Elemen Komunikasi dalam Wahjono (2010: 221), hal-hal yang mendasar dalam
komunikasi:

  1. Arah Komunikasi
  2. Jaringan Komunikasi
    Terdapat 2 arah komunikasi:
    a) Vertikal yaitu atas bawah, contoh komunikasi atasan pada bawahan dan
    sebaliknya.
    b) Lateral atau menyamping, missal komunikasi atau koordinasi dengan
    rekan kerja se level.
    Sedangkan dalam jaringan komunikasi terdapat 3 kelompok:
    Rantai dengan kriteria kecepatan penerimaan pesan sedang, ketepatan
    tinggi, dan kemungkinan munculnya pemimpin sedang dan kepuasan anggota
    sedang.

Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi


Menurut Burhan Bungin (2006) Fungsi komunikasi dalam organisasi :
1) Fungsi informatif
Maksud dari informatif adalah seluruh anggota dalam suatu
organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih tepat.
Informasi yang didapat dapat setiap anggotanya melaksanakan tugas
secara pasti. Pada dasarnya, informasi dibutuhkan oleh semua orang yang
mempunyai perbedaan kedudukan dalam suatu organisasi. Orang-orang
dalam tatanan manajemen membutuhkan informasi untuk membuat suatu
kebijakan dalam organisasi ataupun untuk menyelesaikan konflik yang
terjadi di dalam organisasi tersebut. Bawahan juga membutuhkan
informasi untuk melaksanakan pekerjaannya, disamping itu, informasi
tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, prosedur
perizinan cuti dan sebagainya.
2) Fungsi regulatif
Fungsi regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang
dita’ati dalam suatu organisasi. Ada dua hal yang berpengaruh dalam
fungsi regulatif ini :
a. Atasan atau orang-orang yang berada dalam tatanan manajemen
memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang
disampaikan. Mereka juga mempunyai wewenang untuk
memberikan perintah atau intruksi, sehingga dalam struktur
organisasi kemungkinan mereka ditempatkan pada lapisan atas
supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sesuai intruksi. Namun,
sikap bawahan untuk menjalankan perintah banyak bergantung
pada:

  1. Keabsahan pimpinan dalam menyampaikan perintah.
  2. Kekuatan pemimpin dalam memberi sanksi
  3. Kepercayaan bawahan terhadap atasan sebagai seorang
    pemimpin sekaligus sebagai pribadi
  4. Tingkat kredibilitas pesan yang diterima bawahan
    b. Berkaitan dengan pesan. Pesan –pesan regulatif pada dasarnya
    berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian
    peraturan tentang pekerjaan yang boleh atau tidak boleh untuk
    dilakukan.
    3) Fungsi persuasif
    Dalam mengatur suatu organisasi tidak cukup dengan
    mengandalkan kewenangan dan kekuasaan. Adanya kenyataan ini, maka
    banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya
    daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara suka
    rela akan lebih menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding
    dengan pimpinan yang sering memperlihatkan kekuasaan dan
    kewenangannya.
    4) Fungsi integratif
    Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang
    memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dna pekerjaan dengan
    baik. Ada dua saluran komunikasi formal yang terjadi dalam setiap
    organisasi yaitu seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut dan
    laporan kemajuan organisasi. Juga saluran komunikasi informasi seperti
    perbincangan antar pribadi selama jam istirahat kerja, kegiatan
    pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan
    aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih
    besar dalam diri karyawan terhadap organisasi

Komunikasi Organisasi


Organisasi adalah unit sosial yang berkumpul untuk produksi, dibentuk
oleh individu yang memiliki berbagai pandangan dan pengetahuan untuk
mencapai tujuan bersama. Dalam kontek ini, komunikasi yang terjalin antara
pemimpin dan karyawan harus mampu menciptakan organisasi yang lebih efektif.
(Farid, Supratomo, & Harsono, 2015). Komunikasi yang efektif membantu
organisasi untuk memperkuat karyawan untuk mencapai tujuan organisasi,
sebaliknya organisasi dengan komunikasi yang tidak efektif menghambat
mencapai tujuan organisasi (Gul & Ince, 2011).
Menurut Romli dalam Amin, Masjaya & Anshari (2014) komunikasi
organisasi merupakan proses aliran komunikasi antara pengirim dan penerima
yang di dalamnya terdapat sebuah pesan organisasi baik kelompok formal ataupun
informal dalam sebuah organisasi Sedangkan Robson, Skarmeas & Spyropoulou
dalam Abugre (2011), komunikasi organisasi merupakan proses dimana
kelompok-kelompok untuk saling belajar dan mengkoordinasi tugas-tugas,
membantu untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan yang baik.
Menurut Morissan (2013) Komunikasi merupakan salah satu aspek
terpenting namun juga kompleks dalam kehidupan manusia. Manusia sangat
dipengaruhi oleh komunikasi yang dilakukannya dengan manusia lain, baik yang
sudah dikenal maupun yang tidak dikenal sama sekali.
Menurut Marhaeni Fajar (2009) Istilah komunikasi atau communication
berasal dari bahasa latin, yaitu communicatus yang berarti berbagi atau menjadi
milik bersama. Kata sifatnya communis yang bermakna umum atau bersamasama. Dengan demikian komunikasi menurut Lexicographer (ahli kamus bahasa),
menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan.
Menurut R.Wayne Pace & Don F Faules (2006) Pengertian komunikasi
organisasi dalam buku “komunikasi organisasi strategi meningkatkan kinerja
perusahaan ” adalah perilaku perorganisasian yang terjadi dan bagaimana mereka
yang terlibat dalam proses itu bertransaksi dan memberi amkna atas apa yang
sedang terjadi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi


Setiap individu atau perorangan dalam memberikan tanggapan terhadap suatu
objek, tentunya akan berlainan. Hal ini dikarenakan pandangan seseorang
dipengaruhi oleh wawasan, pengalaman serta pengetahuannya terhadap suatu
objek yang dihadapkan. Menurut Mar’at (1997: 21), persepsi seseorang
dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala berfikir dan
pengetahuannya. Faktor pengalaman, proses belajar atau sosialisasi memberikan
bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat. sedangkan pengetahuan dan
cakrawalanya memberikan arti terhadap objek psikologi tertentu.
Selanjutnya menurut Sarwono (2001: 43), yang mempengaruhi persepsi seseorang
adalah sebagai berikut:
a) Relation. Seseorang biasanya tidak menangkap seluruh rangsangan yang ada
disekitarnya sekaligus, tetapi akan memfokuskan perhatiannya terhadap satu
atau dua objek sama. Dengan adanya memfokuskan perhatian tersebut maka
akan terjadi persepsi antara mereka.
b) Set. Harapan seseorang akan rangsangan yang timbul, misalnya seorang pelari
yang siap digaris start terdapat set bahwa akan terdengar pistol.
c) Kebutuhan. Kebutuhan sesaat atau kebutuhan yang tetap pada diri seseorang
akan mempengaruhi persepsi orang tersebut.
d) Sistem nilai. Sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat berpengaruh pula
terhadap persepsi seseorang.
Proses terbentuknya persepsi seseorang terhadap suatu objek lingkungannya
didasarkan pada stimulus atau yang sedang dihadapinya. Berkenaan dengan itu
Thoha (2001: 128), mengemukakan bahwa subproses persepsi dapat terdiri dari
suatu situasi yang hadir pada seseorang, disini seseorang menghadapi kenyataan
yang harus dilihat dan diartikan. Subproses terbentuknya persepsi ialah registrasi,
interpretasi, dan umpan balik. Dengan demikian setelah seseorang mengetahui
keadaan lingkungannya semua itu didaftarkannya pada ingatan dan pikiran. Pada
gilirannya nanti orang tersebut kemudian mengartikan atau menginterpretasikan
tentang lingkungan yang dihadapinya. Jadi proses terakhirnya orang-orang
tersebut akan memberikan umpan balik.

Teori Kategori Sosial


Menurut Melvin L. DeFleur dalam Deddy Mulyana (2005: 102-103), para teori
kategori sosial menyatakan adanya perkumpulan- perkumpulan, kategori sosial
pada masyarakat urban-industrial yang perikakunya ketika diterpa perangsangperangsang (stimulus) tertentu hampir seragam. Asumsi dasar dari teori kategori
sosial adalah teori sosiologis yang menyatakan bahwa meskipun masyarakat
modern sifatnya heterogen, penduduk yang memiliki sejumlah ciri – ciri yang
sama akan mempunyai pola hidup tradisional yang sama. Persamaan gaya,
orientasi dan perilakuakan berkaitan pada suatu gejala seperti pada media massa
dalam perilaku yang seragam.
Individu yang masuk dalam kategori sosial tertentu/sama akan cenderung
memiliki prilaku atau sikap yang kurang lebih sama terhadap rangsanganrangsangan tertentu. Pesan-pesan yang disampaikan media massa cenderung
ditanggapi sama oleh individu yang termasuk dalam kelompok sosial tertentu.
Penggolongan sosial ini berdasarkan usia, jenis kelamin, suku bangsa, pendidikan,
ekonomi, agama dsb. Dengan adanya penggolongan sosial ini muncullah media
massa yang sifatnya special atau khusus yang diperuntukan bagi kalangan
tertentu, dengan mengambil segmentasi/pangsa pasar tertentu.
Komunikasi bukanlah sebuah pemindahan makna. Komunikasi terjadi dengan
seperangkat komponen operasi di dalam sistem teoritis, konsekuensinya adalah
isomorpis diantara internal penerima kepada seperangkat simbol, sumber dan
penerima. Seseorang tergantung pada suatu media untuk memenuhi
kebutuhannya, maka media tersebut menjadi semakin penting untuk orang itu.
Orang-orang dalam masyarakat urban telah menjadi bergantung pada komunikasi
massa untuk membantu mereka dalam menerima informasi yang mereka
butuhkan.
Besarnya ketergantungan seseorang pada media ditentukan dari dua hal, yaitu
Pertama, individu akan condong menggunakan media yang menyediakan
kebutuhannya lebih banyak dibandingkan dengan media lain yang hanya sedikit.
Kedua, persentase ketergantungan juga ditentukan oleh stabilitas sosial saat itu.
Sebagai contoh, bila negara dalam keadaan tidak stabil, anda akan lebih
bergantung/ percaya pada koran untuk mengetahui informasi jumlah korban
bentrok fisik antara pihak keamanan dan pengunjuk rasa, sedangkan bila keadaan
negara stabil, ketergantungan seseorang akan media bisa turun dan individu akan
lebih bergantung pada institusi – institusi negara atau masyarakat untuk informasi.
Ketergantungan hubungan dalam teori ketergantungan sistem media, berjalan dua
arah yaitu media sumber dapat menyesuaikan konten mereka berdasarkan pada
hubungan ketergantungan penonton, dan penonton dapat menyesuaikan pilihan
mereka dari sumber media

Pengertian dan Proses Persepsi


Persepsi itu terjadi melalui proses atau tahapan tertentu, seperti dikemukakan oleh
Rakhmat (2003: 520), bahwa obyek yang menyentuh alat indera sehingga
menimbulkan stimuli. Oleh alat penerima atau alat indera, stimuli ini akan diubah
menjadi energi syaraf untuk disampaikan ke otak. Stimuli akan diproses, sehingga
individu dapat memahami dan menafsirkan pesan atau obyek yang telah
diterimanya maka pada tahap ini terjadi persepsi.
Menurut Jalaluddin Rakhmat (2003: 54), proses terbentuknya persepsi adalah
sebagai berikut:
a. Stimulus atau Situasi yang Hadir
Awal mula terjadinya persepsi ketika seseorang dihadapkan pada stimulus
atau situasi. Stimulus atau situasi tersebut biasa berupa stimulus penginderaan
dekat dan langsung atau berupa lingkungan sosiokultural dan fisik yang
menyeluruh dari stimulus tersebut.
b. Regristasi
Regristasi disini merupakan sesuatu gejala yang nampak yaitu mekanisme
fisik yang untuk mendengar dan melihat sesuatu informasi maka mualailah
orang tersebut mendaftar, mencerna dan menyerap semua informasi.
c. Interpretasi
Tahap selanjutnya setelah informasi tersebut terserap, kemudian proses
terakhirnya adalah penafsiran terhadap inforamsi tersebut. Interpretasi ini
merupakan suatu aspek koqnitif dari persepsi yang amat penting karena proses
tergantung pada cara pendalaman, motivasi dan kepribadian seseorang
berbeda dengan orang lain sehingga interpretasi seseorang terhadap suatu
informasi atau stimulus akan berbeda dengan orang lain.
d. Umpan Balik
Merupakan suatu proses yang terakhir, dimana setelah seseorang menafsirkan
informasi tersebut, akan muncul reaksi yang baik atau mendukung, cukup baik
dan tidak baik atau menolak maka akan muncul reaksi memberikan, apabila
jawabannya bersifat menerima maka reaksi yang muncul akan berbentuk
positif pula.

Fungsi Strategi


Menurut Assauri (2016:4), fungsi dari strategi pada dasarnya adalah
upaya agar strategi yang disusun dapat diimplementasikan secara efektif. Maka
dari itu, terdapat 6 (enam) fungsi dari strategi yang dapat di- implementasikan
dengan baik, yaitu :

  1. Mengkomunikasikan suatu maksud (visi) yang ingin dicapai kepadaorang
    lain.
  2. Menghubungkan kekuatan dan keunggulan organisasi dengan lingkungan
    sekitar.
  3. Memanfaatkan keberhasilan dan kesuksesan yang di dapat, serta mencari
    peluang baru
  4. Menghasilkan dan membangkitkan sumber daya yang lebih banyak
  5. Mengkoordinasikan aktivitas organisasi agar lebih maju kedepanya
  6. Menanggapi serta bereaksi atas keadaan yang baru dihadapi sepanjang
    waktu.

Unsur-Unsur Strategi


Assauri (2013:5) mengungkapkan bahwa strategi memiliki 5 (lima)
unsur, yang mana masing-masing dari unsur ini dapat menjawab pertanyaan
masing-masing berikut :

  1. Gelanggang aktivitas atau arena, merupakan area (produk, jasa, pasar
    geografis, saluran distribusi, dan sebagainya). Unsur arena memiliki
    cakupan yang lebih spesifik, seperti jenis produk, segmen pasar,
    pengembangan teknologi utama, dan area geografis, yang merupakan tahap
    penambahan nilai dariskema rantainilai yang meliputi perancangan produk,
    jasa pelayanan, manufaktur,distribusi, dan penjualan.
  2. Sarana kendaraan atau vehicles yang gunanya untuk mencapai arena target
    atau sasaran. Penggunaan sarana kendaraan memiliki risiko kegagalan yang
    besar, maka dari itu perlu adanya pertimbangan dalam penggunaannya.
    Risiko tersebut biasanya berupa keterlambatan masuk pasar atau biaya
    melebihi perkiraan yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
  3. Pembeda yang dibuat atau differentiators, merupakan unsur yang bersifat
    spesifik dari target yang ditetapkan. Dalam dunia persaingan, keberhasilan
    merupakan hasil dari pembedaan. Pembeda ini di dapat dari atribut dari
    suatu produk atau jasa yang berupa mutu atau kualitas, citra, unggul secara
    teknis, kustomisasi, harga, dan reabilitas.
  4. Tahapan rencana yang dilalui atau staging, merupakan unsur untuk
    menetapkan waktu dan langkah yang akan diambil dari strategi yangtelah
    ditentukan. Unsur staging di dorong oleh beberapa faktor, sepertitingkat
    kepentingan atau urgensi, sumber daya, kredibilitas pencapaian, dan faktor
    mengejar kemenangan awal.

Pengertian Strategi


Menurut porter dalam rangkuti (2017:3) Strategi merupakan alat
untuk mencapai tujuan. Strategi juga hal yang sangat penting untuk
mencapai keunggulan bersaing. Sedangkan menurut Hamel dan Pralahad
dalam Rangkuti (2017:4) Strategi merupakan tindakan yang bersifat
incremental (senantiasa meningkat) dan terus–menerus dan dilakukan
berdasarkansudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan
di masa depan. Dengan demikian, perencanaan strategi hampir selalu dimulai
dari “apa yang terjadi”. Terjadinya kecepatan inovasi pasar baru dan perubahan
pola konsumen yang memerlukan kompetensi baru dan unggul
(corecompetencies).Perusahaan perlu mencari kompetensi inti di dalam bisnis
yang dilakukan. Richard L. Daft dalam Nisak (2013:482) mendefinisikan
strategi (strategy) secara eksplisit, yaitu rencana tindakan yang menerangkan
tentang alokasi sumber daya serta berbagai aktivitas untuk menghadapi
lingkungan, memperoleh keunggulan bersaing, dan mencapai tujuan
perusahaan. Keunggulan bersaing (competitive advantege) adalah hal
yang membedakan satu perusahaan dengan perusahaan lain dan
memberikan cirikhas bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pasar
konsumen. Inti perumusan strategi ini adalah menentukan bagaimana
perusahaan akan berbeda dengan perusahaan lain. Strategi tentu saja berubah
seiring waktu sesuai dengan kondisi lingkungan.
Agar tetap kompetitif Richard L.Daft membuat strategi yang berfokus
kepada :

  1. Pemanfaatan kompetensi dasar.
  2. Mengembangkan sinergi.
  3. Menciptakan nilai bagi pelanggan.

Proses Komunikasi


Selain komunikasi, proses akan penyampaian informasi tersebut juga
merupakan faktor penting dalam keberhasilan dari komunikasi. Proses
komunikasi adalah unsur terpenting dalam menentukan berhasilatau tidak nya
proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan yang menjadi
tujuan utama dari komunikasi.
Dalam prosesnya, komunikasi memiliki dua tahap yaitu proses
komunikasi secara primer dan sekunder. (Effendy, 2011:11- 18).
i. Proses Komunikasi Primer
Proses komunikasisecara primer adalah Proses penyampaianpikiran
dan/atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan
lambang sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses
komunikasi adalah bahasa isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang
secara langsung mampu menerjemahkan pikiran atau perasaan
komunikator.
ii. Proses Komunikasi Secara Sekunder
Proses komunikasi ini adalah proses komunikasi dimana terdapat
alat sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama
dalam penyampaian pesan oleh sesorang kepada orang lainnya. Contohnya
adalah surat kabar atau televisi dimana media ini dapat mencapai
komunikan dengan jumlah yang luas dengan hanya menyampaikan sebuah
pesan satu kali saja.

Jenis Komunikasi Organisasi


Komunikasi organisasi memiliki dua jenis umum, yaitu internal dan
eksternal. Komunikasi internal dalam komunikasi organisasi meliputi aspek
komunikasi formal dan tertulis yang lebih dominan diterapkan. Misal,
pemberitahuan melalui surat, email, memo maupun peraturan yang dibuat oleh
perusahaan, bulletin organisasi, atau papan pengumuman. Sedangkan
komunikasi external dalam komunikasi organisasi adalah komunikasi yang
dibangun fokus kepada pihak di luar organisasi atau perusahaan tersebut. Jenis
komunikasi eksternal ini biasanya digunakan jika organisasi atau perusahaan
ingin mencapai suatu kesepakatan dengan perusahaan lainya guna menjalin
kerjasama dan membuat keuntungan bagi masing-masing perusahaan.
Berikut definisi komunikasi internal dan external dalam komunikasi
organisasi menurut para ahli :

  1. Lawrance D. Brennan (Ruliana, 2014:94) mendefinisikan komunikasi
    internal dalam komunikasi organisasi sebagai pertukaran gagasan diantara
    para administrator dan karyawan dalam suatu perusahaan atau organisasi
    untuk mewujudkan tujuan perusahaan, pertukaran gagasan berlangsung
    secara vertikal dan horizontal dalam perusahaan sehingga proses
    manajemen dapat dioprasionalkan.
  2. Sedangkan menurut Onong U. Effendy (2006:128) komunikasi external
    merupakan komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak diluar
    organisasi
    Komunikasi menjadi instrumen penting dalam membangun
    kesepemahaman dan kerjasama baik antara perusahaan dengan karyawan,
    perusahaan dengan client maupun antar sesama karyawan pada perusahaan.
    Untuk itu komunikasi yang efektif harus tercipta antar sesama karyawan
    (Horizontal) maupun atasan dengan bawahan (vertikal) demi menjaga
    hubungan baik dalam lingkungan pekerjaan

Definisi Komunikasi Organisasi


Komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai proses yang terjadi
dalam suatu organisasi berupa penyampaian, penerimaan, serta pertukaran
informasi dan pesan dalam internal organisasi. Adanyakomunikasi organisasi
sendiri, digunakan untuk mencapai sebuah tujuan bersama, dimana seringkali
komunikasi jenis ini digunakan dan diterapkan dalam ruang lingkup kerja
tujuannya adalah untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang sudah ditetapkan.
Komunikasi organisasi sangat dibutuhkan dalam pekerjaan, guna menciptakan
proses komunikasi yang sesuai dengan apa yang diharapkan dan mendapat hasil
yang memuaskan. Guna memperlancar proses pertukaran informasi yang ada
dalam komunikasi organisasi itu sendiri komunikator harus menyampaikan
pesan to the point dan terarah dengan begitu proses penyampaian dan pertukaran
informasi akan baik.
Proses komunikasi yang berkembang pesat membuat penyebaran
informasi semakin masif, terutama melalui aplikasi pesan singkat dan media
sosial. Hal ini berdampak pada komunikasi yang semakin mudah dilakukan
dimana dan kapan saja, terutama dalam bekerja.
Sejatinya komunikasi yang dilakukan dalam pekerjaan merupakan
bagian dari komunikasi organisasi pada teori Lewin mengenai tahap perubahan
organisasi yang menjadi pondasi dasar menyusun strategi perubahan
merupakan penjabaran utama (Robbins & Judge, 2017).
Berikut beberapa teori komunikasi organisasi menurut para ahli :

  1. Menurut Katz dan Robert Kahn (dalam Rohim, 2016:124) Komunikasi
    organisasi merupakan arus pertukaran informasi dan simbol/makna dari
    individu ke individu lain ataupun individu ke kelompok dalam suatu
    organisasi.
  2. Menurut little John dan Foss, Komunikasi Organisasi adalah suatu
    kemungkinan bahwa individu akan mengevaluasi informasi secarakritis.
    Kemungkinan elaborasi bergantung pada cara seseorang mengolah pesan.
    Ditambahkan pula bahwa tujuan utama media internal adalah memberikan
    informasi kepada karyawan mengenai kebijaksanaan dan kegiatan
    perusahaan, serta membantu meningkatkan semangat kerja, kepuasan kerja
    dan loyalitas, (2008:72).
  3. Sedangkan menurut Golhaber dalam Muhammad, komunikasi organisasi
    adalah proses menciptakan dan saling tukar – menukar pesan dalam satu
    jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi
    lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah -ubah, (2011:67).
    Perusahaan bergantung pada komunikasi yang efektif, melakukan
    semua fungsi mereka termasuk perencanaan, mengarahkan, mengendalikan,
    pengambilan keputusan dan pelaksanaan keputusan serta tujuan. Komunikasi
    yang tidak efektif dapatmenimbulkan miss communication yang menghasilkan
    konflik, perselisihan, prasangka, keputusan yang salah, eksekusi yang buruk,
    kesenjangan dan kesalahpahaman, untuk itu penting bagi setiap perusahaan
    untuk tetap menjalin komunikasi dengan baik dalam internal maupun external
    perusahaan guna menjaga perusahaan tetap terjaga dengan baik. Oleh karena
    itu, komunikasi tidak dapat dikatakan menjadi efektif, jika pemahaman bersama
    belum tercapai.

Pendekatan Komunikasi Organisasi


Komunikasi organisasi dapat efektif apabila pendekatan komunikasi
organisasi antara kepala ruang dan perawat pelaksana berjalan dengan
baik. Muhammad (2017), menyebutkan ada tiga pendekatan komunikasi
organisasi meliputi pendekatan makro, pendekatan mikro, dan pendekatan
individual. Penjelasan dari pendekatan komunikasi organisasi adalah
sebagai berikut :
a. Pendekatan Komunikasi Makro
Pendekatan komunikasi makro adalah teknik komunikasi
organisasi yang berfokus pada komunikasi dalam lingkup luas untuk
dapat berinteraksi dengan lingkungannya. Organisasi melakukan
aktivitas tertentu untuk berinteraksi, yakni dengan memproses
informasi dari lingkungan, mengadakan identifikasi, melakukan
integrasi dan menentukan tujuan organisasi (Maulidiyyah, 2015).
1) Proses informasi
Menyatukan keadaan organisasi dapat dilakukan dengan
menyesuaikan apa yang terjadi pada lingkungan dengan jalan
mentransfer informasi yang relevan dari atasan maupun dari
lingkungan, kemudian informasi yang didapat dirumuskan
dengan tepat. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk
melakukan identifikasi dan penentuan tujuan organisasi
(Muhammad, 2017).
2) Identifikasi
Identifikasi merupakan suatu proses menelaah atau
mengartikan informasi yang diberikan dengan tepat. Suatu
organisasi untuk mencapai persetujuan yang potensial perlu
menggunakan informasi yang telah diproses dari lingkungan.
Komunikasi sangat penting, karena menjadi jembatan untuk
menyalurkan antara atasan dan bawahan (Muhammad, 2017).
3) Integrasi
Integrasi atau kerjasama sangat dibutuhkan dalam organisasi,
karena tanpa adanya kerjasama antar anggota organisasi.
Organisasi perlu memonitor atau memantau aktivitas dan
menetukan aktivitas apa yang mempengaruhi organisasinya.
Setiap aktivitas tersebut membutuhkan komunikasi seperti
komunikasi saat dilaksanakannya rapat atau pertemuan dengan
organisasi lain (Muhammad, 2017).
4) Penentuan tujuan organisasi
Komunikasi diperlukan untuk menentukan tujuan organisasi.
Organisasi dalam menentukan tujuan dengan memperoleh
informasi mengenai lingkungan yang memprosesnya, melakukan
identifikasi dan melakukan integrasi yang baik untuk
memperjelas tujuan organisasi. Informasi yang berasal dari
semua interaksi ini kemudian dapat digunakan untuk menentukan
tujuan organisasi. Beberapa organisasi, biasanya pimpinan yang
merumusan tujuan organisasinya sehingga bawahan hanya
menjalankan kebijaksanaan yang telah ditetapkan dan ada pula
organisasi yang melibatkan anggotanya untuk merumuskan
tujuan organisasi. Komunikasi sangat diperlukan karena orangorang yang terlibat dalam merumuskan tujuan ini saling bertukar
ide dan informasi untuk merumuskan tujuan yang baik
(Muhammad, 2017).
b. Pendekatan Mikro
Teknik komunikasi organisasi yang berfokus pada komunikasi
dalam unit dan subunit pada suatu organisasi. Komunikasi pada
pendekatan ini meliputi komunikasi antara anggota kelompok,
komunikasi untuk pemberian orientasi dan latihan, komunikasi untuk
melibatkan anggota kelompok dalam tugas kelompok, komunikasi
untuk menjaga iklim organisasi, komunikasi dalam mensupervisi dan
pengarahan pekerjaan dan komunikasi untuk mengetahui rasa
kepuasan kerja dalam organisasi (Muhammad, 2017).
1) Orientasi dan latihan
Orientasi adalah kegiatan untuk memperkenalkan organisasi
dan unit kerja kepada karyawan baru (Larasati, 2018). Orientasi
dan latihan sangat dibutuhkan di dalam suatu organisasi.
Aktivitas latihan dan orientasi memerlukan komunikasi, misalnya
untuk menjelaskan bagaimana suatu pekerjaan yang akan
dilakukan. Komunikasi yang digunakan bisa secara lisan, melalui
buku-buku petunjuk atau manual. Anggota organisasi dapat
mengenal apa yang terjadi di dalam organisasi maka dibutuhkan
komunikasi saat orientasi. Orientasi dan latihan yang dilakukan
pada perawat mempunyai tujuan agar dapat menyesuaikan diri
pada situasi baru dan meningkatkan produktivitas (Muhammad,
2017).
2) Keterlibatan anggota
Keterlibatan anggota adalah tingkat dimana seseorang
mengidentifikasi dengan sebuah pekerjaan, secara aktif
berpartisipasi di dalamnya (Robbins & Judge, 2017). Kelancaran
tugas organisasi tidak lepas dari keterlibatan anggota dalam
unitnya masing-masing. Komunikasi diperlukan untuk mengajak
atau mendorong anggota organisasi untuk terlibat dalam
pekerjaan kelompok. Keterlibatan anggota akan meningkatkan
kepercayaan, rasa hormat, memperbaiki kebiasaan kerja, serta
mengurangi kesalahan. Bentuk keterlibatan antara lain membantu
mengembangkan dan menerapkan prosedur dan petunjuk yang
lebih efisien. Keterlibatan atau partisipasif anggota oleh manajer
lewat kerja dan komunikasi dengan anggota (Marquis & Huston,
2010).
3) Iklim komunikasi organisasi
Iklim komunikasi organisasi adalah persepsi mengenai
komunikasi yang membuat lingkungan kerja menjadi kondusif.
Faktor yang mempengaruhi iklim komunikasi organisasi ada
enam meliputi kepercayaan, pembuatan keputusan bersama,
kejujuran, keterbukaan dalam komunikasi kebawah,
mendengarkan dalam komunikasi keatas, perhatian pada pada
tujuan-tujuan berkinerja tinggi (Cartono & Maulana, 2019). Iklim
komunikasi organisasi ditentukan oleh bermacam-macam faktor
di antaranya tingkah laku pimpinan, teman sekerja, dan tingkah
laku dari organisasi. Iklim organisasi ditentukan oleh tingkah laku
komunikasi dari pimpinan kepada kelompoknya, misalnya
pimpinan yang tidak mau bicara dengan bawahannya dan tidak
peduli dengan apa yang dilakukan bawahan menyebabkan
bawahannya malas bekerja dan tidak produktif (Muhammad,
2017).
4) Supervisi dan pengarahan
Tugas-tugas dalam organisasi perlu diawasi, dikontrol serta
diarahkan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Supervisi
dan pengarahan dilakukan oleh pimpinan organisasi kepada
bawahannya. Supervisi dan pengarahan dilakukan untuk
membantu individu agar dapat melakukan pekerjaan sesuai
dengan kriteria yang telah ditentukan. Komunikasi pada saat
supervisi bertujuan untuk memastikan kegiatan yang
dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan
(Asmuji, 2014).
5) Kepuasan kerja
Kepuasan kerja adalah suatu respon emosional seseorang
terhadap pekerjaan yang dilakukan (Asmuji, 2014). Hubungan
dengan sesama teman kerja kurang baik dan tidak memperoleh
informasi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan
merupakan penyebab dari ketidakpuasan seseorang dengan
pekerjaannya. Ketidakpuasan dapat diatasi dengan memberikan
informasi yang cukup kepada karyawan sehingga karyawan dapat
melakukan pekerjaannya dengan baik dan merasa puas dengan
hasil yang dilakukan. Hubungan komunikasi sesama teman yang
kurang baik dapat diatasi dengan mengadakan pertemuan rutin di
antara sesama anggota organisasi sehingga satu sama lain saling
mengenal dan merasa senang dalam bergaul (Muhammad, 2017).
c. Pendekatan Individual
Teknik komunikasi yang berpusat pada bagaimana individu
berkomunikasi di dalam organisasi. Komunikasi individual memiliki
beberapa bentuk diantaranya berbicara dalam kelompok kerja, hadir
dan berinteraksi dalam rapat, menulis, dan memperdebadkan suatu
usulan (Muhammad, 2017).
1) Berbicara pada kelompok kerja
Keterampilan berkomunikasi dengan orang lain sangat di
butuhkan dalam kelompok kerja agar kita dapat memperoleh dan
memberikan informasi yang diperlukan untuk melakukan tugas
kelompok. Anggota kelompok, supervisor atau anggota
kelompok lainnya dapat berbicara dalam kelompok kerja
(Muhammad, 2017).
2) Hadir dan berinteraksi dalam rapat
Rapat merupakan pertemuan atau berkumpulnya dua orang
atau lebih untuk memutuskan suatu tujuan tertentu. Anggota
organisasi harus memiliki keterampilan berinteraksi didalam
rapat yang meliputi memberikan informasi untuk membujuk
anggota lain agar menerima usulan dan mengarahkan rapat
(Muhammad, 2017).
3) Menulis
Menulis sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi, untuk
pendokumentasian, seperti halnya di keperawatan menulis
dibutuhkan untuk dokumentasi keperawatan. Dokumentasi
keperawatan merupakan catatan keperawatan sebagai alat
komunikasi bagi seluruh perawat. Dokumentasi berisi hasil
pengkajian, masalah klien atau diagnosa keperawatan,
perencanaan pelaksanaan, dan evaluasi. Dokumentasi yang baik
dan benar menunjang keberhasilan dalam memberikan asuhan
keperawatan (Asmuji, 2014).
4) Berdebat
Berdebat adalah Perdebatan antar anggota organisasi dalam
rapat kecil menghasilkan keputusan penting untuk memilih satu
tindakan tertentu. Anggota organisasi harus mencetuskan suatu
usulan atau program baru tentang aktivitas yang akan dilakukan.
Keterampilan berkomunikasi sangat diperlukan dalam mengajak
orang lain untuk menerima usulan kita.

Saluran Komunikasi Organisasi


Komunikasi yang terjadi dalam organisasi pelayanan kesehatan atau
keperawatan adalah komunikasi formal. Komunikasi formal adalah
komunikasi yang bersifat resmi (Muhammad, 2017). Komunikasi formal
membentuk saluran-saluran komunikasi. Saluran komunikasi formal
ditentukan oleh struktur organisasi. Saluran komunikasi formal dibagi
menjadi tiga yang meliputi komunikasi vertikal, lateral dan diagonal
(Asmuji, 2014).
a. Komunikasi vertikal
Komunikasi vertikal adalah aliran komunikasi yang terjadi dari
atasan ke bawahan atau dari bawahan ke atasan (Asmuji, 2014).
Komunikasi dari atasan ke bawahan, biasanya terkait tanggung jawab
dan wewenangnya dalam organisasi. Komunikasi dari atasan ke
bawahan bertujuan untuk memberikan pengarahan, informasi,
instruksi, saran, masukan, dan penilaian. Bentuk komunikasi dari
atasan ke bawahan bisa berupa tulisan maupun lisan (Purwanto,
2011). Sedangkan komunikasi dari bawahan ke atasan bertujuan untuk
memberikan informasi atau umpan balik ke atasan terkait kebijakan,
pengarahan, instruksi, dan pengaturan (Robbins & Judge, 2017).
Komunikasi vertikal yang terjadi di ruang rawat inap berupa
komunikasi antara kepala ruang dan ketua tim/ perawat primer dan
atau perawat pelaksana, ketua tim/ perawat primer dengan perawat
pelaksana (Asmuji, 2014).
b. Komunikasi horizontal
Komunikasi horizontal merupakan proses penyampaian pesanpesan dari anggota yang satu kepada anggota lain yang memiliki
posisi sejajar atau sederajat dalam suatu organisasi. Komunikasi
horizontal bersifat koordinatif dan digunakan untuk memperoleh
informasi dalam membantu memperbaiki atau memperlancar
melaksanakan tugas masing-masing anggota. Komunikasi horizontal
dapat berlangsung secara formal, misalnya rapat-rapat antar kepala
bagian, dan dapat pula berlangsung secara informal, misalnya pada
saat makan siang di kantin (Purwanto, 2011). Komunikasi horizontal
yang terjadi di ruang rawat inap berupa komunikasi antar kepala
ruang, antar ketua tim atau perawat primer, dan antar perawat
pelaksana (Asmuji, 2014).
c. Komunikasi lintas-saluran atau diagonal
Komunikasi diagonal adalah komunikasi yang memotong atau
menyilang garis perintah organisasi. Komunikasi diagonal dilakukan
antara dua orang yang memiliki tingkat kedudukan, tugas dan fungsi
yang berbeda. Komunikasi yang terjadi di ruang rawat inap berupa
komunikasi antara perawat dan tim kesehatan lain seperti dokter,
fisioterapi, ahli gizi, dan lain-lain (Asmuji, 2014).

Jenis Komunikasi


Manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan berhubungan
dengan orang disekitarnya, salah satunya dengan melakukan komunikasi.
Jenis komunikasi yang digunakan menjadi faktor untuk menentukan
keektifan dalam berkomunikasi. Secara garis besar, komunikasi dibagi
menjadi dua jenis yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non verbal.
Komunikasi verbal maupun nonverbal dapat berlangsung satu arah dan
atau dua arah (Asmuji, 2014).
a. Komunikasi verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang disampaikan dalam
bentuk lisan maupun tulisan. Komunikasi verbal dapat terjadi secara
langsung maupun tidak langsung atau melalui telepon, telekonferen,
tulisan dan lain-lain. Komunikasi verbal dalam bentuk tulisan berupa
dokumentasi asuhan keperawatan, pengumuman, tugas tertulis, beritaberita disurat kabar (Asmuji, 2014).
b. Komunikasi non verbal
Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang penyampaiannya
tidak diucapkan atau ditulis, tetapi dengan bahasa tubuh (Asmuji,
2014). Komunikasi non verbal dapat berupa Gerakan tubuh, posisi
tubuh, ekspresi wajah, tatapan mata, jarak, sentuhan, pakaian dan nada
suara (Robbins & Judge, 2017).

Fungsi Komunikasi


Fungsi utama komunikasi di dalam kelompok atau organisasi yaitu
pengendalian, motivasi, pernyataan emosional dan informasi (Robbins &
Judge, 2017). Komunikasi organisasi bertujuan untuk memudahkan,
melaksanakan, dan melancarkan jalannya suatu organisasi (Liliweri,
2013). Empat tujuan komunikasi organisasi yaitu :
a. Menyatakan pikiran, pandangan dan pendapat
b. Membagi informasi
c. menyatakan perasaan dan emosi
d. melakukan koordinasi
Fungsi utama komunikasi dalam organisasi ada 4 meliputi informatif,
pengendalian (regulatory), persuasif, integratif (Muhith & Siyoto, 2019).
Komunikasi dalam organisasi berfungsi sebagai :
a. Informatif
Atasan dan anggota organisasi membutuhkan informasi untuk
menyelesaikan pekerjaannya. Informasi tersebut berkaitan dengan
upaya untuk mencapai organisasi (Muhith & Siyoto, 2019).
b. Pengendalian (Regulatory)
Komunikasi berfungsi sebagai pengatur dan pengendali
organisasi. Komunikasi dalam hal ini berupa peraturan, prosedur,
perintah dan laporan. Fungsi regulatif dipengaruhi oleh dua hal yaitu
pertama, atasan yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan
semua informasi yang disampaikan dan memberikan instruksi atau
perintah kepada bawahan. Kedua, berkaitan dengan pesan atau
message (Muhith & Siyoto, 2019).
c. Persuasif
Komunikasi berfungsi untuk mengajak orang lain mengikuti atau
menjalankan ide atau gagasan atau tugas. Cara persuasif akan lebih
mendorong bawahan atau anggota organisasi untuk selalu berkreasi
dan termotivasi untuk menyelesaikan pekerjaannya ataupun bisa
menyelesaikan masalahnya sendiri (Purwanto, 2011).
d. Integratif
Setiap organisasi menyediakan saluran untuk bawahan dapat
melaksanakan tugas atau pekerjaan dengan baik. Permasalah atau
pekerjaan tidak efektif apabila dikerjakan sendiri, untuk itu fungsi
integratif mendorong bawahan untuk menjalin komunikasi dengan
sesama untuk mencapai tujuan bersama (Muhith & Siyoto, 2019).

Definisi Komunikasi Organisasi


Komunikasi merupakan pertukaran informasi antara dua orang atau
lebih, atau disebut juga pertukaran ide dan pikiran yang disampaikan oleh
penyampai pesan kepada penerima pesan agar informasi tersebut dapat
mengubah sikap dan perilaku (Andriyani, Darmawan, & Hidayati, 2018).
Organisasi merupakan sekelompok orang yang bekerja sama dan saling
bergantung untuk mencapai tujuan bersama (Duha, 2018). Organisasi tidak
lepas dari komunikasi, karena komunikasi sebagai jembatan interaksi antar
anggota organisasi. Komunikasi yang baik merupakan faktor penting untuk
mencapai tujuan organisasi. Komunikasi dalam organisasi merupakan
suatu proses penyampaian informasi, ide-ide antar anggota organisasi
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Komunikasi organisasi merupakan proses saling menukar pesan dalam
satu jaringan yang saling berketergantung satu sama lain untuk mengatasi
lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah (Subkhi &
Jauhar, 2013). Komunikasi organisasi sebagai pertunjukan dan penafsiran
pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu
organisasi (Pace & Faules, 2010). Komunikasi organisasi yaitu pengirim
dan penerima pesan di dalam suatu organisasi, di dalam kelompok formal
maupun informal organisasi (Subkhi & Jauhar, 2013). Organisasi
keperawatan membutuhkan komunikasi organisasi yaitu proses
penyampaian dan pemahaman informasi. Komunikasi dalam organisasi
keperawatan sangat penting untuk memperkuat hubungan satu sama lain
dan memperlancar pelayanan keperawatan. Komunikasi dalam organisasi
adalah proses terjadinya pertukaran pandangan dan gagasan di dalam
organisasi (Marquis & Huston, 2010). Informasi dalam pelayanan
keperawatan di peroleh melalui komunikasi organisasi keperawatan.

Pengertian Strategi Komunikasi


Strategi pada hakikatnya merupakan suatu perencanaan (planning) dan
manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan, tetapi untuk mencapai
tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya
menunjukkan arah saja, melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana taktik
operasionalnya.
Demikian juga dengan strategi komunikasi yang merupakan paduan
perencanaan komunikasi (communication planning) dengan manajemen
komunikasi (communication management) untuk mencapai tujuan yang telah
ditetap- kan. Strategi komunikasi ini harus mampu menunjukkan bagaimana
operasionalnya secara praktis harus dilakukan, dalam arti kata bahwa pendekatan
(approach) bisa berbeda sewaktu-waktu bergantung pada situasi dan kondisi.
Dalam fungsinya, menurut R. Wayne Pace, Brent D. Peterson, dan M. Dallas
Burnett dalam bukunya, Techiques for Effective Communication, mengatakan
bahwa ada tiga tujuan sentral dalam strategi :

  1. to secure understanding,
  2. to establish acceptance,
  3. to motivate action.

Tujuan Komunikasi Organisasi


Tujuan dari komunikasi organisasi adalah tidak lain untuk membangung
iklim komunikasi yang kondusif. Iklim yang kondusif tercipta bila proses
komunikasi dalam suatu organisasi tidak mengalami hambatan atau sumbatan.
Lalu, komunikasi organisasi juga bertujuan untuk mengetahui dan memahami
proses, prinsip dan arus kominukasi yang ada didalam organisasi untuk
mewujudkan tujuan organisasi. Seperti yang dikemukakan oleh para ahli berikut
ini.

  1. Memahami peristiwa didalam organisasi;
  2. Mengetahui prinsip dan keahlian komunikasi yang berlangsung dalam
    organisasi baik arus komunkasi vertical yang terdiri dari downward
    communication dan upward communication serta komunukasi horizontal (
    Sinurat, 2010; )
    Menurut R. Wayne. Pace dan Don F. Faules dalam bukunya “ Komunikasi
    Organisasi” tujuan utama komunikasi organisai yaitu memperbaiki organisai
    ditafsirkan sebagai memperbaiki hal-hal untuk mencapai tujuan manajemen, serta
    memperoleh hasul yang diinginkan

Fungsi Komunikasi Organisasi


Didalam suatu organisasi, baik yang berorientasi komersil maupun sosial,
aktivitas komunikasi melibatkan empat fungsi. Menurut Sasa Djuarsa Sendjaja
dalam buku teori komunikasi yaitu:
1) Fungsi Informatif,
Dalam fungsi informatif organisasi dipandang sebagai suatu system
pengelolaan informasi berupaya memperoleh informasi sebanyak-banyaknya
dengan kualitas sebaik-baiknya dan tepat waktu. Informasi yang diperoleh oleh
setiap orang dalam organisasi diharapkan akan memperlancar pelaksanaan tugas
masing-masing.
2) Fungsi Regulatif
Fungsi Regulatif berhubungan dengan peraturan-peratuaran yang berlaku
dalam suatu organisai, ada dua hal yang berperan dalam fungsi ini, yaitu :

  1. Atasan atau orang-orang yang berada pada pucuk pimpinan
    (tatanan manajemen ) adalah mereka yang memiliki kewenangan
    untuk mengendalikan informasi.
  2. Berhubungan dengan pesan regulative pada dasarnya berorientasi
    pada kerja, artinya bawahan membutuhkan kepastian tata cara dan
    batasan mengenai pekerjaannya.
    3) Fungsi Persuasif
    Mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu
    membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka
    banyak pimpinan yang lebih suka mempersuasi bawahanya daripada memberi
    perintah.
    4) Fungsi Integratif
    Untuk menjalankan fungsi intergarsi, setiap organisai berusaha untuk
    menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas
    dan pekerjaan dengan baik. ( Senjaya, 2007:4.8-4.10 )

Pengertian Komunikasi Organisasi


Mengenal istilah organisasi dapat mengisyaratkan bahwa sesuatu yang
nyata merangkum orang – orang, hubungan – hubungan, dan tujuan – tujuan.
Suatu organisasi terdiri dari unit – unit komunikasi dalam hubungan – hubungan
hierarkis antara yang satu dengan yang lainnya yang berfungsi dalam suatu
lingkungan. Interaksi dia antara semua faktor internal maupun eksternal organisasi
disebut sebagai sistem komunikasi organisasi. Mempelajari organisasi adalah
suatu hal yang mempelajari perilaku perorganisasian, dan inti dari perilaku
tersebut adalah komunikasi. Setelah mengetahui hakikat organisasi dan
komunikasi, maka kita dapat melihat arah dan pendekatan yang ada pada
komunikasi organisasi. “Komunikasi organisasi lebih dari sekedar apa yang
dilakukan orang – orang. Komunikasi organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang
dapat mengambil sejumlah arah yang sah dan bermanfaat” (Pace dan Faules
dalam Rismawaty, Surya, Juliano 2014:203).
Komunikasi organisasi menyangkut penelaahan atas banyak transaksi
yang terjadi secara simultan. Sistem tersebut menyangkut pertunjukan dan
penafsiran pesan diantara lusinan atau bahkan ratusan individu pada saat yang
sama, yang memiliki jenis – jenis hubungan berlainan yang menghubungkan
mereka; yang pikiran, keputusan, dan perilakunya diatur oleh kebijakankebijakan, regulasi dan aturan-aturan; yang mempunyai gaya berlainan dalam
berkomunikasi, mengelola, dan memimpin; yang berada pada tahap
perkembangan berlainan dalam berbagai kelompok; yang mempersepsi iklim
komunikasi berbeda; yang mempunyai tingkat kepuasan berdeda dan tingkat
kecukupan informasi berbeda pula; yang lebih menyukai dan menggunakan jenis,
bentuk, dan metode komunikasi yang berbeda dalam jaringan yang berbeda; yang
mempunyai tingkat ketelitian pesan yang berlainan dan yang membutuhkan
penggunaan tingkat materi dan energi yang berbeda untuk komunikasi efektif. “
Interaksi dianatar semua faktor tersebut, dan mungkin lebih banyak lagi disebut
dalam system komunikasi organisasi” ( Pace dan Faules. 2002:33 )

Fungsi Komunikasi


Proses dalam terjadinya suatu komunikasi dimulai dari pikiran seseorang
yang akan menyampaikan sebuah pesan atau informasi yang kemudian
dilambangkan baik itu berupa ucapan atau isyarat. Suatu komunikasi akan
berhasil apabila dari kedua belah pihak antara komunkator dan komunikan dapat
saling memahami pesan atau informasi yang disampaikan. Dalam komunikasi
menurut Onong Uchjana Effendi dalam buku Dimensi – dimensi Komunikasi
memiliki 4 fungsi komunikasi sebagai berikut :

  1. Public Information
    Memberikan informasi kepada masyarakat. Dengan menerima suatu informasi
    yang benar maka masyarakat akan merasa aman dan tentram. Informasi yang
    akurat pastinya diperlukan oleh masyarakat untuk bahan dalam membuat
    keputusan.
  2. Public Education
    Mendidik masyarakat. Kegiatan komunikasi yang dilakukan kepada
    masyarakat dengan memberikan informasi adalah agar masyarakat menjadi lebih
    baik, lebih maju, dan lebih berkmebang kebudayannya. Mendidik sendiri disini
    adalah dengan memberikan berbagai informasi yang dapat menambah kemajuan
    masyarakat.
  3. Public Persuasion
    Mempengaruhi masyarakat. Mempengaruhi disini adalah suatu kegiatan yang
    memberikan informasi yang dapat dijadikan juga sebagai sarana untuk
    mempengaruhi masyarakat kearah perubahan sikap dan perilaku yang diharapkan.
  4. Public Entertaiment
    Menghibur masyarakat. Perilaku masyarakat dalam menerima informasi
    bukan untuk memenuhi rasa aman saja, tetapi dapat menjadi sasaran hiburan bagi
    masyarakat, karena pada saat ini banyak cara dalam penyajian informasi salah
    satunya melalui sarana seni hiburan.

Unsur – Unsur Komunikasi


Komunikasi merupakan salah satu kegiatan inti manusia. Komunikasi
tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk sosial
dan hidup secara komunal pastinya harus melakukan interaksi dengan sesama. Komunikasi juga merupakan usaha guna menyamakan suatu persepsi diantara dua
pihak. Dalam praktiknya dalam komunikasi masih sering terjadi kegagalan dalam
prosesnya. Kegagalan ini terjadi karena adanya noise atau adanya gangguan yang
menyebabkan kegagalan proses penyampaian pesan/informasi dari komunikator
kepada komunikan. Dalam komunikasi terdapat unsur unsur komunikasi menurut
Cangara (2007:23) sebagai berikut:

  1. Sumber
    Dalam komunikasi pastinya melibatkan sumber sebagai pembuat atau
    pengirim pesan / informasinya.
  2. Pesan
    Pesan merupakan sesuatu yang disampaikan oleh komunikator kepada
    komunikan, pesan juga pastinya dalam komunikasi memiliki peran penting dalam
    penyampaiannya kepada penerima pesan.
  3. Media
    Media merupakan suatu alat yang digunakan dalam memindahkan suatu pesan
    dari sumber kepada penerima pesan.
  4. Penerima
    Penerima merupakan sebagai pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim
    oleh sumber, penerima pesan disini terdiri dari satu orang atau lebih, bisa
    berbentuk kelompok, partai, ataupun Negara.
  5. Pengaruh
    Pengaruh atau efek merupakan perbedaaan ataupun apa yang dirasakan,
    dipikirkan, dan juga dilakukan oleh penerima baik setelah atau sebelum menerima
    pesan.
  6. Tanggapan Balik
    Tanggapan balik atau umpan balik merupakan salah satu bentuk dari pada
    pengaruh yang berasal dari penerima, tetepi umpan balik ini bukan hanya berasal
    dari penerima, bisa juga berasal dari unsur yang lain seperti pesan dan media
    meskipun pesan belum sampai kepada penerima.
  7. Lingkungan
    Lingkungan atau situasi merupakan faktor – faktor yang dapat mempengaruhi
    jalannya komunikasi .

Pengertian Komunikasi


Komunikasi merupakan suatu hal yang sangat mendasar dalam kehidupan
manusia, bahkan komunikasi telah menjadi suatu fenomena bagi terbentuknya
suatu masyarakat atau komunitas yang terintegrasi oleh informasi yang mana
masing – masing individu didalam masyarakat yang saling berbagi informasi
untuk mencapai tujuan bersama. Secara sederhana komunikasi bisa terjadi apabila
ada kesamaan antara penyampai pesan dan juga orang yang menerima pesan.
Komunikasi dapat dipahami sebagai suatu bentuk komunikasi interaksi, yaitu
komunikasi dengan proses sebab – akibat atau aksi – reaksi yang arahnya
bergantian (Mulyana, 2002:65).
Dalam konteks tersebut, komunikasi melibatkan komunikator yang
menyampaikan pesan, baik verbal maupun non verbal kepada komunikan yang
secara langsung memberikan respons secara verbal ataupun non verbal secara
aktif, dinamis, dan timbal balik. Oleh karena itu komunikasi berlangsung apabila
diantara orang – orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal
yang dikomunikasikannya. Lebih jelasnya jika seseorang mengerti tentang sesuatu
yang ditanyakan orang lain kepadanya, maka komunikasi berlangsung. Dengan
artian, hubungan antara mereka bersifat komunikatif.

Indikator-Indikator Keputusan Pembelian


Dalam penelitian ini menggunakan tiga indikator untuk menentukan
keputusan pembelian yang diambil dari Kotler dan Armstrong (2018:70),
yaitu:
a. Kemantapan pada sebuah produk
Dalam melakukan pembelian, konsumen memilih salah satu dari
beberapa alternatif yang ada. Pilihan tersebut didasarkan pada
kualitas, mutu, harga yang terjangkau, dan faktor-faktor lain yang
dapat memantapkan keinginan konsumen untuk membeli produk
apakah produk tersebut benar- benar ingin digunakan atau
dibutuhkan.
b. Kebiasaan dalam membeli produk
Kebiasaan konsumen dalam membeli produk juga berpengaruh
terhadap keputusan pembelian. Konsumen merasa produk tersebut
sudah terlalu melekat di benak mereka karena mereka sudah
merasakan manfaat dari produk tersebut. Oleh karena itu, konsumen
merasa tidak nyaman jika mencoba produk baru dan harus
menyesuaikan diri lagi. Mereka cenderung memilih produk yang
sudah biasa digunakan.
c. Memberikan rekomendasi kepada orang lain
Dalam melakukan pembelian, jika konsumen mendapatkan manfaat
yang sesuai dengan sebuah produk, mereka pasti merekomendasikan
produk tersebut dengan orang lain. Mereka ingin orang lain juga
merasakan bahwa produk tersebut sangat bagus dan lebih baik dari
produk lain

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah suatu alasan yang mendorong
bagaimana konsumen untuk melakukan pilihan terhadap
pembelian suatu produk sesuai yang dibutuhkan. Menurut
Tjiptono (2016:22) perilaku konsumen merupakan tindakantindakan yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh,
menentukan produk dan jasa, termasuk proses pengambilan
keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan-tindakan
tersebut.konsumen harus melalui seluruh urutan tahap ketika
membeli produk. Khususnya karena dalam model ini menampung
seluruh pertimbangan yang muncul ketika konsumen menghadapi
pembelian baru dengan keterlibatan yang lebih tinggi. Sebelum
memutuskan untuk membeli suatu produk, seorang konsumen pada
dasarnya melakukan proses pengambilan keputusan terlebih
dahulu.
Proses pengambilan keputusan dalam Agusta (2020:12)
merupakan tahapan konsumen dalam memutuskan suatu produk
tertentu yang menurutnya sudah paling baik dari berbagai alternatif
sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu dengan
menetapkan pilihan yang dianggap paling menguntungkan. Proses
pemilihan dan penilaian ini biasanya diawali dengan
mengidentifikasi masalah utama yang mempengaruhi tujuan,
menyusun, menganalisis dan memilih berbagai alternatif tersebut
dan mengambil keputusan yang dianggap paling baik.
Menurut Kotler dan Armstrong (2017:180) keputusan
pembelian adalah keputusan pembeli tentang merek mana yang
dibeli. Proses pengambilan keputusan yang rumit sering
melibatkan beberapa keputusan. Keputusan ini melibatkan pilihan
antara dua atau lebih alternatif. Keputusan pembelian konsumen
adalah tahap dimana konsumen juga mungkin membentuk niat
untuk membeli produk yang paling disukai, dimana keputusan
konsumen untuk memodifikasi, menunda, atau menghindar sangat
dipengaruhi resiko yang dirasakan.

Indikator-Indikator Kepercayaan


Ada beberapa dimensi untuk dapat mengetahui kepercayaan
konsumen salah satunya menurut Kotler dan Keller (2016:225) ada
empat dimensi kepercayaan konsumen, yaitu sebagai berikut:

  1. Benevolence (kesungguhan/ketulusan), yaitu seberapa besar
    seseorang percaya kepada penjual agar berperilaku baik kepada
    konsumen.
  2. Ability (Kemampuan), adalah sebuah penilaian terkini atas apa
    yang dapat dilakukan seseorang. Dalam hal ini bagaimana
    penjual mampu meyakinkan pembeli serta memberikan
    jaminan kepuasan dan keamanan ketika bertransaksi.
  3. Integrity (Integritas), adalah seberapa besar keyakinan
    seseorang terhadap kejujuran penjual untuk menjaga serta
    memenuhi kesepakatan yang telah dibuat ke konsumen.
  4. Willingness to depend (Kesedian untuk bergantung), adalah
    kesedian konsumen bergantung kepada penjual berupa
    penerimaan resiko atau konsekuensi negatif.
    Sedangkan menurut Dharma (2019:251) terdapat tiga
    indikator sebagai berikut :
  5. Peluang (Probability) fokus kepada kepercayaan dan
    ketulusan, integritas, dan reputasi sehingga muncul
    peluang kepercayaan terhadap suatu produk perusahaan.
  6. Ekuitas (Equity), berkaitan dengan berfikir adil (fairmindedness), benevolence (kesungguhan/ketulusan)
    bahwa karakteristik seseorang untuk memperlihatkan
    dan peduli terhadap nasib dan kondisi seseorang.
  7. Keandalan (Reliability), berkaitan dengan keandalan dan
    kecepatan serta konsistensi dari produk yang diharapkan
    dalam beberapa hal berkaitan dengan jaminan yang
    dikeluarkan oleh perusahaan.

Pengertian Kepercayaan


Menurut Kotler dan Keller (2016:223), “Trust is the
willingness of a firm to rely on a business partner. It
depends on a number of interpersonal and
interorganizational factors, such as the firm’s perceived
competence, integrity, honesty and benevolence” yang
berarti “Kepercayaan adalah kesediaan perusahaan untuk
mengandalkan mitra bisnis. Itu tergantung pada sejumlah
faktor interpersonal dan antar organisasi, seperti
kompetensi yang dirasakan perusahaan, integritas,
kejujuran dan kebajikan”
Menurut Rifqi (2020:21) mendefinisikan dalam bahwa
kepercayaan adalah kepercayaan pembeli kepada penjual,
dan sebaliknya berdasarkan keyakinan bahwa orang yang
dipercayainya dengan benar memenuhi semua kewajiban
yang diharapkan. Dalam hal ini kepercayaan didefinisikan
sebagai probabilitas subjektif bahwa konsumen
mengharapkan penjual untuk melakukan transaksi tertentu
sesuai dengan harapan konsumen. Dalam pengertian lain,
kepercayaan dianggap sebagai keyakinan perilaku
pengguna barang elektronik.

Indikator-Indikator Citra Merek


Menurut Kotler dan Keller (2019:320) adapun indikatornya sebagai
berikut :

  1. Keunggulan Asosiasi Merek
    Merupakan salah satu faktor pembentuk brand image, dimana
    produk tersebut unggul dalam persaingan.
  2. Kekuatan Asosiasi Merek
    Adalah bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan
    konsumen dan bagaimana proses bertahan sebagai bagian dari
    citra merek. Hal itulah yang akan terus menerus menjadi
    penghubung antara produk atau merek dengan konsumen.
  3. Keunikan Asosiasi Merek
    Adalah suatu merek mau tidak mau harus terbagi dengan
    merek-merek lain. Oleh karena itu, harus diciptakan
    keunggulan bersaing yang dapat dijadikan alasan bagi
    konsumen untuk memilih suatu merek tertentu

Pengertian Citra Merek


Citra merek adalah cara masyarakat menganggap mereka secara
aktual, agar citra yang benar dapat tertanam dalam pikiran pelanggan
pemasar harus melihat memperlihatkan identitas merek melalui semua
saran komunikasi dan kontak merek yang tersedia. (Kotler dan Keller,
2019:272). Citra merek sebagai lambang, atau desain, atau
kombinasinya yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau
jasa dari salah satu penjual atau kelompok penjualan mengidentifikasi
merek para pesaing. Maka merek perbedaan atau jasa yang dimensi nya
tersebut dengan beberapa cara dari produk atau jasa lainnya. Dirancang
untuk memuaskan kebutuhan yang sama. Perbedaan ini bisa fungsional,
rasional, atau nyata hubungan dengan kinerja produk dari merek.
Perbedaan ini juga simbolis, emosional atau tidak nyata hubungan
dengan apa yang direpresentasikan merek. Sarana penetapan merek
sudah ada selama berabad-abad untuk membedakan barang dari suatu
produsen lainnya (Kotler dan Keller, 2019:258). Menurut Tjiptono
(2019:282) manfaat spesifik ekstensi merek (brand extension) bagi
merek induk dan perusahaan pemiliknya, yaitu :

  1. Makna merek (brand meaning) bagi konsumen dan mempertegas
    tipe pasar yang dimasuki.
  2. Meningkatkan merek (brand improve) dengan cara memperkuat
    asosiasi merek yang sudah ada, meningkatkan kesukaan
    (favorability) asosiasi merek saat ini, menambah asosiasi merek
    yang baru, atau kombinasi di antaranya.
  3. Menarik pelanggan baru dan meningkatkan cakupan pasara (market
    coverage)
  4. Memfasilitasi ekstensi merek (brand extension) berikutnya
    Merekomendasikan dua strategi pokok untuk memperkuat citra
    merek : mempertahankan kesadaran merek (brand awareness) dan
    meningkatkan citra merek (brand image). Kedua strategi tersebut
    menekankan program pemasaran yang cara konsisten menyampaikan
    makna merek kepada konsumen. Kesadaran merek (brand awareness)
    berfokus pada tiga aspek utama. (Kotler dan Keller, 2019:207).

Indikator-Indikator Gaya Hidup


Menurut Puranda dan Madiawati (2017:28), indikator gaya
hidup terdiri dari 3 (tiga) faktor, yaitu :

  1. Aktivitas (Activities) yaitu hobi, bekerja, hiburan, peristiwa
    sosial, liburan, komunitas, keanggotaan klub, olahraga,
    belanja.
  2. Minat (Interest) faktor pribadi yang mempengaruhi proses
    pengambilan keputusan.
  3. Pendapat (Opinion) yaitu diri sendiri, politik, bisnis, masalah
    sosial, pendidikan, ekonomi, produk, budaya, masa depan,
    budaya.
    Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2016:172) menyatakan
    bahwa gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang
    diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opini.
  4. Aktivitas (Activities)
    Aktivitas ini dapat berupa kerja, hobi, kegiatan sosial,
    hiburan, anggota klub, masyarakat, belanja dan olahraga.
    Aktivitas konsumen merupakan karakteristik konsumen dalam
    kehidupan sehari-harinya. Dengan adanya aktivitas konsumen,
    perusahaan dapat mengetahui kegiatan apa saja yang dapat
    dilakukan oleh pasar sasarannya, sehingga mempermudah
    perusahaan untuk menciptakan strategi-strategi dari informasi
    yang didapatkan tersebut. Dengan kata lain, perusahaan dapat
    menghasilkan produk yang dapat menunjang aktivitas
    keseharian serta gaya hidup yang dimiliki konsumen.
  5. Minat (Interest)
    Minat atau ketertarikan setiap manusia berbeda-beda.
    Adakalanya manusia tertarik pada makanan, adakalanya
    manusia tertarik pada model pakaian, dan sebagainya. Minat
    merupakan faktor pribadi konsumen dalam mempengaruhi
    proses pengambilan keputusan. Setiap perusahaan dituntut
    untuk selalu memahami minat dan hasrat para pelanggannya.
    Dengan memahami minat pelanggannya, dapat memudahkan
    perusahaan untuk menciptakan konsep pemasar guna
    mempengaruhi proses pembelian pada pasar sasarannya.
    Sehingga konsumen akan menyukai produk yang ditawarkan.
  6. Opini (Opinion)
    Opini digunakan untuk mendeskripsikan penafsiran,
    harapan dan evaluasi, seperti kepercayaan mengenai maksud
    orang lain, antisipasi sehubungan dengan peristiwa masa
    datang dan penimbangan konsekuensi yang memberi ganjaran
    atau menghukum dari jalannya tindakan alternatif. Seperti
    konsumen memiliki pendapat bahwa produk yang digunakan
    dapat memberikan manfaat untuknya di zaman sekarang ini.

Pengertian Gaya Hidup


Menurut Laksono dan Iskandar (2018:157), gaya hidup adalah
sikap seseorang dalam menggambarkan suatu masalah sebenarnya
yang ada didalam pikiran seseorang tersebut serta cenderung
bergabung dengan berbagai hal terikat dengan masalah psikologis
dan emosi atau bisa juga dilihat dari apa yang diminati dan
pendapatnya tentang suatu objek.
Sedangkan menurut Al Shabiyah (2019:108), gaya hidup adalah
bagaimana seseorang dalam menjalani hidupnya termasuk dari
produk apa yang mereka beli, bagaimana menggunakannya serta
apa yang dipikirkan dan dirasakan setelah menggunakan produk
tersebut atau gaya hidup berhubungan dengan reaksi sesungguhnya
atas pembelian yang konsumen lakukan.
Menurut Wibowo dan Riyadi (2017:99), gaya hidup adalah
lifestyle related to how people live, how they spend their money,
and how they allocate their time. Life-style mais concern the overt
actions and behaviors of consumers” yang bisa didefinisikan “gaya
hidup berkaitan dengan bagaimana cara orang hidup, bagaimana
mereka menghabiskan uang mereka, dan bagaimana mereka
mengalokasikan waktu mereka. Gaya hidup perhatian utama
tindakan terbuka dan perilaku konsumen”

Pengertian Manajemen Pemasaran


Menurut Kotler dan Keller (2016:27) Manajemen pemasaran
sebagai seni dan ilmu memilih target pasar mendapatkan, menjaga,
dan tumbuh pelanggan melalui cara menyampaikan, dan
mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul. Manajemen
pemasaran adalah perencanaan, pengarahan, dan pengawasan seluruh
kegiatan pemasaran perusahaan (Alma, 2019:10).
Menurut Kotler dan Keller (2018:34) Manajemen pemasaran adalah
sebagai seni dan ilmu untuk memilih pasar sasaran serta mendapatkan,
mempertahankan dan menambah jumlah pelanggan melalui
penciptaan, penyampaian dan pengkomunikasian nilai pelanggan yang
unggul.

Bauran Pemasaran


Setiap kehidupan manusia akan selalu berhubungan dengan
produk yang dihasilkan oleh sistem pemasaran. Untuk
mendapatkan laba yang diperoleh perusahaan dari hasil produksi
agar dapat mempertahankan kelangsungan hidup suatu perusahaan
dalam memperluas usahanya merupakan salah satu tujuan suatu
perusahaan.
Baik buruknya suatu perusahaan dapat dilihat dari banyaknya
jumlah permintaan terhadap suatu produk. Semakin banyak jumlah
permintaan suatu produk, maka semakin baik perusahaan tersebut.
Hal tersebut akan menjadi sebuah ukuran terhadap perusahaan
lainnya. Bauran pemasaran merupakan salah satu konsep yang
akan dikembangkan dalam pemasaran. Salah satu strategi
pemasaran dalam bauran pemasaran yaitu dapat mempengaruhi
konsumen agar membeli suatu produk atau jasa yang ditawarkan
oleh perusahaan.
Bauran pemasaran mencakup taktik dan program yang
mendukung strategi komunikasi produk, harga, distribusi, dan
pemasaran. Pernyataan dari teori Kotler dan Armstrong (2018:77)
bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran taktis yang
dipadukan perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan
di pasar sasaran.

Konsep Pemasaran


Sebuah konsep pemasaran yang baik, harus benar-benar bisa
melihat seperti apa kebutuhan konsumen. Dengan demikian, konsumen
memiliki peran yang sangat penting untuk sebuah keberhasilan dari
konsep pemasaran. Untuk memenuhi tujuan dari suatu perusahaan
seluruh kegiatan dalam perusahaan yang mengikuti konsep pemasaran
akan diarahkan.
Menurut Kotler dan Armstrong (2017:8) menyatakan bahwa
terdapat lima konsep pemasaran yang sering dijadikan rujukan oleh
perusahaan untuk melaksanakan kegiatan pemasarannya, yaitu:

  1. Produksi konsep produksi adalah konsep bisnis tertua dimana
    konsumen akan lebih menyukai produk yang tersedia secara luas
    dengan harga yang terjangkau.
  2. Produk konsumen akan menyukai produk yang menawarkan fitur
    mutu yang terbaik. Konsep ini menunjukkan bahwa konsumen
    sangat berpengaruh dalam penciptaan produk.
  3. Penjualan para konsumen dan perusahaan bisnis jika tidak teratur
    melakukan penjualan maka, konsumen umumnya menunjukkan
    keengganan atau penolakan untuk membeli.
  4. Pemasaran konsep ini menegaskan bahwa kunci untuk mencapai
    sasaran organisasi adalah perusahaan harus lebih efektif dalam
    menciptakan, menyerahkan, dan mengkomunikasikan nilai
    konsumen kepada sasaran pasar yang dipilih.
  5. Pemasaran berorientasi masyarakat konsep ini masyarakat
    menegaskan bahwa tugas organisasi dalam menentukan kebutuhan,
    keinginan, dan kepentingan pasar sasaran serta memberikan
    kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien.

Pengertian Pemasaran


Pemasaran bagi seluruh pelaku bisnis adalah suatu kegiatan yang
sangat penting karena berpengaruh bagi kelangsungan hidup, laba dan
pertumbuhan. Berikut ini adalah pendapat ahli mengenai pengertian
pemasaran :
Menurut Kotler dan Armstrong (2018:29), “Marketing as the
process by which companies engage customers, build strong customer
relationships, and create customer relationships, and create customer
value in order to capture value from customers in return.” Atau dapat
didefinisikan yaitu “Pemasaran sebagai proses dimana perusahaan
melibatkan pelanggan, membangun hubungan pelanggan yang kuat,
dan menciptakan hubungan pelanggan, dan menciptakan nilai
pelanggan untuk menangkap nilai dari pelanggan kembali”.
Menurut Laksana (2019:1), pemasaran adalah bertemunya penjual
dan pembeli untuk melakukan kegiatan transaksi produk barang atau
jasa. Sehingga pengertian pasar bukan lagi merujuk kepada suatu
tempat tapi lebih kepada aktivitas atau kegiatan pertemuan penjual dan
pembeli dalam menawarkan suatu produk kepada konsumen.
Menurut Tjiptono dan Diana (2020:3), pemasaran adalah proses
menciptakan, mendistribusikan, mempromosikan, dan menetapkan
harga barang, jasa dan gagasan untuk memfasilitasi relasi pertukaran
yang memuaskan dengan para pelanggan dan untuk membangun dan
mempertahankan relasi yang positif dengan para pemangku
kepentingan dalam lingkungan yang dinamis.

Pengertian Moral Kerja .


Moral kerja merupakan salah satu faktor yang penting dalam perusahaan.
Moral kerja sebagai motor penggerak bagi karyawan dalam bekerja dan
menentukan baik buruknya karyawan dalam berperilaku dan menjalankan tugas
dari perusahaan. Definisi moral kerja berasal dari bahasa Inggris “Morale”, yang
dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia, Morale diterjemahkan sebagai moril atau
semangat juang. Istilah moral ini kemudian dipergunakan dalam industri. Menurut
Halsey (1994) bahwa moral keija di dalam suatu perusahaan atau organisasi ialah
sikap dan perasaan yang memungkinkan seorang pekerja untuk menghasilkan
kerja yang lebih banyak dan lebih baik tanpa menambah keletihan, yang
menyebabkan dia dengan antusias di dalam kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha
kelompok sekeijanya dan membuat dia tidak terpengaruh dari luar. Pandangan ini
didukung oleh Nitisemito (1992) bahwa moral atau semangat kerja adalah
melakukan pekerjaan secara lebih giat, sehingga dengan demikian pekerjaan akan
dapat diharapkan lebih cepat dan lebih baik .
Masalah penting yang harus diperhatikan di dunia industri yang
mengalami perubahan yang sangat pesat ini adalah semakin pentingnya peranan
karyawan. Karyawan bekerja tidak hanya untuk memperoleh intensif yang berupa
gaji, tetapi mempunyai harapan tertentu. Salah satu faktor penting yang
menentukan kerja karyawan adalah sikapnya terhadap pekerjaan, rekan keija dan
lingkungan kerjanya. Hal tersebut didukung oleh pendapat Kahn dan Morse
(dalam Moekiyat, 1989) yang memandang bahwa moral keija sebagai jumlah
kepuasan yang diperoleh karena keikutsertaan karyawan dalam kelompok
kerjanya. Selaras dengan pendapat Fulmer (dalam Herdiyanti, 1997) bahwa moral
kerja adalah tingkat kepuasan individu terhadap pemenuhan kebutuhannya dan
tingkat penerimaan individu bahwa kepuasan tersebut berasal dari seluruh situasi
pekerjaannya. Dapat disimpulkan dari pengertian tersebut bahwa moral kerja
adalah sikap individual terhadap lingkungan keijanya.
Davis (1981) menjelaskan bahwa moral kerja merupakan sikap individu
dalam kelompok terhadap lingkungan kerjanya dan bekerja sama secara sukarela
mengerahkan kemampuan untuk mencapai tujuan organisasi. Hal ini selaras
dengan yang dikatakan Leighten (dalam Moekiyat, 1989) bahwa semangat atau
moral keija adalah kemampuan sekelompok orang untuk bekerja sama dengan
giat dan konsekuen (melalui disiplin) dalam mengejar tujuan bersama. Pendapat
tersebut didukung oleh Maier (dalam Timpe, 1986) yang mengemukakan bahwa
moral keija adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan suatu kelompok
yang memiliki tingkat kepuasan tertentu, diasosiasikan baik dengan keanggotaan
dalam kelompok maupun fungsinya sebagai individu.

Hubungan Kepuasan Kerja dan Kinerja Karyawan


Kepuasan kerja merupakan bentuk perasaan seseorang terhadap
pekerjaannya, situasi kerja dan hubungan dengan rekan kerja. Dengan
demikian kepuasan kerja merupakan sesuatu yang penting untuk dimiliki
oleh seorang karyawan dimana mereka dapat berinteraksi dengan
lingkungan kerjanya sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik
dan sesuai dengan tujuan perusahaan
Menurut Gibson (2014) mengatakan adanya hubungan timbal balik
antar kinerja dan kepuasan kerja. Di satu sisi dikatakan kepuasan kerja
menyebabkan peningkatan kinerja pegawai sehingga pekerja yang puas
akan lebih produktif. Menurut Senen Abdi Santaso (2020) adanya
keterkaitan kepuasan kerja dengan kinerja karyawan yaitu ditunjukkan
bahwa seseorang karyawan akan merasa puas maka karyawan akan merasa
diperhatikan oleh pimpinan, kepuasan yang dirasakan karyawan akan
meningkatkan kinerja karyawan. Kepuasan kerja dalam hal apapun sangat
penting karena memiliki kecenderungan dalam peningkatan kinerja
karyawan.

Hubungan Budaya Organisasi dan Kinerja Karyawan


Budaya organisasi adalah kepribadian perusahaan yang tumbuh oleh
sistem nilai yang menimbulkan norma yang mengenai perilaku yang
tercermin dalam persepsi. Sikap dan perilaku orang-orang yang ada di
dalam organisasi ataupun perusahaan tersebut dengan demikian budaya
mempengaruhi sebagian besar aspek kehidupan organisasi atau perusahaan.
Menurut Wibowo (2013) mengatakan bahwa suatu organisasi yang
melakukan perubahan budaya organisasinya mampu meningkatkan
kinerjanya sangat signifikan dibandingkan dengan organisasi yang tidak
melakukan perubahan organisasi. Menurut pendapat Slamet Widodo (2019)
adanya keterikaitan hubungan antara budaya organisasi dengan kinerja
organisasi yang dapat dijelaskan bahwa semakin baik budaya organisasi
maka akan semakin baik pula kinerja karyawannya.

Indikator Kinerja Karyawan


Berdasarkan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ)
menurut Koopmans et al.,(2011) ada 3 aspek yang digunakan untuk
mengukur kinerja karyawan secara individual, sebagai berikut :

  1. Performasi tugas (task performance)
    Kemampuan seorang individu untuk melakukan pekerjaan
    utama atau inti tugas-tugas substantif atau teknis yang yang
    telah ditugaskan kepadanya. Sering digunakan untuk
    menggambarkan kinerja tugas termasuk kuantitas dan kualitas
    kerja, keterampilan kerja dan pengetahuan pekerjaan.
  2. Kinerja kontekstual (contextual performance)
    Perilaku positif yang dapat mendukung iklim bekerja dalam
    lingkungan organisasi, seperti kekuatan komitmen dan
    tanggung jawab terhadap pekerjaan, kemampuan kolaborasi dan
    team work, kemampuan komunikasi, kreatifitas dan inisiatif
    bekerja, metode bekerja, budaya open minded (menerima
    masukan dan kritik), dan peduli akan kualitas.
  3. Perilaku kerja yang tidak produktif (counterproductive work
    behavior)
    Perilaku yang bersifat negatif dan bertolak belakang atau
    kontraproduktif terhadap iklim pekerjaan. Karena perilaku ini
    cenderung ke arah negatif, maka perilaku ini cenderung
    bertentangan dengan budaya kerja dan dapat menghambat
    produktivitas.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


Menurut Menurut Mathis dan Jackson (2012) faktor yang dapat
mempengaruhi kinerja sebagai berikut:

  1. Kemampuan
    Dapat dilihat dari bagaimana seseorang diberi pekerjaan yang
    sesuai dengan bakat dan kemampuaan yang dimilikinya.
  2. Motivasi
    Suatu dorongan dan semangat yang diberikan oleh organisasi
    ataupun diri sendiri agar dapat menambah gairah kerja sesorang
    saat bekerja.
  3. Dukungan yang diterima
    Pemberian dukungan dari organisasi dapat berupa sarana
    penunjang kerja, pelatihan, dan penghargaan atas prestasi kerja
    untuk karyawan/individu agar dapat mempengaruhi kinerja
    karyawan.
  4. Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan
    Adanya suatu pekerjaan yang dilakukan karyawan/individu
    yang sesuai dengan kemampuannya dalam bekerja sehingga
    membuat karyawan mejadi lebih semangat dan akan menambah
    kinerja karyawan
  5. Hubungan dengan organisasi
    Jika karyawan memiliki hubungan yang baik dengan yang
    bersangkutan dalam organisasi sehingga akan tercipta suasana
    yang menyenangkan sehingga kinerja karyawan akan
    meningkat.

Pengertian Kinerja Karyawan


Kinerja yaitu berasal dari kata job performance yang artinya
pencapaian yang telah di raih seorang karyawan berupa prestasi. Mathis
dan Jackson (2012) mengatakan bahwa kinerja adalah apa yang
dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan. Menurut Sedarmayanti
(2010) kinerja adalah hasil kerja yang dapat diacapai oleh seseorang atau
sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan
tanggungjawab masing-masing dalam rangka tujuan organisasi.
Kasmir (2016) kinerja merupakan hasil kerja dan perilaku kerja yang
telah dicapai dalam menyelesaikan tugas-tugas dan tanggung jawab yang
telah diberikan dalam suatu periode tertentu. Menurut Hasibuan (2012)
kinerja adalah hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan
tugas-tugas yang dibebankan didasarkan atas kecakapan, pengalaman.
dan kesungguhan serta waktu

Indikator Kepuasan Kerja


Job statisfaction Survey skala pengkuran yang dikembangkan oleh
Spector (1994) mengkur sembilan indikator dari kepuasan kerja yang
meliputi :

  1. Gaji (Pay)
    Jumalah yang diterima dan keadilan penggajian
  2. Promosi (Promotion)
    Kesempatan dan keadilan untuk promosi atau kenaikaan jabatan
  3. Supervisi (Supervision)
    Kompetensi manajerial yang dimiliki dari seseorang supervisor
    dan bagaimana perilakunya terhadap bawahannya.
  4. Manfaat /Tunjangan (Benefit)
    Kelebihan yang didapatkan oleh karyawan dari perusahaan
    terhadap kinerja yang baik dari karyawannya.
  5. Penghargaan (Contingent rewards)
    Perhatian dan pengakuan dari perusahaan terhadap kinerja yang
    baik dari karyawan
  6. Prosedur Operasional (Operating procedures)
    Peraturan dan pengakuan dari perusahaan terhadap kinerja yang
    baik dari karyawannya.
  7. Rekan Kerja (Co-workers)
    Menerima kompetensi rekan kerja dan senang berkerjasama
    dengan mereka.
  8. Sifat kerja (Nature of work)
    Menyukai tugas-tugas yang diberikan
  9. Komunikasi (Communication)
    Berbagi informasi yang baik antar karyawan, atasan dan
    bawahan maupun perusahaan terhadap karywan baik secara
    lisan maupun tulisan

Faktor – Faktor yang Menyebabkan Kepuasan Kerja


Menurut Kreitner dan Kinicki (2010) terdapat lima factor yang
mempengaruhi timbulnya kepuasan kerja, yaitu sebagai berikut :

  1. Pemenuhan kebutuhan (Need fulfillment)
    Bahwa kepuasan kerja ditentukan oleh tingkatakn karakteristik
    pekerjaan memberikan kesempatan pada individu untuk
    memenuhi kebutuhannya.
  2. Perbedaan (Discrepancies)
    Bahwa kepuasan kerja merupakan suatu hasil memenuhi
    harapan. Pemenuhan harapan mencerminkan perbedaan antara
    apa yang diharapkan dan yang diperoleh individu dari
    pekerjaan.
  3. Pencapaian nilai (Value attainment)
    Bahwa kepuasan kerja merupakan hasil dari persepsi pekerjaan
    memberikan pemenuhan nilai kerjaindividual yang penting.
  4. Keadilan (Equity)
    Bahwa kepuasan kerja merupakan fungsi dari seberapa adil
    individu diperlukan di tempat kerja. Kepuasan merupakan hasil
    dari presepsi orang bahwa perbandingan antara hasil kerja dan
    inputnya relative lebih menguntungkan dibandingakan dengan
    perbandingan antara keluaran dan masukkan pekerjaan lainnya.
  5. Komponen genetik (Dispositional/genetic components)
    Beberapa rekan kerja atau teman tampak puas terhadap variasi
    lingkungan kerja, sedangkan lainnya terlihat tidak puas. Model
    ini didasarkan pada keyakinan bahwa kepuasan kerja sebagai
    fungsi sifat pribadi dari factor genetic.

Pengertian Kepuasan Kerja


Menurut Robbins (2017) Kepuasan kerja (job statisfaction) yang
menejelaskan suatu perasaan positif tentang pekerjaan, yang dihasilkan
dari suatu evaluasi pada karakteristik-karakteristiknya. Seseorang
dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi memiliki perasaan yang
positif mengenai pekerjaannya, sedangkan seseorang dengan level yang
rendah memiliki perasaan yang negatif. Sutrisno (2009) kepuasan kerja
adalah suatu reaksi emosional yang kompleks. Reaksi emosional ini
adalah merupakan akibat dari dorongan, keinginan, tuntutan dan
harapan-harapan karyawan terhadap pekerjaan yang dihubungkan
dengan realita-realita yang dirasakan karyawan, sehingga menimbulkan
suatu bentuk reaksi emosional yang berwujud perasaan senang, perasaan
puas ataupun perasaan tidak puas.
Menurut Hasibuan (2006) kepuasan kerja adalah sikap emosional
yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan
oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja. Sedangkan menurut
Handoko (2008) menyatakan bahwa kepuasan kerja (job satisfaction)
adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak
menyenangkan di mana para karyawan memandang pekerjaan mereka

Indikator Budaya Organisasi


Budaya organisasi diukur dengan skala yang dikembangkan oleh
Van den Berg dan Wilderom (2004) sebagai berikut :

  1. Otonomi (autonomy)
    Hal ini mencerminkan tingkat kebebasan dan pemberdayaan
    yang diberikan kepada karyawan dalam organisasi. Hal ini
    memainkan peran penting dalam membuat karyawan merasa
    terlibat dan dihargai.
  2. Orientasi eksternal (external orientation)
    Organisasi bersifat responsif terhadap perubahan yang terjadi di
    lingkungannya. Oleh karena itu jarang sekali suatu organisasi
    melakukan perubahan besar tanpa adanya dorongan yang kuat
    dari lingkungannya. Ini menandakan tingkat dan ketepatan
    dengan mana sebuah organisasi merespon perubahan dalam
    lingkungan eksternal. Karyawan menganggap ini sebagai
    dimensi penting yang mencerminkan proactiveness, pandangan
    jauh ke depan, dan ketangkasan organisasi.
  3. Kerjasama antar departemen (interdepartmental co-operation)
    Mengacu pada sejauh mana departemen yang berbeda dalam
    suatu organisasi saling membantu yang bertujuan untuk
    kelancaran orgnisasi. Hal ini meningkatkan rasa aman dan
    memiliki pada diri karyawan dengan organisasi.
  4. Orientasi sumber daya manusia (human resources orientation)
    Berkaitan dengan berbagai kebikan sumber daya manusia yang
    ada dalam organisasi. Dimensi ini merefleksikan filosofi
    bagaimana organisasi memperlakukan para karyawannya. Hal
    ini mendefinisikan kepercayaan dan respect yang dimiliki
    organisasi terhadap karyawannya.
  5. Orientasi peningkatan (improvement orientation)
    Sejauh mana organisasi berusaha untuk berkembang dan
    berinovasi dengan memberikan karyawan fleksibilitas dan
    memberdayakan karyawan untuk berpikir di luar kebiasaan.
    Karyawan dapat berkembang dalam organisasi ketika karyawan
    diijinkan untuk membuat kesalahan, belajar, dan terus menerus
    untuk melakukan perbaikan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Budaya Organisasi


Menurut Robbins (2011) ada enam faktor penting yang
mempengaruhi budaya organisasi yaitu:

  1. Observed behavioral regularities
    Cara bertindak dari para anggota yang tampak teramati. Ketika
    anggota organisasi berinteraksi dengan anggota lainnya, mereka
    mungkin menggunakan bahasa umum, istilah, atau ritual
    tertentu.
  2. Norms
    Standar perilaku yang ada termasuk di dalamnya tentang
    pedoman sejauh mana suatu pekerjaan harus dilakukan.
  3. Dominant values
    Nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh seluruh anggota
    organisasi, misalnya tentang kualitas produk yang tinggi,
    absensi yang rendah atau efisiensi yang tinggi.
  4. Philosophy
    Kebijakan yang berkenaan dengan keyakinan organisasi dalam
    memperlakukan pelanggan dan karyawan
  5. Rules
    Pedoman yang kuat di katakan dengan kemajuan organisasi.
  6. Organization Climate
    Perasaan keseluruhan (anoverall feeling) yang tergambarkan
    dan disampaikan melalui kondisi tata ruang, cara berinteraksi
    para anggota organisasi, dan cara anggota organisasi
    memperlakukan dirinya dan pelanggan atau orang lain.

Macam-macam Gaya Kepemimpinan


Menurut Rivai (2004:122) ada tiga macam gaya kepemimpinan yang
memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai, yaitu :

  1. Gaya Kepemimpinan Otoriter
    Kepemimpinan otoriter disebut juga kepemimpinan direktif atau
    diktator. Pemimpin memberikan instruksi kepada bawahan,
    menjelaskan apa yang harus dikerjakan, selanjutnya karyawan
    menjalankan tugasnya sesuai dengan yang diperintahkan oleh atasan.
    Gaya kepemimpinan ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan
    dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya, sehingga
    kekuasaanlah yang paling diuntungkan dalam organisasi.
    Ciri-ciri kepemimpinan otoriter :
    a. Wewenang mutlak terpusat pada pimpinan;
    b. Keputusan dibuat oleh pimpinan;
    c. Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pimpinan;
    d. Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan ke bawahan;
    e. Pengawasan terhadap sikap tingkah laku, perbuatan atau kegiatan
    para bawahannya dilakukan secara ketat;
    f. Tiada ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran,
    pertimbangan, atau pendapat;
    g. Tugas-tugas dari bawahan diberikan secara instruktif;
    h. Tanggung jawab keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh
    pimpinan. (Sutarto 2006: 73)
  2. Gaya Kepemimpinan Demokratis
    Gaya kepemimpinan ini ditandai oleh adanya suatu struktur yang
    pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan
    yang kooperatif. Di dalam gaya kepemimpinan ini, ada kerjasama
    antara atasan dengan bawahan. Di bawah kepemimpinan demokratis
    bawahan cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama,
    mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri.
    Ciri-ciri kepemimpinan demokratis sebagai berikut :
    a. Wewenang pemimpin tidak mutlak;
    b. Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan;
    c. Kebijaksanaan dibuat bersama pimpinan dan bawahan;
    d. Komunikasi berlangsung timbal balik, baik yang terjadi antara
    pimpinan dan bawahan maupun antara sesama bawahan;
    e. Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan
    para bawahan dilakukan secara wajar;
    f. Banyak kesempatan bagi bawahan untuk menyampaikan saran,
    pertimbangan, atau pendapat;
    g. Tugas-tugas kepada bawahan diberikan dengan lebih bersifat
    permintaan dan pada instruksi;
    h. Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul bersama pimpinan
    dan bawahan. (Sutarto 2006: 75-76)
  3. Gaya Kepemimpinan Bebas (Laissez-Faire)
    Gaya kepemimpinan ini memberikan kekuasaan penuh pada bawahan,
    struktur organisasi bersifat longgar, pemimpin bersifat pasif. Peran
    utama pimpinan adalah menyediakan materi pendukung dan
    berpartisipasi jika diminta bawahan.
    Ciri-ciri kepemimpinan bebas (Laissez-Faire) sebagai berikut :
    a. Pemimpin melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada bawahan;
    b. Keputusan lebih banyak dibuat oleh para bawahan;
    c. Kebijaksanaan lebih banyak dibuat oleh para bawahan;
    d. Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahan;
    e. Hampir tiada pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan,
    atau kegiatan yang dilakukan para bawahan;
    f. Peranan pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan kelompok;
    g. Kepentingan pribadi lebih utama dari kepentingan kelompok;
    h. Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul orang perorangan.
    (Sutarto 2006: 77-78)

Gaya Kepemimpinan


Menurut Ndraha (2011:221), gaya kepemimpinan merupakan salah satu
variabel yang sering dijadikan variabel penelitian. Gaya kepemimpinan
dapat juga disebut gaya kekepalaan. Gaya kepemimpinan merupakan
kombinasi antara variasi nilai kemimpinan dengan variasi nilai
kekepalaan.
Menurut Rivai (2013: 42) gaya kepemimpinan adalah pola menyeluruh
dari tindakan seorang pemimpin, baik yang tampak maupun tidak tampak
oleh bawahannya. Gaya kepemimpinan menggambarkan kombinasi yang
konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat, dan sikap yang mendasari
perilaku seseorang.
Menurut Thoha (2003:303) gaya kepemimpinan adalah pola menyeluruh
dari tindakan seorang pemimpin, yang tampak dan yang tidak tampak oleh
bawahannya. Gaya kepemimpinan menggambarkan kombinasi yang
konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat dan sikap yang mendasari
perilaku seseorang. Gaya kepemimpinan yang menunjukkan secara
langsung maupun tidak langsung, tentang keyakinan kepemimpinan
terhadap kemampuan bawahannya. Artinya, gaya kepemimpinan adalah
perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan
sifat, sikap, yang sering diterapkan pemimpin ketika mencoba
memengaruhi kinerja bawahannya.

Konsep Kepemimpinan Pemerintahan


Menurut Rasyid (2000:37) secara umum dapat dimaknai bahwa kepemimpinan
pemerintahan adalah kepemimpinan dalam pemerintahan atau secara
operasional dapat dijelaskan bahwa kepemimpinan pemerintahan adalah
penerapan prinsip-prinsip dasar kepemimpinan di bidang pemerintahan.
Sedangkan Pamudji (2009:52) berpendapat dalam hubungannya dengan
kepemimpinan pemerintahan Indonesia terdapat pada setiap tingkat
pemerintahan, Nasional/Pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota, Kecamatan dan
juga tingkat pemerintahan kelurahan/desa. Lebih lanjut jika pengertian ini
dikaitkan dengan pemerintahan daerah maka kepemimpinan pemerintahan
daerah adalah penerapan dasar-dasar kepemimpinan pada umumnya dalam
sistem pemerintahan di daerah yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945.
Melengkapi pendapat di atas Kaloh (2009:2) menjelaskan bahwa berdasarkan
sistem pemerintahan Indonesia maka pemimpin pemerintahan adalah mereka
yang dikategorikan sebagai pemimpin pada ketiga cabang pemerintahan yaitu
eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Dari sisi lain pemimpin pemerintahan
dapat dibedakan menjadi pemimpin politik yang tersusun secara hierarkis
mulai dari presiden yang dibantu para menteri, gubernur, bupati/wali kota dan
kepala desa/lurah dan pemimpin yang menduduki jabatan struktural yaitu
mereka yang menduduki jabatan secara berjenjang yang tersusun dari eselon I,
II, III, IV. Para pejabat politik dan pejabat struktural digolongkan sebagai
pemimpin pemerintahan karena mereka adalah aktor pemerintahan yang
melaksanakan fungsi-fungsi pemerintahan guna mewujudkan kehidupan
masyarakat yang tertib dan maju serta mendapatkan pelayanan yang adil dan
merata. Para pemimpin pemerintahan ini harus memiliki sifat dan perilaku
yang bersedia berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara serta
masyarakat pada umumnya, siap mengorbankan diri demi membela martabat,
kehormatan dan kejayaan bangsa dan negaranya serta jauh dari sifat
mementingkan diri sendiri, boros, serakah, tidak dapat mengendalikan diri, dan
sombong.

Tipe-Tipe Kepemimpinan


Menurut Rasyid (2000:37) tipe-tipe kepemimpinan dibedakan menjadi:

  1. Berdasarkan sikap pemimpin terhadap kekuasaan dan organisasi dikenal 5
    tipe pemimpin, yaitu sebagai berikut:
    a. Climbers, ialah tipe pemimpin yang selalu haus akan kekuasaan,
    prastige dan kemajuan diri, berusaha maju terus menerus dengan
    kekuasaan sendiri, oportuninistis, agresif, suka dan mendorong
    perubahan dan perkembangan dan berusaha berombak terus menerus.
    b. Conservers, ialah tipe pemimpinyang mementingkan jaminan dan
    keenak, memertahankan statusquo memerkuat posisi yang telah dicapai,
    menolak perubahan, defensifa statis. Tipe ini biasanya terdapat pada
    middle management atau dimiliki oleh para pejabat yang sudah lanjut
    usia.
    c. Zealots, ialah tipe pemimpin yang bersemangat untuk memerbaiki
    organisasi, mengutamakan tercapainya tujuan, memunyai visi,
    menyendiri aktif, agresif, bersedia menghadapi segala permusuhan dan
    pertentangan, tegas, memunyai dorongan yang keras untuk maju, tidak
    sebaran untuk mengadakan perbaikan dan menetukan sesuatu yang baru,
    mementingkan kepekaan daripada human relations. d. Advocates, ialah tipe pemimpin yang ingin mengadakan perbaikan
    organisasi, terutama bagiannya sendiri, mementingkan kepentingan
    keseluruhan organisasi daripada kepentingan sendiri, pejuang yang gigih
    dan bersemangat untuk kepentingan orang-orang dan programnya,
    bersedia menghadapi pertentangan apabila mendapat dukungan dari
    kolega-koleganya, sangat responsif terhadap ide-ide dan pengaruh orang
    lain, keluar bersedia memertahankan kelompok dengan tindakan
    partisan, ke dalam bersikap jujur dan tidak menyebelah.
    e. Statesmen, ialah tipe pemimpin yang mementingkan tujuan organisasi
    secara keseluruhan dan misi organisasi, berusaha berdiri di atas
    kepentingan-kepentingan, tidak menyukai pertentangan yang merugikan
    pihak-pihak yang bersangkutan, berusaha memertemukan pertentangan.
  2. Tipe-tipe Berdasarkan Kekuasaan
    Kaitan hubungannya dengan kekuasaan, tipe pemimpin dapat
    diklasifikasikan sebagai berikut:
  3. Autoraic leader, ialah tipe pemimpin yang menggantungkan tertama pada
    kekuasaan formulanya, organisasi dipandang sebagai milik pribadi,
    mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan oraganisasi, hak dan
    wewenang adalah milik pribadi. Leadership adalah hak pribadi, bawahan
    adalah alat, ia harus mengikuti saja, tidak memberi kesempatan kepada
    bawahan untuk ikut mengambil bagian dalam pengambilan keputusan,
    tidak mau menerima kritik, saran atau pendapat, tidak mau berunding
    dengan bawahan, keputusan diambil sendiri, memusatkan kesuasaan
    untuk mengambil, paksaan atau kekuatan dan mengagungkan diri.
  4. Participative leader, juga disebut pemimpin yang demokratis, ialah tipe
    pemimpin yang memandang manusia adalah manusia yang termulia,
    memimpin dengan persuasi dan memberikan contoh, memerhatikan
    perasaan pengikut, menyinkronisasikan kepentingan dan tujuan
    organisasi dengan kepentingan organisasi dan kepentingan pengikut,
    senang menerima saran, pendapat atau kritik, menerima partisipasi
    informil dari kelompok, memanfaatkan pendapat-pendapat kelompok,
    menunggu persetujuan kelompok, menunggu persetujuan kelompok,
    berunding dengan pengikut, mengutamakan kerja sama,
    mendesentralisasikan wewenang, memberikan kebebasan untuk bawahan
    untuk bertindak, menstimulir inisiatif, mendorong partisipasi pengikut
    dalam pengambilan keputusan, memberikan informasi yang luas kepada
    pengikut, membuat pengikut lebih sukses.
  5. Free rein leader, disebut juga pemimpin yang liberal, ialah tipe
    pemimpin yang menghindari kekuasaan, tergantung pada kelompok
    anggota, kelompok memotivikasikan diri sendiri, hanya bertindak
    sebagai perantara dengan dunia luar untuk menyajikan informasi kepada
    kelompok, tidak berhasil memahami sumbangan management, tidak
    dapat memahami peranan motivasi yang diberikan dan melakukan
    pengendalian yang minimal.
  6. Tipe-tipe Berdasarkan Orientasi Pemimpin
    Tipe-tipe berdasarkan orientasi pemimpin, terdiri dari dua golongan
    pemimpin, yaitu pemimpin yang berorientasi pada pengikutnya pada
    pengikut atau pegawai, dan pemimpin yang berorientasi pada produksi.
  7. Tipe-tipe Berdasarkan Cara Memotivasi
    Dalam hal ini, terbagi dalam tipe pemimpin yang positif dan pemimpin yang
    negatif. Pemimpin yang negatif, ialah tipe pemimpin yang menekankan
    kepada perangsang yang bersifat negatif, misalnya ancaman, hukuman dan
    lain-lain. Sedangkan tipe pemimpin yang positif, ialah pemimpin yang
    dalam memotivasikan pengikutnya menekankan pada pemberian hadiah.
  8. Tipe-tipe Berdasarkan Segi Landasan yang dipergunakan untuk
    memengaruhi pengikut dari segi landasan yang dipergunakan oleh
    pemimpin untuk memengaruhi pengikut, dapat diklasifikasikan pemimpin
    dalam 3 kategori sebagai berikut:
  9. Pemimpin tradisional, berusaha memengaruhi pengikutnya berdasarkan
    tradisi yang ada.
  10. Pemimpin yang kharismatik, memergunakan kharismanya (kesaktian,
    kekuatan gaib).
  11. Pemimpin rasional, kadang-kadang disebut pemimpin birokratis oleh
    karena pemimpin tipe ini biasanya terdapat di dalam organisasi
    birokratis, memergunakan rasio untuk memengaruhi pengikutnya.
  12. Tipe-tipe Pemimpin Berdasarkan Kepribadiannya
    Tipe-tipe pemimpin berdasarkan kepribadiannya terdiri dari 6 macam
    sebagai berikut:
    a. Tipe ekonomis, tipe yang perhatiannya dicurahkan kepada segala
    sesuatu yang bermanfaat dan praktis., b. Tipe aestheis, yaitu tipe yang berpendapat bahwa nilai yang tertinggi
    terletak pada harmoni dan individualitas., c. Tipe teoritis, yaitu tipe yang perhatian utamanya ialah menemukan
    kebenaran hanya untuk mencapai kebenaran, perbedaan dan
    rasionalitas., d. Tipe sosial, yakni tipe pecinta orang lain, tujuan akhirnya adalah orang
    lain. Berhubungan dengan sifatnya yang ramah tamah, simpatik, dan
    tidak mementingkan diri sendiri., e. Tipe politis, yaitu tipe yang perhatian utamanya diarahkan kepada
    kekuasaan, menginginkan kekuasaan perseorangan pengaruh dan
    reputasi.,
    f. Tipe religius, yaitu tipe yang berpendapat bahwa nilai yang tertinggi
    ialah pengalaman yang memberikan kepuasan tertinggi dalam kehidupan
    spritual dan bersifat mutlak.,

Karakteristik Pemimpin


Kepemimpinan mungkin hanya terbentuk dalam suatu lingkungan yang secara
dinamis melibatkan hubungan di antara sejumlah orang. Kongkritnya, seorang
hanya bisa mengklaim dirinya sebagai seseorang pemimpin jika ia memiliki
sejumlah pengikut. Selanjutnya antara para pemimpin dan pengikutnya terjalin
ikatan emosional dan rasional menyangkut kesamaan tujuan yang ingin
dicapai. Walaupun dalam realitasnya sang pemimpinlah yang biasanya
memerkenalkan atau bahkan merumuskan nilai dan tujuan. Di dalam
kepemimpinan ada beberapa karakter yang sangat menentukan untuk
pencapaian tujuan suatu organisasi.
Rasyid (2000:37) menjelaskan beberapa karakter kepemimpinan yang berbeda
satu sama lain, yaitu sebagai berikut :

  1. Kepemimpinan yang Sensitif
    Kepemimpnan ini ditandai dengan adanya kemampuan untuk secara dini
    memahami dinamika perkembangan masyarakat, mengenai apa yangmereka
    butuhkan, mengusahakan agar ia menjadi pihak pertama yang memberi
    perhatian terhadap kebutuhan tersebut. Dalam karakter kepemimpinan
    tersebut, kemampuan berkomunikasi dari pada pemimpin pemerintahan
    yang disertai para penerapan transformasi di dalam proses pengambilan
    keputusan merupakan prasyarat bagi pemerintah dalam mengemban segala
    tugas-tugasnya.
  2. Kepemimpinan yang Responsif
    Di dalam konteks ini, pemimpin lebih aktif mengamati dinamika
    masyarakat secara kreatif berupaya memahami kebetuhan mereka, maka
    kepemimpinan yang responsif lahir lebih banyak berperan menjawab
    aspirasi dan tuntutan masyarakat yang disalurkan melalui berbagai media
    komunikasi, menghayati suatu sikap dasar untuk mendengar suara rakyat,
    mau mengeluarkan energi dan menggunakan waktunya secara cepat dan
    menjawab pertanyaan, menampung setiap keluhan, memerhatikan setiap
    tuntutan dan memanfaatkan setiap dukungan masyarakat tentang suatu
    kepentingan umum.
  3. Kepemimpinan yang Defensif
    Karakter kepemimpinan ini di tandai dengan sikap yang egoistik, merasa
    paling benar, walaupun pada saat yang sama memiliki kemampuan
    argumentasi yang tinggi dalam berhadapan dengan masyarakat. Komunikasi
    antara pemerintah dengan masyarakat cukup terpelihara tetapi pada
    umumnya pemerintah selalu mengambil posisi sebagai pihak yang lebih
    benar, lebih mengerti. Oleh karena itu keputusan dan penilaiannya atas
    sesuatu isu lebih patut diikuti oleh masyarakat. Posisi masyarakat lemah,
    sekalipun tetap tersedia bagi ruang bagi mereka untuk bertanya,
    menyampaikan keluhan, aspirasi dan lain sebagainya. Karakter
    kepemimpinan semacam ini bisa berhasil dalam jangka waktu tertentu.
    Tetapi ketika berhadapan dengan masyarakat yang semakin berkembang
    baik secara sosial, ekonomi maupun secara intelektualitas , karakter defensif
    ini akan sulit untuk melakukan manufer.
  4. Kepemimpinan yang Represif
    Karakter kepemimpinan ini cenderung sama egois dan arogannya dengan
    karakter kepemimpinan defensif, tetapi lebih baik buruk lagi karena tidak
    memiliki kemampuan argumentasi atau justifikasi dalam memertahankan
    keputusan atau penilaiannya terhadap suatu isu ketika berhadapan dengan
    masyarakat. Karekter kepemimpinan yang refresif ini secara total selalu
    merupakan beban yang berat bagi masyarakat. Ia bukan saja tidak memiliki
    kemampuan untuk menyelesaikan berbagai masalah fundamental dalam
    masyarakat, tetapi bahkan cenderung merusak moralitas masyarakat.
    singkatnya kepemimpinan yang refresif ini lebih mewakili sifat diktatorial.

Kepemimpinan


Kepemimpinan (Leadership) adalah proses memengaruhi atau memberi
contoh kepada pengikut-pengikutnya lewat prses komunikasi dalam upaya
mencapai tujuan organisasi. Keseluruhan tindakan guna memengaruhi serta
menggiatkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan, atau
dengan definisi yang lebih lengkap dapat dikatakan bahwa kepemimpinan
adalah proses pemberian jalan yang mudah dari pada pekerjaan orang lain
yang terorganisir dalam organisasi formal guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. ( Rivai, 2013 : 2)
Selanjutnya menurut Kartono (2010:5-8) berpendapat bahwa kepemimpinan
merupakan salah relasi dan pengaruh antara pemimpin dengan yang
dipimpin. Kepemimpinan tersebut muncul dan berkembang sebagai hasil
dari interaksi otomatis anatara pemimpin dengan orang-orang yang
dipimpinnya.

Pemimpin


Pemimpin adalah seseorang yang memergunakan wewenang dan
kepemimpinannya untuk mengarahkan orang lain serta bertanggung jawab
atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai suatu tujuan. Pemimpin
(leader) memunyai macam-macam pengertian dari para ahli. Berikut ini
terdapat beberapa definisi tentang pemimpin yang dikemukakan oleh para
ahli diantaranya :
Menurut Kartono (2010:18), pemimpin adalah seorang pribadi
yangmemiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan dan
kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu memengaruhi orang lain
untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi
pencapaian satu atau beberapa tujuan.
Menurut Fairchild (dalam Kartono2010:23) “pemimpin adalah seorang yang
memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan
mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha atau upaya
orang lain atau melalui kekuasaan dan posisi”.

Konsep Tentang Persepsi


“Persepsi adalah tanggapan untuk penerimaan langsung dari suatu serapan atau
proses seseorang untuk mengetahui beberapa hal melalui panca indranya”
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2007). Setiap individu dalam melakukan
setiap persepsi akan melalui proses tahapan-tahapan tertentu. Menurut Rahmad
(1994:50) “Proses terjadinya persepsi adalah sebagai berikut: “objek yang
menyentuh alat indera sehingga menimbulkan stimuli, oleh alat penerima atau
alat indera, stimuli ini akan diubah menjadi energi syaraf untuk ke otak,
melalui proses transduksi, dalam otak stimuli akan diproses sehingga individu
dapat memahami dan menafsirkan pesan atau objek yang telah diterimanya,
maka pada tahap inilah persepsi terjadi”.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa proses terjadinya
persepsi didahului oleh alat indera kemudian diproyeksikan ke otak, sehingga
individu dapat menyadari terjadinya persepsi mencakup (input) oleh alat
indera, pengorganisasian dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang telah
terorganisir dengan cara yang dapat memengaruhi perilaku dan membentuk
persepsi. Di dalam pembentukannya persepsi akan dipengaruhi oleh dua faktor, yakni :

  1. Faktor fungsional yang memengaruhi atau sering disebut kerangka rujukan
    (Frame Of Reference), dimana kerangka rujukan memengaruhi bagaimana
    orang memberi makna pada pesan yang diterima. Faktor fungsional ini
    dijelaskan oleh Kreach dan Crutchild dalam bentuk dalil bahwa persepsi
    bersifat selektif fungsional dimana objek-objek yang mendapat tekanan
    dalam persepsi kita, biasanya objek yang melakukan persepsi yang
    dipengaruhi oleh pendidikan dan latar belakang budaya seseorang. 2. Faktor struktural semata-mata berasal dari stimuli fisil dan efek-efek saraf
    yang ditimbulkan pada sistem saraf individu yang dalam hal ini erat
    kaitannya dengan faktor usia (Rahmat, 1999:59).
    Aspek-aspek tersebut di atas akan sangat berpengaruh terhadap perbedaan
    persepsi seseorang baik terhadap objek yang sama dan terlebih lagi terhadap
    objek yang berbeda. Oleh karena itu setiap orang akan memberi tanggapan
    terhadap suatu objek tertentu menurut cara masing-masing individu.
    Selanjutnya menurut Mar’at (1984:21) “Persepsi merupakan proses
    pengamatan seseorang yang berasal dari komponen kognisi, aspek kognisi
    merupakan aspek penggerak perubahan, karena informasi kognisi akan
    berpengaruh untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap suatu objek
    yang merupakan jawaban atas pertanyaan apa yang dipikirkan atau
    dipresepsikan tentang obyek tertentu.”
    Komponen kognisinya itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai
    berikut :
  2. Faktor pengalaman., 2. Faktor proses belajar., 3. Cakrawala., 4. Pengetahuan (Mar’at, 1984 : 22)

Persepsi harga bagi konsumen


Menurut Schiffman dan Kanuk (2010), persepsi harga yaitu proses
dimana individu memilih, mengatur dan menafsirkan stimuli ke dalam
gambar yang berarti dan masuk akal mengenai dunia. Persepsi mempunyai
pengaruh yang kuat bagi konsumen. Salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap konsumen yaitu persepsi akan harga. Menurut definisi tersebut,
harga yang dibayar oleh pembeli sudah termasuk pelayanan yang diberikan
oleh penjual dan sebagai penjual juga menginginkan sejumlah keuntungan
dari harga tersebut. Persepsi harga merupakan kecenderungan konsumen
untuk menggunakan harga dalam memberi penilaian tentang kesesuaian
manfaat suatu produk. Penilaian terhadap harga pada suatu manfaat
produk dikatakan murah, sedang atau mahal dari masing-masing individu
tidaklah sama, karena tergantung dari persepsi individu yang dilatar
belakangi oleh lingkungan dan kondisi ekonomi individu itu sendiri. .

Inovasi Pelayanan Publik


Menurut Yogi dalam LAN (2007:113), Inovasi di sektor publik adalah salah satu
jalan atau bahkan breakthrough untuk mengatasi kemacetan dan kebuntuan
organisasi di sektor publik. Karakteristik dari sistem di sektor publik kaku harus
mampu dicairkan melalui penularan budaya inovasi. Inovasi yang biasanya
ditemukan di sektor bisnis kini mulai diterapkan dalam sektor publik. Budaya
inovasi harus dapat dipertahankan dan dikembangkan dengan lebih baik. Hal ini
tidak terlepas dari dinamika eksternal dan tuntutan perubahan yang sedemikian
cepat, yang terjadi di luar organisasi publik. Selain itu perubahan di masyarakat
juga begitu penting sehingga demikian, maka sektor publik dapat menjadi sektor
yang dapat mengakomodasi dan merespon secara cepat setiap perubahan yang
terjadi.
Menurut Yogi dalam LAN (2007) secara khusus inovasi dalam lembaga publik
dapat didefinisikan sebagai penerapan (upaya membawa) ide-ide baru dalam
implementasi, dicirikan oleh adanya perubahan langkah yang cukup besar,
berlangsung lama dan berskala cukup umum sehingga dalam proses
implementasinya berdampak cukup besar terhadap organisasi dan tata hubungan
organisasi. Inovasi dalam pelayanan publik mempunyai ciri khas, yaitu sifatnya
yang intangible karena inovasi layanan dan organisasi tidak semata berbasis pada
produk yang dapat dilihat melainkan pada perubahan dalam hubungan pelakunya,
yaitu antara service provider dan service receiver (user), atau hubungan antar
berbagai bagian di dalam organisasi atau mitra sebuah organisasi.
Menurut Yogi dalam LAN (2007), ditinjau secara lebih khusus, pengertian inovasi
dalam pelayanan publik bisa diartikan sebagai prestasi dalam meraih,
meningkatkan dan memperbaiki efektivitas, efisiensi dan akuntabilitas pelayanan
publik yang dihasilkan oleh inisiatif pendekatan, metodologi dan atau alat baru
dalam pelayanan masyarakat. Dengan pengertian ini, inovasi pelayanan publik
tidak harus diartikan sebagai upaya menyimpang dari prosedur, melainkan sebagai
32
upaya dalam mengisi menafsirkan dan menyesuaikan aturan mengikuti keadaan
setempat.
Proses kelahiran suatu inovasi, bisa didorong oleh bermacam situasi. Secara
umum inovasi dalam layanan publik ini bisa lahir dalam bentuk inisiatif, seperti:

  1. Kemitraan dalam penyampaian layanan publik, baik antara pemerintah dan
    pemerintah, sektor swasta dan pemerintah.
  2. Penggunaan teknologi informasi untuk komunikasi dalam pelayanan publik.
  3. Pengadaan atau pembentukan lembaga layanan yang secara jelas
    meningkatkan efektivitas layanan (kesehatan, pendidikan, hukum dan
    keamanan masyarakat).
    Maka inovasi pelayanan publik dapat penulis simpulkan sebagai terobosan jenis
    pelayanan baik yang merupakan ide kreatif original dan/atau adaptasi atau
    modifikasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Inovasi pelayanan publik
    sendiri tidak mengharuskan suatu penemuan baru, tetapi dapat merupakan suatu
    pendekatan baru yang bersifat kontekstual.

Kualitas Pelayanan Publik


Kualitas pelayanan publik merupakan tolak ukur untuk menentukan bagaimana
kinerja layanan publik di suatu lembaga penyedia layanan publik. Menurut
Pasolong (2010:132), terkait kualitas pelayanan publik, adalah sbb:
“Kualitas pada dasarnya merupakan kata yang menyandang arti relatif
bersifat abstrak, kualitas dapat digunakan untuk menilai atau menentukan
tingkat penyesuaian suatu hal terdapat persyaratan atau spesifikasinya itu
terpenuhi berarti kualitas suatu hal yang dimaksud dapat dikatakan baik,
sebaliknya jika persyaratan tidak terpenuhi maka dapat dikatakan tidak baik.
Secara teoritis, tujuan pelayanan publik pada dasarnya adalah memuaskan
masyarakat”. Sinambela (2006:6) menjelaskan bahwa untuk mencapai kepuasan itu dituntut
kualitas pelayanan prima yang tercermin dari:

  1. Transparansi, yakni pelayanan yang bersifat terbuka, mudah dan disediakan
    secara memadai serta mudah dimengerti.
  2. Akuntabilitas, yakni pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai
    dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  3. Kondisional, yakni pelayanan yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan
    pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip
    efisiensi dan efektivitas.
  4. Partisipatif, yaitu pelayanan yang dapat mendorong peran serta masyarakat
    dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi,
    kebutuhan, dan harapan masyarakat.
  5. Kesamaan hak, yaitu pelayanan yang tidak melakukan diskriminasi dilihat
    dari aspek apa pun khususnya suku, ras, agama, golongan, status sosial, dan
    lain-lain.
  6. Keseimbangan hak dan kewajiban, yaitu pelayanan yang mempertimbangkan
    aspek keadilan antara pemberi dan penerima pelayanan publik.
    Gasperz dalam Sinambela (2006:7) mengemukakan bahwa pada dasarnya kualitas
    mengacu pada pengertian pokok:
  7. Kualitas terdiri atas sejumlah keistimewaan produk, baik keistimewaan
    langsung, maupun keistimewaan atraktif yang memenuhi keinginan
    pelanggan dan memberikan kepuasan atas penggunaan produk.
  8. Kualitas terdiri atas segala sesuatu yang bebas dari kekurangan atau
    kerusakan.
    Disamping itu, Zeithhalm-Parasuman-Berry dalam Pasolong (2010:135),
    mengatakan bahwa untuk mengetahui kualitas pelayanan yang dirasakan secara
    nyata oleh konsumen, ada beberapa indikator ukuran kepuasan konsumen yang
    terletak pada lima dimensi kualitas pelayanan menurut apa yang dikatakan
    konsumen. Kelima dimensi tersebut antara lain yaitu :
  9. Tangibles : kualitas pelayanan berupa sarana fisik perkantoran, komputerisasi
    administrasi, ruang tunggu, tempat informasi.
  10. Reliability : kemampuan dan kehandalan untuk menyediakan pelayanan yang
    terpercaya.
  11. Responsivess : kesanggupan untuk membantu dan menyediakan pelayanan
    secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap keinginan konsumen.
  12. Assurance : kemampuan dan keramahan serta sopan santun pegawai dalam
    meyakinkan kepercayaan konsumen.
  13. Emphaty : sikap tegas tetapi penuh perhatian dari pegawai terhadap konsumen.
    Menurut Sinambela (2006:29), agar terdapat kepastian pelayanan publik perlu
    segera disusun standar pelayanan yang jelas. Standar demikian diperlukan bukan
    hanya kepastian pelayanan, tetapi juga dapat digunakan untuk menilai kompetensi
    aparatur dan usaha untuk mewujudkan pertanggungjawaban publik. Hak-hak
    masyarakat dalam pelayanan publik perlu diekspose untuk diketahui masyarakat,
    demikian pula kewajiban aparatur dalam memberi pelayanan.
    Berdasarkan beberapa uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pelayanan
    menjadi berkualitas apabila sesuai dengan standar pelayanan serta dapat
    memuaskan pelanggan. Dengan demikian berdasarkan konsep tentang kualitas
    pelayanan maka definisi dari kualitas pelayanan pelanggan oleh PT. PLN
    (Persero) Rayon Way Halim, diharapkan sesuai dengan standar atau melebihi
    standar yang ditetapkan. Kualitas suatu pelayanan publik harus mencakup antara
    lain, yaitu: transparansi, akuntabilitas, kondisional, partisipatif, tidak diskriminatif
    (kesamaan hak), dan kesinambungan hak dan kewajiban

Keberhasilan Inovasi


Produk baru yang dibuat perlu diperkenalkan kepada pasar agar produk tersebut
diterima dan dipakai secara meluas. Proses mulai dikenalkan hingga digunakan
oleh masyarakat secara luas inilah yang disebut prosesdifusi. Rogers dalam
Suryani (2008:305) mendefinisikannya sebagai proses dimana inovasi
dikomunikasikan melalui saluran tertentu, dalam suatu jangka waktu tertentu
diantara anggota suatu sistem sosial. Menurut Rogers dalam difusi ini terdapat
beberapa faktor yang menentukan keberhasilan difusi inovasi, yaitu ada empat
faktor:
a. Karakteristik Inovasi (Produk)
Sebuah produk baru dapat dengan mudah diterima oleh konsumen
(masyarakat) jika produk tersebut mempunyai keunggulan relatif. Artinya
produk baru akan menarik konsumen jika produk tersebut mempunyai
kelebihan dibandingkan produk-produk yang sudah ada sebelumnya di pasar.
Contohnya, handphone. Dalam waktu yang relatif pendek telah banyak
digunakan oleh masyarakat karena produk tersebut mempunyai keunggulan
relatif dibandingkan dengan sarana komunikasi sebelumnya.
Faktor produk lain berupa compability juga berpengaruh terhadap hasil
inovasi. Produk yang kompatibel adalah produk yang mampu memenuhi
kebutuhan, nilai-nilai, dan keinginan konsumen secara konsisten. Faktor
ketiga dari karakteristik produk berpengaruh terhadap difusi adalah
kompleksitas. Semakin komplek, semakin sulit mengoperasikannya, semakin
tidak menarik konsumen. Konsumen akan memilih produk yang sederhana
dan mudah digunakan. Konsumen lebih menarik menggunakan produk yang
lebih sederhana dibandingkan dengan produk yang kesulitan dalam
pengoperasiannya. Faktor keempat adalah kemampuan untuk dicoba
(triability). Produk baru apabila memberikan kemudahan untuk dicoba dan
dirasakan oleh konsumen akan menarik bagi konsumen. Dan faktor lain
adalah kemampuan untuk dilihat konsumen (observability). Observability
lebih menunjuk pada kemampuan produk untuk dapat dikomunikasikan
kepada konsumen lainnya. Semakin mudah dilihat dan mampu
mengkomunikasikan kepada konsumen lain bahwa produk tersebut baru akan
semakin menarik karena artinya mampu memberikan petunjuk kepada
konsumen lain bahwa dirinya termasuk konsumen yang mengikuti
perkembangan.
b. Saluran Komunikasi
Inovasi akan menyebar pada konsumen yang ada di masyarakat melalui
saluran komunikasi yang ada. Suatu produk baru akan dapat dengan segera
dan menyebar luas ke masyarakat (konsumen) jika perusahaan memanfaatkan
saluran komunikasi yang banyak dan jangkauannya luas seperti media massa
dan jaringan interpersonal.
c. Upaya Perubahan dari Agen
Perusahaan harus mampu mengidentifikasi secara tepat opinion leader yang
akan digunakan dan mampu melibatkannya sebagai agen perusahaan untuk
mempengaruhi konsumen atau masyarakat dalam menerima dan
menggunakan produk baru (inovasi).
d. Sistem Sosial
Pada umumnya sistem sosial masyarakat modern lebih mudah menerima
inovasi dibandingkan dengan masyarakat yang berorientasi pada sistem sosial
tradisional karena masyarakat modern cenderung mempunyai sikap positif
terhadap perubahan, umumnya menghargai terhadap pendidikan dan ilmu
pengetahuan, mempunyai perspektif keluar yang lebih baik dan mudah
berinteraksi dengan orang-orang di luar kelompoknya, sehingga
mempermudah masukan penerimaan ide-ide baru dalam sistem sosial dan
anggotanya dapat melihat dirinya dalam peran yang berbeda-beda.
Penulis menyimpulkan bahwa suatu inovasi dikatakan berhasil maka harus
memiliki empat faktor berikut, yaitu: karakteristik, adanya saluran komunikasi,
adanya upaya dari agen dan dipengaruhi sistem sosial.

Indikator Budaya Organisasi


Budaya organisasi diukur dengan skala yang dikembangkan oleh
Van den Berg dan Wilderom (2004) sebagai berikut :

  1. Otonomi (autonomy)
    Hal ini mencerminkan tingkat kebebasan dan pemberdayaan
    yang diberikan kepada karyawan dalam organisasi. Hal ini
    memainkan peran penting dalam membuat karyawan merasa
    terlibat dan dihargai.
  2. Orientasi eksternal (external orientation)
    Organisasi bersifat responsif terhadap perubahan yang terjadi di
    lingkungannya. Oleh karena itu jarang sekali suatu organisasi
    melakukan perubahan besar tanpa adanya dorongan yang kuat
    dari lingkungannya. Ini menandakan tingkat dan ketepatan
    dengan mana sebuah organisasi merespon perubahan dalam
    lingkungan eksternal. Karyawan menganggap ini sebagai
    dimensi penting yang mencerminkan proactiveness, pandangan
    jauh ke depan, dan ketangkasan organisasi.
  3. Kerjasama antar departemen (interdepartmental co-operation)
    Mengacu pada sejauh mana departemen yang berbeda dalam
    suatu organisasi saling membantu yang bertujuan untuk
    kelancaran orgnisasi. Hal ini meningkatkan rasa aman dan
    memiliki pada diri karyawan dengan organisasi.
  4. Orientasi sumber daya manusia (human resources orientation)
    Berkaitan dengan berbagai kebikan sumber daya manusia yang
    ada dalam organisasi. Dimensi ini merefleksikan filosofi
    bagaimana organisasi memperlakukan para karyawannya. Hal
    ini mendefinisikan kepercayaan dan respect yang dimiliki
    organisasi terhadap karyawannya.
  5. Orientasi peningkatan (improvement orientation)
    Sejauh mana organisasi berusaha untuk berkembang dan
    berinovasi dengan memberikan karyawan fleksibilitas dan
    memberdayakan karyawan untuk berpikir di luar kebiasaan.
    Karyawan dapat berkembang dalam organisasi ketika karyawan
    diijinkan untuk membuat kesalahan, belajar, dan terus menerus
    untuk melakukan perbaikan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Budaya Organisasi


Menurut Robbins (2011) ada enam faktor penting yang
mempengaruhi budaya organisasi yaitu:

  1. Observed behavioral regularities
    Cara bertindak dari para anggota yang tampak teramati. Ketika
    anggota organisasi berinteraksi dengan anggota lainnya, mereka
    mungkin menggunakan bahasa umum, istilah, atau ritual
    tertentu.
  2. Norms
    Standar perilaku yang ada termasuk di dalamnya tentang
    pedoman sejauh mana suatu pekerjaan harus dilakukan.
  3. Dominant values
    Nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh seluruh anggota
    organisasi, misalnya tentang kualitas produk yang tinggi,
    absensi yang rendah atau efisiensi yang tinggi.
  4. Philosophy
    Kebijakan yang berkenaan dengan keyakinan organisasi dalam
    memperlakukan pelanggan dan karyawan
  5. Rules
    Pedoman yang kuat di katakan dengan kemajuan organisasi.
  6. Organization Climate
    Perasaan keseluruhan (anoverall feeling) yang tergambarkan
    dan disampaikan melalui kondisi tata ruang, cara berinteraksi
    para anggota organisasi, dan cara anggota organisasi
    memperlakukan dirinya dan pelanggan atau orang lain

Pengertian Budaya Organisasi


Budaya organisasi merupakan suatu kebiasaan atau tradisi yang
dianut oleh semua anggota organisasi dan para anggota baru yang harus
mempelajari atau sedikit menerima sebagian dari budaya tersebuat agar
dapat diterima sebagai bagian dari suatu organisasi. Robbins (2017)
budaya organisai adalah mengacu pada system berbagi arti yang
dilakukan oleh para anggota yang membedakan oraganisasi dari
organisasi lainnya. Menurut Luthans (2011) budaya organisasi adalah
nilai-nilai dan keyakinan bersama yang memungkinkan anggota-
anggota untuk memahami peran mereka dalam organisasi dan normanorma organisasi.
Menurut Sedarmayanti (2017) budaya oganisasi adalah sebuah
keyakinan, sikap dan nilai yang umumnya dimiliki, yang timbul dalam
organisasi dikemukakan dengan lebih sederhana, budaya adalah cara
kita melakukan sesuatu di sini. Pola nilai, norma, keyakinan, sikap dan
asumsi ini mungkin tidak diungkapkan, tetapi akan membentuk cara
orang berperilaku dan melakukan sesuatu. Budaya organisasi mengacu
kepada abstraksi, seperti nilai dan norma yang meliputi seluruh atau
bagian dari bisnis. Hal ini mungkin tidak di definisikan, didiskusikan
atau bahkan diperhatikan namun budaya dapat memiliki pengaruh
penting pada perilaku seseorang. Menurut Fahmi (2014) budaya
organisasi adalah suatu kebiasaan yang telah berlangsung sejak lama
dan dipakai serta diterapkan dalam kehidupan aktivitas kerja sebagai
salah satu pendorong untuk meningkatkan kualitas kerja para karyawan
dan manajer perusahaan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Organisasi


Dalam Ismael Younis Abu-Jarad (2010) model kinerja organisasi difokuskan
pada faktor organisasi seperti sumber daya manusia kebijakan, budaya organisasi,
dan gaya iklim dan kepemimpinan organisasi. Studi lain oleh Chien (2004)
menemukan bahwa ada lima faktor utama yang menentukan kinerja organisasi, yaitu:

  1. Gaya kepemimpinan dan lingkungan
  2. Budaya organisasi
  3. Desain pekerjaan
  4. Model motif, dan
  5. Kebijakan sumber daya manusia.

Dimensi Kinerja Organisasi


Untuk menilai kinerja organisasi diperlukan indikator-indikator yang jelas
dan terarah. Indikator berfungsi sebagai ketetapan dan arahan atas indakan apa yang
harus dilakukan supaya kinerja berjalan efektif dan efisien. Kinerja organisasi yang
baik merupakan tujuan dari setiap organisasi atau perusahaan. Menurut Wirawan
(2009) dimensi-dimensi yang terdapat dalam kinerja organisasi antara lain :

  • Faktor internal karyawan, yaitu faktor-faktor dari dalam diri karyawan yang
    merupakan faktor bawaan dari lahir dan faktor yang diperoleh ketika ia berkembang.
    Faktor-faktor bawaan, misalnya bakat, sifat pribadi, serta bawaan dari lahir dan
    faktor yang diperoleh ketika ia berkembang. Faktor-faktor bawaan, misalnya bakat,
    sifat pribadi, serta keadaan fisik dan kejiwaan. Sementara itu, faktor-faktor yang
    diperoleh misalnya pengetahuan, keterampilan, etos kerja, pengalaman kerja dan
    motivasi kerja. Setelah dipengaruhi oleh lingkungan internal organisasi dan
    lingkungan eksternal, faktor internal karyawan ini juga menentukan kinerja mereka.
  • Faktor lingkungan internal organisasi, yaitu dalam melaksanakan tugasnya,
    karyawan memerlukan dukungan organisasi tempat mereka bekerja. Dukungan
    tersebut sangat mempengaruhi tinggi rendahnya kinerja karyawan. Gaya
    kepemimpinan suatu organisasi juga merupakan faktor lingkungan dalam internal
    suatu organisasi.
  • Faktor lingkungan eksternal organisasi. Faktor-faktor lingkungan eksternal
    organisasi adalah keadaan, kejadian atau situasi yang terjadi di lingkungan organisasi
    yang mempengaruhi kinerja organisasi. Misalnya keadaan ekonomi suatu negara,
    budaya masyarakat dan hal lainnya.

Pengertian Kinerja Organisasi


Menurut Stooner dan Freeman (Imran Ali et al. 2010) kinerja organisasi
adalah ukuran seberapa efisien dan efektif seorang manajer yang menunjukan
seberapa baik ia menentukan dan mencapai tujuan yang tepat. Serta menunjukan
seberapa baik organisasi melakukan pekerjaan mereka. Berdasarkan pernyataan di
atas dapat disimpulkan bahwa kinerja tersebut memerlukan pengukuran dan
pengevaluasian untuk menentukan sejauh mana keberhasilan perusahaan dalam
mencapai tujuan tertentu. Ada dua aspek yang digunakan untuk mengukur kinerja
tersebut yaitu, aspek efisiensi dan efektivitas.
Di sisi lain, kinerja organisasi mengacu pada kemampuan suatu perusahaan
untuk mencapai tujuan seperti keuntungan yang tinggi, kualitas produk, pangsa pasar
yang besar, hasil keuangan yang baik, dan kelangsungan hidup pada waktu yang
telah ditentukan dengan menggunakan strategi yang relevan untuk tindakan (Koontz
dan Donnell, 1993). Kinerja organisasi juga dapat digunakan untuk melihat
bagaimana suatu perusahaan melakukan dalam hal tingkat keuntungan, pangsa pasar
dan kualitas produk dalam kaitannya dengan lainnya perusahaan dalam industri yang
sama. Akibatnya, itu adalah cerminan dari produktivitas anggota suatu perusahaan
diukur dari segi pendapatan, laba, pertumbuhan, pengembangan dan perluasan
organisasi (Obiwuru Timothy C. 2011).
Richard et al. (2009) dalam Korir Jacqueline (2012) mencatat bahwa kinerja
organisasi harus berhubungan dengan faktor-faktor seperti profitabilitas, pengiriman
peningkatan layanan, kepuasan pelanggan, pertumbuhan pangsa pasar, dan
peningkatan produktivitas dan penjualan. Oleh karena itu kinerja organisasi
dipengaruhi oleh banyaknya individu, kelompok, tugas, teknologi, struktural,
manajerial dan faktor lingkungan.
Sedangkan menurut SK menteri keuangan RI No. 740.KMK.00/1989, kinerja
adalah prestasi yang dicapai oleh BUMN dalam satu periode tertentu yang
mencerminkan tingkat kesehatan BUMN. Maka kinerja perusahaan merupakan
sejauh mana keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuan tertentu dalam
periode tertentu.
Secara etimologis kinerja merupakan terjemahan dari performance berasal
dari bahasa Inggris. Kinerja merupakan suatu hasil dari kegiatan atau aktifitas dan
apakah kegiatan yang dilakukan secara intensif membawa tanggung jawab yang
efektif dan efisien. Sebuah perusahaan peduli dengan kinerja organisasi dengan cara
mengakumulasi hasil dari semua kegiatan kerja organisasi dengan
mempertimbangkan apa saja faktor yang mempengaruhi kinerja. Perusahaan
biasanya menginginkan organisasinya bekerja secara grup atau berkelompok untuk
mencapai tingkat tertinggi dalam kinerjanya (Robbins, Coulter 2010: 520).

Dimensi Komitmen Karyawan


Kaswara dan Santoso (2008) mengemukakan tiga indikator komitmen yang
digunakan dalam pendekatan untuk menentukan komitmen karyawan kepada
organisasi, yaitu :
a. Dimensi Continuance Commitment
Kecenderungan individu untuk tetap menjaga komitmen karyawan pada organisasi
karena tidak ada hal lain yang dapat dikerjakan di luar itu. Individu dengan
Continuance Commitment yang tinggi akan bertahan dalam organisasi, bukan karena
alasan emosional, tapi karena adanya kesadaran dalam individu tersebut akan
kerugian besar yang dialami jika meninggalkan organisasi. Individu dengan
Continuance Commitment yang tinggi akan lebih bertahan dalam organisasi
dibandingkan yang rendah.
b. Dimensi Affective Commitment
Komitmen dimana individu memiliki hasrat yang kuat untuk tetap bekerja pada
organisasi karna ada kesamaan atau kesepakatan antara nilai-nilai personal individu
dan organisasi. Komitmen afektif didasarkan pada Goal Congruence Orientation,
dimana didalamnya terdapat suatu keterikatan secara psikologis antara individu dan
organisasinya sehingga mempengaruhi perilaku individu terhadap tugas yang
diterimanya. Individu dengan Affective Commitment yang tinggi memiliki emosional
yang erat terhadap organisasi, yang berarti bahwa individu tersebut akan memiliki
motivasi dan keinginan untuk berkontribusi secara berarti terhadap organisasi
dibandingkan individu dengan Affective Commitment yang lebih rendah.
c. Dimensi Normative Commitment
Komitmen normatif adalah komitmen yang menunjukkan perasaan individu yang
berkewajiban untuk tetap bekerja pada organisasinya, dan juga menunjukan adanya
kewajiban dan tanggung jawab yang harus dipikul. Individu dengan normative
commitment yang tinggi akan tetap bertahan dalam organisasi karena merasa adanya
suatu kewajiban atau tugas. Perasaan seperti itu akan memotivasi individu untuk
bertingkah laku secara baik dan melakukan tindakan yang tepat bagi oraganisasi.
Perusahaan mengharapkan dengan adanya normative commitment, karyawan
memiliki hubungan yang positif dengan tingkah laku dalam pekerjaan, seperti hasil
kinerja, tingkat kehadiran kerja, dan organization citizenship

Jenis-Jenis Komitmen Karyawan


Jenis komitmen menurut Allen dan Meyer (Jerald Greenberg Robert A. Baron
2004: 161) terbagi atas tiga komponen, yaitu:
a. Komponen Afektif
Berkaitan dengan emosional, identifikasi, dan keterlibatan pegawai di dalam suatu
organisasi. Pegawai dengan afektif tinggi masih bergabung dengan organisasi karena
keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi.
b. Komponen Normatif
Merupakan perasaan pegawai tentang kewajiban yang harus diberikan kepada
organisasi. Komponen normatif berkembang sebagai hasil dari pengalaman
sosialisasi, tergantung dari sejauh apa perasaan kewajiban yang dimiliki pegawai.
Komponen normatif menimbulkan perasaan kewajiban kepada pegawai untuk
memberikan balasan atas apa yang pernah diterimanya dari organisasi.
c. Komponen Kelanjutan (continuance)
Berarti komponen yang berdasarkan persepsi pegawai tentang kerugian yang akan
dihadapinya jika meninggalkan organisasi. Pegawai dengan dasar organisasi tersebut
disebabkan karena pegawai tersebut membutuhkan organisasi. Pegawai yang
memiliki komitmen organisasi dengan dasar afektif memiliki tingkah laku yang
berbeda dengan pegawai dengan dasar continuance. Pegawai yang ingin menjadi
anggota akan memiliki keinginan untuk berusaha yang sesuai dengan tujuan
organisasi. Sebaliknya pegawai yang terpaksa menjadi anggota organisasi akan
menghindari kerugian financial dan kerugian lain, sehingga mungkin hanya
melakukan usaha yang tidak maksimal.
Dalam hal ini tampak melalui kesediaan dalam bekerja melebihi apa yang
diharapkan agar organisasi dapat maju. Pegawai dengan komitmen tinggi, ikut
memperhatikan nasib organisasi. Keinginan juga termasuk kehendak untuk tetap
berada dalam organisasi. Pada pegawai yang memiliki komitmen tinggi, hanya
sedikit alasan untuk keluar dari organisasi dan berkeinginan untuk bergabung dengan
organisasi yang telah dipilihnya dalam waktu lama.

Pengertian Komitmen Karyawan


Komitmen karyawan adalah loyalitas individu kepada organisasi. Individu
dengan komitmen organisasi yang tinggi teridentifikasi kuat dengan organisasi dan
secara bangga mempertimbangkan diri mereka sebagai anggota organisasi
(Schermerhorn et al. 2012: 63).
Komitmen menurut Jaw dan Liu (Olouwakemi Ayodeji Owoyemi, 2011)
tidak hanya konsep hubungan manusia tetapi juga melibatkan menghasilkan energi
manusia dan mengarahkan pikiran manusia menjadi aktif. Tanpa komitmen,
pelaksanaan ide-ide baru dan inisiatif akan dimusyawarahkan. Sistem sumber daya
manusia dapat memfasilitasi pengembangan atau kompetensi organisasi melalui
memunculkan komitmen karyawan terhadap perusahaan.
Komitmen karyawan adalah sejauh mana individu mengidentifikasi dan
terlibat dengan organisasinya sehingga dan atau tidak mau meninggalkannya.
Konsep dari komitmen karyawan adalah peduli dengan sejauh mana orang yang
terlibat dengan organisasi mereka dan tertarik dengan apa yang ada di dalam diri
mereka (Jerald Greenberg 2003: 160)
Sedangkan Walton (Olouwakemi Ayodeji Owoyemi, 2011) berpendapat
komitmen sebagai strategi khusus untuk sumber daya manusia yang efek positif akan
dirasakan. Tingginya komitmen karyawan adalah sebuah pendekatan untuk
mengelola karyawan, yang menekankan pada kebutuhan untuk mengembangkan
komitmen organisasi antara karyawan didasarkan pada asumsi bahwa hal itu akan
mengarah pada hasil positif seperti rendahnya absensi, motivasi yang lebih baik dan
menghasilkan kinerja yang unggul. Selain itu, studi terbaru menunjukkan bahwa
komitmen karyawan yang tinggi dapat bekerja dengan baik secara sinergis dan
mencerminkan strategi komitmen umum. Meskipun strategi komitmen dapat
dikaitkan dengan semua perusahaan praktik sumber daya manusia, rekrutmen,
seleksi, evaluasi kinerja, menurut Scholl (2003), juga dapat digunakan untuk
mengembangkan hubungan psikologis antara perusahaan dan karyawan sebagai
sarana untuk mencapai tujuan.
Dalam Pearson (Robbins, Coulter, 2010:405) komitmen karyawan adalah
kekuatan yang bersifat relatif dari individu dalam mengidentifikasikan keterlibatan
dirinya ke dalam bagian organisasi. Hal ini dapat ditandai dengan tiga hal yaitu :

  1. Penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi.
  2. Kesiapan dan kesediaan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh atas nama
    organisasi.
  3. Keinginan untuk mempertahankan keanggotaan di dalam organisasi

Kategori Perusahaan dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


Berkaitan dengan pelaksanaan tanggung jawab sosial, perusahaan bisa
dikelompokkan ke dalam beberapa kategori. Meskipun cenderung menyederhanakan
realitas, tipologi ini menggambarkan kemampuan dan komitmen perusahaan dalam
menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan. Pengkategorian dapat memotivasi
perusahaan dalam mengembangkan program tanggung jawab sosial perusahaan, dan
dapat pula dijadikan cermin dan garis pedoman untuk menentukan model tanggung
jawab sosial perusahaan yang tepat (Suharto, 2007). Dengan menggunakan dua
pendekatan, sedikitnya ada delapan kategori perusahaan. Perusahaan ideal memiliki
kategori reformis dan progresif. Tentu saja dalam kenyataannya, kategori ini bisa
saja saling bertautan.

  1. Berdasarkan proporsi keuntungan perusahaan dan besarnya anggaran tanggung
    jawab sosial perusahaan:
  • Perusahaan Minimalis. Perusahaan yang memiliki profit dan anggaran tanggung
    jawab sosial perusahaan yang rendah. Perusahaan kecil dan lemah biasanya termasuk
    kategori ini.
  • Perusahaan Ekonomis. Perusahaan yang memiliki keuntungan tinggi, namun
    anggaran tanggung jawab sosial perusahaannya rendah. Perusahaan yang termasuk
    kategori ini adalah perusahaan besar, namun pelit.
  • Perusahaan Humanis. Meskipun profit perusahaan rendah, proporsi anggaran
    tanggung jawab sosial perusahaannya relatif tinggi. Perusahaan pada kategori ini
    disebut perusahaan dermawan atau baik hati.
  • Perusahaan Reformis. Perusahaan ini memiliki profit dan anggaran tanggung jawab
    sosial perusahaan yang tinggi. Perusahaan seperti ini memandang tanggung jawab
    sosial perusahaan bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk lebih maju. 
  •  2. Berdasarkan tujuan tanggung jawab sosial perusahaan, apakah untuk promosi atau
    pemberdayaan masyarakat:
  • Perusahaan Pasif. Perusahaan yang menerapkan tanggung jawab sosial perusahaan
    tanpa tujuan jelas, bukan untuk promosi, bukan pula untuk pemberdayaan, sekadar
    melakukan kegiatan karitatif. Perusahaan seperti ini melihat promosi dan tanggung
    jawab sosial perusahaan sebagai hal yang kurang bermanfaat bagi perusahaan.
  • Perusahaan Impresif. Tanggung jawab sosial perusahaan lebih diutamakan untuk
    promosi daripada untuk pemberdayaan. Perusahaan seperti ini lebih mementingkan
    ”tebar pesona” daripada ”tebar karya”.
  • Perusahaan Agresif. Tanggung jawab sosial perusahaan lebih ditujukan untuk
    pemberdayaan daripada promosi. Perusahaan seperti ini lebih mementingkan karya
    nyata daripada tebar pesona.
  • Perusahaan Progresif. Perusahaan menerapkan tanggung jawab sosial perusahaan
    untuk tujuan promosi dan sekaligus pemberdayaan. Promosi dan tanggung jawab
    sosial perusahaan dipandang sebagai kegiatan yang bermanfaat dan menunjang satusama lain bagi kemajuan perusahaan.

Dimensi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


Dari berbagai definisi tanggung jawab sosial perusahaan yang ada, Alexander
Dahlsrud dalam “How Corporate Social Responsibility is Defined” (2008)
menjelaskan dan menyimpulkan bahwa definisi tanggung jawab sosial perusahaan itu
secara konsisten mengandung 5 dimensi, yaitu:

  1. Dimensi Lingkungan yang merujuk ke lingkungan hidup dan mengandung katakata seperti “lingkungan yang lebih bersih”, “pengelolaan lingkungan”,
    “environmental stewardship”, “kepedulian lingkungan dalam pengelolaan operasi
    bisnis”, dan lain-lain.
  2. Dimensi Sosial yaitu hubungan antara bisnis dan masyarakat dan tercermin
    melalui frase-frase seperti “berkontribusi terhadap masyarakat yang lebih baik”,
    “mengintegrasi kepentingan sosial dalam operasi bisnis”, “memperhatikan dampak
    terhadap masyarakat”, dan lain-lain.
  3. Dimensi Ekonomis yang menerangkan aspek sosio-ekonomis atau finansial bisnis
    yang diterangkan dengan kata-kata seperti “turut menyumbang pembangunan
    ekonomi”, “mempertahankan keuntungan”, “operasi bisnis”, dan lain-lain.
  4. Dimensi Pemangku Kepentingan (stakeholder) yang tentunya menjelaskan
    hubungan bisnis dengan pemangku kepentingannya dan dijelaskan dengan kata-kata
    seperti “interaksi dengan pemangku kepentingan perusahaan”, “hubungan
    perusahaan dengan karyawan, pemasok, konsumen dan komunitas”, “perlakukan
    terhadap pemangku kepentingan perusahaan”, dan lain-lain.
  5. Dimensi Kesukarelaan (voluntary) sehubungan dengan hal-hal yang tidak diatur
    oleh hukum atau peraturan yang tercermin melalui frase-frase seperti “berdasarkan
    nilai-nilai etika”, “melebihi kewajiban hukum (beyond regulations)”, “voluntary”,
    dan lain-lain.

Model Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


Menurut Suharto (2006: 7-8) sedikitnya ada empat model atau pola tanggung
jawab sosial perusahaan yang umumnya diterapkan oleh perusahaan di Indonesia,
yaitu:

  1. Keterlibatan Langsung
    Perusahaan menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan secara langsung
    dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke
    masyarakat tanpa perantara. Untuk menjalankan tugas ini, sebuah perusahaan
    biasanya menugaskan salah satu pejabat seniornya, seperti corporate
    secretary atau public affair manager atau menjadi bagian dari tugas pejabat public
    relation.
  2. Melalui Yayasan atau Organisasi Sosial Perusahaan
    Perusahaan mendirikan yayasan sendiri di bawah naungan perusahaan atau
    groupnya. Model ini merupakan adopsi dari model yang lazim diterapkan di
    perusahaan-perusahaan di negara maju. Biasanya perusahaan menyediakan dana
    awal, dana rutin atau dana abadi yang dapat digunakan secara teratur bagi kegiatan
    yayasan.
  3. Bermitra dengan Pihak Lain
    Perusahaan menyelenggarakan tanggung jawab sosial perusahaan melalui kerjasama
    dengan lembaga sosial atau organisasi non-pemerintah, instansi pemerintah,
    universitas atau media massa, baik dalam mengelola dana maupun dalam
    melaksanakan kegiatan sosialnya.
  4. Mendukung atau Bergabung Dalam Suatu Konsorsium
    Perusahaan turut mendirikan, menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga sosial
    yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu. Dibandingkan dengan model lainnya,
    pola ini lebih berorientasi pada pemberian hibah perusahaan yang bersifat “hibah
    pembangunan”. Pihak konsorsium atau lembaga semacam itu yang dipercayai oleh
    perusahaan-perusahaan yang mendukungnya secara pro-aktif mencari mitra
    kerjasama dari kalangan lembaga operasional dan kemudian mengembangkan
    program yang disepakati bersama.

Peranan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


Tanggung jawab sosial perusahaan dalam beberapa dekade terakhir telah
banyak dilakukan oleh perusahaan. Khususnya perusahaan besar yang mementingkan
keberlangsungan secara jangka panjang perusahaannya. Bentuk kegiatan tanggung
jawab sosial perusahaan bermacam-macam seperti membentuk community
development, charity event, atau kegiatan lainnya yang bersifat sosial. Menurut
Wibisono (2007) peranan tanggung jawab sosial adalah sebagai berikut:

  1. Brand Differentiation
    Yaitu pemberian citra yang khas serta baik agar dapat meningkatkan customer
    loyalty dan bersaing secara sehat dalam pasar yang kompetitif.
  2. Human Resources
    Program tanggung jawab sosial perusahaan dapat membantu dalam proses perekrutan
    karyawan baru. Saat interview, calon karyawan yang memiliki pendidikan dan
    pengalaman tinggi untuk lebih krirtis bertanya apa saja program tanggung jawab
    sosial yang dijalankan. Sedangkan untuk pegawai lama, dapat meningkatkan
    reputasi, persepsi, dan dedikasi dalam bekerja.
  3. Licence to Operate
    Perusahaan yang menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan dapat mendorong
    pemerintah dan publik memberi izin bisnis. Karena dianggap telah memenuhi standar
    operasi dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat secara luas.
  4. Risk Management
    Manajemen risiko merupakan isu sentral bagi setiap perusahaan, reputasi yang telah
    dibangun selama bertahun-tahun dapat runtuh dalam sekejap hanya karena adanya
    KKN, kecelakaan kerja, dan pengerusakan lingkungan. Maka dari itu perlu
    ditanamkannya “do the right thing”

Manfaat Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


Berdasarkan riset yang dilakukan oleh United States-based Business for
Social Responsibility (BSR), banyak sekali keuntungan yang didapatkan oleh
perusahaan yang telah mempraktekkan tanggung jawab sosial perusahaan antara lain:

  1. Meningkatkan Brand Image dan Reputasi Perusahaan
    Tanggung jawab sosial perusahaan dapat membuat perusahaan menjadi lebih dikenal
    oleh masyarakat sehingga reputasi perusahaan juga akan meningkat apabila
    perusahaan melaksanakan progaram tersebut dengan sebaik – baiknya
  2. Meningkatkan Penjualan dan Loyalitas Pelanggan
    Apabila program tanggung jawab sosial perusahaan dilakukan dengan baik oleh
    perusahaan maka para pelanggan akan menjadi lebih loyal karena para pelanggan
    tidak hanya mengetahui kualitas tetapi juga tujuan baik perusahaan.
  3. Mengurangi Biaya Operasional
    Dengan adanya tanggung jawab sosial perusahaan perusahaan tidak perlu lagi
    mengeluarkan anggaran untuk biaya promosi, karena produk atau perusahaan pasti
    akan menjadi lebih dikenal oleh masyarakat. Dengan demikian biaya operasional
    perusahaan akan menurun.
  4. Meningkatkan Kinerja Keuangan
    Dengan adanya tanggung jawab sosial perusahaan diharapkan laba perusahaan akan
    lebih meningkat karena penjualan juga akan meningkat.

Pengertian Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


Menurut Filho et al. (Gresi Sanje Dahan, 2012) tanggung jawab sosial
perusahaan (CSR) didefinisikan melalui hubungan etis dan transparansi dari
perusahaan dengan semua pemangku kepentingan yang memiliki hubungan serta
dengan penetapan tujuan perusahaan yang sesuai dengan pembangunan
berkelanjutan masyarakat, melestarikan lingkungan dan sumber daya budaya untuk
generasi mendatang, menghormati keragaman dan mempromosikan pengurangan
masalah sosial.
Sementara itu tanggung jawab sosial perusahaan menunjukkan cara bagi
perusahaan untuk berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat juga memberikan
kesempatan untuk menciptakan reputasi keunggulan kompetitif dan positif untuk
dunia bisnis (Smith 2007, Porter dan Kramer 2006).
Menurut Keith Davis (Suharsono, 2012:214) dijelaskan tanggung jawab
sosial perusahaan adalah pengakuan bahwa organisasi menimbulkan pengaruh
signifikan terhadap sistem sosial dan pengaruh ini harus dipertimbangkandan
diseimbangkan dengan tepat dalam semua tindakan organisasi.
Menurut The World Business Council for Sustainable Development (Yusuf
Wibisono, 2007:7) secara bebas maksudnya adalah komitmen para pelaku usaha
secara terus menerus bertindak etis, memberikan kontribusi untuk peningkatan
ekonomi bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup para karyawan dan
keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat secara luas.
Menurut CSR Forum (Wibisono, 2007) tanggung jawab sosial perusahaan
didefinisikan sebagai bisnis yang dilakukan secara transparan dan terbuka serta
berdasarkan pada nilai-nilai moral dan menjunjung tinggi rasa hormat kepada
karyawan, komunitas dan lingkungan. Tanggung jawab sosial perusahaan adalah
suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan
perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap sosial atau
lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. Contoh bentuk tanggung jawab itu
bermacam-macam, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak
tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk
desa atau fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat
banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada.
Tanggung jawab sosial perusahaan merupakan fenomena strategi perusahaan yang
mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder. Tanggung jawab sosial
perusahaan timbul sejak era dimana kesadaran akan pembangunan perusahaan jangka
panjang adalah lebih penting daripada sekedar keuntungan.

Pengertian Organisasi


Pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial yang selalu hidup
berdampingan, membentuk kelompok dengan manusia yang lain. Salah satu alasan
mengapa manusia selalu berkelompok adalah karena kebutuhan manusia yang
semakin kompleks dari waktu ke waktu sehingga manusia membutuhkan kerjasama
dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Kondisi seperti ini
menggambarkan kehidupan masyarakat yang bersifat organis, yang artinya bagian
yang satu dengan yang lain saling memenuhi atau melengkapi. Agar kondisi yang
diinginkan terus berjalan sesuai harapan, maka diperlukan pengorganisasian agar
masing-masing dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Ini menunjukan bahwa
manusia memiliki sifat mengatur terhadap segala tindakannya (Suharsono, 2012:11).
Selama ini banyak praktek organisasi yang dalam upaya pencapaian
tujuannya lebih banyak didominasi oleh kepentingan individu atau kelompok tertentu
saja. Padahal organisasi merupakan masalah yang kompleks dan multidispliner. Oleh
karena itu, organisasi dapat dipahami dari berbagai perspektif. Pengertian organisasi
pun berbeda-beda tergantung dari sudut pandang masing-masing displin ilmu
(ekonomi, bisnis, sosial, politik, dan lain-lain). Bagi seorang ekonom, organisasi
difokuskan pada bagaimana menyediakan barang dan jasa yang cukup bagi
masyarakat. Bagi praktisi bisnis yang sering berhadapan dengan situasi penuh
persaingan, maka organisasi ditempatkan sebagai wadah untuk mencapai tingkat
keuntungan yang memadai.
Ada beberapa pengertian tentang organisasi, menurut beberapa ahli
(Suharsono, 2012:13):
Menurut Ernest Dale organisasi adalah suatu proses perencanaan yang
meliputi penyusunan, pengembangan, dan pemeliharaan suatu struktur atau pola-pola
hubungan kerja dari orang-orang dalam suatu kelompok kerja.
Menurut Cyril Soffer, organisasi merupakan perserikatan orang-orang yang
masing-masing diberi peranan tertentu dalam suatu sosial kerja dan pembagian kerja
yang diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan diantara pemegang peranan dan
kemudian digabung dalam beberapa bentuk hasil.
Menurut Kast dan Rosenzweig, organisasi (perusahaan) adalah adanya orangorang yang usahanya harus dikordinasikan, tersusun dari sejumlah subsistem yang
saling berhubungan dan saling tergantung, bekerja bersama atas dasar pembagian
kerja, peran dan wewenang, serta mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai.
Menurut Gibson, organisasi artinya mengejar tujuan dan sasaran yang dapat
dicapai secara efisien dan lebih efektif dengan tindakan yang dilakukan secara
bersama-sama.

Bentuk-bentuk Konformitas


Menurut Myers (2012) bentuk konformitas ada tiga, yaitu :
a. Penerimaan (acceptance) yaitu ketika individu bertindak dan meyakini
sesuai tekanan sosial baik dari individu atau kelompok.
b. Pemenuhan (compliance), yaitu konformitas atas permintaan atau tekanan
sosial tapi individu tidak menyetujuinya.
c. Kepatuhan (obedience), yaitu bertindak sesuai dengan perintah langsung.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konformitas


Menurut Baron dan Byrne (2005) ada beberapa faktor-faktor yang
mempengaruhi konformitas, yaitu ;
a. Kohesivitas, adalah derajat ketertarikan yang dirasa individu terhadap
suatu kelompok.
b. Ukuran kelompok, semakin besar jumlah suatu kelompok, maka besar pula
kecenderungan individu untuk melakukan konformitas. c. Norma sosial deskriptif/himbauan, norma yang hanya mengindikasikan
apa yang sebagian besar orang lakukan pada situasi tertentu.
d. Norma injungtif/perintah, norma yang menetapkan apa yang harus
dilakukan, tingkah laku apa yang diterima atau tidak diterima pada situasi
tertentu.

Aspek-aspek Konformitas


Menurut Baron dan Byrne (2005) ada dua aspek konformitas, yaitu :
a. Pengaruh norma, yaitu disebabkan oleh keinginan untuk memenuhi
harapan orang lain sehingga dapat lebih diterima oleh orang lain. Individu
akan cenderung berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku pada suatu
tempat.
b. Pengaruh informasi, yaitu yaitu pengaruh sosial yang didasarkan atas
adanya pengaruh menerima atau

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gaya Hidup Hedonis


Kotler (dalam Rianton, 2013) menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi gaya hidup seseorang yang berorientasi pada kesenangan ada
dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan
faktor yang berasal dari luar diri individu (eksternal) :
a. Faktor internal
1) Sikap
Sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan
untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang di organisasi
melalui pengalaman dan mempengaruhi secara langsung pada
perilaku. Keadaan jiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi,
kebiasaan, kebudayaan dan lingkungan sosialnya.
2) Pengalaman dan pengamatan
Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah
laku, pengalaman dapat diperoleh dari semua tindakannya di masa lalu
dan dapat dipelajari, melalui belajar orang akan dapat memperoleh
pengalaman. Hasil dari pengalaman sosial akan dapat membentuk
pandangan terhadap suatu objek.
3) Kepribadian
Kepribadian adalah konfigurasi karakteristik individu dan cara
berperilaku yang menentukan perbedaan perilaku dari setiap individu.
4) Konsep diri
Faktor lain yang menentukan kepribadian individu adalah konsep diri.
Konsep diri sudah menjadi pendekatan yang dikenal amat luas untuk
menggambarkan hubungan antara konsep diri konsumen dengan
image merek. Bagaimana individu memandang dirinya akan
mempengaruhi minat terhadap suatu objek. Konsep diri sebagai inti
dari pola kepribadian akan menentukan perilaku individu dalam
menghadapi permasalahan hidupnya, karena konsep diri merupakan
frame of reference yang menjadi awal perilaku.
5) Motif
Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk
merasa aman dan kebutuhan terhadap prestise merupakan beberapa
contoh tentang motif. Jika motif seseorang terhadap kebutuhan akan
prestise itu besar maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung
mengarah kepada gaya hidup hedonis. 6) Persepsi
Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan
menginterpretasikan informasi untuk membentuk suatu gambar yang
berarti mengenai dunia.
b. Faktor Eksternal
1) Kelompok referensi
Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh
langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang.
Kelompok yang memberikan pengaruh langsung adalah kelompok
dimana individu tersebut menjadi anggotanya dan saling berinteraksi,
sedangkan kelompok yang memberi pengaruh tidak langsung adalah
kelompok dimana individu tidak menjadi anggota di dalam kelompok
tersebut. Pengaruh-pengaruh tersebut akan menghadapkan individu
pada perilaku dan gaya hidup tertentu.
2) Keluarga
Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam
pembentukan sikap dan perilaku individu. Hal ini karena pola asuh
orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara tidak langsung
mempengaruhi pola hidupnya.
3) Kelas sosial
Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen dan
bertahan lama dalam sebuah masyarakat, yang tersusun dalam sebuah
urutan jenjang, dan para anggota dalam setiap jenjang itu memiliki
nilai, minat, dan tingkah laku yang sama. Ada dua unsur pokok dalam
sistem sosial pembagian kelas dalam masyarakat, yaitu kedudukan
(status) dan peranan. Kedudukan sosial artinya tempat seseorang
dalam lingkungan pergaulan, prestise hak-haknya serta kewajibannya.
Kedudukan sosial ini dapat dicapai oleh seseorang dengan usaha yang
sengaja maupun diperoleh karena kelahiran. Peranan merupakan aspek
yang dinamis dari kedudukan. Apabila individu melaksanakan hak
dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan
suatu peranan.
4) Kebudayaan
Kebudayaan meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,
hukum, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh individu
sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu
yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, meliputi ciri-ciri
pola pikir, merasakan dan bertindak.

Karakteristik Gaya Hidup Hedonis


Swastha (dalam Pontania, 2016) mengatakan bahwa karakteristik dari
individu yang memiliki gaya hidup hedonis adalah:
a. Suka mencari perhatian
b. Cenderung impulsif
c. Cenderung follower (ikut-ikutan)
d. Kurang rasional
e. Mudah dipengaruhi

Aspek-aspek Gaya Hidup Hedonis


Aspek gaya hidup menurut Engel dkk. (2008) dapat dicerminkan
melalui AIO (Activities, Interest, dan Opinion) yang berorientasi pada
kesenangan sehingga disebut gaya hidup hedonis. Aspek-aspek gaya hidup
hedonis adalah :
a. Minat (Interest)
Minat adalah suatu yang menarik dari lingkungan sehingga individu
merasa senang untuk memperhatikannya. Minat dapat muncul terhadap
suatu objek, peristiwa atau topik yang menekankan pada unsur
kesenangan hidup. Minat gaya hidup hedonis dapat berupa ketertarikan
individu terhadap barang-barang mahal dan mewah, perhatian khusus
pada nilai prestise yang dimiliki suatu barang atau aktivitas serta
keinginan individu untuk melakukan berbagai aktivitas atau perilaku yang
mewakili gaya hidup yang diinginkannya.
b. Aktivitas (Activities)
Aktivitas adalah sebagai cara individu mempergunakan waktunya yang
berwujud tindakan nyata dalam kegiatan yang bertujuan mencari
kesenangan semata dengan konsekuensi biaya cukup besar, aktivitas dapat
berupa berbelanja dengan harga mahal dan frekuensi yang cukup sering.
Menghabiskan malam di tempat hiburan khusus dengan biaya mahal serta
kegiatan rutin seperti makan, minum yang dilakukan di tempat-tempat
tertentu dengan biaya besar dan menimbulkan kesan mewah. c. Opini (Opinion)
Opini adalah tanggapan baik lisan maupun tulisan yang diberikan individu
tentang dirinya sendiri dan produk-produk yang berkaitan dengan
kesenangan hidupnya. Opini merupakan cara pandang individu untuk
membela dan mempertahankan gaya hidup tersebut, opini sekaligus
menjelaskan apa saja hal-hal yang diperlukan atau harus dilakukan untuk
menunjang gaya hidupnya.

Pengertian Gaya Hidup Hedonis


Engel dkk. (2008) mengatakan bahwa gaya hidup didefinisikan sebagai
pola dimana orang hidup dan menghabiskan waktu serta uang. Menurut
Setiadi (2008) gaya hidup merupakan cara hidup yang diidentifikasikan oleh
bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas) apa yang mereka
anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka
pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia disekitarnya (pendapat).
Lebih lanjut, Kotler dan Armstrong (2008) mengatakan bahwa gaya hidup
adalah pola hidup seseorang yang diekspresikan dalam kegiatan, minat, dan
pendapatnya.
Menurut Takariani (2013) hedonis adalah pandangan hidup yang
menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama
hidup. Hedonis adalah kebendaan yang diukur dengan harta yang dinilai
dengan uang, dengan uang tersebut individu dapat mencari kesenangan
(Nisak, 2014).

Jenis-jenis Gaya Hidup


Ada beberapa Jenis gaya hidup (dalam Manalu, 2017), antara lain:
a. Gaya Hidup Konsumtif
Perilaku konsumtif diartikan sebagai kecenderungan mengkonsumsi
barang secara berlebihan tanpa berbagai pertimbangan, remaja hanya
melihat dari sisi kesenangan dan mementingkan prioritas daripada
kebutuhan. Perilaku konsumtif yaitu mengkonsumsi barang-barang yang
sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai
kepuasan maksimal. Konsumtif bisa digunakan untuk penggunaan uang
dan waktu.
b. Gaya Hidup Hedonisme
Hedonisme adalah suatu pandangan hidup yang menganggap bahwa
kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bisa
dikatakan perilaku hedonisme lebih mementingkan kesenangannya, tidak
lagi peduli dengan orang yang disekitarnya. Hedonisme cenderung
konsumtif, karena menghabiskan uang untuk membeli barang-barang
yang hanya untuk kesenangan semata tanpa disadari kebutuhan.
Mengahmbur-hamburkan uang untuk membeli berbagai barang yang tidak
penting hanya untuk sekedar pamer merk/barang mahal.
c. Gaya Hidup dalam Pemanfaatan Waktu Luang
Waktu luang merupakan bagian yang terpenting bagi setiap orang.
Sebagaimana diketahui pada hakekatnya kehidupan manusia khususnya
remaja, selalu ditandai dengan aktivitas kegiatan belajar dan privat.
Waktu luang adalah relaksasi, hiburan, dan pengembangan diri. Namun
banyak remaja memanfaatkan waktu untuk melakukan apapun yang
disenanginya sebagai cara untuk mencapai tujuan sesuai dengan
kebutuhan melalui kegiatan yang dipilih pada dasarnya akan mendapat
kepuasan.

Hubungan Motivasi dengan Kinerja Pegawai


Motivasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam suatu
organisasi. Dikatakan sebagai faktor yang penting karena motivasi akan
mempengaruhi kinerja pegawai dalam organisasi. Semakin tinggi motivasi
pegawai, maka akan semakin tinggi hasil kerja yang akan dicapai. Motivasi
yang dimiliki pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya sangat berpengaruh
terhadap kinerja yang dimiliki oleh pegawai.
Pengertian motivasi menurut Siagian dikutip oleh Sedarmayanti
(2007:233), menyebutkan pengertian motivasi :
“Motivasi: keseluruhan proses pemberian motivasi bekerja
kepada bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau
bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi
dengan efisien dan ekonomis”.
Menurut Rivai dan Basri dikutip oleh Sinambela (2012:06)
menyebutkan, bahwa:
“Kinerja adalah hasil atu tingkat keberhasilan seseorang atau
kesluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan
tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti
standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang
telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati
bersama”.
Hubungan motivasi dan kinerja pegawai yang menurut Mitchell dikutip
oleh Sinambela (2012:9) menyebutkan, bahwa:
“Kinerja seseorang ditentukan oleh kemampuan dan
motivasi, kemampuan tanpa motivasi belum tentu dapat
menyelesaikan tugas dengan baik, demikian juga sebaliknya
motivasi tinggi yang dimiliki pegawai tanpa pengetahuan
yang memadai tidaklah mungkin mencapai kinerja yang
baik”.

Dimensi Kinerja


Aspek-aspek yang meliputi kinerja yang dapat dijadikan ukuran kinerja
seseorang menurut Sinambela (2012:196), menyebutkan ada 4 parameter
untuk mengukur kinerja, yaitu:

  1. Produktivitas, hubungan antara input dan ouput yang
    mendorong pegawai untuk mampu berbuat banyak dengan
    sumber-sumber yang terbatas bagi instansi publik.
  2. Responsivitas, kesediaan untuk membantu rekanan atas dasar
    asumsi dan kepercayaan untuk mencapai kinerja organisasi
    yang lebih tinggi.
  3. Responsibilitas, konsep yang berkenaan dengan standar dan
    kompetensi teknis yang dimiliki pegawai untuk menjalankan
    tugasnya.
  4. Akuntabilitas, kewenangan yang digunakan yang menekan
    pada formalisasi dan legalisasi berkaitan dengan masalah
    prosedur yang digunakan.

Faktor-Faktor Kinerja Pegawai


Menurut Mitchell dikutip oleh Sinambela (2012:9), kinerja dipengaruhi
oleh dua faktor utama yaitu:

  1. Faktor tingkat kemampuan, yang terdiri dari pemahaman
    atas jenis pekerjaan dan keterampilan kerja.
  2. Faktor motivasi kerja, jika motivasi kerja rendah maka
    kinerja pegawai akan rendah, sebaliknya jika motivasi kerja
    tinggi maka kinerja pegawai akan maksimal.
    Menurut Mahmudi (2007:20) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang
    mempengaruhi kinerja adalah:
  3. Faktor personal/Individual
  4. Faktor kepemimpinan,
  5. Faktor tim,
  6. Faktor sistem dan,
  7. Faktor kontekstual (situsional)

Penilaian Kinerja Pegawai


Kinerja merupakan perwujudan kerja yang dilakukan oleh pegawai yang
biasanya dipergunakan sebagai dasar penelitian terhadap pegawai dan atau
suatu organisasi. Kinerja yang baik merupakan langkah menuju tercapainya
tujuan organisasi. Menurut Irawan (1997:188), penilaian kerja pegawai:
“Suatu cara dalam melakukan evaluasi terhadap prestasi
kerja pegawai dengan serangkaian tolak ukur tertentu yang
objektif dan berkaitan langsung dengan tugas seseorang serta
dilakukan secara berkala.”
Penilaian kinerja pada dasarnya merupakan kunci guna mengembangkan
suatu organisasi secara efektif dan efesien, karena adanya kebijakan atau
program yang lebih baik atas sumberdaya manusia yang ada dalam
organisasi. Penilaian kinerja sangat bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan
organisasi secara keseluruhan, melalui penilaian tersebut maka dapat
diketahui kondisi sebenarnya tentang bagaimana kinerja pegawai. Selain itu
Tulus (2006:127) menyebutkan, bahwa penilaian kerja adalah:
“Penilaian kinerja pegawai secara tradisional dipusatkan
pada karakteristik individual seseorang seperti intelegensia,
kemampuan mengambil keputusan, kreativitas dan
kemampuan bergaul dengan orang lain”.
Penilaian kinerja memungkinkan terjadinya komunikasi antara atasan
dengan bawahan untuk meningkatkan produktivitas serta untuk mengevaluasi
pengembangan apa saja yang dibutuhkan agar kinerja semakin meningkat.
Sinambela (2012:3) menyebutkan, bahwa penilain kinerja adalah:
“Penilaian kinerja adalah suatu metode untuk
membandingkan berbagai pekerjaan dengan menggunakan
prosedur-prosedur formal dan sistematis untuk menentukan
suatu urutan tingkat pekerjaan-pekerjaan itu melalui
penentuan kedudukan atau ratio satu pekerjaan
dibandingkan dengan pekerjaan yang lain”.

Tinjauan tentang Kinerja


Kinerja adalah suatu hal yang akan menjadi perhatian organisasi, baik di
sektor pemerintahan maupun sektor swasta setiap kegiatan yang dilakukan
organisasi akan bermuara pada pencapaian kinerja dan ini merupakan hal
yang sangat penting diperhatikan agar kinerja pegawai dan organisasi selalu
meningkat. Secara etimologis kinerja berasal dari Bahasa Inggris yaitu
performance yang berarti pertunjukan, daya guna, prestasi dan hasil. Menurut
Sinambela (2012:5), kinerja yaitu : “Kinerja adalah kemampuan pegawai
dalam melakukan sesuatu keahlian tertentu”.
Keberadaan dan eksistensi dalam suatu organisasi tergantung pada
kinerja pegawainya dalam melaksanakan tugasnya. Pencapaian tujuan
organisasi menjadi kurang berhasil manakala banyak pegawainya tidak
melaksanakan tugasnya dengan efektif sehingga kinerja tidak tercapai
sebagaimana mestinya dan hal ini akan menimbulkan pemborosan bagi
organisasi, oleh karena itu kinerja pegawai harus benar-benar diperhatikan.
Menurut Rivai dan Basri dikutip oleh Sinambela (2012:06),
menyebutkan, bahwa:
“Kinerja adalah hasil atu tingkat keberhasilan seseorang atau
kesluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan
tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti
standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang
telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati
bersama”.

Metode Motivasi


Metode-metode motivasi yang dikemukakan oleh para ahli menunjukkan
agar seorang pimpinan harus benar-benar memahami dan memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi, seperti kebutuhan-kebutuhan
individu dan kebutuhan organisasi di lingkungan kerja. Seorang pimpinan
telah benar-benar memahami hal tersebut, maka pimpinan itu siap
memberikan motivasi yang sesuai dengan tuntunan keadaan dan orang-orang
yang ada di dalamnya.
Teknik atau metode motivasi yang disebutkan para ahli dapat digunakan
oleh para pimpinan di dalam memotivasi para pegawainya. Keberhasilan
suatu metode motivasi yang digunakan akan tergantung pada kemampuan
pimpinan sebagai motivator dalam menyesuaikan metode motivasi yang
digunakan dengan aspek emosi dan kesesuaian dengan motif dominan
pegawainya. Menurut Hasibuan (2013:149), ada 2 (dua) metode motivasi,
yaitu:
1) Motivasi langsung (direct motivation)
Motivasi langsung adalah motivasi (materiil dan nonmaterial)
yang diberikan secara langsung kepada setiap individu
pegawai untuk memenuhi kebutuhan serta kepuasan.
2) Motivasi tidak langsung (indirect motivation)
Motivasi tak langsung adalah motivasi yang diberikan hanya
merupakan fasilitas-fasilitas yang mendukung serta menunjang
gairah/kelancaran tugas sehingga para pegawai betah dan
bersemangat melakukan pekerjaannya.

Dimensi Motivasi


Prinsip-prinsip motivasi merupakan hal-hal yang harus diterapkan oleh
pimpinan dalam memotivasi kerja pegawai agar dapat bekerja sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan. Mangkunegara (2001:100), menyebutkan
prinsip-prinsip dalam memotivasi kerja pegawai:

  1. Prinsip partisipasi, dalam upaya memotivasi kerja, pegawai
    perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi dalam
    menentukan tujuan yang akan dicapai oleh pemimpin.
  2. Prinsip komunikasi, Pemimpin mengkomunikasikan segala
    sesuatu yang berhubungan dengan usaha pencapaian tugas,
    dengan informasi yang jelas, pegawai akan lebih mudah
    dimotivasi kerjanya.
  3. Prinsip mengakui andil bawahan, mempunyai andil di dalam
    usaha pencapaian tujuan. Pengakuan tersebut, pegawai akan
    lebih mudah dimotivasi kerjanya.
  4. Prinsip pendelegasian wewenang, Pemimpin yang
    memberikan otoritas atau wewenang kepada pegawai bawahan
    untuk sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan terhadap
    pekerjaan yang dilakukannya, akan membuat pegawai yang
    bersangkutan menjadi temotivasi untuk mencapai tujuan yang
    diharapkan oleh pemimpin.
  5. Prinsip memberikan perhatian, pemimpin memberikan
    perhatian terhadap apa yang diinginkan pegawai bawahan,
    akan memotivasi pegawai bekerja apa yang diharapkan oleh
    pemimpin.

Jenis-Jenis Motivasi


Seorang pemimpin dalam memotivasi bawahan menggunakan jenis
motivasi yang berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang
dihadapi saat itu. Menurut Winardi (2004:5) menyebutkan, bahwa ada dua
jenis motivasi:
1) Motivasi Positif
Motivasi positif yang kadang-kadang dinamakan orang
motivasi yang mengurangi perasaan cemas” (anxiety reducing
motivation) atau “pendekatan wortel” (the carrot approach)
dimana orang ditawari sesuatu yang bernilai (misalnya imbalan
berupa uang, pujian, dan kemungkinan untuk menjadi pegawai
tetap) apabila kinerjanya memenuhi standar yang ditetapkan.
2) Motivasi Negatif
Motivasi negatif, yang seringkali dinamakan orang
“pendekatan tongkat pemukul” (the stick approach)
menggunakan ancaman hukuman (teguran-teguran, ancaman
akan di PHK, ancaman akan diturunkan pangkat, dan
sebagainya) andaikata kinerja orang yang bersangkutan
dibawah standar. Masing-masing tipe (motivasi) memiliki
tempatnya sendiri di dalam organisasi-organisasi, hal mana
tergantung dari situasi dan kondisi yang berkembang.

Tujuan Motivasi


Tujuan motivasi menurut Hasibuan (2013:146) antara lain, sebagai
berikut :

  1. Meningkatkan moral dan kepuasaan kerja pegawai;
  2. Meningkatkan produktivitas kerja pegawai;
  3. Meningkatkan kestabilan pegawai organisasi;
  4. Meningkatkan kedisplinan pegawai;
  5. Mengeefektifkan pengadaan pegawai;
  6. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik;
  7. Meningkatkan loyalitas, kreativitas, dan partisipasi
    pegawai;
  8. Meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai;
  9. Mempertinggi rasa tanggung jawab pegawai terhadap
    tugas-tugasnya;
  10. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan
    buku.

Pengertian Motivasi


Motivasi merupakan kegiatan yang penting yang mengakibatkan
menyalurkan dan memelihara perilaku pegawai. Motivasi merupakan subjek
yang penting bagi pimpinan karena pemimpin harus bekerja dengan melalui
orang lain.
Motivasi berasal dari kata motif seperti yang dikemukan oleh Effendy
(1986:23) “Motif adalah kondisi seseorang yang mendorong untuk
mencari suatu kepuasaan atau mencapai suatu tujuan”. Motif dapat juga
dikatakan daya gerak yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu.
Perasaan yang mendorong atau keinginan yang terkandung dalam diri
seseorang akan menimbulkan dorongan dan merangsang untuk melakukan
tindakan atau berbuat sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Sementara
menurut Moekijat (2001:09):
“Motif adalah suatu keadaan dari dalam yang member
kekuatan yang menggiatkan atau menggerakkan, karenanya
disebut “penggerakan atau “motivasi” dan yang
mengarahkan atau menyalurkan perilaku kearah tujuan”.
Motivasi menurut Barelson dan Stainer yang dikutip oleh Sinambela
(2012:123) menyebutkan, bahwa:
“Motivasi adalah keadaan kejiwaan dan sikap mental
manusia yang memberikan energi, mendorong kegiatan atau
gerakan dan mengarah atau menyalurkan perilaku ke arah
mencapai kebutuhan yang memberi kepuasan atau
mengurangi ketidak seimbangan”.

Tinjauan Teori Administrasi Negara


Administrasi negara merupakan administrasi pada negara sebagai suatu
organisasi moderen. Organisasi modern adalah organisasi yang ada anggaran
dasarnya atau konsitusinya dengan maksud dan tujuan yang jelas, juga adanya
struktur dan mekanisme serta rasional agar menghasilkan sesuatu yang dapat
diambil manfaatnya.
Istilah administrasi negara ialah terjemahan dari “public
administrations”. Istilah ini lahir bersamaan dengan lahirnya Lembaga
Administrasi Negara (LAN) pada sekitar tahun 1956. Istilah public
administration itu diuraikan secara etimologis, maka “public” berasal dari
Bahasa Latin “poplicus”yang semula dari kata “populus”atau “people”
dalam Bahasa Inggris yang berarti rakyat. “Administration” juga berasal dari
Bahasa Latin, yang terdiri dari kata “ad”, artinya intensif dan “ministrare”,
artinya melayani, jadi secara etimologis administrasi berarti melayani secara
intensif.
Pengertian administrasi negara untuk lebih jelasnya akan peneliti
sebutkan menurut para ahli yaitu :
Menurut Siagian (2008:2), menyebutkan pengertian administrasi:
“Administrasi adalah keseluruhan proses kerja sama antara
dua orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas
tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya”.
Menurut Budiardjo (2008:17), menyebutkan pengertian negara:
“Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang
memiliki kekuasaan tertinggi yang sah dan di taati oleh
rakyatnya.”
Menurut Siagian (2008:7), menyebutkan pengertian administrasi negara
sebagai berikut:
“Administrasi Negara adalah keseluruhan kegiatan yang
dilakukan oleh seluruh aparatur pemerintahan dari suatu
negara dalam usaha mencapai tujuan negara”.

Tinjauan Teori Administrasi


Administrasi muncul dan berkembang akibat adanya kebutuhan manusia
untuk bekerjasama guna mencapai tujuan yang tidak dapat dihasilkan secara
perorangan. Hal ini berkaitan dengan hakekat sifat manusia sehingga dengan
keterbatasannya mendorong manusia untuk bekerja demi mencapai tujuan
yang diinginkan. Menurut Silalahi (2012:5) administrasi secara sempit yaitu :
“Penyusunan dan pencatatan data dan informasi secara
sistematis dengan maksud untuk menyediakan keterangan
serta memudahkan memperoleh kembali secara keseluruhan
dan dalam hubungan satu sama lain”.
Administrasi merupakan kegiatan-kegiatan sekelompok orang melalui
proses kerjasama baik dalam suatu organisasi maupun antara organisasi untuk
mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan bersama sebelumnya hal ini
sesuai dengan pengertian administarasi secara luas menurut Silalahi
(2012:11) adalah
“Kegiatan kerjasama yang dilakukan sekelompok orang
berdasarkan pembagian kerja sebagian ditentukan dalam
struktur dengan mendayagunakan sumberdaya-sumberdaya
untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien”.

Pengertian Manajemen


Manajemen dan organisasi bukan merupakan tujuan, melainkan hanya
alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Karena tujuan yang ingin dicapai
adalah hasil kerja yang efektif. Manajemen dan organisasi berjalan dengan
optimal, maka tujuan dapat diwujudkan, pemborosan akan terhindari dan
semua potensi yang dimiliki akan lebih bermanfaat.
Manajemen menurut Siagian dikutip oleh Silalahi (2011:137),
menyebutkan:
“Manajemen dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau
keterampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka
pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain”.
Pengertian diatas, bahwa manajemen merupakan seni dan proses untuk
mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan dengan cara melakukan
perencanaan pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian dengan
memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber lain yang tersedia.
Selain itu menurut Sutarto dikutip oleh Silalhi (2011:137) manajemen,
yaitu :
“Manajemen sebagai rangkaian kegiatan penataan yang
berupa penggerakkan orang-orang dan pengarahan fasilitas
kerja agar tujuan kerja sama benar-benar tercapai”.

Pengertian Organisasi


Ilmu Organisasi merupakan bagian dari ilmu administrasi karena
organisasi merupakan salah satu unsur administrasi, jadi pembahasan
terhadap organisasi akan menimbulkan ilmu organisasi sebagai cabang dari
ilmu administrasi.
Pengertian organisasi menurut Hasibuan (2013:24) adalah “suatu sistem
perserikatan formal, berstruktur dan terkooordinasi dari kelompok orang yang
bekerjasama dalam mencapai tujuan tertentu”. Menurut Waldo dalam
bukunya Silalahi (2011:124), menyebutkan :
“Organisasi adalah struktur hubungan-hubungan diantara
orang-orang berdasarkan wewenang dan bersifat tetapdalam
suatu sistem administrasi”.
Pengertian organisasi juga disebutkan Weber dikutip oleh Silalahi
(2011:124), menyebutkan:
“Organisasi merupakan tata hubungan sosial, dimana setiap
individu yang melakukan kerjasama melakukan proses
interaksi dengan individu lainnya”.

Hubungan Antara Budaya Organisasi Dengan Kinerja Organisasi


Robbins menggambarkan bahwa budaya organisasi merupakan variabel campur
tangan. Para anggota organisasi membentuk persepsi subyektif keseluruhan
mengenai organisasi. Persepsi keseluruhan ini menjadi budaya atau kebudayaan
organisasi itu. Persepsi yang mendukung dan persepsi yang tidak mendukung itu,
kemudian mempengaruhi kinerja dan kepuasan karyawan

Unsur- Unsur Penilaian Pegawai


Menurut Hasibuan (2002: 56), kinerja pegawai dapat dikatakan baik atau
dapat dinilai dari beberapa hal, yaitu :
1) Kesetiaan
Kinerja dapat diukur dari kesetiaan pegawai terhadap tugas dan tanggung
jawabnya dalam organisasi. Kesetiaan adalah tekad dan kesanggupan,
menaati, melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan
penuh kesadaran dan tanggung jawab.
2) Prestasi Kerja
Hasil prestasi kerja pegawai, baik kualitas maupun kuantitas dapat
menjadi tolak ukur kinerja. Pada umumnya prestasi kerja seorang
pegawai dipengaruhi oleh kecakapan, keterampilan, pengalaman, dan
kesanggupan pegawai dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
3) Kedisiplinan
Sejauh mana pegawai dapat mematuhi peraturan -peraturan yang ada dan
melaksanakan intruksi yang diberikan kepadanya.
4) Kerjasama
Dalam hal ini kerjasama diukur dari kemampuan pegawai untuk bekerja
sama dengan pegawai lain dalam menyelesaikan suatu tugas yang
ditentukan, sehingga hasil pekerjaannya akan semakin baik.
5) Kecakapan
Dapat diukur dari tingkat pendidikan pegawai yang disesuaikan dengan
pekerjaan yang menjadi tugasnya.
6) Tanggung jawab
Yaitu kesanggupan seorang pegawai menyelesaikan pekerjaan yang
diserahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya
serta berani memikul resiko pekerjaan yang dilakukan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja


Menurut Anwar P. Mangkunegara (2001:72), terdapat dua faktor yang
mempengaruhi kinerja pegawai yaitu :
1) Faktor Individu.
Secara psikologis, individu yang normal adalah individu yang memiliki
integritas yang tinggi antara fungsi psikis (rohani) dan fisiknya
(jasmaniah). Dengan adanya integritas yang tinggi antara fungsi psikis dan
fisik maka individu tersebut memiliki konsentrasi diri yang baik.
Konsentrasi yang baik ini merupakan modal utama individu manusia
untuk mampu mengelola dan mendayagunakan potensi dirinya secara
optimal dalam melaksanakan kegiatan atau aktivitas kerja sehari-hari
dalam mencapai tujuan organisasi.
2) Faktor Lingkungan Organisasi.
Faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu dalam
mencapai kinerja. Faktor lingkungan organisasi yang dimaksud antara lain
uraian jabatan yang jelas, otoritas yang memadai, target kerja yang
menantang, pola komunikasi yang efektif, hubungan kerja yang harmonis,
iklim kerja yang respek dan dinamis, peluang berkarir dan fasilitas kerja
yang relatif memadai.
Menurut Mathis dan Jakson dalam Mangkunegara (2001:81), Faktorfaktor yang mempengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu:
a) Kemampuan mereka
b) Motivasi
c) Dukungan yang diterima
d) Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan
e) Hubungan mereka dengan organisasi.