Brand Campaign (skripsi dan tesis)
Strategi Merek/ Brand strategies (skripsi dan tesis)
Jenis-Jenis dan Macam-Macam Merek (skripsi dan tesis)
Merek/ Brand (skripsi dan tesis)
Corporate Identity (skripsi dan tesis)
Definisi Logo (skripsi dan tesis)
Respresentasi (skripsi dan tesis)
Citra (skripsi dan tesis)
Tujuan Public Relations (skripsi dan tesis)
Fungsi Public Relations (skripsi dan tesis)
Komunikasi Non Verbal (skripsi dan tesis)
Unsur-Unsur Komunikasi (skripsi dan tesis)
Pengertian Komunikasi (skripsi dan tesis)
Instagram (skripsi dan tesis)
New Media (skripsi dan tesis)
Pertumbuhan Media Sosial (skripsi dan tesis)
Perkembangan Media Social (skripsi dan tesis)
Ciri Ciri Media Sosial (skripsi dan tesis)
Media Sosial (skripsi dan tesis)
Public Relations dan Media (skripsi dan tesis)
Tujuan Public Relations (skripsi dan tesis)
Tugas dan Fungsi Public Relations (skripsi dan tesis)
Tugas dan Fungsi Public Relations (skripsi dan tesis)
Pengertian Public Relations (skripsi dan tesis)
Tidak bisa dipungkiri zaman sekarang ini public relations masih sering diperdebatkan oleh para ahli tentang definisi yang pasti. Ketidakpastian tersebut dikarenakan banyaknya definisi public relations yang dirumuskan oleh para ahli maupun profesional public relations atau humas yang berdasarkan perbedaan sudut pandang mereka terhadap pengertian humas atau public relations tersebut. Selanjutnya perbedaan latar belakang misalnya definisi yang dilontarkan oleh kalangan praktisi (public relations practicioner). Adanya indikasi baik teoritis maupun praktis bahwa kegiatan public relations atau kehumasan bersifat dinamis dan fleksibel terhadap perkembangan dinamika kehidupan masyarakat yang mengikuti kemajuan zaman, khususnya memasuki era globalisasi saat ini. Memahami pengertian public relations melalui salah satu atau dua definisi tidaklah mudah, karena semua definisi yang ada mungkin tidak mampu menggambarkan kegiatan public relations sesungguhnya. Akan tetapi, jika diperhatikan lebih jauh sejumlah definisi mempunyai persamaan satu sama lain hanya cara pengungkapannya saja yang berbeda.
Sifat-Sifat komunikasi (skripsi dan tesis)
Sifat-sifat komuniksi menurut Effendy dalam bukunya yang berjudul Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek adalah sebagai berikut:
Unsur-Unsur Komunikasi (skripsi dan tesis)
Pengertian Komunikasi (skripsi dan tesis)
Pengaruh eWOM, Citra Merek Terhadap Niat Beli (skripsi dan tesis)
Di dalam penelitian terdahulu dijelaskan bahwa citra merek dipengaruhi secara kuat oleh electronic Word-Of-Mouth yang kemudian sebagai hasilnya akan mempengaruhi konsumen untuk membeli (Mohammad Reza, Neda Samiei 2012 : 461). Tujuan dari penelitan tersebut adalah untuk mengetahui pengaruh secara langsung electronic Word-Of-Mouth terhadap niat beli konsumen dan pengaruh secara langsung terhadap citra merek yang juga akan mempengaruhi niat beli konsumen. Atribut adalah fitur deskriptif yang menjadi ciri dari sebua merek, seperti apa yang konsumen pikirkan mengenai merek tersebut dan apa yang terlibat dengan pembelian (Mohammad Reza dan Neda Samiei, 2012). Bian dan Moutinho dalam Reza (2012) menguji citra merek, efek langsung dan tidak langsung (efek mediator dan moderator) keterlibatan produk dan pengetahuan produk terhadap niat beli produk barang tiruan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa citra merek sebagai mediasi yang mempengaruhi keterlibatan atau pengetahuan tentang produk pada niat konsumen untuk membeli.
Niat Beli (skripsi dan tesis)
Sebelum melakukan proses keputusan untuk membeli, seorang konsumen melalui proses niat untuk membeli. Beberapa faktor yang membentuk niat beli dan keputusan pembelian menurut Kotler dan Keller (2009:189) yaitu :
1. Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu, sikap negatif orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain.
2. Faktor situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat mengubah pendirian konsumen. Hal tersebut dari pemikiran konsumen sendiri, apakah dia percaya diri dalam memutuskan akan membeli suatu barang atau tidak.
Menurut Tatik Suryani (2008 : 16) menyatakan bahwa pengambilan keputusan ada tiga tahapan proses yang dilakukan yaitu tahap pengakuan adanya kebutuhan (konsumen merasakan adanya kebutuhan), usaha pencarian informasi sebelum membeli dan penilaian terhadap alternatif
Citra Merek (skripsi dan tesis)
Brand merupakan serangkaian asosiasi yang dipersepsikan oleh individu sepanjang waktu, sebagai hasil pengalaman langsung maupun tidak langsung atas sebuah brand tertentu. Brand adalah segala hal yang digambarkan oleh persepsi dan perasaan konsumen mengenai produk dan kinerjanya dan segala hal lainnya yang berarti konsumen (Kotler, Armstrong, 2012:243). Sejumlah teknik kualitatif dan kuantitatif telah dikembangkan untuk membantu mengungkapkan persepsi dan asosiasi konsumen terhadap brand tertentu. Membicarakan citra/image, maka biasanya bisa menyangkut image produk, perusahaan, brand, orang atau apapun yang berada dalam benak seseorang. Menurut Zimmer dan Golden dalam Simamora (2004) mengukur image ada dua kesulitan, pertama adalah konseptualisasi image, Image adalah konsep yang mudah dimengerti tetapi sulit dijelaskan secara sistematis karena sifatnya abstrak dan yang kedua adalah kesulitan dalam pengukuran.
Dalam Simamora (2004) dijelaskan bahwa ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam mengukur image. Pertama adalah merefleksikan image di benak konsumen menurut mereka sendiri. Pendekatan ini disebut pendekatan tidak terstruktur (unstructured approach) karena memang konsumen bebas menjelaskan image suatu objek dibenak mereka.
Cara yang kedua adalah peneliti menyajikan dimensi yang jelas, kemudian responden merespon terhadap dimensi-dimensi yang ditanyakan itu. Ini disebut pendekatan testruktur (structured approach). Bagaimana Brand Image terbentuk pada konsumen? Menurut Simamora (2004) Brand Image merupakan intepretasi akumulasi berbagi informasi yang diterima kosnumen. Jadi yang mengitepretasikan adalah konsumen, dan yang diintepretasikan adalah informasi. Hasil intepretasi bergantung pada dua hal. Pertama bagaimana konsumen melakukan intepretasi dan kedua informasi yang diintepretasi. Perusahaan tidak sepenuhnya dapat mengontrol kedua faktor ini. Karena faktor “Bagaimana konsumen melakukan intepretasi” dipengaruhi oleh aspek konsumen sendiri dan lingkungan. Brand Image penting untuk diketahui karena Brand Image dibentuk melalui kepuasan konsumen. Penjualan dengan sendirinya diperoleh melalui kepuasan konsumen, sebab konsumen yang puas selain akan membeli lagi, juga akan membawa calon pembeli lainnya. Komunikasi pemasaran, iklan dan promosi mempunyai peran penting dalam pembangunan Brand Image. Hal ini disebabkan karena kegiatan ini mempunyai target audience luas sehingga dalam waktu relatif singkat pesan yang ingin disampaikan tentang barang lebih cepat sampai.
Ada banyak kegiatan lain yang juga berdampak besar. Contohnya :
1. Desain kemasan, termasuk isi tulisan/pesan yang disampaikan
2. Event, promosi di toko, promosi di tempat umum dan kegiatan below the line lainnya.
3. Iklan tidak langsung yaitu bersifat public relations
4. Corporate Social Responsibility (CSR) yaitu kegiatan-kegiatan sosial untuk komunitas yang dilakukan oleh perusahaan.
5. Customer Service, bagaimana perusahaan menangani keluhan, masukan dari konsumen setelah terjadi transaksi.
6. Bagaimana karyawan yang kerja di lini depan/front lines (apakah itu bagian penjualan, kasir dan resepsionis, dll) bersikap dalam menghadapi pelanggan, dll.
Jenis tipe komunikasi dalam daftar diatas adalah kegiatan-kegiatan yang baik buruknya tergantung dari kegiatan perusahaan, semuanya dapat dikontrol atau dikendalikan. Komplikasi justru akan muncul dari kegiatan-kegiatan komunikasi seputar brand oleh pihak lain yang tidak bisa dikontrol oleh perusahaam, misalnya komunikasi oleh konsumen langsung. Mereka bisa menyebarkan pada networknya dengan berita yang kurang menyenangkan yang mereka alami pada saat berinteraksi dengan brand. Menurut Kotler dan Keller (2009 : 403) Citra merek (brand image) adalah persepsi dan keyakinan yang dipegang oleh konsumen seperti yang dicerminkan dalam asosiasi yang tertanam dalam ingatan konsumen. Sebuah biro riset (www.benchmarkreseach.co.uk) dalam Erna Ferrinadewi (2008) berpendapat bahwa konsep brand image, terdapat 3 komponen penting yaitu 1. Brand Brand Association: merupakan tindakan konsumen untuk membuat asosiasi berdasarkan pengetahuan mereka akan merek baik itu pengetahuan yang sifatnya factual maupun yang bersumber dari pengalaman dan emosi. 2. Brand Values: tindakan konsumen dalam memilih merek. Sering kali tindakan konsumen ini lebih karena persepsi mereka pada karakteristik merek dikaitkan dengan nilai-nilai yang mereka yakini. 3. Brand Positioning: merupakan persepsi konsumen akan kualitas merek yang nantinya persepsi ini akan digunakan oleh konsumen dalam evaluasi alternatif merek yang akan dipilih. Association, Brand Values dan Brand Positioning. Word of Mouth Communication adalah salah satu jenis komunikasi yang sangat efektif dan berbahaya apabila itu menyangkut publisitas buruk.
Dalam komunikasi pemasaran, iklan dan promosi mempunyai target audience yang luas, sehingga dalam waktu relatif singkat pesan yang ingin disampaikan tentang brand lebih cepat sampai. Jadi pada dasarnya perusahaan perlu memperhatikan semua elemen komunikasi dalam bentuk apapun yang menghubungkan konsumen dengan brand perusahaan. Minimalkan kemungkinan terjadinya ketidapuasan konsumen, sehingga berita seputar brand bisa selalu merupakan berita baik Menurut Tatik Suryani (2013 : 86) citra merek umumnya didefinisikan segala hal yang terkait dengan merek yang ada di benak ingatan konsumen. Citra merek yang merupakan persepsi konsumen terhadap merek secara menyeluruh ini dibentuk oleh informasi yang diterima dan pengalaman konsumen atas merek tersebut. Setiap perusahaan akan membangun citra merek produk yang dipasarkan untuk mendapatkan tempat di hati konsumennya agar selalu mengingat produknya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mohammad Reza Jalilvand (2012), citra merek dapat diukur melalui tiga indikator, yaitu:
(1) Kualitas produk,
(2) sejarah merek,
(3) tampilan produk.
Penyampaian komunikasi yang berbeda mempunyai kekuatan dan juga pandangan akan suatu tujuan yang berbeda. Pengembangan Brand Image penting agar komunikasi yang disampaikan kepada calon pembeli dapat sejajar dengan maksud dan tujuan dari produsen. Pengembangan Brand Image dapat membentuk kesan tersendiri. Beberapa kesan yang terbentuk dari sudut pandang konsumen akan mempengaruhi mereka tentang bagaimana cara mereka memandang merek tersebut, kemudian masuk kedalam ciri dan kepribadian yang khas sehingga terbentuklah citra terhadap suatu merek. Dalam pengembangan image atau kesan terhadap suatu brand, terhadap ciri dan kepribadian yang khas yang harus diutamakan. Dibutuhkan beberapa perubahan seperti program pemasaran dengan meningkatkan kekuatan dan keunikan dari suatu merek yang akan meningkatkan brand image tersebut. Selain itu juga mempertahankan image positif dari merek tersebut juga dapat menetralisir image negatif yang terbentuk dari suatu brand. Pengembangan image tersebut dapat berupa promosi ulang produk-produk yang ditawarkan untuk dapat menimbulkan familiaritas brand atau dengan menciptakan suatu promosi seperti promosi dari mulut ke mulut, salah satunya melalui pelanggan yang telah mendapatkan pengalaman positif dari merek tersebut atau melalui pelanggan yang telah loyal terhadap brand tersebut. Lebih jauh lagi dibutuhkan usaha untuk membangun pengalaman positif yang lebih sering dan lebih banyak
Merek (skripsi dan tesis)
Merek merupakan asset yang paling berharga bagi perusahaan untuk dapat bersaing, karena merek berkontribusi terhadap kesuksesan sebuah organisasi pemasaran, baik organisasi bisnis maupun nirlaba, pemanufakturan maupun penyedia jasa, dan organisasi lokal, regional maupun global (Fandi Tjiptono, 2011:3). Era globalisasi saat ini, perang merek semakin bergejolak, hal tersebut terlihat dengan munculnya produk-produk baru berbagai macam merek. Menurut American Marketing Association mendefinisikan (brand) dalam Kotler dan Keller (2009:258) adalah sebagai istilah, tanda, symbol, desain atau kombinasi dari semuanya yang dimaksudkan untuk mendefinisikan barang atau jasa dari satu penjual atau sekelompok penjual dan untuk mendefinisikan mereka dari barang atau barang atau jasa pesaing. Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2009:258) merek adalah suatu produk atau jasa yang dimensinya mendiferensiasikan merek tersebut dengan cara dari produk atau jasa lainnya yang dirancang untuk memuaskan kebutuhan yang sama.
Beberapa faktor pentingnya merek bagi konsumen maupun bagi perusahaan, diantaranya :
1. Merek mampu stabil emosional para konsumen yang menggunakan produk tersebut.
2. Merek mampu menembus pagar budaya sehingga dapat diterima diberbagai belahan dunia.
3. Merek mampu menciptakan interaksi dengan konsumen sehingga mampu masuk dibenak konsumen dalam menentukan keputusan pembelian.
4. Merek sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen, bahkan merek mampu merubah perilaku konsumen atau gaya hidup konsumen.
5. Merek memudahkan proses pengambilan keputusan pepmbelian , dengan merek konsumen dapat membedakan produk yang akan dibelinya dengan produk lain sehubungan kualitas, kepuasan, kebanggan, ataupun yang lain yang melekat pada merek.
6. Merek yang berkembangan akan menjadi asset tersendiri bagi perusahaan yang berkaitan.
Banyak sekali perusahaan dan para pemasaran yang semakin menyadari akan aplikasi, keuntungan dan kekautan dari pengorganisasian merek yang baik. Bahkan Kotler dan Keller (2009:403) mengatakan bahwa : “Mungkin sekarang skill ini yang paling diperlukan dan dituntut dari seorang pemasar professional adalah kemampuan mereka dalam menciptakan, memelihara, menjaga, dan meningkatkan nilai dari merek”. Masih dalam bukunya, Kotler mendefinisikan merek sebagai nama, istilah, tanda, simbol, desain atau kombinasi semuanya ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari seorang penjual dan untuk membedakannya dengan produk atau jasa pesaing. (Kotler dan Keller, 2009:403). Menurut Tjiptono (2011:10) merek memiliki elemen atau identitas, baik yang bersifat tangible maupun intangible. Secara garis besar, elemen tersebut bisa dijabarkan menjadi nama merek (brand name), URL (Uniform Resources Locators), logo, simbol,karakter, juru bicara, slogan, jingles, dan kemasan.
Perbedaan Electronic Word-Of-Mouth dan Word-Of-Mouth (skripsi dan tesis)
eWOM berbeda dengan WOM tradisional dalam banyak hal :
1. `Komunikasi eWOM melibatkan multi-way exchange information dalam mode asynchronous (Henning-Thurau, 2004) dan ndengan berbagai macam teknologi seperti forum diskusi online, electronic bulletin boards, newsgroup, blogs, review site, dan social networking mampu memfasilitasi pertukaran informasi diantara komunikator.
2. Komunikasi eWOM lebih mudah diakses dan tersedia terus menerus daripada tradisional WOM karena pesan yang disajikan berbasis text sehingga secara teori pesan tersedia untuk waktu yang tidak terbatas (C. Park, T. lee, 2009)
3. Komunikasi eWOM mudah untuk diukur daripada tradisional WOM. Dengan format presentasi, kuantitas, and persisant dari eWOM membuat pesan eWOM lebih mudah untuk diamati.
4. Terahkir dalam eWOM sang penerima pesan memiliki halangan dalam menilai apakah pengirim pesan dan pesan yang diberikan dapat dipercaya atau memiliki kredibilitas pesan yang tinggi. Karena dalam lingkungan online, orang-orang hanya dalat menilai kredibilitas seorang komunikator berdasarkan sistem reputasi online seperti online rating, atau website credibility.
Perbedaaan antara WOM dan eWOM dapat dibedakan berdasarkan pada media yagn digunakan ; penggunaan WOM tradisional biasanya bersifat face-toface. Sedangkan penggunaan eWOM biasanya bersifat secara online melalui cyberspace. Seiring berkembangnya kemajuan teknologi, tempat fisik dimana Word-Of-Mouth terjadi telah berubah dari face-to-face menjadi cyberspace. Perubahan medium mampu menjelaskan perbedaan antara WOM dan eWOM. Aksebilitas tinggi eWOM dapat mencapai jutaan orang, dapat dilakukan untuk jangka waktu yang panjang, dan dapat ditemukan oleh siapa saja yang tertarik pada produk tertentu atau perusahaan. Selain itu, karakterisitik khas dari eWOM adalah dapat memungkinkan pengguna web untuk mengembangkan hubungan virtual dan community
Electronic Word-Of-Mouth (skripsi dan tesis)
Elektronik Word-Of-Mouth adalah komunikasi pernyataan positif atau negatif, melalui potensial,aktual, atau mantan pelanggan tentang produk atau perusahaan, yang dibuat bagi banyak orang dan lembaga melalui internet (Henning-Thurau, Gwinner, Walsh, dan Gremler, 2004 dalam Won Pan Pan 2012). Elektronik word of mouth adalah perluasan dari komunikasi word of mouth dari lingkungan offline lingkungan online. Banyak literature mengeksplorasi WOM dalam jangka pengirim dan penerima kadang- kadang mengacu pada kepemimpinan pendapat dan pencari pendapat perspektif (Sun, Youn, Wu, dan Kuantaraporn, 2009).. WOM adalah proses menyampaikan informasi dari orang ke-orang dan memainkan peran utama dalam keputusan pembelian pelanggan (Bernard J. Jensen et. Al, 2009). Selain itu, dalam kondisi komersial, WOM melibatkan pelanggan untuk berbagi sikap, opini, atau reaksi tentang bisnis, produk, atau jasa dengan orang lain. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa orang tampaknya lebih tertarik pada pendapat orang di luar social network yang mereka miliki, misalnya seperti online reviews (Duana, Gub, dan Whinston, 2008). Bentuk ini ini dikenal sebagai online Word-Of-Mouth atau electronic Word-Of-Mouth. Dalam penelitiannya, (Bernard J. Jansen et. Al, 2009) juga menyebutkan bahwa meskipun mirip dengan bentuk WOM sebelumnya, eWOM menawarkan berbagai cara untuk bertukar informasi, banyak juga diantrannya berupa anonim 16 ataui secara rahasia, hal ini dilakukan untuk memberikan kebebasan geografis, dan temporal. Dengan demikian, eWOM dipandang semakin penting oleh bisnis dan organisasi yang bersangkutan dengan manajemen reputasi. Perusahaan dan organisasi lainnya yang bergulat dengan bagaimana merek eWOM akan mempengaruhi proses yang ada, seperti merek dagang (Goldman, 2008).
Word-Of-Mouth Marketing Association (WOMMA, 2012) mendefinisikan Word-Of-Mouth Marketing: “memberikan alasan orang untuk berbicara tentang produk dan jasa anda, dan membuatnya lebih mudah untuk komunikasi yang sedang berlangsung. Ini adalah seni dan ilmu aktif membangun, menguntungkan konsumen-ke-konsumen dan komunikasi konsumen-ke-pemasar”. Greg Nyilasyi dalam (Surya Sutriyono, 2008) menyatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang senang sekali membagi pengalamannya terhadap sesuatu. Misalnya , membicarakan restoran atau produk yang dibeli kemudian merekomendasikannya kepada orang lain. Jika pengalaman tersebut positif maka rekomendasi tersebut akan menjadi bola salju yang menghsilkan kesuksesan terhadap produk tersebut, sebaliknya jika pengalaman tersebut negatif maka bias menghasilkan kehancuran bagi produk dan merek tersebut. Tiga tahapan WOM adalah TAPS (Talking, Promoting, Selling) (Sumardi, 2009): 1. Membicarakan adalah tahapan dimana seorang konsumen membicarakan sebuah produk atau merek kepada konsumen lain, 2. Mempromisikan ketika seorang konsumen bukan hanya sekedar membicarakan merek/produk tapi juga bersedia untuk mempromosikannya kepada konsumen lain. 3. Menjual adalah tahapan dimana seorang konsumen mau untuk menjualkan merek/produk tersebut kepada orang lain. 17 menurut Sernovitz (2006) Word-Of-Mouth begitu efektif karena asal kepercayaan adalah datang dari orang yang tidak mendapatkan keuntungan dari rekomendasi mereka. Word-Of-Mouth adalah merupakan tipe komunikasi interpersonal yang mempengaruhi keputusan pemasaran (Henning-Thurau et al, 2004). (Arnaud De Bruyn dan Gary L. Lilien, 2011) menyebutkan bahwa WordOf-Mouth yang menyebar dengan cepat dapat menyebabkan terjadinya viral marketing. Konsep viral marketing ini menunjukkan bahwa pemasar dapat memanfaatkan kekuatan jaringan interpersonal untuk mempromosikan produk atau jasa. Konsep ini mengansumsikan bahwa, elektronik peer-to-peer komunikasi merupakan sarana efektif untuk mengubah jaringan komunikasi (elektronik) ke jaringan yang berpengaruh, menangkap perhatian penerima, memicu ketertarikan, dan akhirnya menimbulkan adopsi atau penjualan. Selain itu, untuk lebih memahami mengapa dan bagaimana viral marketing bisa efektif, kita harus memahami proses dan mekanisme yang mendasar pengaruhnya. Dengan adanya internet terciptalah sebuah paradigma baru dalam komunikasi Word-Of-Mouth dan inilah awal permunculan dari istilah electronic Word-Of-Mouth. eWom sekarang ini dianggap sebagai evolusi dari komunikasi tradisional interpersonal menuju generasi baru dari cyberspace. Dengan kemajuanh teknologi semakin banyak trend konsumen untuk sibuk mencari informasi yang dibutuhkan mengenai suatu produk sebelum mereka melakukan suatu pembelian seperti melalui OpenRice.com (review sharing platform), 18 TokoBagus (Online Shop), maupun Kaskus (Online Community) dan ini mengahasilkan aktivitas eWOM. Menurut arwieda (2011) dalam media promosi yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian salah satunya ialah online Word-Of-Mouth dengan mengatakan bahwa Word-Of-Mouth komunikasi interpersonal antara dua bahkan lebih individu seperti anggota kelompok referensi atau konsumen dan tenaga penjual dimana semua orang mempunyai pengaruh atas pembelian terus menerus melalui suatu komunikasi sedangkan Word-Of-Mouth online adalah proses WordOf-Mouth dengan menggunakan media internet atau web. Jadi dengan aktivitas dalam eWom, konsumen akan mendapatkan tingkat trasnparansi pasar yang tinggi dengan kata lain konsumen memiliki peran aktif yang lebih tinggi dalam siklus value chain sehingga mampu mempengaruhi produk dan harga berdasarkan preferensi individu (Park dan Kim, 2008).
Penerimaan Informasi eWOM (skripsi dan tesis)
Dalam studi Song et al (2012) , menemukan bahwa sifat informatif, karakteristik individu, dan karakteristik jaringan menjadi faktor yang signifikan mempengaruhi penerimaan informasi secara verbal dalam dunia fashion. Sifat informatif terdiri dari kegunaan informasi, menarik, dan keandalan. Karakteristik individual terdiri dari kebutuhan untuk diakui, inovasi, dan umur. Karakteristik jaringna terdiri dari keterhubungan dan kekuatan. Fan dan Miao (2012) menemukan bahwa faktor sosial, atribut personal, dan faktor budaya akan mempengaruhi penerimaan terhadap eWOM. Faktor sosial dalam eWOM bisa ditemui dalam kumunitas virtual seperti ulasan konsumen, blog, forum dan social network. Atribut personal berkaitan dengan keahlian dan keterlibatan konsumen. Faktor gender dimasukkan dalam faktor budaya oleh Fan dan Miao. Fan dan Miao menemukan bahwa penerimaan eWOM secara signifikan mempengaruhi keinginan pembelian oleh konsumen. Huang et al (2009) menemukan bahwa penerimaan terhadap informasi akan berpengaruh terhadap niat orang dalam mengirimkan ulang informasi tersebut. Penerimaan terhadap informasi ini ternyata tidak dipengaruhi oleh keterlibatan produk (product involvement)
Dimensi Informasi dalam EWOM (skripsi dan tesis)
Menurut Huang (2009) ada empat dimensi informasi EWOM yang berpengaruh terhadap penerimaan informasi. Empat dimensi tersebut adalah kualitas informasi, otoritas sumber informasi (autority of information) , keautentikan informasi dan seberapa menarik suatu informasi. Penerimaan informasi ini pada akhirnya akan mempengaruhi keinginan orang untuk mengirimkan ulang pesan. Dalam komunikasi , semakin banyak pesan yang dikirimkan ulang menandakan WOM yang terjadi semakin baik.
.1 Kualitas
Menurut Gelle & Karhu (2003), kualitas memerlukan kecocokan dalam keperluan dan memenuhi kebutuhan konsumen. Hal ini berarti informasi yang berkualitas harus bebas dari kesalahan dan memiliki desain yang cocok untuk konsumen. Data yang berkualitas juga terbebas dari kecacatan, seperti susah diakses, tidak akurat , kadaluarsa, tidak konsisten, tidak lengkap serta tidak komperhensif. Gustavsson & Wänström (2008) mengartikan kualitas sebagai kemampuan untuk memuaskan dan menyiratkan kebutuhan informasi konsumen. Dia juga menyebutkan bahwa ada sepuluh dimensi untuk mendefinisikan defisiensi kualitas informasi, yaitu lengkap, ringkas, reliabel, timely valid, mudah diakses, jumlah yang pas, kredibel, relevan dan bisa dipahami. Rieh (2002) membagi pengertian mengenai kualitas informasi ke dalam dua tingkatan, yaitu tingkat konseptual dan tingkat operasional. Pada tingkat konseptual , kualitas informasi didefinisikan sebagai kriteria pengguna yang berkaitan dengan keunggulan atau dalam kasus lainnya sebagai pemberian label yang sesungguhnya. Pada tingkat operasional, Rieh mendefinisikan sebagai seberapa informasi tersebut akan dianggap berguna, bagus, kekinian dan akurat .
2 Autentik
Dalam kajian oleh Llicic & Webster (2014) , “autentik” secara umum diartikan sebagai sesuatu yang sejati, nyata, dan benar. Keautentikan bukan merupakan atribut yang melekat pada objek. Autentik merupakan interpretasi atau taksiran oleh evaluator. Dalam studi yang dilakukan Huang et al (2009), mengemukakan bahwa keautentikan informasi digunakan untuk mengevaluasi apa yang dikatakan dan bagaimana hal tersebut disampaikan. Lebih lanjut, Huang (2009) mengemukakan bahwa ada tiga hal yang berkaitan mengeneai keautentikan yaitu kredibilitas, kepercayaan dan keandalan infomasi.. Sebuah ulasan dalam website atau blog termasuk dalam eWOM. Dalam penelitian yang dilakukan Banerjee & Chua (2014), menemukan beberapa perbedaan antara ulasan online yang autentik dan palsu.. Perbedaan- perbedaan yang muncul dilihat dari tingkat komprehensif, informatif, dan jenis tulisan.Dilihat dari segi komprehensif, ulasan yang autentik lebih cenderung berteletele (verbose) namun mudah dibaca (readable) dibanding ulasan manipulatif. Ulasan autentik secara umum lebih informatif. Ulasan yang autentik cenderung memiliki lebih sedikit isyarat visual dan sentuhan. Kalimat yang digunakan juga lebih banyak menggunakan present tense. Tanda tanya lebih banyak digunakan dan tanda seruan lebih sedikit digunakan pada ulasan autentik.
Sub- Dimensi Tekstual Perbedaan antara ulasan autentik dan manipulati
.3 Otoritas
Wilson (1983) dalam Rieh (2002) mengartikan otoritas kognitif sebagai pengaruh yang dirasa pengguna sebagai sesuatu yang wajar karena informasi yang ada dianggap kredibel dan layak untuk di percaya. Rieh (2002) kemudian memberikan definisi operasional atas otoritas kognitif sebagai jangkauan di mana pengguna berpikir bahwa pengguna bisa mempercayai informasi. Informasi tersebut dapat dipercaya, kredibel, dapat diandalkan, resmi dan ilmiah. Huang et al (2009) kemudiaan membagi definisi operasional dari Rieh (2002) menjadi dua bagian, yaitu keautentikan (kredibilitas, kepercayaan dan keandalan) dan otoristas (amatiran, resmi atau ilmiah). Pembagian oleh Huang et al (2009) ini didasarkan oleh pernyataan Mitra dan Watts (2002) , yaitu suara online merepresentasikan tiga aspek komunikasi: “siapa yang berbicara”, “ apa yang dibicarakan”, dan “bagaimana hal itu disampaikan”. Amatiran, resmi atau ilmiah berfokus pada sumber/ siapa yang menyampaikan informasi, sehingga masuk dalam otoritas sumber informasi. Fritch & Cromwell (2001) dalam studinya mengungkapkan bahwa banyak orang gagal dalam mengevaluasi informasi dari internet. Hal ini disebabkan adanya kekurangan pengertian mengenai isu- isu disekitarnya dan otoritasnya. Kegagalan dalam mengevaluasi informasi ini berarti bahwa informasi yang belum pasti (questionable) digunakan sembarangan tanpa penilaian yang cukup dari pihak yang berwewenang (authority) . Informasi yang bagus diabaikan karena kurangnya kepercayaan pada informasi tersebut.
.4 Kemenarikan informasi
Kemenarikan informasi penting dalam bahasan kita. Informasi yang menarik akan menarik resender untuk membaca dan menyebarkannya dalam dunia online (Rieh, 2002). Tingkat kemenarikan informasi berkaitan dengan seberapa menarik, lucu atau membosankan informasi tersebut disampaikan. Garner et al (1991) dalam Matook et al (2013) menemukan bahwa individu lebih sedikit mengingat teks yang kurang menarik dibandingkan dengan teks yang menarik jika dihadapkan dalam data yang banyak. Ini menunjukkan bahwa informasi yang menarik lebih diterima dari pada yang tidak menarik. Andree et al (2012) dalam Matook et al (2013) juga berpendapat bahwa posting yang tidak menarik tidak mempengaruhi individu dalam pemilihan konsumsinya. Posting yang tidak menarik menawarkan lebih sedikit nilai kepada pengguna. Matook et al (2013) dalam studinya menemukan bahwa dalam jaringan sosial online (online social network -OSN) , pengguna sensitif terhadap posting yang bagi mereka menarik. Menurut Anderson et al (1984) dalam Holmes et al (2007) memaparkan bahwa kemenarikan merupakan faktor kritis yang akan meningkatkan waktu membaca seseorang. Hasil penelitian Powel et al (2007) sendiri menemukan bahwa kemenarikan akan meningkatkan perhatian seseorang untuk membaca, namun kemenarikan tidak meningkatkan pembelajaran.
Model Aliran Informasi WOM (skripsi dan tesis)
Aliran informasi dalam WOM dimulai dari kampanye pemasaran. Kampanye pemasaran akan menjadi sumber informasi WOM. Konsumen awal yang merasakan kampanye pemasaran ini akan menyebarkan ke orang lain. Penerima awal ini disebut sebagai opini pemimpin (Huang et al, 2009). Penerima informasi dari opini pemimpin dapat dibagi dua, resender dan murni penerima. Murni penerima adalah jenis orang yang hanya mencari data yang dia butuhkan, namun tidak menyampaikan informasi tersebut kepada pihak lain. Dia menggunakan informasinya tersebut untuk kepentingannya sendiri tanpa niat merekomendasikan ke orang lain. Resender sendiri lebih kepada penerima informasi dan kemudian menyalurkan informasi tersebut ke pihak lainnya (Huang et al, 2009).
Dalam aliran informasi tersebut, ripple effect yang bekerja untuk memperbanyak jumlah penerima informasi. Huang (2009) mengatakakan bahwa terdapat dua cara untuk memperlebar ripple effect. Yang pertama dengan menyebarkan suatu informasi WOM dari satu orang ke banyak orang sekaligus. Cara pertama ini akan melebarkan rantai WOM. Cara kedua akan memperpanjang rantai WOM. Efek ripple ini menjadi alasan utama penggunaan WOM. Para ahli telah membuktikan secara teori dan empiris bahwa WOM akan mempengaruhi perilaku seseorang dan meningkatkan efektivitas iklan. Oleh karena itu, ripple effect menyebabkan peningkatan return on investment (Mayzlin, 2006; Hogan et al, 2004 dalam Huang et al, 2009).
EWOM (skripsi dan tesis)
EWOM adalah pernyataan positif maupun negatif mengenai produk (barang dan jasa) yang dibuat oleh pelanggan potensial saat ini maupun mantan pelanggan yang tersedia bagi banyak orang dan institusi atau lembaga melalui internet (Hennig- Thurau et al, 2004 dalam Huang et al, 2009). Jadi, alat penyebaran dalam EWOM adalah internet. Penyebaran lain yang bukan melalui internet disebut dengan WOM-offline (yang seterusnya akan disebut WOM saja). Boyd et al (2010) melakukan penelitian mengenai alasan orang menggunakan media sosial Twitter dan alasan mereka melakukan tweet dan retweet. Kedua hal tersebut yang menjadi sarana orang dalam melakukan WOM melalui media sosial Twitter. Dari penelitian tersebut, terungkap berbagai macam motivasi orang melakukan tweet dan retweet , yaitu:
1. menyebarkan pesan kepada pengguna baru;
2. menghibur ata menginformasikan terhadap kelompok tertentu;
3. mengomentari tweet orang lain dengan retweeting dan menambah konten baru, yang sering dilakukan untuk memulai percakapan;
4. memperlihatkan peran sebagai pedengar;
5. menunjukkan persetujuan publik;
6. memberi dukungan (validasi) terhadap cara pikir orang lain;
7. tindakan pertemanan, loyalitas dan penghormatan;
8. memperoleh followers atau mendapat respon orang lain.
Marsden (2011) mengungkapkan bahwa terdapat tiga kunci utama agar promosi online melalui WOM dapat bekerja, yaitu:
1. WOM akan bekerja saat produk yang dijual berharga untuk dibicarakan orang- orang. Produk tersebut harus bisa memberikan pengalaman yang baru, orisinil, eksklusif, mengejutkan, menegangkan, simbolik dan memuaskan.
2. WOM akan bekerja saat produk tersebut mendapat perhatian orang. Produk tersebut mampu memenuhi kebutuhan personal dan relevan.
3. WOM bekerja saat ada insentif yang baik untuk pelanggan. Insentif membuat pelanggan ingin mendukung WOM yang dilakukan.
Perbedaan EWOM dan WOM (skripsi dan tesis)
Menurut alat penyebarannya, WOM bisa di bagi menjadi WOM-Offline dan WOM –Online (EWOM). EWOM menggunakan media internet sebagai media penyebarannya. (Hennig- Thurau et al, 2004 dalam Huang et al, 2009). WOM yang menggunakan media selain internet sebagai media persebarannya disebut WOM-offline. Perbedaan lain terletak dalam continuitas percakapan antara para pelakunya. WOM biasanya dilakukan secara bertatap langsung atau melalui media telepon, sehingga tidak memberikan waktu yang lama untuk para pelakunya dalam menanggapi perkataan partner komunikasinya. Ini menyebabkan percakapan terjadi secara berkelanjutan. EWOM berbeda, komunikasi antar pelaku terjadi secara discontinue. Para pelaku punya kesempatan untuk memikirkan apa yang akan dikatannya sebelum mem-post kannya (Berger & Iyengar, 2012). Perbedaan juga muncul dari jejak yang ditinggalkan. WOM bekerja melalui komunikasi oral sehingga hampir tidak meninggalkan jejak. EWOM bekerja melalui persebaran post di internet atau melalui chat, maka EWOM meninggalkan jejak.
Definisi WOM (skripsi dan tesis)
Word of Mouth Marketing adalah komunikasi tentang produk antara orang-orang yang dianggap independen dari perusahaan. yang menyediakan produk. Komunikasi ini dilakukan dalam medium yang akan dianggap independen dari perusahaan. Komunikasi ini bisa saja berupa percakapan, atau hanya satu arah testimonial. Misalnya berbicara langsung, melalui telepon, e-mail, listgroup, atau sarana komunikasi lainnya (Silverman, 2001). Menurut Kotler & Keller (2012) Word of Mouth Communication (WOM) atau komunikasi dari mulut ke mulut merupakan proses komunikasi yang berupa pemberian rekomendasi baik secara individu maupun kelompok terhadap suatu produk atau jasa yang bertujuan untuk memberikan informasi secara personal. Harrison Walker (2001) dalam Harris et al (2013) mendefinisikan komunikasi WOM sebagai komunikasi informal orang ke orang antara komunikator nonkomersial dan penerimanya berdasarkan merek, produk, organisasi, atau jasa. WOM ini dapat bermuatan positif atau negatif. WOM negatif bertujuan untuk merendahkan objek dalam komunikasi tersebut ( Richins, 1983 dalam Harris et al , 2013). West-brook (1987) dalam Pontevia et al (2008) memandang WOM sebagai fenomena post-pembelian yang mengandung komunikasi informal yang diarahkan kepada konsumen lain mengenai kepemilikan, kegunaan, atau karakteristik produk atau jasa. Pandangan ini juga senada dengan pandangan Sundaram et al (1998) dalam Pontevia et al (2008), yang mendefinisikan WOM sebagai bentuk komunikasi interpersonal di antara konsumen tentang pengalaman pribadi dengan produk atau perusahaan. Dari hal tersebut, terdapat persamaan mendasar mengenai pengertian WOM. Persamaan tersebut adalah WOM merupakan komunikasi antara oang-orang mengenai produk dan jasa secara independen (bukan mewakili perusahaan).
Menurut Sernovitz (2012), terdapat empat aturan yang harus dijalankan agar tercipta suatu WOM, yaitu:
a. Informasi dalam WOM dibuat menarik. Orang tidak suka dengan sesuatu yang membosankan. Berikan suatu hal yang membuat orang lain bisa membicarakan mengenai hal yang ingin di WOM-kan. Harus selalu memikirkan bagaimana cara agar orang mau menceritakan kembali apa yang ingin di WOM-kan.
b. WOM dibuat menjadi mudah disebarluaskan. WOM yang baik menggunakan pesan yang singkat dan jelas serta mudah disebarkan. Memulai WOM dengan hal – hal yang mudah diingat.
c. Lawan bicara saat komunikasi WOM dilakukan dibuat menjadi bahagia. Saat orang menjadi bahagia, mereka akan mau menyebarkan berita positif mengenai produk yang dijual. Orang tersebut akan mudah mengenang produk tersebut.
d. Harus mendapatkan respek dan kepercayaan dari lawan bicara saat menyebarkan informasi WOM. Tidak mendapatkan respek dan kepercayaan sama dengan tidak mendapatkan WOM. Orang- orang tidak akan berkata positif mengani hal yang tidak mereka percayai.
Menurut Sernovitz (2012), terdapat tiga hal dasar yang mendorong orang melakukan percakapan WOM:
a. Orang menyukai produk yang dikonsumsinya. Karena mereka suka, para konsumen akan tertarik untuk membahas produk tersebut. Hal ini menjadi alasan untuk diri mereka berbicara mengenai produk yang dikonsumsinya.
b. Orang- orang merasa baik saat bisa berbicara dengan sesamanya. Pembicaraan mengenai WOM tidak hanya sebatas fitur dari produk namun lebih ke masalah emosi. Saat melakukan WOM, orang bisa terlihat lebih pintar, membantu orang lain, dan merasa dirinya menjadi penting.
c. Komunikasi WOM membuat orang merasa terhubung dalam suatu kelompok. Membicarakan produk yang digunakan dalam kelompok tersebut akan membuat orang merasa dalam suatu kelompok yang sama. Keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok ini yang mendorong orang melakukan WOM.
Komunikasi dan Budaya (skripsi dan tesis)
Asumsi dasar menurut Mulyana dalam bukunya berjudul Komunikasi Antar Budaya, mengatakan bahwa “Komunikasi berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia-manusia lainnya”.(1996:10). Menurut Mulyana dan Rakhmat dalam bukunya berjudul Komunikasi Populer Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer mengatakan bahwa : “Hampir setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang-orang lainnya dan kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia-manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi. Pesan-pesan itu mengemuka lewat perilaku manusia, ketika kita berbicara sebenarnya kita sedang berperilaku”.(1996:12).
Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok. Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir, merasa, mempercayai, dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makna, praktik komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik, dan teknologi, semua itu berdasarkan pola-pola budaya. Budaya menampakkan diri dalam pola-pola bahasan dan dalam bentuk-bentuk kegiatan dan perilaku yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan-tindakan penyesuaian diri dan gaya komunikasi yang memungkinkan orang-orang tinggal dalam suatu masyarakat di suatu lingkungan geografis tertentu pada suatu perkembangan teknis tertentu dan pada suatu saat tertentu. Menurut Mulyana dalam bukunya berjudul Komunikasi Antar Budaya menyatakan bahwa : 39 “Budaya juga berkenaan dengan sifat-sifat dari objek-objek materi yang memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari.Budaya berkesinambungan dan hadir dimanamana, budaya meliputi semua peneguhan perilaku yang diterima selama suatu periode kehidupannya. Budaya juga berkenaan dengan bentuk dan struktur fisik serta lingkungan sosial yang mempengaruhi kehidupan”.(1996:18). Menurut Setiadi dalam bukunya yang berjudul Ilmu Dasar Budaya mengatakan bahwa : “Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa, dan rasa.Kata budaya sebenarnya berasal dari kata Sansekerta budhayah yaitu bentuk jamak kata buddhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa Inggris, kata budaya berasal dari kata culture, dalam bahasa Belanda diistilahkan dengan kata culture, dalam bahasa latin berasal dari kata corela. Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Dengan demikian, kebudayaan atau budaya menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia baik material maupun nonmaterial”.(2006:28).
Endrawaswara dalam bukunya yang berjudul Penelitian Kebudayaan mengatakan bahwa : “Kebudayaan memang ihwal yang tidak pernah tuntas dibatasi. Pembatasan kebudayaan hanyalah akan sia-sia, sejauh mana manusia itu ada. Karena, sejauh itu pula kebudayaan akan eksis dan berkembang. Kebudayaan terus berkembang. Kebudayaan terus menggelinding dan berjalan menurut porosnya, sebagaimana makhluk hidup yang lain. Kebudayaan akan senantiasa bercabang-cabang, seperti tumbuhan yang bersemi, sehingga tampak rimbun dan penuh arti. Maka, memaknai kebudayaan lebih bersifat tentatif, tak pernah abadi”.(2006:26)
Bentuk Jurnalistik (skripsi dan tesis)
Sumadiria dalam bukunya Jurnalistik Indonesia, dilihat dari bentuk dan pengelolaannya, membagi jurnalistik kedalam tiga bagian, yaitu :
1. Jurnalistik Media
Cetak Jurnalistik media cetak dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor verbal dan visual. Verbal, sangat menekankan pada kemampuan kita memilih dan menyusun kata dalam rangkaian kalimat dan paragraf yang efektif dan komunikatif. Visual, menunjuk pada kemampuan kita dalam menata, menempatkan, mendesain tata letak atau hal-hal yang menyangkut segi perwajahan. Dalam perspektif jurnalistik, setiap informasi yang disajikan kepada khalayak, bukan saja harus benar, jelas dan akurat, melainkan juga harus menarik, membangkitkan minat dan selera baca (surat kabar, majalah), selera dengar (radio siaran), dan selera menonton (televisi). Inilah antara lain yang membedakan karya jurnalistik dengan karya lainnya seperti karya ilmiah.
2. Jurnalistik Media
Elektronik Auditif Jurnalistik media elektronik auditif atau jurnalistik radio siaran, lebih banyak dipengaruhi dimensi verbal, teknologikal, dan fisikal. Verbal, berhubungan dengan kemampuan menyusun kata, kalimat, dan paragraf secara efektif dan komunikatif. Teknologikal, berkaitan dengan teknologi yang memungkinkan daya pancar radio dapat ditangkap dengan jelas dan jernih oleh pesawat radio penerima. Fisikal, erat kaitannya dengan tingkat kesehatan fisik dan kemampuan pendengaran khalayak dalam menyerap dan mencerna setiap pesan kata atau kalimat yang disampaikan.
3. Jurnalistik Media Elektronik
Audiovisual Jurnalistik media elektronik audiovisual, atau jurnalistik televisi siaran, merupakan gabungan dari segi verbal, visual, teknologikal,dan dimensi dramatikal. Verbal, berhubungan dengan kata-kata yang disusun secara singkat, padat, efektif. Visual, lebih banyak menekankan pada bahasa gambar yang tajam, jelas, hidup, memikat. Teknologikal, berkaitan dengan daya jangkau siaran, kualitas suara dan gambar yang dihasilkan serta diterima oleh pesawat televisi penerima di rumah-rumah. Dramatikal, berarti bersinggungan dengan aspek serta nilai dramatik yang dihasilkan oleh rangkaian gambar yang dihasilkan secara simultan. Aspek dramatik televisi inilah yang tidak dipunyai media massa radio dan surat kabar. Aspek dramatik televisi menggabungkan tiga kekuatan sekaligus; kekuatan gambar, suara, dan kata-kata. Inilah yang disebut efek bersamaan dan efek simultan televisi. Dengan aspek dramatik, seluruh pancaindra khalayak pemirsa bekerja secara optimal. Para pakar komunikasi kerap mengatakan, televisi memiliki daya hipnotis luar biasa, sehingga emosi dan perilaku khalayak dapat dengan mudah dimainkan atau diciptakan dalam seketika. Televisi, secara psikologis dan visual, dapat dengan mudah memindahkan setiap peristiwa yang terjadi di dunia, ke ruang tidur atau ruang tamu pemirsa pada saat bersamaan (real time). Semua lengkap dengan emosi dan aspek-aspek psikologi lainnya.(2007:4-5).
Bentuk jurnalistik terdiri dari media cetak meliputi dari kata-kata atau kalimat dalam paragraf, dan ditampilkan pula visual dengan menggunakan tata letak yang sesuai. Contoh dari media cetak ini seperti surat kabar, majalah, tabloid, dan sebagainya. Media elektronik dapat dikatakan paket yang lengkap dari bentuk jurnalistik, sebab didalamnya terdapat visual, audia dan audio visual, seperti televisi dan radio. Media on line atau internet, dalam media ini seseorang dapat mencari segala informasi yang mereka inginkan dan juga dapat melakukan 34 kegiatan jurnalistik di dalamnya atau biasa disebut citizen journalism dengan jaringan internet yang tersedia. Dalam kamus jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit dan menulis untuk surat kabar, majalah atau berkala lainnya (Assegaf, 1983:9). Menurut Ensiklopedia Indonesia, jurnalistik adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan seharihari (pada hakikatnya dalam bentuk penerangan, penafsiran, dan pengkajian) secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada (Suhandang, 2004:22).
Djen Amar menekankan, jurnalistik merupakan kegiatan mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan berita kepada khalayak seluasluasnya dengan secepat-cepatnya (1984:30). Secara teknis, Jurnalistik menurut AS Haris Sumadiria dalam bukunya Jurnalistik Indonesia, adalah : “Kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepatcepatnya”.(2005:3). Jurnalistik merupakan kegiatan mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyampaikan berita atau informasi yang di dapat, dan selanjutnya disebar luaskan melalui media, baik media elektronik, cetak, maupun online kepada khalayak luas. Setiap bentuk jurnalistik memiliki ciri dan kekhasannya masing-masing. Ciri dan kekhasannya itu antara lain terletak pada aspek filosofi penerbitan, 35 dinamika teknik persiapan dan pengelolaan serta asumsi dampak yang ditimbulkan terhadap khalayak pembaca, pendengar atau pemirsa. Sebagai contoh filosofi surat kabar harian menekankan pada segi keunggulan dan kecepatan dalam perolehan dan penyebaran informasi. Sedangkan filosofi penerbitan majalah berita mingguan lebih banyak menekankan segi kelengkapan dan kedalaman informasi serta ketajaman daya analisisnya.
Pengertian Jurnalistik (skripsi dan tesis)
Secara etimologis, jurnalistik berasal dari kata journ. Dalam bahasa Perancis, journ berarti catatan atau laporan harian. Secara sederhana jurnalistik diartikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari. Dengan demikian, jurnalistik bukanlah pers, bukan pula media massa. Jurnalistik adalah kgiatan yang memungkinkan pers atau media massa bekerja dan diakui eksistensinya dengan baik. Dalam kamus, jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis untuk surat kabar, majalah, atau berkala lainnya. Menurut Ensiklopedi Indonesia, jurnalistik adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari. Dalam Leksikon Komunikasi dirumuskan, jurnalistik adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, menyunting, dan menyebarkan berita dan karangan untuk surat kabar, majalah dan media massa lainnya seperti radio dan televisi. Secara teknis, jurnalistik adalah kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya
Proses Komunikasi (skripsi dan tesis)
Effendy, dalam bukunya Ilmu, Teori, dan Komunikasi menjelaskan proses komunikasi dari dua perspektif, yaitu :
1) Proses Komunikasi dalam Perspektif Psikologis Proses perspektif ini terjadi pada diri komunikator dan komunikan. Ketika seorang komunikator berniat akan menyampaikan suatu pesan kepada komunikan, maka di dalam dirinya terjadi suatu proses. Di muka telah ditegaskan bahwa pesan komunikasi terdiri dari dua aspek, yakni isi pesan dan lambang. Isi pesan umumnya adalah pikiran, sedangkan lambang umumnya adalah bahasa. Walter Lippman menyebut isi pesan itu “picture in our lead”, sedangkan Walter Hagemann menamakannya “das Bewustseininhalte”. Proses “mengemas” atau “membungkus” pikiran dengan bahasa yang dilakukan komunikator itu dalam bahasa komunikasi dinamakan encoding. Hasil encoding berupa pesan, kemudian ia transmisikan atau operkan atau kirimkan kepada komunikan. Kini giliran komunikan terlibat dalam proses komunikasi interpersonal. Proses dalam diri komunikan disebut decoding seolah-olah membuka kemasan atau bungkus pesan yang ia terima dari komunikator tadi. Isi bungkusan tadi adalah pikiran komunikator. Apabila komunikan mengerti isi pesan atau pikiran komunikator, maka komunikasi terjadi. Sebaliknya bilamana komunikan tidak mengerti, maka komunikasi tidak terjadi.
2) Proses Komunikasi dalam Perspektif Mekanistis Proses ini berlangsung ketika komunikator mengoperkan atau melemparkan dengan bibir kalau lisan atau tangan jika tulisan pesannya sampai ditangkap oleh komunikan. Penangkapan pesan dari komunikator oleh komunikan itu dapat dilakukan dengan indera telinga atau indera mata atau indera-indera lainnya. Proses komunikasi dalam perspektif ini kompleks atau rumit, sebab bersifat situsional, bergantung pada situasi ketika komunikasi itu berlangsung. Adakalanya 30 komunikannya seorang, maka komunikasi dalam situasi seperti itu dinamakan komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi, kadang-kadang komunikannya sekelompok orang; komunikasi dalam situasi seperti itu disebut komunikasi kelompok, acapkali pula komunikannya tersebar dalam jumlah yang relatif amat banyak sehingga untuk menjangkaunya diperlukan suatu media atau sarana, maka komunikasi dalam situasi seperti itu dinamakan komunikasi massa.(2003:31-32). Manusia sebelum melakukan komunikasi dengan orang lain, mereka melakukan proses dari dalam dirinya yakni ketika seseorang atau komunikator berniat akan menyampaikan suatu pesan, lalu ia membungkus pesan yang akan disampaikan kepada komunikannya. Setelah itu, baru ia menyampaikan pesan tersebut secara lisan yakni dengan berbicara kepada komunikan ataupun secara tulisan. Melalui komunikasi kita bekerjasama dengan anggota-anggota masyarakat (keluarga, kelompok belajar, perguruan tinggi, Rt, Rw, desa, kota dan negara secara keseluruhan), untuk mencapai tujuan bersama. Pada satu sisi, komunikasi merupakan mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat, baik secara horisontal, dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya, ataupun secara vertikal, dari suatu generasi kepada generasi berikutnya.
Pada sisi lain, budaya menetapkan norma-norma (komunikasi) yang dianggap sesuai untuk suatu kelompok. Menurut Alfred Korzybski yang diambil dari kutipan Mulyana dalam bukunya berjudul Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar menyatakan bahwa : “Kemampuan manusia berkomunikasi menjadikan mereka “pengikat waktu” (time-binder). Pengikatan-waktu (timebinding) merujuk pada kemampuan manusia untuk mewariskan pengetahuan dari generasi ke generasi dan dari budaya ke budaya”.(2005:7). Manusia tidak perlu memulai setiap generasi sebagai generasi yang baru. Karena mereka mampu mengambil pengetahuan masa lalu, mengujinya berdasarkan fakta-fakta mutakhir dan meramalkan masa depan. Oleh karena itu, fakta atau rangsangan komunikasi yang sama mungkin dipersepsi secara berbeda oleh kelompok-kelompok berbeda kultur atau subkultur, kesalahpahaman hampir tidak dapat dihindari. Akan tetapi, tidak berarti bahwa berbeda itu buruk melainkan dengan kematangan dalam budaya ditandai dengan toleransi atas perbedaan.
Tujuan Komunikasi (skripsi dan tesis)
Effendy, dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi menyebutkan tujuan-tujuan komunikasi sebagai berikut :
1. Mengubah sikap (to change a attitude) Setiap pesan baik itu berupa berita atau informasi yang disampaikan secara luas baik secara antar personal dapat merubah sikap sasarnya secara bertahap.
2. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion) Perubahan pendapat. Memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan akhirnya supaya masyarakat mau merubah pendapat dan persepsinya terhadap tujuan indormasi itu disampaikan.
3. Mengubah perilaku (to change the behavior) Pada tahap perubahan perilaku komunikasi berperan secara sistematis sehingga masuk kedalam perilaku seseorang.
4. Mengubah masyarakat (to change the society) Perubahan sosial dan partisipasi sosial. Memberikan berbagai informasi pada masyarakat yang tujuan akhirnya supaya masyarakat mau mendukung dan ikut serta terhadap tujuan informasi yang disampaikan.(2003:55).
Komunikasi memiliki pengaruh yang besar bagi si penerima pesan atau informasi. Pesan yang disampaikan dari komunikator kepada komunikan tersebut dapat mengubah sikap, opini atau pendapat, perilaku bahkan mengubah masyarakat dengan informasi yang telah diberikan oleh sang penyampai pesan atau komunikator.
Fungsi Komunikasi (skripsi dan tesis)
Fungsi-fungsi komunikasi menurut Laswell, yang dikutip Nurudin, dalam bukunya Sistem Komunikasi Indonesia, yaitu :
1. Fungsi penjagaan/pengawasan lingkungan
2. Fungsi menghubungkan bagian-bagian yang terpisah dari masyarakat untuk menanggapi lingkungannya. Tindakan menghubungkan bagian-bagian meliputi interpretasi informasi mengenai lingkungan dan pemakainya untuk berperilaku dalam reaksinya terhadap peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian tadi.
3. Menurunkan warisan sosial dari generasi ke generasi. Ketika semua proses fungsi terjadi, maka dalam jangka waktu panjang akan terjadi pewarisan nilai tertentu kepada generasi selanjutnya.
Misalnya adalah pendidik di dalam pendidikan informal atau formal akan menciptakan keterlibatan warisan adat kebiasaan, nilai dari generasi ke generasi.(2004:17). Inti dari fungsi komunikasi ialah komunikasi dapat menjadi pengawas lingkungan yakni seseorang bisa memperoleh informasi baik dari luar maupun dalam lingkungannya. Komunikasi pun berfungsi menghubungkan bagian-bagian yang terpisah meliputi interpretasi informasi mengenai lingkungan dan pemakainya untuk berperilaku terhadap peristiwa dan kejadian-kejadian. Terakhir, komunikasi dapat menurunkan warisan sosial, maksudnya ialah dari semua proses komunikasi yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang akan menjadi warisan bagi generasi selanjutnya.
Pengertian Komunikasi (skripsi dan tesis)
Secara praktis atau dalam praktik kehidupan sehari-hari, definisi, makna, arti, atau pengertian komunikasi adalah proses penyampaian pesan kepada orang lain. Pesan (message) itu bisa berupa informasi, pemberitahuan, keterangan, ajakan, imbauan, bahkan provokasi atau hasutan. Kata kunci dalam komunikasi adalah pesan itu. Dari pesan itulah sebuah proses komunikasi dimulai. Komunikasi terjadi karena ada pesan yang ingin atau harus disampaikan kepada pihak lain. Hakikatnya komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Mempelajari studi komunikasi merupakan bagian paling penting ketika komunikasi dipakai untuk pengantar semua bidang-bidang ilmu yang ada diantaranya, Ilmu Politik, Ilmu Ekonomi, Budaya dan Sosial. Tentunya dengan segala macam permasalahan-permasalahannya yang timbul akibat perilaku dan komunikasinya. Semakin besar suatu masyarakat yang berarti semakin banyak manusia yang dicakup cenderung akan semakin banyak masalah yang timbul,
Akibat perbedaan-perbedaan antara manusia yang banyak dari berbagai bidang baik itu berasal dari pikirannya, perasaannya, kebutuhannya, sifat tabiatnya, aspirasinya dan ideologinya. Penggunaan “bahasa” komunikasi pernyataan dinamakan pesan, orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator sedangkan orang yang menerima pernyataan dinamakan komunikan. Untuk tegasnya, komunikasi berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Jika di analisis pesan terdiri dari dua aspek, pertama isi pesan, kedua lambang. Konkretnya isi pesan itu adalah pikiran atau perasaan, lambang adalah bahasa. Komunikasi dapat menjadi penyelamat kelangsungan hidup diri sendiri yang meliputi keselamatan fisik, meningkatkan keselamatan pribadi, menampilkan diri kita sendiri kepada orang lain dan mencapai ambisi pribadi. Selain itu, dapat pula untuk kelangsungan hidup masyarakat, tepatnya untuk memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan keberadaan suatu masyarakat. Komunikasi secara garis besar mempunyai fungsi sebagai komunikasi sosial, bagaimana hubungan sosial seseorang dengan lingkungan disekitarnya. Komunikasi sebagai media ekspresif yakni untuk menyampaikan perasaanperasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan itu dikomunikasikan melalui pesanpesan nonverbal. Komunikasi sebagai suatu ritual yaitu suatu komunitas melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun yang disebut rites of passage.
Dalam acara-acara itu orang mengucapkan kata-kata atau menampilkan perilaku-perilaku simbolik. Dan komunikasi istrumental yang berarti menginformasikan mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan. Tujuan dari komunikasi instrumental ini yakni bersifat membujuk (persuasif). Komunikasi, dalam konteks apapun adalah bentuk dasar adaptasi terhadap lingkungan. Menurut Rene Spitt, komunikasi (ujaran) adalah jembatan antara bagian luar dan bagian dalam kepribadian. “Mulut sebagai rongga utama adalah jembatan antara persepsi dalam dan persepsi luar.” Kata komunikasi berasal dari kata latin “communis” yang berarti “sama”, atau “communicare” yang berarti “berpartisipasi”. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna atau suatu pesan dianut secara sama. Akan tetapi, definisi-definisi kontemporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada cara berbagai hal-hal tersebut, seperti dalam kalimat “kita berbagi pikiran,”. “kita mendiskusikan makna,” dan “kita mengirimkan pesan.” Berbicara tentang definisi komunikasi, tidak ada definisi yang benar ataupun salah. Seperti juga model atau teori, definisi harus dilihat dari kemanfaatannya untuk menjelaskan fenomena yang didefinisikan dan mengevaluasinya. Beberapa definisi mungkin terlalu sempit, misalnya “komunikasi adalah penyampaian pesan melalui media elektronik,” atau terlalu luas, misalnya “komunikasi adalah interaksi antara dua maksluk hidup atau lebih,” sehingga para peserta komunikasi ini mungkin termasuk hewan, tanaman dan bahkan jin. Rogers dan Kincaid yang dikutip Cangara, dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi, bahwa : “Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam”.(2000:19). Komunikasi merupakan proses dimana antara dua orang atau lebih yang diantaranya terdiri dari komunikator sebagai penyampai pesan dan komunikan sebagai penerima pesan, yang saling bertukar informasi satu sama lainnya. Dan apabila informasi yang disampaikan berjalan dengan lancar, maka komunikasi tersebut dapat dikatakan efektif
Asumsi Teori Ekologi Media (skripsi dan tesis)
1. Media melingkupi setiap tindakan di dalam masyarakat Kita tidak dapat melarikan diri dari media. Bahkan McLuhan menyebut angka, permainan, dan uang sebagai mediasi. Media-media ini mentransformasi masyarakat kita melalui permainan yang dimainkan, radio yang didengarkan, atau TV yang ditonton. Pada saat bersamaan, media bergantung pada masyarakat untuk “pertukaran dan evolusi”.
2. Media memperbaiki persepsi kita dan mengorganisasikan pengalaman kita Kita secara langsung dipengaruhi oleh media. Media cukup kuat dalam pandangan kita mengenai dunia. Kita tanpa sadar termanipulasi oleh TV. Sikap dan pengalaman kita secara langsung dipengaruhi oleh apa yang kita tonton di TV, dan sistem kepercayaan kita dapat dipengaruhi secara negatif oleh TV. McLuhan mempersepsikan TV sebagai hal yang memegang peranan penting dalam pengikisan nilai-nilai keluarga.
3. Media menyatukan seluruh dunia Media menghubungkan dunia. McLuhan menggunakan istilah desa global (global village) untuk mendeskripsikan bagaimana media mengikat dunia menjadi sebuah sistem politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang besar. Manusia tidak lagi dapat hidup dalam isolasi, melainkan akan selalu terhubung oleh media elektronik yang bersifat instan dan berkesinambungan. Media elektronik memiliki kemampuan untuk menjembatani budayabudaya yang tidak akan pernah berkomunikasi sebelum adanya koneksi ini
Teori Ekologi Media (skripsi dan tesis)
Neil Postman adalah tokoh yang pertama memperkenalkan secara formal istilah Ekologi Media pada tahun 1968. Stephen W. Little John menyebutnya dengan nama Teori Medium. Beberapa pakar bahkan ada yang menamainya Teori Determinisme Teknologi. Istilah yang terakhir ini tidak terlalu mendapat tanggapan karena terkesan berlebihan. Dasar dari teori ini adalah sebuah pernyataan yaitu: “khalayak seolah digambarkan bersifat pasif dan terpisah dengan teknologi”. Padahal dalam konsep teori ini, khalayak justru dapat memperoleh kemampuan aktif dan tidak terpisahkan dengan media.
Menurut Ricard West dan Lynn H. Turner (2008), Lance Strate mendefinisikan Ekologi Media sebagai: “Kajian mengenai lingkungan media, ide bahwa teknologi dan teknik, mode penyampaian informasi dan kode komunikasi memainkan peran utama dalam kehidupan manusia”. Adapun penamaan Teori Medium diberikan karena secara khusus dalam teori ini dikenal istilah “medium adalah pesan” (medium is the message). Dalam perspektif teori ini, bukan pesan yang mempengaruhi kesadaran kita tetapi medium. Mediumlah yang lebih besar mempengaruhi bawah sadar kita. Medium membentuk pesan, bukan sebaliknya. Konsep dasar teori ini pertama kali dikemukakan oleh Marshall McLuhan (1964). Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh mentornya, ekonom berkebangsaan Canada, Harold Adams Innis (1951). McLuhan adalah ilmuwan sekaligus kritikus sastra berkebangsaan Canada. Ia menggunakan puisi, fiksi, politik, teater musikal dan sejarah untuk menunjukkan bahwa teknologi yang menggunakan media membentuk perasaan, pikiran, dan tindakan manusia. McLuhan menyatakan bahwa kita memiliki hubungan yang sifatnya simbiosis dengan teknologi yang menggunakan media. Manusia menciptakan teknologi, dan sebaliknya teknologi tadi membentuk manusia. Inilah yang menjadi konsep dasar dari teori ekologi media
Instant Messaging (skripsi dan tesis)
Menurut Digital Library Telkom Institute Of Technology (http://digilib.ittelkom.ac.id), menyatakan bahwa Instant Messaging atau pesan instan adalah sebuah aplikasi yang memanfaatkan teknologi Internet dimana para pengguna dapat menggunakan aplikasi tersebut untuk mengirimkan pesan-pesan singkat secara langsung pada saat yang bersamaan (real time) menggunakan teks kepada pengguna lainnya yang sedang terhubung ke jaringan yang sama. Sedangkan menurut Mohammad Gilang Kautzar Hw ( 2009), mengatakan bahwa Pengirim pesan instan (instant messenger) merupakan suatu perangkat lunak yang memfasilitasi pengiriman pesan singkat (Instant Messaging), suatu bentuk komunikasi secara langsung antara dua pihak atau lebih menggunakan teks yang diketik (chatting). Pengirim pesan instan akan mengirimkan teks melalui perangkat yang terhubung dengan suatu jaringan. Penggunaan teknologi ini memiliki suatu kelebihan dibandingkan surat elektronik (e-mail), yaitu komunikasi dapat terjalin secara langsung atau real-time. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab pertumbuhan yang pesat pada jumlah penggunaan pengirim pesan instan untuk berkomunikasi. Lain halnya dengan Merriam-Webster Dictionary (ww.merriamwebster.com/dictionary/instant+messaging) yang menyatakan bahwa Instant Messaging adalah a system for sending messages quickly over the Internet from one computer to another computer or a means or system for transmitting electronic messages instantly. Dari pernyataan diatas maka pengirim pesan instan adalah sistem yang mengirimkan pesan secara cepat melalui internet dari satu komputer ke komputer lain atau sistem untuk transmisi pesan elektronik langsung. Pengiriman pesan singkat memiliki beberapa fitur dengan fungsi antar muka di antaranya:
1. Pesan singkat (Instant messages): Mengirimkan pesan kepada orang yang sedang daring secara waktu nyata.
2. Obrolan (Chat): Menciptakan ruang obrolan (chat room) atau ruang diskusi dengan beberapa orang
. 3. Tautan web (Web links): Berbagi pranala mengenai situs web favorit.
4. Video: Berbagi video.
5. Gambar (Images): Berbagi gambar.
6. Berkas (Files): Berbagi berkas komputer.
7. Bicara (Talk): Berfungsi seperti layaknya telepon.
8. Fasilitas dalam genggaman (Mobile capabilities):
Mengirimkan pesan instan melalui telepon genggam. Perkembangan pengirim pesan instan berbasis GUI diawali ketika mulai maraknya orang menggunakan teknologi secara daring pada awal tahun 1990 ketika banyak orang mulai meluangkan waktu untuk mengakses Internet. E-mail merupakan perkembangan komunikasi internet yang berkembang pesat pada saat itu, namun seiring dengan bertambahnya kebutuhan, e-mail dirasakan kurang cepat dalam mengirimkan pesan dan tidak dapat diketahui apakah orang yang dikirimi pesan melalui e-mail juga sedang daring dan membalas pesan secara cepat. Kebutuhan tersebut mendorong para pengembang perangkat lunak menciptakan sebuah program chat room, di mana suatu grup atau perorangan dapat melihat serta mengirimkan pesan kepada sertiap orang yang ada pada room tersebut.
Aplikasi ini dimulai ketika penyedia jasa daring Quantum Link (lebih dikenal dengan nama American Online) menawarkan fitur untuk dapat saling berkirim pesan dengan sesama pengguna komputer yang sedang daring. Penerapan pengiriman pesan instan ini memiliki dasar yang tidak jauh berbeda, yaitu sebuah chat room yang ditujukan untuk dua orang. Seiring dengan perkembangannya, pengiriman pesan instan ini mulai meledak di Internet pada November 1996 saat Mirabilis memperkenalkan ICQ yang merupakan sebuah program pengirim pesan instan gratis, dan diikuti oleh AOL Instant Messenger (AIM) pada tahun 1997. AOL kemudian mengakuisisi Mirabilis.Penggunaan pengirim pesan instan kemudian berkembang dari hanya bisa diakses melalui komputer menjadi dapat diakses juga melalui telepon genggam sehinggal memungkinkan para penggunanya mengakses layanan ini kapan saja dan di mana saja. Dewasa ini, perkembangan IM telah mengalami kemajuan yang amat pesat. Penggunaan IM yang awalnya hanya dapat diakses oleh para penggunanya melalui komputer, sekarang ini telah dapat diakses melalui telepon genggam. Dengan kemampuan yang dimiliki telepon genggam untuk mengakses internet, maka para pengguna IM dapat mengakses dunia maya kapan saja dan dimana saja. Di Indonesia sendiri, pengguna IM cukup banyak. Umumnya mayoritas pengguna berasal dari kaum pelajar dan mahasiswa. Menjamurnya piranti lunak seperti mig33, eBuddy, dan lain-lain memungkinkan telepon genggam untuk ber’IM’ ria, membuat para penggemar IM semakin dimanja. Provider telepon genggam seperti telkomsel pun telah memberikan fitur kepada para pelanggan mereka untuk ber’IM’. Selain itu ada juga layanan SMS premium seperti chat n’ date, yang iklannya cukup sering beredar di televisi. IM pada chat n’ date berbeda dengan IM lainnya, karena ia berbasis teknologi SMS. Tidak seperti IM lain, yang berbasis koneksi internet (wikipedia.org/wiki/Pengirim_pesan_instan)
Tinjauan Tentang Ekologi Politik (skripsi dan tesis)
Politik ekologi, yang menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan dan konflik tidak terlepas dari aspek kepentingan politikekonomi. Cara pandang ini berusaha menjelaskan masalah kerusakan lingkungan dengan memperhitungkan aspek kekuasaan, keadilan distribusi, cara pengontrolan, kepentingan jejaring lokal-nasional-global, kesejarahan, gender, dan peran aktor (Peluso dan Watts, 2001). Ketajaman perspektif politik ekologi terlihat dalam cara memahami kerusakan lingkungan sebagai akibat dari praktik kekuasaan dan pasar. Kerusakan di suatu wilayah bisa jadi karena adanya kekuatan pasar global yang tidak terlibat secara langsung. Kasus konflik dan kebakaran hutan, selalu terkait dengan kepentingan politik, ekonomi, pasar, dan terutama tentang cara pengontrolan terhadap pengelolaan sumber daya alam
Definisi ekologi politik, antara lain :
1. Lingkungan hidupnya, terutama yang berkenaan dgn konsekuensi politik dari perubahan lingkungan (Hempel 1996: 150)
2. Mempelajari relasi yang kompleks antara masyarakat dan lingkungan hidupnya melalui analisis yang cermat atas akses dan kontrol terhadap sumber daya alam serta implikasinya bagi kesehatan lingkungan dan keberlanjutan kehidupan (Watts 2001: 257)
3. Menurut Peterson (2000: 53) Politik ekologi adalah suatu pendekatan yang menggabungkan masalah lingkungan dengan politik ekonomi dan dinamika antara lingkungan dan manusia, dan antara kelompok bermacam-macam di dalam masyarakat dalam skala dari individu lokal kepada transnasional secara keseluruhan. (Hidayat, 2011 : 8)
Konsep Pemilihan Kepala Daerah Langsung (skripsi dan tesis)
Menurut Kumolo, Tjahjo. 2017:79 (dalam bukunya Nawa Cita untuk kesahteraan rakyat) Pilkada kini lebih menarik dibincangkan banyak orang, khususnya sejak diselenggarakan secara langsung. Perbincangan yang dimaksud adalah tentang hal ihwal calon kepala daerah dan wakilnya. Lebih jauh, sinyal emen sementara, masyarakat mulai meyakini hubungan kepemimpinan daerah terhadap perikehidupan mereka sendiri dari kepala daerah yang dipilih. Ini mengiindikasikan, di satu sisi, dinamika demokrasi lokal memberi sinyal positif bahwa masyarakat makin dewassa berpolitik walaupun yang menjadi perhatian dalam sejarahnya adalah janji atau programprogram calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. Oleh karena itu, pemerintah, sejak awal reformasi, terus memperbaiki kualitas penyelenggaraan pemerintahan yang diarahkan untuk mewujudkan tata kelola negara yang demokratis. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan melaksanakan berbagai perubahan atas undang-undang bidang politik dan pemerintahan. Perubahan terhadap undangundang ini dilakukan agar proses penyelenggaraan pemerintahan dari yang awalnya sentralistik berubah menjadi desentralistik agar terwujud mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada) yang sesuai dengan kehendak rakyat, yaitu penyelenggaraan pilkada langsung. (Kumolo, Tjahjo. 2017 : 79-80).
Pelaksanaan pilkada langsung secara serentak ini menunjukan bahwa Indonesia tengah memasuki babak baru menuju good governance dan clean government yang saling bersinergi dengan Nawa Cita dan pembangunan daerah. Proses demokrasi yang berlangsung di daerah merupakan siklus awal dari perencanaan pembangunan menyangkut hajat kepemimpinan untuk mendapatkan visi pembangunan. Keberhasilan perencanaan pembangunan hingga ke siklus penganggaran, pelaksanaan, dan evaluasi ditentukan dari hasil proses demokrasi lokal. Proses penguatan demokrasi ini akan memperkuat legitimasi pemerintahan dari rakyat memalui terpilhnya pemimpin-pemimpin yang berkualitas baik di pusat maupun di daerah. (Kumolo, Tjahjo. 2017: 80) Adapun, penguatan demokrasi di tingkat lokal akan menjamin mutu kepala daerah untuk dapat merencanakan kebijakan pembangunan yang efektif dan efisien. Jika masyarakat dapat memberikan sumbangsih besar pada daerahnya dengan aktif dan partisipatif pada pilkada, maka awal yang baik dari proses perencanaan pembangunan sudah dapat dipastikan. Singkatnya, pelaksanaan pilkada serentak telah membangun budaya politik baru dengan kebebasan yang beradab dalam demokrasi Indonesia.
Perjalanan demokrasi Indonesia mulai berkembang saat diselenggarakannya pemilu jujur dan adil pada tahun 1999, pemilihan presiden langsung pada tahun 2004, dan pemilihan kepala daerah langsung yang utuk pertama kalinya diselenggarakan pada bulan Juni di Kutai Kartanegara, hingga pencapaian monumental dengan terlaksananya pemilihan kepala daerah langsung secara serentak pada tahun 2015 dan 2017 yang menampakkan sebuah siklus pelaksanaan yang tertib dan tertata. Penguatan demokrasi melalui pilkada serentak ini dilakukan demi mencapai reformasi penyelenggaraan negara yang lebih baik di era sebelumnya, dimana rutinitas seremonial pilkada masa lalu cenderung melelahkan, tetapi tidak membawa perubahan yang signifikan. Selain karena alasan teknis terkait dengan penyusunan regulasi baru tentang pemilu, manfaat utamanya diselenggarakannya pemilu serentak adalah efisiensi biaya. Dengan menggabungkan dua pemilu pada saat bersamaan, diperoleh penghematan anggaran negara. Efisiensi sangat penting, meski kadang dilihat sebagai suatu proses dan bukan sesuatu yang bersifat substantif. Apabila berharap bisa terpilih kepala daerah yang efisien, setidaknya cara untk mencari dan memperolehnya juga melalui jalan yang efisien pula. (Kumolo, Tjahjo. 2017:80-81)
Wacana awal menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota, yang ditetapkan oleh DPR RI Periode 2009-2014, mekanisme pilkada dilakukan oleh DPRD. Namun, wacana ini mendapatkan penolakan daeri rakyat, konsekuensinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tidak jadi diterapkan dan diganti dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota, yang mengatur mekanisme pilkada secara langsung oleh rakyat. Baru kemudian pada masa pemerintahan kabinet kerja terjadi pembahasan bersama antara pemerintah dan DPRD RI dengan hasil pembahasannya adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota Menjadi Undang-Undang. Undang-Undang ini kemudian digantii menjadi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015. Namun, Sejumlah ketentuan dalam Undang-Undang ini mendapat gugatan ke Mahkamah Konstitusi sehingga putusan Mahkamah Konstitusi menjadi acuan dalam pelaksanaan pilkada serentak pada 9 Desember 2015. Guna mengakomodasi putusan Mahkamah Konstitusi kedalam ketentuan undang-undang pilkada dan dalam rangka persiapan pelaksanaan pilkada serentak tahap kedua pada 15 Februari 2017, maka pemerintah bersama DPR RI kembali menetapkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UndangUndang Nomor 1 Tahun 2015. (Kumolo, Tjahjo. 2017: 81)
Pengertian Komunikasi Politik (skripsi dan tesis)
Komunikasi politik, seperti di sistemsistem politik lainnya, juga diperaktekan dalam kehidupan politik di Indonesia. Tokohtokoh politik menyampaikan pertanyaanpertanyaan, pendapat-pendapat pada berbagai kegiatan kampanye dalam pemilihan umum, dan berbagai pesan-pesan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Ini adalah salah satu bentuk kongkret dari kegiatan komunikasi politik dimana tokoh-tokoh partai politik bertindak selaku komunikastor politik. Saluran komunikasi yang dipergunakan bisa berbentuk media massa, bisa juga berbentuk tatap muka atau pertemuan langsung. Menurut Doris Graber (Cangara, 2011) menyatakan bahwa komunikasi politik tidak hanya retorika, tetapi juga mencakup simbolsimbol bahasa, seperti bahasa tubuh serta tindakan-tindakan politik misalnya boikot, protes dan unjuk rasa. Dengan demikian maka komunikasi politik dapat diartikan sebagai proses penciptaan symbol dan lambang yang berisi pesan politik dari seorang, kelompok, atau lembaga kepada orang lain, kelompok atau lembaga untuk membuka wawasan atau cara berpikir, sehingga membentuk sikap dan perilaku tertentu seperti yang ditargetkan. Oleh karena itu komunikasi politik berimplikasi dan memiliki konsekuensi pada aktivitas politik. Kraus dan davis (Arifin, 20011:13) menyampaikan pendapatnya tentang pengertian komunikasi politik yakni komunikasi politik dilukiskan sebagai proses komunikasi massa dan elemen-elemen di dalamnya yang mungkin mempunyai dampak terhadap perilaku politik.
Meadow (Arifin, 2011:16) menyampaikan bahwa komunikasi politik meliputi sebagai bentuk pertukaran simbol atau pesan yang sampai tingkat tertentu dipengaruhi atau mempengaruhi berfungsinya sistem politik. Pendapat berbeda disampaikan Nimmo (dalam Muhtadi, 2008:21) mengenai keterlibatan politik seorang kandidat atau sekelompok orang dalam komunikasi politik sebagai berikut : “Keterbukaan kepada komunikasi politik dapat mempengaruhi orang untuk secara aktif terlibat dalam politik disatu pihak, dan dipihak lain, komunikasi politik juga bisa menekan partisipasi politik, karena itu, manuver-manuver politik yang sering keluar dari sejumlah elit dan aktor politik pada umumnya, pada gilirannya dapat berimplikasi pada pembentukan perilaku individu dan kelompok yang terlibat dalam proses tersebut.
Pesan-pesannya akan menjadi rujukan penting dalam mengambil tindakan-tindakan formal ataupun informal khususnya berkenaan dengan aktivitas politik.” Sementara jika komunikasi politik dilihat dari segi proses sebagaimana disampaikan oleh McQuil (Pawito, 2009:2) adalah sebagai berikut : “All processes of information (including fact, opinion, beliefs, etc) transmission, exchange, and search engaged in the course of institutionalized political activities” atau dapat dikatakan bahwa semua proses penyampaian informasi termasuk fakta, pendapat-pendapat, keyakinan-keyakinan, dan seterusnya, pertukaran dan pencarian tentang itu semua yang dilakukan oleh partisipan dalam konteks kegiatan politik yang bersifat melembaga. Komunikasi politik merupakan himpunan kajian-kajian yang berkaitan dengan politik. hal tersebut disampaiakan oleh Arifin (2011:14) sebagai berikut : “Komunikasi politik dapat disebut sebagai himpunan kajian-kajian yang sudah lama ada, yaitu retorika politik, agitasi politik, propaganda politik, dan opini publik serta kebijakan komunikasi. Semuanya itu saat ini menjadi cakupan komunikasi politik.” Nimmo (2006:5-7) menjelaskan bahwa pengertian komunikasi politik adalah aktivitas komunikasi yang mengandung pesan-pesan yang bernilai politik yang merupakan akibat aktual dan potensial dari perilaku manusia dalam keadaan pertentangan atau konflik. Secara terperinci Nimmo menjelaskan bahwa komunikasi adalah proses transaksi sosial yang dipergunakan manusia untuk mengkonstruksi makna yang merupakan imaji tentang dunia, tempat seorang kandidat dan bertukar imaji melalui simbol.
Konsep Komunikasi Politik (skripsi dan tesis)
Menurut Maswadi Rauf (dalam Rauf dan Nasrun, 1993:20), studi komunikasi politik mencangkup dua disiplin dalam ilmu-ilmu sosial; ilmu politik dan ilmu komunikasi. Komunikasi politik bisa dijadikan kajian oleh ilmuwan komunikasi seperti halnya ilmuwan politik. Kelihatannya buku-buku teks tentang komunikasi politik lebih banyak ditulis oleh ilmuwan komunikasi daripada ilmuwan politik. Barangkali ini menandakan bahwa ilmu komunikasi lebih erat berhubungan dengan komunikasi politik, dari pada ilmu politik. Komunikasi politik mempelajari mata rantai antara komunikasi dan politik atau jembatan metodologis antara disiplin komunikasi dan politik. Namun jika disimak dari berbagai literatur, komunikasi politik telah menjadi kajian tersendiri sejak diakui oleh organisasi bersama divisi lain, seperti divisi sistem informasi, komunikasi antarpribadi, komunikasi massa, komunikasi organisasi, komunikasi antara budaya, komunikasi intruksional, dan komunikasi kesehatan (Ardianto dan Q-nees, 2007 : 35).
Perlu dibedakan dantara komunikasi politik sebagai kegiatan politik dan studi komunikasi politik sebagai kegiatan ilmiah. Komunikasi politik sebagai kegiatan politik merupakan kegiatan penyampaian pesanpesan yang bercirikan politik oleh aktor-aktor politik kepada pihak lain. Komunikasi politik sebagai kegiatan politik berkaitan erat dengan komunikasi sebagai kegiatan ilmiah. Komunikasi dalam pengertian yang kedua adalah kegiatan ilmiah yang megkaji komunikasi politik sebagai salah satu kegiatan politik di dalam sistem politik. Jadi komunikasi politik dalam arti kegiatan politik adalah objek atau masalah yang menjadi fokus perhatian studi komunikasi politik. Studi komunikasi politik bertujuan memahami dan menjelaskan kegiatan-kegiatan politik berupa komunikasi politik sehingga dunia akademis dan masyarakat awam memperoleh gambaran dan pemahaman mengenai masalah tersebut
Model Interaksional (skripsi dan tesis)
Terdapat beberapa model atau teori untuk menganalisa hubungan antarpribadi. Model interasional menekankan pada proses komunikasi dua arah diantara komunikator dan komunikan. Dengan kata lain komunikasi berlangsung dua arah yaitu dari pengirim pesan kepada penerima pesan dan sebaliknya dari penerima pesan kepada pengirim pesan. Model interaksional memandang setiap hubungan komunikasi antarpribadi sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat struktural, integratif dan medan. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling bergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuannya. Bila ekuilibrium sistem terganggu, segera akan diambil tindakannya. Dalam mempertahankan ekuilibrium, sistem dan subsistem harus melakukan transaksi yang tepat dengan lingkungannya (medan). Selain itu dalam model interaksional, manusia dianggap lebih aktif. Menurut model interaksional para pesertanya adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial. Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan 46 penerima yang memiliki kedudukan yang sederajat. Satu elemen yang penting bagi model interaksional adalah umpan balik (feedback) atau tanggapan terhadap suatu pesan.
Teori Kredibilitas (skripsi dan tesis)
Kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikan tentang sifat-sifat komunikator. Dalam definisi ini terkandung dua hal: (1) Kredibilitas adalah persepsi komunikan jadi tidak inheren dalam diri komunikator; ( 2 ) Kredibilitas berkenaan dengan sifat-sifat komunikator, yang selanjutnya akan kita sebut sebagai komponen-komponen kredibilitas (dalam Rakhmat, 2002 : 257). Kredibilitas terdiri dari dua unsur, yaitu keahlian dan kejujuran. Keahlian diukur dengan sejauh mana komunikan menganggap komunikator mengetahui jawaban yang benar. Sedangkan kejujuran dioperasionalkan sebagai persepsi komunikan tentang sejauh mana komunikator bersikap tidak memihak dalam menyampaikan pesannya (Rakhmat, 2002 : 76). Kredibilitas meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan pada perusahaan seperti reputasi, prestasi, dan sebagainya (Umar, 2002 : 204). Kepercayaan adalah kesan komunikan tentang komunikator yang berkaitan dengan wataknya. Dapat atau tidaknya sebuah sumber dipercaya tergantung dari keahlian dan kejujuran, yang berarti bahwa seseorang yang berkredibilitas dilihat dari keahlian dan kejujurannya di mata orang lain. Keahlian merupakan penilaian komunikan mengenai kemampuan, kecerdasan, pengalaman seseorang. Komunikator yang dianggap mempunyai keahlian tinggi biasanya akan lebih dihargai. Teori Kredibilitas terdapat dalam pola komunikasi yang terjadi antara kelompok pemasu dalam Masui Babuy dimana komunikator merupakan pemimpin kelompok yang mempunyai tanggung jawab dan pengalaman yang lebih jika dibandingkan anggota kelompok pemasu lainnya.
Teori Interaksional Simbolik (skripsi dan tesis)
Paham mengenai interaksi simbolik adalah suatu cara berfikir mengenai pikiran (mind), diri dan masyarakat yang telah memberikan banyak kontribusi kepada tradisi sosiokultural dalam membangun teori komunikasi. Herbert Mead dipandang sebagai pembangun paham interaksi simbolik. Ia mengajarkan bahwa makna muncul sebagai hasil interaksi di antara manusia, baik secara verbal maupun non-verbal. Menurut paham interaksi simbolik, individu berinteraksi dengan individu lainnya sehingga menghasilkan suatu ide tertentu mengenai diri. (dalam Morrison dan Wardhany, 2009:74-75) Interaksionisme simbolik menjelaskan proses dimana diri sendiri dikembangkan. Interaksionisme simbolik pergerakan dalam sosiologi, berfokus pada cara–cara manusia membentuk makna dan susunan dalam masyarakat melalui percakapan.
Barbara Ballis Lal (dalam Littlejohn dan Foss, 2009:231) meringkaskan dasar – dasar pemikiran gerakan ini :
a. Manusia membuat keputusan dan bertindak sesuai dengan pemahaman subjektif mereka terhadap situasi ketika mereka menemukan diri mereka
b. Kehidupan sosial terdiri dari proses–proses interaksi daripada susunan, sehingga terus berubah
c. Manusia memahami pengalaman mereka melalui makna-makna yang ditemukan dalam simbol–simbol dari kelompok utama mereka dan bahasa merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial
d. Dunia terbentuk dari objek–objek sosial yang memiliki nama dan makna yang ditentukan secara sosial
e. Tindakan manusia didasarkan pada penafsiran mereka, di mana objek dan tindakan yang berhubungan dalam situasi yang dipertimbangkan dan diartikan
f. Diri seseorang merupakan sebuah objek yang signifikan dan layaknya semua objek sosial, dikenalkan melalui interaksi sosial dengan orang lain. (Littlejohn dan Foss, 2009:231) Interaksionisme simbolik sebagai sebuah gerakan, ada untuk meneliti cara–cara manusia berkomunikasi, memusat, atau dapat membagi makna. (Littlejohn dan Foss, 2009:236).
Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yaitu komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. (Mulyana, 2001:68) 42 Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang objek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek, dan bahkan diri mereka sendirilah yang menentukan perilaku mereka. Perilaku mereka tidak hanya digolongkan sebagai kebutuhan, dorongan impuls, tuntunan budaya, atau tuntunan peran. Manusia bertindak hanya berdasarkan definisi atau penafsiran mereka atas objek-objek disekeliling mereka. (Mulyana, 2001:70) Inti pandangan pendekatan ini adalah individu. Para ahli di belakang perspektif ini mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting dalam konsep sosiologi. Mereka melihat bahwa individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain. Baik manusia dan struktur sosial dikonseptualisasikan secara lebih kompleks, lebih tak terduga, dan aktif jika dibandingkan dengan perspektif-perspektif sosiologis yang konvensional.Di sisi ini masyarakat tersusun dari individu-individu yang berinteraksi yang tidak hanya bereaksi, namun juga menangkap, menginterpretasi, bertindak, dan mencipta. Individu bukanlah sekelompok sifat, namun merupakan seorang aktor yang dinamis dan berubah, yang selalu berada dalam proses menjadi dan tak pernah selesai terbentuk sepenuhnya.
Masyarakat bukanlah sesuatu yang statis “di luar sana” yang selalu mempengaruhi dan membentuk diri kita, namun pada hakekatnya merupakan sebuah proses interaksi. Individu bukan hanya memiliki pikiran (mind), namun juga diri (self) yang bukan sebuah entitas psikologis, namun sebuah aspek dari proses sosial yang muncul dalam proses pengalaman dan aktivitas sosial. Selain itu, keseluruhan proses interaksi tersebut bersifat simbolik, di mana makna-makna dibentuk oleh akal budi manusia. Tiga tema konsep pemikiran Herbert Mead yang mendasari interaksi simbolik antara lain:
a. Pentingnya makna bagi perilaku manusia Dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretif oleh individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan makna yang dapat disepakati secara bersama.
b. Pentingnya konsep mengenai diri Menekankan pada pengembangan konsep diri melalui individu tersebut secara aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya.
c. Hubungan antara individu dengan masyarakat Bahwa norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya tiap individu-lah yang menentukan pilihan yang ada dalam sosial kemasyarakatannya
Teori Jaringan dan Sosiometri (skripsi dan tesis)
Jaringan atau network merupakan susunan sosial yang diciptakan oleh komunikasi antarindividu dan kelompok. Saat manusia saling berkomunikasi tercipta mata rantai. Mata rantai tersebut merupakan jalur komunikasi dalam sebuah organisasi. Beberapa diantaranya ditentukan oleh aturan-aturan organisasi (seperti susunan birokrasi yang dinyatakan Max Weber bahwa birokrasi adalah sistem administrasi rutin yang dilakukan dengan keseragaman, diselenggarakan dengan cara-cara tertentu, didasarkan aturan tertulis, oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya) dan mendasari jaringan formal (formal network), tapi saluransaluran ini hanya mengungkapkan bagian susunan organisasi.
Sebaliknya, jaringan yang berkembang (emergent network) adalah saluran informal yang dibangun, bukan oleh regulasi formal organisasi tetapi oleh kontak reguler sehari-hari antar anggotanya. (dalam Littlejohn. 2009 : 371) Teori tentang jaringan komunikasi ini menjelaskan tentang cara mengukur tingkat hubungan antarpribadi individu dalam kelompok, pengukuran perilaku sosial manusia. Interaksi yang terjadi pada para pemasu dalam tradisi Masui Babuy dapat diukur pula dengan menggunakan landasan teori jaringan ini dengan mengindetifikasikan interaksi antarindividu dalam kelompok pemasu dalam penyebaran informasi mengenai pesan yang disampaikan oleh kelompok pemasu lainnya. Tolak ukur tersebut dalam sebuah jaringan komunikasi digambarkan dalam sosiogram sehingga dapat dilihat pola komunikasi antar individu yang dapat membentuk jaringan komunikasi tersebut. Kelebihan teknik sosiometri adalah teknik ini memberikan informasi obyektif mengenai fungsi-fungsi individu dalam kelompoknya, dimana informasi ini tidak dapat diperoleh dari sumber yang lain. Sosiometri merupakan sebuah konsepsi psikologis yang mengacu pada suatu pendekatan metodologis dan teoritis terhadap kelompok. Asumsi yang dimunculkan adalah bahwa individu-individu dalam kelompok yang merasa tertarik satu sama lain, akan lebih banyak melakukan tindak komunikasi sebaliknya, individu-individu yang saling menolak, hanya sedikit atau kurang melaksanakan tindak komunikasi. Keterkaitan individu-individu dalam kelompok yang dapat membentuk suatu pola komunikasi didasarkan dari intensitas komunikasi yang terjadi.
Semakin dekat individu tersebut maka akan semakin sering komunikasi yang terjadi. Gagasan struktural dasar dari teori jaringan adalah keterkaitan (connectedness), gagasan bahwa ada pola komunikasi yang cukup stabil antarindividu. Individu-individu yang saling berkomunikasi saling terhubung kedalam kelompok-kelompok yang selanjutnya saling terhubung kedalam keseluruhan jaringan. Setiap orang memiliki hubungan yang khusus dengan orang lain. Hal ini disebut dengan jaringan pribadi (personal networks). Karena individu cenderung berkomunikasi dengan anggota-anggota kelompok lain maka terbentuklah jaringan kelompok (group networks). Kelompok-kelompok yang berinteraksi kemudian dapat membentuk suatu jaringan yang lebih kompleks yaitu jaringan global (global networks). (dalam Littlejohn. 2009: 372).
Komunikasi Non Verbal (skripsi dan tesis)
Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesanpesan nonverbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Secara teoritis komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan seharihari.
Rakhmat (1994) mengelompokkan pesan-pesan nonverbal sebagai berikut:
1. Pesan kinesik.
Pesan nonverbal yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti, terdiri dari tiga komponen utama: pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural.
2. Pesan facial menggunakan air muka untuk menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh kelompok makna: kebagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad.
Leathers (1976) menyimpulkan penelitian-penelitian tentang wajah sebagai berikut: wajah mengkomunikasikan penilaian dengan ekspresi senang dan tak senang, yang menunjukkan apakah komunikator memandang objek penelitiannya baik atau buruk, wajah mengkomunikasikan berminat atau tak berminat pada orang lain atau lingkungan, wajah mengkomunikasikan intensitas keterlibatan dalam situasi situasi, wajah mengkomunikasikan tingkat pengendalian individu terhadap pernyataan sendiri dan wajah barangkali mengkomunikasikan adanya atau kurang pengertian.
3. Pesan gestural menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasi berbagai makna.
4. Pesan postural berkenaan dengan keseluruhan anggota badan, makna yang dapat disampaikan adalah:
a. Immediacy yaitu ungkapan kesukaan dan ketidak sukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong ke arah yang diajak bicara menunjukkan kesukaan dan penilaian positif.
b. Power mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator. Anda dapat membayangkan postur orang yang tinggi hati di depan anda, dan postur orang yang merendah.
c. Responsiveness, individu dapat bereaksi secara emosional pada lingkungan secara positif dan negatif. Bila postur anda tidak berubah, anda mengungkapkan sikap yang tidak responsif.
5. Pesan proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain
6. Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan tubuh, pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh ialah upaya kita membentuk citra tubuh dengan pakaian, dan kosmetik.
7. Pesan paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan secara berbeda.
8. Pesan sentuhan dan bau-bauan. Alat penerima sentuhan adalah kulit, yang mampu menerima dan membedakan emosi yang disampaikan orang melalui sentuhan. Sentuhan dengan emosi tertentu dapat mengkomunikasikan: kasih sayang, takut, marah, bercanda, dan tanpa perhatian. Bau-bauan, terutama yang menyenangkan (wewangian) telah berabad-abad digunakan orang, juga untuk menyampaikan pesan menandai wilayah mereka, mengidentifikasikan keadaan emosional, pencitraan, dan menarik lawan jenis
. Komunikasi Verbal (skripsi dan tesis)
Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal (dalam Mulyana, 2005). Bahasa dapat didefinisikan sebagai 33 seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbolsimbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Menurut Larry L. Barker (dalam Mulyana, 2005), bahasa mempunyai tiga fungsi: penamaan (naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi. c. Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi. d. Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan. e. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain, inilah yang disebut fungsi transmisi dari bahasa. Keistimewaan bahasa sebagai fungsi transmisi informasi yang lintas-waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita
Aspek Dalam Komunikasi Antar Pribadi (skripsi dan tesis)
Efektivitas Komunikasi antarpribadi dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality) ( dalam Devito, 2011 : 259-264 )
1. Keterbukaan (Openness)
Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Aspek ketiga menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran (Bochner dan Kelly, 1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang anda lontarkan adalah memang milik anda dan anda bertanggungjawab atasnya. Cara terbaik untuk menyatakan tanggung jawab ini adalah dengan pesan yang menggunakan kata Saya (kata ganti orang pertama tunggal).
2. Empati (empathy)
Henry Backrack (dalam Devito, 2011: 259-264) mendefinisikan empati sebagai ”kemampuan seseorang untuk „mengetahui‟ apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu.” Bersimpati, di pihak lain adalah 31 merasakan bagi orang lain atau merasa ikut bersedih. Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama dan merasakan perasaan yang sama dengan cara yang sama.
3. Sikap Mendukung (supportiveness)
Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness). Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung.
Kita memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap (1) deskriptif, bukan evaluatif, (2) spontan, bukan strategic, dan (3) provisional, bukan sangat yakin.
4. Sikap Positif (positiveness)
Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri. Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan terhadap situasi atau suasana interaksi.
5. Kesetaraan (Equality)
Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih pandai. Lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis daripada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar 32 setara dalam segala hal. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya,, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan, ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain. Kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain.
Jenis Komunikasi Antar Pribadi (skripsi dan tesis)
David K. Berlo (dalam Djamaludin, 2004 : 10) mengatakan ada empat macam ketergantungan pada komunikasi antarpribadi:
a. Definitional-physical interdependence adalah ketergantungan secara fisik antara komunikator dengan komunikan. Artinya bila komunikator tidak ada dan komunikan pun tidak ada, maka komunikasi pun tidak pernah ada.
b. Action reaction interdependence adalah ketergantungan antara pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan dan umpan balik itu akan mempengaruhi pesan yang diberikan komunikator. Disini akan terjadi apakah komunikan atau komunikator terpengaruh dalam menyampaikan atau yang memberikan umpan balik.
c. Interpendence of expaction empaty adalah suatu metode yang memproyeksikan diri untuk memahami orang lain, artinya kita harus dapat menempatkan diri kita kepada orang lain. Dengan demikian ketergantungan antara komunikator dengan komunikan sangat menonjol.
d. Interaction the goal of human communication, yaitu ketergantungan antara peranan komunikator dengan komunikan dalam merealisir tujuan komunikasi.
Efektivitas Komunikasi antarpribadi dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality) ( dalam Devito, 2011 : 259-264 )
Tinjauan Tentang Komunikasi Antar Pribadi (skripsi dan tesis)
Komunikasi antarpribadi yang dimaksud disini adalah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka, seperti yang dinyatakan Pace, R. Wayne (dalam Cangara, 2007 : 32) bahwa ”interpersonal communication is communication involving two or more people in face setting” yaitu komunikasi antar pribadi meliputi dua orang atau lebih dengan bertatap muka. Komunikasi antarpribadi didefinisikan oleh Joseph (dalam Effendy, 2004 : 59) sebagai proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang, atau diantara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan umpan balik seketika. Asumsi dasar komunikasi antarpribadi adalah bahwa setiap orang yang berkomunikasi akan membuat prediksi pada data psikologis tentang efek atau perilaku komunikasinya, yaitu bagaimana pihak yang menerima pesan memberikan reaksinya. Jika menurut persepsi komunikator reaksi komunikan menyenangkan maka ia akan merasa bahwa komunikasinya telah berhasil. Menurut sifatnya, komunikasi antarpribadi dapat dibedakan atas dua macam, yakni Komunikasi Diadik (Dyadic Communication) dan Komunikasi Kelompok Kecil (Small Group Communication). Komunikasi Diadik adalah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang dalam situasi tatap muka. Komunikasi diadik dapat dilakukan dalam tiga bentuk, yakni percakapan, dialog dan wawancara. Percakapan dilakukan dalam suasana yang bersahabat dan informal. Dialog berlangsung dalam situasi yang lebih intim, lebih dalam dan lebih personal. Sedangkan wawancara sifatnya lebih serius, yakni adanya pihak yang dominan pada posisi bertanya dan yang lainnya pada posisi menjawab. Komunikasi kelompok kecil ialah proses komunikasi yang berlangsung antara tiga orang atau lebih secara tatap muka, dimana anggota-anggotanya salng berinteraksi satu sama lain. Menurut Devito (2011 : 231) komunikasi kelompok kecil adalah proses komunikasi yang berlangsung antara tiga atau lebih secara tatap muka, dimana anggota-anggota saling berinteraksi satu sama lainnya.
Tinjauan Tentang Komunikasi Organisasi (skripsi dan tesis)
Terdapat beberapa persepsi mengenai komunikasi organisasi (dalam Muhammad, 2005: 65), antara lain:
1. Menurut Redding dan Sanborn Redding dan Sanborn mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Yang termasuk dalam bidang ini adalah komunikasi internal, hubungan manusia, hubungan persatuan pengelola, komunikasi downward atau komunikasi dari atasan kepada bawahan, komunikasi upward atau komunikasi dari bawahan kepada atasan, komunikasi horizontal atau komunikasi dari orang-orang yang sama level/tingkatnya dalam organisasi, keterampilan berkomunikasi dan berbicara, mendengarkan menulis dan komunikasi evaluasi program.
2. Menurut Katz dan Kahn Katz dan Kahn mengatakan bahwa komunikasi organisasi merupakan arus informasi, pertukaran informasi dan pemindahan arti didalam suatu organisasi. Menurut Katz dan Kahn organisasi adalah sebagai suatu system terbuka yang menerima energi dari lingkungannya dan mengubah energi ini menjadi produk atau servis dari sistem dan mengeluarkan produk atau servis ini kepada lingkungan.
Tinjauan Tentang Komunikasi Kelompok (skripsi dan tesis)
Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005:52) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Sementara itu, kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil yang masing-masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu di antara mereka. Karakteristik kelompok kecil menurut DeVito (2011:303) sebagai berikut :
1. Pertama, kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan, jumahnya cukup kecil sehingga semua anggota bisa berkomunikasi dengan mudah sebagai pengirim maupun penerima.
2. Kedua, para anggota kelompok harus dihubungkan satu sama lain dengan beberapa cara.
3. Ketiga, di antara anggota kelompok harus ada beberapa tujuan yang sama. Hal ini tidak berarti bahwa semua anggota harus mempunyai tujuan yang persis sama untuk menjadi anggota kelompok. 4. Keempat, para anggota kelompok harus dihubungkan oleh beberapa aturan dan struktur yang terorganisasi. Pada strukturnya ketat maka kelompok akan berfungsi menurut prosedur tertentu di mana setiap komentar harus mengikuti aturan yang tertulis.
Bentuk-bentuk komunikasi kelompok kecil (small group communication) (dalam Efendy 2003:77), yaitu:
1. Ceramah (lecture)
2. Diskusi panel (panel discussion)
3. Simposium (symposium)
Dalam tatanan kehidupan masyarakat ada kelompok-kelompok yang terbentuk dalam rangka menghimpun usaha-usaha untuk mencapai tujuan bersama, kelompok-kelompok yang ada di tengah masyarakat itu diklasifikasi dalam berbagai macam kelompok (Abdulsyani, 2007:105-113) yaitu:
1. Kelompok kekerabatan
Dalam kehidupan masyarakat yang masih sederhana yang memiliki jumlah anggota terbatas, biasanya hubungan antara masing-masing anggotanya saling mengenal secara mendalam. Yang menjadi dasar kekuatan ikatan kelompok semacam ini adalah sistem kekerabatan yang terdiri dari anggota keluarga, termasuk pula atas dasar persamaan pekerjaan atau status sosial dalam masyarakat. Ukuran yang paling utama bagi kelompok kekerabatan ini adalah bahwa individu lebih dekat atau tertarik dengan kehidupan keluarga, tetangga atau individu lain yang dianggap dapat berfungsi membina kerukunan-kerukunan sosial dalam kehidupan mereka.
2. Kelompok utama dan kelompok sekunder
Kelompok utama dan kelompok sekunder, oleh banyak para ahli sering disebut sebagai primary group dan secondary group. Secara sosiologis kelompok ini sering disebut sebagai we feeling, dimana perasaan memiliki anggota terhadap kelompok ini sangat besar. Para anggotanya saling membagi pengalaman, berencana dan memecahkan masalah bersama serta berusaha bersama dalam memenuhi kebutuhan bersama.
Agar dapat lebih jelas, maka dibawah ini dikutip beberapa perbedaan antara kelompok primer dan kelompok sekunder sesuai pendapat Rogers, yaitu :
a. Kelompok primer; ukuran kecil seringkali lebih kecil dari 20 atau 30 orang anggota, hubungan bersifat pribadi dan akrab diantara anggota, lebih mengutamakan komunikasi tatap muka, lebih permanen dan para anggota berada bersama dalam periode waktu yang relatif panjang, para anggota saling mengenal secara baik dan mempunyai perasaan loyalitas yang kuat, bersifat informal, keputusan dalam kelompok lebih bersifat tradisional dan kurang rasional.
b. Kelompok sekunder; ukuran besar, hubungan bersifat tidak pribadi dan jauh antara sesame anggota, sedikit saja komunikasi tatap muka, bersifat temporer dan para anggota berada bersama dalam waktu yang relatif singkat, anggota tidak saling mengenal secara baik, bersifat formal, keputusan-keputusan dalam kelompok lebih rasional dan menekankan pada efisensi.
3. Gemeinschaft dan Gesellschaft
Gemeinschaft dan Gesellschaft adalah pokok pikiran tentang kelompok masyarakat yang dicetuskan oleh Ferdinand Tonnies. Gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni, bersifat alamiah dan besifat kekal. Dasar dari hubungan itu adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Bentuk kelompok gemeinschaft dapat juga dijumpai pada masyarakat desa atau masyarakat yang tergolong sederhana. Didalam gemeinschaft apabila terjadi perselisihan atau pertentangan paham, maka penyelesaiannya tidak cukup dilakukan atas nama pribadi, akan tetapi menjadi urusan bersama atas dasar nama kelompok. Sementara itu yang disebut sebagai Gesellschaft adalah kelompok yang didasari atas ikatan lahiriah yang jangka waktunya hanya terbatas. Gesellschaft hanya bersifat sebagai suatu bentuk pikiran belaka serta struktur-strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin.
4. Kelompok formal dan kelompok informal
Kelompok formal adalah kelompok-kelompok yang sengaja diciptakan dan didasarkan pada aturan-aturan yang tegas. Aturan-aturan yang ada dimaksudkan sebagai sarana untuk mengatur hubungan antar anggotanya didalam setiap usaha mencapai tujuannya. Status-status yang dimiliki oleh anggota-anggotanya diatur pula sesuai dengan pembatasan tugas dan wewenangnya. Sebagai contohnya adalah instansi pemerintah, perguruan tinggi, dan lain-lain. Sedangkan kelompok informal adalah kelompok-kelompok yang terbentuk karena kuantitas pertemuan yang cukup tinggi dan berulang-ulang. Setiap pertemuan dilakukan atas dasar kepentingan dan pengalaman masingmasing yang relative sama. Dalam kelompok informal terdapat juga klik (qliques), yaitu kelompok yang terikat kuat atas dasar persahabatan atau kepentingan bersama dan mempunyai perasaankelompok yang sangat kuat.
5. Membership group dan Reference group
Membership group merupakan kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Menurut Merton pengertiannya sama dengan apa yang disebut dengan informal group, hanya saja dalam kelompok ini anggota-anggotanya sering melakukan interaksi untuk membentuk kelompok-kelompok tersendiri. Reference group adalah kelompok sosial yang dijadikan sebagai perbandingan atau contoh bagi seseorang yang bukan sebagai anggotanya, kemudian seseorang yang bersangkutan melakukan identifikasi dirinya sebagaimana kelompok contoh tadi. Secara umum kelompok reference merupakan kelompok yang menurut pandangan seseorang mengakui, menerima dan mengidentifikasikan dirinya tanpa harus menjadi anggotanya. Perkembangan kelompok sangat menentukan kehidupan kelompok selanjutnya. Jika setiap anggota merasakan suasana yang nyaman dalam kelompok, baik itu dari interaksi yang ada di dalam kelompok, tujuan kelompok atau tujuan pribadi yang tercapai, maka hal tersebut dapat membantu sebuah kelompok bertahan, sebaliknya jika setiap anggota kelompok tidak menemukan kenyamanan dalam interaksi sesame anggota, tidak menemukan tercapainya tujuan, baik itu tujuan kelompok atau tujuannya pribadi, maka kondisi tersebut memungkinkan kelompok tersebut mengalami perpecahan.
Adapun pengaruh kelompok pada perilaku komunikasi (dalam Fajar, 2009:70), yaitu:
1. Konformitas.
Konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai akibat tekanan kelompok yang nyata atau dibayangkan. Bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama. Jadi, kalau anda merencanakan untuk menjadi ketua kelompok, aturlah rekan-rekan anda untuk menyebar dalam kelompok. Ketika anda meminta persetujuan anggota, usahakan rekan-rekan anda secara persetujuan mereka. Tumbuhkan seakan-akan seluruh anggota kelompok sudah setuju. Besar kemungkinan anggota-anggota berikutnya untuk setuju juga
2. Fasilitasi sosial.
Fasilitasi (dari kata Prancis facile, artinya mudah) menunjukkan kelancaran atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelompok mempengaruhi pekerjaan sehingga menjadi lebih mudah. Energi yang meningkat akan mempertingi kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan. Respon dominan adalah perilaku yang kita kuasai. Bila respon yang dominan itu adalah yang benar, terjadi peningkatan prestasi. Bila respon dominan itu adalah yang salah, terjadi penurunan prestasi. Untuk pekerjaan yang mudah, respon yang dominan adalah respon yang banar; karena itu, peneliti-peneliti melihat melihat kelompok mempertinggi kualitas kerja individu.
3. Polarisasi
Polarisasi adalah kecenderungan ke arah posisi yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan lebih kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya, bila sebelum diskusi para anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan menentang lebih keras
Tinjauan Tentang Pola Komunikasi (skripsi dan tesis)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:885), pola adalah suatu sistem kerja atau cara kerja sesuatu, sedangkan dalam Kamus Ilmiah Populer, Pola mengandung arti model, contoh, pedoman, dasar kerja (dalam Farid Hamid, 2003:497). Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pola adalah dasar kerja atau cara kerja yang terdiri dari unsur-unsur terhadap suatu gejala arah prilaku dan dapat dipakai untuk menggambarkan atau mendeskripsikan gejala arah dan prilaku itu sendiri.
Denis Mc.Quail (dalam Djuarsa, 1993 : 39) menyatakan bahwa secara umum pola komunikasi terbagi menjadi enam tingkatan yaitu sebagai berikut:
1. Intrapersonal Communication yaitu proses komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, berupa proses pengolahan informasi, melalui pancaindra dan sistem syaraf misalnya berfikir, merenung, mengingat-ingat sesuatu, menulis surat dan menggambar.
2. Interpersonal Communication yaitu komunikasi yang dilakukan secara langsung antara seseorang dengan orang lain, misalkan percakapan tatap muka diantara dua orang, surat menyurat pribadi, dan percakapan melalui telepon. Corak komunikasi juga lebih bersifat pribadi, dalam arti pesan atau informasi yang disampaikan hanya ditujukan untuk kepentingan pribadi para pelaku komunikasi yang terlibat.
3. Komunikasi dalam kelompok yaitu kegiatan komunikasi yang berlangsung antara dua kelompok, pada tingkatan ini setiap individu masing-masing berkomunikasi sesuai dengan pesan dan kedudukannya dalam kelompok bukan bersifat pribadi.
4. Komunikasi antar kelompok atau asosiasi yaitu kegiatan komunikasi yang berlangsung antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya atau suatu asosiasi dengan asosiasi lainnya. Jumlah pelaku yang terlibat dalam komunikasi jenis ini boleh jadi hanya dua atau beberapa orang saja, tetapi masing-masing membawa pesan dan kedudukannya sebagai wakil dari kelompok masing-masing.
5. Komunikasi organisasi adalah mencakup kegiatan organisasi dan komunikasi antar-organisasi. Sifat pola komunikasi ini lebih formal dan mengutamakan prinsip-prinsip efisiensi dalam melaksanakan kegiatan komunikasinya.
6. Komunikasi dengan masyarakat luas dimana pada tingkat komunikasi ini komunikasi ditujukan pada masyarakat luas.
Menurut Widjaja (2000 : 102-103) pola komunikasi dibagi menjadi 4 model, yaitu:
1. Pola Komunikasi
Roda Pola komunikasi roda menjelaskan pola komunikasi satu orang kepada orang banyak, yaitu (A) berkomunikasi kepada (B), (C), (D), dan (E). 14 B C A E D
2. Pola Komunikasi
Rantai Pola komunikasi ini, seseorang (A) berkomunikasi dengan orang lain (B) seterusnya ke (C), (D), dan ke (E). A B C D E
3. Pola Komunikasi Lingkaran
Pola komunikasi lingkaran ini hampir sama dengan pola komunikasi rantai, namun orang terakhir (E) berkomunikasi kembali pada orang pertama (A). A E B D C 15
4. Pola Komunikasi Bintang
Pada Pola komunikasi bintang ini, semua anggota saling berkomunikasi satu sama lainnya. A E B D C Pola komunikasi yang dimaksud disini adalah gambaran tentang bentuk atau cara yang digunakan seseorang atau sekelompok orang dalam menyampaikan pesan baik secara langsung maupun melalui media dalam konteks hubungan dan interaksi yang berlangsung dalam masyarakat.
Pengaruh Social media marketing Terhadap Brand equity (skripsi dan tesis)
Salah satu manfaat yang didapatkan dari penggunaan social media terhadap brand adalah membentuk online branding. Tujuan utama dalam membangun sebuah brand untuk semua bisnis adalah untuk menjaga agar brand tetap terlihat untuk orang-orang di dunia maya (Taprial & Kanwar, 2012). Hal ini juga diperkuat oleh penjelasan Zimmerman & Sahlin (2010) bahwa social media, hampir semua jenisnya, adalah alat yang baik untuk membangun sebuah brand. Melalui social media sebuah perusahaan dapat meningkatkan kesadaran konsumen tentang sebuah produk (top of mind awareness) dan menyasar target yang lebih tersegmentasi. Menurut Sterne (2010), penggunaan social media dapat membantu perusahaan untuk melihat berbagai opini dan menganalisis pergeseran sikap dari pelanggan. Hal ini dapat memberikan wawasan kepada perusahaan untuk dapat mempertahankan diri di tengah perubahan pasar dan brand equity perusahaan. Menurut Gunelius (2011), social media marketing dapat memberikan kesempatan besar untuk wirausahawan, bisnis kecil, perusahaan sedang, dan korporasi besar dalam membangun brand dan bisnisnya. Gunelius juga menyatakan bahwa salah satu tujuan dari social media adalah untuk membangun brand. Percakapan di social media menyediakan cara yang sempurna untuk membangun brand awareness, mendorong brand recognition dan brand recall, dan meningkatkan brand loyalty.
Social media marketing (skripsi dan tesis)
Social media marketing adalah segala bentuk pemasaran langsung atau tidak langsung yang digunakan untuk membangun kesadaran, pengenalan, pengingatan kembali, dan pengambilan aksi terhadap sebuah brand, bisnis, produk, orang, atau hal lainnya yang dikemas menggunakan alatalat di social web, seperti blogging, microblogging, social networking, social bookmarking, dan content sharing (Gunelius, 2011). Social media marketing menggunakan social media sebagai saluran pemasarannya, sehingga kita dapat menggunakan karakteristik dari social media sebagai dimensi pengukurannya. Menurut Mayfield (2008), social media tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut participation, openness, conversation, community, dan connectedness.
Teori Ekologi Media (skripsi dan tesis)
Menurut Marshall McLuhan (West & Turner, 2010), kehadiran teknologi media menentukan dalam membentuk kehidupan manusia. Teori ini berpusat pada prinsip bahwa masyarakat tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh teknologi. McLuhan mengajukan tiga gagasan dasar mengenai pengaruh teknologi media terhadap manusia melalui teori yang dinamakan teori ekologi media (disebut juga dengan technological determinism) sebagai berikut:
1. Media memengaruhi setiap perbuatan atau tindakan dalam masyarakat (media infuses every act and action in society)
2 Media memperbaiki persepsi kita dan mengelola pengalaman kita (media fix our perceptions and organize our experience)
3. Media mengikat dunia bersama-sama (media tie the world together).
Pentingnya media bagi kehidupan manusia menurut teori ekologi media dapat dilihat dalam beberapa era perkembangan media, yaitu the tribal era, the literate era, the print era, dan the electronic era (Tim Mercu Buana, 2012)
Manfaat Assertive Training (skripsi dan tesis)
Menurut pendapat Corey (2009), manfaat latihan asertif yaitu membantu bagi orang-orang yang:
Perilaku Asertif (skripsi dan tesis)
Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif. Frensterhim dan Baer, mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif orang yang berpendapat dari orientasi dari dalam, memiliki kepercayan diri yang baik, dapat mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut dan berkomunikasi dengan orang lain secara lancar. Sebaliknya orang yang kurang asertif adalah mereka yang memiliki ciri terlalu mudah mengalah atau lemah, mudah tersinggung, cemas, kurang yakin pada diri sendiri, sukar mengadakan komunikasi dengan orang lain, dan tidak bebas mengemukakan masalah atau hal yang telah dikemukakan. Nelson dan Jones (2006) menjelaskan bahwa perilaku asertif adalah perilaku yang merefleksikan rasa percaya diri dan menghormati diri sendiri dan orang lain. hal ini sejalan dengan pengertian perilaku asertif yang dikemukakan oleh Alberti dan Emmons, yaitu perilaku asertif meningkatkan kesetaraan dalam hubungan sesama manusia, yang memungkinkan kita untuk menunjukkan minat terbaik kita, berdiri sendiri tanpa hatrus merasa cemas, mengeekspresikan perasaan kita dengan jujur dan nyaman, melatih kepribadian kita yang sesungguhnya tanpa menolak kebenaran dari orang lain. 22 Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah perilaku sesesorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut, emosi, perasaan, pikiran serta keinginan dan kebutuhan secara terbuka, tegas dan jujur tanpa perasaan cemas atau tegang terhadap orang lain, tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain.
Pengertian Assertive Training (skripsi dan tesis)
Assertive training merupakan salah satu teknik dalam terapi behavioral. Menurut Willis (2004) terapi behavioral berasal dari dua arah konsep yakni Pavlovian dari Ivan Pavlov dan skinerian dari B.F Skinner. Mula-mula terapi ini dikemabangkan oleh Wolpe untuk menanggulangi neurosis. Neurosis dapat dijelaskan dengan mempelajari perilaku yang tidak adaptif melalui proses belajar. Dengan kata lain perilaku yang menyimpang bersumber dari hasil belajar di lingkungan. Willis (2004) menjelaskan bahwa assertive training merupakan teknik dalam konseling behavioral yang menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya. Assertive Training adalah suatu teknik untuk membantu klien dalam hal-hal berikut: a. Tidak dapat menyatakan kemarahan atau kejengkelannya; b. Mereka yang sopan berlebihan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan padanya; c. Mereka yang mengalami kesulitan berkata “tidak”; d. Mereka yang sukar menyatakan cinta dan respon positif lainnya; e. Mereka yang merasakan tidak punya hak untuk menyatakan pendapat dan pikirannya. Selain itu Gunarsih (2007) dalam bukunya Konseling dan Psikoterapi menjelaskan pengertian latihan asertif yaitu prosedur latihan yang diberikan kepada klien untuk melatih perilaku penyesuaian sosial melalui ekspresi diri dari perasaan, sikap, harapan, pendapat, dan haknya. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa assertive training atau latihan asertif adalah prosedur latihan yang diberikan 21 untuk membantu peningkatan kepercayaan diri dalam mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain
Fungsi Komunikasi Interpersonal (skripsi dan tesis)
Tanpa kita sadari, keberadaan komunikasi interpersonal telah berperan aktif dalam kehidupan, bahkan tidak sedikit manusia yang melakukan praktik komunikasi interpersonal ini. Menurut Enjang (2009: 77-79) komunikasi Interpersonal memiliki fungsi yaitu :
Pentingnya Komunikasi Interpersonal
Sebagai makhluk sosial, komunikasi interpersonal sangat penting bagi kebahagiaan hidup kita. Jhonson (Supratiknya, 2003:9) menunjukkan beberapa peranan yang disumbangkan oleh komunikasi interpersonal dalam rangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia, yaitu sebagai berikut :
Ciri-Ciri Komunikasi Interpersonal (skripsi dan tesis)
Komunikasi interpersonal bersifat dialogis, dalam arti arus balik antara komunikator dengan komunikan terjadi langsung, sehingga pada saat itu juga komunikator dapat mengetahui secara langsung tanggapan dari komunikan, dan secara pasti akan mengetahui apakah komunikasinya positif, negatif dan berhasil atau tidak. Apabila tidak berhasil, maka komunikator dapat memberi kesempatan kepada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya. Menurut Kumar (dalam Wiryanto, 2005: 36) bahwa ciri-ciri komunikasi interpersonal yaitu: a. Keterbukaan (openess), yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima di dalam menghadapi hubungan interpersonal; b. Empati (empathy), yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain. c. Dukungan (supportiveness), yaitu situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung efektif. d. Rasa positif (positivenes), seseorang harus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk interaksi yang efektif. e. Kesetaraan atau kesamaan (equality), yaitu pengakuan secara diamdiam bahwa kedua belah pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. 15 Berdasarkan paparan diatas mengenai ciri-ciri komunikasi interpersonal, dapat disimpulkan bahwa dalam komunikasi interpersonal, agar diperoleh komunikasi yang efektif maka dibutuhkannya keterbukaan (opennes), empati (empathy), sikap mendukung (supportivenes), rasa positif (positivenes) dan kesetaraan (equality).
Pengertian Komunikasi Interpersonal (skripsi dan tesis)
Pada hakikatnya komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara komunikator dan komunikan. Komunikasi ini paling efektif mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang. Komunikasi interpersonal bersifat dialogis. Artinya, arus balik terjadi langsung. Komunikator dapat mengetahui tanggapan komunikan saat itu juga. Komunikator mengetahui tanggapan komunikan saat itu juga. Komunikator mengetahui secara pasti apakah komunikasinya positif, negatif, berhasil atau tidak. Jika tidak berhasil maka komunikator dapat memberi kesempatan komunikan untuk bertanya seluasluasnya. Menurut Cangara (2010) komunikasi Interpersonal merupakan proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka. Sedangkan definisi umum komunikasi interpesonal menurut Enjang (2009: 68) adalah komunikasi antar orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap peserta menangkap reaksi yang lain secara langsung, baik verbal maupun nonverbal. Selain itu, Kellerman dan Peter (2001) dalam bukunya Interpersonal Communication mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang memiliki karakteristik yaitu komunikasi terjadi dari satu orang ke orang lain, komunikasi berlangsung secara tatap muka dan isi dari komunikasi itu merefleksikan karakter pribadi dari tiap individu itu sebaik hubungan dan peran sosial mereka. 14 Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih secara langsung (tatap muka) dan terjadi timbal balik secara langsung pula baik secara verbal maupun non-verbal
Pengertian Komunikasi (skripsi dan tesis)
Komunikasi mencakup pengertian yang luas dari sekedar wawancara. Setiap bentuk tingkah laku mengungkapkan pesan tertentu, sehingga juga merupakan sebentuk komunikasi. Sedangkan Rogers bersama Kuncaid (Cangara, 2010) mendefinisikan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. Secara sempit komunikasi diartikan sebagai pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku penerima. Setiap bentuk komunikasi setidaknya dua orang saling mengirimkan lambang-lambang yang memiliki makna tertentu. Lambanglambang tersebut bisa bersifat verbal berupa kata-kata, atau bersifat nonverbal berupa ekspresi atau ungkapan tertentu dan gerakan tubuh Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian ide, gagasan atau pesan-pesan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara lisan maupun tulisan untuk tujuan tertentu
Proses Komunikasi (skripsi dan tesis)
Proses komunikasi dibagi menjadi dua tahapan (Ridwan, 2013) :
Komunikasi Organisasi (skripsi dan tesis)
Komunikasi dalam suatu organisasi merupakan hal penting dalam menciptakan kesamaan pemahaman atas informasi yang disampaikan satu sama lain. Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan sebagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal merupakan komunikasi yang disetujui oleh suatu organisasi atau kelompok itu sendiri yang bersifat terorientasi pada kepentingan organisasi. Yang berisi cara kerja dalam suatu organisasi atau kelompok, produktifitas, dan berbagai macam pekerjaan yang harus dilakukan dalam suatu organisasi. Misal : memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Sedangkan komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Yang orientasinya bukan hanya pada organisasi saja akan tetapi lebih pada anggotanya secara individual. Komunikasi yang efektif yang terjalin dapat ditunjukan dengan peningkatan kinerja karyawan karena telah berhasil menunjukan kerjasama yang baik (Garnet et al, 2008). Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan perusahaan harus membuat strategi yang baik agar hasil yang diinginkan dapat tercapai. Kualitas manajemen sebuah perusahaan dinilai dari proses karyawannya berkomunikasi (Razi dan More, 2008).
Pemikiran Fenomenologi Alfred Schutz (skripsi dan tesis)
Schutz memusatkan perhatian pada cara orang memahami kesadaran orang lain, akan tetapi ia hidup dalam aliran kesadaaran diri sendiri. Persefektif yang digunakan oleh Schutz untuk memahami kesadaran itu dengan konsep intersubyektif. Yang dimaksud dengan dunia intersubyektif ini adalah kehidupan dunia (life-word) atau dunia kehidupan sehari-hari (Ritzer & Douglas 2007: 94). Menurut Schutz, manusia mengkonstruksi makna diluar arus utaman pengalaman melalui proses “tipikasi”. Hubungan antarmakna pun diorganisasikan melalui proses ini, atau biasa disebut stock of knowledge. Jadi kumpulan pengetahuan memiliki kegunaan praktis dari dunia itu sendiri, bukan sekedar pengetahuan tentang dunia. Inti dari pemikiran Schutz (Kuswarno, 2013: 18) adalah bagaimana memahami tindakan sosial melalui penafsiran. Proses penafsiran dapat digunakan untuk memperjelas atau memeriksa makna yang sesungguhnya, sehingga dapat memberikan konsep kepekaan yang implicit. Schutz meletakan hakikat manusia dalam pengalaman subjektif, terutama ketika mengamil tindakan dan mengambil sikap terhadap dunia kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, Schutz mengikuti pemikiran Husserl, yaitu proses pemahaman aktual kegiatan kita, dan pemberian makna terhadapnya, sehingga terefleksi dalam tingkah laku. Schutz (Kuswarno, 2013: 19) mengawali pemikirannya dengan mengatakan bahwa objek penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan dengan dengan interpretasi terhadap realitas. Orang-orang saling terikat ketika membuat interpretasi ini. Peneliti berusaha untuk menyamakan persepsi dengan informan. Persamaan persepsi dapat terbentuk apabila adanya komunikasi yang terus menerus sehingga peneliti dapat menemukan makna dari informan sebagai objek penelitian. Peneliti harus menggunakan metode interpretasi yang sama dengan orang yang diamati, sehingga peneliti bisa masuk kedalam dunia interpretasi dunia orang yang dijadikan objek penelitian. Menurut Schutz, tindakan manusia adalah bagian dari posisinya dalam masyarakat (Kuswarno, 2013: 38). Ada dua aspek yang dibahas dalam teori fenomenologi, berdasarkan pemikiran Schutz (Kuswarno, 2013: 109-111).yaitu : 1) Aspek intersubyektif, yakni makna subjektif yang terbentuk dalam dunia sosial oleh aktor berupa sebuah “kesamaan dan kebersamaan”. Pembentukan makna dapat dihasilkan dari proses berbagi makna antarindividu. . 2) Aspek historis, yaitu tindakan yang beriorentasi pada waktu. Ada dua hal yang dilihat dari aspek historis, yaitu motif tujuan (in order motive) dan motif alasan (because motive). Motif tujuan merupakan motif yang dimiliki oleh informan untuk mencapai tujuan tertentu ketika mereka menafsirkan dan melakukan sebuah tindakan. Motif alasan merupakan pijakan atau pemahaman yang melatarbelakangi informan sehingga membentuk pemahaman tersendiri dalam penafsiran tindakan tersebut.
Pengertian Fenomenologi (skripsi dan tesis)
Morissan menjelaskan dalam bukunya Teori Komunikasi (2013: 31) Tradisi Fenomenologi memfokuskan perhatian terhadap pengalaman sadar seseorang individu.Teori komunikasi yang masuk dalam tradisi fenomenologi berpandangan bahwa manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interprestasi dari pengalaman subjektif manusia. Pendukung teori ini berpandangan bahwa cerita atau pengalaman individu adalah lebih penting dan memiliki otoritas lebih besar dari pada hipotesis penelitian sekalipun. Pernahkah anda berbaring di suatu tempat terbuka pada malam hari yang gelap, sambil memandang kelangit yang ditaburi bintang-bintang nan jauh disana? (hal ini mungkin pernah kita lakukan pada masa kecil dulu). Sebagian orang yang melakukan ini mungkin pernah membayangkan dan merenung betapa luasnya alam semesta dan bertanya mungkinkah ada makhluk lain yang hidup diluar sana. Ketika melihat kerlap-kerlip bintang, kita pun berpikir mengenai cahaya bintang, kecepatan cahaya, jarak anatara bintang dengan kita, waktu yang dibutuhkan cahaya hingga sampai kemata kita, dan seterusnya. Orang pun mencoba memperluas pengetahuan tentang langit dengan menggunakan teleskop. Proses untuk mengetahui melalui pengalaman langsung ini merupakan wilayah pembahasan fenomenologi, tradisi kedua dalam disiplin ilmu komunikasi (Morissan, 2013: 31). Istilah phenomenon mengacu pada kemunculan sebuah benda, kejadian, atau kondisi yang dilihat. Fenomenologi merupakan cara yang digunakan manusia untuk memahami dunia melalui pengalaman langsung. Peneliti hendak mengetahui sesuatu dengan sadar menganalisis serta menguji persepsi dan perasaan peneliti tentangnya (Kuswarno, 2013: 1). Kuswarno pun menyatakan bahwa tujuan fenomenologi adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran, dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomenologi tersebut bernilai atau diterima secara estetis. Fenomenologi mencoba mencari sebuah pemahaman manusia dalam mengkonstruksi kerangka intersubjektif, karena pemahaman kita mengenai dunia dibentuk oleh hubungan kita dengan orang lain, hal ini jelas bahwa fenomenologi mengkonstruksikan sebuah pengalaman berdasarkan pengetahuan yang dilakukan manusia dengan adanya sebuah hubungan dengan orang lain (Kuswarno, 2013: 2).
Pengertian dan Pemikiran Fenomenologi (skripsi dan tesis)
Memahami metodelogi fenomenologi, akan lebih jelas dengan mengikuti pemikiran dari Schutz. Dialah yang pertama kali membuat penelitian sosial berbeda dari pendahulunya, yang berorientasi positivistik. Walaupun plopor fenomenologi adalah Husserl, Schutz adalah orang pertama yang menerapkan fenomenologi dalam penelitian ilmu sosial. Itulah sebabnya dalam pemabahasan metodelogi fenomenologi, Schutz mendapat prioritas yang utama. Selain itu, melalui Schutz-lah pemikiran-pemikiran Husserl yang dirasakan abstrak pada masa itu dapat dimengerti
Keunggulan Jejaring Sosial Facebook (skripsi dan tesis)
Sumadirian menjelaskan bahwa facebook menawarkan banyak kelebihan dibandingkan dengan pendahuluannya e-mail. Pada facebook, kita saling berkomunikasi dengan menampakkan wajah kita, foto-foto zaman dulu atau foto-foto dan video terkini kita. Dengan facebook, tiap orang mendadak menjadi narsis, senang bergaya, tampil menjadi peragawanperagawati genit centil, atau muncul jadi aktor dan aktris seksi (Sumadiria, 2014: 238). Facebook adalah situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School (Madcoms, 2009: 4). Seperti yang sudah diutarakan diatas bahwa jumlah layanan jejaring sosial yang beredar di internet sangat banyak sekali, mulai dari friendster, myspace, Hi5, twitter, Linkedin, Bebo, Fupei, Digli dan masih banyak lagi, nah tentu banyak alasan kenapa memilih facebook, hingga menjadikan layanan ini menjadi sangat booming sampai saat ini. Dilihat dari segi tampilannya facebook lebih simple, banyak pengguna jejaring sosial yang mengatakan bahwa tampilan facebook lebih bersih, rapih dan sederhana itulah kesimpulan saat kita menggunakan facebook. Dalam mengelola user facebook lebih serius, jika kita bermain-main di facebook akan sangat jarang kita dapati user ganda atau user yang hanya iseng menggunakan akun. Hal ini sudah diantisipasi oleh facebook, oleh karena itu tidak akan kitajumpai nama user dengan menggunakan karakter-karakter aneh. Facebook sangat serius dan professional dalam mengelola akun dan masih banyak lagi keunggulan yang di suguhkan facebook seperti dapat menulis dengan space dan karakter perhuruf yang cukup leluasa yaitu dengan 420 sampai 63.206 karakter (Madcoms, 2009: 6).
Pengertian Jejaring Sosial Facebook (skripsi dan tesis)
Dalam bentuk yang sederhana, suatu jaringan sosial adalah peta semua ikatan yang relevan antar simpul yang dikaji. Jaringan peta semua ikatan yang relevan antar simpul yang dikaji. Jaringan tersebut dapat pula digunakan untuk menentukan modal sosial aktor individu. Konsep ini sering digambarkan dalam diagram jaringan sosial yang mewujudkan simpul sebagai titik dan ikatan sebagai garis penghubungnya (Madcoms, 2009: 2). Jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi. Jejaring sosial terbesar antara lain facebook, myspace, twitter dan instagram. Facebook adalah suatu jenis jejaring sosial yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk menjalin hubungan pertemanan dengan seluruh orang yang ada di belahan dunia untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Facebook merupakan situs pertemanan yang dapat digunakan oleh manusia untuk bertukar informasi, berbagi foto, video, dan lainnya (Madcoms, 2010: 1)
Awal Mula Media Sosial (skripsi dan tesis)
Dibalik lahirnya media sosial dewasa ini, pertumbuhannya tidak terlepas dari dampak kemajuan teknologi internet yang pesat. Meskipun internet banyak disalah gunakan oleh penggunanya, namun internet menjadi sebuah “nama” penting dibalik perkembangan World Wide Web (WWW) hingga sekarang. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas (Madcoms, 2009: 1).
Pengertian Media Sosial (skripsi dan tesis)
Dewasa ini teknologi HP sudah demikian maju fiture layanannya, dahulu hanya digunakan untuk menerima dan menelpon serta mengirim dan menerima Short Message System (SMS), namun sekarang sudah dipadukan dengan teknologi audio dan video, sehingga bisa mengirim gambar dan suara (Noegroho, 2010: 2). McLuhan menjeaskan bahwa seluruh teknologi komunikasi sudah menjangkau pancaindra manusia seperti sentuhan, penciuman, rasa, pendengaran dan pengelihatan. Bahkan teknologi komunikasi dapat membawa seseorang individu melintasi batas ruang dan waktu serta mendapatkan informasi yang tidak didapat sebelumnya. Manusia telah menjadikan teknologi media sebagai jendela dunia atau “a window to the world” dan dapat mengetahui kejadian-kejadian yang jauh jaraknya tanpa kita hadir langsung di lokasi kejadian (Noegroho, 2010: 4). Teknologi komunikasi sekarang telah berhasil mengintegrasikan teknologi telekomunikasi, teknologi informasi dan teknologi multimedia atau teknologi telematika. Ketika teknologi tersebut berjalan sendiri-sendiri tentunya dampak yang dihasilkan belum sebesar apabila bersatu seperti sekarang. Bervariatif pelayanan baru untuk mendapatkan informasi karena didukung teknologi telekomunikasi menjadi keniscayaan. Pelayanan baru tersebut pada hakekatnya adalah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk. Karena manusia meng-encode dan men-decode informasi menggunakan panca indranya (mata, hidung, telinga, mulut, dan kulit), maka pelayanan inipun berupaya menyajikan informasi dalam bentuk gambar, grafik, teks, suara (Noegroho, 2010: 4). Pada dasarnya media sosial merupakan perkembangan mutakhir dari teknologiteknologi web baru berbasis internet, yang memudahkan semua orang untuk dapat berkomunikasi, berpartisifasi, saling berbagi dan membentuk sebuah jaringan secara online, sehingga ada keringanan untuk menyebar luaskan konten merek sendiri. Post di blog, tweet, atau video youtube dapat direproduksi dan dapat dilihat secara langsung oleh jutaan orang secara gratis (Zarella, 2010: 2-3). Pengertian media sosial atau dalam bahasa inggris “social media” menurut tata bahasa, terdiri dari kata “social” yang memiliki arti kemasyarakatan atau sebuah interaksi dan “media” adalah sebuah wadah atau tempat sosial itu sendiri. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisifasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, wiki, dan jejaring sosial utamanya facebook dan twitter merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat diseluruh dunia (Asm. Romli, 2012: 104). Sedangkan menurut Nasrullah (2015: 20) media sosial merupakan media yang digunakan untuk mempublikaskan konten profil, aktivitas, atau pendapat pengguna sebagai media yang memberikan ruang bagi komunikasi dan interaksi dalam jejaring sosial. Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein (2010: 101), mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran usergenerated”.Sosial media dapat pula dideskripsikan sebagai aplikasi berbasis internet dimana para penggunanya dapat berbagi informasi, opini, pandangan, pengalaman, dan perspektif. Bentuk sosial media sendiri sangat beragam, termasuk aplikasi yang bersifat community content seperti youtube, situs jejaring sosial (instagram, twitter, dan tentu saja facebook), blog seperti tumblr, dan kolaborasi projek seperti Wikipedia. Semua aplikasi tersebut memiliki konten yang diciptakan, diperbaharui, dan dipelihara oleh para pengguna sendiri secara individual dan disediakan untuk pengguna lain yang menggunakan aplikasi tersebut, tanpa perlu membayar dan bersifat sukarela
Internet sebagai New Media (skripsi dan tesis)
Saverin & Tankard menjelaskan dalam buku Teori Komunikasi (2008: 443) media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada peneriman informasi, dan yang dimaksud dengan baru adalah sesuatu yang dapat menciptakan suatu inovasi ataupun perubahan yang dapat melahirkan sesuatu yang sangat diinginkan seseorang. New media atau media baru adalah sebuah terminologi untuk menjelaskan konvergensi antara teknologi komunikasi digital yang terkomputerisasi serta terhubung ke dalam jaringan. Termasuk dalam new media atau media baru adalah internet, selain internet tidak termasuk ke dalam new media, seperti media cetak, televisi, majalah, Koran, dan lainlain. New media juga bisa diartikan sebagai produk teknologi komunikasi di media massa yang akan datang bersama-sama dengan komputer digital. Media baru dideskripsikan sebagai media yang dapat menayangkan konten atau informasi secara interaktif, audien dimampukan untuk menanggapi setiap informasi dengan mudah, pembaca bisa bertindak secara aktif untuk menyampaikan informasi, dan pembaca dapat berkomunikasi dan bekerja sama pembaca atau anggota lainnya. Istilah “media baru” ini sering muncul untuk aplikasi web 2.0, aplikasi yang identik dengan konten digital yang dapat didistribusikan secara massif dan interaktif melalui internet. Konten internet berupa gabungan berbagai jenis media seperti teks, gambar, suara, dan video ditambah dengan kemampuan interaktifnya mengalahkan segenap media yang pernah ada. Internet adalah jaringan komuputer dunia yang mengembangkan Arpanet (Advanced Research Project Agency Network), suatu sistem komunikasi yang terkait dengan pertahanan keamanan yang dikembangkan pada tahun 1960-an. Manfaat sistem komunikasi yang berjaringan ini dengan cepat ditangkap oleh para peneliti dan pendidik secara umum. Akhirakhir ini, melalui komputer dirumah, modem, dan warnet, serta melalui layanan-layanan seperti Web-TV, Internet hadir untuk publik. Pada keadaan seperti ini pun masih ada beberapa orang yang tak setuju bahwa internet merupakan sebuah media massa baru. Internet berkembang secara fenomenal, baik dari segi jumlah host computer (komputer induk) maupun dari segi jumlah penggunanya, selama beberapa tahun terakhir (Saverin & Tankard, 2008: 443). Levy menggambarkan (Severin & Tankard, 2008: 6) internet sebagai “saluran komunikasi yang tidak terbatas, pembangunan komunikasi, iklan elektronik dan interaksi yang sangat kompleks yang mengaburkan batas antara penyedia dan konsumen”. Dapat disimpulkan bahwa Levy menggambarkan komunikasi melalui saluran internet tidak memiliki batasan, sehingga pengguna layanan internet perlu berhati-hati terhadap informasi yang mereka terima. Seperti yang dijelaskan oleh Saverin & Tankard (2008: 8-9) banyak pengguna layanan internet yang juga menyadari bahwa mereka juga perlu berhati-hati terhadap informasi yang mereka terima. Para pengguna internet dan layanan jasa iklan seharusnya meninjau kembali ketepatan informasi dari layanan ini. Berita yang diterima oleh masing-masing pengguna kadang memuat informasi yang bisa dipercaya, tetapi bisa juga hanya memuat rumor, spekulasi, pernyataan yang sengaja diselewengkan, dan penipuan. Situasi ini sebenarnya dapat memacu para jurnalis serta professional lain (yaitu orang-orang yang memiliki keahlian untuk menilai sebuah informasi) untuk menguji kebenaran berita, dan yang terpenting adalah memberikan pengarahan tentang mana yang penting dan mana yang tidak. Tulisan Mashall McLuhan adalah sumber gagasan yang kaya untuk melakukan riset tentang media baru. Gagasan inti McLuhan bahwa the medium is the message dapat diaplikasikan pada internet atau pada bentuk-bentuk khusus world wide web, seperti situs-situs berita online. Gagasan Mcluhan bahwa media baru sering memanfaatkan media lama sebagai isi juga dapat diterapkan pada internet. Beberapa penelitian telah mendokumentasikan kecenderungan koran-koran online untuk mengemas kembali materi-materi dari koran-koran cetak. Tentunya, gagasan Mcluhan tentang “desa global” tampaknya semakin dekat pada realita dengan internet. Berbagai pertanyaan menarik tentang seperti apa bentuk desa global ini dapat disinggung oleh para peneliti. Gagasan McLuhan tentang kematian atau penurunan cetakan juga merupakan gagasan provokatif. Dengan munculnya hypertext, kita tidak lagi terbatas pada model teks linier yang dikatakan oleh Mcluhan sebagai fitur dasar buku-buku dan bentuk cetakan yang lebih kuno lainnya (Saverin & Tankard, 2008: 458).
Perubahan Komunikasi Massa di Era Internet (skripsi dan tesis)
Berubahan terbesar dibidang komunikasi 40 tahun terakhir (sejak munculnya TV) adalah penemuan dan pertumbuhan internet. Salah satu perubahan teknologi baru itu menyebabkan dipertanyakannya kembali definisi komunikasi itu sendiri. Definisi komunikasi massa yang sebelumnya sudah cukup jelas komunikasi massa bisa didefinisikan dalam tiga ciri menurut Wright (Severin & Tankard, 2008: 4):
Karakteristik Komunikasi Massa (skripsi dan tesis)
Menurut Sumadiria (2014: 20) dengan merujuk kepada pendapat para pakar
komunikasi, karakteristik atau ciri-ciri spesifik komunikasi massa, yaitu; (1) Komunikator komunikasi massa melembaga; (2) Komunikasi massa berlangsung satu arah; (3) Pesan komunikasi massa bersifat umum dan diterima serempak, (4) Ditunjuk kepada khalayak yang lebih luas, tersebar, anonim, dan heterogen; dan (5) Selintas.
1) Komunikator Melembaga
Komunikasi massa bersifat institusional. Ini berarti komunikator komunikasi massa bersifat melembaga. Ia merupakan kumpulan individu dari berbagai keahlian dalam ranah sejenis yang tergabung dalam sebuah lembaga yang terorganisasi dengan rapi, baik, dan professional. Karena institusional, maka gaya komunikator suatu media komunikasi massa tidaklah berbeda satu sama lain. Semuanya sama. Semuanya seragam. Sebagai contoh, gaya seluruh presenter berita Metro TV Jakarta ketika membacakan berita, tidak ada yang
berbeda satu sama lain. Mereka menapilkan gaya serupa. Mereka tampil dalam gaya yang sama karena harus tunduk kepada kebijakan redaksional stasiun televisi tersebut. Itulah konsekuensi dari komunikator yang bersifat institusional atau melembaga (Sumadiria, 2014: 21).
2) Komunikasi Satu Arah
Pesan komunikasi massa bersifat satu arah, maksudnya tidak terjadi umpan balik langsung. Tidak terdapat proses dialogis. Kita sebagai pemirsa televisi misalnya, tetap saja hanya sebagai penerima.Posisi kita pasif. Ketika dilayar kaca disajikan tayangan infotainment dengan banyak kisah perselingkuhan, perceraian, dan hujan caci-maki dari pihak-pihak yang sedang bertikai dikalangan selebritis kelas karbitan, kita tidak bisa melayangkan protes seketika kepada pembawa acara untuk mengalihkan pembicaraan ke
topik lain yang bersifat mendidik. Seperti kaset yang sedang diputar, mereka terus saja bicara (Sumadiria, 2014: 22).
3) Khalayak Tersebar Anonim Heterogen
Khalayak komunikasi massa tersebut dimana-mana; dikota dan dikampung, digunung dan dilembah, disungai dan dipantai. Karena tersebar dimana-mana, maka khalayak komunikasi massa tidak dikenal dan tidak kenal satu sama lain. Mereka diikat oleh media secara psikologis tetapi mereka tidak diikat dan tidak terikat oleh antar mereka sendiri. Dengan kata lain mereka hanya terhubung dengan media massa tetapi antar mereka tidak terhubungkan satu sama lain. Dalam ilustrasi sederhana, kita dirumah kita masing-masing
menyaksikan siaran televisi. Tetapi antar penghuni rumah tidak mengenal satu sama lain, meskipun secara fisik geografis hanya dipisahkan oleh batas administratif rukun warga (RW) atau kelurahan. Jadi, khalayak komunikasi massa selain tersebar juga anonim. Kita tidak tahu siapa tetangga kita di RW sebelah. Begitu juga sebaliknya. Satu sama lain tidak saling mengenal
tentu saja, dalam anonimitas tersebut terdapat heterogenitas. Artinya dalam kelompok-kelompok masyarakat yang tidak saling mengenal satu sama lain tetapi terhubungkan oleh tayangan acara-acara televisi, ditemukan banyak unsur kemajemukan, dari soal jenis kelamin sampai dengan kepersoalan tingkat kependidikan, ras, warna kulit, dan bahkan keterikatan sosial budaya serta keyakinan beragama (Sumadiria, 2014: 23).
4) Selintas
Selintas berarti sesaat, sambil lalu, sambil lewat, sekilas, sepintas, hanya sekelebatan. Sebagai contoh, siaran berita radio, bersifat selintas. Dalam bahasa popular hanya numpang lewat. Begitu saat itu singgah ditelinga, bahkan belum dapat dicerna dengan baik maknanya, pesan berita radio sudah hilang lenyap tak berbekas. Selintas mengandung arti juga tak bisa diulang atau diulang-ulang. Walau sudah lewat dari pendengaran kita, maka berita radio tidak akan pernah bisa dibacakan ulang. Sifat radio siaran yang selintas itu, sangat bertolak belakang dengan sifat surat kabar atau majalah. Surat kabar dan majalah, sifatnya tercetak diatas kertas. Karena tercetak, maka berita surat kabar dan majalah terdokumentasikan. Karena terdokumentasikan, maka kita bisa membaca berita dan tulisan surat kabaratau majalah kapan saja dan dimana saja. Jika banyak yang kurang dipahami maknanya, kita juga bisa membacanya berulang-ulang.
Lebih dari itu, kita bisa bertanya kepada yang lebih tahudan lebih ahli dengan cara menunjukan bagian-bagian kalimat yang tidak bisa dipahami maknanya tersebut sifat berita radio siaran dan televisi siaran selintas, dan sifat berita surat kabar dan majalah yang tercetak terdokumentasikan, pada akhirnya melahirkan filosofi jurnalistik yang berbeda bagi industri media. Filosofi media cetak misalnya, yakni surat kabar dan majalah: apapun yang ditulis dan dilaporkan haruslah memenuhi klasifikasi kelengkapan informasi,
keakuratan data, ketajaman analisis, dan dampak informasi, edukasi, serta daya referensi tinggi yang ditimbulkannya. Dalam bahasa sederhana, laporan media cetak harus unggul dalam kedalaman dan ketajaman analisis. Sedangkan laporan radio dan televisi siaran harus unggul dalam kecepatan dan kesaksian dari lokasi prestiwa (Sumadiria, 2014: 24).
5) Pesan Umum Diterima Serempak
Ketika kita sedang menonton acara televisi “Metro The Morning” di Metro TV, tanpa kita sadari pesan tersebut juga dinikmati secara bersamaan oleh ribuan, bahkan jutaan orang di seluruh Indonesia. Acara ini sangat mustahil disiarkan hari ini di Jakarta dan di putar keesokan paginya di Kalimantan.Acara itu di siarkan secara serempak dan saat itu juga. Bahkan kalau kita menikmati acara Liga Champion atau Piala Dunia, acara tesebut dinikmati oleh hampir seluruh masyarakat dunia.
Inilah salah satu ciri komunikasi massa selanjutnya. Bahwa dalam komunikasi massa ada keserempakan dalam proses penyebaran pesan-pesannya. serempak berarti khalayak bisa menikmati media massa tersebut hampir bersamaan. Bersamaan tentu juga bersifat relatif. Majalah atau media sebagai contohnya, surat kabar bisa dibaca ditempat terbit pukul 5 pagi, tetapi di luar kota baru pukul 6 pagi, ini masalah teknis semata. Namun, harapan komunikator dalam komunikasi massa, pesan tetap ingin dinikmati secara bersamaan oleh para pembacanya. Tidak terkecuali bahwa pesan tersebut (lewat surat kabar) disebar (didistribusikan) oleh media cetak secara bersamaan pula (Baran, 2008: 28-29).
Pengertian Komunikasi Massa (skripsi dan tesis)
Apapun bentuknya komunikasi massa akan terus menerus berperan penting dalam kehidupan kita. Komunikasi massa menjadi mata dan telinga bagi masyarakat. Komunikasi massa memberi masyarakat sarana untuk mengambil keputusan dan membentuk opini kolektif yang bisa digunakan untuk bisa lebih memahami diri mereka sendiri. Ia merupakan sumber
utama untuk mengembangkan nilai-nilai dalam masyarakat (Severin & Tankard, 2008: 4). Lantas, apa yang dimaksud dengan media massa? Apa pula hubungannya dengan komunikasi massa? Keduanya tidak bisa disamakan, Media massa menunjuk kepada bentuk saluran penyampai pesan (media channel). Sedangkan komunikasi massa menunjuk kepada proses kegiatannya (media activity). Sebagai contoh, surat kabar, tabloid, majalah, radio,
televisi, film, media online internet, itulah yang dimaksud dengan media massa, atau lengkapnya media komunikasi massa. Ia terlihat kasat mata menurut bentuk, ukuran, dan volumenya. Sedangkan bagaimana pesan-pesan melalui surat kabar, radio, atau televisi dipersiapkan, diolah, dan dipublikasikan kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya, maka itulah yang di maksud dengan proses komunikasi massa (Sumadiria, 2006: 1).
Banyak definisi tentang komunikasi massa yang telah dikemukakan. Namun, dari sekian banyak definisi itu ada benang merah kesamaan definisi satu sama lain. Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media (media cetak dan elektronik) sebab awal perkembangannya saja, komunikasi massa berasal dari pengembangan kata media of mass communication (media komunikasi massa). Media massa (saluran) yang dihasilkan oleh teknologi modern. Hal ini perlu ditekankan sebab ada media yang bukan media massa yakni media tradisional seperti kentongan, angklung, gamelan, dan lain-lain. Jadi, disini jelas media massa menunjuk pada hasil produk teknologi modern sebagai saluran dalam komunikasi massa (Nurudin, 2013: 4).
Dari definisi komunikasi massa diatas maka internet masuk kedalam media massa dan jika ditinjau dari ciri-ciri, fungsi, dan elemennya, internet jelas masuk dalam bentuk komunikasi massa dengan demikian bentuk komunikasi massa bisa ditambah dengan internet. Bisa jadi pula beberapa definisi yang tidak menyebutkan internet dalam definisi komunikasinya karena definisi itu dibuat beberapa puluh tahun yang lalu ketika internet belum mewabah
seperti sekarang ini maka, sah-sah saja jika kita memasukan internet dalam bentuk komunikasi massa. Jadi, media massa itu antara lain: televisi, radio, internet, majalah, koran, tabloid, buku dan film (film bioskop, dan bukan negatif film yang dihasilkan kamera)
Arah Komunikasi (skripsi dan tesis)
Komunikasi dapat berjalan mengalir secara vertikal atau lateral,
lateral di artika sejajar antara mereka yang berada tingkat satu wewenang. Lebih jauh, dimensi vertikal dapat dibagi aliran komunikasi ke bawah dan ke atas.
1. Komunikasi kebawah
Komunikasi yang mengalir dari satu tigkatan dalam kelompo atau organisasi
ke tingkatan yang lebih rendah disebut komunikasi ke bawah. Ketika berpikir
mengenai para manajer yang berkomunikasi dengan karyawan-karyawannya, kita
biasanya memikirkan pola ke bawah ini. Komunikasi inilah yang digunakan oleh
para pemimpin kelompok dan manajer untuk menetapkan tujuan, menyampaikan
instruksi, menginformasikan kebijakan serta prosedur
Proses komunikasi Organisasi (skripsi dan tesis).
Sebelum komunikasi dapat terjadi, dibutuhan suatu tujuan, yang
terekpresikan sebagai pesan untuk disampaikan. Pesan tersebut disampaikan dari seorang pengirim kepada seorang penerima. Ia disandikan (diubah menjadi suatu bentuk simbolis) dan dialihkan melalui perantara (saluran) kepada penerima, yang lalu menerjemahkan ulang (membaca sandi) pesan yang diberikan oleh pengirim hasilnya adalah transfer makna dari satu orang kepada orang lain.
Proses komunikasi (Robin, hal 6, 2008) meliputi : (1) pengirim, (2)
penyandian, (3) pesan, (4) saluran, (5) penerjemahan sandi, (6) penerima, (7)
gangguan, (8) umpan balik. Pengirim mengirimkan sebuah pesan dengan cara
menyadikan pemikirannya. Pesan tersebut adalah produk fisik aktual dari
penyadian oleh pengirim.
Saluran formal (Formal channels) disediakan oleh organisasi dan
berfungsi sebagai penyampai pesan-pesan yang berhubungan dengan aktivitas profesional dari para anggotanya. Secara tradisional, saluran ini mengikuti rantai otoritas dalam organisasi. Saluran informal tersebut bersifat spontan dan timbul sebagai tanggapan terhadap tanggapan-tanggapan individual.
Penerima adalah objek yang menjadi sasaran dari pesan itu. Tetapi,
sebelum pesan tersebut dapat diterima, simbol – simbol di dalamya harus
diterjemahkan menjadi bentuk yang dapat dipahami oleh penerima. Langkah ini disebut penerjemah sandi dalam pesan, Gangguan mewakili berbagai hambatan komunikasi yang mengacaukan kejelasan pesan. Contoh-contoh sumber gangguan meliputi masalah persepsi, muatan informasi yang berlebihan, kesulitan-kesulitan semantik, atau perbedaan kultural. Mata rantai terkhir dalam lingkaran umpan balik, Umpan balik adalah sarana pengecekan mengenai seberapa berhasil kita telah menyampaikan pesan.
Dalam teori fungsional komunikasi kelompok (Morissan, hal 141, 2009)
memandang proses sebagai instrumen yang digunakan kelompok untuk
mengambil keputusan dengan menekankan hubugan antara kualitas komunikasi dan kualitas keluaran (output) kelompok. Menurut teori ini, komunikasi berfungsi dalam sejumlah hal yang akan menentukan atau memutuskan hasil- hasil yang dicapai kelompok.
Komunikasi adalah alat untuk menyampaikan informasi, cara yang
digunakan amggota kelompok untuk menjeljahi dan mengenai kesalahan dan
komunikasi juga berfungsi sebagai alat persuasi. Pendekatan yang digunakan teori fungsional sangat dipengaruhi oleh sifat pragmatis ajaran diskusi kelompok kecil.
Pendekatan ini meletakkan sebagian besar dasar pemikirannya pada karya ahli
filsafat john Dewey .
Menurut Dewey (dalam Morissan, hal 141, 2009) Proses pemecahan
dalam kelompok terdiri dari atas enam langkah yaitu (1) Pernyataan kesulitan; (2) Penentuan masalah;(3)Analisis masalah; (4)Saran penyelesaian;
(5)Membandingkan alternatif dan pengujian alternatif terhadap seperangkat
tujuan atau kriteria (6)Melaksanakan solusi terbaik. Teori-teori fungsional
membahas cara- cara komunikasi mempengaruhi masing-masing dari keenam
elemen tersebut. Berikut empat fungsi komunikasi untuk menghasilkan keputusan yang efektif terutama dalam pelaksanaan program paket B yang terdiri atas :
1. Analisis masalah
Biasanya dimulai dengan proses pengambilan keputusan dengan
mengindentifikasikan dan menilai suatu masalah dan pada tahap ini mereka harus menjawab berbagai pertanyaaan, seperti apa yang terjadi, mengapa terjadi, siapa yang terlibat?apa bahayanya?siapa yang dirugikan?analisis masalah harus dilakukan, analisi masalah harus dilakukakn ketika kita menjawab “ya” terhadap pertanyaan : apakah telah terjadi sesuatu yang memerlukan perbaikan dan perubahan.
2. Penentuan tujuan
Kelompok harus mengumpulkan dan mengevaluasi informasi terkait dengan
masalah yang tengah dihadapi. Ketika kelompok membahas berbagai
kemungkinan solusi, informasi akan terus diterima dan terkumpul.
3. Indentifikasi alternatif
Pada tahap ini, kelompok membuat berbagai usulan alternatif untuk mengatasi masalah. Hirokawa dan Gouran (dalam Morissan) menekankan pentingnya memiliki sejumlah solusi alternatif ketika kelompok mengambil keputusan mengenai masalah yang tengah dihadapi.
4. Evaluasi konsekuensi
Berbagai solusi alternatif yang tersedia kemudian dievaluasi dengan tujuan
akhirnya adalah untuk mengambil keputusan. Anggota kelompok harus menguji keunggulan dari setiap pilihan yang tersedia untuk menentukan pilihan solusi yang paling memenuhi kriteria yang dinilai penting
Fungsi-Fungsi Komunikasi (skripsi dan tesis)
Komunikasi (dalam Robin) memiliki empat fungsi utama : Kontrol,
Motivasi, Ekspresi emosional, dan Informasi, Komunikasi menjaga motivasi
dengan cara menjelaskan kepada para karyawan yang harus dilakukan, seberapa baik pekerjaan mereka, dan apa yang dapat dilakukan, seberapa baik pekerjaan mereka, dan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kinerja sekiranya hasilnya kurang baik.
Fungsi terakhir komunikasi berhubungan dengan perannya dalam
memfasilitasi pengambilan keputusan. Komunikasi memberikan fungsi yang
dibutuhkan oleh individu dan kelompok untuk mengambil keputusan dengan cara menyampaikan data untuk mmengindentifikasi dan mengevaluasi pilihan-pilihan alternatif yang ada.
Tidak ada satu dari keempat fungsi komunikasi tersebut yang harus
dipahami sebagai lebih penting dibanding yang lainnya. Agar dapat berjalan
secara efektif, kelompok- kelompok kerja harus melakukan kontrol atas para
anggotanya, merangsang para anggotanya untuk bekerja, menyediakan cara bagi mereka untuk meluapkan ekspresi emosional mereka dan membuat pilihanpilihan keputusan
Pengertian Komunikasi (skripsi dan tesis)
Komunikasi yang efektif (Muhamad, Arni. Hal 1, 2009) adalah penting
bagi semua sorganisasi, oleh karena itu, para pimpinan organisasi dan para
komunikator dalam organisasi perlu memahami dan menyempurnakan
kemampuan komunikasi mereka (Kohler 1981), Seperti yang dikemukakan oleh Forsdale (hal 1, 1987) adalah ahli sosiologi Amerika mengatakan bahwa,
“Communication is the process by which an individual transmits stiuly (usually
verbal) to modify the behavior of oter individuals “ dengan kata-kata lain
komunikasi adalah proses individu mengirim stimulus yang biasanya dalam
bentuk verbal untuk mengubah tingkah laku orang laku orang lain.
Dalam proses komunikasi dapat terjadi adanya gangguan (noise) yang
disebabkan oleh berita yang disampaikan tidak jelas, atau gangguan lain yang
mempengaruhi media komunikasi. Bila hal ini terjadi, keadaan tersebut
menunjukkan bahwa komunikasi tidak efektif. Lebih lanjut Robbin (2003 :78)
Mengatakan suatu komunikasi dikatakan efektif apabila mengandung aspek-aspek
sebagai berikut :
1. Langsung (To the point)
Artinya informasi yang disampaikan secara langsung atau tidak ragu.
2. Assertive
Artinya dalam penyampaian informasi tidak ada perasaan takut untuk
menyampaikan apa yang diinginkan dan menyampaikan pertanyaan
mengapa.
3. Ramah dan bersahabat (Congenial)
Artinya informasi yang disampaikan sebaiknya dibarengi dengan sikap
dan airmuka yang ramah dan ada kesan bersahabat.
4. Kejelasan (Clarity)
Kejelasan mengandung arti bahwa bahasa maupun informasi yang
disampaikan harus jelas atau mudah dimengerti.
5. Ketepatan (Accuracy)
Bahasa yang digunakan harus sesuai dengan apa yang sesungguhnya ingin
disampaikan.
6. Konteks (Context)
Bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan
lingkungan dimana komunikasi itu terjadi.
7. Alur (Flow)
Komunikasi yang efektif akan tercapai apabila dalam penyampaiannya
informasi tersebut disampaikan dengan alur bahasa secara runtut dan
terjadi dua arah.
8. Budaya (Culture)
Aspek ini tidak saja menyangkut bahasa dan informasi, tetapi juga
menyangkut tata krama dan etika.
Pada definisi ini mereka menganggap komunikasi sebagai suatu proses,
bukan sebagai suatu hal. Selain itu terdapat yang dimaksudkan dengan model
komunikasi adalah gambaran yang sederhana dari proses komunikasi yang
memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dengan komponen
lainya. Penyajian model dalam bagian ini dimaksudkan untuk mempermudah
memahami proses komunikasi dan melihat komponen dasar yang perlu ada dalam suatu komunikasi.
Stakeholder dalam event (skripsi dan tesis)
Stakeholder dalam event adalah suatu kesatuan dari bermacam-macam
pihak yang terlibat dalam suatu event. Keterlibatan pihak-pihak ini
memiliki tingkatan masing-masing sesuai motif individual, kekuasaan,
sumber, besarnya pengaruh, dan peran. Kesuksesan suatu event bisa
ditentukan oleh besarnya pengaruh dan dukunganyang diberikan dari
stakeholder. Konsep suatu event juga menjadi salah satu factor dalam
membentuk sebuah kelompok stakeholder. Misalnya, event festival seni
akan menarik komunitas seni dan lembaga-lembaga kesenian lainnya.
Panitia dan perencana event juga harus teliti dan tepat dalam menyeleksi
dan mengkoordinir stakeholder yang akan berpartisipasi dalam event.
Kerja sama yang baik dengan stakeholder dapat membawa efek yang luas
bagi event maupun kumpulan stakeholder lainnya, seperti yang dikatakan
oleh Bramwell dan Lane dalam buku Event Management (McCartney,
2010: 261) :
“Each stakeholder controls resources, such as knowledge,
expertise, constituency, and capital, but on their own they
are unlikely to posses all the resources necessary to achieve
their objectives and to plan effectively for their future in
relation to a significant tourism development issue”
Menurut Sulyus Natoradjo dalam buku Event Organizing (2011: 20),
stakeholder event adalah semua pihak, baik perorangan, asosiasi, maupun
organisasi internal atau eksternal, yang memiliki kepentingan dan peran
dalam event. Kelompok dari stakeholder tidak hanya terdiri dari pihak
yang melakukan investasi secara financial terhadap event, tetapi juga
semua pihak yang terlibat baik secara politik, emosional, motivasi atau
dukungan, serta berminat pada event tersebut.
Menurut peneliti, stakeholder event adalah pihak-pihak penting yang
terlibat dalam mendukung kesuksesan suatu event dengan fungsi dan
kepentingan masing-masing yang berbeda. Stakeholder dan event
memiliki keterikatan yang saling berpengaruh, artinya, kesuksesan event
dipengaruhi oleh efektivitas stakeholder, dan nama baik stakeholder juga
dipengaruhi oleh event yang diinvestasikannya. Jika stakeholder
berfungsi dengan baik, maka event dapat berjalan lancer dan sukses
terselenggara, dan jika event sukses maka nama baik stakeholder bisa
meningkat dan dipandang baik oleh publik.
Fomburn and Shanley dalam Khasali membagi stakeholders menjadi
dua bagian yaitu stakeholders internal dan eksternal. (Khasali, 2008 : 63)
Stakeholders internal yaitu :
1. Pemegang saham, yaitu pihak yang mempunyai modal untuk
membantu berjalannya perusahaan, sehingga pihak tersebut mempunyai
kuasa atas perusahaan tersebut.
2. Manajemen dan Top Executive, adalah orang-orang yang
bertanggung jawab untuk menjaga kelangsungan perusahaan serta
pembuat kebijakan dalam perusahaan sehingga mereka menjadi sumber
berita majalah bisnis dan ekonomi.
3. Karyawan, adalah orang-orang yang tidak memegang jabatan
struktural.
4. Keluarga karyawan, sangat penting artinya untuk menjaga relasi
dengan keluarga karyawan karena mereka pun akan menaruh minat
yang sama besar dengan karyawan karena mereka secara tidak langsung
telah mengetahui perusahaan lewat karyawan.
Stakeholders eksternal yaitu :
1. Konsumen, yaitu pihak yang mempunyai hak untuk memilih
barangnya sendiri.
2. Penyalur, yaitu orang yang menyalurkan barang-barang kepada
konsumen.
3. Pemasok, yaitu orang-orang yang menyediakan pasokan barangbarang dari penyalur kepada konsumen.
4. Bank, sebuah lembaga komersial yang tidak hanya mengandalkan
bunga yang diterima melainkan jaminan, atas pengambilan pinjaman
pokok debitur.
5. Pemerintah, adalah penentu kebijakan, bahwa kebijakan dibuat dengan
melihat kebutuhan akan masyarakat.
6. Pesaing, adalah pihak yang dianggap ancaman oleh perusahaan.
7. Komunitas, yaitu masyarakat yang tinggal, hidup dan berusaha di
lokasi sekitar perusahaan.
8. Pers
Dari teori stakeholder, peneliti menarik kesimpulan bahwa stakeholder
adalah semua pihak yang memiliki kepentingan dan tanggung jawab
yang tidak secara langsung terhadap kelangsungan suatu event.
Stakeholder terbagi atas dua yaitu internal dan eksternal, dimana pihak
internal lebih memiliki peran besar atas perencanaan dan pelaksanaan
event, sedangkan pihak eksternal memberi dukungan yang secara fisik
tidak terlihat namun secara teknis memberikan pengaruh yang cukup
besar.
Jenis Event (skripsi dan tesis)
Ruslan dalam buku Special Event (Natoradjo, 2011: 135)
membagi event dalam tiga kelompok, yaitu:
a. Calendar event
Jenis event ini terdiri dari acara reguler pada tanggal
tertentu secara spesifik (hari, bulan, tahun) secara periodik
setiap tahunnya.
b. Momentum event
Jenis event yang bersifat khusus dan dilakukan pada
momen-momen tertentu.
c. Special event
Special event adalah acara yang dilakukan untuk
mendapatkan perhatian media atau khalayak tertentu
terhadap perusahaan atau produk perusahaan. Special
event dari program public relations adalah sebuah ajang
khusus yang dilaksanakan secara spesial yang dikaitkan
dengan kejadian atau peristiwa tertentu.
Elemen Event (skripsi dan tesis)
Dalam buku Event Organizing (2011: 95), Hoyle mengidentifikasi lima
elemen yang berguna untuk merancang desain event dan
mengembangkan strategi komunikasi pemasaran event. Berikut adalah
pemaparan lima elemen dan definisinya:
a. Why – Mengapa
Mengapa event ini dibutuhkan dan yang penjelasan akan latar
belakang dan tujuan penyelenggaraan event, serta manfaat event
bagi pengunjung.
b. Who – Siapa
Siapa yang harus hadir dan sasaran cakupan audiens atau
khalayak sasaran harus jelas dan tepat
c. When – Kapan
Kapan diselenggarakannya (jadwal/waktu penyelenggaraan event)
d. Where – Di mana
Penentuan tempat/lokasi event dengan segala pertimbangan mulai
dari akses, keunikan, fasilitas, kenyamanan, dan kelebihan dari
lokasi tersebut.
e. What – Apa
Penjelasan tentang program dan tujuan penyelenggaraan event,
serta program-programnya.
23
Pernyataan Hoyle juga didukung oleh pernyataan Pudjiastuti dalam
bukunya Special Event yang menjabarkan 5W elemen event, sebagai
berikut (2010: 20) :
a. Elemen Who : menjawab pertanyaan khalayak sasaran,
kebutuhan, karakteristik, dan siapa saja yang turut mengambil
bagian dalam event.
b. ElemenWhy : menjawab tujuan yang ingin dicapai dari event
c. Elemen When : menjawab seputar waktu pelaksaan yang tepat dan
berapa lama durasi event
d. Elemen Where : menjawab seputar tempat dan lokasi yang
strategis untuk mengadakan acara.
e. Elemen What : menjawab seputar bentuk event yang ingin
diselenggarakan dan apakah sesuai dengan sumber daya yang
tersedia.
f. Elemen How : menjawab seputar bagaimana konsep event dan
perancangan yang sesuai untuk mencapai tujuan.
Semua elemen ini dibutuhkan dalam pertimbangan dan perencanaan
untuk membuat konsep event. Elemen-elemen ini membantu perusahaan
atau panitia dalam menentukan rincian kegiatan, khalayak sasaran,
penentuan lokasi, penentuan konsep, penentuan waktu pelaksanaan, dan
bagaimana suatu event ingin dilaksanakan (regulasinya).
Pengertian Event (skripsi dan tesis)
Definisi event adalah suatu kegiatan yang diselenggarakan untuk memperingati hal-hal penting sepanjang hidup manusia, baik secara
individu maupun kelompok yang terikat secara budaya, adat, tradisi, dan
agama dengan tujuan tertentu serta melibatkan lingkungan masyarakat
yang diselenggarakan pada waktu tertent. (Noor, 2009 : 7)
Sedangkan menurut The Chambers Dictionary , pengertian event
adalah (Allen, 2011: 17) :
Anything which happens; result; any incidence or
occurrence esp a memorable one; contingency or
possibility of occurrence; an item in a programme; a type
of horse-riding competition, often held over three days
(three days event), consisting of three sections, ie dressage,
cross-country riding and showjumping; fortune or fate; an
organized activity at a particular venue, eg for sales
promotion, fundraising.
Tujuan diadakan event menurut Tom Duncan (Pudjiastuti, 2010 : 25) :
a. Mempengaruhi target khalayak
b. Mengasosiasikan sebuah merek dengan suatu kegiatan, gaya
hidup, maupun individu tertentu
c. Menjangkau target khalayak yang lebih luas
d. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap merek, produk,
maupun perusahaan
e. Mempublikasikan sebuah merek, produk, maupun perusahaan
yang nantinya bisa meningkatkan pengetahuan khalayak
Menurut peneliti, event adalah suatu rangkaian acara atau kegiatan yang
direncanakan sedemikian rupa untuk akhirnya diselenggarakan dengan latar belakang
tertentu, misalnya untuk perayaan, peringatan, hiburan, baik secara komersil maupun
non-komersil. Salah satu tujuan utama dari event adalah pada target sasarannya atau
target pengunjung yang diharapkan akan hadir dalam event yang diadakan.
Fungsi Public Relations (skripsi dan tesis)
Fungsi dan tugas PR adalah untuk menghasilkan publisitas atas opini dan
citra positif dari public untuk organisasi maupun perusahaan. Beberapa
cara seperti events, campaign, dan programs dapat membantu PR dalam
publisitas (Ardianto, 2011 : 261). Sedangkan fungsi utama PR adalah
memberi keterangan atau pencitraan pada publik, berupa kegiatan yang
persuasif untuk mengubah pemikiran dan sikap masyarakat secara
langsung, dan berupaya untuk menyatukan sikap organisasi atau
perusahaan sesuai dengan pemikiran dan sikap masyarakat (Liliweri,
2011 : 658).
Fungsi umum PR menurut peneliti adalah untuk menjalin relasi dan
hubungan baik antara perusahaan dengan publik. Selain itu, PR memiliki
tanggung jawab yang cukup besar bagi perusahaan untuk dapat
mempertahankan dan meningkatkan citra, serta mendapatkan
kepercayaan publik
Public Relations (skripsi dan tesis)
Public Relations adalah sebuah fungsi kepemimpinan dan manajemen
yang membantu pencapaian tujuan sebuah organisasi, membantu mendefinisikan filosofi, serta memfasilitasi perubahan organisasi. Para praktisi PR berkomunikasi dengan semua masyarakat internal dan eksternal yang relevan untuk mengembangkan hubungan yang positif serta menciptakan konsistensi antara tujuan organisasi dengan harapan masyarakat. (Lattimore, 2010 : 10)
Menurut Cultip dan Center yang diambil dari bukunya Effective Public Relations (2006: 11) mengemukakan bahwa:
“Public Relations is the communication and interpretation, and the communications and ideas from and institutions to its publics, and the communication of information, ideas, and opinions from those publics to the institutions, in a sincere effort to establish mutuality of interest and this achieve the harmonious adjustment of an institution to its community.”
PR pemasaran atau Marketing Public Relations adalah PR yang secara khusus
mendukung aktivitas penjualan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kesadaran dan membangun penjualan melalui hubungan antara merek dan konsumen. Ini berarti menggunakan PR sebagai bagian penting dalam aktivitas pemasaran
