Enni Savitri (2016) menjelaskan konsekuensi dari konservatisme
akuntansi sebagai berikut :
“Konservatisme menyebabkan data yang dilaporkan secara konservatif
tidak dapat diinterpretasikan secara tepat, karena kehati-hatian (prudent)
yang diterapkan menyebabkan angka yang dilaporkan cenderung angkaangka yang rendah untuk hal-hal yang menguntungkan namun untuk hal-
hal yang merugikan maka angka yang dilaporkan cenderung angka-angka
yang relatif tinggi walaupun dengan verifikasi yang lemah.”
Elaisza (2018) menjelaskan dampak negatif dari penerapan konservatisme
akuntansi sebagai berikut :
“Jika perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan tetap menggunakan
akuntansi konservatif maka laporan keuangan menjadi understatement
sehingga akan memberikan sinyal buruk bagi pihak eksternal terutama
pihak kreditur sehingga pihak kreditur tidak akan memberikan pinjaman
untuk kelangsungan usaha perusahaan sehingga ketika perusahaan sedang
mengalami financial distress maka perusahaan tidak akan menerapkan
prinsip konservatisme dalam penyusunan laporan keuangan.”
Sari & Adhariani (2009) dalam Hananto, (2017) menjelaskan konsekuensi
penerapan konservatisme akuntansi sebagai berikut :
“Penerapan konsep konservatisme akan menghasilkan laba yang
berfluktuatif, dimana laba yang berfluktuatif akan mengurangi daya
prediksi laba untuk memprediksi aliran kas pada masa depan.”
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan
konservatisme akuntansi pada perusahaan tidak selalu memiliki dampak positif,
terdapat beberapa konsekuensi yang akan dihadapi jika perusahaan tetap
menerapkan konservatisme akuntansi dalam beberapa situasi, mengingat prinsip
konservatisme akuntansi ini sudah terlalu tua untuk digunakan
