahan atau bila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, penyedia jasa akan segera dan secara aktif mengambil tindakan untuk mengendalikan situasi dan menemukan solusi yang tepat. 6. serviscape merupakan process related. Pelanggan merasa bahwa kondisi fisik dan aspek lingkungan service encounter lainnya mendukung pengalaman positif atas proses jasa. 7. Reputation and credibility merupakan image related. Pelanggan menyadari bahwa bisnis penyedia jasa dapat dipercaya

Pengertian Kualitas pelayanan Rumah Sakit (Skripsi dan tesis)

Goesth dan Davis (1994) yang dikutip oleh Tjiptono (2004) menyatakan bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Defenisi kualitas jasa atau kualitas pelayanan berpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaian untuk mengimbangi harapan pelanggan. Tjiptono (2004) menyatakan kualitas pelayanan harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan. Hal ini berarti bahwa kualitas yang baik bukanlah berdasarkan sudut pandang atau persepsi pihak penyedia pelayanan, melainkan berdasarkan sudut pandang atau persepsi pelanggan. Pelangganlah yang mengkonsumsi dan menikmati pelayanan perusahaan, sehingga merekalah yang seharusnya menentukan kualitas pelayanan. Menurut Nasutioan (2004) yang dikutip oleh Elisa (2007) ada 2 (dua) faktor utama yang memengaruhi kualitas pelayanan yaitu expected service dan perceived sevice,dimana apabila pelayanan yang dirasakan atau diterima (perceived service) sesuai atau melebihi dengan yang diharapkan maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan memuaskan, begitu pula sebaliknya jika pelayanan yang diterima lebih rendah dari yang diharapkan maka kualitas pelayanan dipersepsikan buruk. Pohan (2003) menyatakan palayanan kesehatan yang berkualitas adalah suatu pelayanan yang dibutuhkan, dalam hal ini akan ditentukan oleh profesi pelayanan kesehatan dan sekaligus diinginkan baik oleh pasien maupun masyarakat serta terjangkau oleh daya beli masyarakat. Menurut Azwar (1996) kualitas pelayanan kesehatan menunjukan pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan, yang satu pihak dapat minimbulkan kepuasan pada setiap pasien sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta dipihak lain tata cara penyelenggraanya sesuai dengan standart dan kode profesi yang telah ditetapkan